Studi Kasus Pengelolaan Emosi Pada Anak Tantrum Di Taman Kanak-Kanak
Tri Welas Asih1), Dewi H. Harahap1), Siti Mahmudah2) & Arundati Shinta1)
1) Fakultas Psikologi Universitas
Proklamasi 45 Yogyakarta, 2) Fakultas Psikologi Universitas Islam
Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
triasih12@ymail.com
Abstrak
Tantrum adalah letupan emosi yang meledak-ledak pada
anak yang ditampakkan dalam perilaku agresif. Perilaku tantrum ini lazim
terjadi pada anak usia 1-3 tahun, dan pada usia 4 tahun biasanya tantrum ini
mereda. Tantrum ini adalah tahap anak belajar tentang kontrol diri. Contoh
perilaku tantrum antara lain berteriak, menendang, memukul, bahkan menyakiti
diri sendiri. Tujuan studi kasus ini adalah untuk mengetahui cara menangani
perilaku tantrum pada anak usia taman kanak-kanak. Manfaat dari studi kasus ini
agar orangtua dan guru sebagai lingkungan disekitar anak mampu mendeteksi dan
menangani perilaku tantrum yang muncul dari anak.
Hasil studi kasus
menunjukkan bahwa pola asuh otoritatif
yang konsisten dari orang tua dan guru serta orang lain diluar keluarga inti
seperti nenek dan kakek mampu membantu pengelolaan emosi pada anak sehingga
dapat menjadi salah satu cara dalam mengatasi tantrum. Pola asuh otoritatif adalah salah satu gaya
pengaasuhan yang memperlihatkan pengawasan ekstra ketat terhadap tingkah laku
anak-anak, tetapi orang tua juga bersikap responsif, menghargai dan menghormati
pemikiran, perasaan, serta mengikutsertakan anak dalam pengambilan keputusan.
Metode penelitian yang
digunakan pada studi kasus ini ialah dengan metode observasi dan wawancara pada
subyek tunggal yaitu anak pada usia taman kanak-kanak. Kesimpulan studi kasus
ini ialah pola asuh otoritatif yang konsisten dari orang tua serta guru dan
keluarga lain yang membantu mengasuh anak, akan membuat anak dapat mengendalikan
emosinya sehingga dapat mencegah munculnya perilaku tantrum pada anak.
Kata-kata kunci: Pengelolaan Emosi, Tantrum, Anak.
Pendahuluan
Anak
usia dini adalah sosok individu yang unik yang berada pada rentang usia 0-6
tahun. Pada masa ini anak berada di periode keemasan atau golden age, karena anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang
sangat pesat dan tidak tergantikan pada masa mendatang (Dariyo, 2004). Anak
pada usia sekolah di taman kanak-kanak berada pada rentang usia 4-6 tahun. Pada
masa itu anak mulai berkenalan dan belajar menghadapi rasa
kecewa saat apa yang dikehendaki tidak
dapat terpenuhi. Rasa kecewa,
marah, sedih dan
sebagainya merupakan suatu rasa yang wajar dan natural. Namun
seringkali, tanpa disadari orang tua menyumbat emosi yang dirasakan oleh anak.
Misalnya saat anak menangis karena kecewa, orangtua dengan berbagai cara
berusaha menghibur, mengalihkan perhatian, memarahi demi menghentikan tangisan
anak. Hal ini sebenarnya membuat emosi anak tak tersalurkan dengan lepas. Jika
hal ini berlangsung terus menerus, akibatnya timbul tumpukan emosi. Tumpukan
emosi inilah yang nantinya dapat meledak tak terkendali dan muncul sebagai
temper tantrum.
Temper tantrum adalah
ledakan emosi yang kuat yang terjadi ketika anak balita merasa lepas kendali.
Tantrum adalah demonstrasi praktis dari apa yang dirasakan oleh anak dalam
dirinya. Ketika orang-orang membicarakan tantrum, biasanya hanya mengenai satu
hal spesifik, yaitu kemarahan yang dilakukan oleh anak kecil. Hampir semua
tantrum terjadi ketika anak sedang bersama orang yang paling dicintainya.
Tingkah laku ini biasanya mencapai titik terburuk pada usia 18 bulan hingga
tiga tahun, dan kadang masih ditemui pada anak usia lima atau enam tahun, namun hal
tersebut sangat tidak
biasa dan secara
bertahap akan menghilang. Saat anak mengalami tantrum, banyak orangtua
yang beranggapan bahwa hal tersebut merupakan sesuatu yang negatif, dan pada
saat itu juga orangtua bukan saja bertindak tidak tepat tetapi juga melewatkan
salah satu kesempatan yang paling berharga untuk membantu anak menghadapi emosi
yang normal (marah, frustrasi, takut, jengkel) secara wajar dan bagaimana
bertindak dengan cara yang tepat sehingga tidak menyakiti diri sendiri dan
orang lain ketika sedang merasakan emosi tersebut.