Tampilkan postingan dengan label Esay. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Esay. Tampilkan semua postingan

11.1.17

Studi Kasus Pengelolaan Emosi Pada Anak Tantrum Di Taman Kanak-Kanak



Studi Kasus Pengelolaan Emosi Pada Anak Tantrum Di Taman Kanak-Kanak




Tri Welas Asih1), Dewi H. Harahap1), Siti Mahmudah2) & Arundati Shinta1)
1) Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta, 2) Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

triasih12@ymail.com

Abstrak

Tantrum adalah letupan emosi yang meledak-ledak pada anak yang ditampakkan dalam perilaku agresif. Perilaku tantrum ini lazim terjadi pada anak usia 1-3 tahun, dan pada usia 4 tahun biasanya tantrum ini mereda. Tantrum ini adalah tahap anak belajar tentang kontrol diri. Contoh perilaku tantrum antara lain berteriak, menendang, memukul, bahkan menyakiti diri sendiri. Tujuan studi kasus ini adalah untuk mengetahui cara menangani perilaku tantrum pada anak usia taman kanak-kanak. Manfaat dari studi kasus ini agar orangtua dan guru sebagai lingkungan disekitar anak mampu mendeteksi dan menangani perilaku tantrum yang muncul dari anak.
Hasil studi kasus menunjukkan bahwa pola asuh otoritatif yang konsisten dari orang tua dan guru serta orang lain diluar keluarga inti seperti nenek dan kakek mampu membantu pengelolaan emosi pada anak sehingga dapat menjadi salah satu cara dalam mengatasi tantrum. Pola asuh otoritatif adalah salah satu gaya pengaasuhan yang memperlihatkan pengawasan ekstra ketat terhadap tingkah laku anak-anak, tetapi orang tua juga bersikap responsif, menghargai dan menghormati pemikiran, perasaan, serta mengikutsertakan anak dalam pengambilan keputusan.
Metode penelitian yang digunakan pada studi kasus ini ialah dengan metode observasi dan wawancara pada subyek tunggal yaitu anak pada usia taman kanak-kanak. Kesimpulan studi kasus ini ialah pola asuh otoritatif yang konsisten dari orang tua serta guru dan keluarga lain yang membantu mengasuh anak, akan membuat anak dapat mengendalikan emosinya sehingga dapat mencegah munculnya perilaku tantrum pada anak.

Kata-kata kunci: Pengelolaan Emosi, Tantrum, Anak.






Pendahuluan

Anak usia dini adalah sosok individu yang unik yang berada pada rentang usia 0-6 tahun. Pada masa ini anak berada di periode keemasan atau golden age, karena anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat dan tidak tergantikan pada masa mendatang (Dariyo, 2004). Anak pada usia sekolah di taman kanak-kanak berada pada rentang usia 4-6 tahun. Pada masa itu anak mulai berkenalan dan belajar menghadapi rasa kecewa saat apa yang dikehendaki tidak  dapat  terpenuhi.  Rasa kecewa,  marah,  sedih  dan  sebagainya merupakan suatu rasa yang wajar dan natural. Namun seringkali, tanpa disadari orang tua menyumbat emosi yang dirasakan oleh anak. Misalnya saat anak menangis karena kecewa, orangtua dengan berbagai cara berusaha menghibur, mengalihkan perhatian, memarahi demi menghentikan tangisan anak. Hal ini sebenarnya membuat emosi anak tak tersalurkan dengan lepas. Jika hal ini berlangsung terus menerus, akibatnya timbul tumpukan emosi. Tumpukan emosi inilah yang nantinya dapat meledak tak terkendali dan muncul sebagai temper tantrum.
Temper tantrum adalah ledakan emosi yang kuat yang terjadi ketika anak balita merasa lepas kendali. Tantrum adalah demonstrasi praktis dari apa yang dirasakan oleh anak dalam dirinya. Ketika orang-orang membicarakan tantrum, biasanya hanya mengenai satu hal spesifik, yaitu kemarahan yang dilakukan oleh anak kecil. Hampir semua tantrum terjadi ketika anak sedang bersama orang yang paling dicintainya. Tingkah laku ini biasanya mencapai titik terburuk pada usia 18 bulan hingga tiga tahun, dan kadang masih ditemui pada anak usia lima atau enam tahun, namun   hal   tersebut   sangat   tidak   biasa   dan   secara   bertahap akan menghilang. Saat anak mengalami tantrum, banyak orangtua yang beranggapan bahwa hal tersebut merupakan sesuatu yang negatif, dan pada saat itu juga orangtua bukan saja bertindak tidak tepat tetapi juga melewatkan salah satu kesempatan yang paling berharga untuk membantu anak menghadapi emosi yang normal (marah, frustrasi, takut, jengkel) secara wajar dan bagaimana bertindak dengan cara yang tepat sehingga tidak menyakiti diri sendiri dan orang lain ketika sedang merasakan emosi tersebut.

10.1.17

HARUSKAH MENYAKITI SESEORANG BERDASARKAN ALASAN TERTENTU?



RESENSI ARTIKEL: FENOMENA KLITHIK DAN
PERKEMBANGAN MENTAL REMAJA


Arundati Shinta
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta


Klithik (Jawa: golek-golek) adalah perilaku yang mencari-cari perkara. Perkara itu biasanya menjurus pada kekerasan yaitu menusuk dengan pisau. Akhir-akhir ini, fenomena klithik sangat sering terjadi di Yogyakarta. Remaja, dalam hal ini yang paling sering adalah laki-laki, tanpa alasan apa pun ia langsung menyakiti orang lain. Perilaku menyakiti itu antara lain menyilet dan menusuk tubuh orang yang kebetulan ditemui secara tidak sengaja, sehingga menjadi target.

Persoalan yang berhubungan dengan perilaku klithik adalah korban dan masyarakat tidak mengetahui penyebab dari perilaku menyakiti tersebut. Hal ini karena pelaku dan korban sama-sama tidak saling mengenal, bahkan bertemu pun belum pernah. Oleh karena tidak tahu penyebabnya, maka masyarakat pun juga bingung untuk mencegahnya.

30.12.16

KETENAGAKERJAAN: MENCIPTAKAN NILAI TAMBAH DALAM BEKERJA



LOMBA MENULIS KISAH INSPIRATIF


Arundati Shinta
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta


Olah raga pagi yang menyehatkan adalah bersepeda seminggu tiga kali. Apalagi bila jalannya naik, maka otot kaki menjadi kencang. Kebugaran fisik ini diperoleh bila kita menyempatkan diri untuk berolah raga. Persoalannya, kita juga sering kreatif untuk membuat alasan sehingga waktu untuk berolah raga selalu tidak ada. Alasan yang paling sering muncul adalah pekerjaan, sehingga olah raga kalah prioritas dengan pekerjaan. Jadi dalam hal ini motivasi internal kita telah dikalahkan oleh hal-hal yang eksternal. Alasan-alasan eksternal berbanding lurus dengan kreativitas kita membuat alasan. Semakin kreatif maka alasannya semakin banyak, dan alasan itu semuanya masuk akal.

6.12.16

FENOMENA GENERASI Z



FENOMENA GENERASI Z
Tri Welas Asih
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta


Istilah generasi Z masih asing di dengar oleh kebanyakan orang. Apa itu sebenarnya Generasi Z ? generasi Z adalah generasi yang lahir dalam rentang waktu antara tahun 1995-2010. Generasi Z sering juga disebut dengan iGeneration atau Generasi Internet karena lahir pada masa era digital. Individu yang termasuk dalam Generasi Z sejak dini sudah mengenal atau mungkin bisa juga diperkenalkan dan terbiasa dengan berbagai macam dan bentuk gadgets serta aplikasi yang canggih tersebut. Beberapa karakteristik dari generasi Z antara lain :
·         Fasih Teknologi. Mereka adalah “generasi digital” yang mahir dan gandrung akan teknologi informasi dan berbagai aplikasi komputer.  Mereka dapat mengakses berbagai informasi yang mereka butuhkan secara mudah dan cepat, baik untuk kepentingan pendidikan maupun kepentingan hidup kesehariannya.
·         Sosial. Mereka sangat intens berkomunikasi dan berinteraksi dengan semua kalangan, khususnya dengan teman sebaya melalui berbagai situs jejaring, seperti: FaceBook, twitter, atau  melalui SMS. Melalui media ini, mereka bisa mengekspresikan apa yang  dirasakan dan dipikirkannya secara spontan. Mereka juga cenderung toleran dengan perbedaan kultur dan sangat peduli dengan lingkungan.
·         Multitasking.  Mereka terbiasa dengan berbagai aktivitas  dalam satu waktu yang bersamaan. Mereka bisa membaca, berbicara, menonton, atau mendengarkan musik dalam waktu yang bersamaan. Mereka menginginkan segala sesuatunya dapat dilakukan dan berjalan serba cepat. Mereka tidak menginginkan hal-hal yang bertele-tele dan berbelit-belit.
·         Karakteristik tersebut memiliki dua sisi yang berlawanan, bisa positif- memberikan manfaat bagi dirinya dan atau lingkungannya- atau justru malah negatif yang dapat merugikan diri sendiri maupun lingkungannya. 

29.10.16

BERLATIH MENJADI EO (EVENT ORGANIZER) DI ACARA PSIKOLOGI BERBAGI : GOES TO SENIOR HIGH SCHOOL

BERLATIH MENJADI EO (EVENT ORGANIZER) DI ACARA
PSIKOLOGI BERBAGI : GOES TO SENIOR HIGH SCHOOL

Wahyu Relisa Ningrum
Fakultas Psikologi

Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

              Berlatih menjadi Event Organizer (EO) suatu acara tidak semudah yang kita bayangkan. Mulai dari menentukan tema kegiatan, melobi pihak sekolah, membuat TOR (Term of Refernce), menyiapkan materi sharing, menyiapkan perlengkapan dan dokumentasi hingga mengkoordinasi mahasiswa untuk terlibat dan bekerjasama agar kegiatan dapat berjalan dengan lancar.
          Kali pertama menjadi EO Psikologi Berbagi di SMA menjadi tantangan tersendiri dalam proses pembelajaran dan pengaplikasian ilmu di bidang komunikasi. Dituntut untuk lebih peka dan sigap dalam mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik dan tepat, sehingga hasil yang dicapai dapat optimal.
            Kemampuan berbicara, mengkoordinasi tim dan kepekaan dalam melihat situasi sangat diperlukan dalam setiap tahapan mulai dari persiapan hingga akhir kegiatan. Kecerdasan interpersonal yang dimiliki mahasiswa sangat tinggi. Hal ini terbukti mahasiswa mampu melakukan lobi pihak sekolah dalam melakukan kegiatan Psikologi Berbagi, mahasiswa mampu berkoordinasi dengan baik dengan berbagai pihak, dan kelihaian mengemas acara, sehingga audience tidak bosan.

          Kecerdasan interpersonal diartikan sebagai kemampuan atau keterampilan seseorang dalam menciptakan relasi, membangun relasi, dan mempertahankan relasi sosialnya sehingga mampu berada pada situasi yang nyaman atau sama-sama menguntungkan (Safaria, 2005).
            Psikologi Berbagi di SMA N 1 Sedayu dan MA Miftahul Huda Temanggung merupakan ajang bagi mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta dalam berlatih menjadi EO dan mengaplikasikan ilmu yang didapat di bangku perkuliahan terutama di bidang komunikasi. Pengalaman yang sangat berharga ini dapat menjadi modal mahasiswa dalam mempersiapkan persaingan di dunia kerja.

Safaria, T. (2005). Interpersonal Intelligence : Metode Pengembangan Kecerdasan Interpersonal Anak. Yogyakarta : Amara Books.


15.8.16

KEIKUTSERTAAN MAHASISWA FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS PROKLAMASI 45 YOGYAKARTA DALAM ACARA SEMINAR & CALL PAPER DI UNIVERSITAS MURIA KUDUS

KEIKUTSERTAAN MAHASISWA FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS PROKLAMASI 45 YOGYAKARTA DALAM

SEMINAR & CALL PAPER DI UNIVERSITAS MURIA KUDUS

 Wahyu Relisa Ningrum
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta

Anak berkebutuhan khusus (ABK) adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukkan pada ketidakmampuan mental, emosi, atau fisik.  Menurut data terbaru, jumlah anak berkebutuhan khusus di Indonesia tercatat mencapai 1.544.184 anak dengan 330.764 anak (21,42 persen) berada dalam rentang usia 5-18 tahun. Dari jumlah tersebut, hanya 85.737 anak berkebutuhan khusus yang belum mengenyam pendidikan di sekolah, baik sekolah khusus ataupun inklusi.
Hal inilah yang mendorong diadakannya Seminar Nasional bertajuk “Aktualisasi Potensi Anak Bangsa Menuju Indonesia Emas” yang diadakan di Universitas Muria Kudus tanggal 13 Agustus 2016. Seminar ini diadakan dengan tujuan menyadarkan dan memberi wawasan kemampuan deteksi dini dan intervensi psikologis pada ABK sebagai salah satu upaya mewjudkan generasi emas Indonesia tahun 2045.

Seminar Nasional dibuka oleh Rektor UMK Bapak Dr. Suparnyo, SH, MS. “Ketersediaan sekolah khusus anak berkebutuhan khusus di Indonesia untuk jenjang PAUD sampai Perguruan Tinggi masih kurang, sehingga diperlukan perhatian yang besar dari pemerintah terutama dalam hal anggaran khusus bagi anak berkebutuhan khusus” ungkap bapak Suparnyo. Dijelaskan pula oleh Dekan Fakultas Psikologi UMK Iranita Hervi M., S.Psi., M.Psi., dalam kata sambutannya bahwa bersikap kepada anak berkebutuhan khusus adalah dengan melalui potensi yang ada pada diri mereka dan diperlukan kajian lebih lanjut dalam penanganan anak berkebutuhan khusus.
Narasumber acara tersebut yaitu Dr. Indun Lestari Setyono M.Psi., selaku pakar Gifted Child dan Konsultan Anak Berkebutuhan Khusus, Biro Konsultasi Psikologi Dwipayana Bandung yang memaparkan materi ‘’Strategi Pendampingan Orangtua atau Guru yang Memiliki Siswa Gifted” dan RM. Maulana Chandra Wibawa, selaku Ketua Yayasan Cinta Harapan Indonesia Autism Center/YCHI Jakarta dengan materinya bertajuk ‘’Cara-Cara Mengajar dan Membimbing Anak-Anak Berkebutuhan Khusus”. 

Puncak acara yang paling ditunggu oleh mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia, terutama empat mahasiswa Fakultas Psikologi  Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta adalah Call for Paper. Call for Paper yaitu acara pemaparan hasil penulisan atas pemikiran mahasiswa baik berupa gagasan yang kritis dan kreatif maupun hasil penelitian terhadap suatu permasalahan yang terjadi di masyarakat yang disertai solusi atas permasalahan tersebut. Acara tersebut juga diikuti mahasiswa dari Universitas Persada Indonesia, Universitas Mercu Buana Yogyakarta, Universitas Negeri Malang, Universitas Surabaya, Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, Universitas Negeri Makasar hingga Universitas Muria Kudus sebagai tuan rumah.
Empat mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta tersebut adalah Nurul Hidayah, Wartono, Tri Welas Asih dan Wahyu Relisa Ningrum. “Senang dan menjadi kebanggaan tersendiri bagi diri sendiri, Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta dan keluarga, semoga ke depannya dapat memberikan motivasi lebih besar bagi diri sendiri dan teman-teman mahasiswa untuk menulis call for paper ”, Ungkap Nurul Hidayah. Dijelaskan pula oleh Wartono bahwa keluarlah dari zona nyaman untuk selalu mencoba hal yang baru terutama untuk mengikuti ajang menulis karya ilmiah yang bergengsi, salah satunya dengan mengikuti call for paper.
Semoga dengan semakin banyaknya mahasiswa mengikuti acara Seminar Nasional dan Call for Paper dapat menggali kreativitas dan mengembangkan potensi diri yang ada pada diri mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta khususnya, serta dapat menjadi salah satu bekal/ modal mahasiswa dalam menghadapi persaingan dalam dunia kerja yang semakin keras.
Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu Arundati Shinta dan Bapak Fx. Wahyu Widiantoro yang selalu membimbing dan mendampingi kami dalam setiap kegiatan yang diikuti oleh Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta, serta Universitas Proklamasi Proklamasi 45 Yogyakarta sebagai kampus tercinta, sehingga acara yang diikuti dapat berjalan dengan lancar dan sukses.

14.8.16

Berawal Dari Keterpaksaan



Berawal  Dari  Keterpaksaan
Tri Welas Asih
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta


Apabila melakukan suatu pekerjaan atau tugas yang tidak kita sukai apa yang muncul dalam benak kita? Ya, pasti rasa malas atau enggan untuk mulai melakukannya bahkan menyelesaikannya. Beda lagi apabila tugas tersebut bersifat “wajib” , rasa malas ditambah dengan rasa terpaksa muncul untuk menyelesaikan tugas tersebut. Meski dengan rasa terpaksa kita tetap menyelesaikan tugas itu. Rasa terpaksa ini bisa menjadi awal perubahan dalam diri seseorang untuk menjadi lebih baik tanpa disadari oleh individu tersebut. Bahkan dari rasa terpaksa bisa menjadi terbiasa dan akhirnya menjadi suka. Apalagi bila hasil yang kita kerjakan dengan terpaksa tersebut ternyata mendapat apresiasi yang luar biasa dari orang lain, maka akan menjadikan kita untuk mengulang keterpaksaan menjadi hal yang menyenangkan.

23.6.16

Mahasiswa atau Pemulung ?


Sampah dan Mahasiswa Psikologi Lingkungan

Chusnul Rizatul Unsya
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

               
              

  Sampah dari dulu selalu menjadi sumber permasalahan yang menuntut banyak solusi untuk menanganinya. Bukan hanya di rumah , sekolah atau kantor. Sampah selalu menjadi masalah. Karna dimana ada manusia selalu terdapat sampah. Oleh karena itu penyelesaian yang di ciptakan haruslah sangat efektif dan bijak. Sampah sendiri dibedakan menjadi dua yaitu sampah organik dan sampah non organik. Sampah organik ialah sampah yang bisa membaur kembali, sedangkan sampah non organik yaitu sampah yang terbuat dari bahan kimia sehingga tidak dapat dibaurkan dengan tanah. Sampah non organik ini yang lebih rumit permasalahannya karna pabrik kemasan tidak pernah berhenti memproduksi bakal sampah organik. Yang berarti sampah non organik juga akan terus meningkat.
                Sebagai mahasiswa psikologi lingkungan saya dengan teman – teman fakultas psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta di tuntut untuk menjadi nasabah bank sampah. Bank sampah ini adalah sebuah program yang dilakukan masyarakat daerah kauman Yogyakarta untuk mengatasi permasalahan sampah non organik. Disana kita bisa menabung sampah berupa botol bekas dan kertas. Hal ini bahkan menjadi syarat mutlak mahasiswa untuk mengikuti UAS yang di berikan oleh dosen kami DR. Arundati Shinta. Beliau terbilang memaksa kami untuk menekuni kegiatan menjadi bank sampah setiap seminggu sekali. Namun pada akhirnya saya menyadari bahwa yang awalnya terpakasa jika dilakukan terus menerus akan menjadi terbiasa. Meski masih terasa sangat sulit membagi waktu dengan pekerjaan yang sering bentrok dengan jam buka bank sampah. Tapi kami mensiasatinya dengan bantu membantu, saling bergantian untuk dititipi. Hal ini meringankan kami, dengan begitu kebiasaan kami mengumpulkan botol bekas tetap tersalurkan dengan positif


                Setiap hari kami mulai memiliki mind set yang berubah. Misal jika selama ini kita cuek melihat botol bekas tergeletak, sekarang yang ada di pikiran kita ketika melihat botol bekas ialah bank  sampah. Selain kita dapat melesatarikan lingkungan dengan mengurangi limbah botol di sekitar kita, kita juga mendapat tabungan uang dari bank sampah hasil dari barang – barang bekas yang kita setorkan setiap minggu. Tidak banyak memang, namun suatu kepuasan tersendiri jika hal yang menjadi limbah dan tidak berharga bisa kita tukarkan dengan nilai rupiah dan pelajaran akan pentingnya menjaga kebersihan.





22.6.16

Masih Bayar Iuran KAS di Sekolah ??? Ga’ Kreatif !!! (Tulisan ini terinspirasi dari siswa-siswi kelas 7B SMP N 2 PETANAHAN, KEBUMEN)




Sri Mulyaningsih
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi ’45 Yogyakarta

KAS adalah iuran kewajiban yang sering kita bayarkan dalam sebuah kelompok organisasi atau kelompok sosial tertentu. Berwujud memberikan uang dengan jumlah yang telah disepakati oleh semua anggota dan waktu penyetorannya pun juga telah disepakati oleh seluruh anggota. KAS sudah mulai diperkenalkan ketika kita belajar pada pendidikan dasar setingkat Sekolah Dasar (SD). Pada masa itu kita telah diajarkan berorganisasi secara sederhana, dibentuklah ketua, sekretaris, dan bendahara sebagai perwakilan kelas.

Salah satu tugas bendahara adalah mengumpulkan dan mengelola uang iuran KAS kelas. Uang – uang itu biasanya digunakan untuk membeli keperluan kelas seperti, modul pelajaran, fotocopi materi, membeli bingkisan jika ada teman yang sakit dan lain sebagainya. Adapula yang memanfaatkan uang KAS untuk persiapan kegiatan exstrakulikuler seperti, berkemah bersama, rekreasi bersama, atau sewa studio musik.

Awal bulan Maret ini, saya mendapat kesempatan berkunjung ke salah satu Sekolah Menengah Negeri di Kabupaten Kebumen, tepatnya di desa Petanahan. SMP N 1 Petanahan merupakan salah satu sekolah unggulan setingkat Menengah di wilayah Petanahan. Siswa – siswi disana tergolong siswa pintar. Namun bukan karena kepintaran mereka yang membuat saya terinspirasi.

21.6.16

BANK SAMPAH: HAL YANG TERLIHAT MUDAH NAMUN SULIT DILAKUKAN
Muhammad Duha Saputra Kusnadi
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta
Semester 4 ini kami Mahasiswa Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta mendapatkan mata kuliah “Psikologi Lingkungan” yang wajib diambil oleh mahasiswa semester 4. Awalnya saya juga merasa “untuk apa sih ada mata kuliah ini di Prodi Psikologi?”. Minggu pertama masuk mata kuliah Psikologi Lingkungan yang mana dosen pengampu mata kuliah ini adalah Ibu Arundati Shinta salah satu dosen yang Super Bagus dan Baiknya kepada Mahasiswa dalam Hal

18.6.16

Bank Sampah : Tabungan untuk Biaya Nikah

Manik Muthmain
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta


Keberadaanmu yang selalu tidak diharapkan, dibuang dan diabaikan lalu kembali dalam bentuk amarah. Selalu disalahkan atas segala bencana  tanpa berpikir siapa sebenarnya yang berulah? ‘Sampah oh sampah...’’ jangan baper please. Memang harus sedikit dramatis dan ironis jika membahas tentang sampah karena dimana ada manusia disitu ada sampah.

Pada semester empat ini kami Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta mendapatkan mata kuliah Psikologi Lingkungan dengan dosen pengampuh Arundati Shinta, DR. MA. Tidak pernah terbayang sebelumnya jika Psikologi akan berbaur dengan sampah. Sejatinya Psikologi Lingkungan membahas tentang hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungan karena manusia adalah bagian dari lingkungan.

Salah satu kegiatan mengasikkan kami dalam Psikologi Lingkungan adalah menjadi nasabah Bank Sampah, kami menjadi nasabah Bank Sampah di Rw. 11 Kelurahan Kauman Yogyakarta. Bank Sampah tersebut dikelola oleh ibu – ibu PKK kelurahan Kauman dan nasabahnya adalah warga sekitar serta kami para pemulung cantik ‘’ehehe…” Setiap hari Jum’at, pada minggu pertama dan keempat kami rutin menabung ke Bank Sampah, bukan menabung uang melainkan sampah – sampah yang tidak terpakai dan masih layak untuk didaur ulang. Sampah – sampah tersebut kami rupiahkan  menjadi tabungan masa depan. Sempat terpikir oleh saya menabung di Bank Sampah untuk biaya nikah kelak  “Aiiii….”  >_<

Dengan berakhirnya mata kuliah Psikologi Lingkungan dan padatnya rutinitas, semoga kami masih sempat mengunjungi dan menabung ke Bank Sampah lagii. Ini adalah kuliah lapangan yang sangat menarik dan bermanfaat semoga kesadaran kita akan lingkungan akan terus terjaga dan semakin meningkat. Salam cinta lingkungan. 

SUKA DUKA MENJADI NASABAH BANK SAMPAH

SUKA DUKA MENJADI NASABAH BANK SAMPAH

Fiki Fatimah
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45 YOGYAKARTA



Sukanya :

-  1. Kita lebih bisa menghargai barang yang tidak pernah kita lirik sebagai barang yang bisa menguntungkan diri kita,dengan adanya bank sampah yang diberitahu oleh ibu shinta menjadikan saya tau bahwa barang yang tidak berguna bisa menghasilkan rupiah.
- 2.Bisa banyak mendapatkan teman,dan saudara baru karena adanya bank sampah ini.
-  3.  Jadi bisa diantar sama pacar setiap jumat pagi
-  4.Bisa belajar cinta lingkungan
   5. Lebih peduli pada barang yang tidak berguna di rumah

Dukanya :

- 1.Harus berjauh2 dari rumah/kos hanya untuk mengantar sampah sedangkan waktu mepet dengan jam kuliah lanjutan setelah mata kuliah psikologi lingkungan.

   2. Terkadang jika punya banyak sampah seneng,tapi saat tidak ada sampah yang akan di bawa menjadi bingung mau bawa apa kesananya.




31.5.16

Pengalaman Menjadi Nasabah Bank Sampah

Tunjukkan Kepedulian Terhadap Lingkungan


Tri Jumiati
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta


Peduli terhadap lingkungan adalah salah satu kewajiban sebagai manusia dimana pun manusia itu berada. Maka dari itu, sebagai manusia saya wajib menjaga lingkungan sekitar saya dengan sebaik-baiknya. Di lingkungan sekitar pasti saya melihat sampah yaitu sampah yang dapat didaur ulang maupun sampah yang tidak dapat didaur ulang. Sampah yang tidak dapat didaur ulang misalnya seperti tisu, bungkus permen, dan sampah yang dapat di daur ulang misalnya seperti bungkus deterjen, bungkus minyak kemasan, maupun plastik berwarna putih dan botol air mineral.
Banyak cara yang dapat dilakukan untuk menunjukkan bahwa sebagai manusia dapat menjaga lingkungan dengan baik agar lingkungan  tetap bersih, dan tidak tercemar oleh sampah. Lingkungan yang paling dekat dengan saya yaitu seperti lingkungan rumah atau tempat tinggal maupun lingkungan kampus. Langkah awal yang dapat  menunjukkan bahwa saya peduli terhadap lingkungan yaitu tidak membuang sampah sembarangan. Namun, kenyataannya saya masih saja kurang peduli terhadap lingkungan sekitar saya, misalnya saya  masih suka membuang bungkus permen dan botol minuman dengan begitu saja tanpa mengumpulkannya.
Maka sebab itu, saya berusaha memulai untuk perbaiki dan menunjukkan bahwa saya peduli dan dapat menjaga lingkungan sekitar saya untuk tetap bersih. Meskipun, kepedulian saya terhadap lingkungan tidak berawal dari diri saya sendiri, melainkan dari salah satu dosen saya yang mengajarkan mata kuliah Psikologi Lingkungan.
Maka sejak itulah saya mulai mengetahui bahwa ada tempat dimana tempat tersebut dipergunakan untuk mengumpulkan dan menerima sampah yang dapat didaur ulang tempat itu bernama “BANK SAMPAH”. Setelah itu, saya mendaftar menjadi nasabah bank sampah dan saya menunjukkan kepedulian saya terhadap lingkungan yaitu dengan cara saya tidak lagi membuang sampah sembarangan. Saya juga selalu mengumpulkan sampah yang dapat didaur ulang untuk disetor ke Bank Sampah.

Sejak saya menjadi nasabah Bank Sampah, saya rajin mengumpulkan sampah bungkus deterjen, bungkus minyak kemasan, kandus bekas dan botol minuman. Setelah  saya kumpulkan sampah  tersebut saya bersihkan dengan cara sampah bungkus deterjen, dan bungkus minyak kemasan saya gunting dan saya rapikan potongannya, lalu saya cuci bersih setelah itu saya jemur dibawah sinar matahari sampai benar-benar kering. Setelah benar-benar kering saya rapikan dan saya masukan kedalam plastik.
Sedangkan kardus bekasnya hanya saya lipat dan saya masukkan ke dalam kardus yang lebih besar, dan sebagian ada juga yang saya masukkan ke dalam karung. Tidak jauh berbeda dengan sampah yang lain, botol minuman bekas juga hanya saya bersihkan dan saya pisahkan antar tutup dengan botolnya, lalu saya masukkan ke dalam kantong plastik yang berukuran besar.
Dari hal yang sederhana inilah, saya mulai belajar dan lebih mengedepankan rasa tanggungjawab terhadap diri sendiri, orang sekitar dan lingkungan, tidak hanya itu saja saya juga mulai mengetahui kewajiban saya sebagai manusia bahwa saya harus menjaga, melestarikan dan peduli terhadap lingkungan.
Ini adalah sebuah pembelajaran dan pengalaman yang berharga yang belum tentu saya dapatkan ditempat lain dan pengalaman ini juga belum pernah terfikirkan sebelumnya. Saya berharap semua ini saya lakukan bukan semata-mata hanya karena saya ingin mendapatkan nilai, atau hanya karena memenuhi kewajiban dan tugas yang diberikan oleh dosen saya. Semoga kegiatan dan tindakan ini dapat terus  berlanjut meskipun mata kuliah psikologi lingkungan telah selesai.