Tampilkan postingan dengan label Psikologi Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi Sosial. Tampilkan semua postingan

12.7.22

Perilaku Konformitas di Bumi Cendekia

 Aulia Khoiru Ummatin
21310410086
Mahasiswa Program Studi Psikologi
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta

 

Essay Prasyarat Ujian Akhir Semester Psikologi Sosial 2022
Dosen Pengampu Arundati Shinta

 

Sebagai makhluk sosial, manusia tidak lepas dari interaksi sosial yang mana melibatkan interaksi antar individu maupun antar kelompok. Di era saat ini, sangat jarang manusia bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Maka dari itu, interaksi sosial sangatlah penting di kalangan manapun. Interaksi sosial sangat memungkinkan terjadi dimana saja, seperti di lingkungan sekitar kita dalam kehidupan sehari-hari agar kita dapat bertahan hidup.

Interaksi sosial adalah suatu intensitas sosial yang mengatur bagaimana masyarakat berperilaku dan berinteraksi satu dengan yang lainnya dan sebagai bentuk tindakan yang terjadi antara dua atau lebih objek yang memiliki efek satu sama lain. Pengertian interaksi sosial yang lain adalah proses sosial karena interaksi sosial merupakan syarat utama terjadinya aktivitas-aktivitas sosial. Interaksi sosial terjadi karena adanya komunikasi.

Di SMP dan Pesantren Bumi Cendekia yang berpenghuni kurang lebih 150 orang dalam satu asrama yang berada di lingkungan yang sama tentu saja mempengaruhi banyak interaksi sosial yang terjadi. Salah satu perilaku yang muncul dalam berinteraksi adalah perilaku konformitas. Konformitas adalah suatu jenis pengaruh sosial di mana individu mengubah sikap dan tingkah laku mereka agar sesuai dengan norma sosial yang ada dan yang berlaku dalam sebuah komunitas tempat individu hidup bersosial.

Perilaku konformitas yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari di Bumi Cendekia adalah perilaku satu orang anak yang cenderung mempunyai perilaku diam dan jarang berkomunikasi ketika masuk dalam kelompok teman-teman yang mempunyai perilaku aktif dan cerewet maka satu orang anak tersebut akan cenderung menjadi pribadi yang sama dengan kelompoknya demi mendapatkan tempat dan juga teman dalam kelompok tersebut.

Salah satu siswa ketika saya ajak mengobrol tentang bagaimana keadaan ketika sedang bermain dan belajar bersama teman-temannya menjawab, “Ya, saya mau tidak mau harus mengikuti gaya hidup teman saya walaupun saya tidak suka. Karena saya ingin punya teman dan satu-satunya cara untuk mendapatkan teman saya harus mengikuti bagaimana cara mereka berperilaku.” Fenomena seperti ini menurut saya sangat disayangkan sekali, karena anak-anak tidak bisa menjadi dirinya sendiri demi tuntutan sosial yang terjadi di lingkungannya.

Pesan saya, “Tetaplah menjadi diri sendiri, karena teman hanyalah sementara yang mengisi hari-hari kamu. Kamu boleh mengikuti mereka, tapi dalam hal kebaikan. Untuk yang buruk bisa kami pilah dan pilih agar tidak terjerumus dalam pertemanan yang tidak sehat.”

 

 

DAFTAR PUSTAKA 

Fahri, M. 2019. Interaksi Sosial Dalam Proses Pembelajaran. Palapa : Jurnal Studi Keislaman dan Ilmu Pendidikan. 7(1): 149-166.

Kulsum, U, dkk. 2014. Pengantar Psikologi Sosial. Jakarta : Pustakaraya.

11.7.22

Seberapa Pentingkah Interaksi Sosial?

 

PSIKOLOGI SOSIAL

Semester Genap T.A 2021/2022

Oleh :

Fariha Aulia Syahda (21310410092)

Kelas A (Reguler)

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS PROKLAMASI 45 YOGYAKARTA

Dosen Pengampu:

Dr. Arundati Shinta, M.A.

source: https://bahassemua.com/pengertian-interaksi-sosial/

    Interaksi sosial memiliki pengertian sebagai bentuk pembelajaran dalam menangani berbagai bentuk masalah yang ada di masyarakat. Misalnya di negara kita sendiri yaitu Indonesia terdapat pembahasan mengenai bentuk interaksi sosial yang mempelajari langsung antara bermacam suku-bangsa, antara golongan-golongan yang sering disebut dengan mayoritas dan minoritas, lalu antara golongan pelajar, golongan agama dan masih banyak lagi. Berasal dari Bahasa latin yaitu Con atau Cum yang memiliki arti bersama-sama, dan tango yang memiliki arti menyentuh, jadi secara harfiah ialah bersama-sama meyentuh. Interaksi sosial ialah proses antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, atau kelompok berhubungan antara satu sama lain. Inti yang dapat ditarik pada kehidupan sosial ialah interaksi yaitu suatu aksi ataupun tindakan yang berbalas-balasan.

    Dalam hal ini saya mewawancari salah satu narasumber terkait topik yang sedang di bahas yaitu pentingkah interaksi sosial? Narasumber bernama Helmi Fahreza mahasiswa Universitas Siliwangi yang saat ini sedang menjalani semester 4. Narasumber memiliki latar bealakng yang berhubungan sekali dengan interaksi sosial seperti mengikuti banyak organisasi, mengikuti kegiatan relawan dan masih banyak lagi. Pada kesempatan wawancara kali ini terdapat beberapa pertanyaan terkait interaksi sosial.

Menurut anda seberapa pentingkah interaksi dalam kehidupan sehari-hari?

“Sangat penting, karena dengan berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari akan mempermudah kegiatan ataupun aktivitas yang akan dilakukan, contohnya ketika seorang Ibu meminta tolong kepada saya  untuk mengantarkan ke pasar berbelanja kebutuhan sehari-hari, berinteraksi dengan dosen saat pembelajaran di kelas, menyapa tetangga di pagi hari sebelum berangkat kerja dan masih banyak lagi.”

Apakah anda mengalami kesulitan dalam berinteraksi?

“Tidak, karena saya termasuk tipikal orang yang ekstrovert mudah berbaur dengan orang lain maupun dengan orang baru walaupun membutuhkan waktu sekali atau dua kali dalam bertemu.”

Apakah kamu memiliki pekerjaan yang berhubungan dengan interaksi sosial?

“Ya, saya memiliki pekerjaan sampingan sebagai driver ojek online yang mana harus memberikan pelayanan kepada customer secara maksimal.”

Bagaimana cara kamu memulai berinteraksi dengan orang di sekitarmu?

“Menurut saya, pertama kita harus mengetahui karakter orang yang mau kita ajak bicara lalu yang kedua membuka pembicaraan untuk melakukan interaksi kemudian yang ketiga menyampaikan suatu tujuan yang diinginkan pada interaksi tersebut.”

Bedasarkan latar belakang anda, anda termasuk seseorang yang aktif dalam kegiatan berorganisasi. Apakah anda sering menemui orang yang sulit diajak untuk berinteraksi? Bagaiamana cara anda mengatasinya?

“Ya, selama saya aktif berorganisasi sering menjumpai orang yang sulit untuk berinteraksi. Karena apabila dalam suatu organisasi terdapat orang yang sulit untuk berinteraksi itu akan mempersulit dalam mencapai suatu tujuan yang akan diinginkan. Namun, hal yang saya lakukan ialah dengan melakukan pendekatan secara persuasif dan memberikan arahan secara langsung dan jelas.”

Bedasarkan hasil wawancara yang sudah dilakukan dapat disimpulkan bahwa berinteraksi sosial itu sangatlah penting dan akan mempermudah dalam mencapai suatu tujuan.

 


Daftar Pustaka

Fahri, L.Moh. and Qusyairi, L.A.H. (2019). Interaksi Sosial dalam Proses

Pembelajaran. PALAPA, 7(1), pp.149–166.

doi:10.36088/palapa.v7i1.194.

‌wawancara narasumber

3.5.22

Hate Comment on Social Media in Cyberpsychology Perspective

 

PSIKOLOGI SOSIAL

Semester Genap T.A 2021/2022

Oleh :

Fariha Aulia Syahda (21310410092)

Kelas A (Reguler)

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS PROKLAMASI 45 YOGYAKARTA

Dosen Pengampu:

Dr. Arundati Shinta, M.A.

source:https://www.linkedin.com/pulse/why-i-love-hate-comments-collin-castrina

Media sosial ialah suatu media online yang diisi oleh para pengguna yang berpatisipasi , berbagi, dan menciptakan suatu konten misalnya blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual. Opini lain terkait media sosial ialah media online yang membantu hubungan sosial dan media sosial memakai teknologi berbasis web yang mengalihkan komunikasi menjadi dialog interaktif. Andreas Kaplan dan Michael Haenlein mendeskripsikan media sosial sebagai “sebuah aplikasi berbasis internet yang membentuk di atas dasar ideologi dan teknologi web 2.0 yang menciptakan user-generated content.” Di dalam media sosial siapa pun bebas berpartisipasi dalam memberi feedback secara terbuka, berbagi informasi serta secara bebas memberi komentar. Namun siapa sangka bahwasannya media sosial sangat memiliki pengaruh besar pada kehidupan seseorang. Bagi para masyarakat terlebih para remaja, media sosial ini bagaikan makanan sehari-hari yang mana penggunanya seringkali membuka media sosial. Para remaja yang memiliki media sosial biasanya mengunggah konten terkait kegiatan pribadinya, curhatannya, serta foto dengan teman. Di dalam media sosial siapa saja bebas memberikan pendapat atau menyalurkan pendapat tanpa rasa cemas. Hal ini disebabkan dalam internet terlebih media sosial mudah sekali untuk memalsukan jati diri atau melakukan suatu kejahatan, padahal dalam masa perkembangannya di sekolah, para remaja seharusnya mencari identitas dirinya dengan bergaul oleh teman sebayanya. Akan tetapi untuk saat ini para remaja beranggapan bahwasannya semakin dirinya aktif di media sosial maka akan dianggap keren dan gaul, sedangkan remaja yang tidak memiliki media sosial di cap kuno atau ketinggalan zaman serta kurang bergaul.

Masa remaja ialah masa perpindahan dimana seseorang telah meninggalkan masa kanak-kanak tetapi ia belum memasuki masa dewasa, maka dari itu kalangan remaja menjadi hiperaktif di dunia media sosial seperti mengunggah kegiatan sehari-hari seakan menggambarkan gaya hidup yang mengikuti kemajuan zaman. Perkembangan sosial media semakin lama semakin maju, di tahun 1997 sosial media dicetuskan berlandasakan kepercayaan, akan tetapi mulai dari tahun 2000-an hingga tahun selanjutnya sosial media diinginkan banyak orang hingga mencapai masa kejayaannya. Tentu saja banyak dampak dari perkembangan sosial media yang kian maju, baik itu dampak yang positif maupun dampak yang negatif terhadap anak-anak dan remaja. Terdapat dua tipe dari pola perilaku online (online disinhibition) individu, yaitu benign disinhibition yaitu pola perilaku online yang menunjukkan sisi ramah, altruistic atau sifat protagonist individu dan tonixc disinhibition  yang menunjukkan sisi kasar atau sifat antagonist  yang dimiliki individu (Suler (dalam Febrian dkk., 2014). Penelitian mengatakan bahwasannya terkadang perilaku komunikasi dan respon seseorang di media sosial sangat banyak berbeda dari perilaku kesehariannya seperti interaksi tatap muka, karena dalam bermedia social seseorang lebih leluasa untuk berekspresi dalam mengungkapkan tentang apa yang dipikirkan atau yang dirasakan, terkadang seseorang bisa saja mengekspresikannya secara tidak asertif, narsis, dan arogan. Hal  itu disebabkan karena mereka merasa tidak terbebani oleh ketergantungan norma serta nilai-nilai yang berlaku dalam interaksi langsung atau tatap muka. Selain itu tidak adanya pembatasan layanan media sosial bagi penggunanya, entah dari segi usia dan jenis kelamin, status sosial dan pendidikan yang membuat netizen bebas mengekspresikan perasaannya di akun pribadinya. Hal inilah yang membuat proses bertutur kata mereka selalu mewakili status dan identitas sosial pribadi. Pada kondisi ini, pengguna social media seringkali tidak menyadari baik disengaja ataupun tidak disengaja banyak yang menggunakan kalimat dengan nuansa menyindir, mencemooh, dan menghina.

Hate Comment atau komentar negatif terkait konten yang beredar di media sosial umumnya dipicu oleh perasaan tidak suka yang dirasakan oleh seorang pengguna media sosial ketika melihat konten yang ia rasa berkebalikan dengan konsep diri atau rasa senang yang ada dalam dirinya. Faktor internal seperti itu bisa mengakibatkan pengguna sosial media mengungkapkan komentar negatif dengan kata-kata kasar atau bahkan high speech yang sangat tidak sopan hanya untuk mengekspresikan bahwa mereka tidak menyukai konten tersebut. Selain itu, tidak sedikit pengguna sosial media yang hanya melampiaskan kekesalan atau emosi negatif yang ada pada dirinya kepada salah satu konten atau bahkan public figure hanya untuk kesenangan dan ego pribadi. Bentuk hate comment seperti itu harusnya tidak terlalu diboomingkan atau dibesarkan karena sudah ada juga beberapa perundang undangan yang mengatur tentang hal tersebut walaupun masih banyak delik yang mampu dilakukan oleh pengguna sosial media untuk terus menyebarkan hate comment di media sosial


Daftar Pustaka

Aulia, M. and Pratama, A. (n.d.).Ujaran Kebencian Di Kalangan Pengguna Media Sosial

Diindonesia: Agama Dan Pandangan Politik.

[online] Available at:

https://journal.uii.ac.id/AUTOMATA/article/download/17286/10857.

mardianto (2019). PRASANGKA DAN UJARAN KEBENCIAN SIBER: PERAN POLA KOMUNIKASI DARING DAN ALGORITMA MEDIA SOSIAL (Ruang Gema dan Gelembung Informasi).

            [online] Avaible at:

            https://osf.io/preprints/inarxiv/pg6ru/

 

 

 

21.4.22

Psikologi dan Bencana, Dua Sisi Koin yang Tidak Mungkin Terpisahkan

 

PSIKOLOGI SOSIAL

Semester Genap T.A 2021/2022

Oleh :

Fariha Aulia Syahda (21310410092)

Kelas A (Reguler)

F AKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS PROKLAMASI 45 YOGYAKARTA

Dosen Pengampu:

Dr. Arundati Shinta, M.A.

source: Koran-Jakarta.com

Bencana ialah suatu rangkaian peristiwa yang menggangu kehidupan masyarakat, yang bisa diakibatkan dari faktor alam, faktor non alam ataupun dari faktor manusia sehingga banyak mengakibatkan munculnya korban jiwa, kerusakan lingkungan, kehilangan harta benda dan juga bisa menimbulkan dampak psikologis (BNBP, 2020). Bedasarkan hasil data survey mengatakan bahwa setiap tahun terdapat rata-rata 60.000 korban jiwa yang disebabkan oleh bencana di seluruh dunia. Indonesia termasuk salah satu negara yang memiliki tingkat kemungkinan terjadinya bencana yang tinggi. Hal ini disebabkan oleh letak geografis yang terletak pada ujung pergerakan tiga lempeng dunia yaitu Eurasia, Indo-Australia dan Pasifik (BBC, 2011). Indonesia terletak pada jalur cincin api pasifik, yakni jalur gunung api di wilayah pasifik (Kumparan, 2018). Hal inilah yang merupakan faktor Indonesia memiliki banyak gunung api yang aktif yang tentu saja meningkatkan resiko terjadinya bencana alam gunung meletus. UNISDR menyebutkan bahwa tsunami menduduki tingkat pertama  resiko bencana dari 265 yang telah di survei. Statistik menyebutkan bahwa dari tahun 2015 sampai 2019 jumlah bencana yang terjadi dari tahun 2018 ke tahun 2019 adalah dari 4051 kasus menjadi 9383 kasus. Di tahun 2019 banyak sekali bencana kebakaran hutan dan lahan di Indonesia yang membuat angka bencana naik pesat. (BNBP, 2020). Pada 2019 tepatnya di bulan Desember suatu bencana alam terjadi di Republik Rakyat Cina tepatnya di Wuhan. Bencana tersebut adalah virus COVID-19 yang disebutkan oleh WHO sebagai bencana krisis Kesehatan berskala internasioanal karena sudah berdampak ke 212 negara di seluruh dunia (WHO, 2020). Pada tahun 2020 Indonesia terdampak wabah COVID-19 yang sampai saat ini kasusnya terus meningkat. Bencana alam maupun non-alam memang sama-sama memiliki dampak yang luar biasa, diawali dengan timbulnya korban jiwa, kerusakan pada lingkungan, kehilangan harta benda dan sarana prasarana yang rusak.

Dampak pada bencana alam tidak hanya berpengaruh pada fisik saja, tetapi hal ini juga sangat berpengaruh pada dampak psikologis. Dampak ini memang tidak menjadi perhatian lantaran tidak terlihat jelas seperti dampak fisik saat bencana terjadi. Memang problema yang paling mendasar itu adalah fisik contohnya gangguan pada pemenuhan kebutuhan makan, minum, tempat tinggal, kesehatan serta pendidikan, tetapi masih ada kemungkinan keterpurukan lain menyangkut pada masalah psikososial, contohnya khawatir akan terjadinya bencana susulan, rasa kesedihan mendalam atas kehilangan keluarga, harta benda, sumber mata pencaharian, dan lain-lain. Hal yang memperkeruh situasi para pengungsi ialah mereka sangat mudah terbawa api konflik pada sesama pengungsi akibat jenuh. Misalnya pengungsi yang setiap harinya bermata pencaharian petani terbiasa untuk bekerja keras, sementara di tempat pengungsian mereka diam tanpa adanya kegiatan tentu ini akan menimbulkan rasa bosan. Kemudian minimnya pencukupan kebutuhan hidup dan tidak optimalnya peran keluarga serta kemudian timbul rasa hilangnya pengendalian diri, kekecewaan terhadap pelayan pemerintah yang berpotensi menjadi aksi sosial, hingga pengungsi pun merasa hilang rasa percaya diri dan harga diri, pada akhirnya menjadi pasrah, putus asa, tidak berdaya, cenderung meyalahkan pihak yang menambah beban hidup mereka, kemudia bergantu kepada bantuan yang diberikan pemerintah dan pihak lain, serta meyalahkan tuhan terkait musibah yang telah terjadi.

Dalam situasi seperti ini tentu saja diperlukan upaya penanganan dampak sosial psikologis terhadap para korban bencana tujuannya agar terhindar dari gangguan psikologis dan permasalahan sosial yang lebih luas, Langkah yang bisa diambil untuk melakukan penangan dampak sosial psikologis ialah :

  • Advokasi (perlindungan upaya pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi secara layak dan memadai)
  • Intervensi keluarga (pelayanan khusus untuk keluarga yang kehilangan kepala keluarganya misalkan seorang istri atau ibu yang mengambil alih tanggung jawab menggantikan seorang ayah sebagai kepala keluarga sekaligus sebagai sumber pencari nafkah. Tentu saja agar masa transisi ini dapat berperan dengan baik perlu dukungan dari banyak pihak sehingga fungsi dalam keluarga bisa pulih dan peran keluarga dapat tercapai).
  • Terapi kritis (pemberian layanan kepada korban yang mengalami stress atau rasa trauma karena peristiwa bencana tersebut, terapi yang dilakukan adalah pengungkapan perasaan negatif yang dilanjutkan dengan pembelajaran sederhana terkait cara membangun perasaan positif kemudian bekerja sama dengan kelompok untuk menginventarisasi hal positif yang bisa dilakukan di daerah yang baru lalu menyusun rencana kegiatannya.
  • Membangun partisipasi (melibatkan pengungsi dalam hal kegiatan dapur umum, melakukan Latihan keterampilan lain agar bisa terrhindar dari suasana kontra produktif yang dapat menghambat proses recovery psikologis penyintas bencana alam.
  • Mediasi dan fasilitas relokasi (penyuluhan terhadap warga di daerah tujuan yang baru untuk menerima hadirnya para pengungsi yang akan direlokasikan di daerah mereka (Marjono, 2010)

Langkah lain yang bisa dilakukan ialah memberikan penyuluhan terkait kesehatan mental pada masyarakat pada saat sebelum terjadi bencana, ketika terjadi bencana sebagai salah satu bentuk penanganan preventif psikologis. Untuk penanganan kuratif, dapat memberikan PFA atau Psychological First Aid sebagai bantuan awal psikologis agar masyarakat yang terdampak bencana dapat menjalani keseharian dengan lebih baik.


Daftar Pustaka

Rusmiyati, C., Hikmawati, E., Kunci, K., Penanganan and Merapi, B. (2012). PENANGANAN DAMPAK

SOSIAL PSIKOLOGIS KORBAN BENCANA MERAPI (Sosial Impact of Psychological Treatment Merapi Disaster Victims).[online] 17(02). Available at: https://puslit.kemsos.go.id/upload/post/files/1d9dd7c11ce880b889bbc6397c241ab1.pdf  [Accessed 19 Apr. 2022].

‌Unair. (n.d.). [online] Available at:

https://repository.unair.ac.id/107876/4/4.%20BAB%20I%20PENDAHULUAN.pdf [Accessed 19 Apr. 2022].

‌

 

 

 

15.6.20

TIGA ASPEK PERSPEKTIF: PENDIDIKAN DAN PEMUDA BERPERAN?

Tiga Aspek Perspektif: Pendidikan dan Pemuda Berperan?


Erlyna Rahma Sari (19.310.410.084)

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

Pendidikan adalah hal yang mendasar untuk mencapai tujuan berkelanjutan terutama terkait dengan manusia (sosial). Dalam kaitan tersebut, Indonesia seperti  banyak Negara lainnya telah memasukan konsep berkelanjutan sebagai salah satu prinsip dasar dalam pembangunan pendidikan nasional. Definisi pembangunan berkelanjutan mengikuti Komisi Brundtland (1987) sebagai: “pembangunan yang memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri”. Generasi muda mampu menyongsong negaranya dikemudian hari. Pembangunan berkelanjutan mencangkup kesetaraan antara tiga perspektif dalam kehidupan yaitu, aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan.

Sachs (2015) menyatakan bahwa pembangunan berkelanjutan menjadi cara para pakar untuk memahami dunia dan sebuah metode untuk menyelesaikan permasalahan dunia yang berawal dari sesaknya bumi akibat pertumbuhan penduduk dunia yang sudah mencapai sembilan kali lebih banyak dari populasi manusia yang hidup pada zaman dimulainya revolusi industri. Negara mulai sadar akan pembangunan berkelanjutan. Agar lebih mudah pembangunan dikelompokan menjadi tiga aspek. Pembangunan manusia menjadi bagian vital dari investasi yang dibutuhkan dalam pembangunan ekonomi karena merupakan jalur investasi yang disiapkan untuk anak-anak sebagai generasi penerus. Generasi penerus akan melanjutkan perbaikan ekonomi baik secara individu bagi keluarganya maupun secara berkelompok bagi komonitasnya.

Pendidikan memang dasar dari segala aspek pembangunan berkelanjutan. Aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan saling berkaitan. Bagimana peran pendidikan dalam pembangunan berkelanjutan? Sadarkah gnerasi muda akan pentingnya pendidikan dan pembangunan berkelanjutan?

Aspek sosial bisa terbentuk secara alami. Dengan aktivitas sehari-hari. Bisa juga dengan ciri khas masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia yang ramah-ramah, saling membantu (gotong royong), dan menghargai perbedaan. Seperti saat ini, terjadi pandemi Covid-19. Awalnya masyarakat awam masih belum sadar akan bahayanya Covid-19. Peran serta mereka dalam menangani pandemi tersebut masih kecil. Kepanikan masyarakat meninggi saat meluasnya Covid-19. Setelah disosialisasikan bahaya dan cara menangani Covid-19, kepanikan masyarakat menurun. Masyarakat bersatu melawan Covid-19. Tidak lupa para pemuda ikut berperan dalam penanganan Covid-19. Mereka menjadi relawan, berdonasi, membagikan masker gratis, mencontohkan mencuci tangan dengan benar dan lain sebaginya. Menunjukkan aspek sosial berjalan dikalangan pemuda.

Lembaga pendidikan tinggi ikut berperan dalam pengajaran, penelitian, dan pembelajaran. Memberikan pengertian betapa pentingnya pembangunan berkelanjutan.  Lembaga pendidikan melahirkan generasi muda yang berkualitas, berinovasi, dan mampu menghadapi tantangan zaman.  Dalam pandangan Cortes (1999), sistem pendidikan selama ini telah membantu kepada kita membawa pada persimpangan jalan dari apa yang kita hadapi saat ini, yaitu mendidik anak-anak muda dengan cara yang telah memperkuat pengabaian terhadap lingkungan dan atau pola pikir yang tidak sensitif.

Kerusakan lingkungan sudah menyebar luas. Pembekalan akan pentingnya menjaga lingkungan harus diterapkan sejak dini. Melalui lembaga pendidikan, pengajaran yang utama untuk menanamkan rasa cinta terhadap lingkungan. Beberapa kerusakan lingkungan sudah terjadi di Indonesia. Seperti penebangan hutan, efek rumah kaca, pencemaran limbah industri dan masih banyak lainnya. Jika hal ini tidak segera diatasi keberlanjutan bumi akan musnah. Maka dari itu, peran lembaga pendidikan akan aspek lingkungan sangat penting. Generasi sekarang dan mendatang harus mampu memenuhi kebutuhanya tanpa merusak alam. Mentri Lingkungan Hidup Indonesia pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia (kambuaya, 2012) menyatakan bahwa Indonesia sudah berupaya mewujudkan pembangunan berkelanjutan; pada tataran nasional, pemerintah Indonesian berkomitmen untuk menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 26% pada 2020 dengan upaya sendiri dan sebesar 41% dengan bantuan internasional.

Generasi muda harus berfikir cermelang. Memberikan ide-ide yang membangun tanpa merusak. Mengajak manusia untuk berfikir tentang berkelanjutan bumi dan keberlanjutan alam semesta. Mempersiapkan dirinya (generasi muda)  hingga masa yang mendatang. Generasi yang mendatang juga harus mempersiapkan dirinya sejak dini. Pendiidkan bukan hanya tentang teori-teori namun tentang pembelajaran lingkungan juga. Surat keputusan bersama antara Kementrian Negara Lingkungan Hidup dengan Kementrian Pendidikan Nasional Nomer 03/MENLH/02/2010 dan  Nomer 01/II/KB/2010 tentang  Pendidikan Lingkungan Hidup menyatakan bahwa pengembangan pelaksanaan pendidikan untuk pembangunan yang berkelanjutan termasuk pendidikan lingkungan hidup dilaksanakan pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan sebagai wadah atau sarana menciptakan perubahan pola pikir, sikap, dan perilaku manusia yang berbudaya lingkungan hidup. Kesepakatan antara kedua mentri ini dilaksanakan melalui program Adiwiyata di sekolah.

Sadarnya generasi muda dan masyarakat umum membantu Indonesia dalam pembangunan berkelanjutan. Dengan adanya perwujudan lingkungan yang bersih, menerapkan penggunaan kantong belanja sendiri, dan adanya komunitas peduli lingkungan.  Perwujudan itu semua, contoh dari generasi muda peduli terhadap lingkungan. Mereka bersosialisasi akan keberlangsungan hidup bumi itu penting.

Pendidikan juga menjadi tolak ukur seseorang untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Generasi muda berlomba-lomba untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Mayoritas perusahaan mencari orang-orang dengan lulusan yang baik atau dari perguruan tinggi. Berbeda tingkat pendidikan berbeda juga jabatannya. Semisal lulusan SMA dengan lulusan S1, akan berbeda jabatannya. Aspek ekonomi dalam pendidikan, tidak semua bisa melanjutkan sekolah. Masih banyak masyarakat yang ekonominya menengah kebawah. Sehingga Anak-anak putus sekolah, bekerja seadanya, dan tidak memiliki ketrampilan. Hal itu akan berdampak pada aspek ekonomi pada pembangunan berkelanjutan.

Tujuan pembangunan berkelanjutan ada 17. Dengan tujuan itu Indonesia menciptakan kesejahteraan bersama, menjadikan Negara lebih baik, membangun industri dan akademi yang berkualitas. Salah satu perwujudannya adalah memberikan beasiswa. Beasiswa untuk anak-anak melanjutkan pendidikan. Generasi muda yang berpendidikan akan memiliki wawasan yang luas. Dengan wawasan yang dimilikinya ia mampu bersaing, dan bisa menciptakan lapangan pekerjaan. Terbukti tingkat kemiskinan berkurang. Angka kemiskinan Indonesia pada September 2018 turun menjadi 9,66% dibanding Maret 2018 sebesar 9,82% maupun September 2017 yang mencapai 10,12% (kompasiana, 10/04/2019).

Jadi, aspek sosial, ekonomi dan lingkungan saling berkaitan. Pendidikan dan pemuda berperan dalam ketiga aspek. Pembangunan berkelanjutan tercipta karena ada dukungan dari semua lembaga. Pendidikan memberikan pengajaran, penelitian dan pembelajaran. Pemuda mengaplikasikannya, memberikan sebuh inovasi untuk kebutuhan dan keberlangsungan hidup. Lembaga pendidikan dan pemuda menyatu dengan ketiga aspek. Memanfaatkan sumber daya yang ada, tanpa merusak. Kesejahteraan dan pembangunan mulai terpenuhi dengan baik.

 

 

Referensi:

(Diakses 8 April 2020)

 Nur, L. (2013). Pelaksanaan Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan oleh beberapa Lembaga. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 9 No. 19.

I.M. Gunamantha. (2010). Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan: Mengapa, Apa dan Bagaimana. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Jilid 43 No. 3.

Familia, N. S. (2015). Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan. Vol. 10 No. 3. 304-331. Dapat diakses melalui http://ejournal.uki.ac.id/index.php/jdp/article/view/634

https://www.kompasiana.com/nurlatifah74117/5cb0678ecc5283115a1e28d4/peran-pemuda-dalam-pembangunan-berkelanjutan-di-indonesia

https://www.kompasiana.com/adhibasafira/5cae0cfccc52835b9f6bae83/peran-kita-sebagai-mahasiswa-dalam-menyoongsong-sdgs

14.6.20

KORBAN PERILAKU AGRESIF PACAR? JANGAN TINGGAL DIAM!


UJIAN AKHIR PSIKOLOGI SOSIAL
(Semester Genap 2019/2020)


KHARISMA AYU MUTIARA DEWI
19310410070
Arundati Shinta (NIK. 1.60 / DY / UP45)
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta

  Saat ini di Indonesia sudah tidak asing lagi bagi kita perilaku remaja yaitu perilaku pacaran. Pacaran merupakan proses menyatukan antara dua insan manusia yang masih berada dalam rangakaian tahap pencarian kecocokan menuju kehidupan yang lebih serius yaitu pernikahan. Kita sering melihat remaja remaja yang sedang berpacaran di taman atau tempat tempat yang romantis. Berpegangan tangan, memberikan perhatian yang lebih dengan cara pacaran mereka tanpa melihat situsi. Atau yang sering kita ucapkan adalah seakan dunia milik mereka berdua.
                   
Baik pria maupun wanita jika sudah terbuai dengan kata kata atau terlalu cinta dengan lawan jenis pasangan. Apapun mereka akan  lakukan atau menerima perilaku pasangan tanpa memerdulikan resikonya atau bahasa remaja saat ini adalah BUCIN. Yang lebih sering bucin terhadap pasangan adalah seorang wanita. Wanita rela mendapatkan apapun, mulai dari perilaku atau melakukan apapun untuk pasangannya. Demi bersama pasangannya dan selagi pasangannya bahagia. Apalagi yang sudah lama berpacaran. Ada pernyataan bahwa “Pacaran yang berjangka lama yang didepannya manis tetapi lama kelamaan akan muncul sifat/perilaku aslinya”. Lalu bagaimana jika perilaku agresif yang dia dapatkan sebagai perilaku aslinya? Bagaimana itu terjadi? Apa yang harus dia lakukan jika mendapatkan perlakuan seperti itu?
Scheneiders (1955) mengartikan perilaku agresif sebagai luapan emosi atas reaksi terhadap kegagalan individu yang ditunjukkan dalam bentuk perusakan terhadap orang atau benda dengan unsur kesengajaan yang diekspresikan dengan kata-kata (verbal) dan perilaku non-verbal. Sars (1985) beranggapan bahwa agresi merupakan setiap perilaku yang bertujuan menyakiti orang lain, atau adanya perasaan ingin menyakiti orang lain yang ada dalam diri seseorang. Sedangkan Moore dan Fine (dalam Koeswara, 1988) memandang perilaku agresif sebagai tingkah laku kekerasan. Secara fisik ataupun verbal terhadap individu atau objek-obejek lain.
Kasus kekerasan pada perempuan sudah tercatat oleh Komnas Prempuan (Ridwan, 2006) sebanyak 3169 kasus kekerasan terhadap perempuan, kaum perempuan paling banyak mengalami kekerasan dan pengani ayaan oleh orang orang terdekatnya (40%) serta tindak perkosaan dikomunitasnya sendiri (32%) dari 14 daerah yang tercatat di Indonesia. Pola ini berlaku dikota kota besar seperti Jakarta dan Yogyakarta, di daerah yang miskin dan penuh konflik, maupun di daerah yang diwarnai kedinamisan ekonomi serta budaya seperti Surabaya dan Sulawesi Selatan.
Kekerasan dalam pacaran (KDP) atau Dating Violence biasanya berasal dari faktor pengalaman kekerasan dalam keluarga. Yaitu ketika remaja tersebut melihat kekerasan ayahnya terhadap ibunya atau diri sendiri yang selalu mendapatkan kekersan dari keluarganya. Pengalaman kekerasan inilah yang membuat remaja tersebut akan memebentuk karakter atau kepribadian dalam dirinya bahwa kekerasan merupakan suatu hal yang wajar untuk dilakukan dan tertanam dalam diri individu. Jika hal tersebut terjadi maka dalam diri individu tersebut terdapat gangguan kepribadian. Remaja tersebut akan menirukan hal tersebut jika pasangannya melakukan kesalahan yang membuatnya sangat marah. Yang kedua adalah faktor dari remaja yang sering melihat konten kekerasan di media online. Tayangan pada media seperti tayangan film juga sedikitnya memberikan kontribusi terhadap munculnya perilaku agresif terhadap pasangan. Tayangan kekerasan yang sering muncul dalam adegan sensual dalam film tertentu dapat memicu tindakan kekerasan terhadap pasangan. Penelitian yang dilakukan psikolog Albert Bandura mengenai paparan kekerasan di media dengan sikap agresif anak menemukan keterkaitan antara paparan kekerasan di media saat masa kanak-kanak dan serangkaian masalah di masa dewasa. Misalnya, orang yang sejak kecil sudah terpapar tayangan kekerasan di televisi secara intens dua kali lebih mungkin untuk menyiksa pasangan mereka secara fisik dibandingkan dengan mereka yang kurang terpapar.
Seperti yang sudah kita ketahui kekerasan ini bisa berbetuk fisik maupun verbal. Fisik seperti memukul, menjambak, menampar yang berkaitan dengan fisik manusia atau anggota tubuh. Sedangkan secara verbal atau simbolis berupa kata-kata kasar, kata-kata tidak layak dengar kata makian, hinaan, mengancam, dan membatasi pergaulan. Lalu kenapa wanita yang sudah diperlakukan kekerasan masih bertahan? Karena mereka mendapatkan ancaman dari pria seperti contoh “Kalau kamu masih bertemu dengan cowok lain. Jangan harap hubungan kita masih berlangsung! Ngerti!” atau kalimat “Kamu jangan kebanyakan bacod. Kamu mau apa nggk!” wanita tersebut menerima karna kembali kagi pia itu adalah pacarnya dan berpikiran dia bisa berubah.

Kepribadian seseorang ada yang bisa dirubah namun ada juga yang tidak bisa dirubah. Jika tidak berubah apakah harus bersama selamanya? Ini malah akan merusak diri wanita sendiri. Yang bisa berakibat trauma kepada Pria dan enggan untuk dekat atau pacaran lagi dengan pria. Maka dari itu putuskan pria tersebut dan mencari yang lain. Adapun pencegahan untuk kekerasan dalam pacaran. Cohen dan Wills (1985) mengklasifikasikan dukungan sosial dalam lima kategori yaitu: pertama yaitu emotional support, yang meliputi ekspresi empati, peduli, dan perhatian terhadap orang lain. Kedua yaitu esteem support, bentuk dukungan ini berupa penghargaan positif pada individu, pemberian semangat, persetujuan pada pendapat individu, dan perbandingan yang positif dengan individu lain. Bentuk dukungan ini membantu individu dalam membangun harga diri dan kompetensi. Ketiga yaitu tangible or instrumental support, bentuk dukungan ini merupakan penyediaan materi yang dapat memberikan pertolongan langsung seperti pinjaman uang, pemberian barang, makanan, serta pelayanan. Bentuk dukungan ini dapat mengurangi kecemasan karena individu dapat langsung memecahkan masalahnya yang berhubungan dengan materi. Keempat yaitu informational support, bentuk dukungan ini melibatkan pemberian informasi, pengetahuan, petunjuk, saran atau umpan balik tentang situasi, dan kondisi individu. Jenis informasi seperti ini dapat menolong individu untuk mengenali dan mengatasi masalah dengan lebih mudah. Kelima yaitu network support, bentuk dukungan ini akan membuat individu merasa menjadi anggota dari suatu kelompok yang memiliki kesamaan minat dan aktivitas sosial dengan kelompok. Dengan begitu individu akan memiliki perasaan senasib (Sarafino & Smith, 2002).
Yang paling penting adalah dukungan dari keluarga yaitu dalam membangun interaksi dengan lawan jenis yang lebih sehat dan konstruktif. Dalam ini significant others tidak memiliki korelasi dengan kecenderungan perilaku kekerasan dalam berpacaran. Hal ini mungkin dikarenakan oleh significant others bukanlah seseorang yang memiliki dampak langsung dalam kehidupan remaja. Seperti memberi perhatian dan meningkatkan komunikasi yang baik dengan anak remajanya agar mereka dapat terbuka ketika anak ingin bercerita hal apapun pada orang tua terutama masalah pacar agar anak tidak merasa segan atau takut.

Daftar Pustaka
Susantyo, B. (2011). MEMAHAMI PERILAKU AGRESIF: Sebuah Tinjauan Konseptual. Informasi, Vol. 16 No. 03.
Febryana, R & Aristi, D. (2019). Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Tindakan Kekerasan dalam Pacaran pada Siswa SMA. Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat. Vol.8 No. 3: 123-129. DOI: 10.33221/jikm.v8i03.352.
Khaninah, A. N & Widjanarko, M. (2016). PERILAKU AGRESIF YANG DIALAMI KORBAN KEKERASAN DALAM PACARAN. Jurnal Psikologi Undip. Vol.15 No.2. 151-160.
Mardiah, A., Satriana, D. P & Syahriati, E. (2017). PERANAN DUKUNGAN SOSIAL DALAM MENCEGAH KEKERASAN DALAM PACARAN: STUDI KORELASI PADA REMAJA DI JAKARTA. Jurnal Psikologi Ulayat. Vol. 4 No. 1. Hlm. 29-42

Referensi gambar