Tiga Aspek Perspektif: Pendidikan dan
Pemuda Berperan?
Erlyna
Rahma Sari (19.310.410.084)
Dosen
Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.
Fakultas
Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta
Pendidikan
adalah hal yang mendasar untuk mencapai tujuan berkelanjutan terutama terkait
dengan manusia (sosial). Dalam kaitan tersebut, Indonesia seperti banyak Negara lainnya telah memasukan konsep
berkelanjutan sebagai salah satu prinsip dasar dalam pembangunan pendidikan
nasional. Definisi pembangunan berkelanjutan mengikuti Komisi Brundtland (1987)
sebagai: “pembangunan yang memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengurangi
kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri”. Generasi
muda mampu menyongsong negaranya dikemudian hari. Pembangunan berkelanjutan
mencangkup kesetaraan antara tiga perspektif dalam kehidupan yaitu, aspek
sosial, ekonomi, dan lingkungan.
Sachs
(2015) menyatakan bahwa pembangunan berkelanjutan menjadi cara para pakar untuk
memahami dunia dan sebuah metode untuk menyelesaikan permasalahan dunia yang
berawal dari sesaknya bumi akibat pertumbuhan penduduk dunia yang sudah
mencapai sembilan kali lebih banyak dari populasi manusia yang hidup pada zaman
dimulainya revolusi industri. Negara mulai sadar akan pembangunan
berkelanjutan. Agar lebih mudah pembangunan dikelompokan menjadi tiga aspek. Pembangunan
manusia menjadi bagian vital dari investasi yang dibutuhkan dalam pembangunan
ekonomi karena merupakan jalur investasi yang disiapkan untuk anak-anak sebagai
generasi penerus. Generasi penerus akan melanjutkan perbaikan ekonomi baik
secara individu bagi keluarganya maupun secara berkelompok bagi komonitasnya.
Pendidikan
memang dasar dari segala aspek pembangunan berkelanjutan. Aspek sosial,
ekonomi, dan lingkungan saling berkaitan. Bagimana peran pendidikan dalam
pembangunan berkelanjutan? Sadarkah gnerasi muda akan pentingnya pendidikan dan
pembangunan berkelanjutan?
Aspek
sosial bisa terbentuk secara alami. Dengan aktivitas sehari-hari. Bisa juga
dengan ciri khas masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia yang ramah-ramah,
saling membantu (gotong royong), dan menghargai perbedaan. Seperti saat ini,
terjadi pandemi Covid-19. Awalnya masyarakat awam masih belum sadar akan
bahayanya Covid-19. Peran serta mereka dalam menangani pandemi tersebut masih
kecil. Kepanikan masyarakat meninggi saat meluasnya Covid-19. Setelah
disosialisasikan bahaya dan cara menangani Covid-19, kepanikan masyarakat
menurun. Masyarakat bersatu melawan Covid-19. Tidak lupa para pemuda ikut
berperan dalam penanganan Covid-19. Mereka menjadi relawan, berdonasi,
membagikan masker gratis, mencontohkan mencuci tangan dengan benar dan lain
sebaginya. Menunjukkan aspek sosial berjalan dikalangan pemuda.
Lembaga
pendidikan tinggi ikut berperan dalam pengajaran, penelitian, dan pembelajaran.
Memberikan pengertian betapa pentingnya pembangunan berkelanjutan. Lembaga pendidikan melahirkan generasi muda
yang berkualitas, berinovasi, dan mampu menghadapi tantangan zaman. Dalam pandangan Cortes (1999), sistem
pendidikan selama ini telah membantu kepada kita membawa pada persimpangan
jalan dari apa yang kita hadapi saat ini, yaitu mendidik anak-anak muda dengan
cara yang telah memperkuat pengabaian terhadap lingkungan dan atau pola pikir
yang tidak sensitif.
Kerusakan
lingkungan sudah menyebar luas. Pembekalan akan pentingnya menjaga lingkungan
harus diterapkan sejak dini. Melalui lembaga pendidikan, pengajaran yang utama
untuk menanamkan rasa cinta terhadap lingkungan. Beberapa kerusakan lingkungan
sudah terjadi di Indonesia. Seperti penebangan hutan, efek rumah kaca,
pencemaran limbah industri dan masih banyak lainnya. Jika hal ini tidak segera
diatasi keberlanjutan bumi akan musnah. Maka dari itu, peran lembaga pendidikan
akan aspek lingkungan sangat penting. Generasi sekarang dan mendatang harus
mampu memenuhi kebutuhanya tanpa merusak alam. Mentri Lingkungan Hidup
Indonesia pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia (kambuaya, 2012)
menyatakan bahwa Indonesia sudah berupaya mewujudkan pembangunan berkelanjutan;
pada tataran nasional, pemerintah Indonesian berkomitmen untuk menurunkan emisi
gas rumah kaca (GRK) sebesar 26% pada 2020 dengan upaya sendiri dan sebesar 41%
dengan bantuan internasional.
Generasi
muda harus berfikir cermelang. Memberikan ide-ide yang membangun tanpa merusak.
Mengajak manusia untuk berfikir tentang berkelanjutan bumi dan keberlanjutan
alam semesta. Mempersiapkan dirinya (generasi muda) hingga masa yang mendatang. Generasi yang
mendatang juga harus mempersiapkan dirinya sejak dini. Pendiidkan bukan hanya
tentang teori-teori namun tentang pembelajaran lingkungan juga. Surat keputusan
bersama antara Kementrian Negara Lingkungan Hidup dengan Kementrian Pendidikan
Nasional Nomer 03/MENLH/02/2010 dan
Nomer 01/II/KB/2010 tentang
Pendidikan Lingkungan Hidup menyatakan bahwa pengembangan pelaksanaan
pendidikan untuk pembangunan yang berkelanjutan termasuk pendidikan lingkungan
hidup dilaksanakan pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan sebagai
wadah atau sarana menciptakan perubahan pola pikir, sikap, dan perilaku manusia
yang berbudaya lingkungan hidup. Kesepakatan antara kedua mentri ini
dilaksanakan melalui program Adiwiyata di sekolah.
Sadarnya
generasi muda dan masyarakat umum membantu Indonesia dalam pembangunan
berkelanjutan. Dengan adanya perwujudan lingkungan yang bersih, menerapkan
penggunaan kantong belanja sendiri, dan adanya komunitas peduli
lingkungan. Perwujudan itu semua, contoh
dari generasi muda peduli terhadap lingkungan. Mereka bersosialisasi akan
keberlangsungan hidup bumi itu penting.
Pendidikan
juga menjadi tolak ukur seseorang untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Generasi
muda berlomba-lomba untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Mayoritas perusahaan
mencari orang-orang dengan lulusan yang baik atau dari perguruan tinggi.
Berbeda tingkat pendidikan berbeda juga jabatannya. Semisal lulusan SMA dengan
lulusan S1, akan berbeda jabatannya. Aspek ekonomi dalam pendidikan, tidak
semua bisa melanjutkan sekolah. Masih banyak masyarakat yang ekonominya
menengah kebawah. Sehingga Anak-anak putus sekolah, bekerja seadanya, dan tidak
memiliki ketrampilan. Hal itu akan berdampak pada aspek ekonomi pada
pembangunan berkelanjutan.
Tujuan
pembangunan berkelanjutan ada 17. Dengan tujuan itu Indonesia menciptakan
kesejahteraan bersama, menjadikan Negara lebih baik, membangun industri dan
akademi yang berkualitas. Salah satu perwujudannya adalah memberikan beasiswa. Beasiswa
untuk anak-anak melanjutkan pendidikan. Generasi muda yang berpendidikan akan
memiliki wawasan yang luas. Dengan wawasan yang dimilikinya ia mampu bersaing,
dan bisa menciptakan lapangan pekerjaan. Terbukti tingkat kemiskinan berkurang.
Angka kemiskinan Indonesia pada September 2018 turun menjadi 9,66% dibanding
Maret 2018 sebesar 9,82% maupun September 2017 yang mencapai 10,12%
(kompasiana, 10/04/2019).
Jadi,
aspek sosial, ekonomi dan lingkungan saling berkaitan. Pendidikan dan pemuda
berperan dalam ketiga aspek. Pembangunan berkelanjutan tercipta karena ada
dukungan dari semua lembaga. Pendidikan memberikan pengajaran, penelitian dan
pembelajaran. Pemuda mengaplikasikannya, memberikan sebuh inovasi untuk
kebutuhan dan keberlangsungan hidup. Lembaga pendidikan dan pemuda menyatu
dengan ketiga aspek. Memanfaatkan sumber daya yang ada, tanpa merusak.
Kesejahteraan dan pembangunan mulai terpenuhi dengan baik.
Referensi:
(Diakses 8
April 2020)
Nur, L. (2013). Pelaksanaan
Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan oleh beberapa Lembaga. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 9
No. 19.
I.M. Gunamantha. (2010). Pendidikan untuk Pembangunan
Berkelanjutan: Mengapa, Apa dan Bagaimana. Jurnal
Pendidikan dan Pembelajaran Jilid 43 No. 3.
Familia, N. S. (2015). Pendidikan untuk Pembangunan
Berkelanjutan. Vol. 10 No. 3. 304-331. Dapat diakses melalui http://ejournal.uki.ac.id/index.php/jdp/article/view/634
https://www.kompasiana.com/nurlatifah74117/5cb0678ecc5283115a1e28d4/peran-pemuda-dalam-pembangunan-berkelanjutan-di-indonesia
https://www.kompasiana.com/adhibasafira/5cae0cfccc52835b9f6bae83/peran-kita-sebagai-mahasiswa-dalam-menyoongsong-sdgs