Fairus Adhytia Setiawan
23310410112 (Kelas Karyawan)
Psikologi Inovasi
Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta., M.A.
Juli 2026
Fairus Adhytia Setiawan
23310410112 (Kelas Karyawan)
Psikologi Inovasi
Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta., M.A.
Juli 2026
Pencapaian Diri yang Paling Berkesan Melalui Keberanian
Melawan Rasa Takut
Itsnaini
Latifatur Rohmah
(24310440001)
Fakultas
Psikologi Proklamasi 45
Yogyakarta
Bagi saya, pencapaian yang paling berkesan bukanlah ketika memperoleh piala atau penghargaan, melainkan ketika berhasil melawan ketakutan terbesar dalam diri sendiri. Sejak kecil saya memiliki kesulitan saat berbicara. Saya sering berbicara dengan terbata-bata, suara pelan, dan terlalu cepat sehingga orang lain sulit memahami apa yang saya sampaikan. Saya juga sering menerima komentar seperti, "Kalau ngomong yang jelas," atau "Jangan cepat-cepat, suaranya dikeraskan." Meskipun mungkin terdengar sederhana, komentar-komentar tersebut membuat saya tumbuh menjadi pribadi yang kurang percaya diri dan takut berbicara di depan banyak orang. Video di TikTok
YouTube Ketika memasuki masa kuliah di Universitas Ahmad Dahlan (UAD), rasa takut tersebut masih saya rasakan. Setiap kali diminta menyampaikan pendapat di depan kelas, tubuh saya gemetar, jantung berdebar sangat kencang, suara menjadi tidak jelas, bahkan terkadang saya lupa dengan apa yang ingin saya sampaikan. Saat presentasi kelompok pun saya pernah mengalami blank meskipun materi presentasi saya sendiri yang menyusunnya. Akibatnya, saya hanya membaca isi slide tanpa mampu menjelaskan lebih lanjut. Kondisi tersebut membuat saya kecewa pada diri sendiri karena merasa tidak mampu mengungkapkan pikiran yang sebenarnya saya miliki.
Suatu hari saat mengikuti mata kuliah Bahasa Indonesia,
dosen pengampu yang juga merupakan pembina tim debat UAD memperkenalkan
berbagai prestasi mahasiswa dalam kompetisi debat tingkat nasional. Beliau
menampilkan foto-foto para juara dan penerima penghargaan Best Speaker. Saat
itulah saya membuat keputusan yang menurut saya sangat nekat. Setelah
perkuliahan selesai, saya langsung menemui dosen tersebut dan mendaftarkan diri
sebagai anggota tim debat, meskipun saya sadar bahwa berbicara di depan umum
masih menjadi kelemahan terbesar saya.
Perjalanan mengikuti berbagai perlombaan tidak berjalan mudah. Setiap kali akan bertanding saya selalu merasa mual, sakit perut, berkeringat dingin, dan sangat gugup. Bahkan beberapa kali tim kami harus menerima kekalahan. Namun saya memilih untuk tetap berlatih dan terus mengikuti berbagai kompetisi sebagai bentuk latihan menghadapi rasa takut tersebut. Usaha tersebut akhirnya membuahkan hasil ketika tim saya berhasil meraih Juara 1 Lomba Debat Nasional Sharia Economic Festival (SEF) dengan tema Islamic Banking and Millennial Generation in Industry 4.0 yang diselenggarakan di Yogyakarta pada 18 November 2018.
Pengalaman yang paling tidak terlupakan terjadi ketika mengikuti Pekan Ilmiah Mahasiswa dan Pelajar Lomba Debat Nasional bertema Menumbuhkan Generasi 4C (Creative, Critical Thinking, Collaboration, Communicative) di Era Revolusi Industri 4.0 yang diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Surakarta pada 2 Oktober 2019. Saat itu tim saya tidak berhasil menjadi juara. Karena merasa sangat gugup selama perlombaan, saya bahkan tidak menyangka ketika diumumkan sebagai Best Speaker. Ketika nama saya dipanggil, saya sedang berada di kamar mandi karena mual. Setelah kembali ke ruangan, teman-teman memberikan ucapan selamat sambil menyerahkan piala dan sertifikat penghargaan. Saya sempat tidak percaya hingga melihat sendiri nama saya tertulis pada piagam penghargaan tersebut.
Bagi sebagian orang, berbicara di depan umum mungkin merupakan hal yang biasa. Namun bagi saya, pencapaian ini menjadi bukti bahwa rasa takut dapat diatasi apabila seseorang berani keluar dari zona nyaman dan terus berlatih. Pengalaman tersebut mengajarkan saya bahwa keberhasilan bukan hanya tentang memenangkan perlombaan, tetapi juga tentang keberanian untuk mengalahkan keterbatasan diri sendiri. Transformasi inilah yang menjadi pencapaian paling bermakna dalam hidup saya hingga saat ini.
Itsnaini Latifatur
Rohmah
(24310440001)
Fakultas Psikologi Proklamasi 45
Yogyakarta
Perubahan diri merupakan proses yang tidak dapat terjadi secara instan, tetapi membutuhkan komitmen, konsistensi, dan kemauan untuk terus berkembang. Dalam mata kuliah Psikologi Inovasi, saya mendapatkan tugas untuk melakukan perubahan diri melalui kegiatan olahraga secara rutin selama minimal 10 minggu di Stadion Maguwoharjo. Saya memilih jogging karena merupakan olahraga yang sederhana, mudah dilakukan, tidak membutuhkan biaya besar, serta dapat meningkatkan kebugaran fisik maupun kesehatan mental.
Pada minggu pertama saya berhasil menyelesaikan jogging selama kurang lebih 60 menit dengan jarak tempuh sekitar 4,19 km. Memasuki minggu kedua kemampuan saya mulai meningkat menjadi sekitar 4,26 km. Peningkatan tersebut membuat saya lebih percaya diri untuk terus melanjutkan program hingga minggu-minggu berikutnya. Seiring berjalannya waktu, jarak tempuh saya juga mengalami peningkatan secara bertahap karena tubuh mulai beradaptasi dengan aktivitas olahraga yang dilakukan secara rutin. Saya merasakan tubuh menjadi lebih bugar, napas lebih teratur, dan aktivitas sehari-hari terasa lebih ringan dibandingkan sebelum memulai program ini.
Meskipun demikian, proses perubahan diri yang saya jalani tidak selalu berjalan mulus. Hambatan pertama yang sering saya alami adalah kondisi cuaca. Ketika hujan turun atau cuaca terlalu panas, muncul rasa malas untuk keluar rumah dan berolahraga. Selain itu, pada beberapa minggu saya mulai merasa bosan karena harus melakukan aktivitas yang sama secara berulang. Pikiran seperti "hari ini istirahat saja" atau "minggu depan saja diganti" beberapa kali muncul selama menjalankan program. Namun, saya berusaha mengingat kembali tujuan awal mengikuti program ini, yaitu melatih disiplin dan membentuk kebiasaan hidup sehat. Saya menyadari bahwa tantangan terbesar bukanlah olahraga itu sendiri, melainkan menjaga komitmen ketika motivasi mulai menurun.
Hambatan terbesar terjadi ketika memasuki minggu kesembilan. Pada saat itu kondisi tubuh saya menurun akibat padatnya aktivitas kuliah, pekerjaan, serta berbagai kegiatan organisasi yang saya jalani secara bersamaan. Akibat kelelahan, daya tahan tubuh saya menurun dan saya jatuh sakit sehingga tidak dapat melakukan jogging pada minggu tersebut. Awalnya saya merasa kecewa karena khawatir tidak mampu menyelesaikan target yang telah ditetapkan. Namun, saya memilih untuk memulihkan kondisi tubuh terlebih dahulu daripada memaksakan diri berolahraga. Setelah kondisi kesehatan kembali membaik pada minggu berikutnya, saya melanjutkan kembali program jogging hingga target 10 kali latihan berhasil diselesaikan. Dengan adanya satu minggu yang terlewati karena sakit, total waktu yang saya butuhkan untuk menyelesaikan program ini menjadi 11 minggu.
Pengalaman
tersebut memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi saya. Saya menyadari
bahwa perubahan diri bukan berarti harus berjalan sempurna tanpa hambatan.
Dalam prosesnya, seseorang dapat mengalami penurunan motivasi, rasa bosan,
bahkan kondisi kesehatan yang menghambat pencapaian target. Yang terpenting
adalah memiliki kemauan untuk bangkit kembali setelah mengalami kendala.
Menurut saya, inilah yang menjadi inti dari Psikologi Inovasi, yaitu kemampuan
untuk beradaptasi, mengevaluasi diri, serta terus melakukan perbaikan meskipun
menghadapi berbagai tantangan.
Melalui
program jogging ini saya tidak hanya memperoleh manfaat berupa peningkatan
kebugaran fisik, tetapi juga belajar mengenai pentingnya disiplin, manajemen
waktu, dan konsistensi dalam mencapai tujuan. Saya berharap kebiasaan
berolahraga tidak berhenti setelah tugas mata kuliah ini selesai, tetapi dapat
menjadi bagian dari gaya hidup sehat yang saya lakukan secara berkelanjutan.
Pengalaman ini juga membuat saya semakin percaya bahwa perubahan besar selalu
diawali dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara terus-menerus.
McClelland, D. C.
(1961). The Achieving Society.
Princeton, NJ: Van Nostrand.
Wiseman, R. (2003). The Luck Factor: The Scientific Study of
the Lucky Mind. London: Arrow Books.
"Partisipasi dalam Perlombaan sebagai Upaya Merancang Keberuntungan dengan Mengikuti berbagai Kompetisi perlombaan"
Itsnaini
Latifatur Rohmah
(24310440001)
Fakultas
Psikologi Proklamasi 45
Yogyakarta
Mengikuti
perlombaan merupakan salah satu cara yang saya lakukan untuk mengembangkan
kemampuan sekaligus memperluas pengalaman. Dalam mata kuliah Psikologi Inovasi
dijelaskan bahwa keberuntungan bukan hanya datang karena kebetulan, tetapi
dapat dirancang melalui keberanian mencoba, kreativitas, latihan yang
konsisten, dan kemauan untuk terus belajar. Oleh karena itu, saya berusaha
aktif mengikuti berbagai perlombaan karena setiap pengalaman memberikan kesempatan
untuk berkembang, baik ketika berhasil maupun ketika belum memperoleh hasil
yang diharapkan.
Perlombaan pertama yang saya ikuti adalah Kejuaraan Taekwondo Sleman Battle Arena yang diselenggarakan pada 24–25 Mei 2025 di GOR Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Pada kegiatan tersebut saya dipercaya sebagai manajer tim Black Eagle Taekwondo Academy yang mendampingi 43 atlet kategori pemula dan prestasi. Kejuaraan ini memperebutkan Piala Bupati Sleman dan diikuti sekitar 860 atlet dari lima provinsi di Indonesia. Sebelum pertandingan dimulai, saya bersama para pelatih menyusun jadwal latihan, mengatur administrasi pertandingan, memastikan kesiapan perlengkapan atlet, serta memberikan motivasi agar mereka lebih percaya diri saat bertanding. Persiapan yang dilakukan secara matang membuahkan hasil yang membanggakan karena Black Eagle Taekwondo Academy berhasil meraih Juara Umum 1 kategori pemula.
Melalui
ketiga perlombaan tersebut saya semakin memahami bahwa konsep Psikologi Inovasi
tentang merancang keberuntungan bukan berarti menunggu kesempatan
datang, tetapi menciptakannya melalui keberanian mencoba, latihan yang
konsisten, kerja sama tim, kreativitas, dan kemauan untuk terus belajar dari
setiap pengalaman. Bagi saya, setiap perlombaan memberikan kesempatan untuk
berkembang dan menjadi bekal berharga dalam menghadapi tantangan di masa depan.
KR Jogja. (2026, 19 April). Sleman Battle Arena Piala Bupati Sleman, Elja Sembada dan
Black Eagle juara umum. KRjogja.com
McClelland, D. C. (1961). The Achieving Society. Princeton, NJ: Van
Nostrand.
Wiseman, R. (2003). The
Luck Factor: The Scientific Study of the Lucky Mind. London: Arrow
Books.
Berdampak Melalui Langkah-Langkah Kecil: Membangun Ruang
Bertumbuh Bersama Masyarakat
Itsnaini
Latifatur Rohmah
(24310440001)
Fakultas
Psikologi Proklamasi 45
Yogyakarta
Saya percaya bahwa perubahan tidak harus selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Justru, langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten sering kali mampu memberikan dampak yang nyata bagi banyak orang. Berangkat dari keyakinan tersebut, saya mencoba membangun sebuah komunitas yang menjadi ruang untuk belajar, berbagi, dan bertumbuh bersama masyarakat. Kegiatan yang kami selenggarakan bersifat sukarela dan tidak berorientasi pada keuntungan. Sebagian besar kegiatan dapat diikuti secara gratis. Peserta cukup membawa konsumsi dari rumah. Namun, apabila kegiatan diadakan di ruang privat sebuah kafe, peserta diwajibkan membeli makanan atau minuman sebagai bentuk penghargaan kepada pemilik tempat yang telah memberikan ruang bagi kami untuk berkegiatan.
Salah satu kegiatan yang kami
selenggarakan adalah Soft Healing Session: Burnout & Recovery pada hari
Minggu, 31 Mei 2026 di Plai Kafe. Kegiatan ini menghadirkan praktisi psikolog
klinis, Mas Bayu Murdani, M.Psi., Psikolog Klinis, sebagai narasumber. Dalam
kegiatan ini saya bertugas mengoordinasikan pendaftaran peserta, melakukan
pemesanan ruang, serta mencari MC sekaligus moderator yang akan memandu
jalannya acara.
Kegiatan berikutnya adalah olahraga
bersama bertajuk Move with Awareness, Breathe with Intention yang
diselenggarakan pada hari Minggu, 14 Juni 2026 di Pendopo G&I Kalasan
bersama Coach Khury. Dalam kegiatan ini saya bertugas menyusun agenda olahraga
bersama, mengakomodasi peserta, menghubungi coach, serta menjadi moderator
selama kegiatan berlangsung. Acara berlangsung pukul 15.30–17.30 dan diikuti
oleh 10 peserta. Seluruh peserta membawa matras dan makanan masing-masing
sehingga kegiatan dapat berjalan dengan sederhana namun tetap terasa hangat dan
nyaman.
Selain melakukan latihan yoga, di akhir kegiatan peserta diajak mengikuti sesi refleksi diri untuk mensyukuri setiap nikmat yang telah Tuhan berikan hingga saat ini. Menurut saya, sesi ini menjadi bagian yang penting karena membantu peserta berhenti sejenak dari kesibukan, lebih bersyukur, serta lebih hadir dalam menjalani hidup dengan penuh kesadaran (mindfulness). Banyak peserta juga menyampaikan bahwa setelah mengikuti kegiatan ini mereka merasa tubuh menjadi lebih rileks, pikiran lebih tenang, dan perasaan menjadi lebih lega.
Melalui komunitas ini saya berusaha menghadirkan keseimbangan antara kegiatan psikoedukasi dan aktivitas olahraga agar masyarakat memiliki ruang untuk menjaga kesehatan secara menyeluruh. Saya berharap komunitas ini dapat terus berjalan, berkembang, dan memberikan manfaat bagi banyak orang melalui Langkah-langkah kecil, saya percaya bahwa setiap kebaikan yang dilakukan secara konsisten pada akhirnya akan membawa dampak yang berarti bagi masyarakat.
ESSAY-7
Alifa Maura Bunga Herina
24310430041
Mata kuliah : Psikologi Inovasi
Dosen Pengampu: Dr., Dra. Arundati Shinta, MA.
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta
15 Juli 2026
Perubahan diri tidak selalu harus
dimulai dari sesuatu yang besar. Saya percaya bahwa perubahan yang dilakukan
secara bertahap dan konsisten lebih mudah dipertahankan dalam jangka panjang.
Berdasarkan pemikiran tersebut, saya memilih membangun kebiasaan berolahraga
melalui kegiatan jogging secara rutin selama sepuluh minggu berturut-turut.
Seluruh kegiatan jogging dilaksanakan pada sore hari sekitar pukul 16.00 WIB dengan
titik awal di Lapangan Daleman, Sumberharjo, Prambanan. Rute lari tidak selalu
sama pada setiap pertemuan. Selain mengelilingi lapangan,
saya juga beberapa
kali berlari menyusuri
jalan-jalan di sekitar Desa sehingga jarak tempuh menyesuaikan rute yang
dipilih. Oleh karena itu, lokasi yang tercatat pada aplikasi Strava terkadang
berbeda-beda karena mengikuti jalur lari pada hari tersebut. Seluruh
waktu dan jarak tempuh
tetap diukur menggunakan smartwatch dan direkam melalui aplikasi Strava sebagai
dokumentasi perkembangan latihan setiap sesi.
Latihan dimulai pada tanggal 12 April 2026. Pada beberapa minggu pertama, saya masih
beradaptasi dengan aktivitas jogging
karena sebelumnya saya setiap sore rutin berjalan santai keliling desa
ditemani ibu. Berbeda dengan jogging, pada awal latihan saya masih mencoba
beradaptasi dari berjalan menjadi berlari. Tubuh masih mudah lelah dan napas
belum stabil sehingga saya harus mengatur ritme lari agar dapat menyelesaikan
latihan dengan baik. Meskipun demikian, saya
tetap berusaha menjalankan jadwal yang telah ditentukan sebagai bentuk komitmen
terhadap perubahan yang ingin dicapai.
Seiring
berjalannya waktu, tubuh mulai beradaptasi dengan latihan yang dilakukan secara konsisten. Saya merasakan
peningkatan stamina, pola pernapasan menjadi lebih teratur, dan kemampuan
menjaga kecepatan lari semakin baik. Saya juga sempat
mengikuti lari marathon 5 km pada 26 April 2026, yang
menjadi pengalaman berharga sekaligus menambah motivasi
untuk terus berlatih. Walaupun pada beberapa minggu hasil latihan mengalami
sedikit penurunan akibat kondisi tubuh dan tingkat kelelahan, saya tetap
mempertahankan kebiasaan
jogging tanpa melewatkan jadwal latihan.
Berikut tabel
prestasi pengubahan diri melalui kegiatan jogging
Tabel 1. Laporan kemajuan
kegiatan jogging
|
M |
1 (12/04/'26) |
2 (18/04/'26) |
3 (24/04/'26) |
4 (2/05/'26) |
5 (9/05/'26) |
6 (17/05/'26) |
7 (23/05/'26) |
8 (30/05/'26) |
9 (8/06/'26) |
10 (15/06/'26 |
|
W |
60 |
65 |
75 |
70 |
60 |
70 |
60 |
70 |
65 |
70 |
|
J |
4,2 |
4,8 |
5,7 |
5,3 |
7,8 |
5,8 |
4,01 |
6,02 |
5,31 |
7,2 |
Grafik 1 Laporan kemajuan kegiatan jogging
Tabel 1 dan Grafik 1 menunjukkan
perkembangan waktu latihan dan jarak tempuh selama sepuluh minggu. Data
tersebut memperlihatkan bahwa hasil latihan tidak selalu meningkat setiap
minggu, tetapi secara keseluruhan menunjukkan adanya perkembangan dibandingkan
saat memulai program. Dari pengalaman ini saya menyadari bahwa proses perubahan
merupakan perjalanan yang membutuhkan kesabaran dan konsistensi, bukan sekadar
mengejar hasil yang tinggi dalam waktu singkat.
Perubahan ini menunjukkan bahwa inovasi
dapat dimulai dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara terus-menerus.
Perubahan perilaku memerlukan motivasi, komitmen, serta evaluasi terhadap hasil
yang telah dicapai. Langkah kecil yang dilakukan secara konsisten akan lebih
mudah dipertahankan dibandingkan perubahan besar yang dilakukan sekaligus
(Wiseman, 2009). Adanya data dari smartwatch dan Strava membantu saya
mengevaluasi perkembangan setiap minggu
sehingga menjadi umpan balik yang positif untuk mempertahankan kebiasaan
baru.
Melalui kegiatan ini saya tidak hanya memperoleh manfaat fisik berupa meningkatnya kebugaran dan daya tahan tubuh, tetapi juga manfaat psikologis. Setelah jogging, suasana hati menjadi lebih baik, pikiran terasa lebih segar, dan tingkat stres berkurang. Saya juga menjadi lebih disiplin dalam mengatur waktu karena harus menyisihkan waktu untuk berolahraga di tengah kesibukan kuliah dan aktivitas sehari-hari.
Program perubahan diri ini memberikan
pengalaman bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Saya berharap kebiasaan jogging tidak berhenti setelah tugas mata kuliah ini selesai,
tetapi dapat terus menjadi bagian dari gaya
hidup sehat saya di masa mendatang.
Wiseman, R. (2009). 59 Seconds:
Think a Little, Change a Lot. London:
Macmillan.
Lampiran
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|