24.7.26

Need for Achievement dan Keberuntungan: Antara Kerja Keras, Moral, dan Cara Pandang terhadap Kesuksesan_Arisyahdan J Hi A Rahim 22310420199


Arisyahdan J Hi A Rahim

22310420199
Program Studi: Psikologi
Mata Kuliah: Psikologi Inovasi
Dosen Pengampu: Arundati shinta

 

Karakteristik yang sering dikaitkan dengan seorang entrepreneur adalah kebutuhan untuk berprestasi (need for achievement atau nAch), yaitu dorongan untuk mencapai hasil yang lebih baik melalui usaha yang sungguh-sungguh. Individu dengan kebutuhan berprestasi yang tinggi umumnya tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi juga menikmati proses belajar, menghadapi tantangan, serta terus memperbaiki kualitas dirinya. Oleh karena itu, kemampuan menetapkan tujuan yang menantang namun tetap realistis menjadi salah satu faktor penting dalam membangun semangat berprestasi.

Saya sependapat bahwa motivasi berprestasi merupakan modal psikologis yang sangat penting bagi seorang wirausahawan. Seseorang yang memiliki dorongan untuk berkembang akan lebih siap menghadapi kegagalan karena menganggapnya sebagai bagian dari proses belajar. Namun, motivasi tersebut tidak muncul secara otomatis, melainkan perlu dilatih melalui pembiasaan berpikir positif, refleksi diri, serta pengalaman menghadapi tantangan secara bertahap. Dalam kehidupan sehari-hari, kebiasaan mengevaluasi diri dan menuliskan target yang jelas dapat membantu seseorang meningkatkan keyakinan terhadap kemampuannya.

Meskipun demikian, terdapat beberapa bagian dari uraian yang menurut saya perlu dipandang secara lebih kritis. Pertama, konsep need for achievement memang telah lama dikembangkan dalam psikologi motivasi, tetapi tokoh yang paling dikenal mengembangkannya adalah David C. McClelland. Ia menjelaskan bahwa individu dengan kebutuhan berprestasi tinggi cenderung memilih tugas dengan tingkat kesulitan sedang, bertanggung jawab terhadap hasil pekerjaannya, serta membutuhkan umpan balik agar mampu berkembang. Oleh karena itu, latihan berpikir positif memang dapat membantu meningkatkan optimisme, tetapi keberhasilan seseorang tetap dipengaruhi oleh banyak faktor lain, seperti lingkungan, kesempatan belajar, dukungan sosial, serta pengalaman hidup.

Kedua, kisah The Crocodile River memberikan pesan moral bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi juga oleh kemampuan mempertahankan nilai-nilai yang diyakini. Ruben digambarkan sebagai individu yang fokus pada pekerjaannya, tidak mudah terpengaruh oleh persoalan yang dapat menghambat tujuan hidupnya, serta mampu melihat tantangan sebagai kesempatan untuk berkembang. Sikap tersebut mencerminkan karakter seorang entrepreneur yang memiliki orientasi jangka panjang dan mampu mengendalikan diri ketika menghadapi godaan yang dapat merugikan masa depannya.

Namun demikian, saya kurang sependapat apabila karakter Lorena hanya dipandang sebagai individu yang tidak memiliki potensi maju karena memilih menjual dirinya demi memperoleh uang. Penilaian tersebut terlalu sederhana apabila tidak mempertimbangkan kondisi sosial, ekonomi, maupun tekanan hidup yang mungkin dialaminya. Dalam psikologi, perilaku manusia tidak dapat dipahami hanya dari satu tindakan, tetapi perlu dilihat berdasarkan konteks yang melatarbelakanginya. Seseorang dapat mengambil keputusan yang keliru karena keterbatasan pilihan, kemiskinan, kekerasan, atau kondisi lingkungan yang tidak mendukung. Oleh sebab itu, perilaku Lorena tetap dapat dinilai salah secara moral, tetapi penyebabnya perlu dipahami secara lebih komprehensif agar tidak menimbulkan stigma terhadap individu yang berada dalam situasi sulit.

Selanjutnya, teori keberuntungan dari Robert Wiseman memberikan sudut pandang yang menarik bahwa keberuntungan bukan semata-mata hasil kebetulan. Individu yang terbuka terhadap peluang, mampu membangun relasi yang baik, berpikir positif ketika menghadapi kegagalan, serta berani mengambil keputusan secara tepat cenderung memiliki kesempatan sukses yang lebih besar. Dalam praktiknya, seseorang yang aktif membangun jaringan, terus belajar, dan tidak mudah menyerah memang akan lebih sering menemukan peluang dibandingkan individu yang pasif.

Permasalahan yang sering muncul dalam kehidupan saat ini adalah banyak orang menginginkan hasil yang cepat tanpa melalui proses pengembangan diri. Tidak sedikit mahasiswa maupun calon entrepreneur yang mudah menyerah ketika mengalami kegagalan pertama. Mereka kemudian menyalahkan keadaan atau menganggap dirinya tidak beruntung. Padahal, keberuntungan sering kali merupakan hasil dari kesiapan seseorang dalam memanfaatkan kesempatan yang datang. Tanpa kemampuan belajar dan bekerja keras, peluang yang baik pun dapat terlewat begitu saja.

Menurut saya, solusi yang dapat dilakukan adalah membangun pola pikir berkembang (growth mindset) sejak dini. Individu perlu membiasakan diri menetapkan target yang realistis namun menantang, berani mengevaluasi kesalahan, serta menjadikan kegagalan sebagai pengalaman belajar. Selain itu, penting pula membangun lingkungan yang positif melalui pergaulan dengan orang-orang yang memiliki semangat berkembang. Dukungan keluarga, teman, maupun mentor juga dapat meningkatkan motivasi berprestasi sekaligus membantu individu menghadapi berbagai hambatan secara lebih sehat.

Selain aspek motivasi, entrepreneur juga memerlukan integritas dan empati. Kesuksesan yang dicapai tanpa memperhatikan nilai moral dapat menimbulkan dampak negatif bagi diri sendiri maupun masyarakat. Oleh karena itu, keberhasilan tidak hanya diukur dari keuntungan ekonomi, tetapi juga dari kemampuan menjaga kepercayaan, menghargai orang lain, serta memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.

Sebagai penutup, saya berpendapat bahwa motivasi berprestasi memang merupakan salah satu fondasi utama dalam membangun kesuksesan. Kisah Ruben memberikan inspirasi mengenai pentingnya fokus pada tujuan, menjaga nilai moral, dan mampu melihat sisi positif dari setiap tantangan. Namun, dalam menilai perilaku orang lain, diperlukan sikap yang lebih objektif dengan mempertimbangkan berbagai faktor yang memengaruhi keputusan seseorang. Dengan memadukan motivasi berprestasi, kerja keras, pembelajaran yang berkelanjutan, integritas, dan kemampuan melihat peluang, seseorang akan memiliki kesempatan yang lebih besar untuk meraih keberhasilan secara berkelanjutan.

 

Daftar Pustaka

Harper, F. D. (1984). The Crocodile River. New York: Human Relations Press.

McClelland, D. C. (1961). The Achieving Society. Princeton, NJ: Van Nostrand.

Wiseman, R. (2003). The Luck Factor: The Four Essential Principles. London: Arrow Books.

 

ESSAY 8 – Muhammad Firdaus_23310410131_My Most Admirable Accomplishment

 

ESSAY 8 – My Most Admirable Accomplishment

Nama: Muhammad Firdaus
NIM:23310410131
Mata Kuliah: Psikologi Inovasi
Tugas: Esai 8 – My Most Admirable Accomplishment



My Most Admirable Accomplishment

Bagi saya, pencapaian tidak selalu diukur dari seberapa besar pengakuan yang diperoleh, tetapi lebih kepada proses panjang yang mampu mengubah diri menjadi pribadi yang lebih disiplin, tangguh, dan berdaya saing. Dalam perspektif psikologi inovasi, pencapaian merupakan hasil dari kemampuan individu dalam mengembangkan potensi diri, menghadapi tekanan, serta beradaptasi dengan tuntutan lingkungan yang tinggi. Pencapaian juga mencerminkan pertemuan antara motivasi berprestasi (achievement motivation) dan kemampuan individu dalam mengelola tantangan secara efektif.

Pencapaian paling membanggakan dalam hidup saya adalah ketika saya berhasil menjadi anggota Paskibraka Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada tahun 2021 dan bertugas di Gedung Agung Yogyakarta. Kesempatan ini merupakan sebuah kehormatan besar karena proses seleksi yang sangat ketat serta tingginya standar yang harus dipenuhi oleh setiap peserta. Saya harus bersaing dengan banyak siswa terbaik dari berbagai kabupaten/kota di DIY yang memiliki kemampuan fisik, mental, dan kedisiplinan yang tinggi.

Proses untuk mencapai titik tersebut tidaklah mudah. Saya harus melalui berbagai tahapan seleksi mulai dari tes fisik, kesehatan, baris-berbaris, hingga tes mental dan wawancara. Selain itu, latihan yang dijalani selama masa persiapan juga sangat intensif dan menguras energi. Setiap hari saya dituntut untuk bangun lebih pagi, menjaga kondisi fisik, serta mengikuti latihan dengan disiplin tinggi. Tidak jarang saya merasa lelah, baik secara fisik maupun mental. Namun, saya terus berusaha bertahan karena saya memiliki tujuan yang jelas, yaitu menjadi bagian dari Paskibraka Provinsi.

Tantangan terbesar yang saya hadapi bukan hanya berasal dari latihan yang berat, tetapi juga dari tekanan diri sendiri. Saya sempat merasa kurang percaya diri ketika melihat kemampuan peserta lain yang sangat baik. Perasaan ragu tersebut menjadi hambatan psikologis yang cukup mengganggu. Namun, saya mencoba mengubah pola pikir saya dengan lebih fokus pada proses dan perkembangan diri, bukan membandingkan diri dengan orang lain.

Dari sudut pandang psikologi, keberhasilan saya dalam mencapai pencapaian ini tidak terlepas dari adanya growth mindset. Individu dengan growth mindset percaya bahwa kemampuan dapat berkembang melalui usaha dan latihan yang konsisten (Yeager & Dweck, 2012). Saya mulai melihat setiap kesulitan dalam latihan sebagai kesempatan untuk belajar, bukan sebagai ancaman. Selain itu, saya juga mengembangkan resiliensi, yaitu kemampuan untuk tetap bertahan dan bangkit meskipun menghadapi tekanan yang tinggi (Fletcher & Sarkar, 2013). Resiliensi ini membantu saya untuk tetap fokus dan tidak mudah menyerah selama proses seleksi maupun latihan.

Pada akhirnya, saya berhasil melewati seluruh rangkaian seleksi dan menjalankan tugas sebagai anggota Paskibraka Provinsi DIY di Gedung Agung dengan penuh tanggung jawab. Pengalaman tersebut menjadi sangat berkesan karena tidak hanya melatih kedisiplinan dan kekuatan fisik, tetapi juga membentuk karakter saya menjadi lebih percaya diri, tangguh, dan memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi.

Pencapaian ini menjadi yang paling saya banggakan karena merupakan hasil dari perjuangan panjang, kerja keras, serta kemampuan untuk mengatasi keraguan dalam diri. Pengalaman ini juga memberikan saya pelajaran penting bahwa dengan komitmen, konsistensi, dan pola pikir yang tepat, seseorang mampu melampaui batasan dirinya sendiri. Hal ini menjadi bekal berharga bagi saya untuk menghadapi tantangan di masa depan, baik dalam dunia akademik maupun kehidupan sehari-hari.

Daftar Pustaka

Fletcher, D., & Sarkar, M. (2013). Psychological resilience. European Psychologist.

Yeager, D. S., & Dweck, C. S. (2012). Mindsets that promote resilience. Educational Psychologist.


link vidio

https://youtube.com/shorts/fgTMQqL_aVI?si=223YbjIG-fdBlFVV

Esai 7 Lakukan Perubahan Diri - Muhammad Firdaus

 

Proses Perubahan Diri Melalui Kegiatan Jogging

MUHAMMAD FIRDAUS

(243310410131)

Fakultas Psikologi Proklamasi 45

Yogyakarta


Perubahan diri merupakan suatu proses yang membutuhkan waktu dan tidak bisa dicapai secara instan. Dibutuhkan konsistensi, komitmen, serta kemauan untuk terus berkembang dari waktu ke waktu. Dalam mata kuliah Psikologi Inovasi, saya mendapatkan tugas untuk melakukan perubahan diri melalui aktivitas olahraga secara rutin selama minimal 10 minggu. Dalam hal ini, saya memilih jogging sebagai bentuk aktivitas yang saya jalankan, karena selain mudah dilakukan, olahraga ini juga tidak memerlukan biaya besar dan bermanfaat untuk menjaga kesehatan fisik maupun mental.

Pada awal pelaksanaan, tepatnya minggu pertama, saya melakukan jogging dengan durasi sekitar 32 menit dengan jarak tempuh kurang lebih 4,2 km. Memasuki minggu kedua, waktu yang saya butuhkan sedikit lebih cepat yaitu 30 menit dengan jarak sekitar 4,0 km. Walaupun sempat mengalami sedikit penurunan jarak, saya mulai menyesuaikan ritme lari dan kondisi tubuh. Pada minggu-minggu berikutnya, kemampuan saya mulai meningkat secara bertahap. Jarak tempuh yang awalnya berada di kisaran 4 km perlahan meningkat hingga mencapai lebih dari 5 km pada minggu ke-10, dengan waktu sekitar 39 menit.

Seiring berjalannya waktu, tubuh saya mulai beradaptasi dengan aktivitas jogging yang dilakukan secara rutin. Saya merasakan perubahan yang cukup signifikan, seperti kondisi tubuh yang lebih bugar, pernapasan yang lebih stabil, serta meningkatnya daya tahan saat melakukan aktivitas sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa latihan yang dilakukan secara konsisten memberikan dampak positif terhadap kondisi fisik.



Namun, dalam prosesnya saya juga menghadapi berbagai hambatan. Salah satu kendala yang cukup sering muncul adalah faktor cuaca. Ketika hujan atau kondisi cuaca terlalu panas, muncul rasa malas untuk berolahraga. Selain itu, rutinitas yang dilakukan secara berulang juga sempat menimbulkan rasa jenuh. Tidak jarang muncul pikiran untuk menunda latihan atau menggantinya di hari lain. Meskipun demikian, saya berusaha tetap menjalankan program yang telah saya rencanakan dengan mengingat kembali tujuan awal, yaitu membentuk kebiasaan hidup sehat dan meningkatkan kedisiplinan diri.

Saya menyadari bahwa tantangan terbesar dalam proses ini bukanlah pada aktivitas jogging itu sendiri, melainkan menjaga konsistensi ketika motivasi mulai menurun. Dalam beberapa kesempatan, saya harus melawan rasa malas dan memilih tetap berolahraga meskipun kondisi tidak selalu ideal.

Dari pengalaman yang saya jalani selama kurang lebih 10 minggu ini, saya mendapatkan banyak pelajaran berharga. Saya memahami bahwa perubahan diri tidak selalu berjalan sempurna, melainkan penuh dengan proses, penyesuaian, dan tantangan. Hal yang terpenting adalah bagaimana seseorang tetap berusaha untuk melanjutkan proses tersebut meskipun mengalami hambatan.

Melalui kegiatan jogging ini, saya tidak hanya merasakan manfaat dalam hal kebugaran fisik, tetapi juga belajar tentang pentingnya disiplin, konsistensi, serta manajemen waktu. Saya berharap kebiasaan ini dapat terus saya pertahankan meskipun tugas perkuliahan telah selesai. Pengalaman ini juga memperkuat pemahaman saya bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara terus-menerus.

Daftar Pustaka

McClelland, D. C. (1961). The Achieving Society. Princeton, NJ: Van Nostrand.

Wiseman, R. (2003). The Luck Factor: The Scientific Study of the Lucky Mind. London: Arrow Books.

ESAI 6 - BERPARTISIPASI DALAM LOMBA - MUHAMMAD FIRDAUS

MENGIKUTI KEJUARAAN NASIONAL ANGKAT BESI




Nama                       : MUHAMMAD FIRDAUS

NIM                           : 23310410131

Kelas                         : Kariawan

Mata Kuliah               : Psikologi Inovasi

Dosen Pengampu      : Dr. Arundati Shinta, M.A.

Tugas                     : ESAI 6 – BERPARTISIPASI DALAM LOMBA


Pada kesempatan ini, saya ingin berbagi pengalaman mengikuti sebuah event olahraga yang cukup berkesan bagi saya, yaitu Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Angkat Besi 2022 yang diselenggarakan di Surabaya oleh Bank Indonesia. Dalam event tersebut, saya mengikuti kategori angkat besi pada kelas yang saya ikuti sebagai peserta umum.

Meskipun belum berhasil meraih podium, pengalaman ini tetap menjadi hal yang sangat berharga bagi saya. Persaingan dalam kejuaraan ini cukup ketat karena diikuti oleh atlet-atlet dari berbagai daerah di Indonesia yang memiliki kemampuan dan jam terbang tinggi. Hal tersebut menjadi tantangan tersendiri sekaligus motivasi bagi saya untuk terus berkembang.

Awalnya, saya sebenarnya tidak merencanakan untuk mengikuti kejuaraan ini. Namun, karena adanya kesempatan yang datang serta dorongan dari lingkungan sekitar, saya akhirnya memutuskan untuk ikut serta. Selain itu, pada semester 5 saya juga mendapatkan tugas dari dosen dalam mata kuliah Psikologi Inovasi yang mengharuskan mahasiswa mengikuti sebuah kegiatan atau perlombaan, sehingga hal ini semakin memperkuat keputusan saya untuk berpartisipasi.

Menurut saya, tugas yang diberikan oleh dosen ini cukup menarik dan bermanfaat. Kami diminta untuk melakukan latihan olahraga secara rutin selama 10 minggu berturut-turut. Bagi sebagian orang yang belum terbiasa berolahraga, hal ini tentu menjadi tantangan. Namun bagi saya pribadi, karena sebelumnya sudah memiliki ketertarikan dalam olahraga angkat besi, tugas ini justru menjadi sesuatu yang menyenangkan.

Saya bahkan melanjutkan latihan tersebut hingga sekitar 12 minggu, meskipun tugas yang diberikan hanya selama 10 minggu. Hal ini karena latihan angkat besi sudah mulai menjadi bagian dari kebiasaan saya. Sampai saat ini pun, saya masih rutin menjalani latihan tersebut.

Sebagai penutup dari rangkaian latihan yang saya lakukan, saya mengikuti Kejurnas Angkat Besi 2022 di Surabaya untuk melihat sejauh mana perkembangan saya setelah berlatih secara konsisten. Walaupun hasil yang saya peroleh belum maksimal, saya tetap merasa puas karena telah berani mencoba dan melewati proses tersebut.

Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa perubahan positif dapat dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Latihan angkat besi yang saya lakukan tidak hanya berdampak pada kekuatan fisik, tetapi juga membentuk pola pikir yang lebih disiplin, meningkatkan kepercayaan diri, serta melatih mental untuk menghadapi tantangan.

Saya juga menyadari bahwa setiap orang memiliki proses yang berbeda dalam mencapai tujuannya. Dalam hal ini, inovasi tidak selalu berarti menciptakan sesuatu yang baru, tetapi juga mampu membangun dan mempertahankan kebiasaan baik yang memberikan manfaat dalam jangka panjang.

23.7.26

UAS Psikologi Inovasi - Angelina Puspaningrum

 Angelina Puspaningrum (23310420135)

Fakultas Psikologi

Universitas Proklamasi ’45 Yogyakarta

Mata Kuliah Psikologi Inovasi

Dosen Pengampu : Arundati Shinta


Tidak semua individu yang memiliki keinginan untuk menjadi entrepreneur mampu benar-benar memulai dan bertahan dalam usahanya. Banyak calon wirausahawan berhenti di tengah jalan, bukan karena kekurangan modal atau peluang pasar, melainkan karena lemahnya dorongan psikologis dalam dirinya untuk berprestasi. Douglas McGregor mengemukakan konsep need for achievement (nAff) sebagai karakteristik paling menonjol dari seorang entrepreneur, yaitu dorongan untuk berbuat sebaik mungkin, lebih baik daripada orang lain, guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan (McGregor, 1960). Persoalannya, dorongan ini tidak selalu tumbuh secara alami pada setiap individu, sehingga banyak yang gagal sebelum sempat mencoba.

Permasalahan: Persepsi Mengenai Tujuan yang Keliru dan Rendahnya Need for Achievement

Persepsi individu terhadap tingkat realistis suatu tujuan bersifat subjektif. Ketika tujuan dirasa terlalu mudah, semangat justru menurun karena tidak ada tantangan yang berarti. Sebaliknya, ketika tujuan dirasakan jauh di atas kemampuan, individu cenderung putus asa sebelum memulai usahanya. Kondisi inilah yang menjadi akar permasalahan banyak calon entrepreneur: mereka gagal menemukan titik keseimbangan antara tujuan yang menantang dan tujuan yang masih dapat dijangkau kemampuannya.

Permasalahan ini semakin nyata ketika individu memiliki nAff yang rendah, sebagaimana tergambar pada tokoh Lorena dalam kasus The Crocodile River (Harper, 1984). Alih-alih membangun keterampilan atau mengejar tujuan jangka panjang secara mandiri, Lorena memilih jalan pintas dengan menjual dirinya demi memperoleh uang. Pilihan ini menunjukkan tidak adanya dorongan untuk berprestasi melalui usaha sendiri, sehingga ia kehilangan potensi untuk maju secara berkelanjutan.

Tinjauan Teoretis: Need for Achievement dan Empat Faktor Keberuntungan Wiseman

Berbeda dengan Lorena, tokoh Ruben dalam kasus yang sama justru memperlihatkan nAff yang tinggi. Ia terus memperbaiki kemampuannya dalam membangun usaha persewaan sampan dan memandang sungai buaya (crocodile river) sebagai wahana untuk mengasah keterampilan, bukan sebagai ancaman semata. Perilaku Ruben ini sejalan dengan teori keberuntungan yang dikemukakan oleh Wiseman (2003), yang menyebutkan empat faktor penentu keberuntungan seseorang.

Faktor pertama adalah kedekatan dengan orang-orang yang sukses, sesuatu yang justru dihindari Ruben ketika ia menjauh dari pengaruh Lorena. Faktor kedua adalah kerajinan dalam mengasah keterampilan sendiri, tampak dari fokus Ruben pada usahanya tanpa mencampuri persoalan orang lain. Faktor ketiga adalah kemampuan melihat sisi positif dari musibah, di mana konflik dengan Lorena justru menyelamatkan Ruben dari penyimpangan moral. Faktor keempat adalah kemampuan dalam mengambil keputusan, yang dimiliki Ruben.

Dengan demikian, nAff dan keberuntungan bukanlah dua hal yang berdiri sendiri. Keduanya saling terkait. Dorongan berprestasi mendorong individu untuk terus berusaha secara realistis, sementara pola perilaku yang konsisten dengan empat faktor Wiseman membuka peluang keberuntungan yang lebih besar dalam perjalanan usahanya. Menariknya, keempat faktor tersebut juga berfungsi sebagai indikator sejauh mana nAff seseorang telah terinternalisasi dalam perilaku sehari-hari. Individu dengan nAff tinggi cenderung secara alami memilih lingkungan pergaulan yang mendukung, konsisten mengasah kemampuannya, serta mampu memaknai kegagalan sebagai bagian dari proses belajar, bukan sebagai alasan untuk berhenti.

Solusi: Melatih Need for Achievement

Kabar baiknya, McGregor menegaskan bahwa nAff bukanlah sifat bawaan yang tetap, melainkan dapat dilatih. Salah satu caranya adalah dengan membiasakan diri menulis hal-hal positif secara rutin dan menyusun cerita-cerita yang menyentuh hati serta bernada emosional, misalnya melalui kartu Thematic Apperception Test (TAT). Latihan semacam ini membantu individu membangun pola pikir berorientasi pencapaian sebelum benar-benar terjun ke dunia usaha.

Selain itu, empat faktor keberuntungan Wiseman dapat dijadikan panduan praktis bagi calon entrepreneur. Individu perlu secara sadar membangun relasi dengan orang-orang yang sukses, rutin mengasah keterampilan sendiri tanpa larut dalam persoalan orang lain, membiasakan diri melihat sisi positif dari setiap musibah, serta melatih kepekaan dalam mengambil keputusan melalui refleksi atau perenungan yang teratur. Pendekatan ini sejalan dengan penetapan tujuan yang realistis, yaitu tujuan yang cukup menantang untuk memacu semangat namun tetap berada dalam jangkauan kemampuan, sehingga individu tidak mudah menyerah maupun kehilangan motivasi.

Solusi ini idealnya diterapkan secara bertahap dan berkelanjutan, bukan sekadar latihan sesaat. Hal penting lainnya adalah latihan menulis reflektif dan diskusi berbasis kasus, seperti kasus Ruben dan Lorena, sebagai media untuk melatih nAff sejak dini. Dengan cara ini, calon entrepreneur tidak hanya dibekali pengetahuan teoretis, tetapi juga kebiasaan konkret yang terbukti berkontribusi pada pencapaian tujuan yang realistis sekaligus keberuntungan jangka panjang. Kombinasi antara dorongan berprestasi ala McGregor dan pola perilaku keberuntungan ala Wiseman menawarkan kerangka yang saling melengkapi: yang satu membentuk motivasi dari dalam diri, yang lain membentuk kebiasaan yang membuka peluang dari luar.

Daftar Pustaka

Harper, R. (1984). The Crocodile River.

McGregor, D. (1960). Kajian mengenai need for achievement (nAff) pada entrepreneur (Disertasi). Harvard University.

Wiseman, R. (2003). The Luck Factor: The Scientific Study of the Lucky Mind. New York: Talk Miramax Books.

Essay 10 - UAS Psikologi Inovasi - MUHAMAD FIRDAUS 23310410131

MUHAMMAD FIRDAUS
23310410131(Kelas Karyawan)
Psikologi Inovasi
Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta., M.A.
Juli 2026




Judul: Makna Need for Achievement dan Keberuntungan dalam Perspektif Kehidupan Nyata

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar bahwa kesuksesan seseorang ditentukan oleh kerja keras, keberanian mengambil risiko, dan juga “keberuntungan”. Namun jika dilihat lebih dalam, konsep tersebut sebenarnya tidak berdiri sendiri. Dalam kajian Psikologi Inovasi, khususnya yang dibahas dalam soal ini , terdapat hubungan yang kuat antara need for achievement (nAff) dan bagaimana seseorang membentuk keberuntungannya sendiri.

Need for achievement atau dorongan untuk berprestasi merupakan salah satu karakter utama seorang entrepreneur. Individu dengan nAff tinggi tidak hanya ingin mencapai tujuan, tetapi juga ingin melakukannya dengan lebih baik dibandingkan orang lain. Hal ini bukan sekadar ambisi kosong, melainkan dorongan yang terarah. Menariknya, tujuan yang ditetapkan tidak boleh terlalu mudah, tetapi juga tidak boleh terlalu sulit. Jika terlalu mudah, seseorang bisa kehilangan semangat karena merasa tidak tertantang. Sebaliknya, jika terlalu sulit, individu justru bisa merasa putus asa sebelum mencoba.

Menurut saya, konsep ini sangat relevan dengan kehidupan mahasiswa saat ini. Banyak mahasiswa yang sebenarnya memiliki potensi, tetapi sering kali menetapkan target yang tidak seimbang. Ada yang terlalu meremehkan diri sendiri dengan memilih zona nyaman, dan ada juga yang terlalu memaksakan diri hingga akhirnya merasa gagal. Di sinilah pentingnya mengenal kemampuan diri dan menetapkan tujuan yang realistis namun tetap menantang.

Menariknya lagi, McGregor menyatakan bahwa nAff bisa dilatih, salah satunya melalui kebiasaan menulis hal-hal positif dan membuat cerita yang menyentuh emosi. Ini menunjukkan bahwa keberhasilan tidak hanya berasal dari bakat, tetapi juga dari proses pembentukan pola pikir. Dalam konteks ini, menulis bukan hanya aktivitas akademik, tetapi juga sarana refleksi diri.

Selain nAff, soal ini juga membahas teori keberuntungan dari Robert Wiseman melalui kisah Ruben dalam “The Crocodile River”. Dari cerita tersebut, terlihat bahwa keberuntungan bukanlah sesuatu yang datang secara tiba-tiba, melainkan hasil dari sikap dan cara berpikir seseorang.

Faktor pertama adalah bergaul dengan orang yang tepat. Lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan individu. Jika seseorang berada di lingkungan yang negatif, maka pola pikirnya juga akan terpengaruh. Dalam kasus Lorena, ia digambarkan sebagai individu dengan moral yang kurang baik, sehingga Ruben memilih untuk menjaga jarak. Menurut saya, ini bukan berarti menghakimi orang lain, tetapi lebih kepada menjaga nilai diri agar tetap konsisten.

Faktor kedua adalah terus mengasah keterampilan. Ruben tidak larut dalam masalah pribadi, melainkan fokus mengembangkan usahanya. Ini adalah contoh nyata bagaimana seseorang bisa mengubah tantangan menjadi peluang. Dalam kehidupan nyata, banyak orang yang berhenti berkembang karena terlalu fokus pada masalah, bukan solusi.

Faktor ketiga adalah kemampuan melihat sisi positif dari situasi negatif. Ini mungkin terdengar klise, tetapi sebenarnya sangat sulit dilakukan. Ruben mampu melihat konflik dengan Lorena sebagai pelajaran moral yang penting. Dari sini kita bisa belajar bahwa pengalaman buruk sekalipun tetap memiliki makna jika kita mau memaknainya dengan bijak.

Faktor keempat adalah kejelian dalam mengambil keputusan. Kebiasaan Ruben bermeditasi menunjukkan bahwa ia tidak gegabah dalam menentukan arah hidupnya. Ia merenung, memahami situasi, dan kemudian bertindak. Dalam era modern yang serba cepat, sikap seperti ini justru semakin jarang ditemui.

Menurut saya, inti dari keseluruhan pembahasan ini adalah bahwa keberhasilan dan keberuntungan bukanlah sesuatu yang instan. Keduanya merupakan hasil dari kombinasi antara dorongan berprestasi, lingkungan yang mendukung, kemampuan berpikir positif, serta ketepatan dalam mengambil keputusan.

Kesimpulannya, saya setuju bahwa nAff dan faktor keberuntungan saling berkaitan erat. Seseorang yang memiliki dorongan berprestasi tinggi akan lebih aktif mencari peluang, memperbaiki diri, dan pada akhirnya menciptakan “keberuntungannya” sendiri. Dengan kata lain, keberuntungan bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari proses panjang yang melibatkan usaha, sikap mental, dan pilihan hidup yang tepat.

Daftar Pustaka

Harper, M. (1984). Entrepreneurship for the poor. London: Intermediate Technology Publications bekerja sama dengan GTZ.

McGregor, D. (1960). The human side of enterprise. New York: McGraw-Hill.

Wiseman, R. (2003). The luck factor: The four essential principles. New York: Hyperion.


UAS PSIKOLOGI INOVASI-BAYU PRASETYA RESTU AJI

 

UJIAN AKHIR SEMESTER

PSIKOLOGI INOVASI

 

BAYU PRASETYA RESTU AJI
23310410087
UAS PSIKOLOGI INOVASI (Kelas Karyawan)

 

DOSEN PENGAMPU :
IBU ARUNDATI SHINTA

 




 Tinjauan Kritis terhadap Konsep Need for Achievement, Keberuntungan, dan Moralitas dalam Kewirausahaan



Karakteristik utama seorang entrepreneur sering dikaitkan dengan dorongan untuk berprestasi (need for achievement atau nAch), yaitu keinginan yang kuat untuk mencapai hasil terbaik melalui usaha pribadi. Dalam bacaan tersebut, istilah yang digunakan adalah nAff, namun secara teoritis konsep dorongan berprestasi lebih dikenal sebagai need for achievement (nAch) yang dikembangkan oleh David C. McClelland, bukan Douglas McGregor. McClelland menjelaskan bahwa individu dengan kebutuhan berprestasi tinggi cenderung menetapkan tujuan yang menantang tetapi masih realistis, berani mengambil risiko yang diperhitungkan, serta selalu mencari umpan balik atas hasil kerjanya. Karakteristik tersebut memang banyak ditemukan pada individu yang berhasil membangun usaha secara berkelanjutan.

Saya sepakat bahwa entrepreneur memerlukan target yang menantang namun tetap realistis. Apabila target terlalu mudah, seseorang akan kehilangan motivasi karena tidak merasa tertantang. Sebaliknya, apabila target terlalu tinggi dan tidak sesuai kemampuan maupun sumber daya yang dimiliki, individu berpotensi mengalami frustrasi bahkan menyerah sebelum memulai. Oleh karena itu, keseimbangan antara tantangan dan kemampuan menjadi faktor penting dalam membangun motivasi intrinsik. Dalam praktik kewirausahaan modern, konsep ini juga dikenal melalui pendekatan stretch goals, yaitu menetapkan sasaran yang cukup tinggi untuk mendorong perkembangan, tetapi masih dapat dicapai melalui strategi dan kerja keras.

Namun demikian, saya kurang sependapat dengan penyataan bahwa dorongan berprestasi dapat ditingkatkan hanya melalui latihan menulis hal-hal positif atau membuat cerita emosional pada kartu TAT. Memang benar bahwa McClelland pernah menggunakan Thematic Apperception Test (TAT) sebagai salah satu alat untuk mengukur motif berprestasi. Akan tetapi, berbagai penelitian psikologi modern menunjukkan bahwa motivasi seseorang dibentuk oleh banyak faktor, seperti pengalaman hidup, lingkungan keluarga, pendidikan, budaya organisasi, dukungan sosial, efikasi diri (self-efficacy), hingga kesempatan ekonomi. Dengan demikian, peningkatan motivasi berprestasi tidak cukup hanya melalui latihan psikologis tertentu, tetapi juga membutuhkan pengalaman nyata, pembelajaran berkelanjutan, serta lingkungan yang mendukung berkembangnya kompetensi.

Bagian lain yang menarik adalah pembahasan mengenai teori keberuntungan Robert Wiseman. Wiseman berpendapat bahwa orang yang dianggap "beruntung" sebenarnya memiliki pola pikir dan perilaku tertentu, seperti terbuka terhadap peluang, membangun relasi sosial yang luas, berpikir optimis, serta mampu mengambil keputusan secara fleksibel. Saya melihat bahwa konsep ini cukup relevan dengan dunia kewirausahaan. Banyak peluang bisnis muncul bukan semata-mata karena faktor keberuntungan, tetapi karena seseorang memiliki jaringan yang luas, mampu membaca perubahan pasar, serta berani mengambil keputusan pada waktu yang tepat. Dengan kata lain, keberuntungan sering kali merupakan hasil dari kesiapan individu dalam memanfaatkan kesempatan yang datang.

Meski demikian, contoh kasus Ruben dan Lorena dalam bacaan perlu dikritisi. Penulis menggambarkan Lorena sebagai individu yang tidak memiliki potensi berkembang hanya karena ia menjual dirinya demi memperoleh uang. Pandangan tersebut menurut saya terlalu sederhana dan berpotensi menimbulkan stigma terhadap individu yang berada dalam kondisi sosial dan ekonomi yang sulit. Dalam kajian psikologi sosial maupun sosiologi, perilaku seseorang sering dipengaruhi oleh berbagai faktor kompleks, seperti kemiskinan, tekanan ekonomi, keterbatasan pendidikan, kekerasan, maupun ketidaksetaraan sosial. Oleh karena itu, tindakan Lorena tidak dapat langsung dijadikan indikator bahwa ia memiliki motivasi berprestasi yang rendah. Bisa jadi ia justru sedang berusaha bertahan hidup dengan pilihan yang sangat terbatas.

Selain itu, mengaitkan keberhasilan Ruben semata-mata dengan kemampuannya menghindari Lorena juga kurang memiliki dasar ilmiah yang kuat. Kesuksesan seorang entrepreneur umumnya dipengaruhi oleh kombinasi kemampuan teknis, keterampilan manajerial, kreativitas, inovasi, kemampuan membaca peluang, kepemimpinan, jaringan bisnis, kondisi pasar, serta faktor eksternal lainnya. Nilai moral memang penting dalam menjalankan bisnis karena dapat membangun kepercayaan pelanggan dan keberlanjutan usaha. Namun, moralitas bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan seseorang.

Saya juga menilai bahwa gagasan Wiseman mengenai pentingnya melihat sisi positif dari setiap pengalaman merupakan pelajaran yang sangat berharga. Dalam dunia bisnis, kegagalan merupakan bagian dari proses belajar. Entrepreneur yang sukses biasanya mampu mengevaluasi kesalahan, memperbaiki strategi, dan menjadikan pengalaman buruk sebagai sumber pembelajaran. Kemampuan untuk tetap optimis tanpa mengabaikan realitas merupakan bentuk resilience yang sangat dibutuhkan dalam menghadapi persaingan usaha yang semakin dinamis.

Di sisi lain, praktik meditasi atau refleksi diri yang dilakukan Ruben juga dapat dipahami sebagai upaya meningkatkan kesadaran diri. Banyak penelitian menunjukkan bahwa refleksi diri membantu seseorang mengambil keputusan yang lebih matang, mengendalikan emosi, serta mengurangi bias dalam berpikir. Namun demikian, keberhasilan pengambilan keputusan tetap memerlukan data, analisis, pengalaman, dan pertimbangan rasional, bukan hanya mengandalkan intuisi semata.

Sebagai kesimpulan, saya sepakat bahwa kebutuhan berprestasi merupakan salah satu karakteristik penting yang harus dimiliki seorang entrepreneur. Individu yang memiliki motivasi berprestasi tinggi akan lebih siap menghadapi tantangan, belajar dari kegagalan, dan terus mengembangkan kompetensinya. Saya juga setuju bahwa pola pikir positif, kemampuan membangun relasi, serta keberanian memanfaatkan peluang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang meraih keberhasilan. olusinya adalah menggunakan teori yang benar, memahami motivasi secara lebih komprehensif, menerapkan pendekatan yang lebih objektif dalam menilai perilaku individu, serta mengembangkan kompetensi kewirausahaan secara menyeluruh melalui pendidikan, pengalaman, inovasi, dan etika bisnis.Namun demikian, beberapa bagian dalam bacaan perlu dikaji secara lebih kritis, terutama mengenai atribusi teori kepada tokoh tertentu serta penilaian moral terhadap karakter Lorena yang kurang mempertimbangkan kompleksitas kondisi sosial. Oleh karena itu, keberhasilan seorang entrepreneur sebaiknya dipahami sebagai hasil interaksi antara motivasi pribadi, kompetensi, lingkungan, kesempatan, serta kemampuan mengambil keputusan yang etis dan bertanggung jawab. 



DAFTAR PUSTAKA :

  • Harper, M. (1984). The Crocodile River: A Case Study in Entrepreneurship. Intermediate Technology Publications.
  • McClelland, D. C. (1961). The Achieving Society. Princeton, NJ: D. Van Nostrand Company.
  • McGregor, D. (1960). The Human Side of Enterprise. New York: McGraw-Hill.
  • Robbins, S. P., & Judge, T. A. (2022). Organizational Behavior (19th ed.). Pearson.
  • Wiseman, R. (2003). The Luck Factor: The Scientific Study of the Lucky Mind. London: Century.
  • Zimmerman, B. J. (2000). "Self-Efficacy: An Essential Motive to Learn." Contemporary Educational Psychology, 25(1), 82–91.