25.4.26

Essai 1 - Meringkas Jurnal Motivasi

 Meringkas Jurnal Motivasi

Entrepreneurship

Essai-1



Rahma Nur Al Amina
23310410066



Mata Kuliah: Psikologi Inovasi

Dosen Pengampu: Ibu Dr. Arundati Shinta, M.A

2026


Kewirausahaan (entrepreneurship) menjadi salah satu upaya dalam menghadapi tingginya angka pengangguran, khususnya di kalangan mahasiswa. Banyak penelitian menunjukkan bahwa motivasi berwirausaha memiliki peran penting dalam mendorong individu untuk menciptakan lapangan kerja secara mandiri. Menurut Harie dan Andayanti (2020), “motivasi wirausaha mempunyai pengaruh positif terhadap minat berwirausaha mahasiswa”. Oleh karena itu, pemahaman terhadap berbagai faktor yang memengaruhi motivasi dalam berwirausaha merupakan hal yang sangat penting.

 

Berdasarkan tinjauan dari beberapa kajian jurnal, motivasi berwirausaha dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi kepercayaan diri, kebutuhan akan pencapaian, berani dalam mengambil risiko. Mahasiswa dengan tingkat self-efficacy yang tinggi cenderung lebih berani memulai usaha karena memiliki keyakinan terhadap kemampuan diri sendiri. Hal ini sejalan dengan penelitian Thalita dan Budiono (2025) yang menyatakan bahwa “motivasi kewirausahaan berpengaruh signifikan terhadap keberhasilan usaha mahasiswa”.

 

Sementara itu, faktor eksternal meliputi lingkungan keluarga, pendidikan, serta dukungan sosial. Lingkungan yang mendukung, seperti keluarga yang memiliki latar belakang bisnis, dapat meningkatkan minat individu untuk berwirausaha. Selain itu, pendidikan kewirausahaan di perguruan tinggi juga berperan dalam menciptakan pola pikir kreatif dan inovatif. Rohimah et al. (2025) menyebutkan bahwa “motivasi berwirausaha berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat berwirausaha mahasiswa”.


Namun, terdapat beberapa hambatan yang sering terjadi, seperti; keterbatasan modal, minimnya pengalaman, serta rasa takut akan kegagalan. Dalam konteks ini, motivasi tidak hanya berfungsi sebagai pendorong utama, tetapi juga sebagai mediator. Tumbelaka dan Wijaya (2023) menyatakan bahwa “motivasi berwirausaha mampu memediasi pengaruh pendidikan kewirausahaan dan efikasi diri terhadap minat berwirausaha”. Hal ini menunjukkan bahwa motivasi berperan penting dalam meningkatkan kesiapan mahasiswa untuk berwirausaha.

 

Kesimpulan

 

Motivasi berwirausaha pada mahasiswa merupakan hal penting dalam menciptakan generasi yang mandiri dan inovatif. Faktor internal seperti kepercayaan diri serta faktor eksternal seperti dukungan lingkungan memiliki pengaruh signifikan terhadap motivasi tersebut. Dengan adanya dukungan dari berbagai pihak, mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan potensi kewirausahaan dan berkontribusi dalam perekonomian.

 

Daftar Pustaka

                  • Harie, S., & Andayanti, W. (2020). Pengaruh motivasi wirausaha terhadap minat berwirausaha mahasiswa. INTELEKTIUM.

                  • Rohimah, M., Hermawan, H., & Setianingsih, W. E. (2025). Pengaruh sikap mandiri, motivasi, dan pengetahuan kewirausahaan terhadap minat berwirausaha mahasiswa. Manajemen: Jurnal Ekonomi.

                  • Thalita, T., & Budiono, H. (2025). Pengaruh pengetahuan kewirausahaan dan motivasi kewirausahaan terhadap keberhasilan usaha mahasiswa. Jurnal Manajerial dan Kewirausahaan.

                  • Tumbelaka, S., & Wijaya, A. (2023). Pendidikan kewirausahaan dan efikasi diri terhadap minat berwirausaha dengan motivasi sebagai variabel mediasi. Jurnal Manajerial dan Kewirausahaan

Esai 2 - Wawancara Tentang Disonansi Kognitif

 

PSIKOLOGI INOVASI

ESAI 2 – WAWANCARA TENTANG DISONANSI KOGNITIF

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A

Nama: Gunarti

NIM: 23310410118

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS PROKLAMASI 45

YOGYAKARTA

APRIL, 2026

Wawancara dilakukan pada 21 April 2026 dengan subjek berinisial N (28 tahun), seorang ibu rumah tangga sekaligus pekerja freelance di Magelang. Subjek diketahui memiliki kebiasaan merokok sejak tahun 2017. Meskipun demikian, ia memiliki pengetahuan yang cukup mengenai bahaya merokok, baik bagi dirinya maupun orang lain. Subjek menyatakan bahwa merokok dapat menyebabkan “batuk” dan “penyakit paru-paru”, serta mengakui bahwa kebiasaan tersebut tetap berdampak pada anak meskipun dilakukan jauh dari rumah.

Kondisi ini menunjukkan adanya disonansi kognitif, yaitu ketidaksesuaian antara pengetahuan dan perilaku. Subjek menyadari bahwa merokok berbahaya, bahkan mengaku “agak takut, tapi sudah kecanduan”. Ia juga mengakui adanya konflik dalam dirinya serta rasa khawatir sebagai seorang ibu. Namun, ia tetap mempertahankan kebiasaan tersebut dengan alasan kecanduan dan kondisi stres.

Dalam konteks psikologi inovasi, kondisi ini menunjukkan bahwa individu sulit untuk berubah karena mampu menciptakan berbagai bentuk mekanisme pembenaran diri. Salah satunya adalah rasionalisasi, di mana subjek menyatakan bahwa merokok “masih bisa ditoleransi karena banyak yang merokok”. Pernyataan ini menunjukkan upaya untuk menyesuaikan perilaku dengan lingkungan sosial agar tetap merasa nyaman. Selain itu, terdapat bentuk self-justification, yaitu ketika subjek merasa bahwa gaya hidup sehat yang dijalani, seperti olahraga dan mengurangi makanan berlemak, dapat “mengimbangi dampak merokok”. Hal ini menunjukkan adanya upaya untuk mengurangi rasa bersalah tanpa benar-benar menghentikan perilaku merokok.

Di sisi lain, subjek juga menunjukkan kesadaran akan ketidaksesuaian perilaku tersebut. Ia mengaku “merasa aneh, karena berolahraga tapi tetap merokok” serta merasa “ilfeel karena bikin batuk”. Hal ini memperkuat adanya konflik internal yang belum terselesaikan. Namun, meskipun menyadari risiko dan ketidaksesuaian tersebut, subjek belum mampu berubah secara signifikan karena faktor kecanduan dan kebiasaan yang sudah terbentuk.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa disonansi kognitif membuat individu tidak mudah untuk berubah, karena adanya mekanisme pembenaran diri yang terus dipertahankan. Individu menjadi kreatif dalam mencari alasan agar tetap merasa nyaman dengan perilaku yang sebenarnya bertentangan dengan pengetahuan yang dimilikinya. Hal ini menunjukkan pentingnya intervensi yang tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga menyasar perubahan perilaku dan pengelolaan kebiasaan secara lebih mendalam.

 

Referensi

Harmon-Jones, E., & Mills, J. (2019). An Introduction to Cognitive Dissonance Theory and an Overview of Current Perspectives on the Theory. DOI: https://doi.org/10.1037/0000135-001

McLeod, S. (2023). Cognitive Dissonance Theory. Simply Psychology. https://www.simplypsychology.org/cognitive-dissonance.html

Esai 1 - Meringkas Jurnal Motivasi

 

PSIKOLOGI INOVASI

ESAI 1 - MERINGKAS JURNAL MOTIVASI

TECHNOPRENEURIAL INTENTION: PERAN SELF-EFFICACY, ENTREPRENEURSHIP EDUCATION, DAN RELATION SUPPORT

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A

Nama: Gunarti

NIM: 23310410118


FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS PROKLAMASI 45

YOGYAKARTA

APRIL, 2026

Topik

dukungan relasi; efikasi diri; intensi teknopreneurial; pendidikan kewirausahaan

Sumber

Alamsyahrir, D., & Ie, M. (2022). Technopreneurial Intention: Peran self-efficacy, entrepreneurship education, dan relation support. Jurnal Manajemen Maranatha (JMM), 21(2), Mei 2022, 135-144 https://doi.org/10.28932/jmm.v21i2.4532

Permasalahan

Permasalahan utama dalam penelitian ini adalah masih rendahnya minat mahasiswa untuk menjadi technopreneur, meskipun peluang di bidang teknologi semakin luas. Banyak mahasiswa yang lebih memilih menjadi pekerja dibandingkan menciptakan lapangan kerja sendiri. Hal ini diduga karena:

  1. Kurangnya kepercayaan diri (self-efficacy) dalam memulai usaha
  2. Pendidikan kewirausahaan yang belum optimal dalam membentuk mindset bisnis
  3. Minimnya dukungan dari lingkungan sosial seperti keluarga dan teman
  4. Permasalahan ini menunjukkan adanya kesenjangan antara peluang yang tersedia dengan kesiapan individu dalam memanfaatkannya.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk:

  1. Menganalisis pengaruh self-efficacy terhadap technopreneurial intention
  2. Menganalisis pengaruh pendidikan kewirausahaan terhadap technopreneurial intention
  3. Menganalisis pengaruh dukungan relasi terhadap technopreneurial intention
  4. Mengetahui seberapa besar kontribusi ketiga variabel tersebut dalam meningkatkan minat mahasiswa menjadi technopreneur

Isi

Dalam penelitian ini dijelaskan bahwa technopreneurial intention merupakan bentuk kesiapan psikologis individu untuk memulai usaha berbasis teknologi. Niat ini tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi dipengaruhi oleh berbagai faktor.

Pertama, self-efficacy menjadi faktor penting karena berkaitan dengan keyakinan individu terhadap kemampuannya dalam mengelola usaha, menghadapi risiko, dan menyelesaikan masalah. Mahasiswa dengan tingkat self-efficacy tinggi cenderung lebih berani mengambil peluang dan tidak mudah menyerah.

Kedua, pendidikan kewirausahaan berperan dalam membentuk pola pikir, keterampilan, serta pengetahuan yang dibutuhkan dalam dunia bisnis. Melalui pendidikan ini, mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga dilatih untuk berpikir kreatif dan inovatif.

Ketiga, dukungan relasi (relation support) seperti keluarga, teman, dan lingkungan sekitar juga sangat berpengaruh. Dukungan ini dapat berupa motivasi, bantuan moral, maupun akses terhadap jaringan yang dapat membantu pengembangan usaha.

Ketiga faktor tersebut saling melengkapi dalam membentuk niat mahasiswa untuk menjadi technopreneur.

Metode

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain asosiatif kausal, karena bertujuan untuk menganalisis hubungan sebab-akibat antar variabel.

Subjek penelitian adalah 125 mahasiswa aktif program S-1 dari Fakultas Teknologi Informasi dan Fakultas Ekonomi Universitas XYZ yang telah mendapatkan pembelajaran kewirausahaan. Teknik pengambilan sampel menggunakan non-probability sampling dengan metode purposive sampling, yaitu pemilihan sampel berdasarkan kriteria tertentu yang sesuai dengan tujuan penelitian.

Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner dengan menggunakan skala Likert untuk mengukur variabel penelitian.

Teknik analisis data menggunakan Partial Least Square (PLS) dengan pendekatan Structural Equation Modeling (SEM) atau PLS-SEM. Pengolahan data dilakukan dengan bantuan software SmartPLS versi 3.2.8. Metode ini dipilih karena mampu menganalisis hubungan antar variabel secara simultan dan kompleks.

Hasil

Hasil penelitian menunjukkan bahwa:

  1. Self-efficacy memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap technopreneurial intention. Artinya, semakin tinggi kepercayaan diri mahasiswa, semakin besar keinginannya untuk menjadi technopreneur
  2. Pendidikan kewirausahaan berpengaruh positif terhadap technopreneurial intention. Mahasiswa yang mendapatkan pendidikan kewirausahaan cenderung lebih siap dan tertarik untuk berwirausaha
  3. Dukungan relasi juga berpengaruh positif. Lingkungan yang suportif dapat meningkatkan motivasi dan keberanian mahasiswa untuk memulai usaha

Secara keseluruhan, ketiga variabel tersebut terbukti memiliki kontribusi dalam meningkatkan niat menjadi technopreneur.

Diskusi

Hasil penelitian ini menegaskan bahwa niat berwirausaha berbasis teknologi tidak hanya dipengaruhi oleh faktor individu, tetapi juga oleh faktor pendidikan dan lingkungan sosial.

Self-efficacy menjadi faktor dominan karena berkaitan langsung dengan kesiapan mental individu dalam menghadapi risiko dan tantangan. Tanpa kepercayaan diri, mahasiswa cenderung ragu untuk memulai usaha, meskipun memiliki peluang.

Pendidikan kewirausahaan juga memiliki peran strategis dalam membentuk mindset inovatif. Namun, pendidikan tidak cukup hanya bersifat teoritis, melainkan harus disertai praktik nyata agar mahasiswa lebih siap menghadapi dunia bisnis.

Sementara itu, dukungan relasi berfungsi sebagai penguat eksternal yang dapat meningkatkan motivasi individu. Lingkungan yang positif akan memberikan rasa aman dan dorongan untuk mencoba.

Dengan demikian, peningkatan jumlah technopreneur di kalangan mahasiswa memerlukan sinergi antara faktor internal (kepercayaan diri), faktor pendidikan, dan faktor sosial.

 

22.4.26

Tugas Esay Psikologi Inovasi Mereview Jurnal 

    Membangun Perilaku Inovatif melalui Kepemimpinan dan Ekspektasi Kinerja. Sebuah Tinjauan Psikologi Organisasi



Disusun Oleh : Diah Nurul Khazanah
NIM : 23310410105
Psikologi Inovasi 
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta 
Dosen Pengampu: Dr., Dra. Arundati Shinta, MA. 
 

 Di zaman globalisasi serta kemajuan teknologi informasi yang cepat, organisasi harus terus beradaptasi untuk bisa bertahan di tengah persaingan bisnis yang ketat. Inovasi menjadi solusi yang sangat penting bagi organisasi untuk menciptakan produk dan layanan yang memberikan nilai bagi berbagai pemangku kepentingan. Salah satu elemen utama dalam pencapaian ini adalah Perilaku Kerja Inovatif (PKI) dari karyawan. Tulisan ini membahas temuan dari penelitian Rusdijanto Soebardi tentang bagaimana perilaku pemimpin dapat memengaruhi perilaku inovatif dari bawahandengan ekspektasi kinerja berperan sebagai penghubung.

Dinamika Perilaku Kerja Inovatif

Perilaku yang berkaitan dengan inovasi di tempat kerja dijelaskan sebagai serangkaian aktivitas di mana individu berusaha untuk merancang dan memperbaiki efektivitas kerja melalui empat langkah utama yaitu :


1. Mengidentifikasi kemungkinan tantangan dalam konteks pekerjaan.


2. Menghasilkan solusi dengan cara yang kreatif.

3. Membangun kerjasama dan dedikasi untuk mewujudkan perubahan.

4. Melaksanakan rencana perbaikan tersebut di dalam tindakan sehari-hari.

Studi ini menunjukkan bahwa perilaku kerja inovatif bukan hanya sekadar proses berpikir individu (kreativitas), tetapi juga merupakan hasil dari interaksi sosial dalam tim kerja.

Peran Pemimpin sebagai Katalisator

Seorang pemimpin memegang peranan penting dalam memandu sikap dan tindakan staf melalui berbagai aspek kepemimpinan. Beberapa sikap pemimpin yang telah terbukti mendorong inovasi secara langsung antara lain, Dukungan kepada pekerja menyediakan perhatian mental terhadap kebutuhan staf.
Konsultasi dengan pekerja melibatkan staf dalam proses pengambilan keputusan dan penyelesaian masalah. Pendelegasian dengan memberikan hak kepada staf untuk menentukan metode terbaik dalam menyelesaikan tugas. Pengakuan dengan menyampaikan penghargaan dan pujian atas kinerja yang memberikan dampak positif.

Ekspektasi Kinerja sebagai Mediator

Salah satu penemuan paling signifikan dalam studi ini adalah fungsi ekspektasi kinerja sebagai mediator. Ekspektasi adalah keyakinan subjektif karyawan bahwa perilaku tertentu akan berujung pada hasil yang berhasilHasil analisis jalur menunjukkan bahwa tindakan pemimpin tidak hanya berdampak langsung, tetapi juga memengaruhi secara tidak langsung sikap inovatif dengan meningkatkan ekspektasi kinerja pegawaiMenarik untuk dicatat, dimensi pengakuan sosial (motivasi ekstrinsik) telah ditemukan mempunyai pengaruh lebih besar dalam memacu inovasi dibandingkan dengan dimensi efektivitas kerja (motivasi intrinsik) di dalam kelompok penelitian ini.

Kesimpulan dan Implikasi Praktis

Studi pada 199 pegawai di perusahaan logistik ini menunjukkan adanya dampak yang signifikan sebesar 0,47 (total effect) antara perilaku kepemimpinan dan perilaku kerja inovatif dengan ekspektasi kinerja sebagai mediatorUntuk para praktisi manajemen, disarankan untuk menciptakan lingkungan kerja yang mendukung inovasi dapat dilakukan dengan :

  • Mengkonversi rencana tahunan organisasi menjadi tugas pengembangan yang lebih konkret bagi karyawan.
  • Melaksanakan kegiatan mentoring dan coaching secara teratur.
  • Mengadakan acara penghargaan formal untuk menghargai pencapaian inovasi.
  • Memberikan insentif yang berarti bagi karyawan yang berhasil menerapkan ide-ide inovatif.

Daftar Pustaka
Soebardi, R. (2012). Perilaku Inovatif. Jurnal Psikologi Ulayat, 1(Desember), 57–74.
DOI: 

https://doi.org/10.24854/jpu4