8.10.26

Cindy Auriliya Fikri Andani (24310410023) - ESAI 1 Meringkas Jurnal Entrepreneurship - Psikologi Inovasi

 

Pengaruh Praktik Kewirausahaan terhadap Motivasi Berwirausaha Peserta Didik

Cindy Auriliya Fikri Andani

NIM 24310410023

Kelas Karyawan (B)

Mata Kuliah Psikologi Inovasi

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, MA

ESAI 1 - MERINGKAS JURNAL ENTREPRENEURSHIP

Topik

Entrepreneurship, Praktik Kewirausahaan, Motivasi Berwirausaha

Sumber

Kartika, Y., Sumartono, B. G., & Syamsuri. (2022). Pengaruh Praktik Kewirausahaan terhadap Motivasi Berwirausaha Peserta Didik (terbit 29 Juli 2022). Tarbiyah wa Ta’lim: Jurnal Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran, 9(2), 129–140. DOI: 10.21093/twt.v9i2.4505.

Permasalahan

Penelitian ini berangkat dari rendahnya kecenderungan lulusan SMK Negeri 7 Pontianak untuk memilih jalur usaha meskipun telah memperoleh mata pelajaran Produk Kreatif dan Kewirausahaan. Data lulusan tahun 2021 menunjukkan hanya 8% lulusan jurusan Akuntansi yang berwirausaha, sedangkan wawancara memperlihatkan banyak peserta didik lebih memilih menjadi pegawai swasta. Kondisi tersebut menimbulkan persoalan apakah praktik kewirausahaan di sekolah mampu memperkuat dorongan siswa untuk berwirausaha. Variabel dependen yang menjadi fokus masalah adalah motivasi berwirausaha peserta didik, sedangkan praktik kewirausahaan merupakan variabel independen yang diduga memengaruhinya.

Tujuan Penelitian

Penelitian bertujuan menggambarkan pelaksanaan praktik kewirausahaan, mengetahui tingkat motivasi berwirausaha peserta didik kelas XII Akuntansi, serta mengukur besarnya pengaruh praktik kewirausahaan terhadap motivasi berwirausaha di SMK Negeri 7 Pontianak.

Isi

Praktik kewirausahaan dipahami sebagai pengalaman belajar yang memberi kesempatan siswa menerapkan materi melalui pembuatan produk, pencarian peluang, kreativitas, inovasi, dan pengenalan karakter wirausaha. Variabel praktik kewirausahaan diukur melalui kesempatan berkreasi dan berinovasi, pengajaran keterampilan berwirausaha, serta pengajaran karakteristik wirausaha. Motivasi berwirausaha diukur melalui ambisi kemandirian, realisasi diri, dan faktor pendorong. Hubungan kedua variabel dibahas dalam konteks pendidikan SMK yang diharapkan tidak hanya menyiapkan lulusan sebagai pencari kerja, tetapi juga membekali mereka untuk menciptakan peluang usaha.

Metode

Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif dan korelasional. Partisipannya adalah seluruh 64 peserta didik kelas XII Akuntansi SMK Negeri 7 Pontianak, terdiri atas 34 siswa kelas XII AK A dan 30 siswa kelas XII AK B. Data diperoleh melalui angket dan dokumentasi. Instrumen kedua variabel dinyatakan valid dan reliabel. Analisis menggunakan statistik deskriptif, uji normalitas, uji linearitas, dan regresi linear sederhana dengan SPSS untuk melihat hubungan serta besarnya pengaruh variabel X terhadap variabel Y.

Hasil

Hasil menunjukkan praktik kewirausahaan berada pada kategori sangat tinggi dengan skor 86,03%. Indikator kesempatan berkreasi dan berinovasi memperoleh 89,11%, keterampilan berwirausaha 85,29%, dan karakteristik wirausaha 84,64%. Motivasi berwirausaha juga sangat tinggi dengan skor 86,25%; faktor pendorong mencapai 87,40%, ambisi kemandirian 87,03%, dan realisasi diri 84,90%. Uji regresi menghasilkan signifikansi 0,000 < 0,05, sehingga praktik kewirausahaan berpengaruh signifikan terhadap motivasi berwirausaha. Nilai korelasi 0,593 menunjukkan hubungan sedang, sedangkan R Square 0,352 berarti kontribusinya sebesar 35,2%. Persamaan regresinya Y = 17,589 + 0,438X.

Diskusi

Temuan menunjukkan bahwa praktik dapat memperkuat motivasi berwirausaha karena siswa tidak hanya menerima teori, tetapi juga memperoleh ruang untuk mencoba, menciptakan produk, berinovasi, dan melatih keterampilan usaha. Namun, kontribusi praktik kewirausahaan hanya 35,2%, sehingga 64,8% sisanya berkaitan dengan faktor lain yang tidak diteliti, seperti pembelajaran kewirausahaan dan lingkungan keluarga. Artinya, sekolah perlu mempertahankan praktik sekaligus memperkuat dukungan lain agar motivasi yang tinggi dapat berkembang menjadi kesiapan nyata untuk menjalankan usaha setelah lulus.

 

Daftar Pustaka

Kartika, Y., Sumartono, B. G., & Syamsuri. (2022). Pengaruh praktik kewirausahaan terhadap motivasi berwirausaha peserta didik. Tarbiyah wa Ta’lim: Jurnal Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran, 9(2), 129–140. https://doi.org/10.21093/twt.v9i2.4505

 

Liany Nur Ramadhani (24310410016) Tugas essay 3a dan 3b psikologi inovasi


Liany Nur Ramadhani 

24310410016

Kelas Psikologi Inovasi - B

Tugas essay 3a dan 3b

Dosen pengampu : DR. Arundai Shinta M.A

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 

Yogyakarta 

(8 Oktober 2026)

"Kiat Menjadi Suri Tauladan di Era Perubahan"

Menghadapi dinamika era modern, generasi muda dituntut memiliki mentalitas yang tahan banting. Perubahan cepat menuntut dorongan berprestasi, entrepreneurship, serta kepekaan terhadap peluang. Namun, semua hal itu tidak berati tanpa kemampuan menjadi contoh baik bagi lingkungan sekitar. Untuk menjadi figur suri tauladan yang inspiratif, terdapat dua tips utama yang berhubungan dan perlu diterapkan: membina ketekunan (grit) serta membangun ketangguhan (resilience).

Tips pertama adalah menjaga ketekunan dalam mengejar tujuan jangka panjang. Ketekunan bukan sekadar bekerja keras dalam kurun waktu singkat, melainkan konsistensi untuk terus melangkah meskipun prosesnya terasa lambat. Seseorang yang tekun tidak mudah tergoyahkan oleh rintangan awal atau hasil yang belum terlihat. Dalam konteks kemahasiswaan dan kewirausahaan, ketekunan diwujudkan melalui kedisiplinan menyelesaikan tugas, mengasah keahlian secara berkala, serta tidak berhenti mencoba saat menghadapi kegagalan. Ketekunan membentuk fondasi karakter yang kuat. Ketika orang lain melihat kedisiplinan dan konsistensi kita, secara tidak langsung kita sedang memancarkan nilai-nilai kepemimpinan yang nyata.

Tips kedua, yang erat kaitannya dengan ketekunan, adalah membangun ketangguhan dan peka terhadap perubahan. Jika ketekunan adalah daya tahan untuk terus berjalan, maka ketangguhan adalah kemampuan bangkit kembali setelah terjatuh. Di era yang penuh ketidakpastian, rencana matang bisa saja gagal akibat faktor eksternal. Seseorang yang tangguh tidak akan meratapi nasib, melainkan segera mengevaluasi diri dan merencanakan langkah taktis berikutnya. Peka terhadap perubahan berarti mampu membaca arah perkembangan zaman, seperti memanfaatkan teknologi baru atau menangkap peluang usaha di tengah krisis.

Keterhubungan antara ketekunan dan ketangguhan menjadi kunci utama untuk menjadi suri tauladan yang keren di masa kini. Ketekunan tanpa ketangguhan membuat seseorang rentan mengalami burnout atau patah semangat ketika menemui benturan keras. Sebaliknya, ketangguhan tanpa ketekunan hanya menjadikan seseorang memiliki ide-ide adaptif tanpa realisasi yang konsisten. Kombinasi keduanya menciptakan pribadi yang fleksibel menghadapi tantangan, namun tetap fokus pada pencapaian tujuan.

Saat seseorang mampu menunjukkan ketekunan dalam berkarya dan ketangguhan saat diterpa masalah, ia secara alami akan menjadi panutan bagi teman sebayanya. Model tauladan masa kini bukanlah sosok yang tidak pernah gagal, melainkan sosok yang berani bangkit, mau terus belajar, dan mampu memberikan dampak positif bagi lingkungannya. Dengan merencanakan perubahan secara matang serta mengeksekusinya dengan tekun dan tangguh, kita dapat membuktikan bahwa generasi muda siap menjadi agen perubahan yang berprestasi dan berintegritas.

Melalui penerapan kedua kiat ini secara konsisten, kita tidak hanya membentuk kualitas diri yang unggul, tetapi juga menginspirasi rekan-rekan sesama mahasiswa untuk terus tumbuh bersama. Memimpin dengan memberi contoh nyata adalah bentuk kontribusi terbesar yang bisa kita berikan kepada masyarakat dan almamater tercinta.







 

Tisya Sukmalatri 24310410022 - Psi Inovasi - Esai 2 Wawancara Tentang Disonansi Kognitif - Dr. Arundati Shinta - Kelas Karyawan - Oktober 2026

 

Tisya Sukmalatri

24310410022

Psikologi Inovasi - Kelas Karyawan

Essay 2 – Wawancara Tentang Disonansi Kognitif

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

 


“Mengetahui Dampak Kopi terhadap Asam Lambung, tetapi Tetap Meminumnya”

Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang terkadang mengetahui bahwa suatu perilaku kurang baik bagi dirinya, tetapi tetap melakukannya. Salah satu contohnya adalah kebiasaan minum kopi pada seseorang yang memiliki masalah asam lambung. Dalam wawancara ini, saya memilih subjek yang mengetahui bahwa kopi dapat memperburuk kondisi lambungnya, tetapi tetap mengonsumsi kopi karena menyukai rasanya dan sudah terbiasa meminumnya. Inisial nama SL jabatan CS.

Berdasarkan hasil wawancara dengan SL jabatan CS, diketahui bahwa subjek memiliki kebiasaan minum kopi meskipun mengetahui bahwa kopi dapat menimbulkan masalah pada lambungnya. Subjek mengatakan, “Saya tahu kopi bisa membuat lambung saya sakit, tapi saya tetap minum kopi karena sudah terbiasa dan suka.” Subjek juga mengungkapkan “yang penting tidak terlalu banyak minumnya” atau “kalau lambung lagi ngga bermasalah, saya masih bisa minum kopi.”

Kondisi tersebut menunjukkan adanya disonansi kognitif, yaitu keadaan ketika terdapat ketidaksesuaian antara pengetahuan atau keyakinan seseorang dengan perilaku yang dilakukannya. Hal ini sejalan dengan penelitian Fadholi et al. (2020) yang menunjukkan bahwa individu dapat tetap melakukan suatu perilaku meskipun mengetahui bahwa perilaku tersebut memiliki dampak negatif. Dalam penelitian tersebut, individu menggunakan informasi atau alasan tertentu untuk memberikan pembenaran terhadap perilakunya.

Pada subjek, bentuk pembenaran terlihat ketika ia menganggap bahwa mengurangi jumlah kopi sudah cukup untuk menghindari masalah pada lambung. Hal tersebut dapat dikaitkan dengan mekanisme pertahanan diri berupa rasionalisasi, yaitu ketika individu memberikan alasan yang dapat diterima untuk menjelaskan atau membenarkan perilakunya. Penelitian Khoirunnisa dan Nugroho (2023) menemukan bahwa rasionalisasi termasuk salah satu mekanisme pertahanan diri yang digunakan individu dalam menghadapi konflik atau permasalahan.

Permasalahan yang terlihat adalah subjek sudah memiliki pengetahuan mengenai dampak konsumsi kopi, tetapi pengetahuan tersebut belum sepenuhnya mendorong perubahan perilaku. Hal ini juga sejalan dengan Alfitman (2017) yang menjelaskan bahwa disonansi kognitif dapat menimbulkan ketidaknyamanan dan ketegangan yang berpotensi mendorong individu untuk mengubah sikap atau perilakunya.

Jika dikaitkan dengan Psikologi Inovasi, kondisi tersebut dapat menjadi peluang untuk mencari cara baru dalam mengubah kebiasaan. Misalnya, subjek tidak harus langsung berhenti minum kopi, tetapi dapat mencoba mengurangi frekuensi secara bertahap atau mencari minuman alternatif yang lebih sesuai dengan kondisi tubuhnya. Dengan demikian, perubahan tidak hanya membutuhkan pengetahuan, tetapi juga kemauan untuk mencoba cara baru dalam menghadapi kebiasaan yang sulit diubah..

 

Daftar Pustaka:

Alfitman. (2017). Konstruk disonansi kognitif dalam penelitian perilaku konsumen: Apakah popularitasnya memang sudah meredup? Ekonomi Bisnis, 22(1), 44–57. https://doi.org/10.17977/um042v22i1p44-57

Fadholi, F., Prisanto, G. F., Ernungtyas, N. F., Irwansyah, & Hasna, S. (2020). Disonansi kognitif perokok aktif di Indonesia. Jurnal RAP (Riset Aktual Psikologi Universitas Negeri Padang), 11(1), 1–14. https://doi.org/10.24036/rapun.v11i1.108039

Khoirunnisa, A. S., & Nugroho, R. A. (2023). Mekanisme pertahanan diri dan coping stress tokoh utama dalam antologi cerpen “Malam Terakhir” karya Leila S. Chudori: Kajian psikologi sastra. Jurnal Sastra Indonesia, 12(3), 197–205.

Tisya Sukmalatri 24310410022 - Psi Inovasi - Esai 1 Meringkas Jurnal Motivasi - Dr. Arundati Shinta - Kelas Karyawan - Oktober 2026

 

Tisya Sukmalatri

24310410022

Psikologi Inovasi - Kelas Karyawan

Essay 1 – Meringkas Jurnal Motivasi

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

 


Topik

Kewirausahaan dalam perspektif psikologi, khususnya mengenai faktor-faktor psikologis yang mendukung seseorang dalam menjalankan dan mengembangkan usaha.

Sumber

Sallim, M. A., Indarti, A. F., Humayra, H. A., & Supriyadi, T. (2025). Mengenal Kewirausahaan Melalui Perspektif Psikologi. Orbit: Jurnal Ilmu Multidisiplin Nusantara, 1(4), 155–163.

Permasalahan

Kewirausahaan tidak hanya menghadapi masalah ekonomi dan teknis, tetapi juga berbagai tantangan psikologis, seperti kemampuan menghadapi risiko, ketidakpastian, kegagalan, tekanan, pengambilan keputusan, serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan. Karena itu, aspek psikologis perlu diperhatikan untuk membentuk wirausahawan yang mampu bertahan dan berkembang.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk memahami hubungan antara psikologi dan kewirausahaan serta menggali aspek-aspek psikologis yang berperan dalam proses kewirausahaan melalui kajian berbagai literatur ilmiah.

Isi

Jurnal membahas beberapa aspek psikologis dalam kewirausahaan, yaitu motivasi dan orientasi berprestasi, kecerdasan emosional dan ketahanan mental, pola pikir (mindset) dan self-efficacy, identitas diri, karakteristik kepribadian dan manajemen risiko, serta pembelajaran jiwa kewirausahaan dan implikasi praktisnya.

Hasil

Hasil kajian menunjukkan bahwa aspek psikologis memiliki peran penting dalam keberhasilan kewirausahaan. Motivasi mendorong individu mencapai tujuan, kecerdasan emosional dan resiliensi membantu menghadapi tekanan serta kegagalan, sedangkan mindset dan self-efficacy meningkatkan keyakinan dalam menghadapi tantangan. Identitas diri juga dapat memperkuat niat berwirausaha, sementara kepribadian dan kemampuan manajemen risiko membantu individu menghadapi ketidakpastian. Selain itu, pembelajaran melalui pengalaman langsung dapat meningkatkan self-efficacy, kemandirian, inovasi, dan ketahanan mental.

Diskusi

Jurnal menekankan bahwa menjadi wirausahawan tidak cukup hanya memiliki pengetahuan bisnis. Individu juga perlu memiliki motivasi, kemampuan mengelola emosi, ketahanan mental, keyakinan terhadap kemampuan diri, pola pikir yang berkembang, kepribadian yang mendukung, dan kemampuan mengelola risiko. Penulis juga menekankan pentingnya experiential learning atau belajar melalui pengalaman langsung, karena pengalaman menjalankan usaha dapat membantu individu mengembangkan keterampilan sekaligus kemampuan psikologisnya.

 

7.10.26

Deltha Arthaliya NIM 24310430209 - Psi Inovasi - Tugas 2 - Wawancara Disonansi Kognitif - Arundati Shinta - Oktober 2026 - Kelas B

 Disonansi Kognitif pada Perokok Aktif dalam
Perspektif Psikologi Inovasi

Deltha Arthaliya
24310430209

Pendahuluan
Disonansi kognitif merupakan kondisi psikologi ketika seseorang mengalami ketidaksesuaian antara pengetahuan, keyakinan, dan perilaku yang dimilikinya. Sehingga ketika muncul konflik antara apa yang diketahui dan apa yang dilakukan, individu akan merasa tidak nyaman secara psikologis. Untuk mengurangi rasa tidak nyaman tersebut, seseorang biasanya akan mencari pembenaran, menyangkal sebagai fakta, atau mengalihkan perhatian pada hal lain agar perilakunya tetap terasa dapat diterima.

Hasil Wawancara dan Analisis
Wawancara dilakukan pada seorang petani muda yang aktif merokok. Sebut saja Amin. Saat ditanya mengapa masih merokok, Amin menjawab bahwa dirinya sedang tidak merokok karena merasa bosan. Ia juga mengatakan bahwa jika rasa bosan itu terus muncul, maka kemungkinan saatnya ia berhenti merokok.

Saat ditanya apakah merokok merupakan hal baik atau buruk, Amin menjawab bahwa hal tersebut tergantung sudut pandang. Menurutnya, merokok memiliki sisi baik karena dapat membantu pengusaha rokok, pekerja industri rokok, petani tembakau, dan penjual tembakau. Ia mengaku bahwa dirinya mengetahui dampak buruk rokok bagi kesehatan, tetapi ia merasa bahwa niat membantu banyak orang melalui industri tersebut juga merupakan hal baik. Amin juga mengatakan bahwa sesuatu yang berlebihan memang tidak baik, termasuk merokok. Selain itu, menurutnya, hal paling sulit dalam proses berubah adalah rasa nyaman.

Dari apa yang disampaikan Amin, terlihat adanya disonansi kognitif. Amin memahami bahwa merokok berdampak buruk bagi kesehatan, tetapi ia tetap mempertahankan perilaku tersebut. Untuk mengurangi konflik batin yang muncul, ia menggunakan mekanisme pertahanan diri.

Amin mencoba menciptakan keseimbangan dalam pikirannya. Rasionalisasi terlihat ketika Amin menjelaskan sisi positif dari merokok dengan menekankan manfaat ekonomi bagi banyak orang. Alasan tersebut menjadi bentuk pembenaran diri agar perilaku merokok tetap terasa bermakna dan tidak sepenuhnya dianggap buruk.

Selain itu, bentuk denial terlihat ketika Amin mengatakan bahwa yang tidak baik adalah sesuatu yang berlebihan. Pernyataan tersebut cenderung mengecilkan risiko merokok selama dilakukan dalam batas tertentu.

Permasalahan dan Hubungan
Permasalahan dalam case ini adanya ketidaksesuaian antara pengetahuan dan tindakan. Amin mengetahui bahwa merokok memiliki dampak negatif bagi kesehatan, tetapi rasa nyaman dan kebiasaan membuatnya tetap mempertahankan perilaku tersebut. Hal tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan tidak selalu cukup untuk menghasilkan perubahan perilaku. Kadang seseorang lebih memilih mempertahankan kenyamanan psikologis dibanding menghadapi proses perubahan yang tidak nyaman.

Dalam psikologi inovasi, perubahan membutuhkan keterbukaan terhadap pola pikir baru dan keberanian meninggalkan kebiasaan lama. Namun disonansi kognitif dapat menjadi hambatan karena individu cenderung kreatif dalam menciptakan alasan.

Kalimat dari Amin, “Hal paling sulit dari proses berubah adalah rasa nyaman.” menunjukan bahwa tantangan terbesar bukan hanya kurangnya informasi, tetapi keterikatan emosional terhadap kebiasaan yang sudah memberi rasa aman dan nyaman. Dalam psikologi inovasi, seseorang dapat berkembang ketika ia mau menghadapi ketidak nyamanan demi membangun pola hidup baru yang lebih sehat.

Kesimpulan
Dalam kasus ini, memperlihatkan bahwa manusia tidak selalu bertindak sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya. Rasa nyaman, kebiasaan, dan kebutuhan mempertahankan diri sering kali membuat seseorang lebih memilih membenarkan perilaku lama dibanding berubah.

Melalui sudut pandang psikologi inovasi, perubahan perilaku membutuhkan kesiapan psikologis untuk keluar dari zona nyaman. Inovasi tidak hanya terjadi pada teknologi atau ide baru, tetapi juga pada keberanian individu untuk membentuk pola pikir dan kebiasaan hidup yang lebih sehat.

Liany Nur Ramadhani (24310410016) - Kelas Psikologi Inovasi - B Tugas Essay 2 - Dr. Arundati Shinta M.A - Analisis Disonansi Kognitif dan Mekanisme Pertahanan Diri pada Perokok Aktif di Lingkungan Olahraga

 


Liany Nur Ramadhani 

24310410016

Kelas Psikologi Inovasi - B

Tugas Essay 2 

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta M.A

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 

Yogyakarta 

(September 2026)

Analisis Disonansi Kognitif dan Mekanisme Pertahanan Diri pada Perokok Aktif di Lingkungan Olahraga.


Disonansi kognitif terjadi ketika individu mengalami ketidakselarasan antara pengetahuan yang dimiliki dan tindakan nyata sehari-hari. Kondisi ini membuat seseorang cenderung menciptakan pembenaran diri (self-justification) agar tidak perlu merubah perilakunya, yang pada akhirnya menghambat munculnya niat untuk berinovasi atau berubah menuju pola hidup sehat.

Wawancara dilakukan pada tanggal 25 September 2026 terhadap seorang target berinisial R (seorang anggota pusat kebugaran/gym). Subjek memiliki pemahaman yang baik mengenai bahaya merokok bagi kesehatan fisik dan performa olahraga. Namun, ia tetap aktif merokok di area istirahat gym setelah selesai latihan.

Berdasarkan hasil wawancara, ditemukan mekanisme pertahanan diri yang digunakan subjek untuk meredakan ketegangan psikologis akibat disonansi tersebut:

  1. Subjek merasionalisasikan tindakannya dengan alasan bahwa efek negatif rokok dapat dinetralkan oleh aktivitas fisik yang ia lakukan secara rutin. "Saya kan rutin latihan berat setiap hari, jadi racunnya ikut keluar lewat keringat. Lagipula merokok setelah gym bantu otot saya lebih rileks."
  2. Subjek menyepelekan risiko jangka panjang dan menganggap ancaman kesehatan hanya terjadi pada orang yang tidak berolahraga. "Banyak kok atlet luar negeri yang merokok tapi prestasinya tetap bagus. Yang berbahaya itu kalau merokok tapi enggak pernah olahraga sama sekali."
Penggunaan mekanisme pertahanan diri ini membuktikan bahwa subjek aktif menyaring informasi untuk memvalidasi kebiasaannya. Ketidakmampuan untuk menerima ketidaksesuaian antara pengetahuan dan tindakan ini menjadi hambatan utama dalam psikologi inovasi diri, karena individu terus mempertahankan zona nyaman melalui rasionalisasi semu.

Daftar pustaka 

ESAI I MERINGKAS JURNAL TENTANG ENTERPRENEURSHIP RAY FRANSISCA MARITA KUSUMA (24310410005) PSIKOLOGI INOVASI KELAS KARYAWAN Ibu Dr. Arundati Shinta., MA

ESAI I – MERINGKAS JURNAL MEMBANGUN JIWA WIRAUSAHAWAN (ENTREPRENEURSHIP) MENJADI MAHASISWA PENGUSAHA (ENTERPRENEUR STUDENT) SEBAGAI MODAL UNTUK MENJADI PELAKU USAHA BARU
Nama RAy. Fransisca Marita Kusuma
NIM 24310410005
Mata Kuliah Psikologi Inovasi
Kelas Kelas Karyawan
Dosen Pengampu Ibu Dr. Arundati Shinta., MA

Ringkasan Jurnal

Komponen Ringkasan Uraian
Topik Entrepreneurship.
Sumber Pelipa, E. D., & Marganingsih, A. (2020). Membangun Jiwa Wirausahawan (Entrepreneurship) Menjadi Mahasiswa Pengusaha (Entrepreneur Student) sebagai Modal untuk Menjadi Pelaku Usaha Baru. Jurnal Pendidikan Ekonomi (JURKAMI), 5(2), 125–136.
Permasalahan Lulusan perguruan tinggi cenderung mencari pekerjaan daripada menciptakan lapangan pekerjaan. Sementara itu, daya serap instansi pemerintah dan swasta terbatas sehingga masa tunggu untuk memperoleh pekerjaan dapat menjadi panjang. Kondisi tersebut mendorong perlunya pembentukan jiwa kewirausahaan sejak mahasiswa masih menjalani pendidikan.
Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan membangun jiwa kewirausahaan mahasiswa sejak masih kuliah sehingga mahasiswa dapat menjadi entrepreneur student dan memiliki modal untuk menjadi pelaku usaha baru.
Isi
  • Kewirausahaan dipandang sebagai salah satu penggerak pembangunan ekonomi. Semakin banyak masyarakat yang menjalankan usaha maka perputaran ekonomi dapat semakin berkembang. Mahasiswa sebagai kelompok terdidik diharapkan dapat ikut berperan melalui pengembangan kemampuan dan jiwa kewirausahaan.
  • Jiwa kewirausahaan perlu dikembangkan melalui proses pembelajaran dan pengalaman yang dapat mendorong mahasiswa untuk mengenali peluang usaha. Kemampuan tersebut dapat menjadi bekal bagi mahasiswa untuk mulai menjalankan kegiatan usaha secara mandiri.
  • Mahasiswa tidak hanya membutuhkan pengetahuan mengenai kewirausahaan tetapi juga perlu mendapatkan pengalaman dalam menerapkan konsep kewirausahaan. Pengalaman tersebut dapat membantu mahasiswa dalam meningkatkan keberanian dan kesiapan untuk memulai usaha.
Metode Penelitian dilakukan dengan memberikan perlakuan kepada mahasiswa. Kemampuan berwirausaha kemudian dibandingkan antara kondisi sebelum dan sesudah perlakuan. Hasil analisis menunjukkan nilai Thitung = 4,56 dan Ttabel = 2,052.
Hasil
  • Nilai Thitung sebesar 4,56 lebih besar daripada Ttabel sebesar 2,052. Hasil tersebut menunjukkan adanya perbedaan kemampuan berwirausaha mahasiswa sebelum dan sesudah diberikan perlakuan. Setelah perlakuan diberikan kemampuan berwirausaha mahasiswa mengalami peningkatan.
  • Perlakuan yang diberikan dalam penelitian menunjukkan bahwa pembentukan jiwa kewirausahaan dapat meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam bidang kewirausahaan. Hal tersebut terlihat dari adanya perubahan kemampuan mahasiswa setelah mengikuti proses pembelajaran atau perlakuan yang diberikan.
  • Hasil penelitian memperlihatkan bahwa mahasiswa dapat diarahkan untuk menjadi entrepreneur student. Dengan demikian kegiatan kewirausahaan selama masa perkuliahan dapat menjadi salah satu bekal untuk mempersiapkan mahasiswa menjadi pelaku usaha baru.
Diskusi
  • Pembentukan jiwa kewirausahaan sejak masa perkuliahan menjadi bagian penting dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi dunia kerja. Mahasiswa tidak hanya diarahkan untuk menjadi pencari kerja setelah lulus tetapi juga dapat dipersiapkan untuk menciptakan usaha dan lapangan pekerjaan baru.
  • Pendidikan kewirausahaan perlu diberikan secara lebih aplikatif agar mahasiswa tidak hanya memahami teori tetapi juga mampu menerapkannya dalam kegiatan usaha. Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan kewirausahaan dapat membantu membangun pengalaman dan keberanian dalam mengambil peluang usaha.
  • Peran perguruan tinggi menjadi penting dalam membangun karakter dan kemampuan kewirausahaan mahasiswa. Dukungan melalui pembelajaran dan kegiatan praktik kewirausahaan dapat membantu mahasiswa mempersiapkan diri untuk menjadi pelaku usaha baru setelah menyelesaikan pendidikan.

Referensi

Pelipa, E. D., & Marganingsih, A. (2020). Membangun Jiwa Wirausahawan (Entrepreneurship) Menjadi Mahasiswa Pengusaha (Entrepreneur Student) Sebagai Modal Untuk Menjadi Pelaku Usaha Baru. Jurnal Pendidikan Ekonomi (JURKAMI), 5(2), 125–136.

https://www.jurnal.stkippersada.ac.id/jurnal/index.php/JPE/article/view/901