13.5.26

Essay 4: Cholifahtun Pratista D- 23310410120

 

ESSAY 4 : MY BEST COPING BEHAVIOR

Dosen Pengampu: Dr., Dra. Arundati Shinta, MA.

 

 

Nama: Cholifahtun Pratista Dewi

NIM: 23310410120

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

2026

 

Pada bulan Februari 2021, saya mengalami salah satu peristiwa yang paling berat dan menyakitkan dalam hidup saya. Saat itu saya sedang berjuang mengikuti tes mendaftar pekerjaan, yang merupakan cita-cita besar saya sejak lama. Menjadi seorang polisi wanita adalah impian yang ingin saya wujudkan karena saya ingin membanggakan kedua orang tua saya, terutama ayah saya yang selalu mendukung dan memberi semangat dalam setiap langkah hidup saya. Saya sudah mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh, baik secara fisik maupun mental, karena saya tahu proses seleksinya tidak mudah.

Namun, di tengah perjuangan tersebut, saya mendapat kabar bahwa ayah saya mengalami kecelakaan. Saat mendengar kabar itu, saya benar-benar merasa dunia saya seperti berhenti sejenak. Saya sangat terkejut, panik, sedih, dan tidak bisa berpikir dengan tenang. Pikiran saya langsung tertuju pada kondisi ayah. Saya merasa takut kehilangan beliau karena ayah adalah sosok yang sangat penting dalam hidup saya. Beliau bukan hanya kepala keluarga, tetapi juga tempat saya bercerita, meminta nasihat, dan mendapatkan kekuatan.

Situasi itu membuat saya mengalami stres yang cukup berat. Di satu sisi, saya harus tetap fokus menjalani tes yang sudah saya persiapkan sejak lama. Di sisi lain, hati dan pikiran saya selalu tertuju pada kondisi ayah yang sedang dirawat. Saya sering merasa cemas, sulit tidur, mudah menangis, dan tidak bersemangat menjalani aktivitas sehari-hari. Bahkan saya sempat berpikir untuk menyerah dan berhenti mengikuti tes karena merasa tidak sanggup menghadapi semuanya sekaligus.

Tetapi setelah saya pikirkan kembali, saya sadar bahwa menyerah bukanlah solusi. Saya yakin ayah saya juga tidak ingin melihat saya berhenti di tengah jalan. Dari situ saya mulai mencoba bangkit dan mengatur diri saya dengan menggunakan coping behavior yang paling membantu saya, yaitu problem focused coping dan emotional coping.

Problem focused coping saya lakukan dengan cara tetap menjalani tes secara maksimal sambil berusaha membantu keluarga dan menjaga ayah. Saya mencoba mengatur waktu sebaik mungkin antara belajar, latihan fisik, dan menemani keluarga. Saya tetap berusaha disiplin, menjaga kesehatan, dan tidak membiarkan kesedihan menghancurkan fokus saya. Saya juga aktif mencari informasi tentang kondisi ayah agar saya tidak terlalu larut dalam kecemasan yang berlebihan.

Selain itu, saya juga menggunakan emotional coping untuk menenangkan diri secara emosional. Saya lebih banyak berdoa, mendekatkan diri kepada Tuhan, dan berusaha menerima bahwa setiap manusia pasti diuji dengan cara yang berbeda. Saya mencoba berpikir positif bahwa semua ini pasti ada hikmahnya. Saya juga sering berbicara dengan ibu dan keluarga agar beban pikiran saya terasa lebih ringan. Dukungan dari mereka membuat saya merasa lebih kuat dan tidak sendirian menghadapi keadaan sulit ini.

Hari yang paling saya tunggu akhirnya datang, yaitu hari pengumuman hasil tes. Saat itu saya dinyatakan diterima, dan pada waktu yang hampir bersamaan kondisi ayah saya juga mulai membaik hingga akhirnya sembuh. Perasaan saya saat itu benar-benar campur aduk antara bahagia, haru, lega, dan syukur. Saya merasa semua perjuangan, air mata, rasa takut, dan stres yang saya alami akhirnya terbayar dengan hasil yang indah.

Dari peristiwa ini, saya belajar bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana, tetapi kita harus tetap kuat menghadapinya. Saya juga belajar bahwa stres bukan akhir dari segalanya, melainkan bagian dari proses pendewasaan diri. Coping behavior yang baik sangat membantu saya untuk tetap bertahan dan bangkit. Saya semakin memahami bahwa keluarga adalah sumber kekuatan terbesar dalam hidup saya. Pengalaman ini akan selalu saya ingat sebagai pelajaran berharga bahwa selama kita berusaha, berdoa, dan tidak menyerah, selalu ada jalan terbaik yang Tuhan siapkan.

 

Essay 2- Cholifahtun Pratista D- 23310410120

 

ESSAY 2 : WAWANCARA DISONANSI KOGNITIF DENGAN PEROKOK BERINISIAL “Y”

 

Dosen Pengampu: Dr., Dra. Arundati Shinta, MA.

 

 

Nama: Cholifahtun Pratista Dewi

NIM: 23310410120

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

2026

 

Disonansi kognitif merupakan kondisi ketika seseorang memiliki dua pemikiran atau sikap yang bertentangan, namun tetap mempertahankan perilaku tertentu. Dalam wawancara ini, saya mewawancarai seorang laki-laki berinisial Y yang merupakan seorang perokok aktif. Y mengetahui bahwa merokok dapat menyebabkan berbagai penyakit berbahaya seperti gangguan paru-paru, jantung, dan penurunan kesehatan tubuh. Namun, ia tetap melakukan kebiasaan tersebut setiap hari. 

Y mengaku mulai merokok sejak masa sekolah atau (SMP) karena pengaruh lingkungan pertemanan. Menurutnya, merokok membuat dirinya merasa lebih tenang ketika menghadapi tekanan pekerjaan dan masalah pribadi. Dalam wawancara, Y mengatakan, “Saya tahu rokok itu bahaya, tapi kalau tidak merokok saya malah merasa tidak tenang dan sulit fokus.” Pernyataan tersebut menunjukkan adanya pertentangan antara pengetahuan yang dimiliki dengan perilaku yang tetap dilakukan.

Selain itu, Y juga berusaha membenarkan perilakunya dengan berbagai alasan. Ia merasa bahwa banyak orang yang merokok tetap dapat hidup sehat dalam waktu lama. Y juga mengatakan bahwa dirinya belum merasakan dampak serius akibat merokok sehingga ia merasa masih aman untuk terus melanjutkan kebiasaan tersebut. Hal ini merupakan bentuk mekanisme pertahanan diri berupa rasionalisasi, yaitu mencari alasan untuk membenarkan tindakan yang sebenarnya bertentangan dengan pengetahuan yang dimiliki.

Sepenggal kalimat dari hasil wawancara yang menunjukkan alasan Y tetap merokok adalah: “Saya tetap merokok karena rokok bisa membuat saya rileks dan membantu mengurangi stress saat ada pikiran dan saat bekerja”.

Dari hasil wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa Y mengalami disonansi kognitif karena ia memahami bahaya rokok, tetapi tetap mempertahankan kebiasaan merokok. Kondisi ini membuat Y menciptakan berbagai alasan agar dirinya merasa nyaman dengan perilaku tersebut. Disonansi kognitif yang dialami Y menunjukkan bahwa pengetahuan saja tidak selalu cukup untuk mengubah perilaku seseorang. Faktor kebiasaan, lingkungan, dan kondisi emosional juga memiliki pengaruh besar terhadap keputusan individu.

 

Daftar Pustaka

Festinger, L. (1957). A Theory of Cognitive Dissonance. Stanford University Press.

 

ESSAI 1 - MERINGKAS JURNAL MOTIVASI (PSIKOLOGI INOVASI)


REVIEW JURNAL ENTREPRENEURSHIP 




Nama : Devi Nur Hasanah

NIM : 23310410117

Mata Kuliah : Psikologi Inovasi 

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta M.A.



Judul

Membangun Tradisi Entrepreneurship pada Masyarakat

Volume dan Nomor

Volume 03, Nomor 2 (2019)

Tahun

2019

Penulis

Helisia Margahana, Eko Triyanto

Topik

Membangun tradisi entrepreneurship (kewirausahaan) pada   masyarakat untuk meningkatkan perekonomian dan menciptakan generasi wirausaha di Indonesia

Sumber

Jurnal Ilmiah Edunomika

Permasalahan

Masih rendahnya jumlah entrepreneur di Indonesia, sementara kondisi ekonomi semakin sulit dan lapangan pekerjaan semakin sempit. Masyarakat masih belum memiliki budaya atau tradisi kewirausahaan yang kuat sehingga diperlukan upaya untuk menumbuhkan jiwa entrepreneurship sejak dini

Tujuan Penelitian

Mengetahui bagaimana cara membangun tradisi entrepreneurship pada masyarakat agar dapat menciptakan generasi wirausaha yang mampu mendukung pembangunan ekonomi Indonesia

Isi

Pentingnya entrepreneurship sebagai solusi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Penulis menjelaskan bahwa tradisi kewirausahaan dapat dibentuk melalui tiga lingkungan utama, yaitu keluarga, pendidikan, dan pemerintah.

  • Keluarga berperan menanamkan kemandirian, keberanian mengambil risiko, dan semangat usaha sejak kecil.

  • Pendidikan berperan memberikan pengetahuan dan pelatihan kewirausahaan kepada peserta didik.

  • Pemerintah berperan menciptakan kebijakan, dukungan, serta fasilitas yang mendorong tumbuhnya usaha masyarakat.

Ketiga hal tersebut harus saling bekerja sama agar budaya entrepreneurship dapat berkembang dan berkelanjutan dalam masyarakat

Metode

Metode kajian pustaka (literature review). Penulis mengumpulkan dan menganalisis berbagai sumber pustaka yang relevan mengenai entrepreneurship dan budaya kewirausahaan untuk menjawab permasalahan penelitian


Hasil dan Diskusi

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi entrepreneurship dapat dibangun melalui dukungan keluarga, pendidikan, dan pemerintah. Ketiga hal tersebut mampu mendorong munculnya minat dan budaya berwirausaha dalam masyarakat.

Dalam pembahasannya, penulis menekankan bahwa entrepreneurship bukan hanya kemampuan membuka usaha, tetapi juga pola pikir kreatif, inovatif, mandiri, dan berani mengambil peluang. Oleh karena itu, budaya kewirausahaan perlu ditanamkan sejak dini agar masyarakat lebih siap menghadapi tantangan ekonomi dan mampu menciptakan lapangan pekerjaan sendiri




12.5.26

 Essay 4 My Best Coppying Behavior 

Bangkit Pasca Perceraian  

Psikologi Inovasi 
Dosen Pengampu :  Dr. Arundati Shinta, M.A.


Nama : Diah Nurul Khazanah
NIM : 23310410105

    Perceraian adalah pengalaman paling menyakitkan dalam hidup seseorang apalagi sebagai seorang perempuan, stigma janda seringkali dianggap negatif dimata masyarakat. Perceraian bukan hanya mengakhiri satu pernikahan tetapi juga menghancurkan pondasi kehidupan yang dibangun bertahun tahun, perceraian bagi saya membuat dunia saya hancur,disaat anak saya masih kecil dan masih sangat membutuhkan kasih sayang seorang ayah tiba tiba saja semua itu terenggut karena sebuah penghianatan. Namun dibalik semua kehancuran itu dalam hati kecil saya hidup saya tidak berhenti disini, saya mempunyai anak yang masih sangat membutuhkan saya,yang masa depannya tidak boleh seperti saya, saya menemukan coppying behavior saya sendiri dengan bekerja keras untuk anak saya,saya menyibukkan diri dengan bekerja dan fokus mengurus anak setelah pulang kerja.
    Pasca perceraian saya mengalami banyak gejala depresi seperti sedih yang sangat mendalam,sering melamun dan tidak nafsu makan. Dunia saya seperti berhenti,setiap menjelang tidur saya selalu berharap agak tidak terbangun lagi dipagi harinya karena begitu beratnya hari yang akan saya lalui. Saya terjebak dalam kesedihan disinilah saya menyadari bahwa saya harus bangkit dan saya memerlukan strategi konsisten dan sederhana agar hidup saya bisa berjalan dengan normal.
Setiap hari saya mencoba berdamai dengan keadaan dengan cara bersyukur untuk apapun itu yang saya dapatkan,seperti orang tua yang tidak kenal lelah mensupport saya,teman dan orang orang baik disekitar saya.
    Saya juga selalu meyakinkan diri saya sendiri Tuhan memberikan jalan yang terbaik untuk saya dan anak saya apapun ketetapan yang diberikanNYA adalah sebuah anugrah dalam hidup. Saya juga melepaskan gejala stres saya dengan berolahraga seperti jogging,dan mengeksplor hal hal baru yang tidak bisa saya lakukan ketika dulu saya mempunyai suami. Rutinitas ini terus saya lakukan setiap hari bahkan disaat saya merasa sangat terpuruk sekalipun, awalnya terasa terpaksa tetapi semakin hari itu menjadi rutinitas yang menyenangkan.
    Bangkit pasca perceraian bukanlah sekedar melupakan malalu tetapi bagi saya menjadi awal kehidupan yang lebih baik coppying behavior yang saya jalani dengan melakukan rutinitas yang menyenangkan seperti olahraga dan mengeksplor dunia baru juga refleksi diri yang saya buktikan bahwa kekuatan terbesar ada dalam diri kita sendiri. Perceraian mengajarkan saya bahwa akhir bisa menjadikan awal yang baru dan kebiasaan yang baik dibangun melalui konsistensi.
bagi saya siapapun yang sedang terpuruk cobalah berdamai dengan diri sendiri mulailah dengan bersyukur atas apa yang kita miliki. Perceraian bukanlah akhir tetapi babak baru menuju kehidupan yang lebih baik dan penuh makna.
Terimakasih,siapapun berhak bahagia dan memiliki cara masing masing untuk bahagia.




11.5.26

Deltha Arthaliya NIM 24310430209 - Psi Inovasi - Tugas 2 - Wawancara Disonansi Kognitif - Arundati Shinta - Mei 2026 - Kelas Karyawan

 Disonansi Kognitif pada Perokok Aktif dalam
Perspektif Psikologi Inovasi

Deltha Arthaliya
24310430209

Pendahuluan
Disonansi kognitif merupakan kondisi psikologi ketika seseorang mengalami ketidaksesuaian antara pengetahuan, keyakinan, dan perilaku yang dimilikinya. Sehingga ketika muncul konflik antara apa yang diketahui dan apa yang dilakukan, individu akan merasa tidak nyaman secara psikologis. Untuk mengurangi rasa tidak nyaman tersebut, seseorang biasanya akan mencari pembenaran, menyangkal sebagai fakta, atau mengalihkan perhatian pada hal lain agar perilakunya tetap terasa dapat diterima.

Hasil Wawancara dan Analisis
Wawancara dilakukan pada seorang petani muda yang aktif merokok. Sebut saja Amin. Saat ditanya mengapa masih merokok, Amin menjawab bahwa dirinya sedang tidak merokok karena merasa bosan. Ia juga mengatakan bahwa jika rasa bosan itu terus muncul, maka kemungkinan saatnya ia berhenti merokok.

Saat ditanya apakah merokok merupakan hal baik atau buruk, Amin menjawab bahwa hal tersebut tergantung sudut pandang. Menurutnya, merokok memiliki sisi baik karena dapat membantu pengusaha rokok, pekerja industri rokok, petani tembakau, dan penjual tembakau. Ia mengaku bahwa dirinya mengetahui dampak buruk rokok bagi kesehatan, tetapi ia merasa bahwa niat membantu banyak orang melalui industri tersebut juga merupakan hal baik. Amin juga mengatakan bahwa sesuatu yang berlebihan memang tidak baik, termasuk merokok. Selain itu, menurutnya, hal paling sulit dalam proses berubah adalah rasa nyaman.

Dari apa yang disampaikan Amin, terlihat adanya disonansi kognitif. Amin memahami bahwa merokok berdampak buruk bagi kesehatan, tetapi ia tetap mempertahankan perilaku tersebut. Untuk mengurangi konflik batin yang muncul, ia menggunakan mekanisme pertahanan diri.

Amin mencoba menciptakan keseimbangan dalam pikirannya. Rasionalisasi terlihat ketika Amin menjelaskan sisi positif dari merokok dengan menekankan manfaat ekonomi bagi banyak orang. Alasan tersebut menjadi bentuk pembenaran diri agar perilaku merokok tetap terasa bermakna dan tidak sepenuhnya dianggap buruk.

Selain itu, bentuk denial terlihat ketika Amin mengatakan bahwa yang tidak baik adalah sesuatu yang berlebihan. Pernyataan tersebut cenderung mengecilkan risiko merokok selama dilakukan dalam batas tertentu.

Permasalahan dan Hubungan
Permasalahan dalam case ini adanya ketidaksesuaian antara pengetahuan dan tindakan. Amin mengetahui bahwa merokok memiliki dampak negatif bagi kesehatan, tetapi rasa nyaman dan kebiasaan membuatnya tetap mempertahankan perilaku tersebut. Hal tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan tidak selalu cukup untuk menghasilkan perubahan perilaku. Kadang seseorang lebih memilih mempertahankan kenyamanan psikologis dibanding menghadapi proses perubahan yang tidak nyaman.

Dalam psikologi inovasi, perubahan membutuhkan keterbukaan terhadap pola pikir baru dan keberanian meninggalkan kebiasaan lama. Namun disonansi kognitif dapat menjadi hambatan karena individu cenderung kreatif dalam menciptakan alasan.

Kalimat dari Amin, “Hal paling sulit dari proses berubah adalah rasa nyaman.” menunjukan bahwa tantangan terbesar bukan hanya kurangnya informasi, tetapi keterikatan emosional terhadap kebiasaan yang sudah memberi rasa aman dan nyaman. Dalam psikologi inovasi, seseorang dapat berkembang ketika ia mau menghadapi ketidak nyamanan demi membangun pola hidup baru yang lebih sehat.

Kesimpulan
Dalam kasus ini, memperlihatkan bahwa manusia tidak selalu bertindak sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya. Rasa nyaman, kebiasaan, dan kebutuhan mempertahankan diri sering kali membuat seseorang lebih memilih membenarkan perilaku lama dibanding berubah.

Melalui sudut pandang psikologi inovasi, perubahan perilaku membutuhkan kesiapan psikologis untuk keluar dari zona nyaman. Inovasi tidak hanya terjadi pada teknologi atau ide baru, tetapi juga pada keberanian individu untuk membentuk pola pikir dan kebiasaan hidup yang lebih sehat.

ESAI 3- MENJADI SURI TAULADAN

 



MENJADI SURI TAULADAN MELALUI KETEKUNAN DAN KETEGUHAN

ESSAY-3A




Alifa Maura Bunga Herina

24310430041


Mata kuliah : Psikologi Inovasi

Dosen Pengampu: Dr., Dra. Arundati Shinta, MA.


Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

Mei 2026



    

     Dalam menghadapi kehidupan yang penuh perubahan, setiap individu dituntut untuk memiliki kemampuan beradaptasi sekaligus menjadi pribadi yang dapat memberikan pengaruh positif bagi orang lain. Salah satu cara untuk mencapai hal tersebut adalah dengan mengembangkan ketekunan dan ketangguhan, yang pada akhirnya dapat menjadikan seseorang sebagai suri teladan atau model yang inspiratif bagi lingkungan sekitarnya. Di era yang serba cepat ini, perubahan tidak hanya terjadi dalam aspek teknologi, tetapi juga dalam cara berpikir, berinteraksi, dan mengambil keputusan. Oleh karena itu, individu yang mampu bertahan sekaligus berkembang adalah mereka yang memiliki fondasi karakter yang kuat.

       Tips pertama adalah membangun ketekunan dalam menghadapi proses. Ketekunan bukan hanya tentang bekerja keras, tetapi juga tentang konsistensi dalam menjalani usaha meskipun menghadapi berbagai hambatan. Dalam konteks resiliensi, ketekunan membantu individu untuk tidak mudah menyerah saat menghadapi kegagalan. Misalnya, dalam dunia entrepreneurship, kegagalan sering kali menjadi bagian dari proses belajar. Individu yang tekun akan melihat kegagalan sebagai peluang untuk memperbaiki strategi dan meningkatkan kualitas diri. Selain itu, ketekunan juga mendorong terbentuknya dorongan berprestasi, karena individu memiliki tujuan yang jelas dan berusaha mencapainya secara berkelanjutan. Konsep ini sejalan dengan teori grit yang dikemukakan oleh Duckworth (2016), yaitu kombinasi antara passion dan perseverance dalam mencapai tujuan jangka panjang.

      Dalam konteks beladiri seperti karate, ketekunan menjadi kunci utama dalam membentuk kemampuan sekaligus karakter. Seorang yang berlatih karate sejak dini hingga dewasa harus melalui proses panjang yang tidak mudah, mulai dari latihan fisik yang melelahkan, penguasaan teknik yang berulang, hingga menghadapi kekalahan dalam pertandingan. Latihan rutin yang dilakukan setiap minggu, bahkan dengan tambahan latihan intensif di luar jadwal, menuntut konsistensi dan komitmen yang tinggi. Ketekunan ini pada akhirnya tidak hanya meningkatkan kemampuan fisik, tetapi juga membentuk mental yang kuat dan disiplin yang tinggi.

         Untuk membangun ketekunan, seseorang dapat memulai dengan menetapkan tujuan yang realistis dan terukur, kemudian membagi tujuan tersebut menjadi langkah-langkah kecil yang dapat dicapai secara bertahap. Dengan demikian, setiap keberhasilan kecil akan menjadi motivasi untuk terus melangkah maju. Ketekunan juga erat kaitannya dengan kemampuan perencanaan terhadap perubahan. Individu yang tekun tidak hanya fokus pada tujuan akhir, tetapi juga mampu menyesuaikan rencana ketika menghadapi situasi yang tidak terduga. Selain itu, penting untuk mengembangkan disiplin diri dan kemampuan mengelola emosi agar tetap konsisten dalam proses jangka panjang. Dalam hal ini, kecerdasan emosional berperan penting dalam membantu individu mengontrol emosi dan tetap fokus pada tujuan (Goleman, 2006).


        Tips kedua adalah mengembangkan ketangguhan sebagai dasar untuk menjadi suri teladan. Ketangguhan atau resilience merupakan kemampuan untuk bangkit kembali setelah mengalami kesulitan. Individu yang tangguh tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berkembang dari pengalaman tersebut. Dalam kehidupan sosial, orang yang tangguh sering kali menjadi inspirasi bagi orang lain karena menunjukkan sikap tidak mudah menyerah dan tetap optimis dalam menghadapi tantangan. Ketangguhan juga mencerminkan kemampuan seseorang dalam mengelola stres dan tekanan secara sehat.

         Dalam perjalanan menjadi seorang asisten pelatih karate, ketangguhan dan keteguhan menjadi nilai yang sangat penting. Seorang asisten pelatih tidak hanya dituntut untuk menguasai teknik, tetapi juga mampu menjadi contoh bagi peserta latihan. Pengalaman menghadapi kekalahan, rasa takut, hingga tekanan dalam latihan menjadi proses pembentukan mental. Keteguhan terlihat ketika seseorang tetap bertahan meskipun pernah gagal dan merasa tidak percaya diri. Dengan terus berlatih dan didukung oleh lingkungan seperti pelatih, keluarga, dan teman, individu belajar untuk melawan rasa takut dan menjadi lebih berani. Hal ini berkaitan dengan konsep self-efficacy yang dikemukakan oleh Bandura (1997), yaitu keyakinan individu terhadap kemampuannya dalam menghadapi tantangan.

     Ketangguhan juga berkaitan dengan kepekaan terhadap perubahan. Individu yang tangguh mampu membaca situasi dan menyesuaikan diri dengan cepat. Hal ini sangat penting di era modern yang penuh dengan dinamika dan ketidakpastian. Dengan memiliki ketangguhan, seseorang dapat menjadi role model yang “keren”, yaitu individu yang tidak hanya sukses secara pribadi, tetapi juga mampu memberikan contoh nyata tentang bagaimana menghadapi kehidupan dengan sikap positif dan produktif. Sikap ini juga akan memengaruhi lingkungan sekitar, karena energi positif cenderung menular melalui interaksi sosial.

    Hubungan antara ketekunan dan ketangguhan sangat erat. Ketekunan membantu individu untuk terus berjalan, sementara ketangguhan memastikan individu mampu bangkit ketika terjatuh. Dalam peran sebagai asisten pelatih karate, kedua hal ini terlihat jelas melalui konsistensi latihan, kemampuan menghadapi tekanan, serta kesiapan untuk membimbing orang lain. Keteladanan tidak hanya ditunjukkan melalui kemampuan, tetapi juga melalui sikap disiplin, tanggung jawab, dan semangat pantang menyerah.

        Dengan demikian, menjadi suri teladan bukanlah sesuatu yang instan, melainkan hasil dari proses panjang yang melibatkan ketekunan dan ketangguhan. Kedua hal ini dapat dilatih dan dikembangkan melalui pengalaman serta kesadaran diri. Oleh karena itu, setiap individu memiliki kesempatan untuk menjadi model yang inspiratif dengan cara terus berusaha, belajar dari kegagalan, dan beradaptasi dengan perubahan. Pada akhirnya, kontribusi kecil yang dilakukan secara konsisten dapat membawa dampak besar, baik bagi diri sendiri maupun bagi lingkungan sekitar.


Daftar Pustaka


Bandura, A. (1997). Self-Efficacy: The Exercise of Control.  New York: Freeman.


Duckworth, A. (2016). Grit: The Power of Passion and Perseverance. New York: Scribner.


Goleman, D. (2006). Emotional Intelligence. New York: Bantam Books.


Link Video YouTube:

  1. https://youtu.be/yqT-FsBHWqQ?si=r0VGQqtw9AX1-raN











MENJADI SURI TAULADAN KEREN MELALUI KETEKUNAN DAN KEBERANIAN SEBAGAI ASISTEN PELATIH KARATE

ESSAY-3B



Alifa Maura Bunga Herina

24310430041


Mata kuliah : Psikologi Inovasi

Dosen Pengampu: Dr., Dra. Arundati Shinta, MA.


Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

Mei 2026


     Dalam kehidupan yang penuh tantangan dan perubahan, setiap individu dituntut untuk mampu beradaptasi serta memiliki karakter yang kuat. Menjadi pribadi yang tidak hanya berkembang untuk diri sendiri, tetapi juga mampu menginspirasi orang lain merupakan sebuah nilai lebih yang penting. Salah satu cara untuk mencapainya adalah dengan membangun ketekunan dan keberanian. Dua hal ini saling berkaitan dan menjadi fondasi dalam proses pembentukan diri, seperti yang saya alami dalam perjalanan menjadi seorang asisten pelatih karate.

       Tips pertama adalah membangun ketekunan melalui proses latihan yang konsisten dan disiplin. Ketekunan bukan sekadar bertahan dalam kondisi sulit, tetapi juga tentang komitmen untuk terus melangkah maju meskipun hasil belum terlihat secara instan. Saya mulai berlatih karate sejak kelas 5 sekolah dasar hingga saat ini di bangku kuliah. Perjalanan panjang ini mengajarkan saya bahwa keberhasilan tidak datang secara tiba-tiba, melainkan melalui proses yang berulang dan penuh kesabaran.

        Latihan yang saya jalani cukup intens. Setiap hari Sabtu dan Minggu, saya berlatih dari pukul 16.00 hingga 18.00. Selain itu, terdapat latihan tambahan pada malam Minggu dari pukul 19.00 hingga 22.00 malam. Dalam latihan tersebut, fokus utama tidak hanya pada penguasaan teknik bela diri, tetapi juga pada peningkatan kekuatan fisik dan stamina tubuh. Terkadang rasa lelah dan jenuh muncul, namun dengan ketekunan, saya belajar untuk tetap konsisten dan tidak mudah menyerah.

      Ketekunan yang saya bangun selama bertahun-tahun akhirnya membuahkan hasil. Saya berkesempatan mengikuti berbagai perlombaan, mulai dari tingkat kecamatan hingga provinsi, dan berhasil meraih beberapa kemenangan. Namun, perjalanan tersebut tidak selalu berjalan mulus. Saya juga pernah mengalami kekalahan yang membuat saya merasa sangat kecewa hingga menangis. Pengalaman itu menjadi titik penting yang mengajarkan bahwa kegagalan adalah bagian dari proses belajar.

    Tips kedua adalah belajar menjadi berani dengan mengelola rasa takut dan overthinking.Pada awalnya, saya adalah pribadi yang mudah merasa takut dan sering berpikir berlebihan. Rasa khawatir akan kegagalan sering muncul, terutama saat menghadapi pertandingan. Hal tersebut sempat membuat saya kurang percaya diri dan ragu terhadap kemampuan diri sendiri.

       Namun, seiring dengan latihan yang terus saya jalani dan pengalaman yang saya lewati, saya mulai memahami bahwa keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa takut. Keberanian adalah kemampuan untuk tetap melangkah meskipun rasa takut itu ada. Saya belajar untuk mengontrol pikiran, fokus pada proses, dan mempercayai kemampuan yang telah saya latih.

       Peran keluarga, pelatih, dan teman-teman sangat besar dalam membantu saya melewati fase tersebut. Dukungan mereka memberikan motivasi dan kekuatan ketika saya merasa lemah. Mereka mengajarkan bahwa setiap kegagalan adalah kesempatan untuk belajar dan menjadi lebih baik. Dari sinilah saya mulai tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri dan berani menghadapi tantangan.


Ketekunan dan keberanian adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Ketekunan membantu saya untuk terus berkembang, sementara keberanian membantu saya untuk menghadapi berbagai rintangan dalam proses tersebut. Kombinasi keduanya membentuk karakter yang tangguh dan siap menjadi contoh bagi orang lain.

         Berkat proses panjang yang saya jalani, kini saya dipercaya menjadi seorang asisten pelatih karate. Dalam peran ini, saya tidak hanya membantu pelatih dalam mengajarkan teknik bela diri, tetapi juga membimbing peserta latihan agar memiliki disiplin, mental yang kuat, dan rasa percaya diri. Saya ingin berbagi pengalaman bahwa setiap orang memiliki potensi untuk berkembang jika mau berusaha dan tidak menyerah.

       Menjadi suri tauladan keren bukan berarti harus menjadi sempurna, tetapi mampu menunjukkan proses perjuangan yang nyata dan memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar. Dengan ketekunan dan keberanian, saya percaya setiap individu dapat berkembang menjadi pribadi yang lebih baik dan menjadi inspirasi bagi orang lain.

























Deltha Arthaliya - Psi Inovasi - Tugas 1 - Meringkas Jurnal Entrepreneurship - Arundati Shinta - NIM 24310430209 - Mei 2026

 Esai 1 - Meringkas Jurnal Entrepreneurship


Deltha Arthaliya
NIM 24310430209
Psikologi Inovasi


Topik
Hubungan antara psychological capital, perilaku inovasi kreatif, dan performa perusahaan pada entrepreneur
Sumber
Gao, Q., dkk. (2020). The Entrepreneur’s Psychological Capital, Creative Innovation Behavior, and Enterprise Performance. Dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Psychology.
Sumber jurnal: https://www.frontiersin.org/journals/psychology/articles/10.3389/fpsyg.2020.01651/full?utm_source=chatgpt.com
Permasalahan
Dalam dunia bisnis yang terus berubah, entrepreneur dituntut untuk mampu bertahan, beradaptasi, dan menciptakan inovasi. Namun, banyak penelitian sebelumnya lebih berfokus pada strategi bisnis, modal ekonomi, atau teknologi, dan belum banyak membahas bagaimana kondisi psikologis seorang entrepreneur dapat mempengaruhi keberhasilan bisnisnya.
Padahal, entrepreneur juga manusia yang menghadapi tekanan, ketidakpastian, kegagalan, dan tuntutan besar. Dari sini muncul pertanyaan apakah kondisi psikologis positif dapat membantu entrepreneur menjadi lebih kreatif dan meningkatkan performa perusahaan?
Tujuan Penelitian
  1. Mengetahui pengaruh psychological capital terhadap performa perusahaan,
  2. Mengetahui pengaruh creative innovation behavior terhadap performa perusahaan,
  3. Mengetahui peran perilaku inovatif kreatif sebagai penghubung antara psychological capital dan keberhasilan perusahaan.
Isi
Menjelaskan bahwa psychological capital merupakan modal psikologis positif yang dimiliki individu. Psychological capital terdiri dari empat aspek utama, yaitu: self-efficacy (kepercayaan diri terhadap kemampuan diri), hope (harapan dan kemampuan mencari jalan menuju tujuan), optimism (cara pandang positif terhadap masa depan), serta resilience atau toughness (kemampuan bangkit dari tekanan dan kegagalan). Dalam penelitiannya, juga menjelaskan bahwa entrepreneur dengan kondisi psikologis yang sehat cenderung lebih percaya diri, lebih tahan menghadapi tekanan, dan lebih terbuka terhadap perubahan. Kondisi ini kemudian mendorong munculnya creative innovation behavior atau perilaku inovatif kreatif. Perilaku inovatif kreatif dalam jurnal ini meliputi: inovasi teknologi, inovasi bisnis, dan kemampuan membangun relasi atau jaringan sosial. Melalui inovasi tersebut, entrepreneur dapat mengembangkan bisnis, meningkatkan daya saing, dan mempertahankan performa perusahaan di tengah perubahan zaman. Penelitian ini menunjukkan bahwa inovasi bukan hanya lahir dari kecerdasan intelektual, tetapi juga dari kondisi psikologis yang positif dan stabil.
Metode
Penelitian dilakukan kepada 536 entrepreneur dari 517 perusahaan di Anhui, China. Peneliti menggunakan metode kuantitatif melalui penyebaran kuesioner untuk mengukur psychological capital, creative innovation behavior, dan enterprise performance. Data kemudian dianalisis menggunakan multiple regression analysis dan structural equation modeling (SEM) untuk melihat hubungan antar variabel secara lebih mendalam.
Hasil 
Hasil penelitian menunjukkan bahwa psychological capital memiliki pengaruh positif terhadap performa perusahaan. Entrepreneur yang memiliki rasa percaya diri, optimisme, harapan, dan kemampuan bertahan yang baik cenderung memiliki performa bisnis yang lebih tinggi. Selain itu, creative innovation behavior juga terbukti berpengaruh positif terhadap keberhasilan perusahaan. Entrepreneur yang aktif berinovasi, terbuka pada ide baru, dan mampu membangun relasi memiliki peluang lebih besar untuk mengembangkan bisnisnya. Penelitian ini juga menemukan bahwa perilaku inovatif kreatif menjadi penghubung penting antara psychological capital dan performa perusahaan. Artinya, kondisi psikologis positif membantu entrepreneur menjadi lebih kreatif, lalu kreativitas tersebut berdampak pada keberhasilan bisnis.
Diskusi 
Jurnal ini memberikan pemahaman bahwa entrepreneurship bukan hanya tentang modal uang atau kemampuan bisnis, tetapi juga tentang kondisi psikologis manusia di dalamnya. Seorang entrepreneur yang sehat secara mental cenderung lebih mampu menghadapi tantangan, mengambil keputusan, dan menciptakan inovasi.
Penelitian ini juga memperlihatkan bahwa kreativitas dan inovasi sering kali tumbuh dari rasa percaya diri, harapan, dan kemampuan seseorang untuk bangkit dari kegagalan. Dalam dunia yang penuh perubahan, kemampuan psikologis menjadi salah satu fondasi penting untuk mempertahankan usaha.
Dalam jurnal ini mengingatkan bahwa keberhasilan bisnis tidak selalu dimulai dari strategi besar, tetapi juga dari bagaimana seseorang mengenali, menjaga, dan menguatkan dirinya sendiri. Ketika individu memiliki ruang psikologis yang sehat, maka ide, kreativitas, dan inovasi dapat tumbuh dengan lebih alami.