ESSAY
PRESTASI
MEMBENTUK
KARAKTER MELALUI SENI BELA DIRI : PENGABDIAN SUKARELA DI DOJO KLERO PRAMBANAN
Alifa Maura Bunga Herina
24310430041
Mata kuliah : Psikologi Inovasi
Dosen Pengampu: Dr., Dra. Arundati Shinta, MA.
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta
Juni 2026
Sejak tahun 2017, saya telah
mendedikasikan diri sebagai asisten pelatih karate di Dojo Klero Prambanan.
Berawal ketika masih duduk di bangku SMA hingga sekarang, kegiatan ini menjadi
ruang bagi saya untuk tumbuh sekaligus berkontribusi nyata bagi komunitas
sekitar. Setiap Hari Sabtu dan Minggu pukul 16.00 hingga 18.00 WIB, saya hadir dan
belajar dengan para siswa/kohe berusia 8 hingga 15 tahun untuk berlatih teknik,
disiplin, dan mental seorang karateka sejati. Latihan saya lakukan secara
sukarela, tanpa imbalan finansial apa pun.
Keputusan untuk terlibat dalam kegiatan
ini bukan semata dorongan nostalgia terhadap olahraga bela diri yang saya
tekuni. Lebih dari itu, ada kesadaran bahwa banyak teman di lingkungan Prambanan
yang membutuhkan ruang aman untuk berkembang
dan menyalurkan bakat baik secara fisik maupun psikologis. Ditengah
kesibukan berkuliah dan bekerja, saya meluangkan waktu untuk berinteraksi
disana. Di sinilah saya menemukan makna terdalam dari pelayanan masyarakat,
bukan sekadar mengajarkan teknik kuda-kuda atau pukulan, melainkan membimbing
karakter generasi muda agar tumbuh dengan rasa percaya diri, disiplin, tanggung
jawab, dan hormat kepada sesama.
Dalam peran sebagai asisten pelatih, saya
belajar bahwa mendidik anak-anak usia 8 hingga 15 tahun menuntut pendekatan
yang inovatif dan adaptif. Setiap anak membawa latar belakang emosi dan
kemampuan yang berbeda. Ada yang hadir dengan semangat membara, namun ada pula
yang datang dengan rasa minder atau takut gagal. Saya berupaya menerapkan
pendekatan psikologi positif merayakan kemajuan kecil, memberikan umpan balik
yang membangun, serta menciptakan suasana latihan yang menyenangkan namun tetap
disiplin. Inovasi dalam metode pengajaran menjadi keharusan ketika rutinitas
bisa berubah menjadi kebosanan, dan kebosanan adalah musuh terbesar bagi
anak-anak. Setiap sore selalu ada variasi latihan yang berbeda seperti kumite,
fisik, kata, dan jalan santai.
Lebih dari sekadar teknik bela diri,
dojo menjadi laboratorium sosial. Saya menyaksikan bagaimana anak yang awalnya
pemalu perlahan berani tampil di depan umum, atau pertikaian kecil antar siswa
yang terselesaikan melalui nilai-nilai sportivitas yang tertanam dalam setiap
sesi latihan. Bahkan beberapa diantaranya berani untuk mengikuti berbagai
perlombaan. Perubahan ini tidak tampak dalam piagam atau medali saja, tetapi
terasa nyata dalam cara mereka berinteraksi, berbicara, dan menghadapi suatu tantangan.
Pengalaman bertahun-tahun ini mengajarkan
saya bahwa inovasi tidak selalu lahir dari ruang kelas universitas. Kadang,
inovasi tumbuh dari dojo sederhana di Klero Prambanan dari seorang asisten
pelatih muda yang percaya bahwa setiap anak berhak mendapatkan bimbingan
terbaik, tanpa memandang latar belakang ekonomi mereka.
Lampiran
|
|
|
|
Foto 1.
Dokumentasi saat pemanasan sebelum latihan |
Foto 2.
Dokumentasi saat kegiatan jalan santai ke Rumah Dome |
|
|
|
|
Foto 3. Dokumentasi Tradisi setelah Ujian Kenaikan
Tingkat |
Foto 4.
Dokumentasi saat persiapan latihan kumite |


.jpeg)






