30.4.26

Esai 1 - Meringkas Jurnal Motivasi

 PSIKOLOGI INOVASI

ESAI 1 - MERINGKAS JURNAL MOTIVASI

MEMBANGUN TRADISI ENTREPRENEURSHIP PADA MASYARAKAT


Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A

Nama : Annisa Septiana Putri

NIM : 23310410108

 


Fakultas Psikologi

Universitas Psikologi 45

Yogyakarta

2026

 

Topik

Pembangunan tradisi entrepreneurship (kewirausahaan) dalam masyarakat

Sumber

Margahana, Helisia & Triyanto, Eko (2019). Membangun Tradisi Entrepreneurship pada Masyarakat. Jurnal Edunomika, Vol. 03 No. 02.

Permasalahan

Masih rendahnya jumlah dan kualitas wirausahawan di Indonesia dibandingkan negara lain, serta belum terbentuknya budaya atau tradisi entrepreneurship dalam masyarakat. Selain itu, pembentukan karakter kewirausahaan sejak dini masih kurang optimal.

Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui bagaimana cara membangun tradisi entrepreneurship pada masyarakat.

Isi

Jurnal ini membahas pentingnya entrepreneurship sebagai solusi permasalahan ekonomi serta perlunya penanaman budaya kewirausahaan sejak dini. Penulis menekankan bahwa pembentukan karakter entrepreneur tidak hanya melalui pendidikan formal, tetapi juga dipengaruhi oleh lingkungan keluarga dan dukungan pemerintah.

Metode

Menggunakan metode kajian pustaka (literature review), yaitu dengan menganalisis berbagai sumber literatur yang relevan secara mendalam.

Hasil

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembangunan tradisi entrepreneurship dalam masyarakat dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu keluarga, pendidikan, dan pemerintah. Lingkungan keluarga berperan dalam menanamkan nilai-nilai kemandirian, keberanian mengambil risiko, serta kebiasaan berusaha sejak usia dini. Pendidikan berkontribusi melalui proses pembelajaran yang mampu menumbuhkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap kewirausahaan pada individu. Sementara itu, pemerintah berperan dalam menyediakan dukungan berupa kebijakan, program, serta fasilitas yang mendorong perkembangan kewirausahaan di masyarakat.

Ketiga faktor tersebut memiliki peran yang saling melengkapi dalam membentuk dan memperkuat tradisi entrepreneurship sehingga dapat berkembang secara berkelanjutan.

Diskusi

Ketiga faktor tersebut saling berkaitan dan harus berjalan secara sinergis. Keluarga berperan dalam membentuk karakter sejak dini, pendidikan memberikan pengetahuan dan keterampilan, sedangkan pemerintah mendukung melalui kebijakan dan program. Jika ketiganya berjalan dengan baik, maka tradisi entrepreneurship dalam masyarakat dapat berkembang dan membantu meningkatkan perekonomian.


29.4.26

Essay 1 - Psikologi Inovasi : Meringkas Jurnal Motivasi - Ainun Awanda Frisca (24310430013)

 BUSINESS PLAN PEMANFAATAN SAMPAH PLASTIK MENJADI BAHAN BAKAR MINYAK SEBAGAI IMPLEMENTASI SOCIAL ENTREPRENEURSHIP di PULAU HARAPAN

Nama : Ainun Awanda Frisca

NIM : 24310430013

Mata Kuliah : Psikologi Inovasi

Esai 1

Meringkas Jurnal Motivasi

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A

April 2026



Topik

Business Plan Pemanfaatan Sampah Plastik Menjadi Bahan Bakar Minyak Sebagai Implementasi Social Entrepreneurship di Pulau Harapan

Sumber

Ramanda, S., Dewiyani, L. (2022). Business Plan Pemanfaatan Sampah Plastik Menjadi Bahan Bakar Minyak Sebagai Implementasi Social Entrepreneurship di Pulau Harapan. Jurnal Integritas Sistem Industri, 9(1), 13-23. https://jurnal.umj.ac.id/index.php/jisi/article/download/12203/6873 

Permasalahan 

Kondisi pesisir Teluk Jakarta, khususnya di Pulau Harapan, mengalami pencemaran limbah plastik yang cukup signifikan. Pencemaran ini berdampak pada penurunan hasil tangkapan ikan bagi nelayan setempat serta mengancam keberlanjutan ekosistem laut.

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis dan merancang pemanfaatan sampah plastik di Pulau Harapan sebagai solusi berkelanjutan yang tidak hanya mengurangi masalah sampah plastik, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.

Isi

Penelitian ini membahas pemanfaatan sampah plastik di Pulau Harapan yang diolah menjadi bahan bakar minyak menggunakan teknologi pirolisis sebagai solusi atas masalah lingkungan sekaligus peluang ekonomi. Sampah plastik yang menumpuk akibat aktivitas warga dan wisatawan diolah melalui proses pengumpulan, pemilahan, dan konversi menjadi minyak bakar. Hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif bagi nelayan dan transportasi lokal. Program ini juga bertujuan mengurangi pencemaran lingkungan, membuka lapangan kerja, meningkatkan kesadaran masyarakat, serta memberdayakan komunitas lokal. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa sampah plastik dapat diubah menjadi sumber energi bernilai ekonomi yang bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat secara berkelanjutan di Pulau Harapan.

Metode

Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif-kualitatif, yaitu untuk menggambarkan kondisi pengelolaan dan menilai kelayakan usaha sampah plastik. Pengumpulan data dengan melakukan wawancara, observasi langsung dengan mendapatkan data dari photo-photo sampah, dan studi literatur yang menghasilkan berbagai teori terkait studi kelayakan bisnis. 

Hasil

Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa sampah plastik di Pulau Harapan dapat diolah menjadi BBM menggunakan teknologi pirolisis. Proses ini menghasilkan bahan bakar alternatif yang bisa digunakan nelayan atau dijual, sekaligus mengurangi jumlah sampah plastik. Penerapan social entrepreneurship juga meningkatkan keterlibatan masyarakat dan membuka peluang ekonomi baru yang berbasis ekonomi sirkular.


Diskusi

Mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar di Pulau Harapan bisa menjadi solusi untuk masalah sampah. Konsep social entrepreneurship membuat program ini tidak hanya menguntungkan, tapi juga melibatkan dan membantu masyarakat. Secara bisnis cukup menjanjikan, meski masih ada tantangan seperti biaya alat dan kebutuhan dukungan. Kalau dikelola dengan baik, program ini bisa berdampak positif bagi lingkungan dan warga sekitar.

Kesimpulan

Sampah plastik di Pulau Harapan dapat dimanfaatkan menjadi bahan bakar minyak melalui teknologi pirolisis sebagai solusi inovatif untuk mengatasi permasalahan lingkungan. Selain mengurangi pencemaran dan penumpukan sampah, program ini juga memberikan manfaat ekonomi berupa sumber energi alternatif bagi masyarakat, khususnya nelayan dan transportasi lokal.

Penerapan konsep social entrepreneurship menjadikan masyarakat terlibat aktif dalam pengelolaan sampah sekaligus membuka peluang usaha baru. Pengolahan sampah plastik ini tidak hanya berdampak pada perbaikan lingkungan, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.




25.4.26

ESAI 1_ MERINGKAS JURNAL ENTREPRENEURSHIP ( SULASTRI 23310410122)

 

Meringkas Jurnal Tentang Entrepreneurship

Sulastri  (23310410122)

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta,M.A.

April 2026




Topik

Jurnal Kewirausahaan

 

Jurnal Eko Agus Alfianto (Dosen Fisip Universitas Yudharta Pasuruan

Entrepreneur dalam Bahasa Indonesia adalah lewirausahaan. Menurut Entrepreneurship, istilah wirausaha adalah seseorang  yang dapat melihat atau memanfaatkan peluang kemudian meciotkan ide atau gagasan untuk membentuk organisasi pada saat terdapat peluang tersebut, hakl tersebut untuk bisa memulai usaha atau bisnis baru.

Wirausaha adalah jalan pekerjaan yang sedang dilakukan untk dapat menjalankan usahannya sehingga mendapatkan keuntungan dan bisa jadi kemungkinan mendapatkan kerugian. Sehingga hal ini bermodalkan pribadi yang pekerja keras, percaya diri, Tangguh dan berani mengambil resiko. Selain itu kemampuan mental emotional dan memiliki kemampuan yang kreatif untuk membaca situasi peluang. Perlunya dorongan yang kuat dalam menguasai pasar sehingga di perlukan konsepa dasar berwirausaha supaya tidak terjebak oleh kegagalan.

Kewirausaahaan itu sendiri yaitu seseorang yag mampu menangkap peluang usaha, kemudian peluang tersebut di jadikan bisnis dan seorang tersebut mencurahkan waktu sepenuhnya  demi terciptanya peluang bisnis, sehingga akan mempertahankan jalan bisnisnya, dan bahkan akan memperluas jaringan – jaringan dan memiliki relasi bisnis yang lebih banyak lagi.

Tarmuji ( 2000) memaparkan bahwa  seorang wirausaha bukan manusia hasil cetakan melainkan seseorang yang memiliki kualitas pribadi yang menonjol yang Nampak dari sikap, motivasi dan perilaku yang mendasarinya.

Dalam berwirausaha terdapat beberapa manfaat yaitu :

1.    Membuka lapangan kerja baru

2.    Sebagai generator pembangunan lingkungan.

3. Sebagai contoh pribadi yang unggul, terpuji, jujur, berani dan tidak merugikan orang lain.

4.    Menghormati hukum dan peraturan yang berlaku.

5.    Mendidik karyawan jadi orang yang mandiri, disiplin ,jujur dan tekun.

6.    Memelihara keserasian lingkungan baik dalam pergaulan maupun dalam kepemimpinan,.

Keuntungan dan kelemahan menjadi wirausaha :

1.    Pendapatan yang tidak pasti.

2.    Bekerja keras dengan waktu tak terbatas.

3.    Kualitas kehidupanya rendah sebelum mereka berhasil.

4.    Tanggung jawabnya besar, banyak keputusan yang harus diambil walau belum menguasai permasalahan.

Keuntungan menjadi wirausaha :

1.    Terbuka peluang untuk mencapai tujuan.

2.    Terbuka peluang mendemonstrasikan potensi secara penuh.

3.   Terbuka peluang memperolehmanfaat dan keuntungan secara maksimal.

4.    Terbuka peluang untuk membantu masyarakat dengan usaha konkrit.

5.    Terbuka peluang untuk menjadi bos.

Pandangan waringin memberi makna bahwa  tidak semua wirausaha berjalan dengan lancer ada juga yang mengalami kegagalan, namun Ketika mengakami kegagalan itu merupakan pengalaman untuk belajar lebih baik lagi dengan mempelajari factor – factor kegagalanya dan kemudian bangkit lagi. Setiap kegagalan perlu dipelajari dan tidak mudah menyerah atau putus asa. Kegagalan yang sesungguhnya yaitu Ketika kita mengalami kegagalan tetapi tidak pelajari dan tidak direnungkan.

 

Daftar Pustaka

1.   Kiyosaki, Robert T, 2006, The Cashflow Quadrant Panduan Ayah Kaya Menuju Kebebasan Finansial, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

2.   Sargent, D Frank, 1996, Memilih Bisnis Yang Menjajnjikan Keuntungan Melimpah, Jakarta: Dinastindo Adiperkasa Internasional

3.    Tarmudji Tarsis, 2000, Prinsip prinsip Wirausaha, Yogyakarta: Liberty

4.    Vianus, Agus, 2008, 7 Karakter Sukses Untuk Membentuk Pribadi Fantastis Demi Mendulang Sukses Tak Terbatas Dalam Karir dan Bisnis, Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher.

5.    Waringin, Tung Desem, 2008), Financial Revolution, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

 

 

 

 

 

 

 

 

Essai 4 - My Best Coping Behavior

 

My Best Coping Behavior

Dari Toxic Relationship Menjadi Pertumbuhan Diri

Essai-4




Rahma Nur Al Amina
23310410066



Mata Kuliah: Psikologi Inovasi

Dosen Pengampu: Ibu Dr. Arundati Shinta, M.A

2026

Pada bulan Agustus 2023, saya mengalami peristiwa yang menyakitkan, yaitu berada dalam hubungan yang tidak sehat. Pasangan saya cenderung pasif, tidak memiliki pendirian, dan tidak mampu berperan sebagai partner yang setara. Oleh karena itu, saya menjadi lebih dominan dalam hampir semua aspek hubungan. Namun setelah saya menjadi dominan, bukan berarti masalah tersebut teratasi, malahan saya sering diabaikan, aspek relationship tidak terpenuhi, tidak ada komunikasi yang baik, dan tidak dihargai. Situasi ini malah divalidasi oleh dukungan keluarganya terhadap perilaku tersebut. Hal ini memicu stres berat. Meskipun karier saya terbilang stabil, namun saya tetap merasa kelelahan secara emosional dan mengalami kebingungan dalam memilih coping behavior yang tepat.

Pada fase awal, saya menggunakan avoidance coping, yaitu mengalihkan diri dengan bekerja lebih keras, memilih untuk ke luar pulau, dan menarik diri dari lingkungan sosial. Namun, cara ini ternyata tidak menyelesaikan akar masalah. Kemudian saya beralih ke emotion-focused coping, yaitu; mencoba memahami, menerima, dan menenangkan emosi yang muncul akibat pengalaman tersebut. Menurut Lazarus dan Folkman dalam konteks adaptasi stres yang juga banyak digunakan dalam kajian psikologi Indonesia, coping emosional membantu individu menurunkan tekanan psikologis meskipun tidak langsung mengubah akar permasalahan (Rachmawati, 2020).

Selanjutnya, saya menerapkan problem-focused coping, yaitu mengevaluasi situasi secara logis dan saya memutuskan mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungan tersebut sebagai bentuk penyelesaian sumber stres. Setelah itu, saya mengembangkan meaning-focused coping, dengan mencari makna dari pengalaman yang saya alami, sehingga saya dapat melihatnya sebagai proses belajar dan perkembangan diri (Sari & Putra, 2021).

Coping yang paling berpengaruh dalam proses pemulihan saya adalah mindfulness coping, yaitu kemampuan untuk hadir secara penuh, menerima emosi tanpa menghakimi, dan mengelola reaksi diri. Mindfulness terbukti efektif dalam meningkatkan regulasi emosi dan kesejahteraan psikologis (Hidayati, 2019). Melalui proses ini, saya menjadi lebih tenang, matang dalam berpikir, dan mampu mengambil keputusan dengan lebih bijak.

 

Kesimpulan

Hikmah dari pengalaman ini adalah saya menjadi pribadi yang lebih mandiri secara emosional dan tidak lagi menggantungkan kebahagiaan pada orang lain. Saya belajar bahwa setiap pengalaman menyakitkan dapat menjadi ruang pertumbuhan jika diolah dengan kesadaran.

 

Daftar Pustaka

Hidayati, N. (2019). Mindfulness sebagai strategi regulasi emosi dalam menghadapi stres. Jurnal Psikologi Indonesia, 8(2), 120–130.

Rachmawati, D. (2020). Strategi coping dalam menghadapi stres psikologis pada dewasa muda. Jurnal Psikologi Integratif, 7(1), 45–53.

Sari, A., & Putra, I. (2021). Meaning-focused coping dan resiliensi pada individu dewasa awal. Jurnal Psikologi Udayana, 8(2), 110–118.

Essai 1 - Meringkas Jurnal Motivasi

 Meringkas Jurnal Motivasi

Entrepreneurship

Essai-1



Rahma Nur Al Amina
23310410066



Mata Kuliah: Psikologi Inovasi

Dosen Pengampu: Ibu Dr. Arundati Shinta, M.A

2026


Kewirausahaan (entrepreneurship) menjadi salah satu upaya dalam menghadapi tingginya angka pengangguran, khususnya di kalangan mahasiswa. Banyak penelitian menunjukkan bahwa motivasi berwirausaha memiliki peran penting dalam mendorong individu untuk menciptakan lapangan kerja secara mandiri. Menurut Harie dan Andayanti (2020), “motivasi wirausaha mempunyai pengaruh positif terhadap minat berwirausaha mahasiswa”. Oleh karena itu, pemahaman terhadap berbagai faktor yang memengaruhi motivasi dalam berwirausaha merupakan hal yang sangat penting.

 

Berdasarkan tinjauan dari beberapa kajian jurnal, motivasi berwirausaha dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi kepercayaan diri, kebutuhan akan pencapaian, berani dalam mengambil risiko. Mahasiswa dengan tingkat self-efficacy yang tinggi cenderung lebih berani memulai usaha karena memiliki keyakinan terhadap kemampuan diri sendiri. Hal ini sejalan dengan penelitian Thalita dan Budiono (2025) yang menyatakan bahwa “motivasi kewirausahaan berpengaruh signifikan terhadap keberhasilan usaha mahasiswa”.

 

Sementara itu, faktor eksternal meliputi lingkungan keluarga, pendidikan, serta dukungan sosial. Lingkungan yang mendukung, seperti keluarga yang memiliki latar belakang bisnis, dapat meningkatkan minat individu untuk berwirausaha. Selain itu, pendidikan kewirausahaan di perguruan tinggi juga berperan dalam menciptakan pola pikir kreatif dan inovatif. Rohimah et al. (2025) menyebutkan bahwa “motivasi berwirausaha berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat berwirausaha mahasiswa”.


Namun, terdapat beberapa hambatan yang sering terjadi, seperti; keterbatasan modal, minimnya pengalaman, serta rasa takut akan kegagalan. Dalam konteks ini, motivasi tidak hanya berfungsi sebagai pendorong utama, tetapi juga sebagai mediator. Tumbelaka dan Wijaya (2023) menyatakan bahwa “motivasi berwirausaha mampu memediasi pengaruh pendidikan kewirausahaan dan efikasi diri terhadap minat berwirausaha”. Hal ini menunjukkan bahwa motivasi berperan penting dalam meningkatkan kesiapan mahasiswa untuk berwirausaha.

 

Kesimpulan

 

Motivasi berwirausaha pada mahasiswa merupakan hal penting dalam menciptakan generasi yang mandiri dan inovatif. Faktor internal seperti kepercayaan diri serta faktor eksternal seperti dukungan lingkungan memiliki pengaruh signifikan terhadap motivasi tersebut. Dengan adanya dukungan dari berbagai pihak, mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan potensi kewirausahaan dan berkontribusi dalam perekonomian.

 

Daftar Pustaka

                  • Harie, S., & Andayanti, W. (2020). Pengaruh motivasi wirausaha terhadap minat berwirausaha mahasiswa. INTELEKTIUM.

                  • Rohimah, M., Hermawan, H., & Setianingsih, W. E. (2025). Pengaruh sikap mandiri, motivasi, dan pengetahuan kewirausahaan terhadap minat berwirausaha mahasiswa. Manajemen: Jurnal Ekonomi.

                  • Thalita, T., & Budiono, H. (2025). Pengaruh pengetahuan kewirausahaan dan motivasi kewirausahaan terhadap keberhasilan usaha mahasiswa. Jurnal Manajerial dan Kewirausahaan.

                  • Tumbelaka, S., & Wijaya, A. (2023). Pendidikan kewirausahaan dan efikasi diri terhadap minat berwirausaha dengan motivasi sebagai variabel mediasi. Jurnal Manajerial dan Kewirausahaan

Esai 2 - Wawancara Tentang Disonansi Kognitif

 

PSIKOLOGI INOVASI

ESAI 2 – WAWANCARA TENTANG DISONANSI KOGNITIF

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A

Nama: Gunarti

NIM: 23310410118

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS PROKLAMASI 45

YOGYAKARTA

APRIL, 2026

Wawancara dilakukan pada 21 April 2026 dengan subjek berinisial N (28 tahun), seorang ibu rumah tangga sekaligus pekerja freelance di Magelang. Subjek diketahui memiliki kebiasaan merokok sejak tahun 2017. Meskipun demikian, ia memiliki pengetahuan yang cukup mengenai bahaya merokok, baik bagi dirinya maupun orang lain. Subjek menyatakan bahwa merokok dapat menyebabkan “batuk” dan “penyakit paru-paru”, serta mengakui bahwa kebiasaan tersebut tetap berdampak pada anak meskipun dilakukan jauh dari rumah.

Kondisi ini menunjukkan adanya disonansi kognitif, yaitu ketidaksesuaian antara pengetahuan dan perilaku. Subjek menyadari bahwa merokok berbahaya, bahkan mengaku “agak takut, tapi sudah kecanduan”. Ia juga mengakui adanya konflik dalam dirinya serta rasa khawatir sebagai seorang ibu. Namun, ia tetap mempertahankan kebiasaan tersebut dengan alasan kecanduan dan kondisi stres.

Dalam konteks psikologi inovasi, kondisi ini menunjukkan bahwa individu sulit untuk berubah karena mampu menciptakan berbagai bentuk mekanisme pembenaran diri. Salah satunya adalah rasionalisasi, di mana subjek menyatakan bahwa merokok “masih bisa ditoleransi karena banyak yang merokok”. Pernyataan ini menunjukkan upaya untuk menyesuaikan perilaku dengan lingkungan sosial agar tetap merasa nyaman. Selain itu, terdapat bentuk self-justification, yaitu ketika subjek merasa bahwa gaya hidup sehat yang dijalani, seperti olahraga dan mengurangi makanan berlemak, dapat “mengimbangi dampak merokok”. Hal ini menunjukkan adanya upaya untuk mengurangi rasa bersalah tanpa benar-benar menghentikan perilaku merokok.

Di sisi lain, subjek juga menunjukkan kesadaran akan ketidaksesuaian perilaku tersebut. Ia mengaku “merasa aneh, karena berolahraga tapi tetap merokok” serta merasa “ilfeel karena bikin batuk”. Hal ini memperkuat adanya konflik internal yang belum terselesaikan. Namun, meskipun menyadari risiko dan ketidaksesuaian tersebut, subjek belum mampu berubah secara signifikan karena faktor kecanduan dan kebiasaan yang sudah terbentuk.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa disonansi kognitif membuat individu tidak mudah untuk berubah, karena adanya mekanisme pembenaran diri yang terus dipertahankan. Individu menjadi kreatif dalam mencari alasan agar tetap merasa nyaman dengan perilaku yang sebenarnya bertentangan dengan pengetahuan yang dimilikinya. Hal ini menunjukkan pentingnya intervensi yang tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga menyasar perubahan perilaku dan pengelolaan kebiasaan secara lebih mendalam.

 

Referensi

Harmon-Jones, E., & Mills, J. (2019). An Introduction to Cognitive Dissonance Theory and an Overview of Current Perspectives on the Theory. DOI: https://doi.org/10.1037/0000135-001

McLeod, S. (2023). Cognitive Dissonance Theory. Simply Psychology. https://www.simplypsychology.org/cognitive-dissonance.html

Esai 1 - Meringkas Jurnal Motivasi

 

PSIKOLOGI INOVASI

ESAI 1 - MERINGKAS JURNAL MOTIVASI

TECHNOPRENEURIAL INTENTION: PERAN SELF-EFFICACY, ENTREPRENEURSHIP EDUCATION, DAN RELATION SUPPORT

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A

Nama: Gunarti

NIM: 23310410118


FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS PROKLAMASI 45

YOGYAKARTA

APRIL, 2026

Topik

dukungan relasi; efikasi diri; intensi teknopreneurial; pendidikan kewirausahaan

Sumber

Alamsyahrir, D., & Ie, M. (2022). Technopreneurial Intention: Peran self-efficacy, entrepreneurship education, dan relation support. Jurnal Manajemen Maranatha (JMM), 21(2), Mei 2022, 135-144 https://doi.org/10.28932/jmm.v21i2.4532

Permasalahan

Permasalahan utama dalam penelitian ini adalah masih rendahnya minat mahasiswa untuk menjadi technopreneur, meskipun peluang di bidang teknologi semakin luas. Banyak mahasiswa yang lebih memilih menjadi pekerja dibandingkan menciptakan lapangan kerja sendiri. Hal ini diduga karena:

  1. Kurangnya kepercayaan diri (self-efficacy) dalam memulai usaha
  2. Pendidikan kewirausahaan yang belum optimal dalam membentuk mindset bisnis
  3. Minimnya dukungan dari lingkungan sosial seperti keluarga dan teman
  4. Permasalahan ini menunjukkan adanya kesenjangan antara peluang yang tersedia dengan kesiapan individu dalam memanfaatkannya.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk:

  1. Menganalisis pengaruh self-efficacy terhadap technopreneurial intention
  2. Menganalisis pengaruh pendidikan kewirausahaan terhadap technopreneurial intention
  3. Menganalisis pengaruh dukungan relasi terhadap technopreneurial intention
  4. Mengetahui seberapa besar kontribusi ketiga variabel tersebut dalam meningkatkan minat mahasiswa menjadi technopreneur

Isi

Dalam penelitian ini dijelaskan bahwa technopreneurial intention merupakan bentuk kesiapan psikologis individu untuk memulai usaha berbasis teknologi. Niat ini tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi dipengaruhi oleh berbagai faktor.

Pertama, self-efficacy menjadi faktor penting karena berkaitan dengan keyakinan individu terhadap kemampuannya dalam mengelola usaha, menghadapi risiko, dan menyelesaikan masalah. Mahasiswa dengan tingkat self-efficacy tinggi cenderung lebih berani mengambil peluang dan tidak mudah menyerah.

Kedua, pendidikan kewirausahaan berperan dalam membentuk pola pikir, keterampilan, serta pengetahuan yang dibutuhkan dalam dunia bisnis. Melalui pendidikan ini, mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga dilatih untuk berpikir kreatif dan inovatif.

Ketiga, dukungan relasi (relation support) seperti keluarga, teman, dan lingkungan sekitar juga sangat berpengaruh. Dukungan ini dapat berupa motivasi, bantuan moral, maupun akses terhadap jaringan yang dapat membantu pengembangan usaha.

Ketiga faktor tersebut saling melengkapi dalam membentuk niat mahasiswa untuk menjadi technopreneur.

Metode

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain asosiatif kausal, karena bertujuan untuk menganalisis hubungan sebab-akibat antar variabel.

Subjek penelitian adalah 125 mahasiswa aktif program S-1 dari Fakultas Teknologi Informasi dan Fakultas Ekonomi Universitas XYZ yang telah mendapatkan pembelajaran kewirausahaan. Teknik pengambilan sampel menggunakan non-probability sampling dengan metode purposive sampling, yaitu pemilihan sampel berdasarkan kriteria tertentu yang sesuai dengan tujuan penelitian.

Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner dengan menggunakan skala Likert untuk mengukur variabel penelitian.

Teknik analisis data menggunakan Partial Least Square (PLS) dengan pendekatan Structural Equation Modeling (SEM) atau PLS-SEM. Pengolahan data dilakukan dengan bantuan software SmartPLS versi 3.2.8. Metode ini dipilih karena mampu menganalisis hubungan antar variabel secara simultan dan kompleks.

Hasil

Hasil penelitian menunjukkan bahwa:

  1. Self-efficacy memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap technopreneurial intention. Artinya, semakin tinggi kepercayaan diri mahasiswa, semakin besar keinginannya untuk menjadi technopreneur
  2. Pendidikan kewirausahaan berpengaruh positif terhadap technopreneurial intention. Mahasiswa yang mendapatkan pendidikan kewirausahaan cenderung lebih siap dan tertarik untuk berwirausaha
  3. Dukungan relasi juga berpengaruh positif. Lingkungan yang suportif dapat meningkatkan motivasi dan keberanian mahasiswa untuk memulai usaha

Secara keseluruhan, ketiga variabel tersebut terbukti memiliki kontribusi dalam meningkatkan niat menjadi technopreneur.

Diskusi

Hasil penelitian ini menegaskan bahwa niat berwirausaha berbasis teknologi tidak hanya dipengaruhi oleh faktor individu, tetapi juga oleh faktor pendidikan dan lingkungan sosial.

Self-efficacy menjadi faktor dominan karena berkaitan langsung dengan kesiapan mental individu dalam menghadapi risiko dan tantangan. Tanpa kepercayaan diri, mahasiswa cenderung ragu untuk memulai usaha, meskipun memiliki peluang.

Pendidikan kewirausahaan juga memiliki peran strategis dalam membentuk mindset inovatif. Namun, pendidikan tidak cukup hanya bersifat teoritis, melainkan harus disertai praktik nyata agar mahasiswa lebih siap menghadapi dunia bisnis.

Sementara itu, dukungan relasi berfungsi sebagai penguat eksternal yang dapat meningkatkan motivasi individu. Lingkungan yang positif akan memberikan rasa aman dan dorongan untuk mencoba.

Dengan demikian, peningkatan jumlah technopreneur di kalangan mahasiswa memerlukan sinergi antara faktor internal (kepercayaan diri), faktor pendidikan, dan faktor sosial.