30.6.26

Essay 5 - Psikologi Inovasi : Berperilaku Inovatif - Ainun Awanda Frisca (24310430013)

 

Pemanfaatan Tutup Botol Plastik Menjadi Tempat Alat Tulis 

Nama : Ainun Awanda Frisca

NIM : 24310430013

Mata Kuliah : Psikologi Inovasi

Esai 5

Berperilaku Inovatif

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A

Juni 2026

Sampah plastik masih menjadi salah satu masalah lingkungan yang sering kita jumpai. Salah satu jenis sampah yang banyak ditemukan adalah tutup botol minuman. Meskipun ukurannya kecil, jika terus menumpuk, tutup botol dapat mencemari lingkungan karena membutuhkan waktu yang sangat lama untuk terurai. Oleh karena itu, diperlukan cara-cara kreatif untuk mengurangi limbah plastik, salah satunya dengan mengubah tutup botol bekas menjadi tempat alat tulis. Selain bermanfaat bagi lingkungan, kegiatan ini juga dapat melatih kreativitas dan kemampuan seseorang dalam menciptakan sesuatu yang berguna.

Dalam psikologi inovasi, terdapat konsep Innovative Work Behavior (IWB) atau perilaku inovatif. Konsep ini menjelaskan bahwa inovasi berawal dari kemampuan seseorang menemukan ide, mengembangkannya, lalu mewujudkannya menjadi sesuatu yang bermanfaat. Membuat tempat alat tulis dari tutup botol merupakan salah satu contoh perilaku inovatif karena barang bekas yang awalnya dianggap tidak berguna dapat diubah menjadi produk yang memiliki fungsi dan nilai jual.

Selain itu, psikologi inovasi juga menjelaskan pentingnya Psychological Capital, yaitu efikasi diri, harapan, optimisme, dan resiliensi. Dalam pembuatan tempat alat tulis, efikasi diri terlihat dari rasa percaya diri bahwa seseorang mampu membuat kerajinan yang menarik. Harapan muncul melalui keinginan untuk menghasilkan produk yang bermanfaat. Optimisme terlihat dari keyakinan bahwa tutup botol bekas masih bisa dimanfaatkan menjadi barang yang bernilai. Sementara itu, resiliensi tampak ketika seseorang tetap berusaha menyelesaikan kerajinan meskipun mengalami kesulitan, seperti menyusun tutup botol agar rapi atau menentukan desain yang sesuai.

Proses pembuatannya cukup sederhana. Pertama, kumpulkan tutup botol bekas, kemudian cuci hingga bersih. Setelah itu, siapkan alas dari kardus bekas berbentuk lingkaran sebagai dasar tempat alat tulis. Tutup botol kemudian ditempel satu per satu menggunakan lem hingga membentuk tabung. Setelah selesai, tempat alat tulis dihias menggunakan pita hiasan  agar tampil lebih menarik.


Agar memiliki nilai ekonomi, produk ini dapat dipasarkan melalui media sosial seperti Instagram, Facebook, Youtube dan WhatsApp. Dengan harga sekitar Rp20.000 per buah, tempat alat tulis ini cukup terjangkau bagi pelajar maupun masyarakat umum. Selain membantu mengurangi sampah plastik, penjualan produk ini juga dapat menjadi peluang usaha sederhana yang menghasilkan tambahan pendapatan.


Melalui kegiatan ini, kita tidak hanya belajar membuat kerajinan, tetapi juga belajar berpikir kreatif, percaya pada kemampuan diri, serta lebih peduli terhadap lingkungan. Hal ini menunjukkan bahwa inovasi dapat dimulai dari hal-hal sederhana di sekitar kita dan mampu memberikan manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.


Link Youtube : https://youtube.com/shorts/4FyTnlKqs6I?si=mVuVdiCVfrCKiuFW


Daftar Pustaka :

Luthans, F., Youssef-Morgan, C. M., & Avolio, B. J. (2015). Psychological capital and beyond. Oxford University Press.

Marfufah, M. R., & Ngazizah, N. (2024). Proyek STEAM pemanfaatan limbah tutup botol plastik menjadi kerajinan vas bunga. Jurnal Pendidikan Dasar, 5(2), 54–62.

Mubaraq, A., & Sari, D. P. (2024). Hubungan psychological capital dengan perilaku kerja inovatif pada pegawai. JPSY165: Jurnal Psikologi, 3(1), 45–56.

Salpina, S., Maisura, M., & Nur, F. M. (2025). Meningkatkan kreativitas anak usia dini melalui aktivitas mengolah botol bekas menjadi kerajinan. Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan, 2(1), 12–20.

Scott, S. G., & Bruce, R. A. (1994). Determinants of innovative behavior: A path model of individual innovation in the workplace. Academy of Management Journal, 37(3), 580–607.

Setiawan, I., & Putri, N. K. (2024). Peran innovative culture dan psychological capital terhadap innovative work behavior pada pelaku ekonomi kreatif. Jurnal Konseling dan Pendidikan, 12(1), 87–98.




Essay 7 - Psikologi Inovasi : Lakukan Perubahan Diri - Ainun Awanda Frisca (24310430013)

 Konsistensi : Kunci Perubahan Diri Melalui Jogging

Nama : Ainun Awanda Frisca

NIM : 24310430013

Mata Kuliah : Psikologi Inovasi

Esai 7

Lakukan Perubahan Diri

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A

Juni 2026

Perubahan diri adalah proses mengembangkan potensi untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Perubahan ini dipengaruhi oleh pengalaman, lingkungan, pendidikan, dan kesadaran diri. Dalam kehidupan sehari-hari, perubahan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten, seperti menjaga kesehatan, mengelola emosi, dan membangun pola hidup yang positif.

Menurut Albert Bandura (1997), perubahan perilaku dipengaruhi oleh self-efficacy, yaitu keyakinan seseorang terhadap kemampuannya untuk mencapai tujuan. Semakin tinggi keyakinan tersebut, semakin besar motivasi seseorang untuk mempertahankan kebiasaan positif dan mencapai perubahan yang diinginkan.

Salah satu perubahan diri yang saya lakukan adalah membangun kebiasaan jogging secara rutin setiap minggu. Keputusan ini muncul dari keinginan untuk meningkatkan kesehatan sekaligus melatih kedisiplinan dalam beraktivitas fisik. Dalam pelaksanaannya, saya biasanya jogging di sekitar Embung Tambakboyo karena suasananya nyaman untuk berolahraga. Saya juga beberapa kali berlari di lingkungan tempat tinggal dan di Stadion Mandala Krida, tergantung waktu dan kondisi yang tersedia.

Awalnya saya melakukan jogging hanya untuk menjaga kesehatan tanpa menghitung waktu maupun jarak tempuh. Namun, sejak 7 April 2026 saya mulai mencatat hasil setiap latihan untuk mengetahui perkembangan kemampuan saya. Pada 7 April 2026 saya menempuh 2 km dalam 60 menit. Selanjutnya, pada 12 April meningkat menjadi 2,5 km (60 menit), 19 April menjadi 2,8 km (60 menit), dan 26 April mencapai 3 km (65 menit). Perkembangan terus berlanjut pada bulan Mei, yaitu 3,2 km (70 menit) pada 1 Mei, 3,4 km (65 menit) pada 9 Mei, 3,7 km (60 menit) pada 16 Mei, 4 km (70 menit) pada 23 Mei, dan 4,5 km (76 menit) pada 30 Mei. Memasuki bulan Juni, saya berhasil menempuh 5 km dalam 80 menit pada 6 Juni, 5 km dalam 75 menit pada 13 Juni, dan 5,1 km dalam 80 menit pada 21 Juni 2026. Dari catatan tersebut terlihat bahwa dalam waktu sekitar dua bulan jarak tempuh saya meningkat dari 2 km menjadi 5,1 km, yang menunjukkan adanya perkembangan kemampuan dan daya tahan tubuh berkat latihan yang dilakukan secara rutin.

Tabel 1. Laporan Kemajuan Kegitan Jogging

M

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

W

60

60

60

65

70

65

60

70

76

80

75

80

J

2

2,5

2,8

3

3,2

3,4

3,7

4

4,5

5

5

5,1

Catatan M = Minggu ke-n, W= Waktu dalam menit, J= Jarak dalam km
            Dalam proses ini, saya merasakan beberapa suka dan duka. Suka yang saya alami adalah munculnya rasa puas setiap kali jarak yang ditempuh bertambah. Saya juga merasa lebih bugar, pikiran lebih segar, dan lebih termotivasi karena melihat perkembangan yang jelas dari catatan latihan. Selain itu, jogging juga menjadi aktivitas yang cukup menyenangkan karena bisa dilakukan sambil menikmati suasana pagi atau sore di tempat yang berbeda.

Namun, ada juga duka atau tantangan yang saya rasakan. Terkadang saya merasa lelah, terutama ketika harus tetap berlari meskipun kondisi tubuh tidak sepenuhnya fit atau cuaca kurang mendukung. Ada juga saat-saat di mana motivasi menurun sehingga jogging terasa berat untuk dilakukan. Meski begitu, saya berusaha tetap konsisten karena sudah melihat perkembangan yang cukup baik dari waktu ke waktu.

Perkembangan yang saya alami sejalan dengan hasil penelitian dalam jurnal "Latihan Fartlek Time To Distance dan Time To Time: Solusi Optimal untuk Meningkatkan Performa Kecepatan dan Daya Tahan Pelari Jarak Menengah". Penelitian tersebut menjelaskan bahwa latihan yang dilakukan secara rutin dan bertahap dapat meningkatkan daya tahan serta kemampuan berlari karena tubuh akan beradaptasi terhadap beban latihan. Meskipun saya tidak menerapkan metode fartlek secara khusus, jogging yang dilakukan secara konsisten setiap minggu tetap memberikan hasil positif. Hal ini terlihat dari peningkatan jarak tempuh dari 2 km menjadi 5,1 km dalam waktu sekitar dua bulan, yang menunjukkan bahwa latihan yang teratur dapat meningkatkan kebugaran dan kemampuan fisik secara bertahap.

Daftar Pustaka

Bandura, A. (1997). Self-Efficacy: The Exercise of Control. New York: W.H. Freeman.

Rusdita, J. N. D., Wiriawan, O., Lestari, B., & Wulandari, F. Y. (2025). Latihan fartlek time to distance dan time to time: Solusi optimal untuk meningkatkan performa kecepatan dan daya tahan pelari jarak menengah. Gelanggang Olahraga: Jurnal Pendidikan Jasmani dan Olahraga (JPJO), 9(1). https://doi.org/10.31539/acmr1k85

29.6.26

ESAI 8 - MY MOST ADMIRABLE ACCOMPLISHMENT

                                               ESSAY-8
                                     MY MOST ADMIRABLE ACCOMPLISHMENT

 

 


 

Alifa Maura Bunga Herina 24310430041

 

Mata kuliah : Psikologi Inovasi

Dosen Pengampu: Dr., Dra. Arundati Shinta, MA.


Fakultas Psikologi 

Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta Juni 2026


Pada tahun 2015, saya mengikuti Kejuaraan Karate tingkat Provinsi Jawa Tengah yang diselenggarakan di sebuah GOR di Magelang. Di kejuaraan itu, saya harus melewati lima pertandingan sebelum akhirnya berhasil meraih medali emas di kelas pemula. Sampai sekarang, pengalaman tersebut masih menjadi salah satu momen yang paling saya ingat.

Saat datang ke kejuaraan, saya bukan atlet yang sudah memiliki banyak prestasi. Nama saya juga belum dikenal oleh peserta lain. Karena itu, saya tidak terlalu memikirkan siapa lawan yang akan dihadapi. Fokus saya hanya satu, yaitu menampilkan hasil latihan yang selama ini saya jalani dan bertanding sebaik mungkin di setiap pertandingan.

Setiap pertandingan hanya berlangsung sekitar satu menit, tetapi rasanya jauh lebih panjang ketika berada di atas matras. Dalam waktu yang singkat itu, saya harus tetap tenang, membaca pergerakan lawan, dan menentukan kapan harus menyerang atau bertahan. Tidak ada banyak kesempatan untuk memperbaiki kesalahan, sehingga setiap keputusan benar-benar harus dipikirkan dengan cepat.

Pada pertandingan pertama saya berusaha mengendalikan rasa gugup dan bermain sesuai strategi. Memasuki pertandingan kedua dan ketiga, rasa lelah mulai muncul, tetapi saya mencoba tetap disiplin dan tidak kehilangan konsentrasi. Saat mencapai semifinal dan final, tantangannya bukan hanya menghadapi lawan, tetapi juga mengatasi kelelahan fisik serta tekanan untuk mempertahankan peluang menjadi juara.

Saya masih mengingat suara pelatih, teman-teman, dan keluarga yang terus memberi semangat dari pinggir arena. Dukungan mereka membantu saya tetap percaya diri hingga pertandingan terakhir selesai. Ketika wasit mengangkat tangan saya sebagai pemenang, rasa lelah yang sejak awal pertandingan saya rasakan seolah terbayar. Saya berhasil menjadi juara pertama dan membawa pulang medali emas.

Prestasi tersebut juga membuka kesempatan yang tidak saya duga sebelumnya. Saya mendapatkan tawaran untuk mengikuti program latihan di Jakarta sebagai bentuk pengembangan bagi atlet yang dinilai memiliki potensi. Kesempatan itu membuat saya menyadari bahwa satu pencapaian dapat membuka jalan menuju kesempatan yang lebih besar.

Bagi saya, pengalaman ini bukan hanya tentang memenangkan pertandingan. Saya belajar bahwa keberhasilan tidak datang secara instan, melainkan melalui latihan yang konsisten, kemampuan mengendalikan diri saat berada di bawah tekanan, dan keberanian untuk tetap berjuang meskipun kondisi fisik mulai menurun. Nilai-nilai tersebut terus saya bawa hingga sekarang, baik dalam pendidikan maupun dalam menghadapi berbagai tantangan lainnya.

Medali emas itu masih saya simpan hingga hari ini. Bukan semata-mata sebagai simbol kemenangan, tetapi sebagai pengingat bahwa hasil terbaik dapat diraih ketika saya mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh, tetap tenang dalam tekanan, dan menyelesaikan setiap tantangan sampai akhir.

Link video youtube: https://youtu.be/TCcf11PrGVY?feature=shared

25.6.26

ESAI 5 - BERPERILAKU INOVATIF - ALIFA MAURA BUNGA HERINA

                                                                         Essay-5

        Berperilaku Inovatif : Dari Tutup Botol Menuju Peluang Ekonomi Kreatif

 


 

Alifa Maura Bunga Herina

24310430041

 

Mata kuliah : Psikologi Inovasi

Dosen Pengampu: Dr., Dra. Arundati Shinta, MA.

 

Fakultas Psikologi

Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

Juni 2026

 

Sebuah inovasi tidak selalu lahir dari universitas ternama atau modal yang besar. Ia sering kali muncul dari kepekaan seseorang dalam membaca potensi di sekitarnya, termasuk dari benda-benda yang dianggap tidak berguna. Perilaku inovatif adalah kemampuan menggerakkan pikiran kreatif untuk menghasilkan solusi baru yang bernilai, baik secara ekonomi maupun sosial (Amabile, 1996). Salah satu contoh nyata adalah pemanfaatan tutup botol bekas merek Le Minerale dan Cleo sebagai bahan baku gantungan kunci estetik, sebuah gagasan sederhana yang menyimpan potensi besar.

Secara psikologis, perilaku inovatif bermula dari cara seseorang memandang realitas. Orang yang inovatif tidak melihat keterbatasan sebagai hambatan, melainkan sebagai tantangan yang mampu menggerakkan sebuah kreativitas. Csikszentmihalyi (1996) menjelaskan bahwa kreativitas optimal terjadi ketika seseorang masuk ke dalam kondisi flow, ketika pikiran dan tindakan menyatu secara harmonis dalam proses penciptaan. Momen inilah yang dialami ketika saya membayangkan tutup botol bukan sebagai limbah, melainkan sebagai material yang menunggu untuk dibentuk ulang. Pergeseran perspektif inilah yang menjadi fondasi dari seluruh proses inovasi.

 


 


 


 


 



Proses pembuatan gantungan kunci dimulai dengan persiapan alat dan bahan yang sangat sederhana: setrika, baking paper, tutup botol bekas, dan gantungan kunci merica. Langkah pertama setrika dipanaskan terlebih dahulu, sementara tutup-tutup botol disusun berhimpitan di atas baking paper, lalu lapisi baking paper kembali di bagian atasnya. Setrika panas kemudian ditekankan perlahan di atas susunan tutup botol hingga plastiknya meleleh dan menyatu membentuk lembaran padat. Setelah baking paper dibuka dan lembaran plastik dilepas, permukaan yang terbentuk menampilkan tekstur dan warna alami yang khas dari masing-masing tutup botol sehingga tercipta motif unik yang tidak dapat direplikasi secara persis. Langkah berikutnya adalah melubangi lembaran tersebut menggunakan jarum yang dipanaskan, lalu memasang komponen gantungan kunci merica. Produk selesai dibuat menjadi sebuah gantungan kunci yang fungsional, estetik, dan memiliki identitas visual tersendiri.

Nilai bisnis dari produk ini terletak pada rendahnya biaya produksi dan tingginya daya tarik visual. Untuk pemasaran, setiap gantungan kunci dikemas dalam kardus kecil berukuran 6x10 cm yang dilengkapi label merek. Harga jual berkisar antara Rp5.000 hingga Rp10.000 per pcs. Harga yang relatif terjangkau namun tetap menguntungkan mengingat bahan baku diperoleh hampir tanpa biaya. Howkins (2001) menegaskan bahwa dalam ekonomi kreatif, gagasan manusialah yang menjadi modal utama, bukan kapital finansial. Model usaha seperti ini dapat direplikasi oleh siapa pun, bahkan mereka yang tidak memiliki keterampilan teknis tinggi, sehingga membuka akses lapangan kerja secara luas. Desain gantungan kunci juga dapat dikembangkan lebih bervariasi dan menarik.

Proses kreatif ini selaras dengan prinsip ekonomi sirkuler yang mendorong pemanfaatan kembali material secara berkelanjutan (Ellen MacArthur Foundation, 2013). Tutup botol yang semula berada di ujung siklus konsumsi kini menjadi produk yang memiliki nilai jual. Hal ini bukan hanya soal daur ulang, melainkan tentang peningkatan nilai, yang dikenal sebagai upcycling. Ketika perilaku inovatif seperti ini menyebar dan direplikasi secara luas, dampaknya bisa melampaui individu yaitu tercipta ekosistem kewirausahaan berbasis kreativitas yang sekaligus berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan. Dengan demikian, berperilaku inovatif bukan hanya strategi bertahan hidup secara ekonomi, tetapi juga bentuk tanggung jawab terhadap masa depan bersama.

 

Link Youtube : https://youtube.com/shorts/iTbajr8gR24?si=6NGIfDyux6ITuZp5 

Daftar Pustaka

Amabile, T. M. (1996). Creativity in Context. Westview Press.

Csikszentmihalyi, M. (1996). Creativity: Flow and the Psychology of Discovery and Invention. HarperCollins.

Ellen MacArthur Foundation. (2013). Towards the Circular Economy: Economic and Business Rationale for an Accelerated Transition. Ellen MacArthur Foundation.

Howkins, J. (2001). The Creative Economy: How People Make Money from Ideas. Allen Lane.