Wawancara Tentang Disonansi Kognitif dalam Toxic Relationship
Nama : Devi Nur Hasanah
NIM : 23310410117
Mata Kuliah : Psikologi Inovasi
Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta M.A.
Dalam tugas ini saya melakukan wawancara dengan seorang laki-laki berinisial I (32 tahun) yang telah menjalani hubungan pacaran selama kurang lebih empat tahun. Saya memilih topik ini karena menurut saya hubungan romantis sering membuat seseorang bertahan dalam situasi yang sebenarnya tidak sehat, termasuk dalam masalah finansial. Individu sering menyadari bahwa hubungan tersebut memberikan tekanan emosional maupun ekonomi, tetapi tetap mempertahankannya dengan berbagai bentuk pembenaran.
Berdasarkan hasil wawancara, I menceritakan bahwa pasangannya memiliki kebiasaan melakukan trading secara berlebihan hingga beberapa kalig mengalami kerugian dan terlilit hutang. Kondisi tersebut tidak hanya mempengaruhi keadaan finansial pasangannya, tetapi juga berdampak pada hubungan mereka berdua. I mengaku sering merasa lelah karena harus mendengarkan keluhan, membantu menenangkan pasangan, bahkan beberapa kali ikut membantu menyelesaikan masalah keuangan yang muncul.
Saat wawancara berlangsung I mengatakan, “Aku sebenernya capek Dev karena masalahnya sering berulang. Kadang aku juga mikir hubungan ini nggak sehat, tapi aku masih mau bertahan karena kasihan dan masih sayang dia. Aku juga masih percaya bahwa suatu saat dia bisa berubah.”
Pernyataan tersebut menunjukkan adanya disonansi kognitif, yaitu kondisi ketika seseorang mengalami ketidaksesuaian antara pikiran, perasaan, dan perilaku yang dimiliki (Sarwono, 2015). Di satu sisi, I menyadari bahwa hubungan tersebut memberikan tekanan emosional dan melelahkan secara mental. Tapi disisi lain, dia tetap memilih bertahan karena masih memiliki rasa sayang dan harapan bahwa pasangannya akan berubah menjadi lebih baik.
Menurut saya, kondisi ini menunjukkan bahwa perasaan cinta dan kedekatan emosional dapat membuat seseorang menjadi sulit mengambil keputusan secara rasional. Testee cenderung mencari pembenaran agar tetap merasa nyaman dengan keputusan yang diambil, walaupun sebenarnya situasi tersebut menyakitkan atau merugikan dirinya sendiri. Disonansi kognitif dalam hubungan romantis membuat seseorang terus berada di antara logika dan perasaan. Dalam kasus ini, harapan akan perubahan menjadi alasan utama subjek tetap mempertahankan hubungan yang sebenarnya sudah memberikan banyak tekanan emosional.
Daftar Pustaka :
Sarwono, S. W. (2015). Psikologi Sosial: Individu dan Teori-Teori Psikologi Sosial. Jakarta: Balai Pustaka.




