23.7.26
22.7.26
Essay 6 - Psikologi Inovasi : Partisipasi Lomba - Ainun Awanda Frisca (24310430013)
21.7.26
ESSAY 7: Cholifahtun Pratista D- 23310410120
ESSAY 7: REFLEKSI KEGIATAN BERSEPEDA SELAMA 10 MINGGU DI BANTUL, YOGYAKARTA
Dosen
Pengampu: Dr., Dra. Arundati Shinta, MA.
Nama:
Cholifahtun Pratista Dewi
NIM:
23310410120
Fakultas
Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta
2026
Selama
sepuluh minggu, mulai tanggal 17 Mei hingga 19 Juli, saya mengikuti kegiatan
bersepeda santai yang dilakukan setiap akhir pekan di wilayah Bantul,
Yogyakarta. Kegiatan ini bukan hanya menjadi bentuk olahraga rutin, tetapi juga
menjadi pengalaman yang memberikan banyak pelajaran tentang kedisiplinan, kesehatan,
dan menikmati keindahan alam. Berdasarkan laporan kegiatan, saya berhasil
menyelesaikan sepuluh sesi bersepeda dengan durasi dan jarak yang terus
mengalami perkembangan.
Tabel 1. Laporan
kemajuan kegiatan bersepeda santai
|
M |
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
6 |
7 |
8 |
9 |
10 |
|
W |
60 |
75 |
62 |
85 |
68 |
92 |
60 |
78 |
65 |
88 |
|
J |
11.5 |
19.0 |
23.6 |
17.0 |
23.8 |
21.5 |
10.8 |
30.6 |
17.9 |
29.0 |
Catatan: M = Minggu ke-n (10 Sesi:
17 Mei–19 Jul), W = Waktu dalam menit, J = Jarak dalam Km.
Grafik 1. Laporan
kemajuan kegiatan bersepeda santai
Pada
minggu pertama (17 Mei), saya bersepeda selama 60 menit dengan jarak 11,5 km.
Rute yang dipilih melewati jalan persawahan di daerah Bantul yang masih sepi.
Karena baru memulai kembali olahraga, tubuh terasa cukup kaku dan napas cepat
lelah. Namun, udara pagi yang segar membuat perjalanan terasa menyenangkan dan
memotivasi saya untuk terus melanjutkan kegiatan ini.
Memasuki
minggu kedua (24 Mei), durasi meningkat menjadi 75 menit dengan jarak 19 km.
Tubuh mulai beradaptasi sehingga kayuhan terasa lebih ringan. Saya mulai
menikmati pemandangan hamparan sawah hijau, aliran irigasi, serta masyarakat
yang sedang beraktivitas di pagi hari. Tantangannya adalah cuaca mulai terasa
lebih panas ketika perjalanan pulang sehingga saya harus lebih banyak minum.
Pada
minggu ketiga (31 Mei), saya berhasil menempuh 23,6 km dalam waktu 62 menit.
Ini menjadi pencapaian yang cukup membanggakan karena kecepatan bersepeda
meningkat. Meski sempat melewati jalan yang sedikit menanjak, saya merasa lebih
percaya diri dibanding minggu-minggu sebelumnya.
Di
minggu keempat (7 Juni), saya bersepeda selama 85 menit dengan jarak 17 km.
Cuaca mendung membuat perjalanan lebih nyaman, tetapi saya harus beberapa kali
berhenti untuk beristirahat karena rute yang dipilih cukup panjang dan
berkelok. Walaupun sedikit lelah, saya tetap menikmati perjalanan hingga
selesai.
Pada
minggu kelima (14 Juni), saya menempuh 23,8 km dalam 68 menit. Minggu ini
menjadi salah satu pengalaman terbaik karena kondisi fisik sedang prima. Saya
dapat menjaga kecepatan dengan stabil dan menikmati pemandangan pedesaan Bantul
yang masih asri. Banyak pesepeda lain yang saling menyapa sehingga suasana
terasa lebih akrab.
Di
minggu keenam (21 Juni), saya menghabiskan waktu 92 menit dengan jarak 21,5 km.
Durasi yang lebih lama membuat tenaga lebih cepat terkuras. Tantangan terbesar
adalah rasa pegal pada kaki dan pundak akibat posisi bersepeda yang cukup lama.
Namun, rasa lelah tersebut terbayar dengan pemandangan alam yang indah setelah
matahari mulai terbit.
Pada
minggu ketujuh (28 Juni), saya bersepeda selama 60 menit dengan jarak 10,8 km.
Minggu ini saya memilih rute yang lebih pendek karena kondisi tubuh belum
sepenuhnya pulih dari aktivitas sebelumnya. Walaupun jaraknya lebih sedikit,
saya tetap merasa senang karena berhasil menjaga konsistensi untuk terus
berolahraga.
Memasuki
minggu kedelapan (5 Juli), semangat kembali meningkat. Saya berhasil menempuh 30,6
km dalam waktu 78 menit, yang menjadi jarak terjauh selama program berlangsung.
Walaupun kaki terasa sangat lelah di akhir perjalanan, ada rasa bangga karena
mampu melampaui target pribadi.
Pada
minggu kesembilan (12 Juli), saya menempuh 17,9 km dalam 65 menit. Cuaca cukup
bersahabat sehingga perjalanan berlangsung lancar. Saya mulai menyadari bahwa
kebugaran tubuh meningkat karena napas tidak lagi mudah terengah-engah seperti
saat minggu pertama.
Akhirnya,
pada minggu kesepuluh (19 Juli), saya menutup rangkaian kegiatan dengan
menempuh 29 km selama 88 menit. Saya sengaja memilih rute favorit yang melewati
persawahan dan jalan pedesaan Bantul sebagai penutup program. Selama
perjalanan, saya merasa lebih percaya diri, lebih kuat, dan mampu menikmati
setiap kayuhan tanpa terburu-buru.
Selama
sepuluh minggu ini, saya merasakan berbagai suka dan duka. Sukanya adalah tubuh
menjadi lebih sehat, stamina meningkat, pikiran terasa lebih segar, serta dapat
menikmati keindahan alam Bantul setiap akhir pekan. Saya juga belajar disiplin
untuk bangun pagi dan menjaga pola hidup sehat. Dukanya adalah rasa pegal,
cuaca yang kadang kurang mendukung, serta kelelahan setelah menempuh jarak yang
cukup jauh. Namun, semua tantangan tersebut justru menjadi pengalaman berharga
yang membuat saya semakin termotivasi untuk menjadikan bersepeda sebagai bagian
dari gaya hidup sehat. Program ini membuktikan bahwa dengan latihan yang
konsisten, kemampuan fisik dapat berkembang secara bertahap dan memberikan
manfaat yang nyata bagi kesehatan maupun kebahagiaan diri.
Esay 5 Upcycling Sampah Anorganik
Membuat Bingkai Foto Unik dari Kardus dan Barang Bekas
Psikologi Inovasi
Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta. M.A.
Nama : Diah Nurul KhazanahNim : 23310410105
Karya tangan sendiri selalu memiliki nilai kehangatan yang istimewa, apalagi jika dibuat dari bahan yang biasanya terbuang. Bingkai foto ini terbuat dari kardus bekas, plastik bekas, dan alat sederhana lainnya. Tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga bisa disesuaikan dengan imajinasi kita sendiri. Berikut bahan yang saya gunakan untuk membuat bingkai foto dari kardus bekas dengan ornamen dari cup plastik bekas.
Bahan dan Alat yang Diperlukan
- Bahan utama: Kardus bekas yang cukup tebal (seperti kardus kemasan barang), plastik bekas kemasan makanan/minuman yang bersih
- Alat potong: Gunting yang tajam, bisa juga ditambah pisau pemotong kertas jika ada
- Alat hias: Cat akrilik warna-warni, kuas ukuran kecil dan sedang
- Bahan pendukung: Lem kuat, pensil, penggaris, kertas bekas untuk alas kerja
Langkah-Langkah Pembuatan
1. Menyiapkan dan Memotong Bahan Dasar Kardus
Pertama, tentukan ukuran bingkai yang diinginkan, misalnya untuk foto ukuran 4R atau foto kenangan pribadi. Ukur dan tandai pada kardus menggunakan penggaris dan pensil, buat potongan bagian depan bingkai dengan lubang tengah sesuai ukuran foto, lalu potong juga bagian penyangga belakang agar bingkai bisa berdiri tegak. Gunakan gunting untuk memotong kardus dengan hati-hati agar potongan rapi. Jika ingin bingkai lebih kokoh,bisa menumpuk 2–3 lapis kardus dan merekatkannya menjadi satu.
2. Membuat Ornamen dari Plastik Bekas
Bersihkan plastik bekas dengan sabun dan air, lalu keringkan sepenuhnya. Gambar pola hiasan yang diinginkan di atas permukaan plastik,seperti kupu-kupu, bunga, atau daun,sesuai desain yang telah dibuat lalu potong pola tersebut dengan gunting secara perlahan,
Cara Membuat Bingkai Foto dari Kardus Bekas
Sebelum merakit,gambar sesuai selera permukaan kardus yang sudah digambar kemudian warnai terlebih dahulu seluruh permukaan kardus dengan cat akrilik. bisa menggunakan warna yang diinginkan agar warna asli kardus tertutup sempurna. Biarkan cat lapisan pertama kering. Selanjutnya, berikan warna pada ornamen plastik yang sudah dipotong buat sayap kupu-kupu dengan warna cerah, kelopak bunga, serta detail bagian tengah bunga dan tulang daun. Biarkan cat kering sepenuhnya agar warna tidak luntur saat direkatkan.
Setelah cat pada kardus dan ornamen plastik kering total, oleskan lem pada bagian belakang ornamen, lalu tempelkan pada posisi yang diinginkan di sisi kiri, kanan, atas, maupun bawah lubang foto bingkai. Atur posisi agar tampak seimbang dan cantik. Terakhir, tempelkan bagian penyangga di belakang bingkai, dan bingkai foto buatan sendiri sudah siap digunakan.
Daftar Pustaka
Arikunto, S. (2013). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. (2020). Modul Pembelajaran Seni Rupa dan Keterampilan Daur Ulang. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. (2021). Pedoman Pengelolaan Sampah Melalui Kreativitas Daur Ulang. Jakarta: KLHK RI.
Sari, R. P., & Wulandari, D. (2022). Kreativitas Kerajinan Tangan dari Bahan Limbah Anorganik. Yogyakarta: Penerbit Andi.
20.7.26
Esai 8 My Most Admirable Accomplishment
Pencapaian yang Paling Saya Banggakan
Menjadi Karyawan Terbaik Periode 2023/2024
psikologi inovasi Dosen pengampu : DR.Arundati Shinta. M.A.
Setiap orang memiliki perjalanan pertumbuhannya masing‑masing. Bagi saya, keberhasilan yang paling bermakna dan membanggakan yang pernah saya raih adalah mendapatkan penghargaan Karyawan Terbaik Tahun 2023/2024 di PT Enlig Mandiri Sejahtera, saat saya bekerja sebagai petugas kebersihan melalui sistem penyaluran tenaga kerja. Penghargaan ini bukan sekadar sertifikat atau penghargaan tetapi sebagai bukti bahwa ketulusan, kedisiplinan, dan pengabdian dapat mengubah pekerjaan apa pun menjadi sesuatu yang mulia.
Saya mulai bekerja sebagai petugas kebersihan pada desember tahun 2022. Banyak orang mungkin menganggap pekerjaan ini sederhana atau kurang penting, namun saya selalu percaya bahwa setiap tugas memiliki nilai tersendiri. Lingkungan yang bersih dan rapi merupakan dasar kenyamanan serta penunjang semangat kerja bagi semua orang yang menggunakannya. Oleh karena itu, saya bertekad melakukannya dengan sebaik‑baiknya denga datang lebih awal dari waktu yang ditentukan, membersihkan setiap sudut ruangan dengan teliti, selalu mengikuti prosedur kerja yang berlaku, serta melayani semua orang dengan sopan dan ramah. Saya pun bekerja sama dengan rekan‑rekan tim agar pelayanan kami tetap terjaga dengan baik, bahkan saat pekerjaan sedang padat.
Kerja keras tersebut akhirnya diakui pada tanggal 15 Maret 2024, ketika saya menerima penghargaan Karyawan Terbaik langsung dari Bapak Indra indrajat, Direktur PT Enlig Mandiri Sejahtera. Mendapatkan dan memegang sertifikat itu, hati saya dipenuhi rasa bangga dan syukur yang mendalam. Itu semua mengingatkan bahwa usaha saya diperhatikan dan dihargai, meskipun saya bekerja di bidang yang sering kali dianggap sepele.
Keberhasilan ini mengajarkan saya dua hal yang sangat berharga. Pertama, tidak ada pekerjaan yang rendah yang ada hanyalah cara melakukannya dengan tidak sepenuh hati. Kedua, keberhasilan lahir dari ketekunan dan kesabaran yang dapat memberikan yang terbaik, apa pun tugas yang kita kerjakan. Penghargaan ini menjadi pendorong bagi saya untuk terus belajar, tetap rendah hati, serta senantiasa memberikan usaha yang maksimal, baik dalam pekerjaan maupun dalam kehidupan sehari‑hari.
Link Youtube https://youtu.be/xUIZ-QD29vQ?si=9UlLAH9EMdbowgdu
Daftar PustakaESAI 5 – BERPERILAKU INOVATIF
PSIKOLOGI INOVASI
ESAI 5 –
BERPERILAKU INOVATIF
PEMANFAATAN BOTOL PLASTIK BEKAS MENJADI TEMPAT ALAT TULIS BERBENTUK HEWAN SEBAGAI PRODUK RAMAH LINGKUNGAN
Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.
NIM: 23310410118
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta
Juni 2026
Salah satu permasalahan lingkungan yang masih sering dijumpai adalah banyaknya sampah plastik, terutama botol minuman sekali pakai. Botol plastik membutuhkan waktu yang sangat lama untuk terurai sehingga dapat mencemari lingkungan apabila tidak dimanfaatkan kembali. Berangkat dari permasalahan tersebut, saya mencoba menerapkan perilaku inovatif dengan mengubah botol plastik bekas menjadi tempat alat tulis berbentuk hewan yang memiliki nilai guna sekaligus nilai estetika. Melalui kegiatan sederhana ini, saya ingin menunjukkan bahwa barang bekas masih dapat dimanfaatkan menjadi produk yang bermanfaat dan memiliki nilai jual.
Ide pembuatan produk ini muncul ketika melihat beberapa botol plastik bekas di rumah yang sudah tidak digunakan. Daripada dibuang, saya berpikir untuk mengolahnya menjadi tempat alat tulis yang lebih menarik. Saya membuat berbagai karakter hewan, yaitu jerapah, sapi, kucing, beruang, dan kelinci. Karakter tersebut dipilih karena terlihat lucu, menarik perhatian, dan cocok digunakan oleh anak-anak maupun orang dewasa sebagai tempat menyimpan pensil, pulpen, spidol, penggaris, atau perlengkapan belajar lainnya.
Proses pembuatannya dimulai dengan mengumpulkan botol plastik bekas yang masih layak digunakan. Botol dicuci hingga bersih kemudian dikeringkan. Setelah itu saya menggambar pola sesuai bentuk karakter yang diinginkan, lalu memotong botol menggunakan cutter dan gunting. Bagian tepi botol dirapikan agar aman saat digunakan. Selanjutnya botol dicat menggunakan cat akrilik sesuai warna masing-masing karakter. Pada proses pengecatan ini, anak saya ikut membantu mengecat beberapa bagian, sehingga kegiatan ini menjadi lebih menyenangkan sekaligus menjadi momen kebersamaan kami. Setelah cat mengering, saya menambahkan detail seperti mata, hidung, telinga, dan motif karakter menggunakan kuas kecil hingga hasilnya terlihat lebih menarik.
Melalui kegiatan ini saya belajar bahwa kreativitas tidak selalu membutuhkan biaya yang mahal. Barang yang sering dianggap sebagai sampah ternyata masih dapat dimanfaatkan menjadi produk yang memiliki nilai guna. Selain membantu mengurangi limbah plastik, tempat alat tulis ini juga memiliki peluang untuk dijual dengan harga yang terjangkau sehingga dapat memberikan nilai ekonomi. Menurut saya, inovasi seperti ini merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk mendukung kepedulian terhadap lingkungan sekaligus melatih kreativitas.
Sebagai mahasiswa Psikologi, saya memahami bahwa Psikologi Inovasi mengajarkan pentingnya melihat peluang dari permasalahan yang ada di sekitar kita. Melalui tugas ini saya belajar bahwa inovasi tidak harus berupa sesuatu yang rumit. Dengan ide sederhana, kemauan untuk mencoba, dan sedikit kreativitas, botol plastik bekas dapat diubah menjadi tempat alat tulis yang menarik, bermanfaat, serta memiliki nilai ekonomi. Saya berharap kegiatan seperti ini dapat menginspirasi lebih banyak orang untuk memanfaatkan kembali barang bekas daripada langsung membuangnya.
Langkah-Langkah Pembuatan
- Menyiapkan botol plastik bekas yang masih layak digunakan.
- Mencuci dan mengeringkan botol hingga bersih.
- Menggambar pola karakter hewan pada botol.
- Memotong botol menggunakan cutter dan gunting sesuai pola.
- Merapikan bagian tepi agar aman digunakan.
- Mengecat menggunakan cat akrilik sebagai warna dasar.
- Menambahkan detail wajah dan motif karakter menggunakan kuas kecil.
- Mengeringkan hasil pengecatan hingga benar-benar kering.
- Tempat alat tulis siap digunakan atau dipasarkan.
Harga Produk
Tempat Alat Tulis Karakter dari Botol Plastik Bekas seharga: Rp2.000,00–Rp5.000,00 per buah.
Link
Video Promosi YouTube:
https://youtube.com/shorts/kLKQbWTrEh4?feature=share
Daftar Pustaka
Ellen
MacArthur Foundation. (2013). Towards the Circular Economy: Economic and
Business Rationale for an Accelerated Transition. Ellen MacArthur
Foundation. https://www.ellenmacarthurfoundation.org/publications/towards-the-circular-economy-vol-1-an-economic-and-business-rationale-for-an-accelerated-transition
Kementerian
Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia. (2022). Sistem Informasi
Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN). https://sipsn.menlhk.go.id
Munandar,
U. (2012). Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta: Rineka
Cipta.
Rogers,
E. M. (2003). Diffusion of Innovations (5th ed.). New York: Free Press.
19.7.26
ESSAI 6 - PARTISIPASI LOMBA (PSIKOLOGI INOVASI)
Berani Keluar dari Zona Nyaman Melalui Partisipasi dalam Lomba Lari
Nama : Devi Nur Hasanah
NIM : 23310410117
Mata Kuliah : Psikologi Inovasi
Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta M.A.
Sejujurnya saya adalah seseorang yang sangat tidak menyukai olahraga. Selama ini saya lebih memilih menghabiskan waktu untuk kegiatan lain dibandingkan melakukan aktivitas fisik. Namun, sejak memasuki semester lima dan mempelajari mata kuliah Psikologi Inovasi bersama Bu Shinta, cara pandang saya mulai berubah. Berbagai tugas yang diberikan membuat saya menyadari bahwa inovasi tidak selalu berarti menciptakan sesuatu yang baru, tetapi juga keberanian untuk mengubah kebiasaan, mencoba pengalaman baru, dan keluar dari zona nyaman.
Menurut De Jong dan Den Hartog (2010), perilaku inovatif diawali oleh keberanian individu untuk mencoba hal-hal baru serta terbuka terhadap pengalaman yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Berangkat dari pemahaman tersebut, saya memutuskan untuk menantang diri sendiri dengan mengikuti lomba lari untuk memenuhi tugas, sesuatu yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan akan saya lakukan. Dukungan dari teman-teman juga membuat saya semakin yakin bahwa saya mampu menyelesaikan tantangan tersebut.
Event pertama yang saya ikuti adalah Jogja Run D-City pada tanggal 24 Mei 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas UGM. Bagi saya, event ini menjadi pengalaman yang sangat berkesan karena merupakan lomba lari pertama yang saya ikuti. Menjelang acara, saya sempat merasa kecewa karena pada H-1 diketahui bahwa nama saya tidak tercantum pada BIB akibat kesalahan dari pihak penyelenggara. Tapi kekecewaan saya sangat terobati karena sebelum lomba juga terdapat festival musik yang menghadirkan band favorit saya, yaitu Juicy Luicy. Saya juga berkesempatan menikmati penampilan mereka bersama Mbak Gunarti. Rasanya sangat membahagiakan bisa menonton langsung band yang lagunya saya putar tiap hari di kantor.
Keesokan paginya saya memulai lomba pada pukul 05.45 WIB. Bersama Mbak Gunarti, Mbak Diah, Brigita, dan Mas Adit, saya berhasil menyelesaikan kategori 5 kilometer dengan baik. Walaupun sangat jauh jika dibandingkan dengan pelari profesional, saya merasa sangat bangga karena mampu melawan rasa malas dan keraguan yang selama ini menghambat saya untuk mencoba olahraga. Bagi saya pribadi, kemenangan terbesar bukanlah memperoleh medalinya, melainkan berhasil mengalahkan batas yang ada di kepala saya sendiri.
*Dokumentasi event pertama
Pengalaman kedua saya adalah mengikuti The Lilliput Family Fun Run pada tanggal 20 Juni 2026 di Gedung TCKN. Berbeda dengan event sebelumnya, suasana pada kegiatan ini lebih santai dan berorientasi pada kebersamaan keluarga. Saya mengikuti kategori 3 kilometer bersama Mbak Gunarti, Febri, dan Mbak Banun.
Meskipun jarak tempuhnya lebih pendek, tantangan yang saya hadapi justru terasa lebih berat karena telapak kaki saya masih mengalami bengkak dan nyeri setelah mengikuti event pertama. Saya tidak memaksakan diri untuk menjadi yang tercepat, melainkan fokus menikmati proses hingga mencapai garis akhir. Pengalaman tersebut mengajarkan saya bahwa keberanian bukan berarti tidak merasakan sakit atau takut, melainkan tetap melangkah dengan mempertimbangkan kondisi diri secara bijaksana. Dan saya merasa beruntung karena teman-teman saya sangat pengertian dengan mengurangi pace untuk menunggu saya.
*Dokumentasi event kedua
Melalui dua pengalaman tersebut, saya menyadari bahwa inovasi sering kali dimulai dari perubahan kecil dalam diri sendiri. Saya belajar untuk lebih terbuka terhadap pengalaman baru, berani mengambil tantangan, dan tidak membatasi diri hanya karena merasa "bukan tipe orang yang suka olahraga". Pengalaman mengikuti lomba lari juga meningkatkan kepercayaan diri saya bahwa kemampuan seseorang dapat berkembang apabila ia bersedia mencoba dan terus belajar.
Saya percaya bahwa keluar dari zona nyaman adalah salah satu bentuk inovasi dalam kehidupan sehari-hari. Sepertinya tidak semua perubahan harus bersifat besar. Terkadang, keputusan sederhana untuk mencoba sesuatu yang belum pernah dilakukan justru menjadi awal dari berkembangnya potensi diri.
Daftar Pustaka
De Jong, J., & Den Hartog, D. (2010). Measuring Innovative Work Behaviour. Creativity and Innovation Management, 19(1), 23–36.







