Oleh: Iqbal Fahri Alfarisi | 24310410012 | Psikologi Inovasi | SPSJ (B) | Dr. Arundita Shinta., M.A
Disonansi
kognitif adalah teori klasik yang dicetuskan oleh Festinger pada 1957 (Alfitman, 2017). Makna dari
disonansi kognitif adalah memiliki keadaan ketidaknyamanan atau ketegangan pada
psikologis individu yang memiliki dua nilai, sikap, dan keyakinan yang
bertentangan pada periode waktu bersamaan (Dhanda, 2020). Pada dasarnya
hampir setiap individu mengalami disonansi kognitif hanya saja ranahnya
berbeda-beda. Kesimpulannya disonansi kognitif merupakan sikap pada individu
yang tidak selalu merugikan orang sekitar tapi merugikan diri sendiri. Beberapa
disonansi yang sering terjadi dimasyarakat, yaitu meyakini bahwa rokok
membahayakan bagi kesehatan tubuh namun masih tetap merokok. Makanan dipinggir
jalan yang terpapar debu dan tidak ada penghalangnya berisiko tinggi jika
dikonsumsi namun masih saja jajan dan beli makanan dipinggir jalan.
Saya
melakukan wawancara dengan subjek berinisial “R” pada 12 Oktober 2026. Pada
sesi wawancara saya mendalami terlebih dahulu kesibukan dan aktivitas sehari-hari
serta kesehatan dirinya. Hal tersebut dilakukan agar mengetahui apakah ada sikap
yang menunjukkan disonansi kognitif pada subjek. Setelah saya gali lebih dalam,
ia sangat suka sekali mencoba berbagai makanan yang ada dipinggir jalan. Dia menyadari
dan mengetahui bahwa yang dilakukannya dapat membahayakan pada kesehatan serta
imun tubuh, namun tetap membeli jajanan jika melihat makanan yang unik dan
menarik. Hal tersebut berulang kali dilakukan, sebenarnya dia berupaya untuk
berhenti atau mengurangi jajanan yang ada dipinggir jalan namun ia mudah
tergiur dengan makanan sehingga sulit untuk menghentikannya.
Wawancara pun semakin mengalir dan
rupanya saya menemukan sikap disonansi kognitif kedua yang beriringan dengan
jajan. Perilaku yang dia lakukan adalah membuang sampah sembarangan di jalanan atau
melempar bungkus jajanan ke selokan. Beberapa kali dia memang sering ditegur
oleh temannya, namun ia tetap melakukannya. Motif dari perbuatan yang dia
lakukan katanya lebih praktis buang dimana saja. Dia juga menyadari tindakan
yang dilakukannya salah namun berulang kali tetap dilakukan. Setiap dia ditegur
oleh temannya terkadang ia merasa malu, mengikuti instruksinya untuk membuang ketika
ada tong sampah, dan terkadang juga dia abaikan.
Kesimpulannya adalah disonansi
kognitif hampir dilakukan oleh setiap orang. Disonansi kognitif akan sulit untuk
dihentikan sepenuhnya oleh individu. Jadi alih-alih berusaha untuk berhenti dan
berusaha menghindari disonansi kognitif, lebih baik jika perlahan dikurangi. Hal
utama yang perlu dilakukan oleh individu adalah berusaha menyelaraskan apa yang
disadari dan diketahui dengan kehidupan sehari-hari.
Referensi:
Alfitman. (2017). Konstruk disonansi kognitif dalam
penelitian perilaku konsumen: apakah. KONSTRUK DISONANSI KOGNITIF DALAM
PENELITIAN PERILAKU KONSUMEN: APAKAH POPULARITASNYA MEMANG SUDAH MEREDUP?, 22,
44–57.
Dhanda, B. (2020). Cognitive Dissonance , Attitude Change
and Ways to Reduce Cognitive Dissonance : A Review Study. 33(6), 48–54.
https://doi.org/10.9734/JESBS/2020/v33i630236






