10.10.26

ESAI II WAWANCARA TENTANG DISONANSI KOGNITIF RAY FRANSISCA MARITA KUSUMA (24310410005) PSIKOLOGI INOVASI KELAS KARYAWAN Ibu Dr. Arundati Shinta., MA Oktober 2026

DISONANSI KOGNITIF PADA MAHASISWA YANG MENUNDA TUGAS KARENA BERMAIN GAME
Disonansi kognitif merupakan keadaan ketika seseorang mengalami ketidaksesuaian antara pengetahuan, keyakinan, sikap, dan perilakunya. Kondisi ini dapat ditemukan dalam kehidupan mahasiswa, salah satunya ketika mahasiswa mengetahui bahwa tugas harus segera dikerjakan, tetapi justru menghabiskan banyak waktu untuk bermain game melalui telepon genggam. Untuk memahami kondisi tersebut, saya melakukan wawancara terhadap seorang mahasiswa yang memiliki kebiasaan begadang, bermain game, dan menunda pengerjaan tugas. Wawancara dilakukan pada 25 September 2026 terhadap M (inisial), mahasiswa. Berdasarkan hasil wawancara, M menyadari bahwa kebiasaan begadang dan bermain game dapat menghambat penyelesaian tugas. Namun, M tetap melakukan kebiasaan tersebut. Ketika ditanya alasan lebih memilih bermain game daripada mengerjakan tugas, M mengatakan, “Saya sebenarnya tahu tugas itu penting dan harus dikerjakan, tetapi kalau sudah main game biasanya lupa waktu. Saya berpikir nanti masih bisa mengerjakannya.” Pernyataan tersebut menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara pengetahuan M mengenai kewajiban akademik dengan perilaku yang dilakukannya. Salah satu mekanisme pertahanan diri yang terlihat adalah rasionalisasi. M berusaha memberikan alasan yang dapat membuat perilakunya terasa lebih dapat diterima. Hal tersebut terlihat dari pernyataannya, “Saya berpikir nanti masih bisa mengerjakannya.” Alasan tersebut membantu M mengurangi rasa tidak nyaman akibat mengetahui bahwa dirinya sedang menunda tugas. M juga menunjukkan bentuk penghindaran (avoidance). Ketika menghadapi tugas yang dianggap berat atau membosankan, M memilih melakukan aktivitas yang lebih menyenangkan, yaitu bermain game. M mengatakan, “Kalau tugasnya banyak dan saya sudah capek, saya lebih memilih main game dulu supaya tidak terlalu stres.” Perilaku tersebut dapat menjadi cara sementara untuk menghindari tekanan akibat tugas, meskipun tugas akhirnya tetap harus diselesaikan. Kesimpulan hasil wawancara menunjukkan bahwa M mengalami disonansi kognitif karena mengetahui pentingnya menyelesaikan tugas tepat waktu, tetapi tetap melakukan perilaku menunda dengan bermain game dan begadang. Rasionalisasi dan penghindaran menjadi mekanisme pertahanan diri yang digunakan untuk mengurangi ketidaknyamanan yang muncul akibat pertentangan antara pengetahuan dan perilakunya. Daftar Pustaka Safrah, D., & Setyaningsih, E. (t.t.). Modifikasi perilaku menunda tugas pada mahasiswa melalui teknik reinforcement positif. Universitas Muhammadiyah Aceh. http://indojurnal.com/index.php/jejakdigital/article/view/3794

Liany Nur Ramadhani (24310410016) - Esai 5 – Berperilaku Inovatif - Psikologi Inovasi - B

 


Liany Nur Ramadhani 

24310410016

Psikologi Inovasi - B

Esai 5 – Berperilaku Inovatif

Dosen pengampu Dr. Arundati Shinta M.A

Universitas Proklamasi 45 

Yogyakarta 

(10 Oktober 2026)

Pemanfaatan Limbah Botol Plastik Menjadi Pot Bunga Estetik sebagai Solusi Ekonomi Kreatif dan Pengurangan Pengangguran


Masalah pengangguran dan keterbatasan lapangan kerja masih menjadi tantangan ekonomi yang cukup mendasar. Di sisi lain, akumulasi sampah anorganik seperti botol plastik bekas minuman terus meningkat dan mencemari lingkungan. Berperilaku inovatif melalui penerapan ekonomi sirkuler dapat menjadi jembatan untuk mengatasinya. Dengan mengubah barang bekas bernilai nol menjadi produk berdaya guna, potensi kewirausahaan baru dapat tercipta tanpa membutuhkan modal yang besar.

Proses kreatif pembuatan pot bunga ini diawali dari tahapan ideasi saat melihat tumpukan botol plastik bekas yang tidak terpakai. Untuk mengubah fungsi utamanya dari sekadar wadah sekali pakai menjadi barang bernilai jual, dilakukan pendekatan upcycling. Langkah-langkah pembuatannya cukup sederhana dan dapat dipraktikkan oleh siapa saja:

  1. Persiapan Alat dan Bahan: Siapkan botol plastik bekas ukuran 1,5 liter, gunting/cutter, cat akrilik, kuas, serta kuas garis halus.
  2. Pemotongan dan Pembentukan: Botol dipotong menjadi dua bagian. Bagian bawah dipotong membentuk pola telinga kelinci atau kucing untuk memberikan kesan estetik dan unik. Lubangi bagian bawah botol dengan paku panas sebagai drainase air tanaman.
  3. Pengecatan dan Finishing: Lapisi permukaan luar botol dengan cat dasar berwarna biru. Setelah kering, lukis wajah karakter kartun yang lucu menggunakan cat warna-warni. Pot bunga siap digunakan untuk tanaman hias indoor maupun outdoor.
Melalui modifikasi desain tersebut, sampah plastik yang tadinya tidak memiliki harga dapat ditransformasikan menjadi produk ekonomi kreatif bernilai estetika tinggi. Inovasi sederhana ini membuktikan bahwa peluang usaha dapat diciptakan dengan mengandalkan kreativitas, bukan modal finansial yang melimpah. Jika keterampilan ini dikembangkan dalam skala komunitas, pembuatan kerajinan dari limbah anorganik dapat memicu lahirnya UMKM baru yang mampu menyerap tenaga kerja lokal dan mengurangi angka pengangguran.

Sebagai bentuk promosi dan komersialisasi produk, pot bunga inovatif ini telah dipublikasikan dan ditawarkan melalui media sosial. Informasi mengenai harga produk dan dokumentasi pembuatan dapat diakses melalui link berikut:
Penerapan perilaku inovatif ini diharapkan tidak hanya berhenti sebagai gagasan, melainkan dapat direplikasi oleh masyarakat luas untuk menciptakan kemandirian ekonomi berbasis keberlanjutan lingkungan.

Daftar pustaka 


9.10.26

Liany Nur Ramadhani (24310410016) -Tugas essay 4 - Kelas Psikologi Inovasi - B


Liany Nur Ramadhani 

24310410016

Kelas Psikologi Inovasi - B

Tugas essay 4

Dosen pengampu: DR. Arundai Shinta M.A

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

(9 Oktober 2026)

"Bangkit dari Kegagalan Seleksi Pramugari : Mengubah Rasa Kecewa Menjadi Resiliensi Diri"


Setiap orang pasti pernah mengalami titik terendah dalam hidupnya, begitu pula dengan saya. Peristiwa paling menyakitkan yang pernah saya alami terjadi pada bulan Oktober 2023. Saat itu, saya dinyatakan gagal pada tahap akhir seleksi penerimaan pramugari di salah satu maskapai penerbangan impian saya, padahal saya telah mempersiapkan fisik, penampilan, dan latihan bahasa asing selama berbulan-bulan. Keputusan tersebut terasa sangat meremukkan kepercayaan diri saya. Saya merasa seluruh usaha keras, waktu, dan biaya yang telah dikorbankan menjadi sia-sia. Situasi semakin berat karena ekspektasi tinggi dari keluarga serta perasaan malu ketika melihat beberapa teman seperjuangan berhasil lolos memakai seragam maskapai tersebut. Tekanan mental itu membuat saya mengalami stres berat, kehilangan arah, dan mengurung diri selama beberapa minggu karena merasa diri saya tidak cukup menarik maupun kompeten.  

Di tengah rasa terpuruk, saya menyadari bahwa terus meratapi nasib tidak akan mengubah keadaan. Saya memutuskan untuk menerapkan strategi coping behavior yang berfokus pada masalah dan penyelarasan emosi. Langkah awal yang saya lakukan adalah expressive writing, yaitu mencurahkan seluruh emosi ketakutan dan kekecewaan ke dalam jurnal pribadi untuk meredakan beban emosional. Setelah pikiran lebih tenang, saya beralih ke tindakan nyata: saya berani mengevaluasi kelemahan saya selama proses interview dan pantomimic test, lalu mendaftar kursus komunikasi publik serta memperdalam ilmu di bangku kuliah psikologi. Saya memfokuskan energi untuk membangun kualitas diri dari dalam, bukan hanya mengandalkan penampilan luar. 

Proses untuk bangkit kembali ini memberikan hikmah dan reward yang sangat berharga bagi hidup saya. Saya belajar bahwa kegagalan penolakan bukanlah penanda akhir dari nilai diri saya, melainkan sebuah proses pendewasaan mental. Reward terbesar yang saya dapatkan adalah terbentuknya mentalitas yang tahan banting, rasa percaya diri yang tidak mudah goyah oleh penilaian orang lain, serta keberhasilan saya meraih prestasi akademik dan kepemimpinan di kampus pada tahun 2024. Pengalaman pahit ini mengubah cara pandang saya hingga kini: saya tidak lagi takut menghadapi penolakan dan memiliki mekanisme pertahanan diri yang jauh lebih sehat saat berhadapan dengan situasi stres di masa depan. 

Daftar pustaka 

8.10.26

Cindy Auriliya Fikri Andani (24310410023) - ESAI 1 Meringkas Jurnal Entrepreneurship - Psikologi Inovasi

 

Pengaruh Praktik Kewirausahaan terhadap Motivasi Berwirausaha Peserta Didik

Cindy Auriliya Fikri Andani

NIM 24310410023

Kelas Karyawan (B)

Mata Kuliah Psikologi Inovasi

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, MA

ESAI 1 - MERINGKAS JURNAL ENTREPRENEURSHIP

Topik

Entrepreneurship, Praktik Kewirausahaan, Motivasi Berwirausaha

Sumber

Kartika, Y., Sumartono, B. G., & Syamsuri. (2022). Pengaruh Praktik Kewirausahaan terhadap Motivasi Berwirausaha Peserta Didik (terbit 29 Juli 2022). Tarbiyah wa Ta’lim: Jurnal Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran, 9(2), 129–140. DOI: 10.21093/twt.v9i2.4505.

Permasalahan

Penelitian ini berangkat dari rendahnya kecenderungan lulusan SMK Negeri 7 Pontianak untuk memilih jalur usaha meskipun telah memperoleh mata pelajaran Produk Kreatif dan Kewirausahaan. Data lulusan tahun 2021 menunjukkan hanya 8% lulusan jurusan Akuntansi yang berwirausaha, sedangkan wawancara memperlihatkan banyak peserta didik lebih memilih menjadi pegawai swasta. Kondisi tersebut menimbulkan persoalan apakah praktik kewirausahaan di sekolah mampu memperkuat dorongan siswa untuk berwirausaha. Variabel dependen yang menjadi fokus masalah adalah motivasi berwirausaha peserta didik, sedangkan praktik kewirausahaan merupakan variabel independen yang diduga memengaruhinya.

Tujuan Penelitian

Penelitian bertujuan menggambarkan pelaksanaan praktik kewirausahaan, mengetahui tingkat motivasi berwirausaha peserta didik kelas XII Akuntansi, serta mengukur besarnya pengaruh praktik kewirausahaan terhadap motivasi berwirausaha di SMK Negeri 7 Pontianak.

Isi

Praktik kewirausahaan dipahami sebagai pengalaman belajar yang memberi kesempatan siswa menerapkan materi melalui pembuatan produk, pencarian peluang, kreativitas, inovasi, dan pengenalan karakter wirausaha. Variabel praktik kewirausahaan diukur melalui kesempatan berkreasi dan berinovasi, pengajaran keterampilan berwirausaha, serta pengajaran karakteristik wirausaha. Motivasi berwirausaha diukur melalui ambisi kemandirian, realisasi diri, dan faktor pendorong. Hubungan kedua variabel dibahas dalam konteks pendidikan SMK yang diharapkan tidak hanya menyiapkan lulusan sebagai pencari kerja, tetapi juga membekali mereka untuk menciptakan peluang usaha.

Metode

Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif dan korelasional. Partisipannya adalah seluruh 64 peserta didik kelas XII Akuntansi SMK Negeri 7 Pontianak, terdiri atas 34 siswa kelas XII AK A dan 30 siswa kelas XII AK B. Data diperoleh melalui angket dan dokumentasi. Instrumen kedua variabel dinyatakan valid dan reliabel. Analisis menggunakan statistik deskriptif, uji normalitas, uji linearitas, dan regresi linear sederhana dengan SPSS untuk melihat hubungan serta besarnya pengaruh variabel X terhadap variabel Y.

Hasil

Hasil menunjukkan praktik kewirausahaan berada pada kategori sangat tinggi dengan skor 86,03%. Indikator kesempatan berkreasi dan berinovasi memperoleh 89,11%, keterampilan berwirausaha 85,29%, dan karakteristik wirausaha 84,64%. Motivasi berwirausaha juga sangat tinggi dengan skor 86,25%; faktor pendorong mencapai 87,40%, ambisi kemandirian 87,03%, dan realisasi diri 84,90%. Uji regresi menghasilkan signifikansi 0,000 < 0,05, sehingga praktik kewirausahaan berpengaruh signifikan terhadap motivasi berwirausaha. Nilai korelasi 0,593 menunjukkan hubungan sedang, sedangkan R Square 0,352 berarti kontribusinya sebesar 35,2%. Persamaan regresinya Y = 17,589 + 0,438X.

Diskusi

Temuan menunjukkan bahwa praktik dapat memperkuat motivasi berwirausaha karena siswa tidak hanya menerima teori, tetapi juga memperoleh ruang untuk mencoba, menciptakan produk, berinovasi, dan melatih keterampilan usaha. Namun, kontribusi praktik kewirausahaan hanya 35,2%, sehingga 64,8% sisanya berkaitan dengan faktor lain yang tidak diteliti, seperti pembelajaran kewirausahaan dan lingkungan keluarga. Artinya, sekolah perlu mempertahankan praktik sekaligus memperkuat dukungan lain agar motivasi yang tinggi dapat berkembang menjadi kesiapan nyata untuk menjalankan usaha setelah lulus.

 

Daftar Pustaka

Kartika, Y., Sumartono, B. G., & Syamsuri. (2022). Pengaruh praktik kewirausahaan terhadap motivasi berwirausaha peserta didik. Tarbiyah wa Ta’lim: Jurnal Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran, 9(2), 129–140. https://doi.org/10.21093/twt.v9i2.4505

 

Liany Nur Ramadhani (24310410016) Tugas essay 3a dan 3b psikologi inovasi


Liany Nur Ramadhani 

24310410016

Kelas Psikologi Inovasi - B

Tugas essay 3a dan 3b

Dosen pengampu : DR. Arundai Shinta M.A

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 

Yogyakarta 

(8 Oktober 2026)

"Kiat Menjadi Suri Tauladan di Era Perubahan"

Menghadapi dinamika era modern, generasi muda dituntut memiliki mentalitas yang tahan banting. Perubahan cepat menuntut dorongan berprestasi, entrepreneurship, serta kepekaan terhadap peluang. Namun, semua hal itu tidak berati tanpa kemampuan menjadi contoh baik bagi lingkungan sekitar. Untuk menjadi figur suri tauladan yang inspiratif, terdapat dua tips utama yang berhubungan dan perlu diterapkan: membina ketekunan (grit) serta membangun ketangguhan (resilience).

Tips pertama adalah menjaga ketekunan dalam mengejar tujuan jangka panjang. Ketekunan bukan sekadar bekerja keras dalam kurun waktu singkat, melainkan konsistensi untuk terus melangkah meskipun prosesnya terasa lambat. Seseorang yang tekun tidak mudah tergoyahkan oleh rintangan awal atau hasil yang belum terlihat. Dalam konteks kemahasiswaan dan kewirausahaan, ketekunan diwujudkan melalui kedisiplinan menyelesaikan tugas, mengasah keahlian secara berkala, serta tidak berhenti mencoba saat menghadapi kegagalan. Ketekunan membentuk fondasi karakter yang kuat. Ketika orang lain melihat kedisiplinan dan konsistensi kita, secara tidak langsung kita sedang memancarkan nilai-nilai kepemimpinan yang nyata.

Tips kedua, yang erat kaitannya dengan ketekunan, adalah membangun ketangguhan dan peka terhadap perubahan. Jika ketekunan adalah daya tahan untuk terus berjalan, maka ketangguhan adalah kemampuan bangkit kembali setelah terjatuh. Di era yang penuh ketidakpastian, rencana matang bisa saja gagal akibat faktor eksternal. Seseorang yang tangguh tidak akan meratapi nasib, melainkan segera mengevaluasi diri dan merencanakan langkah taktis berikutnya. Peka terhadap perubahan berarti mampu membaca arah perkembangan zaman, seperti memanfaatkan teknologi baru atau menangkap peluang usaha di tengah krisis.

Keterhubungan antara ketekunan dan ketangguhan menjadi kunci utama untuk menjadi suri tauladan yang keren di masa kini. Ketekunan tanpa ketangguhan membuat seseorang rentan mengalami burnout atau patah semangat ketika menemui benturan keras. Sebaliknya, ketangguhan tanpa ketekunan hanya menjadikan seseorang memiliki ide-ide adaptif tanpa realisasi yang konsisten. Kombinasi keduanya menciptakan pribadi yang fleksibel menghadapi tantangan, namun tetap fokus pada pencapaian tujuan.

Saat seseorang mampu menunjukkan ketekunan dalam berkarya dan ketangguhan saat diterpa masalah, ia secara alami akan menjadi panutan bagi teman sebayanya. Model tauladan masa kini bukanlah sosok yang tidak pernah gagal, melainkan sosok yang berani bangkit, mau terus belajar, dan mampu memberikan dampak positif bagi lingkungannya. Dengan merencanakan perubahan secara matang serta mengeksekusinya dengan tekun dan tangguh, kita dapat membuktikan bahwa generasi muda siap menjadi agen perubahan yang berprestasi dan berintegritas.

Melalui penerapan kedua kiat ini secara konsisten, kita tidak hanya membentuk kualitas diri yang unggul, tetapi juga menginspirasi rekan-rekan sesama mahasiswa untuk terus tumbuh bersama. Memimpin dengan memberi contoh nyata adalah bentuk kontribusi terbesar yang bisa kita berikan kepada masyarakat dan almamater tercinta.

Link YouTube :
Daftar pustaka : 




 

Tisya Sukmalatri 24310410022 - Psi Inovasi - Esai 2 Wawancara Tentang Disonansi Kognitif - Dr. Arundati Shinta - Kelas Karyawan - Oktober 2026

 

Tisya Sukmalatri

24310410022

Psikologi Inovasi - Kelas Karyawan

Essay 2 – Wawancara Tentang Disonansi Kognitif

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

 


“Mengetahui Dampak Kopi terhadap Asam Lambung, tetapi Tetap Meminumnya”

Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang terkadang mengetahui bahwa suatu perilaku kurang baik bagi dirinya, tetapi tetap melakukannya. Salah satu contohnya adalah kebiasaan minum kopi pada seseorang yang memiliki masalah asam lambung. Dalam wawancara ini, saya memilih subjek yang mengetahui bahwa kopi dapat memperburuk kondisi lambungnya, tetapi tetap mengonsumsi kopi karena menyukai rasanya dan sudah terbiasa meminumnya. Inisial nama SL jabatan CS.

Berdasarkan hasil wawancara dengan SL jabatan CS, diketahui bahwa subjek memiliki kebiasaan minum kopi meskipun mengetahui bahwa kopi dapat menimbulkan masalah pada lambungnya. Subjek mengatakan, “Saya tahu kopi bisa membuat lambung saya sakit, tapi saya tetap minum kopi karena sudah terbiasa dan suka.” Subjek juga mengungkapkan “yang penting tidak terlalu banyak minumnya” atau “kalau lambung lagi ngga bermasalah, saya masih bisa minum kopi.”

Kondisi tersebut menunjukkan adanya disonansi kognitif, yaitu keadaan ketika terdapat ketidaksesuaian antara pengetahuan atau keyakinan seseorang dengan perilaku yang dilakukannya. Hal ini sejalan dengan penelitian Fadholi et al. (2020) yang menunjukkan bahwa individu dapat tetap melakukan suatu perilaku meskipun mengetahui bahwa perilaku tersebut memiliki dampak negatif. Dalam penelitian tersebut, individu menggunakan informasi atau alasan tertentu untuk memberikan pembenaran terhadap perilakunya.

Pada subjek, bentuk pembenaran terlihat ketika ia menganggap bahwa mengurangi jumlah kopi sudah cukup untuk menghindari masalah pada lambung. Hal tersebut dapat dikaitkan dengan mekanisme pertahanan diri berupa rasionalisasi, yaitu ketika individu memberikan alasan yang dapat diterima untuk menjelaskan atau membenarkan perilakunya. Penelitian Khoirunnisa dan Nugroho (2023) menemukan bahwa rasionalisasi termasuk salah satu mekanisme pertahanan diri yang digunakan individu dalam menghadapi konflik atau permasalahan.

Permasalahan yang terlihat adalah subjek sudah memiliki pengetahuan mengenai dampak konsumsi kopi, tetapi pengetahuan tersebut belum sepenuhnya mendorong perubahan perilaku. Hal ini juga sejalan dengan Alfitman (2017) yang menjelaskan bahwa disonansi kognitif dapat menimbulkan ketidaknyamanan dan ketegangan yang berpotensi mendorong individu untuk mengubah sikap atau perilakunya.

Jika dikaitkan dengan Psikologi Inovasi, kondisi tersebut dapat menjadi peluang untuk mencari cara baru dalam mengubah kebiasaan. Misalnya, subjek tidak harus langsung berhenti minum kopi, tetapi dapat mencoba mengurangi frekuensi secara bertahap atau mencari minuman alternatif yang lebih sesuai dengan kondisi tubuhnya. Dengan demikian, perubahan tidak hanya membutuhkan pengetahuan, tetapi juga kemauan untuk mencoba cara baru dalam menghadapi kebiasaan yang sulit diubah..

 

Daftar Pustaka:

Alfitman. (2017). Konstruk disonansi kognitif dalam penelitian perilaku konsumen: Apakah popularitasnya memang sudah meredup? Ekonomi Bisnis, 22(1), 44–57. https://doi.org/10.17977/um042v22i1p44-57

Fadholi, F., Prisanto, G. F., Ernungtyas, N. F., Irwansyah, & Hasna, S. (2020). Disonansi kognitif perokok aktif di Indonesia. Jurnal RAP (Riset Aktual Psikologi Universitas Negeri Padang), 11(1), 1–14. https://doi.org/10.24036/rapun.v11i1.108039

Khoirunnisa, A. S., & Nugroho, R. A. (2023). Mekanisme pertahanan diri dan coping stress tokoh utama dalam antologi cerpen “Malam Terakhir” karya Leila S. Chudori: Kajian psikologi sastra. Jurnal Sastra Indonesia, 12(3), 197–205.

Tisya Sukmalatri 24310410022 - Psi Inovasi - Esai 1 Meringkas Jurnal Motivasi - Dr. Arundati Shinta - Kelas Karyawan - Oktober 2026

 

Tisya Sukmalatri

24310410022

Psikologi Inovasi - Kelas Karyawan

Essay 1 – Meringkas Jurnal Motivasi

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

 


Topik

Kewirausahaan dalam perspektif psikologi, khususnya mengenai faktor-faktor psikologis yang mendukung seseorang dalam menjalankan dan mengembangkan usaha.

Sumber

Sallim, M. A., Indarti, A. F., Humayra, H. A., & Supriyadi, T. (2025). Mengenal Kewirausahaan Melalui Perspektif Psikologi. Orbit: Jurnal Ilmu Multidisiplin Nusantara, 1(4), 155–163.

Permasalahan

Kewirausahaan tidak hanya menghadapi masalah ekonomi dan teknis, tetapi juga berbagai tantangan psikologis, seperti kemampuan menghadapi risiko, ketidakpastian, kegagalan, tekanan, pengambilan keputusan, serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan. Karena itu, aspek psikologis perlu diperhatikan untuk membentuk wirausahawan yang mampu bertahan dan berkembang.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk memahami hubungan antara psikologi dan kewirausahaan serta menggali aspek-aspek psikologis yang berperan dalam proses kewirausahaan melalui kajian berbagai literatur ilmiah.

Isi

Jurnal membahas beberapa aspek psikologis dalam kewirausahaan, yaitu motivasi dan orientasi berprestasi, kecerdasan emosional dan ketahanan mental, pola pikir (mindset) dan self-efficacy, identitas diri, karakteristik kepribadian dan manajemen risiko, serta pembelajaran jiwa kewirausahaan dan implikasi praktisnya.

Hasil

Hasil kajian menunjukkan bahwa aspek psikologis memiliki peran penting dalam keberhasilan kewirausahaan. Motivasi mendorong individu mencapai tujuan, kecerdasan emosional dan resiliensi membantu menghadapi tekanan serta kegagalan, sedangkan mindset dan self-efficacy meningkatkan keyakinan dalam menghadapi tantangan. Identitas diri juga dapat memperkuat niat berwirausaha, sementara kepribadian dan kemampuan manajemen risiko membantu individu menghadapi ketidakpastian. Selain itu, pembelajaran melalui pengalaman langsung dapat meningkatkan self-efficacy, kemandirian, inovasi, dan ketahanan mental.

Diskusi

Jurnal menekankan bahwa menjadi wirausahawan tidak cukup hanya memiliki pengetahuan bisnis. Individu juga perlu memiliki motivasi, kemampuan mengelola emosi, ketahanan mental, keyakinan terhadap kemampuan diri, pola pikir yang berkembang, kepribadian yang mendukung, dan kemampuan mengelola risiko. Penulis juga menekankan pentingnya experiential learning atau belajar melalui pengalaman langsung, karena pengalaman menjalankan usaha dapat membantu individu mengembangkan keterampilan sekaligus kemampuan psikologisnya.