30.5.26

Ujian Tengah Semester - Psikologi Inovasi - Esai 9 (UTS) - Dr. Arundati Shinta - SPSJ - Mei 2026 - Itsnaini Latifatur Rohmah (24310440001)

 

Psikologi Inovasi di Era AI dan Pembentukan Karakter Mahasiswa

Itsnaini Latifatur Rohmah (24310440001)

Fakultas Psikologi Proklamasi 45

Yogyakarta

Perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) membawa banyak perubahan dalam dunia pendidikan, termasuk di lingkungan kampus. Saat ini mahasiswa dapat dengan mudah mencari jawaban, membuat tugas, bahkan menyusun essai hanya dengan bantuan AI. Di satu sisi AI memang membantu proses belajar menjadi lebih cepat dan praktis, tetapi di sisi lain kondisi ini dapat menurunkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa apabila digunakan secara berlebihan. Mahasiswa menjadi terbiasa menerima jawaban instan tanpa memahami proses berpikirnya. Oleh karena itu, mata kuliah Psikologi Inovasi menjadi penting karena mengajarkan mahasiswa untuk tetap kreatif, inovatif, berani berubah, dan mampu menghadapi tantangan kehidupan nyata.

Menurut saya, apabila saya menjadi dosen Psikologi Inovasi, saya tidak akan langsung melarang penggunaan AI sepenuhnya, tetapi akan mengarahkan mahasiswa agar menggunakan AI secara bijak sebagai alat bantu belajar, bukan sebagai “otak utama”. Saya akan membuat sistem pembelajaran yang lebih menekankan pada proses berpikir, pengalaman nyata, diskusi kritis, dan praktik lapangan dibanding hanya sekadar hasil akhir tugas. Misalnya mahasiswa diminta melakukan observasi sosial, wawancara langsung, membuat komunitas kecil, atau menyelesaikan masalah nyata di lingkungan sekitar. Dengan begitu mahasiswa akan belajar berpikir kreatif dan memahami bahwa ilmu psikologi tidak hanya dipelajari secara teori tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, saya juga akan mendorong mahasiswa untuk berani mencoba hal baru dan tidak takut gagal. Pada materi Psikologi Inovasi dijelaskan bahwa salah satu penyebab pengangguran tinggi di Indonesia adalah rendahnya kemampuan berpikir kreatif dan kurangnya keberanian untuk berubah. Banyak lulusan sarjana yang hanya menunggu pekerjaan formal tanpa mencoba menggali potensi diri yang dimiliki. Oleh karena itu mahasiswa perlu dilatih memiliki coping behavior yang baik, mampu melihat peluang, dan berani meningkatkan kapasitas diri. Karakter seperti disiplin, tanggung jawab, kerja keras, serta kemampuan berpikir kritis juga perlu dibangun agar mahasiswa siap menghadapi dunia kerja dan perubahan zaman.

Film “Billionaire Told His 3 Sons To Live On $50 For A Week” juga sangat relevan dengan materi Psikologi Inovasi pertemuan 1 sampai 7. Pada kuliah pertama tentang inovasi dan kreativitas, film ini menunjukkan bahwa seseorang harus mampu berpikir kreatif ketika menghadapi keterbatasan. Ketiga anak tersebut dipaksa bertahan hidup dengan uang yang sangat sedikit sehingga mereka harus mencari cara untuk memenuhi kebutuhan hidup. Hal ini menunjukkan pentingnya kemampuan inovatif dan tidak bergantung pada kenyamanan hidup.

Pada kuliah kedua mengenai coping behavior dan tidak takut gagal, film ini memperlihatkan bagaimana setiap anak memiliki cara berbeda dalam menghadapi tekanan. Ada yang mudah menyerah, ada yang bingung, dan ada yang mencoba mencari peluang untuk bertahan hidup. Dari sini terlihat bahwa kemampuan mengelola stres dan menghadapi kegagalan sangat penting untuk bertahan dalam kehidupan nyata.

Kuliah ketiga mengenai pengangguran dan kualitas SDM Indonesia juga dapat dikaitkan dengan film tersebut. Dalam film terlihat bahwa keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kekayaan keluarga, tetapi juga kemampuan diri dalam menghadapi tantangan. Hal ini relevan dengan kondisi Indonesia dimana banyak lulusan sarjana masih kurang siap menghadapi dunia kerja karena terlalu bergantung pada zona nyaman dan kurang memiliki keterampilan tambahan.

Pada kuliah keempat mengenai critical thinking dan menjual potensi diri, salah satu anak dalam film mampu berpikir lebih kritis dibanding yang lain. Ia mencoba memanfaatkan peluang kecil untuk mendapatkan uang dan bertahan hidup. Ini menunjukkan bahwa seseorang yang memiliki kemampuan berpikir kreatif dan mau meningkatkan kapasitas diri akan lebih mudah bertahan dalam situasi sulit.

Kuliah kelima dan keenam tentang perubahan juga sangat terlihat dalam film. Ketiga anak tersebut dipaksa keluar dari kebiasaan nyaman dan belajar menghadapi realitas hidup. Tidak semua orang siap berubah, namun perubahan diperlukan agar seseorang mampu berkembang. Film ini mengajarkan bahwa kesediaan untuk belajar dan menghadapi tantangan dapat membentuk mental yang lebih kuat.

Sedangkan pada kuliah ketujuh mengenai Johari Window, SWOT, dan self serving bias, film ini menunjukkan bagaimana karakter seseorang mulai terlihat ketika menghadapi tekanan hidup. Ada yang terlalu percaya diri namun tidak mampu bertahan, ada yang menyalahkan keadaan, dan ada yang mampu mengenali kekuatan serta kelemahan dirinya sendiri. Dari sini terlihat bahwa mengenal diri sendiri merupakan langkah penting agar seseorang mampu berkembang dan tidak terjebak dalam pola pikir negatif.

Kesimpulannya, Psikologi Inovasi sangat penting dipelajari di era AI karena membantu mahasiswa membangun karakter yang lebih kuat, kreatif, dan mampu berpikir kritis. AI seharusnya menjadi alat bantu, bukan pengganti proses berpikir manusia. Mahasiswa perlu dilatih untuk menghadapi tantangan nyata, berani berubah, serta mampu menggali potensi dirinya sendiri agar tidak mudah menyerah dalam menghadapi masa depan.


Daftar Pustaka

Budiharto, S. (2019). Psikologi inovasi dan kreativitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Kemendikbud RI. (2018). Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2018 tentang Penguatan Pendidikan Karakter pada Satuan Pendidikan Formal. Jakarta: Kemendikbud.

Luft, J., & Ingham, H. (1955). The Johari Window: A graphic model of interpersonal awareness. Proceedings of the Western Training Laboratory in Group Development, 246–255.

Santrock, J. W. (2018). Psikologi pendidikan (5th ed.). Jakarta: Salemba Humanika.

Seligman, M. E. P. (2006). Learned optimism: How to change your mind and your life. New York: Vintage Books.



Psikologi Inovasi - Esai 4 – My Best Coping Behavior - Dr. Arundati Shinta - SPSJ - Mei 2026 - Itsnaini Latifatur Rohmah (24310440001)

 

MY BEST COPING BEHAVIOR

Itsnaini Latifatur Rohmah (24310440001)

Fakultas Psikologi Proklamasi 45

Yogyakarta

Salah satu pengalaman paling menyakitkan dalam hidup yang sampai sekarang masih saya ingat terjadi sekitar bulan Juni 2012. Setelah lulus SMK, saya memutuskan masuk ke Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Jepang untuk mempersiapkan diri bekerja dan magang di Jepang. Selama kurang lebih enam bulan saya belajar bahasa dan budaya Jepang dari awal, meskipun sebelumnya sudah memiliki dasar bahasa Jepang dari sekolah. Di LPK kami dilatih berbicara sehari-hari menggunakan bahasa Jepang, memahami budaya kerja, kedisiplinan, hingga mempersiapkan diri menghadapi wawancara perusahaan Jepang.

Namun ternyata proses tersebut tidak semudah yang saya bayangkan. Selain harus berjuang melawan rasa takut dan tekanan dalam belajar, saya juga menghadapi lingkungan keluarga yang kurang mendukung. Saya memiliki salah satu saudara yang sangat toxic dan sering meremehkan kemampuan saya. Ketika saya gagal wawancara perusahaan sebanyak tiga kali, saya selalu dihina dan dijadikan bahan pembicaraan di depan keluarga besar. Saya dianggap bodoh dan tidak mampu berhasil seperti orang lain. Bahkan ketika saya gagal ujian kenaikan level bahasa Jepang karena selisih nilai yang sedikit, sesampainya di rumah saya dimarahi dan dianggap mempermalukan keluarga. Padahal setiap hari saya sudah berusaha belajar dengan keras, mengerjakan tugas sampai larut malam, dan terus mengejar target dari LPK.

Hal yang paling membuat saya terluka adalah ketika saya akhirnya berhasil lolos dan mendapatkan pekerjaan ke Jepang, saya tetap disalahkan. Saudara saya marah dan mengatakan bahwa saya merepotkan keluarga karena biaya keberangkatan, pengurusan dokumen, dan tiket pesawat membutuhkan uang yang tidak sedikit. Dari situ saya mulai sadar bahwa masalahnya bukan tentang gagal atau berhasil, tetapi memang ada rasa tidak suka terhadap saya. Ketika gagal saya dihina, dan ketika berhasil pun saya tetap dicari kekurangannya. Ucapan-ucapan tersebut sempat membuat saya stres berat dan mengalami trauma. Saya sering merasa tidak percaya diri dan takut gagal lagi.

Namun dari pengalaman itu saya belajar tentang coping behavior atau cara bertahan menghadapi tekanan hidup. Saya memilih untuk tidak terus terpuruk dalam perkataan negatif orang lain. Saya mulai fokus pada pengembangan diri dan menjadikan rasa sakit tersebut sebagai motivasi untuk membuktikan kemampuan saya. Selama berada di Jepang, saya terus meningkatkan kemampuan bahasa Jepang, mengikuti program magang dengan disiplin, dan berusaha menjaga perilaku dengan baik. Saya juga belajar untuk tidak terlalu bergantung pada validasi orang lain, karena tidak semua orang akan memahami perjuangan yang kita jalani.

Perjuangan tersebut akhirnya membuahkan hasil. Selama di Jepang saya mendapatkan penghargaan dari pihak Jepang karena dinilai memiliki perilaku yang baik dan terus meningkatkan kemampuan bahasa Jepang. Setelah pulang ke Indonesia, saya langsung ditawari bekerja oleh LPK sebagai pendamping siswa yang berada di Jepang. Pengalaman tersebut membuka banyak peluang kerja bagi saya di bidang lembaga pelatihan kerja Jepang hingga saat ini.

Dari pengalaman tersebut saya belajar bahwa coping behavior terbaik bagi diri saya adalah tetap fokus bertumbuh meskipun berada di lingkungan yang toxic. Saya percaya bahwa luka dan kegagalan dapat menjadi kekuatan ketika kita memilih untuk terus berkembang dan tidak menyerah pada keadaan.



Psikologi Inovasi - Esai 3 (a,b) – Menjadi Suri Tuladan - Dr. Arundati Shinta - SPSJ - Mei 2026 - Itsnaini Latifatur Rohmah (24310440001)

 

MENJADI SURI TAULADAN DI TENGAH TEKANAN HIDUP

Itsnaini Latifatur Rohmah (24310440001)

Fakultas Psikologi Proklamasi 45

Yogyakarta

Menjadi seseorang yang selalu diandalkan keluarga bukanlah hal yang mudah. Banyak dari kita, terutama anak pertama atau generasi sandwich, harus memikul tanggung jawab besar dalam hidup. Kita dituntut membantu ekonomi keluarga, menjadi contoh bagi adik-adik, menjaga nama baik keluarga, hingga tetap terlihat kuat meskipun sebenarnya sedang lelah. Tidak jarang juga kita hidup di lingkungan yang toxic, sering diremehkan, dibanding-bandingkan, bahkan dianggap tidak cukup baik meskipun sudah berusaha keras. Kondisi seperti ini tentu dapat memicu stres, tekanan mental, dan rasa ingin menyerah. Namun di sisi lain, semua proses itu juga dapat membentuk kita menjadi pribadi yang lebih tangguh dan dewasa dalam menghadapi kehidupan.

Menjadi generasi sandwich sering membuat kita harus mengorbankan banyak hal demi keluarga. Ada yang harus menunda impian, bekerja sambil kuliah, membantu kebutuhan orang tua, atau menjadi tempat bergantung bagi anggota keluarga lainnya. Tekanan ini terkadang membuat kita merasa hidup terasa berat dan tidak bebas menentukan jalan hidup sendiri. Apalagi ketika usaha yang kita lakukan tidak selalu dihargai oleh lingkungan sekitar. Banyak orang justru diremehkan ketika sedang berproses, dianggap gagal ketika belum berhasil, bahkan dijadikan tempat pelampiasan emosi oleh lingkungan toxic. Situasi seperti ini tentu melelahkan, baik secara fisik maupun mental.

Namun, salah satu bentuk resiliensi yang penting adalah kemampuan untuk tetap bertahan dan tidak kehilangan arah hidup meskipun berada di lingkungan yang kurang mendukung. Menjadi kuat bukan berarti kita tidak pernah menangis atau tidak pernah merasa lelah, tetapi mampu tetap bangkit dan berjalan meskipun sedang menghadapi tekanan hidup. Salah satu cara agar tetap teguh adalah dengan memiliki tujuan hidup yang jelas. Ketika kita memahami alasan mengapa kita berjuang, maka kita akan lebih mampu bertahan menghadapi berbagai tekanan. Fokus terhadap perkembangan diri juga menjadi hal penting agar kita tidak terlalu sibuk memikirkan komentar negatif dari orang lain.

Selain itu, kita juga perlu belajar menjaga kesehatan mental. Generasi sandwich sering terlalu sibuk memikirkan kebutuhan orang lain hingga lupa memperhatikan dirinya sendiri. Padahal, diri kita juga membutuhkan waktu untuk beristirahat, menenangkan pikiran, dan melakukan hal-hal yang disukai. Membangun support system yang sehat juga sangat penting, karena lingkungan yang positif dapat membantu kita merasa lebih dihargai dan didukung. Tidak semua masalah harus dipendam sendiri. Terkadang bercerita kepada orang yang tepat dapat membantu mengurangi beban pikiran dan membuat hati terasa lebih lega.

Menjadi suri tauladan juga bukan berarti harus selalu sempurna. Justru kita bisa menjadi contoh yang baik ketika mampu bertahan, terus belajar, dan tidak menyerah meskipun hidup penuh tantangan. Orang-orang yang pernah diremehkan tetapi tetap berusaha berkembang biasanya memiliki mental yang lebih kuat dan rasa empati yang lebih tinggi terhadap orang lain. Kita belajar bahwa kesuksesan tidak selalu datang dari hidup yang mudah, tetapi dari proses panjang yang penuh perjuangan dan air mata.

Pada akhirnya, tekanan hidup sebagai generasi sandwich memang tidak mudah, tetapi bukan berarti tidak bisa dilewati. Selama kita tetap fokus pada pengembangan diri, menjaga kesehatan mental, dan terus melangkah meskipun perlahan, maka kita sedang membangun versi terbaik dari diri sendiri. Menjadi suri tauladan bukan tentang terlihat paling hebat, melainkan tentang tetap menjadi pribadi yang kuat, bertanggung jawab, dan terus bertumbuh meskipun berada di tengah tekanan hidup yang berat.

https://youtube.com/shorts/N6w64SDlElg?feature=share

https://youtube.com/shorts/54cZSUEGwQE?feature=share



Psikologi Inovasi - Esai 2 – Wawancara Tentang Disonasi Kognitif - Dr. Arundati Shinta - SPSJ - Mei 2026 - Itsnaini Latifatur Rohmah (24310440001)

 

ANALISIS MEKANISME PERTAHANAN DIRI DALAM PERILAKU PEMBUANGAN

SAMPAH RUMAH TANGGA

Itsnaini Latifatur Rohmah (24310440001)

Fakultas Psikologi Proklamasi 45

Yogyakarta


Wawancara dilakukan bersama Ibu NA pada hari Minggu, 17 Mei pukul 16.20–16.40 WIB di teras depan rumah beliau dalam suasana santai. Berdasarkan hasil wawancara, terlihat bahwa Ibu NA sebenarnya sudah memiliki pemahaman dasar mengenai pengelolaan sampah rumah tangga. Hal ini terlihat ketika beliau memisahkan sampah organik untuk pakan ayam dan memisahkan botol plastik untuk dijual atau dikilokan. Namun, di sisi lain masih terdapat perilaku yang kurang ramah lingkungan seperti membakar sampah dan membuang kotoran kucing ke sungai. Dalam psikologi inovasi, kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara pengetahuan dan perilaku nyata yang dipengaruhi oleh kebiasaan lingkungan sekitar serta mekanisme pertahanan diri individu.

Salah satu mekanisme pertahanan diri yang muncul adalah rasionalisasi. Rasionalisasi terjadi ketika seseorang mencari alasan yang dianggap logis untuk membenarkan perilaku yang sebenarnya kurang tepat. Hal ini terlihat saat Ibu Nia mengatakan, “Iyaalah mba, lagian kalau mau minta diambil petugas sampah keliling itukan mahal yoo sekarang.” Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa tindakan membakar sampah dianggap sebagai solusi paling mudah dan murah dibanding menggunakan jasa pengangkut sampah. Selain faktor biaya, pengalaman buruk terhadap petugas sampah yang jarang datang juga digunakan sebagai alasan untuk mempertahankan kebiasaan membakar sampah. Dalam psikologi inovasi, perilaku ini menunjukkan bahwa individu cenderung memilih cara yang dianggap praktis dan nyaman meskipun memiliki dampak negatif bagi lingkungan.

Mekanisme pertahanan diri lainnya adalah konformitas sosial, yaitu perilaku mengikuti kebiasaan kelompok agar dianggap sama dengan lingkungan sekitar. Hal ini tampak ketika Ibu Nia mengatakan, “Tetangga yang lain juga sama, mereka suka bakar sampah juga dirumahnya,” dan “orang-orang kan pada buang sampah di Sungai to… ikutan aja.” Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa perilaku membuang sampah ke sungai dan membakar sampah dianggap sebagai hal yang normal karena dilakukan oleh banyak orang di lingkungan tersebut. Individu akhirnya merasa perilaku tersebut bukan suatu masalah besar karena sudah menjadi budaya yang dilakukan bersama-sama. Dalam psikologi inovasi, konformitas seperti ini dapat menghambat perubahan perilaku karena individu lebih memilih menyesuaikan diri dengan kebiasaan lingkungan daripada mencoba perilaku baru yang lebih sehat dan ramah lingkungan.

Selain itu, terdapat mekanisme denial atau penyangkalan ringan terhadap dampak lingkungan. Meskipun Ibu Nia mengetahui bahwa asap pembakaran sampah berbahaya bagi kesehatan, beliau tetap mengatakan “ngga papa.. sudah jadi hal lumrah kok disini.” Hal ini menunjukkan adanya kecenderungan menganggap risiko sebagai sesuatu yang biasa sehingga dampaknya tidak terlalu dipikirkan. Individu menjadi sulit terdorong untuk berubah karena merasa perilaku tersebut belum memberikan dampak langsung pada dirinya. Oleh karena itu, dalam psikologi inovasi diperlukan pendekatan edukasi yang tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membangun kesadaran emosional dan lingkungan sosial yang mendukung perubahan perilaku masyarakat terhadap pengelolaan sampah yang lebih sehat dan bertanggung jawab.


DAFTAR PUSTAKA:

Asteria, D., & Heruman, H. (2016). Bank sampah sebagai alternatif strategi pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Tasikmalaya. Jurnal Manusia dan Lingkungan, 23(1), 136–141.

Saifi, A., Susanto, H., & Mardiani, F. (2024). Analisis perilaku wisatawan dalam membuang sampah di kawasan Benteng Somba Opu Makassar. Santhet: Jurnal Sejarah, Pendidikan, dan Humaniora, 8(1), 373–383.

Suryani, A. S. (2014). Peran bank sampah dalam efektivitas pengelolaan sampah (studi kasus bank sampah Malang). Aspirasi: Jurnal Masalah-Masalah Sosial, 5(1), 71–84.


Psikologi Inovasi - Esai 1 - Meringkas Jurnal Motivasi - Dr. Arundati Shinta - SPSJ - Mei 2026 - Itsnaini Latifatur Rohmah (24310440001)

 

Pentingnya Kewirausahaan dan Pemasaran Digital dalam Menunjang Keberlangsungan Usaha UMKM di Masa Pandemi

Itsnaini Latifatur Rohmah

Fakultas Psikologi Proklamasi 45

Yogyakarta



Topik

Kewirausahaan, Digital Marketing, UMKM, Keberlangsungan Usaha di Masa Pandemi

Sumber

 

Sundari, S., & Lestari, H. D. (2022). Pentingnya kewirausahaan dan pemasaran digital dalam menunjang keberlangsungan usaha UMKM di masa pandemi. WIKUACITYA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 1(1), 96–99.

Permasalahan

·       Banyak pelaku UMKM mengalami penurunan penjualan dan kesulitan mempertahankan usaha selama masa pandemi.

·       Sebagian besar pelaku usaha masih menggunakan pemasaran tradisional dan belum memahami pentingnya pemasaran digital dalam mengembangkan usaha.

·       Kurangnya pengetahuan tentang digital marketing menyebabkan usaha sulit menjangkau pasar yang lebih luas dan kurang mampu bersaing di era modern.

 

Tujuan Penelitian

·       Untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada pelaku UMKM mengenai pentingnya kewirausahaan dan pemasaran digital dalam menunjang keberlangsungan usaha.

·       Untuk membantu pelaku UMKM memahami cara memasarkan produk secara digital agar usaha tetap bertahan dan berkembang di masa pandemi.

·       Untuk mendorong masyarakat agar mampu meningkatkan penjualan dan memperluas pasar melalui penggunaan media digital.

Isi

·       Jurnal membahas pentingnya pemasaran digital bagi pelaku UMKM sebagai strategi bertahan di masa pandemi. Digital marketing dapat dilakukan melalui media sosial, blog, website, email, dan berbagai platform online lainnya yang membantu memperluas pasar serta menghemat biaya promosi.

·       Kegiatan pengabdian masyarakat dilakukan kepada para pelaku UMKM di Desa Kandangwangi, Kecamatan Wanadadi, Kabupaten Banjarnegara melalui pelatihan, pendampingan, dan diskusi mengenai kewirausahaan dan pemasaran digital.

·       Dalam jurnal dijelaskan bahwa pemasaran digital memiliki banyak manfaat, seperti meningkatkan penjualan, mempermudah komunikasi dengan konsumen, memperluas jangkauan pasar, dan membantu pelaku usaha mengikuti perkembangan bisnis modern.

 

Metode

·       Metode yang digunakan adalah kegiatan pengabdian masyarakat berupa presentasi, tanya jawab, pelatihan, dan pendampingan kepada para pelaku UMKM.

·       Sasaran kegiatan adalah masyarakat, remaja karang taruna, dan pelaku UMKM di Desa Kandangwangi, Kecamatan Wanadadi, Kabupaten Banjarnegara.

·       Kegiatan dilaksanakan pada bulan Maret sampai Mei 2022 dengan fokus pada edukasi dan praktik pemasaran produk secara digital.

 

Hasil

·       Hasil kegiatan menunjukkan bahwa para pelaku UMKM menjadi lebih memahami pentingnya inovasi dan kreativitas dalam berwirausaha, terutama melalui pemasaran digital.

·       Peserta pelatihan terlihat antusias mengikuti kegiatan dan mulai memahami cara memanfaatkan media digital untuk mempromosikan produk dan memperluas pasar usaha mereka.

·       Digital marketing dinilai efektif karena mampu meningkatkan penjualan, menjangkau pasar lebih luas, menghemat biaya promosi, dan membantu usaha tetap berjalan di masa pandemi.

 

Diskusi

·       Penulis menjelaskan bahwa pemasaran digital menjadi strategi yang penting bagi UMKM untuk bertahan di era modern dan masa pandemi karena lebih cepat, murah, dan memiliki jangkauan luas dibandingkan pemasaran tradisional.

·       Pelaku UMKM didorong untuk lebih kreatif dan mampu memanfaatkan teknologi agar usaha tetap berkembang dan tidak tertinggal oleh perubahan zaman.

·       Kegiatan pendampingan dan pelatihan dianggap penting karena dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesiapan pelaku usaha dalam menghadapi persaingan bisnis yang semakin modern.

 


Psikologi Inovasi - Esai Prestasi - Dr. Arundati Shinta - SPSJ - Mei 2026 - Itsnaini Latifatur Rohmah (24310440001)

 

Lingkar Bertumbuh Jogja: Langkah Kecil untuk Tumbuh dan Pulih Bersama

Itsnaini Latifatur Rohmah

Fakultas Psikologi Proklamasi 45

Yogyakarta

Kesehatan mental menjadi salah satu permasalahan yang semakin sering dirasakan masyarakat saat ini, terutama pada usia produktif dan anak muda. Banyak orang mengalami stres, burnout, overthinking, merasa sendirian, hingga kehilangan tempat yang aman untuk bercerita dan berkembang. Lingkungan sosial yang kurang suportif sering membuat seseorang memendam masalahnya sendiri. Berangkat dari kondisi tersebut, saya mulai merasa lebih peka terhadap lingkungan sekitar dan melihat bahwa banyak orang sebenarnya membutuhkan ruang yang positif untuk saling mendukung, bertumbuh, dan belajar memahami diri sendiri tanpa takut dihakimi.

Berdasarkan keresahan tersebut, pada pertengahan bulan April 2026 saya berinisiatif membentuk sebuah komunitas bernama “Lingkar Bertumbuh Jogja”. Komunitas ini bergerak dalam bidang mental health awareness, pengembangan diri, dan support system bagi masyarakat, khususnya anak muda di Yogyakarta. Konsep komunitas dibuat santai, hangat, dan tidak menggurui agar peserta merasa nyaman untuk berkembang bersama. Selain membahas kesehatan mental dan pengembangan diri, komunitas ini juga diselingi dengan kegiatan olahraga outdoor rutin agar anggota tidak hanya sehat secara mental tetapi juga secara fisik.

Kegiatan pertama dilaksanakan pada tanggal 26 April 2026 dengan tema “Mengenal Potensi Diri”. Pada kegiatan ini saya sendiri yang melakukan assessment sederhana kepada peserta dan memberikan penjelasan mengenai hasil assessment tersebut. Saya juga memberikan materi tentang pentingnya mengenal potensi diri agar seseorang lebih memahami kelebihan, minat, dan arah pengembangan dirinya. Banyak peserta merasa senang karena baru menyadari bahwa setiap orang memiliki potensi yang berbeda dan tidak perlu terus membandingkan dirinya dengan orang lain.

Selanjutnya, kegiatan kedua dilaksanakan pada tanggal 10 Mei 2026 dengan tema olahraga outdoor dan bela diri praktis. Kegiatan ini bertujuan membantu peserta lebih aktif bergerak, membangun rasa percaya diri, serta mengurangi stres melalui aktivitas fisik. Pada kegiatan ke-2 ini saya bersama mas Indra sebagai sabeum Taekwondo menjadi Coach atau Sabeum yang memberikan materi dan berbagi ilmu mengenai bela diri praktis. Kemudian pada tanggal 31 Mei 2026 akan diadakan kegiatan ketiga dengan tema “Soft Healing Session: Burnout dan Recovery”. Pada sesi ini saya memfasilitasi kegiatan bersama narasumber seorang psikolog klinis yaitu Bayu Murdani, M.Psi., Psikolog untuk memberikan edukasi dan ruang berbagi mengenai burnout serta cara recovery secara sehat.

Semua kegiatan dalam komunitas Lingkar Bertumbuh Jogja dilakukan secara gratis. Peserta hanya perlu membeli makanan atau minuman di café tempat kegiatan berlangsung sebagai bentuk dukungan terhadap tempat yang digunakan. Seiring berjalannya waktu, komunitas ini mendapatkan respon yang sangat positif dari masyarakat. Banyak peserta merasa terbantu karena memiliki ruang aman untuk bercerita dan berkembang bersama. Bahkan salah satu anggota komunitas bersedia meminjamkan rumah dan pendoponya untuk dijadikan basecamp.


ESAI 9 UJIAN TENGAH SEMESTER

 Nama : Bernardus Christian 

NIM :23310410113

Mata Kuliah : Psikologi inovasi

Dosen pengampu : Dr.Arudanti Shinta M.A

Jika saya sebagai dosen psikologi innovasi dalam menghadapi Perkembangan teknologi Artificial Intelligence yang telah membawa berbagai kemudahan dalam dunia pendidikan, khususnya bagi mahasiswa dalam memperoleh informasi dan menyelesaikan tugas akademik. Namun, di balik manfaat tersebut terdapat tantangan yang cukup besar, yaitu menurunnya kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan kejujuran apabila mahasiswa terlalu bergantung pada AI. Jika seluruh proses berpikir diserahkan kepada teknologi, maka tujuan pendidikan untuk mengembangkan kemampuan intelektual dan karakter dapat terhambat. Oleh karena itu, dosen memiliki tanggung jawab untuk mengarahkan mahasiswa agar mampu memanfaatkan AI secara tepat tanpa mengurangi kemampuan berpikir mandiri 

Sebagai seorang inovator, dosen perlu menciptakan metode pembelajaran yang mendorong mahasiswa untuk aktif berpikir dan mencari solusi secara mandiri. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah memberikan tugas yang berkaitan dengan pengalaman nyata, observasi lapangan, maupun permasalahan yang terjadi di masyarakat. Selain itu, mahasiswa tidak hanya diminta menyerahkan hasil akhir tugas, tetapi juga menjelaskan proses yang mereka lalui dalam memperoleh jawaban atau menyelesaikan suatu masalah. Kegiatan seperti diskusi, presentasi, dan debat juga dapat digunakan untuk mengukur sejauh mana pemahaman mahasiswa terhadap materi yang dipelajari. Dengan pendekatan tersebut, AI berfungsi sebagai sarana pendukung pembelajaran, bukan sebagai pengganti kemampuan berpikir manusia.

Dalam perannya sebagai motivator, dosen perlu menanamkan kesadaran bahwa keberhasilan akademik tidak hanya ditentukan oleh nilai yang diperoleh, melainkan juga oleh proses belajar dan pengembangan diri. Mahasiswa perlu memahami bahwa kemampuan berpikir kritis dan kreativitas hanya dapat berkembang melalui latihan dan pengalaman. Oleh karena itu, dosen dapat memberikan penghargaan kepada mahasiswa yang menunjukkan usaha, kejujuran, dan kreativitas dalam menyelesaikan tugas. Selain itu, dosen juga dapat memberikan inspirasi melalui kisah tokoh-tokoh yang berhasil mencapai kesuksesan berkat kerja keras dan kemampuan berpikir mandiri.

Sebagai kolaborator, dosen perlu membangun lingkungan akademik yang mendukung tumbuhnya karakter positif. Hal ini dapat dilakukan dengan mengajak mahasiswa berdiskusi mengenai etika penggunaan AI dalam kegiatan akademik, serta melibatkan mereka dalam berbagai proyek kelompok yang menuntut kerja sama dan kemampuan memecahkan masalah. Di samping itu, diperlukan kerja sama antara dosen dan seluruh civitas akademika untuk menciptakan budaya akademik yang menjunjung tinggi integritas, tanggung jawab, dan kejujuran.

Apabila terjadi penyalahgunaan AI dalam proses pembelajaran, dosen juga perlu menjalankan perannya sebagai pemberi sanksi yang bersifat edukatif. Sanksi yang diberikan sebaiknya tidak hanya bertujuan menghukum, tetapi juga memberikan pembelajaran kepada mahasiswa. Misalnya, mahasiswa dapat diminta memperbaiki tugas dengan menunjukkan proses berpikirnya sendiri, menulis refleksi mengenai etika akademik, atau mempresentasikan kembali tugas yang telah dibuat untuk membuktikan pemahamannya. Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa diharapkan mampu menyadari kesalahan yang dilakukan dan menjadikannya sebagai bahan pembelajaran untuk masa depan.

Dengan demikian, pada era AI saat ini, dosen memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk mahasiswa yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter yang baik. Melalui peran sebagai inovator, motivator, kolaborator, dan pemberi sanksi yang mendidik, dosen dapat membantu mahasiswa menjadi individu yang kritis, kreatif, jujur, dan bertanggung jawab dalam memanfaatkan teknologi.