20.5.26

ESSAI 2 - WAWANCARA TENTANG DISONANSI KOGNITIF (PSIKOLOGI INOVASI)

 Wawancara Tentang Disonansi Kognitif  dalam Toxic Relationship


Nama : Devi Nur Hasanah

NIM : 23310410117

Mata Kuliah : Psikologi Inovasi 

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta M.A.



Dalam tugas ini saya melakukan wawancara dengan seorang laki-laki berinisial I (32 tahun) yang telah menjalani hubungan pacaran selama kurang lebih empat tahun. Saya memilih topik ini karena menurut saya hubungan romantis sering membuat seseorang bertahan dalam situasi yang sebenarnya tidak sehat, termasuk dalam masalah finansial. Individu sering menyadari bahwa hubungan tersebut memberikan tekanan emosional maupun ekonomi, tetapi tetap mempertahankannya dengan berbagai bentuk pembenaran.


Berdasarkan hasil wawancara, I menceritakan bahwa pasangannya memiliki kebiasaan melakukan trading secara berlebihan hingga beberapa kalig mengalami kerugian dan terlilit hutang. Kondisi tersebut tidak hanya mempengaruhi keadaan finansial pasangannya, tetapi juga berdampak pada hubungan mereka berdua. I mengaku sering merasa lelah karena harus mendengarkan keluhan, membantu menenangkan pasangan, bahkan beberapa kali ikut membantu menyelesaikan masalah keuangan yang muncul.


Saat wawancara berlangsung I mengatakan, “Aku sebenernya capek Dev karena masalahnya sering berulang. Kadang aku juga mikir hubungan ini nggak sehat, tapi aku masih mau bertahan karena kasihan dan masih sayang dia. Aku juga masih percaya bahwa suatu saat dia bisa berubah.”


Pernyataan tersebut menunjukkan adanya disonansi kognitif, yaitu kondisi ketika seseorang mengalami ketidaksesuaian antara pikiran, perasaan, dan perilaku yang dimiliki (Sarwono, 2015). Di satu sisi, I menyadari bahwa hubungan tersebut memberikan tekanan emosional dan melelahkan secara mental. Tapi disisi lain, dia tetap memilih bertahan karena masih memiliki rasa sayang dan harapan bahwa pasangannya akan berubah menjadi lebih baik.


Menurut saya, kondisi ini menunjukkan bahwa perasaan cinta dan kedekatan emosional dapat membuat seseorang menjadi sulit mengambil keputusan secara rasional. Testee cenderung mencari pembenaran agar tetap merasa nyaman dengan keputusan yang diambil, walaupun sebenarnya situasi tersebut menyakitkan atau merugikan dirinya sendiri. Disonansi kognitif dalam hubungan romantis membuat seseorang terus berada di antara logika dan perasaan. Dalam kasus ini, harapan akan perubahan menjadi alasan utama subjek tetap mempertahankan hubungan yang sebenarnya sudah memberikan banyak tekanan emosional.


 Daftar Pustaka : 

Sarwono, S. W. (2015). Psikologi Sosial: Individu dan Teori-Teori Psikologi Sosial. Jakarta: Balai Pustaka.



Essay 4 - Psikologi Inovasi : My Best Coping Behavior - Ainun Awanda Frisca (24310430013)

 Strategi Coping dalam Menghadapi Trauma Akademik

Nama : Ainun Awanda Frisca

NIM : 24310430013

Mata Kuliah : Psikologi Inovasi

Esai 4

My Best Coping Behavior

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A

Mei 2026

Manusia tidak pernah lepas dari kesalahan, tetapi juga memiliki akal dan hati nurani untuk belajar dan memperbaiki diri. Dalam kehidupan, pikiran dan perasaan sering tidak sejalan sehingga seseorang bisa mengalami kebingungan, kecewa, atau penyesalan. Karena itu, seseorang tidak bisa dinilai hanya dari satu kesalahan atau dari pandangan orang lain, melainkan dari prosesnya dalam bertumbuh dan memperbaiki diri.

Sebelumnya, saya pernah menempuh pendidikan di bidang kesehatan hingga lulus. Saat itu saya merasa bangga karena bisa masuk ke jurusan yang sangat diidamkan oleh orang tua saya. Saya berusaha menjalani semuanya dengan baik, meskipun di dalam perjalanan perkuliahan tidak selalu berjalan sesuai harapan. Menjelang akhir masa studi, saya mengalami sebuah masa yang cukup berat dan menyakitkan bagi diri saya sendiri. Pengalaman itu sempat membuat saya merasa sedih, kecewa, bingung, dan mempertanyakan kemampuan diri saya.

Hal itu terjadi saat praktikum, di bulan Oktober 2012 saya tidak sengaja menjatuhkan dan merusak phantom bayi karena penempatan yang kurang tepat. Dosen merasa kecewa dan melaporkan kejadian itu ke laboratorium, namun pihak laboratorium tidak meminta ganti rugi, dan saya hanya diminta bertanggung jawab untuk memperbaiki. Namun, dosen kemudian membagikan kejadian tersebut di media sosial pribainya sehingga menimbulkan komentar negatif dari mahasiswa lain, termasuk tuduhan berlebihan seperti malpraktik dan usulan untuk tidak meluluskan saya. Hal ini membuat saya sedih, malu, dan kehilangan kepercayaan diri hingga saya berhari-hari mengurung diri di kamar kost. Respon ini menunjukkan bahwa saya sedang mengalami emotion focused coping yang berasal dari emosi negatif. Meski begitu, pada akhirnya saya mulai bangkit berkat dukungan dari teman-teman dekat dan keluarga (Lazarus dan Folkman, 1984).

Kejadian tersebut membuat saya sempat merasa rendah diri untuk kembali menekuni pekerjaan yang sesuai dengan bidang studi yang pernah saya tempuh. Di sisi lain, saya tidak menyerah. Setelah lulus, saya tetap menjalani magang di bidang kesehatan, dan pada saat itu bidan senior serta perawat menilai bahwa kinerja saya sudah cukup baik. Namun, saya masih merasa kurang percaya diri untuk menggunakan alat medis dan melakukan tindakan medis secara langsung. Karena hal tersebut, saya memilih untuk tetap bekerja di bidang kesehatan, tetapi tidak terlibat secara langsung dalam penggunaan alat maupun tindakan medis. Apa yang saya lakukan merupakan bagian dari active coping (Carver, Scheier, & Weintraub, 1989). Akhirnya, pada tahun 2019 saya memutuskan untuk bekerja sebagai caregiver. Saya bersyukur karena dalam pekerjaan tersebut saya mendapatkan kepercayaan dari pengguna jasa untuk mendampingi beliau saat berobat ke luar negeri. Pengalaman ini memberikan banyak pembelajaran, baik mengenai aspek medis maupun budaya. Selain itu, tenaga kesehatan di sana juga banyak memberikan ilmu dan bimbingan agar saya dapat menjadi caregiver yang lebih kompeten dalam merawat klien.

Daftar Pustaka :

Lazarus, R. S., & Folkman, S. (1984). Stress, appraisal, and coping. New York: Springer Publishing Company.

Carver, C. S., Scheier, M. F., & Weintraub, J. K. (1989). Assessing coping strategies: A theoretically based approach. Journal of Personality and Social Psychology, 56(2), 267–283. https://doi.org/10.1037/0022-3514.56.2.267

  




19.5.26

 Essay 3 Menjadi Suri Tauladan 

Psikologi Inovasi 

Dosen pengampu : Dr. Shinta Arundati., M.A


Nama : Diah Nurul Khazanah
NIM : 23310410105

Cahaya Penerang Sesudah Badai
Menemukan Kembali Jati Diri Melalui Inovasi Pasca Mengalami KDRT

 Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) adalah salah satu bentuk trauma paling destruktif bagi jiwa manusia. Ketika rumah yang seharusnya menjadi tempat perlindungan paling aman justru berubah menjadi medan perang psikologis dan fisik, fondasi diri seorang korban sering kali runtuh berkeping-keping.
Saya pernah berada di titik keterpurukan ini dan itu membuat dunia terasa sempit, gelap, dan tanpa jalan keluar. Namun, kebangkitan dari KDRT bukan sekadar cerita tentang bertahan hidup, tetapi menjadi awal kehidupan untuk bangkit dan melawan kembali rasa trauma dalam hidup.
Menjadi suri tauladan pasca mengalami KDRT berarti memiliki keberanian untuk mendobrak batasan trauma dan melakukan inovasi terhadap cara berpikir, bertindak, dan memaknai hidup.
Bangkit dari keterpurukan tidak lagi dipandang sebagai proses pemulihan yang pasif, melainkan sebuah tindakan inovatif. Ketika cara-cara lama untuk bahagia dan merasa aman telah dihancurkan oleh pelaku kekerasan, seorang korban penyintas dituntut untuk menciptakan "versi baru" dari dirinya sendiri.

Mereka yang berhasil bangkit menjadi suri tauladan karena mereka tidak memilih untuk larut dalam status sebagai korban. Sebaliknya, mereka berinovasi dengan membangun strategi koping yang baru, merancang ulang masa depan mereka, dan sering kali mengubah luka masa lalu menjadi bahan bakar untuk memberdayakan sesama perempuan atau sesama penyintas.
George Bonanno, seorang tokoh psikologi klinis terkemuka di bidang trauma, mengemukakan bahwa manusia memiliki kapasitas resiliensi yang jauh lebih besar daripada yang diperkirakan. Bonanno memperkenalkan konsep Coping Flexibility. Menurutnya, kemampuan seseorang untuk bangkit dari trauma sangat bergantung pada kemampuan mereka untuk secara inovatif untuk mengubah dan menyesuaikan strategi koping mereka sesuai dengan situasi yang dihadapi.

Korban KDRT yang terjebak sering kali menggunakan koping yang pasif menolak kenyataan atau mengisolasi diri karena mekanisme pertahanan yang menggunakan insting. Perubahan terjadi ketika penyintas mulai memetakan kembali strategi mereka. Dari pasif menjadi aktif. Mereka berinovasi dengan cara mencari dukungan profesional, belajar mandiri secara finansial, dan membangun sistem pendukung (support system) yang baru. Fleksibilitas untuk mencoba cara-cara baru inilah yang membedakan seorang korban dengan seorang pemenang yang menginspirasi.

Mengubah Trauma Menjadi Solusi
1. Destruksi Kreatif terhadap Narasi Korban
Penyintas harus bisa meruntuhkan sugesti bahwa "saya tidak berdaya" atau "ini salah saya" yang sering ditanamkan oleh pelaku dan menggantinya dengan sugesti yang baru bahwa "saya adalah arsitek dari masa depan saya sendiri."
2. Inovasi Sosial dan Relasional
Penyintas harus bisa memutus siklus hubungan yang beracun dan secara sadar menata ulang lingkaran sosial mereka dan memilih untuk dikelilingi oleh hubungan yang sehat dan saling menghormati.
3. Pemanfaatan Rasa Sakit
Inovasi tertinggi terjadi ketika trauma diubah menjadi modal sosial. Banyak suri tauladan pasca-KDRT yang akhirnya menjadi konselor, aktivis, atau pengusaha yang membuka lapangan kerja bagi perempuan rentan lainnya.

Daftar Pustaka 

Bonanno, G. A. (2004). Loss, trauma, and human resilience: Have we underestimated the human capacity to thrive after extremely aversive events?. American Psychologist, 59(1), 20–28.
DOI: https://doi.org/10.1037/0003-066X.59.1.20

Bonanno, G. A., & Burton, C. L. (2013). Regulatory flexibility: An individual differences perspective on coping and emotion regulation. Perspectives on Psychological Science, 8(6), 591–612.
DOI: https://doi.org/10.1177/1745691613504116

Video :
 https://youtu.be/TGZcFfFfUmg?si=m8wxZX_i_jDfa7TZ

ESSAI 4 Psi Inovasi MY BEST COPING BEHAVIOR

Arisyahdan J Hi A Rahim

22310420199



 

My best coping behavior adalah menjaga keseimbangan antara pikiran, tubuh, dan emosi ketika menghadapi tekanan atau masalah dalam kehidupan sehari-hari. Saat merasa stres, lelah, atau memiliki banyak beban pikiran, saya biasanya mencoba menenangkan diri terlebih dahulu agar tidak mengambil keputusan secara terburu-buru. Saya percaya bahwa setiap masalah dapat diselesaikan dengan kepala dingin dan sikap yang positif. Oleh karena itu, saya selalu berusaha untuk mengontrol emosi dan mencari cara terbaik agar kondisi mental tetap stabil.

Salah satu coping behavior terbaik yang saya lakukan adalah memberikan waktu untuk diri sendiri agar dapat beristirahat dengan cukup. Ketika tubuh dan pikiran terlalu lelah, saya biasanya mengambil waktu istirahat sekitar 15–30 menit untuk menenangkan pikiran. Dalam waktu tersebut, saya mencoba duduk santai, menarik napas dalam dalam, atau sekadar memejamkan mata agar tubuh menjadi lebih rileks. Menurut saya, istirahat yang cukup sangat penting karena dapat membantu mengurangi rasa stres, meningkatkan konsentrasi, dan membuat pikiran menjadi lebih jernih.

Selain beristirahat, saya juga menjadikan olahraga sebagai salah satu cara terbaik untuk mengatasi stres dan menjaga kesehatan mental. Saya biasanya melakukan olahraga ringan seperti berjalan kaki, jogging, stretching, atau workout sederhana selama 30–60 menit sebanyak tiga sampai lima kali dalam seminggu. Ketika berolahraga, tubuh terasa lebih segar dan suasana hati menjadi lebih baik karena olahraga dapat membantu melepaskan hormon endorfin yang membuat seseorang merasa lebih bahagia dan rileks. Tidak hanya itu, olahraga juga membantu saya menjaga kesehatan fisik sehingga tubuh tidak mudah lelah dan lebih siap menghadapi aktivitas sehari-hari.

Ketika merasa sangat penat atau memiliki banyak masalah, saya juga sering mendengarkan musik untuk membantu menenangkan pikiran. Musik membuat suasana hati menjadi lebih tenang dan membantu saya mengurangi rasa cemas. Selain itu, saya terkadang mencoba melakukan aktivitas yang saya sukai, seperti menonton film, membaca, atau bermain media sosial dalam batas yang wajar agar pikiran tidak terlalu terbebani. Aktivitas kecil seperti ini cukup membantu saya untuk mengalihkan perhatian dari stres yang sedang dirasakan.

Saya juga percaya bahwa berbicara dengan orang yang dipercaya merupakan coping behavior yang sangat baik. Saat memiliki masalah, saya biasanya berbicara dengan keluarga, teman, atau orang terdekat agar saya merasa lebih lega. Dengan berbagi cerita, saya merasa tidak sendirian dan mendapatkan dukungan emosional yang membuat saya lebih kuat menghadapi masalah. Terkadang, mereka juga memberikan saran atau motivasi yang membantu saya melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda.

Selain itu, saya berusaha untuk selalu berpikir positif dalam menghadapi setiap situasi. Walaupun tidak semua hal berjalan sesuai keinginan, saya mencoba menerima keadaan dan fokus mencari solusi daripada terus-menerus menyalahkan diri sendiri. Saya belajar bahwa setiap masalah pasti memiliki jalan keluar dan setiap pengalaman dapat menjadi pelajaran untuk menjadi pribadi yang lebih baik di masa depan.

Menurut saya, coping behavior yang baik bukan berarti menghindari masalah, tetapi bagaimana seseorang mampu mengelola emosi, menjaga kesehatan fisik dan mental, serta tetap berpikir positif dalam menghadapi tekanan hidup. Dengan beristirahat yang cukup, rutin berolahraga selama 30–60 menit, mendengarkan musik, melakukan hobi, dan berbicara dengan orang terpercaya, saya merasa lebih mampu mengontrol stres dan menjaga keseimbangan dalam kehidupan sehari-hari.”

Essai 1 Meringkas Jurnal Kearifan Lokal Melalui Kuliner Khas Aceh

 Arisyahdan J Hi A Rahim

22310420199

MENGANGKAT KEARIFAN LOKAL MELALUI KULINER

KHAS ACEH: STUDI KASUS KEBERHASILAN RUMAH

MAKAN CUT BIT


 

Topik

Kearifan Lokal, Kuliner, penelitian kualitatif.

Sumber

Salsabilla, N., & Fatonah, S. (2025). MENGANGKAT KEARIFAN LOKAL MELALUI KULINER KHAS ACEH: STUDI KASUS KEBERHASILAN RUMAH MAKAN CUT BIT. Jurnal Inovasi Kewirausahaan2(3), 1-17. 

Perma salahan

Permasalahan yang di angkat dari junal ini dimana belum banyak yang sadar akan pentingnya kearifan lokal melalui kuliner yang dapat dimanfaatkan secara optimal dalam ekonomi yang berbudaya, serta minim dukungan bahwa budaya tradisional tidak dapat bersaing di pasar modern, ini yang mengakibatkan penurunan nilai budaya, serta kurangnya daya saing bisnis kuliner lokal.

Tujuan penelitian

Mengkaji keberhasilan rumah cut bit dalam mengangkat kuliner lokal aceh, dan dapat menjelaskan bahwa integrasi budaya dapat menjadi strategi bisnis, serta pelestarian budaya melalui kuliner.

 

Isi

·     Kearifan  lokal merupakan akumulasi pengetahuan dan   nilai-nilai   yang   terbentuk dari interaksi panjang antara manusia dengan lingkungan sosial dan alamnya.  Nilai-nilai ini  tidak  hanya berfungsi   sebagai   pedoman   dalam kehidupan   masyarakat,   tetapi   juga menjadi  bagian  dari  identitas  budaya yang  melekat  pada  suatu  komunitas. bahwa  kearifan  lokal  mencerminkan etika, spiritualitas, dan prinsip praktis yang kontekstual dengan kehidupan   masyarakat   lokal, dan juga kearifan lokal juga bisa menjadi bagian integral dalam upaya pelestarian budaya melalui dunia kuliner.

·     Strategi branding dan diferensiasi dalam bisnis kuliner lokal dalam  konteks kuliner, nilai budaya merupakan salah satu sumber diferensiasi  yang  kuat. Branding yang mengintegrasikan unsur budaya lokal baik melalui nama  menu, desain interior, kostum karyawan, hingga narasi sejarah makanan dapat menciptakan pengalaman emosional yang lebih kaya bagi konsumen. Dalam ranah bisnis, pemanfaatan kearifan lokal sebagai strategi diferensiasi   memiliki nilai tambah yang signifikan.  diferensiasi yang  berbasis  pada  identitas budaya lokal mampu memperkuat posisi merek di tengah pasar yang kompetitif. menggaris bawahi bahwa diferensiasi produk harus memiliki keunikan yang bernilai bagi konsumen.

·    Kuliner merupakan representasi sosial budaya yang kompleks. tidak hanya mencerminkan preferensi rasa, tetapi juga menggambarkan narasi sosial, sejarah, dan suatu identitas. makanan   dan cara memasaknya memiliki  dimensi simbolik yang berperan penting dalam struktur sosial masyarakat.   Kuliner tradisional menjadi medium komunikasi  budaya  yang  kuat  karena mengandung   makna   simbolik   yang diwariskan  dari  generasi  ke  generasi. Kuliner  khas  daerah  seperti  di  Aceh, contoh makanan yang mengandung sejarah dan pengaruh budaya dan nilai keagamaan, seperti mie aceh bukan hanya menyajikan rasa, tapi ini sajian bisa menjadi alat untuk diplpmasi budaya yang memperkenalkan nilai lokal pada dunia luar.

Metode

·     Penelitian ini mengunakan metode studi kasus atau kualitatif dijabarkan dengan rinci.

·     Tempat di salah satu rumah makan yang di pilih secara purposife, bagaimana integrasi kearifan lokal diterapkan dalam usaha kuliner Rumah Makan Cut Bit di Banda Aceh. Penelitian dilaksanakan pada Bulan April 2025 dengan lokasi dirumah makan tersebut, sebagai contoh keberhasilan penggabungan nilai budaya Aceh dalam praktik bisnis kuliner.

·     Data ini dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan pemilik, pengelola, karyawan, serta konsumen setia, yang mampu memberikan perspektif kaya mengenai penerapan nilai budaya dalam usaha ini. Selain itu, observasi partisipatif dilakukan secara langsung untuk mengamati suasana, pelayanan, desain interior, dan cara penyajian yang mencerminkan identitas budaya lokal Peneliti juga mengumpulkan data dari dokumen pendukung seperti materi promosi dan konten media sosial yang merepresentasikan narasi budaya yang diusung oleh rumah makan. Seluruh proses pengumpulan data ini didukung oleh instrumen berupa pedoman wawancara, lembar observasi, alat perekam suara, kamera digital, serta perangkat lunak analisis data kualitatif untuk mempermudah pengelolaan dan interpretasi data

·     Menjaga validitas, penelitian ini juga menerapkan triangulasi sumber data melalui perbandingan hasil wawancara, observasi, dan studi dokumen. Dalam pelaksanaan penelitian, etika menjadi perhatian utama dengan memastikan persetujuan informan secara sukarela, menjaga kerahasiaan identitas, dan menggunakan data hanya untuk kepentingan akademik Dengan demikian, metode yang diterapkan dalam penelitian ini diharapkan mampu memberikan gambaran komprehensif mengenai praktik pengembangan kuliner berbasis kearifan lokal sekaligus menjadi referensi bagi pelaku usaha dan pemangku     kebijakan dalam memperkuat ekonomi budaya di ACEH.

Hasil

·     Rumah makan cut bit secara konsisten mengintegrasikan nilai budaya Aceh ke dalam seluruh aspek operasional usahanya. Terlihat dari upaya mereka mempertahankan keaslian resep kuliner tradisional, desain interior yang mencerminkan identitas lokal, hingga pendekatan pelayanan yang mengedepankan nilai sosial dan filosofi masyarakat Aceh. Strategi ini tidak hanya berhasil menjaga warisan budaya, tetapi juga memberikan nilai tambah yang signifikan bagi daya saing bisnis di tengah pasar kuliner yang semakin kompetitif.

·     Penguatan identitas lokal yang diwujudkan dalam menu autentiknya. Setiap hidangan yang disajikan bukan sekadar makanan, melainkan merupakan  representasi  cita  rasa  asli yang  telah  diwariskan secara turun temurun. Serta rumah makan ini melakukan pembaruan dalam aspek visual dan konsep penyajian yang  membuat hidangan menjadi lebih menarik dan relevan bagigenerasi muda serta wisatawan. Serta menciptakan pengalaman budaya yang utuh melalui desain interior dan suasana ruang makan. Rumah makan ini tidak sekadar menjadi tempat untuk menikmati makanan khas Aceh, tetapi juga  ruang  representasi budaya lokal yang hidup dan terasa. Interior ruangan   dirancang dengan cermat untuk menampilkan ornamen khas Aceh seperti   motif ukiran tradisional, kaligrafi bernuansa Islam, hingga perabot kayu   yang mencerminkan estetika rumah tradisional Aceh. Penataan ruang yang nyaman,   pencahayaan   yang   hangat, serta  alunan  musik  tradisional  Aceh yang diputar lembut turut memperkaya atmosfer yang dihadirkan

·     Dalam menjalankan usaha kuliner berbasis kearifan lokal, Rumah Makan   Cut Bit tidak luput dari berbagai tantangan yang bersifat struktural maupun operasional. Salah satu kendala utama yang dihadapi adalah keterbatasan modal usaha. Sebagaimana banyak dialami oleh pelaku UMKM di sektor kuliner tradisional, permasalahan permodalan sering kali menghambat proses pengembangan usaha, baik dalam aspek ekspansi fisik, peningkatan kualitas layanan, maupun inovasi produk. Modal yang terbatas juga membatasi ruang gerak dalam melakukan promosi secara masif, terutama di platform digital yang kini menjadi kanal utama pemasaran. Selain  kendala  finansial,  persaingan pasar juga menjadi tantangan signifikan yang  harus dihadapi.

Dikusi

·     Budaya bukan hambatan untuk berbisnis akan tetapi bisa unggul dan kompetitif jika di kolaborasikan antara kearifan lokal dan kuliner.

·    Experience dimana konsumen bukan hanya mencari produk akan tetapi mencari pengalaman dan ini bisa tercipta di rumah makan, dan menjadi identitas budaya yang memperkuat identitas dari aceh sendiri.

·    Dimana ini bisa di dorong oleh pemerintah agar memajukan UMKM di aceh itu sendiri

·     Dari rumah makan mengangkat budaya kearifan lokal ini menjadi kontribusi serta memperkaya kajian ekonomi kreatif, serta memberi contoh nyata dari makanan bisa memperkenalkan budaya dari daerah tersebut, serta bisa bersaing dan sejalan dengan moderenisasi.