19.6.26

ESAI 9 - UTS PSI. INOVASI - KARYAWAN -MUHAMMAD FIRDAUS(23310410131)

Peran Psikologi Inovasi dalam Menghadapi Tantangan Artificial Intelligence di Dunia Pendidikan



 Muhammad Firdaus (23310410131)

Fakultas Psikologi Proklamasi 45

Yogyakarta

Perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) saat ini memberikan dampak besar dalam dunia pendidikan, khususnya di lingkungan perguruan tinggi. Mahasiswa kini dapat dengan mudah memperoleh jawaban, menyelesaikan tugas, bahkan menulis esai dengan bantuan AI. Di satu sisi, keberadaan AI memang mempermudah proses belajar karena lebih cepat dan praktis. Namun di sisi lain, penggunaan yang berlebihan dapat menyebabkan menurunnya kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Hal ini terjadi karena mahasiswa cenderung mengandalkan jawaban instan tanpa benar-benar memahami proses berpikir di baliknya. Oleh karena itu, mata kuliah Psikologi Inovasi memiliki peran penting dalam melatih mahasiswa agar tetap kreatif, inovatif, serta mampu menghadapi tantangan kehidupan nyata.

Jika saya berperan sebagai dosen Psikologi Inovasi, saya tidak akan sepenuhnya melarang penggunaan AI. Sebaliknya, saya akan mengarahkan mahasiswa untuk memanfaatkan AI secara bijak sebagai alat pendukung, bukan sebagai pengganti kemampuan berpikir. Sistem pembelajaran akan lebih difokuskan pada proses, bukan hanya hasil akhir. Mahasiswa akan didorong untuk melakukan kegiatan nyata seperti observasi lapangan, wawancara, diskusi kritis, hingga pemecahan masalah di lingkungan sekitar. Dengan pendekatan ini, mahasiswa dapat memahami bahwa ilmu tidak hanya dipelajari secara teori, tetapi juga perlu diterapkan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, mahasiswa juga perlu dibiasakan untuk berani mencoba hal baru dan tidak takut menghadapi kegagalan. Dalam Psikologi Inovasi dijelaskan bahwa salah satu faktor tingginya angka pengangguran adalah kurangnya kreativitas dan keberanian untuk berubah. Banyak lulusan yang hanya menunggu peluang kerja tanpa berusaha menciptakan peluang sendiri. Oleh karena itu, mahasiswa perlu memiliki kemampuan coping behavior yang baik, mampu melihat kesempatan, serta terus mengembangkan potensi diri. Sikap disiplin, tanggung jawab, kerja keras, dan kemampuan berpikir kritis juga harus dibangun agar siap menghadapi dinamika dunia kerja.

Film “Billionaire Told His 3 Sons To Live On $50 For A Week” juga memberikan gambaran nyata terkait konsep Psikologi Inovasi. Pada pembahasan awal mengenai kreativitas, film ini menunjukkan bahwa keterbatasan dapat memicu seseorang untuk berpikir lebih kreatif. Ketiga tokoh dalam film dipaksa bertahan hidup dengan sumber daya terbatas, sehingga mereka harus mencari cara untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Pada materi coping behavior, film ini memperlihatkan bagaimana setiap individu memiliki respons yang berbeda terhadap tekanan. Ada yang mudah menyerah, ada yang kebingungan, dan ada pula yang mencoba mencari solusi. Hal ini menunjukkan pentingnya kemampuan mengelola stres dan bertahan dalam situasi sulit.

Dalam konteks kualitas sumber daya manusia, film tersebut juga menggambarkan bahwa kesuksesan tidak hanya bergantung pada latar belakang, tetapi pada kemampuan individu dalam menghadapi tantangan. Hal ini relevan dengan kondisi di Indonesia, di mana masih banyak lulusan yang belum siap menghadapi dunia kerja karena kurangnya keterampilan dan pengalaman.

Pada aspek berpikir kritis, salah satu tokoh dalam film mampu memanfaatkan peluang yang ada untuk bertahan hidup. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kreatif dan kritis sangat berperan dalam menghadapi situasi sulit. Selain itu, perubahan juga menjadi bagian penting dalam proses tersebut, karena setiap individu harus keluar dari zona nyaman untuk berkembang.

Dari sudut pandang pengenalan diri, film ini juga menggambarkan bagaimana karakter seseorang akan terlihat ketika menghadapi tekanan. Ada yang menyalahkan keadaan, ada yang terlalu percaya diri, dan ada yang mampu memahami kekuatan serta kelemahan dirinya. Hal ini menunjukkan pentingnya mengenal diri sendiri agar dapat berkembang secara optimal.

Kesimpulannya, Psikologi Inovasi sangat relevan di era perkembangan AI. Mahasiswa perlu dibekali kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan adaptif agar tidak bergantung sepenuhnya pada teknologi. AI seharusnya digunakan sebagai alat bantu, bukan pengganti proses berpikir. Dengan demikian, mahasiswa diharapkan mampu menghadapi tantangan masa depan dengan lebih siap, mandiri, dan inovatif.

18.6.26

ESAI 5- BERPRILAKU INOVATIF


Berperilaku Inovatif melalui Pemanfaatan Sampah Anorganik





Muhammad Firdaus (23310410131)
Fakultas Psikologi Proklamasi 45
Yogyakarta

Perilaku inovatif merupakan kemampuan seseorang untuk menciptakan ide baru dan mengubahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat. Dalam kehidupan sehari-hari, inovasi dapat dimulai dari hal sederhana, salah satunya dengan memanfaatkan sampah anorganik menjadi barang yang memiliki nilai guna dan nilai jual. Hal ini tidak hanya melatih kreativitas, tetapi juga dapat menjadi peluang usaha dalam mendukung ekonomi kreatif.

Produk inovatif yang saya buat adalah celengan dari botol plastik bekas (botol Aqua). Ide ini muncul dari kebiasaan melihat banyaknya botol plastik yang dibuang begitu saja setelah digunakan. Padahal, botol plastik memiliki bentuk yang kuat dan dapat dimanfaatkan kembali menjadi berbagai produk kreatif. Dengan sedikit modifikasi, botol plastik dapat diubah menjadi celengan yang menarik dan berguna untuk menabung.

Proses kreativitas dimulai dari mengamati masalah yang ada di sekitar, yaitu banyaknya sampah plastik yang tidak dimanfaatkan. Dari situ muncul ide untuk mengubahnya menjadi produk yang sederhana namun memiliki fungsi jelas. Saya kemudian mencari referensi desain yang menarik agar produk tidak hanya berguna, tetapi juga memiliki nilai estetika. Saya memilih konsep sederhana dengan tambahan hiasan agar terlihat lebih menarik dan layak digunakan.

Langkah-langkah pembuatan produk ini cukup mudah. Pertama, siapkan botol plastik bekas, gunting atau cutter, lem, dan bahan hias seperti kertas kado atau kain flanel. Kedua, buat lubang kecil di bagian tengah botol sebagai tempat memasukkan uang. Ketiga, haluskan bagian tepi lubang agar tidak tajam. Keempat, bungkus bagian luar botol dengan bahan hias menggunakan lem. Kelima, tambahkan dekorasi sesuai kreativitas, seperti pita atau gambar agar terlihat lebih menarik. Setelah selesai, celengan siap digunakan.

Dalam proses pembuatan produk ini, saya tidak hanya belajar tentang kreativitas, tetapi juga tentang kesabaran dan ketelitian. Awalnya hasil yang saya buat belum rapi, namun setelah mencoba beberapa kali, hasilnya menjadi lebih baik. Hal ini menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu langsung berhasil, tetapi membutuhkan proses dan perbaikan secara terus-menerus.

Selain memiliki nilai guna, produk ini juga memiliki potensi untuk dijual. Dengan harga yang terjangkau, produk ini dapat menjadi alternatif bagi masyarakat yang ingin memiliki celengan unik sekaligus ramah lingkungan. Saya juga mempromosikan produk ini melalui media sosial sebagai bentuk latihan dalam memasarkan hasil karya sendiri.

Dari pengalaman ini, saya menyadari bahwa perilaku inovatif dapat dilatih dengan memanfaatkan peluang yang ada di sekitar. Sampah yang awalnya tidak bernilai dapat diubah menjadi produk yang bermanfaat jika diolah dengan kreativitas. Hal ini juga membuka peluang untuk menciptakan usaha sederhana yang dapat membantu mengurangi pengangguran dan meningkatkan ekonomi kreatif.

Dengan demikian, berperilaku inovatif bukan hanya tentang menciptakan sesuatu yang baru, tetapi juga tentang kemampuan melihat peluang, memanfaatkan sumber daya yang ada, dan terus mencoba untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik.

ESAI 4 MY BEST COPING BEHAVIOR- MUHAMMAD FIRDAUS(23310410131)

 Pengalaman Pribadi dalam Coping Behavior



Muhammad Firdaus(23310410131)
Fakultas Psikologi Proklamasi 45
Yogyakarta

Salah satu pengalaman yang cukup membekas dalam hidup saya terjadi ketika saya harus menghadapi tekanan dari lingkungan sosial yang kurang mendukung. Pada saat itu, saya berada dalam fase kehidupan di mana saya sedang berusaha berkembang dan memperbaiki diri, namun justru sering mendapatkan penilaian negatif dari orang-orang di sekitar saya. Saya sering diremehkan, dibandingkan dengan orang lain, bahkan dianggap tidak mampu mencapai sesuatu yang lebih baik.

Situasi tersebut membuat saya merasa tertekan dan tidak percaya diri. Saya sering mempertanyakan kemampuan diri sendiri dan merasa bahwa apa yang saya lakukan selalu kurang di mata orang lain. Tidak jarang saya merasa lelah secara emosional karena harus menghadapi komentar-komentar yang menyakitkan. Hal ini sempat membuat saya menarik diri dan kehilangan semangat untuk berkembang.

Namun, dari pengalaman tersebut saya mulai belajar tentang coping behavior atau cara menghadapi tekanan hidup. Saya menyadari bahwa saya tidak dapat mengontrol bagaimana orang lain menilai saya, tetapi saya dapat mengontrol bagaimana saya merespons hal tersebut. Dari situ, saya mulai mencoba mengubah cara pandang terhadap situasi yang saya hadapi.

Salah satu strategi coping yang saya lakukan adalah dengan membatasi diri dari lingkungan yang memberikan pengaruh negatif. Saya mulai menjaga jarak dengan orang-orang yang sering memberikan komentar yang menjatuhkan, dan lebih memilih berada di lingkungan yang memberikan dukungan positif. Selain itu, saya juga mulai fokus pada pengembangan diri, seperti meningkatkan kemampuan, belajar hal baru, dan memperbaiki kekurangan yang saya miliki.

Saya juga berusaha mengelola emosi dengan lebih baik. Ketika merasa sedih atau marah, saya mencoba menenangkan diri dengan melakukan aktivitas yang saya sukai, seperti menulis, mendengarkan musik, atau sekadar beristirahat. Cara ini membantu saya untuk tidak terlalu larut dalam perasaan negatif yang dapat menghambat perkembangan diri.

Seiring berjalannya waktu, saya mulai merasakan perubahan dalam diri saya. Saya menjadi lebih percaya diri dan tidak terlalu terpengaruh oleh penilaian orang lain. Saya juga belajar bahwa setiap individu memiliki proses yang berbeda, sehingga tidak perlu membandingkan diri dengan orang lain. Pengalaman tersebut membuat saya lebih kuat secara mental dan lebih mampu menghadapi tekanan hidup.

Berdasarkan pengalaman tersebut, saya menyadari bahwa coping behavior terbaik bagi diri saya adalah dengan mengelola pikiran dan emosi secara positif, serta fokus pada pengembangan diri. Tekanan dari lingkungan memang tidak dapat dihindari, tetapi dengan cara menghadapi yang tepat, tekanan tersebut dapat menjadi motivasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih kuat.

ESAI 3 (A,B) MENJADI SURI TAULADAN

 Psikologi Inovasi – Esai 3 (a,b)

Menjadi Suri Tauladan di Tengah Tekanan Hidup



Muhammad Firdaus (23310410131)
Fakultas Psikologi Proklamasi 45
Yogyakarta

Video 1: Tetap kuat di tengah tekanan hidup
Video 2: Bangkit meski tidak dihargai

Dalam kehidupan saat ini, banyak individu berada pada posisi yang menuntut mereka untuk menjadi kuat, bahkan ketika kondisi batin tidak selalu mendukung. Salah satu fenomena yang cukup banyak terjadi adalah generasi sandwich, yaitu individu yang harus menanggung beban ekonomi dan emosional keluarga, baik untuk orang tua maupun saudara. Peran ini sering kali datang tanpa persiapan yang matang, sehingga menimbulkan tekanan yang cukup besar dalam kehidupan sehari-hari.

Menjadi generasi sandwich tidak hanya tentang membantu secara finansial, tetapi juga tentang menjadi sosok yang diharapkan selalu bisa diandalkan. Individu dalam posisi ini sering kali harus menahan keinginan pribadi, menunda impian, serta mengutamakan kebutuhan keluarga. Di sisi lain, mereka tetap dituntut untuk terlihat kuat dan tidak menunjukkan kelemahan. Tekanan ini dapat semakin berat ketika lingkungan sekitar kurang memberikan dukungan, bahkan cenderung meremehkan usaha yang telah dilakukan.

Selain tekanan dari tanggung jawab keluarga, tantangan lain muncul dari lingkungan sosial yang kurang sehat. Tidak sedikit individu yang harus menghadapi komentar negatif, perbandingan dengan orang lain, atau bahkan sikap merendahkan dari lingkungan sekitarnya. Hal ini dapat menurunkan kepercayaan diri dan memunculkan perasaan tidak cukup baik. Namun, dalam situasi seperti ini, kemampuan untuk tetap bertahan dan terus berkembang menjadi hal yang sangat penting.

Salah satu kunci untuk menghadapi tekanan tersebut adalah resiliensi, yaitu kemampuan untuk bangkit dan beradaptasi dalam kondisi sulit. Individu yang resilien tidak berarti tidak pernah merasa lelah, tetapi mampu mengelola emosi dan tetap melangkah meskipun menghadapi berbagai hambatan. Memiliki tujuan hidup yang jelas dapat membantu individu tetap fokus dan tidak mudah terpengaruh oleh penilaian negatif dari orang lain.

Di samping itu, menjaga kesehatan mental juga menjadi hal yang sangat penting. Individu sering kali terlalu fokus pada tanggung jawab terhadap orang lain hingga melupakan kebutuhan diri sendiri. Padahal, menjaga keseimbangan antara kewajiban dan kebutuhan pribadi dapat membantu mencegah kelelahan emosional. Meluangkan waktu untuk beristirahat, melakukan aktivitas yang disukai, serta berbagi cerita dengan orang yang dipercaya dapat menjadi cara untuk menjaga stabilitas mental.

Menjadi suri tauladan bukan berarti harus selalu tampil sempurna. Justru, seseorang dapat menjadi contoh yang baik ketika mampu menghadapi kesulitan dengan sikap yang positif dan tidak mudah menyerah. Pengalaman menghadapi tekanan hidup dapat membentuk karakter yang lebih kuat, bijaksana, dan empati terhadap orang lain. Dari proses tersebut, individu belajar bahwa kegagalan dan tantangan adalah bagian dari perjalanan menuju kedewasaan.

Pada akhirnya, menjadi generasi sandwich memang penuh dengan tantangan, tetapi juga memberikan kesempatan untuk berkembang menjadi pribadi yang lebih tangguh. Dengan tetap menjaga keseimbangan antara tanggung jawab dan kebutuhan diri, serta terus berusaha memperbaiki diri, individu dapat menjadi suri tauladan yang tidak hanya kuat secara lahir, tetapi juga sehat secara batin. Menjadi kuat bukan berarti tidak pernah jatuh, melainkan mampu bangkit setiap kali menghadapi kesulitan dan terus melangkah ke depan.

https://youtube.com/shorts/3GwjfUFyY6M

https://youtube.com/shorts/ZbZSe6N_BXs

ESAI 2 WAWANCARA TENTANG DISONASI KOGNITIF-MUHAMMAD FIRDAUS(23310410131)

Disonansi Kognitif dalam Perilaku Membuang Sampah Sembarangan

Nama : Muhammad Firdaus

NIM : 23310410131

Mata Kuliah : Psikologi Inovasi

Esai 2

Wawancara tentang Disonansi Kognitif

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A



 Disonansi kognitif merupakan kondisi ketika individu mengalami pertentangan antara pengetahuan yang dimiliki dengan perilaku yang dilakukan. Menurut Harmon-Jones dan Mills (2019), individu akan berusaha mengurangi ketidaknyamanan tersebut dengan mencari pembenaran atas perilaku yang sebenarnya bertentangan dengan pengetahuannya.

Fenomena ini dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya pada perilaku membuang sampah sembarangan. Banyak orang mengetahui bahwa membuang sampah tidak pada tempatnya dapat merusak lingkungan, menyebabkan banjir, dan mencemari lingkungan. Namun, pada kenyataannya perilaku tersebut masih sering dilakukan. Oleh karena itu, dilakukan wawancara terhadap seorang individu untuk memahami bentuk disonansi kognitif yang terjadi.

Wawancara dilakukan kepada subjek berinisial “AR”, seorang laki-laki berusia 24 tahun yang bekerja sebagai karyawan swasta. Subjek mengaku sering membuang sampah sembarangan, terutama ketika berada di jalan atau tempat umum yang tidak tersedia tempat sampah. Menurutnya, kebiasaan tersebut sudah dilakukan sejak lama dan menjadi hal yang dianggap biasa.

Subjek sebenarnya memahami bahwa membuang sampah sembarangan memiliki dampak negatif terhadap lingkungan. Ia mengetahui bahwa sampah dapat menyebabkan banjir dan mencemari lingkungan sekitar. Pengetahuan tersebut diperoleh dari pendidikan sekolah dan media sosial. Namun, subjek tetap melakukan perilaku tersebut dengan alasan praktis, seperti tidak ingin repot membawa sampah atau sulit menemukan tempat sampah.

Bentuk disonansi kognitif terlihat dari cara subjek membenarkan perilakunya. Ia beranggapan bahwa satu sampah kecil yang dibuang tidak akan memberikan dampak besar. Selain itu, subjek juga menyatakan bahwa banyak orang lain yang melakukan hal yang sama, sehingga ia merasa perilakunya masih wajar. Pernyataan ini menunjukkan adanya mekanisme pembenaran diri untuk mengurangi ketidaknyamanan akibat konflik antara pengetahuan dan tindakan.

Subjek juga menyatakan bahwa pemerintah dan lingkungan sekitar kurang menyediakan fasilitas tempat sampah yang memadai. Hal ini dijadikan alasan tambahan untuk membenarkan perilakunya. Ia merasa bahwa tanggung jawab kebersihan tidak sepenuhnya berada pada individu, tetapi juga pada pihak lain. Dengan demikian, subjek dapat mempertahankan perilaku tersebut tanpa merasa terlalu bersalah.

Meskipun demikian, subjek mengaku merasa tidak nyaman ketika melihat lingkungan yang sangat kotor. Ia juga menyatakan bahwa dirinya akan membuang sampah pada tempatnya jika tersedia fasilitas yang mudah dijangkau. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya terdapat kesadaran dalam diri subjek, tetapi belum cukup kuat untuk mengubah kebiasaan secara konsisten.

Berdasarkan hasil wawancara, dapat disimpulkan bahwa subjek mengalami disonansi kognitif. Ia mengetahui dampak negatif dari membuang sampah sembarangan, tetapi tetap melakukannya dengan berbagai bentuk pembenaran, seperti menganggap dampaknya kecil, mengikuti kebiasaan orang lain, serta menyalahkan kurangnya fasilitas. Kondisi ini menunjukkan bahwa perubahan perilaku tidak hanya dipengaruhi oleh pengetahuan, tetapi juga oleh kebiasaan, lingkungan, dan kenyamanan individu.

Daftar Pustaka

Harmon-Jones, E., & Mills, J. (2019). An Introduction to Cognitive Dissonance Theory and an Overview of Current Perspectives on the Theory. https://doi.org/10.1037/0000135-001

Psikologi Inovasi-Esai 1- Meringkas Jurnal Motivasi- Dr. Arundati Shinta- SPSJ- Mei 2026-Muhammad Firdaus (23310410131)

 

Membangun Motivasi Berwirausaha di Era Modern

Muhammad Firdaus

Fakultas Psikologi Proklamasi 45

Yogyakarta




Jurnal yang saya ringkas membahas tentang motivasi dalam entrepreneurship atau kewirausahaan, yang menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan seseorang dalam membangun usaha. Inti dari jurnal tersebut menekankan bahwa motivasi tidak hanya berasal dari keinginan mendapatkan keuntungan, tetapi juga dari dorongan internal seperti passion, kemandirian, dan keinginan untuk berkembang.


Dalam dunia kewirausahaan, motivasi dibagi menjadi dua, yaitu motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Motivasi intrinsik berasal dari dalam diri individu, seperti kepuasan pribadi, minat terhadap bidang usaha, serta keinginan untuk menciptakan sesuatu yang bernilai. Sementara itu, motivasi ekstrinsik berasal dari faktor luar, seperti keuntungan finansial, pengakuan sosial, dan peluang pasar. Jurnal tersebut menjelaskan bahwa motivasi intrinsik cenderung lebih kuat dalam mempertahankan keberlangsungan usaha dibandingkan motivasi ekstrinsik.


Selain itu, jurnal juga membahas pentingnya mindset atau pola pikir seorang entrepreneur. Pola pikir yang dimaksud adalah kemampuan untuk melihat peluang di tengah tantangan, berani mengambil risiko, serta memiliki ketahanan dalam menghadapi kegagalan. Seorang wirausahawan dituntut untuk tidak mudah menyerah dan mampu belajar dari setiap kesalahan yang terjadi. Hal ini menjadi salah satu faktor pembeda antara individu yang berhasil dan yang tidak dalam dunia bisnis.


Permasalahan yang diangkat dalam jurnal ini adalah masih rendahnya motivasi berwirausaha pada sebagian individu, terutama di kalangan mahasiswa. Banyak yang masih ragu untuk memulai usaha karena takut gagal, kurang percaya diri, atau minimnya pengetahuan tentang bisnis. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk meningkatkan motivasi tersebut, seperti melalui pendidikan kewirausahaan, pelatihan, serta dukungan lingkungan.


Kesimpulan dari jurnal ini adalah bahwa motivasi memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk jiwa kewirausahaan. Dengan motivasi yang kuat, seseorang akan lebih siap menghadapi tantangan dan mampu mengembangkan usahanya secara berkelanjutan. Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk membangun motivasi dari dalam diri serta terus mengasah kemampuan agar dapat sukses dalam dunia entrepreneurship.

12.6.26

UTS PSIKOLOGI INOVASI-BAYU PRASETYA RESTU AJI

 Bayu Prasetya Restu Aji

23310410087

UTS PSI. INOVASI






1. Jika saya menjadi dosen mata kuliah Psikologi Inovasi di era AI saat ini, maka saya tidak akan memusuhi AI, tetapi akan mendidik mahasiswa agar mampu menggunakan AI dengan baik, etis, dan bertanggung jawab. Fokus utama pendidikan bukan hanya menghasilkan tugas yang selesai, melainkan membentuk karakter, daya pikir, dan kreativitas mahasiswa sebagai calon intelektual dan pemimpin bangsa. Prinsip ini sejalan dengan tujuan “Penguatan Pendidikan Karakter” dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2018.

Sebagai dosen, saya akan menjalankan empat peran utama yaitu sebagai inovator, motivator, kolaborator, dan pemberi sanksi yang mendidik.

Pertama, sebagai inovator, saya akan mengubah sistem pembelajaran agar tidak hanya berorientasi pada hasil akhir tugas, tetapi juga pada proses berpikir mahasiswa. Misalnya, tugas tidak hanya berupa makalah, tetapi juga jurnal, diskusi, presentasi , studi kasus nyata, dan observasi lapangan. Mahasiswa boleh menggunakan AI, tetapi mereka harus bisa menjelaskan bagaimana AI itu digunakan, bagian mana yang merupakan hasil pemikiran

pribadi, dan bagaimana mereka menunjukkan kebenaran informasi tersebut. Maka, dengan begitu, AI bisa menjadi alat bantu berpikir, bukan untuk pengganti cara kita untuk berpikir.

Selain itu, saya akan menggunakan metode pembelajaran berbasis problem solving dan critical inquiry. Mahasiswa tidak hanya diminta mencari jawaban, tetapi juga mengkritisi jawaban tersebut. Mahasiswa diminta untuk bisa membandingkan hasil analisis AI dengan teori dalam psikologi dan kondisi sosial masyarakat. Hal ini akan melatih kemampuan analisa, evaluasi dan kreativitas mereka.

Kedua, sebagai motivator, saya akan membangun kesadaran bahwa kejujuran adalah perbuatan yang mulia. Mahasiswa perlu memahami bahwa ketergantungan penuh pada AI mungkin akan memberikan keuntungan, tetapi dapat melemahkan kemampuan dalam berpikir, rasa percaya diri dalam jangka panjang. Saya akan menanamkan bahwa proses belajar adalah proses pembentukan diri, bukan hanya untuk memperoleh nilai.

Saya akan memberikan apresiasi kepada mahasiswa yang menunjukkan gagasan yang sebenarnya, keberanian dalam bertanya, kemampuan berpikir yang mendalam, dan usaha belajar yang sungguh-sungguh. Lingkungan belajar yang suportif akan membuat mahasiswa lebih termotivasi untuk berkembang.

Ketiga, sebagai kolaborator, saya akan menciptakan sistem akademik yang baik. Mahasiswa diajak berdiskusi mengenai etika penggunaan AI, tantangan pendidikan modern, serta dampak teknologi terhadap psikologi manusia. Dosen bukan hanya pengontrol, tetapi juga sarana belajar yang membantu mahasiswa berkembang. Kolaborasi juga dapat dilakukan melalui kerja kelompok, proyek bersama dengan masyarakat, dan penelitian kecil yang melatih empati, komunikasi, dan tanggung jawab sosial mahasiswa.

Keempat, sebagai pemberi sanksi yang bersifat mendidik, saya tidak akan langsung menghukum mahasiswa secara represif ketika terbukti menyerahkan tugas sepenuhnya kepada AI. Saya akan menggunakan pendekatan edukatif. Misalnya, mahasiswa diminta melakukan revisi dengan presentasi secara lisan tanpa bantuan. Tujuan sanksi bukan mempermalukan mahasiswa, tetapi membangun kesadaran dan tanggung jawab pribadi.

Menurut saya, tantangan terbesar pendidikan di abad AI bukanlah kecanggihan teknologinya, melainkan bagaimana menjaga agar manusia tetap memiliki hati nurani,

kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan karakter yang baik. AI dapat membantu manusia bekerja lebih cepat, tetapi AI tidak dapat menggantikan nilai-nilai seperti kejujuran, empati, dan tanggung jawab. Sebagai dosen Psikologi Inovasi, saya ingin membentuk mahasiswa yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga cerdas secara moral, mampu berpikir mandiri, bijak menggunakan teknologi, serta memiliki integritas dalam kehidupan akademik maupun sosial. Dengan demikian, AI tidak akan melemahkan kualitas manusia, tetapi justru menjadi sarana untuk mengembangkan potensi manusia secara lebih maksimal.

2. Film ‘’ Billionaire Told His 3 Son To Live on $50 for A week. Only One Survived. Here’s What He Did With It ‘’menceritakan tentang cara menghadapi keterbatasan dan kreativitas untuk bertahan, film ini relevan dengan film pada pertemuan ke -4 yang berjudul “ Good Boy – He Scored “D” For Exams. Is He not A Good Child?”, dimana menceritakan tentang bahwa nilai baik memang penting tetapi menolong orang lain itu lebih penting.

Kalau dilihat dari psikologi inovasi, film ini menunjukkan beberapa hal, yaitu :

1. Creative Problem Solving

Anak yang berhasil bukan hanya hemat uang, tapi mampu berpikir kreatif mencari peluang dari keterbatasan. Dalam psikologi inovasi, hal ini disebut kemampuan menemukan solusi baru terhadap masalah.

2. Growth Mindset

Tokoh yang sukses memiliki pola pikir berkembang yang menganggap kesulitan sebagai tantangan untuk belajar, bukan alasan untuk menyerah.

3. Resiliensi

Mereka diuji secara mental, tetapi memiliki cara bagaimana tetap bisa tenang, beradaptasi, dan bangkit saat kondisi sulit. Resiliensi penting dalam inovasi karena ide baru sering muncul saat tertekan.

4. Entrepreneurial Mindset

Film ini juga menunjukkan jiwa entrepreneur itu bisa melihat peluang kecil, mengambil keputusan cepat, dan memanfaatkan sumber daya yang ada untuk menghasilkan sesuatu yang lebih besar.

5. Perbedaan Pola Pikir Konsumtif vs Produktif

Ada yang memakai uang hanya untuk bertahan sementara, ada yang memutar uang menjadi peluang. Secara psikologi inovasi, individu inovatif cenderung berpikir produktif dan berpikir untuk jangka panjang.

Jadi, inti psikologi inovasi dalam film ini adalah bahwa orang yang mampu berpikir kreatif dan bisa melihat peluang dalam keterbatasan akan lebih mudah bertahan dan berkembang dibanding orang yang hanya mengandalkan kenyamanan.




DAFTAR PUSTAKA :

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. (2018). Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2018 tentang Penguatan Pendidikan Karakter pada Satuan Pendidikan Formal. Jakarta: Kemendikbud.

Azwar, S. (2022). Metode Penelitian Psikologi (Edisi II). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Creswell, J. W. (2014). Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches (4th ed.). Thousand Oaks, CA: Sage Publications.

Lickona, T. (2013). Pendidikan Karakter: Panduan Lengkap Mendidik Siswa Menjadi Pintar dan Baik. Bandung: Nusa Media.

Maslow, Maslow. (1943). A Theory of Human Motivation. Psychological Review.

Goleman, Daniel. (1995). Emotional Intelligence. New York: Bantam Books.

Bandura, Albert. (1997). Self-Efficacy: The Exercise of Control. New York: Freeman