29.5.26

ESSAY 4 - BRIGITA CELZY DEIVIA

 


MY BEST COPING BEHAVIOR

Nama    : Brigita celzy deivia
NIM    :2331040111
Mata Kuliah : Psikologi Inovasi
Dosen Pengampu    : Dr. Arundati Shinta M. A


Dinamika tuntutan zaman di era modern menuntut setiap individu untuk terus melakukan inovasi diri (self-innovation) agar dapat bertahan di tengah ketatnya persaingan akademis maupun profesional. Namun, proses berinovasi dan keluar dari zona nyaman sering kali memicu tekanan psikologis, kecemasan, hingga kejenuhan (burnout). Dalam ranah psikologi inovasi, kemampuan mengelola tekanan ini ditentukan oleh efektivitas coping behavior—yaitu mekanisme kognitif dan perilaku yang digunakan untuk mengatasi stresor. Bagi saya pribadi, my best coping behavior adalah menerapkan achievement-oriented coping yang diwujudkan melalui tindakan nyata: bekerja keras hingga mampu membeli sepeda motor baru dari hasil keringat sendiri. Strategi ini bukan sekadar bentuk konsumerisme, melainkan sebuah manifestasi dari regulasi diri, pembuktian efikasi diri, dan pemenuhan kebutuhan otonomi yang krusial untuk memicu inovasi berpikir

Secara teoretis, pencapaian ini secara langsung meningkatkan self-efficacy (keyakinan atas kemampuan diri) dan fleksibilitas kognitif. Dalam psikologi inovasi, fleksibilitas kognitif adalah kapasitas seseorang untuk mengalihkan strategi berpikir guna menghasilkan perilaku adaptif di lingkungan yang penuh tantangan (Ganu, 2022). Proses membagi waktu antara belajar, bekerja, mengelola keuangan, hingga mencapai target pembelian motor baru memaksa saya untuk melatih kemampuan manajemen diri yang inovatif. Keberhasilan finansial ini menjadi bukti nyata bagi struktur kognitif saya bahwa hambatan lingkungan dapat ditaklukkan melalui perencanaan yang matang. Efikasi diri yang tinggi yang lahir dari pencapaian ini memicu divergent thinking, yaitu keberanian untuk mengambil risiko dan melahirkan ide-ide baru yang orisinal tanpa takut mengalami kegagalan.

Lebih jauh lagi, kepemilikan motor baru dari hasil kerja sendiri memberikan rasa otonomi (kemandirian) dan mobilitas yang tinggi. Dalam konteks kerja kelompok atau organisasi, fleksibilitas mobilitas ini memungkinkan saya untuk lebih adaptif dalam merespons kebutuhan tim. Menurut Kirton’s Adaption-Innovation (A-I) theory, seseorang dituntut memiliki coping behavior yang lentur di dalam tim kepemimpinan (Awuni, 2025).

Sebagai kesimpulan, my best coping behavior dalam psikologi inovasi adalah achievement-oriented coping yang diwujudkan melalui kemandirian finansial berupa pembelian motor baru dari hasil kerja keras. Strategi adaptif ini terbukti efektif mengubah tekanan psikologis menjadi motivasi berprestasi, meningkatkan efikasi diri, serta melatih fleksibilitas kognitif dalam mengelola sumber daya. Melalui pencapaian yang nyata dan terukur ini, saya tidak hanya berhasil mereduksi stres, tetapi juga membangun pondasi karakter yang mandiri, adaptif, dan siap melahirkan inovasi-inovasi baru yang bermanfaat bagi masa depan.

 

Daftar Pustaka :


(Saleem dkk., 2022). Cognitive flexibility strategies enhance work engagement and individual innovation among corporate employees. Indian Institute of Management Ahmedabad

(Abidin dkk., 2025). Psychological distress and coping strategies among Indonesian psychologists during the COVID-19 pandemic: a two-wave cross-lagged study. Health Psychology and Behavioral Medicine, 13(1).

(Nanjundeswaraswamy dkk., 2024). Psychological distress and coping strategies among Indonesian psychologists during the COVID-19 pandemic: a two-wave cross-lagged study. Health Psychology and Behavioral Medicine, 13(1).

ESSAY 3A & B- BRIGITA CELZY DEIVIA

 

MENJADI SURI TAULADAN 

Nama    : Brigita celzy deivia
NIM    : 23310410111
Mata Kuliah    : Psikologi Inovasi
Dosen Pengampu    : Dr. Arundati Shinta M. A


Menjadi mahasiswa psikologi kelas karyawan yang dituntut berdiri di simpangan dua dunia, menyerap teori akademis di ruang kuliah malam hari sekaligus menghadapi tekanan target,birokrasi dan dinamika tim di tempat kerja pada siang hari menjadi tantangan besar dengan kelelahan mental akibat beban ganda. Di sinilah pentingnya menerapkan Dual-Focused Growth Mindset—yakni keyakinan bahwa kemampuan diri (self-growth) dan kondisi lingkungan kerja (work-growth) dapat terus dikembangkan melalui strategi yang tepat.

Sebagai suri teladan, saya tidak boleh sekadar mengeluh tentang kaku atau monotonnya sistem di kantor. Saya harus memodelkan perilaku job crafting (secara proaktif mengubah cara pandang dan metode kerja) guna memicu inovasi di sela-sela rutinitas kerja. Ketika rekan kerja melihat kita tetap antusias mengeksplorasi solusi baru meski di bawah tekanan kerja dan kuliah, kita sedang menularkan resiliensi kreatif kepada mereka.

"Mahasiswa kelas karyawan yang mempelajari psikologi inovasi bukanlah mereka yang membawa beban kerja ke kampus, melainkan mereka yang membawa lentera ilmu dari kampus untuk menerangi dan menggerakkan ruang kerja."

Daftar Pustaka :

(Siu dkk., 2025). Duarte, J., & Dimas, I. D. (2025). Leveraging a Dual‐Focused Growth Mindset to Boost Employee Resilience and Work Well‐Being: Evidence From a Two‐Wave Survey and an Intervention Study. Jurnal ini membuktikan bahwa menumbuhkan pola pikir berkembang yang berfokus ganda (pada diri sendiri dan lingkungan kerja) secara signifikan meningkatkan daya lenting (resiliensi) pekerja dewasa serta memicu perilaku inovatif di lingkungan kerja yang dinamis.                                                                 


ESSAY 9- UJIAN TENGAH SEMESTER

Nama : BRIGITA CELZY DEIVIA
NIM : 23310410111
Mata kuliah : Psikologi Inovasi
Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta M. A


Jika saya sebagai dosen psikologi inovasi saya akan meminta Mahasiswa menganalisis fenomena psikologis konkret di lingkungan sekitar (misalnya: resistensi masyarakat lokal terhadap teknologi baru). AI bisa memberikan teori dasar, tetapi analisis kontekstual dan empati manusia tidak bisa digantikan. Mahasiswa ditantang untuk merancang sebuah program intervensi psikologis atau produk inovatif berskala kecil yang membantu regulasi diri atau adaptasi kelompok tertentu. Di awal semester, kita membuat kesepakatan bersama mengenai Ethical Use of AI. Mahasiswa harus mendeklarasikan di bagian lampiran tugas mereka: "Bagian mana yang dibantu AI, dan apa kontribusi pemikiran asli saya." Kejujuran akademik ini dihargai tinggi. Kita akan banyak membedah bagaimana prinsip Psikologi Inovasi justru sangat relevan untuk menyikapi abad AI ini—bagaimana manusia tetap memegang kendali atas kesadaran, nilai moral, dan empati yang tidak dimiliki oleh algoritma komputer.



Kuliah ke-3 psikologi inovasi- pengangguran di Indonesia (konteks social/sistemik)

Bagian film yang relevan: pertemuan Isaiah dengan pak booker tate di basement gereja. Pak booker Adalah seorang tukang kayu andal selama 31 tahun yang menjadi tunawisama/pengangguran akibat kebangkrutan medis (medical bankrutptcy) setelah istrinya sakit keras

Alasanya : meskipun konteks film berasa di amerika, masalah yang diangkat sangat relevan dengan topik pengangguran, di mana seseorang menjadi tidak produktif bukan selalu karena malas atau tida kompeten, melainkan karena kegagalan sistemik (seperti krisis Kesehatan,ekonomi, atau hilangnya modal kerja). Bagian ini memberikan landasan empati social-bahwa inovasi social dibutuhkan untuk menyelsaikan masalah pengangguran structural seperti yang dialami pak booker

ESSAY 2- BRIGITA CELZY DEIVIA DISONANSI KOGNITIF

 

WAWANCARA DISONANSI KOGNITIF

Nama              : Brigita Celzy Deivia
NIM                : 23310410111
Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta M. A
Mata Kuliah    : Psikologi Inovasi



Dalam tugas wawancara ini saya mewawancara seorang laki-laki berusia 21 Tahun berinisial R, seorang mahasiswi yang menjalani hubungan selama 9 tahun mengalami diselingkuhi berkali kali, namun selalu memaafkan dengan alasan keteulusan, investasi emosi dan keyakinan bahwa pasanganya akan berubah.

"Betul. Kalau aku akuin dia jahat murni, berarti aku mengakui kalau aku bodoh karena bertahan sama orang jahat. Aku gak mau dianggap bodoh. Jadi aku ubah narasinya di kepala aku: 'Aku bukan bodoh, aku hanya seorang penyabar yang sedang berjuang demi cinta'. Itu bikin nyeseknya agak berkurang."

 Berdasarkan hasil wawancara saya menyimpulkan beberapa poin utama mengenai dinamika disonansi kognitif dalam sebuah hubungan yang toxic yaitu subjek mengalami benturan psikologis yang hebat antara aspek kognitif/keyakinan dengan realitas perilau pasanganya. untuk meredakan tekanan mental dan mempertahankan hubunganya subjek melaukan modifikasi atau adaptasi pada cara berpikirnya yaitu dengan cara mencari alasan pembenaran atas kesalahan pasangan yaitu “khilaf” atau menyalahkan diri sendiri karena kurang memberikan apa yang dimau pasanganya.

Subjek terjebak dalam Sunk Cost Fallacy subjek merasa investasi emosi,waktu dan air mata yang telah dikorbankan selama 9 tahun akan menjadi sia-sia jika subjek memutuskan hubungan tersebut

Menurut saya dalam wawancara ini dapat disimpulkan bahwa hubungan toxic memberikan dampak desktruktif yang massif bagi korban. Senada dengan temuan (Forth dkk., 2022)


Daftar Pustaka :

Forth, A., Melamud, R., & McIntyre, C. (2022). Toxic relationships: The experiences and effects of psychopathy in romantic relationships. International Journal of Environmental Research and Public Health, 19(21), Article 14030. https://doi.org/10.3390/ijerph192114030

UTS Psi. Inovasi - Fairus Adhytia S (23310410112) / Dosen: Arundati Shinta (29-05-2026)

Fairus Adhytia Setiawan (23310410112)

Psikologi Inovasi

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta., M.A.

Jum'at, 29 Mei 2026

UJIAN TENGAH SEMESTER

SOAL 1

Perkembangan Artificial Intelligence atau AI memberikan banyak manfaat dalam dunia pendidikan karena membantu mahasiswa memperoleh informasi dengan cepat dan mudah. Namun, penggunaan AI yang berlebihan juga dapat membuat mahasiswa menjadi malas berpikir, kurang kritis, dan terlalu bergantung pada teknologi. Akibatnya, kemampuan analisis, kreativitas, serta tanggung jawab akademik dapat menurun. Hal ini menjadi tantangan serius, mengingat perguruan tinggi bukan hanya tempat transfer ilmu, melainkan juga wadah pembentukan karakter. Oleh karena itu, dosen memiliki peran penting dalam membentuk karakter mahasiswa agar tetap berkembang secara optimal di era AI.

Apabila saya menjadi dosen Psikologi Inovasi, saya akan menanamkan pemahaman bahwa AI hanyalah alat bantu belajar, bukan pengganti kemampuan berpikir manusia. Mahasiswa perlu menyadari bahwa tujuan kuliah bukan sekadar mendapatkan nilai, tetapi juga melatih kemampuan berpikir, menyelesaikan masalah, dan membangun karakter yang baik. Pemahaman ini penting ditanamkan sejak awal perkuliahan agar mahasiswa tidak terjebak dalam pola belajar yang pasif dan instan.

Saya juga akan menggunakan metode pembelajaran yang lebih aktif, seperti diskusi, presentasi, dan refleksi pengalaman pribadi. Metode ini sejalan dengan prinsip pembelajaran konstruktivistik, di mana pengetahuan dibangun secara aktif oleh mahasiswa melalui pengalaman langsung, bukan sekadar menerima informasi. Dengan cara tersebut, mahasiswa akan terdorong untuk berpikir kritis dan menyampaikan pendapatnya sendiri. Selain itu, saya akan memberikan tugas yang lebih dekat dengan kehidupan nyata agar mahasiswa tidak hanya bergantung pada jawaban instan dari AI.

Dalam menghadapi mahasiswa yang terlalu bergantung pada AI, saya tidak akan langsung memberikan hukuman keras. Saya lebih memilih memberikan sanksi yang bersifat mendidik, misalnya meminta mahasiswa menjelaskan kembali hasil pekerjaannya atau memperbaiki tugas dengan analisis pribadi. Pendekatan ini sejalan dengan Permendikbud Nomor 20 Tahun 2018 yang menegaskan bahwa sanksi harus bersifat mendidik, bukan menghukum semata. Menurut saya, pendekatan seperti ini lebih efektif untuk membangun kesadaran dan tanggung jawab akademik.

Selain kemampuan akademik, saya juga akan menanamkan nilai kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab. Karakter yang baik sangat penting karena mahasiswa merupakan calon pemimpin masa depan. AI memang mampu memberikan informasi dengan cepat, tetapi AI tidak memiliki moral, empati, dan hati nurani seperti manusia. Dengan pendidikan karakter yang kuat, mahasiswa tidak hanya menjadi cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki integritas yang dapat diandalkan di tengah masyarakat.


SOAL 2

Pada film yang berjudul "Billionaire Told His 3 Sons To Live On $50 For A Week. Only One Survived. Here's What He Did With It", sedikit pemahaman saya mengenai film tersebut, yaitu menceritakan tiga anak dari keluarga kaya yang diminta untuk bertahan hidup dengan uang yang terbatas selama satu minggu. Film ini menunjukkan bagaimana seseorang menghadapi kesulitan, perubahan, dan tekanan hidup, sehingga film ini dapat dikatakan sangat relevan dengan materi Psikologi Inovasi.

Pendapat singkat saya mengenai hubungan film tersebut dengan materi perkuliahan pertemuan 1 sampai 7:

  • Kuliah ke-2: Membahas tentang output Psikologi Inovasi, individu yang mampu berpikir tenang dan analitis dalam mencari solusi terbukti lebih mudah bertahan, hal ini menggambarkan bahwa kreativitas dan ketangguhan mental adalah hasil nyata dari proses belajar berinovasi.
  • Kuliah ke-3: Membahas pengangguran di Indonesia. Film ini relevan karena menggambarkan tidak mudahnya mencari uang dan bertahan hidup, yang mencerminkan kondisi nyata banyaknya masyarakat yang berjuang mendapatkan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan dasar hidupnya. Banyak orang menginginkan pekerjaan nyaman dengan penghasilan tinggi, tetapi tidak semua mau menghadapi kesulitan dan risiko
  • Kuliah ke-4: Tentang mengatasi pengangguran dengan menjual diri tercermin ketika salah satu tokoh terlihat mencoba membangun relasi dan mempromosikan potensi dirinya untuk mendapat peluang, sebuah keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja. Film ini mengajarkan bahwa seseorang tidak cukup hanya memiliki kemampuan, tetapi harus mampu membangun relasi, percaya diri, dan menunjukkan kualitas dirinya.
  • Kuliah ke-5: Membahas teori keengganan untuk berubah. Pada awal tantangan, beberapa tokoh sulit melepaskan gaya hidup nyaman mereka, yang menggambarkan resistensi alami manusia terhadap perubahan. Pesan penting dari bagian ini adalah bahwa kemampuan menerima perubahan merupakan salah satu kunci keberhasilan hidup di era modern.
  • Kuliah ke-7: Ketika pengalaman hidup sederhana menjadi bekal berharga bagi masa depan mereka, mengajarkan nilai kerja keras, penghargaan terhadap uang, dan ketangguhan dalam menghadapi tantangan. Inilah inti dari materi Back to the Future, yaitu belajar dari pengalaman saat ini untuk membentuk masa depan yang lebih matang dan bijaksana.

Secara keseluruhan, film tersebut mengajarkan pentingnya kemampuan beradaptasi, berpikir kreatif, dan berani menghadapi perubahan. Selain itu, film tersebut juga menunjukkan bahwa kesulitan hidup dapat menjadi proses pembelajaran untuk membentuk karakter yang lebih kuat dan mandiri.


Daftar Pustaka

Permendikbud RI Nomor 20 Tahun 2018 tentang Penguatan Pendidikan Karakter pada Satuan Pendidikan Formal.

Rogers, E. M. (2003). Diffusion of innovations (5th ed.). Free Press.

Santrock, J. W. (2018). Educational psychology (6th ed.). McGraw-Hill Education.


ESAI 9 UJIAN TENGAH SEMESTER

 

ESAI 9 UJIAN TENGAH SEMESTER 

Dosen Pengampu : Dr Arundati sinta, M.A

Nama : Wulandari Purnama Dewi 

NIM    : 23310410119


Jawaban 

Kalau saya jadi dosen Psikologi Inovasi di UP45, jujur saya nggak mau kelasnya isinya ceramah doang. Soalnya sekarang tuh semua serba gampang banget. Ada AI, tinggal ngetik tugas jadi. Tapi kalau terus-terusan gitu, mahasiswa nggak bakal belajar mikir. Padahal kita kan disiapin buat jadi orang yang bisa nyari solusi, bukan cuma bisa nyalin.

Saya bakal pake empat peran yang ada di Permendikbud 20 Tahun 2018. Pertama sebagai inovator. Saya nggak akan ngasih tugas yang jawabannya bisa langsung dicari di internet. Lebih suka ngasih proyek kecil yang harus turun ke lapangan. Misal suruh cari masalah di sekitar kampus, terus mikir cara beresinnya. Boleh kok pakai AI buat cari ide awal, tapi pas ngumpulin harus ada cerita prosesnya. Tadi sempet buntu, terus ngobrol sama penjaga kantin, terus coba bikin prototipe dari kardus. Nah yang kayak gitu yang saya hargai. Biar mereka sadar, proses itu nggak bisa dibohongin.

Kedua sebagai motivator. Saya bakal ngobrol sama tiap mahasiswa di awal semester. Tanya mereka pengen bisa apa di akhir kuliah. Terus tiap 3 minggu kita cek lagi. Kalau gagal ya udah, namanya juga belajar. Yang penting mereka nggak takut nyoba hal baru.

Ketiga sebagai kolaborator. Saya suka bikin kelompok yang isinya campur. Anak psikologi digabung sama anak desain atau manajemen. Biar mereka belajar dengerin orang lain. Soalnya inovasi tuh jarang lahir dari satu orang doang.

Keempat soal sanksi. Kalau ada yang ketahuan full hasil AI tanpa proses, saya nggak bakal langsung kasih nol. Tapi saya minta dia revisi, presentasi ulang di depan kelas, terus nulis refleksi kenapa jujur itu penting. Buat saya itu lebih mendidik. Kita lagi ngajarin mereka jadi pemimpin, bukan cuma ngejar lulus.

Selain itu saya bakal biasain mereka buat nanya terus. Kenapa bisa gini, gimana kalau dicoba gitu, terus apa akibatnya. Tiap minggu juga saya minta nulis jurnal pendek. Isinya cuma tiga, hari ini saya belajar apa, saya bingung bagian mana, minggu depan mau coba apa. Lama-lama mereka kebiasa mikir kritis dan ngatur dirinya sendiri.

Pertemuan 1 pengertian psikologi inovasi. Di awal film ayahnya ngasih tantangan aneh ke tiga anaknya. Hidup seminggu cuma bawa 50 dolar tanpa bantuan. Psikologi inovasi itu ya belajar gimana orang mikir pas dikasih situasi yang nggak biasa. Mau nggak mau mereka harus cari cara baru biar nggak kelaparan.

Pertemuan 2 Output psikologi inovasi. Di akhir minggu keliatan hasilnya. Ada anak yang bisa bertahan, ada yang nyerah di tengah jalan. Berarti inovasi itu bukan cuma soal ide keren di kepala. Harus ada bukti nyata. Kadang berhasil, kadang gagal. Dua-duanya penting buat belajar.

Pertemuan 3 pengangguran di Indonesia. Tiga anak itu keliling kota, ngelamar kerja tapi ditolak terus. Nggak punya kenalan, nggak punya pengalaman. Rasanya mirip banget sama banyak orang di Indonesia yang lagi nganggur. Filmnya nunjukin gimana rasanya cemas, malu, dan bingung pas nggak punya penghasilan.

Pertemuan 4 atasi pengangguran dengan jual diri. Anak yang berhasil itu milih kerja serabutan. Bantuin di dapur, beresin toko, nawarin tenaga. Dia nggak lari ke hal yang ngerusak dirinya sendiri. Jadi dari film ini kita bisa lihat bedanya bertahan dengan harga diri sama bertahan dengan cara yang salah.

Pertemuan 5 teori ke engganan untuk berubah. Dua anak yang gagal itu keliatan gengsi. Malu kerja kasar, ngerasa nggak cocok. Akhirnya nyerah. Itu contoh orang yang nggak mau berubah padahal keadaannya udah mepet. Mereka masih kejebak di zona nyaman sebagai anak orang kaya.

Pertemuan 6 kesediaan berubah vs kesibukan bekerja atau belajar. Anak yang berhasil itu emang sibuk, tapi yang bikin beda dia mau berubah. Hari pertama gagal, hari kedua dia ganti cara. Dia dengerin saran orang, terus coba lagi. Jadi sibuk doang nggak cukup. Harus ada kemauan buat berubah dulu baru kerja kerasnya ada hasil.

Pertemuan 7 back to the future.  Di akhir ayahnya ngumpulin anak-anaknya dan ngomongin pelajaran dari seminggu itu. Pengalaman pahit manis itu jadi bekal buat masa depan mereka. Anak yang berhasil sadar kalau kerja keras, tanggung jawab, sama jujur itu investasi jangka panjang. Jadi tindakan kita hari ini tuh nentuin kita nanti jadi apa.


ESSAY 1- BRIGITA CELZY DEIVIA (23310410111)MERIVEW JURNAL MOTIVASI

 


 
"PENGARUH MOTIVASI KERJA TERHADAP PERILAKU INOVATIF KARYAWAN"


NAMA        : BRIGITA CELZY DEIVIA
NIM             : 23310410111
MATA KULIAH : PSIKOLOGI INOVASI
DOSEN PENGAMPU : Dr. Arundati Shinta, M.A


Topik

Pengaruh praktik berbagi pengetahuan (Knowledge sharing) dan jenis motivasi kerja  (ekstrinsik dan intrinsic) terhadap pembentukan perilaku inovatif karyawan.

Sumber

(Anggraini & Mansyur, 2024). Pengaruh Motivasi Kerja terhadap Perilaku Inovatif Karyawan. Oikonomia: Jurnal Manajemen, 20(1), 43-56. http://dx.doi.org/10.47313/oikonomia.v20i1.3046

permasalahan

Meskipun literatur menunjukan bahwa berbagai pengetahuan berkorelasi kuat dengan perilaku inovatif, mekanisme atau alasan bagaimana proses tersebut mendorong perilaku kerja inovatif secara spesifik masih kurang jelas,disamping itu, pada konteks khusus di sekolah menengah kejuruan (SMK) 1 semaraang yang berbasis Teknik, terdapat kesulitan tersendiri dalam mengintegrasikan informasi dan insentif kerja secara efektif untuk menciptakan lingkungan belajar yang kreatif bagi siswa

Tujuan penelitian

Untuk mengeksplorasi lebih jauh mekanisme yang mendasari hubungan antara berbagi pengetahuan inovatif terhadap perilaku inovatif seseorang. Secara spesifik, untuk mengetahui dan menguji pengaruh dari variable berbagi pengetahuan, motivasi ekstrinsik, dan motivasi intrinsic terhadap perilaku inovatif para guru di SMK N 1 semarang

isi

Berbagi pengetahuan (Knowledge Sharing) Tindakan saling menukar informasi,ide,gagasan dan pengalaman (baik berupa pengetahuan eksplisit maupun tacit) guna meningkatkan pemahaman kolektif dan kemampuan inovatif organisasi. Motivasi kerja dibagi menjadi dua dimensi, motivasi ekstrinsik dengan dorongan kerja yang bersumber dari luar individu, seperti imbalan finansial,barang,pujian, atau system penghargaan. Motivasi intrinsic dengan dorongan yang berasal dari kepuasan internal,minat pribadi, rasa percaya diri, serta tantangan dalam tugas yang dijalankan. Perilaku inovatif Tindakan kesengajaan individu untuk menviptakan, mengenalkan, dan menerapkan ide-ide baru yang berguna bagi kelompok atau organisasi

Metode penelitian

Menggunakan metode pendekatan penelitian kuantitatif mengugnakan data primer. Menggunakan populasi & sampel seluruh guru SMKN 1 semarang, pengambilan sampel menggunakan Teknik Purpossive sampling dengan jumlah 104 responden.

Kriteria sampel usia minimal 20 tahun, Pendidikan minimal SMK/SMA dan masa kerja minimal 1 Tahun. Dengan penyebaran data kuesioner

Teknik analisis data menggunakan perangkat lunak SPSS untuk menguji intrumen uji validitas,uji realibilitas serta analisis regresi linier berganda untuk uji hipotesis

Hasil 

Karakteristik responden mayoritas berjenis kelamin laki-laki 56 orang, berstatus menikah (80 orang), berusia diatas 30-40 tahun (76 orang), berpendidikan terakhir S1 (90 orang), dengan lama bekerja 1-5 tahun (83 orang). Uji model nilai adjusted R Square sebesar 0,261 dengan nilai signifikan F sebesar 0,000. Artinya, variasi dari gabungan variable independent mampu menjelaskan perilau inovasi guru sebesar 26,1%.

Diskusi

Berbagi pengetahuan ditemukan tida berpengaruh signifikan terhadap perilaku inovatif dalam penelitian ini. Hal ini diduga terjadi karena adanya pengaruh perbedaan konteks organisasi serta karakteristik individu yang memoderasi hubungan kedua varibael tersebut namun tidak diperhitungkan secara ketat dalam penelitian

Kesimpulan

 

Penelitian ini menyimpulkan bahwa secara parsial, berbagi pengetahuan dan motivasi ekstrinsik tida memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perilaku inovatif guru di SMKN 1 semarang, sebaliknya, motivasi intrinsic memiliki pengaruh positif dan signifikan yang kuat terhadap perilaku inovatif mereka.