17.5.26

Essay 2 - Psikologi Inovasi : Wawancara tentang Disonansi Kognitif - Ainun Awanda Frisca (24310430013)

Disonansi Kognitif Tenaga Kesehatan terhadap Perilaku Merokok 

Nama : Ainun Awanda Frisca

NIM : 24310430013

Mata Kuliah : Psikologi Inovasi

Esai 2

Wawancara tentang Disonansi Kognitif

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A

Mei 2026

Leon Festinger memperkenalkan Cognitive Dissonance Theory (CDT) pada tahun 1957 sebagai salah satu teori penting dalam psikologi sosial yang menjelaskan proses perubahan sikap dan perilaku individu. Teori ini menjelaskan bahwa seseorang akan merasakan ketidaknyamanan secara psikologis ketika terdapat ketidaksesuaian antara keyakinan, sikap, dan perilaku yang dimilikinya. Teori ini tetap dipandang relevan hingga saat ini karena mampu menjelaskan berbagai fenomena modern, seperti perilaku konsumsi media, kebiasaan kesehatan, dan proses pengambilan keputusan dalam bidang ekonomi.

Pada 28 April 2026, saya berkesempatan melakukan wawancara dengan seorang perawat berinisial SA yang berusia 35 tahun dan bekerja di salah satu rumah sakit swasta di Yogyakarta. SA telah bekerja di rumah sakit tersebut sejak tahun 2018. Dalam aktivitas sehari-harinya, SA menjalankan tanggung jawab profesional yang besar terkait pelayanan dan kesehatan pasien. SA juga memahami pentingnya menerapkan pola hidup sehat, baik untuk dirinya sendiri maupun sebagai teladan bagi pasien yang dirawatnya. Saat saya menanyakan apakah SA memiliki kebiasaan merokok, SA menjawab, “Ya, saya biasanya merokok setelah pulang kerja. Saya akan berhenti di suatu tempat beberapa kilometer dari rumah sakit untuk merokok terlebih dahulu.” SA kemudian menceritakan bahwa kebiasaan merokok mulai muncul sekitar tahun 2020. Awalnya, kebiasaan tersebut bukan berasal dari keinginan pribadi, melainkan dipengaruhi oleh lingkungan pergaulan di tempat kerja. SA mengaku mulai mencoba merokok karena mengikuti rekan-rekan kerjanya saat waktu istirahat. Pada awalnya hanya sebatas mencoba, namun seiring waktu kebiasaan itu berkembang hingga menjadi sulit dihentikan.

SA menyadari sepenuhnya bahwa merokok memiliki dampak negatif bagi kesehatan. SA juga merasa ada konflik batin karena perilaku tersebut tidak sejalan dengan nilai-nilai profesinya. Sebagai seorang perawat, SA mengatakan “saya sebagai nakes saat melakukan edukasi selalu saya katakan pada pasien jika kecanduan merokok seperti saya akan sulit berhenti.” Namun di sisi lain ia sendiri masih melakukannya. Hal ini menimbulkan rasa bersalah dan ketidaknyamanan dalam dirinya. Adanya faktor ketergantungan, baik secara fisik maupun psikologis, yang membuatnya kesulitan untuk berhenti. Selain itu, lingkungan kerja yang masih memiliki rekan-rekan perokok juga menjadi tantangan tersendiri. SA merasa bahwa kebiasaan tersebut sudah menjadi bagian dari rutinitas, terutama saat menghadapi stres atau kelelahan setelah bekerja. Di sisi lain, terdapat keinginan yang kuat dalam dirinya untuk berhenti merokok “saat badan tidak enak ada keinginan untuk berhenti merokok, dan bahkan jauh dalam lubuk hati setelah satu bungkus ini habis saya akan berhenti merokok namun, kenyataannya masih tetap membeli merokok”. SA menyadari bahwa perubahan perlu dilakukan demi kesehatan jangka panjang dan integritas sebagai tenaga medis. SA juga menyatakan kesediaannya untuk berhenti jika menemukan cara yang tepat dan efektif.

Dari hasil wawancara ini menunjukkan adanya konflik antara pengetahuan, tanggung jawab profesional, dan kebiasaan pribadi. Meskipun terjebak dalam kebiasaan merokok, perawat tersebut memiliki kesadaran diri yang baik serta motivasi untuk berubah. Hal ini menjadi titik awal yang penting dalam proses berhenti merokok, terutama jika didukung dengan strategi yang sesuai dan lingkungan yang mendukung.



Festinger, L. (1957). A theory of cognitive dissonance. Stanford University Press.

Yusron, K., M., Fasya, L., H., B, J., A., K., & Nurindah, S. (2025). Analisis Bibliometrik Terhadap Cognitive Dissonance Theory pada Bidang Ilmu Sosial Tahun 2016 - 2025. Jurnal Sarjana Ilmu Komunikasi, 6(2), 290-312. https://jurnal.umb.ac.id/index.php/jsikom/article/view/9198







ESSAI 4 - MY BEST COPING BEHAVIOR (PSIKOLOGI INOVASI)

 MIMPI YANG TIDAK PERNAH SAYA RELAKAN


Nama : Devi Nur Hasanah

NIM : 23310410117

Mata Kuliah : Psikologi Inovasi 

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta M.A.




Pada tahun 2018, saat duduk di bangku kelas XII SMA, saya berhasil mendapatkan tiga beasiswa. Seharusnya itu menjadi salah satu momen paling membahagiakan dalam hidup saya. Namun, di balik ucapan selamat dari teman-teman dan harapan untuk melanjutkan pendidikan, saya justru harus menerima kenyataan pahit. Kedua orang tua saya menolak semua beasiswa tersebut karena mereka meyakini bahwa perempuan tidak perlu menempuh pendidikan tinggi maupun membangun karier. Menurut mereka, perempuan yang baik seharusnya belajar memasak dan mempersiapkan diri menjadi istri serta ibu rumah tangga.

Pada saat itu saya merasa hidup sangat tidak adil. Saya percaya bahwa dukungan keluarga adalah hal mendasar yang seharusnya dimiliki setiap anak, tetapi justru itu menjadi sesuatu yang sangat sulit untuk saya dapatkan. Saya merasa sedih, marah, kecewa, dan kehilangan harapan. Saya sudah berusaha meyakinkan orang tua hingga batas akhir penerimaan beasiswa, tetapi keputusan mereka tidak berubah. Saya mengurung diri di kamar selama beberapa waktu dan merasa kehilangan arah terhadap masa depan saya sendiri.

Seiring berjalannya waktu, pada April 2019 saya memutuskan untuk mengikuti kursus Bahasa Inggris di Pare, Kediri. Walaupun harus melalui perdebatan panjang, akhirnya orang tua saya mengizinkan. Beberapa bulan kemudian saya kembali mencoba mengikuti tes beasiswa di salah satu kampus swasta di Surabaya, namun saya belum berhasil lolos. Saat melihat teman-teman seangkatan mulai menjalani kehidupan perkuliahan, saya kembali merasa iri dan mempertanyakan mengapa hidup saya terasa jauh lebih sulit dibandingkan mereka.

Namun perlahan saya mulai menyadari bahwa terus menyalahkan keadaan tidak akan mengubah apapun. Saya tidak dapat mengubah keputusan orang tua pada masa lalu, tetapi saya masih dapat menentukan masa depan saya sendiri. Dari yang awalnya lebih banyak menggunakan emotional coping dengan mengurung diri dan meratapi keadaan, saya mulai beralih menggunakan problem-focused coping dengan mencari solusi nyata. Pada tanggal 16 Juni 2019, saya memutuskan pindah dari Sidoarjo ke Yogyakarta untuk bekerja dan mengumpulkan uang agar dapat melanjutkan kuliah dengan hasil kerja keras saya sendiri. Saya ingin membuktikan bahwa saya tetap bisa memperjuangkan mimpi saya meskipun harus melalui jalan yang berbeda.

Perjalanan tersebut tidak mudah. Saya pernah merasa lelah, kehilangan semangat, bahkan sempat berpikir untuk menyerah dan hanya fokus bekerja. Namun ternyata mimpi itu tidak pernah benar-benar saya relakan, mimpi itu tetap ada di hati saya. Pada tanggal 16 Februari 2024, saya akhirnya mantap melanjutkan kuliah dan memilih Program Studi Psikologi di Universitas Proklamasi 45. Saya memilih kelas karyawan sambil tetap bekerja. Meskipun jalan yang saya tempuh berbeda dari apa yang dulu saya bayangkan, saya merasa bangga karena mampu memperjuangkannya dengan kemampuan saya sendiri.

Pengalaman pahit tersebut tidak membuat saya menyerah, tetapi justru memahat saya menjadi pribadi yang lebih kuat, mandiri, dan berani memperjuangkan mimpi saya sendiri.

16.5.26

Esai 4 - My Best Coping Behavior

PSIKOLOGI INOVASI

Esai 4 - My Best Coping Behavior

 

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A

Nama : Annisa Septiana Putri

NIM : 23310410108

 





Fakultas Psikologi

Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta



 

2026

 

 

Setiap orang pasti pernah mengalami stres atau tekanan dalam hidupnya. Menurut saya, coping behavior adalah cara seseorang menghadapi masalah agar tidak terlalu terbebani secara mental maupun emosional. Coping behavior yang baik penting dimiliki supaya seseorang bisa tetap berpikir tenang dan tidak melampiaskan stres dengan cara yang negatif. Dengan adanya coping behavior yang tepat, seseorang dapat mengelola emosinya dengan lebih baik saat menghadapi situasi yang sulit. Menurut Alex Sobur (2013), setiap individu memiliki cara yang berbeda dalam menyesuaikan diri dan menghadapi tekanan hidup sesuai dengan kondisi psikologisnya masing-masing.

 

Saya sendiri sering merasakan stres sejak menjadi ibu sekaligus menjalani kuliah. Kadang tugas menumpuk, badan lelah karena harus mengurus bayi, dan waktu istirahat juga menjadi berkurang. Dalam kondisi seperti itu, saya sering merasa kewalahan karena harus menjalankan beberapa peran sekaligus. Jika tidak dikelola dengan baik, tekanan tersebut bisa membuat saya merasa mudah marah, cemas, dan kehilangan motivasi.

 

Untuk menghadapi kondisi tersebut, saya mencoba melakukan coping behavior yang menurut saya cukup membantu, seperti menenangkan diri terlebih dahulu agar pikiran tidak semakin kacau. Biasanya saya memilih mendengarkan musik, beristirahat sejenak ketika bayi tidur, atau melakukan hal kecil yang saya sukai agar suasana hati menjadi lebih baik. Hal sederhana seperti itu ternyata cukup membantu saya untuk kembali tenang dan berpikir lebih jernih.

 

Selain itu, saya juga belajar mengatur prioritas. Saya mencoba mengerjakan tugas sedikit demi sedikit sesuai kemampuan dan tidak memaksakan diri untuk menyelesaikan semuanya dalam waktu yang bersamaan. Saya juga belajar menerima bahwa saya tidak harus selalu sempurna dalam menjalani semua peran. Ketika merasa terlalu lelah, saya mencoba meminta bantuan pasangan atau keluarga untuk membantu menjaga bayi. Menurut saya, meminta bantuan bukan berarti lemah, tetapi salah satu bentuk coping behavior yang sehat.

 

Dari pengalaman tersebut, saya memahami bahwa best coping behavior adalah kemampuan seseorang untuk menghadapi masalah dengan cara yang sehat, positif, dan realistis. Dengan coping behavior yang baik, seseorang dapat lebih tenang dalam menghadapi tekanan, menjaga kesehatan mental, dan lebih mudah menemukan solusi atas masalah yang dihadapi. Menurut saya, kemampuan ini sangat penting agar seseorang tetap kuat dalam menjalani berbagai tantangan hidup.

 

Daftar Pustaka

 

Alex Sobur. (2013). Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia.

15.5.26

ESAI 3A & 3B _ SULASTRI

 

Menjadi Suri Tauladan

Sulastri  (23310410122)

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta,M.A.

April 2026



Dalam tugas ini saya akan memberikan 2 tips tentang motivasi diri yang saling berhubungan dengan kegiatan dan pekerjaan saya saat ini. Yaitu tips kegigihan dalam menggapai cita – cita menjadi Guru.

akan menjadi Guru TK islam. Dan mulai  saat itu saya melihat anak – anak Tk yang selalu lucu dan dalam kehidupanya selalu ceria, menangis dan bermain. Kemudian saya mulai belajar sungguh -sungguh hingga saya menjadi juara umum di kelas 6. Setelah itu saya mulai melanjutkan masuk di Mts yang memiliki tambahan pelajaran tentang keislaman harapanya ilmu agama saya semakin bertambah. Dan sekolah ini saya masih mempertahankan belajar saya supaya saya selalu bisa memiliki nilai yang baik untuk bekal masuk ke sekolah lanjutan.Alhamdulillah selama Di Mts semakin baik dan selalu mendapatkan rinking dan di sini saya mulai menambah ilmu dengan ikut organisasi OSIS dan Organisasi Drumband. Dan kebetulan saya terpilih menjadi Mayoret karena tinggi badanya saya 163 cm saat itu. Setelah dari Mts, ternyata jalan saya tidak begitu mulus, biarpun nilai saya bagus di ijazah namun cita – cita saya masuk di SMK Negeri tidak bisa karena di sana awal masuk harus membayar saat itu 2 juta. Dam Qodarullah, ayah dan ibu saya tidak memiliki uang sebanyak itu, kemudian saya memutuskan untuk masuk di sekolah Swasta yang bisa di cicil, dan seragamnya gratis. Karena di sekolah SMK Swasta saya tidak ada jurusan yang saya pilih, saya memutuskan untuk mengambil kejuruan Busana Butik, dengan Harapan jika nanti saya tidak bisa menjadi Guru saya bisa membuka Usaha Jahit dengan ilmu yang saya ambil. Disini saya menambah organisasi tonti dan saya tetap mempertahankan peringkat, dan Alhamdulillah saya mendapatkan juara Umum di SMK. Karena saya sudah pernah mengikuti berbagai organisasi maka saya Ketika kelulusan di tawari untuk masuk di kepolisian, namun Qodarullah mungkin karena cita – cita saya buka polwan tetapi guru, Allah tidak meridhoi saya masuk kepolisian, saya harus gagal di tengah jalan pada saat Tes fisik.

Disini akhirnya saya melanjutkan kerja ke pabrik karena mau kuliah juga tidak ada biaya, dan harapan saya menjadi guru sepertinya sudah tidak di usahakan lagi dan sempat down, kemudian saya bertekad kerja di pabrik uangnya saya kumpulkan untuk bisa kuliah, namun Allah lebih dulu mengirimkan saya pasangan hidup, sehingga uang yang harusnya untuk kuliah saya gunakan untuk menikah. Dan diawal menikah saya memutuskan untuk resign dari pabrik karena tidak ada skill yang saya dapatkan. Dan Alhamdulillah Ketika saya hamil, saat itu juga teman saya menawari saya untuk mencoba bekerja menjadi guru pocokan untuk menggantikan guru yang cuti melahirkan selama 3 bulan di TK Islam di Jogja. Kemudian saya terima dari situ sepertinya cita – cita saya menjadi guru TK semakin dekat dan terlihat. Kemudian saya ikhtiari untuk selalu bangun pagi sholat tahajud, puasa senin – kamis, supaya harapan dan doa – doa saya untuk bisa menjadi guru tercapai. Dan Alhamdulillah setelah 3 bulan saya diangkat menjadi guru GTT. Dan sampai sekarang sudah mengajar 7 Tahun, dan bisa sambil Kuliah dg uang sendiri.

Disini saya berpesan, Ketika teman – teman memiliki cita – cita yang mulai jangan pernah menyerah dan terus beruasah untuk bisa dan yakin menggapai cita – cita tersebut. Karena Allah itu pasti akan memudahkan jalan Hambanya yang bersungguh – sungguh dalam meraih kebaikan. Dan Ketika cita – cita itu tercapai syukuri dan jangan sombong terhadap pencapaian diri karena hal itu bukan karena kehebatan kita tapia da doa dari orang sekitar kita, seperti orang tua dan teman – teman yang selalu mendukung kita, jadi tetap tawaduk dan tetap focus untuk selalu lebih baik lagi dan berani mencoba tantangan atau hal – hal baru.

Link youtube :

Tips kegigihan menggapai cita – cita dan kata motivasi untuk terus bangkit dan bertumbuh.

https://youtu.be/1zrBrsiDvoM

https://youtu.be/-EW0-4ek2o4

Esai 2 - Wawancara Tentang Disonasi Kognitif

 PSIKOLOGI INOVASI

ESAI 2 - Wawancara Tentang Disonasi Kognitif

Disonansi Kognitif Pada Perokok Aktif

 




Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A

Nama : Annisa Septiana Putri

NIM : 23310410108


 




Fakultas Psikologi

Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta




2026

 

Disonansi kognitif merupakan kondisi ketika seseorang memiliki dua pemikiran atau keyakinan yang bertentangan, tetapi tetap mempertahankan perilaku yang dilakukannya. Menurut Harmon-Jones dan Mills (2019), disonansi kognitif merupakan kondisi ketika individu cenderung mencari pembenaran diri untuk mengurangi ketidaknyamanan akibat pertentangan antara pengetahuan dan perilaku yang dilakukan. Dalam kehidupan sehari-hari, salah satu contoh yang sering ditemukan adalah perilaku merokok. Banyak perokok mengetahui bahwa rokok berbahaya bagi kesehatan, tetapi tetap melanjutkan kebiasaan tersebut dengan berbagai alasan pembenaran diri. Oleh karena itu, saya melakukan wawancara terhadap seorang perokok aktif untuk memahami bentuk disonansi kognitif yang dialami.

 

Wawancara dilakukan kepada subjek berinisial DR, seorang laki-laki berusia 29 tahun yang mulai merokok sejak usia 16 tahun akibat pengaruh pergaulan masa muda. Dalam sehari, subjek bisa menghabiskan rokok setengah bungkus hingga satu bungkus tergantung situasi yang dihadapi. Subjek mengaku paling sering merokok ketika sedang banyak pikiran karena menurutnya merokok dapat membuat perasaan menjadi lebih lega.

 

Subjek sebenarnya mengetahui dampak buruk merokok bagi kesehatan, terutama kerusakan paru-paru. Informasi tersebut diperoleh dari internet maupun dokter secara langsung. Namun, subjek tidak sepenuhnya percaya bahwa merokok merupakan penyebab utama penyakit serius. Ia mengatakan bahwa penyakit juga bisa berasal dari pikiran, bahkan menurutnya banyak orang lanjut usia yang tetap sehat walaupun merokok. Pernyataan tersebut menunjukkan adanya mekanisme pembenaran diri untuk mengurangi rasa tidak nyaman akibat pertentangan antara pengetahuan dan perilaku yang dilakukan.

 

Bentuk disonansi kognitif juga terlihat ketika subjek mengaku tetap merasa biasa saja meskipun mengetahui rokok berbahaya. Ia merasa dampak rokok dapat dikurangi dengan olahraga dan minum air putih yang cukup. Selain itu, subjek juga menyatakan bahwa merokok dapat membantu mengurangi beban pikiran yang menumpuk. Pernyataan seperti merokok benar-benar membantu mengurangi beban pikiran” menjadi alasan utama subjek tetap mempertahankan kebiasaan tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat Harmon-Jones dan Mills (2019) bahwa individu akan berusaha mencari pembenaran agar tetap merasa nyaman dengan perilaku yang dilakukan.

 

Walaupun demikian, subjek masih memiliki rasa khawatir terhadap dampak asap rokok bagi orang lain, terutama anak kecil. Ia mengaku tidak merokok ketika berada di dekat anak-anak karena takut asap rokok bisa menyebabkan penyakit. Hal ini menunjukkan bahwa subjek memahami adanya bahaya rokok, tetapi belum memiliki keinginan kuat untuk berhenti sepenuhnya. Subjek hanya ingin mengurangi intensitas merokok karena merasa kebiasaan tersebut sudah melekat dalam dirinya dan sulit dihentikan.

 

Berdasarkan hasil wawancara, dapat disimpulkan bahwa subjek mengalami disonansi kognitif. Subjek mengetahui bahaya merokok, tetapi tetap melakukannya dengan berbagai bentuk pembenaran diri, seperti menganggap rokok dapat mengurangi stres dan merasa dampaknya dapat diseimbangkan dengan pola hidup sehat. Kondisi ini menunjukkan bahwa individu sering kali sulit berubah karena lebih memilih mempertahankan kenyamanan perilaku lama dibandingkan menghadapi ketidaknyamanan untuk berubah.

 

Daftar Pustaka

 

Harmon-Jones, E., & Mills, J. (2019). An Introduction to Cognitive Dissonance Theory and an Overview of Current Perspectives on the Theory. DOI: 10.1037/0000135-001

13.5.26

Essay 4: Cholifahtun Pratista D- 23310410120

 

ESSAY 4 : MY BEST COPING BEHAVIOR

Dosen Pengampu: Dr., Dra. Arundati Shinta, MA.

 

 

Nama: Cholifahtun Pratista Dewi

NIM: 23310410120

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

2026

 

Pada bulan Februari 2021, saya mengalami salah satu peristiwa yang paling berat dan menyakitkan dalam hidup saya. Saat itu saya sedang berjuang mengikuti tes mendaftar pekerjaan, yang merupakan cita-cita besar saya sejak lama. Menjadi seorang polisi wanita adalah impian yang ingin saya wujudkan karena saya ingin membanggakan kedua orang tua saya, terutama ayah saya yang selalu mendukung dan memberi semangat dalam setiap langkah hidup saya. Saya sudah mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh, baik secara fisik maupun mental, karena saya tahu proses seleksinya tidak mudah.

Namun, di tengah perjuangan tersebut, saya mendapat kabar bahwa ayah saya mengalami kecelakaan. Saat mendengar kabar itu, saya benar-benar merasa dunia saya seperti berhenti sejenak. Saya sangat terkejut, panik, sedih, dan tidak bisa berpikir dengan tenang. Pikiran saya langsung tertuju pada kondisi ayah. Saya merasa takut kehilangan beliau karena ayah adalah sosok yang sangat penting dalam hidup saya. Beliau bukan hanya kepala keluarga, tetapi juga tempat saya bercerita, meminta nasihat, dan mendapatkan kekuatan.

Situasi itu membuat saya mengalami stres yang cukup berat. Di satu sisi, saya harus tetap fokus menjalani tes yang sudah saya persiapkan sejak lama. Di sisi lain, hati dan pikiran saya selalu tertuju pada kondisi ayah yang sedang dirawat. Saya sering merasa cemas, sulit tidur, mudah menangis, dan tidak bersemangat menjalani aktivitas sehari-hari. Bahkan saya sempat berpikir untuk menyerah dan berhenti mengikuti tes karena merasa tidak sanggup menghadapi semuanya sekaligus.

Tetapi setelah saya pikirkan kembali, saya sadar bahwa menyerah bukanlah solusi. Saya yakin ayah saya juga tidak ingin melihat saya berhenti di tengah jalan. Dari situ saya mulai mencoba bangkit dan mengatur diri saya dengan menggunakan coping behavior yang paling membantu saya, yaitu problem focused coping dan emotional coping.

Problem focused coping saya lakukan dengan cara tetap menjalani tes secara maksimal sambil berusaha membantu keluarga dan menjaga ayah. Saya mencoba mengatur waktu sebaik mungkin antara belajar, latihan fisik, dan menemani keluarga. Saya tetap berusaha disiplin, menjaga kesehatan, dan tidak membiarkan kesedihan menghancurkan fokus saya. Saya juga aktif mencari informasi tentang kondisi ayah agar saya tidak terlalu larut dalam kecemasan yang berlebihan.

Selain itu, saya juga menggunakan emotional coping untuk menenangkan diri secara emosional. Saya lebih banyak berdoa, mendekatkan diri kepada Tuhan, dan berusaha menerima bahwa setiap manusia pasti diuji dengan cara yang berbeda. Saya mencoba berpikir positif bahwa semua ini pasti ada hikmahnya. Saya juga sering berbicara dengan ibu dan keluarga agar beban pikiran saya terasa lebih ringan. Dukungan dari mereka membuat saya merasa lebih kuat dan tidak sendirian menghadapi keadaan sulit ini.

Hari yang paling saya tunggu akhirnya datang, yaitu hari pengumuman hasil tes. Saat itu saya dinyatakan diterima, dan pada waktu yang hampir bersamaan kondisi ayah saya juga mulai membaik hingga akhirnya sembuh. Perasaan saya saat itu benar-benar campur aduk antara bahagia, haru, lega, dan syukur. Saya merasa semua perjuangan, air mata, rasa takut, dan stres yang saya alami akhirnya terbayar dengan hasil yang indah.

Dari peristiwa ini, saya belajar bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana, tetapi kita harus tetap kuat menghadapinya. Saya juga belajar bahwa stres bukan akhir dari segalanya, melainkan bagian dari proses pendewasaan diri. Coping behavior yang baik sangat membantu saya untuk tetap bertahan dan bangkit. Saya semakin memahami bahwa keluarga adalah sumber kekuatan terbesar dalam hidup saya. Pengalaman ini akan selalu saya ingat sebagai pelajaran berharga bahwa selama kita berusaha, berdoa, dan tidak menyerah, selalu ada jalan terbaik yang Tuhan siapkan.

 

Essay 2- Cholifahtun Pratista D- 23310410120

 

ESSAY 2 : WAWANCARA DISONANSI KOGNITIF DENGAN PEROKOK BERINISIAL “Y”

 

Dosen Pengampu: Dr., Dra. Arundati Shinta, MA.

 

 

Nama: Cholifahtun Pratista Dewi

NIM: 23310410120

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

2026

 

Disonansi kognitif merupakan kondisi ketika seseorang memiliki dua pemikiran atau sikap yang bertentangan, namun tetap mempertahankan perilaku tertentu. Dalam wawancara ini, saya mewawancarai seorang laki-laki berinisial Y yang merupakan seorang perokok aktif. Y mengetahui bahwa merokok dapat menyebabkan berbagai penyakit berbahaya seperti gangguan paru-paru, jantung, dan penurunan kesehatan tubuh. Namun, ia tetap melakukan kebiasaan tersebut setiap hari. 

Y mengaku mulai merokok sejak masa sekolah atau (SMP) karena pengaruh lingkungan pertemanan. Menurutnya, merokok membuat dirinya merasa lebih tenang ketika menghadapi tekanan pekerjaan dan masalah pribadi. Dalam wawancara, Y mengatakan, “Saya tahu rokok itu bahaya, tapi kalau tidak merokok saya malah merasa tidak tenang dan sulit fokus.” Pernyataan tersebut menunjukkan adanya pertentangan antara pengetahuan yang dimiliki dengan perilaku yang tetap dilakukan.

Selain itu, Y juga berusaha membenarkan perilakunya dengan berbagai alasan. Ia merasa bahwa banyak orang yang merokok tetap dapat hidup sehat dalam waktu lama. Y juga mengatakan bahwa dirinya belum merasakan dampak serius akibat merokok sehingga ia merasa masih aman untuk terus melanjutkan kebiasaan tersebut. Hal ini merupakan bentuk mekanisme pertahanan diri berupa rasionalisasi, yaitu mencari alasan untuk membenarkan tindakan yang sebenarnya bertentangan dengan pengetahuan yang dimiliki.

Sepenggal kalimat dari hasil wawancara yang menunjukkan alasan Y tetap merokok adalah: “Saya tetap merokok karena rokok bisa membuat saya rileks dan membantu mengurangi stress saat ada pikiran dan saat bekerja”.

Dari hasil wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa Y mengalami disonansi kognitif karena ia memahami bahaya rokok, tetapi tetap mempertahankan kebiasaan merokok. Kondisi ini membuat Y menciptakan berbagai alasan agar dirinya merasa nyaman dengan perilaku tersebut. Disonansi kognitif yang dialami Y menunjukkan bahwa pengetahuan saja tidak selalu cukup untuk mengubah perilaku seseorang. Faktor kebiasaan, lingkungan, dan kondisi emosional juga memiliki pengaruh besar terhadap keputusan individu.

 

Daftar Pustaka

Festinger, L. (1957). A Theory of Cognitive Dissonance. Stanford University Press.