Fairus Adhytia Setiawan
23310410112 (Kelas Karyawan)
Psikologi Inovasi
Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta., M.A.
Juli 2026
Fairus Adhytia Setiawan
23310410112 (Kelas Karyawan)
Psikologi Inovasi
Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta., M.A.
Juli 2026
Nama : Ali Imron
NIM : 23310410123
Kelas : Kariawan
Mata Kuliah : Psikologi Inovasi
Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.
Tugas : ESAI 7 – LAKUKAN PERUBAHAN DIRI
Pada awal perkuliahan psikologi inovasi ibu dosen memberikan tugas untuk melaksanakan olahraga, boleh berjalan, berlari, berenang, sepedaan, atau orahraga lain yang bisa di ukur menggunakan strava atau alat ukur kegiatan yang lain. Hal ini mungkin menjadi hal yang kurang menyenangkan bahkan menyiksa bagi mahasiswa lain, namun bagi saya ini kegiatan yang paling sesuai, karena saya orang yang suka berolahraga. tidak ada tugas inipun saya rutin melaksanakan olahraga, jadi saya akan dengan senang hati dalam melaksanakannya.
pada tugas ini saya memilih berlari sebagai olahraga yang akan saya lakukan penilaian. saya memilih orahraga ini karena saya rutin melakukannya. berlari bagi saya bukan hanya sekedar olahraga, namun juga sarana bagi saya untuk meluapkan energi saya dengan cara yang positif, hal ini juga saya lakukan untuk mereset otak saya untuk bisa segar lagi dari melakukan sibuknya pekerjaan kantor saya.
pada awalnya saya memulai dengan waktu 1 jam full berlari santai, target saya dengan waktu yang sama jarak yang saya tempuh harus tambah, jadi dapat kita lihat pada data hasil kegiatan yang saya lakukan di awal pelaksanaan dengan waktu 1 jam saya bisa mendapatkan jarak 5, 5 Km Hal ini rutin saya lakukan sesuai instruksi ibu dosen harus dilakukan selama 10 minggu namun saya melaksanakannya selama 12 minggu. saya berusaha menanbah jarak secara konsisten, jadi pada minggu ke 12 pelaksanaan dengan waktu 1 jam lebih saya mendapatkan jarak 10 Km.
Selain dari pada penambahan jarak yang saya dapat, kondisi fisik saya juga tetap terjaga terbukti badan rasanya lebih enteng untuk beraktivitas, pola makan dan pola tidur saya juga lebih teratur karena sisa energi saya sudah dapat tersalurkan dengan baik, selain itu pikiran dan hati rasanya lebih rileks setelah melaksanakan lari, jadi ini juga berdampak baik pada kesehatan mental saya.
Tugas mata kuliah Psikologi Inovasi untuk berolahraga secara terukur selama sepuluh minggu ini menjadi ruang penyaluran yang sangat tepat dan menyenangkan bagi saya yang memang gemar berlari. Melalui komitmen satu jam berlari santai secara rutin, saya tidak hanya berhasil menjaga konsistensi fisik dari awal penugasan hingga minggu kesepuluh, tetapi juga merasakan dampak positif yang luar biasa bagi kehidupan sehari-hari. Secara fisik, tubuh saya terasa jauh lebih bugar dan enteng untuk beraktivitas, yang secara otomatis ikut memperbaiki pola makan serta keteraturan tidur saya. Lebih dari itu, berlari di tengah padatnya kesibukan pekerjaan kantor terbukti menjadi sarana koping yang efektif untuk merilis ketegangan emosional, menjernihkan pikiran, dan menjaga kesehatan mental saya agar tetap rileks dan prima.
Secara teoretis, proses yang saya jalani selama sepuluh minggu ini merefleksikan esensi dari Psikologi Inovasi, khususnya dalam hal inovasi perilaku dan pengelolaan diri. Inovasi tidak selalu lahir dari teknologi yang rumit, melainkan bisa diawali dari modifikasi kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten dan terukur untuk memecahkan masalah kejenuhan kerja serta penurunan produktivitas. Melalui pemanfaatan alat ukur digital, saya menerapkan metode evaluasi berbasis data untuk terus meningkatkan kapasitas diri dalam batas waktu yang sama. Dengan menyalurkan sisa energi ke dalam aktivitas positif ini, saya berhasil menciptakan sebuah sistem adaptif yang menyelaraskan kebugaran fisik dan kesiapan mental, membuktikan bahwa pengelolaan gaya hidup yang inovatif dapat menjadi kunci utama dalam meningkatkan resiliensi dan performa saya secara keseluruhan.
Nama : Ali Imron
NIM : 23310410123
Kelas : Kariawan
Mata Kuliah : Psikologi Inovasi
Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.
Tugas : ESAI 8 – MY MOST ADMIRABLE ACCOMPLISHMENT
PENGALAMAN LOLOS DAN TERPILIH MENJADI ANGGOTA POLRI
Kisah ini bermula pada saat saya kelas 3 di sebuah SMU di Gunungkidul, pada saat itu tahun 2019 disekolah saya ada sosialisasi tentang program Tunas Unggul Handayani yang diadakan oleh Polres Gunungkidul bersama dengan Bupati Gunungkidul, program ini bertujuan untuk menyeleksi remaja kelas 3 SMU di Gunungkidul yang berminat untuk menjadi anggota Polri mengingat saat itu di Gunungkidul masih kekurangan anggota polri. Pada saat itu saya iseng mencoba mendaftar seleksi yang diadakan. dari hati saya sebenarnya saya tidak berminat karena saat saya sma saya pernah di tilang oleh petugs kepolisian dan saya benci akan mereka, tapi entah mengapa saya iseng mendaftar.
seiring waktu berlalu saya masuk pada kriteria dan lolos untuk selanjutnya mendapatkan pembinaan fisik, akademik, psikologi, dan mental. setelah terpilih saya mengikuti diklat yang dilaksanakan selama 1 minggu yang dilanjutkan dengan latihan bersama sampai menjelang hari seleksi polri kurang lebih 4 bulan. pada saat itu saya sudah mulai meninggalkan kebiasaan saya yang suka begadang main game dan fokus memperbaiki kekurangan yang ada pada diri saya, seperti saya masih ada gigi yang bolong, fisik saya harus ditambah nilai jasmaninya, dan juga badan saya yang sedikit skoliosis.
mulai saat itu saya memberi tau orang tua saya bahwa saya mau mendaftar menjadi polisi, dan alhamdulillahnya orangtua saya juga mendukung saya, saya diberikan dukungan moral dan material oleh orangtua saya untuk memperbaiki kekurangan yang ada di diri saya, orang tua saya juga sering menemani saya pada setiap proses saya latihan dan mempersiapkan diri.
tibalah pada saat hari seleksi, seleksi dimulai pada bulan maret 2020, pada saat itu usia saya masih belum cukup, saya sudah sedikit pesimis akan gagal, namun tuhan berkata lain ternyata seleksinya di undur menjadi bulan agustus jadi usia saya sudah cukup untuk bisa mendaftar menjadi anggota polri, nah mulai dari agustus itu banyak sekali rangkaian seleksi yang harus saya jalani, sampai pada akhirnya tibalah pada sidang kelulusan yang dilasanakan pada bulan November 2020, saat itu info awal pengumuman akan dilaksanakan pada pukul 10.00 WIB, namun di undur jadi pukul 14.00 WIB, lalu mundur lagi menjadi pukul 20.00 WIB, dan masih mundur lagi menjadi pukul 23.00 WIB. selama menunggu itu saya disampingi oleh kedua orangtua saya yang senantiasa menunggu dan mendoakan saya. saya pun juga memohon hasil yang terbaik pada yang maha kuasa setelah semua usaha yang saya lakukan untuk sampai di waktu itu.
Alhamdullilah saat itu saya dinyatakan lolos dan diterima untuk selanjutnya melaksanakan pendidikan di SPN Selopamioro, mungkin bagi orang lain ini adalah hal yang biasa, namun bagi saya ini adalah awal dari pembuktian saya, saya dulu lulus sma peringkat terakhir, selama sekolah saya juga kurang bisa berprestasi, namun hari itu dengan dukungan orangtua saya, serta takdir dari Allah, saya bisa membuktikan bahwa saya bisa menjadi seseorang, dari banyaknya teman saya sekolah saya yang yang pertama menjadi anggota polri pada angkatan saya, dan saya juga bisa memotivasi adik adik kelas saya, dan teman satu angkatan saya, hal ini dibuktikan di tahun berikutnya banyak dari sekolah saya yang memutuskan untuk juga menjadi anggota Polri.
Terakhir Alhamdullilah, saya mengucapkan banyak terimakasih untuk Program Tunas Unggul Handayani, untuk orangtua saya, dan untuk orang terdekat saya yang senantiasa membantu dan mendoakan saya. saya juga meminta doa nya agar saya senantiasan menjadi anggota Polri yang amanah dan dapat diandalkan oleh agama, masyarakat bangsa, dan negara.
Fairus Adhytia Setiawan
23310410112 (Kelas Karyawan)
Psikologi Inovasi
Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta., M.A.
Juli 2026
ESAI 8 – MY MOST ADMIRABLE ACCOMPLISHMENT
MENGEMBANGKAN GUNS HOME SPA SAMBIL MENJADI MAHASISWA DAN IBU
Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.
Nama: Gunarti
NIM: 23310410118
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta
Juni 2026
Setiap
orang memiliki pencapaian yang berbeda-beda. Ada yang bangga karena memperoleh
juara dalam kompetisi, ada yang bangga karena berhasil menyelesaikan
pendidikan, dan ada pula yang bangga karena mampu melewati masa-masa sulit
dalam hidupnya. Bagi saya, pencapaian yang paling membanggakan bukanlah sebuah
piala ataupun sertifikat, melainkan keberhasilan membangun Guns Home Spa, usaha
jasa pijat dan perawatan tubuh yang saya rintis dari nol sambil menjalani peran
sebagai ibu dan mahasiswa Psikologi.
Perjalanan
ini tentu tidak mudah. Saya memulai usaha dengan peralatan yang sederhana dan
pelanggan yang masih sangat sedikit. Saya harus belajar mempromosikan jasa
melalui media sosial, membuat konten sendiri, melayani pelanggan dengan baik,
hingga mengatur jadwal antara kuliah, mengurus anak, dan bekerja. Tidak jarang
saya harus mengerjakan tugas kuliah pada malam hari setelah selesai melayani
pelanggan.
Bagi saya, keberhasilan bukan hanya diukur dari banyaknya
penghasilan yang diperoleh, tetapi dari kemampuan untuk tetap bertahan ketika
keadaan sedang sulit. Ada masa ketika
pelanggan sepi, rasa lelah muncul, bahkan sempat merasa tidak percaya diri.
Namun saya memilih untuk terus belajar memperbaiki kualitas pelayanan,
mengikuti berbagai pelatihan, dan menerima setiap kritik sebagai bahan
evaluasi.
Hal
yang paling membanggakan adalah ketika pelanggan mulai melakukan repeat order
dan merekomendasikan jasa saya kepada orang lain. Dari situ saya merasa bahwa
usaha kecil yang saya bangun benar-benar memberikan manfaat bagi orang lain.
Selain memperoleh penghasilan sendiri, saya juga belajar menjadi pribadi yang
lebih mandiri, bertanggung jawab, serta lebih percaya diri dalam menghadapi
berbagai tantangan kehidupan.
Sebagai
mahasiswa Psikologi, saya menyadari bahwa pengalaman membangun usaha ini
memiliki hubungan yang erat dengan Psikologi Inovasi. Saya belajar bahwa
keberuntungan tidak hanya datang karena nasib baik, tetapi juga dapat dirancang
melalui tindakan nyata. Dengan terus belajar, menjaga kualitas pelayanan,
berani mencoba hal baru, dan konsisten mempromosikan usaha, peluang-peluang
baik mulai berdatangan dengan sendirinya.
Prestasi
ini juga mengajarkan saya bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti
berkembang. Saya tetap bisa kuliah, bekerja, mengurus anak, sekaligus membangun
usaha. Meskipun sering merasa lelah, saya percaya bahwa setiap usaha yang
dilakukan dengan sungguh-sungguh akan memberikan hasil yang baik pada waktunya.
Ke
depan, saya ingin mengembangkan Guns Home Spa agar semakin dikenal masyarakat
dan memiliki lebih banyak pelanggan tetap. Saya juga berharap ilmu Psikologi
yang saya pelajari dapat membantu meningkatkan kualitas pelayanan kepada
pelanggan sehingga mereka tidak hanya merasa nyaman secara fisik, tetapi juga
memperoleh ketenangan secara psikologis.
Bagi saya, inilah pencapaian yang paling saya banggakan hingga saat ini. Bukan karena usaha saya sudah besar, tetapi karena saya berhasil membuktikan kepada diri sendiri bahwa saya mampu bangkit, mandiri, dan terus berkembang meskipun menghadapi banyak tantangan.
Video Presentasi: https://youtube.com/shorts/a9G_ifUEQ9Q
Pencapaian Paling Mengagumkan: Menembus Batas Eksistensi Akademik
Oleh:
Banun Havifah Cahyo Khosiyono (24310440002)
Esai 8 untuk Mata Kuliah Psikologi Inovasi (Dosen:Dr. Arundati Shinta, M.A.) | Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta | Juni 2026
Banyak orang mengukur sebuah kesuksesan besar hanya dari kilau trofi di atas panggung atau gemuruh tepuk tangan dalam sebuah kompetisi. Namun bagi saya, pencapaian paling fenomenal dalam hidup ini adalah sebuah perjuangan sunyi namun konsisten melawan keterbatasan akademik—sebuah proses yang mendefinisikan ulang batas kemampuan saya sekaligus memperkuat kontribusi nyata di dunia pendidikan. Momen tersebut adalah ketika saya berhasil meraih Beasiswa Disertasi Doktor yang sangat kompetitif dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) pada tahun 2018, yang kemudian disusul oleh publikasi internasional pertama saya di jurnal bereputasi global terindeks Scopus Q2.
Tahun 2018 menjadi titik awal dari babak perjuangan yang intens ini. Diterima di program S3 Ilmu Pendidikan Bahasa merupakan sebuah tantangan tersendiri, namun berhasil mendapatkan dukungan finansial penuh dari LPDP berada di level kesulitan yang jauh berbeda. Prosesnya menuntut persiapan yang matang, pertahanan visi riset yang kuat saat wawancara, serta resiliensi yang tinggi. Beasiswa ini bukan sekadar bantuan dana komparatif; melainkan sebuah validasi mendalam atas potensi akademik dan komitmen saya untuk memajukan mutu pendidikan bahasa serta pendidikan dasar di Indonesia.
Namun, puncak dari perjalanan ini terukir indah pada tahun 2019. Demi memenuhi syarat kelulusan doktor yang independen, saya menetapkan target yang sangat ambisius: menembus jurnal internasional bereputasi yang sepenuhnya gratis (free). Para akademisi tentu memahami betapa ketat dan melelahkannya proses peer-review pada platform jurnal papan atas tanpa biaya. Setelah berbulan-bulan menulis, merevisi, dan menganalisis data dengan teliti, artikel ilmiah saya resmi diterbitkan oleh The Journal of Asia TEFL (Volume 16, Nomor 2, Musim Panas 2019). Berhasil menembus indeksasi Scopus Q2 pada percobaan pertama—tanpa mengeluarkan biaya publikasi sepeser pun—menjadi tonggak sejarah yang luar biasa bagi saya. Hal ini membuktikan bahwa kualitas akademik yang murni dan dedikasi yang tinggi mampu mendobrak tembok persaingan publikasi global. Artikel utuh beserta arsip resminya dapat diakses secara langsung melalui tautan Link Publikasi Jurnal Asia TEFL pada artikel ini.
Melihat kembali momen-momen emas yang saling bertautan di tahun 2018 dan 2019 tersebut, bagi saya arti pencapaian ini jauh lebih mendalam daripada sekadar deretan teks di dalam daftar riwayat hidup. Ini adalah simbol kemenangan dari sebuah kegigihan atas keraguan diri. Menavigasi kedalaman disertasi doktor sekaligus memenuhi standar ketat publikasi global mengajarkan saya cara berpikir kritis, berinovasi tanpa rasa takut, dan tetap teguh di bawah tekanan yang luar biasa. Pencapaian inilah yang membentuk karakter saya hari ini sebagai seorang pendidik sekaligus peneliti—yang memiliki dorongan kuat untuk menginspirasi mahasiswa serta konsisten memberikan sumbangsih inovatif bagi komunitas akademik dunia.
Link YouTube: https://youtu.be/ejWgMjgRTK4
Menjemput
Sehat di Kota Gudeg: Cerita dari Garis Belakang Milo Fun Run dan Jogja 10K
Dosen
Pengampu: Dr., Dra. Arundati Shinta, MA.
Nama:
Cholifahtun Pratista Dewi
NIM:
23310410120
Fakultas
Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta
2026
Bagi sebagian orang, ajang lari
adalah panggung untuk memburu podium, memecahkan rekor waktu pribadi, atau
mengalungkan medali kemenangan. Namun bagi saya, berlari di Yogyakarta pada dua
bulan berturut-turut Milo ACTIV Indonesia Race pada akhir April dan Jogja 10K
pada awal Mei adalah tentang merayakan langkah kaki, menikmati atmosfer kota,
dan menuntaskan garis finish dengan senyuman, tanpa peduli di urutan
berapa saya mendarat.
Petualangan lari ini dimulai pada
akhir April di Jogja Expo Center (JEC) dalam gelaran Milo Fun Run. Sejak pagi buta,
JEC sudah berubah menjadi lautan warna hijau khas Milo. Ribuan pelari dari
berbagai usia, mulai dari anak-anak hingga lansia, berkumpul dengan satu energi
yang sama: bersenang-senang. Mengambil kategori 5K, saya sama sekali tidak
memasang target waktu. Benar saja, sepanjang rute, alih-alih fokus pada
kecepatan napas, saya justru larut dalam keseruan berinteraksi dengan sesama
pelari, berswafoto di photo booth unik di sepanjang jalan, dan
menyemangati anak-anak kecil yang berlari riang bersama orang tua mereka.
Memasuki garis finish, hadiah terbesar bagi saya bukanlah podium,
melainkan segelas es Milo dingin legendaris yang sukses menuntaskan dahaga
setelah berpeluh keringat.
Belum hilang rasa semarak dari
bulan April, awal Mei kembali memanggil saya ke aspal Yogyakarta, kali ini
melalui ajang Jogja 10K yang ikonik di sepanjang kawasan Malioboro. Jika Milo
Run terasa seperti pesta keluarga yang santai, Jogja 10K menawarkan sensasi sport
tourism yang kental dengan budaya. Berlari sejauh 10 kilometer melintasi
bangunan-bangunan bersejarah kota Jogja memberikan kepuasan tersendiri. Di rute
ini, saya berkali-kali disalip oleh para pelari cepat dan atlet profesional
yang melesat bagai anak panah. Alih-alih merasa minder, saya justru menikmati
ritme lari santai saya sambil mengagumi arsitektur kota yang dilewati.
Sorak-sorai warga lokal di pinggir jalan yang menyemangati para peserta menjadi
bahan bakar emosional yang luar biasa bagi para pelari di barisan belakang
seperti saya.
Melalui dua event besar di
Yogyakarta ini, saya belajar bahwa esensi dari fun run dan lari jalan
raya bukan melulu soal kompetisi. Berada di barisan tengah atau belakang tidak
mengurangi nilai dari medali finisher yang menggantung di leher.
Menuntaskan jarak 5K di bulan April dan bergerak naik ke 10K di bulan Mei
adalah kemenangan pribadi atas rasa malas diri sendiri. Yogyakarta, dengan
segala keramahan dan keindahan jalannya, telah sukses menjadi latar belakang yang
sempurna bagi saya untuk merayakan hidup sehat lewat cara yang paling
membahagiakan: berlari tanpa beban.