7.11.26

Psi Inovasi - Esai 3 – Menjadi Suri Tauladan - Dr. A. Shinta, M. A – Kelas B – October 7 2026 - Hana Fardilla (24310410048)

Be You: Believe and Be the Best Version of Yourself

Hana Fardilla – 24310410048 – Psikologi Kelas Karyawan
Psikologi Inovasi - Esai 3 -  Dr. A. Shinta, M. A
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta


Ngomong-ngomong soal tips, mungkin yang saya bagikan kali ini lebih tepatnya adalah view dari pengalaman yang saya rasakan. Tidak semua percobaan akan menghasilkan result yang sama, tetapi harapan saya, setidaknya ada gambaran yang dapat dipetik dari apa yang bisa saya bagikan.

Menurut saya, menjadi diri sendiri adalah goals utama yang akan membuka pintu-pintu baru dikemudian hari, terlepas dari apa pun cita-cita teman-teman ke depannya, harapan saya, hal itu adalah hal yang saat teman-teman lakukan, dapat memberikan rasa bahagia dan fulfilment. Sebelum itu, menurut saya, step awal yang bisa kita lakukan adalah percaya pada diri sendiri terebih dahulu.

Believe in Yourself

Tidak ada yang benar-benar membersamai kita selama 24/7 seumur hidup selain diri kita sendiri. Kitalah yang paling tau, apa yang kita suka, apa yang kita benci, apa yang membuat kita senang, dan lain sebagainya.

Tapi seringkali pengetahuan itu terkubur oleh hal-hal eksternal. Misalnya pendapat orang lain, keinginan orang lain, bahkan pencapaian orang lain, sering membuat kita melupakan pengetahuan mutlak kita tentang diri kita sendiri.

Misalnya saat banyak trend orang-orang nge-gym. Sebenarnya kita tau gym bukan olahraga yang sesuai dengan kita, karena energi dan mungkin budget yang berbeda dari orang lain. “Tapi semua orang bilang nge-gym itu keren dan sehat,” dan akhirnya kita memaksakan diri membayar subscription gym, yang akhirnya tidak kita ikuti dengan serius. Instead of merasa sehat dan bugar, kita malah merasa tertekan dan akhirnya berbuah penyesalan.

Mempercayai diri sendiri bukan hal yang bagi saya mudah. Banyak hal yang membuat kita meragukan judgement kita sendiri. Lingkungan, orang sekitar kita, dan yang paling sering, sosial media.

Seperti contoh nge-gym tadi, karena sosial media bilang nge-gym adalah cara olahraga terbaik, kita jadi gampang mengabaikan apa yang kita sendiri rasakan. Perasaan tidak nyaman di gym, tipe olahraga yang mungkin kurang cocok, belum lagi soal biaya. “Anggap aja investasi kesehatan.” Katanya. Padahal investasi kesehatan bisa dengan cara lain yang lebih cocok, misal pada makanan atau multivitamin, atau bahkan memberi sepeda. Bukan berarti nge-gym hal yang buruk, semua olah raga kerena kok, hanya saja, kita perlu merefleksikan diri kembali, dan mencoba mempercayai signal yang diberikan diri kita saat sesuatu kurang terasa nyaman untuk dilakukan.

Tips steps dalam mempercayai diri sendiri:

1.   1. Listen to your body

Saat sesuatu kurang sesuai kebutuhan kita, ada muncul perasaan kurang nyaman. Memang hal ini membutuhkan practice/latihan untuk membedakan, mana perasaan tidak nyaman karena memang tidak sesuai vs mana yang hanya merupakan rasa ragu/takut.

2.     2. Write your feelings

Untuk berlatih, gunakan buku catatn kecil. Tulis apa yang dirasakan, secara singkat saya tidak apa-apa, ini akan membantu kita dalam melihat log, apa yang kita rasakan dan kita bisa cek kembali untuk melihat jika ada pattern tertentu.

3.     3. Try Everything!

Kita belum akan bisa mempercayai diri saat kita belum melihat bukti. Tidak ada salahnya untuk mencoba semua hal, head first sebagai bentuk pengetahuan dan mencari experience. You will be surprised on how many things you can comprehends.

Semakin kita kenal denggan diri kita, saya yakin bahwa kepercayaan kita terhadap diri kita sendiri akan semakin kuat.

[Video YouTube: Believe in Yourself]

Be the Best Version of Yourself

Bagi saya, menjadi apa pun cita-cita kita yang paling penting adalah, hal tersebut kita lakukan karena itulah versi terbaik yang ingin kita capai. Ingin menjadi model, guru, dokter, penyanyi atau pun atlet, semua bisa dilakukan dan akan terasa fulfiling saat kita jujur dan menjadi diri kita sendiri.

Versi terbaik diri kita sendiri, menurut saya,adalah versi diri yang kita sendiri paling sukai. Versi diri kita yang tidak membandingkan diri dengan orang lain, versi diri kita yang dapat membuat kita berteriak “This is me!” tanpa ragu. Dan hal ini menurut saya bisa tercapai saat kita sudah memiliki keyakinan dan kepercayaan diri, jadi, apa pun keputusan kita kedepannya, kita akan mampu menjalaninya dengan teguh dan semangat, serta dengan hati yang riang.

Tips steps menjadi versi terbaik diri kita:

1.      1. Be totally honest with yourself

Kadang apa yang kita suka, bertentangan dengan apa yang dianggap normal atau bisa dibanggakan oleh orang lain. Misalnya dari saya sendiri, orang tua saya tidak suka saya sebagai individu yang ekspesif, mereka ingin saya yang tertutup dan timid. Hobi saya mengikuti lomba dan event cosplay sangat bertentangan dengan hal tersebut. Tetapi saat saya men-surpres diri saya sendiri, saya tidak merasa bahagia. Saya ingin terus dapat mengekspresikan diri secara jujur, selama hal tersebut tidak membahayakan orang lain. Hal ini membantu saya menjadi individu yang juga lebih mudah menerima perbedaan.

2.      2. Challenge your own thoughts

Sangat mudah rasanya terpengaruh oleh apa yang orang lain katakan, khususnya orang-orang terdekat. Ada rasa khawatir dan takut terhadap penolakan atau membuat orang lain kecewa. Tapi, menurut saya, saat kita menyerah pada pendapat orang lain, semua hal yang kita lakukan akan terasa berat. Saat kita mulai merasa apa yang kita sukai adalah hal yang salah karena orang lain berkata demikian, coba untuk tantang pemikiran tersebut. Is it true? Does it harm them? Is giving up something that will make us happy? Lakukan hal ini 2 arah agar kita juga tetap down to earth dan tidak merasa benar sendiri, ini juga membantu kita melihat situasi dari berbagai persepektif.

3.      3. Reflect, Reflect, Reflect

Menjadi versi terbaik diri sendiri bukan berarti kita menjadi besar kepala dan menolak masukan dari orang lain. Akan selalu ada orang atau situasi yang menantang kita. Hal ini bisa kita gunakan sebagai upaya mereflekasikan diri. We learn something new every day, belajar hal baru bukan berarto mengkhianati authenticity diri, sebaliknya, ini bisa membantu kita membuat fondasi diri yang lebih kuat.

Semoga kita semua dapat menemukan versi diri kita yang membuat hidup terasa bermakna!

[Video YouTube: Be the Best Version of Yourself]



6.11.26

ESSAI 2 Wawancara Disonansi Kognitif


Nama : Serlitavangobel 
Nim :24310410206
Nama Dosen : Dr. Arundati Shinta M.A.


Wawancara Disonansi Kognitif
Pewawancara (P): 

Narasumber (N): Budi Seorang profesional muda yang aktif menyuarakan kepedulian terhadap perubahan iklim di media sosial

1. Tahap Eksplorasi Nilai dan Keyakinan (Membangun Basis)
P: "Halo Budi, terima kasih sudah meluangkan waktu. Di media sosial, Anda sering sekali mengunggah konten tentang pentingnya menjaga bumi dan mengurangi sampah plastik demi masa depan generasi mendatang. Boleh ceritakan, sejak kapan Anda memiliki kepedulian sebesar itu terhadap lingkungan?"

N: "Wah, sejak beberapa tahun terakhir ya. Saya merasa kita punya tanggung jawab moral yang besar. Kalau bukan kita yang menjaga alam, siapa lagi? Es kelangsungan bumi ini ada di tangan kita."

P: "Luar biasa sekali komitmennya. Berarti bagi Anda, menjaga kelestarian lingkungan dan mengurangi jejak karbon itu adalah prinsip hidup yang sangat penting, ya?"

N: "Betul sekali, prinsip itu yang selalu saya pegang teguh sehari-hari."

2. Tahap Memunculkan Disonansi (Menyoroti Inkonsistensi)
P: "Saya sangat setuju. Nah, belakangan ini saya melihat beberapa postingan harian Anda saat bekerja di kantor atau saat bepergian. Saya perhatikan Anda cukup sering memesan makanan secara daring (delivery) menggunakan wadah plastik sekali pakai, serta rutin membeli kopi botol plastik setiap pagi. Bagaimana Anda melihat kebiasaan tersebut jika disandingkan dengan kepedulian besar Anda terhadap lingkungan tadi?"

N: (Terdiam sejenak, tampak sedikit gelisah) "Ehm... ya, jujur saja saya memang masih pakai itu sesekali. Masalahnya kan karena kesibukan kerjaan yang padat, jadi kadang tidak sempat bawa wadah sendiri atau masak."

P: "Artinya, di satu sisi Anda meyakini bahwa sampah plastik adalah ancaman nyata bagi bumi, tapi di sisi lain, tindakan harian Anda masih menjadi bagian dari penyumbang sampah plastik tersebut. Apakah situasi ini sering membuat Anda merasa dilema atau bertentangan dengan diri sendiri?"

N: "Hmm... kalau dibilang dilema, ya pasti ada rasa bersalah sih kalau dipikir-pikir lagi. Rasanya seperti ada standar yang kontradiktif antara apa yang saya teriakkan di media sosial dengan kenyataan di kehidupan sehari-hari."

3. Tahap Resolusi dan Refleksi (Mendorong Perubahan)
P: "Rasa bersalah atau ketidaknyamanan itu wajar muncul ketika ada jurang pemisah antara nilai dan tindakan kita. Menurut Anda sendiri, apa langkah kecil yang bisa diambil mulai hari ini untuk menutup jurang pemisah tersebut agar Anda merasa selaras kembali?"

N: "Mungkin saya harus mulai disiplin membawa tumbler dan wadah makan sendiri ke mana-mana, atau membatasi pesanan makanan daring yang menggunakan plastik berlebih. Sepertinya sudah saatnya saya tidak cuma peduli di kata-kata saja, tapi benar-benar membuktikannya lewat tindakan konsisten."







 

Esai 2 – Melakukan wawancara disonansi kognitif.


Nama : Chitra Amamda Kasim
NIM : 24310410036
Mata Kuliah : Psikologi Inovasi
Kelas : Reguler 
Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta., MA

 

 

 JUDUL : Mempunyai kebiasaan tidur sampai lupa waktu 

Dalam wawancara ini, saya membahas tentang seseorang yang memiliki kebiasaan suka tidur sampai lupa waktu  ia  mengatakan bahwa dirinya memang sangat suka tidur, bahkan ketika sedang tidak ada kegiatan, hal yang paling ingin dilakukan adalah berbaring dan tidur baginya, tidur merupakan hal yang paling nyaman karena bisa membuat dirinya merasa tenang dan tidak perlu memikirkan banyak hal, dari hasil wawancara, ia bercerita bahwa kebiasaan tersebut terkadang membuatnya lupa dengan waktu dan pekerjaan yang seharusnya dilakukan bahkan  dia pun sampai tidak masuk kelas kuliah di pagi hari karena terlambat. Misalnya, ketika ada tugas kuliah atau pekerjaan lain, ia sering memilih tidur terlebih dahulu dengan alasan masih ada waktu untuk mengerjakannya nanti namun, tanpa disadari waktu terus berjalan dan akhirnya tugas tersebut menjadi tertunda, sebenarnya, ia tahu bahwa kebiasaan seperti itu tidak baik dan bisa merugikan dirinya sendiri, tetapi tetap saja sulit untuk mengubahnya. Ia  juga mengaku bahwa terkadang ia merasa bersalah ketika bangun tidur dan menyadari masih banyak pekerjaan yang belum diselesaikan ia sering memiliki niat untuk mengurangi waktu tidurnya dan mulai lebih disiplin, tetapi ketika sudah merasa nyaman di tempat tidur, niat tersebut sering hilang, akhirnya, ia kembali melakukan kebiasaan yang sama.  Menurutnya, tidur sudah menjadi sesuatu yang membuatnya nyaman sehingga terkadang ia lebih memilih tidur daripada melakukan kegiatan lain jika dikaitkan dengan disonansi kognitif, kebiasaan ini menunjukkan adanya pertentangan antara apa yang diketahui dengan apa yang dilakukan, yang ia sebenarnya sadar bahwa terlalu banyak tidur dapat menghambat aktivitasnya, tetapi ia tetap melakukannya karena sudah merasa nyaman dengan kebiasaan tersebut. Hal ini membuat dirinya terkadang merasa bersalah dan menyesal, tetapi belum cukup kuat untuk benar-benar berubah dari wawancara ini, saya menyimpulkan bahwa seseorang bisa saja mengetahui kebiasaan yang dilakukannya kurang baik, tetapi tetap sulit meninggalkannya karena sudah merasa nyaman. Menurut saya, keluar dari zona nyaman memang tidak mudah, tetapi perubahan bisa dimulai dari hal kecil, seperti belajar mengatur waktu tidur, tidak menunda pekerjaan, dan mulai membiasakan diri untuk lebih disiplin.



 

Psikologi Inovasi - Essay 1 - Meringkas Jurnal Entrepreneurship

 



Nama : Chitra Amamda Kasim
NIM : 24310410036
Mata Kuliah : Psikologi Inovasi
Kelas : Reguler 
Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta., MA

 


 JUDUL 

Urgensi Pendidikan Entrepreneurship dalam Membentuk Karakter Entrepreneur Mahasiswa

Penulis: Helisia Margahana (2020)

 

Jurnal ini membahas tentang pentingnya pendidikan kewirausahaan bagi mahasiswa. Penulis menjelaskan bahwa sampai sekarang Indonesia masih menghadapi masalah pengangguran karena jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia belum sebanding dengan jumlah orang yang membutuhkan pekerjaan. Kebanyakan mahasiswa setelah lulus kuliah masih memiliki pemikiran untuk mencari pekerjaan di perusahaan atau menjadi pegawai. Padahal, mahasiswa juga bisa mencoba membuka usaha sendiri dan menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain.Entrepreneurship atau kewirausahaan bukan hanya tentang menjalankan sebuah usaha, tetapi juga tentang bagaimana seseorang bisa berpikir kreatif, memiliki ide baru, dan mampu melihat peluang yang ada di sekitarnya. Untuk itu, pendidikan kewirausahaan perlu diberikan kepada mahasiswa sejak masih kuliah agar mereka mulai terbiasa berpikir mandiri dan tidak selalu bergantung pada pekerjaan yang tersedia. Dalam jurnal ini, penulis menggunakan metode kajian pustaka (literature review), yaitu dengan mengumpulkan informasi dari berbagai buku, jurnal, dan artikel yang berhubungan dengan kewirausahaan dari pembahasan tersebut, dijelaskan bahwa seorang entrepreneur perlu memiliki beberapa karakter penting, seperti pantang menyerah ketika menghadapi kegagalan, disiplin dalam menjalankan usaha, jujur, memiliki tujuan untuk masa depan, dan mampu melihat peluang yang bisa dikembangkan menjadi sebuah usaha. Selain itu, perguruan tinggi juga memiliki peran dalam membantu mahasiswa mengembangkan jiwa kewirausahaan. Pembelajaran tidak cukup hanya dilakukan di dalam kelas, tetapi bisa melalui kegiatan pelatihan, kunjungan ke tempat usaha, seminar, atau menghadirkan pengusaha yang sudah berhasil untuk berbagi pengalaman. Dengan begitu, mahasiswa bisa mendapatkan pengetahuan dan gambaran langsung tentang bagaimana membangun serta menjalankan sebuah usaha.

Dari jurnal ini dapat dipahami bahwa pendidikan kewirausahaan sangat penting karena bisa mengubah cara berpikir mahasiswa, yang awalnya hanya ingin mencari pekerjaan menjadi berani menciptakan pekerjaan sendiri. Menurut saya, kemampuan tersebut perlu dikembangkan sejak kuliah karena keberhasilan dalam berwirausaha tidak hanya membutuhkan modal, tetapi juga kemauan untuk belajar, kreativitas, keberanian, dan sikap pantang menyerah.

  

Daftar Pustaka:

Margahana, H. (2020). Urgensi Pendidikan Entrepreneurship dalam Membentuk Karakter Entrepreneur Mahasiswa. Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Bisnis, 17(2), 176–183.

 

Psikologi Inovasi - Essay 1 - Meringkas Jurnal Entrepreneurship

Psikologi Peluang Kewirausahaan: Proses Kognitif Pengusaha Startup Digital dalam Opportunity Recognition. 


Nama : Nicholas Christianto Catur Nugroho
NIM : 24310410030
Mata Kuliah : Psikologi Inovasi
Kelas : Karyawan
Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta., MA

Topik

Jurnal ini membahas psikologi peluang kewirausahaan, khususnya proses kognitif yang dilakukan oleh pengusaha startup digital dalam mengenali atau menemukan peluang usaha (opportunity recognition). Fokus utamanya adalah bagaimana pengusaha menghubungkan kebutuhan pasar dengan perkembangan teknologi untuk menciptakan peluang bisnis.


Sumber

Aruni, S. F., & Hidayat, R. (2019). Psikologi peluang kewirausahaan: Proses kognitif pengusaha startup digital dalam opportunity recognition. Jurnal Psikologi, 46(1), 45–62. 


Permasalahan

Permasalahan yang diangkat dalam jurnal ini adalah masih banyaknya anak muda yang belum mampu mengenali peluang kewirausahaan, padahal perkembangan teknologi digital membuka banyak kesempatan untuk membangun usaha. Penelitian sebelumnya lebih banyak membahas karakteristik kepribadian pengusaha, tetapi belum banyak menjelaskan bagaimana proses berpikir seseorang ketika menemukan peluang bisnis. Oleh karena itu, peneliti ingin mengetahui bagaimana pengusaha startup digital mengenali peluang usaha melalui proses kognitifnya.


Tujuan

Tujuan penelitian ini adalah mengungkap dan memahami proses kognitif yang terjadi ketika pengusaha, khususnya pendiri startup digital, mengidentifikasi peluang kewirausahaan. Penelitian ini juga ingin menjelaskan bagaimana pengetahuan dan pengalaman sebelumnya membantu seseorang dalam melihat peluang bisnis.


Isi

Jurnal ini menjelaskan bahwa kemampuan mengenali peluang usaha tidak hanya ditentukan oleh kepribadian seseorang, tetapi juga oleh proses berpikir atau proses kognitif. Terdapat dua konsep penting yang dibahas, yaitu pattern recognition dan structural alignment. Pattern recognition merupakan kemampuan seseorang dalam mengenali pola dari berbagai informasi atau kejadian, sedangkan structural alignment merupakan proses menghubungkan informasi yang berbeda untuk menemukan hubungan yang bermakna.

Selain itu, jurnal ini menjelaskan pentingnya prior knowledge, yaitu pengetahuan dan pengalaman yang sudah dimiliki seseorang sebelumnya. Pengetahuan tersebut dapat berasal dari pendidikan, pengalaman pribadi, keahlian profesional, maupun ketertarikan pribadi. Pengetahuan dan pengalaman tersebut membantu seseorang memahami perubahan teknologi dan kebutuhan pasar sehingga dapat menemukan peluang usaha.


Metode

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik think aloud protocol dan protocol analysis. Partisipan penelitian terdiri dari enam orang pendiri startup digital. Dalam penelitian ini, partisipan diminta untuk mengungkapkan pikiran yang muncul ketika mengerjakan tugas yang diberikan tanpa adanya interupsi atau arahan yang mengarahkan jawaban. Stimulus yang digunakan berupa dua deskripsi teknologi baru, yaitu NASA Self-Mastery and Regulation Training (SMART) dan MIT Three Dimensional Printing (3DPT). Selanjutnya, hasil pemikiran atau verbalisasi partisipan dianalisis untuk mengetahui proses kognitif mereka dalam mengenali peluang usaha.


Hasil

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengusaha startup digital memusatkan perhatian pada dua aspek utama, yaitu pasar (demand) dan teknologi (supply). Mereka berusaha menghubungkan kebutuhan atau permasalahan yang ada di masyarakat dengan manfaat teknologi yang dapat digunakan untuk memberikan solusi. Penelitian juga menemukan bahwa pengetahuan dan pengalaman sebelumnya memiliki peran penting dalam proses mengenali peluang usaha. Setiap pengusaha dapat menemukan peluang yang berbeda meskipun mendapatkan informasi atau perubahan teknologi yang sama, karena mereka memiliki latar belakang pengetahuan dan pengalaman yang berbeda.


Diskusi

Dalam pembahasannya, peneliti menjelaskan bahwa kemampuan mengenali peluang usaha dapat dikembangkan melalui proses belajar dan pengalaman. Seseorang perlu lebih peka terhadap perubahan teknologi, kondisi pasar, dan permasalahan yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Pengusaha tidak hanya melihat teknologi sebagai sesuatu yang baru, tetapi juga memikirkan bagaimana teknologi tersebut dapat memberikan manfaat dan menyelesaikan masalah masyarakat. Pengetahuan sebelumnya membantu seseorang mengolah informasi baru dan menemukan hubungan antara kebutuhan pasar dengan teknologi yang tersedia. Oleh karena itu, kemampuan mengenali peluang kewirausahaan dapat dilatih dengan memperluas wawasan, menambah pengalaman, serta membiasakan diri mengamati perubahan dan kebutuhan masyarakat.


4.11.26

Esai 4 Coping Behavior

 Esai 4 

Nama : Khansa Humaira 

NIM : 24310410034

Kelas : Reguler 

Mata Kuliah : Psikologi Inovasi 

Dosen : Dr Arundati Shinta., M.A





Pengalaman Gagal Dalam Mengikuti Ujian SNBT Untuk Masuk Universitas Impian 


Pada bulan Maret tahun 2024 saya mendaftar untuk mengikuti ujian masuk kampus impian saya. Karna saya ketika SMA saya pondok pesantren jadi saya harus belajar lebih rajin untuk bisa lolos ujian SNBT. Dan akhirnya saya membeli buku-buku try out buat belajar, saya mencoba mengerjakan soal-soal yang ada pada buku-buku tersebut. Selama di pondok pesantren saya juga sering berdiskusi dengan teman saya yang ingin mengikuti ujian SNMPTN dan berjuang untuk lolos.y

Singkat cerita pada bulan April 2024 hari ujian SNBT tiba, saya ijin pulang sebentar untuk mengikuti ujian tersebut di Universitas Negeri Yogyakarta. Saat saya sudah berada di Universitas tersebut dan menunggu untuk masuk ke ruangan ujian, saya gemetar, nervous, sehingga pas saya masuk dan dihadapkan dengan soal-soal ujian, saya mendadak ngeblank, tetapi saya mencoba untuk tenang dan mulai mengerjakan soal-soal tersebut. Beberapa menit berlalu, waktu mengerjakan sudah habis dan saya terpaksa harus men submit nya. Saya sudah menyelesaikan soal-soal ujian itu tapi saya ragu akan hasil nya nanti karna saya tadi sempat nervous dan ngeblank.

Ketika sudah selesai saya keluar dari ruangan ujian lalu menghampiri ibu yang sedang menunggu saya. Saya cerita ke ibu kalo tadi saya sempat nervous dan ngeblank dan saya takut akan hasil nya nanti.. tapi ibu mencoba untuk menenangkan saya “gapapa kalo gagal nantinya mbak yang penting kamu sudah berusaha. Ayo kita cari makan enak biar kamu ga kepikiran itu terus.” 

Lalu setelah hari itu saya kembali dengan aktivitas saya di pondok pesantren, sampai pada akhirnya saya wisuda SMA, dan setelah itu saya pulang ke rumah. Satu hari setelah hari kelulusan saya SMA , adalah hari dimana pengumuman SNBT.

Pada Juni 2024, adalah hari pengumuman SNBT saya deg deg an untuk membuka nilai hasil nya, setelah saya menarik napas berkali-kali dan mencoba menenangkan diri akhirnya saya memberanikan untuk membuka nya.. Dan disitu tertera kalo saya Gagal untuk masuk kampus impian saya baik itu pilihan pertama maupun kedua, semuanya Gagal. 

Dan saat itu juga saya nangis sejadi-jadinya, saya langsung ke kamar dan mengurung diri, saya nangis terus-terusan sampe2 ayah nelpn ke saya (karna ayah lagi kerja di luar negri), ayah bilang ke saya gini “gapapa mbak, mungkin memang belum rezeki kamu, mbak khansa boleh sedih, boleh nangis, boleh kecewa tapi jangan sampe berlarut-larut yaa.” aku cuma meng-iya kan aja.

Aku sedih, aku nangis selama semingguan. Awalnya aku mikir gini “aku udah berusaha, aku udah belajar tapi kenapa masih gagal juga? apa mungkin aku ga pantes untuk kuliah yaa?” pertanyaan itu selalu terngiang2 di pikiran ku, sampai pada akhirnya ibu mencoba mencari-cari kampus yang bagus untuk aku kuliah. Sampe akhirnya ibu ketemu Universitas Proklamasi 45, dan aku disuruh coba untuk mendaftar disana, karna kebetulan disana ada jurusan yang aku inginkan. Awalnya aku ragu, aku takut gagal lagi, sampe akhirnya ibu dan ayah yakinin aku, kalo aku tuh bisa. Lalu aku mencoba untuk daftar disana dan akhirnya aku keterima disana dengan jurusan impian aku, walaupun tidak dengan kampus impian.

Lalu singkat cerita aku berkuliah di up45 sampai sekarang sudah semester 5.

Coping behavior yang saya lakukan yaitu mencari dukungan sosial, curhat ke ibu, ke ayah tentang perasaan kecewa ku, lalu mereka ngasih solusi dan akhirnya aku bisa bangkit dari rasa kecewa itu.

Hikmah yang saya ambil adalah, Gagal hari ini bukan berarti gagal di kemudian hari. 




ESAI 6 partisipasi lomba

 



Baiq muthia syafitri 

24310410011

Dr. Arundita Shinta., M.A

 

 Dari Malas Menjadi Semangat


 

Dari Malas Menjadi Semangat


Sebagai mahasiswa, saya mengakui bahwa pada awalnya saya sangat malas berpartisipasi dalam lomba, baik akademik maupun nonakademik. Saya selalu berpikir bahwa mengikuti lomba hanya akan membuat saya lelah, sibuk, dan takut gagal. Ketika melihat pengumuman lomba di kampus atau media sosial, saya biasanya membiarkannya lewat. Saya merasa tidak percaya diri dengan kemampuan yang saya miliki, sehingga lebih memilih menjadi penonton daripada peserta.

Namun, sikap itu perlahan berubah sejak saya mengikuti lomba menulis puisi dengan karya berjudul “Rindu yang Tak Kunjung Temu”. Saya mengikuti lomba tersebut karena ingin mencoba sesuatu yang baru dan meluapkan perasaan yang selama ini saya simpan sendiri. Melalui puisi, saya dapat menyampaikan rasa rindu, harapan, dan pengalaman pribadi dengan bahasa yang lebih indah. Proses menyusun kata demi kata terasa menyenangkan, meskipun saya juga merasa gugup karena karya tersebut akan dinilai oleh juri.

Sayangnya, saya tidak memenangkan lomba tersebut. Awalnya, saya merasa kecewa karena usaha saya tidak menghasilkan kemenangan. Namun, setelah memikirkannya kembali, saya menyadari bahwa tidak menang bukan berarti gagal sepenuhnya. Pengalaman itu justru memberikan banyak hal berharga. Saya belajar berani mencoba, menerima hasil, dan tidak takut menunjukkan karya kepada orang lain.

Hal yang paling berkesan adalah saya dapat bertemu dengan banyak peserta dari berbagai daerah. Kami saling berkenalan, berbagi cerita, dan menukar pengalaman setelah lomba. Mereka bercerita tentang alasan menulis, kesulitan yang dihadapi, serta harapan terhadap karya masing-masing. Dari situ, saya merasa tidak sendirian. Banyak orang juga merasa takut dan ragu, tetapi tetap memilih mencoba. Suasana lomba terasa seru karena kami tidak hanya bersaing, tetapi juga saling mendukung.

Sejak mengikuti lomba itu, jiwa semangat saya bangkit kembali. Saya menyadari bahwa menjadi mahasiswa bukan hanya mengikuti perkuliahan dan mengerjakan tugas, tetapi juga mengembangkan diri melalui berbagai pengalaman. Saya menjadi lebih terbuka terhadap peluang baru, lebih percaya diri mengekspresikan ide, dan lebih berani keluar dari zona nyaman.

Kini, saya tidak lagi mudah menyerah atau menghindari tantangan. Saya ingin terus mengikuti lomba lain agar dapat belajar lebih banyak, menambah teman, dan mengasah kemampuan menulis. Pengalaman tersebut menjadi titik awal perubahan dalam diri saya, dari mahasiswa yang malas berpartisipasi menjadi pribadi yang lebih aktif dan bersemangat.



Pengalaman kedua adalah ketika saya mengikuti lomba fiqih. Lomba ini membuat saya lebih termotivasi untuk mempelajari ajaran Islam, terutama mengenai hukum dan ketentuan dalam kehidupan sehari-hari. Sebelum lomba, saya mempersiapkan diri dengan membaca materi, mengulang pelajaran, dan berdiskusi dengan teman. Meskipun proses persiapannya tidak mudah, saya merasa senang karena dapat menambah wawasan keagamaan. Lomba fiqih juga melatih saya untuk berpikir lebih kritis, teliti, dan percaya diri dalam menjawab pertanyaan.

Melalui kedua lomba tersebut, jiwa semangat saya bangkit kembali. Saya menyadari bahwa menjadi mahasiswa bukan hanya mengikuti perkuliahan dan mengerjakan tugas, tetapi juga mengembangkan diri melalui berbagai pengalaman. Saya menjadi lebih terbuka terhadap peluang baru, lebih percaya diri mengekspresikan ide, dan lebih berani keluar dari zona nyaman.

Kini, saya tidak lagi mudah menyerah atau menghindari tantangan. Saya ingin terus mengikuti lomba lain agar dapat belajar lebih banyak, menambah teman, mengasah kemampuan menulis, dan memperdalam ilmu agama. Pengalaman tersebut menjadi titik awal perubahan dalam diri saya, dari mahasiswa yang malas berpartisipasi menjadi pribadi yang lebih aktif, bersemangat, dan percaya bahwa setiap kesempatan dapat membawa pertumbuhan.