9.7.26

ESSAY 6: Cholifahtun Pratista D- 23310410120

 

ESSAY 6 : PARTISIPASI LOMBA

Menjemput Sehat di Kota Gudeg: Cerita dari Garis Belakang Milo Fun Run dan Jogja 10K

 

Dosen Pengampu: Dr., Dra. Arundati Shinta, MA.

 

 

Nama: Cholifahtun Pratista Dewi

NIM: 23310410120

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

2026

    

Bagi sebagian orang, ajang lari adalah panggung untuk memburu podium, memecahkan rekor waktu pribadi, atau mengalungkan medali kemenangan. Namun bagi saya, berlari di Yogyakarta pada dua bulan berturut-turut Milo ACTIV Indonesia Race pada akhir April dan Jogja 10K pada awal Mei adalah tentang merayakan langkah kaki, menikmati atmosfer kota, dan menuntaskan garis finish dengan senyuman, tanpa peduli di urutan berapa saya mendarat.

Petualangan lari ini dimulai pada akhir April di Jogja Expo Center (JEC) dalam gelaran Milo Fun Run. Sejak pagi buta, JEC sudah berubah menjadi lautan warna hijau khas Milo. Ribuan pelari dari berbagai usia, mulai dari anak-anak hingga lansia, berkumpul dengan satu energi yang sama: bersenang-senang. Mengambil kategori 5K, saya sama sekali tidak memasang target waktu. Benar saja, sepanjang rute, alih-alih fokus pada kecepatan napas, saya justru larut dalam keseruan berinteraksi dengan sesama pelari, berswafoto di photo booth unik di sepanjang jalan, dan menyemangati anak-anak kecil yang berlari riang bersama orang tua mereka. Memasuki garis finish, hadiah terbesar bagi saya bukanlah podium, melainkan segelas es Milo dingin legendaris yang sukses menuntaskan dahaga setelah berpeluh keringat.

     

Belum hilang rasa semarak dari bulan April, awal Mei kembali memanggil saya ke aspal Yogyakarta, kali ini melalui ajang Jogja 10K yang ikonik di sepanjang kawasan Malioboro. Jika Milo Run terasa seperti pesta keluarga yang santai, Jogja 10K menawarkan sensasi sport tourism yang kental dengan budaya. Berlari sejauh 10 kilometer melintasi bangunan-bangunan bersejarah kota Jogja memberikan kepuasan tersendiri. Di rute ini, saya berkali-kali disalip oleh para pelari cepat dan atlet profesional yang melesat bagai anak panah. Alih-alih merasa minder, saya justru menikmati ritme lari santai saya sambil mengagumi arsitektur kota yang dilewati. Sorak-sorai warga lokal di pinggir jalan yang menyemangati para peserta menjadi bahan bakar emosional yang luar biasa bagi para pelari di barisan belakang seperti saya.

Melalui dua event besar di Yogyakarta ini, saya belajar bahwa esensi dari fun run dan lari jalan raya bukan melulu soal kompetisi. Berada di barisan tengah atau belakang tidak mengurangi nilai dari medali finisher yang menggantung di leher. Menuntaskan jarak 5K di bulan April dan bergerak naik ke 10K di bulan Mei adalah kemenangan pribadi atas rasa malas diri sendiri. Yogyakarta, dengan segala keramahan dan keindahan jalannya, telah sukses menjadi latar belakang yang sempurna bagi saya untuk merayakan hidup sehat lewat cara yang paling membahagiakan: berlari tanpa beban.

Esai 5- Berperilaku inovatif

 

Kreativitas Mengolah Botol Bekas untuk Ekonomi Sirkuler




Banun Havifah Cahyo Khosiyono (24310440002)– Mahasiswa Psikologi UP45, Mata Kuliah Psikologi Inovasi, Dosen: Dr. Arundati Shinta, M.A. Kelas B.

Permasalahan pengangguran sering kali berakar pada kurangnya kreativitas dalam memanfaatkan sumber daya yang ada. Sampah anorganik, seperti botol plastik, sering dianggap tidak berguna. Padahal, dengan sedikit pengorbanan dan kreativitas, botol bekas dapat diubah menjadi produk bernilai ekonomi. Inilah inti dari ekonomi sirkuler: mengubah limbah menjadi sumber daya baru.

Proses kreatif dimulai dari ide kreasi, yakni melihat botol bekas bukan sebagai sampah, melainkan sebagai bahan baku. Kreativitas muncul ketika kita membayangkan botol sebagai vas bunga, lampu hias, atau wadah penyimpanan unik. Dari sini, langkah-langkah inovasi dilakukan:

  1. Persiapan bahan dan alat – Botol bekas, gunting, cutter, cat akrilik, kuas, lem, dan hiasan tambahan seperti pita atau manik-manik.

  2. Pembersihan botol – Botol dicuci dengan sabun, dikeringkan, dan label dilepas agar permukaan siap dihias.

  3. Pemotongan sesuai desain – bagian atas botol dipotong untuk dijadikan vas atau wadah.

  4. Pewarnaan dan dekorasi – Botol dicat dengan warna cerah, ditambahkan motif kreatif, lalu dihias dengan pita atau manik-manik.

  5. Finishing – Permukaan dirapikan dengan amplas, kemudian produk siap dipamerkan atau dijual.

Secara psikologis, proses ini melatih pola pikir inovatif: mengubah masalah (sampah, pengangguran) menjadi peluang (produk kreatif, bisnis). Dengan demikian, kerajinan botol bekas bukan sekadar karya seni, tetapi juga strategi nyata untuk membangun ekonomi sirkuler, mengurangi pengangguran, dan memperkuat identitas mahasiswa sebagai agen perubahan.


Link promosi di instagram:  https://www.instagram.com/p/DakeaLPvb1z/?igsh=MTJ2dHk2a3NmNTlraA== 


8.7.26

ESAI 6 - PARTISIPASI LOMBA

ESSAY-6

MERANCANG KEBERUNTUNGAN MELALUI PARTISIPASI LOMBA: DARI LANGKAH KECIL MENUJU PENGALAMAN BESAR


 




 

Alifa Maura Bunga Herina 24310430041

 

Mata kuliah : Psikologi Inovasi

Dosen Pengampu: Dr., Dra. Arundati Shinta, MA.

Fakultas Psikologi

Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta 

Juni 2026

 

 

Dalam Psikologi Inovasi, keberuntungan tidak selalu datang secara tiba-tiba, tetapi dapat dirancang melalui keberanian mencoba peluang. Salah satu cara untuk merancang keberuntungan tersebut adalah dengan aktif berpartisipasi dalam berbagai kompetisi. Pada bulan April 2026, saya mengikuti dua lomba sebagai bentuk eksplorasi diri sekaligus latihan menghadapi tantangan, salah satunya adalah Milo Active Indonesia Race (MAIR) 2026 kategori 5K.

Lomba lari yang saya ikuti adalah kategori 5 km yang diselenggarakan di Jogja Expo Center pada 26 April 2026. Dengan total -/+ 4.500 peserta, lomba ini menjadi pengalaman pertama saya di tahun ini. Dimulai dengan mencari informasi melalui instagram, melakukan pendaftaran dengan biaya Rp125.000 dan mengambil Race pack. Persiapan yang saya lakukan tergolong singkat, yaitu jogging setiap sore selama satu minggu dengan durasi sekitar satu jam di lapangan Daleman Sumberharjo. Awalnya, saya merasa kurang percaya diri karena waktu latihan yang terbatas. Namun, saya tetap memutuskan untuk ikut sebagai bentuk keberanian mencoba.

Saya tidak sendiri, ditemani oleh kakak saya. saya berangkat pukul 4.30 WIB dengan perjalanan sekitar 20 menit. Lomba dimulai pukul 06.05, awalnya saya ragu namun pada akhirnya saya justru terpacu oleh semangat peserta lain. Walaupun sempat pesimis tidak bisa menyelesaikan di bawah satu jam, ternyata saya berhasil finish. Saya mendapat Medali Finisher dan refreshment. Pengalaman ini memberikan pelajaran bahwa keberanian untuk mencoba sering kali membuka peluang yang tidak kita duga sebelumnya. Selain itu, saya juga belajar tentang sportivitas dan kepedulian lingkungan, terlihat dari peserta yang disiplin membuang sampah pada tempatnya.


Lomba kedua yang saya ikuti adalah Lomba Cipta Puisi dalam Olimpiade Sastra Nasional (OSN 3.6) dengan tema "Namamu Dalam Doaku". Dalam lomba ini, saya menuangkan ide dan perasaan melalui sebuah puisi berjudul "Doa dalam Sujudku". Saya mempersiapkan karya dengan inspirasi dari pengalaman pribadi, menyusun diksi yang tepat, serta melakukan beberapa kali revisi agar pesan yang ingin disampaikan dapat tersampaikan dengan baik. Pengalaman mengikuti lomba ini memberikan kesempatan bagi saya untuk mengembangkan kreativitas dan kemampuan menulis puisi. pemilihan tema tersebut juga didasari oleh rasa cinta sekaligus rindu dengan mendiang ayah saya.

Jumlah peserta dalam lomba ini -/+ 1200 penulis. Tidak dipungut biaya apapun dalam lomba ini, persyaratan pendaftaran cukup dengan follow akun sosial media penyelenggara. Pengumuman juara diselenggarakan pada tanggal 29 Juni 2026 melalui grup. ini merupakan pengalaman pertama saya dalam cipta karya puisi. walaupun tidak menjadi juara namun berani mencoba sudah jauh lebih baik daripada berdiam diri tanpa perubahan apapun.

Permasalahan utama yang saya rasakan adalah bagaimana menghubungkan partisipasi dalam lomba dengan konsep "merancang keberuntungan". Pada awalnya, saya menganggap keberuntungan sebagai sesuatu yang datang dengan sendirinya. Namun, melalui pengalaman mengikuti lomba ini, saya menyadari bahwa keberuntungan dapat dibangun melalui usaha yang konsisten, keberanian untuk berkarya, dan kemauan untuk memanfaatkan setiap kesempatan yang ada.

Hikmah yang saya peroleh adalah meningkatnya rasa percaya diri, bertambahnya pengalaman dalam mengikuti kompetisi tingkat nasional, serta berkembangnya kemampuan menulis secara kreatif. Saya juga belajar bahwa setiap proses yang dijalani, baik menghasilkan kemenangan maupun sekadar pengalaman, tetap memberikan manfaat bagi pengembangan diri.

Dengan demikian, partisipasi dalam Lomba Cipta Puisi Olimpiade Sastra Nasional (OSN 3.6) menjadi salah satu bentuk nyata penerapan Psikologi Inovasi dalam kehidupan sehari-hari. Keberuntungan bukan sekadar kebetulan, melainkan hasil dari keberanian untuk mencoba, kesungguhan dalam berproses, dan kesiapan dalam memanfaatkan setiap peluang yang datang.

 

Daftar Pustaka

Kaufman, S. B., & Gregoire, C. (2015). *Wired to Create: Unraveling the Mysteries of the Creative Mind.

Csikszentmihalyi, M. (1996). *Creativity: Flow and the Psychology of Discovery and Invention.

 

Lampiran:

Foto 1. Sertifikat Penghargaan Lomba Puisi


Foto 2. Dokumentasi Lomba Lari


Esay 7 Perubahan Diri Dengan Olahraga

 Perubahan Diri Melalui Kebiasaan Berolahraga

 Dosen:Dr. Arundati Shinta, M.A.

Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

Nama : Diah Nurul Khazanah
NIM : 23310410105 

Perubahan diri merupakan proses yang berlangsung secara bertahap melalui pembentukan kebiasaan, pengalaman, serta kemampuan seseorang dalam beradaptasi terhadap tantangan. Salah satu bentuk perubahan diri yang dapat diamati adalah melalui kebiasaan berolahraga secara rutin. Selama periode 11 April hingga 21 Juni 2026, saya melakukan aktivitas berjalan dan berlari sebanyak sebelas kali di berbagai lokasi, seperti Embung Mrangen Magelang, Kampung Sagan Tugu Yogyakarta, Stadion Sultan Agung Bantul, Embung Potorono, lingkungan tempat tinggal, serta mengikuti kegiatan Fun Run Jogja Run di City dan Potorono Park Worker Run.

Pada awal latihan, saya hanya mampu menempuh jarak 3 km dalam waktu 60 menit. Aktivitas tersebut menjadi langkah awal untuk membangun kebiasaan hidup sehat. Seiring berjalannya waktu, kemampuan fisik mengalami peningkatan. Pada akhir Mei saya mampu menyelesaikan jarak 6 km dalam waktu 80 menit, sementara pada beberapa sesi saya dapat menyelesaikan jarak 5 km dalam waktu 60 menit. Perubahan tersebut menunjukkan adanya peningkatan daya tahan, efisiensi gerak, serta kemampuan mengelola energi selama berolahraga.

Namun, perubahan yang saya alami tidak hanya bersifat fisik. Dari sisi psikologis, olahraga membantu meningkatkan disiplin, konsistensi, dan kemampuan mengendalikan diri. Setiap latihan menuntut komitmen untuk tetap berolahraga meskipun kondisi tubuh terasa lelah atau cuaca kurang mendukung. Melalui proses tersebut, saya belajar bahwa perubahan tidak terjadi secara instan, melainkan melalui latihan yang dilakukan secara berulang dan berkesinambungan.

Psikologi inovasi mempelajari bagaimana individu mampu mengembangkan cara berpikir baru, beradaptasi terhadap perubahan, serta menghasilkan solusi kreatif dalam menghadapi berbagai tantangan. Inovasi tidak selalu berarti menciptakan teknologi baru, tetapi juga mencakup perubahan perilaku yang menghasilkan kualitas hidup yang lebih baik.

Dalam pengalaman saya, memulai kebiasaan berolahraga merupakan bentuk inovasi pribadi (personal innovation). Sebelumnya, aktivitas fisik bukan merupakan bagian dari rutinitas sehari-hari. Dengan menetapkan target latihan mingguan, mencoba berbagai lokasi olahraga, serta mengikuti kegiatan fun run, saya menciptakan lingkungan baru yang meningkatkan motivasi untuk tetap aktif.

Selain itu, olahraga juga meningkatkan self-efficacy, yaitu keyakinan seseorang terhadap kemampuannya menyelesaikan suatu tugas. Bandura menjelaskan bahwa keberhasilan kecil yang diperoleh secara bertahap akan meningkatkan rasa percaya diri dalam menghadapi tantangan yang lebih besar. Ketika saya berhasil meningkatkan jarak tempuh dari 3 km menjadi 6 km, muncul keyakinan bahwa saya mampu mencapai target latihan berikutnya apabila tetap disiplin.

No (M)TanggalWaktu (W - menit)Jarak (J - km)K.R. (menit/km)
M111 Apr 2026603,020,00
M219 Apr 2026754,018,75
M326 Apr 2026805,016,00
M403 Mei 2026605,012,00
M510 Mei 2026604,812,50
M619 Mei 2026604,015,00
M724 Mei 2026655,013,00
M831 Mei 2026806,013,33
M907 Jun 2026603,716,22
M1014 Jun 2026755,015,00
M1121 Jun 2026604,015,00

Rincian Kegiatan 
No.Hari/TanggalLokasiAktivitasJarak (km)Waktu (menit)
1Sabtu, 11 April 2026Embung Mrangen, MagelangJalan/Lari 3,060 
2Minggu, 19 April 2026Kampung Sagan, Tugu YogyakartaJalan/Lari4,075
3Minggu, 26 April 2026Stadion Sultan Agung, BantulJalan/Lari5,080
4Minggu, 3 Mei 2026Kampung Sagan, Tugu YogyakartaJalan/Lari5,060
5Minggu, 10 Mei 2026Embung PotoronoJalan/Lari4,860
6Selasa, 19 Mei 2026Keliling Kampung Bulu (tempat tinggal)Jalan/Lari4,060
7Minggu, 24 Mei 2026Fun Run Jogja Run D' CityFun Run5,065
8Minggu, 31 Mei 2026Keliling KelurahanJalan/Lari6,080
9Minggu, 7 Juni 2026Embung PotoronoJalan/Lari3,760
10Minggu, 14 Juni 2026Potorono Park Worker RunFun Run5,075
11Minggu, 21 Juni 2026Stadion Sultan Agung, BantulJalan/Lari4,060  
Secara keseluruhan, latihan lari yang dilakukan selama sebelas kali bukan hanya menghasilkan peningkatan kemampuan fisik, tetapi juga membentuk perubahan psikologis berupa meningkatnya disiplin, ketekunan, kepercayaan diri, kemampuan beradaptasi, dan kesiapan menghadapi tantangan. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa olahraga dapat menjadi media pembentukan psychological capital yang kemudian mendukung berkembangnya perilaku inovatif. Dengan demikian, olahraga bukan sekadar aktivitas menjaga kesehatan, melainkan juga sarana pengembangan diri yang mampu membentuk individu menjadi lebih tangguh, kreatif, dan siap menghadapi perubahan dalam kehidupan sehari-hari.

Daftar Pustaka

Bandura, A. (1997). Self-efficacy: The exercise of control. W. H. Freeman.

Blasco-Giner, C., Meneghel, I., & Salanova, M. (2023). Positive psychological capital and innovative work behavior: A systematic literature review. Le Travail Humain, 86(3), 187–217. https://doi.org/10.3917/th.863.0187

Liu, J. (2021). Linking psychological capital and behavioral support for change: The roles of openness to change and climate for innovation. Frontiers in Psychology, 12, 612149. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2021.612149

Prochaska, J. O., & Velicer, W. F. (1997). The transtheoretical model of health behavior change. American Journal of Health Promotion, 12(1), 38–48. https://doi.org/10.4278/0890-1171-12.1.38

Spencer, L., Adams, T. B., Malone, S., Roy, L., & Yost, E. (2006). Applying the transtheoretical model to exercise: A systematic and comprehensive review of the literature. Health Promotion Practice, 7(4), 428–443. https://doi.org/10.1177/1524839905278900

Warburton, D. E. R., Nicol, C. W., & Bredin, S. S. D. (2006). Health benefits of physical activity: The evidence. CMAJ, 174(6), 801–809. https://doi.org/10.1503/cmaj.051351



2.7.26

Esai 7-Lakukan perubahan diri

 

Inovasi Mikro Pribadi: Rekayasa Perubahan Diri Konsisten Melalui Habit Jalan Sehat Terukur

Banun Havifah Cahyo Khosiyono-24310440002 (Kelas B) Esai 7 untuk Mata Kuliah Psikologi Inovasi (Dosen:Dr. Arundati Shinta, M.A.) | Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta | Juli 2026

Pendahuluan dan Kerangka Psikologi Inovasi

Inovasi sering kali disalahartikan sebagai lompatan besar yang hanya terjadi dalam dunia teknologi atau korporasi. Padahal, dalam ranah psikologi inovasi, konsep modifikasi perilaku paling mendasar justru dimulai dari micro-innovation—sebuah upaya sistematis untuk mengubah diri secara positif dari hal-hal kecil menuju dampak besar yang terukur. Tantangan utama manusia bukanlah merancang ide perubahan, melainkan mempertahankan konsistensi tindakannya. Hubungan erat antara perubahan diri ini dengan psikologi inovasi terletak pada kemampuan individu menerapkan regulasi diri (self-regulation) serta memecah resistensi internal terhadap rasa malas. Mengubah kebiasaan malas menjadi gaya hidup sehat memerlukan cetak biru operasional yang jelas agar dampaknya terlihat nyata dan tidak berhenti sebagai wacana.

Dinamika Kegiatan Mingguan dan Suka Duka

Sebagai bentuk aplikasi riil, saya merancang program olahraga jalan sehat individu yang dilakukan setiap hari Sabtu selama 10 minggu berturut-turut tanpa terputus. Kegiatan ini dimulai pada tanggal 4 April 2026 hingga 6 Juni 2026. Esensi inovasi di sini adalah memberikan "nilai tambah berwujud angka" di setiap minggunya, baik dalam bentuk penambahan durasi (menit) maupun akumulasi jarak tempuh (kilometer) secara progresif.

Berikut adalah ulasan runtut penambahan nilai terukur dari minggu ke minggu yang berhasil saya dokumentasikan:

Grafik Data Jalan Kaki Selama 10 Minggu

  • Minggu 1 (SABTU, 4 APRIL 2026): Memulai langkah awal dengan durasi dasar 60 menit, menempuh jarak sejauh 4,0 kilometer.

  • Minggu 2 (SABTU, 11 APRIL 2026): Nilai tambah durasi naik menjadi 63 menit dengan jarak tempuh merangkak ke 4,3 kilometer.

  • Minggu 3 (SABTU, 18 APRIL 2026): Durasi jalan sehat ditingkatkan hingga 66 menit, mencatatkan jarak sejauh 4,5 kilometer.

  • Minggu 4 (SABTU, 25 APRIL 2026): Menginjak akhir bulan, durasi bertambah menjadi 70 menit dengan capaian jarak 4,8 kilometer.

  • Minggu 5 (SABTU, 2 MEI 2026): Target dieksplorasi lebih jauh dengan alokasi waktu 73 menit, menghasilkan jarak 5,1 kilometer.

  • Minggu 6 (SABTU, 9 MEI 2026): Konsistensi terjaga pada durasi berjalan selama 76 menit, menyentuh angka jarak 5,4 kilometer.

  • Minggu 7 (SABTU, 16 MEI 2026): Beban latihan bertambah secara kuantitatif menjadi 80 menit dengan jarak tempuh mencapai 5,8 kilometer.

  • Minggu 8 (SABTU, 23 MEI 2026): Memasuki fase penguatan fisik, durasi naik menjadi 84 menit dan jarak sejauh 6,2 kilometer.

  • Minggu 9 (SABTU, 30 MEI 2026): Sesi berjalan sehat dioptimalkan hingga waktu 88 menit dengan jarak tempuh mencapai 6,5 kilometer.

  • Minggu 10 (SABTU, 6 JUNI 2026): Sebagai puncak program, latihan ditutup secara impresif dengan durasi 93 menit dan rekor jarak terjauh 7,0 kilometer.

Berdasarkan total akumulasi data kuantitatif selama 10 minggu tanpa jeda tersebut, kalkulasi matematis menunjukkan rata-rata durasi jalan sehat saya adalah 75,3 menit per minggu, dengan rata-rata pencapaian jarak sebesar 5,46 kilometer per sesi.

Dinamika suka dan duka mewarnai perjalanan eksperimen perilaku ini. Dukanya terasa berat pada minggu-minggu awal; melawan rasa kantuk di pagi hari, mengatasi nyeri otot kaki (delayed onset muscle soreness), hingga godaan cuaca mendung yang memicu keengganan untuk melangkah keluar rumah. Namun, sukanya jauh lebih mendominasi ketika tubuh mulai beradaptasi secara biologis. Keberhasilan menaklukkan target angka baru di setiap hari Sabtu memicu ledakan dopamin alamiah yang meningkatkan kebugaran fisik, menjernihkan pikiran dari stres akademik, serta membangun rasa percaya diri (self-efficacy) bahwa saya memegang kendali penuh atas perubahan positif diri saya sendiri.

Kesimpulan

Eksperimen 10 minggu ini membuktikan secara empiris bahwa psikologi inovasi dapat diinternalisasikan ke dalam aktivitas sehari-hari. Melalui indikator angka yang terukur secara bertahap, perubahan perilaku tidak lagi menjadi konsep abstrak. Proses ini melatih saya menjadi pribadi yang disiplin, tangguh, dan senantiasa berorientasi pada kemajuan berkelanjutan dari hal sekecil langkah kaki.

Daftar Pustaka

  • Bandura, A. (1997). Self-efficacy: The exercise of control. W. H. Freeman and Company.

  • Lally, P., van Jaarsveld, C. H., Potts, H. W., & Wardle, J. (2010). How are habits formed: Modelling habit formation in the real world. European Journal of Social Psychology, 40(6), 998-1009.

  • Prochaska, J. O., & DiClemente, C. C. (2005). The transtheoretical approach. Handbook of Psychotherapy Integration, 2, 147-171.

Esai 6-Partisipasi lomba

 

Merancang Keberuntungan Melalui Keberanian Berkompetisi: Perspektif Psikologi Inovasi dalam Kehidupan Sehari-hari


Banun Havifah Cahyo Khosiyono (24310440002)– Mahasiswa Psikologi UP45, Mata Kuliah Psikologi Inovasi, Dosen: Dr. Arundati Shinta, M.A. Kelas B.


Dalam pandangan psikologi inovasi, keberuntungan bukanlah sebuah kebetulan mistis yang datang tanpa alasan, melainkan sebuah probabilitas yang dapat dirancang dan diupayakan secara sadar (planned happenstance). Berdasarkan prinsip ini, individu yang inovatif selalu berusaha memperluas jejaring, meningkatkan keterbukaan terhadap pengalaman baru, serta berani mengambil risiko dengan menempatkan diri dalam situasi penuh peluang. Salah satu strategi konkret dalam merancang keberuntungan tersebut adalah dengan aktif berpartisipasi dalam berbagai kompetisi. Melalui keterlibatan ini, kita secara sengaja membuka pintu bagi munculnya peluang-peluang baru yang tidak akan pernah ada jika kita memilih untuk tetap berada di zona nyaman.

Sebagai bentuk implementasi nyata dari konsep merancang keberuntungan, saya melibatkan diri dalam tiga ajang kompetisi yang berbeda sepanjang periode April hingga Juni 2026. Kompetisi pertama adalah 1st CeL Malaysia International Article Competition yang diselenggarakan pada 25 April 2026 oleh CeL Malaysia yang berkolaborasi dengan KODELN dan Stichting Azzam Aliyah Suriname di Perlis, Malaysia. Dalam kompetisi ilmiah kategori mahasiswa ini, artikel tim kami yang mengeksplorasi penguatan Profil Pelajar Pancasila berbasis Tri Nga dan Tri N berhasil meraih predikat 2nd Winner. Keberhasilan ini menuntut proses kreativitas yang intens, mulai dari latihan penyusunan sintaksis akademik, dekonstruksi ide-ide inovatif, hingga diskusi kritis yang dinamis demi menyelaraskan metode pembelajaran sekolah dasar dengan nilai luhur lokal.


Tidak berhenti di lini akademik, saya juga menantang diri untuk keluar dari batas linear dengan mengikuti kompetisi praktis industri kreatif, yaitu Larissa Beauty Competition 2026 yang dilaksanakan di Bantul. Berbeda dengan penulisan artikel ilmiah yang bersifat rigid, kompetisi estetika dan kecantikan ini menuntut fleksibilitas kognitif, orisinalitas, dan pemahaman psikologis mengenai representasi diri serta kepercayaan diri masyarakat di era Society 5.0. Proses persiapan kompetisi ini diisi dengan latihan intensif pemahaman produk, manajemen stres di bawah tekanan waktu, serta adaptasi cepat terhadap regulasi teknis workshop dan perlombaan. Keikutsertaan ini membuktikan bahwa inovasi tidak terbatas pada satu bidang, melainkan sebuah keterampilan lintas disiplin.

Lomba ketiga, saya ikut Event Worker Protection Run 2026 (bagian dari Indonesia Ceria Run Series) sukses diselenggarakan pada Minggu, 14 Juni 2026. Acara yang mengambil kategori 5K ini berlokasi di Potorono Edu Park (Embung Potorono), Banguntapan, Bantul, dengan garis start dan finish di area tersebut. Acaranya ramai sekali banyak diikuti oleh kelompok lari di DIY. Acara mulai jam 06.00–07.00. 

Keterkaitan erat antara partisipasi dalam tiga lomba ini dengan psikologi inovasi terletak pada pembentukan mentalitas adaptif dan perluasan ruang probabilitas sukses. Dengan mendaftarkan diri pada kompetisi nasional, internasional, dan industri kreatif, saya menerapkan elemen kunci inovasi: mengubah niat menjadi aksi nyata dan melatih resiliensi terhadap hasil akhir. Menang di Malaysia atau berpartisipasi aktif di Bantul merupakan validasi bahwa keberuntungan tumbuh subur di atas tanah kreativitas yang dipupuk oleh latihan berkelanjutan. Melalui pengalaman ini, saya menyimpulkan bahwa merancang keberuntungan dalam kehidupan sehari-hari adalah proses aktif untuk terus belajar, mencoba, dan menolak diam demi terciptanya lompatan inovatif yang berdampak luas.


Daftar Pustaka

Bandura, A. (1997). Self-efficacy: The exercise of control. W. H. Freeman and Company.

CeL Malaysia. (2026). Certificate of Award: 2nd Winner in the 1st CeL Malaysia International Article Competition. Perlis, Malaysia.

Larissa Aesthetic Center. (2026). Piagam Partisipasi Larissa Beauty Competition. Bantul, Yogyakarta.

Mitchell, K. E., Levin, A. S., & Krumboltz, J. D. (1999). Planned happenstance: Constructing unexpected career opportunities. Journal of Counseling & Development, 77(2), 115-124.


1.7.26

ESAI 6_ Partisipasi Lomba_ Sulastri

 

Partisipasi Lomba

Sulastri  (23310410122)

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta,M.A.

April 2026


Kesuksesan bukan tentang menghilangkan ketakutan, tapi  tentang menemukan keberanian untuk menghadapinya. Jangan biarkan ketakutan mengunci pintu kesempatanmu, bukalah pintu dengan keberanianmu.( winda kuncorowati, 29 Agustus 2023)

Keberanian adalah kulitas mental dan emosional yang memampukan seseorang untuk menghadapi tantangan, bahaya atau ketidakpastian tanpa merasa terintimidasi atau gentar. Ini adalah keberanian yang membara didalam diri, mengatasi ketakutan dan membimbing Langkah maju dalam menghadapu ketidakpastian. Penting untuk memahami bahwa keberanian tidak berarti ketiadaan ketakutan, tetapi bagaimana kita menghadapi dan mengatasi ketakutan tersebut.

Satu contoh kisah inspiratif dari J.K Rowling. Penulis terkenal yang menciptakan dunia sihir dalam bukunya yang berjudul Harry Potter. Pada awalnya hidup J.K Rowling bergejolak banyak kesulitan dia mengalami kegagalan, kehilangan pekerjaan, dan menghadapi masa – masa sulit dalam hidupnya. Tapi ditengah tengah keterpurukan, keberanian dalam dirinya muncul dia menemukan Kembali semangatnya untuk menulis dan menciptakan gdunia magic yang membawa kita semua ke dalam petualangan Haryy Potter.

Dalam hal ini saya aplikasikan pada diri saya, pada awal April saya di tunjuk untuk mewakili sekolah dalam lomba Karya ilmiah yang dilakukan di Yogyakarta dengan berbagai sekolah SIT ( Sekolah Islam Terpadu).pada awalnya saya tidak mau menerima karena saya belum pernah menulis karya ilmiah. Namun karena di dorong terus dan sudah dipilih, kudian saya berpikir ini karena izin Allah SWT, dan ini sebuah Amanah dan kesempatan saya untuk bisa mengetahui kemampuan saya. Akhirnya kesempatan itu saya beranikan untuk ambil, namun tidak mudah ketika perjalanan dalam penelitian Tindakan Kelas saya banyak menemukan berbagai tantangan, saya bertanya kesana kemari untuk bisa menuliskan sebuah penelitian dan tentunya di damping oleh Kepala Sekolah saya.saya berusahan dan juga berdoa semoga Allah mudahkan dalam penelitian saya, saya melakukan penelitian Tindakan Kelas selama 6 minggu, kemudian saya tuliskan dalam tulisan karya ilmiah berupa PTK ( Penelitian Tindakan Kelas). Tak lupa saya meminta doa kepada kedua orangtua saya, keluarga kecil saya yang selalu mendukung, anak didik saya disekolah dan wali murid. Alhamdulillah atas izin Allah SWT, saya di mudahkan pada saat presentasi terkait penelitian saya. Dan setelah seminggu kemudian saya mendapatkan kabar bahwa saya meraih Juara 2. Saya sangat Bahagia dan bersyukur



Kemudian dari keberanian saya, saya mulai ketagihan untuk bisa ikut lomba bukan karena ingin mendaptakan juara tetapi saya mau mengukur keberanian saya dan selalu mencari pengalaman – pengalaman yang positif. Dan di lomba Kedua saya mengikuti Cipta Puisi Tingkat Nasional saya memilih judul “ Doa Yang Terjawab”.namun pengumuman masih pada 20 juli 2026



Kemudian saya mengikuti lomba yang ketiga yaitu dalam Craft (Kreatifitas barang bekas dari gelas kertas), pada awalnya saya hanya hiburan untuk mengikuti namun tidak menyangka saya terpilih dalam ketogi kreatif dan rapi. Kemudain saya mendapatkan hadiah dan di minta untuk menagajari teman – teman yang lain untuk membuat keranjang kecil dari bekas gelas kertas. Awalnya karena ketika pas rapat melihat bekas gelas kertas yang menumpuk dan masih bagus, makanya saya memiliki rasa “ sayang jika di buang“ kemudian saya manfaatkan untuk menjadi keranjang kecil.



Daftar Pustaka :

uncorowati, W. (2023, Agustus 29). Kekuatan keberanian: Membuka pintu menuju kesuksesan. Hipwee. https://www.hipwee.com/narasi/kekuatan-keberanian-membuka-pintu-menuju-kesuksesan/