25.6.26

ESAI 5 - BERPERILAKU INOVATIF - ALIFA MAURA BUNGA HERINA

                                                                         Essay-5

        Berperilaku Inovatif : Dari Tutup Botol Menuju Peluang Ekonomi Kreatif

 


 

Alifa Maura Bunga Herina

24310430041

 

Mata kuliah : Psikologi Inovasi

Dosen Pengampu: Dr., Dra. Arundati Shinta, MA.

 

Fakultas Psikologi

Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

Juni 2026

 

Sebuah inovasi tidak selalu lahir dari universitas ternama atau modal yang besar. Ia sering kali muncul dari kepekaan seseorang dalam membaca potensi di sekitarnya, termasuk dari benda-benda yang dianggap tidak berguna. Perilaku inovatif adalah kemampuan menggerakkan pikiran kreatif untuk menghasilkan solusi baru yang bernilai, baik secara ekonomi maupun sosial (Amabile, 1996). Salah satu contoh nyata adalah pemanfaatan tutup botol bekas merek Le Minerale dan Cleo sebagai bahan baku gantungan kunci estetik, sebuah gagasan sederhana yang menyimpan potensi besar.

Secara psikologis, perilaku inovatif bermula dari cara seseorang memandang realitas. Orang yang inovatif tidak melihat keterbatasan sebagai hambatan, melainkan sebagai tantangan yang mampu menggerakkan sebuah kreativitas. Csikszentmihalyi (1996) menjelaskan bahwa kreativitas optimal terjadi ketika seseorang masuk ke dalam kondisi flow, ketika pikiran dan tindakan menyatu secara harmonis dalam proses penciptaan. Momen inilah yang dialami ketika saya membayangkan tutup botol bukan sebagai limbah, melainkan sebagai material yang menunggu untuk dibentuk ulang. Pergeseran perspektif inilah yang menjadi fondasi dari seluruh proses inovasi.

 


 


 


 


 



Proses pembuatan gantungan kunci dimulai dengan persiapan alat dan bahan yang sangat sederhana: setrika, baking paper, tutup botol bekas, dan gantungan kunci merica. Langkah pertama setrika dipanaskan terlebih dahulu, sementara tutup-tutup botol disusun berhimpitan di atas baking paper, lalu lapisi baking paper kembali di bagian atasnya. Setrika panas kemudian ditekankan perlahan di atas susunan tutup botol hingga plastiknya meleleh dan menyatu membentuk lembaran padat. Setelah baking paper dibuka dan lembaran plastik dilepas, permukaan yang terbentuk menampilkan tekstur dan warna alami yang khas dari masing-masing tutup botol sehingga tercipta motif unik yang tidak dapat direplikasi secara persis. Langkah berikutnya adalah melubangi lembaran tersebut menggunakan jarum yang dipanaskan, lalu memasang komponen gantungan kunci merica. Produk selesai dibuat menjadi sebuah gantungan kunci yang fungsional, estetik, dan memiliki identitas visual tersendiri.

Nilai bisnis dari produk ini terletak pada rendahnya biaya produksi dan tingginya daya tarik visual. Untuk pemasaran, setiap gantungan kunci dikemas dalam kardus kecil berukuran 6x10 cm yang dilengkapi label merek. Harga jual berkisar antara Rp5.000 hingga Rp10.000 per pcs. Harga yang relatif terjangkau namun tetap menguntungkan mengingat bahan baku diperoleh hampir tanpa biaya. Howkins (2001) menegaskan bahwa dalam ekonomi kreatif, gagasan manusialah yang menjadi modal utama, bukan kapital finansial. Model usaha seperti ini dapat direplikasi oleh siapa pun, bahkan mereka yang tidak memiliki keterampilan teknis tinggi, sehingga membuka akses lapangan kerja secara luas. Desain gantungan kunci juga dapat dikembangkan lebih bervariasi dan menarik.

Proses kreatif ini selaras dengan prinsip ekonomi sirkuler yang mendorong pemanfaatan kembali material secara berkelanjutan (Ellen MacArthur Foundation, 2013). Tutup botol yang semula berada di ujung siklus konsumsi kini menjadi produk yang memiliki nilai jual. Hal ini bukan hanya soal daur ulang, melainkan tentang peningkatan nilai, yang dikenal sebagai upcycling. Ketika perilaku inovatif seperti ini menyebar dan direplikasi secara luas, dampaknya bisa melampaui individu yaitu tercipta ekosistem kewirausahaan berbasis kreativitas yang sekaligus berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan. Dengan demikian, berperilaku inovatif bukan hanya strategi bertahan hidup secara ekonomi, tetapi juga bentuk tanggung jawab terhadap masa depan bersama.

 

Link Youtube : https://youtube.com/shorts/iTbajr8gR24?si=6NGIfDyux6ITuZp5 

Daftar Pustaka

Amabile, T. M. (1996). Creativity in Context. Westview Press.

Csikszentmihalyi, M. (1996). Creativity: Flow and the Psychology of Discovery and Invention. HarperCollins.

Ellen MacArthur Foundation. (2013). Towards the Circular Economy: Economic and Business Rationale for an Accelerated Transition. Ellen MacArthur Foundation.

Howkins, J. (2001). The Creative Economy: How People Make Money from Ideas. Allen Lane.

23.6.26

ESAI 6 – PARTISIPASI LOMBA

 

PSIKOLOGI INOVASI

ESAI 6 – PARTISIPASI LOMBA

MERANCANG KEBERUNTUNGAN MELALUI PARTISIPASI DALAM KEGIATAN FUN RUN

Dosen Pengampu:

Dr. Arundati Shinta, M.A.

 

Nama: Gunarti

NIM: 23310410118

 

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS PROKLAMASI 45

YOGYAKARTA

Juni 2026

 

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang menganggap keberuntungan sebagai sesuatu yang datang secara tiba-tiba. Namun dalam Psikologi Inovasi, keberuntungan dapat dirancang melalui keberanian mencoba hal baru, memperluas pengalaman, dan membuka peluang yang sebelumnya tidak pernah dicoba. Salah satu cara yang saya lakukan untuk menerapkan konsep tersebut adalah dengan mengikuti dua kegiatan fun run selama periode tugas berlangsung.

Sebelum mengikuti kedua kegiatan tersebut, saya rutin melakukan latihan sederhana berupa jalan kaki. Awalnya saya hanya ingin menjaga kesehatan dan menambah aktivitas fisik, tetapi lama-kelamaan saya merasa lebih percaya diri untuk mengikuti kegiatan yang melibatkan olahraga. Latihan tersebut membantu saya meningkatkan daya tahan tubuh sekaligus mempersiapkan diri agar mampu menyelesaikan lomba dengan baik.

Lomba pertama yang saya ikuti adalah Jogja Run The City 2026 kategori 5 kilometer yang diselenggarakan di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada pada tanggal 24 Mei 2026. Saya mengikuti kegiatan tersebut bersama Gita, Mbak Devi, dan Mbak Diah. Sebelum hari pelaksanaan, panitia mengadakan pengambilan race pack pada tanggal 22–23 Mei yang juga diramaikan dengan seminar dan festival. Saya dan Mbak Devi mengambil race pack pada tanggal 23 Mei setelah magrib. Setelah itu kami berkeliling melihat berbagai stand sponsor yang tersedia.

Pada malam tersebut terdapat penampilan dari Silet Open Up yang saat itu sedang banyak dibicarakan di media sosial. Setelah itu acara dilanjutkan oleh Juicy Luicy yang berhasil menarik perhatian banyak pengunjung. Suasana festival terasa sangat meriah sehingga membuat pengalaman mengikuti lomba tidak hanya tentang olahraga, tetapi juga hiburan dan kebersamaan.

Pada hari pelaksanaan lomba, saya mulai berlari pada pukul 05.40 WIB dan berhasil menyelesaikan jarak 5 kilometer pada pukul 06.50 WIB. Meskipun tidak memperoleh juara, saya merasa bangga karena mampu menyelesaikan lomba hingga garis akhir. Setelah kegiatan selesai, saya kembali berkeliling melihat stand yang tersedia dan membeli seporsi dimsum untuk dinikmati sambil beristirahat.

Lomba kedua yang saya ikuti adalah Liliput Family Fun Run kategori 3 kilometer pada tanggal 20 Juni 2026. Saya sengaja mengajak anak saya karena menurut saya paket bundling yang ditawarkan lebih hemat sekaligus menjadi kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama. Kegiatan dimulai pukul 06.10 WIB dan berhasil menyelesaikan fun run pada pukul 06.44 WIB.

Hal yang paling berkesan adalah semangat anak saya selama mengikuti lomba. Ia berlari jauh lebih cepat daripada saya sehingga tidak terlihat karena sudah berada jauh di depan. Setelah lomba selesai, ia dengan penuh semangat mengatakan bahwa dirinya berhasil finish di posisi kedua. Saya tidak mengetahui posisi sebenarnya karena sepanjang kegiatan saya berjalan bersama Mbak Banun dan Mbak Devi, tetapi saya senang melihat rasa percaya diri dan antusiasmenya.

Setelah kegiatan selesai, kami berkeliling melihat berbagai stand yang tersedia. Saya membeli dimsum untuk dimakan bersama anak, kemudian membeli pecel untuk sarapan, sedangkan anak saya memilih nasi kuning. Selain itu, anak saya juga mengikuti permainan yang diadakan oleh Eight Gym berupa melempar ring ke arah cone. Setiap ring yang masuk bernilai lima poin dan peserta harus memperoleh lebih dari dua puluh poin untuk mendapatkan hadiah es krim. Meskipun hanya satu ring yang berhasil masuk, panitia tetap memberikan hadiah karena melihat usahanya yang sungguh-sungguh.

Pengalaman lain yang cukup berkesan adalah ketika anak saya berharap mendapatkan hadiah setelah berhasil menyelesaikan lomba. Ia terlihat sangat yakin karena merasa telah berlari dengan baik. Saya kemudian menjelaskan bahwa hadiah utama diberikan pada kategori tertentu dan kegiatan yang kami ikuti lebih berfokus pada kebersamaan serta pengalaman berolahraga. Meskipun awalnya terlihat sedikit kecewa, ia akhirnya dapat memahami dan tetap menikmati seluruh rangkaian acara.

Melalui kedua kegiatan tersebut, saya belajar bahwa keberuntungan tidak selalu berupa kemenangan atau hadiah. Keberuntungan juga dapat berupa pengalaman baru, kesempatan bertemu orang-orang baru, menikmati waktu bersama teman dan keluarga, serta keberanian untuk mencoba sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Semakin banyak pengalaman yang dicoba, semakin besar pula peluang yang dapat diperoleh di masa depan.












Kegiatan ini memiliki hubungan yang erat dengan Psikologi Inovasi, khususnya mengenai konsep merancang keberuntungan. Dengan berani mengikuti lomba, saya tidak hanya memperoleh pengalaman olahraga, tetapi juga mendapatkan relasi, hiburan, pembelajaran, dan kenangan yang menyenangkan. Hal-hal tersebut mungkin tidak saya peroleh jika hanya memilih tetap berada dalam rutinitas sehari-hari.

Kedua kegiatan fun run tersebut membuat saya semakin menyukai olahraga lari dan jalan santai dalam suasana yang menyenangkan. Saya sangat ingin mengikuti kegiatan fun run lainnya di masa mendatang karena selain menyehatkan, kegiatan tersebut juga memberikan pengalaman yang berkesan. Namun untuk sementara waktu saya memilih mengistirahatkan kaki terlebih dahulu karena jempol kaki saya masih terasa sakit dan kurang nyaman saat digunakan untuk berlari maupun berjalan dalam jarak yang cukup jauh. Setelah kondisi kaki membaik, saya berharap dapat kembali mengikuti kegiatan serupa dengan kondisi fisik yang lebih baik.

Daftar Pustaka

Rogers, E. M. (2003). Diffusion of Innovations (5th ed.). New York: Free Press.

Wiseman, R. (2003). The Luck Factor: The Scientific Study of the Lucky Mind. London: Arrow Books.

 

Esai 7 - Melakukan Perubahan Diri

 

PSIKOLOGI INOVASI

ESAI 7 – Melakukan Perubahan Diri

MENUMBUHKAN KEBIASAAN JALAN KAKI SEBAGAI BENTUK TANTANGAN PENGUBAHAN DIRI

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A

Nama: Gunarti

NIM: 23310410118

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS PROKLAMASI 45

YOGYAKARTA

JUNI, 2026

Dalam mata kuliah Psikologi Inovasi, mahasiswa diajak untuk melakukan perubahan diri secara nyata, terukur, dan berkelanjutan. Perubahan tersebut tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar, tetapi dapat dilakukan melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten. Pada tugas ini, saya memilih untuk melakukan perubahan diri melalui kegiatan jalan kaki selama sepuluh minggu berturut-turut.

Awalnya saya tidak memiliki tujuan khusus seperti menurunkan berat badan atau meningkatkan performa olahraga. Saya hanya ingin menantang diri sendiri untuk melakukan aktivitas fisik secara rutin dan mempertahankannya dalam jangka waktu tertentu. Saya memilih jalan kaki karena olahraga ini mudah dilakukan, tidak membutuhkan biaya, serta dapat dilakukan secara mandiri sesuai dengan kondisi dan waktu yang saya miliki.

Ketertarikan saya terhadap jalan kaki juga dipengaruhi oleh beberapa informasi kesehatan yang saya lihat dari akun Instagram dr. Adam Prabata. Salah satu informasi yang menarik perhatian saya adalah bahwa berjalan sekitar 4.000 langkah per hari dapat membantu menurunkan risiko demensia atau kepikunan pada usia lanjut. Selain itu, beliau juga menjelaskan bahwa kebiasaan berjalan pada pagi hari dapat memberikan manfaat bagi kesehatan secara umum, seperti membantu memperbaiki lingkar pinggang, indeks massa tubuh (IMT), tekanan darah, dan frekuensi nadi saat istirahat. Informasi tersebut membuat saya semakin termotivasi untuk menjadikan jalan kaki sebagai kebiasaan positif yang dilakukan secara rutin.

Program perubahan diri ini saya lakukan selama sepuluh minggu, mulai tanggal 11 April 2026 sampai 13 Juni 2026. Kegiatan dilakukan di beberapa lokasi seperti Embung Mranggen, jalan desa, dan Lapangan Desa Gunung Pring. Setiap minggu saya berjalan kaki minimal satu jam dan berusaha meningkatkan jarak tempuh sebagai bentuk nilai tambah yang dapat diukur.

Tabel 1. Laporan kemajuan kegiatan jalan cepat

M

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

W

60

65

72

65

68

70

65

65

60

60

J

3,2

3,3

3,4

3,6

3,89

4,08

5

5,2

5,3

5

Grafik 1. Laporan kemajuan kegiatan jalan cepat


Berdasarkan Tabel 1 dan Grafik 1 terlihat adanya peningkatan kemampuan berjalan kaki selama program berlangsung. Pada minggu pertama saya menempuh jarak 3,2 km dalam waktu 60 menit. Jarak tersebut meningkat secara bertahap hingga mencapai 5,3 km pada minggu kesembilan. Hal ini menunjukkan adanya perkembangan kemampuan fisik meskipun durasi olahraga relatif tetap. Pada minggu kesepuluh terjadi sedikit penurunan menjadi 5 km karena kondisi jempol kaki yang terasa pegal dan kurang nyaman saat digunakan berjalan.

Selama menjalankan program ini, tantangan terbesar yang saya hadapi adalah rasa malas untuk memulai aktivitas, terutama ketika harus bangun pagi. Terkadang muncul keinginan untuk menunda jadwal jalan kaki karena cuaca dingin atau merasa lelah setelah menjalani aktivitas kuliah. Namun saya berusaha mengingat tujuan awal bahwa kegiatan ini merupakan bentuk komitmen terhadap tugas perubahan diri yang diberikan dalam mata kuliah Psikologi Inovasi.

Tantangan berikutnya adalah munculnya keinginan untuk mengurangi jarak tempuh ketika tubuh mulai terasa lelah. Akan tetapi, saya berusaha tetap mempertahankan target yang telah ditetapkan. Saya juga mencoba melihat perkembangan setiap minggu agar lebih termotivasi untuk terus melanjutkan program. Pada minggu terakhir, saya mengalami rasa pegal dan sedikit nyeri pada jempol kaki sehingga aktivitas berjalan terasa kurang nyaman dibandingkan biasanya. Meskipun demikian, saya tetap menyelesaikan program sampai minggu kesepuluh sebagai bentuk komitmen terhadap perubahan yang telah saya mulai.

Selain berbagai tantangan tersebut, saya juga merasakan banyak manfaat positif. Tubuh terasa lebih segar, daya tahan fisik meningkat, dan saya menjadi lebih terbiasa melakukan aktivitas fisik secara rutin. Jalan kaki juga menjadi waktu bagi saya untuk menikmati suasana pagi dan melepaskan kejenuhan setelah mengerjakan tugas kuliah. Saya merasa lebih percaya diri karena mampu mempertahankan kebiasaan baru selama sepuluh minggu tanpa terputus.

Kegiatan ini memiliki hubungan yang erat dengan Psikologi Inovasi karena menunjukkan adanya proses perubahan diri yang dilakukan secara sadar, terukur, dan berkelanjutan. Dalam Psikologi Inovasi, kemampuan untuk beradaptasi dan membangun kebiasaan baru merupakan salah satu bentuk inovasi pada diri sendiri. Perubahan yang dilakukan tidak harus bersifat besar atau drastis. Justru perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten sering kali lebih mudah dipertahankan dalam jangka panjang dan memberikan dampak yang nyata.

Berdasarkan program yang telah dijalankan selama sepuluh minggu, saya berhasil meningkatkan jarak tempuh jalan kaki dari 3,2 km menjadi 5,3 km sebelum mengalami sedikit penurunan pada minggu terakhir karena kondisi fisik. Kegiatan ini memberikan pengalaman bahwa perubahan diri dapat dimulai dari langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten. Saya berharap kebiasaan jalan kaki ini dapat terus dipertahankan sebagai bagian dari gaya hidup sehat di masa mendatang.

DAFTAR PUSTAKA

Lee, M., et al. (2024). Daily Steps and Incident Dementia Among Older Adults. JAMA Neurology.

Prabata, A. (2025). Informasi manfaat berjalan 4.000 langkah per hari terhadap risiko demensia. Instagram. Diakses dari https://www.instagram.com/p/DPLpJIpj2L2/

Prabata, A. (2025). Informasi manfaat jalan pagi terhadap kesehatan tubuh. Instagram. Diakses dari https://www.instagram.com/p/DSL9aesDzSz/

Rogers, E. M. (2003). Diffusion of Innovations (5th ed.). New York: Free Press.