15.10.26

Tisya Sukmalatri 24310410022 - Psi Inovasi - Esai 9 Melakukan Pelatihan Sederhana - Dr. Arundati Shinta - Kelas Karyawan - Oktober 2026

 

Tisya Sukmalatri

24310410022

Psikologi Inovasi - Kelas Karyawan

Essay 9 – Melakukan Pelatihan Sederhana

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

 


Mengajak Teman Naik Gunung sebagai Bentuk Perubahan Diri dan Menikmati Keindahan Alam

Perubahan diri dapat dimulai dari kegiatan sederhana yang dilakukan bersama orang lain. Salah satunya adalah mengajak teman untuk berolahraga melalui kegiatan naik gunung. Bagi saya, naik gunung bukan hanya tentang mencapai puncak, tetapi juga melatih fisik, membangun semangat, dan menikmati keindahan alam. Melalui kegiatan ini, saya ingin mengajak teman agar lebih aktif bergerak, berani mencoba pengalaman baru, dan tidak hanya menghabiskan waktu dengan kegiatan sehari-hari.

Kegiatan ini saya lakukan di Gunung Kembang, Wonosobo pada 26 September 2026 dengan melibatkan 9 orang, termasuk saya sendiri. Saya mengajak teman-teman untuk mencoba kegiatan naik gunung sebagai salah satu bentuk olahraga yang menyenangkan. Sebelum berangkat, kami mempersiapkan perlengkapan, bekal, air minum, serta memastikan kondisi fisik cukup baik untuk melakukan pendakian.

Dalam kegiatan ini, saya memberikan motivasi kepada teman-teman bahwa olahraga tidak harus selalu dilakukan di tempat kebugaran. Berjalan menanjak saat mendaki juga dapat menjadi aktivitas fisik yang melatih daya tahan tubuh. Selain itu, kami belajar untuk saling membantu, menjaga kekompakan, dan menyesuaikan langkah agar tidak ada teman yang tertinggal.

Hal yang paling saya nikmati adalah ketika kami dapat melihat pemandangan alam, udara yang sejuk, dan suasana yang berbeda dari kehidupan sehari-hari. Pengalaman tersebut membuat perjalanan terasa lebih menyenangkan dan menjadi kesempatan untuk melepas penat dari kesibukan kuliah maupun pekerjaan.

Selama kegiatan, terdapat tantangan seperti rasa lelah, rasa malas, dan keinginan untuk beristirahat. Namun, dengan saling menyemangati, kami dapat melewati tantangan tersebut secara bersama-sama. Saya menyadari bahwa mengajak orang lain melakukan perubahan membutuhkan contoh nyata, bukan hanya perkataan. Saya juga belajar untuk lebih peduli terhadap kondisi teman dan tidak memaksakan kemampuan setiap orang.

Hal yang saya sukai dari kegiatan ini adalah kebersamaan dan kesempatan menikmati keindahan alam. Sementara itu, hal yang cukup menantang adalah menjaga stamina selama perjalanan. Komentar dari teman-teman saya mereka bahkan ada yang ingin naik gunung lagi, dan merasa tidak kapok dengan pengalaman ini, walaupun mereka lelah namun terbayarkan dengan hasil pemandangan di atas gunung.

Melalui kegiatan mengajak teman naik gunung, saya belajar bahwa perubahan diri dalam bidang olahraga dapat dimulai dari langkah sederhana. Kegiatan ini tidak hanya bermanfaat untuk melatih fisik, tetapi juga menumbuhkan semangat, kerja sama, dan kepedulian terhadap orang lain. Saya berharap pengalaman ini dapat mendorong saya dan teman-teman untuk lebih aktif berolahraga, menikmati keindahan alam, serta menjadikan kegiatan positif sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.

 

 

Tisya Sukmalatri 24310410022 - Psi Inovasi - Esai 5 Berperilaku Inovatif - Dr. Arundati Shinta - Kelas Karyawan - Oktober 2026

 

Tisya Sukmalatri

24310410022

Psikologi Inovasi - Kelas Karyawan

Essay 5 – Berperilaku Inovatif

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

 


Mengubah Minyak Jelantah Menjadi Lilin Aromaterapi: Inovasi Kreatif Bernilai Ekonomi

Kreativitas merupakan kemampuan menghasilkan ide baru, sedangkan inovasi merupakan upaya mewujudkan ide tersebut menjadi sesuatu yang bermanfaat. Suryana (2013) menjelaskan bahwa ekonomi kreatif mengandalkan kreativitas dan inovasi untuk menghasilkan produk atau peluang usaha yang memiliki nilai ekonomi. Salah satu contoh perilaku inovatif yang saya lakukan adalah mengolah minyak jelantah atau minyak goreng bekas menjadi lilin aromaterapi. Saya melihat bahwa bahan yang biasanya dianggap tidak berguna masih dapat dimanfaatkan menjadi produk yang menarik dan memiliki nilai jual.

Ide membuat lilin aromaterapi berawal dari keinginan saya untuk memanfaatkan minyak jelantah agar memiliki kegunaan baru. Saya mencoba melihat bahan tersebut dari sudut pandang berbeda, bukan hanya sebagai minyak bekas, tetapi sebagai bahan yang berpotensi dikembangkan menjadi produk kreatif.

Menurut Suryana (2013), kreativitas dapat diwujudkan melalui gagasan baru, cara yang berbeda, dan pengembangan produk yang memiliki nilai komersial. Hal ini menjadi dasar saya dalam mengembangkan minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi. Saya memilih produk ini karena dapat dibuat dengan berbagai warna, aroma, dan bentuk kemasan yang menarik. Saya juga menggunakan wadah kaca agar tampilannya lebih rapi dan cocok dijadikan dekorasi ruangan maupun hadiah.

Dalam prosesnya, saya belajar bahwa inovasi tidak hanya berkaitan dengan menghasilkan sesuatu yang berbeda, tetapi juga bagaimana ide tersebut dapat memberikan manfaat dan memiliki peluang untuk dikembangkan.

Untuk langkah langkah pembuatan lilin aromaterapi dimulai dengan menyaring minyak jelantah untuk memisahkan sisa makanan dan kotoran. Selanjutnya, minyak diproses menggunakan bahan penyerap yang sesuai untuk membantu mengurangi kotoran dan bau. Setelah itu, minyak dicampurkan dengan bahan pembentuk lilin, seperti stearin, campuran kemudian dipanaskan dan diberi berbagai macam aroma pewangi yang sesuai untuk produk lilin. Sumbu dipasang pada wadah kaca, lalu campuran dituangkan dan didiamkan hingga mengeras. Setelah selesai, lilin dapat dikemas agar terlihat lebih menarik. Lilin ini saya jual dengan harga Rp 33.000/pcs.

Proses ini melatih saya untuk berpikir kreatif, mencoba cara baru, serta memperhatikan hasil dari ide yang dikembangkan.

Hendro (2011) membahas kewirausahaan sebagai proses mengenali peluang dan mengembangkan usaha. Hal ini sesuai dengan inovasi yang saya lakukan karena minyak jelantah dapat diolah menjadi produk yang berpotensi dipasarkan. Lilin aromaterapi dapat dipromosikan melalui Instagram atau YouTube dengan menampilkan foto produk, pilihan aroma, dan harga jual.

Selain berpotensi menghasilkan pendapatan, produk ini juga dapat dikembangkan menjadi usaha kreatif yang memiliki ciri khas. Jika permintaan meningkat, usaha tersebut berpeluang membuka kesempatan kerja dalam proses produksi dan pemasaran. Namun, penentuan harga jual harus mempertimbangkan biaya bahan tambahan, wadah kaca, sumbu, pewangi, kemasan, serta tenaga produksi.

Melalui pembuatan lilin aromaterapi dari minyak jelantah, saya belajar bahwa inovasi dapat dimulai dari hal sederhana di sekitar kita. Dengan kreativitas, bahan yang awalnya dianggap tidak berguna dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai tambah. Sejalan dengan Suryana (2013) dan Hendro (2011), kreativitas dan kemampuan melihat peluang dapat menjadi dasar untuk mengembangkan usaha. Bagi saya, pengalaman ini bukan hanya tentang membuat lilin, tetapi juga belajar mencoba ide baru, mengenali peluang, dan mengembangkan potensi usaha kreatif yang memiliki nilai ekonomi.

Link : https://www.instagram.com/p/DeghehOFO-cIMbQwrXvOCRokWlkWknn9Q9-1XU0/?rpxt=MTcwamlpMHVpNjJnaw==

 

Daftar Pustaka :

Hendro. (2011). Dasar-dasar kewirausahaan: Panduan bagi mahasiswa untuk mengenal, memahami, dan memasuki dunia bisnis. Erlangga.

Suryana. (2013). Ekonomi kreatif, ekonomi baru: Mengubah ide dan menciptakan peluang. Salemba Empat.

 

 

 

 

Tisya Sukmalatri 24310410022 - Psi Inovasi - Esai 4 My Best Coping Behavior - Dr. Arundati Shinta - Kelas Karyawan - Oktober 2026

 

Tisya Sukmalatri

24310410022

Psikologi Inovasi - Kelas Karyawan

Essay 4 – My Best Coping Behavior

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

 


“Pengalaman Menghadapi Stres dan Cara Saya Bangkit”

Salah satu situasi yang dapat membuat saya merasa tertekan sebagai mahasiswa adalah ketika tugas kuliah menumpuk, sementara saya juga harus membagi waktu dengan tanggung jawab pekerjaan saya. Kejadian ini sedang saya alami bulan September 2026 ini, pengalaman ini terasa berat ketika beberapa tugas harus diselesaikan dalam waktu yang berdekatan. Saya terkadang merasa bingung harus memulai dari mana, khawatir tugas tidak selesai tepat waktu, dan merasa lelah karena banyak hal yang harus dipikirkan sekaligus.

Ketika berada dalam situasi tersebut, saya menyadari bahwa membiarkan diri terus merasa cemas tidak akan menyelesaikan masalah. Saya perlu mencari cara agar bisa kembali berpikir jernih dan menyelesaikan tanggung jawab secara bertahap. Bagi saya, bagian tersulit bukan hanya menyelesaikan tugas, tetapi juga mengelola pikiran dan perasaan ketika semuanya terasa berat.

Coping behavior yang saya gunakan adalah mengatur prioritas, menenangkan diri, dan mencari hal menyenangkan serta dukungan dari orang terdekat. Saya mencoba mencatat tugas yang harus diselesaikan, menentukan mana yang paling mendesak, kemudian mengerjakannya satu per satu. Saya juga berusaha memberikan waktu kepada diri sendiri untuk beristirahat ketika mulai merasa terlalu lelah. Selain itu, bercerita kepada orang yang saya percaya membantu saya merasa lebih lega dan melihat permasalahan dari sudut pandang yang berbeda.

Menurut saya, cara tersebut cukup membantu karena saya tidak lagi hanya berfokus pada banyaknya masalah, tetapi mulai memikirkan langkah yang bisa dilakukan. Saya belajar bahwa tidak semua hal harus selesai sekaligus. Terkadang, memulai dari satu pekerjaan kecil sudah menjadi kemajuan yang berarti.

Dari pengalaman tersebut, saya mendapatkan pelajaran bahwa stres tidak selalu bisa dihindari, tetapi dapat dikelola dengan cara yang lebih sehat. Saya juga belajar mengenali batas kemampuan diri, mengatur waktu dengan lebih baik, dan tidak memaksakan diri untuk selalu mampu melakukan semuanya secara bersamaan.

Hikmah terbesar yang saya dapatkan adalah bahwa menghadapi kesulitan membutuhkan keberanian untuk mencoba cara yang berbeda. Saya tidak harus selalu kuat atau menyelesaikan semuanya sendirian. Meminta dukungan dan memberikan waktu untuk diri sendiri bukan berarti menyerah, melainkan bagian dari usaha untuk bangkit.

Ke depannya, saya ingin mempertahankan kebiasaan mengatur prioritas dan menenangkan diri ketika menghadapi tekanan. Saya berharap pengalaman ini dapat membantu saya menjadi pribadi yang lebih tangguh, mampu mengelola stres, dan lebih siap menghadapi tantangan dalam kehidupan akademik maupun pekerjaan.

Liany Nur Ramadhani (24310410016) Essay ke - 9 melakukan pelatihan sederhana


Liany Nur Ramadhani 

24310410016

Dosen pengampu : Dr. Arundati Shinta M.A

Psikologi inovasi - B

Essay ke - 9
 
Yogyakarta, 15 Oktober 2026

"Membangun Kebiasaan Hidup Sehat Melalui Sesi Motivasi dan Edukasi Rajin Olahraga."

Pada tanggal 27 Agustus 2023, saya melaksanakan sebuah kegiatan pelatihan sederhana bertema rajin olah raga yang bertujuan untuk membangkitkan kesadaran serta memotivasi orang lain agar membiasakan diri beraktivitas fisik secara rutin. Kegiatan ini dilakukan secara langsung dan melibatkan 8 orang peserta.  

Materi utama yang disampaikan dalam pelatihan ini mencakup pentingnya menjaga kebugaran jasmani untuk kesehatan mental, cara menyiasati rasa malas agar tetap konsisten berolahraga, serta pengenalan jenis olahraga ringan yang bisa dilakukan di rumah tanpa alat khusus. Sesi pelatihan diawali dengan pemaparan materi motivasi singkat, dilanjutkan dengan diskusi interaktif mengenai kendala apa saja yang sering dihadapi peserta dalam memulai olahraga, dan ditutup dengan praktik peregangan otot sederhana bersama-sama.  

Selama menjalankan pelatihan ini, saya mengalami berbagai suka dan duka. Sukanya, saya merasa sangat senang karena para peserta sangat antusias mendengarkan materi dan bersemangat saat sesi peregangan dilakukan. Melihat mereka termotivasi untuk mulai hidup sehat memberikan kepuasan tersendiri bagi saya. Sementara itu, dukanya adalah sedikit kesulitan dalam meyakinkan peserta di awal bahwa olahraga tidak harus berat atau memakan waktu lama, serta mengatur durasi agar tetap pas.  
Secara keseluruhan, kegiatan ini memberikan pengalaman berharga bagi saya dalam melatih kemampuan komunikasi dan menginspirasi orang lain untuk menerapkan pola hidup sehat melalui olahraga.

Komentar Peserta:
Berikut adalah beberapa komentar natural dari peserta setelah mengikuti pelatihan:  

Peserta 1 (rere):
"Awalnya males banget kalo diajak ngomongin olahraga ngebayanginnya capek. Tapi setelah dengerin penjelasan dan tips-tips simpel tadi, jadi sadar kalau mulai dari jalan kaki atau stretching ringan aja udah cukup buat awal. Makasih materinya!"

Peserta 2 (audra) : 
"Penyampaiannya seru dan nggak bikin bosen, suka banget pas bagian praktek peregangan otot tadi, jadi badan rasanya lebih enteng dan tahu kalau olahraga itu bisa dilakukan kapan aja."

Berikut adalah dokumentasi kami setelah sesi edukasi :


















 

14.10.26

Dilema Antara Pikiran dan Tindakan - Essay 2

Oleh: Iqbal Fahri Alfarisi | 24310410012 | Psikologi Inovasi | SPSJ (B) | Dr. Arundita Shinta., M.A

 

Disonansi kognitif adalah teori klasik yang dicetuskan oleh Festinger pada 1957 (Alfitman, 2017). Makna dari disonansi kognitif adalah memiliki keadaan ketidaknyamanan atau ketegangan pada psikologis individu yang memiliki dua nilai, sikap, dan keyakinan yang bertentangan pada periode waktu bersamaan (Dhanda, 2020). Pada dasarnya hampir setiap individu mengalami disonansi kognitif hanya saja ranahnya berbeda-beda. Kesimpulannya disonansi kognitif merupakan sikap pada individu yang tidak selalu merugikan orang sekitar tapi merugikan diri sendiri. Beberapa disonansi yang sering terjadi dimasyarakat, yaitu meyakini bahwa rokok membahayakan bagi kesehatan tubuh namun masih tetap merokok. Makanan dipinggir jalan yang terpapar debu dan tidak ada penghalangnya berisiko tinggi jika dikonsumsi namun masih saja jajan dan beli makanan dipinggir jalan.

            Saya melakukan wawancara dengan subjek berinisial “R” pada 12 Oktober 2026. Pada sesi wawancara saya mendalami terlebih dahulu kesibukan dan aktivitas sehari-hari serta kesehatan dirinya. Hal tersebut dilakukan agar mengetahui apakah ada sikap yang menunjukkan disonansi kognitif pada subjek. Setelah saya gali lebih dalam, ia sangat suka sekali mencoba berbagai makanan yang ada dipinggir jalan. Dia menyadari dan mengetahui bahwa yang dilakukannya dapat membahayakan pada kesehatan serta imun tubuh, namun tetap membeli jajanan jika melihat makanan yang unik dan menarik. Hal tersebut berulang kali dilakukan, sebenarnya dia berupaya untuk berhenti atau mengurangi jajanan yang ada dipinggir jalan namun ia mudah tergiur dengan makanan sehingga sulit untuk menghentikannya.

            Wawancara pun semakin mengalir dan rupanya saya menemukan sikap disonansi kognitif kedua yang beriringan dengan jajan. Perilaku yang dia lakukan adalah membuang sampah sembarangan di jalanan atau melempar bungkus jajanan ke selokan. Beberapa kali dia memang sering ditegur oleh temannya, namun ia tetap melakukannya. Motif dari perbuatan yang dia lakukan katanya lebih praktis buang dimana saja. Dia juga menyadari tindakan yang dilakukannya salah namun berulang kali tetap dilakukan. Setiap dia ditegur oleh temannya terkadang ia merasa malu, mengikuti instruksinya untuk membuang ketika ada tong sampah, dan terkadang juga dia abaikan.

            Kesimpulannya adalah disonansi kognitif hampir dilakukan oleh setiap orang. Disonansi kognitif akan sulit untuk dihentikan sepenuhnya oleh individu. Jadi alih-alih berusaha untuk berhenti dan berusaha menghindari disonansi kognitif, lebih baik jika perlahan dikurangi. Hal utama yang perlu dilakukan oleh individu adalah berusaha menyelaraskan apa yang disadari dan diketahui dengan kehidupan sehari-hari.

 

Referensi:

Alfitman. (2017). Konstruk disonansi kognitif dalam penelitian perilaku konsumen: apakah. KONSTRUK DISONANSI KOGNITIF DALAM PENELITIAN PERILAKU KONSUMEN: APAKAH POPULARITASNYA MEMANG SUDAH MEREDUP?, 22, 44–57.

Dhanda, B. (2020). Cognitive Dissonance , Attitude Change and Ways to Reduce Cognitive Dissonance : A Review Study. 33(6), 48–54. https://doi.org/10.9734/JESBS/2020/v33i630236

 

13.10.26

ESAI 2 : WAWANCARA TENTANG DISONASI KOGNITIF


Heni Dwi Anggreani

25310440001

Kelas Psikologi Inovasi - B

Tugas Essai 2

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

( Oktober 2026)

 

Disonansi Kognitif pada Residivis Kasus Pencurian

Video wawancara:

https://drive.google.com/file/d/1bbs8YBp1STf3DM53lm5R6ar89aix8ZHz/view?usp=sharing

Disonansi kognitif merupakan kondisi ketika terdapat ketidaksesuaian antara pengetahuan, keyakinan, dan perilaku seseorang. Kondisi ini terlihat dalam wawancara dengan salah seorang warga binaan di Rumah Tahanan (Rutan) Kota Salatiga yang kembali menjalani proses hukum akibat kasus pencurian untuk ketiga kalinya pada tahun 2026. Wawancara kami lakukan pada hari sabtu tanggal 10 Oktober 2026 dan atas persetujuannya/ seijinnya kami menggali informasi tentang permasalahan hukum yang sedang dihadapinya, sebut saja namanya AH, usia sekitar 35 tahun dan sudah 3x menjalani hukuman di Rutan tersebut dengan kasus yang sama yaitu pencurian.

Dalam wawancara tersebut, AH mengungkapkan bahwa dirinya sebenarnya tidak ingin melakukan pencurian. Ia mengaku terdesak oleh keadaan ekonomi dan kembali bertemu dengan teman-teman lama yang pernah dikenalnya ketika berada di rutan. Pertemuan tersebut kemudian membawanya kembali terlibat dalam tindakan yang sama. Padahal, ia mengetahui bahwa pencurian merupakan perbuatan yang salah dan memiliki konsekuensi hukum.

Hal yang menarik adalah  yang menjelaskan pengakuan AH bahwa setelah menjalani hukuman sebelumnya, ia telah berusaha memperbaiki diri. Ia memperoleh kembali kepercayaan masyarakat, mengikuti kegiatan kemasyarakatan, bahkan mendapatkan tawaran pekerjaan yang baik dari orang-orang di sekitarnya. Namun, kesempatan tersebut ternyata belum mampu mencegahnya mengulangi perbuatannya. Ketika ditanya mengapa kembali melakukan pencurian, ia menjawab bahwa dirinya sedang terdesak dan kembali bertemu dengan lingkungan pertemanan yang lama.

Dari hasil wawancara, terlihat adanya indikasi mekanisme pertahanan diri berupa rasionalisasi. AH menjelaskan tindakannya melalui alasan kesulitan ekonomi. Kondisi ekonomi tersebut mungkin benar-benar dialaminya, tetapi persoalannya adalah bagaimana ia menghadapi kesulitan tersebut dan mengapa pilihan yang diambil kembali mengarah pada perilaku yang sama. Alasan tersebut berpotensi menjadi pembenaran atas tindakannya, meskipun tidak menghilangkan tanggung jawab pribadi.

Selain itu, terdapat pertentangan antara konsep diri dan perilakunya. Pada akhir wawancara, AH menyatakan, “Saya menyesal, sebenarnya saya ini panutan,” karena selama ini ia juga membantu polisi dalam menangani kasus-kasus pencurian. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa ia memiliki gambaran positif mengenai dirinya, tetapi perilakunya sendiri bertentangan dengan gambaran tersebut. Ketidaksesuaian inilah yang memperlihatkan konflik dalam dirinya.

Ketika ditanya apakah ia akan mengulangi perbuatannya untuk keempat kalinya, AH menjawab tidak. Ia mengaku benar-benar menyesal, terlebih karena istrinya mengancam akan meninggalkannya dan saudaranya telah menjanjikan pekerjaan yang lebih baik. Namun, janji untuk berubah juga pernah muncul setelah kejadian sebelumnya. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah penyesalan kali ini akan diikuti tindakan nyata atau kembali berhenti pada keinginan semata.

Berdasrkan hasil wawancara, memperlihatkan bahwa mengetahui sesuatu yang benar tidak selalu membuat seseorang mampu melakukannya. Motivasi untuk berubah dapat muncul karena kehilangan, penyesalan, dan keinginan mempertahankan keluarga. Akan tetapi, perubahan juga membutuhkan ketangguhan menghadapi tekanan, kemampuan menolak ajakan lingkungan yang berisiko, serta keterampilan menemukan solusi ketika menghadapi kesulitan ekonomi.

Pada akhirnya, penyesalan merupakan awal dari kesadaran, bukan bukti bahwa perubahan telah berhasil. AH membutuhkan lebih dari sekadar janji untuk tidak mengulangi perbuatannya. Ia perlu membangun kebiasaan baru, mengambil keputusan yang lebih bertanggung jawab, dan mempertahankan perubahan tersebut ketika kembali menghadapi situasi sulit. Tantangan terbesarnya bukan sekadar berjanji tidak mencuri lagi, melainkan membuktikan bahwa ia mampu memilih jalan yang berbeda ketika keadaan tidak berjalan sesuai harapannya.

 

Daftar Pustaka :

-       Fadholi, F., Prisanto, G. F., Ernungtyas, N. F., Irwansyah, I., & Hasna, N. (2020). Disonansi kognitif perokok aktif di Indonesia. Jurnal RAP (Riset Aktual Psikologi Universitas Negeri Padang), 11(1), 1–14. DOI : https://doi.org/10.24036/rapun.v11i1.108039

-      Karelina, Y., & Susila, M. E. (2021). Faktor kriminologi narapidana residivis pencurian di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Kota Tasikmalaya. Indonesian Journal of Criminal Law and Criminology, 2(2).  DOI: https://doi.org/10.18196/ijclc.v2i2.12422

Dimas Mahendra Gautama 24310410024 - Psi Inovasi - Esai 2 Wawancara Tentang Disonansi Kognitif

 

Rokok sebagai Teman Bermain Game: Disonansi Kognitif pada Anggota Sat Samapta Polresta Yogyakarta

Dimas Mahendra Gautama (24310410024)

Kelas Karyawan

Mata Kuliah Psikologi Lingkungan

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, MA

WAWANCARA TENTANG DISONANSI KOGNITIF

Merokok saat bermain game memperlihatkan bagaimana kebiasaan sehari-hari dapat bertahan meskipun seseorang memahami bahayanya. Situasi ini berkaitan dengan disonansi kognitif karena pengetahuan tentang risiko rokok bertentangan dengan perilaku yang terus diulang. FH merupakan anggota Sat Samapta Polresta Yogyakarta yang memiliki kebiasaan merokok setiap kali bermain gim. Masalah utamanya terletak pada hubungan antara kegiatan yang menyenangkan dan tindakan yang berisiko bagi kesehatan. Perokok dapat mengetahui bahaya rokok tetapi tetap membentuk alasan untuk menerima perilakunya (Aqila, 2024). Kebiasaan FH perlu dilihat melalui cara berpikir yang menyertai kegiatan bermain gim.

Wawancara dengan FH dilakukan di Penjagaan Polresta Yogyakarta. FH menjelaskan bahwa rokok selalu menyertai aktivitas bermain game. FH menyampaikan, “Kalau permainan dimulai rokok juga disiapkan karena sudah menjadi kebiasaan.” Kalimat itu menggambarkan hubungan yang kuat antara situasi bermain dan keinginan merokok. Ketika ditanya mengenai bahayanya FH menjawab, “Risiko rokok sudah diketahui tetapi saat bermain gim rasanya sulit melepas kebiasaan itu.” Jawaban tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan belum menjadi dasar untuk mengubah perilaku. Pembenaran perilaku merokok dapat membantu seseorang mengurangi ketidaknyamanan ketika tindakan berbeda dari pengetahuan yang dimiliki (Sidhu et al., 2022).

Mekanisme pertahanan diri pertama terlihat melalui rasionalisasi. FH menyatakan, “Rokok membuat permainan terasa lebih santai dan membantu menjaga suasana hati.” FH memakai manfaat yang dirasakan saat bermain sebagai alasan untuk melanjutkan kebiasaan. Mekanisme kedua berupa normalisasi. FH mengatakan, “Teman yang bermain gim juga banyak yang merokok sehingga hal itu terasa biasa.” Pernyataan tersebut menjadikan perilaku orang lain sebagai ukuran kewajaran dan mengurangi perhatian terhadap risiko pribadi. Alasan mengenai fungsi rokok serta penerimaan sosial berkaitan dengan dorongan seseorang untuk berhenti (Zhang et al., 2024). Dua bentuk pembenaran tersebut dapat membuat FH merasa tidak perlu segera mengubah rutinitas.

Mekanisme ketiga berupa pengecilan masalah. FH mengatakan, “Merokok muncul saat bermain gim jadi kebiasaan ini masih bisa dikendalikan.” Kalimat itu menempatkan situasi bermain sebagai batas yang dianggap aman tanpa menunjukkan perubahan perilaku yang nyata. FH juga dapat terus menganggap rokok sebagai pelengkap permainan karena belum menemukan kegiatan pengganti yang sama menariknya. Jarak antara pengetahuan dan praktik merokok perlu diperhatikan dalam kehidupan usia produktif (Ardhaniswari et al., 2024). Dalam kasus FH jarak tersebut tampak saat kebiasaan dianggap terkendali hanya karena berkaitan dengan satu kegiatan tertentu.

Psikologi Inovasi melihat masalah ini sebagai hambatan untuk mencoba cara baru. FH dapat kreatif merancang alasan agar rokok tetap menjadi bagian dari permainan tetapi kreativitas itu belum digunakan untuk memperbaiki rutinitas. Pertanyaan yang mendorong seseorang meninjau keyakinannya dapat meningkatkan keterbukaan terhadap perubahan (Maaravi et al., 2023). FH dapat memulai dengan menyiapkan minuman atau camilan sehat saat bermain lalu mencatat sesi gim tanpa rokok. Pemisahan dua kebiasaan tersebut memungkinkan FH menguji cara menikmati permainan tanpa pembenaran yang terus berulang. Inovasi diri baru terjadi ketika pengetahuan menghasilkan tindakan yang dapat diamati.

 

Daftar Pustaka

Aqila, F. (2024). Analisis disonansi kognitif pada perokok perempuan di Jakarta. IKRA-ITH HUMANIORA: Jurnal Sosial dan Humaniora, 8(3), 185–195. https://doi.org/10.37817/ikraith-humaniora.v8i3.4196

Maaravi, Y., Hameiri, B., Gur, T., Heller, B., Confino, D., Amdor, H., & Levi, Y. (2023). Using leading questions to reduce resistance to innovation. Journal of Creativity, 33(3), Article 100067. https://doi.org/10.1016/j.yjoc.2023.100067

Zhang, D., Chen, W., Meng, X., Zhao, X., Liu, R., & Tian, H. (2024). Breaking down barriers: Rationalisations and motivation to stop among Chinese male smokers under cigarette dependence. BMC Public Health, 24(1), Article 1812. https://doi.org/10.1186/s12889-024-19295-y