Heni Dwi Anggreani
25310440001
Kelas Psikologi Inovasi - B
Tugas Essai Ke- 4
Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta M.A.
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta
( Oktober 2026)
Bangkit dari Kehilangan dan Mempertahankan Integritas
dalam Kehidupan (Peristiwa Menyakitkan dan Proses Bangkit Kembali )
Salah satu pengalaman paling menyakitkan dalam hidup saya adalah kehilangan
ayah pada tahun 2020, kemudian disusul kehilangan anak saya yang baru lahir
pada tahun 2021. Dua peristiwa tersebut memberikan tekanan emosional yang
sangat besar bagi saya. Saya merasa putus asa, kehilangan semangat, dan
kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari. Saya lebih banyak ingin tidur,
melamun, dan tidak memiliki motivasi untuk kembali bekerja. Pada saat itu, saya
merasa kehilangan arah dan sulit membayangkan bagaimana saya dapat menjalani
kehidupan seperti sebelumnya.
Situasi tersebut menjadi sumber stres yang memengaruhi kehidupan pribadi
maupun pekerjaan saya. Namun, secara perlahan, saya mulai menyadari bahwa masih
ada orang-orang yang membutuhkan kehadiran dan tanggung jawab saya. Saya masih
memiliki seorang anak yang membutuhkan kasih sayang dan perhatian saya, serta
ibu yang perlu saya bantu memenuhi kebutuhannya. Kesadaran tersebut menjadi
titik awal bagi saya untuk kembali bangkit. Saya mulai meyakinkan diri bahwa
saya harus kembali berjuang, bekerja, dan menjalankan kehidupan sehari-hari,
meskipun rasa kehilangan itu tidak sepenuhnya hilang.
Coping behavior yang paling saya banggakan adalah kemampuan untuk menerima kenyataan,
menguatkan diri melalui keyakinan kepada Allah, dan menemukan kembali tujuan
hidup. Saya belajar bahwa tidak semua hal yang kita inginkan dapat terwujud
sesuai harapan. Ada hal-hal yang berada di luar kendali manusia dan harus
diterima sebagai bagian dari takdir. Penerimaan tersebut bukan berarti saya
melupakan ayah dan anak saya, melainkan belajar melanjutkan kehidupan tanpa
menyangkal kesedihan yang pernah saya alami. Saya juga mengingat tanggung jawab
saya terhadap keluarga sebagai alasan untuk kembali beraktivitas dan bekerja.
Pengalaman tersebut kemudian memengaruhi cara saya menghadapi tekanan dalam
pekerjaan sebagai seorang pengacara. Saya pernah merasa dilematis ketika
berhadapan dengan praktik-praktik yang bertentangan dengan prinsip kejujuran
dan hati nurani saya. Saya bahkan beberapa kali mempertimbangkan untuk
meninggalkan profesi tersebut. Namun, dukungan suami membantu saya melihat
bahwa saya masih dapat menjalankan profesi ini dengan mempertahankan integritas
dan menunjukkan bahwa keberhasilan tidak harus diperoleh melalui kecurangan.
Saya memilih untuk tetap berjuang sesuai prinsip yang saya yakini.
Hikmah yang saya peroleh adalah bahwa bangkit bukan berarti tidak pernah
merasa sedih, kecewa, atau ingin menyerah. Bangkit berarti belajar menerima
hal-hal yang tidak dapat diubah dan tetap berusaha memperbaiki hal-hal yang
masih dapat kita kendalikan. Saya juga menyadari bahwa tekanan dapat mendorong
saya untuk mengevaluasi cara berpikir dan menentukan langkah yang lebih sesuai
dengan nilai-nilai pribadi. Hingga saat ini, saya merasa bangga karena dapat
menjalankan profesi dengan integritas dan menangani perkara dengan hasil yang
baik tanpa harus mengorbankan prinsip kejujuran. Bagi saya, keberhasilan bukan
hanya tentang hasil yang dicapai, tetapi juga tentang cara mencapainya.
Pengalaman ini mengajarkan saya untuk terus beradaptasi, mempertahankan prinsip,
dan menemukan kekuatan untuk melanjutkan kehidupan meskipun tidak semua hal
berjalan sesuai harapan.
Daftar
Pustaka
Ø Lutfi,
S. A., & Asyanti, S. (2023). Strategi spiritual coping pada remaja yang mengalami
kedukaan. Jurnal Psikologi,
16(2),
112–125. https://eprints.ums.ac.id/116401/
Ø Putri, A. R., Kusuma, S. W., & Firmansyah, Y. (2026). Kode etik dan integritas profesi advokat:
Hubungan antara etika, pengawasan, dan pembelaan diri dalam praktik hukum. Jurnal
Mahasiswa Hukum, 1(1), 1–11.https://jumas.ourhope.biz.id/ojs/index.php/JM/article/view/183
Ø Winta, M. V. I., & Syafitri, A. K. (2015). Coping stress pada ibu yang mengalami kematian
anak. Jurnal
Psikologi Philanthropy, 1(1),
77–88. (DOI: https://doi.org/10.26623/philanthropy.v3i1.1513
)

\

.jpeg)





