Bertumbuh Tanpa Membenci Diri Sendiri
Deltha Arthaliya
NIM 24310430209
Menjadi bagian dari generasi sekarang bukan hal yang mudah. Pasalnya di tengah perubahan yang cepat, tuntutan untuk berhasil, dan kebiasaan membandingkan diri di media sosial, banyak anak muda tumbuh dengan rasa lelah yang dipendam sendirian. Mungkin kita sering merasa selalu kuat, selalu produktif, dan selalu terlihat baik-baik saja. Padahal, di balik semua itu, banyak yang sedang berjuang untuk bertahan.
Terkadang, dalam perjalanannya ada rasa malu karena pernah gagal. Ketika rencana tidak berjalan sesuai harapan, kita mulai mempertanyakan diri sendiri. Ada rasa tertinggal, kurang mampu, atau merasa tidak berharga. Padahal, sebenarnya kegagalan bukan akhir dari segalanya. Gagal adalah bagian dari proses kita untuk belajar dan bertumbuh.
Disini, saya mengajak untuk memberikan self compassion, yaitu memperlakukan diri sendiri dengan lebih lembut. Tidak menyalahkan diri ketika hidup kita terasa berat, tidak sesuai rencana. Terkadang kita lupa bahwa diri kita juga butuh dipahami, sama seperti kita memahami orang lain. Tidak apa-apa jikalau langkah kita lebih lambat dari yang lain. Tidak apa-apa jika hari ini kita belum berhasil, setiap orang punya waktunya masing-masing.
Belajar menerima kegagalan berarti kita belajar memahami bahwa menjadi manusia utuh tidak harus sempurna. Ada hari ketika kita merasa kuat, tetapi ada juga hari ketika kita hanya butuh istirahat. Hal itu tidak membuat kita lemah, justru dengan memberi ruang untuk kembali ke dalam diri sendiri, untuk bernapas, kita sedang membangun ketahanan diri yang lebih sehat.
Selain itu, penting juga untuk belajar menetapkan batasan. Tidak semua hal harus kita iyakan hanya karena takut mengecewakan orang lain. Tidak semua tuntutan harus dipenuhi sampai kita lupa atau kehilangan diri sendiri. Menjaga jarak sehat, dari hal-hal yang melelahkan bukan berarti egois, tetapi membentuk kepedulian dalam diri. Karena hati yang tenang akan lebih mampu menghadapi situasi dan kondisi hidup, dibandingkan hati yang terus dipaksa kuat.
Di jaman sekarang, era media sosial, kita sering tanpa sadar membandingkan hidup kita dengan orang lain. Melihat pencapaian orang lain membuat kita merasa tertinggal, padahal setiap orang memiliki cerita, perjuangan, dan luka yang berbeda. Apa yang terlihat di layar belum tentu menggambarkan seluruh kenyataan. Dari pada sibuk melihat hidup orang lain, lebih baik kita fokus pada hal yang bisa dikendalikan. Fokus pada cara kita bertumbuh, cara kita bangkit setelah kecewa, dan cara kita memperlakukan diri sendiri. Ketahanan diri bukan tentang menjadi manusia yang sempurna, tidak pernah jatuh, tetapi kemampuan untuk tetap melangkah meski perlahan, tetap bertahan tanpa kehilangan kelembutan hati.
Dan untuk itu, temukan komunitas yang saling mendukung, yang memberi ruang untuk kita dapat menjadi diri kita, yang menerima kita dengan utuh. Jika kamu membutuhkan ruang aman untuk saling bertumbuh, berbagi hal baik dan positif, kamu bisa terhubung dengan ngudaroso di Jogja. Srawung kanggo Ngudaroso mengajak kita semua bertemu, berkumpul, berhenti sejenak dari rutinitas dan berbagi rasa dan cerita. Kamu bisa terhubung lewat Instagram dan jika tertarik untuk memberikan support dalam bentuk apapun, kolaborasi, bisa menghubungi kontak yang ada di Instagram ngudaroso atau email ruang.ngudaroso@gmail.com
Temukan diri sendiri secara utuh, dengan bertumbuh pelan, dan belajar menerima segala proses kehidupan. Karena hidup bukan sebuah perlombaan tentang siapa yang paling cepat, tetapi perjalanan tentang bagaimana diri kita tetap mampu mencintai di tengah dunia yang terus bergerak.
https://youtube.com/shorts/Bod3eXLi-Is
https://youtube.com/shorts/D7AXtLwtq40




