16.4.26

ESSAI 2-WAWANCARA DISONANSI KOGNITIF

Nama : Banun Havifah Cahyo Khosiyono 
 NIM : 24310440002 
 Kelas : B 
 Mata Kuliah :Psikologi Inovasi 
 Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A. 
 Tugas : Esai-Wawancara Disonansi Kognitif Jurnal 
Tanggal : 16 April 20326 

  Disonansi Kognitif pada Perokok di Tempat Gym: Hambatan Inovasi Diri

Pendahuluan 
 Disonansi kognitif adalah kondisi psikologis ketika individu memiliki pengetahuan tentang suatu hal, tetapi perilakunya bertentangan dengan pengetahuan tersebut. Akibatnya, individu cenderung membuat alasan pembenaran diri agar tidak merasa bersalah. Fenomena ini sering menjadi penghambat inovasi dan kemajuan diri. 
 
Identitas Target Wawancara 
Subjek: Inisial “R” (Atlet gym, perokok aktif) 
Lokasi: Gym di Yogyakarta 
Tanggal Wawancara: 12 April 2026 

  Hasil Wawancara 
Ketika ditanya mengapa tetap merokok meski tahu dampak buruknya, R menjawab: 
“Saya tahu rokok merusak paru-paru, tapi kalau tidak merokok rasanya badan malah lemas. Lagi pula, banyak atlet lain juga merokok, jadi tidak masalah.” 
 Kutipan wawancara di atas ini menunjukkan adanya mekanisme pertahanan diri berupa rasionalisasi. R berusaha menjustifikasi perilaku merokok dengan alasan “agar tidak lemas” dan “banyak orang lain juga melakukannya.” 
Analisis Mekanisme Pertahanan Diri Rasionalisasi: 
  • Subjek membuat alasan logis palsu untuk menutupi perilaku yang bertentangan dengan pengetahuan. 
  • Denial (penyangkalan): Subjek menolak fakta medis dengan mengatakan “tidak masalah.”
  • Projection (proyeksi): Subjek membandingkan dirinya dengan orang lain agar merasa aman. 
Ketiga mekanisme ini memperlihatkan bagaimana disonansi kognitif membuat individu sulit berubah. Alih-alih berhenti merokok, ia kreatif mencari alasan pembenaran diri. 

Permasalahan dan Hubungan dengan Psikologi Inovasi 
Dalam konteks psikologi inovasi, disonansi kognitif menjadi penghambat. Individu yang terus berpegang pada pembenaran diri tidak akan melakukan perubahan perilaku yang lebih sehat. Padahal, inovasi diri menuntut keberanian untuk meninggalkan kebiasaan lama dan mencoba pola hidup baru. Jika atlet seperti R mampu mengatasi disonansi kognitif, ia bisa mengembangkan inovasi dalam gaya hidup sehat: mengganti rokok dengan olahraga pernapasan, nutrisi seimbang, atau teknik relaksasi. Namun, selama ia bertahan dengan mekanisme pertahanan diri, peluang inovasi itu tertutup. 

Kesimpulan 
Disonansi kognitif membuat individu sulit maju karena lebih sibuk mencari alasan pembenaran diri daripada melakukan perubahan. Kasus perokok di gym menunjukkan bahwa pengetahuan tanpa praktik hanya melahirkan stagnasi. Untuk menjadi pribadi inovatif, diperlukan keberanian menghadapi kenyataan dan komitmen untuk mengubah perilaku.

10.4.26

ESAI 1-MERINGKAS JURNAL ENTERPRENEURSHIP

 Hubungan antara adaptasi lintas budaya, faktor psikologis kewirausahaan, dan kemampuan inovasi di kalangan wirausahawan baru


Nama : Banun Havifah Cahyo Khosiyono

NIM : 24310440002

Kelas : B

Mata Kuliah : Psikologi Inovasi

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.

Tugas : Esai Review Jurnal

Tanggal : 10 April 2026





Topik

Hubungan antara adaptasi lintas budaya, faktor psikologis kewirausahaan, dan kemampuan inovasi di kalangan wirausahawan baru. Studi ini mengintegrasikan perspektif dari psikologi positif dan kewirausahaan untuk menjelaskan bagaimana kualitas psikologis memengaruhi niat dan kinerja kewirausahaan.

Sumber

Zhou, Q. (2021). The impact of cross-cultural adaptation on entrepreneurial psychological factors and innovation ability for new entrepreneurs. Frontiers in Psychology, 12, 724544.https://www.frontiersin.org/journals/psychology/articles/10.3389/fpsyg.2021.724544/full 

Permasalahan

Penelitian ini membahas tantangan meningkatnya pengangguran dan tekanan ekonomi, yang mendorong banyak lulusan menuju kewirausahaan. Namun, wirausahawan baru sering kali kesulitan dengan kesiapan psikologis yang tidak memadai dan kapasitas inovasi yang terbatas. Selain itu, perbedaan lintas budaya menciptakan kesulitan adaptasi yang dapat berdampak negatif pada niat dan kinerja kewirausahaan. Kesenjangan ini menyoroti kebutuhan untuk memahami bagaimana faktor psikologis dan budaya berinteraksi dalam membentuk hasil kewirausahaan.

Tujuan penelitian

Tujuan utama adalah untuk mengeksplorasi bagaimana adaptasi lintas budaya memengaruhi faktor psikologis kewirausahaan—seperti motivasi pencapaian, tingkat pengetahuan, dan efektivitas komunikasi—dan bagaimana faktor-faktor ini, pada gilirannya, memengaruhi kemampuan inovasi dan niat kewirausahaan. Studi ini juga bertujuan untuk memvalidasi model teoretis yang menghubungkan variabel-variabel ini.

Metode

Penelitian pada artikel ini menggunakan desain penelitian kuantitatif dengan menggunakan survei kuesioner yang didistribusikan kepada mahasiswa kewirausahaan di Tiongkok yang memiliki pengalaman pendidikan lintas budaya. Sebanyak 367 respons valid dianalisis. Teknik statistik seperti pengujian reliabilitas (Cronbach’s α = 0,894), pemodelan persamaan struktural (SEM), analisis regresi, dan uji t digunakan untuk memeriksa hubungan antarvariabel.

Hasil

Temuan menunjukkan bahwa motivasi pencapaian dan tingkat pengetahuan secara signifikan dan positif memengaruhi niat kewirausahaan. Sebaliknya, efektivitas komunikasi tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan. Tingkat pendidikan juga memainkan peran yang kompleks, dengan pendidikan yang lebih tinggi dikaitkan dengan niat kewirausahaan yang lebih rendah tetapi modal psikologis yang lebih kuat. Jenis kelamin dan usia bukanlah faktor signifikan yang memengaruhi psikologi kewirausahaan. Secara keseluruhan, faktor psikologis dikonfirmasi memiliki dampak substansial pada pengembangan kewirausahaan dan kemampuan inovasi.

Diskusi

Hasil penelitian menunjukkan bahwa adaptasi lintas budaya meningkatkan modal psikologis wirausahawan, khususnya melalui peningkatan motivasi dan perolehan pengetahuan. Unsur-unsur ini sangat penting untuk inovasi dan keberhasilan kewirausahaan. Namun, peran efektivitas komunikasi yang tidak signifikan menunjukkan bahwa tidak semua aspek adaptasi lintas budaya sama-sama memengaruhi hasil kewirausahaan. Hubungan negatif antara pendidikan tinggi dan niat kewirausahaan mungkin mencerminkan keengganan terhadap risiko atau preferensi karier alternatif di antara individu yang berpendidikan tinggi.

Kesimpulan

Kesimpulan artikel ini adalah adaptasi lintas budaya memainkan peran penting dalam membentuk faktor psikologis kewirausahaan dan kemampuan inovasi. Motivasi pencapaian dan pengetahuan merupakan pendorong utama niat kewirausahaan, sedangkan variabel demografis seperti jenis kelamin dan usia kurang berpengaruh. Studi ini menyoroti pentingnya memperkuat kesiapan psikologis dan kompetensi lintas budaya untuk meningkatkan keberhasilan kewirausahaan di kalangan wirausahawan baru.

 


4.3.26

REMEDIAL PSIKOLOGI INOVASI

REMEDIAL PSIKOLOGI INOVASI

KELAS A (PAGI) 

4 MARET 2026

DOSEN PENGAMPU : Dr.ARUNDATI SHINTA, M.A

          NAMA : ISTIQOMAH S. FATTAH 

NIM : 25310420001

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS PROKLAMASI 45 YOGYAKARTA


Bila Anda adalah dosen untuk mata kuliah Psikologi Inovasi, apa yang akan Anda lakukan untuk membangun dan menuntun karakter mahasiswa agar mampu berpikir kritis, kemampuan kognisinya berkembang secara optimal dan karakternya menjadi lebih terpuji? 

Guru dan Dosen merupakan seorang pendidik yang memiliki peran yang sangat penting dalam proses pendidikan setiap siswa dan mahasiswa. Selain sebagai seorang pendidik yang menyampaikan materi akademik, tentunya merek juga memiliki  peran penting dalam membentuk karakter dan sikap anak didiknya. Interaksi-interaksi yang dilakukan antara dosen dan mahasiswa menjadi salah satu hal terpenting dalam membentuk nilai dan moral. 

Di era gempuran teknologi yang semakin canggih ini, banyak mahasiswa yang berbondong-bondong menggunakan AI atau Artificial Intellegence dalam mengerjakan tugas-tugasnya. Hal ini tentunya dapat memudahkan mahasiswa dalam mengerjakan semua tugas, tetapi dalam proses penggunaanya tidak semua mahasiswa memiliki kemampuan yang baik dan bijak dalam penggunaanya. Sehingga hal ini bisa berdampak pada nilai dan karakter seperti empati, kreativitas dan lain-lain. Penggunaan teknologi AI yang berlebihan dapat memberikan dampak yang negatif terhadap nilai-nilai karakter seperti empati yang kurang dan kolaborasi yang berkurang disebabkan jarang bersosialisasi dengan orang lain ( Riska Elfira, 2024) 

Guru dan dosen tentunya mempunyai peran penting dalam penguatan nilai-nilai karakter dan moral pada siswa/Mahasiswa. Bila saya menjadi seorang dosen, saya akan menjadi pribadi yang teladan atau role model bagi mahasiswa saya, seperti bersikap jujur untuk menanamkan nilai kejujuran, menunjukan cara berkomunikasi dengan baik pada setiap anak didiknya. Dalam hal ini saya meyakini bahwa setiap dosen sudah berusaha memberikan dan menunjukan yang terbaik. Menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan menyenangkan. Pada point ini, kadangkala mahasiswa merasa kurang nyaman dengan suasana atau lingkungan belajar yang sedikit menegangkan atau ada juga yang bikin ngantuk dikarenakan suasana kelas terlalu pasif. Selanjutnya adalah, memberi batasan kapan AI boleh digunakan dalam proses pembelajaran dan mengerjakan tugas. Menetapkan peraturan yang jelas dalam penggunaan AI, dan juga konsekuensi yang transparan namun tetap mendidik. Memberikan bimbingan secara individu dan evaluasi.


Daftar pustaka : Elfira, R. (2024). Teknologi Artificial Intelligence dan Nilai-Nilai Karakter Mahasiswa Universitas Islam Negeri Datokarama Palu (Skripsi). Universitas Islam Negeri Datokarama Palu. https://repository.uin-datokarama.ac.id/skripsi/1234/

Remidial Psikologi Inovasi kelas SP

REMEDIAL PSIKOLOGI INOVASI KELAS KARYAWAN SP

 

NAMA : MUHAMMAD ANAS RUSDIANTO

NIM   : 23310410036

KELAS : KARYAWAN SP

DOSEN PENGAMPU : Dr. Arundati Shinta M.A

 

UNIVERSITAS PROKLAMASI 45 YOGYAKARTA 2026

 



Membangun Karakter Mahasiswa Psikologi Inovasi di Era Artificial Intelligence

 

Perkembangan Artificial Intelligence (AI) telah menghadirkan perubahan signifikan dalam proses pembelajaran di perguruan tinggi. Mahasiswa kini dapat memperoleh informasi, analisis, bahkan jawaban tugas hanya dalam hitungan detik. Kemudahan ini memang membantu efisiensi akademik, namun di sisi lain memunculkan persoalan serius terkait integritas, kemandirian berpikir, dan kedalaman refleksi. Tantangan utama pendidikan saat ini bukan sekadar bagaimana memanfaatkan teknologi, melainkan bagaimana memastikan bahwa teknologi tidak melemahkan karakter mahasiswa.

 

Semangat penguatan karakter sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2018 menekankan pentingnya integritas, kemandirian, dan tanggung jawab dalam proses pendidikan. Walaupun regulasi tersebut ditujukan untuk satuan pendidikan formal, nilai-nilai yang dikandungnya tetap relevan bagi pendidikan tinggi. Dalam konteks mata kuliah Psikologi Inovasi, pembentukan karakter menjadi sangat penting karena inovasi tanpa etika dapat menghasilkan kreativitas yang kehilangan arah moral.

 

Permasalahan yang muncul di era AI dapat dilihat dalam beberapa aspek. Pertama, terjadi kecenderungan ketergantungan kognitif, di mana mahasiswa lebih memilih jawaban instan dibandingkan proses analisis mandiri. Kedua, integritas akademik terancam ketika tugas dikerjakan tanpa keterlibatan pemikiran personal. Ketiga, kemampuan argumentasi melemah karena mahasiswa tidak terbiasa mempertahankan gagasan secara lisan maupun tertulis. Jika kondisi ini dibiarkan, maka lulusan perguruan tinggi berpotensi menjadi individu yang cerdas secara teknis, tetapi kurang matang secara moral.

 

Sebagai dosen Psikologi Inovasi, solusi yang dapat saya lakukan adalah mengintegrasikan pembelajaran berbasis etika dan refleksi kritis. Prinsip keteladanan yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara (1962) melalui semboyan Ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani memberikan arah bahwa pendidik harus menjadi contoh dalam integritas akademik. Dosen tidak hanya menyampaikan larangan, tetapi menunjukkan praktik kejujuran dan tanggung jawab dalam setiap interaksi akademik.

 

Selain itu, pendekatan dialogis sebagaimana dicontohkan oleh Socrates dalam dialog-dialog yang dituliskan oleh Plato (2002) dapat diterapkan melalui metode pertanyaan kritis. Mahasiswa dilatih untuk mempertanyakan asumsi, menguji argumen, dan mempertanggungjawabkan jawaban mereka secara rasional. Dengan cara ini, penggunaan AI tidak menjadi pengganti berpikir, melainkan bahan awal untuk dianalisis lebih lanjut.

 

Disisi lain, pemikiran Al-Ghazali (2010) menegaskan bahwa ilmu harus disertai akhlak. Pengetahuan tanpa moral hanya akan melahirkan kecerdasan yang kering nilai. Oleh karena itu, dalam setiap tugas, mahasiswa tidak hanya diminta memberikan solusi inovatif, tetapi juga menjelaskan implikasi etis dari gagasan yang mereka tawarkan.

 

Secara praktis, dosen dapat menerapkan kontrak etika penggunaan AI di awal perkuliahan, memberikan tugas berbasis studi kasus nyata, serta melakukan penilaian yang menekankan proses berpikir dan partisipasi diskusi. Jika terjadi pelanggaran integritas, sanksi diberikan dalam bentuk refleksi tertulis atau presentasi ulang agar mahasiswa memahami kesalahannya secara mendalam. Pendekatan ini bertujuan membangun kesadaran, bukan sekadar memberikan hukuman.

 

Pada akhirnya, pendidikan karakter di era AI bukanlah upaya menolak teknologi, melainkan mengarahkan penggunaannya secara bertanggung jawab. Mahasiswa Psikologi Inovasi harus dilatih menjadi individu yang mampu berpikir kritis, kreatif, dan berintegritas. Dengan menggabungkan keteladanan, dialog rasional, dan pendidikan akhlak, perguruan tinggi dapat melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga matang secara moral.

 

 

Daftar Pustaka

 

Al-Ghazali. (2010). Ihya’ ‘ulum al-din. Republika.

Dewantara, K. H. (1962). Karya Ki Hadjar Dewantara: Bagian pendidikan. Majelis Luhur Taman Siswa.

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2018 tentang Penguatan Pendidikan Karakter pada Satuan Pendidikan Formal. (2018). Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2018 Nomor 924. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Plato. (2002). Five dialogues (G. M. A. Grube, Trans.). Hackett Publishing Company.


REMEDIAL PSIKOLOGI INOVASI

 REMEDIAL PSIKOLOGI INOVASI
KELAS SPSJ
4 MARET 2026
DOSEN PENGAMPU : Dr.ARUNDATI SHINTA, M.A


CHRISTINA ANGELINE NATALIA M

24310420060

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS PROKLAMASI 45 YOGYAKARTA


Menghadapi tantangan di abad kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang kian ramai, menurut saya peran pendidik dalam membentuk karakter mahasiswa, khususnya pada mata kuliah Psikologi Inovasi di UP45 Yogyakarta, kini menempati posisi yang sangat krusial dan tidak tergantikan oleh mesin. Menurut saya, implementasi Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 20 Tahun 2018 mengenai Penguatan Pendidikan Karakter bukan sekadar kewajiban administratif yang harus dipenuhi oleh lembaga, melainkan sebuah fondasi moral yang harus diadaptasi secara radikal ke dalam lingkungan pendidikan tinggi agar mahasiswa tidak kehilangan jati dirinya sebagai calon pemimpin bangsa yang berintegritas. Menurut saya, fenomena mahasiswa yang menyerahkan seluruh beban tugas akademiknya kepada AI merupakan indikasi awal dari degradasi karakter yang sangat mengkhawatirkan, karena jika dibiarkan, hal ini akan mematikan kemampuan berpikir kritis, orisinalitas ide, serta daya juang dalam berinovasi. Sebagai dosen, menurut saya, langkah pertama yang paling mendesak untuk diambil adalah mentransformasi peran saya menjadi seorang inovator dalam metode pembelajaran yang tidak lagi hanya berorientasi pada hasil akhir berupa tumpukan teks atau makalah statis, melainkan lebih menitikberatkan pada proses dialektika, refleksi diri, dan pemahaman konseptual yang mendalam.

Peran sebagai inovator tersebut dapat diwujudkan secara nyata dengan mengubah total model evaluasi, dari yang semula berbasis tugas tertulis tradisional menjadi ujian lisan secara langsung atau diskusi aktif di dalam kelas. Menurut saya, cara ini akan memaksa mahasiswa untuk menunjukkan kemampuan kognisinya secara murni dan spontan tanpa bantuan alat digital, sehingga perkembangan intelektual serta kematangan emosional mereka dapat terpantau secara optimal oleh pendidik. Selain itu, peran sebagai motivator sangat diperlukan untuk menanamkan pemahaman mendalam kepada mahasiswa bahwa AI hanyalah alat bantu teknis, bukan pengganti esensi otak dan nurani manusia. Menurut saya, saya harus mampu memotivasi mahasiswa agar mereka melihat tantangan teknologi ini sebagai peluang emas untuk mengasah kreativitas tingkat tinggi, di mana inovasi psikologis yang autentik lahir dari empati, intuisi, dan pengalaman hidup manusia yang tidak akan pernah dimiliki oleh algoritma kecerdasan buatan mana pun.

Dalam konteks kolaborasi, menurut saya, dosen harus mampu bekerja sama secara sejajar dengan mahasiswa untuk menciptakan sebuah kesepakatan atau pakta integritas mengenai batasan-batasan penggunaan teknologi dalam tugas-tugas akademik. Kolaborasi yang sehat ini akan menciptakan rasa tanggung jawab bersama yang secara tidak langsung akan membangun integritas akademik serta harga diri profesional mereka sejak dini. Apabila di kemudian hari terjadi pelanggaran berupa plagiarisme digital, menurut saya, pemberian sanksi yang bersifat mendidik harus ditegakkan dengan sangat tegas namun tetap dalam koridor yang manusiawi. Sanksi tersebut tidak boleh hanya bersifat hukuman nilai, melainkan bisa berupa penugasan ulang yang mengharuskan mahasiswa melakukan observasi lapangan secara langsung atau melakukan wawancara mendalam dengan tokoh inovator di masyarakat, yang mana hasilnya harus dipresentasikan secara spontan . Menurut saya, penerapan sanksi semacam ini akan melatih kejujuran, keberanian berpendapat, sekaligus meningkatkan kompetensi sosial serta kepekaan mereka terhadap realitas di dunia nyata.

Secara keseluruhan, menurut saya, pembangunan karakter di lingkungan kampus UP45 Yogyakarta tidak boleh berhenti pada tataran teori atau seminar semata, melainkan harus dipraktikkan secara konsisten melalui interaksi sosial yang intens antara dosen dan mahasiswa. Penguatan karakter melalui kedisiplinan dan kejujuran dalam mengerjakan setiap tugas adalah langkah awal yang paling fundamental untuk mencetak para inovator psikologi yang memiliki integritas moral tinggi di masa depan. Menurut saya, dengan menerapkan empat peran utama yang diamanatkan dalam peraturan menteri tersebut secara kreatif, dosen dapat tetap berdaya dan relevan di tengah gempuran teknologi yang kian canggih. Menurut saya, tujuan akhir dari pendidikan di abad AI ini bukan hanya menghasilkan lulusan yang pintar secara kognitif di atas kertas, tetapi juga menciptakan individu yang memiliki ketangguhan moral, empati sosial, dan kebijaksanaan untuk memimpin bangsa Indonesia di masa depan dengan penuh rasa tanggung jawab serta martabat yang luhur.

DAFTAR PUSTAKA

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. (2018). Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 20 Tahun 2018 tentang Penguatan Pendidikan Karakter pada Satuan Pendidikan Formal. Jakarta: Kemendikbud.

Lickona, T. (1991). Educating for character: How our schools can teach respect and responsibility. Bantam.

Luckin, R. (2018). Machine learning and human intelligence: The future of education in the 21st century. UCL Institute of Education Press.

Ujian remedial psikologi lingkungan kelas (B) Liany Nur Ramadhani 24310410016 (04/03/2025)

 Liany Nur Ramadhani 24310410016

Psikologi lingkungan (B) 

Dr. Arundati Shinta M.A.

04/03/2025


  Pengelolaan sampah global saat ini berada di persimpangan jalan antara solusi instan berbasis teknologi dan perubahan perilaku yang fundamental. Gambar 1 dalam dokumen tersebut merujuk pada "Hirarki Terbalik Limbah" oleh Chowdhury et al. (2014) yang menempatkan Prevention (Pencegahan) dan Reduce (Pengurangan) sebagai pilihan utama (most favored option). Namun, narasi yang menyertainya justru memunculkan kekeliruan konseptual yang signifikan mengenai hubungan antara energi, perilaku, dan efektivitas metode pengelolaan sampah.

Ketika Pemerintah Daerah (Pemda) berfokus pada pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) tanpa memperkuat basis 3R, terjadi sebuah kegagalan sistemik. Pertama, investasi besar pada infrastruktur insinerasi seringkali mengabaikan fakta bahwa sampah di Indonesia didominasi oleh sampah organik yang basah, yang memerlukan energi tambahan untuk dikeringkan sebelum dibakar membuatnya tidak efisien secara energi. Kedua, hal ini menciptakan narasi palsu bahwa masalah sampah dapat diselesaikan cukup dengan teknologi tanpa perlu mengubah gaya hidup konsumtif.

Untuk mengatasi ketimpangan antara teori dan praktik ini, diperlukan pendekatan yang lebih holistik dan jujur terhadap data:
  1. Redefinisi Prioritas Kebijakan: Pemda harus mengembalikan fokus pada Prevention dan Reduce. Hal ini dilakukan melalui regulasi pelarangan plastik sekali pakai dan pemberian insentif bagi industri yang menggunakan kemasan berkelanjutan. Solusi ini paling hemat energi dan paling berkelanjutan secara ekologis.
  2. Edukasi Perubahan Perilaku (Social Engineering): Berlawanan dengan teks tersebut, perubahan perilaku adalah kunci utama. Masyarakat harus didorong untuk melakukan pemilahan sampah organik dan anorganik di level rumah tangga. Sampah organik dapat dikelola menjadi kompos atau melalui budidaya maggot, yang jauh lebih ramah lingkungan daripada dibakar.
  3. Teknologi sebagai Penunjang, Bukan Panglima: Insinerasi hanya boleh digunakan untuk residu sampah yang benar-benar tidak bisa didaur ulang lagi (sampah sisa). Pembangkit listrik tenaga sampah jangan dijadikan alasan untuk melegalkan produksi sampah yang masif.
  4. Ekonomi Sirkular: Membangun ekosistem di mana barang-barang di desain untuk digunakan kembali (Reuse) dan didaur ulang (Recycle), sehingga nilai ekonomi sampah tetap terjaga tanpa harus menghancurkannya dalam api.
Kesimpulan : 
Pengelolaan sampah yang efektif tidak ditemukan dalam tungku pembakaran yang "memusnahkan sampah seketika", melainkan dalam kesadaran untuk tidak memproduksinya sejak awal. Klaim bahwa teknologi insinerasi adalah strategi yang paling disarankan dengan perubahan perilaku yang minim adalah sebuah kekeliruan fatal. Sejatinya, masa depan bumi bergantung pada seberapa mampu kita mengubah pola konsumsi dan menghargai sumber daya melalui implementasi hirarki limbah yang benar, yakni menempatkan pencegahan di atas segala bentuk pemusnahan.

Chowdhury, A.H., Mohammad, N., Ul Haque, Md.R. & Hossain, T. (2014). Developing 3Rs (reduce, reuse and recycle) strategy for waste management in the urban areas of Bangladesh: Socioeconomic and climate adoption mitigation option. IOSR Journal of Environmental Science, Toxicology and Food Technology (IOSR-JESTFT). 8(5), Ver. I, May, pp. 09-18.





UJIAN REMEDIAL

 

UJIAN REMEDIAL

Mata Kuliah Psikologi Lingkungan

Fakultas Psikologi

 

Topik Essai: INCINERATOR 

 

Dr. Dra. Arundati Shinta MA

 

Oleh KLEMENS SANDI ANDHIKA PRATAMA

24310410029

Menurut saya pada hirarki pengelolaan limbah seperti yang digambarkan oleh Chowdhury et al. (2024). Pencegahan dan pengurangan adalah strategi yang sangat disarankan. Artinya, masyarakat sebaiknya diajak untuk dapat mengurangi produksi sampah sejak awal, dengan cara menghindari penggunaan plastic sekali pakai, memilih produkksi dengan kemasan yang ramah lingkungan dan mengubah pola konsumsi. Langkah reuse dan recycle dapat menjadi pilihan berikutnya. Karena dari keduanya masih menjaga material tetap berada dalam siklus penggunaan. Jika semua opsi tersebut tidak memungkinkan, barulah dilakukan energy recovery dan disposal. Incinerator termasuk dalam kategori energy recovery, yaitu membakar sampah untuk menghasilkan energi panas yang dapat diubah menjadi listrik. Banyak pemerintah daerah di Indonesia kini membangun incinerator sebagai solusi cepat untuk mengurangi timbunan sampah. Tetapi dari sisi teknis, incinerator memiliki kelebihan :

  •       Sampah berkurang sangat drastic dalam waktu singka
  •       Volume residu yang tersisa jauh lebih kecil dibandingkan metode landfill.
  •       Energi panas dapat dimanfaatkan untuk PLTS pembangkit listrik tenaga sampah.

Jadi Incinerator sangat dapat mendukung upaya pengelolaan sampah yang lebih efisien, terutama di kota-kota besar yang sedang menghadapi masalah keterbatasan lahan untuk menjadi tempat pembuangan akhir. Tetapi disisi lain adanya tantangan dan kritik untuk incinerator. Incinerator bukanlah solusi tanpa masalah, tantangan yang dimaksud sepereti:

  • Biaya yang tinggi :Pembangunan dan operasional incinerator sudah sangat pasti membutuhkan investasi besar, jadi tidak semua daerah dapat melaksanakannya.
  •  Emisi Polutan:Incinerator jika tidak dikelola dengan teknologi penyaring yang sangat baik maka pembakaran sampah dapat menghasilkan gas yang berbahaya seperti dioksin dan furan.
  •  Resiko mengabaikan 3R:Pada masyarakat dapat menjadi kurang termotivasi untuk melakukan reduce, reuse, dan recycle karena merasa sampah akan hilang begitu saja melalui incinerator.
  •  Adanya ketergantungan pada volume sampah:Incinerator membutuhkan pasokan sampah dalam jumlah besar agar efisien. Secara tidak langsung dapat mendorong budaya konsumsi yang sangat berlebihan.Incinerator bukan pengganti untuk mendaur ulang sampah melainkan hanya pelengkap. 
Jika masyarakat tidak diajak untuk mengurangi dan daur ulang. Incunerator hanya menjadi solusi jangka pendek, agar incinerator benar-benar mendukung 3R, memang harus ada kebijakan yang dapat memastikan bahwa hanya residu sampah yang tidak bisa didaur ulang yang masuk ke incinerator. Dengan adanya kebijakan seperti itu incinerator dapat berfungi sebagai jalan terakhir setelah upaya melakukan 3R diterapkan atau dilakukan.

Masyarakat sering melupakan hal pengelolaan sampah bukan hanya teknologi, tetapi juga soal perubahan perilaku masyarakat. Prevention dan reduce juga membutuhkan kesadaran kolektif seperti edukasi, kampanye public, dan regulasi yang mendorong produsen serta konsumen untuk lebih bertanggung jawab. Jika tidak adanya perubahan perilaku, incinerator hanya akan menjad imesin besar yang terus-meneruts membakar sampah. Sedangkan pola konsumsi dari masyarakat tetap boros dan tidak berkelanjutan.

Secara keseluruhan Incinerator bisa menjadi bagian dari solusi pengelolaan sampah di Indonesia, terutama dalam kontek Energi Recovery. Tetapi jika kita lihat dari hirarki pengelolaan limbah, incinerator bukanlah most favored option, melanikan salah satu pilihan dibagian bawah piramida hirarki pengelolaan limbah. Strategi yang paling disarankan tetaplah adanya pencegahan dan pengurangan sampah. Pembangunan incinerator juga harus diiringi dengan kebijakan yang kuat untuk mendorong 3R, seperti edukasi masyarakat, adanya pengawasan ketat terhadap lingkungan dan sebagainya. Dengan adanya kombinasi seperti ini antara teknologi dan perubahan perilaku, barulah pengelolaan sampah nisa efektif, efisien dan berkelanjutan.