12.5.26
11.5.26
Deltha Arthaliya NIM 24310430209 - Psi Inovasi - Tugas 2 - Wawancara Disonansi Kognitif - Arundati Shinta - Mei 2026 - Kelas Karyawan
Disonansi Kognitif pada Perokok Aktif dalam
Perspektif Psikologi Inovasi
Deltha Arthaliya
24310430209
Pendahuluan
Disonansi kognitif merupakan kondisi psikologi ketika seseorang mengalami ketidaksesuaian antara pengetahuan, keyakinan, dan perilaku yang dimilikinya. Sehingga ketika muncul konflik antara apa yang diketahui dan apa yang dilakukan, individu akan merasa tidak nyaman secara psikologis. Untuk mengurangi rasa tidak nyaman tersebut, seseorang biasanya akan mencari pembenaran, menyangkal sebagai fakta, atau mengalihkan perhatian pada hal lain agar perilakunya tetap terasa dapat diterima.
Hasil Wawancara dan Analisis
Wawancara dilakukan pada seorang petani muda yang aktif merokok. Sebut saja Amin. Saat ditanya mengapa masih merokok, Amin menjawab bahwa dirinya sedang tidak merokok karena merasa bosan. Ia juga mengatakan bahwa jika rasa bosan itu terus muncul, maka kemungkinan saatnya ia berhenti merokok.
Saat ditanya apakah merokok merupakan hal baik atau buruk, Amin menjawab bahwa hal tersebut tergantung sudut pandang. Menurutnya, merokok memiliki sisi baik karena dapat membantu pengusaha rokok, pekerja industri rokok, petani tembakau, dan penjual tembakau. Ia mengaku bahwa dirinya mengetahui dampak buruk rokok bagi kesehatan, tetapi ia merasa bahwa niat membantu banyak orang melalui industri tersebut juga merupakan hal baik. Amin juga mengatakan bahwa sesuatu yang berlebihan memang tidak baik, termasuk merokok. Selain itu, menurutnya, hal paling sulit dalam proses berubah adalah rasa nyaman.
Dari apa yang disampaikan Amin, terlihat adanya disonansi kognitif. Amin memahami bahwa merokok berdampak buruk bagi kesehatan, tetapi ia tetap mempertahankan perilaku tersebut. Untuk mengurangi konflik batin yang muncul, ia menggunakan mekanisme pertahanan diri.
Amin mencoba menciptakan keseimbangan dalam pikirannya. Rasionalisasi terlihat ketika Amin menjelaskan sisi positif dari merokok dengan menekankan manfaat ekonomi bagi banyak orang. Alasan tersebut menjadi bentuk pembenaran diri agar perilaku merokok tetap terasa bermakna dan tidak sepenuhnya dianggap buruk.
Selain itu, bentuk denial terlihat ketika Amin mengatakan bahwa yang tidak baik adalah sesuatu yang berlebihan. Pernyataan tersebut cenderung mengecilkan risiko merokok selama dilakukan dalam batas tertentu.
Permasalahan dan Hubungan
Permasalahan dalam case ini adanya ketidaksesuaian antara pengetahuan dan tindakan. Amin mengetahui bahwa merokok memiliki dampak negatif bagi kesehatan, tetapi rasa nyaman dan kebiasaan membuatnya tetap mempertahankan perilaku tersebut. Hal tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan tidak selalu cukup untuk menghasilkan perubahan perilaku. Kadang seseorang lebih memilih mempertahankan kenyamanan psikologis dibanding menghadapi proses perubahan yang tidak nyaman.
Dalam psikologi inovasi, perubahan membutuhkan keterbukaan terhadap pola pikir baru dan keberanian meninggalkan kebiasaan lama. Namun disonansi kognitif dapat menjadi hambatan karena individu cenderung kreatif dalam menciptakan alasan.
Kalimat dari Amin, “Hal paling sulit dari proses berubah adalah rasa nyaman.” menunjukan bahwa tantangan terbesar bukan hanya kurangnya informasi, tetapi keterikatan emosional terhadap kebiasaan yang sudah memberi rasa aman dan nyaman. Dalam psikologi inovasi, seseorang dapat berkembang ketika ia mau menghadapi ketidak nyamanan demi membangun pola hidup baru yang lebih sehat.
Kesimpulan
Dalam kasus ini, memperlihatkan bahwa manusia tidak selalu bertindak sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya. Rasa nyaman, kebiasaan, dan kebutuhan mempertahankan diri sering kali membuat seseorang lebih memilih membenarkan perilaku lama dibanding berubah.
Melalui sudut pandang psikologi inovasi, perubahan perilaku membutuhkan kesiapan psikologis untuk keluar dari zona nyaman. Inovasi tidak hanya terjadi pada teknologi atau ide baru, tetapi juga pada keberanian individu untuk membentuk pola pikir dan kebiasaan hidup yang lebih sehat.
ESAI 3- MENJADI SURI TAULADAN
MENJADI SURI TAULADAN MELALUI KETEKUNAN DAN KETEGUHAN
ESSAY-3A
Alifa Maura Bunga Herina
24310430041
Mata kuliah : Psikologi Inovasi
Dosen Pengampu: Dr., Dra. Arundati Shinta, MA.
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta
Mei 2026
Dalam menghadapi kehidupan yang penuh perubahan, setiap individu dituntut untuk memiliki kemampuan beradaptasi sekaligus menjadi pribadi yang dapat memberikan pengaruh positif bagi orang lain. Salah satu cara untuk mencapai hal tersebut adalah dengan mengembangkan ketekunan dan ketangguhan, yang pada akhirnya dapat menjadikan seseorang sebagai suri teladan atau model yang inspiratif bagi lingkungan sekitarnya. Di era yang serba cepat ini, perubahan tidak hanya terjadi dalam aspek teknologi, tetapi juga dalam cara berpikir, berinteraksi, dan mengambil keputusan. Oleh karena itu, individu yang mampu bertahan sekaligus berkembang adalah mereka yang memiliki fondasi karakter yang kuat.
Tips pertama adalah membangun ketekunan dalam menghadapi proses. Ketekunan bukan hanya tentang bekerja keras, tetapi juga tentang konsistensi dalam menjalani usaha meskipun menghadapi berbagai hambatan. Dalam konteks resiliensi, ketekunan membantu individu untuk tidak mudah menyerah saat menghadapi kegagalan. Misalnya, dalam dunia entrepreneurship, kegagalan sering kali menjadi bagian dari proses belajar. Individu yang tekun akan melihat kegagalan sebagai peluang untuk memperbaiki strategi dan meningkatkan kualitas diri. Selain itu, ketekunan juga mendorong terbentuknya dorongan berprestasi, karena individu memiliki tujuan yang jelas dan berusaha mencapainya secara berkelanjutan. Konsep ini sejalan dengan teori grit yang dikemukakan oleh Duckworth (2016), yaitu kombinasi antara passion dan perseverance dalam mencapai tujuan jangka panjang.
Dalam konteks beladiri seperti karate, ketekunan menjadi kunci utama dalam membentuk kemampuan sekaligus karakter. Seorang yang berlatih karate sejak dini hingga dewasa harus melalui proses panjang yang tidak mudah, mulai dari latihan fisik yang melelahkan, penguasaan teknik yang berulang, hingga menghadapi kekalahan dalam pertandingan. Latihan rutin yang dilakukan setiap minggu, bahkan dengan tambahan latihan intensif di luar jadwal, menuntut konsistensi dan komitmen yang tinggi. Ketekunan ini pada akhirnya tidak hanya meningkatkan kemampuan fisik, tetapi juga membentuk mental yang kuat dan disiplin yang tinggi.
Untuk membangun ketekunan, seseorang dapat memulai dengan menetapkan tujuan yang realistis dan terukur, kemudian membagi tujuan tersebut menjadi langkah-langkah kecil yang dapat dicapai secara bertahap. Dengan demikian, setiap keberhasilan kecil akan menjadi motivasi untuk terus melangkah maju. Ketekunan juga erat kaitannya dengan kemampuan perencanaan terhadap perubahan. Individu yang tekun tidak hanya fokus pada tujuan akhir, tetapi juga mampu menyesuaikan rencana ketika menghadapi situasi yang tidak terduga. Selain itu, penting untuk mengembangkan disiplin diri dan kemampuan mengelola emosi agar tetap konsisten dalam proses jangka panjang. Dalam hal ini, kecerdasan emosional berperan penting dalam membantu individu mengontrol emosi dan tetap fokus pada tujuan (Goleman, 2006).
Tips kedua adalah mengembangkan ketangguhan sebagai dasar untuk menjadi suri teladan. Ketangguhan atau resilience merupakan kemampuan untuk bangkit kembali setelah mengalami kesulitan. Individu yang tangguh tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berkembang dari pengalaman tersebut. Dalam kehidupan sosial, orang yang tangguh sering kali menjadi inspirasi bagi orang lain karena menunjukkan sikap tidak mudah menyerah dan tetap optimis dalam menghadapi tantangan. Ketangguhan juga mencerminkan kemampuan seseorang dalam mengelola stres dan tekanan secara sehat.
Dalam perjalanan menjadi seorang asisten pelatih karate, ketangguhan dan keteguhan menjadi nilai yang sangat penting. Seorang asisten pelatih tidak hanya dituntut untuk menguasai teknik, tetapi juga mampu menjadi contoh bagi peserta latihan. Pengalaman menghadapi kekalahan, rasa takut, hingga tekanan dalam latihan menjadi proses pembentukan mental. Keteguhan terlihat ketika seseorang tetap bertahan meskipun pernah gagal dan merasa tidak percaya diri. Dengan terus berlatih dan didukung oleh lingkungan seperti pelatih, keluarga, dan teman, individu belajar untuk melawan rasa takut dan menjadi lebih berani. Hal ini berkaitan dengan konsep self-efficacy yang dikemukakan oleh Bandura (1997), yaitu keyakinan individu terhadap kemampuannya dalam menghadapi tantangan.
Ketangguhan juga berkaitan dengan kepekaan terhadap perubahan. Individu yang tangguh mampu membaca situasi dan menyesuaikan diri dengan cepat. Hal ini sangat penting di era modern yang penuh dengan dinamika dan ketidakpastian. Dengan memiliki ketangguhan, seseorang dapat menjadi role model yang “keren”, yaitu individu yang tidak hanya sukses secara pribadi, tetapi juga mampu memberikan contoh nyata tentang bagaimana menghadapi kehidupan dengan sikap positif dan produktif. Sikap ini juga akan memengaruhi lingkungan sekitar, karena energi positif cenderung menular melalui interaksi sosial.
Hubungan antara ketekunan dan ketangguhan sangat erat. Ketekunan membantu individu untuk terus berjalan, sementara ketangguhan memastikan individu mampu bangkit ketika terjatuh. Dalam peran sebagai asisten pelatih karate, kedua hal ini terlihat jelas melalui konsistensi latihan, kemampuan menghadapi tekanan, serta kesiapan untuk membimbing orang lain. Keteladanan tidak hanya ditunjukkan melalui kemampuan, tetapi juga melalui sikap disiplin, tanggung jawab, dan semangat pantang menyerah.
Dengan demikian, menjadi suri teladan bukanlah sesuatu yang instan, melainkan hasil dari proses panjang yang melibatkan ketekunan dan ketangguhan. Kedua hal ini dapat dilatih dan dikembangkan melalui pengalaman serta kesadaran diri. Oleh karena itu, setiap individu memiliki kesempatan untuk menjadi model yang inspiratif dengan cara terus berusaha, belajar dari kegagalan, dan beradaptasi dengan perubahan. Pada akhirnya, kontribusi kecil yang dilakukan secara konsisten dapat membawa dampak besar, baik bagi diri sendiri maupun bagi lingkungan sekitar.
Daftar Pustaka
Bandura, A. (1997). Self-Efficacy: The Exercise of Control. New York: Freeman.
Duckworth, A. (2016). Grit: The Power of Passion and Perseverance. New York: Scribner.
Goleman, D. (2006). Emotional Intelligence. New York: Bantam Books.
Link Video YouTube:
MENJADI SURI TAULADAN KEREN MELALUI KETEKUNAN DAN KEBERANIAN SEBAGAI ASISTEN PELATIH KARATE
ESSAY-3B
Alifa Maura Bunga Herina
24310430041
Mata kuliah : Psikologi Inovasi
Dosen Pengampu: Dr., Dra. Arundati Shinta, MA.
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta
Mei 2026
Dalam kehidupan yang penuh tantangan dan perubahan, setiap individu dituntut untuk mampu beradaptasi serta memiliki karakter yang kuat. Menjadi pribadi yang tidak hanya berkembang untuk diri sendiri, tetapi juga mampu menginspirasi orang lain merupakan sebuah nilai lebih yang penting. Salah satu cara untuk mencapainya adalah dengan membangun ketekunan dan keberanian. Dua hal ini saling berkaitan dan menjadi fondasi dalam proses pembentukan diri, seperti yang saya alami dalam perjalanan menjadi seorang asisten pelatih karate.
Tips pertama adalah membangun ketekunan melalui proses latihan yang konsisten dan disiplin. Ketekunan bukan sekadar bertahan dalam kondisi sulit, tetapi juga tentang komitmen untuk terus melangkah maju meskipun hasil belum terlihat secara instan. Saya mulai berlatih karate sejak kelas 5 sekolah dasar hingga saat ini di bangku kuliah. Perjalanan panjang ini mengajarkan saya bahwa keberhasilan tidak datang secara tiba-tiba, melainkan melalui proses yang berulang dan penuh kesabaran.
Latihan yang saya jalani cukup intens. Setiap hari Sabtu dan Minggu, saya berlatih dari pukul 16.00 hingga 18.00. Selain itu, terdapat latihan tambahan pada malam Minggu dari pukul 19.00 hingga 22.00 malam. Dalam latihan tersebut, fokus utama tidak hanya pada penguasaan teknik bela diri, tetapi juga pada peningkatan kekuatan fisik dan stamina tubuh. Terkadang rasa lelah dan jenuh muncul, namun dengan ketekunan, saya belajar untuk tetap konsisten dan tidak mudah menyerah.
Ketekunan yang saya bangun selama bertahun-tahun akhirnya membuahkan hasil. Saya berkesempatan mengikuti berbagai perlombaan, mulai dari tingkat kecamatan hingga provinsi, dan berhasil meraih beberapa kemenangan. Namun, perjalanan tersebut tidak selalu berjalan mulus. Saya juga pernah mengalami kekalahan yang membuat saya merasa sangat kecewa hingga menangis. Pengalaman itu menjadi titik penting yang mengajarkan bahwa kegagalan adalah bagian dari proses belajar.
Tips kedua adalah belajar menjadi berani dengan mengelola rasa takut dan overthinking.Pada awalnya, saya adalah pribadi yang mudah merasa takut dan sering berpikir berlebihan. Rasa khawatir akan kegagalan sering muncul, terutama saat menghadapi pertandingan. Hal tersebut sempat membuat saya kurang percaya diri dan ragu terhadap kemampuan diri sendiri.
Namun, seiring dengan latihan yang terus saya jalani dan pengalaman yang saya lewati, saya mulai memahami bahwa keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa takut. Keberanian adalah kemampuan untuk tetap melangkah meskipun rasa takut itu ada. Saya belajar untuk mengontrol pikiran, fokus pada proses, dan mempercayai kemampuan yang telah saya latih.
Peran keluarga, pelatih, dan teman-teman sangat besar dalam membantu saya melewati fase tersebut. Dukungan mereka memberikan motivasi dan kekuatan ketika saya merasa lemah. Mereka mengajarkan bahwa setiap kegagalan adalah kesempatan untuk belajar dan menjadi lebih baik. Dari sinilah saya mulai tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri dan berani menghadapi tantangan.
Ketekunan dan keberanian adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Ketekunan membantu saya untuk terus berkembang, sementara keberanian membantu saya untuk menghadapi berbagai rintangan dalam proses tersebut. Kombinasi keduanya membentuk karakter yang tangguh dan siap menjadi contoh bagi orang lain.
Berkat proses panjang yang saya jalani, kini saya dipercaya menjadi seorang asisten pelatih karate. Dalam peran ini, saya tidak hanya membantu pelatih dalam mengajarkan teknik bela diri, tetapi juga membimbing peserta latihan agar memiliki disiplin, mental yang kuat, dan rasa percaya diri. Saya ingin berbagi pengalaman bahwa setiap orang memiliki potensi untuk berkembang jika mau berusaha dan tidak menyerah.
Menjadi suri tauladan keren bukan berarti harus menjadi sempurna, tetapi mampu menunjukkan proses perjuangan yang nyata dan memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar. Dengan ketekunan dan keberanian, saya percaya setiap individu dapat berkembang menjadi pribadi yang lebih baik dan menjadi inspirasi bagi orang lain.
Deltha Arthaliya - Psi Inovasi - Tugas 1 - Meringkas Jurnal Entrepreneurship - Arundati Shinta - NIM 24310430209 - Mei 2026
Esai 1 - Meringkas Jurnal Entrepreneurship
Topik | Hubungan antara psychological capital, perilaku inovasi kreatif, dan performa perusahaan pada entrepreneur |
Sumber | Gao, Q., dkk. (2020). The Entrepreneur’s Psychological Capital, Creative Innovation Behavior, and Enterprise Performance. Dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Psychology. Sumber jurnal: https://www.frontiersin.org/journals/psychology/articles/10.3389/fpsyg.2020.01651/full?utm_source=chatgpt.com |
Permasalahan | Dalam dunia bisnis yang terus berubah, entrepreneur dituntut untuk mampu bertahan, beradaptasi, dan menciptakan inovasi. Namun, banyak penelitian sebelumnya lebih berfokus pada strategi bisnis, modal ekonomi, atau teknologi, dan belum banyak membahas bagaimana kondisi psikologis seorang entrepreneur dapat mempengaruhi keberhasilan bisnisnya. Padahal, entrepreneur juga manusia yang menghadapi tekanan, ketidakpastian, kegagalan, dan tuntutan besar. Dari sini muncul pertanyaan apakah kondisi psikologis positif dapat membantu entrepreneur menjadi lebih kreatif dan meningkatkan performa perusahaan? |
Tujuan Penelitian |
|
Isi | Menjelaskan bahwa psychological capital merupakan modal psikologis positif yang dimiliki individu. Psychological capital terdiri dari empat aspek utama, yaitu: self-efficacy (kepercayaan diri terhadap kemampuan diri), hope (harapan dan kemampuan mencari jalan menuju tujuan), optimism (cara pandang positif terhadap masa depan), serta resilience atau toughness (kemampuan bangkit dari tekanan dan kegagalan). Dalam penelitiannya, juga menjelaskan bahwa entrepreneur dengan kondisi psikologis yang sehat cenderung lebih percaya diri, lebih tahan menghadapi tekanan, dan lebih terbuka terhadap perubahan. Kondisi ini kemudian mendorong munculnya creative innovation behavior atau perilaku inovatif kreatif. Perilaku inovatif kreatif dalam jurnal ini meliputi: inovasi teknologi, inovasi bisnis, dan kemampuan membangun relasi atau jaringan sosial. Melalui inovasi tersebut, entrepreneur dapat mengembangkan bisnis, meningkatkan daya saing, dan mempertahankan performa perusahaan di tengah perubahan zaman. Penelitian ini menunjukkan bahwa inovasi bukan hanya lahir dari kecerdasan intelektual, tetapi juga dari kondisi psikologis yang positif dan stabil. |
Metode | Penelitian dilakukan kepada 536 entrepreneur dari 517 perusahaan di Anhui, China. Peneliti menggunakan metode kuantitatif melalui penyebaran kuesioner untuk mengukur psychological capital, creative innovation behavior, dan enterprise performance. Data kemudian dianalisis menggunakan multiple regression analysis dan structural equation modeling (SEM) untuk melihat hubungan antar variabel secara lebih mendalam. |
Hasil | Hasil penelitian menunjukkan bahwa psychological capital memiliki pengaruh positif terhadap performa perusahaan. Entrepreneur yang memiliki rasa percaya diri, optimisme, harapan, dan kemampuan bertahan yang baik cenderung memiliki performa bisnis yang lebih tinggi. Selain itu, creative innovation behavior juga terbukti berpengaruh positif terhadap keberhasilan perusahaan. Entrepreneur yang aktif berinovasi, terbuka pada ide baru, dan mampu membangun relasi memiliki peluang lebih besar untuk mengembangkan bisnisnya. Penelitian ini juga menemukan bahwa perilaku inovatif kreatif menjadi penghubung penting antara psychological capital dan performa perusahaan. Artinya, kondisi psikologis positif membantu entrepreneur menjadi lebih kreatif, lalu kreativitas tersebut berdampak pada keberhasilan bisnis. |
Diskusi | Jurnal ini memberikan pemahaman bahwa entrepreneurship bukan hanya tentang modal uang atau kemampuan bisnis, tetapi juga tentang kondisi psikologis manusia di dalamnya. Seorang entrepreneur yang sehat secara mental cenderung lebih mampu menghadapi tantangan, mengambil keputusan, dan menciptakan inovasi. Penelitian ini juga memperlihatkan bahwa kreativitas dan inovasi sering kali tumbuh dari rasa percaya diri, harapan, dan kemampuan seseorang untuk bangkit dari kegagalan. Dalam dunia yang penuh perubahan, kemampuan psikologis menjadi salah satu fondasi penting untuk mempertahankan usaha. Dalam jurnal ini mengingatkan bahwa keberhasilan bisnis tidak selalu dimulai dari strategi besar, tetapi juga dari bagaimana seseorang mengenali, menjaga, dan menguatkan dirinya sendiri. Ketika individu memiliki ruang psikologis yang sehat, maka ide, kreativitas, dan inovasi dapat tumbuh dengan lebih alami. |
10.5.26
ESAI 2_ DISONANSI KOGNITIF_ SULASTRI
Wawancara
Disonansi Kognitif
Sulastri (23310410122)
Fakultas
Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta
Dosen
Pengampu : Dr. Arundati Shinta,M.A.
April
2026
Baron
dan Byrne mengungkapkan bahwa disonansi kognitif adalah suatu keadaan yang tidak
menyenangkan dan terjadi Ketika individu menyadari telah memiliki beberapa sikap
yang tidak konsisten dengan tingkah lakunya. Di sisi lain , Chasanah dan
mathori menjelaskan disonansi kognitif sebagai suatu kondisi terjadinya kekacauan
atau kebingungan dalam diri individu Ketika apa yang mereka percaya tidak
sesuai atau tidak sejalan dengan apa yang mereka lakukan.
Dalam tugas
ini saya mewawancarai seorang Karyawan toko di yogyakarta, pada hari Ahad 3 mei
2026 ( di Rumah beliau). Bapak ini berusia 52 tahun berinisial W. bapak W sudah
bekerja menjadi karyawan toko selama 30 th, beliau adalah perokok aktif sejak
usia muda bahkan beliau di bangku sekolah SMA sudah merokok. Beliau mengetahui
bahwa dampak dan resiko dari merokok itu apa, namun beliau tetap melakukan
untuk merokok dengan alasan yang di ungkapkanya “ ya,sebenarnya saya tau
resikonya mba, apalagi di bungkus sekarang tertuliskan dan ada gambar penyakit – penyakit yang
disebabkan oleh merokok, ya sebenarnya saya ada rasa takut, tetapi karena
merokok itu bagi saya seperti nasi yang memberikan kenikmatan tersendiri, jadai
ya saya lawan rasa takut itu”. Ungkap beliau. Bahkan beliau sempat
bercerita setiap merokok selalu di marahi istri, anak, cucu. Bahkan kemaren
saat bapak W berusia 48 tahun, sempat periksa ke dokter bahwa ada penyumbatan
jantung, jadi harus sebisa mungkin beliau harus mengurangi merokoknya. Akhirnya
sejak saat itu beliau mulai mengurangi merokoknya pelan – pelan. Dan berdasarkan
hasil wawancara beliau mengungkapkan “ sejak saat saya sakit penyumbatan
jantung, saya mulai mengurangi merokok bahkan saya sempat berhenti merokok, dan
saya ganti dengan makan permen supaya mulut tidak pahit. Selama 6 bulan saya control
ke rumah sakit, Alhamdulillah saya sembuh dan normal Kembali”. Menurut penuturan
beliau.
Kemudian
setelah beberapa saya gali dari informasi wawancara. Bapak Wdi nyatakan sembuh,
dan dari ceritanya beliau mulai mencoba untuk Kembali lagi merasakan merokok
lagi. Yah, walaupun satu hari hanya 1 batang rokok. Namun beliau mulai merokok
lagi. Kemudian di kerjaan mulai merokok lagi, dan lama – lama rokoknya semakin
aktif dan seperti dulu lagi seperti awal
sebelum sakit. Kemudian bapak ini saya tanya kenpa bapak yang sudah berhenti
dari merokok, kok memiliki pemikiran untuk bisa merokok lagi ?, kemudian beliau
menjawab :” begini mbak, soalnya saya sudah yakin saya nggak sakit lagi,
tidak pernah kambuh, kemudian jika saya bekerja
lingkungan saya adalah teman yang merokok semua, terkadang saya hanya
ingin menyesuaikan seperti mereka, awalnya hanya mau satu batang saja supaya bisa
menemani mereka saat merokok, tapi malah jadi Kembali seperti dulu, dan
sekarang saya selalu mengantarkan barang jarak jauh terkadang luar kota, kalau
tidak saya selingi dengan merokok rasanya saya lemes dan tidak semangat “. Dan
dari cerita bapaknya, sekarang ini beliau memiliki cucu kecil yang berusia 3
tahun, yang mempunyai penyakit ( pneumonia), dan sebenarnya beliau mengakui
bahwa juga kesalahanya karena terkadang beliau merokok di ruangan yang diisitu
ada cucunya, dan selalu mencium cucunya setelah merokok. Mulai sekarang
mengurangi rokoknya lagi.
ESAI 3a & 4b - Pembuktian Diri: Cerita Resiliensi Saya
ESAI 3 - Pembuktian Diri: Cerita Resiliensi Saya
Nama : Ali Imron
NIM : 23310410123
Kelas : Kariawan
Mata Kuliah : Psikologi Inovasi
Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.
Tugas : Esai 3a & 3b Cerita Resiliensi saya
Dulu, melihat teman-teman saya dapat piala dan penghargaan itu rasanya agak menyesakkan. Dari kecil sampai hampir lulus SMA, saya tidak pernah mendapatkan hal tersebut. Sementara teman-teman yang lain sibuk pamer medali, saya cuma bisa jadi penonton di barisan belakang. Jujur saja, ada rasa haus yang besar untuk diakui, rasa ingin menunjukkan kalau saya juga bisa membanggakan. Akhirnya, di masa SMA, saya mutusin buat berhenti mengasihani diri sendiri. Saya sadar kalau saya butuh mental yang kuat untuk berubah. Saya pun mulai belajar tentang resiliensi lewat dua cara yang saling nyambung yaitu mengubah sudut pandang (reframing) dan menyusun target kecil (goal setting).
Saya berusaha mengubah kata"Gagal" Menjadi "Belum Saatnya". Hal pertama yang saya lakukan adalah membenahi isi kepala. Dulu, setiap kali kalah atau nggak terpilih, saya selalu mikir, "Memang dasarnya saya nggak berbakat." Tapi saya coba ubah pikiran itu. Saya mulai melihat absennya prestasi selama bertahun-tahun bukan sebagai tanda kebodohan, tapi sebagai masa persiapan yang panjang. Saya yakinkan diri sendiri kalau saya bukan nggak bisa, tapi cuma telat panas. Dengan mengubah cara pandang ini, rasa minder saya pelan-pelan berubah jadi ambisi. Saya nggak lagi melihat piala orang lain sebagai beban, tapi sebagai pengingat kalau suatu saat nama saya pun bisa dipanggil ke depan.
Saya berusaha maju pelan-pelan, yang penting jalan. Setelah mentalnya siap, saya nggak langsung ambisius mau menang lomba tingkat nasional. Saya tahu kalau langsung pasang target setinggi langit, saya bisa hancur lagi kalau gagal. Jadi, saya pakai teknik goal setting yang lebih membumi. Saya mulai dari target-target kecil. Misalnya, berani angkat bicara di kelas, ikut kepanitiaan di sekolah, atau sekadar dapat nilai terbaik di satu tugas yang saya suka. Setiap kali target kecil itu tercapai, saya ngerasa, "Oh, ternyata saya bisa ya" Kemenangan-kemenangan kecil inilah yang jadi anak tangga buat saya menuju prestasi yang lebih besar. Tanpa target yang jelas, keinginan saya buat berprestasi cuma bakal jadi mimpi di siang bolong.
Resiliensi buat saya bukan cuma soal tahan banting, tapi soal gimana kita mengolah rasa sakit hati karena nggak pernah juara menjadi energi buat lari lebih kencang. Lewat cara pikir yang baru dan langkah-langkah kecil yang konsisten, saya akhirnya bisa membuktikan ke diri sendiri saya bukan sekadar orang biasa. Saya punya kebanggaan, dan saya punya tempat di podium itu. Dari yang tadinya cuma penonton, sekarang saya sudah jadi pemainnya.
Link Youtube :
https://youtube.com/shorts/y6FnT50WlcE?si=EvifqC6Yvlc0Tzlv
https://youtube.com/shorts/P1Hvl9KE8tk?si=9zKyr0jsrXY59MB2
Daftar Pustaka :
Seligman, M. E. P. (2006). Learned Optimism: How to Change Your Mind and Your Life. New York: Vintage Books.
Bandura, A. (1997). Self-Efficacy: The Exercise of Control. New York: W.H. Freeman and Company.
9.5.26
Esai 4 - My Best Coping Behavior - Nariswari Salsabiela (23310410107)
Esai 4
Psikologi Inovasi – My Best Coping Behavior
Dosen
Pengampu : Dr.
Dra. Arundati Shinta, M.A.
When the Sea Healed Me: Ruang
Tenang untuk Pulih
Oleh: Nariswari Salsabiela (23310410107)
Salah satu peristiwa paling
menyakitkan dalam hidup saya terjadi pada Juli 2018, saat saya lulus SMA.
Alih-alih menjadi momen kebanggaan, saya justru menghadapi kegagalan masuk
sekolah kedinasan yang sangat diharapkan mama. Rasa bersalah muncul, seolah usaha
saya tidak sebanding dengan hasil. Di saat yang sama, saya diterima di Fakultas
Biologi UGM, tetapi terkendala biaya untuk hidup dan UKT. Di tengah tekanan
akademik yang tinggi, saya harus bekerja part-time di
restoran, menjadi asisten penelitian, asisten praktikum, hingga berjualan
kerajinan dari sampah. Situasi ini memunculkan stres kronis, yang dalam Transactional
Model of Stress and Coping dipahami sebagai ketidakseimbangan antara
tuntutan lingkungan dan sumber daya individu.
Dalam fase tersebut, saya mencoba
berbagai strategi coping. Saya rutin berolahraga lari pagi sebagai
bentuk problem-focused-coping untuk mengalihkan stres. Namun,
strategi ini tidak sepenuhnya adaptif. Ketika motivasi menurun, saya justru
merasa gagal dan semakin keras pada diri sendiri. Pola ini diperkuat oleh maladaptive
perfectionism, yaitu kecenderungan menetapkan standar tinggi yang tidak
realistis hingga memicu kelelahan dan burnout. Karena terlalu
memaksakan diri, saya sempat jatuh sakit dan harus menjalani opname.
Dari situ, saya mulai menyadari bahwa tidak semua coping yang
terlihat produktif benar-benar sehat secara psikologis.
Perubahan terjadi ketika saya
menemukan coping behavior yang lebih sesuai dengan kebutuhan
emosi saya, yaitu emotion-focused-coping yang adaptif. Saya
memilih untuk mengambil jeda dengan pergi ke alam, terutama ke pantai,
melakukan me-time, journaling, dan melukis. Dalam
keheningan itu, saya merasa seperti berdialog dengan diri sendiri dan
membiarkan emosi datang tanpa dihakimi. Proses ini selaras dengan konsep emotion
regulation dari James Gross, yaitu kemampuan mengelola emosi secara
adaptif. Saya juga mulai mengembangkan self-compassion sebagaimana
dijelaskan Kristin Neff, yaitu kemampuan menerima dan memperlakukan diri dengan
lebih lembut. Mungkin karena kebiasaan saya yang sering pergi ke laut inilah,
sejak kuliah di Biologi UGM, teman-teman mulai memanggil saya dengan nama panggilan
“Sea”, sebuah nama yang tanpa saya sadari menjadi simbol proses pulih saya.
Dari pengalaman ini, saya
menemukan coping terbaik untuk diri saya. Sejak saat itu, tiap
saya merasa sedih, gagal, atau lelah dengan tuntutan hidup, saya selalu kembali
ke pantai untuk menyendiri dan berkontemplasi. Saya belajar bahwa coping
behavior terbaik bukan yang paling keras, melainkan yang paling
selaras dengan kebutuhan psikologis diri. Dalam psikologi inovasi, proses
menemukan coping yang tepat merupakan bentuk eksplorasi diri.
Dari berbagai percobaan dan titik lelah, saya memahami satu hal: terkadang
untuk kembali kuat, kita perlu berhenti sejenak. Bagi saya, “Sea” bukan sekadar
tempat, tetapi ruang tenang untuk pulih.
Daftar Pustaka
Lazarus, R. S., & Folkman, S.
(1984). Stress, Appraisal, and Coping. Springer.
Neff, K. D. (2003).
Self-compassion: An alternative conceptualization of a healthy attitude toward
oneself. Self and Identity, 2(2), 85–101.
Gross, J. J. (1998). The emerging
field of emotion regulation: An integrative review. Review of General
Psychology, 2(3), 271–299.







