Tisya
Sukmalatri
24310410022
Psikologi
Inovasi - Kelas Karyawan
Essay
2 – Wawancara Tentang Disonansi Kognitif
Dosen
Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A
Fakultas
Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta
“Mengetahui
Dampak Kopi terhadap Asam Lambung, tetapi Tetap Meminumnya”
Dalam
kehidupan sehari-hari, seseorang terkadang mengetahui bahwa suatu perilaku
kurang baik bagi dirinya, tetapi tetap melakukannya. Salah satu contohnya
adalah kebiasaan minum kopi pada seseorang yang memiliki masalah asam lambung.
Dalam wawancara ini, saya memilih subjek yang mengetahui bahwa kopi dapat
memperburuk kondisi lambungnya, tetapi tetap mengonsumsi kopi karena menyukai
rasanya dan sudah terbiasa meminumnya. Inisial nama SL jabatan CS.
Berdasarkan
hasil wawancara dengan SL jabatan CS, diketahui bahwa subjek memiliki kebiasaan
minum kopi meskipun mengetahui bahwa kopi dapat menimbulkan masalah pada
lambungnya. Subjek mengatakan, “Saya tahu kopi bisa membuat lambung saya sakit,
tapi saya tetap minum kopi karena sudah terbiasa dan suka.” Subjek juga
mengungkapkan “yang penting tidak terlalu banyak minumnya” atau “kalau lambung lagi
ngga bermasalah, saya masih bisa minum kopi.”
Kondisi
tersebut menunjukkan adanya disonansi kognitif, yaitu keadaan ketika terdapat
ketidaksesuaian antara pengetahuan atau keyakinan seseorang dengan perilaku
yang dilakukannya. Hal ini sejalan dengan penelitian Fadholi et al. (2020) yang
menunjukkan bahwa individu dapat tetap melakukan suatu perilaku meskipun
mengetahui bahwa perilaku tersebut memiliki dampak negatif. Dalam penelitian
tersebut, individu menggunakan informasi atau alasan tertentu untuk memberikan
pembenaran terhadap perilakunya.
Pada
subjek, bentuk pembenaran terlihat ketika ia menganggap bahwa mengurangi jumlah
kopi sudah cukup untuk menghindari masalah pada lambung. Hal tersebut dapat
dikaitkan dengan mekanisme pertahanan diri berupa rasionalisasi, yaitu ketika
individu memberikan alasan yang dapat diterima untuk menjelaskan atau
membenarkan perilakunya. Penelitian Khoirunnisa dan Nugroho (2023) menemukan
bahwa rasionalisasi termasuk salah satu mekanisme pertahanan diri yang
digunakan individu dalam menghadapi konflik atau permasalahan.
Permasalahan
yang terlihat adalah subjek sudah memiliki pengetahuan mengenai dampak konsumsi
kopi, tetapi pengetahuan tersebut belum sepenuhnya mendorong perubahan perilaku.
Hal ini juga sejalan dengan Alfitman (2017) yang menjelaskan bahwa disonansi
kognitif dapat menimbulkan ketidaknyamanan dan ketegangan yang berpotensi
mendorong individu untuk mengubah sikap atau perilakunya.
Jika
dikaitkan dengan Psikologi Inovasi, kondisi tersebut dapat menjadi peluang
untuk mencari cara baru dalam mengubah kebiasaan. Misalnya, subjek tidak harus
langsung berhenti minum kopi, tetapi dapat mencoba mengurangi frekuensi secara
bertahap atau mencari minuman alternatif yang lebih sesuai dengan kondisi
tubuhnya. Dengan demikian, perubahan tidak hanya membutuhkan pengetahuan,
tetapi juga kemauan untuk mencoba cara baru dalam menghadapi kebiasaan yang
sulit diubah..
Daftar
Pustaka:
Alfitman. (2017). Konstruk disonansi
kognitif dalam penelitian perilaku konsumen: Apakah popularitasnya memang sudah
meredup? Ekonomi Bisnis, 22(1), 44–57. https://doi.org/10.17977/um042v22i1p44-57
Fadholi, F., Prisanto, G. F., Ernungtyas,
N. F., Irwansyah, & Hasna, S. (2020). Disonansi kognitif perokok aktif di
Indonesia. Jurnal RAP (Riset Aktual Psikologi Universitas Negeri Padang), 11(1),
1–14. https://doi.org/10.24036/rapun.v11i1.108039
Khoirunnisa, A. S., & Nugroho, R. A.
(2023). Mekanisme pertahanan diri dan coping stress tokoh utama dalam antologi
cerpen “Malam Terakhir” karya Leila S. Chudori: Kajian psikologi sastra. Jurnal
Sastra Indonesia, 12(3), 197–205.