My Best Coping Behaviour: Year of Grieving
Hana Fardilla – 24310410048 – Psikologi Kelas Karyawan
Psikologi Inovasi - Esai 4 - Dr. A. Shinta, M. A
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta
Tahun 2025 merupakan tahun transisi yang bagi saya cukup besar dampaknya, baik untuk kesehatan jasmani dan rohani saya pribadi.
Sebelumnya, dapat saya katakan saya adalah pribadi yang sangat tertutup, tetapi juga sangat people pleaser. Mungkin karena di dasari dari saya sebagai anak dan cucu perempuan pertama di keluarga saya. Sebagai perempuan, banyak ekspektasi yang saya rasa saat ini menjadi kurang masuk akal, karena di keluarga, saya dituntut untuk terutup dan harus fokus pada pekerjaan domestik sebagai perempuan, tetapi harus bisa membanggakan orangtua sebagai anak pertama. Bertahun-tahun saya merasa tertekan dengan hal ini, dan manifestasi muncul dengan asma saya yang sering kambuh, namun saya tidak berani berpendapat karena terlalu takut akan mengecewakan dan tidak ingin membuat konflik, Menurut teori Carl Roger (1961), distress akan muncul saat ada pergolakan antara real-self (apa yang saya rasakan), dengan ideal-self (apa yang orang harapkan).
Perasaan tidak ingin mengecewakan dan menghindari konflik sebisa mungkin saya bawa kemana-mana, hingga ke relasi saya dengan pasangan. Di tahun 2024 partner (pacar) saya menyampaikan keinginannya untuk bekerja di luar negeri sebagai TKI karena income yangg kurang baik di Indonesia, saat itu kami sudah bersama selama 5 tahun. Saya akui informasi tersebut sangat menyakitkan, saya kesulitan jika harus berpisah. Partner saya mencoba meyakinkan saya bahwa ini harus dilakukan, dan dengan berat hati saya ikut mendukungnya agar dapat mewujudkan harapannya untuk bekerja di luar negeri. Akhirnya, di pertengahan tahun tersebut ia berangkat, dan saya tertinggal dengan perasaan yang menyakitkan.
Karena saya tidak ingin membuat konflik, saya tidak pernah benar-benar mengutarakan apa yang saya rasakan, saya sering kebingungan dengan perasaan saya sendiri. Meski pun saya menulis, rasanya seperti ada yang saya selalu coba tutupi untuk meminimalisir perasaan yang sesungguhnya saya rasakan, padahal tidak ada yang membaca buku diary saya. Sejak pasangan saya pergi, saya tidak bisa beraktifitas dengan normal, saya selalu merasa tidak nyaman dan ketakutan tetapi tidak mengerti kenapa. Karena rasanya sudah sangat aneh, saya mencoba untuk berkonsultasi dengan psikolog. Tidak banyak yang bisa saya katakan, saya menghabiskan waktu menangis saja tanpa tau harus berkata dan berbuat apa, psikolog menyarankan saya setidaknya menulis apa yang fisik saya rasakan sebagai step awal untuk mengidentifikasi perasaan saya sendiri.
Setelah itu saya memutuskan untuk mendaftar kuliah di UP45 karena memang sudah lama tertarik dengan psikologi, tapi mungkin saat itu, ada harapan lain bahwa saya bisa mengenali diri saya sendiri sambil belajar.
Keadaan tidak membaik, mungkin lebih tepatnya, belum. Dari hasil menulis tentang apa yang badan saya rasakan dan saat apa itu terjadi, saya memutuskan untuk mengakhiri relasi saya dengan pasangan saya saat itu di awal tahun 2025, karena saya merasa trigger utamanya adalah saat saya diingatkan bahwa saya sedang jauh dari dia. Sejak itu keadaan semakin memburuk. Saya tidak bisa benar-benar tidur, tidak bisa makan, dan terkendala dalam bekerja, mata saya bengkat setiap hari dan berat badan turun 10kg. Namun selama proses ini, saya tidak berhenti ke psikolog, saya tidak berhenti menulis, atau kuliah, saya mencoba melanjutkan sambil berharap bahwa hari esok akan terasa lebih baik.
Semakin saya menulis tentang apa yang saya rasakan, rasanya saya semakin mengerti, kenapa rasa itu datang, di mana rasa tidaknyamannya, dan kapan. Misalnya saat dipekerjaan saya tidak mengatakan suau hal karena merasa saya bisa handle sendiri, saya ternyata merasa nyeri di dada sebelah kiri, perlahan, saya coba untuk mengungkapkan dan menjadi lebih asertif. Saat pertama kali mencoba, rasanya kepala saya ingin meledak karena takut, tapi lambat laun, saya semakin sering melakukan dan tidak ada lagi rasa nyeri yang saya rasakan.
Contoh lain saat saya berkomunikasi dengan orang tua saya, setiap berbicara dengan mereka saya rasanya seperti dipukul di perut, rasanya gelisah seperti sedang ujian. Saya putuskan suatu hari untuk speak-up, mengatakan bahwa saya ingin mencoba menjalani hidup seperti yang saya inginkan selama saya tidak menjadi kriminal atau membahayakan orang lain. Saat itu saya merasa seperti orang paling buruk di dunia, membuat orang tua saya marah, tetapi ada rasa relief, saya tidak lagi merasa seperti sedang di rundung dan lebih tenang saat berbicara dengan orangtua saya.
Bagi saya, ini adalah coping yang akan selalu ingat, bahwa saya pernah melewatinya dan perlahan mencoba mengaktualisasikan diri saya sendiri. Bahwa memang ada yang harus dilawan saat kita ingin ada yang berubah. Dan tidak semuanya bisa terlihat langsung, kadang kita harus benar-benar struggle beberapa waktu sebelum semuanya terasa membaik. Hari ini, mungkin banyak challenge lain yang menunggu, namun dengan pengalaman ini, saya mendapat kepercayaan diri, bahwa saya mampu, secara perlahan untuk melewati tantangan tersebut, kedepannya.
Rogers, C. R. (1961). On becoming a person: A therapist's view of psychotherapy. Houghton Mifflin.







\

.jpeg)

