12.10.26

ESAI 1 Berani Memulai Usaha, Berani Mengambil Risiko

 



Baiq muthia syafitri 
24310410011

Dr. Arundita Shinta., M.A


Berani Memulai Usaha, Berani Mengambil Risiko

 Kewirausahaan merupakan kemampuan seseorang dalam menciptakan, mengelola, dan mengembangkan usaha dengan memanfaatkan peluang yang tersedia. Menurut saya, kewirausahaan bukan hanya tentang berjualan untuk mendapatkan keuntungan, tetapi juga tentang keberanian mengambil langkah, kreativitas dalam mencari ide, serta tanggung jawab dalam mengelola usaha. Kewirausahaan penting dipelajari karena dapat melatih seseorang agar lebih mandiri dan tidak selalu bergantung pada orang lain.

Saat ini, peluang usaha cukup luas karena perkembangan teknologi dan media sosial. Seseorang dapat memulai usaha dari rumah dengan modal yang tidak terlalu besar. Contohnya seperti menjual makanan ringan, minuman kekinian, pakaian, aksesoris, atau menawarkan jasa desain dan promosi. Media sosial seperti WhatsApp, Instagram, dan TikTok dapat digunakan untuk mengenalkan produk kepada banyak orang. Dengan cara tersebut, usaha kecil pun dapat berkembang apabila dikelola dengan baik dan konsisten.

Menurut saya, seorang wirausahawan harus peka terhadap kebutuhan masyarakat. Misalnya, banyak mahasiswa dan pekerja yang memiliki jadwal padat sehingga tidak sempat memasak sendiri. Keadaan tersebut dapat menjadi peluang untuk menjual makanan siap saji dengan harga yang sesuai. Selain itu, produk yang dijual juga harus memiliki keunikan agar berbeda dari produk pesaing. Keunikan dapat berupa rasa, kemasan, pelayanan, harga, maupun cara promosi yang menarik.

Dalam menjalankan usaha, tentu ada risiko yang harus dihadapi Dalam menjalankan usaha, mungkin produk belum laku di pasaran, modal belum kembali, atau muncul pesaing dengan produk yang hampir sama. Meskipun demikian, menurut saya kegagalan bukan alasan untuk menyerah dan menghentikan usaha. Kegagalan bisa menjadi pelajaran berharga untuk memperbaiki kualitas produk, strategi pemasaran, serta pelayanan kepada pelanggan. Seorang wirausahawan perlu sabar, disiplin, dan mau menerima kritik agar usahanya dapat berkembang.

Kewirausahaan juga dapat memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar. Jika usaha semakin besar, pemilik usaha dapat membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain. Dengan begitu, kewirausahaan tidak hanya menguntungkan diri sendiri, tetapi juga membantu masyarakat. Oleh karena itu, saya berpendapat bahwa kewirausahaan perlu ditanamkan sejak muda agar generasi muda lebih kreatif, berani, dan mampu menciptakan peluang kerja di masa depan.

Coping Behavior: Mengubah Tantangan Menjadi Peluang - Essay 4

 Oleh: Iqbal Fahri Alfarisi | 24310410012 | SPSJ (B) | Dr. Arundita Shinta., M.A

 


Coping behavior adalah strategi individu dalam mengatasi permasalahannya baik diinternal maupun dieksternal. Strategi coping berfungsi dalam mengatasi masalah dalam situasi tekanan, menantang, dan membebani diri individu (Maryam, 2017). Coping memiliki banyak jenis, diantaranya:  Problem-solving Coping, Emotion-focused Coping, Avoidant Coping, Adaptive Coping, Maladaptive Coping, Social Coping, Cognitive Coping, Physical Coping, dan Spiritual Coping. Jenis-jenis tersebut menjadi strategi setiap individu dalam menghadapi masalah yang sedang terjadi pada dirinya. Jadi setiap orang memiliki caranya sendiri dalam menghadapi masalah atau tekanan yang dialami.

Ketika menjalani kehidupan bersosial tentu akan ada hambatan, tekanan, dan masalah yang akan dihadapi. Tentu saja setiap situasi akan menghadapi permasalahan dan tantangan yang berbeda. Namun semua itu kembali lagi pada individu bagaimana strategi dalam menghadapinya. Seseorang dalam menjalani hidup pasti memiliki masalah yang mana bagi setiap orang tingkatan permasalahan itu berbeda-beda. Saya pernah membaca buku Psikologi, karya dari Fitri Ayu Mustika, M.Psi, bahwa “Masalah yang dihadapi menjadikan seseorang semakin berkembang dalam menangani permasalahan ke depannya atau problem solving akan meningkat”. Saya meyakini dari setiap masalah yang telah, sedang, dan akan saya hadapi justru akan membuat diri saya semakin berkembang dan membuat emosi saya semakin stabil ketika menghadapi tekanan ke depannya.

Hal yang paling membuat saya berkesan dalam menghadapi masalah adalah ketika merintis usaha dibidang industri dan kreatif bersama empat teman pada 25 Februari 2026. Ketika ingin merintis hal yang terberat dikala itu adalah modal usaha. Setiap dari kami berusaha memecahkan permasalahan ini. Ada yang mengusulkan untuk patungan per orang lima ratus ribu untuk modal usaha, mencari investor, bahkan hingga  mencari pinjaman modal ke bank. Pada akhirnya saya berpikir bagaimana mempunyai modal usaha tanpa mengeluarkan uang sepeser pun. Akhirnya muncul ide untuk mengikuti business plan competition dan kebetulan dari pihak kampus membuka pendanaan untuk mahasiswa yang ingin membuka usaha dengan mengikuti kompetisi yang tersedia. Kami pun mendaftar dan singkat cerita kami lolos dan menang dalam tahap pendanaan. Dari sini kami bisa memulai usaha dari nol, dan menyusun semua anggaran yang dibutuhkan untuk ke depannya.

Pengalaman dari masalah yang telah saya hadapi bersama teman-teman membuat kami semakin berkembang dalam menghadapi permasalahan usaha yang sedang kami jalani. Jenis coping mechanisme saya termasuk pada problem-solving Coping yang mana alih-alih menghindari permasalahan tersebut, justru menghadapi dan mencari solusi dari permasalahan yang terjadi (Setiawati & Rosyidah, 2025). Dari sini saya bisa terus tumbuh dan berkembang, setiap masalah pasti ada solusi dan setiap solusi yang dihadirkan tentu memiliki risikonya tersendiri. Namun untuk menghadapi risiko tersebut dapat dipertimbangkan sesuai dengan kemampuan dan kapasitas diri.

Solusi bukan hadir dengan sendirinya, justru solusi seharusnya dihadirkan dalam keadaan pikiran dan emosi yang stabil. Jika kita tidak berani dalam menghadapi permasalahan yang terjadi maka ketika ada permasalahan ke depannya tidak akan bisa menghadirkan solusi, justru hanya membuat kita terjebak dengan fokusnya permasalahan tanpa menghadirkan solusi nyata.  Namun bukan berarti kita serta-merta menyalahkan atau menghakimi dari cara orang menghadapi masalahnya. Justru dengan belajar dan memahami jenis-jenis coping seharusnya membuat kita mengenali diri sendiri, apa coping yang biasa muncul ketika kita menghadapi masalah?. Bukan mencari tahu apa kekurangan dan menilai coping behavior nya orang lain. Semakin tinggi dan banyaknya masalah yang dihadapi semakin mengasah diri untuk memiliki problem solving yang lebih baik lagi.

 

Referensi:

Maryam, S. (2017). Strategi Coping : Teori Dan Sumberdayanya. Jurnal Konseling Andi Matappa, 1, 101–107. https://media.neliti.com/media/publications/177181-ID-strategi-coping-teori-dan-sumberdayanya.pdfexp=1791805356&kid=1&sig=JQBgF4VNUM2ot0AAhSGrxgiVR5COMrn1SfGG_V06Gk

Setiawati, R., & Rosyidah, H. (2025). Strategi Coping Stres Mahasiswa Baru di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan : Studi Kuantitatif Berbasis Survei. 7(1).

 

 

 

 

 

 

 

 

Membangun Jiwa Entrepreneur yang Kreatif dan Gigih - Essay 3a dan 3b

 Oleh: Iqbal Fahri Alfarisi | 24310410012 | SPSJ (B) | Dr. Arundita Shinta., M.A

 


Berwirausaha tentu memiliki tantangan yang sangat besar. Tantangan yang sering dihadapi bagi seorang wirausaha adalah kompetitor yang cukup kuat dan perubahan tren yang begitu cepat. Alih-alih menyerah seorang wirausaha yang mencapai kesuksesan akan dihantam kegagalan berkali-kali. Secara realitas di lapangan UMKM yang sulit berkembang dan stuck bahkan bangkrut dikarenakan sulitnya berinovasi pada produk yang ditawarkan pada para konsumen. Diera digital yang mudah viral menjadikan tren pada usaha-usaha yang khususnya F&B semakin cepatnya perubahan tren terjadi.

Wirausaha yang berhasil menangani dari permasalahan perubahan tren dikarenakan memiliki jiwa yang kreatif. Salah satu jiwa tersebut, sangat diperlukan di zaman yang canggih ini. Banyak wirausaha yang sangat memperhatikan modal berupa uang di saat memulai usaha. Sebagian dari entrepreneur  ketika memulai usaha tidak memiliki inovasi atau kreativitas pada produk yang ditawarkan ke para konsumen. Padahal kewirausahaan itu sendiri artinya menawarkan sesuatu yang kreatif terhadap permasalahan sosial atau lingkungan yang ada (Nasution, 2023).

Pertama kali yang terlintas dalam memulai usaha adalah modal. Sering disalah pahami modal yang dimaksud adalah uang. Padahal modal bukan hanya sekedar uang bahkan lebih dari uang. Makna modal yang seharusnya ditanamkan pada jiwa entrepreneur  adalah networking,  kreativitas, pengalaman, dan kegigihan. Sangat disayangkan sebagian dari entrepreneur  tidak menyiapkan modal kesuksesan dari usaha adalah berani mengambil risiko (Nugroho, 2025).

Kedua pilar dalam jiwa entrepreneur  yang kreatif dan gigih sudah menjadi modal yang cukup untuk meraih kesuksesan. Meskipun masih banyak yang seharusnya jiwa yang dimiliki seorang entrepreneur. Ketika entrepreneur sudah menyadari kedua ini dan menyiapkan diawal usaha ketika mengalami perubahan tren tidak akan lagi merasa terancam atau menjadi suatu permasalahan yang besar, karena mereka sudah memiliki strategi inovasi yang perlu dikembangkan dari produk yang ditawarkan bahkan memiliki nilai keunikan tersendiri dibanding kompetitor lainnya. Namun, jika entrepreneur tidak memiliki jiwa yang gigih, berani mengambil risiko, serta kreatif ketika menghadapi perubahan tren akan kewalahan bahkan akan ketinggalan dengan perubahan tren yang terjadi.

Salah satu contoh yang saya alami langsung memiliki usaha bersama dengan empat teman saya. Usaha yang bergerak dibidang industri dan kreatif yaitu lilin aroma terapi. Ketika dilihat banyak sekali lilin aroma terapi yang beredar dijual dimasyarakat. Jika tidak memiliki kreativitas maka produk ini tidak akan memiliki nilai jual karena tidak ada value pembeda dengan kompetitor. Lilin aroma terapi yang kami tawarkan memiliki keunikan yaitu sebagian bahan dibuat dari minyak jelantah yang filtrasi dan aman untuk dihirup, aroma yang ditawarkan khas nusantara atau rempah-rempah, racikan essential oil alami yang dibuat sendiri, dan cocok dikonsumsi di saat sedang penat dan stress atau ingin bersantai.

            Jadi jika ingin menjadi seorang entrepreneur perlu menyadari apa saja yang perlu disiapkan ke depannya bukan hanya modal berupa uang saja. Bukan berarti uang tidak penting dalam memulai usaha, tetapi dengan kita memiliki modal networking kita bisa menjalin kerja sama atau mitra serta mendapatkan jejaring investasi dari para investor untuk ke depannya. Pengetahuan dan pengalaman juga menjadi penting agar dapat menilai risiko yang sedang dialami kemudian setelah itu perlu juga berani mengambil risiko dengan kegigihan dan melalui kreativitas yang ditawarkan dari inovasi produk yang telah dilakukan, tentunya berdasarkan hasil riset pasar.

 

Referensi:

Nugroho, W. (2025). Pengaruh Kedisiplinan , Praktik Kerja Industri , dan Motivasi Terhadap Kesiapan Berwirausaha Siswa Kompetensi Keahlian Teknik Pemesinan. 8(1).

Winda Suci Lestari Nasution,  dan P. N. (2023). MEMBENTUK JIWA ENTREPRENEUR BERKARAKTER INOVATIF DAN KREATIF. TRIDHARMADIMAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Jayakarta, 3(2), 32–41.

 

Membangun Minat Berwirausaha Mahasiswa : Peran Pendidikan dan Motivasi Kewirausahaan - Esai 1

 Oleh: Iqbal Fahri Alfarisi | 24310410012 | SPSJ (B) | Dr. Arundita Shinta., M.A





Judul Jurnal

Minat berwirausaha mahasiswa ditinjau dari pendidikan kewirausahaan dan motivasi berwirausaha mahasiswa: Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Penulis

Achmad Zainul Rozikin, M.Ziaurrahman, Nur Annisa, Herman, Bintang Aurellia, dan Shinta Adelia

Penerbit

NERACA JURNAL PENDIDIKAN EKONOMI

Tahun Terbit

November 2024 (20-28)

Pendahuluan

Kewirausahaan memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, membuka lapangan pekerjaan, dan menciptakan inovasi. Namun, ketertarikan mahasiswa untuk menjadi wirausahawan masih menjadi tantangan. Memiliki pengetahuan akademik tidak selalu membuat seseorang berani memulai usaha. Oleh karena itu, penting untuk memahami faktor-faktor yang dapat mendorong minat berwirausaha mahasiswa.

Pembahasan

Penelitian tersebut bertujuan mengetahui pengaruh pendidikan kewirausahaan dan motivasi berwirausaha terhadap minat berwirausaha mahasiswa Universitas Muhammadiyah Palangkaraya. Permasalahan utamanya adalah masih rendahnya ketertarikan mahasiswa terhadap kewirausahaan. Dalam penelitian ini, minat berwirausaha menjadi variabel dependen, sedangkan pendidikan kewirausahaan dan motivasi menjadi variabel independen.

Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan pengumpulan data melalui kuesioner. Sebanyak 167 mahasiswa menjadi responden yang dipilih menggunakan teknik random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan kewirausahaan memiliki kontribusi 33%, sedangkan motivasi berwirausaha sebesar 3,6%. Secara simultan, kedua variabel tersebut memberikan kontribusi sebesar 36,6% terhadap minat berwirausaha mahasiswa (Rozikin et al., 2024).

Temuan ini memperlihatkan bahwa pendidikan kewirausahaan memiliki kontribusi lebih besar daripada motivasi berwirausaha dalam penelitian tersebut. Pendidikan kewirausahaan dapat menjadi sarana bagi mahasiswa untuk memahami peluang usaha dan proses pengelolaan bisnis. Sementara itu, motivasi berwirausaha merupakan faktor yang berkaitan dengan dorongan individu untuk memilih dan menjalankan kegiatan usaha.

Meskipun demikian, hasil penelitian perlu dipahami secara kritis. Kontribusi sebesar 36,6% menunjukkan bahwa kedua variabel tersebut belum menjelaskan seluruh variasi minat berwirausaha. Masih terdapat 63,4% variasi yang berkaitan dengan faktor lain atau belum dijelaskan oleh model penelitian. Faktor seperti efikasi diri, lingkungan keluarga, akses modal, dan pengalaman usaha dapat menjadi bahan penelitian selanjutnya. Selain itu, kontribusi satistik tidak serta-merta membuktikan hubungan sebab-akibat di luar batas rancangan penelitian yang digunakan.

Kesimpulan

Berdasarkan penelitian tersebut, minat berwirausaha mahasiswa masih berkaitan dengan pendidikan dan motivasi kewirausahaan, tetapi keduanya belum memberikan penjelasan secara menyeluruh. Menurut saya, pendidikan kewirausahaan perlu dikembangkan melalui kegiatan praktisi, seperti simulasi bisnis, pendampingan usaha, dan proyek kewirausahaan. Mahasiswa tidak cukup hanya memahami teori, tetapi juga perlu memperoleh pengalaman untuk mengidentifikasi peluang, menghadapi risiko, dan mengevaluasi kegagalan. Dengan demikian, pembelajaran kewirausahaan diharapkan dapat membangun usaha secara mandiri dan berkelanjutan.

Referensi

Rozikin, A. Z., Ziaurrahman, M. , Nur Annisa, Herman, B., & Aurellia, Dan Adelia, S. (2024). Jurnal pendidikan ekonomi. Jurnal Pendidikan Ekonomi, 10, 20–28.

 

 

10.10.26

ESAI II WAWANCARA TENTANG DISONANSI KOGNITIF RAY FRANSISCA MARITA KUSUMA (24310410005) PSIKOLOGI INOVASI KELAS KARYAWAN Ibu Dr. Arundati Shinta., MA Oktober 2026

DISONANSI KOGNITIF PADA MAHASISWA YANG MENUNDA TUGAS KARENA BERMAIN GAME
Disonansi kognitif merupakan keadaan ketika seseorang mengalami ketidaksesuaian antara pengetahuan, keyakinan, sikap, dan perilakunya. Kondisi ini dapat ditemukan dalam kehidupan mahasiswa, salah satunya ketika mahasiswa mengetahui bahwa tugas harus segera dikerjakan, tetapi justru menghabiskan banyak waktu untuk bermain game melalui telepon genggam. Untuk memahami kondisi tersebut, saya melakukan wawancara terhadap seorang mahasiswa yang memiliki kebiasaan begadang, bermain game, dan menunda pengerjaan tugas. Wawancara dilakukan pada 25 September 2026 terhadap M (inisial), mahasiswa. Berdasarkan hasil wawancara, M menyadari bahwa kebiasaan begadang dan bermain game dapat menghambat penyelesaian tugas. Namun, M tetap melakukan kebiasaan tersebut. Ketika ditanya alasan lebih memilih bermain game daripada mengerjakan tugas, M mengatakan, “Saya sebenarnya tahu tugas itu penting dan harus dikerjakan, tetapi kalau sudah main game biasanya lupa waktu. Saya berpikir nanti masih bisa mengerjakannya.” Pernyataan tersebut menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara pengetahuan M mengenai kewajiban akademik dengan perilaku yang dilakukannya. Salah satu mekanisme pertahanan diri yang terlihat adalah rasionalisasi. M berusaha memberikan alasan yang dapat membuat perilakunya terasa lebih dapat diterima. Hal tersebut terlihat dari pernyataannya, “Saya berpikir nanti masih bisa mengerjakannya.” Alasan tersebut membantu M mengurangi rasa tidak nyaman akibat mengetahui bahwa dirinya sedang menunda tugas. M juga menunjukkan bentuk penghindaran (avoidance). Ketika menghadapi tugas yang dianggap berat atau membosankan, M memilih melakukan aktivitas yang lebih menyenangkan, yaitu bermain game. M mengatakan, “Kalau tugasnya banyak dan saya sudah capek, saya lebih memilih main game dulu supaya tidak terlalu stres.” Perilaku tersebut dapat menjadi cara sementara untuk menghindari tekanan akibat tugas, meskipun tugas akhirnya tetap harus diselesaikan. Kesimpulan hasil wawancara menunjukkan bahwa M mengalami disonansi kognitif karena mengetahui pentingnya menyelesaikan tugas tepat waktu, tetapi tetap melakukan perilaku menunda dengan bermain game dan begadang. Rasionalisasi dan penghindaran menjadi mekanisme pertahanan diri yang digunakan untuk mengurangi ketidaknyamanan yang muncul akibat pertentangan antara pengetahuan dan perilakunya. Daftar Pustaka Safrah, D., & Setyaningsih, E. (t.t.). Modifikasi perilaku menunda tugas pada mahasiswa melalui teknik reinforcement positif. Universitas Muhammadiyah Aceh. http://indojurnal.com/index.php/jejakdigital/article/view/3794

Liany Nur Ramadhani (24310410016) - Esai 5 – Berperilaku Inovatif - Psikologi Inovasi - B

 


Liany Nur Ramadhani 

24310410016

Psikologi Inovasi - B

Esai 5 – Berperilaku Inovatif

Dosen pengampu Dr. Arundati Shinta M.A

Universitas Proklamasi 45 

Yogyakarta 

(10 Oktober 2026)

Pemanfaatan Limbah Botol Plastik Menjadi Pot Bunga Estetik sebagai Solusi Ekonomi Kreatif dan Pengurangan Pengangguran


Masalah pengangguran dan keterbatasan lapangan kerja masih menjadi tantangan ekonomi yang cukup mendasar. Di sisi lain, akumulasi sampah anorganik seperti botol plastik bekas minuman terus meningkat dan mencemari lingkungan. Berperilaku inovatif melalui penerapan ekonomi sirkuler dapat menjadi jembatan untuk mengatasinya. Dengan mengubah barang bekas bernilai nol menjadi produk berdaya guna, potensi kewirausahaan baru dapat tercipta tanpa membutuhkan modal yang besar.

Proses kreatif pembuatan pot bunga ini diawali dari tahapan ideasi saat melihat tumpukan botol plastik bekas yang tidak terpakai. Untuk mengubah fungsi utamanya dari sekadar wadah sekali pakai menjadi barang bernilai jual, dilakukan pendekatan upcycling. Langkah-langkah pembuatannya cukup sederhana dan dapat dipraktikkan oleh siapa saja:

  1. Persiapan Alat dan Bahan: Siapkan botol plastik bekas ukuran 1,5 liter, gunting/cutter, cat akrilik, kuas, serta kuas garis halus.
  2. Pemotongan dan Pembentukan: Botol dipotong menjadi dua bagian. Bagian bawah dipotong membentuk pola telinga kelinci atau kucing untuk memberikan kesan estetik dan unik. Lubangi bagian bawah botol dengan paku panas sebagai drainase air tanaman.
  3. Pengecatan dan Finishing: Lapisi permukaan luar botol dengan cat dasar berwarna biru. Setelah kering, lukis wajah karakter kartun yang lucu menggunakan cat warna-warni. Pot bunga siap digunakan untuk tanaman hias indoor maupun outdoor.
Melalui modifikasi desain tersebut, sampah plastik yang tadinya tidak memiliki harga dapat ditransformasikan menjadi produk ekonomi kreatif bernilai estetika tinggi. Inovasi sederhana ini membuktikan bahwa peluang usaha dapat diciptakan dengan mengandalkan kreativitas, bukan modal finansial yang melimpah. Jika keterampilan ini dikembangkan dalam skala komunitas, pembuatan kerajinan dari limbah anorganik dapat memicu lahirnya UMKM baru yang mampu menyerap tenaga kerja lokal dan mengurangi angka pengangguran.

Sebagai bentuk promosi dan komersialisasi produk, pot bunga inovatif ini telah dipublikasikan dan ditawarkan melalui media sosial. Informasi mengenai harga produk dan dokumentasi pembuatan dapat diakses melalui link berikut:
Penerapan perilaku inovatif ini diharapkan tidak hanya berhenti sebagai gagasan, melainkan dapat direplikasi oleh masyarakat luas untuk menciptakan kemandirian ekonomi berbasis keberlanjutan lingkungan.

Daftar pustaka 


9.10.26

Liany Nur Ramadhani (24310410016) -Tugas essay 4 - Kelas Psikologi Inovasi - B


Liany Nur Ramadhani 

24310410016

Kelas Psikologi Inovasi - B

Tugas essay 4

Dosen pengampu: DR. Arundai Shinta M.A

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

(9 Oktober 2026)

"Bangkit dari Kegagalan Seleksi Pramugari : Mengubah Rasa Kecewa Menjadi Resiliensi Diri"


Setiap orang pasti pernah mengalami titik terendah dalam hidupnya, begitu pula dengan saya. Peristiwa paling menyakitkan yang pernah saya alami terjadi pada bulan Oktober 2023. Saat itu, saya dinyatakan gagal pada tahap akhir seleksi penerimaan pramugari di salah satu maskapai penerbangan impian saya, padahal saya telah mempersiapkan fisik, penampilan, dan latihan bahasa asing selama berbulan-bulan. Keputusan tersebut terasa sangat meremukkan kepercayaan diri saya. Saya merasa seluruh usaha keras, waktu, dan biaya yang telah dikorbankan menjadi sia-sia. Situasi semakin berat karena ekspektasi tinggi dari keluarga serta perasaan malu ketika melihat beberapa teman seperjuangan berhasil lolos memakai seragam maskapai tersebut. Tekanan mental itu membuat saya mengalami stres berat, kehilangan arah, dan mengurung diri selama beberapa minggu karena merasa diri saya tidak cukup menarik maupun kompeten.  

Di tengah rasa terpuruk, saya menyadari bahwa terus meratapi nasib tidak akan mengubah keadaan. Saya memutuskan untuk menerapkan strategi coping behavior yang berfokus pada masalah dan penyelarasan emosi. Langkah awal yang saya lakukan adalah expressive writing, yaitu mencurahkan seluruh emosi ketakutan dan kekecewaan ke dalam jurnal pribadi untuk meredakan beban emosional. Setelah pikiran lebih tenang, saya beralih ke tindakan nyata: saya berani mengevaluasi kelemahan saya selama proses interview dan pantomimic test, lalu mendaftar kursus komunikasi publik serta memperdalam ilmu di bangku kuliah psikologi. Saya memfokuskan energi untuk membangun kualitas diri dari dalam, bukan hanya mengandalkan penampilan luar. 

Proses untuk bangkit kembali ini memberikan hikmah dan reward yang sangat berharga bagi hidup saya. Saya belajar bahwa kegagalan penolakan bukanlah penanda akhir dari nilai diri saya, melainkan sebuah proses pendewasaan mental. Reward terbesar yang saya dapatkan adalah terbentuknya mentalitas yang tahan banting, rasa percaya diri yang tidak mudah goyah oleh penilaian orang lain, serta keberhasilan saya meraih prestasi akademik dan kepemimpinan di kampus pada tahun 2024. Pengalaman pahit ini mengubah cara pandang saya hingga kini: saya tidak lagi takut menghadapi penolakan dan memiliki mekanisme pertahanan diri yang jauh lebih sehat saat berhadapan dengan situasi stres di masa depan. 

Daftar pustaka