19.10.26

Psikologi Inovasi-Essay 5- Berperilaku Inovatif

 


Pemanfaatan Kardus Bekas Menjadi Bingkai Foto Kreatif

Putri Dahliani (21310410110)

Psikologi Inovasi- kelas karyawan

Dosen pangampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta


     Kardus bekas merupakan salah satu jenis sampah yang sering ditemukan di lingkungan rumah. Kardus biasanya berasal dari kemasan barang belanjaan atau paket yang sudah tidak digunakan. Sebagian orang memilih menyimpan kardus tanpa memanfaatkannya kembali atau langsung membuangnya. Padahal, kardus bekas masih dapat diolah menjadi barang baru yang bermanfaat. Oleh karena itu, diperlukan kreativitas dan inovasi untuk memanfaatkan barang bekas agar memiliki fungsi dan nilai tambah.

   Kegiatan ini bertujuan untuk mengolah kardus bekas menjadi bingkai foto yang menarik dan bermanfaat. Selain mengurangi sampah, kegiatan ini juga bertujuan melatih kreativitas, mengembangkan kemampuan berpikir inovatif, serta melihat peluang usaha dari bahan sederhana yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar.

Alat:

1. Gunting, untuk memotong kardus dan kertas hias.

2. Penggaris, untuk mengukur ukuran bingkai.

3. Pensil, untuk membuat pola pada kardus.

4. Cutter, jika diperlukan untuk membuat lubang pada bagian tengah kardus. Penggunaannya harus dilakukan dengan hati-hati dan sebaiknya dengan bantuan orang dewasa.

Bahan:

1. Kardus bekas yang masih cukup tebal sebagai bahan utama.

2. Lem untuk merekatkan bagian bingkai.

3. Kertas warna atau kertas kado bekas untuk menghias bingkai.

4. Foto yang akan dipasang.

5. Tali

  Pembuatan bingkai foto dimulai dengan menyiapkan seluruh alat dan bahan. Pertama, kardus bekas diukur dan dipotong sesuai ukuran foto yang akan digunakan. Setelah itu, bagian tengah salah satu potongan kardus dibuat berlubang sebagai tempat untuk menampilkan foto.

     Selanjutnya, foto ditempatkan di bagian belakang lubang bingkai. Setelah bagian-bagiannya  dihias menggunakan kertas warna atau kertas kado kemudian direkatkan dengan lem agar permukaan bingkai terlihat lebih menarik. lalu kaitkan tali pada atas bingkai untuk menggantung bingkai. Terakhir, bingkai diperiksa untuk memastikan seluruh bagiannya terpasang dengan baik.

     Melalui proses ini, kardus yang sebelumnya tidak digunakan dapat berubah menjadi barang yang memiliki fungsi baru. Desain dan hiasan bingkai juga dapat disesuaikan dengan kreativitas pembuatnya. pembuatan bingkai foto dimulai dengan menyiapkan seluruh alat dan bahan. Pertama, kardus bekas diukur dan dipotong sesuai ukuran foto yang akan digunakan. Setelah itu, bagian tengah salah satu potongan kardus dibuat berlubang sebagai tempat untuk menampilkan foto.

     Melalui proses ini, kardus yang sebelumnya tidak digunakan dapat berubah menjadi barang yang memiliki fungsi baru. Desain dan hiasan bingkai juga dapat disesuaikan dengan kreativitas pembuatnya. Sebagai contoh, harga jual dapat ditetapkan sebesar Rp10.000 per bingkai. Harga tersebut merupakan perkiraan awal yang perlu disesuaikan dengan biaya bahan tambahan, ukuran, kerapian, dan kualitas produk. Promosi dapat dilakukan melalui WhatsApp Status atau Instagram Story dengan menampilkan foto bingkai yang sudah selesai dibuat, informasi harga, dan manfaat produk.

    Melalui promosi tersebut, produk dapat dikenal oleh lebih banyak orang. Jika mendapat tanggapan positif, pembuatan bingkai foto dapat dikembangkan menjadi usaha kecil dengan variasi ukuran, warna, dan desain.


Daftar Pustaka

Hennessey, B. A., & Amabile, T. M. (2010). Creativity. Annual Review of Psychology, 61, 569–598. https://doi.org/10.1146/annurev.psych.093008.100416

Kementerian Lingkungan Hidup. (n.d.). Ekonomi sirkular. https://kemenlh.go.id/contents/18/Ekonomi-Sirkular

European Commission. (2026). Upcycling. Knowledge4Policy, Bioeconomy Knowledge Centre. https://knowledge-for-policy.ec.europa.eu/node/78220_bg

Psikologi Inovasi-Essay 4-Best Coping Behavior




Pengalaman Menghadapi Cedera Saat Menjadi Atlet

 Putri Dahliani (21310410110)

Psikologi Inovasi- kelas karyawan

Dosen pangampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta


      Menjadi atlet bukan hanya tentang berlatih dan mengikuti pertandingan, tetapi juga tentang menghadapi berbagai tantangan, termasuk cedera. Cedera dapat menghambat aktivitas olahraga dan memengaruhi kondisi fisik maupun psikologis seorang atlet. Situasi tersebut membutuhkan kemampuan untuk mengelola emosi, menerima keadaan, dan menentukan langkah yang tepat agar tetap dapat menjalani aktivitas dengan baik.

  Sebagai atlet rugby, saya pernah mengalami masalah pada lutut kiri yang mengganggu aktivitas seperti berjalan, berlari, dan meluruskan kaki. Kondisi ini menjadi tantangan karena kegiatan olahraga membutuhkan kekuatan, kelincahan, dan kesiapan fisik. Di satu sisi, saya memiliki keinginan untuk tetap aktif sebagai atlet. Namun, di sisi lain, kondisi lutut mengingatkan saya bahwa tubuh juga membutuhkan perhatian dan perawatan.

          Pengalaman tersebut membuat saya memahami bahwa cedera bukan hanya persoalan fisik. Cedera juga dapat menimbulkan kekhawatiran karena aktivitas latihan menjadi terbatas dan kemampuan tubuh tidak selalu seperti yang diharapkan. Saya perlu belajar menghadapi keadaan tersebut dengan lebih sabar dan tidak hanya mengandalkan semangat untuk terus berolahraga.

   Salah satu cara menghadapi masalah adalah menerima keadaan dan berusaha mengelola respons terhadapnya. Dalam menghadapi cedera, saya belajar bahwa memaksakan diri bukan satu-satunya bentuk perjuangan. Menjaga kondisi tubuh, memperhatikan rasa sakit, serta mencari bantuan tenaga kesehatan merupakan langkah yang penting.

      Selain itu, saya berusaha melihat pengalaman ini sebagai kesempatan untuk lebih mengenal batas kemampuan diri. Kesabaran dan kedisiplinan dibutuhkan agar keputusan yang diambil tidak hanya berdasarkan keinginan untuk segera kembali berlatih. Dukungan dari orang-orang di sekitar juga dapat membantu menjaga semangat ketika menghadapi keterbatasan.

      Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa menjadi atlet tidak hanya membutuhkan kekuatan fisik, tetapi juga kemampuan mengelola emosi dan mengambil keputusan. Saya semakin memahami pentingnya menjaga kesehatan, melakukan evaluasi terhadap kondisi tubuh, dan tidak mengabaikan tanda-tanda cedera.


Daftar Pustaka

American Psychological Association. (n.d.). Coping. APA Dictionary of Psychology. https://dictionary.apa.org/coping



Psikologi Inovasi- Essay 3

  


Mengubah Kegagalan Menjadi Peluang Untuk Berkembang

Putri Dahliani (21310410110)

Psikologi Inovasi- kelas karyawan

Dosen pangampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta



      Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang pasti pernah mengalami kegagalan, baik dalam pendidikan, pekerjaan, maupun kegiatan lainnya. Kegagalan sering kali menimbulkan rasa kecewa, sedih, malu, bahkan membuat seseorang kehilangan kepercayaan diri. Namun, kegagalan tidak selalu berarti bahwa seseorang tidak mampu mencapai tujuannya. Kegagalan juga dapat menjadi kesempatan untuk mengevaluasi diri, menemukan cara baru, dan mengembangkan kemampuan. Dalam psikologi, cara seseorang memandang dan merespons kegagalan dapat memengaruhi proses belajarnya. Oleh karena itu, diperlukan sikap yang tepat agar kegagalan dapat menjadi peluang untuk berkembang.

Tips Mengubah Kegagalan Menjadi Peluang untuk Berkembang

1. Menerima kegagalan tanpa menyalahkan diri sendiri

Langkah pertama adalah menerima bahwa kegagalan merupakan bagian dari proses belajar. Ketika mengalami kegagalan, seseorang sebaiknya memberikan waktu kepada dirinya untuk memahami perasaan kecewa sebelum menentukan langkah selanjutnya. Hindari menganggap diri sendiri tidak mampu hanya karena satu pengalaman buruk. Sebaliknya, pahami bahwa hasil yang belum sesuai harapan tidak menentukan seluruh kemampuan seseorang.

2. Melakukan evaluasi terhadap penyebab kegagalan

Setelah mampu menerima keadaan, cobalah mencari tahu penyebab kegagalan secara objektif. Misalnya, mahasiswa mendapatkan nilai yang kurang memuaskan karena kurang memahami materi, kurang mengatur waktu, atau menggunakan metode belajar yang kurang sesuai. Dengan mengenali penyebabnya, seseorang dapat menentukan bagian yang perlu diperbaiki. Evaluasi ini lebih bermanfaat daripada terus menyesali hasil tanpa melakukan perubahan.

3. Mengembangkan pola pikir bertumbuh

Pola pikir bertumbuh atau growth mindset merupakan cara pandang bahwa kemampuan dapat dikembangkan melalui usaha, pembelajaran, dan strategi yang sesuai. Seseorang dengan pola pikir ini tidak selalu melihat kesalahan sebagai bukti ketidakmampuan, tetapi sebagai informasi untuk memperbaiki diri. Ketika menghadapi kesulitan, cobalah mengubah pikiran “Saya tidak bisa” menjadi “Saya belum bisa, tetapi saya dapat belajar.” Dengan demikian, kegagalan dapat mendorong seseorang untuk mencoba pendekatan yang lebih baik.

4. Berani mencoba strategi baru

Salah satu bentuk inovasi adalah kesediaan mencari cara berbeda ketika cara sebelumnya belum berhasil. Jika metode belajar tidak efektif, mahasiswa dapat mencoba membuat jadwal belajar, berdiskusi dengan teman, atau menggunakan video pembelajaran. Dalam pekerjaan, seseorang dapat meminta masukan dan memperbaiki cara menyelesaikan tugas. Hal terpenting bukan hanya mengulang usaha yang sama, melainkan mempelajari apa yang perlu diubah agar hasil berikutnya menjadi lebih baik.

5. Menetapkan tujuan kecil dan menghargai kemajuan

Setelah mengevaluasi kegagalan, buatlah tujuan yang realistis dan dapat dilakukan secara bertahap. Contohnya, jika sebelumnya sulit menyelesaikan tugas tepat waktu, mulailah dengan membuat daftar prioritas dan menyelesaikan satu tugas setiap hari. Catat kemajuan yang berhasil dicapai agar usaha terasa lebih terarah. Dukungan dari teman, keluarga, atau dosen juga dapat membantu seseorang mempertahankan semangat ketika menghadapi tantangan.

         Kegagalan bukanlah akhir dari perjalanan seseorang, melainkan pengalaman yang dapat memberikan pelajaran berharga. Dengan menerima keadaan, mengevaluasi penyebab kegagalan, mengembangkan pola pikir bertumbuh, mencoba strategi baru, dan menetapkan tujuan kecil, seseorang dapat meningkatkan kemampuannya secara bertahap. Dalam psikologi inovasi, keberanian untuk belajar dari kesalahan dan mencari alternatif merupakan bagian penting dari proses perubahan. Oleh karena itu, jangan hanya berfokus pada kegagalan yang dialami, tetapi gunakan pengalaman tersebut sebagai dasar untuk mengambil keputusan yang lebih baik dan terus berkembang.


Daftar Pustaka

Dweck, C. S. (2006). Mindset: The new psychology of success. Random House.

TED-Ed. (2023). How to overcome your mistakes [Video]. YouTube. https://www.youtube.com/watch?v=eBz7iUJu9UM

TEDx Talks. (2026). [Video tentang belajar dari kegagalan dan menyusun strategi baru] [Video]. YouTube. https://www.youtube.com/watch?v=in4CWm-VDnQ


15.10.26

Tisya Sukmalatri 24310410022 - Psi Inovasi - Esai 9 Melakukan Pelatihan Sederhana - Dr. Arundati Shinta - Kelas Karyawan - Oktober 2026

 

Tisya Sukmalatri

24310410022

Psikologi Inovasi - Kelas Karyawan

Essay 9 – Melakukan Pelatihan Sederhana

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

 


Mengajak Teman Naik Gunung sebagai Bentuk Perubahan Diri dan Menikmati Keindahan Alam

Perubahan diri dapat dimulai dari kegiatan sederhana yang dilakukan bersama orang lain. Salah satunya adalah mengajak teman untuk berolahraga melalui kegiatan naik gunung. Bagi saya, naik gunung bukan hanya tentang mencapai puncak, tetapi juga melatih fisik, membangun semangat, dan menikmati keindahan alam. Melalui kegiatan ini, saya ingin mengajak teman agar lebih aktif bergerak, berani mencoba pengalaman baru, dan tidak hanya menghabiskan waktu dengan kegiatan sehari-hari.

Kegiatan ini saya lakukan di Gunung Kembang, Wonosobo pada 26 September 2026 dengan melibatkan 9 orang, termasuk saya sendiri. Saya mengajak teman-teman untuk mencoba kegiatan naik gunung sebagai salah satu bentuk olahraga yang menyenangkan. Sebelum berangkat, kami mempersiapkan perlengkapan, bekal, air minum, serta memastikan kondisi fisik cukup baik untuk melakukan pendakian.

Dalam kegiatan ini, saya memberikan motivasi kepada teman-teman bahwa olahraga tidak harus selalu dilakukan di tempat kebugaran. Berjalan menanjak saat mendaki juga dapat menjadi aktivitas fisik yang melatih daya tahan tubuh. Selain itu, kami belajar untuk saling membantu, menjaga kekompakan, dan menyesuaikan langkah agar tidak ada teman yang tertinggal.

Hal yang paling saya nikmati adalah ketika kami dapat melihat pemandangan alam, udara yang sejuk, dan suasana yang berbeda dari kehidupan sehari-hari. Pengalaman tersebut membuat perjalanan terasa lebih menyenangkan dan menjadi kesempatan untuk melepas penat dari kesibukan kuliah maupun pekerjaan.

Selama kegiatan, terdapat tantangan seperti rasa lelah, rasa malas, dan keinginan untuk beristirahat. Namun, dengan saling menyemangati, kami dapat melewati tantangan tersebut secara bersama-sama. Saya menyadari bahwa mengajak orang lain melakukan perubahan membutuhkan contoh nyata, bukan hanya perkataan. Saya juga belajar untuk lebih peduli terhadap kondisi teman dan tidak memaksakan kemampuan setiap orang.

Hal yang saya sukai dari kegiatan ini adalah kebersamaan dan kesempatan menikmati keindahan alam. Sementara itu, hal yang cukup menantang adalah menjaga stamina selama perjalanan. Komentar dari teman-teman saya mereka bahkan ada yang ingin naik gunung lagi, dan merasa tidak kapok dengan pengalaman ini, walaupun mereka lelah namun terbayarkan dengan hasil pemandangan di atas gunung.

Melalui kegiatan mengajak teman naik gunung, saya belajar bahwa perubahan diri dalam bidang olahraga dapat dimulai dari langkah sederhana. Kegiatan ini tidak hanya bermanfaat untuk melatih fisik, tetapi juga menumbuhkan semangat, kerja sama, dan kepedulian terhadap orang lain. Saya berharap pengalaman ini dapat mendorong saya dan teman-teman untuk lebih aktif berolahraga, menikmati keindahan alam, serta menjadikan kegiatan positif sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.

 

 

Tisya Sukmalatri 24310410022 - Psi Inovasi - Esai 5 Berperilaku Inovatif - Dr. Arundati Shinta - Kelas Karyawan - Oktober 2026

 

Tisya Sukmalatri

24310410022

Psikologi Inovasi - Kelas Karyawan

Essay 5 – Berperilaku Inovatif

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

 


Mengubah Minyak Jelantah Menjadi Lilin Aromaterapi: Inovasi Kreatif Bernilai Ekonomi

Kreativitas merupakan kemampuan menghasilkan ide baru, sedangkan inovasi merupakan upaya mewujudkan ide tersebut menjadi sesuatu yang bermanfaat. Suryana (2013) menjelaskan bahwa ekonomi kreatif mengandalkan kreativitas dan inovasi untuk menghasilkan produk atau peluang usaha yang memiliki nilai ekonomi. Salah satu contoh perilaku inovatif yang saya lakukan adalah mengolah minyak jelantah atau minyak goreng bekas menjadi lilin aromaterapi. Saya melihat bahwa bahan yang biasanya dianggap tidak berguna masih dapat dimanfaatkan menjadi produk yang menarik dan memiliki nilai jual.

Ide membuat lilin aromaterapi berawal dari keinginan saya untuk memanfaatkan minyak jelantah agar memiliki kegunaan baru. Saya mencoba melihat bahan tersebut dari sudut pandang berbeda, bukan hanya sebagai minyak bekas, tetapi sebagai bahan yang berpotensi dikembangkan menjadi produk kreatif.

Menurut Suryana (2013), kreativitas dapat diwujudkan melalui gagasan baru, cara yang berbeda, dan pengembangan produk yang memiliki nilai komersial. Hal ini menjadi dasar saya dalam mengembangkan minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi. Saya memilih produk ini karena dapat dibuat dengan berbagai warna, aroma, dan bentuk kemasan yang menarik. Saya juga menggunakan wadah kaca agar tampilannya lebih rapi dan cocok dijadikan dekorasi ruangan maupun hadiah.

Dalam prosesnya, saya belajar bahwa inovasi tidak hanya berkaitan dengan menghasilkan sesuatu yang berbeda, tetapi juga bagaimana ide tersebut dapat memberikan manfaat dan memiliki peluang untuk dikembangkan.

Untuk langkah langkah pembuatan lilin aromaterapi dimulai dengan menyaring minyak jelantah untuk memisahkan sisa makanan dan kotoran. Selanjutnya, minyak diproses menggunakan bahan penyerap yang sesuai untuk membantu mengurangi kotoran dan bau. Setelah itu, minyak dicampurkan dengan bahan pembentuk lilin, seperti stearin, campuran kemudian dipanaskan dan diberi berbagai macam aroma pewangi yang sesuai untuk produk lilin. Sumbu dipasang pada wadah kaca, lalu campuran dituangkan dan didiamkan hingga mengeras. Setelah selesai, lilin dapat dikemas agar terlihat lebih menarik. Lilin ini saya jual dengan harga Rp 33.000/pcs.

Proses ini melatih saya untuk berpikir kreatif, mencoba cara baru, serta memperhatikan hasil dari ide yang dikembangkan.

Hendro (2011) membahas kewirausahaan sebagai proses mengenali peluang dan mengembangkan usaha. Hal ini sesuai dengan inovasi yang saya lakukan karena minyak jelantah dapat diolah menjadi produk yang berpotensi dipasarkan. Lilin aromaterapi dapat dipromosikan melalui Instagram atau YouTube dengan menampilkan foto produk, pilihan aroma, dan harga jual.

Selain berpotensi menghasilkan pendapatan, produk ini juga dapat dikembangkan menjadi usaha kreatif yang memiliki ciri khas. Jika permintaan meningkat, usaha tersebut berpeluang membuka kesempatan kerja dalam proses produksi dan pemasaran. Namun, penentuan harga jual harus mempertimbangkan biaya bahan tambahan, wadah kaca, sumbu, pewangi, kemasan, serta tenaga produksi.

Melalui pembuatan lilin aromaterapi dari minyak jelantah, saya belajar bahwa inovasi dapat dimulai dari hal sederhana di sekitar kita. Dengan kreativitas, bahan yang awalnya dianggap tidak berguna dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai tambah. Sejalan dengan Suryana (2013) dan Hendro (2011), kreativitas dan kemampuan melihat peluang dapat menjadi dasar untuk mengembangkan usaha. Bagi saya, pengalaman ini bukan hanya tentang membuat lilin, tetapi juga belajar mencoba ide baru, mengenali peluang, dan mengembangkan potensi usaha kreatif yang memiliki nilai ekonomi.

Link : https://www.instagram.com/p/DeghehOFO-cIMbQwrXvOCRokWlkWknn9Q9-1XU0/?rpxt=MTcwamlpMHVpNjJnaw==

 

Daftar Pustaka :

Hendro. (2011). Dasar-dasar kewirausahaan: Panduan bagi mahasiswa untuk mengenal, memahami, dan memasuki dunia bisnis. Erlangga.

Suryana. (2013). Ekonomi kreatif, ekonomi baru: Mengubah ide dan menciptakan peluang. Salemba Empat.

 

 

 

 

Tisya Sukmalatri 24310410022 - Psi Inovasi - Esai 4 My Best Coping Behavior - Dr. Arundati Shinta - Kelas Karyawan - Oktober 2026

 

Tisya Sukmalatri

24310410022

Psikologi Inovasi - Kelas Karyawan

Essay 4 – My Best Coping Behavior

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

 


“Pengalaman Menghadapi Stres dan Cara Saya Bangkit”

Salah satu situasi yang dapat membuat saya merasa tertekan sebagai mahasiswa adalah ketika tugas kuliah menumpuk, sementara saya juga harus membagi waktu dengan tanggung jawab pekerjaan saya. Kejadian ini sedang saya alami bulan September 2026 ini, pengalaman ini terasa berat ketika beberapa tugas harus diselesaikan dalam waktu yang berdekatan. Saya terkadang merasa bingung harus memulai dari mana, khawatir tugas tidak selesai tepat waktu, dan merasa lelah karena banyak hal yang harus dipikirkan sekaligus.

Ketika berada dalam situasi tersebut, saya menyadari bahwa membiarkan diri terus merasa cemas tidak akan menyelesaikan masalah. Saya perlu mencari cara agar bisa kembali berpikir jernih dan menyelesaikan tanggung jawab secara bertahap. Bagi saya, bagian tersulit bukan hanya menyelesaikan tugas, tetapi juga mengelola pikiran dan perasaan ketika semuanya terasa berat.

Coping behavior yang saya gunakan adalah mengatur prioritas, menenangkan diri, dan mencari hal menyenangkan serta dukungan dari orang terdekat. Saya mencoba mencatat tugas yang harus diselesaikan, menentukan mana yang paling mendesak, kemudian mengerjakannya satu per satu. Saya juga berusaha memberikan waktu kepada diri sendiri untuk beristirahat ketika mulai merasa terlalu lelah. Selain itu, bercerita kepada orang yang saya percaya membantu saya merasa lebih lega dan melihat permasalahan dari sudut pandang yang berbeda.

Menurut saya, cara tersebut cukup membantu karena saya tidak lagi hanya berfokus pada banyaknya masalah, tetapi mulai memikirkan langkah yang bisa dilakukan. Saya belajar bahwa tidak semua hal harus selesai sekaligus. Terkadang, memulai dari satu pekerjaan kecil sudah menjadi kemajuan yang berarti.

Dari pengalaman tersebut, saya mendapatkan pelajaran bahwa stres tidak selalu bisa dihindari, tetapi dapat dikelola dengan cara yang lebih sehat. Saya juga belajar mengenali batas kemampuan diri, mengatur waktu dengan lebih baik, dan tidak memaksakan diri untuk selalu mampu melakukan semuanya secara bersamaan.

Hikmah terbesar yang saya dapatkan adalah bahwa menghadapi kesulitan membutuhkan keberanian untuk mencoba cara yang berbeda. Saya tidak harus selalu kuat atau menyelesaikan semuanya sendirian. Meminta dukungan dan memberikan waktu untuk diri sendiri bukan berarti menyerah, melainkan bagian dari usaha untuk bangkit.

Ke depannya, saya ingin mempertahankan kebiasaan mengatur prioritas dan menenangkan diri ketika menghadapi tekanan. Saya berharap pengalaman ini dapat membantu saya menjadi pribadi yang lebih tangguh, mampu mengelola stres, dan lebih siap menghadapi tantangan dalam kehidupan akademik maupun pekerjaan.

Liany Nur Ramadhani (24310410016) Essay ke - 9 melakukan pelatihan sederhana


Liany Nur Ramadhani 

24310410016

Dosen pengampu : Dr. Arundati Shinta M.A

Psikologi inovasi - B

Essay ke - 9
 
Yogyakarta, 15 Oktober 2026

"Membangun Kebiasaan Hidup Sehat Melalui Sesi Motivasi dan Edukasi Rajin Olahraga."

Pada tanggal 27 Agustus 2023, saya melaksanakan sebuah kegiatan pelatihan sederhana bertema rajin olah raga yang bertujuan untuk membangkitkan kesadaran serta memotivasi orang lain agar membiasakan diri beraktivitas fisik secara rutin. Kegiatan ini dilakukan secara langsung dan melibatkan 8 orang peserta.  

Materi utama yang disampaikan dalam pelatihan ini mencakup pentingnya menjaga kebugaran jasmani untuk kesehatan mental, cara menyiasati rasa malas agar tetap konsisten berolahraga, serta pengenalan jenis olahraga ringan yang bisa dilakukan di rumah tanpa alat khusus. Sesi pelatihan diawali dengan pemaparan materi motivasi singkat, dilanjutkan dengan diskusi interaktif mengenai kendala apa saja yang sering dihadapi peserta dalam memulai olahraga, dan ditutup dengan praktik peregangan otot sederhana bersama-sama.  

Selama menjalankan pelatihan ini, saya mengalami berbagai suka dan duka. Sukanya, saya merasa sangat senang karena para peserta sangat antusias mendengarkan materi dan bersemangat saat sesi peregangan dilakukan. Melihat mereka termotivasi untuk mulai hidup sehat memberikan kepuasan tersendiri bagi saya. Sementara itu, dukanya adalah sedikit kesulitan dalam meyakinkan peserta di awal bahwa olahraga tidak harus berat atau memakan waktu lama, serta mengatur durasi agar tetap pas.  
Secara keseluruhan, kegiatan ini memberikan pengalaman berharga bagi saya dalam melatih kemampuan komunikasi dan menginspirasi orang lain untuk menerapkan pola hidup sehat melalui olahraga.

Komentar Peserta:
Berikut adalah beberapa komentar natural dari peserta setelah mengikuti pelatihan:  

Peserta 1 (rere):
"Awalnya males banget kalo diajak ngomongin olahraga ngebayanginnya capek. Tapi setelah dengerin penjelasan dan tips-tips simpel tadi, jadi sadar kalau mulai dari jalan kaki atau stretching ringan aja udah cukup buat awal. Makasih materinya!"

Peserta 2 (audra) : 
"Penyampaiannya seru dan nggak bikin bosen, suka banget pas bagian praktek peregangan otot tadi, jadi badan rasanya lebih enteng dan tahu kalau olahraga itu bisa dilakukan kapan aja."

Berikut adalah dokumentasi kami setelah sesi edukasi :