22.10.26

 Essai Ke-2 Psikologi Inovasi

Disonansi Kognitif 

Kelas A Reguler 

Rika Amelia (24310420062)

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta M.A

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta







Perang Batin di Setiap Hembusan: Ketika Logika Kalah Dari Kebiasan

Latar Belakang

Berangkat dari rasa ingin tahu saya kepada rekan-rekan kerja saya tentang apa yang dirasakan saat merokok atau menghembuskan asap rokok, bagaimana rokok dapat memengaruhi perasaan dan perilaku mereka dalam kesehariannya, serta apakah ada keinginan mereka untuk berhanti merokok di masa yang akan datang. 

Menurut Leon Festinger 1957 Teori Disonansi Kognitif adalah teori yang menjelaskan tentang perasaan tidak nyaman yang dimliki seseorang ketika melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang mereka ketahui, atau memiliki pendapat yang tidak sesuai dengan keyakinan mereka sendiri. Disonansi sendir berarti ketidakseimbangan, yang merupakan lawan kata dari konsonansi yang berarti seimbang. Sedangkan disonansi kognitif pada perokok aktif adalah perasaan tidak nyaman atau konflik batin yang muncul ketika seorang tetap merokok, meskipun ia tahu bahwa merokok dapat merusak dan membahayakan kesehatan serta kesehatan. 

Tujuan Wawancara:

1. untuk mengetahui apakah narasumber mengetahui pertentangan antara pengetahuan mereka (yaitu bahayanya merokok untuk kesehatan) dengan tindakan mereka (yaitu dengan merokok setiap hari).

2. Mengetahui dan mengidentifikasi cara atau pikiran yang perokok untuk meredakan rasa bersalah dan rasa cemas agar tetap merasa tenang saat merokok.

3. Menilai di mana posisi perokok tersebut dalah hal motivasi untuk berhenti merokok.

Narasumber: 

1. L (Perempuan, 21th)

2. S (Perempuan, 31th)

3. Z (Laki-laki, 25)

4. R (laki-laki, 32th)

Para narasumber di atas merupakan rekan kerja saya, tempat wawancara dilaksanakan di tempat kerja saya yang beralamat di Black Forest Café (Jl. Parangtritis No.83, Brontokusuman, Kec, Mergangsan, Kota Yogyakarta), pada tanggal 12 Oktober 2026, pukul 14.00 WIB sd 15.00 WIB. 

Pertanyaan terdiri dari 8 kuis:

1. Bisa ceritakan sejak kapan Anda mulai merokok?

Jawaban:

L (Perempuan, 21th): “Saya mulai merokok saat masuk SMK, dan sampai sekarang masih aktif”

S (Perempuan, 31th): “ Waktu itu disuruh coba sama Ibu biar tahu rasanya, mungkin dengan harapan agar saya gak coba-coba di luar. Tapi malah keterusan sampai sekarang, dan dulu waktu SMP saya dibully jadi untuk menunjukkan kalau saya itu juga nakal, ya saya merokok”

Z (Laki-laki, 25); “Saya mulai merokok sejak SMP, saya mengikuti teman-teman saya biar kelihatan gaul dan sampai sekarang menjadi perokok aktif”

R (laki-laki, 32th): “Mulai merokok waktu masih kuliah, saat itu stress mengerjakan skripsi tapi keterusan sampai sekarang meski sudah menikah dan punya anak”

2. Seperti apakah aktivitas merokok Anda sehari-hari?

Jawaban:

L (Perempuan, 21th): “Kalau dulu karena belum kerja dan punya uang sendiri dalam sehari hanya 2 sampai 3 batang saja,tspi karena sekarang sudah kerja dan cari uang sendiri satu bungkus rokok (12 batang) bisa habis dalam 2 sampai 3 hari”

S (Perempuan, 31th): ”Dulu saya sempat berhenti merokok, tapi waktu masuk kuliah dan mengerjakan skripsi saya merokok lagi, dan ketika awal-awal kerja dalam sehari saya bisa habis 1 sampai 2 bungkus. Sekarang sehari hanya habis 3 sampai 4 batang rokok saja”

Z (Laki-laki, 25): “ Saya merokok dalam sehari bisa habis setengah bungkus, tapi kadang kurang dari itu”

R (laki-laki, 32th): “Saya merokok hanya saat jam istirahat kerja saja, dan tidak merokok di rumah. Di tempat kerja bisa habis 3 samapi 4 batang rokok”

3. Apa yang biasanya Anda dapatkan atau rasakan (manfaat emosional/fisik) ketika sedang merokok? 

Jawaban:

L (Perempuan, 21th): “Merasa rileks dan segar saja secara fisik, karena kalau tidak merokok saya malah merasa lemas”

S (Perempuan, 31th): “Saya merokok untuk meredakan stress dan untuk menghilangkan rasa makanan di tenggorokan setelah makan, kalau hanya minum air rasa makannya masih kuat sekali di tenggorokan”

Z (Laki-laki, 25): “Merasa enak aja kalau dsedang merokok, dan rasanya jadi tidak sepi”

R (laki-laki, 32th): “Lebih merasa semangat aja, karena kan rokok ada zat nokotinnya jadi biar gak lemes”

4. Di satu sisi Anda tahu bahwa merokok itu berbahaya, tetapi di sisi lain Anda tetap melakukannya. Pernahkah anda merasakan pertentangan batin atau rasa bersalah karena hal ini?

Jawaban:

L (Perempuan, 21th): “Iya, kadang saya merasa kenapa ya merokok kan uangnya bisa buat beli makan dan kan badan saya kerasa beda sebelum dan sesudah jadi perokok akitf. Tapi kalau disuruh berhenti masih belum bisa”

S (Perempuan, 31th): “Mungkin kalau dulu imerasa bersalah ya atau mikir-mikir gimana kalau sakit. Tapi sekarang sudah tidak merasa begitu lagi, ibaratnya dalam bahasa jawa sudah (luweh)                                                                                                                                   

Z (Laki-laki, 25): “Tidak, saya tidak merasa bersalah atau gimana. Mungkin karena saya merasa masih muda ya jadi biasa aja”

R (laki-laki, 32th): “Iya, saya merasa bersalah dan kadang mikir gimana kalau anak saya sakit karena saya membawa bekas asap rokok pulang ke rumah”

5. Dan kapan perasaan tersebut paling sering muncul?

Jawaban:

L (Perempuan, 21th): “Saat ingin melakukan kegiatan fisik di luar kerjaan tapi badan terasa berat dan napas teraasa berat”

S (Perempuan, 31th): “Karena saya sudah bebal dan ibarat kata saya ini hidup enggan matipun segan”

Z (Laki-laki, 25): “Saya merasa masih ingin menikmati hidup seperti anak muda pada umumnya, jadi mungkin karena itu saya masih belum merasa yang gimana-gimana soal rokok ya”

R (laki-laki, 32th): “Saya merasa bersalah saat kepikira tentang anak da istri saya, makanya ka saya hanya merokok di tempat kerja dan tidak merokok saat di rumah apalagi saat bersama anak dan istri “

6. Pernahkah Anda merasa bahwa orang lain ataupun orang di lingkungan menghakimi Anda?

Jawaban: 

L (Perempuan, 21th): “Iya, kadang saya merasa kalau orang lain menghakimi saya. Apalagi kan saya perempuan dan perempuan yang merokok terkesan lebih buruk dibanding laki-laki”

S (Perempuan, 31th): “Mungki iya, tapi saya tidak terlalu memikirkan soal itu. Buat apa juga toh mereka tidak menyumbang sesuatu dalam hidup saya, kecuali kalau mereka menyumbang sesuatu yang besar ke hidup saya baru saya akan memikirkan apa yang orang lain katakan tentang saya”

Z (Laki-laki, 25): “Saya tidak terlalu memikirkan perkataan ataupun apa yang orang lain pikirkan tentang saya”

R (laki-laki, 32th): “Kalau saya terkadang mikir apa yang anak saya pikirkan tentang ayahnya yang merokok”

7. Bagaimana hal tersebut memengaruhi perasaan Anda?

Jawaban:

L (Perempuan, 21th): “Merasa tidak adil sih ya, padahal lelaki juga banyak yang merokok tapi kenapa kalau perempuan dianggap lebih buruk. Terkadang juga merasa sakit hati dengan tatapan orang”

S (Perempuan, 31th): “Saya sudah bodo amat dengan perkataan atau pemikiran orang lain tentang saya, apalagi yang tidak membawa kontribusi dalam hidup saya. Jadi ibaratnya masuyk telinga kanan keluar telinga kiri”

Z (Laki-laki, 25): “Tidak saya pikirkan, selagi tidak merugikan saya ya biarkan saja”

R (laki-laki, 32th): “Merasa sedikit gagal”

8. Apakah Anda pernah dengan serius berniat untuk berhenti merokok?

Jawaban:

L (Perempuan, 21th): “Iya, tapi mungkin tidak dalam waktu dekat atau segera. Rencananya berhenti merokok kalau sudah menikah.

S (Perempuan, 31th): “Belum ada niatan untuk berhenti sih sejauh ini, mungkin kalau sudah menikah. Karena saya belum menikah jadi sepertinya masih jadi perokok aktif”

Z (Laki-laki, 25): “Belum ada niat untuk berhenti, dan belum tau juga apakah ingin berhenti atau tidak”

R (laki-laki, 32th) : “Belum ada untuk sejauh ini, tapi mungkin akan berhenti entah kapan itu.”

Kesimpulan

Disonansi kognitif pada perokok dalam wawancara ini tidak selalu memicu perilaku berhenti merokok secara langsung. Sebaliknya para perokok cenderung menggunkan mekanisme pertahanan diri seperti rasionalisasi manfaat emosional/fisik, penyesuaian batasan lingkungan, penundaan target berhenti ke masa depan, hingga sikap bodo amat untuk meredakan rasa bersalah/cemas sehingga mereka tetap merasa tenang untuk melanjutkan kebiasaan merokoknya.


 Essai ke 3 Mata Kuliah Psikologi Inovasi 

Tips Resiliensi Berdasarkan Teori Albert Bandura

Rika Amelia 

24310420062

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta M.A

Fakultas Psikologi 

Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta





Bangkit dari Rasa Tidak Percaya Diri Melalui Efikasi Diri


Rasa tidak percaya diri seringkali menjadi duri tajam yang menghambat potensi seseorang. Kegagalan, kritikan dari orang terdekat, dan tekanan sosial, seringkali meninggalkan bekas trauma secara psikologis yang mengikis kepercayaan diri. Namun resiliensi kemampuan untuk bangkit dari tekanan bukanlah sesuatu yang didapatkan secara instan, melainkan sesuatu yang dapat dilatih, menurut Albert Bandura resiliensi untuk bangkit dari rasa tidak percaya diri sangat dipengaruhi oleh efikasi diri (self-efficacy), yaitu keyakinan seseorang terhadap kemampuannya untuk mengendalikan fungsi dirinya sendiri dan peristiwa yang mememgaruhi kerjanya.

Inilah beberapa tips untuk membangun resilensi dengan Efikasi Diri Albeert Bandura:

1. Ciptakan Kemenangan Kecil

Untuk membantu mengurasi rasa tidak percaya diri adalah menciptakan keberhasilan-keberhasilan baru, fokus pada langkah-langkah kecil atau target-target kecil yang realistis. Ketika kamu menyelesaikan tugas kecil otak akan merekam sebagai bukti bahwa kamu mampu, target-target kecil ini akan secara bertahap memulihkan kepercayaan dan keyakinan diri.

2. Cari Role Model Yang Relevan

Melihat perjuangan orang lain yangg berada dalam posisi serupa dapat mendorong kamu untuk bangkit dari kondisi yang sedang dialami. Cari orang yang pernah pernah berada di titik terendah namun berhasil bangkit, Melihat keberhasilan orang lain akan membuat kita bangkit dan mampu mendorong kita lebih percaya diri.

3. Ubah Narasi Batin dan Cari Support System

Lingkungan dan keyakinan yang positif dapat memengaruhi mental, berbicara positive tentag diri sendiri dapat membangun keyakinan yang positif tentang diri sendiri, selain itu lingkungan yang mendukung dan memberikan feedback yang membangun dan bukan menjatuhkan akan menambah rasa percaya diri.

4. Kelola Stress

Ubah reaksi fisik seperti jantung berdebar, mual, dan tangan berkeringat sebagai tanda ketakutan, melainkan sebuah kesiapan fisik dalam menghadpi tantangan.

Pada akhirnya, bangkit dari rasa tidak percaya diri bukan berati menghilangkan keraguan secara instan, melainkan membangun keberanian untuk tetap melangkah di tengah keraguan tersebut melalui prinsip efikasi diri. Kegagalan dan rasa tidak percaya diri bukanlah sesuatu yang mutlak melainkan proses belajar dalam membentuk pribadi yang lebih tangguh dan lebih percaya diri.



 Essay ke- 1 Ringkasan Jurnal Enterpreneurship  

Exploring Marketing Knowledge, Enterpreneurial Orientation, and Product Innovation on Marketing Performance of Pastry MSME

Nurul Komaryati dkk. (2025)

Essay ke-1 Psikologi Kognitif 

Rika Amelia 

24310420062

Dr. Arundati Shita M.A

Fakultas Psikologi 

Universitas Proklamasi 45 YOGYAKARTA



Pendahuluan

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM)memegang peranan vital dalam perekonomian Indonesia, mulai dari mendorong pertumbuhan ekonomi, memperluas infrastruktur, hingga membuka lapangan kerja guna mengurangi pegangguran, Kendati demikian, UMKM sering kali menghadapi tantangan finansial dan pemasaran yang memicu fluktuasi penjualan. Untuk mempertahankan kelangsungan dan daya saing bisnis, peningkatan kinerja pemasaran melalui strategi yangg te[at menjadi hal yang krusial. Jurnal ini berfokus pad sentra industri kue kering (pastry) di Desa Bugo, Kecamatan Welahan, Kabupaten Jepara, yang menaungi 125 UMKM. Tujuan penulisan jurnal ini adalah untuk mengkaji pengaruh pengetahuan pemasaran (marketing knowlegde), orientasi kewirausahaan (enterpreneurship prientation), dan inovasi produk (product inovation) terhadap kinerja pemasaran UMKM.

Metodologi

Jurnal ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik purposive sampling. Sampel yang diambil sebanyak 96 responden dari total 125 pelaku UMKM kue kering di Desa Bugo yang telal menjalankan usahanya minimal selama tiga tahun. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner terstruktur, kemudian dianalisis menggunakan metode analisis regresi linear berganda untuk mrnguji hubungan antara variabel independen dan dependen.

Hasil 

1. Analisis Deskriptif dan Uji Kualitas Data

Berdasarkan karakteristik responden, sebagian besar pemilik usaha berusia antara 40-55 tahun dengan lama usaha mayoritas berkisr antara 5-10 tahun. Seluruh indikator kuesioner dinyatakan valid (r hitung > r tabel) dan reliabel (nilai Cronbach’s Alpha > 0, 60). Model regresi juga telah memenuhi asumsi klasik (normalitas, bnebas multikolinearitas, dan bebas heteroskedastisitas).

2. Hipotesis

Hasil uji stimulan (F-test) menunjukkan bahwa pengetahuan pemasaran, orientasi kewirausahaann dan inovasi produk secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap kinerja pemasaran dengan nilai signifikansi 0, 000 < 0, 05.

Berdasarkan koefisien determinasi (Adjusted R2), sebesar 82,8% variasi kinerja pemasaran UMKM dapat dijelaskan oleh ketiga variabel tersebut, smentara sisanya dipengaruhi oleh faktor lain. 

3. Uji Parsial (t-test)

Menunjukkan bahwa masing-masing variabel baik oreintasi kewirausahaan, ibovasi produk, maupun pengetahuan pemasaran berpengaruh p[ositif dan signifikan secara statistik terhadap kinerja pemasaran. Dari ketiganya, orientasi kewirausahaan terbukti memiliki pengaruh paling dominan.

Pembahasan

• Pengetahuan Pemasaran: Pemahaman yang baik meneganal perila,ku konsumen, preferensi pembelian, serta pemanfaatan media sosial secara signifikan meningkatkan efektivitas pemasaran UMKM.

• Orientasi Kewirausahaan: Sikap proaktif, inovatif, dan berani mengambil risiko sangat penting bagi pelaku usaha, terutama bagi mereka yang telah berpengalaman lebih dari lima tahun, guna mendongkrak keberhasilan pemasaran.

• Inovasi Produk: Kemampuan untuk menawarkan variasi, gaya, desain, dan kualitas produk kue yang unggul membantu bisnis tetap kompetitif di tengah persaingan pasar yang ketat.


Kesimpulan

Berdasarkan jurnal ini, dpat disimpulkan bahwa pengetahuan pemasaran, orientasi kewirausahaanm, dan inovasi produk memiliki korelasi positif serta pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan kinerja pemasaran UMKM kue kering di Desa Bugo, Jepara. Pelaku UMKM disarankan untuk terus memperkuat orientasi kewirausahaan melalui sikap yang lebih kreatif, prtoaktif, dan inovatif agar saya saing dan jangkauan pasar usahanya semakin meluas.


20.10.26

Psi Inovasi - Tugas 3 - Oktober 2026 - Arundati Shinta - Deltha Arthaliya NIM 24310430209

 Bertumbuh Tanpa Membenci Diri Sendiri 

Deltha Arthaliya
NIM 24310430209


Menjadi bagian dari generasi sekarang bukan hal yang mudah. Pasalnya di tengah perubahan yang cepat, tuntutan untuk berhasil, dan kebiasaan membandingkan diri di media sosial, banyak anak muda tumbuh dengan rasa lelah yang dipendam sendirian. Mungkin kita sering merasa selalu kuat, selalu produktif, dan selalu terlihat baik-baik saja. Padahal, di balik semua itu, banyak yang sedang berjuang untuk bertahan. 

Terkadang, dalam perjalanannya ada rasa malu karena pernah gagal. Ketika rencana tidak berjalan sesuai harapan, kita mulai mempertanyakan diri sendiri. Ada rasa tertinggal, kurang mampu, atau merasa tidak berharga. Padahal, sebenarnya kegagalan bukan akhir dari segalanya. Gagal adalah bagian dari proses kita untuk belajar dan bertumbuh. 

Disini, saya mengajak untuk memberikan self compassion, yaitu memperlakukan diri sendiri dengan lebih lembut. Tidak menyalahkan diri ketika hidup kita terasa berat, tidak sesuai rencana. Terkadang kita lupa bahwa diri kita juga butuh dipahami, sama seperti kita memahami orang lain. Tidak apa-apa jikalau langkah kita lebih lambat dari yang lain. Tidak apa-apa jika hari ini kita belum berhasil, setiap orang punya waktunya masing-masing. 

Belajar menerima kegagalan berarti kita belajar memahami bahwa menjadi manusia utuh tidak harus sempurna. Ada hari ketika kita merasa kuat, tetapi ada juga hari ketika kita hanya butuh istirahat. Hal itu tidak membuat kita lemah, justru dengan memberi ruang untuk kembali ke dalam diri sendiri, untuk bernapas, kita sedang membangun ketahanan diri yang lebih sehat. 

Selain itu, penting juga untuk belajar menetapkan batasan. Tidak semua hal harus kita iyakan hanya karena takut mengecewakan orang lain. Tidak semua tuntutan harus dipenuhi sampai kita lupa atau kehilangan diri sendiri. Menjaga jarak sehat, dari hal-hal yang melelahkan bukan berarti egois, tetapi membentuk kepedulian dalam diri. Karena hati yang tenang akan lebih mampu menghadapi situasi dan kondisi hidup, dibandingkan hati yang terus dipaksa kuat. 

Di jaman sekarang, era media sosial, kita sering tanpa sadar membandingkan hidup kita dengan orang lain. Melihat pencapaian orang lain membuat kita merasa tertinggal, padahal setiap orang memiliki cerita, perjuangan, dan luka yang berbeda. Apa yang terlihat di layar belum tentu menggambarkan seluruh kenyataan. Dari pada sibuk melihat hidup orang lain, lebih baik kita fokus pada hal yang bisa dikendalikan. Fokus pada cara kita bertumbuh, cara kita bangkit setelah kecewa, dan cara kita memperlakukan diri sendiri. Ketahanan diri bukan tentang menjadi manusia yang sempurna, tidak pernah jatuh, tetapi kemampuan untuk tetap melangkah meski perlahan, tetap bertahan tanpa kehilangan kelembutan hati. 

Dan untuk itu, temukan komunitas yang saling mendukung, yang memberi ruang untuk kita dapat menjadi diri kita, yang menerima kita dengan utuh. Jika kamu membutuhkan ruang aman untuk saling bertumbuh, berbagi hal baik dan positif, kamu bisa terhubung dengan ngudaroso di Jogja. Srawung kanggo Ngudaroso mengajak kita semua bertemu, berkumpul, berhenti sejenak dari rutinitas dan berbagi rasa dan cerita. Kamu bisa terhubung lewat Instagram dan jika tertarik untuk memberikan support dalam bentuk apapun, kolaborasi, bisa menghubungi kontak yang ada di Instagram ngudaroso atau email ruang.ngudaroso@gmail.com 

Temukan diri sendiri secara utuh, dengan bertumbuh pelan, dan belajar menerima segala proses kehidupan. Karena hidup bukan sebuah perlombaan tentang siapa yang paling cepat, tetapi perjalanan tentang bagaimana diri kita tetap mampu mencintai di tengah dunia yang terus bergerak.


https://youtube.com/shorts/Bod3eXLi-Is

https://youtube.com/shorts/D7AXtLwtq40


19.10.26

Psikologi Inovasi-Essay 5- Berperilaku Inovatif

 


Pemanfaatan Kardus Bekas Menjadi Bingkai Foto Kreatif

Putri Dahliani (21310410110)

Psikologi Inovasi- kelas karyawan

Dosen pangampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta


     Kardus bekas merupakan salah satu jenis sampah yang sering ditemukan di lingkungan rumah. Kardus biasanya berasal dari kemasan barang belanjaan atau paket yang sudah tidak digunakan. Sebagian orang memilih menyimpan kardus tanpa memanfaatkannya kembali atau langsung membuangnya. Padahal, kardus bekas masih dapat diolah menjadi barang baru yang bermanfaat. Oleh karena itu, diperlukan kreativitas dan inovasi untuk memanfaatkan barang bekas agar memiliki fungsi dan nilai tambah.

   Kegiatan ini bertujuan untuk mengolah kardus bekas menjadi bingkai foto yang menarik dan bermanfaat. Selain mengurangi sampah, kegiatan ini juga bertujuan melatih kreativitas, mengembangkan kemampuan berpikir inovatif, serta melihat peluang usaha dari bahan sederhana yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar.

Alat:

1. Gunting, untuk memotong kardus dan kertas hias.

2. Penggaris, untuk mengukur ukuran bingkai.

3. Pensil, untuk membuat pola pada kardus.

4. Cutter, jika diperlukan untuk membuat lubang pada bagian tengah kardus. Penggunaannya harus dilakukan dengan hati-hati dan sebaiknya dengan bantuan orang dewasa.

Bahan:

1. Kardus bekas yang masih cukup tebal sebagai bahan utama.

2. Lem untuk merekatkan bagian bingkai.

3. Kertas warna atau kertas kado bekas untuk menghias bingkai.

4. Foto yang akan dipasang.

5. Tali

  Pembuatan bingkai foto dimulai dengan menyiapkan seluruh alat dan bahan. Pertama, kardus bekas diukur dan dipotong sesuai ukuran foto yang akan digunakan. Setelah itu, bagian tengah salah satu potongan kardus dibuat berlubang sebagai tempat untuk menampilkan foto.

     Selanjutnya, foto ditempatkan di bagian belakang lubang bingkai. Setelah bagian-bagiannya  dihias menggunakan kertas warna atau kertas kado kemudian direkatkan dengan lem agar permukaan bingkai terlihat lebih menarik. lalu kaitkan tali pada atas bingkai untuk menggantung bingkai. Terakhir, bingkai diperiksa untuk memastikan seluruh bagiannya terpasang dengan baik.

     Melalui proses ini, kardus yang sebelumnya tidak digunakan dapat berubah menjadi barang yang memiliki fungsi baru. Desain dan hiasan bingkai juga dapat disesuaikan dengan kreativitas pembuatnya. pembuatan bingkai foto dimulai dengan menyiapkan seluruh alat dan bahan. Pertama, kardus bekas diukur dan dipotong sesuai ukuran foto yang akan digunakan. Setelah itu, bagian tengah salah satu potongan kardus dibuat berlubang sebagai tempat untuk menampilkan foto.

     Melalui proses ini, kardus yang sebelumnya tidak digunakan dapat berubah menjadi barang yang memiliki fungsi baru. Desain dan hiasan bingkai juga dapat disesuaikan dengan kreativitas pembuatnya. Sebagai contoh, harga jual dapat ditetapkan sebesar Rp10.000 per bingkai. Harga tersebut merupakan perkiraan awal yang perlu disesuaikan dengan biaya bahan tambahan, ukuran, kerapian, dan kualitas produk. Promosi dapat dilakukan melalui WhatsApp Status atau Instagram Story dengan menampilkan foto bingkai yang sudah selesai dibuat, informasi harga, dan manfaat produk.

    Melalui promosi tersebut, produk dapat dikenal oleh lebih banyak orang. Jika mendapat tanggapan positif, pembuatan bingkai foto dapat dikembangkan menjadi usaha kecil dengan variasi ukuran, warna, dan desain.


Daftar Pustaka

Hennessey, B. A., & Amabile, T. M. (2010). Creativity. Annual Review of Psychology, 61, 569–598. https://doi.org/10.1146/annurev.psych.093008.100416

Kementerian Lingkungan Hidup. (n.d.). Ekonomi sirkular. https://kemenlh.go.id/contents/18/Ekonomi-Sirkular

European Commission. (2026). Upcycling. Knowledge4Policy, Bioeconomy Knowledge Centre. https://knowledge-for-policy.ec.europa.eu/node/78220_bg

Psikologi Inovasi-Essay 4-Best Coping Behavior




Pengalaman Menghadapi Cedera Saat Menjadi Atlet

 Putri Dahliani (21310410110)

Psikologi Inovasi- kelas karyawan

Dosen pangampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta


      Menjadi atlet bukan hanya tentang berlatih dan mengikuti pertandingan, tetapi juga tentang menghadapi berbagai tantangan, termasuk cedera. Cedera dapat menghambat aktivitas olahraga dan memengaruhi kondisi fisik maupun psikologis seorang atlet. Situasi tersebut membutuhkan kemampuan untuk mengelola emosi, menerima keadaan, dan menentukan langkah yang tepat agar tetap dapat menjalani aktivitas dengan baik.

  Sebagai atlet rugby, saya pernah mengalami masalah pada lutut kiri yang mengganggu aktivitas seperti berjalan, berlari, dan meluruskan kaki. Kondisi ini menjadi tantangan karena kegiatan olahraga membutuhkan kekuatan, kelincahan, dan kesiapan fisik. Di satu sisi, saya memiliki keinginan untuk tetap aktif sebagai atlet. Namun, di sisi lain, kondisi lutut mengingatkan saya bahwa tubuh juga membutuhkan perhatian dan perawatan.

          Pengalaman tersebut membuat saya memahami bahwa cedera bukan hanya persoalan fisik. Cedera juga dapat menimbulkan kekhawatiran karena aktivitas latihan menjadi terbatas dan kemampuan tubuh tidak selalu seperti yang diharapkan. Saya perlu belajar menghadapi keadaan tersebut dengan lebih sabar dan tidak hanya mengandalkan semangat untuk terus berolahraga.

   Salah satu cara menghadapi masalah adalah menerima keadaan dan berusaha mengelola respons terhadapnya. Dalam menghadapi cedera, saya belajar bahwa memaksakan diri bukan satu-satunya bentuk perjuangan. Menjaga kondisi tubuh, memperhatikan rasa sakit, serta mencari bantuan tenaga kesehatan merupakan langkah yang penting.

      Selain itu, saya berusaha melihat pengalaman ini sebagai kesempatan untuk lebih mengenal batas kemampuan diri. Kesabaran dan kedisiplinan dibutuhkan agar keputusan yang diambil tidak hanya berdasarkan keinginan untuk segera kembali berlatih. Dukungan dari orang-orang di sekitar juga dapat membantu menjaga semangat ketika menghadapi keterbatasan.

      Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa menjadi atlet tidak hanya membutuhkan kekuatan fisik, tetapi juga kemampuan mengelola emosi dan mengambil keputusan. Saya semakin memahami pentingnya menjaga kesehatan, melakukan evaluasi terhadap kondisi tubuh, dan tidak mengabaikan tanda-tanda cedera.


Daftar Pustaka

American Psychological Association. (n.d.). Coping. APA Dictionary of Psychology. https://dictionary.apa.org/coping



Psikologi Inovasi- Essay 3

  


Mengubah Kegagalan Menjadi Peluang Untuk Berkembang

Putri Dahliani (21310410110)

Psikologi Inovasi- kelas karyawan

Dosen pangampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta



      Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang pasti pernah mengalami kegagalan, baik dalam pendidikan, pekerjaan, maupun kegiatan lainnya. Kegagalan sering kali menimbulkan rasa kecewa, sedih, malu, bahkan membuat seseorang kehilangan kepercayaan diri. Namun, kegagalan tidak selalu berarti bahwa seseorang tidak mampu mencapai tujuannya. Kegagalan juga dapat menjadi kesempatan untuk mengevaluasi diri, menemukan cara baru, dan mengembangkan kemampuan. Dalam psikologi, cara seseorang memandang dan merespons kegagalan dapat memengaruhi proses belajarnya. Oleh karena itu, diperlukan sikap yang tepat agar kegagalan dapat menjadi peluang untuk berkembang.

Tips Mengubah Kegagalan Menjadi Peluang untuk Berkembang

1. Menerima kegagalan tanpa menyalahkan diri sendiri

Langkah pertama adalah menerima bahwa kegagalan merupakan bagian dari proses belajar. Ketika mengalami kegagalan, seseorang sebaiknya memberikan waktu kepada dirinya untuk memahami perasaan kecewa sebelum menentukan langkah selanjutnya. Hindari menganggap diri sendiri tidak mampu hanya karena satu pengalaman buruk. Sebaliknya, pahami bahwa hasil yang belum sesuai harapan tidak menentukan seluruh kemampuan seseorang.

2. Melakukan evaluasi terhadap penyebab kegagalan

Setelah mampu menerima keadaan, cobalah mencari tahu penyebab kegagalan secara objektif. Misalnya, mahasiswa mendapatkan nilai yang kurang memuaskan karena kurang memahami materi, kurang mengatur waktu, atau menggunakan metode belajar yang kurang sesuai. Dengan mengenali penyebabnya, seseorang dapat menentukan bagian yang perlu diperbaiki. Evaluasi ini lebih bermanfaat daripada terus menyesali hasil tanpa melakukan perubahan.

3. Mengembangkan pola pikir bertumbuh

Pola pikir bertumbuh atau growth mindset merupakan cara pandang bahwa kemampuan dapat dikembangkan melalui usaha, pembelajaran, dan strategi yang sesuai. Seseorang dengan pola pikir ini tidak selalu melihat kesalahan sebagai bukti ketidakmampuan, tetapi sebagai informasi untuk memperbaiki diri. Ketika menghadapi kesulitan, cobalah mengubah pikiran “Saya tidak bisa” menjadi “Saya belum bisa, tetapi saya dapat belajar.” Dengan demikian, kegagalan dapat mendorong seseorang untuk mencoba pendekatan yang lebih baik.

4. Berani mencoba strategi baru

Salah satu bentuk inovasi adalah kesediaan mencari cara berbeda ketika cara sebelumnya belum berhasil. Jika metode belajar tidak efektif, mahasiswa dapat mencoba membuat jadwal belajar, berdiskusi dengan teman, atau menggunakan video pembelajaran. Dalam pekerjaan, seseorang dapat meminta masukan dan memperbaiki cara menyelesaikan tugas. Hal terpenting bukan hanya mengulang usaha yang sama, melainkan mempelajari apa yang perlu diubah agar hasil berikutnya menjadi lebih baik.

5. Menetapkan tujuan kecil dan menghargai kemajuan

Setelah mengevaluasi kegagalan, buatlah tujuan yang realistis dan dapat dilakukan secara bertahap. Contohnya, jika sebelumnya sulit menyelesaikan tugas tepat waktu, mulailah dengan membuat daftar prioritas dan menyelesaikan satu tugas setiap hari. Catat kemajuan yang berhasil dicapai agar usaha terasa lebih terarah. Dukungan dari teman, keluarga, atau dosen juga dapat membantu seseorang mempertahankan semangat ketika menghadapi tantangan.

         Kegagalan bukanlah akhir dari perjalanan seseorang, melainkan pengalaman yang dapat memberikan pelajaran berharga. Dengan menerima keadaan, mengevaluasi penyebab kegagalan, mengembangkan pola pikir bertumbuh, mencoba strategi baru, dan menetapkan tujuan kecil, seseorang dapat meningkatkan kemampuannya secara bertahap. Dalam psikologi inovasi, keberanian untuk belajar dari kesalahan dan mencari alternatif merupakan bagian penting dari proses perubahan. Oleh karena itu, jangan hanya berfokus pada kegagalan yang dialami, tetapi gunakan pengalaman tersebut sebagai dasar untuk mengambil keputusan yang lebih baik dan terus berkembang.


Daftar Pustaka

Dweck, C. S. (2006). Mindset: The new psychology of success. Random House.

TED-Ed. (2023). How to overcome your mistakes [Video]. YouTube. https://www.youtube.com/watch?v=eBz7iUJu9UM

TEDx Talks. (2026). [Video tentang belajar dari kegagalan dan menyusun strategi baru] [Video]. YouTube. https://www.youtube.com/watch?v=in4CWm-VDnQ