22.4.26

Tugas Esay Psikologi Inovasi Mereview Jurnal 

    Membangun Perilaku Inovatif melalui Kepemimpinan dan Ekspektasi Kinerja. Sebuah Tinjauan Psikologi Organisasi



Disusun Oleh : Diah Nurul Khazanah
NIM : 23310410105
Psikologi Inovasi 
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta 
Dosen Pengampu: Dr., Dra. Arundati Shinta, MA. 
 

 Di zaman globalisasi serta kemajuan teknologi informasi yang cepat, organisasi harus terus beradaptasi untuk bisa bertahan di tengah persaingan bisnis yang ketat. Inovasi menjadi solusi yang sangat penting bagi organisasi untuk menciptakan produk dan layanan yang memberikan nilai bagi berbagai pemangku kepentingan. Salah satu elemen utama dalam pencapaian ini adalah Perilaku Kerja Inovatif (PKI) dari karyawan. Tulisan ini membahas temuan dari penelitian Rusdijanto Soebardi tentang bagaimana perilaku pemimpin dapat memengaruhi perilaku inovatif dari bawahandengan ekspektasi kinerja berperan sebagai penghubung.

Dinamika Perilaku Kerja Inovatif

Perilaku yang berkaitan dengan inovasi di tempat kerja dijelaskan sebagai serangkaian aktivitas di mana individu berusaha untuk merancang dan memperbaiki efektivitas kerja melalui empat langkah utama yaitu :


1. Mengidentifikasi kemungkinan tantangan dalam konteks pekerjaan.


2. Menghasilkan solusi dengan cara yang kreatif.

3. Membangun kerjasama dan dedikasi untuk mewujudkan perubahan.

4. Melaksanakan rencana perbaikan tersebut di dalam tindakan sehari-hari.

Studi ini menunjukkan bahwa perilaku kerja inovatif bukan hanya sekadar proses berpikir individu (kreativitas), tetapi juga merupakan hasil dari interaksi sosial dalam tim kerja.

Peran Pemimpin sebagai Katalisator

Seorang pemimpin memegang peranan penting dalam memandu sikap dan tindakan staf melalui berbagai aspek kepemimpinan. Beberapa sikap pemimpin yang telah terbukti mendorong inovasi secara langsung antara lain, Dukungan kepada pekerja menyediakan perhatian mental terhadap kebutuhan staf.
Konsultasi dengan pekerja melibatkan staf dalam proses pengambilan keputusan dan penyelesaian masalah. Pendelegasian dengan memberikan hak kepada staf untuk menentukan metode terbaik dalam menyelesaikan tugas. Pengakuan dengan menyampaikan penghargaan dan pujian atas kinerja yang memberikan dampak positif.

Ekspektasi Kinerja sebagai Mediator

Salah satu penemuan paling signifikan dalam studi ini adalah fungsi ekspektasi kinerja sebagai mediator. Ekspektasi adalah keyakinan subjektif karyawan bahwa perilaku tertentu akan berujung pada hasil yang berhasilHasil analisis jalur menunjukkan bahwa tindakan pemimpin tidak hanya berdampak langsung, tetapi juga memengaruhi secara tidak langsung sikap inovatif dengan meningkatkan ekspektasi kinerja pegawaiMenarik untuk dicatat, dimensi pengakuan sosial (motivasi ekstrinsik) telah ditemukan mempunyai pengaruh lebih besar dalam memacu inovasi dibandingkan dengan dimensi efektivitas kerja (motivasi intrinsik) di dalam kelompok penelitian ini.

Kesimpulan dan Implikasi Praktis

Studi pada 199 pegawai di perusahaan logistik ini menunjukkan adanya dampak yang signifikan sebesar 0,47 (total effect) antara perilaku kepemimpinan dan perilaku kerja inovatif dengan ekspektasi kinerja sebagai mediatorUntuk para praktisi manajemen, disarankan untuk menciptakan lingkungan kerja yang mendukung inovasi dapat dilakukan dengan :

  • Mengkonversi rencana tahunan organisasi menjadi tugas pengembangan yang lebih konkret bagi karyawan.
  • Melaksanakan kegiatan mentoring dan coaching secara teratur.
  • Mengadakan acara penghargaan formal untuk menghargai pencapaian inovasi.
  • Memberikan insentif yang berarti bagi karyawan yang berhasil menerapkan ide-ide inovatif.

Daftar Pustaka
Soebardi, R. (2012). Perilaku Inovatif. Jurnal Psikologi Ulayat, 1(Desember), 57–74.
DOI: 

https://doi.org/10.24854/jpu4



21.4.26

Tugas: Esai 1 – Meringkas Jurnal Motivasi

 Esai ini ditujukan untuk dipublikasikan di Klinik Psikologi atau Klinik Karir sebelum UTS.

Nama: Nunung Setyowati

NIM: 24310430208

Mata Kuliah: Psikologi Inovasi 

Tugas: Esai 1 – Meringkas Jurnal Motivasi 

Topik Utama: Entrepreneurship (Kewirausahaan)

Dosen Pengampu: Ibu Dr. A. Shinta, M.A

Tahun 2026

Peran Motivasi dalam Mendorong Perilaku Kewirausahaan: Sebuah Tinjauan Psikologis

Kewirausahaan (entrepreneurship) bukan hanya sekadar proses ekonomi atau manajemen bisnis, melainkan sebuah fenomena psikologis yang sangat dipengaruhi oleh dorongan internal individu. Dalam konteks inovasi, memahami mengapa seseorang memilih untuk menjadi wirausahawan dan bagaimana mereka mempertahankan usahanya di tengah ketidakpastian pasar menjadi sangat krusial. Perilaku perintis ini sangat bergantung pada aspek motivasi mendasar yang dimiliki oleh seorang individu (Murnieks et al., 2020). Esai ini akan meringkas temuan dari jurnal internasional yang mengkaji lanskap motivasi kewirausahaan secara komprehensif.

Penelitian yang dilakukan oleh Murnieks et al. (2020) bertujuan untuk meninjau secara sistematis berbagai literatur psikologi terkait motivasi yang mendorong perilaku dan niat kewirausahaan. Penelitian ini menggunakan metode tinjauan literatur kritis (critical literature review) untuk menyintesis puluhan studi empiris sebelumnya, sehingga mampu memetakan teori-teori motivasi utama yang secara spesifik berlaku dalam ranah entrepreneurship.

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa motivasi kewirausahaan bukanlah sebuah konsep yang tunggal, melainkan konstruksi psikologis yang multidimensi. Murnieks et al. (2020) mengidentifikasi bahwa efikasi diri (self-efficacy), identitas peran (role identity), dan gairah (passion) merupakan tiga motor penggerak psikologis yang paling mendominasi wirausahawan. Efikasi diri memberikan keyakinan kognitif kepada individu bahwa mereka memiliki kompetensi untuk mengeksekusi ide dan mengatasi risiko bisnis. Sementara itu, passion kewirausahaan berfungsi sebagai bahan bakar emosional yang memicu ketekunan serta resiliensi tinggi ketika individu dihadapkan pada hambatan. Lebih lanjut, penelitian ini juga menemukan bahwa faktor motivasi ekstrinsik, seperti imbalan finansial, sering kali berinteraksi kuat dengan motivasi intrinsik, seperti kebutuhan akan otonomi dan pencapaian prestasi, dalam membentuk perilaku inovatif (Murnieks et al., 2020).

Implikasi dari temuan ini sangat relevan bagi pengembangan program pendidikan dan pelatihan kewirausahaan. Menurut penelitian ini, kurikulum perguruan tinggi atau intervensi psikologis tidak seharusnya hanya berfokus pada pemberian keterampilan bisnis teknis semata. Sebaliknya, program tersebut harus dirancang sedemikian rupa untuk menumbuhkan efikasi diri dan memvalidasi identitas wirausaha individu secara konstruktif (Murnieks et al., 2020).

Sebagai kesimpulan, jurnal ini menegaskan bahwa motivasi berwirausaha melibatkan interaksi yang kompleks antara dorongan kognitif, afektif, dan identitas sosial. Individu yang sukses dalam berinovasi dan membangun usaha umumnya didorong oleh kombinasi antara keyakinan diri yang kuat dan keterikatan emosional terhadap peran mereka sebagai pemecah masalah (Murnieks et al., 2020). Pemahaman analitis mengenai akar psikologis ini menjadi bekal yang sangat penting untuk merancang strategi pembinaan karier di bidang kewirausahaan secara tepat sasaran.



Daftar Pustaka

Murnieks, C. Y., Klotz, A. C., & Shepherd, D. A. (2020). Entrepreneurial motivation: A review of the literature and an agenda for future research. Journal of Organizational Behavior, 41(2), 115–143. https://doi.org/10.1002/job.2374


19.4.26

ESSAY 1: MERINGKAS JURNAL MOTIVASI-Cholifahtun Pratista-23310410120

 

ESSAY 1: MERINGKAS JURNAL MOTIVASI

PSIKOLOGI INOVASI

Dosen Pengampu: Dr., Dra. Arundati Shinta, MA.

 

 

Nama: Cholifahtun Pratista Dewi

NIM: 23310410120

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

2026

 

Jurnal Gerakan Ekofeminisme Dalam Bidang Pengelolaan Sampah ini membahas tentang fenomena sosial yang berkaitan dengan perempuan dan bagaimana komunitas perempuan dapat menjadi sarana pemberdayaan. Fokus utama penelitian ini adalah melihat adanya “deviasi positif”, yaitu perilaku atau kondisi yang menyimpang dari kebiasaan umum tetapi justru menghasilkan dampak yang baik. Berbeda dengan deviasi negatif yang biasanya merugikan, deviasi positif menunjukkan bahwa ada individu atau kelompok yang mampu menemukan solusi lebih baik dalam menghadapi masalah sosial.

Penelitian ini berangkat dari permasalahan umum yang sering terjadi di masyarakat, khususnya terkait ketimpangan dan keterbatasan peran perempuan. Dalam kondisi tertentu, perempuan seringkali mengalami hambatan baik dari segi sosial, ekonomi, maupun budaya. Namun, melalui komunitas yang terbentuk, perempuan dapat saling mendukung dan mengembangkan potensi yang dimiliki.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini cenderung bersifat kualitatif, dengan pendekatan deskriptif untuk memahami fenomena yang terjadi di lapangan. Peneliti mengamati bagaimana komunitas perempuan berperan dalam menciptakan perubahan, baik pada tingkat individu maupun kelompok. Fokusnya bukan hanya pada masalah, tetapi juga pada solusi yang muncul dari dalam komunitas itu sendiri.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunitas perempuan memiliki peran penting dalam meningkatkan kemandirian dan kepercayaan diri anggotanya. Melalui interaksi sosial, berbagi pengalaman, serta dukungan emosional, perempuan menjadi lebih mampu menghadapi tantangan hidup. Selain itu, komunitas juga berfungsi sebagai ruang belajar informal yang membantu anggotanya mengembangkan keterampilan baru.

Konsep deviasi positif dalam penelitian ini menjadi poin penting, karena menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu harus datang dari kebijakan besar atau intervensi formal. Justru, perubahan bisa dimulai dari individu atau kelompok kecil yang memiliki cara berbeda dalam menyelesaikan masalah. Hal ini memberikan perspektif baru bahwa solusi lokal seringkali lebih efektif karena sesuai dengan konteks sosial yang ada.

Kesimpulannya, jurnal ini menegaskan bahwa pemberdayaan perempuan dapat dilakukan melalui pendekatan komunitas dengan memanfaatkan potensi internal yang ada. Deviasi positif menjadi strategi yang relevan untuk menciptakan perubahan sosial yang berkelanjutan. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat dan pihak terkait untuk mendukung keberadaan komunitas perempuan sebagai agen perubahan.

 

Daftar Pustaka

http://kupasiana.psikologiup45.com/2022/10/meringkas-jurnal_19.html

16.4.26

ESSAI 2-WAWANCARA DISONANSI KOGNITIF

Nama : Banun Havifah Cahyo Khosiyono 
 NIM : 24310440002 
 Kelas : B 
 Mata Kuliah :Psikologi Inovasi 
 Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A. 
 Tugas : Esai-Wawancara Disonansi Kognitif Jurnal 
Tanggal : 16 April 20326 

  Disonansi Kognitif pada Perokok di Tempat Gym: Hambatan Inovasi Diri

Pendahuluan 
 Disonansi kognitif adalah kondisi psikologis ketika individu memiliki pengetahuan tentang suatu hal, tetapi perilakunya bertentangan dengan pengetahuan tersebut. Akibatnya, individu cenderung membuat alasan pembenaran diri agar tidak merasa bersalah. Fenomena ini sering menjadi penghambat inovasi dan kemajuan diri. 
 
Identitas Target Wawancara 
Subjek: Inisial “R” (Atlet gym, perokok aktif) 
Lokasi: Gym di Yogyakarta 
Tanggal Wawancara: 12 April 2026 

  Hasil Wawancara 
Ketika ditanya mengapa tetap merokok meski tahu dampak buruknya, R menjawab: 
“Saya tahu rokok merusak paru-paru, tapi kalau tidak merokok rasanya badan malah lemas. Lagi pula, banyak atlet lain juga merokok, jadi tidak masalah.” 
 Kutipan wawancara di atas ini menunjukkan adanya mekanisme pertahanan diri berupa rasionalisasi. R berusaha menjustifikasi perilaku merokok dengan alasan “agar tidak lemas” dan “banyak orang lain juga melakukannya.” 
Analisis Mekanisme Pertahanan Diri Rasionalisasi: 
  • Subjek membuat alasan logis palsu untuk menutupi perilaku yang bertentangan dengan pengetahuan. 
  • Denial (penyangkalan): Subjek menolak fakta medis dengan mengatakan “tidak masalah.”
  • Projection (proyeksi): Subjek membandingkan dirinya dengan orang lain agar merasa aman. 
Ketiga mekanisme ini memperlihatkan bagaimana disonansi kognitif membuat individu sulit berubah. Alih-alih berhenti merokok, ia kreatif mencari alasan pembenaran diri. 

Permasalahan dan Hubungan dengan Psikologi Inovasi 
Dalam konteks psikologi inovasi, disonansi kognitif menjadi penghambat. Individu yang terus berpegang pada pembenaran diri tidak akan melakukan perubahan perilaku yang lebih sehat. Padahal, inovasi diri menuntut keberanian untuk meninggalkan kebiasaan lama dan mencoba pola hidup baru. Jika atlet seperti R mampu mengatasi disonansi kognitif, ia bisa mengembangkan inovasi dalam gaya hidup sehat: mengganti rokok dengan olahraga pernapasan, nutrisi seimbang, atau teknik relaksasi. Namun, selama ia bertahan dengan mekanisme pertahanan diri, peluang inovasi itu tertutup. 

Kesimpulan 
Disonansi kognitif membuat individu sulit maju karena lebih sibuk mencari alasan pembenaran diri daripada melakukan perubahan. Kasus perokok di gym menunjukkan bahwa pengetahuan tanpa praktik hanya melahirkan stagnasi. Untuk menjadi pribadi inovatif, diperlukan keberanian menghadapi kenyataan dan komitmen untuk mengubah perilaku.

10.4.26

ESAI 1-MERINGKAS JURNAL ENTERPRENEURSHIP

 Hubungan antara adaptasi lintas budaya, faktor psikologis kewirausahaan, dan kemampuan inovasi di kalangan wirausahawan baru


Nama : Banun Havifah Cahyo Khosiyono

NIM : 24310440002

Kelas : B

Mata Kuliah : Psikologi Inovasi

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.

Tugas : Esai Review Jurnal

Tanggal : 10 April 2026





Topik

Hubungan antara adaptasi lintas budaya, faktor psikologis kewirausahaan, dan kemampuan inovasi di kalangan wirausahawan baru. Studi ini mengintegrasikan perspektif dari psikologi positif dan kewirausahaan untuk menjelaskan bagaimana kualitas psikologis memengaruhi niat dan kinerja kewirausahaan.

Sumber

Zhou, Q. (2021). The impact of cross-cultural adaptation on entrepreneurial psychological factors and innovation ability for new entrepreneurs. Frontiers in Psychology, 12, 724544.https://www.frontiersin.org/journals/psychology/articles/10.3389/fpsyg.2021.724544/full 

Permasalahan

Penelitian ini membahas tantangan meningkatnya pengangguran dan tekanan ekonomi, yang mendorong banyak lulusan menuju kewirausahaan. Namun, wirausahawan baru sering kali kesulitan dengan kesiapan psikologis yang tidak memadai dan kapasitas inovasi yang terbatas. Selain itu, perbedaan lintas budaya menciptakan kesulitan adaptasi yang dapat berdampak negatif pada niat dan kinerja kewirausahaan. Kesenjangan ini menyoroti kebutuhan untuk memahami bagaimana faktor psikologis dan budaya berinteraksi dalam membentuk hasil kewirausahaan.

Tujuan penelitian

Tujuan utama adalah untuk mengeksplorasi bagaimana adaptasi lintas budaya memengaruhi faktor psikologis kewirausahaan—seperti motivasi pencapaian, tingkat pengetahuan, dan efektivitas komunikasi—dan bagaimana faktor-faktor ini, pada gilirannya, memengaruhi kemampuan inovasi dan niat kewirausahaan. Studi ini juga bertujuan untuk memvalidasi model teoretis yang menghubungkan variabel-variabel ini.

Metode

Penelitian pada artikel ini menggunakan desain penelitian kuantitatif dengan menggunakan survei kuesioner yang didistribusikan kepada mahasiswa kewirausahaan di Tiongkok yang memiliki pengalaman pendidikan lintas budaya. Sebanyak 367 respons valid dianalisis. Teknik statistik seperti pengujian reliabilitas (Cronbach’s α = 0,894), pemodelan persamaan struktural (SEM), analisis regresi, dan uji t digunakan untuk memeriksa hubungan antarvariabel.

Hasil

Temuan menunjukkan bahwa motivasi pencapaian dan tingkat pengetahuan secara signifikan dan positif memengaruhi niat kewirausahaan. Sebaliknya, efektivitas komunikasi tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan. Tingkat pendidikan juga memainkan peran yang kompleks, dengan pendidikan yang lebih tinggi dikaitkan dengan niat kewirausahaan yang lebih rendah tetapi modal psikologis yang lebih kuat. Jenis kelamin dan usia bukanlah faktor signifikan yang memengaruhi psikologi kewirausahaan. Secara keseluruhan, faktor psikologis dikonfirmasi memiliki dampak substansial pada pengembangan kewirausahaan dan kemampuan inovasi.

Diskusi

Hasil penelitian menunjukkan bahwa adaptasi lintas budaya meningkatkan modal psikologis wirausahawan, khususnya melalui peningkatan motivasi dan perolehan pengetahuan. Unsur-unsur ini sangat penting untuk inovasi dan keberhasilan kewirausahaan. Namun, peran efektivitas komunikasi yang tidak signifikan menunjukkan bahwa tidak semua aspek adaptasi lintas budaya sama-sama memengaruhi hasil kewirausahaan. Hubungan negatif antara pendidikan tinggi dan niat kewirausahaan mungkin mencerminkan keengganan terhadap risiko atau preferensi karier alternatif di antara individu yang berpendidikan tinggi.

Kesimpulan

Kesimpulan artikel ini adalah adaptasi lintas budaya memainkan peran penting dalam membentuk faktor psikologis kewirausahaan dan kemampuan inovasi. Motivasi pencapaian dan pengetahuan merupakan pendorong utama niat kewirausahaan, sedangkan variabel demografis seperti jenis kelamin dan usia kurang berpengaruh. Studi ini menyoroti pentingnya memperkuat kesiapan psikologis dan kompetensi lintas budaya untuk meningkatkan keberhasilan kewirausahaan di kalangan wirausahawan baru.