15.5.26

ESAI 3A & 3B _ SULASTRI

 

Menjadi Suri Tauladan

Sulastri  (23310410122)

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta,M.A.

April 2026



Dalam tugas ini saya akan memberikan 2 tips tentang motivasi diri yang saling berhubungan dengan kegiatan dan pekerjaan saya saat ini. Yaitu tips kegigihan dalam menggapai cita – cita menjadi Guru.

akan menjadi Guru TK islam. Dan mulai  saat itu saya melihat anak – anak Tk yang selalu lucu dan dalam kehidupanya selalu ceria, menangis dan bermain. Kemudian saya mulai belajar sungguh -sungguh hingga saya menjadi juara umum di kelas 6. Setelah itu saya mulai melanjutkan masuk di Mts yang memiliki tambahan pelajaran tentang keislaman harapanya ilmu agama saya semakin bertambah. Dan sekolah ini saya masih mempertahankan belajar saya supaya saya selalu bisa memiliki nilai yang baik untuk bekal masuk ke sekolah lanjutan.Alhamdulillah selama Di Mts semakin baik dan selalu mendapatkan rinking dan di sini saya mulai menambah ilmu dengan ikut organisasi OSIS dan Organisasi Drumband. Dan kebetulan saya terpilih menjadi Mayoret karena tinggi badanya saya 163 cm saat itu. Setelah dari Mts, ternyata jalan saya tidak begitu mulus, biarpun nilai saya bagus di ijazah namun cita – cita saya masuk di SMK Negeri tidak bisa karena di sana awal masuk harus membayar saat itu 2 juta. Dam Qodarullah, ayah dan ibu saya tidak memiliki uang sebanyak itu, kemudian saya memutuskan untuk masuk di sekolah Swasta yang bisa di cicil, dan seragamnya gratis. Karena di sekolah SMK Swasta saya tidak ada jurusan yang saya pilih, saya memutuskan untuk mengambil kejuruan Busana Butik, dengan Harapan jika nanti saya tidak bisa menjadi Guru saya bisa membuka Usaha Jahit dengan ilmu yang saya ambil. Disini saya menambah organisasi tonti dan saya tetap mempertahankan peringkat, dan Alhamdulillah saya mendapatkan juara Umum di SMK. Karena saya sudah pernah mengikuti berbagai organisasi maka saya Ketika kelulusan di tawari untuk masuk di kepolisian, namun Qodarullah mungkin karena cita – cita saya buka polwan tetapi guru, Allah tidak meridhoi saya masuk kepolisian, saya harus gagal di tengah jalan pada saat Tes fisik.

Disini akhirnya saya melanjutkan kerja ke pabrik karena mau kuliah juga tidak ada biaya, dan harapan saya menjadi guru sepertinya sudah tidak di usahakan lagi dan sempat down, kemudian saya bertekad kerja di pabrik uangnya saya kumpulkan untuk bisa kuliah, namun Allah lebih dulu mengirimkan saya pasangan hidup, sehingga uang yang harusnya untuk kuliah saya gunakan untuk menikah. Dan diawal menikah saya memutuskan untuk resign dari pabrik karena tidak ada skill yang saya dapatkan. Dan Alhamdulillah Ketika saya hamil, saat itu juga teman saya menawari saya untuk mencoba bekerja menjadi guru pocokan untuk menggantikan guru yang cuti melahirkan selama 3 bulan di TK Islam di Jogja. Kemudian saya terima dari situ sepertinya cita – cita saya menjadi guru TK semakin dekat dan terlihat. Kemudian saya ikhtiari untuk selalu bangun pagi sholat tahajud, puasa senin – kamis, supaya harapan dan doa – doa saya untuk bisa menjadi guru tercapai. Dan Alhamdulillah setelah 3 bulan saya diangkat menjadi guru GTT. Dan sampai sekarang sudah mengajar 7 Tahun, dan bisa sambil Kuliah dg uang sendiri.

Disini saya berpesan, Ketika teman – teman memiliki cita – cita yang mulai jangan pernah menyerah dan terus beruasah untuk bisa dan yakin menggapai cita – cita tersebut. Karena Allah itu pasti akan memudahkan jalan Hambanya yang bersungguh – sungguh dalam meraih kebaikan. Dan Ketika cita – cita itu tercapai syukuri dan jangan sombong terhadap pencapaian diri karena hal itu bukan karena kehebatan kita tapia da doa dari orang sekitar kita, seperti orang tua dan teman – teman yang selalu mendukung kita, jadi tetap tawaduk dan tetap focus untuk selalu lebih baik lagi dan berani mencoba tantangan atau hal – hal baru.

Link youtube :

Tips kegigihan menggapai cita – cita dan kata motivasi untuk terus bangkit dan bertumbuh.

https://youtu.be/1zrBrsiDvoM

https://youtu.be/-EW0-4ek2o4

Esai 2 - Wawancara Tentang Disonasi Kognitif

 PSIKOLOGI INOVASI

ESAI 2 - Wawancara Tentang Disonasi Kognitif

Disonansi Kognitif Pada Perokok Aktif

 




Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A

Nama : Annisa Septiana Putri

NIM : 23310410108


 


Fakultas Psikologi

Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta



2026

 

 

  

Disonansi kognitif merupakan kondisi ketika seseorang memiliki dua pemikiran atau keyakinan yang bertentangan, tetapi tetap mempertahankan perilaku yang dilakukannya. Menurut Harmon-Jones dan Mills (2019), disonansi kognitif merupakan kondisi ketika individu cenderung mencari pembenaran diri untuk mengurangi ketidaknyamanan akibat pertentangan antara pengetahuan dan perilaku yang dilakukan. Dalam kehidupan sehari-hari, salah satu contoh yang sering ditemukan adalah perilaku merokok. Banyak perokok mengetahui bahwa rokok berbahaya bagi kesehatan, tetapi tetap melanjutkan kebiasaan tersebut dengan berbagai alasan pembenaran diri. Oleh karena itu, saya melakukan wawancara terhadap seorang perokok aktif untuk memahami bentuk disonansi kognitif yang dialami.

 

Wawancara dilakukan kepada subjek berinisial DR, seorang laki-laki berusia 29 tahun yang mulai merokok sejak usia 16 tahun akibat pengaruh pergaulan masa muda. Dalam sehari, subjek bisa menghabiskan rokok setengah bungkus hingga satu bungkus tergantung situasi yang dihadapi. Subjek mengaku paling sering merokok ketika sedang banyak pikiran karena menurutnya merokok dapat membuat perasaan menjadi lebih lega.

 

Subjek sebenarnya mengetahui dampak buruk merokok bagi kesehatan, terutama kerusakan paru-paru. Informasi tersebut diperoleh dari internet maupun dokter secara langsung. Namun, subjek tidak sepenuhnya percaya bahwa merokok merupakan penyebab utama penyakit serius. Ia mengatakan bahwa penyakit juga bisa berasal dari pikiran, bahkan menurutnya banyak orang lanjut usia yang tetap sehat walaupun merokok. Pernyataan tersebut menunjukkan adanya mekanisme pembenaran diri untuk mengurangi rasa tidak nyaman akibat pertentangan antara pengetahuan dan perilaku yang dilakukan.

 

Bentuk disonansi kognitif juga terlihat ketika subjek mengaku tetap merasa biasa saja meskipun mengetahui rokok berbahaya. Ia merasa dampak rokok dapat dikurangi dengan olahraga dan minum air putih yang cukup. Selain itu, subjek juga menyatakan bahwa merokok dapat membantu mengurangi beban pikiran yang menumpuk. Pernyataan seperti merokok benar-benar membantu mengurangi beban pikiran” menjadi alasan utama subjek tetap mempertahankan kebiasaan tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat Harmon-Jones dan Mills (2019) bahwa individu akan berusaha mencari pembenaran agar tetap merasa nyaman dengan perilaku yang dilakukan.

 

Walaupun demikian, subjek masih memiliki rasa khawatir terhadap dampak asap rokok bagi orang lain, terutama anak kecil. Ia mengaku tidak merokok ketika berada di dekat anak-anak karena takut asap rokok bisa menyebabkan penyakit. Hal ini menunjukkan bahwa subjek memahami adanya bahaya rokok, tetapi belum memiliki keinginan kuat untuk berhenti sepenuhnya. Subjek hanya ingin mengurangi intensitas merokok karena merasa kebiasaan tersebut sudah melekat dalam dirinya dan sulit dihentikan.

 

Berdasarkan hasil wawancara, dapat disimpulkan bahwa subjek mengalami disonansi kognitif. Subjek mengetahui bahaya merokok, tetapi tetap melakukannya dengan berbagai bentuk pembenaran diri, seperti menganggap rokok dapat mengurangi stres dan merasa dampaknya dapat diseimbangkan dengan pola hidup sehat. Kondisi ini menunjukkan bahwa individu sering kali sulit berubah karena lebih memilih mempertahankan kenyamanan perilaku lama dibandingkan menghadapi ketidaknyamanan untuk berubah.

 

Daftar Pustaka

 

Harmon-Jones, E., & Mills, J. (2019). An Introduction to Cognitive Dissonance Theory and an Overview of Current Perspectives on the Theory. DOI: 10.1037/0000135-001

13.5.26

Essay 4: Cholifahtun Pratista D- 23310410120

 

ESSAY 4 : MY BEST COPING BEHAVIOR

Dosen Pengampu: Dr., Dra. Arundati Shinta, MA.

 

 

Nama: Cholifahtun Pratista Dewi

NIM: 23310410120

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

2026

 

Pada bulan Februari 2021, saya mengalami salah satu peristiwa yang paling berat dan menyakitkan dalam hidup saya. Saat itu saya sedang berjuang mengikuti tes mendaftar pekerjaan, yang merupakan cita-cita besar saya sejak lama. Menjadi seorang polisi wanita adalah impian yang ingin saya wujudkan karena saya ingin membanggakan kedua orang tua saya, terutama ayah saya yang selalu mendukung dan memberi semangat dalam setiap langkah hidup saya. Saya sudah mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh, baik secara fisik maupun mental, karena saya tahu proses seleksinya tidak mudah.

Namun, di tengah perjuangan tersebut, saya mendapat kabar bahwa ayah saya mengalami kecelakaan. Saat mendengar kabar itu, saya benar-benar merasa dunia saya seperti berhenti sejenak. Saya sangat terkejut, panik, sedih, dan tidak bisa berpikir dengan tenang. Pikiran saya langsung tertuju pada kondisi ayah. Saya merasa takut kehilangan beliau karena ayah adalah sosok yang sangat penting dalam hidup saya. Beliau bukan hanya kepala keluarga, tetapi juga tempat saya bercerita, meminta nasihat, dan mendapatkan kekuatan.

Situasi itu membuat saya mengalami stres yang cukup berat. Di satu sisi, saya harus tetap fokus menjalani tes yang sudah saya persiapkan sejak lama. Di sisi lain, hati dan pikiran saya selalu tertuju pada kondisi ayah yang sedang dirawat. Saya sering merasa cemas, sulit tidur, mudah menangis, dan tidak bersemangat menjalani aktivitas sehari-hari. Bahkan saya sempat berpikir untuk menyerah dan berhenti mengikuti tes karena merasa tidak sanggup menghadapi semuanya sekaligus.

Tetapi setelah saya pikirkan kembali, saya sadar bahwa menyerah bukanlah solusi. Saya yakin ayah saya juga tidak ingin melihat saya berhenti di tengah jalan. Dari situ saya mulai mencoba bangkit dan mengatur diri saya dengan menggunakan coping behavior yang paling membantu saya, yaitu problem focused coping dan emotional coping.

Problem focused coping saya lakukan dengan cara tetap menjalani tes secara maksimal sambil berusaha membantu keluarga dan menjaga ayah. Saya mencoba mengatur waktu sebaik mungkin antara belajar, latihan fisik, dan menemani keluarga. Saya tetap berusaha disiplin, menjaga kesehatan, dan tidak membiarkan kesedihan menghancurkan fokus saya. Saya juga aktif mencari informasi tentang kondisi ayah agar saya tidak terlalu larut dalam kecemasan yang berlebihan.

Selain itu, saya juga menggunakan emotional coping untuk menenangkan diri secara emosional. Saya lebih banyak berdoa, mendekatkan diri kepada Tuhan, dan berusaha menerima bahwa setiap manusia pasti diuji dengan cara yang berbeda. Saya mencoba berpikir positif bahwa semua ini pasti ada hikmahnya. Saya juga sering berbicara dengan ibu dan keluarga agar beban pikiran saya terasa lebih ringan. Dukungan dari mereka membuat saya merasa lebih kuat dan tidak sendirian menghadapi keadaan sulit ini.

Hari yang paling saya tunggu akhirnya datang, yaitu hari pengumuman hasil tes. Saat itu saya dinyatakan diterima, dan pada waktu yang hampir bersamaan kondisi ayah saya juga mulai membaik hingga akhirnya sembuh. Perasaan saya saat itu benar-benar campur aduk antara bahagia, haru, lega, dan syukur. Saya merasa semua perjuangan, air mata, rasa takut, dan stres yang saya alami akhirnya terbayar dengan hasil yang indah.

Dari peristiwa ini, saya belajar bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana, tetapi kita harus tetap kuat menghadapinya. Saya juga belajar bahwa stres bukan akhir dari segalanya, melainkan bagian dari proses pendewasaan diri. Coping behavior yang baik sangat membantu saya untuk tetap bertahan dan bangkit. Saya semakin memahami bahwa keluarga adalah sumber kekuatan terbesar dalam hidup saya. Pengalaman ini akan selalu saya ingat sebagai pelajaran berharga bahwa selama kita berusaha, berdoa, dan tidak menyerah, selalu ada jalan terbaik yang Tuhan siapkan.

 

Essay 2- Cholifahtun Pratista D- 23310410120

 

ESSAY 2 : WAWANCARA DISONANSI KOGNITIF DENGAN PEROKOK BERINISIAL “Y”

 

Dosen Pengampu: Dr., Dra. Arundati Shinta, MA.

 

 

Nama: Cholifahtun Pratista Dewi

NIM: 23310410120

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

2026

 

Disonansi kognitif merupakan kondisi ketika seseorang memiliki dua pemikiran atau sikap yang bertentangan, namun tetap mempertahankan perilaku tertentu. Dalam wawancara ini, saya mewawancarai seorang laki-laki berinisial Y yang merupakan seorang perokok aktif. Y mengetahui bahwa merokok dapat menyebabkan berbagai penyakit berbahaya seperti gangguan paru-paru, jantung, dan penurunan kesehatan tubuh. Namun, ia tetap melakukan kebiasaan tersebut setiap hari. 

Y mengaku mulai merokok sejak masa sekolah atau (SMP) karena pengaruh lingkungan pertemanan. Menurutnya, merokok membuat dirinya merasa lebih tenang ketika menghadapi tekanan pekerjaan dan masalah pribadi. Dalam wawancara, Y mengatakan, “Saya tahu rokok itu bahaya, tapi kalau tidak merokok saya malah merasa tidak tenang dan sulit fokus.” Pernyataan tersebut menunjukkan adanya pertentangan antara pengetahuan yang dimiliki dengan perilaku yang tetap dilakukan.

Selain itu, Y juga berusaha membenarkan perilakunya dengan berbagai alasan. Ia merasa bahwa banyak orang yang merokok tetap dapat hidup sehat dalam waktu lama. Y juga mengatakan bahwa dirinya belum merasakan dampak serius akibat merokok sehingga ia merasa masih aman untuk terus melanjutkan kebiasaan tersebut. Hal ini merupakan bentuk mekanisme pertahanan diri berupa rasionalisasi, yaitu mencari alasan untuk membenarkan tindakan yang sebenarnya bertentangan dengan pengetahuan yang dimiliki.

Sepenggal kalimat dari hasil wawancara yang menunjukkan alasan Y tetap merokok adalah: “Saya tetap merokok karena rokok bisa membuat saya rileks dan membantu mengurangi stress saat ada pikiran dan saat bekerja”.

Dari hasil wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa Y mengalami disonansi kognitif karena ia memahami bahaya rokok, tetapi tetap mempertahankan kebiasaan merokok. Kondisi ini membuat Y menciptakan berbagai alasan agar dirinya merasa nyaman dengan perilaku tersebut. Disonansi kognitif yang dialami Y menunjukkan bahwa pengetahuan saja tidak selalu cukup untuk mengubah perilaku seseorang. Faktor kebiasaan, lingkungan, dan kondisi emosional juga memiliki pengaruh besar terhadap keputusan individu.

 

Daftar Pustaka

Festinger, L. (1957). A Theory of Cognitive Dissonance. Stanford University Press.

 

ESSAI 1 - MERINGKAS JURNAL MOTIVASI (PSIKOLOGI INOVASI)


REVIEW JURNAL ENTREPRENEURSHIP 




Nama : Devi Nur Hasanah

NIM : 23310410117

Mata Kuliah : Psikologi Inovasi 

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta M.A.



Judul

Membangun Tradisi Entrepreneurship pada Masyarakat

Volume dan Nomor

Volume 03, Nomor 2 (2019)

Tahun

2019

Penulis

Helisia Margahana, Eko Triyanto

Topik

Membangun tradisi entrepreneurship (kewirausahaan) pada   masyarakat untuk meningkatkan perekonomian dan menciptakan generasi wirausaha di Indonesia

Sumber

Jurnal Ilmiah Edunomika

Permasalahan

Masih rendahnya jumlah entrepreneur di Indonesia, sementara kondisi ekonomi semakin sulit dan lapangan pekerjaan semakin sempit. Masyarakat masih belum memiliki budaya atau tradisi kewirausahaan yang kuat sehingga diperlukan upaya untuk menumbuhkan jiwa entrepreneurship sejak dini

Tujuan Penelitian

Mengetahui bagaimana cara membangun tradisi entrepreneurship pada masyarakat agar dapat menciptakan generasi wirausaha yang mampu mendukung pembangunan ekonomi Indonesia

Isi

Pentingnya entrepreneurship sebagai solusi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Penulis menjelaskan bahwa tradisi kewirausahaan dapat dibentuk melalui tiga lingkungan utama, yaitu keluarga, pendidikan, dan pemerintah.

  • Keluarga berperan menanamkan kemandirian, keberanian mengambil risiko, dan semangat usaha sejak kecil.

  • Pendidikan berperan memberikan pengetahuan dan pelatihan kewirausahaan kepada peserta didik.

  • Pemerintah berperan menciptakan kebijakan, dukungan, serta fasilitas yang mendorong tumbuhnya usaha masyarakat.

Ketiga hal tersebut harus saling bekerja sama agar budaya entrepreneurship dapat berkembang dan berkelanjutan dalam masyarakat

Metode

Metode kajian pustaka (literature review). Penulis mengumpulkan dan menganalisis berbagai sumber pustaka yang relevan mengenai entrepreneurship dan budaya kewirausahaan untuk menjawab permasalahan penelitian


Hasil dan Diskusi

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi entrepreneurship dapat dibangun melalui dukungan keluarga, pendidikan, dan pemerintah. Ketiga hal tersebut mampu mendorong munculnya minat dan budaya berwirausaha dalam masyarakat.

Dalam pembahasannya, penulis menekankan bahwa entrepreneurship bukan hanya kemampuan membuka usaha, tetapi juga pola pikir kreatif, inovatif, mandiri, dan berani mengambil peluang. Oleh karena itu, budaya kewirausahaan perlu ditanamkan sejak dini agar masyarakat lebih siap menghadapi tantangan ekonomi dan mampu menciptakan lapangan pekerjaan sendiri




12.5.26

 Essay 4 My Best Coppying Behavior 

Bangkit Pasca Perceraian  

Psikologi Inovasi 
Dosen Pengampu :  Dr. Arundati Shinta, M.A.


Nama : Diah Nurul Khazanah
NIM : 23310410105

    Perceraian adalah pengalaman paling menyakitkan dalam hidup seseorang apalagi sebagai seorang perempuan, stigma janda seringkali dianggap negatif dimata masyarakat. Perceraian bukan hanya mengakhiri satu pernikahan tetapi juga menghancurkan pondasi kehidupan yang dibangun bertahun tahun, perceraian bagi saya membuat dunia saya hancur,disaat anak saya masih kecil dan masih sangat membutuhkan kasih sayang seorang ayah tiba tiba saja semua itu terenggut karena sebuah penghianatan. Namun dibalik semua kehancuran itu dalam hati kecil saya hidup saya tidak berhenti disini, saya mempunyai anak yang masih sangat membutuhkan saya,yang masa depannya tidak boleh seperti saya, saya menemukan coppying behavior saya sendiri dengan bekerja keras untuk anak saya,saya menyibukkan diri dengan bekerja dan fokus mengurus anak setelah pulang kerja.
    Pasca perceraian saya mengalami banyak gejala depresi seperti sedih yang sangat mendalam,sering melamun dan tidak nafsu makan. Dunia saya seperti berhenti,setiap menjelang tidur saya selalu berharap agak tidak terbangun lagi dipagi harinya karena begitu beratnya hari yang akan saya lalui. Saya terjebak dalam kesedihan disinilah saya menyadari bahwa saya harus bangkit dan saya memerlukan strategi konsisten dan sederhana agar hidup saya bisa berjalan dengan normal.
Setiap hari saya mencoba berdamai dengan keadaan dengan cara bersyukur untuk apapun itu yang saya dapatkan,seperti orang tua yang tidak kenal lelah mensupport saya,teman dan orang orang baik disekitar saya.
    Saya juga selalu meyakinkan diri saya sendiri Tuhan memberikan jalan yang terbaik untuk saya dan anak saya apapun ketetapan yang diberikanNYA adalah sebuah anugrah dalam hidup. Saya juga melepaskan gejala stres saya dengan berolahraga seperti jogging,dan mengeksplor hal hal baru yang tidak bisa saya lakukan ketika dulu saya mempunyai suami. Rutinitas ini terus saya lakukan setiap hari bahkan disaat saya merasa sangat terpuruk sekalipun, awalnya terasa terpaksa tetapi semakin hari itu menjadi rutinitas yang menyenangkan.
    Bangkit pasca perceraian bukanlah sekedar melupakan malalu tetapi bagi saya menjadi awal kehidupan yang lebih baik coppying behavior yang saya jalani dengan melakukan rutinitas yang menyenangkan seperti olahraga dan mengeksplor dunia baru juga refleksi diri yang saya buktikan bahwa kekuatan terbesar ada dalam diri kita sendiri. Perceraian mengajarkan saya bahwa akhir bisa menjadikan awal yang baru dan kebiasaan yang baik dibangun melalui konsistensi.
bagi saya siapapun yang sedang terpuruk cobalah berdamai dengan diri sendiri mulailah dengan bersyukur atas apa yang kita miliki. Perceraian bukanlah akhir tetapi babak baru menuju kehidupan yang lebih baik dan penuh makna.
Terimakasih,siapapun berhak bahagia dan memiliki cara masing masing untuk bahagia.




11.5.26

Deltha Arthaliya NIM 24310430209 - Psi Inovasi - Tugas 2 - Wawancara Disonansi Kognitif - Arundati Shinta - Mei 2026 - Kelas Karyawan

 Disonansi Kognitif pada Perokok Aktif dalam
Perspektif Psikologi Inovasi

Deltha Arthaliya
24310430209

Pendahuluan
Disonansi kognitif merupakan kondisi psikologi ketika seseorang mengalami ketidaksesuaian antara pengetahuan, keyakinan, dan perilaku yang dimilikinya. Sehingga ketika muncul konflik antara apa yang diketahui dan apa yang dilakukan, individu akan merasa tidak nyaman secara psikologis. Untuk mengurangi rasa tidak nyaman tersebut, seseorang biasanya akan mencari pembenaran, menyangkal sebagai fakta, atau mengalihkan perhatian pada hal lain agar perilakunya tetap terasa dapat diterima.

Hasil Wawancara dan Analisis
Wawancara dilakukan pada seorang petani muda yang aktif merokok. Sebut saja Amin. Saat ditanya mengapa masih merokok, Amin menjawab bahwa dirinya sedang tidak merokok karena merasa bosan. Ia juga mengatakan bahwa jika rasa bosan itu terus muncul, maka kemungkinan saatnya ia berhenti merokok.

Saat ditanya apakah merokok merupakan hal baik atau buruk, Amin menjawab bahwa hal tersebut tergantung sudut pandang. Menurutnya, merokok memiliki sisi baik karena dapat membantu pengusaha rokok, pekerja industri rokok, petani tembakau, dan penjual tembakau. Ia mengaku bahwa dirinya mengetahui dampak buruk rokok bagi kesehatan, tetapi ia merasa bahwa niat membantu banyak orang melalui industri tersebut juga merupakan hal baik. Amin juga mengatakan bahwa sesuatu yang berlebihan memang tidak baik, termasuk merokok. Selain itu, menurutnya, hal paling sulit dalam proses berubah adalah rasa nyaman.

Dari apa yang disampaikan Amin, terlihat adanya disonansi kognitif. Amin memahami bahwa merokok berdampak buruk bagi kesehatan, tetapi ia tetap mempertahankan perilaku tersebut. Untuk mengurangi konflik batin yang muncul, ia menggunakan mekanisme pertahanan diri.

Amin mencoba menciptakan keseimbangan dalam pikirannya. Rasionalisasi terlihat ketika Amin menjelaskan sisi positif dari merokok dengan menekankan manfaat ekonomi bagi banyak orang. Alasan tersebut menjadi bentuk pembenaran diri agar perilaku merokok tetap terasa bermakna dan tidak sepenuhnya dianggap buruk.

Selain itu, bentuk denial terlihat ketika Amin mengatakan bahwa yang tidak baik adalah sesuatu yang berlebihan. Pernyataan tersebut cenderung mengecilkan risiko merokok selama dilakukan dalam batas tertentu.

Permasalahan dan Hubungan
Permasalahan dalam case ini adanya ketidaksesuaian antara pengetahuan dan tindakan. Amin mengetahui bahwa merokok memiliki dampak negatif bagi kesehatan, tetapi rasa nyaman dan kebiasaan membuatnya tetap mempertahankan perilaku tersebut. Hal tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan tidak selalu cukup untuk menghasilkan perubahan perilaku. Kadang seseorang lebih memilih mempertahankan kenyamanan psikologis dibanding menghadapi proses perubahan yang tidak nyaman.

Dalam psikologi inovasi, perubahan membutuhkan keterbukaan terhadap pola pikir baru dan keberanian meninggalkan kebiasaan lama. Namun disonansi kognitif dapat menjadi hambatan karena individu cenderung kreatif dalam menciptakan alasan.

Kalimat dari Amin, “Hal paling sulit dari proses berubah adalah rasa nyaman.” menunjukan bahwa tantangan terbesar bukan hanya kurangnya informasi, tetapi keterikatan emosional terhadap kebiasaan yang sudah memberi rasa aman dan nyaman. Dalam psikologi inovasi, seseorang dapat berkembang ketika ia mau menghadapi ketidak nyamanan demi membangun pola hidup baru yang lebih sehat.

Kesimpulan
Dalam kasus ini, memperlihatkan bahwa manusia tidak selalu bertindak sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya. Rasa nyaman, kebiasaan, dan kebutuhan mempertahankan diri sering kali membuat seseorang lebih memilih membenarkan perilaku lama dibanding berubah.

Melalui sudut pandang psikologi inovasi, perubahan perilaku membutuhkan kesiapan psikologis untuk keluar dari zona nyaman. Inovasi tidak hanya terjadi pada teknologi atau ide baru, tetapi juga pada keberanian individu untuk membentuk pola pikir dan kebiasaan hidup yang lebih sehat.