23.6.26

ESAI 6 – PARTISIPASI LOMBA

 

PSIKOLOGI INOVASI

ESAI 6 – PARTISIPASI LOMBA

MERANCANG KEBERUNTUNGAN MELALUI PARTISIPASI DALAM KEGIATAN FUN RUN

Dosen Pengampu:

Dr. Arundati Shinta, M.A.

 

Nama: Gunarti

NIM: 23310410118

 

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS PROKLAMASI 45

YOGYAKARTA

Juni 2026

 

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang menganggap keberuntungan sebagai sesuatu yang datang secara tiba-tiba. Namun dalam Psikologi Inovasi, keberuntungan dapat dirancang melalui keberanian mencoba hal baru, memperluas pengalaman, dan membuka peluang yang sebelumnya tidak pernah dicoba. Salah satu cara yang saya lakukan untuk menerapkan konsep tersebut adalah dengan mengikuti dua kegiatan fun run selama periode tugas berlangsung.

Sebelum mengikuti kedua kegiatan tersebut, saya rutin melakukan latihan sederhana berupa jalan kaki. Awalnya saya hanya ingin menjaga kesehatan dan menambah aktivitas fisik, tetapi lama-kelamaan saya merasa lebih percaya diri untuk mengikuti kegiatan yang melibatkan olahraga. Latihan tersebut membantu saya meningkatkan daya tahan tubuh sekaligus mempersiapkan diri agar mampu menyelesaikan lomba dengan baik.

Lomba pertama yang saya ikuti adalah Jogja Run The City 2026 kategori 5 kilometer yang diselenggarakan di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada pada tanggal 24 Mei 2026. Saya mengikuti kegiatan tersebut bersama Gita, Mbak Devi, dan Mbak Diah. Sebelum hari pelaksanaan, panitia mengadakan pengambilan race pack pada tanggal 22–23 Mei yang juga diramaikan dengan seminar dan festival. Saya dan Mbak Devi mengambil race pack pada tanggal 23 Mei setelah magrib. Setelah itu kami berkeliling melihat berbagai stand sponsor yang tersedia.

Pada malam tersebut terdapat penampilan dari Silet Open Up yang saat itu sedang banyak dibicarakan di media sosial. Setelah itu acara dilanjutkan oleh Juicy Luicy yang berhasil menarik perhatian banyak pengunjung. Suasana festival terasa sangat meriah sehingga membuat pengalaman mengikuti lomba tidak hanya tentang olahraga, tetapi juga hiburan dan kebersamaan.

Pada hari pelaksanaan lomba, saya mulai berlari pada pukul 05.40 WIB dan berhasil menyelesaikan jarak 5 kilometer pada pukul 06.50 WIB. Meskipun tidak memperoleh juara, saya merasa bangga karena mampu menyelesaikan lomba hingga garis akhir. Setelah kegiatan selesai, saya kembali berkeliling melihat stand yang tersedia dan membeli seporsi dimsum untuk dinikmati sambil beristirahat.

Lomba kedua yang saya ikuti adalah Liliput Family Fun Run kategori 3 kilometer pada tanggal 20 Juni 2026. Saya sengaja mengajak anak saya karena menurut saya paket bundling yang ditawarkan lebih hemat sekaligus menjadi kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama. Kegiatan dimulai pukul 06.10 WIB dan berhasil menyelesaikan fun run pada pukul 06.44 WIB.

Hal yang paling berkesan adalah semangat anak saya selama mengikuti lomba. Ia berlari jauh lebih cepat daripada saya sehingga tidak terlihat karena sudah berada jauh di depan. Setelah lomba selesai, ia dengan penuh semangat mengatakan bahwa dirinya berhasil finish di posisi kedua. Saya tidak mengetahui posisi sebenarnya karena sepanjang kegiatan saya berjalan bersama Mbak Banun dan Mbak Devi, tetapi saya senang melihat rasa percaya diri dan antusiasmenya.

Setelah kegiatan selesai, kami berkeliling melihat berbagai stand yang tersedia. Saya membeli dimsum untuk dimakan bersama anak, kemudian membeli pecel untuk sarapan, sedangkan anak saya memilih nasi kuning. Selain itu, anak saya juga mengikuti permainan yang diadakan oleh Eight Gym berupa melempar ring ke arah cone. Setiap ring yang masuk bernilai lima poin dan peserta harus memperoleh lebih dari dua puluh poin untuk mendapatkan hadiah es krim. Meskipun hanya satu ring yang berhasil masuk, panitia tetap memberikan hadiah karena melihat usahanya yang sungguh-sungguh.

Pengalaman lain yang cukup berkesan adalah ketika anak saya berharap mendapatkan hadiah setelah berhasil menyelesaikan lomba. Ia terlihat sangat yakin karena merasa telah berlari dengan baik. Saya kemudian menjelaskan bahwa hadiah utama diberikan pada kategori tertentu dan kegiatan yang kami ikuti lebih berfokus pada kebersamaan serta pengalaman berolahraga. Meskipun awalnya terlihat sedikit kecewa, ia akhirnya dapat memahami dan tetap menikmati seluruh rangkaian acara.

Melalui kedua kegiatan tersebut, saya belajar bahwa keberuntungan tidak selalu berupa kemenangan atau hadiah. Keberuntungan juga dapat berupa pengalaman baru, kesempatan bertemu orang-orang baru, menikmati waktu bersama teman dan keluarga, serta keberanian untuk mencoba sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Semakin banyak pengalaman yang dicoba, semakin besar pula peluang yang dapat diperoleh di masa depan.












Kegiatan ini memiliki hubungan yang erat dengan Psikologi Inovasi, khususnya mengenai konsep merancang keberuntungan. Dengan berani mengikuti lomba, saya tidak hanya memperoleh pengalaman olahraga, tetapi juga mendapatkan relasi, hiburan, pembelajaran, dan kenangan yang menyenangkan. Hal-hal tersebut mungkin tidak saya peroleh jika hanya memilih tetap berada dalam rutinitas sehari-hari.

Kedua kegiatan fun run tersebut membuat saya semakin menyukai olahraga lari dan jalan santai dalam suasana yang menyenangkan. Saya sangat ingin mengikuti kegiatan fun run lainnya di masa mendatang karena selain menyehatkan, kegiatan tersebut juga memberikan pengalaman yang berkesan. Namun untuk sementara waktu saya memilih mengistirahatkan kaki terlebih dahulu karena jempol kaki saya masih terasa sakit dan kurang nyaman saat digunakan untuk berlari maupun berjalan dalam jarak yang cukup jauh. Setelah kondisi kaki membaik, saya berharap dapat kembali mengikuti kegiatan serupa dengan kondisi fisik yang lebih baik.

Daftar Pustaka

Rogers, E. M. (2003). Diffusion of Innovations (5th ed.). New York: Free Press.

Wiseman, R. (2003). The Luck Factor: The Scientific Study of the Lucky Mind. London: Arrow Books.

 

Esai 7 - Melakukan Perubahan Diri

 

PSIKOLOGI INOVASI

ESAI 7 – Melakukan Perubahan Diri

MENUMBUHKAN KEBIASAAN JALAN KAKI SEBAGAI BENTUK TANTANGAN PENGUBAHAN DIRI

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A

Nama: Gunarti

NIM: 23310410118

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS PROKLAMASI 45

YOGYAKARTA

JUNI, 2026

Dalam mata kuliah Psikologi Inovasi, mahasiswa diajak untuk melakukan perubahan diri secara nyata, terukur, dan berkelanjutan. Perubahan tersebut tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar, tetapi dapat dilakukan melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten. Pada tugas ini, saya memilih untuk melakukan perubahan diri melalui kegiatan jalan kaki selama sepuluh minggu berturut-turut.

Awalnya saya tidak memiliki tujuan khusus seperti menurunkan berat badan atau meningkatkan performa olahraga. Saya hanya ingin menantang diri sendiri untuk melakukan aktivitas fisik secara rutin dan mempertahankannya dalam jangka waktu tertentu. Saya memilih jalan kaki karena olahraga ini mudah dilakukan, tidak membutuhkan biaya, serta dapat dilakukan secara mandiri sesuai dengan kondisi dan waktu yang saya miliki.

Ketertarikan saya terhadap jalan kaki juga dipengaruhi oleh beberapa informasi kesehatan yang saya lihat dari akun Instagram dr. Adam Prabata. Salah satu informasi yang menarik perhatian saya adalah bahwa berjalan sekitar 4.000 langkah per hari dapat membantu menurunkan risiko demensia atau kepikunan pada usia lanjut. Selain itu, beliau juga menjelaskan bahwa kebiasaan berjalan pada pagi hari dapat memberikan manfaat bagi kesehatan secara umum, seperti membantu memperbaiki lingkar pinggang, indeks massa tubuh (IMT), tekanan darah, dan frekuensi nadi saat istirahat. Informasi tersebut membuat saya semakin termotivasi untuk menjadikan jalan kaki sebagai kebiasaan positif yang dilakukan secara rutin.

Program perubahan diri ini saya lakukan selama sepuluh minggu, mulai tanggal 11 April 2026 sampai 13 Juni 2026. Kegiatan dilakukan di beberapa lokasi seperti Embung Mranggen, jalan desa, dan Lapangan Desa Gunung Pring. Setiap minggu saya berjalan kaki minimal satu jam dan berusaha meningkatkan jarak tempuh sebagai bentuk nilai tambah yang dapat diukur.

Tabel 1. Laporan kemajuan kegiatan jalan cepat

M

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

W

60

65

72

65

68

70

65

65

60

60

J

3,2

3,3

3,4

3,6

3,89

4,08

5

5,2

5,3

5

Grafik 1. Laporan kemajuan kegiatan jalan cepat


Berdasarkan Tabel 1 dan Grafik 1 terlihat adanya peningkatan kemampuan berjalan kaki selama program berlangsung. Pada minggu pertama saya menempuh jarak 3,2 km dalam waktu 60 menit. Jarak tersebut meningkat secara bertahap hingga mencapai 5,3 km pada minggu kesembilan. Hal ini menunjukkan adanya perkembangan kemampuan fisik meskipun durasi olahraga relatif tetap. Pada minggu kesepuluh terjadi sedikit penurunan menjadi 5 km karena kondisi jempol kaki yang terasa pegal dan kurang nyaman saat digunakan berjalan.

Selama menjalankan program ini, tantangan terbesar yang saya hadapi adalah rasa malas untuk memulai aktivitas, terutama ketika harus bangun pagi. Terkadang muncul keinginan untuk menunda jadwal jalan kaki karena cuaca dingin atau merasa lelah setelah menjalani aktivitas kuliah. Namun saya berusaha mengingat tujuan awal bahwa kegiatan ini merupakan bentuk komitmen terhadap tugas perubahan diri yang diberikan dalam mata kuliah Psikologi Inovasi.

Tantangan berikutnya adalah munculnya keinginan untuk mengurangi jarak tempuh ketika tubuh mulai terasa lelah. Akan tetapi, saya berusaha tetap mempertahankan target yang telah ditetapkan. Saya juga mencoba melihat perkembangan setiap minggu agar lebih termotivasi untuk terus melanjutkan program. Pada minggu terakhir, saya mengalami rasa pegal dan sedikit nyeri pada jempol kaki sehingga aktivitas berjalan terasa kurang nyaman dibandingkan biasanya. Meskipun demikian, saya tetap menyelesaikan program sampai minggu kesepuluh sebagai bentuk komitmen terhadap perubahan yang telah saya mulai.

Selain berbagai tantangan tersebut, saya juga merasakan banyak manfaat positif. Tubuh terasa lebih segar, daya tahan fisik meningkat, dan saya menjadi lebih terbiasa melakukan aktivitas fisik secara rutin. Jalan kaki juga menjadi waktu bagi saya untuk menikmati suasana pagi dan melepaskan kejenuhan setelah mengerjakan tugas kuliah. Saya merasa lebih percaya diri karena mampu mempertahankan kebiasaan baru selama sepuluh minggu tanpa terputus.

Kegiatan ini memiliki hubungan yang erat dengan Psikologi Inovasi karena menunjukkan adanya proses perubahan diri yang dilakukan secara sadar, terukur, dan berkelanjutan. Dalam Psikologi Inovasi, kemampuan untuk beradaptasi dan membangun kebiasaan baru merupakan salah satu bentuk inovasi pada diri sendiri. Perubahan yang dilakukan tidak harus bersifat besar atau drastis. Justru perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten sering kali lebih mudah dipertahankan dalam jangka panjang dan memberikan dampak yang nyata.

Berdasarkan program yang telah dijalankan selama sepuluh minggu, saya berhasil meningkatkan jarak tempuh jalan kaki dari 3,2 km menjadi 5,3 km sebelum mengalami sedikit penurunan pada minggu terakhir karena kondisi fisik. Kegiatan ini memberikan pengalaman bahwa perubahan diri dapat dimulai dari langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten. Saya berharap kebiasaan jalan kaki ini dapat terus dipertahankan sebagai bagian dari gaya hidup sehat di masa mendatang.

DAFTAR PUSTAKA

Lee, M., et al. (2024). Daily Steps and Incident Dementia Among Older Adults. JAMA Neurology.

Prabata, A. (2025). Informasi manfaat berjalan 4.000 langkah per hari terhadap risiko demensia. Instagram. Diakses dari https://www.instagram.com/p/DPLpJIpj2L2/

Prabata, A. (2025). Informasi manfaat jalan pagi terhadap kesehatan tubuh. Instagram. Diakses dari https://www.instagram.com/p/DSL9aesDzSz/

Rogers, E. M. (2003). Diffusion of Innovations (5th ed.). New York: Free Press.

21.6.26

ESSAI PRESTASI - ALIFA MAURA BUNGA HERINA

 

ESSAY PRESTASI

MEMBENTUK KARAKTER MELALUI SENI BELA DIRI : PENGABDIAN SUKARELA DI DOJO KLERO PRAMBANAN

 

   

 

 

Alifa Maura Bunga Herina

24310430041

Mata kuliah : Psikologi Inovasi

Dosen Pengampu: Dr., Dra. Arundati Shinta, MA.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

Juni 2026

 

 

     Sejak tahun 2017, saya telah mendedikasikan diri sebagai asisten pelatih karate di Dojo Klero Prambanan. Berawal ketika masih duduk di bangku SMA hingga sekarang, kegiatan ini menjadi ruang bagi saya untuk tumbuh sekaligus berkontribusi nyata bagi komunitas sekitar. Setiap Hari Sabtu dan Minggu pukul 16.00 hingga 18.00 WIB, saya hadir dan belajar dengan para siswa/kohe berusia 8 hingga 15 tahun untuk berlatih teknik, disiplin, dan mental seorang karateka sejati. Latihan saya lakukan secara sukarela, tanpa imbalan finansial apa pun.

     Keputusan untuk terlibat dalam kegiatan ini bukan semata dorongan nostalgia terhadap olahraga bela diri yang saya tekuni. Lebih dari itu, ada kesadaran bahwa banyak teman di lingkungan Prambanan yang membutuhkan ruang aman untuk berkembang  dan menyalurkan bakat baik secara fisik maupun psikologis. Ditengah kesibukan berkuliah dan bekerja, saya meluangkan waktu untuk berinteraksi disana. Di sinilah saya menemukan makna terdalam dari pelayanan masyarakat, bukan sekadar mengajarkan teknik kuda-kuda atau pukulan, melainkan membimbing karakter generasi muda agar tumbuh dengan rasa percaya diri, disiplin, tanggung jawab, dan hormat kepada sesama.

      Dalam peran sebagai asisten pelatih, saya belajar bahwa mendidik anak-anak usia 8 hingga 15 tahun menuntut pendekatan yang inovatif dan adaptif. Setiap anak membawa latar belakang emosi dan kemampuan yang berbeda. Ada yang hadir dengan semangat membara, namun ada pula yang datang dengan rasa minder atau takut gagal. Saya berupaya menerapkan pendekatan psikologi positif merayakan kemajuan kecil, memberikan umpan balik yang membangun, serta menciptakan suasana latihan yang menyenangkan namun tetap disiplin. Inovasi dalam metode pengajaran menjadi keharusan ketika rutinitas bisa berubah menjadi kebosanan, dan kebosanan adalah musuh terbesar bagi anak-anak. Setiap sore selalu ada variasi latihan yang berbeda seperti kumite, fisik, kata, dan jalan santai.

       Lebih dari sekadar teknik bela diri, dojo menjadi laboratorium sosial. Saya menyaksikan bagaimana anak yang awalnya pemalu perlahan berani tampil di depan umum, atau pertikaian kecil antar siswa yang terselesaikan melalui nilai-nilai sportivitas yang tertanam dalam setiap sesi latihan. Bahkan beberapa diantaranya berani untuk mengikuti berbagai perlombaan. Perubahan ini tidak tampak dalam piagam atau medali saja, tetapi terasa nyata dalam cara mereka berinteraksi, berbicara, dan menghadapi suatu tantangan.

      Pengalaman bertahun-tahun ini mengajarkan saya bahwa inovasi tidak selalu lahir dari ruang kelas universitas. Kadang, inovasi tumbuh dari dojo sederhana di Klero Prambanan dari seorang asisten pelatih muda yang percaya bahwa setiap anak berhak mendapatkan bimbingan terbaik, tanpa memandang latar belakang ekonomi mereka.

 

 

 

 

Lampiran

Foto 1. Dokumentasi saat pemanasan sebelum latihan

Foto 2. Dokumentasi saat kegiatan jalan santai ke Rumah Dome

Foto 3. Dokumentasi Tradisi setelah Ujian Kenaikan Tingkat

Foto 4. Dokumentasi saat persiapan latihan kumite