7.10.26

Deltha Arthaliya NIM 24310430209 - Psi Inovasi - Tugas 2 - Wawancara Disonansi Kognitif - Arundati Shinta - Oktober 2026 - Kelas B

 Disonansi Kognitif pada Perokok Aktif dalam
Perspektif Psikologi Inovasi

Deltha Arthaliya
24310430209

Pendahuluan
Disonansi kognitif merupakan kondisi psikologi ketika seseorang mengalami ketidaksesuaian antara pengetahuan, keyakinan, dan perilaku yang dimilikinya. Sehingga ketika muncul konflik antara apa yang diketahui dan apa yang dilakukan, individu akan merasa tidak nyaman secara psikologis. Untuk mengurangi rasa tidak nyaman tersebut, seseorang biasanya akan mencari pembenaran, menyangkal sebagai fakta, atau mengalihkan perhatian pada hal lain agar perilakunya tetap terasa dapat diterima.

Hasil Wawancara dan Analisis
Wawancara dilakukan pada seorang petani muda yang aktif merokok. Sebut saja Amin. Saat ditanya mengapa masih merokok, Amin menjawab bahwa dirinya sedang tidak merokok karena merasa bosan. Ia juga mengatakan bahwa jika rasa bosan itu terus muncul, maka kemungkinan saatnya ia berhenti merokok.

Saat ditanya apakah merokok merupakan hal baik atau buruk, Amin menjawab bahwa hal tersebut tergantung sudut pandang. Menurutnya, merokok memiliki sisi baik karena dapat membantu pengusaha rokok, pekerja industri rokok, petani tembakau, dan penjual tembakau. Ia mengaku bahwa dirinya mengetahui dampak buruk rokok bagi kesehatan, tetapi ia merasa bahwa niat membantu banyak orang melalui industri tersebut juga merupakan hal baik. Amin juga mengatakan bahwa sesuatu yang berlebihan memang tidak baik, termasuk merokok. Selain itu, menurutnya, hal paling sulit dalam proses berubah adalah rasa nyaman.

Dari apa yang disampaikan Amin, terlihat adanya disonansi kognitif. Amin memahami bahwa merokok berdampak buruk bagi kesehatan, tetapi ia tetap mempertahankan perilaku tersebut. Untuk mengurangi konflik batin yang muncul, ia menggunakan mekanisme pertahanan diri.

Amin mencoba menciptakan keseimbangan dalam pikirannya. Rasionalisasi terlihat ketika Amin menjelaskan sisi positif dari merokok dengan menekankan manfaat ekonomi bagi banyak orang. Alasan tersebut menjadi bentuk pembenaran diri agar perilaku merokok tetap terasa bermakna dan tidak sepenuhnya dianggap buruk.

Selain itu, bentuk denial terlihat ketika Amin mengatakan bahwa yang tidak baik adalah sesuatu yang berlebihan. Pernyataan tersebut cenderung mengecilkan risiko merokok selama dilakukan dalam batas tertentu.

Permasalahan dan Hubungan
Permasalahan dalam case ini adanya ketidaksesuaian antara pengetahuan dan tindakan. Amin mengetahui bahwa merokok memiliki dampak negatif bagi kesehatan, tetapi rasa nyaman dan kebiasaan membuatnya tetap mempertahankan perilaku tersebut. Hal tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan tidak selalu cukup untuk menghasilkan perubahan perilaku. Kadang seseorang lebih memilih mempertahankan kenyamanan psikologis dibanding menghadapi proses perubahan yang tidak nyaman.

Dalam psikologi inovasi, perubahan membutuhkan keterbukaan terhadap pola pikir baru dan keberanian meninggalkan kebiasaan lama. Namun disonansi kognitif dapat menjadi hambatan karena individu cenderung kreatif dalam menciptakan alasan.

Kalimat dari Amin, “Hal paling sulit dari proses berubah adalah rasa nyaman.” menunjukan bahwa tantangan terbesar bukan hanya kurangnya informasi, tetapi keterikatan emosional terhadap kebiasaan yang sudah memberi rasa aman dan nyaman. Dalam psikologi inovasi, seseorang dapat berkembang ketika ia mau menghadapi ketidak nyamanan demi membangun pola hidup baru yang lebih sehat.

Kesimpulan
Dalam kasus ini, memperlihatkan bahwa manusia tidak selalu bertindak sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya. Rasa nyaman, kebiasaan, dan kebutuhan mempertahankan diri sering kali membuat seseorang lebih memilih membenarkan perilaku lama dibanding berubah.

Melalui sudut pandang psikologi inovasi, perubahan perilaku membutuhkan kesiapan psikologis untuk keluar dari zona nyaman. Inovasi tidak hanya terjadi pada teknologi atau ide baru, tetapi juga pada keberanian individu untuk membentuk pola pikir dan kebiasaan hidup yang lebih sehat.

Liany Nur Ramadhani (24310410016) - Kelas Psikologi Inovasi - B Tugas Essay 2 - Dr. Arundati Shinta M.A - Analisis Disonansi Kognitif dan Mekanisme Pertahanan Diri pada Perokok Aktif di Lingkungan Olahraga

 


Liany Nur Ramadhani 

24310410016

Kelas Psikologi Inovasi - B

Tugas Essay 2 

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta M.A

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 

Yogyakarta 

(September 2026)

Analisis Disonansi Kognitif dan Mekanisme Pertahanan Diri pada Perokok Aktif di Lingkungan Olahraga.


Disonansi kognitif terjadi ketika individu mengalami ketidakselarasan antara pengetahuan yang dimiliki dan tindakan nyata sehari-hari. Kondisi ini membuat seseorang cenderung menciptakan pembenaran diri (self-justification) agar tidak perlu merubah perilakunya, yang pada akhirnya menghambat munculnya niat untuk berinovasi atau berubah menuju pola hidup sehat.

Wawancara dilakukan pada tanggal 25 September 2026 terhadap seorang target berinisial R (seorang anggota pusat kebugaran/gym). Subjek memiliki pemahaman yang baik mengenai bahaya merokok bagi kesehatan fisik dan performa olahraga. Namun, ia tetap aktif merokok di area istirahat gym setelah selesai latihan.

Berdasarkan hasil wawancara, ditemukan mekanisme pertahanan diri yang digunakan subjek untuk meredakan ketegangan psikologis akibat disonansi tersebut:

  1. Subjek merasionalisasikan tindakannya dengan alasan bahwa efek negatif rokok dapat dinetralkan oleh aktivitas fisik yang ia lakukan secara rutin. "Saya kan rutin latihan berat setiap hari, jadi racunnya ikut keluar lewat keringat. Lagipula merokok setelah gym bantu otot saya lebih rileks."
  2. Subjek menyepelekan risiko jangka panjang dan menganggap ancaman kesehatan hanya terjadi pada orang yang tidak berolahraga. "Banyak kok atlet luar negeri yang merokok tapi prestasinya tetap bagus. Yang berbahaya itu kalau merokok tapi enggak pernah olahraga sama sekali."
Penggunaan mekanisme pertahanan diri ini membuktikan bahwa subjek aktif menyaring informasi untuk memvalidasi kebiasaannya. Ketidakmampuan untuk menerima ketidaksesuaian antara pengetahuan dan tindakan ini menjadi hambatan utama dalam psikologi inovasi diri, karena individu terus mempertahankan zona nyaman melalui rasionalisasi semu.

Daftar pustaka 

ESAI I MERINGKAS JURNAL TENTANG ENTERPRENEURSHIP RAY FRANSISCA MARITA KUSUMA (24310410005) PSIKOLOGI INOVASI KELAS KARYAWAN Ibu Dr. Arundati Shinta., MA

ESAI I – MERINGKAS JURNAL MEMBANGUN JIWA WIRAUSAHAWAN (ENTREPRENEURSHIP) MENJADI MAHASISWA PENGUSAHA (ENTERPRENEUR STUDENT) SEBAGAI MODAL UNTUK MENJADI PELAKU USAHA BARU
Nama RAy. Fransisca Marita Kusuma
NIM 24310410005
Mata Kuliah Psikologi Inovasi
Kelas Kelas Karyawan
Dosen Pengampu Ibu Dr. Arundati Shinta., MA

Ringkasan Jurnal

Komponen Ringkasan Uraian
Topik Entrepreneurship.
Sumber Pelipa, E. D., & Marganingsih, A. (2020). Membangun Jiwa Wirausahawan (Entrepreneurship) Menjadi Mahasiswa Pengusaha (Entrepreneur Student) sebagai Modal untuk Menjadi Pelaku Usaha Baru. Jurnal Pendidikan Ekonomi (JURKAMI), 5(2), 125–136.
Permasalahan Lulusan perguruan tinggi cenderung mencari pekerjaan daripada menciptakan lapangan pekerjaan. Sementara itu, daya serap instansi pemerintah dan swasta terbatas sehingga masa tunggu untuk memperoleh pekerjaan dapat menjadi panjang. Kondisi tersebut mendorong perlunya pembentukan jiwa kewirausahaan sejak mahasiswa masih menjalani pendidikan.
Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan membangun jiwa kewirausahaan mahasiswa sejak masih kuliah sehingga mahasiswa dapat menjadi entrepreneur student dan memiliki modal untuk menjadi pelaku usaha baru.
Isi
  • Kewirausahaan dipandang sebagai salah satu penggerak pembangunan ekonomi. Semakin banyak masyarakat yang menjalankan usaha maka perputaran ekonomi dapat semakin berkembang. Mahasiswa sebagai kelompok terdidik diharapkan dapat ikut berperan melalui pengembangan kemampuan dan jiwa kewirausahaan.
  • Jiwa kewirausahaan perlu dikembangkan melalui proses pembelajaran dan pengalaman yang dapat mendorong mahasiswa untuk mengenali peluang usaha. Kemampuan tersebut dapat menjadi bekal bagi mahasiswa untuk mulai menjalankan kegiatan usaha secara mandiri.
  • Mahasiswa tidak hanya membutuhkan pengetahuan mengenai kewirausahaan tetapi juga perlu mendapatkan pengalaman dalam menerapkan konsep kewirausahaan. Pengalaman tersebut dapat membantu mahasiswa dalam meningkatkan keberanian dan kesiapan untuk memulai usaha.
Metode Penelitian dilakukan dengan memberikan perlakuan kepada mahasiswa. Kemampuan berwirausaha kemudian dibandingkan antara kondisi sebelum dan sesudah perlakuan. Hasil analisis menunjukkan nilai Thitung = 4,56 dan Ttabel = 2,052.
Hasil
  • Nilai Thitung sebesar 4,56 lebih besar daripada Ttabel sebesar 2,052. Hasil tersebut menunjukkan adanya perbedaan kemampuan berwirausaha mahasiswa sebelum dan sesudah diberikan perlakuan. Setelah perlakuan diberikan kemampuan berwirausaha mahasiswa mengalami peningkatan.
  • Perlakuan yang diberikan dalam penelitian menunjukkan bahwa pembentukan jiwa kewirausahaan dapat meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam bidang kewirausahaan. Hal tersebut terlihat dari adanya perubahan kemampuan mahasiswa setelah mengikuti proses pembelajaran atau perlakuan yang diberikan.
  • Hasil penelitian memperlihatkan bahwa mahasiswa dapat diarahkan untuk menjadi entrepreneur student. Dengan demikian kegiatan kewirausahaan selama masa perkuliahan dapat menjadi salah satu bekal untuk mempersiapkan mahasiswa menjadi pelaku usaha baru.
Diskusi
  • Pembentukan jiwa kewirausahaan sejak masa perkuliahan menjadi bagian penting dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi dunia kerja. Mahasiswa tidak hanya diarahkan untuk menjadi pencari kerja setelah lulus tetapi juga dapat dipersiapkan untuk menciptakan usaha dan lapangan pekerjaan baru.
  • Pendidikan kewirausahaan perlu diberikan secara lebih aplikatif agar mahasiswa tidak hanya memahami teori tetapi juga mampu menerapkannya dalam kegiatan usaha. Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan kewirausahaan dapat membantu membangun pengalaman dan keberanian dalam mengambil peluang usaha.
  • Peran perguruan tinggi menjadi penting dalam membangun karakter dan kemampuan kewirausahaan mahasiswa. Dukungan melalui pembelajaran dan kegiatan praktik kewirausahaan dapat membantu mahasiswa mempersiapkan diri untuk menjadi pelaku usaha baru setelah menyelesaikan pendidikan.

Referensi

Pelipa, E. D., & Marganingsih, A. (2020). Membangun Jiwa Wirausahawan (Entrepreneurship) Menjadi Mahasiswa Pengusaha (Entrepreneur Student) Sebagai Modal Untuk Menjadi Pelaku Usaha Baru. Jurnal Pendidikan Ekonomi (JURKAMI), 5(2), 125–136.

https://www.jurnal.stkippersada.ac.id/jurnal/index.php/JPE/article/view/901

4.10.26

Psi Inovasi - Esai 1 - Meringkas Jurnal Entrepreneruship - Dr. A. Shinta, M. A - Kelas B - 4 Oktober 2026 - Hana Fardilla (24310410048)

 Entrepreneurship: The Act of Enhancing One’s Reality

Hana Fardilla – 24310410048 – Psikologi Kelas Karyawan
Psikologi Inovasi - Esai 1 -  Dr. A. Shinta, M. A
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta


Topik

Entrepreneurship, Entrepreneurial Action, Reality Enhancement

Sumber

Mui, A. (2010). Entrepreneurship: The Act of Enhancing One's Reality. Entrepreneurship-The Act of Enhancing One's Reality.

Per-masalahan

Saat ini belum terdapat kesepakatan mengenai definisi konseptual yang paling tepat mengenai entrepreneurship. Penelitian sebelumnya banyak berfokus pada trait approach yang melihat siapa entrepreneur dan behavioural approach yang melihat apa yang dilakukan entrepreneur. Namun, kedua pendekatan tersebut belum mampu memberikan penjelasan yang jelas mengenai keseluruhan fenomena entrepreneurship. Selain itu, entrepreneurship sering kali hanya dikaitkan dengan pendirian perusahaan baru dan pencarian keuntungan, sehingga tindakan inovatif yang tidak menghasilkan organisasi baru menjadi kurang terakomodasi.

Tujuan Penelitian

Mengembangkan definisi dan kerangka konseptual baru mengenai entrepreneurship yang dapat menghubungkan trait approach dan behavioural approach, menghubungkan entrepreneurship dengan ilmu sosial lainnya, menjelaskan bagaimana peluang muncul dan dikenali, menjelaskan hubungan antara tindakan entrepreneurship pada tingkat individu dengan perkembangan ekonomi pada tingkat negara, serta membentuk bidang kajian baru mengenai reality enhancement.

Isi   


§ 
Penulis mengusulkan definisi baru bahwa entrepreneurship adalah “the act of enhancing one’s reality”, yaitu seseorang yang melakukan tindakan untuk meningkatkan realitasnya, sedangkan entrepreneurial act adalah tindakan yang menghasilkan peningkatan realitas.

§ 
Konsep entrepreneurship terdiri dari tiga komponen utama, yaitu “one’s reality”, “to enhance”, dan “the act”. Ketiga komponen tersebut masing-masing dikaitkan dengan tiga disiplin, yaitu History, Psychology, dan Economics.

§ 
One’s reality berkaitan dengan kondisi dan pengalaman masa lalu individu maupun kondisi negara tempat individu berada. Sejarah individu menjadi dasar dari kemampuan, sumber daya, pengalaman, dan keputusan yang dibuatnya, sedangkan sejarah negara membentuk kondisi ekonomi dan lingkungan tempat individu beroperasi.

§ 
To enhance berkaitan dengan motivasi psikologis seseorang untuk meningkatkan realitasnya. Penulis menggunakan Maslow’s hierarchy of needs untuk menjelaskan bahwa kebutuhan manusia dapat berkembang mulai dari kebutuhan fisiologis, keamanan, belonging, esteem, hingga self-actualization.

§  
The act berkaitan dengan tindakan nyata yang dilakukan individu untuk meningkatkan realitasnya. Entrepreneurship tidak harus selalu berbentuk pendirian perusahaan baru, tetapi dapat berupa berbagai tindakan yang memberikan perubahan atau peningkatan terhadp realitas individu maupun lingkungan.

§ 
Konsep entrepreneurship yang diajukan bersifat universal. Siapa saja dapat menjadi entrepreneur karena entrepreneurship tidak ditentukan oleh profesi, tingkat pendidikan, status, ataupun kepemilikan perusahaan, namun juga oleh tindakan seseorang dalam meningkatkan realitasnya.

Metode


§ 
Penelitian ini merupakan conceptual paper, sehingga tidak menggunakan penelitian dengan subjek, sampel, atau eksperimen seperti penelitian kuantitatif maupun kualitatif pada umumnya.

§ 
Penulis mengintegrasikan berbagai pendekatan sebelumnya, terutama trait approach yang berfokus pada individu dan behavioural approach yang berfokus pada tindakan untuk membentuk organisasi. Individu, organisasi, dan motivasi kemudian dipandang sebagai komponen yang saling berhubungan.

§ 
Kerangka yang dikembangkan dibahas melalui tiga aspek utama, yaitu aspek historical, psychological, dan economical, untuk mengevaluasi konsistensi, applicability, dan explanatory power dari definisi entrepreneurship yang baru

Hasil


§ 
Entrepreneurship menurut konsep yang diajukan tidak merupakan kondisi yang menetap. Ketika seseorang sudah tidak lagi melakukan tindakan untuk meningkatkan realitasnya, ia tidak lagi berada dalam kondisi sebagai entrepreneur.

§ 
Everyone can be an entrepreneur, karena tidak terdapat satu karakteristik, profesi, ataupun tindakan tertentu yang secara mutlak menentukan seseorang sebagai entrepreneur. Seseorang dapat menjadi entrepreneur melalui tindakannya sendiri untuk meningkatkan realitas.

§ 
Berdasarkan Maslow’s hierarchy of needs, penulis mengusulkan tiga level entrepreneurship, yaitu necessity entrepreneurship, independence entrepreneurship, dan self-actualizing entrepreneurship. Necessity entrepreneur berusaha memenuhi kebutuhan dasar, independence entrepreneur berusaha memenuhi kebutuhan esteem dan independence, sedangkan self-actualizing entrepreneur berusaha mencapai kebutuhan tingkat tertinggi dan terus meningkatkan realitasnya.

§  Entrepreneurship dapat diukur dengan melihat perubahan realitas sebelum dan sesudah entrepreneurial action. Pada tingkat individu, reality enhancement dapat berupa peningkatan pendapatan atau job satisfaction, sedangkan pada tingkat negara dapat berupa peningkatan GDP, GDP per capita, maupun kepuasan hidup atau kerja masyarakat.

§ 
Entrepreneurial action dapat menghasilkan exponential growth, karena peningkatan pada satu aspek realitas dapat memengaruhi keseluruhan realitas dan menciptakan realitas baru. Namun, pertumbuhan tersebut juga berhenti ketika tindakan entrepreneurship berhenti.

Diskusi


§ 
Konsep “the act of enhancing one’s reality” berusaha menyatukan trait approach dan behavioural approach. “One’s reality” menggambarkan kondisi dan karakteristik yang menjadi dasar individu, “the act” menggambarkan tindakan yang dilakukan, sedangkan “to enhance” menjelaskan bagaimana dan mengapa individu melakukan tindakan tersebut.

§ 
Entrepreneurship tidak hanya menghasilkan perubahan pada tingkat individu (micro-level), tetapi juga dapat memberikan pengaruh pada tingkat negara (macro-level). Realitas individu yang meningkat secara bersama-sama dapat membentuk perubahan pada realitas ekonomi suatu negara.

§ 
Necessity entrepreneurship cenderung memberikan peningkatan pada tingkat individu dan kontribusi sosial yang lebih kecil, sedangkan independence entrepreneurship lebih inovatif dan memberikan kontribusi yang lebih besar. Self-actualizing entrepreneurship dipandang paling inovatif dan memiliki potensi terbesar untuk memberikan kontribusi pada pertumbuhan ekonomi karena tidak hanya berusaha meningkatkan realitas individu tetapi juga realitas lingkungan yang lebih luas.

§ 
Dari keseluruhan pembahasan, terdapat tiga implikasi yang dianggap paling penting, yaitu entrepreneurship exhibits exponential growth, there exists a hierarchy of entrepreneurship, dan there exists a pathway to the enhancement of reality. Ketiganya menjadi dasar untuk pengembangan penelitian lebih lanjut mengenai entrepreneurship.

§ 
Meskipun demikian, penulis menyebutkan bahwa keterbatasan penelitian ini terletak pada kedalamannya. Karena paper bersifat konseptual dan berusaha membahas entrepreneurship secara luas, beberapa implikasi belum diuji secara empiris dan masih membutuhkan penelitian lebih lanjut, terutama mengenai tingkatan entrepreneurship dan hubungan antara micro-level dengan macro-level

 Jurnal ini sangat menarik bagi saya, karena menyebutkan bahwa “entrepreneurship bukan hanya aksi membuat badan usaha baru, tetapi termasuk melakukan perubahan pada level realitas individu,” sehingga kesan yang diberikan adalah benar-benar, setiap orang dapat menjadi entrepreneurship.


2.10.26

Liany Nur Ramadhani (24310410016) - Essay 1 meringkas jurnal - psikologi inovasi


 Liany Nur Ramadhani 

24310410016

Kelas psikologi inovasi - B

Tugas essay 1 

Dosen pengampu : DR. Arundati Shinta M.A

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta 

(Jumat, 2 Oktober 2026)

  • Judul Penelitian: Translating Entrepreneurial Intentions into Entrepreneurial Behavior: The Moderating Role of Self-Efficacy and Action Planning
  • Penulis: Michael M. Gielnik, Sarah Frese, Anja Bischoff, dan Astrid Jarren
  • Publikasi: Journal of Business Venturing, Vol. 30, No. 1, Hal. 33–49.

Gielnik, M. M., Frese, S., Bischoff, A., & Jarren, A. (2015). Translating entrepreneurial intentions into entrepreneurial behavior: The moderating role of self-efficacy and action planning. Journal of Business Venturing, 30(1), 33–49. https://doi.org/10.1016/j.jbusvent.2014.07.002


Latar Belakang dan Permasalahan Penelitian Dalam literatur kewirausahaan, sebagian besar kajian berfokus pada pendorong niat berwirausaha (entrepreneurial intention). Teori-teori klasik seperti Theory of Planned Behavior mengasumsikan bahwa niat merupakan prediktor utama dari tindakan. Namun, fakta di lapangan menunjukkan adanya fenomena yang dikenal sebagai "gap antara niat dan tindakan" (intent-action gap). Banyak calon wirausahawan memiliki motivasi dan niat yang sangat tinggi untuk mendirikan bisnis, tetapi pada akhirnya gagal mewujudkannya menjadi tindakan nyata.
Permasalahan utama yang diangkat dalam penelitian ini adalah bagaimana dan kapan niat berwirausaha dapat bertransformasi secara efektif menjadi perilaku berwirausaha yang nyata. Penelitian ini bertujuan mengungkap faktor-faktor psikologis dan prosedural yang menjembatani jurang pemisah antara tingkatan niat dan tingkatan eksekusi.

Identifikasi Variabel Penelitian 
  • Variabel Dependen (Y): Perilaku Berwirausaha (Entrepreneurial Behavior) Merupakan variabel utama yang diukur, didefinisikan sebagai serangkaian tindakan konkret yang dilakukan individu untuk memulai atau mendirikan usaha baru. Indikatornya mencakup pendaftaran badan usaha, penyusunan rencana bisnis, pencarian lokasi, pengumpulan modal, hingga pembelian peralatan awal. 
  • Variabel Independen (X): Niat Berwirausaha (Entrepreneurial Intention) Komitmen atau dorongan subjektif individu untuk memulai bisnis di masa depan.
  • Variabel Moderator (M_1 & M_2): Perencanaan Tindakan (Action Planning) dan Efikasi Diri (Self-Efficacy) Action planning mengukur sejauh mana individu merancang strategi mendalam (kapan, di mana, dan bagaimana tindakan akan dilakukan), sedangkan self-efficacy mengukur tingkat keyakinan individu terhadap kemampuannya dalam mengatasi hambatan selama proses eksekusi.
Metodologi Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif longitudinal dengan studi panel multi-gelombang (multi-wave panel design). Data dikumpulkan dari para calon wirausahawan dalam rentang waktu beberapa bulan untuk mengamati secara langsung transisi dari niat awal hingga munculnya tindakan riil dalam mendirikan bisnis.

Hasil dan Temuan Utama Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa niat berwirausaha saja tidak memiliki pengaruh langsung yang cukup kuat terhadap eksekusi perilaku. Penemuan kunci dari penelitian ini mencakup Hubungan antara niat (X) dan perilaku (Y) menjadi sangat signifikan ketika individu menyusun action planning yang terstruktur. Rencana aksi memetakan niat yang abstrak menjadi langkah-langkah kerja operasional harian.

Kesimpulan Niat untuk menjadi wirausahawan hanyalah langkah awal yang belum menjamin lahirnya sebuah bisnis. Untuk mengatasi intent-action gap, niat harus dipadukan dengan perencanaan tindakan (action planning) yang terperinci dan keyakinan diri (self-efficacy) yang kokoh. Tanpa kedua elemen psikologis dan prosedural tersebut, niat berwirausaha cenderung berhenti sebagai cita-cita tanpa eksekusi nyata.


Deltha Arthaliya 24310430209 - Psi Inovasi - Tugas 1 - Meringkas Jurnal Entrepreneurship - Arundati Shinta - Kelas B - Oktober 2026

 

 Esai 1 - Meringkas Jurnal Entrepreneurship


Deltha Arthaliya
NIM 24310430209
Psikologi Inovasi


Topik

Kreativitas, resiliensi, dan inovasi wirausaha di era digital 

Sumber

Fitriani & Arfian. Inovasi Psikologis: Membangun Resiliensi dan Kreativitas Wirausaha di Era Digital. Jurnal Manajemen Bisnis Digital Terkini, 2(3), 58–69. DOI: https://doi.org/10.61132/jumbidter.v2i3.605  

Permasalahan

Perubahan pasar, persaingan, dan ketidakpastian ekonomi menuntut wirausaha tidak hanya memiliki kemampuan bisnis, tetapi juga kreativitas dan resiliensi. Masih diperlukan pemahaman tentang bagaimana kedua aspek tersebut saling mendukung dalam keberlanjutan usaha. 

Tujuan

Mengkaji peran kreativitas dan resiliensi psikologis dalam mendukung inovasi dan keberlanjutan usaha serta mengidentifikasi cara mengembangkan keduanya melalui pendidikan dan pelatihan kewirausahaan. 

Isi

Membahas peran kreativitas dan resiliensi psikologis dalam mendukung inovasi dan keberlanjutan usaha di tengah perubahan dan ketidakpastian era digital. 


Kreativitas mendorong munculnya ide dan solusi baru, sedangkan resiliensi membantu wirausaha bertahan menghadapi kegagalan dan perubahan. 

Metode

Kajian literatur dari jurnal, buku, laporan penelitian, dan sumber akademik terkait kreativitas, resiliensi, inovasi kewirausahaan, serta pendidikan kewirausahaan. Analisis dilakukan secara kualitatif melalui sintesis literatur. 

Hasil

Kreativitas dan resiliensi merupakan dua aspek yang saling mendukung dalam inovasi dan keberlanjutan usaha. 


Kreativitas membantu wirausaha menemukan peluang dan solusi baru, sedangkan resiliensi membantu menghadapi tekanan, risiko, dan kegagalan. Keduanya saling memperkuat dalam mendukung keberlanjutan usaha. 

Diskusi

Pengembangan kreativitas dan resiliensi perlu diterapkan dalam pendidikan kewirausahaan melalui pelatihan, mentoring, dan simulasi berbasis masalah. Kemampuan berpikir kreatif, mengelola stres, memecahkan masalah, dan beradaptasi perlu dilatih agar calon wirausaha lebih siap menghadapi perubahan. 

 

29.9.26

ESAI 1 : MERINGKAS JURNAL MOTIVASI

 

Heni Dwi Anggreani

25310440001

Kelas Psikologi Inovasi - B

Tugas Essai 1

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

(September 2026)

 

Judul Jurnal: “Pengaruh Literasi Keuangan, Motivasi dan Efikasi Diri pada Minat Berwirausaha Mahasiswa di Banyumas dengan Jaringan Sosial sebagai Variabel Moderasi” ditulis oleh : Galuh Andap Anggeta Dara, Faizal Rizky Yuttama, dan Puspita Lianti Putri dari Program Studi Manajemen, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Harapan Bangsa. (Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, Mei 2026, 12 (5.A), 157-172 )

DOI : https://jurnal.peneliti.n

et/index.php/JIWP/article/view/12945

Latar belakang Permasalahan penelitian ini adalah pentingnya meningkatkan minat mahasiswa untuk berwirausaha. Mahasiswa tidak hanya diharapkan menjadi pencari kerja setelah menyelesaikan pendidikan, tetapi juga dapat menjadi pencipta lapangan pekerjaan. Peneliti melihat bahwa minat berwirausaha tidak hanya dipengaruhi oleh pengetahuan mengenai usaha, tetapi juga oleh kemampuan mahasiswa dalam mengelola keuangan, motivasi untuk mencapai tujuan, serta keyakinan terhadap kemampuan dirinya sendiri. Disamping itu,  dengan adanya dukungan dari keluarga, teman, maupun lingkungan sosial juga dapat memberikan akses terhadap informasi, sumber daya, peluang, dan pengalaman yang dibutuhkan untuk memulai usaha.

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui literasi keuangan terhadap minat berwirausaha mahasiswa di Banyumas; Pengaruh motivasi terhadap minas berwirausaha; pengaruh efeksi diri terhadap mintas berwirausaha; dan peran jaringan sosial sebagai variabel moderasi dalam hubungan antara literasi keuangan, motivasi dan efeksi diri dengan minat berwirausaha

Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif cross-sectional. Responden penelitian berjumlah 105 mahasiswa yang sedang mengambil mata kuliah kewirausahaan di beberapa perguruan tinggi di Banyumas. Pengambilan sampel menggunakan purposive sampling, sedangkan data dikumpulkan melalui kuesioner dengan skala Likert 1–5. Hasil pengujian menunjukkan bahwa instrumen penelitian valid dan reliabel.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa literasi keuangan berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat berwirausaha. Mahasiswa yang memiliki pemahaman dan kemampuan mengelola keuangan dengan lebih baik cenderung memiliki minat yang lebih tinggi untuk memulai usaha. Motivasi juga berpengaruh positif dan signifikan, yang berarti semakin kuat dorongan mahasiswa untuk mencapai tujuan, semakin besar pula minatnya untuk berwirausaha.  Selanjutnya, efikasi diri berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat berwirausaha. Keyakinan mahasiswa terhadap kemampuan dirinya, termasuk kemampuan menghadapi kegagalan dan hambatan, dapat mendorong munculnya keinginan untuk memulai usaha.

Hal yang menarik dari penelitian ini adalah hasil analisis mengenai jaringan sosial sebagai variabel moderasi. Jaringan sosial terbukti mampu memoderasi pengaruh literasi keuangan dan motivasi terhadap minat berwirausaha. Artinya, pengetahuan keuangan dan motivasi akan lebih dapat berkembang menjadi minat berwirausaha ketika mahasiswa memiliki dukungan serta jaringan sosial yang baik. Namun, jaringan sosial tidak terbukti memoderasi hubungan antara efikasi diri dan minat berwirausaha.

Kesimpulan dari penelitian ini dengan melihat pada keseluruhan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa minat berwirausaha mahasiswa di Banyumas dipengaruhi oleh literasi keuangan, motivasi, dan efikasi diri. Jaringan sosial juga memiliki peran penting, khususnya dalam memperkuat pengaruh literasi keuangan dan motivasi terhadap minat berwirausaha.

Dengan demikian, peningkatan minat kewirausahaan mahasiswa tidak cukup hanya melalui pembelajaran mengenai bisnis dan keuangan, tetapi juga perlu memperhatikan faktor psikologis seperti motivasi dan keyakinan terhadap kemampuan diri serta membangun jaringan sosial yang dapat memberikan dukungan, informasi, dan akses terhadap peluang usaha. Penelitian ini memberikan gambaran bahwa minat berwirausaha mahasiswa merupakan proses yang tidak berdiri sendiri, melainkan terbentuk dari berbagai kondisi yang saling berkaitan. Sehingga diharapkan penelitian ini dapat menjadi gambaran mengenai pentingnya memahami faktor yang mendorongh mahasiswa untuk emmilih kewirausahaan sebagai salah satu alternatif dalam mengembangkan potensi dan masa depan kariernya.