2.11.26

Psikologi Inovasi-Essay 9- Training

   


Langkah Kecil untuk Lingkungan Rumah yang Lebih Baik

Putri Dahliani (21310410110)
Psikologi Inovasi- kelas karyawan
Dosen pangampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

     Lingkungan tempat tinggal memiliki pengaruh terhadap kenyamanan dan kebiasaan sehari-hari. Rumah yang bersih, rapi, dan terawat dapat membuat penghuninya merasa lebih nyaman dalam menjalankan aktivitas. Namun, menjaga lingkungan rumah bukan hanya menjadi tanggung jawab satu orang, melainkan membutuhkan kesadaran dan kerja sama seluruh penghuni. Kebiasaan sederhana, seperti menggunakan air secukupnya, membersihkan ruangan, dan menjaga kebersihan kamar mandi, dapat menjadi langkah awal untuk menciptakan lingkungan yang lebih baik.

     Salah satu permasalahan yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari adalah kurangnya konsistensi dalam menjaga kebersihan dan menggunakan sumber daya secara bijak. Terkadang, seseorang mengetahui bahwa kebersihan itu penting, tetapi masih menunda membersihkan rumah atau membiarkan keran air tetap mengalir ketika tidak digunakan. Kebiasaan tersebut dapat terjadi karena kurangnya perhatian, kesibukan, atau anggapan bahwa perubahan kecil tidak memberikan dampak yang berarti.

    Padahal, perubahan lingkungan dapat dimulai dari tindakan sederhana yang dilakukan secara rutin. Contohnya adalah mematikan keran ketika tidak digunakan, memastikan tidak ada kebocoran air, membersihkan kamar mandi secara teratur, dan mengembalikan barang ke tempat semula setelah digunakan. Apabila dilakukan bersama-sama, kebiasaan tersebut dapat membantu menciptakan lingkungan rumah yang lebih bersih dan nyaman.

     Untuk mewujudkan perubahan tersebut, diperlukan ajakan yang positif kepada anggota keluarga. Ajakan sebaiknya disampaikan dengan bahasa yang sopan dan tidak menyalahkan orang lain. Setiap anggota keluarga dapat diajak memahami manfaat kebiasaan baru, kemudian menentukan tindakan yang dapat dilakukan bersama. Dengan demikian, perubahan tidak terasa seperti paksaan, tetapi menjadi bentuk kerja sama untuk kepentingan bersama.

     Dalam Psikologi Inovasi, perubahan kebiasaan dapat dipahami sebagai proses mencoba cara baru untuk memperbaiki keadaan yang sudah ada. Seseorang tidak harus langsung mengubah seluruh kebiasaan dalam satu waktu. Perubahan dapat dimulai dari satu tindakan sederhana, kemudian dievaluasi dan dikembangkan secara bertahap. Jika suatu cara belum berhasil, strategi lain dapat dicoba agar lebih sesuai dengan kondisi lingkungan dan kebiasaan penghuni rumah.

    Praktik training dapat dilakukan melalui kegiatan sederhana selama tujuh hari di lingkungan rumah. Pada hari pertama, penghuni rumah mengamati kebiasaan yang perlu diperbaiki, seperti penggunaan air dan kebersihan ruangan. Pada hari kedua, dibuat kesepakatan untuk mematikan keran setelah digunakan dan tidak membuang sampah sembarangan. Hari ketiga dan keempat difokuskan pada kebiasaan membersihkan area yang sering digunakan, seperti kamar mandi dan dapur.

    Pada hari kelima, setiap anggota keluarga diajak memeriksa apakah kebiasaan baru sudah dilakukan secara konsisten. Hari keenam digunakan untuk memperbaiki hal-hal yang masih terlewat, sedangkan hari ketujuh menjadi waktu untuk mengevaluasi hasil kegiatan. Evaluasi dilakukan dengan melihat perubahan kebiasaan, kondisi kebersihan rumah, dan kendala yang masih ditemukan. 

     Lingkungan rumah yang lebih baik dapat diwujudkan melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten. Menjaga kebersihan, menggunakan air secara bijak, dan bekerja sama dengan anggota keluarga merupakan langkah nyata untuk menciptakan tempat tinggal yang lebih nyaman. Melalui praktik training selama tujuh hari, perubahan dapat dimulai dari tindakan kecil dan dievaluasi secara bertahap. Oleh karena itu, setiap orang dapat berperan dalam memperbaiki lingkungan tempat tinggalnya tanpa harus menunggu perubahan besar terjadi terlebih dahulu.


Daftar Pustaka

Duhigg, C. (2012). The Power of Habit: Why We Do What We Do in Life and Business. Random House.

World Health Organization. (2018). Guidelines on Sanitation and Health. World Health Organization. 


Psikologi Inovasi-Essay 8- Big Achievement

 



Dari Perjuangan Menuju Prestasi

Putri Dahliani (21310410110)

Psikologi Inovasi- kelas karyawan

Dosen pangampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta


    Setiap orang memiliki pencapaian yang bermakna dalam hidupnya. Pencapaian tersebut tidak selalu mudah diperoleh karena membutuhkan usaha, kedisiplinan, dan kemampuan menghadapi berbagai tantangan. Bagi seorang atlet, prestasi bukan hanya tentang mendapatkan medali, tetapi juga tentang proses latihan, kerja sama, dan perjuangan untuk mencapai tujuan. Salah satu pengalaman yang bermakna bagi saya adalah pencapaian medali perunggu pada PON Aceh 2024. Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa sebuah keberhasilan membutuhkan proses dan komitmen.

    Meraih prestasi dalam dunia olahraga bukanlah hal yang dapat dicapai secara instan. Seorang atlet perlu menjalani latihan, menjaga kondisi fisik, mempelajari strategi, dan mempersiapkan mental untuk menghadapi pertandingan. Dalam prosesnya, terdapat berbagai tantangan yang harus dihadapi, mulai dari rasa lelah hingga tekanan untuk memberikan penampilan terbaik.

       Pengalaman meraih medali perunggu PON Aceh 2024 menjadi salah satu pencapaian yang berharga bagi saya. Prestasi tersebut bukan hanya tentang hasil akhir, tetapi juga tentang usaha dan pengalaman yang diperoleh selama menjalani proses sebagai atlet. Melalui pengalaman ini, saya belajar bahwa keberhasilan memerlukan kesabaran, kedisiplinan, dan kemauan untuk terus berusaha meskipun menghadapi kesulitan.

    Jika dilihat dari sudut pandang psikologi, pencapaian dapat berkaitan dengan motivasi dan keyakinan seseorang terhadap kemampuannya. Albert Bandura (1997) menjelaskan konsep self-efficacy, yaitu keyakinan seseorang terhadap kemampuannya untuk melakukan tindakan yang diperlukan dalam mencapai tujuan. Keyakinan tersebut dapat membantu seseorang menghadapi tantangan dan mempertahankan usahanya.

   Selain itu, proses mencapai prestasi mengajarkan pentingnya menetapkan tujuan dan mengevaluasi usaha yang telah dilakukan. Locke dan Latham (2002) menjelaskan bahwa penetapan tujuan dapat membantu mengarahkan usaha dan meningkatkan motivasi. Dalam olahraga, tujuan yang jelas dapat membantu atlet memahami hal-hal yang perlu diperbaiki dan menjaga fokus selama menjalani latihan.

    Pencapaian ini juga mengajarkan saya bahwa sebuah keberhasilan tidak hanya diukur dari hasil yang diperoleh, tetapi juga dari pelajaran selama prosesnya. Pengalaman menghadapi tantangan dapat menjadi bekal untuk mengembangkan diri dan mempersiapkan diri menghadapi tujuan berikutnya.


Daftar Pustaka

Bandura, A. (1997). Self-Efficacy: The Exercise of Control. W. H. Freeman.

Locke, E. A., & Latham, G. P. (2002). Building a practically useful theory of goal setting and task motivation: A 35-year odyssey. American Psychologist, 57(9), 705–717.

1.11.26

Galuh Sekar Anindita 24310410027 - Psi Inovasi - Esai 3 Menjadi Suri Tauladan - November 2026

 

KETEKUNAN DAN KETELADANAN: DUA KUNCI MENJADI PRIBADI YANG TANGGUH DAN DIPERCAYA

Galuh Sekar Anindita

NIM 24310410027

Kelas Karyawan

Mata Kuliah Psikologi Inovasi

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta


ESAI 3 : MENJADI SURI TAULADAN 

Banyak orang beranggapan bahwa keberhasilan seseorang hanya ditentukan oleh bakat yang dimilikinya. Padahal, dalam psikologi terdapat faktor lain yang juga berperan penting, yaitu ketekunan dan kemampuan menjadi teladan bagi orang lain. Meskipun keduanya terlihat berbeda, ketekunan lebih berkaitan dengan usaha pribadi, sedangkan keteladanan berhubungan dengan pengaruh terhadap lingkungan sekitar, keduanya sebenarnya memiliki hubungan yang erat. Ketekunan membantu seseorang memberikan contoh nyata melalui tindakan, sementara keteladanan dapat mendorong orang lain untuk ikut berusaha dan tidak mudah menyerah.

Duckworth, Peterson, Matthews, dan Kelly (2007) menjelaskan bahwa grit merupakan perpaduan antara kegigihan dan semangat dalam mencapai tujuan jangka panjang. Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa grit tidak memiliki hubungan positif dengan IQ, tetapi dapat memprediksi pencapaian seseorang, seperti tingkat pendidikan dan keberhasilan akademik, bahkan ketika IQ dan sifat konsientius telah diperhitungkan. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan tidak hanya bergantung pada kecerdasan atau bakat, tetapi juga pada kemampuan untuk terus mengembangkan potensi secara konsisten. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk melatih ketekunan. Pertama, menentukan tujuan jangka panjang yang penting bagi diri sendiri dan membaginya menjadi target-target kecil setiap minggu. Kedua, menjadikan kegagalan sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki diri, bukan sebagai alasan untuk merasa tidak mampu. Ketiga, membiasakan diri untuk tetap berlatih dan berusaha meskipun motivasi sedang menurun atau tidak mendapatkan apresiasi dari orang lain. Dengan demikian, seseorang yang merasa tidak memiliki bakat istimewa tetap mempunyai kesempatan untuk berhasil selama bersedia belajar dan berusaha secara berkelanjutan.

Selain ketekunan, keteladanan juga menjadi faktor penting dalam membentuk perilaku seseorang. Hal ini didukung oleh penelitian Bandura, Ross, dan Ross (1961), yang menunjukkan bahwa anak-anak dapat meniru perilaku orang dewasa yang mereka amati, bahkan setelah orang tersebut tidak lagi berada di hadapan mereka. Walaupun penelitian tersebut berfokus pada perilaku agresif, temuannya memperlihatkan bahwa pengamatan terhadap orang lain dapat memengaruhi perilaku seseorang. Oleh karena itu, orang tua, guru, kakak tingkat, pemimpin organisasi, maupun rekan kerja dapat menjadi contoh bagi orang-orang di sekitarnya. Untuk menjadi teladan yang baik, seseorang perlu memastikan bahwa perkataan sesuai dengan tindakan yang dilakukan. Selain itu, penting untuk menunjukkan proses dalam mencapai keberhasilan, termasuk kesalahan yang pernah dilakukan dan usaha untuk memperbaikinya. Hal sederhana lainnya adalah menepati janji, datang tepat waktu, dan bersikap jujur. Kebiasaan tersebut dapat membangun kepercayaan sekaligus memberikan contoh positif bagi orang lain. Misalnya, mahasiswa yang selalu mengerjakan dan mengumpulkan tugas tepat waktu dapat menunjukkan kepada teman-temannya bahwa kedisiplinan dapat dibentuk melalui kebiasaan sehari-hari.

Keterkaitan antara ketekunan dan keteladanan juga dapat dipahami melalui teori efikasi diri yang dikemukakan oleh Bandura (1977). Teori ini menjelaskan bahwa keyakinan seseorang terhadap kemampuannya dipengaruhi oleh empat sumber, yaitu pengalaman keberhasilan pribadi, pengalaman vikarius atau pengamatan terhadap keberhasilan orang lain, persuasi verbal, serta kondisi fisiologis dan emosional. Pengalaman vikarius terjadi ketika seseorang melihat orang lain berhasil, kemudian memperoleh keyakinan bahwa dirinya juga mampu mencapai hal serupa. Dalam hal ini, ketekunan dan keteladanan saling mendukung. Seseorang yang terus berusaha dan bersedia menunjukkan proses perjuangannya dapat memberikan inspirasi kepada orang lain. Di sisi lain, kesadaran bahwa perilakunya dapat diamati juga dapat mendorong seseorang untuk mempertahankan sikap konsisten, terutama ketika menghadapi kesulitan atau keinginan untuk menyerah.

Berdasarkan penjelasan tersebut, ketekunan dan keteladanan merupakan dua hal yang saling melengkapi. Ketekunan membantu seseorang membangun karakter yang kuat dan pantang menyerah, sedangkan keteladanan membuat sikap tersebut memberikan dampak positif bagi orang lain. Untuk menerapkannya, seseorang tidak harus menunggu sampai menjadi pribadi yang sempurna atau mencapai kesuksesan besar. Langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten sudah dapat menjadi awal yang baik. Setiap tindakan yang kita lakukan berpotensi memberikan pengaruh kepada orang lain, sehingga penting untuk menyadari bahwa perilaku sehari-hari dapat menjadi contoh bagi lingkungan sekitar. Pada akhirnya, keberhasilan tidak hanya diukur dari kemampuan seseorang mencapai tujuannya sendiri, tetapi juga dari kemampuannya menunjukkan nilai-nilai positif melalui tindakan nyata yang dapat menginspirasi orang lain.

 

Link :

-          https://youtu.be/-gCD0MZ_7XU?si=4s9ctmukOZX9um6X

-          https://youtu.be/CcWg-S_Ly6o?si=-GaJ_87-U_mWrrIN

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Bandura, A. (1977). Self-efficacy: Toward a unifying theory of behavioral change. Psychological Review, 84(2).

Bandura, A., Ross, D., & Ross, S. A. (1961). Transmission of aggression through imitation of aggressive models. Journal of Abnormal and Social Psychology, 63(3).

Duckworth, A. L., Peterson, C., Matthews, M. D., & Kelly, D. R. (2007). Grit: Perseverance and passion for long-term goals. Journal of Personality and Social Psychology, 92(6).

 

 

Deltha Arthaliya NIM 24310430209 - Psi Inovasi - Tugas 4 - My Best Coping Behavior - Arundati Shinta - November 2026 - Kelas B

 Menemukan Ruang Aman Dalam Diri

Oleh: Deltha Arthaliya 
24310430209



Pada bulan Januari 2018 saya berada di fase hidup yang cukup melelahkan secara emosional. Saya banyak mengalami tekanan dalam hidup, terutama terkait kebutuhan mendasar. Saya tidak memiliki pekerjaan tetap, saya merasa bersalah atas keputusan resign dari tekanan kerja di perusahaan sebelumnya, merasa menyesal karena kurang pertimbangan. Pikiran saya terasa penuh dan ramai, hati pun menjadi sesak dengan berbagai rasa yang hadir. 


Saya selalu ingin terlihat baik-baik saja. Salah satunya dengan memutuskan untuk pergi ke Kalimantan untuk tujuan menikmati hidup yang tenang, padahal di dalam diri saya banyak gelombang yang timbul, tenggelam. Siapa sangka saat saya berada di Kalimantan Tengah tepatnya di Pangkalan Bun, saya justru menemukan coping behavior. Di Pangkalan Bun yang daerahnya cukup luas, namun sepi, belum ada mall dan bioskop, belum banyak warung kopi seperti yang ada di Jogja, membuat saya terdiam dan banyak merenungkan. Betapa jauh berbeda pulau Jawa dan Kalimantan. Di tempat yang asing, aku banyak diam dan melihat ke dalam diri sendiri. 


Karena baru pertama kali ke luar pulau, sendirian, hanya kenal beberapa orang saja. Saya mencoba menulis, termasuk menulis surat lamaran kerja. Ada harapan yang saya selipkan, supaya saya mendapatkan pekerjaan apapun untuk bertahan di Pangkalan Bun. Berharap memiliki teman dan kenal dengan lebih banyak orang. Saat menulis, journaling, saya justru bisa mengeluarkan isi pikiran yang saya bawa sebelumnya. Saya menuliskan apapun yang saya rasa dan pikirkan, dan membuat saya memahami banyak hal dalam diri saya. Dalam ketenangan dengan journaling, saya menemukan diri saya, tempat dimana saya menjadi utuh, merasa, dan berdamai dengan diri saya. 


Suasana tenang, dan sunyi tanpa banyak hal yang bisa saya kerjakan selama saya bekerja di Pangkalan Bun, seolah mengajak saya untuk bermeditasi. Kala itu, saya belum mengerti dan paham tentang meditasi, namun kemudian saya paham dan merasa, bahwa apa yang saya lakukan adalah meditasi. Saya berjalan pelan, bernapas lebih lembut, tidak ada paksaan, tidak ada rasa buru-buru. 


Dari pengalaman yang saya dapatkan dan saya latih selama saya bekerja di Pangkalan Bun, saya belajar bahwa dalam tenang kita dapat menemukan banyak hal, dengan journaling kita dapat mengurai setiap keruwetan yang ada di pikiran, dan ini membantu saya membuat skala prioritas dari banyaknya hal yang perlu saya kerjakan. Sehingga setelah tahun 2019 saya mulai rutin melakukan journaling dengan berbagai bentuk hingga sekarang. Journaling yang saya praktekan secara manual, dengan tulisan tangan, bukan digital. Sehingga ketika saya sedang stres atau mengalami tekanan, saya akan melakukan meditasi atau journaling, atau kombinasi keduanya. Dari sini, saya belajar bahwa coping behavior yang sehat, bukan tentang menghilangkan rasa kecewa, rasa kesal, secara instan, tetapi membantu saya tetap bertahan dan perlahan kembali pulih. Saya juga belajar bahwa perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten membawa dampak yang lebih berarti. 


Saya kutip dari Lazarus & Folkman (1984), coping behavior adalah usaha individu untuk mengelola tekanan dan situasi yang dirasa berat secara emosional maupun psikologis. 





31.10.26

Psi Inovasi - Esai 4 – My Best Coping Behaviour - Dr. A. Shinta, M. A – Kelas B – October 31 2026 - Hana Fardilla (24310410048)

 My Best Coping Behaviour: Year of Grieving

Hana Fardilla – 24310410048 – Psikologi Kelas Karyawan
Psikologi Inovasi - Esai 4 -  Dr. A. Shinta, M. A
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta


    Tahun 2025 merupakan tahun transisi yang bagi saya cukup besar dampaknya, baik untuk kesehatan jasmani dan rohani saya pribadi.

    Sebelumnya, dapat saya katakan saya adalah pribadi yang sangat tertutup, tetapi juga sangat people pleaser. Mungkin karena di dasari dari saya sebagai anak dan cucu perempuan pertama di keluarga saya. Sebagai perempuan, banyak ekspektasi yang saya rasa saat ini menjadi kurang masuk akal, karena di keluarga, saya dituntut untuk terutup dan harus fokus pada pekerjaan domestik sebagai perempuan, tetapi harus bisa membanggakan orangtua sebagai anak pertama. Bertahun-tahun saya merasa tertekan dengan hal ini, dan manifestasi muncul dengan asma saya yang sering kambuh, namun saya tidak berani berpendapat karena terlalu takut akan mengecewakan dan tidak ingin membuat konflik, Menurut teori Carl Roger (1961), distress akan muncul saat ada pergolakan antara real-self (apa yang saya rasakan), dengan ideal-self (apa yang orang harapkan).

    Perasaan tidak ingin mengecewakan dan menghindari konflik sebisa mungkin saya bawa kemana-mana, hingga ke relasi saya dengan pasangan. Di tahun 2024 partner (pacar) saya menyampaikan keinginannya untuk bekerja di luar negeri sebagai TKI karena income yangg kurang baik di Indonesia, saat itu kami sudah bersama selama 5 tahun. Saya akui informasi tersebut sangat menyakitkan, saya kesulitan jika harus berpisah. Partner saya mencoba meyakinkan saya bahwa ini harus dilakukan, dan dengan berat hati saya ikut mendukungnya agar dapat mewujudkan harapannya untuk bekerja di luar negeri. Akhirnya, di pertengahan tahun tersebut ia berangkat, dan saya tertinggal dengan perasaan yang menyakitkan. 

    Karena saya tidak ingin membuat konflik, saya tidak pernah benar-benar mengutarakan apa yang saya rasakan, saya sering kebingungan dengan perasaan saya sendiri. Meski pun saya menulis, rasanya seperti ada yang saya selalu coba tutupi untuk meminimalisir perasaan yang sesungguhnya saya rasakan, padahal tidak ada yang membaca buku diary saya. Sejak pasangan saya pergi, saya tidak bisa beraktifitas dengan normal, saya selalu merasa tidak nyaman dan ketakutan tetapi tidak mengerti kenapa. Karena rasanya sudah sangat aneh, saya mencoba untuk berkonsultasi dengan psikolog. Tidak banyak yang bisa saya katakan, saya menghabiskan waktu menangis saja tanpa tau harus berkata dan berbuat apa, psikolog menyarankan saya setidaknya menulis apa yang fisik saya rasakan sebagai step awal untuk mengidentifikasi perasaan saya sendiri.

    Setelah itu saya memutuskan untuk mendaftar kuliah di UP45 karena memang sudah lama tertarik dengan psikologi, tapi mungkin saat itu, ada harapan lain bahwa saya bisa mengenali diri saya sendiri sambil belajar.

    Keadaan tidak membaik, mungkin lebih tepatnya, belum. Dari hasil menulis tentang apa yang badan saya rasakan dan saat apa itu terjadi, saya memutuskan untuk mengakhiri relasi saya dengan pasangan saya saat itu di awal tahun 2025, karena saya merasa trigger utamanya adalah saat saya diingatkan bahwa saya sedang jauh dari dia. Sejak itu keadaan semakin memburuk. Saya tidak bisa benar-benar tidur, tidak bisa makan, dan terkendala dalam bekerja, mata saya bengkat setiap hari dan berat badan turun 10kg. Namun selama proses ini, saya tidak berhenti ke psikolog, saya tidak berhenti menulis, atau kuliah, saya mencoba melanjutkan sambil berharap bahwa hari esok akan terasa lebih baik.

    Semakin saya menulis tentang apa yang saya rasakan, rasanya saya semakin mengerti, kenapa rasa itu datang, di mana rasa tidaknyamannya, dan kapan. Misalnya saat dipekerjaan saya tidak mengatakan suau hal karena merasa saya bisa handle sendiri, saya ternyata merasa nyeri di dada sebelah kiri, perlahan, saya coba untuk mengungkapkan dan menjadi lebih asertif. Saat pertama kali mencoba, rasanya kepala saya ingin meledak karena takut, tapi lambat laun, saya semakin sering melakukan dan tidak ada lagi rasa nyeri yang saya rasakan.

    Contoh lain saat saya berkomunikasi dengan orang tua saya, setiap berbicara dengan mereka saya rasanya seperti dipukul di perut, rasanya gelisah seperti sedang ujian. Saya putuskan suatu hari untuk speak-up, mengatakan bahwa saya ingin mencoba menjalani hidup seperti yang saya inginkan selama saya tidak menjadi kriminal atau membahayakan orang lain. Saat itu saya merasa seperti orang paling buruk di dunia, membuat orang tua saya marah, tetapi ada rasa relief, saya tidak lagi merasa seperti sedang di rundung dan lebih tenang saat berbicara dengan orangtua saya.

    Bagi saya, ini adalah coping yang akan selalu ingat, bahwa saya pernah melewatinya dan perlahan mencoba mengaktualisasikan diri saya sendiri. Bahwa memang ada yang harus dilawan saat kita ingin ada yang berubah. Dan tidak semuanya bisa terlihat langsung, kadang kita harus benar-benar struggle beberapa waktu sebelum semuanya terasa membaik. Hari ini, mungkin banyak challenge lain yang menunggu, namun dengan pengalaman ini, saya mendapat kepercayaan diri, bahwa saya mampu, secara perlahan untuk melewati tantangan tersebut, kedepannya.


Ref:
Rogers, C. R. (1961). On becoming a person: A therapist's view of psychotherapy. Houghton Mifflin.


ESAI 3 RAY FRANSISCA MARITA KUSUMA (24310410005) PSIKOLOGI INOVASI KELAS KARYAWAN Ibu Dr. Arundati Shinta., MA




 


Menjadi Suri Tauladan 

Sebagai individu yang menjalani peran sebagai pekerja sekaligus pelajar, saya menyadari bahwa perjalanan untuk mencapai prestasi membutuhkan perjuangan, kedisiplinan, dan kemampuan untuk bertahan dalam menghadapi berbagai tantangan. Membagi waktu antara pekerjaan, pekerjaan, keluarga, dan tanggung jawab pribadi bukanlah hal yang mudah. Ada kalanya saya merasa lelah, menghadapi keterbatasan waktu, atau mengalami kesulitan dalam menyelesaikan berbagai tanggung jawab secara bersamaan. Namun, saya berusaha menjadikan setiap tantangan sebagai kesempatan untuk belajar dan mengembangkan diri.

Dalam dunia kerja, setiap individu memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan pekerjaan secara teliti, tepat waktu, dan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Namun, dalam pelaksanaannya, seseorang dapat melakukan kesalahan yang menyebabkan pekerjaan kurang memuaskan. Salah satu situasi yang dapat terjadi adalah ketika seorang pekerja mendapat kritik dari atasan karena kurang teliti dalam menyelesaikan pekerjaannya.

Menghadapi situasi tersebut memerlukan kemampuan resiliensi, yaitu kemampuan individu untuk menghadapi tekanan, menerima keadaan, serta melakukan penyesuaian diri agar dapat berkembang menjadi lebih baik.

Tips membangun ketahanan di tempat kerja

1. identifikasi penyebab kesalahan

Evaluasi apakah kesalahan terjadi karena kurang fokus, terburu-buru, instruksi yang belum jelas, atau prosedur yang belum memadai. Dengan memahami alasannya, solusi dapat dibuat secara lebih tepat.

2. Belajar menerima kritik secara positif

Dengarkan masukan atasan ataupun rekan kerja sampai selesai. Pisahkan kritik terhadap hasil pekerjaan dari penilaian terhadap diri sendiri. Fokus pada hal yang perlu diperbaiki. 

Alih-alih memandang kritik sebagai bentuk serangan pribadi atau merasa tidak mampu, individu perlu melihatnya sebagai masukan yang dapat digunakan untuk menyalakan dan memperbaiki kualitas pekerjaannya.

Bagi saya, resiliensi merupakan kemampuan untuk bangkit ketika menghadapi kesulitan, beradaptasi dengan perubahan, serta tetap memiliki motivasi untuk mencapai tujuan. Saya memahami bahwa kelelahan dan hambatan bukanlah alasan untuk berhentinya perkembangan, melainkan bagian dari proses yang perlu dikelola dengan bijaksana. Oleh karena itu, saya berusaha membangun kebiasaan-kebiasaan positif, seperti menyusun skala prioritas, mengatur waktu secara efektif, menjaga kedisiplinan, dan mendengarkan setiap pengalaman yang saya lalui.

Oktober 2026 

30.10.26

Liany Nur Ramadhani (24310410016) Essay 8 - My most admirable accomplishment Dosen pengampu Dr. Arundati Shinta M.A

Liany Nur Ramadhani 

(24310410016)

Psikologi inovasi - B

Essay 8 - My most admirable accomplishment

Dosen pengampu Dr. Arundati Shinta M.A

Universitas proklamasi 45

Yogyakarta 

(30 Oktober 2026)


Masa studi di lembaga pendidikan kedirgantaraan bukanlah sekadar proses transfer ilmu pengetahuan mengenai operasional penerbangan, melainkan sebuah kawah candradimuka yang menempa karakter, kedisiplinan, dan standar profesionalisme tinggi. Salah satu pencapaian yang paling saya banggakan dan menjadi titik balik motivasi saya selama menempuh pendidikan di Jogja Air Crew adalah ketika saya dinobatkan sebagai penerima penghargaan Best Grooming pada tanggal 26 Agustus 2023. Penghargaan ini bukan hanya sekadar selembar predikat visual, melainkan sebuah manifestasi dari konsistensi, dedikasi, dan penghargaan terhadap estetika serta etika profesi kru kabin yang harus dijunjung tinggi.

Bagi seorang calon pramugari dan pramugara, grooming atau penampilan diri adalah representasi pertama dari kualitas layanan maskapai penerbangan. Standar grooming di Jogja Air Crew dikenal sangat ketat, mulai dari kerapian tata rambut, kesempurnaan riasan wajah (make-up) yang proporsional, kebersihan serta ketepatan dalam mengenakan seragam, hingga postur tubuh, keanggunan gestur, dan cara berkomunikasi (service excellence). Menjaga seluruh standar tersebut secara konsisten setiap harinya tentu bukanlah hal yang mudah. Diperlukan manajemen waktu yang baik, ketelitian tingkat tinggi, serta komitmen personal untuk selalu tampil prima bahkan di tengah jadwal pelatihan yang padat.

Proses menuju penghargaan tersebut dilalui dengan penuh kedisiplinan. Setiap pagi sebelum sesi kelas dimulai, saya selalu memastikan bahwa setiap detail penampilan saya telah sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) kedirgantaraan—mulai dari keselarasan warna tata rias, keutuhan aksesori atribut, hingga kerapian rambut yang diikat model french twist khas pramugari profesional. Penilaian yang dilakukan oleh para instruktur berpengalaman pada tanggal 26 Agustus 2023 tersebut membuka mata saya bahwa kedisiplinan kecil yang dilakukan secara konsisten pada akhirnya akan membuahkan hasil yang membanggakan. Ketika nama saya diumumkan sebagai penerima Best Grooming, muncul perasaan haru, bangga, serta rasa tanggung jawab yang semakin besar untuk terus mempertahankan standar kualitas diri tersebut.

Pencapaian ini memberikan dampak psikologis yang luar biasa terhadap perkembangan karakter saya. Penghargaan ini membuktikan bahwa kerja keras dalam merawat penampilan, menjaga kebersihan diri, serta menjunjung tinggi etika kepribadian dapat menjadi nilai tambah yang membedakan diri kita di dunia kerja yang kompetitif. Keberhasilan meraih Best Grooming di Jogja Air Crew tidak hanya meningkatkan kepercayaan diri saya secara personal, tetapi juga semakin memantapkan tekad saya untuk berkarier di dunia penerbangan internasional dengan standar profesionalisme yang paripurna.

Link YouTube :