14.10.26

Dilema Antara Pikiran dan Tindakan - Essay 2

Oleh: Iqbal Fahri Alfarisi | 24310410012 | Psikologi Inovasi | SPSJ (B) | Dr. Arundita Shinta., M.A

 

Disonansi kognitif adalah teori klasik yang dicetuskan oleh Festinger pada 1957 (Alfitman, 2017). Makna dari disonansi kognitif adalah memiliki keadaan ketidaknyamanan atau ketegangan pada psikologis individu yang memiliki dua nilai, sikap, dan keyakinan yang bertentangan pada periode waktu bersamaan (Dhanda, 2020). Pada dasarnya hampir setiap individu mengalami disonansi kognitif hanya saja ranahnya berbeda-beda. Kesimpulannya disonansi kognitif merupakan sikap pada individu yang tidak selalu merugikan orang sekitar tapi merugikan diri sendiri. Beberapa disonansi yang sering terjadi dimasyarakat, yaitu meyakini bahwa rokok membahayakan bagi kesehatan tubuh namun masih tetap merokok. Makanan dipinggir jalan yang terpapar debu dan tidak ada penghalangnya berisiko tinggi jika dikonsumsi namun masih saja jajan dan beli makanan dipinggir jalan.

            Saya melakukan wawancara dengan subjek berinisial “R” pada 12 Oktober 2026. Pada sesi wawancara saya mendalami terlebih dahulu kesibukan dan aktivitas sehari-hari serta kesehatan dirinya. Hal tersebut dilakukan agar mengetahui apakah ada sikap yang menunjukkan disonansi kognitif pada subjek. Setelah saya gali lebih dalam, ia sangat suka sekali mencoba berbagai makanan yang ada dipinggir jalan. Dia menyadari dan mengetahui bahwa yang dilakukannya dapat membahayakan pada kesehatan serta imun tubuh, namun tetap membeli jajanan jika melihat makanan yang unik dan menarik. Hal tersebut berulang kali dilakukan, sebenarnya dia berupaya untuk berhenti atau mengurangi jajanan yang ada dipinggir jalan namun ia mudah tergiur dengan makanan sehingga sulit untuk menghentikannya.

            Wawancara pun semakin mengalir dan rupanya saya menemukan sikap disonansi kognitif kedua yang beriringan dengan jajan. Perilaku yang dia lakukan adalah membuang sampah sembarangan di jalanan atau melempar bungkus jajanan ke selokan. Beberapa kali dia memang sering ditegur oleh temannya, namun ia tetap melakukannya. Motif dari perbuatan yang dia lakukan katanya lebih praktis buang dimana saja. Dia juga menyadari tindakan yang dilakukannya salah namun berulang kali tetap dilakukan. Setiap dia ditegur oleh temannya terkadang ia merasa malu, mengikuti instruksinya untuk membuang ketika ada tong sampah, dan terkadang juga dia abaikan.

            Kesimpulannya adalah disonansi kognitif hampir dilakukan oleh setiap orang. Disonansi kognitif akan sulit untuk dihentikan sepenuhnya oleh individu. Jadi alih-alih berusaha untuk berhenti dan berusaha menghindari disonansi kognitif, lebih baik jika perlahan dikurangi. Hal utama yang perlu dilakukan oleh individu adalah berusaha menyelaraskan apa yang disadari dan diketahui dengan kehidupan sehari-hari.

 

Referensi:

Alfitman. (2017). Konstruk disonansi kognitif dalam penelitian perilaku konsumen: apakah. KONSTRUK DISONANSI KOGNITIF DALAM PENELITIAN PERILAKU KONSUMEN: APAKAH POPULARITASNYA MEMANG SUDAH MEREDUP?, 22, 44–57.

Dhanda, B. (2020). Cognitive Dissonance , Attitude Change and Ways to Reduce Cognitive Dissonance : A Review Study. 33(6), 48–54. https://doi.org/10.9734/JESBS/2020/v33i630236

 

13.10.26

ESAI 2 : WAWANCARA TENTANG DISONASI KOGNITIF


Heni Dwi Anggreani

25310440001

Kelas Psikologi Inovasi - B

Tugas Essai 2

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

( Oktober 2026)

 

Disonansi Kognitif pada Residivis Kasus Pencurian

Video wawancara:

https://drive.google.com/file/d/1bbs8YBp1STf3DM53lm5R6ar89aix8ZHz/view?usp=sharing

Disonansi kognitif merupakan kondisi ketika terdapat ketidaksesuaian antara pengetahuan, keyakinan, dan perilaku seseorang. Kondisi ini terlihat dalam wawancara dengan salah seorang warga binaan di Rumah Tahanan (Rutan) Kota Salatiga yang kembali menjalani proses hukum akibat kasus pencurian untuk ketiga kalinya pada tahun 2026. Wawancara kami lakukan pada hari sabtu tanggal 10 Oktober 2026 dan atas persetujuannya/ seijinnya kami menggali informasi tentang permasalahan hukum yang sedang dihadapinya, sebut saja namanya AH, usia sekitar 35 tahun dan sudah 3x menjalani hukuman di Rutan tersebut dengan kasus yang sama yaitu pencurian.

Dalam wawancara tersebut, AH mengungkapkan bahwa dirinya sebenarnya tidak ingin melakukan pencurian. Ia mengaku terdesak oleh keadaan ekonomi dan kembali bertemu dengan teman-teman lama yang pernah dikenalnya ketika berada di rutan. Pertemuan tersebut kemudian membawanya kembali terlibat dalam tindakan yang sama. Padahal, ia mengetahui bahwa pencurian merupakan perbuatan yang salah dan memiliki konsekuensi hukum.

Hal yang menarik adalah  yang menjelaskan pengakuan AH bahwa setelah menjalani hukuman sebelumnya, ia telah berusaha memperbaiki diri. Ia memperoleh kembali kepercayaan masyarakat, mengikuti kegiatan kemasyarakatan, bahkan mendapatkan tawaran pekerjaan yang baik dari orang-orang di sekitarnya. Namun, kesempatan tersebut ternyata belum mampu mencegahnya mengulangi perbuatannya. Ketika ditanya mengapa kembali melakukan pencurian, ia menjawab bahwa dirinya sedang terdesak dan kembali bertemu dengan lingkungan pertemanan yang lama.

Dari hasil wawancara, terlihat adanya indikasi mekanisme pertahanan diri berupa rasionalisasi. AH menjelaskan tindakannya melalui alasan kesulitan ekonomi. Kondisi ekonomi tersebut mungkin benar-benar dialaminya, tetapi persoalannya adalah bagaimana ia menghadapi kesulitan tersebut dan mengapa pilihan yang diambil kembali mengarah pada perilaku yang sama. Alasan tersebut berpotensi menjadi pembenaran atas tindakannya, meskipun tidak menghilangkan tanggung jawab pribadi.

Selain itu, terdapat pertentangan antara konsep diri dan perilakunya. Pada akhir wawancara, AH menyatakan, “Saya menyesal, sebenarnya saya ini panutan,” karena selama ini ia juga membantu polisi dalam menangani kasus-kasus pencurian. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa ia memiliki gambaran positif mengenai dirinya, tetapi perilakunya sendiri bertentangan dengan gambaran tersebut. Ketidaksesuaian inilah yang memperlihatkan konflik dalam dirinya.

Ketika ditanya apakah ia akan mengulangi perbuatannya untuk keempat kalinya, AH menjawab tidak. Ia mengaku benar-benar menyesal, terlebih karena istrinya mengancam akan meninggalkannya dan saudaranya telah menjanjikan pekerjaan yang lebih baik. Namun, janji untuk berubah juga pernah muncul setelah kejadian sebelumnya. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah penyesalan kali ini akan diikuti tindakan nyata atau kembali berhenti pada keinginan semata.

Berdasrkan hasil wawancara, memperlihatkan bahwa mengetahui sesuatu yang benar tidak selalu membuat seseorang mampu melakukannya. Motivasi untuk berubah dapat muncul karena kehilangan, penyesalan, dan keinginan mempertahankan keluarga. Akan tetapi, perubahan juga membutuhkan ketangguhan menghadapi tekanan, kemampuan menolak ajakan lingkungan yang berisiko, serta keterampilan menemukan solusi ketika menghadapi kesulitan ekonomi.

Pada akhirnya, penyesalan merupakan awal dari kesadaran, bukan bukti bahwa perubahan telah berhasil. AH membutuhkan lebih dari sekadar janji untuk tidak mengulangi perbuatannya. Ia perlu membangun kebiasaan baru, mengambil keputusan yang lebih bertanggung jawab, dan mempertahankan perubahan tersebut ketika kembali menghadapi situasi sulit. Tantangan terbesarnya bukan sekadar berjanji tidak mencuri lagi, melainkan membuktikan bahwa ia mampu memilih jalan yang berbeda ketika keadaan tidak berjalan sesuai harapannya.

 

Daftar Pustaka :

-       Fadholi, F., Prisanto, G. F., Ernungtyas, N. F., Irwansyah, I., & Hasna, N. (2020). Disonansi kognitif perokok aktif di Indonesia. Jurnal RAP (Riset Aktual Psikologi Universitas Negeri Padang), 11(1), 1–14. DOI : https://doi.org/10.24036/rapun.v11i1.108039

-      Karelina, Y., & Susila, M. E. (2021). Faktor kriminologi narapidana residivis pencurian di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Kota Tasikmalaya. Indonesian Journal of Criminal Law and Criminology, 2(2).  DOI: https://doi.org/10.18196/ijclc.v2i2.12422

Dimas Mahendra Gautama 24310410024 - Psi Inovasi - Esai 2 Wawancara Tentang Disonansi Kognitif

 

Rokok sebagai Teman Bermain Game: Disonansi Kognitif pada Anggota Sat Samapta Polresta Yogyakarta

Dimas Mahendra Gautama (24310410024)

Kelas Karyawan

Mata Kuliah Psikologi Lingkungan

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, MA

WAWANCARA TENTANG DISONANSI KOGNITIF

Merokok saat bermain game memperlihatkan bagaimana kebiasaan sehari-hari dapat bertahan meskipun seseorang memahami bahayanya. Situasi ini berkaitan dengan disonansi kognitif karena pengetahuan tentang risiko rokok bertentangan dengan perilaku yang terus diulang. FH merupakan anggota Sat Samapta Polresta Yogyakarta yang memiliki kebiasaan merokok setiap kali bermain gim. Masalah utamanya terletak pada hubungan antara kegiatan yang menyenangkan dan tindakan yang berisiko bagi kesehatan. Perokok dapat mengetahui bahaya rokok tetapi tetap membentuk alasan untuk menerima perilakunya (Aqila, 2024). Kebiasaan FH perlu dilihat melalui cara berpikir yang menyertai kegiatan bermain gim.

Wawancara dengan FH dilakukan di Penjagaan Polresta Yogyakarta. FH menjelaskan bahwa rokok selalu menyertai aktivitas bermain game. FH menyampaikan, “Kalau permainan dimulai rokok juga disiapkan karena sudah menjadi kebiasaan.” Kalimat itu menggambarkan hubungan yang kuat antara situasi bermain dan keinginan merokok. Ketika ditanya mengenai bahayanya FH menjawab, “Risiko rokok sudah diketahui tetapi saat bermain gim rasanya sulit melepas kebiasaan itu.” Jawaban tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan belum menjadi dasar untuk mengubah perilaku. Pembenaran perilaku merokok dapat membantu seseorang mengurangi ketidaknyamanan ketika tindakan berbeda dari pengetahuan yang dimiliki (Sidhu et al., 2022).

Mekanisme pertahanan diri pertama terlihat melalui rasionalisasi. FH menyatakan, “Rokok membuat permainan terasa lebih santai dan membantu menjaga suasana hati.” FH memakai manfaat yang dirasakan saat bermain sebagai alasan untuk melanjutkan kebiasaan. Mekanisme kedua berupa normalisasi. FH mengatakan, “Teman yang bermain gim juga banyak yang merokok sehingga hal itu terasa biasa.” Pernyataan tersebut menjadikan perilaku orang lain sebagai ukuran kewajaran dan mengurangi perhatian terhadap risiko pribadi. Alasan mengenai fungsi rokok serta penerimaan sosial berkaitan dengan dorongan seseorang untuk berhenti (Zhang et al., 2024). Dua bentuk pembenaran tersebut dapat membuat FH merasa tidak perlu segera mengubah rutinitas.

Mekanisme ketiga berupa pengecilan masalah. FH mengatakan, “Merokok muncul saat bermain gim jadi kebiasaan ini masih bisa dikendalikan.” Kalimat itu menempatkan situasi bermain sebagai batas yang dianggap aman tanpa menunjukkan perubahan perilaku yang nyata. FH juga dapat terus menganggap rokok sebagai pelengkap permainan karena belum menemukan kegiatan pengganti yang sama menariknya. Jarak antara pengetahuan dan praktik merokok perlu diperhatikan dalam kehidupan usia produktif (Ardhaniswari et al., 2024). Dalam kasus FH jarak tersebut tampak saat kebiasaan dianggap terkendali hanya karena berkaitan dengan satu kegiatan tertentu.

Psikologi Inovasi melihat masalah ini sebagai hambatan untuk mencoba cara baru. FH dapat kreatif merancang alasan agar rokok tetap menjadi bagian dari permainan tetapi kreativitas itu belum digunakan untuk memperbaiki rutinitas. Pertanyaan yang mendorong seseorang meninjau keyakinannya dapat meningkatkan keterbukaan terhadap perubahan (Maaravi et al., 2023). FH dapat memulai dengan menyiapkan minuman atau camilan sehat saat bermain lalu mencatat sesi gim tanpa rokok. Pemisahan dua kebiasaan tersebut memungkinkan FH menguji cara menikmati permainan tanpa pembenaran yang terus berulang. Inovasi diri baru terjadi ketika pengetahuan menghasilkan tindakan yang dapat diamati.

 

Daftar Pustaka

Aqila, F. (2024). Analisis disonansi kognitif pada perokok perempuan di Jakarta. IKRA-ITH HUMANIORA: Jurnal Sosial dan Humaniora, 8(3), 185–195. https://doi.org/10.37817/ikraith-humaniora.v8i3.4196

Maaravi, Y., Hameiri, B., Gur, T., Heller, B., Confino, D., Amdor, H., & Levi, Y. (2023). Using leading questions to reduce resistance to innovation. Journal of Creativity, 33(3), Article 100067. https://doi.org/10.1016/j.yjoc.2023.100067

Zhang, D., Chen, W., Meng, X., Zhao, X., Liu, R., & Tian, H. (2024). Breaking down barriers: Rationalisations and motivation to stop among Chinese male smokers under cigarette dependence. BMC Public Health, 24(1), Article 1812. https://doi.org/10.1186/s12889-024-19295-y

Dimas Mahendra Gautama 24310410024 - Psi Inovasi - Esai 1 Meringkas Jurnal Entrepreneurship

 

Peningkatan Kompetensi Kewirausahaan melalui Pelatihan Berbasis Potensi Lokal

Dimas Mahendra Gautama (24310410024)

Kelas Karyawan

Mata Kuliah Psikologi Lingkungan

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, MA

MERINGKAS JURNAL ENTREPRENEURSHIP

Topik

Entrepreneurship, Pelatihan Kewirausahaan Berbasis Potensi Lokal, Kompetensi Kewirausahaan

Sumber

Hidayat, D. (2014). Pengembangan Model Pelatihan Kewirausahaan Berbasis Potensi Lokal dalam Meningkatkan Kompetensi Kewirausahaan Warga Belajar Keaksaraan Usaha Mandiri (KUM) di Kabupaten Karawang (April 2014). Jurnal Penelitian Pendidikan, 14(1), 8–16. DOI: 10.17509/jpp.v14i1.3208.

Permasalahan

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kompetensi kewirausahaan warga belajar Keaksaraan Usaha Mandiri (KUM) di Kabupaten Karawang. Sebelum pelatihan, mayoritas peserta berada pada kategori kurang baik, yaitu 76,87% pada aspek pengetahuan, 82,71% pada sikap, dan 84,63% pada keterampilan kewirausahaan. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya model pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan serta potensi masyarakat setempat. Variabel dependen atau hasil utama yang hendak ditingkatkan adalah kompetensi kewirausahaan warga belajar KUM, yang mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan kewirausahaan.

Tujuan Penelitian

Penelitian bertujuan mengembangkan model pelatihan kewirausahaan berbasis potensi lokal untuk meningkatkan kompetensi kewirausahaan warga belajar KUM. Peneliti juga mengkaji kondisi program, kondisi awal kompetensi peserta, konsep dan implementasi model, serta efektivitasnya setelah diterapkan di Kabupaten Karawang.

Isi

Model pelatihan memanfaatkan kebutuhan, sumber daya, pelaku, serta karakter lingkungan lokal. Materi diarahkan pada peningkatan pengetahuan, sikap, dan keterampilan berwirausaha, kemudian disusun dalam kurikulum sekitar 30% teori dan 70% praktik serta implementasi. Strategi pembelajaran bersifat partisipatif dan melibatkan tutor sebaya untuk membantu keterbatasan sumber belajar sekaligus memberikan pendampingan. Warga belajar ditempatkan sebagai peserta aktif, bukan sekadar penerima materi. Mitra kerja dan mitra usaha juga dilibatkan agar peserta memperoleh dukungan dalam mengembangkan usaha yang sesuai dengan potensi ekonomi lingkungannya.

Metode

Penelitian menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan tahapan yang mengacu pada Borg dan Gall. Prosesnya meliputi pengumpulan informasi, perencanaan, pengembangan rancangan produk, penyusunan instrumen evaluasi, uji coba lapangan, revisi, penyempurnaan produk, implementasi, dan diseminasi. Model dikembangkan berdasarkan identifikasi kebutuhan belajar dan potensi lokal. Efektivitasnya diuji dengan membandingkan kompetensi sebelum dan sesudah pelatihan. Data dari 100 warga belajar KUM dianalisis untuk melihat perubahan aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan kewirausahaan.

Hasil

Hasil menunjukkan model pelatihan berbasis potensi lokal efektif meningkatkan seluruh aspek kompetensi kewirausahaan. Nilai setelah pelatihan lebih tinggi daripada sebelum pelatihan. Pada aspek pengetahuan diperoleh Asymp. Sig. 0,000 dengan Z 8,692; aspek sikap memperoleh 0,000 dengan Z 8,688; dan aspek keterampilan memperoleh 0,000 dengan Z 8,711. Seluruh nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05, sehingga H0 ditolak dan terdapat perbedaan signifikan antara kompetensi sebelum dan sesudah pelatihan. Dengan demikian, pengetahuan, sikap, dan keterampilan peserta mengalami peningkatan.

Diskusi

Temuan memperlihatkan bahwa pelatihan kewirausahaan lebih efektif ketika isi dan prosesnya dekat dengan kebutuhan nyata peserta. Pemanfaatan potensi lokal membuat materi terhubung dengan sumber daya, kegiatan usaha, dan peluang di lingkungan masyarakat. Dominasi praktik, keterlibatan aktif warga belajar, tutor sebaya, serta dukungan mitra memperkuat proses belajar dan pendampingan. Model ini relevan bagi pengembangan kewirausahaan masyarakat karena peningkatan kompetensi tidak hanya diarahkan pada pengetahuan, tetapi juga pada sikap dan keterampilan untuk menjalankan serta mengembangkan usaha secara mandiri.

 

DAFTAR PUSTAKA

Hidayat, D. (2014). Pengembangan model pelatihan kewirausahaan berbasis potensi lokal dalam meningkatkan kompetensi kewirausahaan warga belajar Keaksaraan Usaha Mandiri (KUM) di Kabupaten Karawang. Jurnal Penelitian Pendidikan, 14(1), 8–16. https://doi.org/10.17509/jpp.v14i1.3208

Cindy Auriliya Fikri Andani (24310410023) - ESAI 2 Wawancara Tentang Disonansi Kognitif - Psikologi Inovasi

Ketika Pengetahuan Tidak Mengubah Kebiasaan Merokok: Disonansi Kognitif pada Anggota Detasemen Gegana

Cindy Auriliya Fikri Andani

NIM 24310410023

Kelas Karyawan (B)

Mata Kuliah Psikologi Inovasi

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, MA

ESAI 2 – WAWANCARA TENTANG DISONANSI KOGNITIF

Pengetahuan tentang bahaya merokok tidak selalu membuat seseorang meninggalkan rokok. Kondisi tersebut menunjukkan disonansi kognitif yaitu pertentangan antara hal yang diyakini dan tindakan yang tetap dilakukan. Persoalan ini terlihat pada kebiasaan AS yang merupakan anggota Detasemen Gegana dan seorang perokok aktif. Pembahasan ini menempatkan perilaku merokok sebagai masalah perubahan diri karena pengetahuan yang benar belum tentu menghasilkan keputusan yang sesuai. Perokok dapat memahami risiko kesehatan sekaligus menyusun alasan agar kebiasaannya terasa wajar (Aqila, 2024). Pola tersebut menjadi dasar untuk memahami cara AS mempertahankan perilakunya.

Wawancara dengan AS berlangsung di Lapangan Tembak. AS memiliki kebiasaan menghabiskan sekitar satu bungkus rokok setiap hari. Dalam percakapan mengenai pengetahuan kesehatan AS menyatakan, “Bahaya merokok sudah jelas dan risiko penyakitnya juga saya sudah tahu.” Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan utama bukan ketiadaan informasi. AS mengetahui akibat yang mungkin muncul tetapi belum menjadikan informasi tersebut sebagai alasan kuat untuk berhenti. Perokok dapat mempertahankan kebiasaannya melalui keyakinan yang mengurangi rasa tidak nyaman akibat pertentangan antara pengetahuan dan tindakan (Sidhu et al., 2022).

Mekanisme pertahanan diri pertama berupa rasionalisasi. AS memberikan alasan yang membuat rokok terlihat bermanfaat ketika menyatakan, “Rokok membantu menenangkan pikiran setelah kegiatan yang menguras tenaga.” Melalui kalimat itu AS mengutamakan manfaat sesaat daripada risiko jangka panjang. Mekanisme kedua berupa pengecilan risiko. AS menyatakan, “Satu bungkus memang banyak tetapi kondisi tubuh masih kuat dan aktivitas tetap berjalan.” Kalimat tersebut mengalihkan penilaian dari bahaya rokok menuju kemampuan fisik yang dirasakan saat ini. Keyakinan tentang manfaat rokok dan pembenaran pribadi berkaitan dengan motivasi untuk berhenti sehingga kedua alasan tersebut perlu diperhatikan (Zhang et al., 2024).

Mekanisme ketiga berupa penghindaran keputusan. AS mengatakan, “Mengurangi rokok bisa dipikirkan nanti setelah kegiatan lebih longgar.” Pernyataan tersebut menunjukkan cara menunda perubahan tanpa menolak pengetahuan tentang bahaya rokok. Penundaan membuat pertentangan dalam pikiran terasa lebih ringan karena tindakan nyata tidak perlu dilakukan sekarang. Hubungan antara disonansi kognitif perokok dan kehidupan usia produktif telah dibahas dalam penelitian terbaru (Ardhaniswari et al., 2024). Dalam kasus AS kebiasaan tersebut berpotensi menghambat upaya membangun pola hidup yang lebih sehat apabila alasan penundaan terus dipertahankan.

Dari sudut Psikologi Inovasi masalah AS bukan kekurangan ide melainkan penggunaan kreativitas untuk membuat pembenaran diri. AS mampu mencari alasan yang terdengar masuk akal tetapi belum mengarahkan kemampuan berpikir itu pada perubahan perilaku. Pertanyaan yang mendorong penilaian ulang dapat membantu mengurangi penolakan terhadap gagasan baru (Maaravi et al., 2023). AS dapat diajak menetapkan target pengurangan rokok yang terukur dan mengevaluasi alasan setiap kali keinginan merokok muncul. Perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten lebih mencerminkan inovasi pribadi daripada sekadar mengetahui risiko tanpa bertindak.

 

Daftar Pustaka :

Aqila, F. (2024). Analisis disonansi kognitif pada perokok perempuan di Jakarta. IKRA-ITH HUMANIORA: Jurnal Sosial dan Humaniora, 8(3), 185–195. https://doi.org/10.37817/ikraith-humaniora.v8i3.4196

Ardhaniswari, T., Ryansyah, G. A., Qotrunnada, G. A., & Safitri, D. (2024). Analisis disonansi kognitif perokok terhadap produktivitas di usia produktif. Communications, 6(2), 147–164. https://doi.org/10.21009/communications.6.2.3

Maaravi, Y., Hameiri, B., Gur, T., Heller, B., Confino, D., Amdor, H., & Levi, Y. (2023). Using leading questions to reduce resistance to innovation. Journal of Creativity, 33(3), Article 100067. https://doi.org/10.1016/j.yjoc.2023.100067

Sidhu, A. K., Pednekar, M. S., Fong, G. T., Gupta, P. C., Quah, A. C. K., Unger, J., Sussman, S., Sood, N., Wipfli, H., & Valente, T. (2022). Smoking-related psychosocial beliefs and justifications among smokers in India: Findings from Tobacco Control Policy (TCP) India Surveys. BMC Public Health, 22(1), Article 1738. https://doi.org/10.1186/s12889-022-14112-w

Zhang, D., Chen, W., Meng, X., Zhao, X., Liu, R., & Tian, H. (2024). Breaking down barriers: Rationalisations and motivation to stop among Chinese male smokers under cigarette dependence. BMC Public Health, 24(1), Article 1812. https://doi.org/10.1186/s12889-024-19295-y


ESAI 4 Peristiwa Menyakitkan: Kegagalan di Tes IPDN Situasi yang Membuat Stres



Baiq muthia syafitri 

24310410011

Dr. Arundita Shinta., M.A



Peristiwa Menyakitkan: Kegagalan di Tes IPDN

Situasi yang Membuat Stres

Peristiwa paling menyakitkan dalam hidup saya terjadi pada Mei 2024. Saat itu, saya mengikuti seleksi sekolah kedinasan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN). Saya sudah mempersiapkan diri, namun hasil Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) menyatakan saya gugur. Dari target 400 poin yang harus dicapai untuk aman, saya hanya memperoleh 380 poin. Kegagalan tersebut menjadi pukulan yang sangat berat. Rasa kecewa, sedih, dan putus asa membuat saya kehilangan tekad. Ketika orang tua mendorong saya untuk mendaftar dan mencoba kembali, saya menolak keras karena merasa mental saya sudah hancur dan tidak sanggat untuk melangkah lagi.

Proses Bangkit dan Coping Behavior

Keterpurukan tersebut berlangsung cukup lama hingga memasuki tahun 2026. Titik balik semangat saya bangkit kembali ketika menerima ejekan dan sikap merendahkan dari seorang oknum Tamtama Prada. Kata-kata yang meremehkan tersebut membakar harga diri saya. Daripada membiarkan rasa sakit hati melumpuhkan diri, saya memilih menggunakan strategi coping behavior berfokus pada tindakan konkret (problem-focused coping) yang dikombinasikan dengan pembuktian diri. Saya membuktikan bahwa cercaan tersebut justru menjadi bahan bakar terbesar untuk bangkit.

Langkah nyata yang paling saya banggakan dalam proses pemulihan ini meliputi:

  1. Disiplin Pembelajaran: Saya mengalihkan fokus target dari IPDN ke seleksi CPNS Kejaksaan. Saya secara konsisten membuka dan mempelajari kembali materi-materi di buku Kamus SKD.
  2. Perubahan Gaya Hidup: Saya membangun rutinitas baru dengan rajin bangun pagi, menjaga kebugaran fisik melalui olahraga teratur, serta menumbuhkan kegemaran baru membaca buku-buku sejarah untuk memperluas wawasan.

Rasa tidak terima diremehkan saya ubah menjadi dorongan positif untuk membuktikan bahwa saya mampu menyaingi mereka yang merendahkan, sekaligus mengangkat derajat kedua orang tua saya.

Hikmah (Reward) dari Peristiwa Menyakitkan

Hikmah terbesar dari kegagalan dan rasa sakit ini adalah terbentuknya mentalitas yang jauh lebih kuat dan tahan banting. Kegagalan di IPDN mengajarkan saya arti kerendahan hati, sedangkan ejekan yang diterima membentuk kedisiplinan dan ambisi yang terarah. Saya menyadari bahwa kegagalan di masa lalu bukanlah akhir dari segalanya, melainkan cara Tuhan mengalihkan saya ke jalan yang lebih tepat. Kini, dengan persiapan yang jauh lebih matang dan jiwa yang pantang menyerah, saya siap memperjuangkan seleksi CPNS Kejaksaan demi mewujudkan impian dan membanggakan orang tua pada tahun 2027.


ESAI 9 Trik Gampang Usir Malas Pakai Hitungan 5 Detik

 


Baiq muthia syafitri 

24310410011

Dr. Arundita Shinta., M.A



Trik Gampang Usir Malas Pakai Hitungan 5 Detik

Rasa malas sering kali menjadi musuh terbesar yang menghambat produktivitas harian kita. Situasi ini pasti pernah dialami hampir semua orang: kita tahu ada pekerjaan penting yang harus segera diselesaikan, tetapi tubuh rasanya sangat berat untuk beranjak. Kebanyakan dari kita akhirnya memilih tetap rebahan sambil menggulirkan layar ponsel tanpa henti. Untuk mengatasi masalah umum ini, saya berinisiatif mengadakan pelatihan praktis selama satu jam bersama enam orang teman dekat di rumah.

 

Dalam sesi tersebut, saya memperkenalkan teknik sederhana yang sangat ampuh, yaitu "Aturan 5 Detik". Cara kerjanya sangat simpel: ketika teringat akan suatu tugas yang harus dikerjakan, kita langsung berhitung mundur dalam hati atau bersuara "5-4-3-2-1", lalu seketika mengambil tindakan nyata dengan berdiri dan bergerak. Kunci utama trik ini adalah kecepatan bertindak tanpa memberi jeda. Jika memberi waktu jeda sedikit saja untuk berpikir, otak akan secara otomatis mencari alasan logis untuk kembali bermalas-malasan.

 

Acara dimulai dengan diskusi santai untuk menggali akar masalah rasa malas peserta. Sebagian besar teman mengakui bahwa hambatan terbesar bukanlah rumitnya tugas, melainkan kebiasaan terlalu lama menimbang-nimbang sebelum memulai. Ditambah godaan media sosial, pekerjaan yang seharusnya cepat selesai menjadi terbengkalai. Setelah peserta memahami konsep di balik teknik ini, kami berlanjut ke sesi praktik secara langsung.