27.10.26

ESAI KE - 4 : MY BEST COPING BEHAVIOR ( Heni Dwi Anggreani / 2531044001)

 


Heni Dwi Anggreani

25310440001

Kelas Psikologi Inovasi - B

Tugas Essai Ke- 4

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

( Oktober 2026)

 

Bangkit dari Kehilangan dan Mempertahankan Integritas dalam Kehidupan (Peristiwa Menyakitkan dan Proses Bangkit Kembali )

Salah satu pengalaman paling menyakitkan dalam hidup saya adalah kehilangan ayah pada tahun 2020, kemudian disusul kehilangan anak saya yang baru lahir pada tahun 2021. Dua peristiwa tersebut memberikan tekanan emosional yang sangat besar bagi saya. Saya merasa putus asa, kehilangan semangat, dan kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari. Saya lebih banyak ingin tidur, melamun, dan tidak memiliki motivasi untuk kembali bekerja. Pada saat itu, saya merasa kehilangan arah dan sulit membayangkan bagaimana saya dapat menjalani kehidupan seperti sebelumnya.

Situasi tersebut menjadi sumber stres yang memengaruhi kehidupan pribadi maupun pekerjaan saya. Namun, secara perlahan, saya mulai menyadari bahwa masih ada orang-orang yang membutuhkan kehadiran dan tanggung jawab saya. Saya masih memiliki seorang anak yang membutuhkan kasih sayang dan perhatian saya, serta ibu yang perlu saya bantu memenuhi kebutuhannya. Kesadaran tersebut menjadi titik awal bagi saya untuk kembali bangkit. Saya mulai meyakinkan diri bahwa saya harus kembali berjuang, bekerja, dan menjalankan kehidupan sehari-hari, meskipun rasa kehilangan itu tidak sepenuhnya hilang.

Coping behavior yang paling saya banggakan adalah kemampuan untuk menerima kenyataan, menguatkan diri melalui keyakinan kepada Allah, dan menemukan kembali tujuan hidup. Saya belajar bahwa tidak semua hal yang kita inginkan dapat terwujud sesuai harapan. Ada hal-hal yang berada di luar kendali manusia dan harus diterima sebagai bagian dari takdir. Penerimaan tersebut bukan berarti saya melupakan ayah dan anak saya, melainkan belajar melanjutkan kehidupan tanpa menyangkal kesedihan yang pernah saya alami. Saya juga mengingat tanggung jawab saya terhadap keluarga sebagai alasan untuk kembali beraktivitas dan bekerja.

Pengalaman tersebut kemudian memengaruhi cara saya menghadapi tekanan dalam pekerjaan sebagai seorang pengacara. Saya pernah merasa dilematis ketika berhadapan dengan praktik-praktik yang bertentangan dengan prinsip kejujuran dan hati nurani saya. Saya bahkan beberapa kali mempertimbangkan untuk meninggalkan profesi tersebut. Namun, dukungan suami membantu saya melihat bahwa saya masih dapat menjalankan profesi ini dengan mempertahankan integritas dan menunjukkan bahwa keberhasilan tidak harus diperoleh melalui kecurangan. Saya memilih untuk tetap berjuang sesuai prinsip yang saya yakini.

Hikmah yang saya peroleh adalah bahwa bangkit bukan berarti tidak pernah merasa sedih, kecewa, atau ingin menyerah. Bangkit berarti belajar menerima hal-hal yang tidak dapat diubah dan tetap berusaha memperbaiki hal-hal yang masih dapat kita kendalikan. Saya juga menyadari bahwa tekanan dapat mendorong saya untuk mengevaluasi cara berpikir dan menentukan langkah yang lebih sesuai dengan nilai-nilai pribadi. Hingga saat ini, saya merasa bangga karena dapat menjalankan profesi dengan integritas dan menangani perkara dengan hasil yang baik tanpa harus mengorbankan prinsip kejujuran. Bagi saya, keberhasilan bukan hanya tentang hasil yang dicapai, tetapi juga tentang cara mencapainya. Pengalaman ini mengajarkan saya untuk terus beradaptasi, mempertahankan prinsip, dan menemukan kekuatan untuk melanjutkan kehidupan meskipun tidak semua hal berjalan sesuai harapan.

 

Daftar Pustaka

Ø Lutfi, S. A., & Asyanti, S. (2023). Strategi spiritual coping pada remaja yang mengalami kedukaan. Jurnal Psikologi, 16(2), 112–125. https://eprints.ums.ac.id/116401/

Ø Putri, A. R., Kusuma, S. W., & Firmansyah, Y. (2026). Kode etik dan integritas profesi advokat: Hubungan antara etika, pengawasan, dan pembelaan diri dalam praktik hukum. Jurnal Mahasiswa Hukum, 1(1), 1–11.https://jumas.ourhope.biz.id/ojs/index.php/JM/article/view/183

Ø Winta, M. V. I., & Syafitri, A. K. (2015). Coping stress pada ibu yang mengalami kematian anak. Jurnal Psikologi Philanthropy, 1(1), 77–88.  (DOI: https://doi.org/10.26623/philanthropy.v3i1.1513 )

Esai 4 Psikologi Inovasi RAy Fransisca Marita Kusuma (24310410005) Kelas Karyawan Ibu Dr. Arundati Shinta., MA


My Best Coping Behavior  

 

 

Pengalaman Menghadapi Kegagalan dan Menemukan Makna di Baliknya

Oktober 2026 

Pada bulan Maret 2020, saya pernah mengalami pengalaman yang cukup berkesan dalam perjalanan karier saya. Saat itu, saya memiliki keinginan yang besar untuk bekerja di sebuah rumah produksi besar di Jakarta. Pekerjaan tersebut merupakan pekerjaan yang saya idam-idamkan karena sesuai dengan passion dan harapan saya pada saat itu. Saya memiliki harapan bahwa apabila berhasil diterima saya dapat mengembangkan kemampuan, memperoleh pengalaman baru, dan membangun karier sesuai dengan bidang yang saya sukai.
 
Namun, kenyataan tidak berjalan sesuai dengan harapan. Saya tidak berhasil diterima bekerja di perusahaan tersebut. Pada awalnya, tentu saja saya merasa kecewa karena kesempatan yang sudah saya harapkan ternyata belum menjadi milik saya. Saya harus menghadapi kenyataan bahwa keinginan untuk bekerja di tempat yang saya impikan tidak dapat terwujud pada saat itu. Pengalaman tersebut mengajarkan saya bahwa dalam kehidupan, tidak semua hal yang kita inginkan dapat diperoleh sesuai dengan waktu dan rencana yang telah kita susun.

Dalam menghadapi kekecewaan tersebut, saya berusaha menyesuaikan diri dengan keadaan dan tetap membuka diri terhadap kesempatan kerja lainnya. Saya tidak ingin terus-menerus larut dalam kegagalan karena saya menyadari bahwa masih ada peluang lain yang dapat saya perjuangkan. Akhirnya saya memperoleh pekerjaan di Yogyakarta. Meskipun pekerjaan tersebut tidak sepenuhnya sesuai dengan passion saya, saya mulai melihat bahwa pekerjaan ini memberikan banyak hal positif yang sebelumnya mungkin tidak saya pertimbangkan ketika terlalu berfokus pada pekerjaan impian di Jakarta.

Salah satu hal yang paling saya syukuri adalah kesempatan untuk tetap tinggal dekat dengan keluarga terutama ibu saya. Ayah saya telah meninggal dunia sehingga keberadaan ibu menjadi sangat berarti dalam kehidupan saya. Dengan bekerja di Yogyakarta, saya memiliki kesempatan untuk tetap dekat dengan ibu, mendampingi beliau, dan menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarga. Bagi saya, hal tersebut merupakan kebahagiaan yang tidak dapat diukur hanya dengan pencapaian karier.

Selain itu, saya juga mendapatkan lingkungan kerja yang nyaman dan rekan-rekan satu profesi yang sangat baik. Hubungan dengan rekan kerja yang positif membuat saya merasa diterima, dihargai, dan lebih nyaman dalam menjalankan pekerjaan. Saya menyadari bahwa lingkungan kerja yang sehat merupakan salah satu faktor penting yang memengaruhi kesejahteraan psikologis seseorang. Bekerja bukan hanya tentang melakukan pekerjaan sesuai minat tetapi juga tentang bagaimana kita dapat berkembang, membangun hubungan yang baik, dan merasakan kenyamanan dalam lingkungan kerja. Hal lain yang patut saya syukuri adalah penghasilan yang saya terima di Yogyakarta ternyata lebih besar dibandingkan dengan pekerjaan yang saya harapkan di Jakarta. 

Pengalaman ini membuat saya menyadari bahwa pekerjaan yang awalnya tidak sesuai dengan passion belum tentu memberikan hasil yang lebih buruk. Terkadang kesempatan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya justru memberikan manfaat yang lebih besar dalam aspek keuangan, hubungan sosial, dan kehidupan keluarga. 

Saya dahulu menganggap pekerjaan impian sebagai salah satu tujuan besar yang harus saya capai. Namun setelah menjalani pekerjaan di Yogyakarta, saya menyadari bahwa ada banyak bentuk keberhasilan yang dapat saya rasakan, seperti memiliki hubungan keluarga yang dekat, lingkungan kerja yang mendukung, penghasilan yang lebih baik, serta kesempatan untuk menjalani kehidupan dengan lebih nyaman. 

Pada akhirnya saya belajar untuk tidak menilai kegagalan hanya dari apa yang tidak berhasil saya dapatkan. Saya juga perlu melihat apa yang justru saya peroleh dari keadaan tersebut. Tidak diterima bekerja di rumah produksi besar di Jakarta memang membuat saya harus mengubah rencana tetapi pengalaman itu membuka jalan menuju pekerjaan yang memberikan manfaat dalam berbagai aspek kehidupan saya. 

Pengalaman tersebut mengajarkan saya bahwa menerima kenyataan bukan berarti menyerah terhadap impian. Saya tetap dapat mengembangkan diri, mencari peluang baru, dan mengejar passion melalui cara lain tanpa mengabaikan hal-hal yang berharga dalam kehidupan saya. Bagi saya, coping behavior bukan sekadar cara untuk mengurangi kekecewaan, melainkan proses belajar untuk beradaptasi, menemukan makna dan membangun kehidupan yang lebih baik dari keadaan yang awalnya tidak sesuai dengan harapan.

26.10.26

ESAI 9 Psikologi Inovasi Membangun Kesadaran dan Perubahan Perilaku Pekerja Lapangan Proyek dalam Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) melalui Pelatihan Keselamatan Kerja RAY FRANSISCA MARITA KUSUMA (24310410005) PSIKOLOGI LINGKUNGAN KELAS KARYAWAN Ibu Dr. Arundati Shinta., MA

Oktober 2026
Keselamatan kerja merupakan aspek penting dalam pelaksanaan proyek konstruksi. Pekerja lapangan menghadapi berbagai potensi bahaya, seperti tertimpa material, terjatuh, terkena benda tajam, serta risiko kecelakaan akibat penggunaan peralatan kerja. Oleh karena itu, penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) menjadi salah satu upaya untuk melindungi pekerja dari risiko kecelakaan dan cedera selama bekerja. Namun, dalam praktiknya, masih terdapat pekerja yang kurang disiplin dalam menggunakan APD. Sebagian pekerja menganggap penggunaan helm keselamatan, sepatu keselamatan, rompi reflektif, sarung tangan, dan perlengkapan lainnya sebagai sesuatu yang merepotkan atau menghambat pekerjaan. Kebiasaan tersebut menunjukkan bahwa penyediaan APD saja belum cukup. Diperlukan upaya untuk membangun kesadaran, mengubah pola pikir, dan membentuk kebiasaan kerja yang lebih aman.
Berdasarkan permasalahan tersebut, saya berinisiatif menyusun dan melaksanakan pelatihan yang bertujuan mendorong perubahan perilaku pekerja lapangan proyek agar lebih sadar dan disiplin dalam menggunakan APD. Pelatihan ini tidak hanya berfokus pada penyampaian informasi mengenai keselamatan kerja, tetapi juga pada pembentukan sikap dan kebiasaan positif yang dapat diterapkan dalam aktivitas kerja sehari-hari juga untuk meningkatkan pemahaman pekerja mengenai pentingnya penggunaan APD, mengenali risiko kecelakaan kerja, serta membangun kesadaran bahwa keselamatan merupakan tanggung jawab bersama. 

Secara khusus, pelatihan diharapkan dapat membantu pekerja untuk:
 1. Memahami fungsi dan manfaat setiap jenis APD sesuai dengan risiko pekerjaannya.
 2. Mengenali bahaya yang dapat terjadi apabila bekerja tanpa menggunakan APD. 
3. Mengubah pola pikir bahwa penggunaan APD bukan sekadar kewajiban atau aturan perusahaan, melainkan bentuk perlindungan terhadap diri sendiri dan rekan kerja. 
4. Membentuk kebiasaan menggunakan APD secara benar dan konsisten. 
5. Meningkatkan kepedulian ant pekerja untuk saling mengingatkan mengenai keselamatan kerja.
Materi pelatihan dirancang secara sederhana dan praktis agar mudah dipahami oleh pekerja lapangan yang memiliki pengalaman dan latar belakang pendidikan yang beragam. Materi pertama membahas pengertian K3, pentingnya keselamatan kerja, serta tanggung jawab pekerja dan perusahaan dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman. 
Peserta diajak memahami bahwa kecelakaan kerja dapat terjadi ketika risiko tidak dikenali atau prosedur keselamatan diabaikan juga diberikan penjelasan mengenai jenis APD yang digunakan sesuai dengan pekerjaan dan potensi bahaya di lapangan antara lain:
 - Helm keselamatan: melindungi kepala dari risiko benturan dan benda jatuh sesuai dengan spesifikasi helm.
 - Sepatu keselamatan: membantu melindungi kaki dari bahaya tertentu, seperti tertimpa benda atau tertusuk material, sesuai dengan jenis perlindungannya.
 - Rompi reflektif: meningkatkan keterlihatan pekerja, terutama di area dengan pergerakan kendaraan atau alat berat.
 - Sarung tangan kerja: melindungi tangan dari risiko tertentu sesuai dengan jenis pekerjaan. 
- Kacamata pelindung: melindungi mata dari debu, serpihan, atau percikan sesuai dengan risiko pekerjaan. 
- Pelindung pendengaran dan perlindungan pernapasan: digunakan apabila terdapat paparan kebisingan atau kontaminan yang memerlukan perlindungan khusus.
 - Sabuk pengaman atau sistem penahan jatuh: digunakan untuk pekerjaan di ketinggian sesuai prosedur dan sistem perlindungan yang berlaku.
 
Selain mengenali jenis APD, peserta juga diberikan pemahaman mengenai cara pemakaian, pemeriksaan kondisi, perawatan, dan penyimpanan APD dengan benar. Pada materi ini, peserta diajak mengenali konsekuensi yang dapat terjadi ketika APD tidak digunakan. Dampak tersebut dapat berupa cedera, terganggunya aktivitas pekerjaan, kerugian bagi pekerja dan keluarga, serta keterlambatan penyelesaian proyek. Penyampaian materi dilakukan dengan contoh situasi yang dekat dengan aktivitas sehari-hari di lapangan agar peserta lebih mudah memahami hubungan antara perilaku kerja dan risiko kecelakaan. 

Materi berikutnya berfokus pada perubahan perilaku. Pekerja diajak memahami bahwa kebiasaan tidak menggunakan APD dapat terbentuk karena merasa sudah berpengalaman, terburu-buru, tidak nyaman, atau menganggap risiko kecelakaan kecil. Melalui diskusi, peserta diajak mengidentifikasi alasan mereka terkadang tidak menggunakan APD dan mencari solusi yang sesuai. Misalnya, memastikan APD tersedia dalam ukuran yang tepat, memeriksa kelayakannya, melakukan pemeriksaan sebelum bekerja, dan saling mengingatkan dengan cara yang sopan. Pelatihan dilengkapi dengan demonstrasi langsung mengenai cara menggunakan dan memeriksa APD. Peserta diminta mempraktikkan pemakaian APD sesuai dengan jenis pekerjaannya. Instruktur kemudian memberikan koreksi apabila terdapat cara penggunaan yang kurang tepat.
Setelah penyampaian materi, peserta mengikuti praktik penggunaan APD. Pada akhir pelatihan, dilakukan tanya jawab dan penguatan komitmen untuk menerapkan kebiasaan kerja yang lebih aman. Untuk mendukung perubahan perilaku dalam jangka panjang, pelatihan perlu dilanjutkan dengan pengawasan yang konsisten, ketersediaan APD yang layak, keteladanan dari pengawas proyek, serta evaluasi kepatuhan penggunaan APD secara berkala. 

Melalui diskusi, saya dapat mengetahui bahwa perilaku tidak menggunakan APD tidak selalu disebabkan oleh ketidakpedulian. Ada pula faktor kebiasaan, ketidaknyamanan, keterbatasan pemahaman, dan tekanan untuk menyelesaikan pekerjaan dengan cepat. Pengalaman tersebut memberikan pelajaran bahwa perubahan perilaku tidak cukup dilakukan melalui teguran atau pemberian aturan. Pekerja juga perlu diberikan penjelasan yang dapat mereka pahami, kesempatan menyampaikan kendala, dan dukungan untuk membangun kebiasaan yang lebih aman. Dengan pendekatan yang tepat, pelatihan diharapkan dapat membantu membangun budaya keselamatan di lingkungan proyek konstruksi. Keselamatan bukan hanya kewajiban administratif, melainkan bagian penting dari upaya menjaga kesehatan, produktivitas, dan kesejahteraan pekerja.

25.10.26

Psi Inovasi - Esai 2 – Wawancara Disonansi Kognitif - Dr. A. Shinta, M. A – Kelas B – 25 Oktober 2026 - Hana Fardilla (24310410048)

 Smoking and Sporting: the cigarettes vs the finish line

Hana Fardilla – 24310410048 – Psikologi Kelas Karyawan
Psikologi Inovasi - Esai 2 -  Dr. A. Shinta, M. A
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta

    Adik saya dan teman-temannya hampir jogging setiap pagi, pukul 5 pagi mereka berkumpul di depan rumah kami. Saya bertanya pada adik saya apakah dia dan teman-temannya ingin ikut lomba marathon, adik saya bilang tidak, tapi temannya ber-inisial R berencanya untuk ikut marathon dan sedang membiasakan dan mempersiapkan diri.

    Saya memperhatikan mereka mulai lari di jam 6 pagi, di jam 5 mereka datang satu persatu sambil menunggu teman mereka yang lain, sembari menunggu, mereka mengabiskan waktu dengan merokok. Mereka biasanya selesai cukup cepat, jam 8 biasanya sudah kembali, dan setelah minum mereka juga kembali merokok sebelum pulang. Related dengan tugas ini, saya meminta izin R untuk bertanya terkait hobby-nya, keinginannya untuk ikut marathon, dan kebiasaannya untuk merokok.

    Inisial narasumber saya bernama R, berumur 22 tahun, dan merupakan mahasiswa semester akhir di kampus yang sama dengan adik saya. Ia juga berasal dari Kalimantan, sama seperti kami. R menceritakan bahwa ia melakukan jogging sudah lama, dulu setidaknya 5x dalam seminggu dengan jarak singkat 4 sampai 5 km, dengan goals menurunkan berat badan, dan seiring berjalannya waktu ia melakukan jogging setiap hari dan dengan maraknya event marathon, R juga ingin mencoba ikut.

   Saya bertanya pada R apakah dia memang suka olahraga dan dia menjawab “Betul mbak,” sambil memegang rokok yang tidak dia nyalakan. Saya bertanya lagi to-the-point, “Tapi masnya ngerokok ya?” Dia tersenyum kaku dan menjawab “Iya.”

Saat itu saya merasa bahwa R mungkin kurang nyaman dengan pertanyaan saya, meski pun di awal sudah diinfokan bahwa saya ingin bertanya terkait kebiasaannya olahraga dan merokok, tapi tentu saja saat proses berlangsung, perasaan orang mungkin akan berubah. Saya mencoba mengubah pertanyaan saya, “Mas pernah nggak merasa sesak gitu saat jogging?” Ia menjawab pernah, dan saya bertanya lagi, “Pernah kepikiran kalau ini bisa menganggu hobi olahraga mas ndak?” R terlihat berpikir sejenak lalu menjawab, “Mungkin karena sudah terbiasa ya mbak, saya kalau tidak merokok rasanya malah kaya ada yang kurang.” Saya bertanya lagi apa yang dirasa kurang, dan R menjawab “Kaya kurang semangat aja gitu mbak. Sama kan kaya pas naik gunung, temen-temen juga tuh pas naik gunung sambil ngerokok, soalnya rasanya lebih semangat,” ujarnya sambil tersenyum awkward. Saya bertanya lagi, “Pernah ndak mas, kaya merasa nafasnya sesak gitu pas habis ngerokok, terus lari?” R menjawab tidak pernah, dan mengulang kembali bagaimana perasaannya saat tidak merokok, dia menyebutkan rasanya gelisah dan kurang bersemangat.

 


    Secara pribadi, saya tidak bisa mengatakan bahwa ada disonansi kognisi dalam cara R berperilaku. Merujuk kepada teori Festinger (1957), disonansi kognitif adalah saat seseorang merasa tidak nyaman dengan ketidak-konsistenan antara pemikiran dan perilaku. Memang benar pada kasus R, dia berpikir ingin hidup sehat, tetapi dia masih merokok, dan ini adalah 2 hal yang bertentangan. Namun dari percakapan yang kami lakukan, saya tidak merasa ada discomfort pada R, dia malah merasakan sebaliknya. Yang menurut saya muncul dalam percakapan, ada indikasi defensiveness yang terjadi, khususnya rationalization (Jones, 1980). Defense mechanism muncul saat seseorang ingin melindungi ego dari perasaan tidak nyaman, merujuk pada Anna Freud, 1936. Selain itu, kondisi ketergantungan nikotin juga bisa menjadi penyebab kebiasaan tersebut.

    Namun hal tersebut pun bukan hal yang dapat saya claim secara real karena hanya merupakan observasi sekilas dan waktu percakapan yang informal. Saya tidak menyalahkan kebiasaan R, banyak hal yang mungkin saya belum mengerti terkait dengan kondisi dan kebiasaannya, tidak juga saya menganggap dia bodoh karena olahraga tapi merokok, karena knowledge-behaviour gap sangat sering terjadi, dan alasannya juga bisa bermacam-macam. Nevertheless, saya menemukan insight baru, bahwa intensi dan pengetahuan seseorang tidak secara langsung dapat mengubah kebiasaannya, dengan demikian, harapannya saya dapat semakin bijak dalam mengindetifikasi sesuatu dan tidak mudah memberikan judgement untuk orang lain.

Reference:

  • Festinger, L. (1957). A Theory of Cognitive Dissonance. Stanford University Press.
  • Freud, A. (1966). The ego and the mechanisms of defense (Rev. ed.). International Universities Press
  • Jones, E. (1908). Rationalization in every-day life. The Journal of Abnormal Psychology, 3(3), 161–169. https://doi.org/10.1037/h0070692




Galuh Sekar Anindita 24310410027 - Psi Inovasi - Esai 2 Wawancara Tentang Disonansi Kognitif - Oktober 2026

 

DISONANSI KOGNITIF PADA PEROKOK: PEMBENARAN DIRI DAN HAMBATAN PERUBAHAN PERILAKU DALAM PERSPEKTIF PSIKOLOGI INOVASI

Galuh Sekar Anindita

NIM 24310410027

Kelas Karyawan

Mata Kuliah Psikologi Inovasi

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

 


ESAI 2 : WAWANCARA TENTANG DISONANSI KOGNITIF

   Disonansi kognitif merupakan kondisi ketika seseorang mengalami ketidaksesuaian antara pengetahuan, keyakinan, dan perilakunya sehingga menimbulkan ketidaknyamanan psikologis. Menurut Festinger (1957), seseorang cenderung berusaha mengurangi ketidaknyamanan tersebut dengan mengubah keyakinan atau perilakunya, maupun mencari alasan untuk membenarkan tindakan yang dilakukan. Contohnya, seorang perokok mengetahui bahwa rokok berbahaya bagi kesehatan, tetapi tetap merokok karena merasa sudah terbiasa dan sulit berhenti. Untuk memahami hal ini, saya melakukan wawancara dengan seseorang berinisial SA di halaman kantor. Wawancara ini bertujuan mengetahui alasan seseorang tetap merokok meskipun sudah memahami dampak buruknya bagi kesehatan.

     Saat ditanya mengenai bahaya rokok, SA mengatakan, “Saya tahu rokok itu tidak baik untuk kesehatan, tetapi saya sudah terbiasa dan sulit kalau harus berhenti.” Dari jawaban tersebut, terlihat bahwa SA sebenarnya memahami risiko merokok, tetapi belum mampu meninggalkan kebiasaannya. Pengetahuan yang dimiliki belum diterapkan dalam kehidupan sehari-hari karena kebiasaan merokok sudah terasa sulit untuk dilepaskan.

        Salah satu mekanisme pertahanan diri yang terlihat adalah rasionalisasi, yaitu mencari alasan untuk membenarkan perilaku sendiri. Hal ini terlihat dari pernyataan SA, “Saya merokok hanya untuk menghilangkan stres setelah bekerja.” SA menganggap rokok dapat membantunya mengurangi stres sehingga memiliki alasan untuk tetap merokok. Dengan begitu, SA tidak perlu langsung menghadapi kenyataan bahwa kebiasaannya berisiko bagi kesehatan.

        Selain itu, terdapat kecenderungan mengabaikan risiko, seperti terlihat dalam pernyataan, “Banyak orang yang merokok tetap sehat dan bisa bekerja seperti biasa.” SA menggunakan kondisi orang lain sebagai alasan untuk mengurangi kekhawatirannya. Padahal, kondisi setiap orang berbeda dan dampak merokok tidak selalu langsung dirasakan.

       Jika dikaitkan dengan psikologi inovasi, keadaan ini menunjukkan bahwa seseorang terkadang sulit menerima perubahan meskipun sudah mengetahui manfaatnya. SA masih mempertahankan kebiasaan lama daripada mencoba cara lain untuk mengatasi stres. Padahal, ia dapat mulai mencari kegiatan lain, seperti berolahraga atau melakukan hobi yang disukai.

       Dari wawancara ini, dapat dipahami bahwa mengetahui sesuatu yang benar belum tentu membuat seseorang langsung berubah. Selama seseorang masih memiliki alasan untuk membenarkan kebiasaannya, perubahan akan lebih sulit dilakukan. Karena itu, diperlukan kemauan untuk menyadari kesalahan, mengevaluasi diri, dan mencoba kebiasaan baru yang lebih baik.

 

DAFTAR PUSTAKA

Festinger, L. (1957). A theory of cognitive dissonance. Stanford University Press.

American Psychological Association. (n.d.). Cognitive dissonance theory. In APA Dictionary of Psychology. https://dictionary.apa.org/cognitive-dissonance-theory⁠

Cindy Auriliya Fikri Andani (24310410023) - ESAI 4 My Coping Behavior - Psikologi Inovasi

 

DUA KEGAGALAN MENGAJARKAN SAYA UNTUK BANGKIT

Cindy Auriliya Fikri Andani

NIM 24310410023

Kelas Karyawan (B)

Mata Kuliah Psikologi Inovasi

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, MA

ESAI 4 – MY BEST COPPING BEHAVIOR

Coping behavior merupakan usaha seseorang untuk menghadapi keadaan yang membuatnya stres. Cara yang dipilih setiap orang bisa berbeda, tetapi tujuannya sama, yaitu agar masalah dapat dihadapi dengan lebih baik. Cara menghadapi stres yang tepat juga membantu seseorang untuk tetap menjalani kegiatannya (Fitzgibbon & Murphy, 2023). Bagi saya, pengalaman gagal meraih cita-cita menjadi pelajaran penting tentang cara bangkit dan mencoba kembali.

Peristiwa paling menyakitkan dalam hidup saya terjadi pada tahun 2021. Pada Juni 2021, saya gagal dalam seleksi penerimaan anggota Polri di tahap terakhir, yaitu Sidang Akhir. Saya sangat sedih karena merasa sudah berusaha keras dan tinggal selangkah lagi menuju cita-cita. Saya kemudian mencoba kesempatan lain dengan mengikuti seleksi TNI Angkatan Udara. Namun, pada November 2021, saya kembali gagal di tahap terakhir daerah, yaitu Sidang Panlihda atau Pantukhir Daerah, sebelum mengikuti tes pusat.

Dua kegagalan tersebut membuat saya sangat stres. Hal yang paling berat adalah memikirkan harapan orang tua yang ingin melihat saya berhasil. Walaupun mereka mendukung saya, tetap ada rasa takut mengecewakan mereka. Saya juga lelah karena terus belajar, berlatih, dan mempersiapkan diri untuk seleksi. Kadang saya membandingkan hasil dengan usaha yang sudah dilakukan. Saya bertanya dalam hati apakah saya cukup mampu untuk mencoba lagi. Kegagalan pada tahap akhir terasa lebih menyakitkan karena harapan saya sudah sangat besar.

Berikut adalah coping behavior yang paling saya banggakan. Saya memilih untuk tidak berhenti hanya karena dua kali gagal. Setelah rasa kecewa mulai berkurang, saya mencoba melihat kegagalan sebagai bahan belajar, bukan bukti bahwa saya tidak mampu. Saya kembali belajar dan berlatih untuk menghadapi seleksi berikutnya. Saya juga berusaha menjaga semangat dengan berdoa serta mengingat tujuan awal saya. Penelitian menunjukkan bahwa keyakinan bahwa kemampuan bisa berkembang berkaitan dengan usaha memperbaiki keadaan saat menghadapi kegagalan (Tao et al., 2022). Bagi saya, cara ini penting karena saya tidak bisa mengubah hasil seleksi sebelumnya, tetapi masih bisa memperbaiki persiapan saya.

Saya tidak melewati masa sulit itu sendirian. Dukungan orang tua dan orang-orang terdekat membuat saya berani mencoba lagi. Dukungan sosial dapat membantu seseorang lebih kuat ketika menghadapi tekanan (Cao et al., 2024). Dengan semangat itu, saya mengikuti seleksi penerimaan anggota Polri kembali pada tahun 2022. Saya berusaha menjalani prosesnya dengan lebih tenang, sambil tetap belajar dan berlatih tanpa mudah menyerah.

Akhirnya, pada Juli 2022, saya berhasil lolos seleksi penerimaan anggota Polri. Itulah reward terbesar dari perjuangan saya. Saya belajar bahwa kegagalan bukan akhir dari cita-cita. Hikmah yang saya dapatkan adalah menjadi lebih sabar, berani mencoba lagi, dan mau memperbaiki diri. Bagi saya, pengalaman ini juga berkaitan dengan Psikologi Inovasi karena saya belajar mengubah cara menghadapi masalah, bukan hanya mengulang usaha tanpa belajar dari kegagalan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Cao, F., Li, J., Xin, W., & Cai, N. (2024). Impact of social support on the resilience of youth: Mediating effects of coping styles. Frontiers in Public Health, 12, 1331813. https://doi.org/10.3389/fpubh.2024.1331813

Fitzgibbon, K., & Murphy, K. D. (2023). Coping strategies of healthcare professional students for stress incurred during their studies: A literature review. Journal of Mental Health, 32(2), 492–503. https://doi.org/10.1080/09638237.2021.2022616

Tao, V. Y. K., Li, Y., & Wu, A. M. S. (2022). Incremental intelligence mindset, fear of failure, and academic coping. Journal of Pacific Rim Psychology, 16, 1–11. https://doi.org/10.1177/18344909221144703

Cindy Auriliya Fikri Andani (24310410023) - ESAI 3 Menjadi Suri Tauladan - Psikologi Inovasi

 

Menjadi Suri Tauladan melalui Kepekaan terhadap Perubahan dan Keberanian Berwirausaha

Cindy Auriliya Fikri Andani

NIM 24310410023

Kelas Karyawan (B)

Mata Kuliah Psikologi Inovasi

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, MA

ESAI 3 – MENJADI SURI TAULADAN

Menjadi suri tauladan di tengah perubahan tidak cukup hanya dengan memiliki banyak ide. Mahasiswa perlu mampu memahami masalah yang muncul dan berani mencoba solusi yang bermanfaat. Dua tips yang saling berhubungan adalah meningkatkan kepekaan terhadap perubahan dan melatih keberanian berwirausaha melalui percobaan kecil. Kepekaan membantu menemukan kebutuhan yang belum terpenuhi sedangkan jiwa kewirausahaan mendorong seseorang mengubah pengamatan menjadi tindakan. Kedua sikap tersebut penting agar mahasiswa tidak hanya mengikuti perkembangan zaman tetapi juga memberi contoh tentang cara menghadapi perubahan secara positif.

Tips pertama adalah membiasakan diri mengamati perubahan di lingkungan terdekat. Perubahan dapat terlihat dari kebiasaan belanja teman kampus dan penggunaan layanan digital hingga meningkatnya perhatian terhadap sampah. Setiap perubahan perlu dilihat sebagai petunjuk tentang kebutuhan manusia bukan semata peluang mendapatkan keuntungan. Penelitian menunjukkan bahwa kemampuan mahasiswa mengenali peluang usaha berkaitan dengan kepekaan membaca lingkungan dan kemampuan belajar serta membangun hubungan (Fei & Shuangyan, 2024). Pengamatan akan lebih berguna jika dilanjutkan dengan pertanyaan tentang masalah yang benar-benar ingin diselesaikan.

Langkah yang bisa dilakukan adalah mencatat tiga masalah yang sering ditemui selama satu minggu. Contohnya mahasiswa kesulitan mencari makanan terjangkau di sekitar kampus atau membutuhkan tempat membeli barang bekas yang masih layak pakai. Catatan itu kemudian diperiksa dengan bertanya langsung kepada beberapa orang yang mengalami masalah serupa. Media sosial juga dapat dipakai untuk memperhatikan kebutuhan konsumen selama informasi yang ditemukan tetap diperiksa. Penelitian menemukan hubungan positif antara pembelajaran kewirausahaan melalui media sosial dan kemampuan mengenali peluang pada mahasiswa (Aeni, 2025). Hasil pengamatan yang terkumpul menjadi dasar untuk memilih satu ide yang paling masuk akal.

Mengamati kebutuhan tidak berarti seluruh masalah harus dijadikan usaha. Keputusan yang baik juga memperhatikan dampak sosial dan lingkungan. Penelitian menunjukkan hubungan positif antara tanggung jawab sosial dan niat mahasiswa untuk menjalankan kewirausahaan hijau (Prayogo & Ongkowijoyo, 2024). Mahasiswa dapat mempertimbangkan ide seperti penjualan barang pakai ulang atau layanan pengurangan sampah kemasan. Gagasan seperti ini tetap membutuhkan penilaian biaya dan manfaat agar tidak berhenti sebagai keinginan baik. Sesudah masalah dipilih langkah selanjutnya adalah menguji apakah solusi memang dibutuhkan.

Tips kedua adalah mencoba ide usaha dalam skala kecil sebelum mengeluarkan banyak modal. Buku Leading Innovation menjelaskan pendekatan design thinking yang menempatkan pemahaman kebutuhan pengguna dan pengujian solusi sebagai bagian penting dari inovasi (Shields, 2023). Mahasiswa dapat memulai dengan contoh produk sederhana lalu meminta calon pengguna menilai manfaat dan kekurangannya. Misalnya layanan titip jual barang bekas dapat diuji kepada lima teman terlebih dahulu. Tanggapan mereka membantu menentukan perubahan yang diperlukan tanpa harus langsung membuka toko atau membeli stok besar.

Percobaan kecil juga melatih ketangguhan karena tanggapan konsumen tidak selalu sesuai harapan. Jika produk kurang diminati mahasiswa perlu mencari alasan yang jelas sebelum memutuskan melanjutkan atau mengubah konsepnya. Sikap ini lebih bermanfaat daripada mempertahankan gagasan hanya karena sudah telanjur dibuat. Penelitian menemukan potensi manfaat kehadiran teladan wirausaha berkelanjutan dalam kegiatan pendidikan terhadap pengembangan ide peserta (Diepolder et al., 2024). Artinya mahasiswa bisa belajar dari contoh orang yang terbuka terhadap masukan dan kemudian memperlihatkan sikap serupa saat bekerja bersama teman.

Kepekaan terhadap perubahan menjadi lebih berarti ketika ditindaklanjuti dengan percobaan yang bertanggung jawab. Mahasiswa dapat menjadi teladan dengan mendengarkan kebutuhan orang lain dan berani memperbaiki gagasan yang belum berhasil. Hasil usaha tidak harus langsung besar karena pengalaman memahami pelanggan dan mengatur risiko juga merupakan bentuk pencapaian. Dalam kegiatan kelompok mahasiswa yang bersedia menerima kritik dan membagi tugas secara adil dapat menumbuhkan keberanian bersama. Keteladanan seperti ini menunjukkan bahwa inovasi bukan sekadar mencari keuntungan melainkan proses belajar untuk menghadirkan solusi yang berguna bagi lingkungan sekitar.

 

Link Youtube

Video 1 :

https://youtu.be/e3R1mJfEPVk?si=H1X7JXT5bG3uW_Xg

Video 2 :

https://youtu.be/w5xQkcPI_so?si=9LteZyLIFKq_0RbO

 

Daftar Pustaka

Aeni, C. (2025). Social media-based entrepreneurial learning and its impact on opportunity recognition and business model innovation: Evidence from university students in Indonesia. AL-ISHLAH: Jurnal Pendidikan, 17(4), 6536–6553. https://doi.org/10.35445/alishlah.v17i4.9068

Diepolder, C. S., Weitzel, H., & Huwer, J. (2024). Exploring the impact of sustainable entrepreneurial role models on students’ opportunity recognition for sustainable development in sustainable entrepreneurship education. Sustainability, 16(4), Article 1484. https://doi.org/10.3390/su16041484

Fei, W., & Shuangyan, X. (2024). Structural model and characteristics of entrepreneurial opportunity recognition abilities among university students in China: A grounded theory approach. Humanities and Social Sciences Communications, 11, Article 1166. https://doi.org/10.1057/s41599-024-03699-7

Prayogo, J. C., & Ongkowijoyo, G. (2024). Investigating university students’ green entrepreneurial intention: A pathway towards green economy. Jurnal Performa: Jurnal Manajemen dan Start-up Bisnis, 9(1), 40–62. https://doi.org/10.37715/jp.v9i1.4680

Shields, K. (2023). Leading innovation (2nd ed.). eCampusOntario. https://ecampusontario.pressbooks.pub/leadinginnovation2/