19.7.26

ESSAI 6 - PARTISIPASI LOMBA (PSIKOLOGI INOVASI)

Berani Keluar dari Zona Nyaman Melalui Partisipasi dalam Lomba Lari


Nama : Devi Nur Hasanah

NIM : 23310410117

Mata Kuliah : Psikologi Inovasi 

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta M.A.

Sejujurnya saya adalah seseorang yang sangat tidak menyukai olahraga. Selama ini saya lebih memilih menghabiskan waktu untuk kegiatan lain dibandingkan melakukan aktivitas fisik. Namun, sejak memasuki semester lima dan mempelajari mata kuliah Psikologi Inovasi bersama Bu Shinta, cara pandang saya mulai berubah. Berbagai tugas yang diberikan membuat saya menyadari bahwa inovasi tidak selalu berarti menciptakan sesuatu yang baru, tetapi juga keberanian untuk mengubah kebiasaan, mencoba pengalaman baru, dan keluar dari zona nyaman.

Menurut De Jong dan Den Hartog (2010), perilaku inovatif diawali oleh keberanian individu untuk mencoba hal-hal baru serta terbuka terhadap pengalaman yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Berangkat dari pemahaman tersebut, saya memutuskan untuk menantang diri sendiri dengan mengikuti lomba lari untuk memenuhi tugas, sesuatu yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan akan saya lakukan. Dukungan dari teman-teman juga membuat saya semakin yakin bahwa saya mampu menyelesaikan tantangan tersebut.

  1. Event pertama yang saya ikuti adalah Jogja Run D-City pada tanggal 24 Mei 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas UGM. Bagi saya, event ini menjadi pengalaman yang sangat berkesan karena merupakan lomba lari pertama yang saya ikuti. Menjelang acara, saya sempat merasa kecewa karena pada H-1 diketahui bahwa nama saya tidak tercantum pada BIB akibat kesalahan dari pihak penyelenggara. Tapi kekecewaan saya sangat terobati karena sebelum lomba juga terdapat festival musik yang menghadirkan band favorit saya, yaitu Juicy Luicy. Saya juga berkesempatan menikmati penampilan mereka bersama Mbak Gunarti. Rasanya sangat membahagiakan bisa menonton langsung band yang lagunya saya putar tiap hari di kantor.

Keesokan paginya saya memulai lomba pada pukul 05.45 WIB. Bersama Mbak Gunarti, Mbak Diah, Brigita, dan Mas Adit, saya berhasil menyelesaikan kategori 5 kilometer dengan baik. Walaupun sangat jauh jika dibandingkan dengan pelari profesional, saya merasa sangat bangga karena mampu melawan rasa malas dan keraguan yang selama ini menghambat saya untuk mencoba olahraga. Bagi saya pribadi, kemenangan terbesar bukanlah memperoleh medalinya, melainkan berhasil mengalahkan batas yang ada di kepala saya sendiri.


*Dokumentasi event pertama


  1. Pengalaman kedua saya adalah mengikuti The Lilliput Family Fun Run pada tanggal 20 Juni 2026 di Gedung TCKN. Berbeda dengan event sebelumnya, suasana pada kegiatan ini lebih santai dan berorientasi pada kebersamaan keluarga. Saya mengikuti kategori 3 kilometer bersama Mbak Gunarti, Febri, dan Mbak Banun.

Meskipun jarak tempuhnya lebih pendek, tantangan yang saya hadapi justru terasa lebih berat karena telapak kaki saya masih mengalami bengkak dan nyeri setelah mengikuti event pertama. Saya tidak memaksakan diri untuk menjadi yang tercepat, melainkan fokus menikmati proses hingga mencapai garis akhir. Pengalaman tersebut mengajarkan saya bahwa keberanian bukan berarti tidak merasakan sakit atau takut, melainkan tetap melangkah dengan mempertimbangkan kondisi diri secara bijaksana. Dan saya merasa beruntung karena teman-teman saya sangat pengertian dengan mengurangi pace untuk menunggu saya.


*Dokumentasi event kedua


Melalui dua pengalaman tersebut, saya menyadari bahwa inovasi sering kali dimulai dari perubahan kecil dalam diri sendiri. Saya belajar untuk lebih terbuka terhadap pengalaman baru, berani mengambil tantangan, dan tidak membatasi diri hanya karena merasa "bukan tipe orang yang suka olahraga". Pengalaman mengikuti lomba lari juga meningkatkan kepercayaan diri saya bahwa kemampuan seseorang dapat berkembang apabila ia bersedia mencoba dan terus belajar.

Saya percaya bahwa keluar dari zona nyaman adalah salah satu bentuk inovasi dalam kehidupan sehari-hari. Sepertinya tidak semua perubahan harus bersifat besar. Terkadang, keputusan sederhana untuk mencoba sesuatu yang belum pernah dilakukan justru menjadi awal dari berkembangnya potensi diri. 


Daftar Pustaka

De Jong, J., & Den Hartog, D. (2010). Measuring Innovative Work Behaviour. Creativity and Innovation Management, 19(1), 23–36.



Esai 5 Berperilaku inovatif - Psikologi Inovasi – Dr. Arundati Shinta - SPSJ - Juli 2026 - Itsnaini Latifatur Rohmah (24310440001)

 

Pemanfaatan Baju Bekas Menjadi Gantungan Kunci Kreatif

Bernilai Ekonomis


Itsnaini Latifatur Rohmah

(24310440001)

Fakultas Psikologi Proklamasi 45

Yogyakarta



Dalam kehidupan sehari-hari, saya sering menemukan pakaian yang sudah tidak terpakai lagi tetapi kondisinya masih cukup baik. Biasanya pakaian tersebut hanya disimpan di lemari atau bahkan dibuang begitu saja. Padahal, jika dimanfaatkan dengan kreativitas, baju bekas masih dapat diolah menjadi berbagai kerajinan yang menarik dan memiliki nilai jual. Oleh karena itu, pada tugas ini saya mencoba membuat gantungan kunci dari kain perca yang berasal dari baju bekas sebagai salah satu bentuk pemanfaatan limbah tekstil sekaligus melatih kreativitas.  Link YouTube

Saya memilih membuat gantungan kunci karena proses pembuatannya cukup sederhana, bahan yang dibutuhkan mudah diperoleh, dan hasilnya dapat digunakan sebagai aksesori tas maupun kunci kendaraan. Selain itu, produk ini juga memiliki peluang untuk dijual sebagai souvenir atau hadiah. Melalui kegiatan ini saya belajar bahwa barang bekas tidak selalu menjadi sampah, tetapi masih dapat dimanfaatkan kembali menjadi produk yang memiliki fungsi dan nilai ekonomi apabila diolah dengan ide yang kreatif.

Dalam proses pembuatannya, saya menggunakan kain dari baju bekas yang dipadukan dengan lem tembak sebagai bahan utama. Agar hasilnya lebih menarik, saya memilih kain dengan warna dan motif yang masih bagus. Meskipun terlihat sederhana, pembuatan gantungan kunci membutuhkan ketelitian, terutama saat memotong pola, menyusun bagian-bagian kain, dan merekatkannya agar hasil akhirnya rapi. Kegiatan ini juga melatih kesabaran karena setiap tahap harus dilakukan dengan hati-hati agar produk yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik.

Langkah-langkah Pembuatan:

  1. Menyiapkan baju bekas atau kain perca yang masih layak digunakan.
  2. Membuat pola sesuai bentuk gantungan kunci yang diinginkan.
  3. Memotong kain mengikuti pola sebanyak dua bagian.
  4. Merekatkan atau menjahit kedua bagian kain, kemudian menyisakan sedikit celah.
  5. Mengisi bagian dalam menggunakan dakron atau kapas agar bentuknya lebih padat.
  6. Menutup seluruh bagian hingga rapi menggunakan lem tembak atau jahitan.
  7. Menambahkan hiasan seperti pita, manik-manik, atau kancing agar tampil lebih menarik (opsional).
  8. Memasang ring gantungan kunci pada bagian atas.
  9. Merapikan sisa benang maupun lem sehingga hasil akhir terlihat lebih rapi.

Melalui kegiatan ini saya menyadari bahwa kreativitas tidak selalu membutuhkan bahan yang mahal. Dengan memanfaatkan baju bekas yang ada di rumah, saya dapat menghasilkan sebuah produk sederhana yang memiliki nilai guna sekaligus nilai jual. Selain mengurangi limbah tekstil, kegiatan ini juga memberikan pengalaman baru bagi saya untuk mengembangkan keterampilan membuat kerajinan tangan. Ke depannya saya ingin mencoba membuat variasi bentuk dan desain yang lebih menarik sehingga produk gantungan kunci ini dapat dipasarkan sebagai kerajinan handmade dengan harga yang terjangkau.

Produk gantungan kunci ini saya buat dalam tiga pilihan ukuran agar dapat disesuaikan dengan kebutuhan pembeli. Untuk ukuran kecil saya menetapkan harga sebesar Rp27.000, ukuran sedang Rp35.000, sedangkan ukuran besar dijual dengan harga Rp53.000 (Pre order dan bisa custom nama). Perbedaan harga tersebut disesuaikan dengan ukuran produk, jumlah bahan yang digunakan, tingkat kesulitan pembuatan, serta waktu yang dibutuhkan dalam proses pengerjaannya. Menurut saya, harga tersebut masih cukup terjangkau sehingga memiliki peluang untuk dipasarkan sebagai kerajinan tangan handmade yang unik dan ramah lingkungan.  LINK YouTube

Daftar Pustaka

Inoi. (2023). Gantungan Kunci dari Kain Perca (Tas) [Video]. YouTube. https://youtu.be/XUMr3CVPInc

ESAI 8 _ MY MOST ADMIRABLE ACCOMPLISHMENT ( SULASTRI)

 

My Most Admirable Accomplishment

Sulastri  (23310410122)

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta,M.A.

Mei 2026

 




Setiap orang menginginkan dirinya untuk selalu sukses. Dr. Angela Lee Duckworth: Sukses adalah kemampuan untuk memilih tujuan hidup yang bermakna dan berupaya mencapainya dengan konsistensi tinggi. Ini melibatkan ketekunan dan semang

at meskipun menghadapi rintangan
. Hal ini yang saya alami pada bulan Maret, April, Mei 2026. Dimana pada awal bulan Maret saya di tunjuk oleh kepala Sekolah saya untuk mengikuti sebuah lomba yang menurut say aitu sangat berat bagi saya karena saya belum pernah mengikuti lomba tersebut dan belum memiliki ilmunya untuk mengikuti lomba tersebut.

Namun karena saya ditunjuk dan diamanahi saya bismillah mencoba walaupun nanti berjalanya waktru bagimana saya belum tahu. Kemudian awal maret itu saya mulai memilih lombanya dan saya mengikuti yang penelitian Tindakan kelas ( PTK) dan saya mengambil judul tentang motoric halus anak yaitu menggunting garis lurus, karena dalam kelas saya terdapat beberapa anak yang mengalami kendala dalam motoric halus terutama menggunting. Hal ini yang saya angkat dari penelitian saya.

Saya memulai menulis dan pada awalnya saya belum tahu bagaimana cara menulis PTK itu kemudian saya bertanya kepada teman saya yang kebetulan juga ikut lomba tersebut. Jadi disekolah saya mengirim perwakilan 2 orang saya dan teman saya. Untuk teman saya mengangkat tentang sosial emosinya. Seiring berjalanya waktu saya menuliskan dari Bab pertama sampai Bab 2 kemudian saya berhenti pada bulan maret Akhir karena libur idhul fitri, karena saya perlu Tindakan dengan subyek anak – anak, sehingga saya menunggu sampai masuk sekolah Kembali. Dalam Tindakan ini saya mengambil dalam 2 siklus dan Alhamdulillah anak – anak juga kooperatif dan saya menyelesaikan penelitian saya sampai akhir dan pengolahan data selesai dan harus Upload pada 20 Mei 2026. Pada saat itu saya masih kurang Bab penutupan sehingga saya harus lembur disekolah sampai jam 11 malam. Dan selang seminggu terdapat informasi bahwasanaya tulisan saya lolos dan teman saya juga lolos sehingga harus mengikuti grand final dengan presentasi di depan juri. Pada saat  presentasi saya yang nomor 1 alhamdulillah berjalan dengan lancer dan pertanyaan dapat saya jawab pada saati itu perasaan saya  campur aduk. Bersyukur sudah sampai di titik itu apapun nanti hasilnya yang penting sudah berani. Dan setelah seminggu terdapat pengumunan pemenang, dan Alhamdulillahnya saya mendapat kan Juara 2 kategori PTK. Disitu saya tidak percaya seperti mimpi namun ini nyata, ternyata usaha saya selama ini tidak sia – sia, sudah dapat pengalaman, keberanian dan bonus juara juga, saya mengucapkan banyak terimkasih kepada keluarga saya, teman kerja saya, anak doidik saya, orang tua wali murid dan masih banyak lagi. Alhamdulillah setelah itu saya mulai percaya diri dan mulai mencoba mengikuti cabang – cabang lomba lainya.

Dari sini saya dapat menyimpulkan hikmanya, bahwasanya ketika kita ingin sukses, maka kita harus berani bertindak dan yakin pasti bisa, selalu optimis dan berusaha untuk melakukan yang terbaik. Ketika sukses tetap tawadhuk dabn kalaupun gagal harus berani mencoba lagi. Dan selalu meminta dukungan dan doa dari orang – orang sekitar kita, terutama kedua orangtua kita, supaya di mudahkan dalam perjalanannya nanti.

Link Youtube:

https://youtu.be/069ahOM-gI0?si=JGDQrJzdpYvPaBFU

 

Daftar Pustaka :

Duckworth, A. (2016). Grit: The Power of Passion and Perseverance. New York: Scribner.

 

ESAI 5 _ BERPERILAKU INOVATIF ( SULASTRI)

 

Berperilaku Inovatif

Kegiatan Upcycling Sampah Anorganik

Sulastri  (23310410122)

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta,M.A.

Mei 2026


 

Topik

Kegiatan Upcycling sampah Anorganik

Sumber

Barang/ sampah Anorganik

Deskripsi Kegiatan

Ø  Saat ini sampah yang ada di sekitar kita tak selamanya barang yang sudah kotor ataupun barang yang tidak berguna.

Ø  Mindset  seperti ini harus bisa segera tertangani sehingga menjadikan grow mindset, bahwasanya sampah juga bisa di daur ulang. Seperti halnya kain, botol plastic, kardus, kertas dan yang lainya.

Ø  Seperti halnya saat ini, saya seorang yang memiliki pekerjaan menjadi guru PAUD, dan pada saat melakukan kegiatan pertemuan sering menggunakan gelas plastik, gelas kertas untuk minum teh. Dan pada saat itu saya sangat menyayangkan sekali karena masih bagus selalu terbuang dengan sia – sia. Kemudian saya inisiatif saya kumpulkan dengan niatan awal untuk pembelajaran ketika di PAUD. Namun saat pada kesempatan lain waktu gelas kertas atau pun gelas plastik itu saya buat menjadi barang yang sangat cantik.

Ø  Dengan kegiatan ini saya mencoba untuk merubah gelas kertas/ plastik yang tadinya banyak terbuang menjadi sesuatu barang yang bermanfaat.

Ø  Disini saya menggunakan gelas plastic bekas untuk saya buat menjadi tempat pensil yang cantik.

Ø  Selain barang ini sangat gampang membuatnya, bahanya juga sangat terjangkau, supaya kita bisa meminimalisisr sampah gelas plasstik maupun sampah.

Ø  Tempat pensil dari sedotan bekas dan cup plastic bekas ini juga bernilai jual Rp. 5000

Ø  Alat dan bahan yang digunakan untuk membuat keranjang mini  :

1.    Gelas kertas atau plastik

2.    Gunting

3.    Lem tembak

4.    Hiasan  dari kertas manila

5.    Sedotan bekas

Ø  Langkah – Langkah pembuatanya :

1.    Menyiapkan gelas kertas atau gelas plastik bekas yang sudah dibersihkan.

2.    Menyiapkan sedotan, kertas manila, gunting, lem tembak.

3.    Menempelkan sedotan ke cup plastic dengan lem tembak sampai melingkar penuh.

4.    Kemudian potong bagian atas yang tersisa, dengan gunting.

5.    Berikan hiasan mememutar pada atas dan bawah cup supaya rapi dan menarik.

6.    Tempat pensil dari cup dan sedotan bekas siap dipakai.

Ø  Hasil karya ini saya buat Bersama anak didik saya disekolah, dan untuk dipakai dirumah masing - masing di rumah.( harapanya anak dapat mengenal bahwa sampah gelas kertas itu dapat di daur ulang menjadi barang yang bermanfaat dan cantik ).

Ø  Alhamdulillah melihat ekspresi dan respon anak – anak didik saya yang senang terhadap hasil buatanya mendaur ulang sampah, semoga menjadi jalan untuk anak bisa lebih kreatif dan senang dalam memilah sampah dan mendaur ulang menjadi barang yg lebih bermanfaat lagi.

 

Ø  Link penjualan di sosial media :

https://youtube.com/shorts/DsXO7xBz3jA?si=eT89LJUFw5iJ0AdQ

Ø  Daftar Pustaka :

Marliani, N. (2014). Pemanfaatan Limbah Rumah Tangga (Sampah Anorganik) Sebagai Bentuk Implementasi dari Pendidikan Lingkungan Hidup. Formatif, 4(2), 128.

 

 

 

 

  

 

17.7.26

16.7.26

Esai 8 My Most Admirable Accomplishment - Psikologi Inovasi - Dr. Arundati Shinta - SPSJ - Juli 2026 - Itsnaini Latifatur Rohmah (24310440001)

 

Pencapaian Diri yang Paling Berkesan Melalui Keberanian

Melawan Rasa Takut


Itsnaini Latifatur Rohmah

(24310440001)

Fakultas Psikologi Proklamasi 45

Yogyakarta

Bagi saya, pencapaian yang paling berkesan bukanlah ketika memperoleh piala atau penghargaan, melainkan ketika berhasil melawan ketakutan terbesar dalam diri sendiri. Sejak kecil saya memiliki kesulitan saat berbicara. Saya sering berbicara dengan terbata-bata, suara pelan, dan terlalu cepat sehingga orang lain sulit memahami apa yang saya sampaikan. Saya juga sering menerima komentar seperti, "Kalau ngomong yang jelas," atau "Jangan cepat-cepat, suaranya dikeraskan." Meskipun mungkin terdengar sederhana, komentar-komentar tersebut membuat saya tumbuh menjadi pribadi yang kurang percaya diri dan takut berbicara di depan banyak orang. Video di TikTok 

YouTube Ketika memasuki masa kuliah di Universitas Ahmad Dahlan (UAD), rasa takut tersebut masih saya rasakan. Setiap kali diminta menyampaikan pendapat di depan kelas, tubuh saya gemetar, jantung berdebar sangat kencang, suara menjadi tidak jelas, bahkan terkadang saya lupa dengan apa yang ingin saya sampaikan. Saat presentasi kelompok pun saya pernah mengalami blank meskipun materi presentasi saya sendiri yang menyusunnya. Akibatnya, saya hanya membaca isi slide tanpa mampu menjelaskan lebih lanjut. Kondisi tersebut membuat saya kecewa pada diri sendiri karena merasa tidak mampu mengungkapkan pikiran yang sebenarnya saya miliki.

Suatu hari saat mengikuti mata kuliah Bahasa Indonesia, dosen pengampu yang juga merupakan pembina tim debat UAD memperkenalkan berbagai prestasi mahasiswa dalam kompetisi debat tingkat nasional. Beliau menampilkan foto-foto para juara dan penerima penghargaan Best Speaker. Saat itulah saya membuat keputusan yang menurut saya sangat nekat. Setelah perkuliahan selesai, saya langsung menemui dosen tersebut dan mendaftarkan diri sebagai anggota tim debat, meskipun saya sadar bahwa berbicara di depan umum masih menjadi kelemahan terbesar saya.

Perjalanan mengikuti berbagai perlombaan tidak berjalan mudah. Setiap kali akan bertanding saya selalu merasa mual, sakit perut, berkeringat dingin, dan sangat gugup. Bahkan beberapa kali tim kami harus menerima kekalahan. Namun saya memilih untuk tetap berlatih dan terus mengikuti berbagai kompetisi sebagai bentuk latihan menghadapi rasa takut tersebut. Usaha tersebut akhirnya membuahkan hasil ketika tim saya berhasil meraih Juara 1 Lomba Debat Nasional Sharia Economic Festival (SEF) dengan tema Islamic Banking and Millennial Generation in Industry 4.0 yang diselenggarakan di Yogyakarta pada 18 November 2018.

Pengalaman yang paling tidak terlupakan terjadi ketika mengikuti Pekan Ilmiah Mahasiswa dan Pelajar Lomba Debat Nasional bertema Menumbuhkan Generasi 4C (Creative, Critical Thinking, Collaboration, Communicative) di Era Revolusi Industri 4.0 yang diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Surakarta pada 2 Oktober 2019. Saat itu tim saya tidak berhasil menjadi juara. Karena merasa sangat gugup selama perlombaan, saya bahkan tidak menyangka ketika diumumkan sebagai Best Speaker. Ketika nama saya dipanggil, saya sedang berada di kamar mandi karena mual. Setelah kembali ke ruangan, teman-teman memberikan ucapan selamat sambil menyerahkan piala dan sertifikat penghargaan. Saya sempat tidak percaya hingga melihat sendiri nama saya tertulis pada piagam penghargaan tersebut.

Bagi sebagian orang, berbicara di depan umum mungkin merupakan hal yang biasa. Namun bagi saya, pencapaian ini menjadi bukti bahwa rasa takut dapat diatasi apabila seseorang berani keluar dari zona nyaman dan terus berlatih. Pengalaman tersebut mengajarkan saya bahwa keberhasilan bukan hanya tentang memenangkan perlombaan, tetapi juga tentang keberanian untuk mengalahkan keterbatasan diri sendiri. Transformasi inilah yang menjadi pencapaian paling bermakna dalam hidup saya hingga saat ini.

Video di Tiktok
Video di YouTube

Esai 7 Lakukan Perubahan Diri - Psikologi Inovasi - Dr. Arundati Shinta - SPSJ - Juli 2026 - Itsnaini Latifatur Rohmah (24310440001)

 

Perubahan Diri Melalui Program Jogging Selama 10 Minggu

Itsnaini Latifatur Rohmah

(24310440001)

Fakultas Psikologi Proklamasi 45

Yogyakarta


Perubahan diri merupakan proses yang tidak dapat terjadi secara instan, tetapi membutuhkan komitmen, konsistensi, dan kemauan untuk terus berkembang. Dalam mata kuliah Psikologi Inovasi, saya mendapatkan tugas untuk melakukan perubahan diri melalui kegiatan olahraga secara rutin selama minimal 10 minggu di Stadion Maguwoharjo. Saya memilih jogging karena merupakan olahraga yang sederhana, mudah dilakukan, tidak membutuhkan biaya besar, serta dapat meningkatkan kebugaran fisik maupun kesehatan mental.  

Pada minggu pertama saya berhasil menyelesaikan jogging selama kurang lebih 60 menit dengan jarak tempuh sekitar 4,19 km. Memasuki minggu kedua kemampuan saya mulai meningkat menjadi sekitar 4,26 km. Peningkatan tersebut membuat saya lebih percaya diri untuk terus melanjutkan program hingga minggu-minggu berikutnya. Seiring berjalannya waktu, jarak tempuh saya juga mengalami peningkatan secara bertahap karena tubuh mulai beradaptasi dengan aktivitas olahraga yang dilakukan secara rutin. Saya merasakan tubuh menjadi lebih bugar, napas lebih teratur, dan aktivitas sehari-hari terasa lebih ringan dibandingkan sebelum memulai program ini.

Meskipun demikian, proses perubahan diri yang saya jalani tidak selalu berjalan mulus. Hambatan pertama yang sering saya alami adalah kondisi cuaca. Ketika hujan turun atau cuaca terlalu panas, muncul rasa malas untuk keluar rumah dan berolahraga. Selain itu, pada beberapa minggu saya mulai merasa bosan karena harus melakukan aktivitas yang sama secara berulang. Pikiran seperti "hari ini istirahat saja" atau "minggu depan saja diganti" beberapa kali muncul selama menjalankan program. Namun, saya berusaha mengingat kembali tujuan awal mengikuti program ini, yaitu melatih disiplin dan membentuk kebiasaan hidup sehat. Saya menyadari bahwa tantangan terbesar bukanlah olahraga itu sendiri, melainkan menjaga komitmen ketika motivasi mulai menurun.

Hambatan terbesar terjadi ketika memasuki minggu kesembilan. Pada saat itu kondisi tubuh saya menurun akibat padatnya aktivitas kuliah, pekerjaan, serta berbagai kegiatan organisasi yang saya jalani secara bersamaan. Akibat kelelahan, daya tahan tubuh saya menurun dan saya jatuh sakit sehingga tidak dapat melakukan jogging pada minggu tersebut. Awalnya saya merasa kecewa karena khawatir tidak mampu menyelesaikan target yang telah ditetapkan. Namun, saya memilih untuk memulihkan kondisi tubuh terlebih dahulu daripada memaksakan diri berolahraga. Setelah kondisi kesehatan kembali membaik pada minggu berikutnya, saya melanjutkan kembali program jogging hingga target 10 kali latihan berhasil diselesaikan. Dengan adanya satu minggu yang terlewati karena sakit, total waktu yang saya butuhkan untuk menyelesaikan program ini menjadi 11 minggu.

Pengalaman tersebut memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi saya. Saya menyadari bahwa perubahan diri bukan berarti harus berjalan sempurna tanpa hambatan. Dalam prosesnya, seseorang dapat mengalami penurunan motivasi, rasa bosan, bahkan kondisi kesehatan yang menghambat pencapaian target. Yang terpenting adalah memiliki kemauan untuk bangkit kembali setelah mengalami kendala. Menurut saya, inilah yang menjadi inti dari Psikologi Inovasi, yaitu kemampuan untuk beradaptasi, mengevaluasi diri, serta terus melakukan perbaikan meskipun menghadapi berbagai tantangan.

Melalui program jogging ini saya tidak hanya memperoleh manfaat berupa peningkatan kebugaran fisik, tetapi juga belajar mengenai pentingnya disiplin, manajemen waktu, dan konsistensi dalam mencapai tujuan. Saya berharap kebiasaan berolahraga tidak berhenti setelah tugas mata kuliah ini selesai, tetapi dapat menjadi bagian dari gaya hidup sehat yang saya lakukan secara berkelanjutan. Pengalaman ini juga membuat saya semakin percaya bahwa perubahan besar selalu diawali dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara terus-menerus.

Daftar Pustaka

McClelland, D. C. (1961). The Achieving Society. Princeton, NJ: Van Nostrand.

Wiseman, R. (2003). The Luck Factor: The Scientific Study of the Lucky Mind. London: Arrow Books.