ESSAY 6 : PARTISIPASI LOMBA
Menjemput
Sehat di Kota Gudeg: Cerita dari Garis Belakang Milo Fun Run dan Jogja 10K
Dosen
Pengampu: Dr., Dra. Arundati Shinta, MA.
Nama:
Cholifahtun Pratista Dewi
NIM:
23310410120
Fakultas
Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta
2026
Bagi sebagian orang, ajang lari
adalah panggung untuk memburu podium, memecahkan rekor waktu pribadi, atau
mengalungkan medali kemenangan. Namun bagi saya, berlari di Yogyakarta pada dua
bulan berturut-turut Milo ACTIV Indonesia Race pada akhir April dan Jogja 10K
pada awal Mei adalah tentang merayakan langkah kaki, menikmati atmosfer kota,
dan menuntaskan garis finish dengan senyuman, tanpa peduli di urutan
berapa saya mendarat.
Petualangan lari ini dimulai pada
akhir April di Jogja Expo Center (JEC) dalam gelaran Milo Fun Run. Sejak pagi buta,
JEC sudah berubah menjadi lautan warna hijau khas Milo. Ribuan pelari dari
berbagai usia, mulai dari anak-anak hingga lansia, berkumpul dengan satu energi
yang sama: bersenang-senang. Mengambil kategori 5K, saya sama sekali tidak
memasang target waktu. Benar saja, sepanjang rute, alih-alih fokus pada
kecepatan napas, saya justru larut dalam keseruan berinteraksi dengan sesama
pelari, berswafoto di photo booth unik di sepanjang jalan, dan
menyemangati anak-anak kecil yang berlari riang bersama orang tua mereka.
Memasuki garis finish, hadiah terbesar bagi saya bukanlah podium,
melainkan segelas es Milo dingin legendaris yang sukses menuntaskan dahaga
setelah berpeluh keringat.
Belum hilang rasa semarak dari
bulan April, awal Mei kembali memanggil saya ke aspal Yogyakarta, kali ini
melalui ajang Jogja 10K yang ikonik di sepanjang kawasan Malioboro. Jika Milo
Run terasa seperti pesta keluarga yang santai, Jogja 10K menawarkan sensasi sport
tourism yang kental dengan budaya. Berlari sejauh 10 kilometer melintasi
bangunan-bangunan bersejarah kota Jogja memberikan kepuasan tersendiri. Di rute
ini, saya berkali-kali disalip oleh para pelari cepat dan atlet profesional
yang melesat bagai anak panah. Alih-alih merasa minder, saya justru menikmati
ritme lari santai saya sambil mengagumi arsitektur kota yang dilewati.
Sorak-sorai warga lokal di pinggir jalan yang menyemangati para peserta menjadi
bahan bakar emosional yang luar biasa bagi para pelari di barisan belakang
seperti saya.
Melalui dua event besar di
Yogyakarta ini, saya belajar bahwa esensi dari fun run dan lari jalan
raya bukan melulu soal kompetisi. Berada di barisan tengah atau belakang tidak
mengurangi nilai dari medali finisher yang menggantung di leher.
Menuntaskan jarak 5K di bulan April dan bergerak naik ke 10K di bulan Mei
adalah kemenangan pribadi atas rasa malas diri sendiri. Yogyakarta, dengan
segala keramahan dan keindahan jalannya, telah sukses menjadi latar belakang yang
sempurna bagi saya untuk merayakan hidup sehat lewat cara yang paling
membahagiakan: berlari tanpa beban.






