28.5.26

Deltha Arthaliya - UTS Psi Inovasi - Arundati Shinta - Mei 2026

 Esai 9 - Ujian Tengah Semester Psikologi Inovasi

Deltha Arthaliya
243104302029
Dosen:Dr. Arundati Shinta, M.A.




AI dan Tantangan Membentuk Karakter Mahasiswa

Di era teknologi yang semakin berkembang dan melaju pesat, muncul dilema besar. Teknologi yang diharapkan dapat membantu memberikan kemudahan, seringkali disalah gunakan hingga membuat individu justru bergantung pada kecanggihannya. Sehingga muncul kreatifitas untuk menggunakan teknologi khususnya AI sebagai media instan dalam mengerjakan segala sesuatu. Padahal, tanpa disadari hal tersebut membuat kita sebagai manusia khususnya mahasiswa menjadi individu yang kurang memiliki pemikiran yang kritis. Teknologi sebaiknya dapat membantu proses berpikir, bukan menggantikan tanggung jawab intelektual manusia. Ketergantungan berlebihan membuat mahasiswa terbiasa mencari jawaban instan tanpa benar-benar memahami proses berpikirnya, sehingga kurang melatih kemampuan analisis, dan daya kritis dalam berpikir. Selain itu, ketergantungan pada AI dapat menurunkan tingkat kejujuran akademik mahasiswa, pasalnya fokus mereka hanya tertuju pada hasil akhir bukan pada proses belajar. 

Menurut saya apabila dihadapkan pada kondisi sebagai dosen dengan kondisi era teknologi yang berkembang pesat. Karena teknologi tidak dapat dicegah perkembangannya, sehingga saya akan beradaptasi, berpikir lebih kreatif dalam mengajar dan memberikan tugas. Misalnya, dengan memberikan tugas yang diarahkan pada pengalaman pribadi, observasi lapangan, diskusi kelompok, studi kasus sehingga mahasiswa tetap menggunakan pemikiran serta refleksi diri sendiri. Mengajarkan cara menggunakan AI dengan bijak. Supaya ada batasan yang jelas dan terarah, bagaimana menggunakan AI dan sebatas apa. Dengan demikian mahasiswa dapat memahami bahwa AI digunakan sebagai alat bantu bukan menggantikan proses memahami dan berpikir kritis. Jika diperlukan dapat memberikan sanksi yang bersifat mendidik, misal dengan membuat tulisan reflektif tentang kesalahan yang dilakukan. 

Pendidikan karakter di era perkembangan teknologi khususnya AI bukan melarang penggunaan teknologi tetapi membimbing individu khususnya mahasiswa agar tetap memiliki kesadaran, empati, kreativitas, dan moralitas. Sebagai dosen, saya mengambil peran bukan hanya sebagai pengajar ilmu pengetahuan, tetapi ingin menuntun pada nilai dan pembentukan karakter dengan menekankan bahwa teknologi dapat membantu setiap kita untuk menyelesaikan tugas dengan cepat, namun yang dapat menentukan kebijaksanaan sebagai manusia adalah karakter.


Hubungan Film "Billionaire Sons" dengan Materi Perkulihan Psikologi Inovasi

Materi Pertemuan ke-1 Zona nyaman, perubahan, adaptasi  Bagian film yang relevan adalah ketika ketiga anak miliarder dipaksa hidup hanya dengan uang sangat terbatas dan keluar dari zona nyaman mereka. Alasannya: Perubahan adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari dan individu harus berani berubah serta keluar dari zona nyaman. Dalam film ini menunjukkan bahwa situasi sulit memaksa seseorang menjadi lebih kreatif, berpikir kritis, dan menemukan cara bertahan hidup.

Materi Pertemuan ke-2 Cara Menghadapi Tekanan & Karakter Individu   Bagian film yang relevan adalah ketika masing-masing anak memiliki cara berbeda dalam menggunakan uang dan menghadapi tekanan hidup. Alasannya: Hal ini berhubungan dengan cara individu memandang masalah dan mengambil keputusan. Ada yang mudah menyerah, ada yang mencoba mencari peluang baru. Situasi sulit memperlihatkan karakter asli dan kemampuan adaptasi seseorang.

Maateri Pertemuan ke-3 Relasi Sosial & Belajar dari Lingkungan  Bagian film yang relevan adalah saat salah satu anak mulai belajar membangun relasi dengan orang lain dan tidak hanya bergantung pada kekayaan keluarganya. Alasannya: Perubahan diri tidak hanya soal kemampuan pribadi, tetapi juga kemampuan membangun relasi sosial dan belajar dari lingkungan. Ketika seseorang mau terbuka dan rendah hati, proses perubahan menjadi lebih mudah.

Materi Pertemuan ke-4 Entrepreneurship & melihat peluang  Bagian film yang relevan adalah ketika tokoh yang bertahan hidup mulai melihat peluang kecil untuk mendapatkan uang dan memenuhi kebutuhan hidupnya. Alasannya: Peluang sering muncul dalam situasi sulit. Individu yang inovatif tidak hanya mengeluh, tetapi mencoba menciptakan solusi dan memanfaatkan kesempatan kecil menjadi sesuatu yang bernilai.

Materi Pertemuan ke-5 Job-career-calling  Bagian film yang relevan adalah ketika tokoh utama mulai memahami bahwa bekerja bukan hanya tentang uang, tetapi juga tentang tanggung jawab dan makna hidup. Alasannya: Dalam film terlihat perubahan cara pandang dari hidup nyaman menjadi lebih menghargai proses kerja dan perjuangan orang lain.

Materi Pertemuan ke-6 Resiliensi & Ketekunan  Bagian film yang relevan adalah ketika salah satu anak tetap mencoba bertahan meskipun gagal dan mengalami kesulitan berulang kali. Alasannya: Perubahan dan keberhasilan membutuhkan ketekunan, resiliensi, dan kesediaan berubah. Tokoh dalam film belajar bahwa keberhasilan tidak datang secara instan, tetapi melalui proses jatuh bangun.

Materi Pertemuan ke-7 Self-serving bias & refleksi diri  Bagian film yang relevan adalah ketika karakter mulai menyadari kelemahan dirinya sendiri dan berhenti menyalahkan keadaan.
Alasannya: Hal ini berkaitan dengan optimistic bias, self-serving bias, dan kesadaran diri. Dalam psikologi inovasi, individu yang berkembang adalah individu yang mampu refleksi diri dan berani memperbaiki dirinya, bukan hanya menyalahkan lingkungan.



Esai 9 UTS Psi. Inov - Karyawan

 Nama : Nunung Setyowati

NIM : 24310430208
Fakultas : Psikologi Kelas Karyawan
Universitas : Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta
Mata Kuliah : Psikologi Inovasi
Dosen : Arundati Shinta
Waktu Terbit : Kamis, 28 Mei 2026, pukul 22.48 WIB

 

MEMBANGUN KARAKTER MAHASISWA DI ERA AI DAN PELAJARAN INOVASI DARI EKSPERIMEN 50 DOLAR


Soal 1: Peran Dosen sebagai Inovator, Motivator, Kolaborator, dan Pemberi Sanksi Mendidik

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 20 Tahun 2018 tentang Penguatan Pendidikan Karakter menegaskan bahwa kepala sekolah berperan sebagai inovator, motivator, kolaborator, dan pemberi sanksi yang bersifat mendidik. Semangat regulasi ini sangat relevan diadaptasi oleh dosen di perguruan tinggi, terutama dalam mata kuliah Psikologi Inovasi di era kecerdasan buatan. Apabila saya menjadi dosen mata kuliah ini, saya akan mengintegrasikan keempat peran tersebut untuk menuntun mahasiswa agar mampu berpikir kritis, mengembangkan kognisi secara optimal, dan memiliki karakter terpuji.

Sebagai inovator, saya akan merombak desain tugas. Tugas esai yang mudah dibuat oleh AI akan saya ubah menjadi proyek inovasi pribadi yang harus didokumentasikan secara bertahap selama satu minggu. Mahasiswa boleh menggunakan AI sebagai asisten pencarian literatur, namun wajib melampirkan catatan refleksi tulisan tangan dan rekaman penjelasan lisan. Cara ini memaksa proses berpikir mereka tetap muncul dan terukur. Sebagai motivator, saya akan membangun kesadaran bahwa orisinalitas dan karakter adalah aset yang tak bisa digantikan mesin. Menghadirkan alumni inovatif yang sukses karena kejujuran intelektual akan menumbuhkan kebanggaan intrinsik mahasiswa saat menyelesaikan tantangan secara mandiri.

Peran kolaborator saya wujudkan dalam forum diskusi sejawat. Mahasiswa saling menelaah proyek inovasi dengan rubrik yang menekankan proses berpikir. Tekanan sosial dari teman sebaya sering kali lebih efektif mencegah plagiarisme AI daripada ancaman dosen. Sementara itu, sebagai pemberi sanksi yang bersifat mendidik, saya akan meminta mahasiswa yang terbukti menyerahkan tugas hasil AI mentah untuk menulis esai reflektif berjudul “Apa yang Hilang dari Diri Saya Ketika Menyerahkan Tugas kepada AI” dan mengulang tugas dengan pendampingan. Sanksi ini mendidik karena mengajak mahasiswa menyadari kerugian jangka panjang bagi perkembangan kognitif dan karakter mereka. Dengan empat peran ini, pendidikan karakter tetap berjalan dan mahasiswa dibimbing menjadi calon pemimpin yang otentik, kritis, dan berintegritas.

Soal 2: Refleksi Film “Billionaire Told His 3 Sons To Live On $50 For A Week” dalam Materi Kuliah 1–7

Film ini mengisahkan seorang miliarder yang memberi masing-masing anaknya uang 50 dolar untuk bertahan hidup selama seminggu. Hanya satu anak yang berhasil mengubah modal kecil itu menjadi sesuatu yang bernilai. Saya menghubungkan adegan-adegan kunci film ini dengan materi kuliah sebagai berikut.

· Kuliah ke-1: Kontrak Belajar dan Pengertian Psikologi Inovasi. Batasan ketat 50 dolar yang ditetapkan sang ayah merupakan bentuk creative constraint yang menjadi inti pengertian inovasi. Ketiga anak langsung dihadapkan pada kenyataan bahwa inovasi bukan soal banyaknya sumber daya, melainkan cara berpikir terhadap keterbatasan.

· Kuliah ke-2: Output Psikologi Inovasi. Hasil akhir ketiga anak menunjukkan perbedaan output. Dua anak gagal, pulang lebih awal atau bertahan tanpa kemajuan. Satu anak berhasil menambah nilai uang 50 dolar menjadi pendapatan mingguan stabil. Output inovasi yang sesungguhnya adalah lahirnya pola pikir dan keterampilan baru, bukan sekadar bertahan.

· Kuliah ke-3: Pengangguran di Indonesia. Situasi anak-anak yang tiba-tiba hanya bermodal 50 dolar dan tanpa pekerjaan tetap mencerminkan kondisi pengangguran. Dua anak yang kebingungan mewakili angkatan kerja pasif yang menunggu lowongan, sementara anak yang berhasil memulai usaha kecil menunjukkan mental wirausaha sebagai solusi.

· Kuliah ke-4: Atasi Pengangguran dengan Jual Diri (Skill). Anak yang bertahan tidak mencari pekerjaan formal, melainkan “menjual diri” melalui keterampilan sederhana yang dimiliki, seperti menawarkan jasa atau berjualan makanan ringan. Ia mengkapitalisasi kompetensi personal, persis seperti prinsip menjual keahlian untuk mengatasi pengangguran.

· Kuliah ke-5: Teori Keengganan untuk Berubah. Dua anak yang gagal menunjukkan keengganan kuat untuk keluar dari zona nyaman. Mereka mungkin malu memulai pekerjaan kasar atau mempertahankan gaya hidup lama. Teori ini menjelaskan bahwa beban psikologis saat harus meninggalkan kebiasaan sering kali menghambat adaptasi dan inovasi.

· Kuliah ke-6: Kesediaan Berubah vs Kesibukan Bekerja/Belajar. Anak yang selamat memilih mengubah pola pikir terlebih dahulu. Ia mengamati lingkungan, mencoba ide kecil, lalu beradaptasi, bukan langsung sibuk bekerja tanpa strategi. Ini selaras dengan materi bahwa perubahan internal harus mendahului eksekusi.

· Kuliah ke-7: Back to the Future. Di akhir cerita, sang ayah biasanya menyampaikan bahwa tantangan ini adalah bekal masa depan. Pengalaman bertahan dengan 50 dolar adalah simulasi ketidakpastian yang bisa datang kapan saja. Anak yang berhasil membawa pulang pembelajaran inovasi sebagai kompas menghadapi masa depan.

Film ini membuktikan bahwa psikologi inovasi bukan sekadar teori akademik, melainkan praktik bertahan dan berkembang di tengah keterbatasan nyata.

Daftar Pustaka

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 20 Tahun 2018 tentang Penguatan Pendidikan Karakter pada Satuan Pendidikan Formal.

Shinta, A. (2025). *Psikologi Inovasi: Bahan Ajar Pertemuan 1-7*. Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta.

Reeves, M. (Director). (2020). Billionaire Told His 3 Sons To Live On $50 For A Week. Only One Survived. [Film]. YouTube. https:/www.youtube.com/watch?v=v76lKvx0O7E

 

Esai 9 - Ujian Tengah Semester

 PSIKOLOGI INOVASI 

Esai 9 - Ujian Tengah Semester 


 



Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A

Nama: Annisa Septiana Putri 

NIM: 23310410108

 

 

Fakultas Psikologi

Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta 

 

2026

 

 

1. Jika saya menjadi dosen mata kuliah Psikologi Inovasi, saya tidak akan langsung melarang mahasiswa menggunakan AI, karena sekarang teknologi berkembang sangat cepat dan AI juga sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Menurut saya, mahasiswa justru perlu belajar menggunakan AI dengan bijak, bukan malah bergantung sepenuhnya saat mengerjakan tugas kuliah.

Saat ini masih banyak mahasiswa yang memakai AI untuk mencari jawaban instan, tetapi tidak benar-benar memahami isi materi yang dipelajari. Jika hal itu terus dilakukan, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan kemampuan analisis mahasiswa bisa menurun. Karena itu, sebagai dosen saya akan membuat sistem pembelajaran yang membuat mahasiswa tetap aktif berpikir dan tidak hanya mengandalkan teknologi. 

Saya akan lebih sering memberikan tugas yang berhubungan dengan pengalaman pribadi, observasi langsung, wawancara, maupun studi kasus yang ada di lingkungan sekitar mahasiswa. Dengan cara itu, mahasiswa tetap harus memahami materi dan menghubungkannya dengan kehidupan nyata. Menurut saya, tugas seperti itu lebih efektif untuk melatih pola pikir mahasiswa dibanding tugas yang jawabannya mudah ditemukan di internet atau AI.

Selain itu, saya juga akan memperbanyak diskusi dan presentasi di kelas. Diskusi dapat melatih mahasiswa untuk menyampaikan pendapat, mendengarkan sudut pandang orang lain, dan berpikir lebih terbuka. Dari diskusi juga biasanya terlihat mahasiswa yang benar-benar memahami materi dan mahasiswa yang hanya sekadar mencari jawaban cepat. Presentasi juga penting untuk melatih rasa percaya diri, kemampuan komunikasi, dan kemampuan menjelaskan suatu masalah menggunakan bahasa sendiri.

Sebagai dosen, saya juga harus menjadi motivator dan inovator seperti yang tertulis dalam peraturan pendidikan karakter. Saya akan memberi contoh penggunaan AI yang baik, misalnya untuk mencari referensi tambahan, mencari ide awal, atau membantu menyusun poin-poin penting. Namun, mahasiswa tetap harus mengembangkan isi tugas menggunakan pemikiran dan analisis mereka sendiri.

Selain kemampuan akademik, saya juga ingin membangun karakter mahasiswa supaya lebih disiplin, jujur, bertanggung jawab, dan mau berkembang. Saya ingin mahasiswa memahami bahwa teknologi sebenarnya dibuat untuk membantu manusia berkembang, bukan membuat manusia menjadi malas berpikir. Karena itu, mahasiswa tetap harus melatih kemampuan analisis, kreativitas, dan kemampuan memecahkan masalah.


2. Dalam kuliah ke-1 Psikologi Inovasi, bagian film yang paling relevan adalah saat ayah mereka menantang ketiga anaknya hidup dengan uang 50 dolar selama seminggu. Menurut saya, tantangan tersebut berkaitan dengan pengertian Psikologi Inovasi karena mereka dipaksa untuk berpikir kreatif, mencari cara bertahan hidup, dan memanfaatkan peluang yang ada dalam keadaan terbatas.

Di film tersebut juga terlihat bahwa setiap anak memiliki cara berpikir dan sikap yang berbeda. Ada yang mudah menyerah, ada yang memakai uang tanpa perhitungan, dan ada juga yang tetap berusaha walaupun situasinya sulit. Dari situ terlihat bahwa cara seseorang menghadapi masalah sangat mempengaruhi hasil yang akan didapatkan.

Menurut saya, film tersebut menunjukkan bahwa inovasi bukan hanya tentang menciptakan teknologi baru, tetapi juga tentang bagaimana seseorang mampu menemukan solusi dalam situasi sulit. Anak yang berhasil bertahan terlihat lebih mampu mengontrol dirinya sendiri, lebih tenang dalam mengambil keputusan, dan tidak malu mencoba hal baru demi bertahan hidup.

Selain itu, film ini juga berkaitan dengan sikap resiliensi dan ketekunan. Tokoh yang berhasil bertahan tidak langsung menyerah saat menghadapi kesulitan. Ia tetap mencoba mencari peluang dan menggunakan uang yang dimiliki dengan lebih bijak. Sikap seperti itu penting dalam Psikologi Inovasi karena seseorang perlu memiliki mental yang kuat untuk menghadapi tantangan dan perubahan.

Film ini juga menunjukkan pentingnya kemampuan beradaptasi. Ketiga anak tersebut sebenarnya terbiasa hidup nyaman karena berasal dari keluarga kaya. Namun ketika mereka dipaksa hidup dengan uang terbatas, terlihat jelas siapa yang mampu menyesuaikan diri dengan keadaan dan siapa yang tidak siap menghadapi kesulitan.

Menurut saya, film ini juga berhubungan dengan materi tentang perubahan diri. Anak yang berhasil bertahan terlihat lebih mandiri dan mau belajar dari situasi yang dihadapinya. Ia tidak hanya mengeluh, tetapi mencoba mencari solusi dari masalah yang ada. Sikap seperti itu penting dimiliki mahasiswa supaya tidak mudah menyerah ketika menghadapi masalah dalam kehidupan maupun perkuliahan.

Selain itu, film tersebut juga mengajarkan bahwa keberhasilan tidak selalu ditentukan oleh uang atau fasilitas yang dimiliki seseorang. Kreativitas, pola pikir, ketekunan, dan keberanian mencoba hal baru juga sangat menentukan keberhasilan seseorang. Orang yang mampu berpikir kreatif biasanya akan lebih mudah menemukan peluang walaupun berada dalam keadaan sulit.

Dari film tersebut saya juga belajar bahwa seseorang perlu memiliki mental yang kuat dan tidak terlalu bergantung pada kenyamanan hidup. Jika seseorang terlalu nyaman, biasanya ia akan sulit berkembang. Sebaliknya, tantangan dan kesulitan justru bisa membuat seseorang menjadi lebih kreatif, lebih mandiri, dan lebih kuat dalam menghadapi kehidupan.

Karena itu, menurut saya film ini sangat relevan dengan mata kuliah Psikologi Inovasi karena menunjukkan bagaimana pola pikir, kreativitas, kemampuan beradaptasi, dan ketekunan dapat mempengaruhi keberhasilan seseorang dalam menghadapi masalah kehidupan sehari-hari.

 

Daftar Pustaka

 

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. (2018). Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2018 tentang Penguatan Pendidikan Karakter pada Satuan Pendidikan Formal. Jakarta: Kemendikbud.

 

Yusuf, S., & Nurihsan, A. J. (2011). Teori Kepribadian. Bandung: Remaja Rosdakarya.

 

Desmita. (2014). Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Esai 9- UTS Psi. Inov – Karyawan

 

Strategi Edukasi Inovatif dan Analisis Karakter Tangguh dalam Psikologi Inovasi

Oleh

Banun Havifah Cahyo Khosiyono (24310440002)

Esai untuk UTS Mata Kuliah Psikologi Inovasi (Dosen:Dr. Arundati Shinta, M.A.) | Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta | Mei 2026


Cara Saya Memandang Peran Dosen Inovator di Tengah Gempuran Generative AI


Melihat perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di era Society 5.0 sekarang ini, saya merasa peran seorang pendidik dalam membentuk karakter mahasiswa menjadi jauh lebih menantang sekaligus krusial. Seandainya saya berdiri di depan kelas sebagai dosen Psikologi Inovasi, saya tidak akan mengambil jalan pintas dengan melarang mahasiswa menggunakan AI. Menurut saya, memblokir teknologi bukanlah solusi cerdas untuk mengatasi penurunan daya kritis mahasiswa. Langkah inovatif yang ingin saya terapkan justru merombak total metode belajar di kelas melalui pendekatan flipped classroom dan authentic assessment. Bagi saya, mengacu pada Permendikbud No. 20 Tahun 2018, seorang dosen sejati harus bisa memosisikan dirinya sebagai inovator sekaligus kolaborator yang adaptif.


Strategi taktis yang saya rancang adalah dengan mewajibkan mahasiswa membuat refleksi kritis yang digali langsung dari pengalaman nyata mereka di lapangan. Pola penugasan seperti analisis studi kasus sosiopsikologis masyarakat lokal adalah sesuatu yang sifatnya personal, nyata, dan mustahil bisa ditiru secara instan oleh kecerdasan buatan serampangan. Selain itu, metode evaluasi di kelas akan lebih banyak saya fokuskan pada presentasi lisan spontan serta debat argumen secara langsung. Cara ini saya pilih untuk menguji sejauh mana orisinalitas berpikir mereka sekaligus merangsang fungsi kognitif tingkat tinggi (Higher-Order Thinking Skills).

Tentu saja, demi menjaga kedisiplinan ilmiah dan integritas moral mahasiswa, saya akan menerapkan sistem penilaian yang sangat transparan yang dilengkapi dengan alat pemindai orisinalitas. Di kelas saya, mahasiswa tetap boleh memanfaatkan AI sekadar sebagai mitra pembantu proses belajar dalam batas-batas tertentu yang wajar. Namun, jika ada yang terbukti menyalahgunakannya tanpa kejujuran akademik atau tanpa mencantumkan atribusi yang jelas, mereka harus berani bertanggung jawab atas konsekuensinya. Melalui model pembelajaran yang saya bawa ini, saya ingin menumbuhkan tanggung jawab moral, menajamkan cara berpikir kritis, dan memastikan bahwa teknologi hanya kita tempatkan sebagai alat pelengkap, bukan sebagai pengganti kesadaran berpikir kita sebagai manusia.


Sudut Pandang Saya Mengenai Ketangguhan Karakter dalam Film "Billionaire Sons"


Ketika saya menonton dan menganalisis dinamika perilaku dalam film Billionaire Told His 3 Sons To Live On $50 For A Week, saya menemukan korelasi yang sangat utuh dengan seluruh materi kuliah Psikologi Inovasi yang saya pelajari dari pertemuan pertama hingga ketujuh. Di fase awal cerita, saya melihat bagaimana ketidakmampuan dua anak orang kaya tersebut dalam menghadapi perubahan drastis hidup mereka mencerminkan kekakuan mental akibat terlalu lama dimanjakan oleh zona nyaman. Sebaliknya, saya sangat kagum pada anak yang berhasil bertahan hidup. Bagi saya, dia adalah contoh nyata individu yang memiliki growth mindset. Dia mampu melihat keterbatasan ruang gerak serta ketiadaan uang sebagai sebuah pemantik kreativitas untuk melahirkan daya inovasi yang luar biasa. Kesiapan mental seperti inilah yang mempermudah dia meruntuhkan kebiasaan manja yang lama dan membentuk perilaku baru yang jauh lebih adaptif di tengah situasi yang serba tidak pasti.


Hubungan erat berikutnya yang saya temukan di film ini sangat lekat dengan materi kreativitas, pemecahan masalah, dan resiliensi individu. Saya memperhatikan bahwa alih-alih menghabiskan modal awal yang hanya sebesar $50 untuk konsumsi jangka pendek, anak yang tangguh ini justru memutar otaknya menggunakan strategi frugal innovation. Dia berhasil mengubah keterbatasan modal tersebut menjadi mesin penggerak ekonomi mikro yang sangat produktif.


Sementara itu, jika saya menganalisis dari sudut pandang dinamika motivasi, kelumpuhan daya juang dua anak yang gagal itu terjadi karena mereka sudah terlanjur terikat pada motivasi ekstrinsik, yaitu fasilitas dan kemewahan dari luar. Begitu kemewahan itu dicabut secara mendadak, kemampuan mereka untuk memecahkan masalah langsung macet total. Di sisi lain, anak yang berhasil sintas digerakkan oleh motivasi intrinsik yang kuat serta efikasi diri yang tinggi. Dia memiliki dorongan dari dalam hatinya untuk membuktikan kompetensi dirinya sendiri saat ditekan oleh keadaan. Melalui film ini, saya menarik kesimpulan mendalam bahwa inovasi pada esensinya bukanlah soal kecanggihan teknologi, melainkan tentang fleksibilitas kognitif, ketahanan psikologis, dan kemampuan mengendalikan diri secara terukur saat menghadapi ketidakpastian.


Esai 9 - Ujian Tengah Semester Psikologi Inovasi

 

PSIKOLOGI INOVASI

ESAI 9 – UJIAN TENGAH SEMESTER

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A

Nama: Gunarti

NIM: 23310410118 

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS PROKLAMASI 45

YOGYAKARTA

MEI, 2026

Pendapat tentang penggunaan AI dan pembangunan karakter mahasiswa

Menurut saya, AI sebenarnya membantu mahasiswa untuk mencari informasi lebih cepat dan mempermudah belajar. Tetapi kalau semua tugas hanya mengandalkan AI, lama-lama mahasiswa bisa jadi malas berpikir sendiri. Padahal sebagai mahasiswa, apalagi calon sarjana psikologi, kita harus punya kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan kemampuan menyelesaikan masalah.

Kalau saya menjadi dosen Psikologi Inovasi, saya akan membuat tugas yang lebih banyak menggunakan pendapat pribadi, observasi, diskusi, dan praktik langsung supaya mahasiswa tetap aktif berpikir. Menurut saya AI boleh digunakan, tetapi hanya sebagai alat bantu, bukan untuk menggantikan usaha mahasiswa sepenuhnya.

Selain itu, dosen juga harus menjadi motivator dan pembimbing bagi mahasiswa. Jika ada mahasiswa yang terlalu bergantung pada AI, maka sanksi yang diberikan sebaiknya bersifat mendidik, misalnya presentasi ulang, revisi tugas, atau membuat refleksi pribadi. Dengan begitu mahasiswa tetap belajar bertanggung jawab terhadap tugasnya sendiri.

Menurut saya, perkembangan teknologi memang tidak bisa dihindari, tetapi karakter mahasiswa juga harus tetap dijaga supaya menjadi pribadi yang kreatif, jujur, mandiri, dan mampu berkembang di masa depan.

Hubungan film “Billionaire Told His 3 Sons To Live On $50 For A Week” dengan materi Psikologi Inovasi pertemuan 1–7

·       Kuliah ke-1 Psikologi Inovasi

Bagian film yang relevan adalah ketika ketiga anak miliarder dipaksa hidup hanya dengan uang 50 dolar selama satu minggu. Mereka harus keluar dari zona nyaman dan belajar menghadapi kondisi yang berbeda dari kehidupan biasanya.

Alasannya karena dalam Psikologi Inovasi dijelaskan bahwa manusia perlu berubah dan mampu beradaptasi terhadap perkembangan zaman maupun situasi baru. Tantangan tersebut melatih kreativitas dan inovasi mereka dalam bertahan hidup. Selain itu, situasi tersebut juga menunjukkan pentingnya perubahan pola pikir agar individu tidak hanya bergantung pada kenyamanan hidup yang dimiliki sebelumnya.

·       Kuliah ke-2 Output Psikologi Inovasi

Bagian film yang relevan adalah ketika masing-masing anak menunjukkan sikap, cara berpikir, dan strategi yang berbeda selama menjalani tantangan.

Alasannya karena output Psikologi Inovasi bukan hanya pengetahuan, tetapi juga sikap, keterampilan, kesiapan menghadapi perubahan, dan keberanian mencoba hal baru. Dalam film terlihat bahwa individu yang mampu berpikir kreatif dan tidak takut gagal akan lebih mudah bertahan dalam situasi sulit dibanding individu yang pasif dan hanya mengeluh.

·       Kuliah ke-3 Pengangguran di Indonesia

Bagian film yang relevan adalah ketika anak-anak mulai memahami sulitnya mendapatkan uang dan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Alasannya karena materi kuliah membahas faktor internal dan eksternal penyebab pengangguran. Film tersebut memperlihatkan bahwa seseorang harus memiliki kemampuan beradaptasi, keterampilan, dan kemauan bekerja agar dapat bertahan hidup. Jika individu hanya bergantung pada fasilitas keluarga tanpa kemampuan diri, maka akan lebih sulit menghadapi dunia kerja nyata.

·       Kuliah ke-4 Mengatasi Pengangguran dengan “Jual Diri”

Bagian film yang relevan adalah ketika mereka mulai mencari cara untuk memenuhi kebutuhan dengan kemampuan yang dimiliki.

Alasannya karena dalam materi dijelaskan bahwa seseorang harus mampu melihat potensi diri dan mengubah kemampuan atau hobi menjadi sesuatu yang bernilai. Film tersebut menunjukkan bahwa kreativitas sangat dibutuhkan untuk bertahan hidup, terutama saat berada dalam keterbatasan ekonomi.

·       Kuliah ke-5 Teori Keengganan untuk Berubah

Bagian film yang relevan adalah ketika anak-anak awalnya merasa keberatan dan tidak nyaman menjalani tantangan hidup sederhana.

Alasannya karena manusia pada dasarnya sering enggan berubah, terutama ketika sudah nyaman dengan keadaan sebelumnya. Namun, perubahan dapat terjadi ketika individu dipaksa menghadapi situasi baru. Film tersebut menunjukkan proses individu belajar menerima perubahan dan mencoba beradaptasi sedikit demi sedikit.

·       Kuliah ke-6 Kesediaan Berubah vs Kesibukan

Bagian film yang relevan adalah ketika anak-anak mulai menyadari bahwa mereka harus mengubah pola hidup agar dapat bertahan selama tantangan berlangsung.

Alasannya karena dalam materi dijelaskan bahwa perubahan perlu dilakukan meskipun individu sedang sibuk atau berada dalam situasi yang tidak nyaman. Film tersebut juga berkaitan dengan metode kaizen, yaitu perubahan kecil yang dilakukan secara bertahap untuk mencapai hasil yang lebih baik.

·       Kuliah ke-7 Back to the Future

Bagian film yang relevan adalah ketika anak-anak mulai membandingkan kehidupan nyaman mereka di masa lalu dengan kenyataan hidup masyarakat biasa yang mereka alami sekarang.

Alasannya karena materi Back to the Future membahas bagaimana pengalaman masa lalu memengaruhi cara pandang individu terhadap masa depan. Film tersebut juga berkaitan dengan analisis SWOT dan Johari Window, karena individu mulai mengenali kelemahan, kekuatan, dan kemampuan dirinya setelah menghadapi pengalaman baru. Selain itu, terdapat optimistic bias dan self-serving bias ketika individu merasa hidup mudah karena sebelumnya selalu bergantung pada fasilitas keluarga.

Tugas Psikologi Inovasi : Esai 7 – Lakukan Perubahan Diri

 


Esai ini ditujukan untuk dipublikasikan di Klinik Psikologi atau Klinik Karir sebelum UTS.

Nama: Nunung Setyowati

NIM: 24310430208

Mata Kuliah: Psikologi Inovasi 

Topik Utama: Menceritakan proses perubahan diri secara positif dan konsisten

Perubahan Diri yang Konsisten: Sebuah Proses Psikologi Inovasi Melalui Rutinitas Jogging

Pendahuluan 

Dalam studi Psikologi Inovasi, konsep inovasi tidak terbatas pada penciptaan produk atau teknologi baru, melainkan juga mencakup transformasi internal individu. Perubahan diri yang positif memerlukan dekonstruksi kebiasaan lama dan konsistensi untuk membangun pola perilaku yang baru. Berinovasi pada diri sendiri berarti secara sadar merancang pengembangan personal agar lebih adaptif.

Deskripsi Kegiatan 

Sebagai komitmen pribadi untuk mencapai target berat badan 50 kg pada bulan September mendatang, saya memutuskan untuk mengintegrasikan jogging sebagai rutinitas mingguan. Pada garis baseline, kondisi fisik saya sangat tidak terlatih; saya mudah terengah-engah hanya dalam 10 menit jalan cepat. Kegiatan ini saya pilih karena menuntut daya tahan fisik sekaligus regulasi emosi yang kuat.

Proses Perubahan (Minggu 1–10) 

Proses ini saya jalankan minimal satu jam setiap akhir pekan selama 10 minggu berturut-turut. Berikut adalah rekam jejak progresivitas yang terukur:

  • Minggu 1 (25 Jan 2026): 3,0 km (60 menit) – Didominasi jalan kaki, napas sangat berat.

  • Minggu 2 (1 Feb 2026): 3,2 km (60 menit) – Mulai bisa berlari pelan di 15 menit awal.

  • Minggu 3 (8 Feb 2026): 3,5 km (60 menit) – Hambatan cuaca gerimis, saya memaksakan diri agar tidak putus rantai konsistensi.

  • Minggu 4 (15 Feb 2026): 4,0 km (60 menit) – Ritme napas mulai membaik.

  • Minggu 5 (22 Feb 2026): 4,2 km (60 menit) – Fase plateau; terasa bosan dan kaki sangat pegal.

  • Minggu 6 (1 Mar 2026): 4,5 km (60 menit) – Mengganti rute lari untuk mengatasi kebosanan (inovasi lingkungan).

  • Minggu 7 (8 Mar 2026): 5,0 km (65 menit) – Menambah durasi dan jarak yang signifikan.

  • Minggu 8 (15 Mar 2026): 5,3 km (65 menit) – Cuaca panas menekan mental, sempat ingin berhenti di menit ke-40.

  • Minggu 9 (22 Mar 2026): 5,8 km (70 menit) – Peningkatan durasi; tubuh terasa lebih ringan.

  • Minggu 10 (29 Mar 2026): 6,5 km (70 menit) – Mampu berlari konstan selama 40 menit awal tanpa berjalan kaki.

Permasalahan dan Analisis Psikologis 

Mengapa banyak orang gagal berubah dan sulit mempertahankan konsistensi? Kegagalan ini terjadi karena perubahan menuntut energi kognitif yang besar untuk melawan status quo. Otak manusia secara alami menyukai kenyamanan dari rutinitas lama. Oleh karena itu, perubahan diri membutuhkan inovasi mental. Menurut Lally et al. (2010), pembentukan kebiasaan (habit formation) adalah proses yang memakan waktu lama di mana perilaku yang diulang dalam konteks yang sama akan secara perlahan menjadi otomatis.

Pada minggu-minggu pertengahan (Minggu 5 dan 8), saya menghadapi krisis motivasi. Di sinilah self-regulation (regulasi diri) bekerja. Kapasitas regulasi diri bertindak seperti otot yang bisa kelelahan, namun sangat krusial untuk mengendalikan impuls rasa malas (Baumeister et al., 2007). Ketika otot regulasi ini melemah, saya harus menyokongnya dengan resiliensi. Resiliensi memfasilitasi adaptasi positif di tengah kelelahan fisik dan mental, memampukan saya untuk memfokuskan ulang pikiran dari "rasa sakit di kaki" menjadi "tujuan akhir yang ingin dicapai" (Fletcher & Sarkar, 2013).

Refleksi dan Penutup 

Proses "jatuh-bangun" ini sangat emosional. Hal tersulit adalah memenangkan perkelahian batin setiap hari Minggu pagi untuk tidak kembali tidur. Namun, kepuasan yang muncul ketika melihat angka jarak di aplikasi lari terus meningkat memberikan dorongan dopamin yang luar biasa. Secara psikologis, saya menjadi lebih tangguh menghadapi ketidaknyamanan.

Kesimpulannya, perubahan diri yang konsisten membuktikan bahwa inovasi terbaik dimulai dari dalam. Mengubah kebiasaan bukan sekadar masalah fisik, melainkan kemenangan psikologis. Saya berencana terus mempertahankan rutinitas ini tidak hanya hingga target berat badan saya tercapai di bulan September, tetapi menjadikannya identitas gaya hidup jangka panjang.



Daftar Pustaka

Baumeister, R. F., Vohs, K. D., & Tice, D. M. (2007). The strength model of self-control. Current Directions in Psychological Science, 16(6), 351–355. https://doi.org/10.1111/j.1467-8721.2007.00534.x

Fletcher, D., & Sarkar, M. (2013). Psychological resilience: A review and critique of definitions, concepts, and theory. European Psychologist, 18(1), 12–23. https://doi.org/10.1027/1016-9040/a000124

Lally, P., van Jaarsveld, C. H., Potts, H. W., & Wardle, J. (2010). How are habits formed: Modelling habit formation in the real world. European Journal of Social Psychology, 40(6), 998–1009. https://doi.org/10.1002/ejsp.674