PRESTASI TERBESAR SAYA DI TAHUN 2025 BISA MENDAPATKAN PENGHARGAAN DARI LOMBA ESAI BERTARAF NASIONAL
20.1.26
19.1.26
ESSAI 5- Partisipasi Lomba Menulis sebagai Upaya Merancang Keberuntungan dalam Kehidupan Sehari-hari
Partisipasi
Lomba Menulis sebagai
Upaya Merancang Keberuntungan dalam Kehidupan Sehari-hari
Naufal Abyansah_23310410019
Psikologi Inovasi_Tugas Esai 5
Dosen Pengampu: Arundati
Shinta, M.A Januari, 2026
Gambar 1.1 (Sertifikat
Lomba Cipta Puisi)
Keberuntungan sering kali dipahami sebagai sesuatu yang
datang secara tiba-tiba dan tidak dapat direncanakan. Namun, melalui pendekatan
psikologi, keberuntungan justru dapat dibangun melalui kesiapan mental,
keberanian mengambil peluang, serta konsistensi dalam berproses. Dalam mata kuliah
ini, mahasiswa tidak
hanya diajak memahami
konsep merancang
keberuntungan secara teoritis, tetapi juga menerapkannya melalui pengalaman
nyata dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu bentuk penerapan tersebut adalah
dengan berpartisipasi dalam berbagai lomba, khususnya lomba menulis, yang
menjadi sarana pengembangan diri sekaligus latihan mental.
Pengalaman pertama saya adalah mengikuti lomba cipta puisi
tingkat nasional dengan judul karya Rindu
yang Tidak Meminta
Pulang. Proses kreatif
penulisan puisi ini berawal dari refleksi emosi pribadi yang kemudian saya tuangkan ke dalam bentuk
karya sastra. Tantangan terbesar dalam proses ini bukan
hanya pada pemilihan diksi, tetapi juga keberanian untuk mengekspresikan perasaan
secara jujur. Saya sempat merasakan keraguan dan ketakutan akan penilaian orang lain terhadap karya
saya. Namun, melalui
proses tersebut, saya belajar
mengelola emosi dan menjadikannya sebagai kekuatan kreatif.
Proses ini saya anggap sebagai latihan untuk mengasah kepekaan
emosi serta kemampuan
regulasi emosi, yang sangat relevan dengan aspek psikologis dalam
kehidupan sehari-hari.
Pengalaman kedua adalah mengikuti event menulis artikel
nasional dengan judul Belajar Mengenali Emosi Lewat Proses Menulis. Berbeda
dengan puisi yang lebih bersifat ekspresif, penulisan artikel menuntut pola
pikir yang lebih sistematis dan reflektif. Dalam prosesnya, saya belajar
menyusun gagasan secara runtut, mengaitkan pengalaman pribadi dengan pemahaman
konseptual, serta menyampaikan ide secara logis. Melalui latihan
menulis artikel ini, saya merasakan peningkatan kesadaran diri, terutama
dalam memahami bagaimana emosi memengaruhi cara berpikir
dan pengambilan keputusan. Pengalaman ini juga melatih saya untuk berpikir
lebih matang dan terarah.
Gambar 1.2 (Submit Artikel Lomba Menulis)
Jika dikaitkan dengan psikologi dan inovasi, kedua
pengalaman lomba tersebut membentuk growth mindset dalam diri saya. Keberanian
untuk mencoba, meskipun tanpa kepastian menang, merupakan
bentuk latihan psikologis yang penting. Partisipasi dalam lomba menjadi
sarana untuk merancang keberuntungan melalui proses belajar, latihan, dan
evaluasi diri secara berkelanjutan. Inovasi dalam hal ini tidak selalu berarti
menciptakan sesuatu yang sepenuhnya baru, tetapi
mengembangkan cara pandang,
kebiasaan, dan kesiapan
mental dalam melihat peluang.
Sebagai penutup, partisipasi dalam lomba menulis memberikan
dampak nyata dalam kehidupan sehari-hari saya, seperti meningkatnya kepercayaan
diri, kemampuan mengelola emosi, serta keberanian mencoba hal baru tanpa takut
gagal. Melalui pengalaman ini, saya
menyadari bahwa keberuntungan bukanlah hasil
kebetulan semata, melainkan sesuatu yang dapat
dirancang melalui latihan, keberanian, dan konsistensi dalam berproses.
14.1.26
ESSAI 9 UJIAN AKHIR SEMESTER - DWI INDAH S 23310410042
Ujian Akhir Semester Mata Kuliah Psikologi Lingkungan
Fakultas Psikologi
Topik Essai: Persepsi Masyarakat Terhadap Sampah
di Tempat Pengungsian
Dr. Dra. Arundati Shinta MA
Oleh DWI INDAH S
23310410042
Dalam kajian psikologi inovasi, karakteristik utama seorang entrepreneur bukan semata kecerdasan atau modal, melainkan dorongan berprestasi yang kuat atau need for achievement (n Achievement). Individu dengan n Achievement tinggi terdorong untuk mencapai tujuan yang menantang namun realistis, sehingga mampu memelihara motivasi dan rasa percaya diri. Konsep ini menjadi penting karena keberhasilan jangka panjang tidak ditentukan oleh tujuan yang mudah maupun yang terlalu sulit, melainkan oleh tujuan yang seimbang dengan kemampuan diri.
Gregor McDouglas menekankan bahwa n Achievement bukanlah sifat bawaan semata, melainkan dapat dilatih. Salah satu cara melatihnya adalah dengan membiasakan diri menulis hal-hal positif dan bersifat kompetitif, serta melibatkan diri dalam berbagai aktivitas yang menantang, seperti kompetisi. Dalam konteks mahasiswa, kebiasaan ini melatih pola pikir berorientasi tujuan, disiplin, dan ketahanan mental. Tanpa latihan semacam ini, individu cenderung pasif dan menunggu peluang datang, bukan menciptakannya.
Permasalahan yang sering muncul adalah banyak individu memiliki potensi, namun gagal berkembang karena menetapkan tujuan yang tidak tepat. Ada yang memilih target terlalu mudah sehingga stagnan, dan ada pula yang memilih target terlalu tinggi sehingga mudah menyerah. Kondisi ini menghambat inovasi diri dan membuat individu sulit bergerak maju. Dalam konteks entrepreneurship, masalah ini sangat krusial karena dunia usaha menuntut ketangguhan, adaptasi, dan keberanian mengambil risiko terukur.
Kasus Ruben dalam The Crocodile River (Harper, 1984) memberikan ilustrasi konkret bagaimana n Achievement dapat menuntun seseorang pada keberuntungan. Perilaku Ruben sejalan dengan teori keberuntungan Robert Wiseman. Pertama, Ruben memilih bergaul dan fokus pada individu yang produktif serta tidak terjebak dalam relasi yang penuh masalah, seperti Lorena. Kedua, Ruben rajin mengembangkan keterampilan diri dan tidak membiarkan energinya tersedot oleh persoalan orang lain. Ketiga, Ruben mampu melihat sisi positif dari potensi musibah dengan melakukan pencegahan dan pengambilan jarak dari situasi berisiko. Keempat, Ruben melatih kejelian dalam mengambil keputusan melalui refleksi dan meditasi, yang meningkatkan kepekaan intuitifnya.
Dari sudut pandang psikologi inovasi, perilaku Ruben menunjukkan bahwa keberuntungan bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari serangkaian keputusan sadar dan konsisten. Ruben merancang keberuntungannya melalui seleksi lingkungan sosial, penguatan kapasitas diri, regulasi emosi, dan ketajaman dalam membaca situasi. Inilah solusi utama dari permasalahan rendahnya dorongan berprestasi: melatih diri secara aktif dan berkelanjutan agar siap menangkap peluang.
Sebagai komentar kritis, pendekatan Ruben memang efektif, namun berpotensi disalahpahami sebagai sikap tidak peduli terhadap orang lain. Oleh karena itu, penting untuk menegaskan bahwa fokus pada diri bukan berarti mengabaikan empati, melainkan menjaga batas psikologis agar energi inovatif tidak habis oleh masalah yang tidak produktif. Dalam konteks modern, individu perlu bijak membedakan antara empati yang membangun dan keterlibatan yang justru menghambat pertumbuhan diri.
Kesimpulannya, n Achievement yang dilatih secara konsisten dapat menuntun individu menjadi lebih inovatif dan beruntung. Keberuntungan bukan hadiah, melainkan hasil dari kesiapan mental, tujuan yang tepat, dan keberanian mengambil keputusan sadar dalam kehidupan sehari-hari.
Daftar Pustaka
Harper, M. (1984). Entrepreneur for the poor. London: Intermediate Technology Publications.
Wiseman, R. (2003). The luck factor: The four essential principles. New York: Hyperion.
ESSAI 7 -MY BIGGEST ACHIVEMENT _ INDAH DWI S 23310410042
Merayakan Prestasi sebagai Investasi Masa Depan
Prestasi bukan hanya tentang pencapaian, tetapi juga tentang proses panjang yang membentuk karakter, cara berpikir, dan keberanian untuk terus bertumbuh. Salah satu prestasi yang paling saya banggakan hingga saat ini adalah keberhasilan saya membangun konsistensi dalam pengembangan diri akademik dan personal, yang diwujudkan melalui berbagai aktivitas kompetitif, proyek pengembangan diri, serta keberanian menampilkan diri di ruang publik secara profesional.
Prestasi ini tidak hadir secara instan. Ia berawal dari keputusan sederhana untuk keluar dari zona nyaman dan berani mencoba berbagai tantangan, meskipun tanpa jaminan hasil sempurna. Saya aktif mengikuti kegiatan akademik, penugasan berbasis publikasi, serta lomba dan proyek pengembangan diri yang menuntut disiplin, kreativitas, dan tanggung jawab pribadi. Dari proses tersebut, saya belajar bahwa keberhasilan bukan hanya tentang menang, tetapi tentang kesiapan mental, ketekunan, dan kemampuan mengelola diri dalam tekanan.
Momen yang paling bermakna adalah ketika saya berani mendokumentasikan dan mempresentasikan pencapaian saya secara terbuka melalui video pidato pribadi. Video ini menjadi arsip perjalanan saya, sekaligus bukti bahwa saya mampu berdiri dengan percaya diri, mengakui hasil kerja keras sendiri tanpa merasa berlebihan. Dalam video tersebut, saya menyampaikan refleksi atas prestasi yang diraih, nilai yang saya pelajari, serta visi saya ke depan.
Prestasi yang saya banggakan bukan semata hasil akhir, melainkan keberanian untuk konsisten, reflektif, dan terus berkembang. Dengan menjadikan pencapaian sebagai arsip hidup, saya menempatkan diri saya sebagai individu yang siap menghadapi peluang lebih besar di masa depan. Bagi saya, mempromosikan diri dengan cara yang keren bukan tentang pamer, tetapi tentang menghargai perjalanan dan menjadikannya inspirasi untuk melangkah lebih jauh.
ESSAI 6 - MELAKUKAN PERUBAHAN DIRI - INDAH DWI S 23310410042
Mengubah Diri Secara Positif dan Konsisten melalui Senam Aerobik: Aplikasi Psikologi Inovasi dalam Kehidupan Sehari-hari
INDAH DWI S
23310410042
Psikologi Inovasi
Dosen Pengampu Dr., Dra. ARUNDATI SHINTA, MA
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta
Pendahuluan
Psikologi inovasi memandang perubahan diri sebagai proses yang dirancang secara sadar, dimulai dari langkah kecil, dilakukan secara konsisten, dan dievaluasi melalui hasil yang terukur. Inovasi dalam konteks ini tidak selalu berbentuk penemuan besar, melainkan pembaruan kebiasaan yang berdampak nyata pada kualitas hidup. Salah satu bentuk aplikasinya adalah olahraga rutin, yang menuntut komitmen, disiplin, serta kemampuan mengelola tantangan internal.
Esai ini bertujuan menjelaskan bagaimana senam aerobik yang dilakukan secara konsisten selama sepuluh minggu dapat menjadi sarana perubahan diri positif dan berkelanjutan dalam perspektif psikologi inovasi.
Deskripsi Kegiatan Senam Aerobik
Kegiatan senam aerobik dilakukan selama 10 minggu berturut-turut, dimulai pada 3 September 2025 hingga 7 November 2025, tanpa terputus. Senam aerobik dilakukan secara individu, dengan durasi minimal 1 jam setiap minggu. Dalam beberapa minggu, senam dilakukan lebih dari satu kali, namun tetap dihitung sebagai satu minggu aktivitas sesuai ketentuan.
Rata-rata durasi senam aerobik per minggu adalah 80 menit. Aktivitas ini dilakukan dengan mengikuti gerakan aerobik dasar hingga intensitas sedang, bertujuan meningkatkan kebugaran jantung, stamina, dan koordinasi tubuh.
Perkembangan Mingguan yang Terukur
Setiap minggu menunjukkan nilai tambah yang terukur. Pada minggu pertama, durasi efektif senam yang dapat dilakukan tanpa kelelahan berlebihan adalah sekitar 40 menit, dengan denyut nadi rata-rata mencapai 120 denyut per menit. Pada minggu keempat, durasi meningkat menjadi 60 menit, dengan denyut nadi lebih stabil di kisaran 115 denyut per menit.
Memasuki minggu ke-10, durasi senam yang dapat dilakukan secara nyaman mencapai 80 menit, dengan denyut nadi rata-rata 110 denyut per menit. Selain itu, skala kelelahan subjektif (skala 1–10) menurun dari 7 pada minggu pertama menjadi 4 pada minggu terakhir. Data ini menunjukkan adanya peningkatan kebugaran fisik yang nyata dan terukur.
Suka dan Duka dalam Proses
Sisi menyenangkan dari kegiatan ini adalah meningkatnya rasa segar, suasana hati yang lebih stabil, serta kepuasan karena mampu menyelesaikan target mingguan. Senam aerobik juga membantu meningkatkan kepercayaan diri karena perubahan fisik dan stamina dapat dirasakan secara langsung.
Namun, duka yang dirasakan adalah rasa malas, kelelahan di awal program, serta godaan untuk melewatkan latihan ketika jadwal padat. Tantangan terbesar adalah menjaga konsistensi, terutama ketika motivasi menurun. Di sinilah prinsip psikologi inovasi bekerja, yaitu dengan memegang komitmen jangka panjang dan fokus pada proses, bukan hasil instan.
Analisis Psikologi Inovasi
Dalam perspektif psikologi inovasi, senam aerobik ini merupakan bentuk designed behavior change. Perubahan diri dirancang melalui kebiasaan kecil, dilakukan konsisten, dan dievaluasi dengan data. Proses ini melatih disiplin, ketangguhan, serta kemampuan mengelola diri secara adaptif. Dampak positifnya terlihat jelas, baik secara fisik maupun psikologis.
Tabel Laporan Progres Senam Aerobik (10 Minggu)
Tabel ini menunjukkan perkembangan terukur setiap minggu sesuai ketentuan tugas.
| Minggu | Durasi Senam (menit) | Denyut Nadi Rata-rata (bpm) | Skala Kelelahan (1–10) |
|---|---|---|---|
| 1 | 60 | 120 | 7 |
| 2 | 65 | 118 | 7 |
| 3 | 65 | 117 | 6 |
| 4 | 70 | 115 | 6 |
| 5 | 70 | 114 | 6 |
| 6 | 75 | 113 | 5 |
| 7 | 75 | 112 | 5 |
| 8 | 80 | 111 | 4 |
| 9 | 80 | 110 | 4 |
| 10 | 80 | 110 | 4 |
Keterangan:
-
Setiap minggu dilakukan minimal 1 jam senam aerobik
-
Nilai tambah terlihat dari peningkatan durasi, penurunan denyut nadi, dan menurunnya kelelahan
-
Rata-rata durasi senam: ±75–80 menit/minggu
Penutup
Kegiatan senam aerobik selama sepuluh minggu membuktikan bahwa perubahan diri dapat dirancang secara positif, konsisten, dan terukur. Dengan pendekatan psikologi inovasi, olahraga bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi sarana pembentukan karakter dan peningkatan kualitas hidup secara berkelanjutan.
Daftar Pustaka
Bandura, A. (1997). Self-efficacy: The exercise of control. New York: Freeman.
Seligman, M. E. P. (2011). Flourish. New York: Free Press.
Wiseman, R. (2003). The luck factor. London: Random House.
ESSAI 5- PARTISIPASI LOMBA -DWI INDAH S 23310410042
Lomba Presentasi ide Kreatif Mahasiswa
Oleh :
DWI INDAH S 23310410042
Dosen Pengampu Dr., Dra. ARUNDATI SHINTA, MA
Program Studi Psikologi
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Tahun 2025
Pendahuluan
Dalam psikologi inovasi, keberuntungan tidak dipahami sebagai kebetulan semata, melainkan sebagai hasil dari keterbukaan terhadap peluang, kesiapan individu, dan keberanian untuk bertindak. Konsep merancang keberuntungan menekankan bahwa individu dapat meningkatkan peluang sukses melalui partisipasi aktif, eksplorasi pengalaman baru, dan latihan berkelanjutan. Salah satu bentuk aplikasinya adalah dengan mengikuti kompetisi, meskipun tanpa jaminan kemenangan.
Pengalaman Partisipasi Dua Lomba
Pada bulan September 2025, saya berpartisipasi dalam dua kompetisi berbeda. Lomba pertama adalah lomba presentasi ide kreatif mahasiswa, yang menuntut kemampuan berpikir inovatif dan komunikasi persuasif. Proses persiapannya meliputi penyusunan ide, latihan presentasi, serta simulasi tanya jawab. Latihan ini melatih fleksibilitas berpikir dan kesiapan menghadapi ketidakpastian.
Lomba kedua adalah lomba penulisan esai bertema pengembangan diri, yang berfokus pada kemampuan refleksi dan pengolahan gagasan. Proses kreatif yang saya lakukan meliputi membaca referensi, menyusun kerangka tulisan, dan melakukan revisi berulang. Meski tidak memenangkan kedua lomba tersebut, pengalaman yang diperoleh sangat bermakna dalam mengasah kepekaan terhadap peluang dan meningkatkan kepercayaan diri.
Permasalahan dan Analisis Psikologi Inovasi
Permasalahan utama dalam esai ini adalah bagaimana hubungan antara partisipasi lomba dengan psikologi inovasi dalam merancang keberuntungan sehari-hari. Partisipasi lomba mendorong individu keluar dari zona nyaman dan mempertemukannya dengan situasi baru yang menuntut kreativitas serta adaptasi. Dalam perspektif psikologi inovasi, kondisi ini memperbesar kemungkinan munculnya peluang baru, relasi sosial, dan pengalaman belajar yang sebelumnya tidak direncanakan.
Keberuntungan dalam konteks ini bukan hasil menang lomba, melainkan hasil dari proses latihan, keterbukaan terhadap pengalaman, dan keberanian mencoba. Dengan berpartisipasi, individu “menyiapkan diri” agar peluang dapat dikenali dan dimanfaatkan.
Penutup
Partisipasi dalam dua lomba tersebut menunjukkan bahwa keberuntungan dapat dirancang melalui tindakan sadar dan konsisten. Kompetisi menjadi sarana latihan psikologis untuk membangun kreativitas, resiliensi, dan kesiapan menghadapi peluang hidup. Dengan demikian, mengikuti lomba merupakan salah satu aplikasi nyata psikologi inovasi dalam kehidupan sehari-hari.
Daftar Pustaka
Bandura, A. (1997). Self-efficacy: The exercise of control. New York: Freeman.
Seligman, M. E. P. (2011). Flourish. New York: Free Press.
Wiseman, R. (2003). The luck factor. London: Random House.
ESSAI 3A DAN 3B - Menjadi Suri Tauladan melalui Ketekunan: Model Ketangguhan di Tengah Perubahan - INDAH DWI S 23310410042
Menjadi Suri Tauladan melalui Ketekunan: Model Ketangguhan di Tengah Perubahan
Menjadi Suri Tauladan melalui Ketekunan: Model Ketangguhan di Tengah Perubahan
Di tengah dunia yang terus berubah dengan cepat, kemampuan untuk bertahan, beradaptasi, dan tetap berprestasi menjadi keterampilan psikologis yang sangat penting. Individu yang mampu menjadi suri tauladan bukanlah mereka yang selalu berada di posisi nyaman, melainkan mereka yang tetap konsisten melangkah meski menghadapi tantangan. Dua sikap yang saling berhubungan dan relevan dalam konteks ini adalah ketekunan (grit) dan kesediaan menjadi model yang keren bagi lingkungan sekitar.
Ketekunan merupakan kemampuan untuk bertahan dan terus berusaha mencapai tujuan jangka panjang meskipun menghadapi kegagalan, hambatan, atau kelelahan. Dalam psikologi, ketekunan erat kaitannya dengan resiliensi dan dorongan berprestasi. Individu yang tekun tidak mudah menyerah ketika rencana tidak berjalan sesuai harapan. Mereka mampu melihat kegagalan sebagai bagian dari proses belajar, bukan sebagai akhir dari perjalanan. Sikap ini sangat penting dalam dunia entrepreneurship, di mana perubahan, risiko, dan ketidakpastian merupakan hal yang tidak terpisahkan.
Ketekunan juga menuntut kepekaan terhadap perubahan. Individu yang tekun bukan berarti kaku, tetapi mampu menyesuaikan strategi ketika situasi berubah. Dalam konteks perencanaan terhadap perubahan, ketekunan membantu seseorang untuk tetap fokus pada tujuan sambil terbuka terhadap cara baru yang lebih efektif. Dengan demikian, ketekunan menjadi fondasi utama bagi ketangguhan psikologis dan kesiapan menghadapi tantangan masa depan.
Sikap kedua yang tidak kalah penting adalah kesediaan untuk menjadi suri tauladan atau model yang keren. Menjadi suri tauladan berarti berani mempraktikkan nilai-nilai positif secara konsisten, bukan hanya membicarakannya. Individu yang bersedia menjadi model akan lebih berhati-hati dalam bersikap dan mengambil keputusan, karena menyadari bahwa perilakunya dapat memengaruhi orang lain. Dalam konteks akademik, organisasi, maupun dunia kerja, suri tauladan hadir melalui tindakan nyata seperti disiplin, tanggung jawab, dan integritas.
Ketekunan dan kesediaan menjadi suri tauladan saling berkaitan erat. Ketekunan membuat seseorang mampu bertahan dalam proses panjang, sementara peran sebagai model memberikan makna sosial dari usaha tersebut. Ketika individu tetap tekun meskipun menghadapi kesulitan, ia tidak hanya membangun kekuatan dirinya sendiri, tetapi juga memberikan inspirasi bagi orang lain. Inilah yang menjadikan seseorang terlihat “keren”, bukan karena pencitraan, tetapi karena konsistensi dan ketangguhan sikapnya.
Sebagai penutup, menjadi suri tauladan di era perubahan tidak menuntut kesempurnaan, melainkan komitmen untuk terus belajar, bertahan, dan berbuat lebih baik. Melalui ketekunan dan kesediaan menjadi model yang positif, individu dapat membangun resiliensi, meningkatkan dorongan berprestasi, serta menumbuhkan jiwa entrepreneurship yang adaptif dan berkelanjutan.
Gen Z yang Tangguh: Ketekunan sebagai Jalan Menjadi Suri Tauladan yang Keren
Di tengah perubahan yang cepat dan penuh ketidakpastian, generasi Z dihadapkan pada tuntutan untuk tidak hanya cerdas, tetapi juga tangguh secara mental. Tantangan akademik, karier, dan dunia entrepreneurship menuntut kemampuan untuk bertahan, beradaptasi, dan terus berkembang. Dua sikap yang saling berkaitan dan penting untuk dikembangkan oleh Gen Z adalah ketekunan (grit) dan kesediaan menjadi suri tauladan atau model yang keren.
Ketekunan merupakan kemampuan untuk tetap berusaha secara konsisten dalam jangka panjang meskipun menghadapi kegagalan, tekanan, atau hasil yang belum sesuai harapan. Dalam kehidupan Gen Z yang sering diwarnai oleh budaya instan dan pencapaian cepat, ketekunan menjadi pembeda utama antara mereka yang bertahan dan mereka yang mudah menyerah. Ketekunan bukan berarti memaksakan diri tanpa arah, melainkan kemampuan untuk bangkit, mengevaluasi kesalahan, dan menyusun ulang rencana ketika situasi berubah.
Sikap tekun juga berkaitan erat dengan resiliensi dan ketangguhan mental. Individu yang tekun tidak mudah runtuh ketika menghadapi kritik atau kegagalan. Sebaliknya, mereka mampu memaknai pengalaman sulit sebagai proses pembelajaran. Dalam konteks entrepreneurship, ketekunan menjadi modal penting karena dunia usaha penuh dengan risiko dan ketidakpastian. Tanpa ketekunan, ide bagus sekalipun sulit berkembang menjadi usaha yang berkelanjutan.
Namun, ketekunan tidak hanya berdampak pada diri sendiri. Ketekunan yang dijalani secara konsisten dapat menjadikan seseorang sebagai suri tauladan bagi lingkungan sekitarnya. Menjadi suri tauladan berarti bersedia menunjukkan nilai-nilai positif melalui tindakan nyata, bukan sekadar ucapan. Di era media sosial, banyak figur terlihat “keren” karena citra, tetapi sedikit yang benar-benar menjadi contoh melalui konsistensi sikap dan perilaku.
Kesediaan menjadi model yang keren menuntut keberanian untuk bertanggung jawab atas pilihan hidup. Individu yang bersedia menjadi suri tauladan akan lebih peka terhadap dampak tindakannya bagi orang lain. Ia berusaha menunjukkan etos kerja, disiplin, dan integritas dalam kehidupan sehari-hari. Ketika Gen Z mampu mempraktikkan ketekunan dalam belajar, bekerja, atau berwirausaha, secara tidak langsung mereka sedang memberikan contoh nyata tentang bagaimana menghadapi perubahan dengan sikap positif.
Ketekunan dan peran sebagai suri tauladan saling menguatkan. Ketekunan membentuk karakter tangguh, sedangkan kesediaan menjadi model memberikan arah dan makna sosial dari usaha tersebut. Individu yang tekun dan berani menjadi contoh tidak hanya berfokus pada pencapaian pribadi, tetapi juga berkontribusi menciptakan lingkungan yang lebih produktif dan adaptif.
Sebagai penutup, Gen Z tidak perlu menunggu sempurna untuk menjadi suri tauladan. Cukup mulai dengan tekun menjalani proses, terbuka terhadap perubahan, dan berani bertindak konsisten. Dari situlah ketangguhan, dorongan berprestasi, dan jiwa entrepreneurship tumbuh. Menjadi model yang keren bukan tentang terlihat hebat, melainkan tentang tetap berdiri dan berkembang di tengah perubahan.

