4.10.26

Psi Inovasi - Esai 1 - Meringkas Jurnal Entrepreneruship - Dr. A. Shinta, M. A - Kelas B - 4 Oktober 2026 - Hana Fardilla (24310410048)

 Entrepreneurship: The Act of Enhancing One’s Reality

Hana Fardilla – 24310410048 – Psikologi Kelas Karyawan
Psikologi Inovasi - Esai 1 -  Dr. A. Shinta, M. A
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta


Topik

Entrepreneurship, Entrepreneurial Action, Reality Enhancement

Sumber

Mui, A. (2010). Entrepreneurship: The Act of Enhancing One's Reality. Entrepreneurship-The Act of Enhancing One's Reality.

Per-masalahan

Saat ini belum terdapat kesepakatan mengenai definisi konseptual yang paling tepat mengenai entrepreneurship. Penelitian sebelumnya banyak berfokus pada trait approach yang melihat siapa entrepreneur dan behavioural approach yang melihat apa yang dilakukan entrepreneur. Namun, kedua pendekatan tersebut belum mampu memberikan penjelasan yang jelas mengenai keseluruhan fenomena entrepreneurship. Selain itu, entrepreneurship sering kali hanya dikaitkan dengan pendirian perusahaan baru dan pencarian keuntungan, sehingga tindakan inovatif yang tidak menghasilkan organisasi baru menjadi kurang terakomodasi.

Tujuan Penelitian

Mengembangkan definisi dan kerangka konseptual baru mengenai entrepreneurship yang dapat menghubungkan trait approach dan behavioural approach, menghubungkan entrepreneurship dengan ilmu sosial lainnya, menjelaskan bagaimana peluang muncul dan dikenali, menjelaskan hubungan antara tindakan entrepreneurship pada tingkat individu dengan perkembangan ekonomi pada tingkat negara, serta membentuk bidang kajian baru mengenai reality enhancement.

Isi   


§ 
Penulis mengusulkan definisi baru bahwa entrepreneurship adalah “the act of enhancing one’s reality”, yaitu seseorang yang melakukan tindakan untuk meningkatkan realitasnya, sedangkan entrepreneurial act adalah tindakan yang menghasilkan peningkatan realitas.

§ 
Konsep entrepreneurship terdiri dari tiga komponen utama, yaitu “one’s reality”, “to enhance”, dan “the act”. Ketiga komponen tersebut masing-masing dikaitkan dengan tiga disiplin, yaitu History, Psychology, dan Economics.

§ 
One’s reality berkaitan dengan kondisi dan pengalaman masa lalu individu maupun kondisi negara tempat individu berada. Sejarah individu menjadi dasar dari kemampuan, sumber daya, pengalaman, dan keputusan yang dibuatnya, sedangkan sejarah negara membentuk kondisi ekonomi dan lingkungan tempat individu beroperasi.

§ 
To enhance berkaitan dengan motivasi psikologis seseorang untuk meningkatkan realitasnya. Penulis menggunakan Maslow’s hierarchy of needs untuk menjelaskan bahwa kebutuhan manusia dapat berkembang mulai dari kebutuhan fisiologis, keamanan, belonging, esteem, hingga self-actualization.

§  
The act berkaitan dengan tindakan nyata yang dilakukan individu untuk meningkatkan realitasnya. Entrepreneurship tidak harus selalu berbentuk pendirian perusahaan baru, tetapi dapat berupa berbagai tindakan yang memberikan perubahan atau peningkatan terhadp realitas individu maupun lingkungan.

§ 
Konsep entrepreneurship yang diajukan bersifat universal. Siapa saja dapat menjadi entrepreneur karena entrepreneurship tidak ditentukan oleh profesi, tingkat pendidikan, status, ataupun kepemilikan perusahaan, namun juga oleh tindakan seseorang dalam meningkatkan realitasnya.

Metode


§ 
Penelitian ini merupakan conceptual paper, sehingga tidak menggunakan penelitian dengan subjek, sampel, atau eksperimen seperti penelitian kuantitatif maupun kualitatif pada umumnya.

§ 
Penulis mengintegrasikan berbagai pendekatan sebelumnya, terutama trait approach yang berfokus pada individu dan behavioural approach yang berfokus pada tindakan untuk membentuk organisasi. Individu, organisasi, dan motivasi kemudian dipandang sebagai komponen yang saling berhubungan.

§ 
Kerangka yang dikembangkan dibahas melalui tiga aspek utama, yaitu aspek historical, psychological, dan economical, untuk mengevaluasi konsistensi, applicability, dan explanatory power dari definisi entrepreneurship yang baru

Hasil


§ 
Entrepreneurship menurut konsep yang diajukan tidak merupakan kondisi yang menetap. Ketika seseorang sudah tidak lagi melakukan tindakan untuk meningkatkan realitasnya, ia tidak lagi berada dalam kondisi sebagai entrepreneur.

§ 
Everyone can be an entrepreneur, karena tidak terdapat satu karakteristik, profesi, ataupun tindakan tertentu yang secara mutlak menentukan seseorang sebagai entrepreneur. Seseorang dapat menjadi entrepreneur melalui tindakannya sendiri untuk meningkatkan realitas.

§ 
Berdasarkan Maslow’s hierarchy of needs, penulis mengusulkan tiga level entrepreneurship, yaitu necessity entrepreneurship, independence entrepreneurship, dan self-actualizing entrepreneurship. Necessity entrepreneur berusaha memenuhi kebutuhan dasar, independence entrepreneur berusaha memenuhi kebutuhan esteem dan independence, sedangkan self-actualizing entrepreneur berusaha mencapai kebutuhan tingkat tertinggi dan terus meningkatkan realitasnya.

§  Entrepreneurship dapat diukur dengan melihat perubahan realitas sebelum dan sesudah entrepreneurial action. Pada tingkat individu, reality enhancement dapat berupa peningkatan pendapatan atau job satisfaction, sedangkan pada tingkat negara dapat berupa peningkatan GDP, GDP per capita, maupun kepuasan hidup atau kerja masyarakat.

§ 
Entrepreneurial action dapat menghasilkan exponential growth, karena peningkatan pada satu aspek realitas dapat memengaruhi keseluruhan realitas dan menciptakan realitas baru. Namun, pertumbuhan tersebut juga berhenti ketika tindakan entrepreneurship berhenti.

Diskusi


§ 
Konsep “the act of enhancing one’s reality” berusaha menyatukan trait approach dan behavioural approach. “One’s reality” menggambarkan kondisi dan karakteristik yang menjadi dasar individu, “the act” menggambarkan tindakan yang dilakukan, sedangkan “to enhance” menjelaskan bagaimana dan mengapa individu melakukan tindakan tersebut.

§ 
Entrepreneurship tidak hanya menghasilkan perubahan pada tingkat individu (micro-level), tetapi juga dapat memberikan pengaruh pada tingkat negara (macro-level). Realitas individu yang meningkat secara bersama-sama dapat membentuk perubahan pada realitas ekonomi suatu negara.

§ 
Necessity entrepreneurship cenderung memberikan peningkatan pada tingkat individu dan kontribusi sosial yang lebih kecil, sedangkan independence entrepreneurship lebih inovatif dan memberikan kontribusi yang lebih besar. Self-actualizing entrepreneurship dipandang paling inovatif dan memiliki potensi terbesar untuk memberikan kontribusi pada pertumbuhan ekonomi karena tidak hanya berusaha meningkatkan realitas individu tetapi juga realitas lingkungan yang lebih luas.

§ 
Dari keseluruhan pembahasan, terdapat tiga implikasi yang dianggap paling penting, yaitu entrepreneurship exhibits exponential growth, there exists a hierarchy of entrepreneurship, dan there exists a pathway to the enhancement of reality. Ketiganya menjadi dasar untuk pengembangan penelitian lebih lanjut mengenai entrepreneurship.

§ 
Meskipun demikian, penulis menyebutkan bahwa keterbatasan penelitian ini terletak pada kedalamannya. Karena paper bersifat konseptual dan berusaha membahas entrepreneurship secara luas, beberapa implikasi belum diuji secara empiris dan masih membutuhkan penelitian lebih lanjut, terutama mengenai tingkatan entrepreneurship dan hubungan antara micro-level dengan macro-level

 Jurnal ini sangat menarik bagi saya, karena menyebutkan bahwa “entrepreneurship bukan hanya aksi membuat badan usaha baru, tetapi termasuk melakukan perubahan pada level realitas individu,” sehingga kesan yang diberikan adalah benar-benar, setiap orang dapat menjadi entrepreneurship.


2.10.26

Liany Nur Ramadhani (24310410016) - Essay 1 meringkas jurnal - psikologi inovasi


 Liany Nur Ramadhani 

24310410016

Kelas psikologi inovasi - B

Tugas essay 1 

Dosen pengampu : DR. Arundati Shinta M.A

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta 

(Jumat, 2 Oktober 2026)

  • Judul Penelitian: Translating Entrepreneurial Intentions into Entrepreneurial Behavior: The Moderating Role of Self-Efficacy and Action Planning
  • Penulis: Michael M. Gielnik, Sarah Frese, Anja Bischoff, dan Astrid Jarren
  • Publikasi: Journal of Business Venturing, Vol. 30, No. 1, Hal. 33–49.

Gielnik, M. M., Frese, S., Bischoff, A., & Jarren, A. (2015). Translating entrepreneurial intentions into entrepreneurial behavior: The moderating role of self-efficacy and action planning. Journal of Business Venturing, 30(1), 33–49. https://doi.org/10.1016/j.jbusvent.2014.07.002


Latar Belakang dan Permasalahan Penelitian Dalam literatur kewirausahaan, sebagian besar kajian berfokus pada pendorong niat berwirausaha (entrepreneurial intention). Teori-teori klasik seperti Theory of Planned Behavior mengasumsikan bahwa niat merupakan prediktor utama dari tindakan. Namun, fakta di lapangan menunjukkan adanya fenomena yang dikenal sebagai "gap antara niat dan tindakan" (intent-action gap). Banyak calon wirausahawan memiliki motivasi dan niat yang sangat tinggi untuk mendirikan bisnis, tetapi pada akhirnya gagal mewujudkannya menjadi tindakan nyata.
Permasalahan utama yang diangkat dalam penelitian ini adalah bagaimana dan kapan niat berwirausaha dapat bertransformasi secara efektif menjadi perilaku berwirausaha yang nyata. Penelitian ini bertujuan mengungkap faktor-faktor psikologis dan prosedural yang menjembatani jurang pemisah antara tingkatan niat dan tingkatan eksekusi.

Identifikasi Variabel Penelitian 
  • Variabel Dependen (Y): Perilaku Berwirausaha (Entrepreneurial Behavior) Merupakan variabel utama yang diukur, didefinisikan sebagai serangkaian tindakan konkret yang dilakukan individu untuk memulai atau mendirikan usaha baru. Indikatornya mencakup pendaftaran badan usaha, penyusunan rencana bisnis, pencarian lokasi, pengumpulan modal, hingga pembelian peralatan awal. 
  • Variabel Independen (X): Niat Berwirausaha (Entrepreneurial Intention) Komitmen atau dorongan subjektif individu untuk memulai bisnis di masa depan.
  • Variabel Moderator (M_1 & M_2): Perencanaan Tindakan (Action Planning) dan Efikasi Diri (Self-Efficacy) Action planning mengukur sejauh mana individu merancang strategi mendalam (kapan, di mana, dan bagaimana tindakan akan dilakukan), sedangkan self-efficacy mengukur tingkat keyakinan individu terhadap kemampuannya dalam mengatasi hambatan selama proses eksekusi.
Metodologi Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif longitudinal dengan studi panel multi-gelombang (multi-wave panel design). Data dikumpulkan dari para calon wirausahawan dalam rentang waktu beberapa bulan untuk mengamati secara langsung transisi dari niat awal hingga munculnya tindakan riil dalam mendirikan bisnis.

Hasil dan Temuan Utama Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa niat berwirausaha saja tidak memiliki pengaruh langsung yang cukup kuat terhadap eksekusi perilaku. Penemuan kunci dari penelitian ini mencakup Hubungan antara niat (X) dan perilaku (Y) menjadi sangat signifikan ketika individu menyusun action planning yang terstruktur. Rencana aksi memetakan niat yang abstrak menjadi langkah-langkah kerja operasional harian.

Kesimpulan Niat untuk menjadi wirausahawan hanyalah langkah awal yang belum menjamin lahirnya sebuah bisnis. Untuk mengatasi intent-action gap, niat harus dipadukan dengan perencanaan tindakan (action planning) yang terperinci dan keyakinan diri (self-efficacy) yang kokoh. Tanpa kedua elemen psikologis dan prosedural tersebut, niat berwirausaha cenderung berhenti sebagai cita-cita tanpa eksekusi nyata.


Deltha Arthaliya 24310430209 - Psi Inovasi - Tugas 1 - Meringkas Jurnal Entrepreneurship - Arundati Shinta - Kelas B - Oktober 2026

 

 Esai 1 - Meringkas Jurnal Entrepreneurship


Deltha Arthaliya
NIM 24310430209
Psikologi Inovasi


Topik

Kreativitas, resiliensi, dan inovasi wirausaha di era digital 

Sumber

Fitriani & Arfian. Inovasi Psikologis: Membangun Resiliensi dan Kreativitas Wirausaha di Era Digital. Jurnal Manajemen Bisnis Digital Terkini, 2(3), 58–69. DOI: https://doi.org/10.61132/jumbidter.v2i3.605  

Permasalahan

Perubahan pasar, persaingan, dan ketidakpastian ekonomi menuntut wirausaha tidak hanya memiliki kemampuan bisnis, tetapi juga kreativitas dan resiliensi. Masih diperlukan pemahaman tentang bagaimana kedua aspek tersebut saling mendukung dalam keberlanjutan usaha. 

Tujuan

Mengkaji peran kreativitas dan resiliensi psikologis dalam mendukung inovasi dan keberlanjutan usaha serta mengidentifikasi cara mengembangkan keduanya melalui pendidikan dan pelatihan kewirausahaan. 

Isi

Membahas peran kreativitas dan resiliensi psikologis dalam mendukung inovasi dan keberlanjutan usaha di tengah perubahan dan ketidakpastian era digital. 


Kreativitas mendorong munculnya ide dan solusi baru, sedangkan resiliensi membantu wirausaha bertahan menghadapi kegagalan dan perubahan. 

Metode

Kajian literatur dari jurnal, buku, laporan penelitian, dan sumber akademik terkait kreativitas, resiliensi, inovasi kewirausahaan, serta pendidikan kewirausahaan. Analisis dilakukan secara kualitatif melalui sintesis literatur. 

Hasil

Kreativitas dan resiliensi merupakan dua aspek yang saling mendukung dalam inovasi dan keberlanjutan usaha. 


Kreativitas membantu wirausaha menemukan peluang dan solusi baru, sedangkan resiliensi membantu menghadapi tekanan, risiko, dan kegagalan. Keduanya saling memperkuat dalam mendukung keberlanjutan usaha. 

Diskusi

Pengembangan kreativitas dan resiliensi perlu diterapkan dalam pendidikan kewirausahaan melalui pelatihan, mentoring, dan simulasi berbasis masalah. Kemampuan berpikir kreatif, mengelola stres, memecahkan masalah, dan beradaptasi perlu dilatih agar calon wirausaha lebih siap menghadapi perubahan. 

 

29.9.26

ESAI 1 : MERINGKAS JURNAL MOTIVASI

 

Heni Dwi Anggreani

25310440001

Kelas Psikologi Inovasi - B

Tugas Essai 1

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

(September 2026)

 

Judul Jurnal: “Pengaruh Literasi Keuangan, Motivasi dan Efikasi Diri pada Minat Berwirausaha Mahasiswa di Banyumas dengan Jaringan Sosial sebagai Variabel Moderasi” ditulis oleh : Galuh Andap Anggeta Dara, Faizal Rizky Yuttama, dan Puspita Lianti Putri dari Program Studi Manajemen, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Harapan Bangsa. (Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, Mei 2026, 12 (5.A), 157-172 )

DOI : https://jurnal.peneliti.n

et/index.php/JIWP/article/view/12945

Latar belakang Permasalahan penelitian ini adalah pentingnya meningkatkan minat mahasiswa untuk berwirausaha. Mahasiswa tidak hanya diharapkan menjadi pencari kerja setelah menyelesaikan pendidikan, tetapi juga dapat menjadi pencipta lapangan pekerjaan. Peneliti melihat bahwa minat berwirausaha tidak hanya dipengaruhi oleh pengetahuan mengenai usaha, tetapi juga oleh kemampuan mahasiswa dalam mengelola keuangan, motivasi untuk mencapai tujuan, serta keyakinan terhadap kemampuan dirinya sendiri. Disamping itu,  dengan adanya dukungan dari keluarga, teman, maupun lingkungan sosial juga dapat memberikan akses terhadap informasi, sumber daya, peluang, dan pengalaman yang dibutuhkan untuk memulai usaha.

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui literasi keuangan terhadap minat berwirausaha mahasiswa di Banyumas; Pengaruh motivasi terhadap minas berwirausaha; pengaruh efeksi diri terhadap mintas berwirausaha; dan peran jaringan sosial sebagai variabel moderasi dalam hubungan antara literasi keuangan, motivasi dan efeksi diri dengan minat berwirausaha

Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif cross-sectional. Responden penelitian berjumlah 105 mahasiswa yang sedang mengambil mata kuliah kewirausahaan di beberapa perguruan tinggi di Banyumas. Pengambilan sampel menggunakan purposive sampling, sedangkan data dikumpulkan melalui kuesioner dengan skala Likert 1–5. Hasil pengujian menunjukkan bahwa instrumen penelitian valid dan reliabel.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa literasi keuangan berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat berwirausaha. Mahasiswa yang memiliki pemahaman dan kemampuan mengelola keuangan dengan lebih baik cenderung memiliki minat yang lebih tinggi untuk memulai usaha. Motivasi juga berpengaruh positif dan signifikan, yang berarti semakin kuat dorongan mahasiswa untuk mencapai tujuan, semakin besar pula minatnya untuk berwirausaha.  Selanjutnya, efikasi diri berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat berwirausaha. Keyakinan mahasiswa terhadap kemampuan dirinya, termasuk kemampuan menghadapi kegagalan dan hambatan, dapat mendorong munculnya keinginan untuk memulai usaha.

Hal yang menarik dari penelitian ini adalah hasil analisis mengenai jaringan sosial sebagai variabel moderasi. Jaringan sosial terbukti mampu memoderasi pengaruh literasi keuangan dan motivasi terhadap minat berwirausaha. Artinya, pengetahuan keuangan dan motivasi akan lebih dapat berkembang menjadi minat berwirausaha ketika mahasiswa memiliki dukungan serta jaringan sosial yang baik. Namun, jaringan sosial tidak terbukti memoderasi hubungan antara efikasi diri dan minat berwirausaha.

Kesimpulan dari penelitian ini dengan melihat pada keseluruhan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa minat berwirausaha mahasiswa di Banyumas dipengaruhi oleh literasi keuangan, motivasi, dan efikasi diri. Jaringan sosial juga memiliki peran penting, khususnya dalam memperkuat pengaruh literasi keuangan dan motivasi terhadap minat berwirausaha.

Dengan demikian, peningkatan minat kewirausahaan mahasiswa tidak cukup hanya melalui pembelajaran mengenai bisnis dan keuangan, tetapi juga perlu memperhatikan faktor psikologis seperti motivasi dan keyakinan terhadap kemampuan diri serta membangun jaringan sosial yang dapat memberikan dukungan, informasi, dan akses terhadap peluang usaha. Penelitian ini memberikan gambaran bahwa minat berwirausaha mahasiswa merupakan proses yang tidak berdiri sendiri, melainkan terbentuk dari berbagai kondisi yang saling berkaitan. Sehingga diharapkan penelitian ini dapat menjadi gambaran mengenai pentingnya memahami faktor yang mendorongh mahasiswa untuk emmilih kewirausahaan sebagai salah satu alternatif dalam mengembangkan potensi dan masa depan kariernya.


24.7.26

Need for Achievement dan Keberuntungan: Antara Kerja Keras, Moral, dan Cara Pandang terhadap Kesuksesan_Arisyahdan J Hi A Rahim 22310420199


Arisyahdan J Hi A Rahim

22310420199
Program Studi: Psikologi
Mata Kuliah: Psikologi Inovasi
Dosen Pengampu: Arundati shinta

 

Karakteristik yang sering dikaitkan dengan seorang entrepreneur adalah kebutuhan untuk berprestasi (need for achievement atau nAch), yaitu dorongan untuk mencapai hasil yang lebih baik melalui usaha yang sungguh-sungguh. Individu dengan kebutuhan berprestasi yang tinggi umumnya tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi juga menikmati proses belajar, menghadapi tantangan, serta terus memperbaiki kualitas dirinya. Oleh karena itu, kemampuan menetapkan tujuan yang menantang namun tetap realistis menjadi salah satu faktor penting dalam membangun semangat berprestasi.

Saya sependapat bahwa motivasi berprestasi merupakan modal psikologis yang sangat penting bagi seorang wirausahawan. Seseorang yang memiliki dorongan untuk berkembang akan lebih siap menghadapi kegagalan karena menganggapnya sebagai bagian dari proses belajar. Namun, motivasi tersebut tidak muncul secara otomatis, melainkan perlu dilatih melalui pembiasaan berpikir positif, refleksi diri, serta pengalaman menghadapi tantangan secara bertahap. Dalam kehidupan sehari-hari, kebiasaan mengevaluasi diri dan menuliskan target yang jelas dapat membantu seseorang meningkatkan keyakinan terhadap kemampuannya.

Meskipun demikian, terdapat beberapa bagian dari uraian yang menurut saya perlu dipandang secara lebih kritis. Pertama, konsep need for achievement memang telah lama dikembangkan dalam psikologi motivasi, tetapi tokoh yang paling dikenal mengembangkannya adalah David C. McClelland. Ia menjelaskan bahwa individu dengan kebutuhan berprestasi tinggi cenderung memilih tugas dengan tingkat kesulitan sedang, bertanggung jawab terhadap hasil pekerjaannya, serta membutuhkan umpan balik agar mampu berkembang. Oleh karena itu, latihan berpikir positif memang dapat membantu meningkatkan optimisme, tetapi keberhasilan seseorang tetap dipengaruhi oleh banyak faktor lain, seperti lingkungan, kesempatan belajar, dukungan sosial, serta pengalaman hidup.

Kedua, kisah The Crocodile River memberikan pesan moral bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi juga oleh kemampuan mempertahankan nilai-nilai yang diyakini. Ruben digambarkan sebagai individu yang fokus pada pekerjaannya, tidak mudah terpengaruh oleh persoalan yang dapat menghambat tujuan hidupnya, serta mampu melihat tantangan sebagai kesempatan untuk berkembang. Sikap tersebut mencerminkan karakter seorang entrepreneur yang memiliki orientasi jangka panjang dan mampu mengendalikan diri ketika menghadapi godaan yang dapat merugikan masa depannya.

Namun demikian, saya kurang sependapat apabila karakter Lorena hanya dipandang sebagai individu yang tidak memiliki potensi maju karena memilih menjual dirinya demi memperoleh uang. Penilaian tersebut terlalu sederhana apabila tidak mempertimbangkan kondisi sosial, ekonomi, maupun tekanan hidup yang mungkin dialaminya. Dalam psikologi, perilaku manusia tidak dapat dipahami hanya dari satu tindakan, tetapi perlu dilihat berdasarkan konteks yang melatarbelakanginya. Seseorang dapat mengambil keputusan yang keliru karena keterbatasan pilihan, kemiskinan, kekerasan, atau kondisi lingkungan yang tidak mendukung. Oleh sebab itu, perilaku Lorena tetap dapat dinilai salah secara moral, tetapi penyebabnya perlu dipahami secara lebih komprehensif agar tidak menimbulkan stigma terhadap individu yang berada dalam situasi sulit.

Selanjutnya, teori keberuntungan dari Robert Wiseman memberikan sudut pandang yang menarik bahwa keberuntungan bukan semata-mata hasil kebetulan. Individu yang terbuka terhadap peluang, mampu membangun relasi yang baik, berpikir positif ketika menghadapi kegagalan, serta berani mengambil keputusan secara tepat cenderung memiliki kesempatan sukses yang lebih besar. Dalam praktiknya, seseorang yang aktif membangun jaringan, terus belajar, dan tidak mudah menyerah memang akan lebih sering menemukan peluang dibandingkan individu yang pasif.

Permasalahan yang sering muncul dalam kehidupan saat ini adalah banyak orang menginginkan hasil yang cepat tanpa melalui proses pengembangan diri. Tidak sedikit mahasiswa maupun calon entrepreneur yang mudah menyerah ketika mengalami kegagalan pertama. Mereka kemudian menyalahkan keadaan atau menganggap dirinya tidak beruntung. Padahal, keberuntungan sering kali merupakan hasil dari kesiapan seseorang dalam memanfaatkan kesempatan yang datang. Tanpa kemampuan belajar dan bekerja keras, peluang yang baik pun dapat terlewat begitu saja.

Menurut saya, solusi yang dapat dilakukan adalah membangun pola pikir berkembang (growth mindset) sejak dini. Individu perlu membiasakan diri menetapkan target yang realistis namun menantang, berani mengevaluasi kesalahan, serta menjadikan kegagalan sebagai pengalaman belajar. Selain itu, penting pula membangun lingkungan yang positif melalui pergaulan dengan orang-orang yang memiliki semangat berkembang. Dukungan keluarga, teman, maupun mentor juga dapat meningkatkan motivasi berprestasi sekaligus membantu individu menghadapi berbagai hambatan secara lebih sehat.

Selain aspek motivasi, entrepreneur juga memerlukan integritas dan empati. Kesuksesan yang dicapai tanpa memperhatikan nilai moral dapat menimbulkan dampak negatif bagi diri sendiri maupun masyarakat. Oleh karena itu, keberhasilan tidak hanya diukur dari keuntungan ekonomi, tetapi juga dari kemampuan menjaga kepercayaan, menghargai orang lain, serta memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.

Sebagai penutup, saya berpendapat bahwa motivasi berprestasi memang merupakan salah satu fondasi utama dalam membangun kesuksesan. Kisah Ruben memberikan inspirasi mengenai pentingnya fokus pada tujuan, menjaga nilai moral, dan mampu melihat sisi positif dari setiap tantangan. Namun, dalam menilai perilaku orang lain, diperlukan sikap yang lebih objektif dengan mempertimbangkan berbagai faktor yang memengaruhi keputusan seseorang. Dengan memadukan motivasi berprestasi, kerja keras, pembelajaran yang berkelanjutan, integritas, dan kemampuan melihat peluang, seseorang akan memiliki kesempatan yang lebih besar untuk meraih keberhasilan secara berkelanjutan.

 

Daftar Pustaka

Harper, F. D. (1984). The Crocodile River. New York: Human Relations Press.

McClelland, D. C. (1961). The Achieving Society. Princeton, NJ: Van Nostrand.

Wiseman, R. (2003). The Luck Factor: The Four Essential Principles. London: Arrow Books.

 

ESSAY 8 – Muhammad Firdaus_23310410131_My Most Admirable Accomplishment

 

ESSAY 8 – My Most Admirable Accomplishment

Nama: Muhammad Firdaus
NIM:23310410131
Mata Kuliah: Psikologi Inovasi
Tugas: Esai 8 – My Most Admirable Accomplishment



My Most Admirable Accomplishment

Bagi saya, pencapaian tidak selalu diukur dari seberapa besar pengakuan yang diperoleh, tetapi lebih kepada proses panjang yang mampu mengubah diri menjadi pribadi yang lebih disiplin, tangguh, dan berdaya saing. Dalam perspektif psikologi inovasi, pencapaian merupakan hasil dari kemampuan individu dalam mengembangkan potensi diri, menghadapi tekanan, serta beradaptasi dengan tuntutan lingkungan yang tinggi. Pencapaian juga mencerminkan pertemuan antara motivasi berprestasi (achievement motivation) dan kemampuan individu dalam mengelola tantangan secara efektif.

Pencapaian paling membanggakan dalam hidup saya adalah ketika saya berhasil menjadi anggota Paskibraka Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada tahun 2021 dan bertugas di Gedung Agung Yogyakarta. Kesempatan ini merupakan sebuah kehormatan besar karena proses seleksi yang sangat ketat serta tingginya standar yang harus dipenuhi oleh setiap peserta. Saya harus bersaing dengan banyak siswa terbaik dari berbagai kabupaten/kota di DIY yang memiliki kemampuan fisik, mental, dan kedisiplinan yang tinggi.

Proses untuk mencapai titik tersebut tidaklah mudah. Saya harus melalui berbagai tahapan seleksi mulai dari tes fisik, kesehatan, baris-berbaris, hingga tes mental dan wawancara. Selain itu, latihan yang dijalani selama masa persiapan juga sangat intensif dan menguras energi. Setiap hari saya dituntut untuk bangun lebih pagi, menjaga kondisi fisik, serta mengikuti latihan dengan disiplin tinggi. Tidak jarang saya merasa lelah, baik secara fisik maupun mental. Namun, saya terus berusaha bertahan karena saya memiliki tujuan yang jelas, yaitu menjadi bagian dari Paskibraka Provinsi.

Tantangan terbesar yang saya hadapi bukan hanya berasal dari latihan yang berat, tetapi juga dari tekanan diri sendiri. Saya sempat merasa kurang percaya diri ketika melihat kemampuan peserta lain yang sangat baik. Perasaan ragu tersebut menjadi hambatan psikologis yang cukup mengganggu. Namun, saya mencoba mengubah pola pikir saya dengan lebih fokus pada proses dan perkembangan diri, bukan membandingkan diri dengan orang lain.

Dari sudut pandang psikologi, keberhasilan saya dalam mencapai pencapaian ini tidak terlepas dari adanya growth mindset. Individu dengan growth mindset percaya bahwa kemampuan dapat berkembang melalui usaha dan latihan yang konsisten (Yeager & Dweck, 2012). Saya mulai melihat setiap kesulitan dalam latihan sebagai kesempatan untuk belajar, bukan sebagai ancaman. Selain itu, saya juga mengembangkan resiliensi, yaitu kemampuan untuk tetap bertahan dan bangkit meskipun menghadapi tekanan yang tinggi (Fletcher & Sarkar, 2013). Resiliensi ini membantu saya untuk tetap fokus dan tidak mudah menyerah selama proses seleksi maupun latihan.

Pada akhirnya, saya berhasil melewati seluruh rangkaian seleksi dan menjalankan tugas sebagai anggota Paskibraka Provinsi DIY di Gedung Agung dengan penuh tanggung jawab. Pengalaman tersebut menjadi sangat berkesan karena tidak hanya melatih kedisiplinan dan kekuatan fisik, tetapi juga membentuk karakter saya menjadi lebih percaya diri, tangguh, dan memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi.

Pencapaian ini menjadi yang paling saya banggakan karena merupakan hasil dari perjuangan panjang, kerja keras, serta kemampuan untuk mengatasi keraguan dalam diri. Pengalaman ini juga memberikan saya pelajaran penting bahwa dengan komitmen, konsistensi, dan pola pikir yang tepat, seseorang mampu melampaui batasan dirinya sendiri. Hal ini menjadi bekal berharga bagi saya untuk menghadapi tantangan di masa depan, baik dalam dunia akademik maupun kehidupan sehari-hari.

Daftar Pustaka

Fletcher, D., & Sarkar, M. (2013). Psychological resilience. European Psychologist.

Yeager, D. S., & Dweck, C. S. (2012). Mindsets that promote resilience. Educational Psychologist.


link vidio

https://youtube.com/shorts/fgTMQqL_aVI?si=223YbjIG-fdBlFVV

Esai 7 Lakukan Perubahan Diri - Muhammad Firdaus

 

Proses Perubahan Diri Melalui Kegiatan Jogging

MUHAMMAD FIRDAUS

(243310410131)

Fakultas Psikologi Proklamasi 45

Yogyakarta


Perubahan diri merupakan suatu proses yang membutuhkan waktu dan tidak bisa dicapai secara instan. Dibutuhkan konsistensi, komitmen, serta kemauan untuk terus berkembang dari waktu ke waktu. Dalam mata kuliah Psikologi Inovasi, saya mendapatkan tugas untuk melakukan perubahan diri melalui aktivitas olahraga secara rutin selama minimal 10 minggu. Dalam hal ini, saya memilih jogging sebagai bentuk aktivitas yang saya jalankan, karena selain mudah dilakukan, olahraga ini juga tidak memerlukan biaya besar dan bermanfaat untuk menjaga kesehatan fisik maupun mental.

Pada awal pelaksanaan, tepatnya minggu pertama, saya melakukan jogging dengan durasi sekitar 32 menit dengan jarak tempuh kurang lebih 4,2 km. Memasuki minggu kedua, waktu yang saya butuhkan sedikit lebih cepat yaitu 30 menit dengan jarak sekitar 4,0 km. Walaupun sempat mengalami sedikit penurunan jarak, saya mulai menyesuaikan ritme lari dan kondisi tubuh. Pada minggu-minggu berikutnya, kemampuan saya mulai meningkat secara bertahap. Jarak tempuh yang awalnya berada di kisaran 4 km perlahan meningkat hingga mencapai lebih dari 5 km pada minggu ke-10, dengan waktu sekitar 39 menit.

Seiring berjalannya waktu, tubuh saya mulai beradaptasi dengan aktivitas jogging yang dilakukan secara rutin. Saya merasakan perubahan yang cukup signifikan, seperti kondisi tubuh yang lebih bugar, pernapasan yang lebih stabil, serta meningkatnya daya tahan saat melakukan aktivitas sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa latihan yang dilakukan secara konsisten memberikan dampak positif terhadap kondisi fisik.



Namun, dalam prosesnya saya juga menghadapi berbagai hambatan. Salah satu kendala yang cukup sering muncul adalah faktor cuaca. Ketika hujan atau kondisi cuaca terlalu panas, muncul rasa malas untuk berolahraga. Selain itu, rutinitas yang dilakukan secara berulang juga sempat menimbulkan rasa jenuh. Tidak jarang muncul pikiran untuk menunda latihan atau menggantinya di hari lain. Meskipun demikian, saya berusaha tetap menjalankan program yang telah saya rencanakan dengan mengingat kembali tujuan awal, yaitu membentuk kebiasaan hidup sehat dan meningkatkan kedisiplinan diri.

Saya menyadari bahwa tantangan terbesar dalam proses ini bukanlah pada aktivitas jogging itu sendiri, melainkan menjaga konsistensi ketika motivasi mulai menurun. Dalam beberapa kesempatan, saya harus melawan rasa malas dan memilih tetap berolahraga meskipun kondisi tidak selalu ideal.

Dari pengalaman yang saya jalani selama kurang lebih 10 minggu ini, saya mendapatkan banyak pelajaran berharga. Saya memahami bahwa perubahan diri tidak selalu berjalan sempurna, melainkan penuh dengan proses, penyesuaian, dan tantangan. Hal yang terpenting adalah bagaimana seseorang tetap berusaha untuk melanjutkan proses tersebut meskipun mengalami hambatan.

Melalui kegiatan jogging ini, saya tidak hanya merasakan manfaat dalam hal kebugaran fisik, tetapi juga belajar tentang pentingnya disiplin, konsistensi, serta manajemen waktu. Saya berharap kebiasaan ini dapat terus saya pertahankan meskipun tugas perkuliahan telah selesai. Pengalaman ini juga memperkuat pemahaman saya bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara terus-menerus.

Daftar Pustaka

McClelland, D. C. (1961). The Achieving Society. Princeton, NJ: Van Nostrand.

Wiseman, R. (2003). The Luck Factor: The Scientific Study of the Lucky Mind. London: Arrow Books.