31.10.26

Psi Inovasi - Esai 4 – My Best Coping Behaviour - Dr. A. Shinta, M. A – Kelas B – October 31 2026 - Hana Fardilla (24310410048)

 My Best Coping Behaviour: Year of Grieving

Hana Fardilla – 24310410048 – Psikologi Kelas Karyawan
Psikologi Inovasi - Esai 4 -  Dr. A. Shinta, M. A
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta


    Tahun 2025 merupakan tahun transisi yang bagi saya cukup besar dampaknya, baik untuk kesehatan jasmani dan rohani saya pribadi.

    Sebelumnya, dapat saya katakan saya adalah pribadi yang sangat tertutup, tetapi juga sangat people pleaser. Mungkin karena di dasari dari saya sebagai anak dan cucu perempuan pertama di keluarga saya. Sebagai perempuan, banyak ekspektasi yang saya rasa saat ini menjadi kurang masuk akal, karena di keluarga, saya dituntut untuk terutup dan harus fokus pada pekerjaan domestik sebagai perempuan, tetapi harus bisa membanggakan orangtua sebagai anak pertama. Bertahun-tahun saya merasa tertekan dengan hal ini, dan manifestasi muncul dengan asma saya yang sering kambuh, namun saya tidak berani berpendapat karena terlalu takut akan mengecewakan dan tidak ingin membuat konflik, Menurut teori Carl Roger (1961), distress akan muncul saat ada pergolakan antara real-self (apa yang saya rasakan), dengan ideal-self (apa yang orang harapkan).

    Perasaan tidak ingin mengecewakan dan menghindari konflik sebisa mungkin saya bawa kemana-mana, hingga ke relasi saya dengan pasangan. Di tahun 2024 partner (pacar) saya menyampaikan keinginannya untuk bekerja di luar negeri sebagai TKI karena income yangg kurang baik di Indonesia, saat itu kami sudah bersama selama 5 tahun. Saya akui informasi tersebut sangat menyakitkan, saya kesulitan jika harus berpisah. Partner saya mencoba meyakinkan saya bahwa ini harus dilakukan, dan dengan berat hati saya ikut mendukungnya agar dapat mewujudkan harapannya untuk bekerja di luar negeri. Akhirnya, di pertengahan tahun tersebut ia berangkat, dan saya tertinggal dengan perasaan yang menyakitkan. 

    Karena saya tidak ingin membuat konflik, saya tidak pernah benar-benar mengutarakan apa yang saya rasakan, saya sering kebingungan dengan perasaan saya sendiri. Meski pun saya menulis, rasanya seperti ada yang saya selalu coba tutupi untuk meminimalisir perasaan yang sesungguhnya saya rasakan, padahal tidak ada yang membaca buku diary saya. Sejak pasangan saya pergi, saya tidak bisa beraktifitas dengan normal, saya selalu merasa tidak nyaman dan ketakutan tetapi tidak mengerti kenapa. Karena rasanya sudah sangat aneh, saya mencoba untuk berkonsultasi dengan psikolog. Tidak banyak yang bisa saya katakan, saya menghabiskan waktu menangis saja tanpa tau harus berkata dan berbuat apa, psikolog menyarankan saya setidaknya menulis apa yang fisik saya rasakan sebagai step awal untuk mengidentifikasi perasaan saya sendiri.

    Setelah itu saya memutuskan untuk mendaftar kuliah di UP45 karena memang sudah lama tertarik dengan psikologi, tapi mungkin saat itu, ada harapan lain bahwa saya bisa mengenali diri saya sendiri sambil belajar.

    Keadaan tidak membaik, mungkin lebih tepatnya, belum. Dari hasil menulis tentang apa yang badan saya rasakan dan saat apa itu terjadi, saya memutuskan untuk mengakhiri relasi saya dengan pasangan saya saat itu di awal tahun 2025, karena saya merasa trigger utamanya adalah saat saya diingatkan bahwa saya sedang jauh dari dia. Sejak itu keadaan semakin memburuk. Saya tidak bisa benar-benar tidur, tidak bisa makan, dan terkendala dalam bekerja, mata saya bengkat setiap hari dan berat badan turun 10kg. Namun selama proses ini, saya tidak berhenti ke psikolog, saya tidak berhenti menulis, atau kuliah, saya mencoba melanjutkan sambil berharap bahwa hari esok akan terasa lebih baik.

    Semakin saya menulis tentang apa yang saya rasakan, rasanya saya semakin mengerti, kenapa rasa itu datang, di mana rasa tidaknyamannya, dan kapan. Misalnya saat dipekerjaan saya tidak mengatakan suau hal karena merasa saya bisa handle sendiri, saya ternyata merasa nyeri di dada sebelah kiri, perlahan, saya coba untuk mengungkapkan dan menjadi lebih asertif. Saat pertama kali mencoba, rasanya kepala saya ingin meledak karena takut, tapi lambat laun, saya semakin sering melakukan dan tidak ada lagi rasa nyeri yang saya rasakan.

    Contoh lain saat saya berkomunikasi dengan orang tua saya, setiap berbicara dengan mereka saya rasanya seperti dipukul di perut, rasanya gelisah seperti sedang ujian. Saya putuskan suatu hari untuk speak-up, mengatakan bahwa saya ingin mencoba menjalani hidup seperti yang saya inginkan selama saya tidak menjadi kriminal atau membahayakan orang lain. Saat itu saya merasa seperti orang paling buruk di dunia, membuat orang tua saya marah, tetapi ada rasa relief, saya tidak lagi merasa seperti sedang di rundung dan lebih tenang saat berbicara dengan orangtua saya.

    Bagi saya, ini adalah coping yang akan selalu ingat, bahwa saya pernah melewatinya dan perlahan mencoba mengaktualisasikan diri saya sendiri. Bahwa memang ada yang harus dilawan saat kita ingin ada yang berubah. Dan tidak semuanya bisa terlihat langsung, kadang kita harus benar-benar struggle beberapa waktu sebelum semuanya terasa membaik. Hari ini, mungkin banyak challenge lain yang menunggu, namun dengan pengalaman ini, saya mendapat kepercayaan diri, bahwa saya mampu, secara perlahan untuk melewati tantangan tersebut, kedepannya.


Ref:
Rogers, C. R. (1961). On becoming a person: A therapist's view of psychotherapy. Houghton Mifflin.


ESAI 3 RAY FRANSISCA MARITA KUSUMA (24310410005) PSIKOLOGI INOVASI KELAS KARYAWAN Ibu Dr. Arundati Shinta., MA




 

Oktober 2026

Resiliensi Diri sebagai Mahasiswa yang Bekerja Sambil Kuliah dan Menghadapi Masalah di tempat Kerja

Sebagai individu yang menjalani peran sebagai pekerja sekaligus pelajar, saya menyadari bahwa perjalanan untuk mencapai prestasi membutuhkan perjuangan, kedisiplinan, dan kemampuan untuk bertahan dalam menghadapi berbagai tantangan. Membagi waktu antara pekerjaan, pekerjaan, keluarga, dan tanggung jawab pribadi bukanlah hal yang mudah. Ada kalanya saya merasa lelah, menghadapi keterbatasan waktu, atau mengalami kesulitan dalam menyelesaikan berbagai tanggung jawab secara bersamaan. Namun, saya berusaha menjadikan setiap tantangan sebagai kesempatan untuk belajar dan mengembangkan diri.

Dalam dunia kerja, setiap individu memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan pekerjaan secara teliti, tepat waktu, dan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Namun, dalam pelaksanaannya, seseorang dapat melakukan kesalahan yang menyebabkan pekerjaan kurang memuaskan. Salah satu situasi yang dapat terjadi adalah ketika seorang pekerja mendapat kritik dari atasan karena kurang teliti dalam menyelesaikan pekerjaannya.

Menghadapi situasi tersebut memerlukan kemampuan resiliensi, yaitu kemampuan individu untuk menghadapi tekanan, menerima keadaan, serta melakukan penyesuaian diri agar dapat berkembang menjadi lebih baik.

Tips membangun ketahanan di tempat kerja

1. identifikasi penyebab kesalahan

Evaluasi apakah kesalahan terjadi karena kurang fokus, terburu-buru, instruksi yang belum jelas, atau prosedur yang belum memadai. Dengan memahami alasannya, solusi dapat dibuat secara lebih tepat.

2. Belajar menerima kritik secara positif

Dengarkan masukan atasan ataupun rekan kerja sampai selesai. Pisahkan kritik terhadap hasil pekerjaan dari penilaian terhadap diri sendiri. Fokus pada hal yang perlu diperbaiki. 

Alih-alih memandang kritik sebagai bentuk serangan pribadi atau merasa tidak mampu, individu perlu melihatnya sebagai masukan yang dapat digunakan untuk menyalakan dan memperbaiki kualitas pekerjaannya.

Bagi saya, resiliensi merupakan kemampuan untuk bangkit ketika menghadapi kesulitan, beradaptasi dengan perubahan, serta tetap memiliki motivasi untuk mencapai tujuan. Saya memahami bahwa kelelahan dan hambatan bukanlah alasan untuk berhentinya perkembangan, melainkan bagian dari proses yang perlu dikelola dengan bijaksana. Oleh karena itu, saya berusaha membangun kebiasaan-kebiasaan positif, seperti menyusun skala prioritas, mengatur waktu secara efektif, menjaga kedisiplinan, dan mendengarkan setiap pengalaman yang saya lalui.

30.10.26

Liany Nur Ramadhani (24310410016) Essay 8 - My most admirable accomplishment Dosen pengampu Dr. Arundati Shinta M.A

Liany Nur Ramadhani 

(24310410016)

Psikologi inovasi - B

Essay 8 - My most admirable accomplishment

Dosen pengampu Dr. Arundati Shinta M.A

Universitas proklamasi 45

Yogyakarta 

(30 Oktober 2026)


Masa studi di lembaga pendidikan kedirgantaraan bukanlah sekadar proses transfer ilmu pengetahuan mengenai operasional penerbangan, melainkan sebuah kawah candradimuka yang menempa karakter, kedisiplinan, dan standar profesionalisme tinggi. Salah satu pencapaian yang paling saya banggakan dan menjadi titik balik motivasi saya selama menempuh pendidikan di Jogja Air Crew adalah ketika saya dinobatkan sebagai penerima penghargaan Best Grooming pada tanggal 26 Agustus 2023. Penghargaan ini bukan hanya sekadar selembar predikat visual, melainkan sebuah manifestasi dari konsistensi, dedikasi, dan penghargaan terhadap estetika serta etika profesi kru kabin yang harus dijunjung tinggi.

Bagi seorang calon pramugari dan pramugara, grooming atau penampilan diri adalah representasi pertama dari kualitas layanan maskapai penerbangan. Standar grooming di Jogja Air Crew dikenal sangat ketat, mulai dari kerapian tata rambut, kesempurnaan riasan wajah (make-up) yang proporsional, kebersihan serta ketepatan dalam mengenakan seragam, hingga postur tubuh, keanggunan gestur, dan cara berkomunikasi (service excellence). Menjaga seluruh standar tersebut secara konsisten setiap harinya tentu bukanlah hal yang mudah. Diperlukan manajemen waktu yang baik, ketelitian tingkat tinggi, serta komitmen personal untuk selalu tampil prima bahkan di tengah jadwal pelatihan yang padat.

Proses menuju penghargaan tersebut dilalui dengan penuh kedisiplinan. Setiap pagi sebelum sesi kelas dimulai, saya selalu memastikan bahwa setiap detail penampilan saya telah sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) kedirgantaraan—mulai dari keselarasan warna tata rias, keutuhan aksesori atribut, hingga kerapian rambut yang diikat model french twist khas pramugari profesional. Penilaian yang dilakukan oleh para instruktur berpengalaman pada tanggal 26 Agustus 2023 tersebut membuka mata saya bahwa kedisiplinan kecil yang dilakukan secara konsisten pada akhirnya akan membuahkan hasil yang membanggakan. Ketika nama saya diumumkan sebagai penerima Best Grooming, muncul perasaan haru, bangga, serta rasa tanggung jawab yang semakin besar untuk terus mempertahankan standar kualitas diri tersebut.

Pencapaian ini memberikan dampak psikologis yang luar biasa terhadap perkembangan karakter saya. Penghargaan ini membuktikan bahwa kerja keras dalam merawat penampilan, menjaga kebersihan diri, serta menjunjung tinggi etika kepribadian dapat menjadi nilai tambah yang membedakan diri kita di dunia kerja yang kompetitif. Keberhasilan meraih Best Grooming di Jogja Air Crew tidak hanya meningkatkan kepercayaan diri saya secara personal, tetapi juga semakin memantapkan tekad saya untuk berkarier di dunia penerbangan internasional dengan standar profesionalisme yang paripurna.

Link YouTube : 




29.10.26

ESAI 5 Berperilaku Inovatif RAY FRANSISCA MARITA KUSUMA (24310410005) PSIKOLOGI INOVASI KELAS KARYAWAN Ibu Dr. Arundati Shinta., MA

 Oktober 2026

Mengubah Limbah Kabel AC Menjadi Kerajinan Kreatif yang Menghasilkan Uang


 

Kreativitas dapat muncul dari kemampuan seseorang melihat peluang di balik barang yang dianggap tidak berguna. Salah satu contohnya adalah memanfaatkan limbah kabel AC yang sudah tidak terpakai. Kabel AC memiliki bagian tembaga di dalamnya yang dapat dimanfaatkan kembali menjadi bahan kerajinan tangan, seperti gelang, cincin, bros, dan berbagai hiasan atau pajangan.

Bagi sebagian orang, kabel AC bekas mungkin hanya dianggap sebagai sampah yang tidak memiliki nilai. Namun, dengan kreativitas dan keterampilan, tembaga yang terdapat di dalam kabel tersebut dapat diolah menjadi produk yang menarik dan memiliki nilai jual.

Ide berawal dari pemikiran sederhana bahwa bahan yang sudah tidak digunakan masih mempunyai potensi untuk dimanfaatkan. Daripada membuang kabel AC bekas begitu saja, saya mencoba melihat kemungkinan untuk mengolah tembaganya menjadi produk kerajinan yang unik. Selain membantu mengurangi limbah, kegiatan ini juga dapat menjadi peluang usaha kreatif yang menghasilkan uang.

Proses pembuatan kerajinan dimulai dengan mengumpulkan kabel AC bekas yang sudah tidak digunakan dan memastikan kabel tersebut aman untuk diolah. Setelah itu tembaga dipisahkan dari lapisan pembungkus kabel menggunakan cutter. Tembaga dipisahkan kemudian dibersihkan dan dipersiapkan sebagai bahan dasar kerajinan. Bahan tersebut dapat dibentuk menjadi berbagai produk sesuai dengan ide dan kreativitas pembuatnya.

Untuk membuat gelang, tembaga dibentuk sedemikian rupa sehingga menghasilkan pola yang menarik dan nyaman digunakan. Untuk membuat cincin, tembaga dapat dibentuk menjadi lingkaran dengan ukuran yang sesuai. Sementara itu, untuk membuat bros, tembaga dapat dirangkai menjadi bentuk kupu - kupu,  bunga atau motif lainnya. Tembaga juga dapat dimanfaatkan untuk membuat pajangan dekoratif yang memiliki nilai seni dan keunikan tersendiri.


 

Dalam proses pengerjaannya, diperlukan ketelitian, kesabaran, dan kemampuan untuk mencoba berbagai bentuk. Setiap produk dapat memiliki desain yang berbeda sehingga menghasilkan ciri khas tersendiri. Keunikan inilah yang dapat menjadi daya tarik bagi konsumen.

Untuk membantu proses pembuatan kerajinan dari tembaga, beberapa alat yang dapat digunakan antara lain:

1. Tang: digunakan untuk membantu membengkokkan dan membentuk tembaga.

2. Gunting: digunakan untuk memotong bahan tertentu yang sesuai dengan kemampuan alat tersebut.

3. Lem tembak: digunakan untuk merekatkan bagian dekoratif tertentu yang cocok dengan jenis lem tersebut.

4. Lem khusus: digunakan untuk merekatkan bahan sesuai dengan jenis material yang digunakan.

5. Tang jepit: membantu memegang dan menjepit tembaga ketika dibentuk.

6. Pinset: digunakan untuk mengambil atau mengatur bagian kecil agar lebih mudah dikerjakan.

7. Alat las, jika diperlukan: digunakan untuk menyambungkan bagian logam apabila desain dan jenis bahan memungkinkan.

8. Cutter digunakan untuk membantu memisahkan tembaga dengan pembungkus kabelnya, dan lain – lain.

 

Penggunaan alat disesuaikan dengan bentuk kerajinan yang dibuat. 

 


Bagi saya, kreativitas berarti mampu melihat peluang dari sesuatu yang sederhana, sedangkan inovasi berarti mewujudkan peluang tersebut menjadi produk yang memiliki manfaat dan nilai jual. Dengan kemauan belajar, ketekunan, serta kemampuan memahami kebutuhan pasar, limbah yang sebelumnya tidak terpakai dapat menjadi produk kerajinan yang bernilai ekonomi. Kegiatan ini mengajarkan saya untuk lebih peka melihat peluang di sekitar. Barang yang awalnya dianggap tidak bernilai ternyata dapat diubah menjadi sesuatu yang bermanfaat melalui proses berpikir kreatif, percobaan, dan ketekunan

Link penjualan produk 

 https://www.instagram.com/handicraft_jogja?srtk=MXQ2ZXVrbXA1NTd6Nw==

27.10.26

ESAI KE - 4 : MY BEST COPING BEHAVIOR ( Heni Dwi Anggreani / 2531044001)

 


Heni Dwi Anggreani

25310440001

Kelas Psikologi Inovasi - B

Tugas Essai Ke- 4

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

( Oktober 2026)

 

Bangkit dari Kehilangan dan Mempertahankan Integritas dalam Kehidupan (Peristiwa Menyakitkan dan Proses Bangkit Kembali )

Salah satu pengalaman paling menyakitkan dalam hidup saya adalah kehilangan ayah pada tahun 2020, kemudian disusul kehilangan anak saya yang baru lahir pada tahun 2021. Dua peristiwa tersebut memberikan tekanan emosional yang sangat besar bagi saya. Saya merasa putus asa, kehilangan semangat, dan kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari. Saya lebih banyak ingin tidur, melamun, dan tidak memiliki motivasi untuk kembali bekerja. Pada saat itu, saya merasa kehilangan arah dan sulit membayangkan bagaimana saya dapat menjalani kehidupan seperti sebelumnya.

Situasi tersebut menjadi sumber stres yang memengaruhi kehidupan pribadi maupun pekerjaan saya. Namun, secara perlahan, saya mulai menyadari bahwa masih ada orang-orang yang membutuhkan kehadiran dan tanggung jawab saya. Saya masih memiliki seorang anak yang membutuhkan kasih sayang dan perhatian saya, serta ibu yang perlu saya bantu memenuhi kebutuhannya. Kesadaran tersebut menjadi titik awal bagi saya untuk kembali bangkit. Saya mulai meyakinkan diri bahwa saya harus kembali berjuang, bekerja, dan menjalankan kehidupan sehari-hari, meskipun rasa kehilangan itu tidak sepenuhnya hilang.

Coping behavior yang paling saya banggakan adalah kemampuan untuk menerima kenyataan, menguatkan diri melalui keyakinan kepada Allah, dan menemukan kembali tujuan hidup. Saya belajar bahwa tidak semua hal yang kita inginkan dapat terwujud sesuai harapan. Ada hal-hal yang berada di luar kendali manusia dan harus diterima sebagai bagian dari takdir. Penerimaan tersebut bukan berarti saya melupakan ayah dan anak saya, melainkan belajar melanjutkan kehidupan tanpa menyangkal kesedihan yang pernah saya alami. Saya juga mengingat tanggung jawab saya terhadap keluarga sebagai alasan untuk kembali beraktivitas dan bekerja.

Pengalaman tersebut kemudian memengaruhi cara saya menghadapi tekanan dalam pekerjaan sebagai seorang pengacara. Saya pernah merasa dilematis ketika berhadapan dengan praktik-praktik yang bertentangan dengan prinsip kejujuran dan hati nurani saya. Saya bahkan beberapa kali mempertimbangkan untuk meninggalkan profesi tersebut. Namun, dukungan suami membantu saya melihat bahwa saya masih dapat menjalankan profesi ini dengan mempertahankan integritas dan menunjukkan bahwa keberhasilan tidak harus diperoleh melalui kecurangan. Saya memilih untuk tetap berjuang sesuai prinsip yang saya yakini.

Hikmah yang saya peroleh adalah bahwa bangkit bukan berarti tidak pernah merasa sedih, kecewa, atau ingin menyerah. Bangkit berarti belajar menerima hal-hal yang tidak dapat diubah dan tetap berusaha memperbaiki hal-hal yang masih dapat kita kendalikan. Saya juga menyadari bahwa tekanan dapat mendorong saya untuk mengevaluasi cara berpikir dan menentukan langkah yang lebih sesuai dengan nilai-nilai pribadi. Hingga saat ini, saya merasa bangga karena dapat menjalankan profesi dengan integritas dan menangani perkara dengan hasil yang baik tanpa harus mengorbankan prinsip kejujuran. Bagi saya, keberhasilan bukan hanya tentang hasil yang dicapai, tetapi juga tentang cara mencapainya. Pengalaman ini mengajarkan saya untuk terus beradaptasi, mempertahankan prinsip, dan menemukan kekuatan untuk melanjutkan kehidupan meskipun tidak semua hal berjalan sesuai harapan.

 

Daftar Pustaka

Ø Lutfi, S. A., & Asyanti, S. (2023). Strategi spiritual coping pada remaja yang mengalami kedukaan. Jurnal Psikologi, 16(2), 112–125. https://eprints.ums.ac.id/116401/

Ø Putri, A. R., Kusuma, S. W., & Firmansyah, Y. (2026). Kode etik dan integritas profesi advokat: Hubungan antara etika, pengawasan, dan pembelaan diri dalam praktik hukum. Jurnal Mahasiswa Hukum, 1(1), 1–11.https://jumas.ourhope.biz.id/ojs/index.php/JM/article/view/183

Ø Winta, M. V. I., & Syafitri, A. K. (2015). Coping stress pada ibu yang mengalami kematian anak. Jurnal Psikologi Philanthropy, 1(1), 77–88.  (DOI: https://doi.org/10.26623/philanthropy.v3i1.1513 )

Esai 4 My Best Coping Behavior - Psikologi Inovasi - RAy Fransisca Marita Kusuma (24310410005) - Kelas Karyawan - Dr. Arundati Shinta., MA

Pengalaman Menghadapi Kegagalan dan Menemukan Makna di Baliknya

Oktober 2026 

Pada bulan Maret 2020, saya pernah mengalami pengalaman yang cukup berkesan dalam perjalanan karier saya. Saat itu, saya memiliki keinginan yang besar untuk bekerja di sebuah rumah produksi besar di Jakarta. Pekerjaan tersebut merupakan pekerjaan yang saya idam-idamkan karena sesuai dengan passion dan harapan saya pada saat itu. Saya memiliki harapan bahwa apabila berhasil diterima saya dapat mengembangkan kemampuan, memperoleh pengalaman baru, dan membangun karier sesuai dengan bidang yang saya sukai.
 
Namun, kenyataan tidak berjalan sesuai dengan harapan. Saya tidak berhasil diterima bekerja di perusahaan tersebut. Pada awalnya, tentu saja saya merasa kecewa karena kesempatan yang sudah saya harapkan ternyata belum menjadi milik saya. Saya harus menghadapi kenyataan bahwa keinginan untuk bekerja di tempat yang saya impikan tidak dapat terwujud pada saat itu. Pengalaman tersebut mengajarkan saya bahwa dalam kehidupan, tidak semua hal yang kita inginkan dapat diperoleh sesuai dengan waktu dan rencana yang telah kita susun.

Dalam menghadapi kekecewaan tersebut, saya berusaha menyesuaikan diri dengan keadaan dan tetap membuka diri terhadap kesempatan kerja lainnya. Saya tidak ingin terus-menerus larut dalam kegagalan karena saya menyadari bahwa masih ada peluang lain yang dapat saya perjuangkan. Akhirnya saya memperoleh pekerjaan di Yogyakarta. Meskipun pekerjaan tersebut tidak sepenuhnya sesuai dengan passion saya, saya mulai melihat bahwa pekerjaan ini memberikan banyak hal positif yang sebelumnya mungkin tidak saya pertimbangkan ketika terlalu berfokus pada pekerjaan impian di Jakarta.

Salah satu hal yang paling saya syukuri adalah kesempatan untuk tetap tinggal dekat dengan keluarga terutama ibu saya. Ayah saya telah meninggal dunia sehingga keberadaan ibu menjadi sangat berarti dalam kehidupan saya. Dengan bekerja di Yogyakarta, saya memiliki kesempatan untuk tetap dekat dengan ibu, mendampingi beliau, dan menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarga. Bagi saya, hal tersebut merupakan kebahagiaan yang tidak dapat diukur hanya dengan pencapaian karier.

Selain itu, saya juga mendapatkan lingkungan kerja yang nyaman dan rekan-rekan satu profesi yang sangat baik. Hubungan dengan rekan kerja yang positif membuat saya merasa diterima, dihargai, dan lebih nyaman dalam menjalankan pekerjaan. Saya menyadari bahwa lingkungan kerja yang sehat merupakan salah satu faktor penting yang memengaruhi kesejahteraan psikologis seseorang. Bekerja bukan hanya tentang melakukan pekerjaan sesuai minat tetapi juga tentang bagaimana kita dapat berkembang, membangun hubungan yang baik, dan merasakan kenyamanan dalam lingkungan kerja. Hal lain yang patut saya syukuri adalah penghasilan yang saya terima di Yogyakarta ternyata lebih besar dibandingkan dengan pekerjaan yang saya harapkan di Jakarta. 

Pengalaman ini membuat saya menyadari bahwa pekerjaan yang awalnya tidak sesuai dengan passion belum tentu memberikan hasil yang lebih buruk. Terkadang kesempatan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya justru memberikan manfaat yang lebih besar dalam aspek keuangan, hubungan sosial, dan kehidupan keluarga. 

Saya dahulu menganggap pekerjaan impian sebagai salah satu tujuan besar yang harus saya capai. Namun setelah menjalani pekerjaan di Yogyakarta, saya menyadari bahwa ada banyak bentuk keberhasilan yang dapat saya rasakan, seperti memiliki hubungan keluarga yang dekat, lingkungan kerja yang mendukung, penghasilan yang lebih baik, serta kesempatan untuk menjalani kehidupan dengan lebih nyaman. 

Pada akhirnya saya belajar untuk tidak menilai kegagalan hanya dari apa yang tidak berhasil saya dapatkan. Saya juga perlu melihat apa yang justru saya peroleh dari keadaan tersebut. Tidak diterima bekerja di rumah produksi besar di Jakarta memang membuat saya harus mengubah rencana tetapi pengalaman itu membuka jalan menuju pekerjaan yang memberikan manfaat dalam berbagai aspek kehidupan saya. 

Pengalaman tersebut mengajarkan saya bahwa menerima kenyataan bukan berarti menyerah terhadap impian. Saya tetap dapat mengembangkan diri, mencari peluang baru, dan mengejar passion melalui cara lain tanpa mengabaikan hal-hal yang berharga dalam kehidupan saya. Bagi saya, coping behavior bukan sekadar cara untuk mengurangi kekecewaan, melainkan proses belajar untuk beradaptasi, menemukan makna dan membangun kehidupan yang lebih baik dari keadaan yang awalnya tidak sesuai dengan harapan.

26.10.26

ESAI 9 Psikologi Inovasi Membangun Kesadaran dan Perubahan Perilaku Pekerja Lapangan Proyek dalam Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) melalui Pelatihan Keselamatan Kerja RAY FRANSISCA MARITA KUSUMA (24310410005) PSIKOLOGI LINGKUNGAN KELAS KARYAWAN Ibu Dr. Arundati Shinta., MA

Oktober 2026
Keselamatan kerja merupakan aspek penting dalam pelaksanaan proyek konstruksi. Pekerja lapangan menghadapi berbagai potensi bahaya, seperti tertimpa material, terjatuh, terkena benda tajam, serta risiko kecelakaan akibat penggunaan peralatan kerja. Oleh karena itu, penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) menjadi salah satu upaya untuk melindungi pekerja dari risiko kecelakaan dan cedera selama bekerja. Namun, dalam praktiknya, masih terdapat pekerja yang kurang disiplin dalam menggunakan APD. Sebagian pekerja menganggap penggunaan helm keselamatan, sepatu keselamatan, rompi reflektif, sarung tangan, dan perlengkapan lainnya sebagai sesuatu yang merepotkan atau menghambat pekerjaan. Kebiasaan tersebut menunjukkan bahwa penyediaan APD saja belum cukup. Diperlukan upaya untuk membangun kesadaran, mengubah pola pikir, dan membentuk kebiasaan kerja yang lebih aman.
 
Berdasarkan permasalahan tersebut, saya berinisiatif menyusun dan melaksanakan pelatihan yang bertujuan mendorong perubahan perilaku pekerja lapangan proyek agar lebih sadar dan disiplin dalam menggunakan APD. Pelatihan ini tidak hanya berfokus pada penyampaian informasi mengenai keselamatan kerja, tetapi juga pada pembentukan sikap dan kebiasaan positif yang dapat diterapkan dalam aktivitas kerja sehari-hari juga untuk meningkatkan pemahaman pekerja mengenai pentingnya penggunaan APD, mengenali risiko kecelakaan kerja, serta membangun kesadaran bahwa keselamatan merupakan tanggung jawab bersama. 

Secara khusus, pelatihan diharapkan dapat membantu pekerja untuk:
 1. Memahami fungsi dan manfaat setiap jenis APD sesuai dengan risiko pekerjaannya.
 2. Mengenali bahaya yang dapat terjadi apabila bekerja tanpa menggunakan APD. 
3. Mengubah pola pikir bahwa penggunaan APD bukan sekadar kewajiban atau aturan perusahaan, melainkan bentuk perlindungan terhadap diri sendiri dan rekan kerja. 
4. Membentuk kebiasaan menggunakan APD secara benar dan konsisten. 
5. Meningkatkan kepedulian ant pekerja untuk saling mengingatkan mengenai keselamatan kerja.
 
Materi pelatihan dirancang secara sederhana dan praktis agar mudah dipahami oleh pekerja lapangan yang memiliki pengalaman dan latar belakang pendidikan yang beragam. Materi pertama membahas pengertian K3, pentingnya keselamatan kerja, serta tanggung jawab pekerja dan perusahaan dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman. 
Peserta diajak memahami bahwa kecelakaan kerja dapat terjadi ketika risiko tidak dikenali atau prosedur keselamatan diabaikan juga diberikan penjelasan mengenai jenis APD yang digunakan sesuai dengan pekerjaan dan potensi bahaya di lapangan antara lain:
 - Helm keselamatan: melindungi kepala dari risiko benturan dan benda jatuh sesuai dengan spesifikasi helm.
 - Sepatu keselamatan: membantu melindungi kaki dari bahaya tertentu, seperti tertimpa benda atau tertusuk material, sesuai dengan jenis perlindungannya.
 - Rompi reflektif: meningkatkan keterlihatan pekerja, terutama di area dengan pergerakan kendaraan atau alat berat.
 - Sarung tangan kerja: melindungi tangan dari risiko tertentu sesuai dengan jenis pekerjaan. 
- Kacamata pelindung: melindungi mata dari debu, serpihan, atau percikan sesuai dengan risiko pekerjaan. 
- Pelindung pendengaran dan perlindungan pernapasan: digunakan apabila terdapat paparan kebisingan atau kontaminan yang memerlukan perlindungan khusus.
 - Sabuk pengaman atau sistem penahan jatuh: digunakan untuk pekerjaan di ketinggian sesuai prosedur dan sistem perlindungan yang berlaku.
 
Selain mengenali jenis APD, peserta juga diberikan pemahaman mengenai cara pemakaian, pemeriksaan kondisi, perawatan, dan penyimpanan APD dengan benar. Pada materi ini, peserta diajak mengenali konsekuensi yang dapat terjadi ketika APD tidak digunakan. Dampak tersebut dapat berupa cedera, terganggunya aktivitas pekerjaan, kerugian bagi pekerja dan keluarga, serta keterlambatan penyelesaian proyek. Penyampaian materi dilakukan dengan contoh situasi yang dekat dengan aktivitas sehari-hari di lapangan agar peserta lebih mudah memahami hubungan antara perilaku kerja dan risiko kecelakaan. 

Materi berikutnya berfokus pada perubahan perilaku. Pekerja diajak memahami bahwa kebiasaan tidak menggunakan APD dapat terbentuk karena merasa sudah berpengalaman, terburu-buru, tidak nyaman, atau menganggap risiko kecelakaan kecil. Melalui diskusi, peserta diajak mengidentifikasi alasan mereka terkadang tidak menggunakan APD dan mencari solusi yang sesuai. Misalnya, memastikan APD tersedia dalam ukuran yang tepat, memeriksa kelayakannya, melakukan pemeriksaan sebelum bekerja, dan saling mengingatkan dengan cara yang sopan. Pelatihan dilengkapi dengan demonstrasi langsung mengenai cara menggunakan dan memeriksa APD. Peserta diminta mempraktikkan pemakaian APD sesuai dengan jenis pekerjaannya. Instruktur kemudian memberikan koreksi apabila terdapat cara penggunaan yang kurang tepat.
 
Setelah penyampaian materi, peserta mengikuti praktik penggunaan APD. Pada akhir pelatihan, dilakukan tanya jawab dan penguatan komitmen untuk menerapkan kebiasaan kerja yang lebih aman. Untuk mendukung perubahan perilaku dalam jangka panjang, pelatihan perlu dilanjutkan dengan pengawasan yang konsisten, ketersediaan APD yang layak, keteladanan dari pengawas proyek, serta evaluasi kepatuhan penggunaan APD secara berkala. 

Melalui diskusi, saya dapat mengetahui bahwa perilaku tidak menggunakan APD tidak selalu disebabkan oleh ketidakpedulian. Ada pula faktor kebiasaan, ketidaknyamanan, keterbatasan pemahaman, dan tekanan untuk menyelesaikan pekerjaan dengan cepat. Pengalaman tersebut memberikan pelajaran bahwa perubahan perilaku tidak cukup dilakukan melalui teguran atau pemberian aturan. Pekerja juga perlu diberikan penjelasan yang dapat mereka pahami, kesempatan menyampaikan kendala, dan dukungan untuk membangun kebiasaan yang lebih aman. Dengan pendekatan yang tepat, pelatihan diharapkan dapat membantu membangun budaya keselamatan di lingkungan proyek konstruksi. Keselamatan bukan hanya kewajiban administratif, melainkan bagian penting dari upaya menjaga kesehatan, produktivitas, dan kesejahteraan pekerja.