4.11.26

ESAI 6 partisipasi lomba

 



Baiq muthia syafitri 

24310410011

Dr. Arundita Shinta., M.A

 

 Dari Malas Menjadi Semangat


 

Dari Malas Menjadi Semangat


Sebagai mahasiswa, saya mengakui bahwa pada awalnya saya sangat malas berpartisipasi dalam lomba, baik akademik maupun nonakademik. Saya selalu berpikir bahwa mengikuti lomba hanya akan membuat saya lelah, sibuk, dan takut gagal. Ketika melihat pengumuman lomba di kampus atau media sosial, saya biasanya membiarkannya lewat. Saya merasa tidak percaya diri dengan kemampuan yang saya miliki, sehingga lebih memilih menjadi penonton daripada peserta.

Namun, sikap itu perlahan berubah sejak saya mengikuti lomba menulis puisi dengan karya berjudul “Rindu yang Tak Kunjung Temu”. Saya mengikuti lomba tersebut karena ingin mencoba sesuatu yang baru dan meluapkan perasaan yang selama ini saya simpan sendiri. Melalui puisi, saya dapat menyampaikan rasa rindu, harapan, dan pengalaman pribadi dengan bahasa yang lebih indah. Proses menyusun kata demi kata terasa menyenangkan, meskipun saya juga merasa gugup karena karya tersebut akan dinilai oleh juri.

Sayangnya, saya tidak memenangkan lomba tersebut. Awalnya, saya merasa kecewa karena usaha saya tidak menghasilkan kemenangan. Namun, setelah memikirkannya kembali, saya menyadari bahwa tidak menang bukan berarti gagal sepenuhnya. Pengalaman itu justru memberikan banyak hal berharga. Saya belajar berani mencoba, menerima hasil, dan tidak takut menunjukkan karya kepada orang lain.

Hal yang paling berkesan adalah saya dapat bertemu dengan banyak peserta dari berbagai daerah. Kami saling berkenalan, berbagi cerita, dan menukar pengalaman setelah lomba. Mereka bercerita tentang alasan menulis, kesulitan yang dihadapi, serta harapan terhadap karya masing-masing. Dari situ, saya merasa tidak sendirian. Banyak orang juga merasa takut dan ragu, tetapi tetap memilih mencoba. Suasana lomba terasa seru karena kami tidak hanya bersaing, tetapi juga saling mendukung.

Sejak mengikuti lomba itu, jiwa semangat saya bangkit kembali. Saya menyadari bahwa menjadi mahasiswa bukan hanya mengikuti perkuliahan dan mengerjakan tugas, tetapi juga mengembangkan diri melalui berbagai pengalaman. Saya menjadi lebih terbuka terhadap peluang baru, lebih percaya diri mengekspresikan ide, dan lebih berani keluar dari zona nyaman.

Kini, saya tidak lagi mudah menyerah atau menghindari tantangan. Saya ingin terus mengikuti lomba lain agar dapat belajar lebih banyak, menambah teman, dan mengasah kemampuan menulis. Pengalaman tersebut menjadi titik awal perubahan dalam diri saya, dari mahasiswa yang malas berpartisipasi menjadi pribadi yang lebih aktif dan bersemangat.



Pengalaman kedua adalah ketika saya mengikuti lomba fiqih. Lomba ini membuat saya lebih termotivasi untuk mempelajari ajaran Islam, terutama mengenai hukum dan ketentuan dalam kehidupan sehari-hari. Sebelum lomba, saya mempersiapkan diri dengan membaca materi, mengulang pelajaran, dan berdiskusi dengan teman. Meskipun proses persiapannya tidak mudah, saya merasa senang karena dapat menambah wawasan keagamaan. Lomba fiqih juga melatih saya untuk berpikir lebih kritis, teliti, dan percaya diri dalam menjawab pertanyaan.

Melalui kedua lomba tersebut, jiwa semangat saya bangkit kembali. Saya menyadari bahwa menjadi mahasiswa bukan hanya mengikuti perkuliahan dan mengerjakan tugas, tetapi juga mengembangkan diri melalui berbagai pengalaman. Saya menjadi lebih terbuka terhadap peluang baru, lebih percaya diri mengekspresikan ide, dan lebih berani keluar dari zona nyaman.

Kini, saya tidak lagi mudah menyerah atau menghindari tantangan. Saya ingin terus mengikuti lomba lain agar dapat belajar lebih banyak, menambah teman, mengasah kemampuan menulis, dan memperdalam ilmu agama. Pengalaman tersebut menjadi titik awal perubahan dalam diri saya, dari mahasiswa yang malas berpartisipasi menjadi pribadi yang lebih aktif, bersemangat, dan percaya bahwa setiap kesempatan dapat membawa pertumbuhan.



ESAI 2 wawancara disonansi kognitif


Baiq muthia syafitri 

24310410011

Dr. Arundita Shinta., M.A

Wawancara dengan Riki tentang Kebiasaan Merokok

Saya  mewawancarai teman saya yang menggunakan nama samaran Riki. Usianya 23 tahun dan ia berkuliah di UII. Saya dan Riki berada dalam satu tim untuk mengerjakan sebuah proyek. Saat sedang berkumpul, saya melihat ia terus merokok. Begitu satu batang habis, ia langsung menyalakan rokok berikutnya. Begitu seterusnya sampai satu bungkus rokok habis.

Karena melihatnya hampir tidak berhenti merokok, saya akhirnya bertanya, “Kenapa tidak dikasih jeda dulu? Dari tadi habis satu batang, langsung menyalakan lagi.”

Riki menjawab bahwa merokok membuat pikirannya lebih tenang. Menurutnya, saat sedang mengerjakan proyek, rokok membantu dirinya mendapatkan ide atau menemukan jawaban dari masalah yang sedang dipikirkan.

“Kalau aku merokok, pikiran aku jadi tenang. Kadang dari merokok ini aku bisa dapat jawaban atau ide,” katanya.

Mendengar jawaban itu, saya kembali bertanya, “Kamu tahu, kan, di bungkus rokok ada gambar yang mengerikan?”

“Iya, aku tahu. Tapi kalau aku tidak merokok, pikiran aku bisa buntu,” jawabnya.

Dari jawaban tersebut, saya melihat bahwa Riki merasa rokok sudah menjadi bagian dari caranya menghadapi pekerjaan yang membutuhkan banyak pikiran. Ia merasa terbantu oleh rokok, sehingga tetap melakukannya meskipun mengetahui ada peringatan pada bungkusnya.

Saya lalu mengingatkan Riki untuk membatasi kebiasaannya. Saya mengatakan kepadanya agar lebih menyayangi paru-parunya karena usianya masih muda. Sebagai teman sekaligus rekan satu tim, saya khawatir melihat ia menghabiskan rokok terus-menerus tanpa jeda yang lama.

Riki kemudian mengatakan, “Aku tahu risiko terlalu banyak merokok itu berbahaya banget. Tapi mau bagaimana lagi, mau berhenti merokok juga aku susah.”

Jawaban terakhirnya memperjelas bahwa ia sebenarnya mengetahui risiko dari kebiasaannya. Namun, mengetahui bahaya tersebut ternyata belum membuatnya bisa berhenti. Ia masih merasa membutuhkan rokok agar tenang dan bisa mendapatkan ide saat mengerjakan proyek.

Menurut saya, bagian yang berkaitan dengan disonansi kognitif dalam wawancara ini adalah perbedaan antara pengetahuan Riki dan tindakannya. Ia tahu bahwa terlalu banyak merokok berbahaya, tetapi tetap melakukannya. Ia juga memberikan alasan bahwa rokok membantu pikirannya agar tidak buntu. Meski begitu, saya tidak bisa menyimpulkan bahwa ia merasa bersalah karena ia tidak menyampaikan hal tersebut.

Dari percakapan ini, saya memahami bahwa mengingatkan seseorang belum tentu langsung membuatnya mengubah kebiasaan. Dalam kasus Riki, ia sudah mengetahui risikonya, tetapi masih merasa sulit berhenti dan masih menganggap rokok membantunya dalam mengerjakan proyek.

 

2.11.26

Tisya Sukmalatri 24310410022 - Psi Inovasi - Esai 3 Menjadi Suri Tauladan - Dr. Arundati Shinta - Kelas Karyawan - November 2026

 

Tisya Sukmalatri

24310410022

Psikologi Inovasi - Kelas Karyawan

Essay 3 – Menjadi Suri Tauladan

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

 



Menjadi generasi muda yang sukses bukan hanya tentang mendapatkan nilai bagus atau mencapai cita-cita, tetapi juga tentang bagaimana kita menghadapi kesulitan dan memberikan pengaruh positif kepada orang lain. Mahasiswa sering menghadapi berbagai tantangan, seperti tugas yang menumpuk, kegagalan mencapai target, dan kekhawatiran tentang masa depan. Oleh karena itu, resiliensi dan ketekunan menjadi dua hal penting yang perlu dikembangkan agar kita mampu bertumbuh dan menjadi teladan bagi lingkungan sekitar.

Tips 1: Mengembangkan Resiliensi dengan Belajar dari Kegagalan

Resiliensi merupakan kemampuan individu untuk menghadapi kesulitan, menyesuaikan diri, dan bangkit kembali setelah mengalami tekanan. Menurut Dwiastuti et al. (2021), resiliensi akademik menjadi hal penting bagi siswa dan mahasiswa dalam menghadapi berbagai hambatan selama proses pendidikan. Resiliensi membantu individu tetap berusaha meskipun mengalami kesulitan dalam mencapai tujuan akademiknya.

Salah satu cara mengembangkan resiliensi adalah dengan menerima keadaan tanpa terus-menerus menyalahkan diri sendiri. Ketika mengalami kegagalan, kita dapat mencoba memahami penyebabnya, mengevaluasi kekurangan, dan menentukan langkah yang perlu diperbaiki. Selain itu, menjaga kesehatan diri dan meminta dukungan dari orang yang dipercaya juga dapat membantu kita menghadapi masalah.

Sebagai mahasiswa, saya menyadari bahwa proses belajar tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ada kalanya saya merasa lelah atau kecewa ketika hasil yang diperoleh belum sesuai harapan. Namun, saya perlu belajar untuk tidak berhenti hanya karena mengalami kesulitan. Saya bisa menjadikan kegagalan sebagai bahan evaluasi agar lebih siap menghadapi tantangan berikutnya. Dengan demikian, resiliensi bukan hanya membantu diri sendiri, tetapi juga dapat menginspirasi orang lain untuk tidak mudah menyerah.

Tips 2: Menumbuhkan Ketekunan melalui Kebiasaan Kecil

Selain resiliensi, ketekunan juga penting untuk mencapai tujuan. Ketekunan berkaitan dengan kemampuan untuk mempertahankan usaha dan konsistensi dalam mengejar tujuan jangka panjang. Dyantari dan Simarmata (2023) menjelaskan pentingnya grit bagi mahasiswa dalam proses belajar dan pencapaian tujuan. Konsep ini relevan dengan kehidupan mahasiswa yang perlu menjalani proses belajar secara konsisten meskipun menghadapi berbagai hambatan.

Ketekunan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti membuat jadwal kegiatan, menyelesaikan tugas secara bertahap, menetapkan target harian, dan mengevaluasi perkembangan diri. Kita tidak harus langsung melakukan perubahan besar. Hal yang lebih penting adalah memulai dari langkah kecil dan melakukannya secara konsisten. Ketika merasa bosan atau kehilangan motivasi, kita dapat mengingat kembali tujuan awal dan alasan mengapa tujuan tersebut penting untuk dicapai.

Dalam kehidupan mahasiswa, ketekunan dapat ditunjukkan dengan berusaha memahami materi kuliah, mengerjakan tugas tepat waktu, aktif mencari pengetahuan baru, dan bertanggung jawab terhadap kewajiban. Menurut Vivekananda (2018), grit pada mahasiswa mencakup konsistensi minat dan ketekunan usaha. Hal ini menunjukkan bahwa mencapai tujuan tidak hanya membutuhkan keinginan, tetapi juga usaha yang berkelanjutan.

Saya percaya bahwa kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat membantu membentuk pribadi yang disiplin dan bertanggung jawab. Sikap tersebut dapat menjadi contoh bagi orang lain bahwa keberhasilan membutuhkan proses, bukan hanya hasil yang terlihat.

Resiliensi dan ketekunan merupakan dua sikap yang saling melengkapi. Resiliensi membantu kita bangkit ketika menghadapi kegagalan, sedangkan ketekunan membantu kita terus melangkah untuk mencapai tujuan. Keduanya perlu dikembangkan agar generasi muda tidak hanya mampu menghadapi tantangan, tetapi juga dapat memberikan pengaruh positif bagi lingkungan sekitarnya.

Menjadi suri tauladan tidak harus dimulai dari pencapaian yang besar. Kita dapat memulainya dengan menunjukkan sikap pantang menyerah, konsisten menjalankan tanggung jawab, dan mau belajar dari kesalahan. Dengan menerapkan kedua tips tersebut dalam kehidupan sehari-hari, saya berharap dapat menjadi pribadi yang terus berkembang dan memberikan inspirasi bagi orang lain melalui tindakan nyata.

Link Tips 1 : https://youtube.com/shorts/PY8WSHvVa5k?si=PNIQ7C56OuOeKBfC

Link Tips 2 : https://youtube.com/shorts/wo0JHNerW5Q?si=nFNX1rR-BjTXhV9_

 

Daftar Pustaka:

Dwiastuti, I., Hendriani, W., & Andriani, F. (2021). Perkembangan penelitian resiliensi akademik di Indonesia: Scoping literature review. Jurnal Psikologi TALENTA, 7(1). https://doi.org/10.26858/talenta.v7i1.23748

Dyantari, K. R., & Simarmata, N. (2023). The role of grit for college students in Indonesia. Insight: Jurnal Ilmiah Psikologi, 25(2). https://doi.org/10.26486/psikologi.v25i2.3167

Vivekananda, N. L. A. (2018). Studi deskriptif mengenai grit pada mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha Bandung. Humanitas (Jurnal Psikologi), 1(3), 183–196. https://doi.org/10.28932/humanitas.v1i3.756

 

 

Galuh Sekar Anindita 24310410027 - Psi Inovasi - Esai 4 My Best Coping Behavior - November 2026

 

BELAJAR MENGHADAPI TANTANGAN DAN MENERIMA KEADAAN

Galuh Sekar Anindita

NIM 24310410027

Kelas Karyawan

Mata Kuliah Psikologi Inovasi

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta 


ESAI 4 : MY BEST COPING BEHAVIOR

Salah satu pengalaman yang cukup berat bagi saya terjadi pada tahun 2023, ketika saya mendapatkan penempatan sebagai anggota Polri di Brimob Yogyakarta. Sebelumnya, saya berharap dapat ditempatkan di satuan kerja Polda. Namun, ternyata saya mendapatkan penempatan di Brimob. Saat itu, saya tidak memiliki gambaran tentang brimob, yang saya bayangkan adalah Brimob merupakan satuan yang keras dan memiliki latihan yang berat. Hal tersebut membuat saya merasa sedih, khawatir, dan belum siap menghadapi lingkungan kerja yang baru.

Keadaan tersebut menjadi sumber stres bagi saya karena tidak sesuai dengan harapan. Saya harus menjalani pembinaan selama dua bulan, jauh dari orang tua, tanpa menggunakan handphone, serta mengikuti latihan fisik dan kemampuan dasar Brimob. Awalnya, saya merasa takut dan berpikir apakah saya mampu melewati semua proses tersebut.

Dalam menghadapi keadaan itu, cara pertama yang saya lakukan adalah berusaha berpikir positif (positive thinking). Saya mencoba mengubah pikiran saya yang awalnya merasa takut menjadi lebih yakin bahwa saya pasti bisa menjalani proses tersebut. Saya juga berusaha menanamkan dalam diri bahwa penempatan di Brimob merupakan bagian dari tugas dan tanggung jawab saya sebagai anggota Polri. Dengan begitu, saya tidak terus-menerus musician hal yang membuat saya sedih. Selain itu, saya belajar menerima keadaan. Saya menyadari bahwa tidak semua hal yang saya inginkan dapat berjalan sesuai harapan. Daripada terus merasa kecewa, saya mencoba menerima penempatan tersebut dan menjalaninya dengan ikhlas. Saya juga berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan, aturan, serta kegiatan yang ada di Brimob.

Cara lain yang membantu saya menghadapi stres adalah dukungan dari teman-teman. Selama menjalani pembinaan dan latihan, saya merasa terbantu dengan adanya teman satu letting. Kami saling memberikan semangat, saling membantu, dan menguatkan ketika merasa lelah. Kebersamaan tersebut membuat saya merasa tidak sendirian dalam menghadapi kesulitan. Saya juga berusaha fokus menjalani setiap proses. Saya tidak terlalu memikirkan beratnya seluruh kegiatan yang harus dilalui, tetapi mencoba menyelesaikan setiap latihan satu per satu. Saya belajar untuk tetap disiplin, menjaga semangat, dan tidak mudah menyerah. Cara tersebut membantu saya untuk lebih tenang dan mampu menghadapi tantangan.

Dari pengalaman ini, saya mendapatkan hikmah bahwa sesuatu yang awalnya terasa berat dan menakutkan belum tentu tidak bisa kita jalani. Saya menjadi lebih mandiri, tangguh, dan mampu beradaptasi dengan lingkungan kerja. Saya juga semakin memahami arti kebersamaan dan kekeluargaan di Brimob. Hingga saat ini, saya merasa senang menjalani pekerjaan saya. Pengalaman tersebut mengajarkan saya bahwa dengan berpikir positif, menerima keadaan, dan mendapatkan dukungan dari orang sekitar, kita dapat menghadapi stres dan melewati berbagai tantangan.

 

ESSAI 4 COPING BEHAVIOR

 



Nama : Serlita Van Gobel

Nim : 24310410206

Dosen : Dr. Arundati Shinta M.A.

Mekanisme Koping Terbaikku: Seni Menulis  dan Olahraga

 

Kehidupan terus menerus menghadirkan tantangan tak terduga, rasa stres, dan momen yang membuat kita merasa kewalahan. Selama bertahun-tahun, saya telah mencoba berbagai cara untuk mengatasi emosi yang sulit, tetapi perilaku koping yang paling efektif yang saya kembangkan adalah kombinasi antara menulis dan olahraga

 

Ketika dihadapkan pada kecemasan atau gejolak emosional, pikiran saya sering kali menjadi seperti ruangan bising yang dipenuhi pikiran-pikiran kacau. Respon spontan saya adalah menilis. Menumpahkan apa yang saya rasakan ke dalam tulisan berfungsi sebagai pelepas emosi. Dengan menggerakkan pena di kertas, saya memindahkan beban kekhawatiran dari kepala ke atas halaman fisik. Proses ini memungkinkan saya melepaskan masalah ke luar, sehingga terasa lebih mudah dikendalikan daripada membuat kewalahan. Menulis menyediakan ruang aman di mana saya bisa jujur sepenuhnya tanpa takut dihakimi. Hal ini memberi saya jarak yang dibutuhkan untuk menganalisis situasi secara objektif, mengenali pola pikir yang tidak berguna, dan mencari solusi praktis.

 

Namun, stres emosional sering kali berdampak pada fisik—seperti ketegangan pada bahu, dada yang terasa sesak, atau rasa gelisah. Untuk melengkapi kegiatan menulis, saya melakukan olahraga , seperti berjalan kaki di luar ruangan, peregangan yoga sederhana, atau kardio ringan. Aktivitas fisik membantu melepaskan hormon kortisol yang menumpuk dan memicu pelepasan endorfin, yaitu peningkat suasana hati alami tubuh. Berjalan di udara segar sambil fokus pada lingkungan sekitar membantu saya tetap berpijak pada momen saat ini, memindahkan fokus dari kecemasan internal.

 

Hal yang menjadikan strategi ganda ini sebagai mekanisme koping terbaik saya adalah keseimbangannya: menulis, merawat pikiran dan emosi saya, sementara olahraga memulihkan kondisi fisik saya. Bersama-sama, keduanya membentuk rutinitas ampuh yang membantu saya mendapatkan kembali kejelasan berpikir, mengendalikan emosi, dan membangun kembali ketahanan diri. Alih-alih menghindari stres atau menekan emosi negatif, pendekatan aktif ini memungkinkan saya memproses perasaan secara sehat, yang mengarah pada stabilitas emosional jangka panjang dan ketenangan pikiran.

ESSAI 1 MERINGKAS JURNAL

 

Analysis Entrepreneurship and Model Planning for Students and Alumni to Form MSME Entrepreneurs




Nama : Serlita Van Gobel

Nim : 24310410206

Dosen : Dr. Arundati Shinta M.A.

Jurnal ini berjudul "Analysis Entrepreneurship and Model Planning for Students and Alumni to Form MSME Entrepreneurs" yang ditulis oleh Ari Nurul Fatimah dan rekan-rekan dari Fakultas Ekonomi Universitas Tidar. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya kewirausahaan dalam menekan angka pengangguran dan kemiskinan di Indonesia, khususnya bagi kalangan lulusan perguruan tinggi yang sebagian besar masih berorientasi sebagai pencari kerja (job seeker) alih-alih pencipta lapangan kerja (job creator).   Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor motivasi yang memengaruhi kesuksesan dan kinerja usaha mahasiswa serta alumni, guna merancang model inkubator kewirausahaan yang tepat di lingkungan Fakultas Ekonomi Universitas Tidar.   Metodologi

Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan sumber data primer berupa kuesioner. Sampel melibatkan 150 responden yang terdiri dari mahasiswa aktif dan alumni jurusan akuntansi di sekitar Kota dan Kabupaten Magelang yang pernah mengambil mata kuliah kewirausahaan. Teknik analisis data meliputi uji validitas, reliabilitas, asumsi klasik (normalitas, multikolinieritas, autokorelasi, heteroskedastisitas), serta uji regresi linier berganda (uji F dan uji t).   Hasil dan Pembahasan

Dari tujuh variabel independen yang diuji terhadap kinerja usaha (variabel dependen), hasil analisis menunjukkan bahwa:Variabel Signifikan: Hanya lingkungan keluarga dan ekspektasi pendapatan yang berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja usaha (memiliki nilai signifikansi $< 0,05$). Dukungan, bimbingan, serta dorongan orang tua berperan besar dalam membentuk perilaku wirausahaan anak, sementara ekspektasi pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan karyawan biasa menjadi pendorong kuat seseorang untuk berwirausaha.   Variabel Tidak Signifikan: Kelima variabel lainnya yaitu iklim usaha, kompetensi kewirausahaan, minat kewirausahaan, motivasi kewirausahaan, dan perbedaan jenis kelamin terbukti tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja usaha (nilai signifikansi $> 0,05$). Motivasi internal saja tidak cukup tanpa adanya aksi nyata serta praktik langsung di lapangan.   Secara simultan, seluruh variabel independen mampu menjelaskan variasi terhadap kinerja usaha sebesar 51,3% (R Square), sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar model penelitian ini.   Kesimpulan

Strategi kesuksesan wirausahaan pada mahasiswa dan alumni dalam penelitian ini utamanya dipengaruhi oleh faktor lingkungan keluarga dan ekspektasi pendapatan. Keterbatasan penelitian ini terletak pada jumlah sampel yang terbatas (100 mahasiswa dan 50 alumni di wilayah Magelang), sehingga hasilnya belum dapat digeneralisasi secara luas. Hasil ini memberikan implikasi penting perlunya pengembangan model inkubator bisnis yang mampu memperkuat dorongan keluarga serta proyeksi finansial bagi calon wirausahawan muda.

Psikologi Inovasi-Essay 9- Training

   


Langkah Kecil untuk Lingkungan Rumah yang Lebih Baik

Putri Dahliani (21310410110)
Psikologi Inovasi- kelas karyawan
Dosen pangampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

     Lingkungan tempat tinggal memiliki pengaruh terhadap kenyamanan dan kebiasaan sehari-hari. Rumah yang bersih, rapi, dan terawat dapat membuat penghuninya merasa lebih nyaman dalam menjalankan aktivitas. Namun, menjaga lingkungan rumah bukan hanya menjadi tanggung jawab satu orang, melainkan membutuhkan kesadaran dan kerja sama seluruh penghuni. Kebiasaan sederhana, seperti menggunakan air secukupnya, membersihkan ruangan, dan menjaga kebersihan kamar mandi, dapat menjadi langkah awal untuk menciptakan lingkungan yang lebih baik.

     Salah satu permasalahan yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari adalah kurangnya konsistensi dalam menjaga kebersihan dan menggunakan sumber daya secara bijak. Terkadang, seseorang mengetahui bahwa kebersihan itu penting, tetapi masih menunda membersihkan rumah atau membiarkan keran air tetap mengalir ketika tidak digunakan. Kebiasaan tersebut dapat terjadi karena kurangnya perhatian, kesibukan, atau anggapan bahwa perubahan kecil tidak memberikan dampak yang berarti.

    Padahal, perubahan lingkungan dapat dimulai dari tindakan sederhana yang dilakukan secara rutin. Contohnya adalah mematikan keran ketika tidak digunakan, memastikan tidak ada kebocoran air, membersihkan kamar mandi secara teratur, dan mengembalikan barang ke tempat semula setelah digunakan. Apabila dilakukan bersama-sama, kebiasaan tersebut dapat membantu menciptakan lingkungan rumah yang lebih bersih dan nyaman.

     Untuk mewujudkan perubahan tersebut, diperlukan ajakan yang positif kepada anggota keluarga. Ajakan sebaiknya disampaikan dengan bahasa yang sopan dan tidak menyalahkan orang lain. Setiap anggota keluarga dapat diajak memahami manfaat kebiasaan baru, kemudian menentukan tindakan yang dapat dilakukan bersama. Dengan demikian, perubahan tidak terasa seperti paksaan, tetapi menjadi bentuk kerja sama untuk kepentingan bersama.

     Dalam Psikologi Inovasi, perubahan kebiasaan dapat dipahami sebagai proses mencoba cara baru untuk memperbaiki keadaan yang sudah ada. Seseorang tidak harus langsung mengubah seluruh kebiasaan dalam satu waktu. Perubahan dapat dimulai dari satu tindakan sederhana, kemudian dievaluasi dan dikembangkan secara bertahap. Jika suatu cara belum berhasil, strategi lain dapat dicoba agar lebih sesuai dengan kondisi lingkungan dan kebiasaan penghuni rumah.

    Praktik training dapat dilakukan melalui kegiatan sederhana selama tujuh hari di lingkungan rumah. Pada hari pertama, penghuni rumah mengamati kebiasaan yang perlu diperbaiki, seperti penggunaan air dan kebersihan ruangan. Pada hari kedua, dibuat kesepakatan untuk mematikan keran setelah digunakan dan tidak membuang sampah sembarangan. Hari ketiga dan keempat difokuskan pada kebiasaan membersihkan area yang sering digunakan, seperti kamar mandi dan dapur.

    Pada hari kelima, setiap anggota keluarga diajak memeriksa apakah kebiasaan baru sudah dilakukan secara konsisten. Hari keenam digunakan untuk memperbaiki hal-hal yang masih terlewat, sedangkan hari ketujuh menjadi waktu untuk mengevaluasi hasil kegiatan. Evaluasi dilakukan dengan melihat perubahan kebiasaan, kondisi kebersihan rumah, dan kendala yang masih ditemukan. 

     Lingkungan rumah yang lebih baik dapat diwujudkan melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten. Menjaga kebersihan, menggunakan air secara bijak, dan bekerja sama dengan anggota keluarga merupakan langkah nyata untuk menciptakan tempat tinggal yang lebih nyaman. Melalui praktik training selama tujuh hari, perubahan dapat dimulai dari tindakan kecil dan dievaluasi secara bertahap. Oleh karena itu, setiap orang dapat berperan dalam memperbaiki lingkungan tempat tinggalnya tanpa harus menunggu perubahan besar terjadi terlebih dahulu.


Daftar Pustaka

Duhigg, C. (2012). The Power of Habit: Why We Do What We Do in Life and Business. Random House.

World Health Organization. (2018). Guidelines on Sanitation and Health. World Health Organization.