Tampilkan postingan dengan label Psikologi Umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi Umum. Tampilkan semua postingan

27.3.19

WANITA DAN ROKOK


Meysella Al Firdha Hanim
(18.310.410.1196)




Saat ini, semakin banyak juga wanita yang terang-terangan menunjukkan bahwa mereka merokok. Merokok memang punya dampak negatif. Tetapi bagi kebanyakan orang yang sudah kecanduan, meninggalkan kebiasaan ini bukan hal yang mudah. Lingkungan mereka pun sudah lebih bisa menerima, walaupun masih ada yang menentang keras. Gambaran wanita sebagai makhluk yang lembut, halus, dan anggun tidak pas dengan citra rokok yang maskulin. Akibatnya, wanita perokok sering dianggap menjijikkan, nakal, dan tidak bermoral.
Menurut Husaini 2006 (dalam Kurniawan 2013), berdasarkan aktivitasnya merokok dibagi menjadi dua yaitu, perokok aktif yaitu orang yang langsung merokok dan perokok pasif yaitu orang yang tidak merokok tetapi terpapar langsung oleh asap tembakau dari orang yang merokok disekitarnya. Perokok pasif ini lebih banyak resikonya karena terpapar asap rokok lebih banyak dibanding perokok itu sendiri.
Merokok lebih berbahaya bagi wanita, karena DNA pada wanita tidak bisa pulih ketika mengalami kerusakan, tidak seperti laki-laki yang memiliki kemampuan memperbaiki DNA yang rusak lebih baik. Padahal salah satu dampak merokok adalah kerusakan DNA yang dapat menimbulkan berbagai penyakit kanker seperti kanker paru, kanker mulut rahim, serangan jantung, atau asma. Wanita perokok yang menggunakan pil KB juga beresiko terkena serangan jantung, stroke, dan penyumbatan pembuluh darah 10 kali lebih besar dari yang bukan perokok, serta bisa menurunkan kesuburan hingga 50%.
Pramudiarja (dalam Detik.com,2015) dari penelitian kementrian kesehatan pada tahun 2013 bahwa wanita perokok cenderung meningkat. Wanita yang merokok pengaruhi oleh mudahnya akses untuk membeli rokok, dan menariknya di provinsi tersebut laki-laki yang merokok justru paling rendah. Dilihat dari status ekonomi para perokok menduduki ekonomi menengah kebawah yakni 35,1% sedangkan kalangan ekonomi menengah atas 0,9% dan ekonomi paling bawah hanya 0,6%.
Faktor-faktor yang mempengaruhi wanita merokok antara lain adalah meniru orang terdekat seperti orangtua, dorongan atau pemikiran tentang wanita yang merokok itu keren karena tidak semua wanita merokok, lingkungan tempat bermain, dan budaya sekitar yang menjadikan kecanduan merokok pada wanita. Selain itu, mereka juga beranggapan bahwa dengan merokok mereka bisa mendapatkan inspirasi, mengusir kejenuhan, dan mengontrol berat badannya.
Menurut Santrock (2008), pembelajaran observasional merupakan pembelajaran yang dilakukan ketika seseorang mengamati dan meniru perilaku orang lain. Jika individu mempunyai konsep diri yang rendah maka ia akan mudah terpengaruh hal yang negatif dari lingkungan dan sebaliknya jika individu mempunyai konsep diri yang baik akan fleksibel dalam merespon lingkungan sosialnya. Konsep diri pada individu bisa berubah seiring berjalannya waktu dan dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman baru dan informasi yang didapat dari lingkungan sekitar.
Jadi, saran bagi wanita yang merokok, hendaknya dapat mempertimbangkan untuk perlahan mengurangi intensitas rokok yang dikonsumsi karena dampak negatif rokok bagi perempuan jauh lebih besar. Intinya love your self dan apresiasilah diri sendiri, bisa dimulai dari hal yang paling sederhana misalnya merawat tubuh, karena orang yang peduli dengan tubuhnya sendiri sudah pasti bisa mengapresiasikan dirinya dengan baik. Hal itu menjadi penting untuk menumbuhkan sikap positif dalam menghadapi permasalahan hidup, sehingga tidak melampiaskan masalah atau stress melalui perilaku merokok.

Referensi
Kurniawan (2013). Jurnal Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Merokok Mahasiswi. Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga.
Pramurdiarja (2015). Jumlah Perempuan Perokok Meningkat, Terbanyak Ada Di Papua. Detik.com
Santrock,J.W. (2008). Psikologi Pendidikan.(edisi kedua) Jakarta: Kencana.

20.3.19

Nikah Muda Di Kalangan Mahasiswa

Meysella Al Firdha Hanim
(18.310.410.1196)



Fenomena menikah muda di kalangan mahasiswa merupakan kejadian unik dan menarik. Menikah adalah proses yang panjang, ketika seseorang akan mempunyai status baru yaitu laki-laki sebagai suami dan perempuan sebagai istri. Seorang mahasiswa yang mengambil keputusan menikah tentu memiliki alasan masing-masing. Harapan idealnya dari tugas utama seorang mahasiswa adalah belajar agar setelah menyelesaikan kuliah dapat menerapkan ilmunya, bekerja pada bidangnya dan mampu mencukupi kebutuhan. Senyatanya, terdapat pula yang mengambil keputusan untuk menikah muda di masa kuliah which is  secara materi belum cukup, karena untuk biaya kuliah dan mencukupi kebutuhan sehari-hari masih bergantung pada orangtua.
Hurlock (2004), menjelaskan bahwa remaja yang menikah pada usia belasan tahun atau awal usia dua puluhan cenderung lebih sulit dalam menyesuaikan diri. Tanggung jawab ganda terjadi apabila salah satu atau keduanya dari pasangan suami istri menjalani masa kuliah. Mereka harus membagi waktu antara keluarga dan kuliah, yaitu mencari nafkah, mengurus rumah tangga dan mengerjakan tugas kuliahnya. Remaja yang memilih menikah sebelum mereka menyelesaikan pendidikannya membuat mereka iri pada teman-temannya. Hal ini dikarenakan remaja tersebut kehilangan kesempatan untuk memiliki pengalaman dan kebebasan yang dimiliki teman-temannya yang belum menikah.
Berdasarkan cerita dari beberapa teman sesama mahasiswa yang memutuskan menikah, motivasi utama menikah muda yaitu menghindari perbuatan zina atau demi memenuhi kebutuhan seksual, agar mendapat pahala karena menikah adalah ibadah, dan motivasi-motivasi lainnya seperti baper (terlalu mengikuti perasaan atau emosi sesaat) dengan pasangan yang sudah menikah kemana-mana berdua tidak takut dosa lagi dan sering mendengarkan ceramah langsung atau melalui media sosial. Pernyataan yang sering kali muncul di kalangan mahasiswa tersebut mengatakan bahwa tidak ada hambatan dalam kuliah, ”Menikah bukanlah penghambat dalam menyelesaikan kuliah, bahkan motivasi untuk segera menyelesaikan kuliah”.
Terdapat pula kehidupan mahasiswa yang menikah dalam keadaan baik-baik saja. Mereka hanya mengalami kesulitan dalam mengatur waktu antara kuliah dan rumah tangga, kadang juga diwarnai dengan konflik-konflik kecil. Kehidupan pernikahanpun menjadikan hidup mereka lebih bermakna dan menjadikan pribadi yang lebih bertanggungjawab, baik dalam perkuliahan maupun kehidupan sosialnya.
Saran bagi mahasiswa yang akan menikah pada masa kuliah agar lebih mempersiapkan diri mulai dari membagi waktu antara kuliah dan keluarga. Harapannya agar tidak mengalami hambatan dalam menyelesaikan kuliah, bisa mempertahankan prestasi akademiknya dan mencapai cita-cita yang lain. Sedangkan untuk orangtua diharapkan dapat memberikan pertimbangan kepada pasangan mahasiswa yang ingin menikah disaat menempuh masa kuliah.

Referensi
Hurlock, E. (2004). Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: Erlangga.

10.3.19

TEMAN BERBAGI



Meysella Al Firdha Hanim
(18.310.410.1196)

 

Ketika sedang butuh, dia datang dan akan terus seakan mengganggu hidup kita sampai sebuah keinginannya tercapai. Bagai kacang lupa kulitnya, pergi dan menganggap kita seperti orang asing setelah semuanya terpenuhi. Seribu alasan penolakan ketika kita meminta bantuannya. Pernahkah mengalami ini ?
Menurut Horney (dalam Pratama, 2014), ada beberapa kebutuhan neurotik, salah satunya adalah kebutuhan untuk mengeksploitasi orang lain. Sama dengan memanfaatkan orang lain demi kepentingan sendiri. Orang neurotik juga memandang dirinya mulia, sehingga kalau orang lain tidak memperlakukan sesuai dengan apa yang diinginkan mereka akan sedih.
Pertemanan tak lebih dari saling berbagi. Datang dan pergi semua karena sebab, tapi menjadi sebuah permasalahan ketika kita terlalu sibuk dengan saling menyalahkan. Tanpa peduli bahwa kita bisa saja berbuat salah. Orang akan datang kalau ada butuhnya, bahkan sebaliknya. Walaupun hanya butuh teman ngobrol atau teman berbagi sepi. Menurut Maslow (1943), manusia adalah makhluk sosial yang pada dasarnya tidak dapat hidup sendirian dan harus saling berbagi.
Kita dalam berteman tentunya pernah mengalami kekecewaan karena sikap teman yang tidak setia bahkan terkesan mengambil keuntungan pribadi dan sering mengkhianati persahabatan. Kadang kita berekspektasi terlalu tinggi, timbul perasaan dimana kita merasa ‘mereka datang kalau ada butuhnya saja’. Simple, jika mereka membutuhkan kita berarti kita masih bermanfaat untuk orang itu.

Referensi

Pratama J.W. (2014). Jurnal Teori Karen Horney.
Sari E. & Rina D. (2018). Jurnal Pendekatan Hierarki Abraham Maslow Pada Prestasi Kerja Karyawan PT. Madubaru (PG Madukismo) Yogyakarta.

23.11.17

22.11.17

MOTIVASI SAYA BELAJAR ILMU PSIKOLOGI



 Erlin Setyati
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamai 45
Yogyakarta


Saya seorang Dokter Gigi yang selama ini terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial, baik dalam kegiatan penanganan bencana alam ataupun kegiatan bakti sosial kesehatan didaerah-daerah yang membutuhkan, atau pada beberapa komunitas yang membutuhkan. Sebagai seorang yang terlibat dalam kegiatan sosial kesehatan, di lapangan saya sering menemukan keadaan bahwa keluhan – keluhan sakit penyakit yang pasien rasakan tidak hanya bersumber dari efek gejala klinis penyakit jasmani, tetapi juga diperberat dengan ketidak nyamanan dalam rasa hidup mereka. Harapan yang tinggi masyakakat terhadap profesi dokter,

14.4.17

ARTIKEL : PERILAKU YANG TERBENTUK KARENA PEMBIASAAN YANG KITA CIPTAKAN

Siti Hanifah 
(16.310.410.1151)

      Psikologi Umum     


         Kota ataupun desa adalah tempat untuk membentuk perilaku manusia. Perilaku terbentuk karena ada stimulasi yang diterima dan kemudian direspons oleh manusia sesuai dengan makna yang didapatkan dari pengetahuan dan pengalaman. Jalan layang adalah contoh bagaimana perilaku dibentuk. Bagaimana kompleksnya labirin jalan layang yang seperti spageti dapat membingungkan warga kota, tetapi jika mereka mengikuti arah dan aturan yang benar maka mereka dapat sampai kepada tujuan yang direncanakan. Sebaliknya, jika mereka tidak mematuhi jalur dan arah yang ditetapkan maka akan timbul kekacauan. Walaupun ada jalan singkat yang menggoda warga untuk memotong jalur, tetapi jika aturan dilanggar mereka akan mengalami kekacauan lalu lintas dan kecelakaan. 
        Di sini kita dapat melihat bahwa peraturan dapat digunakan untuk membentuk perilaku warga kota dimana ketika akhirnya terinternalisasi dan terprogram dalam otak tanpa disadari perilakunya telah menjadi kebiasaan. Disamping itu, peraturan juga dapat membedakan perilaku yang baik dan yang tidak baik.
Orang yang tadinya suka menolong dan memiliki perilaku prososial menjadi seseorang yang egois karna pindah ke kota. Para ahli psikologi lingkungan menyatakan bahwa perilaku  manusia pada hakikatnya mencerminkan proses interaksi individu sebagai makhluk hidup dengan lingkungannya dan menurut para ahli perilaku, sikap, dan pola perilaku dapat dibentuk melalui proses konfiirmasi dan pembiasaan lingkungan. Berawal dari pandangan tersebut, pembiasaan dan proses konfirmasi dapat dibentuk melalui banyak instrument perkotaan, seperti sarana transportasi, bangunan, jalan, tata ruang kantor, pengaturan furniture, teknologi informasi dan komunikasi, bahkan program televisi.
          Kota juga adalah kumpulan kelompok-kelompok manusia yang tinggal dalam suatu lingkungan binaan besar. Dari prespektif ini, kota dapat dilihat sebagai sebuah laboratorium yang kodisinya dapat dimanipulasi, sedangkan warga kota adalah objek eksperimennya. Banyak orang akan protes dengan pernyataan ini karena tidak ingin diperlakukan sebagai objek eksperimen dengan alasan manusia dapat memilih dan tidak bisa diperintah seenaknya seperti anjing Pavlov dan teori pengkondisian klasik. Namun, Skinner dengan Teori Pengkondisian Oprannya telah membuktikan bahwa anjing juga dapat memilih, dan bahkan dapat bunuh diri jika mereka tetap dipaksa. Terhadap alasan ini, maka istilah objek eksperimen telah berubah menjadi subjek eksperimen (eksperimentee) karena manusia diasumsikan memiliki kesadaran terhadap perilakunya. Meskipun demikian, baik Pengkondisian Klasik maupun Pengkondisian Operan memiliki tujuan yang sama, yaitu memaksa experimentee melakukan apa yang si pelaku percobaan (experimenter) inginkan. Cara yang paling mudah adalah dengan cara memberikan experimentee sebuah rasa sakit, baik secara fisik maupun mental sedemikian rupa sehingga experimentee akan mematuhinya. 
         Skinner menggunakan aliran listrk terhadap merpati dan tikus percobaannya untuk memaksa mereka memilih tombol tertentu yang bebas aliran listrik diantara tombol lainnya yang dialiri listrik . Akan tetapi, ada juga ahli perilaku seperti tolman dan hull yang menggunakan penghargaan (reward) sebagai pengganti hukuman (punishment) terhadap tikus jika dapat melaksanakan dengan biak apa yang diinginkan sehingga mereka akan mengulangi perilaku yang diinginkan dengan sukarela dan pada akhirnya perilaku tersebut menjadi kebiasaan. Pada dasarnya ada dua cara menciptakan perilaku, yaitu dengan memberi penghargaan atau hukuman.
           Kota adalah laboratorium besar, orang yang berhasil melewati dan kembali adalah mereka yang mampu menerjemahkan dan memahami makna kota
Dari situ disimpulkan bahwa kota ataupun tempat tinggal kita itu seperti laboratorium, kita mau eksperimen apa saja tentu bisa, eksperimen yang dapat mengancam orang lain ataupun eksperimen untuk kebaikan untuk sesama.
Itu tergantung pribadi setiap individu. Maka menjadi individu yang mampu merubah lingkungan disekitarnya itu menjadi atmosfer yang mengandung kebaikan untuk sesama tentulah tidak mudah namun perilaku yang kita bentuk atau kita biasakan tentu sangat berpengaruh pada pembiasaan lingkungan yang kita tempati. 

Daftar Pustaka 
Halim, Deddy Kurniawan.(2008). Psikologi Lingkungan Perkotaan: Kota dan Pengondisian. Jakarta: Sinar Grafika Offset.

ARTIKEL : ISOLASI SOSIAL DALAM PERKEMBANGAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK)

Siti Hanifah
16.310.410.1151
Psikologi Umum

      Perkembangan teknologi saat ini sangat mempengaruhi penggunaan ruang publik. Penelitian-penelitian yang dilakukan belakangan ini berfokus pada penggunaan perangkat nirkabel (wireless) seperti telepon genggam yang memungkinkan komunikasi dengan orang di kejauhan.
 Kecenderungan pemakaian telepon genggam terus meningkat sehingga memisahkan orang yang satu dengan yang lainnya. Merasa tidak nyaman dengan situasi asing, orang-orang di ruang publik ataupun warga kota langsung mengambil telepon genggam mereka yang secara dramatis mengurangi kesempatan untuk saling berinteraksi dengan orang-orang di sekitar mereka. Penggunaan pribadi tekhnologi komunikasi nirkabel yang meluas di ruang-ruang publik telah menghilangkan garis batas dan protokol antara ruang publik dan pribadi. Batas-batas antara rumah, kantor, sarana angkutan, dan jalan yang semakin menjadi kabur (moss dan town send, 1999).
         Orang sering kali tidak lagi mau bercakap-cakap dengan orang lain yang merasa tidak di kenal atau bahkan dengan yang mereka kenal sekalipun, sejalan dengan pertumbuhan kota maka muncul pula gejala pengasingan dan pemisahan yang terus meningkat. Padahal di kota-kota kecil, bahkan jauh sebelumnya dalam kehidupan suku dan kelompok, seseorang lebih suka mencari tahu siapa orang-orang yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari ( lof land, 1998). 
Keraguan-keraguan warga untuk sekedar menyapa orang baru membuat pengalaman social semakin berkurang baik dalam perjalanan dari/ ke rumah tinggal/tempat kerja/maupun dalam kegiatan sehari-hari. 
Namun bagaimanapun manusia adalah makhluk social yang perlu membicarakan kegelisahan ini. Oleh karena itu diskursus sosial ini telah menjadi suatu kebutuhan baru ketika warga kota menjadi terasing di kotanya sendiri.
       Sejalan dengn perkembangan tekhnologi untuk berhubungan dengan para sahabat dan keluarga ruang-ruang chatting pun menjamur dan kelompok-kelompok maya yang menghubungkan orang-orang dari berbagai negeri yang memiliki minat sama juga menjadi semakin popular.
Banyak individu yang membawa telepon genggam ataupu laptop ke ruang publik yang justru sengaja mengabaikan orang-orang di sekitarnya dan memusatkan perhatiannya ke layar laptop maupun telepon genggam. Interaksi-interaksi sosial seperti inilah yang telah merusak kontak sosial dari individu satu ke yang lainnya.
         Beberapa peneliti menolak hipotesis ini sebab kecanggihan tekhnologi maupun internet juga digunakan untuk tujuan social seperti berdiskusi dimana mereka juga percaya internet memungkinkan orang meningkatkan kualitas interaksi sosial yang lebih kuat serta mendorong terjadinya hubungan secara langsung. Akan tetapi lebih banyak juga yang percaya bahwa hubungan seperti itu sangat rentan. Misalnya, hubungan yang dicari seorang perempuan untuk mengenal pria lain yang belum ia kenal di situs social media. Bagi mereka, teman online itu tidak lebih baik dari teman sekolah, teman di tempat kerja, atau teman di lingkungan tempat tinggal mereka dalam hal memberikan bantuan dan dukungan emosional.
       Tentu saja kesimpulan ini menimbulkan kontroversi bagi pecinta internet, karena orang menggunakan intrnet dengan cara berbeda-beda. Orang yang tingal di pinggir kota atau pedesaan tidak mungkin mendapatkan dukungan kelompok dengan cara tatap muka di daerahnya di mana para tetangga tinggal berjauhan, tetapi hal ini justru dapat mereka temukan di internet tau media sosial. Sebenarnya media sosial atau internet memungkinkan terjadinya hubungan sosial yang baik, saling berbagi ilmu pengetahuan, dan akhirnya memiliki ikatan sosial satu dengan yang lainnya, karena merasa lebih dekat dalam hal jarak daripada tetangga sebelah rumah. Namun, meskipun interaksi sosial semacam ini semakin menguat harus diakui bahwa ketika sedang melakukan kontak online kita harus menyingkir dari orang-orang sekitar, tersedot dan berpindah ke wilayah publik pada dimensi yang lain dan menjadi terisolasi dari keramaian. Kita harus lebih sadar akan preservasi atas ruang publik serta mampu memperlakukan perkembangan tekhnologi sedemikian rupa agar kota dapat meningkatkan kualitas kehidupan sehari-hari warganya untuk menjadi lebih manusiawi.
      Dari situ kita harus pandai menyikapi perkembangan tekhnologi yang sekarang ini semakin pesat. kita harus pandai menempatkan diri di mana kita harus melakukan kontak sosial secara langsung ataupun kontak sosial melalui tekhnologi modern.

Daftar Pustaka
Halim, Deddy Kurniawan. (2008). Psikologi Lingkungan Perkotaan: Internet dan Isolasi Sosial. Jakarta: Sinar Grafika Offset.

11.1.16

RINGKASAN ARTIKEL "LOTTE FOUNDATION BERIKAN BEASISWA MELALUI 8 UNIVERSITAS TERKEMUKA"

Muhammad Duha Saputra Kusnadi

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta


Penyerahan beasiswa dilaksanakan pada Rabu (29/4) di Head Office PT Lotte Mart Indonesia, Ciracas, Jakarta. Acara ini dihadiri oleh South East Asia CEO Lotte Mart Kim Young Kyun, Presiden Direktur PT Lotte Mart Indonesia Jukyang Yoon, Presiden Direktur PT Lotte Shopping Indonesia Joseph Buntaran, President Director dari Lotte Chemical, Lotte Avenue, Lotteria, Lotte Duty Free, dan pimpinan 8 Universitas. Menurut Kim, “Diharapkan, adanya bantuan program beasiswa pendidikan ini bisa memacu para mahasiswa untuk lebih giat belajar dan melahirkan generasi muda yang berprestasi.” Jukyang menambahkan, “Dengan adanya program scholarship dari Lotte Foundation, semoga kualitas dan kompetensi mahasiswa semakin berkembang sehingga memunculkan bibit baru sebagai harapan penerus bangsa.” Program beasiswa ini merupakan komitmen jangka panjang Lotte Foundation untuk terus mendukung mahasiswa berprestasi di Indonesia.

Tim SAR Temukan Jam Tangan



TIM SAR TEMUKAN JAM TANGAN
Tri Mei Wulandari
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta
                Tim SAR gabungan menemukan satu buah jam tangan yang ada di sekitar lokasi penyisiran. Tim SAR gabungan belum menemukan Zaenuri Ahmad, mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UIN) Yogyakarta yang diduga tersesat saat mendaki Gunung  Sindoro. Pencarian sudah dilakukan selama 4 hari tapi belum juga ditemukan. Di hari ke empat mereka menemukan jam tangan milik korban dan jejak kaki manusia yang juga diduga adalah jejak korban. Dalam pencarian ini, Tim SAR gabungan menggunakan teknik penyapuan secara open great yakni rescuer berjajar ke samping dengan jarak 2-3m. Kemudian berjalan sesuai dengan arah area pencarian yang sudah ditetapkan. Tim SAR mengalami kendala yaitu kabut tebal sehingga mengakibatkan jarak pandang terbatas. Diberitakan sebelumnya Zaenuri Achmad melakukan pendakian ke Gunung Sindoro bersama enam rekan lainnya. Namun korban diduga tersesat dan terpisah dari rombongannya, saat turun dari Gunung Sindoro pada jumat pagi dan belum ditemukan.

6.1.16

MENJADI GURU UNTUK MURID



RINGKASAN ARTIKEL: MENJADI GURU UNTUK MURID
Chusnul Rizatul Unsha
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta
 
 
Kurikulum 2013 yang cenderung administratif telah dihentikan (ditunda). Ujian nasional tidak lagi menjadi penentu kelulusan, dan ada dorongan agar murid naik kelas terus. Siapa yang mengevaluasi murid? Siapa yang memotivasi murid? Jawabannya satu: guru.
Saatnya guru ditantang seberapa mampu kehadirannya mengelola pembelajaran di kelas tanpa bertopeng keramat ujian nasional. Oleh karena itu penting bagi guru 1) menyiapkan diri degan muatan ilmu sebagai isi pelajaran dan 2) mengasah diri terus-menerus dalam membawakan materi di hadapan murid.
Bagaimana mesti mengajar dengan penuh kecintaaan kepada murid? Pertama, pandanglah murid sebagai pribadi yang membutuhkan guru. Jika dipahami seperti itu, maka guru akan lebih merelakan mambantu murid tumbuh dengan pemahamanakan pelajaran. Tidak boleh terjadi di guru hadir di kelas untuk diri sendiri, atau pintar untuk dirinya sendiri.lantas bertepuk dada menganggap nilai-nilai muridnya rendah pada mata pelajarannya.
Kedua, memperkaya variasi metode dan cara penyampaian pelajaran yag efektif untuk muridnya. Kemalasan memahami konteks murid yang dihadapi tampak pada guru yang hanya mengandalkan satu cara pengajarandi kelas.Tidak jarang guru berdalih murid-murid tidak mudah tidak mudah memahami pelajaran karena kemampuan mereka yang rendah. Sementara guru sendiri tidak melakukan Otokritik. Padahal, angka-angka capaian hasil belajar murid sebenarnya mencerminkan kemampuan guru sendiri.

Sumber tulisan:
Kartono, St. (2015). Menjadi Guru untuk Murid . Kedaulatan Rakyat , hal 12 14 Desember

Jutaan Laki-Laki Meninggal Akibat Rokok



Fiki Fatimah
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta


Rokok adalah produk yang berbahaya & adiktif (menimbulkan ketergantungan) karena didalam rokok terdapat 4000 bahan kimia berbahaya yang 69 diantaranya merupakan zat karsinogenik (dapat menimbulkan kanker). Zat-zat berbahaya yang terkandung didalam rokok antara lain : tar, karbon monoksida, sianida, arsen, formalin, nitrosamine dll.
Efek rokok terhadap kesehatan sendiri sangat membahayakan, akibat kandungan berbagai bahan kimia berbahaya yang ada di dalam rokok maka dengan merokok sama saja kita memasukkan bahan-bahan berbahaya tersebut ke dalam tubuh kita. Penyakit-penyakit yang diketahui dapat disebabkan oleh rokok antara lain : kanker tenggorokan, kanker paru-paru, kanker lambung, penyakit jantung koroner, pneumonia, gangguan sistem reproduksi dll. 

Move On



Fiki Fatimah
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta

Move On itu dari bahasa inggris yang jika kita artikan satu persatu menjadi Move = Bergerak dan On itu = Di atas. Tapi kalau kita artikan secara bersama-sama menjadi bergerak maju , Tapi kalau bahasa ini di gunakan dalam dunia asmara maka arti dari kata move on adalah melupakan mantan pacar dan membuka hati untuk orang lain. Sebenarnya kata move on ini luas sekali konteksnya, jadi tidak hanya pada pacaran saja tetapi bisa juga move on dari tempat kerja yang intinya itu kita keluar dari hal yang biasa kita lakukan dan kita rasakan. 
Banyak sekali orang yang suka menggunakan istilah "gagal move on" dalam berkelakar sehari-hari. Istilah ini merujuk kepada mereka yang terus terpaku pada masa lalunya, dan sulit untuk menerima perubahan baru yang dihadapi saat ini. Situasi ini bisa dialami baik oleh tua maupun muda. Meskipun istilah ini digunakan dalam kelakar harian, bisa jadi sebenarnya situasi ini mengandung banyak kebenaran. Selain itu mengakibatkan konsekuensi yang tidak kecil bagi yang mengalaminya. Sekarang, apakah kita termasuk orang yang mudah untuk move on? Menerima situasi baru, atasan baru, lingkungan baru, peraturan baru?
     Mengapa orang sering terbelenggu dengan kebiasaan lama, seolah-olah kapasitas untuk belajar dan mempelajari situasi baru demikian alot? Seorang psikolog Carol Dweck melakukan riset selama beberapa tahun dan mengidentifikasi 2 jenis mindset yang mendasari sukses tidaknya seseorang dalam menghadapi tantangan. Yang pertama adalah fixed mindset, di mana seseorang lebih percaya bahwa  kualitas-kualitas pribadi yang mendasar, seperti kecerdasan dan bakat adalah sesuatu hal yang tidak bisa diubah. “Memang dasarnya saya tidak bisa, ya saya terima saja” demikian biasanya si individu mengatakan pada dirinya sendiri. Biasanya individu seperti ini tidak henti-hentinya mengkaji apa kekuatannya, namun lupa bahwa dengan upaya keras, kelemahannya akan bisa diatasi. Dengan sendirinya, individu seperti ini tidak meyakini kekuatan upayanya.
     Sementara individu lain dengan growth mindset, melihat bahwa kelemahannya saat ini merupakan potensi yang masih terpendam yang masih harus digarap. Inteligensi dan bakat dianggap sebagai modal yang masih harus dikembangkan sementara kegagalan dianggap hanya sebagai salah satu langkah salah dalam mencapai tujuan sehingga ia harus mencari cara lain untuk mencapainya. Orang seperti ini sangat haus belajar dan kuat melenting dalam kegagalan. Bila memang growth mindset ini demikian menguntungkannya, mengapa orang sering tidak memilih mindset ini? Apakah karena individu tidak menyadarinya? Atau  mungkin mereka sadar, tetapi tidak mampu mengontrol diri untuk menjaga mindset berkembang ini?
Move on ini bisa di artikan dengan banyak kata. Tapi yang paling penting adalah bagaimana cara move on. Berikut ini adalah cara bagaimana kita bisa move on 1. Yang paling utama adalah ikhlas atau menerima kenyataan. 2. Membuka diri dengan situasi atau status yang baru. 3. Terakhir enjoy your life, karena hidup itu hanya sekali. Manfaatkanlah waktu sebaik mungkin.

Sumber : Shutterstock . (2015) . Move On . KOMPAS . 10 Oktober . Hal 33