Tampilkan postingan dengan label Ringkasan Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ringkasan Artikel. Tampilkan semua postingan

16.1.18

Merasa Gelisah dan Depresi? Mungkin Anda Kurang Tidur

Erlina Indriyani
17.310.420.1174

Jika kalian sering merasa gelisah dan depresi padahal tidak sedang mengalami masalah yang berat. Maka bisa saja hal ini terjadi karena kalian kurang tidur.



Menurut penelitian terbaru yang diterbitkan di Journal of Berhaviour Therapy and Experimental Psychiatry, orang-orang yang kurang tidur akan mengalami dua gejala tersebut. 
Menurut penelitian ini, mereka yang kurang tidur atau biasa disebut insomnia tidak mampu mengatasi pikiran dan melepaskan diri dari emosi negatif.
Penelitian ini menganalisa 52 orang dewasa dengan "pemikiran negatif berulang" (RNT)—di mana fokus perhatiannya kompulsif pada pemikiran yang menyebabkan kesedihan, kegelisahan dan stres.

Menariknya, hasilnya menunjukkan bahwa kekurangan waktu tidur menyebabkan orang menghabiskan lebih banyak waktu untuk melihat gambar negatif. Para peneliti sekarang melakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui bagaimana durasi tidur berkontribusi terhadap gangguan psikologis.
 


PenulisKahfi Dirga Cahya
Kompas.com - 07/01/2018, 13:00 WIB

Kepribadian Ternyata Menentukan Jenis Olahraga

Erlina Indriyani
17.310.420.1174

Pada dasarnya setiap manusia memiliki metabolisme yang berbeda-beda.

Sebenarnya, tidak ada olahraga yang cocok untuk semua orang. Riset membuktikan bahwa kepribadian seseorang ikut menentukan aktivitas fisik yang cocok untuk mereka lakukan.

Menurut temuan yang dipresentasikan di konferensi tahunan the British Psychological Society Division of Occupational Psychology, para ekstrovert lebih suka menghabiskan waktu di gym sebagai tempat olahraga favorit mereka.

Sementara mereka yang berjiwa kreatif, justru tidak tertarik untuk ikut serta dalam keanggotaan gym. Mereka lebih memilih berolahraga di luar rumah, seperti bersepeda atau berlari.


Jadi, kuncinya kamu harus menemukan jenis olahraga yang kamu sukai dan bisa dinikmati sesuai dengan kepribadianmu.

PenulisAriska Puspita Anggraini
Kompas.com - 13/01/2018, 08:30 WIB

21.4.17

ARTIKEL : RUANG KULIAH YANG RAMAH BERPENGARUH PADA PRESTASI

                                                                       SITI HANIFAH
                                                                     (16.310.410.1151)    
                                                                       Psikologi Sosial          

               Ruang Kuliah Yang Ramah Berpengaruh Pada Prestasi 

             Ruang kuliah perguruan tinggi sering merupakan tempat yang membosankan dan suram. Dinding dicat dengan warna “abu-abu kelembagaan”, meja kursi mudah dibersihkan, tetapi tidak nyaman dan tidak menarik. Kursi diatur berderet lurus menghadap mimbar atau meja guru.
Dalam suatu penelitian (Ferrenkopf, 1947) lebih dari 80 persen mahasiswa di sebuah universitas menilai ruang kuliah mereka secara negative, dengan melukiskannya sebagai tempat yang buruk, sempit, sesak, tidak nyaman, dan sebagainya. Penelitian yang dilakukan oleh pakar psikologi mulai memperlihatkan bahwa ruang kelas yang tidak menarik tidak hanya tidak memiliki daya pikat, tetapi juga mempengaruhi prestasi akademis.
              Dalam penelitian peragaan yang diadakan oleh sommor dan olsen (1980), sebuah ruang kuliah yang kecil diubah menjadi ruang yang oleh sebuah peneliti disebut “ ruang kuliah yang lembut/nyaman.” Sederetan kursi yang dilengkapi dengan alas duduk ditempatkan disekitar dinding, ditambahkan karpet, pencahayaan disesuaikan dengan baik, dan digantungkan gambar-gambar yang cerah. Para mahasiswa memberikan reaksi secara antusias dengan memberikan komentar seperti “ Ini sebuah kejutan.” Atau “Saya sangat terkesan!” Perbandingan perilaku mahasiswa diruang kuliah yang lain  menunjukkan bahwa partisipasi mahasiswa dalam diskusi kelas dua atau tiga kali lebih banyak di dalam ruang yang lebih menarik.
               Penelitian tentang lingkungan ruang kuliah yang dikenali dengan cermat dilakukan oleh wollin dan montage (1981 ). Mereka memilih dua ruang kuliah identik yang terletak bersebelahan di gedung psikologi . Ruang kuliah pengendali, yang mereka sebut “ ruang kuliah yang steril”.” Berdinding putih, memiliki karpet abu-abu”, dan sederetan meja tulis plastik. Ruang kuliah eksperimental, yang mereka sebut “ ruang kuliah yang ramah,” dihias kembali dengan meminta bantuan seorang konsultan desain. Beberapa dinding dicat dengan warna cerah , poster seni digantungkan di dinding, sejumlah tanaman diletakkan di ruang tersebut, dan layang-layang Cina yang berwarna cerah digantungkan dilangit-langit. Selain itu meja tulis tradisionil, sebagian ruangan dilengkapi dengan permadani, alas tempat duduk yang mempunyai warna serasi, dan kubus kayu untuk menyediakan kursi yang tidak tradisional.
             Para peneliti menyelidiki bagaimana kedua lingkungan yang berbeda ini mempengaruhi prestasi dalam perkuliahan yang sebenarnya. Dua professor yang mengajar pengantar psikologi bersedia berpartisipasi dalam penelitian ini, meskipun mereka tidak diberitahu tentang tujuan penelitian tersebut. Ketika masa kuliah dimulai, tiap tingkat ditempatkan secara acak disalah satu dari dua ruang kuliah itu. Pada pertengahan masa kuliah, kedua tingkat tersebut ditukar , sehingga mahasiswa di kedua tingkat itu berada di ruang pengendalian  selama setengah masa kuliah dan di ruang “ramah” selama setengah masa kuliah. Para mahasiswa tersebut tidak diberitahu bahwa mereka sedang diteliti, terjadinya pertukaran kelas dijelaskan sebagai akibat dibutuhkannya ruang yang semula untuk pemutan video
              Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa yang berada diruang “ramah” secara signifikan prestasinya lebih baik saat ujian dari pada yang berada diruang steril.
Jadi, tampak bahwa lingkungan fisik dapat mempengaruhi jumlah pengetahuan yang dapat dipelajari, setidaknya-tidaknya terukur melalui nilai ujian. Disamping itu mahasiswa juga disuruh mengevaluasi para pengajar mereka. Secara signifikan pengajar dinilai lebih positif bila perkuliahan diadakan di ruang kelas yang menarik. Diruang eksperimental, pengajar dinilai lebih berpengetahuan, lebih menarik perhatian, dan lebih tertib dibandingakan pengajar yang berada di ruang pengendalian. Jadi, penilaian kita tentang orang lain setidak-tidaknya sebagian dipengaruhi oleh lingkungan fisik dimana kita berinteraksi dengan mereka.
Jadi alangkah lebih baik jika kita menciptakan ruang kuliah yang ramah/nyaman. Hal itu tidaklah mustahil bagi kita jika ada eksen yang nyata. Paling tidak jika tidak bisa mewujutkannya selalu jaga ruang kuliah agar tetap kondusif sepeti tidak membuat gaduh ataupun meninggalkan sampah diruang kelas, dan menata kembali meja/kursi. Di mulai dari hal yang kecil yang berdampak pada hal besar. Dari situ mulai tunjukkanlah sikap sosial pada lingkungan kita sendiri

Referensi :

Adryanto. Michael. (1991). Psikologi Sosial. Jakarta: Penerbit Erlangga. 

ARTIKEL : PEMBUNUHAN KARAKTER MASSAL PENDUDUK KOTA

                                                                             Siti Hanifah
                                                                         (16.310.410.1151)
                                                                           Psikologi Sosial 


              Banyak orang diperkotaan yang hanya memaknai kesuksesan mereka dari jumlah materi dan pemapilan luar saja. Banyak yang tidak menyadari bahwa kesuksesan material justru biasanya merupakan kegagalan sosial, mental, dan spiritual. Karena statusnya yang tinggi dia enggan mendekati tetangganya, saudaranya, yang tidak mampu, itu merupakan kegagalan sosial. Karena dijauhi orang tersebut pada akhirnya akan kesepian, dan tertekan karena tidak mampu mencurahkan segala isi hatinya dan pengalaman-pengalamannya. Karena kesepiannya individu tersebut menyalahkan tuhan, akhirnya menjadi lebih yakin akan pilihannya dalam mengejar materidan gagal menjaga komitmen kemanusiaan, itu adalah kegagalan spiritual.
          Erich Fromm, tokoh psikologi perkembangan ini memaknai istilah kepribadian “Having Oriented”untuk warga kota yang seperti ini, yaitu mereka yang memiliki gaya hidup yang mengejar materi, tetapi tidak disertai dengan pemaknaan hidup yang dalam yang biasanya dimiliki oleh orang-orang dengan kepribadian “being oriented”. Ukuran kebahagiaan hidup mereka yang memiliki “having Oriented” Hanya sebatas kebahagiaan material yang mengesampingkan kebahagiaan social dan kebahagiaan spiritual. Hal ini pun semakin akut dengan padatnya kota dengan perumahan dan gedung-gdung bertingkat yang warganya berlomba-lomba mengejar materi sehingga menghalalkan segala cara walaupun harus mengorbankan tubuh, moral dan imannya. Sikut kanan, sikut kiri, injak bawah, injak atasan, nyatut di depan, korup dibelakang menjadi hal yang lazim terjadi diwarga kota.
Mal menjadi sebuah pelarian bagi warga kota dan merupakan sebuah epitemologi baru dimana hubungan anatara imajinasi dan realitas menjadi bias sehingga akhirnya warga kota tidak bisa lagi membedakan mana kenyataan dan berbagai hal yang semu adana.
             Lebih jauh lagi warga kota mnderita deindividuasi, suatu kodisi psikologis di mana terjadi penurunan keasadaran diri hingga individu akan melakukan segala hal yang tidak akan dilakukannya jika sendiri. Contonya saja Diskon, cuci gudang,dan obral. Hal tersebut telah mengkondisikan warga kota yang berada dalam keramaian mal untuk berbondong-bondongmembeli semuanya tanpa pikir panjang. Manjemen diskon kemudaian akan memelihara kondisi psikologis massa ini secara terus menerus sehingga memprogram pikiran warga. Seperti anjing Pavlov, warga kota akan langsung “ngiler” ketika diskon datang. Mereka tidak lagi sadar jika dicuci otaknya, sehingga kehilangan kesadaran dan kontrol diri. Pembunuhan karakter missal telah terjadi di mal dan warga kota kota bahkan tak menyadarinya.
             Kita lahir disebuah negara yang sangat kaya dengan budaya adi luhungnya, namun sayang kita menjadi individu yang tidak lagi bangga akan hal tersebut namun malah mengadopsi berbagai budaya yang datang dari negri asing yang justru telah menghilangkan jati diri dan karakter kita yang sebenarnya. Untuk itu sebagai warga Indonesia dan pemuda pemudi Indonesia, ayo bangga dengan budaya kita budaya Indonesia.

Referensi :
Halim, Deddy Kurniawan. (2008). Psikologi lingkungan perkotaan. Jakarta: Sinar Grafika Offset.

20.4.17

RESENSI KORAN KOMPAS : PENURUNAN PERTUMBUHAN PERLU SEGERA DIANTISIPASI

                                                                   RESENSI KORAN KOMPAS


NAMA & NIM                                                      : SITI HANIFAH (16.310.410.1151)
JUDUL ARTIKEL                                                 : Penurunan Pertumbuhan Perlu Segera Diantisipasi
NAMA PENULIS                                                  : (CAS)
TANGGAL TERBIT                                              : 18 April 2017
SINOPSIS ARTIKEL                                             
Industri pengolahan masih menjadi sumber pertumbuhan tertinggi bagi perekonomian Indonesia pada 2016 yaitu 0,92 persen. Namun, dukungan di berbagai aspek dari semua pemangku kepentingan dibutuhkan untuk mengantisipasi kecenderungan penurunan pertumbuhan sector tersebut. 
Namun, angka itu turun dari 1,01 persen pada 2014 dan 0,94 persen pada 2015. Kontribusi industri terhadap produk produk domestic bruto (PDB) 2016 sebesar 20,51 persen. Kontribusi tersebut berasal dari industri pengolahan nonmigas 18,2 persen dan industri pengolahan batubara serta pengilangan migas 2,31 persen.
Nilai tambah yang diciptakan industri tidak hanya dari proses produksi, tetapi mencakup juga aktivitas jasa. Jika diakumulasi, kontribusi sector industri berikut jasa-jasa terikat langsung industri tersebut sebesar 31,3 persen.
                Kendala yang dialami dilapangan yakni mulai dari aspek infrastuktur, penyediaan bahan baku, energi, hingga insentif fiscal dan nonfiskal dalam mendorong investasi dan meningkatkan nilai tambah di dalam negeri “  Untuk dapat mengatasi tantangan-tantangan tersebut, diperlukan dukungan dan kerja sama dengan seluruh pemangku kepentingan-termasuk media-dalam mencari solusi terbaik untuk kepentingan pembangunan industri.
Indonesia memiliki kelebihan industri berbasis keunggulan komparatif seperti industry berbasis agro, maritime, dan pertambangan. Bukannya industri berbasis keunggulan kompetitif tidak memiliki keunggulan. Akan tetapi, memang infrastruktur dan kedalaman strukturnya masih bergantunga pada luar.
Hal ini terlihat dari dari struktur ekspor Indonesia yang didominasi produk komoditas dan barang setengah jadi. Adapun barang atau produk industri berbasis keunggulan kompetitif masih kurang dari 10 persen , Industri pengolahan harus terus dikembangkan sehingga volume produk bernilai tambah tinggi dapat dirasakan.

Industri pengolahan harus terus dikembangkan sehingga volume produk bernilai tambah tinggi dapat ditingkatkan dalam mengisi pasar domestih maupun ekspor.  

HAL YANG PENTING DALAM ARTIKEL
Kendala yang dialami dilapangan yakni mulai dari aspek infrastuktur, penyediaan bahan baku, energi, hingga insentif fiscal dan nonfiskal dalam mendorong investasi dan meningkatkan nilai tambah di dalam negeri, Untuk dapat mengatasi tantangan-tantangan tersebut, diperlukan dukungan dan kerja sama dengan seluruh pemangku kepentingan-termasuk media-dalam mencari solusi terbaik untuk kepentingan pembangunan industri.
Indonesia memiliki kelebihan industri berbasis keunggulan komparatif seperti industri berbasis agro, maritime, dan pertambangan. 
barang atau produk industri berbasis keunggulan kompetitif masih kurang dari 10 persen, Industri pengolahan harus terus dikembangkan sehingga volume produk bernilai tambah tinggi dapat dirasakan.  Industri pengolahan harus terus dikembangkan sehingga volume produk bernilai tambah tinggi dapat ditingkatkan dalam mengisi pasar domestik maupun ekspor.
KESIMPULAN :
Dalam artikel ini menerangkan bahwa Indonesia mempunyai banyak kelebihan terutama dibidang industri yang berbasis komparatif seperti agro, maritime, dan pertambangan. Namun untuk yang berbasis kompetitif Indonesia masih kurang bukannya tidak mempunyai keunggulan namun infrastruktur dan kedalaman strukturnya masih bergantunga pada luar.  Maka agar tidak tergantung pada luar perlu dikembangkan sedikit demi sedikit industri kompetitif agar mampu mengisi pasar domestic maupun ekspor.
Dari aspek psikologisnya:  Dari artikel tersebut dituliskan "untuk dapat mengatasi tantangan-tantangan tersebut, diperlukan dukungan dan kerja sama dengan seluruh pemangku kepentingan-termasuk media-dalam mencari solusi terbaik untuk kepentingan pembangunan industri." arti dari kata-kata "mengatasi tantangan" tersebut, bahwa setiap individu harus mempunyai problem solving artinya setiap individu mempunyai proses mental dan intelektual dalam menemukan masalah dan memecahkan berdasarkan data dan informasi yang akurat, sehingga dapat diambil kesimpulan yang tepat dan cermat. 
 KELEBIHAN ARTIKEL      : Penulis mampu mengulas masalah secara detail, penulisannyapun                                                          tertata rapi dari permasalahan hingga penangannannya.
KEKURANGAN                    : Gaya bahasa cocok untuk kaum intelektual seperti mahasiswa dan                     lain-lain,  namun untuk orang awam ada beberapa gaya bahasa yang                    sulit dipahami. 

16.4.17

ARTIKEL KUNJUNGAN RSJ : SUATU HARI DI RUMAH SAKIT JIWA

ARTIKEL HASIL KUNJUNGAN RUMAH SAKIT JIWA GRHASIA


SUATU HARI DI RUMAH SAKIT JIWA

NAMA                  : RATIH SETIYANINGSIH
NIM                       : 16.310.410.1140
MATA KULIAH: PSIKOLOGI UMUM 2

                Rumah sakit jiwa adalah rumah sakit yang khusus untuk perawatan gangguan mental serius. Rumah sakit jiwa sangat bervariasi dalam tujuan dan metode. Beberapa rumah sakit mungkin mengkhususkan hanya dalam jangka pendek atau terapi rawat jalan untuk pasien berisiko rendah. Orang lain mungkin mengkhususkan diri dalam perawatan sementara atau permanen dari warga yang sebagai akibat dari gangguan psikologis, memerlukan bantuan rutin, perawatan khusus dan lingkungan yang terkendali. Pasien kadang-kadang dirawat secara sukarela, tetapi itu akan dipraktikan ketika seorang individu dapat menimbulkan bahaya yang signifikan bagi diri mereka sendiri atau orang lain. biasanya pasien diberi obat penenang , dan diberi aktivitas sehari-hari seperti olahraga, membaca, dan rekreasi. Pada masa lalu, pasien yang bertingkah laku bahaya sering diberi perawatan  dengan listrik tegangan tinggi. Sekarang, hal ini dianggap melanggar hak asasi manusia.
                Pada hari Kamis, 13 April 2017 dimulai pukul 08.00 – 12.00 WIB, kami mahasiswa Universitas Proklamasi 45 jurusan Psikologi mengadakan kunjungan ke Rumah Sakit Jiwa Grhasia yang berada di jalan Kaliurang km 17 Pakem, Sleman, Yogyakarta. Tujuan kunjungan ke Rumah Sakit Jiwa Grhasia adalah untuk mengetahui kegiatan di rumah sakit jiwa (RSJ), menambah pengetahuan dan informasi mengenai penerapan ilmu Psikologi pada gangguan jiwa.
Pengalaman yang saya dapatkan dari Kunjungan ke RSJ Grhasia, saya mendapatkan materi mengenai ranah psikologi di RSJ, yaitu RSJ mempunyai beberapa pelayanan untuk gangguan jiwa, antara lain: Poli Psikologi, Psikometri, Rujukan Psikiater, Pasien Jiwa Rawat Inap, Pasien anak di klinik tumbuh kembang, Pasien Visum, Pasien Geriatri dan Pasien Napza semua dibedakan sesuai penyebab gangguan jiwa. Selain materi ranah psikologi, ada materi mengenai peran psikologi di RSJ, diantaranya Anamnesis, Diagnosis Multiaksial, Intervensi Psikologis, Hasil Pemeriksaan Psikologis, Rujukan dan Contoh Kasus.
Setelah pemberian materi selesai, kami diantar petugas RSJ melakukan observasi kepada pasien gangguan jiwa. Kami dibagi beberapa kelompok untuk mengunjungi salah satu bangsal di RSJ Grhasia. Saya berkesempatan mengunjungi Wisma Sadewa yang pasiennya laki – laki usia lanjut berjumlah 26 orang. ketika saya memasuki ruangan Wisma Sadewa, saya merasa empati melihat kondisi mereka dengan beban masalah yang menimbulkan gangguan jiwa. perilaku – perilaku mereka ada yang marah dan tertawa tanpa sebab, mengurung diri, bicara sendiri, waham, halusinasi dan perilaku aneh lainnya. Saya menghampiri salah satu bapak yang sedang duduk dikursi makan, sebut saja namanya “BS”, saya mengajaknya ngobrol dan mengajukan beberapa pertanyaan. Hasil percakapan kami, ternyata beliau pintar berbahasa inggris dan bela diri. Beliau 4 kali gagal masuk TNI dan akhirnya kondisi mentalnya tidak kuat untuk mengatasi permasalahannya sehingga beliau harus dirawat di Rumah Sakit Jiwa. Sekitar 30 menit saya berada di dalam ruang Wisma Sadewa dan banyak kesan yang didapatkan bahwa pasien / penderita gangguan jiwa ternyata masih memiliki sisi positif dalam dirinya. Mereka mempunyai bakat dan kreatifitas luar biasa yang belum bisa dikembangkan dan disalurkan. Penderita gangguan jiwa sangat membutuhkan dukungan moral dan perhatian  dari kita semua untuk dapat sembuh.
                Bagi mahasiswa Psikologi dan saya pribadi berharap setelah kunjungan ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) bisa lebih serius dalam mempelajari ilmu psikologi. Mengaplikasikan dan menerapkan ilmu psikologi yang kita dapat dan miliki dengan tepat dan sesuai dengan masalah yang dihadapi klien / penderita gangguan jiwa. Banyak penderita gangguan jiwa yang ingin sembuh memerlukan bimbingan dan dukungan penuh dari orang lain dan masyarakat. Membuat kegiatan – kegiatan bermanfaat untuk untuk mendukung kesembuhan mereka. Memberikan motivasi sesuai dengan kebutuhan untuk meningkatkan moral dan harga diri penderita gangguan jiwa.
                Kesimpulannya, dimulai dari hal kecil dan sederhana seperti berhenti menggunakan istilah “gila” dalam menyebut orang yang menderita gangguan jiwa, karena itu bisa menyinggung bukan orang tersebut tetapi juga keluarganya. Selain itu, jangan melihat mereka seperti orang aneh yang harus dijauhi tetapi seseorang yang membutuhkan bantuan dengan tidak memusuhi apalagi mengucilkan penderita gangguan jiwa.
Untuk refleksi pribadi , ketika ada masalah belajar menghadapi dengan menenangkan pikiran untuk mengurangi stress, berpikir positif dan optimis, bersikap kreatif agar bisa menemukan jalan keluar dari masalah dan paling penting minta pertolongan dan dekatkan dengan Tuhan agar masalah cepat selesai dan menghindari gangguan jiwa.


DAFTAR PUSTAKA :
Wikipedia. Rumah Sakit Jiwa,  (online), (https://id.wikipedia.org/wiki/Rumah_sakit_jiwa, diakses 16 April 2017).



14.4.17

ARTIKEL PSIKOLOGI UMUM 2 : STRES DI TEMPAT KERJA

STRES DI TEMPAT KERJA



NAMA             : RATIH SETIYANINGSIH
NIM                 : 16.310.410.1140
MATA KULIAH: PSIKOLOGI UMUM 2
            Hampir disetiap kondisi pekerjaan bisa menyebabkan stres. Stres ditempat kerja ada kalanya berguna untuk menimbulkan persaingan yang dinamis didalam rangka meningkatkan kinerja, tetapi dapat juga merupakan penghalang bagi kreatifitas  dan prestasi kerja jika stres tidak dikelola dengan baik. Jika tidak ada stres, tantangan kerja juga tidak ada, prestasi kerja cenderung rendah, sejalan dengan meningkatnya stres, prestasi kerja juga naik, karena stres membantu staff untuk mengerahkan segala sumber daya dalam memenuhi berbagai persyaratan atau kebutuhan pekerjaan.
            Menurut Spielberg (dalam Imatama, 2006:17), menyatakan bahwa stres adalah tuntutan-tuntutan eksternal yang mengenai seseorang, misalnya objek-objek dalam lingkungan atau stimulus yang secara obyektif adalah bahaya. Stress juga bisa diartikan sebagai tekanan, ketegangan atau gangguan yang tidak menyenangkan yang berasal dari luar diri seseorang.
Menurut Nimran (dalam Siregar,2006:17), ada beberapa alasan mengapa stres yang berkaitan dengan sebuah organisasi perlu diangkat ke permukaan pada saat ini. Diantaranya adalah : masalah stress adalah masalah yang akhir-akhir ini sering dibicarakan, dan posisinya sangat penting dalam kaitannya dengan produktifitas kerja karyawan. Selain dipengaruhi oleh factor –faktor yang bersumber dari luar organisasi, stres juga banyak dipengaruhi oleh factor-faktor yang berasal dari dalam organisasi. Oleh karenanya perlu disadari dan dipahami keberadaannya. Pemahaman akan sumber-sumber stres yang disertai dengan pemahaman terhadap cara-cara mengatasinya, adalah penting sekali bagi karyawan dan siapa saja yang terlibat dalam organisasi demi kelangsungan organisasi yang sehat dan efektif. Banyak diantara kita yang hampir pasti merupakan bagian dari satu atau beberapa organisasi, baik sebagai atasan maupun sebagai bawahan, pernah mengalami stres meskipun dalam taraf yang amat rendah. Di zaman kemajuan di segala bidang seperti sekarang ini menuntut manusia  untuk mempunyai kinerja yang lebih baik. Peralatan kerja semakin modern dan efisien, dan di lain pihak beban kerja di satuan – satuan organisasi juga semakin bertambah sehingga menuntut energy karyawan lebih besar dari sebelumnya. Dampak dari fenomena ini adalah stres kerja yang meningkat.
            Contohnya, profesi perawat yang setiap hari bertemu dan berhadapan dengan berbagai masalah kesehatan yang dihadapi oleh klien yang dirawat berpotensi menimbulkan stress kerja jika tidak diantisipasi. Dalam menjalankan peran fungsi dan tugasnya perawat tidak saja menghadapi orang yang sedang sakit yang menjadi tanggung jawabnya, tetapi juga berhadapan dengan berbagai masalah diantaranya dengan keluarganya, peraturan, prosedur, birokrasi dam tim kesehatan lainya yang semua itu memerlukan ketahanan fisik dan mental sehingga perawat dapat mengurangi atau menghindari efek stres yang ditimbulkan.
            Kesimpulan, stres merupakan suatu kondisi ketegangan yang mempengaruhi emosi, proses berpikir dan kondisi seseorang dimana ia terpaksa memberikan tanggapan melebihi kemampuan penyesuaian dirinya terhadap suatu tuntutan eksternal (lingkungan). Kelola stres sebagai kondisi yang dapat memotivasi dan meningkatkan prestasi kerja.

DAFTAR PUSTAKA :
Imatama, Zuhrina. (2006). Pengaruh Stres Kerja Terhadap Kinerja Karyawan di Lembaga Pendidikan Perkebunan (LPP) Kampus Medan. Medan: Program Strata-1 Jurusan Manajemen Universitas Sumatera Utara.
Siagian, Sondang P.(2003). Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta:Bumi Aksara.
Rasmun, (2004).Stres, Koping dan Adaptasi. Jakarta:CV. Sagung Seto.




ARTIKEL PSIKOLOGI UMUM 2 : GURU PERDULI KESEJAHTERAAN SISWA

GURU PERDULI KESEJAHTERAAN SISWA



NAMA             : RATIH SETIYANINGSIH
NIM                 : 16.310.410.1140
MATA KULIAH: PSIKOLOGI UMUM 2

Guru adalah profesi yang mulia. Makna guru sedemikian  tingginya karena terkait dengan fungsi guru, yaitu sebagai seorang pendidik. Guru adalah profesi yang mengembangkan manusia menuju kemuliaan, menuju diri terbaik, dan mengembangkan potensinya sehingga menjadi actual. Mendefinisikan guru yang baik tidak semudah menyebut namanya. Ada banyak daftar kompetensi yang dapat menjadi ukuran guru yang baik. Secara konseptual guru sebagai tenaga professional harus memenuhi berbagai persyaratan kompetensi untuk menjalankan tugas dan kewenangannya secara professional, sementara kondisi nyata di lapangan masih jauh dari yang diharapkan, baik secara kuantitas, kualitas maupun profesionalitas guru. Persoalan  ini masih ditambah dengan adanya berbagai tantangan ke depan yang masih kompleks di era global.
Hubungan guru dan siswa bukanlah hubungan antara “mulut dan telinga” tetapi hubungan dua manusia secara totalitas baik fisik, psikis, sosial dan spiritual.  Seorang guru tidak lebih dari sekedar robot bila dirinya tidak perduli dnegan perasaan siswa, harga diri siswa, atau apa yang baru saja terjadi pada siswanya.
            Menurut Parsons, Hinson & Sardo-Brown (2001), seorang guru berperan sebagai konselor. Guru seharusnya menjadi sosok yang memahami siswanya sebagai manusia lengkap yang ketika belajar membawa hatinya, perasaannya, kesedihannya, maupun membawa keinginan-keinginannya. Tipe guru yang mendekati siswanya dengan menyentuh perasaannya, memperdulikan apa yang dirasakan siswa, memikirkan efek pada harga diri siswa, perlu dikembangkan. Kalau kita mengatakan bahwa konselor hanyalah tugas guru pembimbing sehingga kita bisa seenaknya bertindak terhadap siswa dan tidak terlibat mengatasi masalah mereka, maka kita telah melepaskan peran kita sebagai orang yang harus perduli dengan masalah dan kehidupan pribadi siswa.
Menurut Rogers (dalam Palmer 2003) pendidikan menuntut perlunya perilaku guru yang menerima siswa sesuai dengan budayanya. Guru dan tenaga kependidikan juga perlu menghargai siswa. Budaya senyum, sapa dan salam dapat menjadi pilihan untuk menjadi awal terciptanya sikap saling menghargai. Berkomunikasi secara santun, menghargai ide dan karya orang lain, menghormati hak orang lain dan menghargai siapa pun termasuk tukang kebun dapat menjadi cermin  dari sikap penghargaan kepada orang lain. semangat “asih dan asuh” perlu dikembangkan antara guru, tenaga kependidikan, dan siswa dlam interaksi sehari-hari. Guru perlu menunjukkan pennghargaan kepada siswa melalui sapaan dan perhatian, pujian dan komentar positif, ekspresi positif (senyum), menghargai karya siswa, menghargai ide / pendapat siswa, menghargai usaha siswa, dan menghindari tindakan yang melecehkan siswa.
Contohnya, ketika siswa melakukan  kesalahan atau ketidakmampuan maka sampaikanlah secara personal dan rahasia. Ketika menyampaikan umpan balik negative maka arahkan kepada seluruh siswa, tidak menunjuk pada siswa tertentu. Mengembangkan pembelajaran afektif, tidak saja mengasah kemampuan kognitif siswa, tetapi juga memfasilitasi perkembangan aspek kepribadian sehingga siswa diharapkan dapat mencapai tingkat pertumbuhan pribadi yang optimal dalam suasana pembelajaran yang aman, saling menghargai dan memperhatikan perasaan siswa.
            Kesimpulannya, peran guru yang demikian penting dalam pemuliaan manusia perlu dikembangkan ke arah jalur yang tepat. Setiap guru dapat berperan menjaga dan mengembangkan kesejahteraan siswanya. Langkah pertamanya adalah memulai dari diri sendiri dengan mengembangkan pemahaman yang benar tentang anak, mengembangkan suasana dan lingkungan yang konduktif, menghargai setiap anak, memperlakukan siswa sebagai insan yang bermartabat, mengembangkan komunikasi apresiatif, mengembangkan metode pembelajaran afeksi-kepribadian, dan mengembangkan sikap saling menghargai antar pihak sekolah lainnya.

DAFTAR PUSTAKA :
Miller, J.P (2002). Cerdas di Kelas Sekolah Kepribadian. Rangkuman Model Pengembangan Kepribadian dalam Pendidikan Berbasis Kelas(disadur oleh Abdul Munir Mulkhan) .Yogyakarta:Kreasi Wacana.
Palmer, J.A (editor).(2003). 50 Pemikir Pendidikan. Dari Piaget Sampai Masa Sekarang.(terjemahan: Farid Assifa).Yogyakarta:Penerbit Jendela.

           

           

                       


ARTIKEL PSIKOLOGI UMUM 2 : MENJADI TUA, SEHAT DAN BAHAGIA

 MENJADI TUA, SEHAT DAN BAHAGIA


NAMA             : RATIH SETIYANINGSIH
NIM                 : 16.310.410.1140
MATA KULIAH: PSIKOLOGI UMUM 2

            Menjadi tua adalah sebuah proses alamiah dan tidak ada seorang pun yang dapat menghindari. Suka-tidak suka, mau-tidak mau, siap-tidak siap, tubuh manusia akan semakin menua dengan disertai bermacam perubahan sebagai konsekuensinya. Berbagai penurunan baik fungsi fisik maupun mental yang terjadi pada lansia membuat banyak orang khawatir saat mulai memasuki masa usia lanjut. Mereka tidak hanya mengkhawatirkan tentang perubahan fisik, tetapi juga memikirkan tentang kelangsungan hidup, keluarga dan masa depan, bahkan kematian. Jika lansia tidak siap dengan berbagai perubahan tersebut, maka sangat besar kemungkinan ia merasakan ketidakbahagiaan dalam masa tuanya.
            Hasil penelitian Paul, dkk. (2007) menunjukan bahwa secara umum individu berusia 80 tahun ke atas yang memiliki masalah kesehatan dan ketidakmampuan beraktivitas cenderung lebih pesimis memandang hidup, memiliki persepsi negative terhadap kesehatan, dan memiliki kualitas hidup yang kurang baik. Ketidakberhasilan lansia dalam menyesuaikan diri dengan perubahan akan memunculkan emosi-emosi negative seperti mudah marah, suka bertengkar, cemas berlebihan dan merasa kecewa. Sebaliknya, lansia yang mampu menyesuaikan diri terhadap perubahan dan kemunduran yang dialaminya akan memunculkan perasaan positif, seperti merasa bahagia, merasa berguna, semangat menjalani hidup, dan tetap berusaha memanfaatkan waktu seefektif mungkin dengan terlibat dalam aktivitas yang disenanginya.
Teori kontinuitas (Atchley dalam Pappalia,dkk.,2008) menekankan pada kebutuhan  individu untuk mempertahankan hubungan antara masa lalu dan masa kini. Dalam hal ini bukan berarti lansia tetap mempertahankan semua aktivitas dan menjalani hidupnya seperti pada masa muda , tetapi lansia dibantu untuk memilih dan mempertahankan beberapa aktivitas  di masa lampau yang sesuai dengan kondisinya sekarang.
Roswita (2005) yang melakukan penelitian tentang successful aging menemukan bahwa ada beberapa factor yang berperan dalam successful aging, yaitu kondisi kesehatan yang cukup baik, kemampuan untuk tetap mandiri,  adanya kegiatan diluar lingkungan keluarga, optimisme hidup, adanya dukungan dari keluarga dan teman-teman, serta penerimaan diri positif tentang kondisi usia lanjut.
Hal ini sejalan dengan pendapat Berk  (Suardiman, 2011), dengan beberapa tambahan yaitu adanya perasaan spiritual dan keyakinan yang matang, harapan akan kematian dengan ketenangan dan kesabaran. Memang tidak sedikit lansia yang di akhir masa tuanya lebih meningkatkan perasaan spiritualnya, menikmati kehidupan, dan mensyukuri apa yang dialaminya sebagai pemberian Tuhan.
            Contoh pemberian layanan dalam mewujudkan lanjut usia yang sehat, mandiri dan berdaya guna dengan pembentukan Posyandu Lansia. Ada banyak kegiatan yang difasilitasi oleh Posyandu Lansia, antara lain pemeriksaan kesehatan, senam lansia , rekreasi, pengajian atau ibadah bersama dan sebagainya. Selain itu, lansia masih bisa melakukan banyak kegiatan yang lain, baik kegiatan pribadi, kegiatan di Posyandu, kegiatan perkumpulan lansia maupun terlibat dalam kegiatan lain yang diadakan masyarakat atau pemerintah.
            Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa keberadaan lansia memang akan terus meningkat seiring semakin tingginya usia harapan hidup. Namun, bukan berarti lansia semata-mata akan menjadi beban bagi penduduk usia muda dan Negara. Lansia tetap bisa berguna dan berdaya , bahkan sebagai sosok yang memiliki banyak pengalaman, lansia bisa menjadi pihak penting sebagai sumber ilmu nan bijak untuk kemajuan dan kebaikan masa depan kita semua.


DAFTAR PUSTAKA :
Febriani, Arum. (2012). Psikologi untuk Kesejahteraan Masyarakat. Pustaka Pelajar:Yogyakarta.




12.1.17

RESENSI ARTIKEL : FASILITAS MCK MENDESAK



RESENSI ARTIKEL :

DELIANA VICRIA NURACHYANI
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS PROKLAMASI 45
YOGYAKARTA

FASILITAS MCK MENDESAK


            Setelah masa tanggap darurat bencana gempa Aceh 7-20 Desember 2016, para pengungsi korban gempa Plidie jaya masih menghadapi masalah belum ada fasilitas mandi, cuci, dan kakkus yang memadai. Pengungsi harus pergi ke sungai atau menumpang rumah warga yang masih meiliki MCK layak. Para pengungsi harus berjalan 100-200 meter dari pengungsian ke Sungai Meureudu jika hendak mandi, mencuci, dan buang air. Tidak ada tempat tertutup di sekkitar sungai sehingga tidak memunginkan bagi kaum perempuan untuk mandi ataupun buang air di sungai tersebut. Disekitar sungai juga tidak ada penerangan saat malam. Mereka berharap

RESENSI ARTIKEL : KAWASAN WISATA : WAJAH MALIOBORO LEBIH RAPI



RESENSI ARTIKEL :

DELIANA VICRIA NURACHYANI
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS PROKLAMASI 45
YOGYAKARTA
 

KAWASAN WISATA  :
WAJAH MALIOBORO LEBIH RAPI


          Kawasan wisata malioboro sebagian trotoar sisi timur kini di lengkapi sarana prasarana yang lebih baik dan lengkap dari pada sebelumnya . Penataan tahap pertama dilakukan pada Kamis (22/12) yang dihadiri oleh Sultan Hamengku Buwono X, saat itu Sultan HB x menyusuri trotoar sisi timur untuk mengecek hasil penataan yang dimulai April 2016.

            Bentuk penataan itu antara lain mengganti lantai trotoar dengan lantai berbahan traso yang dilengkapi dengan jalur untuk kaum difabel. Pemerintah DIY juga menambah lampu jalan baru sebantak 32 unit dan memasang street furnuture (perabotan jalan), antara lain berupa tempat sampah 94 unit, kursi dengan sandaran 115 unit, kursi tanpa sandaran 54 unit, dan pembatas jalan 413 unit. Dan juga melakukan vegetasi dengan menanam pohon asam jawa 71 pohon dan pohon gayam 9 pohon dan juga menyiapkan keran air siap minum sebanyak dua unit di sepanjang trotoar sisi timu malioboro. Penataan tahap kedua kawasan malioboro juga akan segera dilakukan mancakup bagian pasar beringharjo hingga titik nol dan sisi barat mulai dari Tugu Ngejaman hingga kawasan titik nol. Sultan juga berharap, pihak-pihak yang mencari nafkah di Malioboro, misalnya pedagang kaki lima dan tukang parkir, bisa memahami tujuan penataan Malioboro.
            Dalam artikel ini juga diharapkan agar setelah penataan Malioboro masyarakat atau pengguna lebih bisa menjaga apa yang sudah di rehab di wilayah Malioboro agar Malioboro menjadi salah satu icon Yogyakarta yang nyaman dan bersih.
Sumber:

Hrs. (2016). Kawasan wisata: wajah malioboro lebih rapi. Kompas. 23 Desember