Tampilkan postingan dengan label Ringkasan atikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ringkasan atikel. Tampilkan semua postingan

21.4.17

ARTIKEL : RUANG KULIAH YANG RAMAH BERPENGARUH PADA PRESTASI

                                                                       SITI HANIFAH
                                                                     (16.310.410.1151)    
                                                                       Psikologi Sosial          

               Ruang Kuliah Yang Ramah Berpengaruh Pada Prestasi 

             Ruang kuliah perguruan tinggi sering merupakan tempat yang membosankan dan suram. Dinding dicat dengan warna “abu-abu kelembagaan”, meja kursi mudah dibersihkan, tetapi tidak nyaman dan tidak menarik. Kursi diatur berderet lurus menghadap mimbar atau meja guru.
Dalam suatu penelitian (Ferrenkopf, 1947) lebih dari 80 persen mahasiswa di sebuah universitas menilai ruang kuliah mereka secara negative, dengan melukiskannya sebagai tempat yang buruk, sempit, sesak, tidak nyaman, dan sebagainya. Penelitian yang dilakukan oleh pakar psikologi mulai memperlihatkan bahwa ruang kelas yang tidak menarik tidak hanya tidak memiliki daya pikat, tetapi juga mempengaruhi prestasi akademis.
              Dalam penelitian peragaan yang diadakan oleh sommor dan olsen (1980), sebuah ruang kuliah yang kecil diubah menjadi ruang yang oleh sebuah peneliti disebut “ ruang kuliah yang lembut/nyaman.” Sederetan kursi yang dilengkapi dengan alas duduk ditempatkan disekitar dinding, ditambahkan karpet, pencahayaan disesuaikan dengan baik, dan digantungkan gambar-gambar yang cerah. Para mahasiswa memberikan reaksi secara antusias dengan memberikan komentar seperti “ Ini sebuah kejutan.” Atau “Saya sangat terkesan!” Perbandingan perilaku mahasiswa diruang kuliah yang lain  menunjukkan bahwa partisipasi mahasiswa dalam diskusi kelas dua atau tiga kali lebih banyak di dalam ruang yang lebih menarik.
               Penelitian tentang lingkungan ruang kuliah yang dikenali dengan cermat dilakukan oleh wollin dan montage (1981 ). Mereka memilih dua ruang kuliah identik yang terletak bersebelahan di gedung psikologi . Ruang kuliah pengendali, yang mereka sebut “ ruang kuliah yang steril”.” Berdinding putih, memiliki karpet abu-abu”, dan sederetan meja tulis plastik. Ruang kuliah eksperimental, yang mereka sebut “ ruang kuliah yang ramah,” dihias kembali dengan meminta bantuan seorang konsultan desain. Beberapa dinding dicat dengan warna cerah , poster seni digantungkan di dinding, sejumlah tanaman diletakkan di ruang tersebut, dan layang-layang Cina yang berwarna cerah digantungkan dilangit-langit. Selain itu meja tulis tradisionil, sebagian ruangan dilengkapi dengan permadani, alas tempat duduk yang mempunyai warna serasi, dan kubus kayu untuk menyediakan kursi yang tidak tradisional.
             Para peneliti menyelidiki bagaimana kedua lingkungan yang berbeda ini mempengaruhi prestasi dalam perkuliahan yang sebenarnya. Dua professor yang mengajar pengantar psikologi bersedia berpartisipasi dalam penelitian ini, meskipun mereka tidak diberitahu tentang tujuan penelitian tersebut. Ketika masa kuliah dimulai, tiap tingkat ditempatkan secara acak disalah satu dari dua ruang kuliah itu. Pada pertengahan masa kuliah, kedua tingkat tersebut ditukar , sehingga mahasiswa di kedua tingkat itu berada di ruang pengendalian  selama setengah masa kuliah dan di ruang “ramah” selama setengah masa kuliah. Para mahasiswa tersebut tidak diberitahu bahwa mereka sedang diteliti, terjadinya pertukaran kelas dijelaskan sebagai akibat dibutuhkannya ruang yang semula untuk pemutan video
              Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa yang berada diruang “ramah” secara signifikan prestasinya lebih baik saat ujian dari pada yang berada diruang steril.
Jadi, tampak bahwa lingkungan fisik dapat mempengaruhi jumlah pengetahuan yang dapat dipelajari, setidaknya-tidaknya terukur melalui nilai ujian. Disamping itu mahasiswa juga disuruh mengevaluasi para pengajar mereka. Secara signifikan pengajar dinilai lebih positif bila perkuliahan diadakan di ruang kelas yang menarik. Diruang eksperimental, pengajar dinilai lebih berpengetahuan, lebih menarik perhatian, dan lebih tertib dibandingakan pengajar yang berada di ruang pengendalian. Jadi, penilaian kita tentang orang lain setidak-tidaknya sebagian dipengaruhi oleh lingkungan fisik dimana kita berinteraksi dengan mereka.
Jadi alangkah lebih baik jika kita menciptakan ruang kuliah yang ramah/nyaman. Hal itu tidaklah mustahil bagi kita jika ada eksen yang nyata. Paling tidak jika tidak bisa mewujutkannya selalu jaga ruang kuliah agar tetap kondusif sepeti tidak membuat gaduh ataupun meninggalkan sampah diruang kelas, dan menata kembali meja/kursi. Di mulai dari hal yang kecil yang berdampak pada hal besar. Dari situ mulai tunjukkanlah sikap sosial pada lingkungan kita sendiri

Referensi :

Adryanto. Michael. (1991). Psikologi Sosial. Jakarta: Penerbit Erlangga. 

ARTIKEL : PEMBUNUHAN KARAKTER MASSAL PENDUDUK KOTA

                                                                             Siti Hanifah
                                                                         (16.310.410.1151)
                                                                           Psikologi Sosial 


              Banyak orang diperkotaan yang hanya memaknai kesuksesan mereka dari jumlah materi dan pemapilan luar saja. Banyak yang tidak menyadari bahwa kesuksesan material justru biasanya merupakan kegagalan sosial, mental, dan spiritual. Karena statusnya yang tinggi dia enggan mendekati tetangganya, saudaranya, yang tidak mampu, itu merupakan kegagalan sosial. Karena dijauhi orang tersebut pada akhirnya akan kesepian, dan tertekan karena tidak mampu mencurahkan segala isi hatinya dan pengalaman-pengalamannya. Karena kesepiannya individu tersebut menyalahkan tuhan, akhirnya menjadi lebih yakin akan pilihannya dalam mengejar materidan gagal menjaga komitmen kemanusiaan, itu adalah kegagalan spiritual.
          Erich Fromm, tokoh psikologi perkembangan ini memaknai istilah kepribadian “Having Oriented”untuk warga kota yang seperti ini, yaitu mereka yang memiliki gaya hidup yang mengejar materi, tetapi tidak disertai dengan pemaknaan hidup yang dalam yang biasanya dimiliki oleh orang-orang dengan kepribadian “being oriented”. Ukuran kebahagiaan hidup mereka yang memiliki “having Oriented” Hanya sebatas kebahagiaan material yang mengesampingkan kebahagiaan social dan kebahagiaan spiritual. Hal ini pun semakin akut dengan padatnya kota dengan perumahan dan gedung-gdung bertingkat yang warganya berlomba-lomba mengejar materi sehingga menghalalkan segala cara walaupun harus mengorbankan tubuh, moral dan imannya. Sikut kanan, sikut kiri, injak bawah, injak atasan, nyatut di depan, korup dibelakang menjadi hal yang lazim terjadi diwarga kota.
Mal menjadi sebuah pelarian bagi warga kota dan merupakan sebuah epitemologi baru dimana hubungan anatara imajinasi dan realitas menjadi bias sehingga akhirnya warga kota tidak bisa lagi membedakan mana kenyataan dan berbagai hal yang semu adana.
             Lebih jauh lagi warga kota mnderita deindividuasi, suatu kodisi psikologis di mana terjadi penurunan keasadaran diri hingga individu akan melakukan segala hal yang tidak akan dilakukannya jika sendiri. Contonya saja Diskon, cuci gudang,dan obral. Hal tersebut telah mengkondisikan warga kota yang berada dalam keramaian mal untuk berbondong-bondongmembeli semuanya tanpa pikir panjang. Manjemen diskon kemudaian akan memelihara kondisi psikologis massa ini secara terus menerus sehingga memprogram pikiran warga. Seperti anjing Pavlov, warga kota akan langsung “ngiler” ketika diskon datang. Mereka tidak lagi sadar jika dicuci otaknya, sehingga kehilangan kesadaran dan kontrol diri. Pembunuhan karakter missal telah terjadi di mal dan warga kota kota bahkan tak menyadarinya.
             Kita lahir disebuah negara yang sangat kaya dengan budaya adi luhungnya, namun sayang kita menjadi individu yang tidak lagi bangga akan hal tersebut namun malah mengadopsi berbagai budaya yang datang dari negri asing yang justru telah menghilangkan jati diri dan karakter kita yang sebenarnya. Untuk itu sebagai warga Indonesia dan pemuda pemudi Indonesia, ayo bangga dengan budaya kita budaya Indonesia.

Referensi :
Halim, Deddy Kurniawan. (2008). Psikologi lingkungan perkotaan. Jakarta: Sinar Grafika Offset.

14.4.17

ARTIKEL PSIKOLOGI UMUM 2 : BAHAGIA DALAM PIKIRAN POSITIF


BAHAGIA DALAM PIKIRAN POSITIF


NAMA             : RATIH SETIYANINGSIH
NIM                 : 16.310.410.1140
MATA KULIAH: PSIKOLOGI UMUM 2
           
              Setiap orang sering kali memiliki pikiran negatif yang menjadikan pesimis, ragu – ragu dan memiliki ketakutan dalam bertindak. Belum lagi banyak masalah dan rintangan yang membuat kita bersedih dan berpikiran negatif sehingga usaha kita untuk bahagia menjadi terhalang. Cobaan hidup memang membuat kita terjebak dalam emosi dan pikiran negatif, dan itulah  yang membuat menjadi tidak bahagia. Kehidupan tidak lebih dari sebuah perjalanan untuk menikmati keindahannya dengan hati yang penuh bahagia. Kemampuan diri untuk menikmati semua sisi keindahan hidup, akan membuat diri selalu berjalan ke depan untuk menemukan hal-hal yang jauh lebih indah dari hari ini.
Keluar dari sarang pikiran negatif, karena pikiran negatif tidak pernah memberikan rasa bahagia dalam pikiran. Untuk itu, jaga dan perkuat pikiran positif. Raih bahagia sejati bersama sikap hidup dalam jiwa yang besar.
            Menurut Aristoteles, kebahagiaan itu bukan potensi atau keadaan melainkan kegiatan. Seseorang harus menciptakan kebahagiaannya sendiri dengan kehendaknya yang bebas. Jadi tidak dibenarkan menunggu kebahagiaan datang tanpa adanya suatu aktivitas atau persepsi positif yang membahagiakan.
Menurut psikolog sekaligus penulis buku psikologi komunikasi Prof Dr Jalaluddin Rahmat, pikiran seseorang itu ajaib karena dapat mengubah kehidupan. Ia dapat mengubah kebahagiaan menjadi kesedihan, begitu juga sebaliknya, kesedihan dapat diubah jadi kebahagian, semua bergantung pada apa yang seseorang pikirkan.
Dengan berpikir positif, seseorang dapat melahirkan sikap optimis. Sikap seperti inilah yang dibutuhkan dalam menghadapi berbagai tantangan hidup. Stress pun bisa berakibat baik jika mampu mengelolanya dengan cara yang positif.
Banyak orang beranggapan bahwa berpikir positif itu sulit, terlebih di tengah himpitan beban hidup yang semakin meningkat. Padahal, berpikir positif itu bisa dilatih. Bagaimana cara melatihnya?
Pertama, mulailah dari hal kecil pada pagi hari, seperti tersenyum saat melihat matahari terbit dan berkata, “ Terima kasih Tuhan atas hidup yang masih Kau beri.” Konon, cara simple ini memiliki pengaruh besar dalam menimbulkan sikap positif seseorang pada hari itu.
Cara kedua yang bisa melatih  kita berpikir positif, yaitu dengan meningkatkan selera humor. Bisa dengan menonton film komedi atau bergaul dengan orang yang humoris. Berdasarkan beberapa penelitian, orang yang memiliki selera humor yang tinggi jauh lebih bahagia dan dapat meminimalkan stress dalam dirinya.
Pada dasarnya, setiap peristiwa  atau kejadian sifatnya netral. Adapun yang membuat dia positif atau negative adalah cara berpikir seseorang. Sebagai contoh, peristiwa patah hati yang hampir semua orang alami dapat disikapi secara positif  jika kita mampu mengambil sisi baik dari situ.
Patah hati kan  biasa, mungkin nanti ada yang lebih baik daripada dia. Pemikiran seperti ini dapat membangkitkan kembali semangat seseorang. Namun, jika patah hati disikapi dengan kesedihan berlarut-larut, tentu saja hasilnya pun tidak baik. Orang itu akan diam di tempat dan hidupnya berunjung pada kesedihan.
Sering melakukan introspeksi diri juga dapat menumbuhkan sikap positif. Dengan cara ini, seseorang akan mengenali dirinya sendiri, menerima segala kelebihan maupun kekurangannya.
            Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa berpikir berpikir positif akan membuat diri jauh lebih kuat dan lebih mampu daripada yang pernah dibayangkan. Bila pikiran positif menguat untuk memimpin diri dan ego menjadi terkendali di dalamnya, maka kesadaran hidup akan membimbing diri menuju ketenangan dan kebahagiaan sejati.


DAFTAR PUSTAKA :
Devianti, Irena. (2014). Tips Trik Kilat Menciptakan Pikiran dan Kepribadian Positif. Yogyakarta:Parasmu.



ARTIKEL PSIKOLOGI UMUM 2 : PROSES PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN DAN IDENTITAS DIRI REMAJA

PROSES PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN DAN IDENTITAS DIRI REMAJA


NAMA             : RATIH SETIYANINGSIH
NIM                 : 16.310.410.1140
MATA KULIAH: PSIKOLOGI UMUM 2

            Pada masa remaja tahap identifikasi dapat menyebabkan kebingungan dan kekaburan akan peranan sosial, karena remaja – remaja cenderung mengindentifikasikan dirinya dengan beberapa tokoh sekaligus. Kalau kekaburan akan peranan sosial tidak dapat dihapuskan sampai remaja itu menjadi dewasa, maka besar kemungkinan ia akan menderita gangguan-gangguan kejiwaan pada masa dewasanya. Karena itu penting sekali diusahakan agar remaja dapat menentukan sendiri identitas dirinya dan berangsur-angsur melepaskan identifikasinya terhadap orang-orang lain, untuk akhirnya menjadi dirinya sendiri.
Menurut Erikson, bahwa remaja merupakan salah satu tahapan tentang hidup manusia yang sangant penting untuk pembentukan identitas (Marcia, 1993). Pada tahapan ini remaja menghadapi tugas utama mencari dan menegaskan eksistensi dan jati dirinya, mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri, mencari arah dan tujuan, menjalin hubungan dengan orang yang dianggap penting. Meyakinkan diri sendiri dan orang lain, bahwa dirinya telah mampu menyelesaikan tugas-tugas perkembangan secara efektif mempersiapkan diri menjelang masa dewasanya. Remaja mengalami berbagai goncangan, baik secara psikologis maupun secara sosial. Goncangan goncangan itu membuat remaja berbeda-beda posisi sulit untuk menempatkan diri dan mengambil peran yang tepat dalam berbagai setting kehidupannya. Pertanyaan-pertanyaan tentang siapa saya, dimana saya, peran apa yang dapat dan seharusnya saya mainkan, selalu muncul dibenak remaja. Tidak jarang remaja menjadi menjadi ragu terhadap eksistensi dirinya sendiri. Oleh karena itu, pada masa ini banyak juga disebut sebagai masa mencari jati diri atau identitas diri. Pencapaian identitas diri merupakan salah satu tugas yang penting dan mendasar dalam kehidupan remaja (Lois, 1994).
Contohnya, Orang tua menjadi sumber inspirasi dan informasi, figure tokoh identifikasi anak, sehingga sikap dan perilaku orang tua akan memberi pengaruh pembentukan sikap dan perilaku anak. Santrock (1997) menyatakan bahwa : Father-mother coopration and mutual respect help the child develop positive attidudes. Keluarga merupakan “jaringan social” anak, sebad keluarga merupakan lingkungan pertama anak dan orang orang yang paling penting selama tahun-tahun formatif awal (Hurlock, 1989). Proses pertumbuhan dan perkembangan anak, serta pembentukan identitas dirinya, sangat tergantung pada orang tua. Orang tua jugalah yang pertama kali member fasilitas, termasuk kesempatan kepada anak untuk memankan fungsi dan peran dalam keluarga dan konteks kehidupan yang lebih luas. Mengingat gaya pengasuhan yang diterapkan oleh orang tua memiliki suasana dan kesempatan berbeda untuk mengekspresikan gagasan, pikiran, dan kecenderungan-kecenderungannya; identitas diri yang terbentuk karenanya akan memiliki sifat yang berbeda-beda pula.
Keberadaan figure tokoh sukses yang dilihat remaja juga ikut memberikan kontribusi yang cukup signifikan dalam pembentukan identitas diri remaja. Remaja melihat, menilai, dan menemukan nilai-nilai yang dianggap baik ada pada figur tokoh tersebut, selanjutnya diinternalisasi ke dalam dirinya untuk dijadikan bagian dari pembentuk identitas dirinya.
            Kesimpulannya, peran aktif orang tua dalam proses pembentukan kepribadian dan identitas diri remaja sangat dibutuhkan untuk membantu mengarahkan ke hal positif.  Orang tua harus menjadi pemberitahu, sebagai pemberi tanggapan, sebagai cermin maupun sebagai pihak yang memberikan pengarahan pada anak.


DAFTAR PUSTAKA :
Yulia Singgih D. Gunarso. (1993). Psikologi Remaja. Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia.
Pudjijogyanti, Clara R. (1988). Konsep Diri Dalam Pendidikan. Jakarta: Arcan.


           
           


10.1.17

RESENSI ARTIKEL : MENGUBAH SAMPAH JADI RUPIAH




Chusnul Rizatul Untsa
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

            Sampah selalu identik dengan limbah yang dibuang berbau dan tidak banyak diminati orang. Namun beda hanya dengan Nuraeni dan suaminya yang tinggal di Linggaswatu Bandung ini. Bersama suaminya ia tergerak menciptakan inovasi untuk memecahkan solusi tentang sampah disekitar rumahnya. Ia mendirikan bank sampah pada tahun 2001 yang hanya beranggota 5 orang awalnya. Kini bank sampah yang diberi nama sabilulungan itu menjadi tumpuan 100 orang disekitarnya.
            Jika dahulu ia hanya bermodal 400.000 kini ia dan suami meraup omzet mencapai 28juta pertahun. Meski awal kirprahnya ia mendapat cibiran dan cemoohan mereka tidak lantas surut semangat. Banyak yang menganggap bahwa tidak ada yang bisa diharapkan dari sampah. Dianggap sulit mendapatkan uang besar dan menjijikkan. Namun setelah strateginya dan usahanya membesar banyak badan pemerintah yang mendatanginya untuk memberikan apresiasi.
            Setelah itu mereka mulai mengembangkan sabilulungan itu hingga menjadi lebih besar lagi. Setiap anggota bahkan bisa meminjam hingga 2juta rupiah, dan mencicilnya menggunakan sampah. Bahkan untuk menabung bank sampah mereka tidak langsung mendpatkan uangnya agar ditabung dulu setelah banyak baru diberikan. Hal ini dilakukan supaya warga m,erasakan keuntungannya dari bank sampah dan tidak langsung habis.
          Buah manis yang dirasakan warga dari sabilulungan. Uang hasil setoran sampah dinikmati warga, mulai dari tambahan modal usaha, ongkos mudik Lebaran, hingga biaya pemasangan air bersih. Jika sebelumnya warga mengandalkan biaya itu semua melalui rentenir dengan bunga berlipat ganda, sampah menyelamatkan mereka.
Bonus lingkungan yang bersih juga muncul di Linggawastu. Gang padat penduduk yang semula kumuh juga kini jauh lebih bersih.

Sumber:
Nugroho R Ariyanto(2016). Anak Sampah Menjadi Rupiah. Kompas, 16 November 2016, hal 16
           

RESENSI ARTIKEL : ANAK PUNK TAK TERHENTIKAN




Chusnul Rizatul Untsa
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

            Anak punk cenderung bertato dan bertindik. Kesan menakutkan dan urakan sangat melekat erat di kehidupan mereka.          Sama halnya yang dilakukan Erik Kristianto yang akrab dengan sapaan Erik Soekamti. Bertindik besar di kedua daun telingana dan gemar memakai kaos berlengan pendek. Dengan status vokalis yang memiliki sua juta penggemar, ia adalah harapan remaja yang menggemari punk di industri music.
            Dibalik itu semua banyak orang yang tidak tau bahwa ia memiliki tempat pendidikan yang ia nama Does University. Tempat itu bukanlah universitas formal melainkan tempat kelompok belajar tentang animasi. Itu bagian dari tanggung jawab sosialnya setelha band yang ia bentuk 2001 lalu membesar. Dia menginginkan potensi – potensi grafis mereka tersalurkan.
            Salah satu tatonya yang bertuliskan ‘unstopable’ sangat mencerminkan kepribadiannya yang tidak terhentikan. Setiap kali berbicara ide dan gagasannya selalu meloncat kesana kemari. Ia memiliki ambisi yang besar tentang animasi. Meski ia lebih memilih mencintai music.


Sumber:
Yasa, P Raditya(2016). Anak Punk Yang Tak Terhentikan. Kompas, 17 November 2016, hal 16
           

9.1.17

RESENSI ARTIKEL : WISATA SALAK DI LERENG MERAPI




Chusnul Rizatul Untsa
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

            Lereng merapi di daerah Desa Wonokerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan daerah yang cocok untuk bercocok tanam salak. Lahir disana dalam  sebuah keluarga petani membuat Agung memiliki jiwa petani yang kuat. Kejayaan keluarga petaninya di rasakan di tahun 1980-an dimana harga salak setara 1 liter beras. Namun seiring banyaknya petani salak yang membuat harga salak turun dan mengalami fluktuasi harga. Dan perekonomian keluarganyapun ikut terkena imbasnya.
            Saat lulus kuliah ia mulai belajar menjual salak dari took buah satu ke yang lain. Darisana ia belajar bagaimana mendapat pemasukan lebih banyak lagi. Akhirnya terciptalah ide membuat obyek wisata kebun salak di kebun ayahnya seluas 2.000 persegi di desa Bangunkerto. Awalnya ia menawarkan wisata ke sekolah-sekolah dan Himpunan Perhotelan Yogyakarta. Karna minimnya media promosi dan teknologi yang baik  pada waktu itu. Agung hanya mulai mengirim melalui faks.
            Agung mulai berinovasi dengan manajemen dan pengelolaan yang berubah-ubah disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan obyek wisatanya. Sampai ia berhasil meluaskan lahan salaknya 2.000m persegi lagi. Selain itu Agung juga menciptakan beberapa produk makanan olahan terbuat dari salak. Agung mendorong petani-petani salak yang lain untuk terus berinovasi karna baginya, setiap petani harus kreatif untuk meningkatkan kesejahteraan hidup.

Sumber:
Rukmorini, R. (2016). Wisata Salak Di Lereng Merapi. Kompas, 21 Desember 2016, hal 16
           

15.11.16

Ringkasan Artikel : Pengelolaan Stres Dorong Produktivitas

KESEHATAN JIWA : Pengelolaan Stres Dorong Produktivitas

Tri Jumiati
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta


Kesehatan jiwa adalah suatu kondisi sehat, emosional, psikologis, dan sosiologis yang terlihat dari hubungan interpersonal yang memuaskan, perilaku dan koping yang efektif, konsep diri yang positif dan kestabilan emosional.
Stres adalah bentuk ketegangan dari fisik, psikis, emosi maupun mental. Seseorang yang mengalami stress akan mengalami ketegangan yang dapat  mempengaruhi kinerja keseharian seseorang. Setiap orang dapat mengalami stres, jadi seseorang tersebut harus dapat mengelola stress dengan baik agar tetap produktif, karena pengelolaan stress yang tepat dapat perpengaruh pada produktivitas seseorang tersebut. seseorang yang tinggal di kota cenderung lebih mudah stres karena kehidupan di kota jauh berbeda dengan kehidupan di desa.
Seseorang yang sering berinteraksi dengan orang lain maka, sudah terbiasa mengalami stress dan mengetahui cara mengelola dan mengendalikan stress. Jika seseorang tidak bisa mengelola stress dengan baik, maka akan berdampak pada kesehatan mentalnya, jika orang tersebut tidak dapat mengendalikan stress dan tidak memiliki kemampuan dalam menghadapi stress maka kemungkinan orang tersebut akan mengalami gangguan kesehatan mental.
walaupun sudah ada Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa., soal kesehatan mental belum jadi perhatian utama warga dan pemerintah. Padahal depresi dan stress akan jadi beban penyakit global terbesar kedua pada 2020 setelah sakit jantung.