Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL PSIKOLOGI UMUM II. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL PSIKOLOGI UMUM II. Tampilkan semua postingan

19.3.20

COVID-19: Perlukah Kita Cemas?

Nama : Mita Dwi Wijayanti
Nim : 19310410037
Mata Kuliah: Psikologi Umum II 
Dosen Pembimbing : FX. Wahyu Widiantoro, S.Psi.,M.A.


     Baru-baru ini kita digemparkan dengan adanya Covid-19 atau yang lebih kita kenal dengan Corona Virus Desease, diketahui awal mula negara yang terinfeksi dengan virus ini adalah Wuhan, Cina. Berita mengenai Covid-19 seketika menjadi hangat untuk dibicarakan oleh khalayak umum. Dan tak jarang sering menjadi bahan perbincangan di media sosial, maupun di media massa saat ini. Selain pembahasan tentang gejala awal terinfeksi Covid-19, kita juga sering mendengar berita tentang negara-negara yang telah terjangkit oleh Covid-19. Penyebaran yang begitu cepat mengakibatkan banyak negara yang telah terjangkit oleh Covid-19, contohnya saja Indonesia.

            Covid-19 sudah masuk ke Indonesia. Saat ini dinegara kita dihebohkan dengan Covid-19 yang telah menyebar. Sekarang ada 134 pasien positif corona di tanah air. Bagaimana cara penyebarannya? Menurut World Health Organization (WHO), Covid-19 menular melalui orang yang telah terinfeksi virus corona. Penyakit dapat menyebar melalui tetesan kecil dari hidung atau mulut ketika seseorang yang terinfeksi virus ini bersin atau batuk. Tetesan itu kemudian mendarat di sebuah benda atau permukaan yang saat itu disentuh oleh orang sehat lalu kemudian orang itu menyentuh mata, hidung atau mulut mereka. Covid-19  juga bisa menyebar ketika tetesan kecil itu dihirup oleh seseorang ketika berdekatan dengan seseorang yang terinfeksi corona. WHO menambahkan gejala Covid-19 yang paling umum adalah demam, kelelahan, dan batuk kering. Beberapa pasien mungkin mengalami sakit dan nyeri, hidung tersumbat, pilek, sakit tenggorokan atau diare. Gejala-gejala ini bersifat ringan dan terjadi secara bertahap.

        Lalu bagaimana dengan pencegahannya? Apakah dengan kecemasan kita bisa mencegahnya? Dalam menghadapi hal seperti ini wajar jika beberapa orang mengalami kecemasan, namun jika kecemasan itu terlalu berlebihan justru akan mengganggu sistem kekebalan tubuh. Sistem kekebalan tubuh atau sistem imunitas merupakan pertahanan tubuh dalam menghadapi organisme dan kuman-kuman berbahaya. Apabila sistem kekebalan tubuh terganggu maka akan membuat kita rentan untuk terserang penyakit. Kecemasan akan muncul saat kita melihat pemberitaan-pemberitaan yang tidak bertanggung jawab. Kecemasan akan semakin menjadi ketika ada orang yang telah menimbun masker, makanan, bahkan antiseptik dan hal ini akan menimbulkan persepsi bahwa wabah virus corona sangat berbahaya.

    “Cara yang paling efektif untuk mencegah penyebaran virus corona, adalah menjalankan budaya hidup sehat,” jelas dr. Resti. Salah satunya dengan rajin mencuci tangan secara teratur dan menyeluruh dengan sabun, yang dapat membersihkan tangan dari berbagai kotoran dan kuman. Masyarakat juga disarankan mengurangi menyentuh area wajah terutama mata, hidung, dan mulut. Tangan kerap menyentuh banyak permukaan benda, yang bisa jadi ditempati virus, saat setiap orang berada di tempat umum, kemudian memindahkan virus ke mata, hidung, atau mulut. Dari sana, virus bisa masuk ke tubuh dan bisa membuat sakit. Dan tidak lupa untuk menghindari tempat-tempat ramai dan juga mengurangi aktivitas di luar rumah.  Selain itu, kita juga harus selektif dalam menerima berita. Karena saat ini banyak beredar berita hoax yang belum jelas sumbernya. Kita juga harus lebih bijak dalam menyikapi sesuatu dan jangan langsung percaya pada berita yang belum jelas sumbernya agar tidak muncul kecemasan-kecemasan yang berlebihan.

Referensi:
https://www.cnbcindonesia.com/tech/20200317103127-37-145413/ini-cara-penyebaran-virus-corona-covid-19-menurut-who (diakses pada 19 Maret 2020)
https://www.alodokter.com/peran-imunitas-anak-untuk-tumbuh-kembang-yang-optimal   (diakses pada 19 Maret 2020)

22.4.19

Kepedulian Sosial



Menumbuhkan Rasa Cinta Kepada Sesama
Ika Fatmawati
183104101185
Mata Kuliah : Psikologi Umum II
Dosen Pengampu : Fx. Wahyu Widiantoro S.Psi., M.A

Bulan lalu saya berkesempatan mengantarkan bingkisan bakti sosial (baksos) dalam rangka Nu Amoorea berbagi. Bukan sebuah acara besar atau agenda khusus. Saat donasi terkumpul langsung di belanjakan dan di salurkan kepada mereka yang membutuhkan. Warga sekitar tempat tinggal kami adalah target utama. Tujuan  kegiatan ini adalah memberikan manfaat tidak hanya kepada pengguna produk Nu Amoorea saja, tetapi orang di sekitar kita dari keluarga tidak mampu. Nu Amoorea adalah produk perawatan dan kecantikan kulit wajah.

12.4.19

KITA HARUS BAIK



Windha Nurhidayati
183104101176
Mata Kuliah Psikologi Umum  II


KITA HARUS BAIK




 
Peran orang tua tidak hanya memberikan materi kepada anaknya, namun harus dibekali dengan aspek afeksi seperti kasih sayang, pengertian dalam mendidik membesarkan anak. Hal tesebut perlu dilakukan karena dapat menjadikaan bekal dan dapat dijadikan teladan pada anak dimasa depan. Sebab anak merupakan cerminan dari orang tua. Anak akan meniru dan akan menjadi pantulan dari apa yang dirinya lihat, dari apa yang dirinya dengar, mengingat anak memiliki ingatan yang kuat.

Pentingnya Dukungan Orang Tua Bagi Mahasiswa



Windha Nurhidayati
183104101176
Mata Kuliah Psikologi Umum II



Pentingnya Dukungan Orang Tua Bagi Mahasiswa





Potensi siswa atau prestasi belajar siswa adalah hal utama yang menjadi perhatian di dalam dunia pendidikan. Keberhasilan pendidikan tidak dapat dipisahkan dari faktor-faktor yang mempengaruhinya. Ada dua faktor utama dalam mencapai keberhasilan individu dalam meraih prestasi yaitu, faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal merupakan faktor yang timbul dari dalam diri individu itu sendiri seperti minat, motivasi, tingkat intelegensi dan bakat individu. Sedangkan faktor eksternal  merupakan bentuk pengaruh yang datang dari luar diri serta mampu mempengaruhi kegiatan belajar individu seperti peran orang tua.

8.4.19

Pentingnya Percaya Diri


Fadilaturochman Tririzki Permana
18.310.410.1189
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta
Mata kuliah Psikologi Umum II
Dosen Pengampu: Fx. Wahyu Widiantoro S.Psi., M.A

Percaya diri adalah sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan kita, sebagai modal kita dan kunci kita didalam hidup bermasyarakat serta sangat membantu kita didalam menjalani keseharian kita. Seseorang yang mempunyai kepercayaan diri yang tinggi pasti mereka tidak akan pernah merasa takut dengan orang lain.Apalagi dalam hal pengambilan keputusan, orang yang sudah bisa mengambil keputusan pasti dia sudah bisa memilah mana yang baik dan buruk serta  sudah memikirkan apa konsekuensi dari hal tersebut. Maka dari itu kepercayaan diri itu sangatlah penting.

Bisa kita lihat dan bisa menjadi contoh adalah banyak orang yang pintar dalam berbicara mengemukakan pendapat mengkritik orang tapi itu hanya di belakang saja tidak berani mengeluarkan pendapatnya didepan umum hal tersebut bisa berefek negative, karena yang dia bicarakan dibelakang bisa jadi tidak sesuai dengan apa yang seharusnya di bicarakan di depan umum. Banyak anak muda jaman sekarang yang sukanya komplain di belakang sebagai contoh jika sedang pertemuan karang taruna ketika pembahasan terkait program, banyak sekali peserta tetapi hanya segelintir orang yang berpendapat. Padahal dalam lingkup bersosialisasi sebuah perkumpulan bisa menjadi pembelajaran kita supaya kita dapat membentuk kepribadian yang lebih percaya diri dalam mengemukakan pendapat.

Kepercayaan diri sangatlah berguna untuk menjalani kehidupan kita karena dengan percaya diri kita lebih bebas dalam berekspresi. Percaya diri perlu kita bangun untuk membuat kita bisa lebih leluasa dalam berpendapat dan bersikap. Kepercayaan diri adalah suatu sikap dan keyakinan pada diri sendiri akan kemampuan yang dimilikinya dan muncul karena adanya sikap positif terhadap kemampuannya, sehingga tidak perlu ragu – ragu dalam mengambil keputusan dan tidak terpengaruh oleh orang lain ( Tika dan Flora, 2014).

Menurut Buss (Tika dan Flora, 2014) citra diri merupakan gambaran mengenai tubuh dibentuk dalam pikiran, hal itu dimaksudkan untuk menyatakan suatu cara penampilan tubuh bagi diri sendiri yang meliputi perasaan tentang tubuh seperti kuat atau lemah, besar atau kecil, cantik atau jelek, dan tinggi atau pendek. Dengan percaya diri dengan apa yang kita kenakan akan mengalirkan energy positf yang memperlihatkan kepada orang lain bahwa penampilan kita adalah penampilan terbaik.  Jadi dapat disimpulkan bahwa memiliki kepercayaan diri yang tinggi akan membuat kita lebih maju dan menjadikan hati kita tenang karena tidak akan perasaan nerveous dalam menghadapi banyak orang, sehingga kita terhindar dari perasaan negative atas penampilan kita. Jadi marilah sama – sama kita mulai membiasakan diri untuk tampil percaya direi dalam kehidupan kita sehari - hari.

Referensi :
Tika Nurul dan Flora Grace Putrianti,  Ramadhani. 2014. “Hubungan Antara Kepercayaan Diri Dengan Citra Diri Pada Remaja Akhir”.Jurnal Spirits. Vol. 4, No. 2.



7.4.19

Stres Kerja


Fadilaturochman Tririzki Permana
18.310.410.1189
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta
Mata kuliah Psikologi Umum II
Dosen Pengampu: Fx. Wahyu Widiantoro S.Psi., M.A


Bekerja memanglah impian dari semua orang. Orang ingin menjadi sukses dan bisa meraih segala cita-citanya. Semua itu harus ditempuh dengan kerja keras.Bagi saya bekerja sangatlah penting karena apa yang kita dapatkan di bangku sekolah dapat kita implementasikan dalam pekerjaan. Siapasih yang tidak mau bekerja di tempat yang enak dan dengan gaji yang banyak,mungkin itu impian banyak orang.
Namun semua itu perlu adanya kerja keras yang tinggi dan butuh proses yang tidak instan, karena dengan gaji yang besar akan muncul tekanan pekerjaan yang lebih tinggi. Demikian dalam suatu perusahaan kita dituntut untuk bekerja yang efektif dan evisien, Datang ontime, target tercapai, semua itu bisa kita lakukan asalkan ada semangat dan niat yang tinggi. Banyak sekali pekerjaan yang dating diwaktu yang berdekatan dan bahkan dengan deadline yang bersamaan pula. Situasi seperti ini terkadang membuat kita merasa bingung mana yang akan dikerjakan terlebih dahulu dan ini mimicu munculnya stress yang kita rasakan. Kadang disaat situasi seperti itu ingin rasanya melampiaskan emosi, bahkan ingin berteriak “saya menyerah”, perasaan bingung, galau, kacau menjadi satu. Hal ini memang banyak di alami oleh semua orang terutama pekerja sebagai karyawan.
Stres kerja adalah suatu kondisi ketegangan  yang  menciptakan adanya ketidak seimbangan fisik dan psikis,  yang mempengaruhi emosi,  proses  berfikir dan kondisi seorang karyawan,  dalam hal ini tekanan tersebut disebabkan oleh lingkungan pekerjaan tempat karyawan tersebut bekerja  (Veithzal,  2004  :  516 dalam Wartono 2017). Lingkungan pekerjaan yang nyaman dan rekan yang saling membantu adalah kondisi ideal yang ada di sebuah perusahaan. Bekerja dengan bangga terhadap perusahaan membuktikan lingkungan yang kita singgahi dalam bekerja memiliki kondisi yang ideal, sehingga mengurangi tekanan dalam bekerja.
Tekanan pekerja juga dapat dipengaruhi oleh adanya permasalahan intern dari dirinya sendiri maupun dalam pekerjaannya juga. Orang yang mengalami hal seperti ini dalam bekerjanya pun tidak akan maksimal, bahkan dirinya sendiri akan merasa bertambah beban pikiranya. Permasalahan intern karyawan bisa berdampak kepada profesionalisme karyawan tersebut, jika kita tidak bisa melepaskan tekanan tersebut. Tekanan pekerjaan ini bisa memicu kesalahpahaman diantara rekan seprofesi bahkan masalah pribadi karyawan seperti keluarga.
Kenyamanan dalam bekerja memang sangat diperlukan, ketika mengalami situasi seperti ini siapa yang tidak stress jika pekerjaan yang dating beruntut bahkan timbul konflik intern yang bersamaan. Hal ini jika tidak di minimalisir akan berdampak negative bagi pekerja tersebut serta bagi perusahaan. Perlu adanya pencegahan dan pegendalian terhadap diri sendiri dan juga dari perusahan supaya bisa menciptakan lingkungan yang ideal bagi karyawannya.


Referesi :
Wartono, Tri. 2017. “Pengaruh Stres Kerja Terhadap Kinerja Karyawan (Studi Pada Karyawan Majalah Mother And Baby)”.Vol. 4, No.2.diakses tanggal 2 April 2019