UJIAN REMEDIAL
Mata Kuliah Psikologi Lingkungan
Fakultas Psikologi
Topik Essai: INCINERATOR
Dr. Dra. Arundati Shinta MA
Oleh
KLEMENS SANDI ANDHIKA PRATAMA
24310410029
Menurut saya pada hirarki pengelolaan limbah seperti yang digambarkan oleh Chowdhury et al. (2024). Pencegahan dan pengurangan adalah strategi yang sangat disarankan. Artinya, masyarakat sebaiknya diajak untuk dapat mengurangi produksi sampah sejak awal, dengan cara menghindari penggunaan plastic sekali pakai, memilih produkksi dengan kemasan yang ramah lingkungan dan mengubah pola konsumsi. Langkah reuse dan recycle dapat menjadi pilihan berikutnya. Karena dari keduanya masih menjaga material tetap berada dalam siklus penggunaan. Jika semua opsi tersebut tidak memungkinkan, barulah dilakukan energy recovery dan disposal. Incinerator termasuk dalam kategori energy recovery, yaitu membakar sampah untuk menghasilkan energi panas yang dapat diubah menjadi listrik. Banyak pemerintah daerah di Indonesia kini membangun incinerator sebagai solusi cepat untuk mengurangi timbunan sampah. Tetapi dari sisi teknis, incinerator memiliki kelebihan :
- Sampah berkurang sangat drastic dalam waktu singka
- Volume residu yang tersisa jauh lebih kecil dibandingkan metode landfill.
- Energi panas dapat dimanfaatkan untuk PLTS pembangkit listrik tenaga sampah.
Jadi Incinerator sangat dapat mendukung upaya pengelolaan sampah yang lebih efisien, terutama di kota-kota besar yang sedang menghadapi masalah keterbatasan lahan untuk menjadi tempat pembuangan akhir. Tetapi disisi lain adanya tantangan dan kritik untuk incinerator. Incinerator bukanlah solusi tanpa masalah, tantangan yang dimaksud sepereti:
- Biaya yang tinggi :Pembangunan dan operasional incinerator sudah sangat pasti membutuhkan investasi besar, jadi tidak semua daerah dapat melaksanakannya.
- Emisi Polutan:Incinerator jika tidak dikelola dengan teknologi penyaring yang sangat baik maka pembakaran sampah dapat menghasilkan gas yang berbahaya seperti dioksin dan furan.
- Resiko mengabaikan 3R:Pada masyarakat dapat menjadi kurang termotivasi untuk melakukan reduce, reuse, dan recycle karena merasa sampah akan hilang begitu saja melalui incinerator.
- Adanya ketergantungan pada volume sampah:Incinerator membutuhkan pasokan sampah dalam jumlah besar agar efisien. Secara tidak langsung dapat mendorong budaya konsumsi yang sangat berlebihan.Incinerator bukan pengganti untuk mendaur ulang sampah melainkan hanya pelengkap.
Masyarakat sering
melupakan hal pengelolaan sampah bukan hanya teknologi, tetapi juga soal
perubahan perilaku masyarakat. Prevention dan reduce juga membutuhkan kesadaran
kolektif seperti edukasi, kampanye public, dan regulasi yang mendorong produsen
serta konsumen untuk lebih bertanggung jawab. Jika tidak adanya perubahan
perilaku, incinerator hanya akan menjad imesin besar yang terus-meneruts
membakar sampah. Sedangkan pola konsumsi dari masyarakat tetap boros dan tidak
berkelanjutan.
Secara keseluruhan Incinerator bisa menjadi bagian dari solusi pengelolaan sampah di Indonesia, terutama dalam kontek Energi Recovery. Tetapi jika kita lihat dari hirarki pengelolaan limbah, incinerator bukanlah most favored option, melanikan salah satu pilihan dibagian bawah piramida hirarki pengelolaan limbah. Strategi yang paling disarankan tetaplah adanya pencegahan dan pengurangan sampah. Pembangunan incinerator juga harus diiringi dengan kebijakan yang kuat untuk mendorong 3R, seperti edukasi masyarakat, adanya pengawasan ketat terhadap lingkungan dan sebagainya. Dengan adanya kombinasi seperti ini antara teknologi dan perubahan perilaku, barulah pengelolaan sampah nisa efektif, efisien dan berkelanjutan.
0 komentar:
Posting Komentar