Tampilkan postingan dengan label Psikologi Kepribadian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi Kepribadian. Tampilkan semua postingan

10.6.20

Seminar Online “Kenali dan Bekali Keragaman Siswa Menuju Merdeka Belajar”


Oleh:
Alia Nanda Rumekti
(19.310.410.066)

Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

            Anak Berkebutuhan Khusus atau ABK adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak lain pada umumnya tanpa selalu menunjukkan ketidakmampuan mental, emosional, atau fisik, teramasuk penyandang cacat (BPBP, 2016-2019). Anak Berkebutuhan Khusus atau ABK relatif sering ditemukan di lingkungan masyarakat. Berbagai bentuk pengecualian bahkan deskriminasi pun sering mereka alami. Hal ini salah satunya disebabkan oleh kurangnya pamahaman dari para pengasuh atau pendidik bagi ABK. Kesulitan yang biasanya dihadapi oleh para pendidik dan pengasuh ABK adalah permasalahan dalam belajar. Pendampingan pada ABK membutuhkan pengetahuan yang cukup, kesabaran, kehati-hatian, ruang penelitian, informasi dan pelayanan (D. Adams, 2020).
Seminar Online “Kenali dan Bekali Keragaman Siswa Menuju Merdeka Belajar” mungkin dapat menjadi pilihan untuk lebih memahami tentang ABK. Seminar yang merupakan hasil kerjasama Biro Psikologi UP45, Universitas Ahmad Dahlan, MGBK Kabupaten Bantul, dan Volunteer Biro Psikologi UP45. Seminar Online ini dihadiri oleh 170  peserta dari berbagai kalangan. Seminar ini menghadirkan dua narasumber, yaitu Ibu Muya Barida, M. Pd dan Ibu Sapta Kurniawati, M. Psi. Seminar ini merupakan Seminar Online kedua yang diadakan oleh Biro Psikologi UP45 selama masa pandemi Covid-19.
Seminar Online yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 6 Juni 2020 ini menghadirkan narasumber pertama yaitu Ibu Muya Barida, M. Pd. Ibu Muya Barida, M. Pd selaku Dosen Universitas Ahmad Dahlan sekaligus Kepala Pusat Layanan Difabel UAD, lebih fokus kepada jenis-jenis ABK dan penanganannya dari sisi Bimbingan dan Konseling. Dalam materinya, beliau menguraikan tentang orang yang dikategorikan sebagai ABK menurut Pasal 129 ayat (3) PP No. 17 Tahun 2010. Kategori tersebut memuat tunanetra, tunarungu, tunadaksa, Down Synndrom, Cerebral Palsy, Slow Learning, Mental Retardasi, Autism, Kesulitan belajar Spesifik (Disleksia, Diskalkulia, Disgrafia, Disfraksia), ADHD, dan lain-lain. Setiap kategori itu memiliki ciri dan karakteristik berbeda. Beliau juga menyampaikan bahwa kadang gejala dari setiap kategori diatas mirip, tetapi ternyata berbeda. Maka dari itu, di sekolah, peran Guru BK (Bimbingan Konseling) dalam hal ini sangat diperlukan untuk mengenali dan mengarahkan potensi setiap karena keragamannya.
Seminar ini juga menghadirkan narasumber yang kedua, yaitu Ibu Sapta Kurniawati, M. Psi. Ibu Sapta Kurniawati, M. Psi adalah Dosen Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta sekaligus Praktisi Pendidikan Anak. Dalam materinya, beliau menuturkan tentang sosialisasi Anak Istimewa di lingkungan sekolah. Penekanan dalam materi ini adalah Teori H. Gardner dan Vigotsky. Kecerdasan manusia bukan hanya pada IQ, melainkan juga kemampuannya dalam mengatasi masalah. Sosialisasi Anak Istimewa ini tentu melalui beberapa tahapan. Salah satunya adalah melakukan pendekatan dan observasi baik pasif maupun aktif. Sosialisasi ini sangat bermanfaat bagi siswa dan guru. Siswa akan cenderung lebih percaya diri, lebih kreatif, menghargai perbedaan secara wajar, dan sebagainya. Kemudian bagi guru, hal ini dapat menghadirkan kesempatan belajar untuk memahami cara mengajar siswa yang beragam, menjadikan mengajar sebagai hal yang menyenangkan, dan guru menjadi lebih profesional.
Antusias peserta dalam Seminar Online ini sangat luar biasa. Terutama dari kalangan guru yang pada umumnya menangani siswa di sekolah dan anak di rumah. Pertanyaan yang diajukan pun beragam. Seperti cara penanganan pada ABK, cara mensosialisasikan kondisi anak kepada orangtua, kiat membangun sinergitas antar pihak sekolah-orangtua-dan anak, dan sebagainya. Salah satu pertanyaan yang paling menarik adalah tentang cara pembelajaran daring bagi ABK selama masa pandemi Covid-19. Dalam hal ini, peran orangtua dan shadow teacher sangat diperlukan. Jika sekolah memiliki Shadow Teacher, maka shadow teacher ini dapat dihadirkan di rumah untuk mendampingi si anak istimewa dalam belajar. Namun pemasalahannya adalah tidak setiap sekolah memiliki shadow teacher. Sehingga orangtua harus diberikan pemahaman seluas-luasnya untuk mendampingi ABK dalam belajar di rumah.
Anak Berkebutuhan Khusus adalah anak istimewa yang memiliki hak kemerdekaan yang sama dalam belajar. Peran pendampingan sekolah dan rumah sangat penting dalam mendukung kemerdekannya. Seminar dan pelatihan penanganan ABK juga berperan dalam mengasah keterampilan penanganan ABK bagi para pendidik dan pengasuh ABK. Kecerdasan bagi ABK sangat mungkin diraih melalui kerjasama dari orang tua, guru, dan anak. Maka dari itu, sinergikan ketiganya untuk kemerdekaan belajar si Istimewa!

Panitia Seminar Online “Kenali dan Bekali Keragaman Siswa Menuju Merdeka Belajar”:
1.    Alia Nanda Rumekti            (19310410066)
2.    Imelta Indriani Alfiah           (19310410062)
3.    Mayli Qisty Rofiq                (19310410095)
4.    Nico Hari Al-‘Arafi               (173104101165)
5.    Novia Zahra Zakiah            (19310410025)
6.    Rio Wahyu Nugroho           (173104101166)
7.    Trias Sabila Rahmah          (19310410036)

Daftar Pustaka:

BPBP. (2016-2019). Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi V. Jakarta: Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kemendikbud RI.
D. Adams, A. C. (2020). Raising Your Child With Special Needs: Guidance & Practice. Kuala Lumpur: Institut Terjemahan & Buku Malaysia Berhad.



10.1.17

HARUSKAH MENYAKITI SESEORANG BERDASARKAN ALASAN TERTENTU?



RESENSI ARTIKEL: FENOMENA KLITHIK DAN
PERKEMBANGAN MENTAL REMAJA


Arundati Shinta
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta


Klithik (Jawa: golek-golek) adalah perilaku yang mencari-cari perkara. Perkara itu biasanya menjurus pada kekerasan yaitu menusuk dengan pisau. Akhir-akhir ini, fenomena klithik sangat sering terjadi di Yogyakarta. Remaja, dalam hal ini yang paling sering adalah laki-laki, tanpa alasan apa pun ia langsung menyakiti orang lain. Perilaku menyakiti itu antara lain menyilet dan menusuk tubuh orang yang kebetulan ditemui secara tidak sengaja, sehingga menjadi target.

Persoalan yang berhubungan dengan perilaku klithik adalah korban dan masyarakat tidak mengetahui penyebab dari perilaku menyakiti tersebut. Hal ini karena pelaku dan korban sama-sama tidak saling mengenal, bahkan bertemu pun belum pernah. Oleh karena tidak tahu penyebabnya, maka masyarakat pun juga bingung untuk mencegahnya.

31.12.16

kisah inspirasi

LIHATLAH SECARA LUAS SUPAYA LEBIH JELAS dan LIHATLAH SECARA DEKAT SUPAYA TERASA HANGAT
SITI ASMAUL HUSNA
FAKULTAS PSIKOLOGI
 UNIVERSITAS PROKLAMASI 45
YOGYAKARTA


Kisah tentang seorang perempuan paruh baya yang sangat menginspirasi sekaligus mendorongku untuk terus berpendidikan. Pemikirannya yang sangat logis, bicaranya yang lembut, kata – kata nya selalu memotivasi. Tidak pernah mengatakan aku salah atau orang lain salah, namun selalu memberikan arahan agar kita berfikir atau bersikap lebih tepat. Jiwa menolongnya terhadap orang lain agar terlepas dari kebodohan sangat tinggi. Sebut saja ia ibu E, ia mengajariku untuk melihat suatu permasalahan secara lebih luas, supaya lebih bijak dalam menghadapinya. Namun ada saat dimana kita harus melihat suatu masalah dengan lebih dekat, supaya kita bisa merasakan energi yang ada disekitarnya. Seperti ketika permasalahan waktu itu, saat saya memutuskan untuk kembali melanjutkan pendidikan saya, namun sebagian besar dari kelurarga dan orang terdekat saya justru menentang keinginan saya. Mereka bilang, “ngapain sih musti sekolah lagi, udah enak – enak kerja dapat uang bisa bantu orang tua kok malah mau sekolah lagi, nambah – nambahin beban orang tua”. Akan tetapi ibu E, selalu mendorong dan memotovasi saya untuk tidak menyalahkan siapapun. Melihat masalah secara lebih luas bukan hanya memandang dari sudut pandang saya sendiri, namun juga secara lebih dekat secara sudut pandang mereka secara pribadi. Beliau mengarahkan setiap langkah dalam pengambilan keputusan saya, namun tidak mempengaruhi seperti menjadi seperti yang beliau mau. Beliau adalah penengah dan pendorong untuk saya terus maju. Banyak yang saya pelajari dari mengamati kehidupan pribadinya. Ditenga banyaknya masalah yang beliau hadapinya. Beliau masih bisa untuk mendengarkan keluh kesah orang lain, dengan sikapnya yang selalu tenang, senyum dan pandangan matanya yang selalu terlihat berwibawa, menambah kepercayaan dirinya semakin terlihat jelas. Beliau adalan gambaran sosok wanita yang tangguh, hidup satu atap bersama orang yang tidak menyukainya, namun ia tetap berusaha untuk mencintai dan merawatnya dengan sepenuh hati. Sekalipun ia diposisikan sebagai perebut kebahagiaan dan perhatian orang lain, namun ia tetap berusaha melakukn yang terbaik untuknya. Tidak peduli seberapa banyak mesalah yang menerpanya, namun ia tetap berdiri tegak dengan senyumnya. Seperti pohon yang terus tumbuh dan menguatkan akarnya agar tidak tumbang dengan angin kencang, juga membalas lemparan batu dengan bauh yang manis dari tubuhnya. 

30.12.16

ARTIKEL PSIKOLOGI BERBAGI MA MIFTAHUL HUDA TEMANGGUNG ^^

MELATIH MENTAL dan KEMAMPUAN BERKOMUNIKASI MELALUI KEGIATAN PSIKOLOGI BERBAGI

SITI ASMAUL HUSNA
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

Psikologi berbagi adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa psikologi dalam rangka melatih komunikasi juga kemampuan yang ada dalam diri mahasiswa, sekaligus mengembangkan ilmu yang telah dipelajari. Dalam psikologi berbagi tahun ini, untuk pertama kalinya kami mengadakan kegiatan keluar kampus, yaitu bekerja sama dengan SMA – SMA dalam rangka ikut serta membantu guru bagian kesiswaan untuk mengarahkan para siswanya.
Untuk psikologi kali ini

29.12.16

KISAH INSPIRATIF : TIGA KATA SATU ARTI



TIGA KATA SATU ARTI

Deliana Vicria Nurachyani
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta
 
            Kini adalah masa mudaku, dimana masa muda adalah masa yang indah bagi tiap manusia. Belum terbesitkan sekalipun mengenai masa tuaku yang akan datang seperti apa dan bagaimana kehidupannya. Kisah ini adalah sedikit membuat saya lebih mensyukuri keadaan dan lebih membuat saya berpikiran mengenai masa tua saya.
            Kisah ini menceritakan suatu perjuangan hidup, tanggungjawab dan juga kasih

28.12.16

REFLEKSI KETERBATASAN

REFLEKSI KETERBATASAN

Wahyu Relisa Ningrum
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

            Seperti biasa, perjalanan Klaten-Yogyakarta-Klaten mulus sesuai rencana. Tak ada yang berbeda sejauh ini, semua terlihat baik-baik saja. Sampai pada suatu malam dimana, tiba-tiba ban motorku meletus dan motor jadi oleng. Bete, bikin marah dan tentunya bikin nangis. Tapi apa mau dikata, mencari tukang tambal ban jauh lebih penting.
            Ya, sesekali dorong motor tidak apa-apa sepertinya. Mungkin aku kurang olahraga jadi terpaksa olahraga malam. Akhirnya ada juga tukang tambal ban, tapi tukang tambal bannya tidak mau menerima. Katanya sudah tutup. Sambil tengok kanan kiri, tiba tiba ada yang menghampiriku, seorang tukang ojek. Ia memberitahu ada tukang tambal ban yang masih buka sampai malam tapi lumayan jauh.
            Akhirnya aku meneruskan perjalanan, badan terasa capek, berat juga motornya. Tapi tidak apa-apa, semoga segera sampai di tempat tukang tambal ban, gumam dalam hati. Akhirnya sampai juga di tukang tambal ban. Alhamdulillah, sampai juga, lega rasanya. “Pak, badhe nambal ban, saget...” (“Pak, mau tambal ban, bisa...”), tanyaku. “Saget mbak” (“Bisa mbak”), jawab bapak tukang tambal ban.
            Sambil menunggu aku duduk di kursi pojokan, merenungi kejadian yang aku alami saat itu. Tiba-tiba bapak tukang tambal ban mengajak bicara. Ia bertanya darimana, mau kemana dan sebagainya. Mungkin Ia melihat wajahku yang terlihat bingung dan gelisah sekali.
Sambil menunggu giliran ban di tambal, aku melihat sekeliling dan sesekali lihat Ia yang sedang menambal ban motor. Tiba-tiba bapak tukang tambal ban itu berjalan masuk ke dalam rumah. Sebelumnya aku tidak melihat sesuatu yang berbeda pada dirinya. Betapa terkejutnya aku karena melihat bapak itu, berjalan tidak menggunakan kakinya secara wajar. Hal itu karena musibah yang menimpanya. Saat berjalan ia harus dibantu dengan kedua tangannya.
            Seketika itu, aku berucap dalam hati betapa beruntungnya diriku bila dibandingkan dengan bapak tukang tambal ban. Melihat keterbatasan fisik yang Ia derita, tidak membuatnya pasrah dalammenjalani kehidupan. Hal ini membuat aku lebih bersyukur lagi, karena aku diberi kesempurnaan fisik. Masalah yang aku alami saat ini tidak seberapa dibandingkan dengan derita seorang bapak yang harus berjuang menghidupi diri dan keluarganya dengan keterbatasan fisik.
            Bapak itu tidak mengeluh dan banyak tersenyum dengan keterbatasannya. Ia mau menerima tambal ban motorku meskipun tingkat kesulitannya lebih tinggi dibandingkan dengan motor lainnya.  Ia juga tidak menolak menambal ban motorku walau hari sudah malam. Kebaikan hati yang Ia miliki tidak akan aku lupakan. Senyum yang aku lihat saat itu, membuatku terbawa emosi.
Aku terharu, air mata pun menetes tidak terbendung lagi. Segera aku usap, tiba-tiba Ia minta aku untuk beli ban dalam yang baru.Karena ban dalam yang lama sudah tidak layak pakai. Bapak itu kasihan kalau aku nanti harus dorong lagi selepas dari tempat itu.  Akhirnya aku segera beli di toko seberang jalan, toko yang ditunjukkannya.
            Setelah dapat, segera aku berikan bannya. Dengan cekatan bapak itu melepas bagian demi bagian motor dan mengganti bannya. Sesekali mengambil peralatan yang ada di dalam rumah. Semangat yang Ia miliki terlihat jelas pada saat Ia mengganti ban. Kami juga larut dalam obrolan, banyak sekali pengalaman yang Ia ceritakan.Menambah rasa kagumku padanya.Ia hidup dengan istri dan tiga anaknya. Ia membuka tambal ban dan reparasi sepeda untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarga.
Walaupun hari sudah menunjukkan pukul 9 malam, bapak masih menerima reparasi sepeda dan tambal ban motor.Akhirnya selesai juga motorku. Terima kasih aku ucapkan kepadanyadan segera membayar ongkos perbaikannya. Aku pun berpamitan.
Banyak hal yang sering kita lupakan, rasa syukur terhadap semua yang kita miliki sekarang. Rasa syukur atas karunia yang diberikan Tuhan kepada kita setiap harinya. Apabila kita diberikan cobaan atau musibah baru ingat kepadaNya. Mungkin kita masih beruntung dibandingkan dengan orang lain. Semoga kita selalu diingatkan dan tidak lupa untuk selalu bersyukur. Bersyukur dan bersyukur terlepas apapun kondisi kita.


26.12.16

MASA KECILKU ALASAN SEHAT MENTALKU SAAT INI

MASA KECILKU ALASAN SEHAT MENTALKU SAAT INI
IRNANINGSIH
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS PROKLAMASI 45 YOGYAKARTA

        Sembilan tahun sudah aku menjalani pernikahan dengan suamiku, dan saat ini kami telah di karuniai seorang anak perempuan bernama Naura. Sosok yang sangat kami nanti, dan akhirnya Tuhan mempercayai kami sebagai orang tua yang mampu mengemban amanah-Nya. Kami sangat menikmati peran kami sebagai orang tua. Di sela-sela kesibukan kuliah dan kerja, aku dan suami selalu menyempatkan diri untuk mendampingi Naura dalam setiap perkembangannya. Hal ini bukan tanpa alasan, Selain karena kami ingin membekalinya dengan pendidikan karakter dan dukungan kepercayaan diri ketika Ia mengepakkan sayap meninggalkan kami dan menjelajah bumi ini, kami juga merasa bahwa Naura wujud kepercayaan Tuhan kepada kami untuk mengemban amanah atau titipan-Nya.
            Tujuh tahun lalu kami sempat berfikir bahwa Tuhan belum percaya pada kami untuk mengasuh Naura. Saat itu tepatnya bulan Ramadhan hari ke tujuh pukul 23.00 wib, Naura tiba-tiba kejang dengan kondisi penglihatan juling. Kondisinya sangat memprihatinkan, namun badannya tidak demam. Kami segera membawanya ke RS Rajawali Bandung, penanganan pertama di lakukan oleh dokter spesialis anak. Namun belum ada tanda-tanda membaik. Sehari kemudian laporan hasil cek darah keluar, dan ternyata hemoglobin Naura tinggal 3. “Sementara orang dewasa saja dengan hb 3 di pastikan dalam kondisi hampir meninggal, namun suatu keajaiban anak ini dengan hb 3 masih mampu bertahan dan bernyawa”Demikian kata dokter spesialis saraf. Naura tidak mengalami jatuh namun darahnya ternyata habis, dan menurut pemeriksaan Ia tidak mengalami leukimia. Pukul 2 pagi setelah di lakukan transfusi darah, akhirnya darah kembali normal demikian pula hb-nya.
            Namun kondisi Naura tetap kejang dan memprihatinkan dalam sembilan hari ini. Dan dokter pun tidak menemukan penyakit apapun pada Naura, bahkan meskipun setiap hari telah di berikan suntik kejang, kejang pun tak kunjung berkurang. Dan yang membuat kami sedih tak ada asupan asi yang mampu masuk ke dalam tubuh Naura. Hanya cairan infus saja yang mengisi tubuhnya. Kami hanya berharap akan ada keajaiban dari Tuhan, tak henti-hentinya kami memanjatkan doa dan melantunkan ayat-ayat Al-Quran, namun Tuhan tetap belum bertindak. Selanjutnya di hari kesepuluh Naura di rawat di Rumah Sakit, Tuhan menunjukkan keajaibannya kepada hambanya yang yakin. Naura berhenti kejang dan tersadar. Betapa bahagianya kami berdua melihat sang buah hati yang mulai kembali membuka mata setelah koma selama sepuluh hari.
            Tiga hari kemudian setelah Naura tersadar, tepatnya hari ketiga belas kami menginap di RS, maka dokterpun mengijinkan kami untuk pulang dan menyatakan Naura telah sehat. Tibalah saatnya kami mengurus administrasi. Kami berdua segera ke bagian administrasi mengurus biaya selama 13 hari ini, dan ternyata biaya yang harus kami bayar pun sangat fantastis yaitu sejumlah Rp 25 juta rupiah yang meliputi biaya kamar, obat-obatan, rekam medik, citiscan, dan lain-lain. Di saat yang sama ketika Naura masuk ke RS, ternyata ayah mertuaku juga operasi di RS. Dan saat kami hendak membayar biaya RS, kakak mengabari bahwa Ia butuh biaya untuk biaya RS bapak mertua sebesar Rp 30 juta untuk biaya operasi dan perawatan. Tentu bukan jumlah yang sedikit, ketika di saat yang sama harus membayar biaya RS yang sama besar pula. Karena suamiku adalah tulang punggung keluarganya, maka kamipun harus bertanggung jawab.
            Kami mencoba belajar untuk ikhlas dan mengembalikannya pada Tuhan bahwa semua yang kami miliki dari Tuhan. Termasuk harta benda yang selama ini kami cari adalah milik Tuhan. Dengan kesepakan suami maka akhirnya kami pun membayar biaya RS Naura dan biaya RS mertua. Suamiku sangat sabar menghadapi cobaan ini. Ia sangat menguatkan diriku dalam menghadapi cobaan ini. Dan aku pun tak mau kalah tegar, aku belajar dari pengalaman ketika kecilku sehingga menghadapi cobaan ini aku tetap tegar, sabar, dan tabah. Aku harus tetap sehat mental menghadapi cobaan dari Tuhan. Ketegaran ini tentu tidak serta merta terbentuk, namun merupakan proses panjang dari ketika kita masih kecil hingga saat ini.
            Orang tuaku mendidik kami untuk bersabar, bekerja keras, disiplin, ulet dan sederhana. Mereka juga menanamkan pendidikan karakter yang melekat pada kami. Terutama ibuku, beliau sangat membekali kami dengan keuletan,kerja keras, kesederhanaan, dan kesabaran. Mungkin inilah bekal yang mampu menjaga mental kami tetap sehat ketika Tuhan menempa kami dengan cobaan yang berat.
 

29.10.16

BERLATIH MENJADI EO (EVENT ORGANIZER) DI ACARA PSIKOLOGI BERBAGI : GOES TO SENIOR HIGH SCHOOL

BERLATIH MENJADI EO (EVENT ORGANIZER) DI ACARA
PSIKOLOGI BERBAGI : GOES TO SENIOR HIGH SCHOOL

Wahyu Relisa Ningrum
Fakultas Psikologi

Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

              Berlatih menjadi Event Organizer (EO) suatu acara tidak semudah yang kita bayangkan. Mulai dari menentukan tema kegiatan, melobi pihak sekolah, membuat TOR (Term of Refernce), menyiapkan materi sharing, menyiapkan perlengkapan dan dokumentasi hingga mengkoordinasi mahasiswa untuk terlibat dan bekerjasama agar kegiatan dapat berjalan dengan lancar.
          Kali pertama menjadi EO Psikologi Berbagi di SMA menjadi tantangan tersendiri dalam proses pembelajaran dan pengaplikasian ilmu di bidang komunikasi. Dituntut untuk lebih peka dan sigap dalam mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik dan tepat, sehingga hasil yang dicapai dapat optimal.
            Kemampuan berbicara, mengkoordinasi tim dan kepekaan dalam melihat situasi sangat diperlukan dalam setiap tahapan mulai dari persiapan hingga akhir kegiatan. Kecerdasan interpersonal yang dimiliki mahasiswa sangat tinggi. Hal ini terbukti mahasiswa mampu melakukan lobi pihak sekolah dalam melakukan kegiatan Psikologi Berbagi, mahasiswa mampu berkoordinasi dengan baik dengan berbagai pihak, dan kelihaian mengemas acara, sehingga audience tidak bosan.

          Kecerdasan interpersonal diartikan sebagai kemampuan atau keterampilan seseorang dalam menciptakan relasi, membangun relasi, dan mempertahankan relasi sosialnya sehingga mampu berada pada situasi yang nyaman atau sama-sama menguntungkan (Safaria, 2005).
            Psikologi Berbagi di SMA N 1 Sedayu dan MA Miftahul Huda Temanggung merupakan ajang bagi mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta dalam berlatih menjadi EO dan mengaplikasikan ilmu yang didapat di bangku perkuliahan terutama di bidang komunikasi. Pengalaman yang sangat berharga ini dapat menjadi modal mahasiswa dalam mempersiapkan persaingan di dunia kerja.

Safaria, T. (2005). Interpersonal Intelligence : Metode Pengembangan Kecerdasan Interpersonal Anak. Yogyakarta : Amara Books.


LEBIH DARI SEKEDAR TEORI

LEBIH DARI SEKEDAR TEORI
Ahmad Rusdiyan Yazid
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta


         Kemampuan berbicara di depan khalayak sangat penting bagi seseorang. Hal ini menjadi salah satu skill yang membekali seorang first graduate dalam melangkah ke jenjang karir atau dunia kerja. Namun hal ini tidak serta merta datang tiba-tiba. Hal ini perlu di asah demi mendapatkan kemampuan berkomunikasi yang baik dan benar. Untuk membekali para mahasiswa Psikologi Universitas Proklamasi 45 dalam kemampuan tersebut,maka psikologi UP45 mengadakan acara psikologi berbagi di beberapa SMA,salah satunya yaitu di SMA Negeri 1 Banguntapan.
        Kegiatan yang dilakukan pada hari Jumat, 7 Oktober 2016 ini di sambut hangat oleh para siswa, begitu pula kepala sekolah Drs.Ir.H.Joko Kustanta,M.Pd yang ikut mendampingi acara tersebut. Acara ini di kemas dengan materi yang menarik, games, dan pesan-pesan moral untuk generasi muda. Sambutan hangat dari para siswa dan kepala sekolah menjadi energi positif bagi kami dalam menyampaikan materi sehingga menambah motivasi tersendiri bagi kami.
          Kami juga belajar bagaimana cara menghadapi audience, berbicara yang layak, sopan, baik, dan benar,kami juga belajar tentang cara menghargai, dan cara bekerjasama dalam tim. Untuk mensukseskan acara ini kami belajar bagaimana berorganisasi, menjadi tim yang baik dan berbagi job dis dengan maksimal. Acara ini menjadi bukti bahwa praktek jauh lebih membekas dan berarti dari pada teori-teori yang terlalu teoritis. 
          

MENGASAH KEMAMPUAN BERBICARA YANG BERKARAKTER MELALUI PSIKOLOGI BERBAGI

MENGASAH KEMAMPUAN BERBICARA YANG BERKARAKTER
 MELALUI PSIKOLOGI BERBAGI
Irnaningsih
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

                                                                                       

Salah satu bekal bagi seorang first graduate adalah kemampuan berkomunikasi yang baik, benar, dan berkarakter. Hal ini tentu tidak serta merta datang pada diri seorang lulusan S1. Kemampuan berkomunikasi yang baik mampu mengantar seorang fisrt graduate bersaing dalam dunia kerja. Komunikasi yang baik mampu menjadi skill dan nilai lebih bagi seorang first graduate. Bahkan dengan komunikasi yang benar di depan khalayak,mampu mengantarkan seseorang menjadi pencipta lapangan kerja bukan lagi seorang pencari kerja.
Untuk menyikapi fenomena di atas maka,mahasiswa fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 melakukan bukti nyata yaitu melakukan acara “Psikologi Berbagi” ke beberapa SMA/ SMK sederajad. Salah satu kunjungan itu ke SMA Negeri 1 Banguntapan, Bantul, Yogyakarta pada hari Jumat 7 Oktober 2016.Di sini mahasiswa berlatih untuk mengasah kemampuan berbicara yang real. Tidak hanya melulu mendengarkan teori-teori yang memenuhi sinaps otak para mahasiswa. Acara di kemas dengan penyampaian materi yang menarik, games, dan pesan-pesan moral pada generasi muda. Para siswa sangat antusias mengikuti acara psikologi berbagi ini. Dan antusiasme mereka menjadi energi tersendiri yang menambah kepercayaan diri kami dalam melakukan acara ini.
Kepala SMA Negeri 1 Banguntapan,Drs.Ir.H.Joko Kustanta,M.Pd mengatakan “kami sangat senang dengan acara Psikologi Berbagi ini,dan para siswa pun sangat antusias, kami juga menyambut hangat untuk kerjasama selanjutnya”. Pernyataan tersebut beliau sampaikan ketika acara telah selesai. Tentu saja pernyataan ini menambah energi positif bagi kami mahasiswa psikologi Universitas Proklamasi 45 yang mengasah kemampuan dalam komunikasi.
Acara ini membawa angin segar bagi perkuliahan mahasiswa Universitas Proklamasi 45,khususnya fakultas psikologi. Mahasiswa psikologi hendaknya mampu memiliki skill berkomunikasi yang tidak hanya benar tetapi juga berkarakter mengingat bahwa psikologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang perilaku. Dan ternyata para mahasiswa Psikologi Universitas Proklamasi 45 mampu berbuat nyata tidak hanya teoritis saja.
 

11.1.16

Pelajari Karekter Orang



PELAJARI KARAKTER ORANG
Tri Mei Wulandari
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta
                Ia mengaku bisa mendapatkan banyak informasi tentang cara mengenali karakter orang melalui buku. Satya Kesuma Khairunisa (19) seorang mahasiswi Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Sejak kecil ia memang gemar sekali membaca buku. Ada ratusan buku yang sudah ia koleksi. Jadi tidak heran jika wawasan Satya biasa ia dipanggil,menjadi luas. Akhir-akhir ini ia gemar sekali membaca buku yang berjudul “Panduan Karakter Lawan Bicara”. Di dalam buku ini Satya bisa mempelajari karakter seseorang melalui gerak tubuh dan gaya bicara. Menurutnya membaca akan lebih fokus jika berada di tempat sepi dan sendirian. Walaupun kadang ia pergi ke toko buku sendirian tapi akhirnya sampai di toko buku mereka berpisah untuk membaca buku sendiri-sendiri. Soalnya memang lebih enak sendirian ketika membaca.