Tampilkan postingan dengan label lomba menulis kisah inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lomba menulis kisah inspiratif. Tampilkan semua postingan

3.1.17

KEGAGALAN = ADA CARA LAIN LEBIH INDAH



 KEGAGALAN = ADA CARA LAIN LEBIH INDAH

Dewi Larasati
Fakultas Psikologi 
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

Setiap orang pasti pernah mengalami kegagalan, dan pengalaman yang paling terkutuk pasti sangat membekas dihati sampai waktu yang sangat lama. Saya sendiri pernah gagal, dan ada kegagalan satu yang membuat saya depresi dan beruntungnya saya langsung bangkit. Percaya pasti ada jalan lain, rencana Tuhan pasti lebih baik. Saat orang memimpikan sesuatu pasti dia akan berusaha sampai mimpi itu tercapai. Dalam berusaha itu, dia tidak kenal lelah dan rela menempuh jalan yang berliku. 
         2 tahun lalu, saya SMA kelas 12 IPA. mendekati ujian nasional saya sudah target untuk bisa menembus Perguruan Tinggi Negeri dengan jurusan yang saya minati. Selesai menempuh UN, saya memulai berjuang untuk ikut SNMPTN dan mengejar beasiswa. Dari ikut les di bimbel hingga belajar kelompok dengan teman-teman seperjuangan. SNMPTN saya gagal, tidak tembus di PTN manapun. Tapi perjuangan tidak berhenti disitu, saya berniat untuk ikut jalur SBMPTN. Meski harus dengan biaya yang tidak sedikit, karena harus berulang kali mengikuti banyak tes. Tapi hasilnya adalah zonk, saya tidak lulus ujian SBMPTN. Disitu saya sudah putus asa dan tidak mungkin lagi mengikuti jalur mandiri karena biaya sangat mahal. Orangtua belum sanggup membantu. Saat itu saya pasrah dan sangat sedih, kenapa saya tidak ditakdirkan untuk melanjutkan kuliah. Padahal saya ingin sekali kuliah,dengan melihat kondisi keluarga seperti dulu saya tidak tega untuk mendaftar di PTS. 
         Setiap hari saya berpikir untuk tetap lanjut kuliah, sempat terlintas dipikiran bahwa saya bisa tidak yaa bekerja sambil kuliah ??percaya tidak percaya, saya saat itu juga langsung searching di google dengan kata kunci "perguruan tinggi kelas karyawan jogja". Salah satu yang muncul adalah UP45, dan saya lihat-lihat disana ada fakultas psikologi yang saya inginkan. Langsung saya daftar, dan waktu itu sudah gelombang terakhir pendaftaran. Saya langsung mantapkan hati untuk mendaftar, masalah pekerjaan saya berpikir positif dapat cari dengan mudah di Jogja. Modal nekat, bisa dibilang begitu. Karena rumah saya hanya 1 jam ditempuh untuk sampai kejogja, orangtua mengizinkan itu.
       Dan luarbiasa yang terjadi adalah waktu masuk kuliah perdana adalah waktu saya dapat panggilan interview kerja dari surat lamaran yang sudah saya sebar. Saya diterima di Koperasi simpan pinjam sebagai marketing. Hikmah yang saya dapatkan sampai hari ini adalah pengalaman kerja dan dapat merasakan kuliah. Berarti mimpi saya tercapai, malah Tuhan memberi lebih kenikmatan, yaitu kesempatan untuk bekerja. Belum tentu jika dulu saya diterima di PTN, saya akan bisa mendapat pengalaman kerja, kuliah sambil bekerja saja pasti sulit.So, saya percaya diri bahwa saya beruntung mengenal teman-teman kampus yang luar biasa semangat juangnya untuk bekerja sambil kuliah, dan saya paling muda diantara mereka.

1.1.17

Allah Menjawab Tanpa Hitungan Detik

                                                   Allah Menjawab Tanpa Hitungan Detik

                                                                              oleh :
                                                                          Siti Hanifah 
                                                                      (16.310.410.1151) 



Di siang yang panas itu, setelah bermandikan keringat karena panasnya kompor yang menyala di dapur yang sempit dan pengap, seorang santri (read --sebutan untuk seseorang yang tinggal di pondok pesantren atau surau untuk orang muslim mempelajari ilmu agama) sedang melaksanakan piket masak yg biasanya bergilir satu minggu sekali masak untuk seluruh santri dan keluarga ndalem (read-- sebutan untuk keluarga bapak kyai-pengasuh pondok pesantren), tak jauh dari dapur terdengar suara wanita yang tak asing dia kanal, ya tak lain tak bukan itu suara temannya di Madrasah Aliyah dulu hingga saat ini dipesantren. Santri ini baru teringat hendak menghadiri soft opening yang berapa lalu dia baca dengan temannya disepanduk pinggir jalan. Sontak tanpa mandi dan tanpa persiapan apapun, dengan terburu-buru berangkatlah santri dan temennya ini ke suatu soft opening salah satu mall terbesar di Jogja, mereka berangkat pukul 10.00 WIB, padahal acara di mulai pukul 10.00 WIB begitulah tulisan jam yang teringat jelas dibenak sang santri ini, tapi sebelum santri ini mulai berangkat tadi, dia sudah berniat akan menjual barang miliknya untuk hasilnya dia berikan kepada temannya yg satu kampung dengannya yang sedang tertimpa musibah. Karna dia tau betul temannya ini benar-benar sangat membutuhkannya. Alhamdulillah sampai di Mall pukul 10.45 WIB dan acara inti belum di mulai, dari jauh diatas panggung masih terlihat jelas acara penampilan seni dari berbagai daerah yang memeriahkan acara ini, dan tibalah acara inti yang membahas tentang sedekah atau lebih pas dengan Shodaqoh, dalam beberapa ceramah yang beliau berikan sang Ustadz ini memaparkan tentang Firman Allah mengenai sedekah/shodaqoh disini beliau menuturkan bahwa Allahlah yang akan mengganti bahkan melipatgandakan harta yang diinfaqkan karena Allah, atau untuk menolong sesama. Santri itu berfikir, kenapa dia harus repot-repot menjual dan memberikan hasil jualannya kepada temannya, dan jarak rumahnya yang jauh dari jogja bahkan dia belum tahu apakah temannya mau menerima atau malah tersinggung, pikiran itupun berkecamuk dipikirannya. Disitulah dia berfikir keras. Terlintas dikepalanya kenapa tidak langsung mencoba/mengaplikasikan apa yang difirmankan Allah tersebut seperti apa yang dipaparkan oleh sang Ustadz tadi, maka santri itupun langsung menginfaqkan sedikit barang yang dia punyai dengan harapan Allah akan membantu temannya karena Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'iin (Hanya kepada Allah-lah saya menyembah dan hanya kepada Allah-lah tempat meminta pertolongan), santri itu maju ke depan dan menaruh barang tersebut di tempat yang telah disediakan oleh panitia, yang akan disumbangkan/disalurkan untuk orang-orang yang membutuhkan, dia berniat karna Allah dan semoga Allah membantu temannya yang jauh disana. Antara percaya dan tidak percaya  belum ada 1 menit dari santri itu berdiri, Allah SWT sudah mengganti dengan yang lebih baik, berlipat ganda, yang bahkan tak pernah di duga oleh santri tersebut, yakni berupa Undangan dari Allah untuk mengunjungi Baitullah. Mekah-Madinah. Kok bisa? Ya. santri tersebut dapat menjawab beberapa pertanyaan yang diberikan sang Ustadz kepada beberapa ratus orang yang ada disana dan yang benar akan pertanyaan tersebut akan berangkat Umroh secara gratis. Dan benar santri ini pun berangkat Desember 2016 lalu dan dia mendengar kabar saat dia masih di acara soft opening saat itu bahwa temannya yang hendak ditolongnya tadi mendapatkan bantuan atau rizqi yang tidak disangka-sangkanya.
Maha Benar Allah atas segala Firman-Nya, Allah menjawab doa hambaNya dan pastinya menjawab juga doa santri tersebut dan pasti juga menjawab doa seluruh umatnya dengan keyakinan yang kuat. Disitulah Allah benar-benar menjawab tanpa hitungan menit.









31.12.16

jalan panjang pendidikan

Jalan panjang pendidikan. Pendidikan adalah sebuah syarat dasar dalam perkembangan dan kemajuan suatu individu serta vaktor utama kemajuan suatu negara. Pendidikan adalah hak setiap manusia di dunia ini. Namun kadang untuk meroleh pendididkan tak sedikit orang yang harus bersusah payah untuk mendapatkanya. Banyak hal yang mempengaruhi seseorang individu mendapatkan pendidikan .. Dari faktor semangat individu tersebut dlm mengejar pendidikan, sampai faktor klasik negeri ini ya .. Biayay .. Haha Banya anak-anak yg semangat belajar namun bangku formal tak merekadapatkan dan pada akirnya hanya pendidikan non formal yg mereka dapatkan. Namun semangat itu semangat belajar yg slau ada dan membara pada diri mereka lah yang akan menjadikan mereka individu yg maju. Begitu juga dengan diri saya yang haru meraih pendiddikan perguruan tinggi denggan usaha yang lebih. Saya harus menunggu 4(empat) tahun untuk bisa merasakan bangku pendiddikan di perguruan tinggi. Selma itu pula keinginan untuk meraih pendiddikan yang lebih tinggi slalu saya simpan dan berharap mimpi ini tercapai, ada sedikit penyesalan kenapa dulu saya setaelah lulus SMK tidak langsung mendaftar diperguruan tinggi,namun keadaanlah yang membuat mimpi itu tertunda. Penyesalan lainya yang saya sesalkan ialah kenapa dulu diri saya hanya mendaftar di 1(satu) PTN Yang akirnya gagal lolos, tanpa mendaftar PTN yang lain. Begitulah pendidikan .. Saat kiata telah selesai menuntaskan pendidikan maka jalan panjang pendidikan serta pengetahuan baru telah menanti untuk di jalani seperti itu terus samapi nafas terakir kita..haha Namun Cukuplah keluh-kesah serta penyesalan itu dirasakan 4 tahun yang lalau, kini mimpi itu tercapi menjai seorang mahasiswa walu tidak di PTN dan hanya di PTS serta harus membagi waktu antara pekerjaan dan pendididkan. Kini tinggal semangat itu yang harus terus di bakar agar bisa menjalankan pendidikan ini samapai akhir. Lelah,jenuh,bosan,pusing hal yang biasa di alami mahasisawa walau terkadang itu menyeblkan bahkan sangat menyebalkan hehe. Munkin karna itulah mahasiswa di sebut “agents of change” atau agen perubahan. Mahasiswa di didik dan di gembleng ilmu untuk menjadi seorang yan mampu mengubah hidupnya serta mengubah wilahyah diamanapun dia berada. Mudah –mudahan saya bisa menjadi agen perubhan itu. Amin.

KETAMAKANKU



KETAMAKANKU

oleh
Yusuf Wardana

(163104101130)


Seorang saudagar kaya raya. Dia adalah pemilik restaurant terkenal dan terbaik yang ada pada masa tersebut.selain rasanya khas, makananya sangat lezat, dan pelayananya pun sangat memuaskan siapa saja yang datang kesana.
Berkat restaurant itu pula, sang saudagar mendapat banyak rezeki . Meski usahnaya menjadi berkembang ke berbagai bidang, namun restaurant itulah yang menjadi urat nadi usaha yang sangat dijaaganya. Karena tak memiliki keturunan, diusianya yang sudah semakin tua, ia ingin mewariskan usahanya itu pada orang yang terpilih yang nantinya akan dipercaya untuk menjalankan usahanya itu. Ia nanti akan menyerahkan usahanya itu kepada orang yang terbaik, dengan syarat separuh dari hasil yang didapat, harus disumbangkan pada kaum yang masih kekurangan. Beberapa saat saudagar itu memikirkan cara untuk memilih orang tersebut.
Hingga suatu saaat saudagar kaya itu mengundang 50 orang yang dianggap terbaik di daerahnya. Ia menyajikan hidangan terbaik untuk makan malam di restauranya. Saat orang-orang yang diundang  datang banyak wajah-wajah yang berharap mereka yang terpilih mewarisi kekayaan sang saudagar begitu pula sang saudagar, ia berharap bisa memilih orang terbaik yang bisa mewarisi usahanya. Setelah basa-basi sejenak ke 50 orang itu lantas dipersilahkan duduk untuk menyantap makanan. Uniknya ada 20 meja kotak yang disediakan dengan sumpit yang panjang. Saat dipersilahkan hamper semua orang yang tidak sabar merasakan kelezatan makanan dari restaurant terkenal itu.
Sang pemilik restaurant berkeliling ke semua meja, hingga meja ke 19 tak ada satupun yang berhasil menyantap makanan yang dihidangkan. Sebab mereka berlomba-lomba makan dengan sumpit yang sangat panjang tersebut. Hingga akhirnya tepat di meja ke 20 sang pemilik restaurant itupun tersenyum. Dimeja tersebuat 4 orang tampak mrnikmati hidangan dengan satu sama lainsaling menyuapi. Hingga acara hamper selesai hanya mereka berempatlah yang kenyang. Sementara yang lain tak bisa menikmati hidangan karena berusaha sendiri- sendiri untuk segera menyantap makanan leza tersebut.

Kesimpulan
            Kisah tersebut mengajarkan kepada kita, bahwa untuk bisa meraih sesuatu, kita seharusnya memulai dengan “melayani”. Kita tidak boleh serakah , tamak atau mementingkan diri sendiri. Seperti yang digambarkan kisah tersebut, hanya mereka yang mau “berkorban” dengan memberikan makan kepada yang lain, maka ia yang bisa ikut makan dengan kenyang. Sementara orang lain sibuk mencari cara bagaimana bisa segera menyantap hidangan, justru kerepotan karena tak tau “cara” yang tepat untuk memakanya.
            Uang dan harta memang penting, namun ada banyak hal penting lain yang juga harus menjadi perhatian utama kita. Bagaimana kita bersikap, bagaimana kita membantu orang lain. Bagaimana kita menemukan keseimbangan dalam hidup sehingga kebahagiaan bisa kita peroleh. Harta adalah “sarana”, kita adalah manusia. Karena itu mari jadikan “sarana”  tersebut sebagian dari kehidupan kita.     

30.12.16

WANITA TERBAIK ITU, AKU PANGGIL IBUK...



OLEH :
RATIH SETIYANINGSIH / 16.310.410.1140

WANITA TERBAIK ITU, AKU PANGGIL IBUK...

Kala fajar belum menampakan cahayanya, beliau sudah mengayuh sepedanya menyusuri jalanan. Ya pukul 5 subuh beliau sudah pergi bekerja dengan sepeda buntutnya untuk menghidupi anak semata wayangnya. Menjadi bapak sekaligus ibuk tak pernah beliau keluhkan. Setiap hari menempuh 10 km perjalanan untuk sampai ke tempat kerja. Kayuh terus mengayuh dengan keringat bercucuran di dahi sampai mata kaki melewati lalu lalang jalan yang sudah ramai dengan bus bus besar dan container yang membuat bising jalanan. Sesekali ibuk menjumpai para pedagang pasar yang membawa banyak sayuran untuk mereka jajakan. Pukul 3 pagi, ibuk sudah bangun untuk beres beres rumah dan menyiapkan sarapan  untuk anaknya. Walaupun capek dan ngantuk dirasakan, karena pergantian shift pulang malam dan masuk pagi beliau tidak meninggalkan tugasnya. Ibuk adalah wanita kuat yang bisa melakukan semua kerjaan sendiri. Tidak mudah merangkap menjadi bapak sekaligus ibuk tapi tidak pernah kata lelah, marah dan sedih terucap dari mulutnya. Ibuk lakukan sepenuh cinta untukku, anaknya.
            Karena sejak kecil, ibuk sudah merasakan pahitnya hidup untuk bisa bertahan hidup. Ibuk harus putus sekolah saat SMP demi mengalah untuk ke 5 adiknya agar bisa makan dan sekolah. Setelah putus sekolah, ibuk membantu kedua orangtuanya berjualan sayur dipasar. Kala itu tahun tahun 1978, masih sedikit angkutan umum dan belum mempunyai kendaran sendiri sehingga ibuk dan nenek harus jalan kaki mengendong sayuran jualannya. Pagi buta pukul 4 subuh, mereka sudah berangkat ke pasar. Jarak pasar sekitar 7 km dari rumah, ibuk dan nenek sambil bercerita dan bercanda menyusuri jalanan yang masih gelap dan sepi dengan jalan kaki. Rasa lelah tak terasa dan akhirnya sampai pasar. Ibuk membantu nenek menurunkan dagangan sayuran yang digendong dan mengelarnya di atas kain ( ules ) agar para pembeli berdatangan. Pukul 6 pagi dagangan sudah habis dan mereka pulang dengan jalan kaki lagi. Mungkin karena sering jalan kaki, orang jaman dulu lebih sehat dan kuat sampai sekarang.. hehehe..
Setelah sampai rumah, ibuk tak lantas tidur, beliau harus menyiapkan sarapan untuk adik adiknya sebelum berangkat sekolah. Karena ibuk paling tua, beliau yang sering kerepotan dan harus memberi contoh yang baik untuk adik adiknya. Ibuk berjuang dan bekerja setiap pagi dan malam agar adik adiknya bisa tamat sekolah setidaknya sampai SMP atau bahkan SMA.
            Begitu juga ibuk lakukan untukku, agar anaknya bisa mendapat pendidikan terbaik sampai lulus kuliah. Ibuk berjuang sendiri untuk anaknya tanpa kata tapi. Wanita hebat ini yang selalu mengorbankan dirinya agar anaknya bahagia bahkan untuk orang lain. wanita paruh baya yang masih semangat untuk bekerja. Ibuk tidak lelah mendidik tata krama, sopan santun dan hal hal baik untukku. Pengorbanan yang tidak pernah habis dan tidak bisa dikembalikan. Seribu petuah baik yang selalu dikatakan.
Semuanya dipertaruhkan dan perasaan dikorbankan. Semua hal yang ku minta pasti dipenuhi. Semua sikap dan sifat terbaik yang patut dicontoh.
Maha besar Ibuk telah berikanku hidup, dia segalanya dihidupku.. Ibuk terbaik dimataku..

JADILAH WANITA TERBAIK PENGINSPIRASI BANYAK ORANG :)


Keluarlah dari Zona Nyaman bila ingin Berhasil

Keluarlah dari Zona Nyaman bila ingin Berhasil

Tri Welas Asih
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta


Sering kita terlena dan merasa puas dengan apa yang telah kita dapat saat ini. Posisi kerja yang nyaman, gaji yang cukup dan jaminan hidup yang sudah pasti.  Hal seperti itulah yang membuat sebagian orang merasa tidak perlu melakukan hal yang lain untuk memperoleh hasil yang berbeda dengan yang di dapat. Mereka berfikir terlalu sempit yaitu bila mereka mencari alternatif pekerjaan lain hasil yang didapat adalah tidak sebaik yang mereka dapatkan sekarang. Mereka terlalu takut untuk mengambil resiko bila hasil yang mereka harapkan tidak sesuai dengan keinginan. Padahal belum tentu bila hasil yang di dapat itu lebih buruk dari hasil sekarang , bahkan ada yang hasilnya lebih bagus dari yang di dapat sekarang.

KETENAGAKERJAAN: MENCIPTAKAN NILAI TAMBAH DALAM BEKERJA



LOMBA MENULIS KISAH INSPIRATIF


Arundati Shinta
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta


Olah raga pagi yang menyehatkan adalah bersepeda seminggu tiga kali. Apalagi bila jalannya naik, maka otot kaki menjadi kencang. Kebugaran fisik ini diperoleh bila kita menyempatkan diri untuk berolah raga. Persoalannya, kita juga sering kreatif untuk membuat alasan sehingga waktu untuk berolah raga selalu tidak ada. Alasan yang paling sering muncul adalah pekerjaan, sehingga olah raga kalah prioritas dengan pekerjaan. Jadi dalam hal ini motivasi internal kita telah dikalahkan oleh hal-hal yang eksternal. Alasan-alasan eksternal berbanding lurus dengan kreativitas kita membuat alasan. Semakin kreatif maka alasannya semakin banyak, dan alasan itu semuanya masuk akal.

29.12.16

KISAH INSPIRATIF : TIGA KATA SATU ARTI



TIGA KATA SATU ARTI

Deliana Vicria Nurachyani
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta
 
            Kini adalah masa mudaku, dimana masa muda adalah masa yang indah bagi tiap manusia. Belum terbesitkan sekalipun mengenai masa tuaku yang akan datang seperti apa dan bagaimana kehidupannya. Kisah ini adalah sedikit membuat saya lebih mensyukuri keadaan dan lebih membuat saya berpikiran mengenai masa tua saya.
            Kisah ini menceritakan suatu perjuangan hidup, tanggungjawab dan juga kasih

28.12.16

REFLEKSI KETERBATASAN

REFLEKSI KETERBATASAN

Wahyu Relisa Ningrum
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

            Seperti biasa, perjalanan Klaten-Yogyakarta-Klaten mulus sesuai rencana. Tak ada yang berbeda sejauh ini, semua terlihat baik-baik saja. Sampai pada suatu malam dimana, tiba-tiba ban motorku meletus dan motor jadi oleng. Bete, bikin marah dan tentunya bikin nangis. Tapi apa mau dikata, mencari tukang tambal ban jauh lebih penting.
            Ya, sesekali dorong motor tidak apa-apa sepertinya. Mungkin aku kurang olahraga jadi terpaksa olahraga malam. Akhirnya ada juga tukang tambal ban, tapi tukang tambal bannya tidak mau menerima. Katanya sudah tutup. Sambil tengok kanan kiri, tiba tiba ada yang menghampiriku, seorang tukang ojek. Ia memberitahu ada tukang tambal ban yang masih buka sampai malam tapi lumayan jauh.
            Akhirnya aku meneruskan perjalanan, badan terasa capek, berat juga motornya. Tapi tidak apa-apa, semoga segera sampai di tempat tukang tambal ban, gumam dalam hati. Akhirnya sampai juga di tukang tambal ban. Alhamdulillah, sampai juga, lega rasanya. “Pak, badhe nambal ban, saget...” (“Pak, mau tambal ban, bisa...”), tanyaku. “Saget mbak” (“Bisa mbak”), jawab bapak tukang tambal ban.
            Sambil menunggu aku duduk di kursi pojokan, merenungi kejadian yang aku alami saat itu. Tiba-tiba bapak tukang tambal ban mengajak bicara. Ia bertanya darimana, mau kemana dan sebagainya. Mungkin Ia melihat wajahku yang terlihat bingung dan gelisah sekali.
Sambil menunggu giliran ban di tambal, aku melihat sekeliling dan sesekali lihat Ia yang sedang menambal ban motor. Tiba-tiba bapak tukang tambal ban itu berjalan masuk ke dalam rumah. Sebelumnya aku tidak melihat sesuatu yang berbeda pada dirinya. Betapa terkejutnya aku karena melihat bapak itu, berjalan tidak menggunakan kakinya secara wajar. Hal itu karena musibah yang menimpanya. Saat berjalan ia harus dibantu dengan kedua tangannya.
            Seketika itu, aku berucap dalam hati betapa beruntungnya diriku bila dibandingkan dengan bapak tukang tambal ban. Melihat keterbatasan fisik yang Ia derita, tidak membuatnya pasrah dalammenjalani kehidupan. Hal ini membuat aku lebih bersyukur lagi, karena aku diberi kesempurnaan fisik. Masalah yang aku alami saat ini tidak seberapa dibandingkan dengan derita seorang bapak yang harus berjuang menghidupi diri dan keluarganya dengan keterbatasan fisik.
            Bapak itu tidak mengeluh dan banyak tersenyum dengan keterbatasannya. Ia mau menerima tambal ban motorku meskipun tingkat kesulitannya lebih tinggi dibandingkan dengan motor lainnya.  Ia juga tidak menolak menambal ban motorku walau hari sudah malam. Kebaikan hati yang Ia miliki tidak akan aku lupakan. Senyum yang aku lihat saat itu, membuatku terbawa emosi.
Aku terharu, air mata pun menetes tidak terbendung lagi. Segera aku usap, tiba-tiba Ia minta aku untuk beli ban dalam yang baru.Karena ban dalam yang lama sudah tidak layak pakai. Bapak itu kasihan kalau aku nanti harus dorong lagi selepas dari tempat itu.  Akhirnya aku segera beli di toko seberang jalan, toko yang ditunjukkannya.
            Setelah dapat, segera aku berikan bannya. Dengan cekatan bapak itu melepas bagian demi bagian motor dan mengganti bannya. Sesekali mengambil peralatan yang ada di dalam rumah. Semangat yang Ia miliki terlihat jelas pada saat Ia mengganti ban. Kami juga larut dalam obrolan, banyak sekali pengalaman yang Ia ceritakan.Menambah rasa kagumku padanya.Ia hidup dengan istri dan tiga anaknya. Ia membuka tambal ban dan reparasi sepeda untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarga.
Walaupun hari sudah menunjukkan pukul 9 malam, bapak masih menerima reparasi sepeda dan tambal ban motor.Akhirnya selesai juga motorku. Terima kasih aku ucapkan kepadanyadan segera membayar ongkos perbaikannya. Aku pun berpamitan.
Banyak hal yang sering kita lupakan, rasa syukur terhadap semua yang kita miliki sekarang. Rasa syukur atas karunia yang diberikan Tuhan kepada kita setiap harinya. Apabila kita diberikan cobaan atau musibah baru ingat kepadaNya. Mungkin kita masih beruntung dibandingkan dengan orang lain. Semoga kita selalu diingatkan dan tidak lupa untuk selalu bersyukur. Bersyukur dan bersyukur terlepas apapun kondisi kita.


27.12.16

ORANG BODOH DAPAT BEASISWA S3 LUAR NEGERI



KISAH
ORANG BODOH DAPAT BEASISWA S3 LUAR NEGERI

Cerita tentang Orang Bodoh Mendapatkan Beasiswa S3 di Luar Negeri dia mengakui hanyalah orang yang bodoh yang tak begitu pandai. Sejak SD, SMP sampai S2 hanya mendapat nilai pas-pasan. Masa SD adalah masa yang paling kelam baginya.Pada level pendidikan ini dia hampir tidak lulus. Ada beberapa mata pelajaran yang tidak memenuhi standar kelulusan. Dengan terpaksa, orang tuanya harus merogoh kocek untuk menebus kekurangannya untuk beberapa mata pelajaran.Dengan usaha kerja keras dia lolos dari prahara ketidakmampuan mengerjakan soal pelajaran di sekolah dasar.Untuk mengetahui lebih dalam,inilah kisah nya yang di ceritakan langsung oleh yang bersangkutan.
Kebodohan saya pun berlanjut sampai saat saya menempuh pendidikan di level Sekolah Menengah Pertama. Hal ini terbukti dengan nilai raport saya yang pas-pasan. Sejak kelas satu sampai kelas dua nilai tidak pernah lebih dari 7. Kalau pun ada nilai 7 itupun hanya segelintir mata pelajaran yang memang tidak sulit, tidak membutuhkan pemikiran. Dalam rentetan nilai yang tertera di dalam raport, hanya nilai mata pelajaran Bahasa Indonesia yang paling bagus. Itupun nilainya tidak pernah lebih dari 7. Saya tidak ingat seberapa buruknya nilai mata pelajaran yang lain. Saya hanya selalu ingat nilai mata pelajaran bahasa Inggris yang pas-pasan. Mata pelajaran bahasa Inggris selalu menjadi kenangan bukan karena suka mata pelajarannya, tetapi karena gurunya yang super galak .Sesuai dengan kepribadian saya yang pemalu. Bahasa inggris selalu menjadi momok ketika saya sekolah di SMP. Setiap kali guru meminta saya untuk mengucapkan kata dalam bahasa Inggris saya selalu keringat dingin, karena bingung tidak bisa mengucapkan. Lebih lucu lagi teman-teman di sekolah selalu tertawa duluan sebelum saya mengucapkan kata-kata.
Namun demikian, karena nasib baik yang masih memihak saya sehingga saya masih bisa lulus dengan nilai pas-pasan. Bahkan saya lihat-lihat nilai kelulusan saya untuk mata pelajaran matematika adalah dibawah tiga (alias dua koma).Meskipun saya sekolah di pedalaman, wilayah pedesaan ,entah kenapa saya memiliki semangat dan cita-cita yang tidak sederhana (ingin jadi Menteri). Oleh karena itu setamatnya dari SMP saya dihijrahkan orang tua untuk menuntut ilmu di kota pelajar, JOGJAKARTA. Saya sampai lupa siapa yang berinisiatif untuk sekolah di kota pelajar ini. Untungnya saya tidak tahu kalau di kota pelajar itu nilai siswanya rata-rata 8 bahkan lebih dari itu. Saya merasa beruntung karena ketidaktahuan itu sehingga saya tidak merasa minder saat membawa raport SMP ke sebuah sekolah swasta di wilayah Gunungkidul saat itu. Sebagai seorang desa (alias NDESO) tentu saya tidak tahu sekolah mana yang cocok untuk saya. Saat menentukan jurusan pun saya tidak tahu menahu. Saya hanya berprinsip jurusan yang saya ambil bisa siap bekerja. Saat itu yang mengantarkan mendaftar ke sekolah adalah paklek saya yang seorang guru, sekaligus sebagai sekretaris desa sehingga jurusan yang saya pilihpun sesuai pilihan paklek saya, yaitu jurusan sekretaris. Selama sekolah di SMK ada peningkatan sedikit nilai yang saya dapatkan. Jika saat di SD dan SMP saya menduduki ranking pertama dari belakang, maka di caturwulan pertama (kalau tidak salah) saya mendapatkan rangking 5 teratas. Mungkin ini sebuah keajaiban bagi saya, karena saya orang desa dengan nilai pas-pasan saat sekolah di kota justru bisa meraih peringkat yang lumayan membanggakan.    
Mendapatkan peringkat ke lima adalah sebuah motivasi bagi saya, oleh karena itu pada saat caturwulan kedua saya pindah dari rumah pakde ke sebuah Pondok Pesantren dengan maksud mendapatkan ilmu sebanyak-banyaknya. Selama tinggal di Pesantren semangat belajar saya semakin meningkat. Di tempat ini saya bertemu dengan berbagai orang yang memiliki berbagai kelebihan. Ada yang pandai di bidang agama, pertanian, guru, dan lain sebagainya. Keberagaman ini semakin memacu semangat belajar saya sehingga setelah mendapat peringkat ke lima, secara berturut-turut saya mendapatkan peringkat 1 sampai saya lulus dari SMK itu. Bahkan saat pengumuman kelulusan, saya mendapat nilai terbaik dari seluruh siswa di sekolah itu. Keberhasilan saya mendapat peringkat pertama di SMK semakin memotivasi saya untuk melanjutkan kuliah. Meskipun orang tua saya dari golongan ekonomi pas-pasan, saya “memaksakan” kehendak untuk tetap bisa kuliah dengan berjanji akan sambil bekerja. Alhamdulillah setelah meyakinkan dengan perjuangan yang cukup lama, akhirnya kedua orang tua saya mengabulkan keinginan saya. Meskipun saya baru bisa merealisasikan janji saya kuliah sambil bekerja setelah semester 6. Saat itu saya diberi kesempatan untuk mengajar Bahasa Inggris di sebuah lembaga kursus yang lumayan terkenal pada masa itu. Selama kuliah, saya tidak menghadapi kendala yang berarti. Mungkin perjuangan orang tua tidak kepalang tanggung demi mencarikan biaya kuliah saya. Saya merasa menikmati masa-masa kuliah dengan semangat. Saat masih kuliah saya tidak berorientasi pada nilai seperti saat masih di SMK. Saya berprinsip nilai hanyalah syarat administratif sehingga saya harus lebih banyak berkarya. Akibatnya selama menempuh pendidikan sarjana waktu saya lebih banyak dihabiskan di organisasi. Saya menduduki organisasi kemahasiswaan dari level anggota sampai ketua, dari level jurusan, universitas sampai tingkat Wilayah. Selama 5 tahun lebih waktu saya habis di organisasi. Hal yang membahagiakan, nilai saya tidak terlalu buruk dibandingkan dengan teman-teman aktivis lainnya. Meskipun aktif di organisasi saya masih bisa meraih IPK 3 lebih. Berkat pengalaman mengajar di lembaga kursus dan juga di organisasi menjadikan saya semakin percaya diri (meskipun hanya percaya pada diri sendiri).
Setelah menempuh pendidikan sarjana selama 5 tahun saya pun tidak sulit mencari pekerjaan. Pekerjaan pertama yang saya peroleh setelah lulus adalah diterima bekerja di sebuah organisasi non-profit, Rohe Foundation. Yaitu sebuah organisasi yang bergerak di bidang sosial keagamaan. Namun dimikian, saat masih mengikuti masa training kebetulan saya juga mendapat kesempatan untuk mengikut seleksi untuk menjadi dosen. Pada saat itu impian saya memang menjadi dosen. Dengan menjadi dosen saya berkeyakinan saya bisa mengembangkan diri saya ke profesi lain secara mudah. Alhamdulillah, tanpa menunggu terlalu lama setelah menjadi sarjana saya harus menerima kenyataan diterima sebagai dosen di alma mater. Saya katakan demikian karena sesungguhnya saya adalah orang yang tidak suka Bahasa Inggris tetapi harus ngajar di jurusan Sastra Inggris .Keberuntungan saya berlanjut saat saya sudah menjadi dosen. Meskipun dengan perjuangan yang tidak mudah akhirnya saya diberi kesempatan untuk mendapatkan bantuan dana (Pinjaman Kantor) untuk melanjutkan kuliah di UGM. Mengingat kemampuan saya yang pas-pasan, saya hanya mendapatkan pinjaman dengan perjanjian yang sangat berat bagi saya. Tetapi bagaimanapun saya tetap bersyukur karena perjanjian yang sangat berat itulah akhirnya saya harus menyelesaikan pendidikan Pasca Sarjana saya tepat waktu. Hal itu berbeda dengan mereka yang mendapatkan beasiswa yang bisa berleha-leha karena tidak perlu memikirkan mengembalikan uang ke lembaga tempat bekerja. Setelah lulus dari pendidikan Master (S2), saya kembali mengajar di alma mater saya. Kelulusan saya dari S2 bukanlah hal yang luar biasa karena rasanya cukup mudah bagi saya untuk lulus. Entah mengapa jika banyak teman-teman saya yang belum pada lulus, tetapi saya merasa lulus dari pasca sarjana UGM bukanlah hal yang luar biasa. Saya pun tidak mengikuti acara wisuda saat lulus dari UGM. Sehingga teman-teman bahkan keluarga saya pun tidak ada yang tahu kalau saya sudah lulus Pasca Sarjana. Hanya bagian SDM kantor tempat bekerja yang mengetahui kalau saya sudah lulus dari UGM.
Setelah lulus dari UGM dengan nilai pas-pasan .Saya masih ingin melanjutkan kuliah ke luar negeri. Impian saya menempuh pendidikan S3 sebenarnya tidak muluk-muluk, yaitu hanya ingin kuliah di Malaysia. Tetapi karena berbagai dorongan dan motivasi dari lingkungan saya yang pada kuliah di Australia, akhirnya saya pun terbawa arus untuk mendaftar kuliah di Negara Kangguru. Setelah menjalani berbagai tantangan dan hambatan, akhirnya saya memiliki kesempatan untuk kuliah di negara makmur ini. Perjuangan saya untuk mendapatkan beasiswa kuliah di luar negeri tentu bukanlah perkara mudah mengingat IPK saya yang pas-pasan. Sebuah keberuntungan bagi saya adalah bahwa universitas-universitas di negara ni bukanlah negara pemuja IPK sehingga setiap mahasiwa calon S3 tidak dilihat dari berapa tinggi IPKnya. Di negeri ini tulisan dan gagasan orisinal lebih dihargai dari seorang calon mahasiwa doktor. Keberuntungan nampaknya memang masih memihak saya, karena saat mendaftar beasiswa saya justru mendapat dua beassiwa sekaligus. Awalnya saya mendapat beasiswa dari Universitas yang dimana saya ingin kuliah, namun karena beasiswa beasiswa yang saya dapat dari Australia hanya beasiswa SPP, maka saya pun harus mendaftar beasiswa lain (beasiswa DIKTI). Kesalahan mengisi form pendaftaran mengakibatkan saya hanya mendapatkan beasiswa Tuition Fee, karena saya tidak mencentang kolom beasiswa untuk biaya hidup. Bagaimana pun itulah keberuntungan yang saya dapatkan setelah melalui perjuangan dan rintangan yang melelahkan akhirnya saya pun mendapat beassiwa dua sekaligus dalam waktu yang bersamaan. Sayangnya, sesuai dengan ketentuan bahwa seorang mahasiswa tidak boleh mendapatkan beasiswa double. Demikianlah perjalanan panjang saya untuk bisa mewujudkan cita-cita mencapai pendidikan yang layak. Mengingat saya adalah orang bodoh maka kesempatan untuk menempuh pendidikan doktor di luar negeri adalah momen yang luar biasa.
Semoga kesempatan ini menjadi bagian dari upaya saya menghilangkan kebodohan ini. Akhirnya, semoga cerita ini bisa menginspirasi bagi pembaca agar berusaha lebih keras mewudjudkan cita-cita, karena siapapun berhak mendapatkan apa yang diimpikannya sepanjang mau berusaha. Kesuksesan bukan semata-mata ditentukan dari intelektual semata tetapi kecerdasan emosional dan spritual memiliki peran lebih besar dalam kesuksesan hidup kita. Jika yang bodoh saya bisa, tentu anda yang lebih cerdas akan lebih mudah mencapainya. TAK ADA KATA MENYERAH BAGI KITA, sebagai insan Tuhan yang diciptakan begitu sempurna dibandingkan makhluk lainnya... Yang diberi akal dan hati,,yang bisa memilih jalan hidup : "maju, mundur atau diam ditempat.
Banyak jalan menuju Roma,mungkin ini salah satu pepatah yang bisa menggambarkan mereka-mereka yang punya semangat untuk belajar. Banyak anggapan menilai mereka yang bisa kuliah lagi karena ada dana yang mencukupi. Namun anggapan itu tak selamanya benar. Walau ada dana yang cukup namun jika tidak ada kemauan dan semangat untuk belajar tentunya tidak bisa terwujud. Atau ada anggapan bahwa untuk mengejar mimpi seperti itu tidaklah realistis dikala himpitan ekonomi menjadi alasan. Memang pendidikan di negeri ini seakan-akan memupus orang-orang tidak kecukupan untuk bersekolah.Namun, lihat masih banyak orang yang hanya bermodal semangat dan kerja keras mampu meraih mimpi itu,,, Semangat mereka dalam menuntut ilmu memang patut diapresiasi. KEPADA BANGSA INDONESIA, MODAL KITA ADALAH SEMANGAT JUANG DARI DIRI KITA SENDIRI .
Dari prestasi yang aku raih ini, tidak banyak yang aku lakukan, kecuali hanya mengutamakan kuliah dari pada organisasi (artinya selama kegiatan itu bentrok dengan jadwal kuliah, aku tetap pilih kuliah), rajin baca dan mencatat (sesuai tugas mahasasiswa bembaca, berdiskusi dan menulis), bertanya pada dosen bila tidak paham, ta’dim pada guru/dosen, tidak banyak buang waktu dengan main atau jagungan, banyak beribadah, berdoa, puasa senin-kamis dan selalu minta doa/ridho orangtua, dan satu lagi yang tak terlupakan adalah adanya motivasi dan obsesi yang diperjuangkan, Itu saja. 
"Pelajarilah oleh kalian ilmu pengetahuan karena mempelajarinya merupakan suatu kebaikan, mencarinya adalah ibadah, muzakarah (mendiskusikannya) terhadapnya laksana tasbih, membahasnya merupakan jihad, memberikannya (dengan kemurahan hati) dianggap mendekatkan diri (kepada Allah), dan mengajarkannya kepada orang yang tidak mengerti berarti shodaqah.Tiada kebahagiaan dalam menuntut ilmu kecuali mereka yang ketika belajar dalam kondisi serba kekurangan.”


BANYAK ORANG MERASA SELALU PINTAR.
TAPI  TIDAK PINTAR MERASA
BANYAK BACA JADI TAHU
JARANG BACA KURANG TAHU
TIDAK BACA JADI SOK TAHU
MAN JADDA WA JADA
SALAM MOTIVASI !!!

26.12.16

MASA KECILKU ALASAN SEHAT MENTALKU SAAT INI

MASA KECILKU ALASAN SEHAT MENTALKU SAAT INI
IRNANINGSIH
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS PROKLAMASI 45 YOGYAKARTA

        Sembilan tahun sudah aku menjalani pernikahan dengan suamiku, dan saat ini kami telah di karuniai seorang anak perempuan bernama Naura. Sosok yang sangat kami nanti, dan akhirnya Tuhan mempercayai kami sebagai orang tua yang mampu mengemban amanah-Nya. Kami sangat menikmati peran kami sebagai orang tua. Di sela-sela kesibukan kuliah dan kerja, aku dan suami selalu menyempatkan diri untuk mendampingi Naura dalam setiap perkembangannya. Hal ini bukan tanpa alasan, Selain karena kami ingin membekalinya dengan pendidikan karakter dan dukungan kepercayaan diri ketika Ia mengepakkan sayap meninggalkan kami dan menjelajah bumi ini, kami juga merasa bahwa Naura wujud kepercayaan Tuhan kepada kami untuk mengemban amanah atau titipan-Nya.
            Tujuh tahun lalu kami sempat berfikir bahwa Tuhan belum percaya pada kami untuk mengasuh Naura. Saat itu tepatnya bulan Ramadhan hari ke tujuh pukul 23.00 wib, Naura tiba-tiba kejang dengan kondisi penglihatan juling. Kondisinya sangat memprihatinkan, namun badannya tidak demam. Kami segera membawanya ke RS Rajawali Bandung, penanganan pertama di lakukan oleh dokter spesialis anak. Namun belum ada tanda-tanda membaik. Sehari kemudian laporan hasil cek darah keluar, dan ternyata hemoglobin Naura tinggal 3. “Sementara orang dewasa saja dengan hb 3 di pastikan dalam kondisi hampir meninggal, namun suatu keajaiban anak ini dengan hb 3 masih mampu bertahan dan bernyawa”Demikian kata dokter spesialis saraf. Naura tidak mengalami jatuh namun darahnya ternyata habis, dan menurut pemeriksaan Ia tidak mengalami leukimia. Pukul 2 pagi setelah di lakukan transfusi darah, akhirnya darah kembali normal demikian pula hb-nya.
            Namun kondisi Naura tetap kejang dan memprihatinkan dalam sembilan hari ini. Dan dokter pun tidak menemukan penyakit apapun pada Naura, bahkan meskipun setiap hari telah di berikan suntik kejang, kejang pun tak kunjung berkurang. Dan yang membuat kami sedih tak ada asupan asi yang mampu masuk ke dalam tubuh Naura. Hanya cairan infus saja yang mengisi tubuhnya. Kami hanya berharap akan ada keajaiban dari Tuhan, tak henti-hentinya kami memanjatkan doa dan melantunkan ayat-ayat Al-Quran, namun Tuhan tetap belum bertindak. Selanjutnya di hari kesepuluh Naura di rawat di Rumah Sakit, Tuhan menunjukkan keajaibannya kepada hambanya yang yakin. Naura berhenti kejang dan tersadar. Betapa bahagianya kami berdua melihat sang buah hati yang mulai kembali membuka mata setelah koma selama sepuluh hari.
            Tiga hari kemudian setelah Naura tersadar, tepatnya hari ketiga belas kami menginap di RS, maka dokterpun mengijinkan kami untuk pulang dan menyatakan Naura telah sehat. Tibalah saatnya kami mengurus administrasi. Kami berdua segera ke bagian administrasi mengurus biaya selama 13 hari ini, dan ternyata biaya yang harus kami bayar pun sangat fantastis yaitu sejumlah Rp 25 juta rupiah yang meliputi biaya kamar, obat-obatan, rekam medik, citiscan, dan lain-lain. Di saat yang sama ketika Naura masuk ke RS, ternyata ayah mertuaku juga operasi di RS. Dan saat kami hendak membayar biaya RS, kakak mengabari bahwa Ia butuh biaya untuk biaya RS bapak mertua sebesar Rp 30 juta untuk biaya operasi dan perawatan. Tentu bukan jumlah yang sedikit, ketika di saat yang sama harus membayar biaya RS yang sama besar pula. Karena suamiku adalah tulang punggung keluarganya, maka kamipun harus bertanggung jawab.
            Kami mencoba belajar untuk ikhlas dan mengembalikannya pada Tuhan bahwa semua yang kami miliki dari Tuhan. Termasuk harta benda yang selama ini kami cari adalah milik Tuhan. Dengan kesepakan suami maka akhirnya kami pun membayar biaya RS Naura dan biaya RS mertua. Suamiku sangat sabar menghadapi cobaan ini. Ia sangat menguatkan diriku dalam menghadapi cobaan ini. Dan aku pun tak mau kalah tegar, aku belajar dari pengalaman ketika kecilku sehingga menghadapi cobaan ini aku tetap tegar, sabar, dan tabah. Aku harus tetap sehat mental menghadapi cobaan dari Tuhan. Ketegaran ini tentu tidak serta merta terbentuk, namun merupakan proses panjang dari ketika kita masih kecil hingga saat ini.
            Orang tuaku mendidik kami untuk bersabar, bekerja keras, disiplin, ulet dan sederhana. Mereka juga menanamkan pendidikan karakter yang melekat pada kami. Terutama ibuku, beliau sangat membekali kami dengan keuletan,kerja keras, kesederhanaan, dan kesabaran. Mungkin inilah bekal yang mampu menjaga mental kami tetap sehat ketika Tuhan menempa kami dengan cobaan yang berat.