19.5.26

ESSAI 4 Psi Inovasi MY BEST COPING BEHAVIOR

Arisyahdan J Hi A Rahim

22310420199



 

My best coping behavior adalah menjaga keseimbangan antara pikiran, tubuh, dan emosi ketika menghadapi tekanan atau masalah dalam kehidupan sehari-hari. Saat merasa stres, lelah, atau memiliki banyak beban pikiran, saya biasanya mencoba menenangkan diri terlebih dahulu agar tidak mengambil keputusan secara terburu-buru. Saya percaya bahwa setiap masalah dapat diselesaikan dengan kepala dingin dan sikap yang positif. Oleh karena itu, saya selalu berusaha untuk mengontrol emosi dan mencari cara terbaik agar kondisi mental tetap stabil.

Salah satu coping behavior terbaik yang saya lakukan adalah memberikan waktu untuk diri sendiri agar dapat beristirahat dengan cukup. Ketika tubuh dan pikiran terlalu lelah, saya biasanya mengambil waktu istirahat sekitar 15–30 menit untuk menenangkan pikiran. Dalam waktu tersebut, saya mencoba duduk santai, menarik napas dalam dalam, atau sekadar memejamkan mata agar tubuh menjadi lebih rileks. Menurut saya, istirahat yang cukup sangat penting karena dapat membantu mengurangi rasa stres, meningkatkan konsentrasi, dan membuat pikiran menjadi lebih jernih.

Selain beristirahat, saya juga menjadikan olahraga sebagai salah satu cara terbaik untuk mengatasi stres dan menjaga kesehatan mental. Saya biasanya melakukan olahraga ringan seperti berjalan kaki, jogging, stretching, atau workout sederhana selama 30–60 menit sebanyak tiga sampai lima kali dalam seminggu. Ketika berolahraga, tubuh terasa lebih segar dan suasana hati menjadi lebih baik karena olahraga dapat membantu melepaskan hormon endorfin yang membuat seseorang merasa lebih bahagia dan rileks. Tidak hanya itu, olahraga juga membantu saya menjaga kesehatan fisik sehingga tubuh tidak mudah lelah dan lebih siap menghadapi aktivitas sehari-hari.

Ketika merasa sangat penat atau memiliki banyak masalah, saya juga sering mendengarkan musik untuk membantu menenangkan pikiran. Musik membuat suasana hati menjadi lebih tenang dan membantu saya mengurangi rasa cemas. Selain itu, saya terkadang mencoba melakukan aktivitas yang saya sukai, seperti menonton film, membaca, atau bermain media sosial dalam batas yang wajar agar pikiran tidak terlalu terbebani. Aktivitas kecil seperti ini cukup membantu saya untuk mengalihkan perhatian dari stres yang sedang dirasakan.

Saya juga percaya bahwa berbicara dengan orang yang dipercaya merupakan coping behavior yang sangat baik. Saat memiliki masalah, saya biasanya berbicara dengan keluarga, teman, atau orang terdekat agar saya merasa lebih lega. Dengan berbagi cerita, saya merasa tidak sendirian dan mendapatkan dukungan emosional yang membuat saya lebih kuat menghadapi masalah. Terkadang, mereka juga memberikan saran atau motivasi yang membantu saya melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda.

Selain itu, saya berusaha untuk selalu berpikir positif dalam menghadapi setiap situasi. Walaupun tidak semua hal berjalan sesuai keinginan, saya mencoba menerima keadaan dan fokus mencari solusi daripada terus-menerus menyalahkan diri sendiri. Saya belajar bahwa setiap masalah pasti memiliki jalan keluar dan setiap pengalaman dapat menjadi pelajaran untuk menjadi pribadi yang lebih baik di masa depan.

Menurut saya, coping behavior yang baik bukan berarti menghindari masalah, tetapi bagaimana seseorang mampu mengelola emosi, menjaga kesehatan fisik dan mental, serta tetap berpikir positif dalam menghadapi tekanan hidup. Dengan beristirahat yang cukup, rutin berolahraga selama 30–60 menit, mendengarkan musik, melakukan hobi, dan berbicara dengan orang terpercaya, saya merasa lebih mampu mengontrol stres dan menjaga keseimbangan dalam kehidupan sehari-hari.”

Essai 1 Meringkas Jurnal Kearifan Lokal Melalui Kuliner Khas Aceh

 Arisyahdan J Hi A Rahim

22310420199

MENGANGKAT KEARIFAN LOKAL MELALUI KULINER

KHAS ACEH: STUDI KASUS KEBERHASILAN RUMAH

MAKAN CUT BIT


 

Topik

Kearifan Lokal, Kuliner, penelitian kualitatif.

Sumber

Salsabilla, N., & Fatonah, S. (2025). MENGANGKAT KEARIFAN LOKAL MELALUI KULINER KHAS ACEH: STUDI KASUS KEBERHASILAN RUMAH MAKAN CUT BIT. Jurnal Inovasi Kewirausahaan2(3), 1-17. 

Perma salahan

Permasalahan yang di angkat dari junal ini dimana belum banyak yang sadar akan pentingnya kearifan lokal melalui kuliner yang dapat dimanfaatkan secara optimal dalam ekonomi yang berbudaya, serta minim dukungan bahwa budaya tradisional tidak dapat bersaing di pasar modern, ini yang mengakibatkan penurunan nilai budaya, serta kurangnya daya saing bisnis kuliner lokal.

Tujuan penelitian

Mengkaji keberhasilan rumah cut bit dalam mengangkat kuliner lokal aceh, dan dapat menjelaskan bahwa integrasi budaya dapat menjadi strategi bisnis, serta pelestarian budaya melalui kuliner.

 

Isi

·     Kearifan  lokal merupakan akumulasi pengetahuan dan   nilai-nilai   yang   terbentuk dari interaksi panjang antara manusia dengan lingkungan sosial dan alamnya.  Nilai-nilai ini  tidak  hanya berfungsi   sebagai   pedoman   dalam kehidupan   masyarakat,   tetapi   juga menjadi  bagian  dari  identitas  budaya yang  melekat  pada  suatu  komunitas. bahwa  kearifan  lokal  mencerminkan etika, spiritualitas, dan prinsip praktis yang kontekstual dengan kehidupan   masyarakat   lokal, dan juga kearifan lokal juga bisa menjadi bagian integral dalam upaya pelestarian budaya melalui dunia kuliner.

·     Strategi branding dan diferensiasi dalam bisnis kuliner lokal dalam  konteks kuliner, nilai budaya merupakan salah satu sumber diferensiasi  yang  kuat. Branding yang mengintegrasikan unsur budaya lokal baik melalui nama  menu, desain interior, kostum karyawan, hingga narasi sejarah makanan dapat menciptakan pengalaman emosional yang lebih kaya bagi konsumen. Dalam ranah bisnis, pemanfaatan kearifan lokal sebagai strategi diferensiasi   memiliki nilai tambah yang signifikan.  diferensiasi yang  berbasis  pada  identitas budaya lokal mampu memperkuat posisi merek di tengah pasar yang kompetitif. menggaris bawahi bahwa diferensiasi produk harus memiliki keunikan yang bernilai bagi konsumen.

·    Kuliner merupakan representasi sosial budaya yang kompleks. tidak hanya mencerminkan preferensi rasa, tetapi juga menggambarkan narasi sosial, sejarah, dan suatu identitas. makanan   dan cara memasaknya memiliki  dimensi simbolik yang berperan penting dalam struktur sosial masyarakat.   Kuliner tradisional menjadi medium komunikasi  budaya  yang  kuat  karena mengandung   makna   simbolik   yang diwariskan  dari  generasi  ke  generasi. Kuliner  khas  daerah  seperti  di  Aceh, contoh makanan yang mengandung sejarah dan pengaruh budaya dan nilai keagamaan, seperti mie aceh bukan hanya menyajikan rasa, tapi ini sajian bisa menjadi alat untuk diplpmasi budaya yang memperkenalkan nilai lokal pada dunia luar.

Metode

·     Penelitian ini mengunakan metode studi kasus atau kualitatif dijabarkan dengan rinci.

·     Tempat di salah satu rumah makan yang di pilih secara purposife, bagaimana integrasi kearifan lokal diterapkan dalam usaha kuliner Rumah Makan Cut Bit di Banda Aceh. Penelitian dilaksanakan pada Bulan April 2025 dengan lokasi dirumah makan tersebut, sebagai contoh keberhasilan penggabungan nilai budaya Aceh dalam praktik bisnis kuliner.

·     Data ini dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan pemilik, pengelola, karyawan, serta konsumen setia, yang mampu memberikan perspektif kaya mengenai penerapan nilai budaya dalam usaha ini. Selain itu, observasi partisipatif dilakukan secara langsung untuk mengamati suasana, pelayanan, desain interior, dan cara penyajian yang mencerminkan identitas budaya lokal Peneliti juga mengumpulkan data dari dokumen pendukung seperti materi promosi dan konten media sosial yang merepresentasikan narasi budaya yang diusung oleh rumah makan. Seluruh proses pengumpulan data ini didukung oleh instrumen berupa pedoman wawancara, lembar observasi, alat perekam suara, kamera digital, serta perangkat lunak analisis data kualitatif untuk mempermudah pengelolaan dan interpretasi data

·     Menjaga validitas, penelitian ini juga menerapkan triangulasi sumber data melalui perbandingan hasil wawancara, observasi, dan studi dokumen. Dalam pelaksanaan penelitian, etika menjadi perhatian utama dengan memastikan persetujuan informan secara sukarela, menjaga kerahasiaan identitas, dan menggunakan data hanya untuk kepentingan akademik Dengan demikian, metode yang diterapkan dalam penelitian ini diharapkan mampu memberikan gambaran komprehensif mengenai praktik pengembangan kuliner berbasis kearifan lokal sekaligus menjadi referensi bagi pelaku usaha dan pemangku     kebijakan dalam memperkuat ekonomi budaya di ACEH.

Hasil

·     Rumah makan cut bit secara konsisten mengintegrasikan nilai budaya Aceh ke dalam seluruh aspek operasional usahanya. Terlihat dari upaya mereka mempertahankan keaslian resep kuliner tradisional, desain interior yang mencerminkan identitas lokal, hingga pendekatan pelayanan yang mengedepankan nilai sosial dan filosofi masyarakat Aceh. Strategi ini tidak hanya berhasil menjaga warisan budaya, tetapi juga memberikan nilai tambah yang signifikan bagi daya saing bisnis di tengah pasar kuliner yang semakin kompetitif.

·     Penguatan identitas lokal yang diwujudkan dalam menu autentiknya. Setiap hidangan yang disajikan bukan sekadar makanan, melainkan merupakan  representasi  cita  rasa  asli yang  telah  diwariskan secara turun temurun. Serta rumah makan ini melakukan pembaruan dalam aspek visual dan konsep penyajian yang  membuat hidangan menjadi lebih menarik dan relevan bagigenerasi muda serta wisatawan. Serta menciptakan pengalaman budaya yang utuh melalui desain interior dan suasana ruang makan. Rumah makan ini tidak sekadar menjadi tempat untuk menikmati makanan khas Aceh, tetapi juga  ruang  representasi budaya lokal yang hidup dan terasa. Interior ruangan   dirancang dengan cermat untuk menampilkan ornamen khas Aceh seperti   motif ukiran tradisional, kaligrafi bernuansa Islam, hingga perabot kayu   yang mencerminkan estetika rumah tradisional Aceh. Penataan ruang yang nyaman,   pencahayaan   yang   hangat, serta  alunan  musik  tradisional  Aceh yang diputar lembut turut memperkaya atmosfer yang dihadirkan

·     Dalam menjalankan usaha kuliner berbasis kearifan lokal, Rumah Makan   Cut Bit tidak luput dari berbagai tantangan yang bersifat struktural maupun operasional. Salah satu kendala utama yang dihadapi adalah keterbatasan modal usaha. Sebagaimana banyak dialami oleh pelaku UMKM di sektor kuliner tradisional, permasalahan permodalan sering kali menghambat proses pengembangan usaha, baik dalam aspek ekspansi fisik, peningkatan kualitas layanan, maupun inovasi produk. Modal yang terbatas juga membatasi ruang gerak dalam melakukan promosi secara masif, terutama di platform digital yang kini menjadi kanal utama pemasaran. Selain  kendala  finansial,  persaingan pasar juga menjadi tantangan signifikan yang  harus dihadapi.

Dikusi

·     Budaya bukan hambatan untuk berbisnis akan tetapi bisa unggul dan kompetitif jika di kolaborasikan antara kearifan lokal dan kuliner.

·    Experience dimana konsumen bukan hanya mencari produk akan tetapi mencari pengalaman dan ini bisa tercipta di rumah makan, dan menjadi identitas budaya yang memperkuat identitas dari aceh sendiri.

·    Dimana ini bisa di dorong oleh pemerintah agar memajukan UMKM di aceh itu sendiri

·     Dari rumah makan mengangkat budaya kearifan lokal ini menjadi kontribusi serta memperkaya kajian ekonomi kreatif, serta memberi contoh nyata dari makanan bisa memperkenalkan budaya dari daerah tersebut, serta bisa bersaing dan sejalan dengan moderenisasi.

 

ESAI 3 – Menjadi Generasi yang Tangguh dan Mau Berubah

 

PSIKOLOGI INOVASI

ESAI 3 – Menjadi Generasi yang Tangguh dan Mau Berubah

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A

Nama: Gunarti

NIM: 23310410118

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS PROKLAMASI 45

YOGYAKARTA

MEI, 2026

Di era modern saat ini, generasi muda dituntut untuk mampu menghadapi tekanan hidup sekaligus beradaptasi dengan perubahan yang terjadi di lingkungan sekitar. Banyak orang memiliki keinginan untuk berkembang, tetapi mudah menyerah ketika menghadapi masalah atau merasa takut untuk memulai perubahan. Oleh karena itu, menurut saya resiliensi dan keberanian untuk berubah merupakan dua hal penting yang perlu dimiliki agar seseorang dapat berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.

Tips pertama adalah menjadi pribadi yang tangguh atau memiliki resiliensi. Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang pasti pernah mengalami masalah, tekanan, kegagalan, maupun rasa kecewa. Tekanan tersebut dapat berasal dari keluarga, pendidikan, pekerjaan, lingkungan sosial, maupun masalah pribadi lainnya. Ketika seseorang tidak mampu menghadapi tekanan dengan baik, hal tersebut dapat mempengaruhi kesehatan mental dan membuat seseorang kehilangan semangat untuk berkembang.

Menurut saya, seseorang yang resilien bukan berarti tidak pernah sedih atau tidak pernah gagal, tetapi mampu bangkit dan tetap melanjutkan hidup meskipun berada dalam situasi yang sulit. Salah satu cara untuk membangun resiliensi adalah dengan mencari coping behavior yang sehat dan positif. Misalnya dengan mendengarkan musik, olahraga, berjalan-jalan, menulis, atau melakukan aktivitas yang disukai agar emosi dapat tersalurkan dengan baik. Selain itu, dukungan dari orang terdekat juga sangat penting karena dapat membantu seseorang merasa lebih dihargai dan tidak sendirian ketika menghadapi masalah.

Tips kedua adalah berani melakukan perubahan menjadi lebih baik. Banyak orang ingin sukses, tetapi masih sulit meninggalkan kebiasaan buruk yang dimilikinya. Padahal perubahan tidak harus dimulai dari hal besar. Menurut saya, perubahan dapat dimulai dari kebiasaan kecil seperti belajar disiplin waktu, mengurangi rasa malas, membuat jadwal kegiatan, mengatur pola hidup lebih sehat, dan mencoba hal-hal baru yang bermanfaat.

Seseorang yang mau berubah biasanya memiliki keinginan untuk berkembang dan memperbaiki kualitas dirinya. Proses perubahan memang tidak mudah karena membutuhkan konsistensi, niat, dan kesabaran. Namun, perubahan kecil yang dilakukan secara terus-menerus akan memberikan dampak yang besar bagi kehidupan seseorang di masa depan. Oleh karena itu, seseorang perlu membiasakan diri untuk keluar dari zona nyaman dan tidak takut mencoba pengalaman baru.

Resiliensi dan keberanian untuk berubah merupakan dua hal yang saling berhubungan. Ketika seseorang memiliki mental yang kuat, ia akan lebih siap menghadapi perubahan dan tantangan dalam hidup. Sebaliknya, perubahan yang positif juga membantu seseorang berkembang menjadi pribadi yang lebih dewasa, disiplin, dan percaya diri. Dengan memiliki dua hal tersebut, generasi muda diharapkan mampu menjadi pribadi yang lebih baik serta dapat memberikan pengaruh positif bagi lingkungan sekitarnya.

Daftar Pustaka

American Psychological Association. (2023). Building your resilience. Diakses dari http://www.apa.org/topics/resilience/building-your-resilience

Link Video

https://youtube.com/shorts/fkeEjrsJvkA

https://youtube.com/shorts/SsgI8ldn3Rs

18.5.26

Esai 1_Meringkas Jurnal


Esai 1 - Meringkas Jurnal tentang Entrepreneurship

Nama : Wulandari Purnama Dewi

NIM   : 23310410119

Mata Kuliah : Psikologi Inovasi

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta M.A



 Entrepreneurship Dalam Mencetak Studentpreneur  

Imroatun Nafisah & Aang Kunaifi, 2024 

Penelitian   ini bertujuan mengkaji bagaimana penerapan pendidikan kewirausahaan di perguruan tinggi dapat membentuk mahasiswa menjadi studentpreneur. Penulis ingin melihat sejauh mana program kewirausahaan berpengaruh terhadap pemahaman konsep, pengembangan keterampilan praktis, dan peningkatan minat mahasiswa untuk memulai usaha sejak masih kuliah.

Metode Penelitian  menggunakan kajian literatur dengan pendekatan analisis deskriptif :

  • Kajian literatur : Penulis mengumpulkan berbagai teori, jurnal, dan literatur terkait entrepreneurship, karakter wirausaha, dan implementasi program kewirausahaan di perguruan tinggi.
  • Analisis deskriptif : Data dan konsep yang diperoleh diuraikan secara sistematis untuk menjelaskan proses, hambatan, dan dampak penerapan entrepreneurship di lingkungan akademik. 
  • Pembahasan 

Bagian pembahasan menekankan bahwa entrepreneurship di kampus harus dijalankan secara komprehensif. Kalau hanya mengandalkan teori di kelas, hasilnya kurang maksimal. Ada 3 komponen utama yang dibahas:

  • Pendidikan Kewirausahaan di Kelas  : Mata kuliah kewirausahaan berfungsi untuk menanamkan dasar berpikir wirausaha, seperti cara melihat peluang, manajemen risiko, dan perencanaan bisnis. Tujuannya mengubah mindset mahasiswa dari pencari kerja menjadi pencipta kerja.

  • Pelatihan dan Pendampingan  : Selain teori, mahasiswa perlu ikut pelatihan praktis seperti workshop bisnis, seminar dengan praktisi, dan program inkubasi. Di sini mahasiswa belajar langsung cara menyusun proposal usaha, membuat prototype produk, dan strategi pemasaran sederhana.

  • Praktik Usaha Nyata : Tahap ini penting supaya mahasiswa nggak berhenti di wacana. Dengan bimbingan dosen atau mentor, mahasiswa diajak menjalankan usaha kecil di lingkungan kampus. Proses ini melatih mentalitas, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kemampuan memecahkan masalah di lapangan.

Penulis juga menghubungkan proses ini dengan aspek psikologi. Menjadi studentpreneur butuh motivasi berprestasi yang tinggi, selfefficacy atau keyakinan diri, serta ketahanan mental saat menghadapi kegagalan. Jadi pendidikan kewirausahaan bukan cuma soal bisnis, tapi juga pembentukan karakter.


Hasil penelitian dari kajian yang dilakukan, penerapan program entrepreneurship di perguruan tinggi menunjukkan dampak positif:

  • Terbentuknya karakter wirausaha seperti mandiri, kreatif, disiplin, dan berorientasi pada solusi.
  • Meningkatnya minat mahasiswa untuk memulai usaha sendiri selama kuliah.
  • Mahasiswa menjadi lebih siap menghadapi dunia kerja karena sudah punya pengalaman praktis dan mentalitas yang lebih tangguh.

Kesimpulannya perguruan tinggi memegang peran strategis dalam mencetak studentpreneur. Keberhasilan program entrepreneurship tergantung pada seberapa komprehensif pendekatan yang digunakan dan seberapa kuat dukungan institusi dalam menyediakan ekosistem yang kondusif. Dengan ekosistem yang tepat, mahasiswa tidak hanya siap bekerja, tapi juga mampu menciptakan lapangan kerja baru.

Relevansi dengan ilmu psikologi, proses menjadi studentpreneur sangat berkaitan dengan pembentukan mindset dan karakter. Konsep motivasi berprestasi, kepercayaan diri, dan resiliensi yang dipelajari di psikologi terlihat nyata dalam perjalanan mahasiswa yang berwirausaha.



17.5.26

Essay 2 - Psikologi Inovasi : Wawancara tentang Disonansi Kognitif - Ainun Awanda Frisca (24310430013)

Disonansi Kognitif Tenaga Kesehatan terhadap Perilaku Merokok 

Nama : Ainun Awanda Frisca

NIM : 24310430013

Mata Kuliah : Psikologi Inovasi

Esai 2

Wawancara tentang Disonansi Kognitif

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A

Mei 2026

Leon Festinger memperkenalkan Cognitive Dissonance Theory (CDT) pada tahun 1957 sebagai salah satu teori penting dalam psikologi sosial yang menjelaskan proses perubahan sikap dan perilaku individu. Teori ini menjelaskan bahwa seseorang akan merasakan ketidaknyamanan secara psikologis ketika terdapat ketidaksesuaian antara keyakinan, sikap, dan perilaku yang dimilikinya. Teori ini tetap dipandang relevan hingga saat ini karena mampu menjelaskan berbagai fenomena modern, seperti perilaku konsumsi media, kebiasaan kesehatan, dan proses pengambilan keputusan dalam bidang ekonomi.

Pada 28 April 2026, saya berkesempatan melakukan wawancara dengan seorang perawat berinisial SA yang berusia 35 tahun dan bekerja di salah satu rumah sakit swasta di Yogyakarta. SA telah bekerja di rumah sakit tersebut sejak tahun 2018. Dalam aktivitas sehari-harinya, SA menjalankan tanggung jawab profesional yang besar terkait pelayanan dan kesehatan pasien. SA juga memahami pentingnya menerapkan pola hidup sehat, baik untuk dirinya sendiri maupun sebagai teladan bagi pasien yang dirawatnya. Saat saya menanyakan apakah SA memiliki kebiasaan merokok, SA menjawab, “Ya, saya biasanya merokok setelah pulang kerja. Saya akan berhenti di suatu tempat beberapa kilometer dari rumah sakit untuk merokok terlebih dahulu.” SA kemudian menceritakan bahwa kebiasaan merokok mulai muncul sekitar tahun 2020. Awalnya, kebiasaan tersebut bukan berasal dari keinginan pribadi, melainkan dipengaruhi oleh lingkungan pergaulan di tempat kerja. SA mengaku mulai mencoba merokok karena mengikuti rekan-rekan kerjanya saat waktu istirahat. Pada awalnya hanya sebatas mencoba, namun seiring waktu kebiasaan itu berkembang hingga menjadi sulit dihentikan.

SA menyadari sepenuhnya bahwa merokok memiliki dampak negatif bagi kesehatan. SA juga merasa ada konflik batin karena perilaku tersebut tidak sejalan dengan nilai-nilai profesinya. Sebagai seorang perawat, SA mengatakan “saya sebagai nakes saat melakukan edukasi selalu saya katakan pada pasien jika kecanduan merokok seperti saya akan sulit berhenti.” Namun di sisi lain ia sendiri masih melakukannya. Hal ini menimbulkan rasa bersalah dan ketidaknyamanan dalam dirinya. Adanya faktor ketergantungan, baik secara fisik maupun psikologis, yang membuatnya kesulitan untuk berhenti. Selain itu, lingkungan kerja yang masih memiliki rekan-rekan perokok juga menjadi tantangan tersendiri. SA merasa bahwa kebiasaan tersebut sudah menjadi bagian dari rutinitas, terutama saat menghadapi stres atau kelelahan setelah bekerja. Di sisi lain, terdapat keinginan yang kuat dalam dirinya untuk berhenti merokok “saat badan tidak enak ada keinginan untuk berhenti merokok, dan bahkan jauh dalam lubuk hati setelah satu bungkus ini habis saya akan berhenti merokok namun, kenyataannya masih tetap membeli merokok”. SA menyadari bahwa perubahan perlu dilakukan demi kesehatan jangka panjang dan integritas sebagai tenaga medis. SA juga menyatakan kesediaannya untuk berhenti jika menemukan cara yang tepat dan efektif.

Dari hasil wawancara ini menunjukkan adanya konflik antara pengetahuan, tanggung jawab profesional, dan kebiasaan pribadi. Meskipun terjebak dalam kebiasaan merokok, perawat tersebut memiliki kesadaran diri yang baik serta motivasi untuk berubah. Hal ini menjadi titik awal yang penting dalam proses berhenti merokok, terutama jika didukung dengan strategi yang sesuai dan lingkungan yang mendukung.



Festinger, L. (1957). A theory of cognitive dissonance. Stanford University Press.

Yusron, K., M., Fasya, L., H., B, J., A., K., & Nurindah, S. (2025). Analisis Bibliometrik Terhadap Cognitive Dissonance Theory pada Bidang Ilmu Sosial Tahun 2016 - 2025. Jurnal Sarjana Ilmu Komunikasi, 6(2), 290-312. https://jurnal.umb.ac.id/index.php/jsikom/article/view/9198