Disonansi Kognitif Tenaga Kesehatan terhadap Perilaku Merokok
Nama : Ainun Awanda Frisca
NIM : 24310430013
Mata Kuliah : Psikologi Inovasi
Esai 2
Wawancara tentang Disonansi Kognitif
Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A
Mei 2026
Leon Festinger memperkenalkan Cognitive Dissonance Theory (CDT) pada tahun 1957 sebagai salah satu teori penting dalam psikologi sosial yang menjelaskan proses perubahan sikap dan perilaku individu. Teori ini menjelaskan bahwa seseorang akan merasakan ketidaknyamanan secara psikologis ketika terdapat ketidaksesuaian antara keyakinan, sikap, dan perilaku yang dimilikinya. Teori ini tetap dipandang relevan hingga saat ini karena mampu menjelaskan berbagai fenomena modern, seperti perilaku konsumsi media, kebiasaan kesehatan, dan proses pengambilan keputusan dalam bidang ekonomi.
Pada 28 April 2026, saya berkesempatan melakukan wawancara dengan seorang perawat berinisial SA yang berusia 35 tahun dan bekerja di salah satu rumah sakit swasta di Yogyakarta. SA telah bekerja di rumah sakit tersebut sejak tahun 2018. Dalam aktivitas sehari-harinya, SA menjalankan tanggung jawab profesional yang besar terkait pelayanan dan kesehatan pasien. SA juga memahami pentingnya menerapkan pola hidup sehat, baik untuk dirinya sendiri maupun sebagai teladan bagi pasien yang dirawatnya. Saat saya menanyakan apakah SA memiliki kebiasaan merokok, SA menjawab, “Ya, saya biasanya merokok setelah pulang kerja. Saya akan berhenti di suatu tempat beberapa kilometer dari rumah sakit untuk merokok terlebih dahulu.” SA kemudian menceritakan bahwa kebiasaan merokok mulai muncul sekitar tahun 2020. Awalnya, kebiasaan tersebut bukan berasal dari keinginan pribadi, melainkan dipengaruhi oleh lingkungan pergaulan di tempat kerja. SA mengaku mulai mencoba merokok karena mengikuti rekan-rekan kerjanya saat waktu istirahat. Pada awalnya hanya sebatas mencoba, namun seiring waktu kebiasaan itu berkembang hingga menjadi sulit dihentikan.
SA menyadari sepenuhnya bahwa merokok memiliki dampak negatif bagi kesehatan. SA juga merasa ada konflik batin karena perilaku tersebut tidak sejalan dengan nilai-nilai profesinya. Sebagai seorang perawat, SA mengatakan “saya sebagai nakes saat melakukan edukasi selalu saya katakan pada pasien jika kecanduan merokok seperti saya akan sulit berhenti.” Namun di sisi lain ia sendiri masih melakukannya. Hal ini menimbulkan rasa bersalah dan ketidaknyamanan dalam dirinya. Adanya faktor ketergantungan, baik secara fisik maupun psikologis, yang membuatnya kesulitan untuk berhenti. Selain itu, lingkungan kerja yang masih memiliki rekan-rekan perokok juga menjadi tantangan tersendiri. SA merasa bahwa kebiasaan tersebut sudah menjadi bagian dari rutinitas, terutama saat menghadapi stres atau kelelahan setelah bekerja. Di sisi lain, terdapat keinginan yang kuat dalam dirinya untuk berhenti merokok “saat badan tidak enak ada keinginan untuk berhenti merokok, dan bahkan jauh dalam lubuk hati setelah satu bungkus ini habis saya akan berhenti merokok namun, kenyataannya masih tetap membeli merokok”. SA menyadari bahwa perubahan perlu dilakukan demi kesehatan jangka panjang dan integritas sebagai tenaga medis. SA juga menyatakan kesediaannya untuk berhenti jika menemukan cara yang tepat dan efektif.
Dari hasil wawancara ini menunjukkan adanya konflik antara pengetahuan, tanggung jawab profesional, dan kebiasaan pribadi. Meskipun terjebak dalam kebiasaan merokok, perawat tersebut memiliki kesadaran diri yang baik serta motivasi untuk berubah. Hal ini menjadi titik awal yang penting dalam proses berhenti merokok, terutama jika didukung dengan strategi yang sesuai dan lingkungan yang mendukung.
Festinger, L. (1957). A theory of cognitive dissonance. Stanford University Press.
Yusron, K., M., Fasya, L., H., B, J., A., K., & Nurindah, S. (2025). Analisis Bibliometrik Terhadap Cognitive Dissonance Theory pada Bidang Ilmu Sosial Tahun 2016 - 2025. Jurnal Sarjana Ilmu Komunikasi, 6(2), 290-312. https://jurnal.umb.ac.id/index.php/jsikom/article/view/9198

0 komentar:
Posting Komentar