17.5.26

ESSAI 4 - MY BEST COPING BEHAVIOR (PSIKOLOGI INOVASI)

 MIMPI YANG TIDAK PERNAH SAYA RELAKAN


Nama : Devi Nur Hasanah

NIM : 23310410117

Mata Kuliah : Psikologi Inovasi 

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta M.A.




Pada tahun 2018, saat duduk di bangku kelas XII SMA, saya berhasil mendapatkan tiga beasiswa. Seharusnya itu menjadi salah satu momen paling membahagiakan dalam hidup saya. Namun, di balik ucapan selamat dari teman-teman dan harapan untuk melanjutkan pendidikan, saya justru harus menerima kenyataan pahit. Kedua orang tua saya menolak semua beasiswa tersebut karena mereka meyakini bahwa perempuan tidak perlu menempuh pendidikan tinggi maupun membangun karier. Menurut mereka, perempuan yang baik seharusnya belajar memasak dan mempersiapkan diri menjadi istri serta ibu rumah tangga.

Pada saat itu saya merasa hidup sangat tidak adil. Saya percaya bahwa dukungan keluarga adalah hal mendasar yang seharusnya dimiliki setiap anak, tetapi justru itu menjadi sesuatu yang sangat sulit untuk saya dapatkan. Saya merasa sedih, marah, kecewa, dan kehilangan harapan. Saya sudah berusaha meyakinkan orang tua hingga batas akhir penerimaan beasiswa, tetapi keputusan mereka tidak berubah. Saya mengurung diri di kamar selama beberapa waktu dan merasa kehilangan arah terhadap masa depan saya sendiri.

Seiring berjalannya waktu, pada April 2019 saya memutuskan untuk mengikuti kursus Bahasa Inggris di Pare, Kediri. Walaupun harus melalui perdebatan panjang, akhirnya orang tua saya mengizinkan. Beberapa bulan kemudian saya kembali mencoba mengikuti tes beasiswa di salah satu kampus swasta di Surabaya, namun saya belum berhasil lolos. Saat melihat teman-teman seangkatan mulai menjalani kehidupan perkuliahan, saya kembali merasa iri dan mempertanyakan mengapa hidup saya terasa jauh lebih sulit dibandingkan mereka.

Namun perlahan saya mulai menyadari bahwa terus menyalahkan keadaan tidak akan mengubah apapun. Saya tidak dapat mengubah keputusan orang tua pada masa lalu, tetapi saya masih dapat menentukan masa depan saya sendiri. Dari yang awalnya lebih banyak menggunakan emotional coping dengan mengurung diri dan meratapi keadaan, saya mulai beralih menggunakan problem-focused coping dengan mencari solusi nyata. Pada tanggal 16 Juni 2019, saya memutuskan pindah dari Sidoarjo ke Yogyakarta untuk bekerja dan mengumpulkan uang agar dapat melanjutkan kuliah dengan hasil kerja keras saya sendiri. Saya ingin membuktikan bahwa saya tetap bisa memperjuangkan mimpi saya meskipun harus melalui jalan yang berbeda.

Perjalanan tersebut tidak mudah. Saya pernah merasa lelah, kehilangan semangat, bahkan sempat berpikir untuk menyerah dan hanya fokus bekerja. Namun ternyata mimpi itu tidak pernah benar-benar saya relakan, mimpi itu tetap ada di hati saya. Pada tanggal 16 Februari 2024, saya akhirnya mantap melanjutkan kuliah dan memilih Program Studi Psikologi di Universitas Proklamasi 45. Saya memilih kelas karyawan sambil tetap bekerja. Meskipun jalan yang saya tempuh berbeda dari apa yang dulu saya bayangkan, saya merasa bangga karena mampu memperjuangkannya dengan kemampuan saya sendiri.

Pengalaman pahit tersebut tidak membuat saya menyerah, tetapi justru memahat saya menjadi pribadi yang lebih kuat, mandiri, dan berani memperjuangkan mimpi saya sendiri.

0 komentar:

Posting Komentar