19.5.26

ESSAY 2 Fairus Adhytia - WAWANCARA MENGENAI DISONANSI KOGNITIF

 

Fairus Adhytia Setiawan

23310410112 (Kelas Karyawan)

Psikologi Inovasi

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta., M.A.

Mei 2026


PERANG DENGAN DIRI SENDIRI
"DISONANSI KOGNITIF"



Disonansi kognitif adalah konsep dalam psikologi sosial yang mengacu pada ketidaknyamanan mental yang mucul ketika seseorang memegang dua atau lebih keyakinan, sikap, atau nilai yang bertentangan atau ketika tindakan seseorang bertentangan dengan keyakinan sendiri. Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh psikolog Leon Festinger pada tahun 1957 melalui bukunya A Theory of Cognitive Dissonance. Festinger berargumen bahwa ketidakselarasan ini menciptakan tekanan psikologis yang mendorong individu untuk mengurangi "pertentangan batin" tersebut dengan cara mengubah salah satu dari kognisi yang bertentangan.

"Manusia secara alami membutuhkan konsistensi antara apa yang mereka percayai dan apa yang mereka lakukan. Ketika keduanya bertabrakan, pikiran akan mencari jalan keluar."
-Leon Festinger-

Pada tanggal 1 May 2026 saya bertemu dengan narasumber "TF" berusia 32 tahun di suatu kafe, dia adalah seorang karyawan desain yang juga seniman di kehidupan sehari-harinya. Narasumber mengatakan bahwa dirinya mengetahui bahaya rokok bagi kesehatan, seperti risiko penyakit paru-paru, gangguan jantung, dan kecanduan nikotin. Bahkan, ia juga mengaku sering melihat peringatan bahaya merokok pada bungkus rokok maupun media sosial. Namun, meskipun mengetahui dampak buruknya, narasumber tetap merokok hampir setiap hari. Menurutnya, rokok membantu mengurangi stres, membuat pikiran lebih tenang, dan menjadi bagian dari pergaulan bersama teman-temannya. Di sinilah muncul disonansi kognitif, yaitu konflik antara pengetahuan bahwa merokok berbahaya dengan perilaku tetap merokok.

Narasumber mengaku kadang merasa bersalah setelah merokok, terutama ketika mengingat kesehatan diri sendiri dan keluarga. Akan tetapi, untuk mengurangi rasa tidak nyaman tersebut, ia biasanya mencari pembenaran seperti mengatakan bahwa “semua orang pasti punya kebiasaan buruk”, “yang penting tidak berlebihan”, atau “banyak perokok yang tetap sehat”. Pernyataan tersebut menjadi cara untuk menenangkan pikiran agar perilaku merokok terasa lebih dapat diterima. Selain itu, narasumber juga mengatakan bahwa berhenti merokok bukan hal yang mudah karena sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. Faktor lingkungan pertemanan dan rasa kecanduan membuatnya sulit berhenti meskipun memiliki keinginan untuk hidup lebih sehat.

Dari hasil wawancara ini dapat disimpulkan bahwa disonansi kognitif pada perokok terjadi karena adanya pertentangan antara kesadaran akan bahaya rokok dan kebiasaan merokok yang tetap dilakukan. Untuk mengurangi ketidaknyamanan psikologis tersebut, individu biasanya mencari alasan atau pembenaran atas perilakunya. Fenomena ini menunjukkan bahwa perilaku manusia tidak selalu sejalan dengan pengetahuan yang dimiliki.


Daftar Pustaka:
Festinger, L. (1957). A Theory of Cognitive Dissonance. Stanford University Press.


0 komentar:

Posting Komentar