4.3.26

UJIAN REMEDIAL SEMESTER  – Maret 2026 

Fak. Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

NAMA                                : Amanda Salsabila (24310410018)

MATA KULIAH / DOSEN    : Psikologi Lingkungan Kelas SJ & SP / Arundati Shinta

HARI / TANGGAL                Rabu 4 Maret 2026 pukul 12.00 – 17.00 WIB




ANALISIS KRITIS HIERARKI PENGELOLAAN LIMBAH
DAN IMPLEMENTASI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SAMPAH DI INDONESIA

Masalah sampah di Indonesia semakin hari semakin serius. Jumlah penduduk yang terus bertambah dan kebiasaan masyarakat yang masih banyak menggunakan barang sekali pakai membuat volume sampah meningkat setiap tahun. Karena itu, diperlukan cara pengelolaan sampah yang tepat agar tidak menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan.

Salah satu konsep yang sering digunakan dalam pengelolaan sampah adalah hirarki pengelolaan limbah. Konsep ini menjelaskan urutan tindakan dari yang paling disarankan sampai yang paling tidak disarankan dalam menangani sampah.

Dalam gambar yang ditampilkan, terdapat enam tahapan pengelolaan limbah, yaitu:

1. Prevention (Pencegahan)

2. Reduce (Mengurangi)

3. Recycle (Daur ulang)

4. Reuse (Menggunakan kembali)

5. Energy recovery (Pemulihan energi)

6. Disposal (Pembuangan akhir)

Urutan tersebut menunjukkan bahwa semakin ke atas, semakin baik untuk lingkungan.

1. Prevention (Pencegahan)

Pencegahan adalah langkah paling baik karena sampah tidak jadi diproduksi sejak awal. Contohnya seperti mengurangi belanja berlebihan, memilih produk yang tahan lama, atau menghindari penggunaan plastik sekali pakai. Kalau sampah tidak muncul, maka tidak perlu repot mengolahnya.

2. Reduce (Mengurangi)

Reduce berarti mengurangi penggunaan barang yang berpotensi menjadi sampah. Misalnya membawa tas belanja sendiri, menggunakan botol minum isi ulang, atau membeli secukupnya saja. Cara ini cukup efektif untuk menekan jumlah sampah.

3. Reuse (Menggunakan kembali)

Reuse berarti memakai kembali barang yang masih bisa digunakan. Contohnya menggunakan kembali wadah makanan atau memanfaatkan pakaian lama. Cara ini membantu memperlambat bertambahnya sampah.

4. Recycle (Daur ulang)

Recycle adalah mengolah sampah menjadi barang baru. Walaupun cukup baik, proses daur ulang tetap membutuhkan energi dan biaya. Tidak semua jenis sampah juga bisa didaur ulang dengan mudah.

5. Energy Recovery (Pemulihan Energi)

Energy recovery dilakukan dengan cara membakar sampah menggunakan insinerator untuk menghasilkan listrik. Cara ini bisa mengurangi volume sampah secara cepat dan menghasilkan energi. Namun, pembakaran sampah bisa menimbulkan polusi udara jika tidak dikelola dengan baik.

6. Disposal (Pembuangan Akhir)

Disposal adalah tahap terakhir, biasanya dibuang ke TPA. Cara ini paling tidak disarankan karena bisa mencemari tanah, air, dan menghasilkan gas berbahaya seperti metana.

Dalam teks soal disebutkan bahwa strategi yang paling disarankan adalah strategi yang menghasilkan energi melalui insinerator. Menurut saya, pernyataan ini kurang tepat.

Dalam konsep hirarki limbah, yang paling disarankan adalah prevention dan reduce, bukan energy recovery. Insinerator memang bisa mengurangi volume sampah dan menghasilkan listrik, tetapi itu bukan solusi utama. Cara terbaik tetaplah mengurangi produksi sampah dari awal.

Kalau pemerintah terlalu fokus pada insinerator, bisa saja masyarakat menjadi kurang peduli untuk mengurangi sampah karena merasa sampah nantinya akan dibakar juga. Padahal, inti dari pengelolaan sampah yang baik adalah mengubah perilaku masyarakat agar lebih sadar lingkungan.

Hirarki pengelolaan limbah menunjukkan bahwa langkah terbaik adalah mencegah dan mengurangi sampah sejak awal. Daur ulang dan penggunaan kembali juga penting. Sedangkan pembakaran sampah untuk energi bisa menjadi solusi tambahan, tetapi bukan yang utama.

Jadi, menurut saya, pembangunan insinerator boleh saja dilakukan, terutama di kota besar yang lahannya terbatas. Namun, yang lebih penting adalah edukasi masyarakat agar menerapkan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa perubahan perilaku, masalah sampah tidak akan selesai.


Daftar Pustaka

Chowdhury, A. H., Mohammad, N., Ul Haque, M. R., & Hossain, T. (2014). Developing 3Rs (Reduce, Reuse and Recycle) strategy for waste management in urban areas. IOSR Journal of Environmental Science, Toxicology and Food Technology, 8(5), 9–18.

Gifford, R. (2014). Environmental psychology matters. Annual Review of Psychology, 65, 541–579.

United Nations Environment Programme (UNEP). (2015). Global Waste Management Outlook. Nairobi: UNEP.

World Bank. (2018). What a Waste 2.0: A Global Snapshot of Solid Waste Management to 2050. Washington, DC: World Bank.

20.1.26

ESAI KE-7 My Biggets Achievement

PRESTASI TERBESAR SAYA DI TAHUN 2025 BISA MENDAPATKAN PENGHARGAAN DARI LOMBA ESAI BERTARAF NASIONAL 


Saya Pribadi Bangga pada pencapaian yang saya alami di Tahun 2025, dengan mengikuti Lomba Esai, karena dengan itu saya mengakui kerja keras, membangun kepercayaan diri, dan memotivasi untuk maju, baik pencapaian besar maupun kecil seperti menyelesaikan tugas atau mengatasi kesulitan, yang penting adalah menghargai proses dan melihat perkembangan diri untuk meningkatkan harga diri dan membuka peluang baru, sebagai Seorang Penulis. Kadang kita harus Hindari membanggakan diri secara berlebihan atau membandingkan diri dengan orang lain, fokuslah pada perjalanan pribadi dan apresiasi diri sebagai bentuk rasa syukur yang saya alami saat ini, saat mencapai satu prestasi. Kali ini saya Merasa bangga membuat saya lebih berusaha keras dan menemukan kepuasan dalam pencapaian, sekecil apapun itu. Saya Sampaikan terima kasih kepada mereka yang mendukung, dan memberikan ide atau motivasi, Khusus Buat Ibu ARUNDATI SHINTA, ibu dosen saya yang sangat baik hati dan penyayang, karena ibu saya bisa termotivasi mengikuti lomba menulis esai, dan juga menyelesaikan tugas Matakuliah Psikologi Inovasi. Saya Membicarakan kesuksesan secara positif dapat membantu saya merasa lebih baik dan membuka pintu peluang dalam mempunyai Bisnis. Saya bisa Rayakan keberhasilan kecil sebagai bentuk apresiasi atas usaha saya saat menulis esai, seperti berhasil melewati hari yang sulit. Intinya adalah keyakinan bahwa setiap langkah dan perjuangan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh tidak akan sia-sia. Hasil yang baik datang dari usaha yang baik, mengajarkan karakter tangguh dan perbaikan diri yang saya alami. Karena saya selalu merasa malas untuk melakukan sesuatu tentang menulis. Kesungguhan perlu diiringi doa dan penyerahan diri kepada Tuhan, karena hasil akhir juga bergantung pada kehendak-Nya. Hasil bisa berupa pembelajaran, pengalaman, atau hikmah, tidak selalu berupa materi yang langsung terlihat, jadi setiap proses ada ujian yang perlu kita coba dan korbankan seperti waktu kita. Saat Mencoba namun gagal adalah bagian alami dari proses hidup dan belajar, bukan akhir segalanya; kegagalan menunjukkan Anda berani mengambil risiko dan keluar dari zona nyaman, kata ibu Shinta dosen saya itu, dan menawarkan pelajaran berharga untuk bangkit kembali dengan strategi lebih baik, karena lebih baik gagal setelah mencoba daripada tidak pernah mencoba sama sekali, seperti kata pepatah, kegagalan adalah batu loncatan menuju kesuksesan. Media sosial dapat kita manfaatkan sebagai sumber keuntungan dan pelajaran hidup. Akhirnya saya bisa mempunya sertifikat yang diberikan, 
Gagal setelah mencoba memberi Anda pengalaman dan pelajaran, sedangkan tidak mencoba berarti kegagalan pasti terjadi tanpa ada hasil apa pun. Setiap kegagalan adalah kesempatan untuk belajar tentang kekuatan, kesabaran, dan ketekunan. Orang sukses adalah mereka yang terus bangkit setelah jatuh. Trima kasih Banyak Ibu Untuk Satu Semester di Tahun 2025. 


Daftar Pustaka: 

Cahyadi, W. 2022. Pemanfaatan Media Terhadap Keberhasilan Wirausaha. Pt Inovasi Pratama Internasional, Medan. 

Chaniago, A. 2017. Pemimpin dan Kepemimpinan: Pendekatan Teori dan Studi Kasus. Lentera Ilmu Cendekia, Jakarta. 

Enceng. & Aslichati, L. 2014. Konsep Dasar Kepempimpinan. Universitas Terbuka, Tangerang Selatan. 


19.1.26

ESSAI 5- Partisipasi Lomba Menulis sebagai Upaya Merancang Keberuntungan dalam Kehidupan Sehari-hari

 

Partisipasi Lomba Menulis sebagai Upaya Merancang Keberuntungan dalam Kehidupan Sehari-hari

Naufal Abyansah_23310410019 Psikologi Inovasi_Tugas Esai 5

Dosen Pengampu: Arundati Shinta, M.A Januari, 2026

Gambar 1.1 (Sertifikat Lomba Cipta Puisi)

 

Keberuntungan sering kali dipahami sebagai sesuatu yang datang secara tiba-tiba dan tidak dapat direncanakan. Namun, melalui pendekatan psikologi, keberuntungan justru dapat dibangun melalui kesiapan mental, keberanian mengambil peluang, serta konsistensi dalam berproses. Dalam mata kuliah ini, mahasiswa tidak hanya diajak memahami konsep merancang keberuntungan secara teoritis, tetapi juga menerapkannya melalui pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu bentuk penerapan tersebut adalah dengan berpartisipasi dalam berbagai lomba, khususnya lomba menulis, yang menjadi sarana pengembangan diri sekaligus latihan mental.

Pengalaman pertama saya adalah mengikuti lomba cipta puisi tingkat nasional dengan judul karya Rindu yang Tidak Meminta Pulang. Proses kreatif penulisan puisi ini berawal dari refleksi emosi pribadi yang kemudian saya tuangkan ke dalam bentuk karya sastra. Tantangan terbesar dalam proses ini bukan hanya pada pemilihan diksi, tetapi juga keberanian untuk mengekspresikan perasaan secara jujur. Saya sempat merasakan keraguan dan ketakutan akan penilaian orang lain terhadap karya saya. Namun, melalui proses tersebut, saya belajar


mengelola emosi dan menjadikannya sebagai kekuatan kreatif. Proses ini saya anggap sebagai latihan untuk mengasah kepekaan emosi serta kemampuan regulasi emosi, yang sangat relevan dengan aspek psikologis dalam kehidupan sehari-hari.

Pengalaman kedua adalah mengikuti event menulis artikel nasional dengan judul Belajar Mengenali Emosi Lewat Proses Menulis. Berbeda dengan puisi yang lebih bersifat ekspresif, penulisan artikel menuntut pola pikir yang lebih sistematis dan reflektif. Dalam prosesnya, saya belajar menyusun gagasan secara runtut, mengaitkan pengalaman pribadi dengan pemahaman konseptual, serta menyampaikan ide secara logis. Melalui latihan menulis artikel ini, saya merasakan peningkatan kesadaran diri, terutama dalam memahami bagaimana emosi memengaruhi cara berpikir dan pengambilan keputusan. Pengalaman ini juga melatih saya untuk berpikir lebih matang dan terarah.




Gambar 1.2 (Submit Artikel Lomba Menulis)

 

Jika dikaitkan dengan psikologi dan inovasi, kedua pengalaman lomba tersebut membentuk growth mindset dalam diri saya. Keberanian untuk mencoba, meskipun tanpa kepastian menang, merupakan bentuk latihan psikologis yang penting. Partisipasi dalam lomba menjadi sarana untuk merancang keberuntungan melalui proses belajar, latihan, dan evaluasi diri secara berkelanjutan. Inovasi dalam hal ini tidak selalu berarti menciptakan sesuatu yang sepenuhnya baru, tetapi mengembangkan cara pandang, kebiasaan, dan kesiapan mental dalam melihat peluang.

Sebagai penutup, partisipasi dalam lomba menulis memberikan dampak nyata dalam kehidupan sehari-hari saya, seperti meningkatnya kepercayaan diri, kemampuan mengelola emosi, serta keberanian mencoba hal baru tanpa takut gagal. Melalui pengalaman ini, saya


menyadari bahwa keberuntungan bukanlah hasil kebetulan semata, melainkan sesuatu yang dapat dirancang melalui latihan, keberanian, dan konsistensi dalam berproses.

14.1.26

ESSAI 9 UJIAN AKHIR SEMESTER - DWI INDAH S 23310410042

  Ujian Akhir Semester Mata Kuliah Psikologi Lingkungan

Fakultas Psikologi

Topik Essai: Persepsi Masyarakat Terhadap Sampah

di Tempat Pengungsian

Dr. Dra. Arundati Shinta MA

Oleh DWI INDAH S



23310410042



Dalam kajian psikologi inovasi, karakteristik utama seorang entrepreneur bukan semata kecerdasan atau modal, melainkan dorongan berprestasi yang kuat atau need for achievement (n Achievement). Individu dengan n Achievement tinggi terdorong untuk mencapai tujuan yang menantang namun realistis, sehingga mampu memelihara motivasi dan rasa percaya diri. Konsep ini menjadi penting karena keberhasilan jangka panjang tidak ditentukan oleh tujuan yang mudah maupun yang terlalu sulit, melainkan oleh tujuan yang seimbang dengan kemampuan diri.

Gregor McDouglas menekankan bahwa n Achievement bukanlah sifat bawaan semata, melainkan dapat dilatih. Salah satu cara melatihnya adalah dengan membiasakan diri menulis hal-hal positif dan bersifat kompetitif, serta melibatkan diri dalam berbagai aktivitas yang menantang, seperti kompetisi. Dalam konteks mahasiswa, kebiasaan ini melatih pola pikir berorientasi tujuan, disiplin, dan ketahanan mental. Tanpa latihan semacam ini, individu cenderung pasif dan menunggu peluang datang, bukan menciptakannya.

Permasalahan yang sering muncul adalah banyak individu memiliki potensi, namun gagal berkembang karena menetapkan tujuan yang tidak tepat. Ada yang memilih target terlalu mudah sehingga stagnan, dan ada pula yang memilih target terlalu tinggi sehingga mudah menyerah. Kondisi ini menghambat inovasi diri dan membuat individu sulit bergerak maju. Dalam konteks entrepreneurship, masalah ini sangat krusial karena dunia usaha menuntut ketangguhan, adaptasi, dan keberanian mengambil risiko terukur.

Kasus Ruben dalam The Crocodile River (Harper, 1984) memberikan ilustrasi konkret bagaimana n Achievement dapat menuntun seseorang pada keberuntungan. Perilaku Ruben sejalan dengan teori keberuntungan Robert Wiseman. Pertama, Ruben memilih bergaul dan fokus pada individu yang produktif serta tidak terjebak dalam relasi yang penuh masalah, seperti Lorena. Kedua, Ruben rajin mengembangkan keterampilan diri dan tidak membiarkan energinya tersedot oleh persoalan orang lain. Ketiga, Ruben mampu melihat sisi positif dari potensi musibah dengan melakukan pencegahan dan pengambilan jarak dari situasi berisiko. Keempat, Ruben melatih kejelian dalam mengambil keputusan melalui refleksi dan meditasi, yang meningkatkan kepekaan intuitifnya.

Dari sudut pandang psikologi inovasi, perilaku Ruben menunjukkan bahwa keberuntungan bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari serangkaian keputusan sadar dan konsisten. Ruben merancang keberuntungannya melalui seleksi lingkungan sosial, penguatan kapasitas diri, regulasi emosi, dan ketajaman dalam membaca situasi. Inilah solusi utama dari permasalahan rendahnya dorongan berprestasi: melatih diri secara aktif dan berkelanjutan agar siap menangkap peluang.

Sebagai komentar kritis, pendekatan Ruben memang efektif, namun berpotensi disalahpahami sebagai sikap tidak peduli terhadap orang lain. Oleh karena itu, penting untuk menegaskan bahwa fokus pada diri bukan berarti mengabaikan empati, melainkan menjaga batas psikologis agar energi inovatif tidak habis oleh masalah yang tidak produktif. Dalam konteks modern, individu perlu bijak membedakan antara empati yang membangun dan keterlibatan yang justru menghambat pertumbuhan diri.

Kesimpulannya, n Achievement yang dilatih secara konsisten dapat menuntun individu menjadi lebih inovatif dan beruntung. Keberuntungan bukan hadiah, melainkan hasil dari kesiapan mental, tujuan yang tepat, dan keberanian mengambil keputusan sadar dalam kehidupan sehari-hari.


Daftar Pustaka

Harper, M. (1984). Entrepreneur for the poor. London: Intermediate Technology Publications.
Wiseman, R. (2003). The luck factor: The four essential principles. New York: Hyperion.

ESSAI 7 -MY BIGGEST ACHIVEMENT _ INDAH DWI S 23310410042

 Merayakan Prestasi sebagai Investasi Masa Depan

Tugas Essai 7    :    My Biggest Achievement

Mata Kuliah    :    Psikologi Inovasi

Dosen Pengampu    :    Dr.Dra. Arundati Shinta, MA






DWI INDAH S
(23310410042)

Fakultas Psikologi

Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

        Prestasi bukan hanya tentang pencapaian, tetapi juga tentang proses panjang yang membentuk karakter, cara berpikir, dan keberanian untuk terus bertumbuh. Salah satu prestasi yang paling saya banggakan hingga saat ini adalah keberhasilan saya membangun konsistensi dalam pengembangan diri akademik dan personal, yang diwujudkan melalui berbagai aktivitas kompetitif, proyek pengembangan diri, serta keberanian menampilkan diri di ruang publik secara profesional.

Prestasi ini tidak hadir secara instan. Ia berawal dari keputusan sederhana untuk keluar dari zona nyaman dan berani mencoba berbagai tantangan, meskipun tanpa jaminan hasil sempurna. Saya aktif mengikuti kegiatan akademik, penugasan berbasis publikasi, serta lomba dan proyek pengembangan diri yang menuntut disiplin, kreativitas, dan tanggung jawab pribadi. Dari proses tersebut, saya belajar bahwa keberhasilan bukan hanya tentang menang, tetapi tentang kesiapan mental, ketekunan, dan kemampuan mengelola diri dalam tekanan.

Momen yang paling bermakna adalah ketika saya berani mendokumentasikan dan mempresentasikan pencapaian saya secara terbuka melalui video pidato pribadi. Video ini menjadi arsip perjalanan saya, sekaligus bukti bahwa saya mampu berdiri dengan percaya diri, mengakui hasil kerja keras sendiri tanpa merasa berlebihan. Dalam video tersebut, saya menyampaikan refleksi atas prestasi yang diraih, nilai yang saya pelajari, serta visi saya ke depan.

Prestasi yang saya banggakan bukan semata hasil akhir, melainkan keberanian untuk konsisten, reflektif, dan terus berkembang. Dengan menjadikan pencapaian sebagai arsip hidup, saya menempatkan diri saya sebagai individu yang siap menghadapi peluang lebih besar di masa depan. Bagi saya, mempromosikan diri dengan cara yang keren bukan tentang pamer, tetapi tentang menghargai perjalanan dan menjadikannya inspirasi untuk melangkah lebih jauh.

ESSAI 6 - MELAKUKAN PERUBAHAN DIRI - INDAH DWI S 23310410042

Mengubah Diri Secara Positif dan Konsisten melalui Senam Aerobik: Aplikasi Psikologi Inovasi dalam Kehidupan Sehari-hari


 INDAH DWI S 

23310410042

Psikologi Inovasi

Dosen Pengampu Dr., Dra. ARUNDATI SHINTA, MA

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

 

Pendahuluan

Psikologi inovasi memandang perubahan diri sebagai proses yang dirancang secara sadar, dimulai dari langkah kecil, dilakukan secara konsisten, dan dievaluasi melalui hasil yang terukur. Inovasi dalam konteks ini tidak selalu berbentuk penemuan besar, melainkan pembaruan kebiasaan yang berdampak nyata pada kualitas hidup. Salah satu bentuk aplikasinya adalah olahraga rutin, yang menuntut komitmen, disiplin, serta kemampuan mengelola tantangan internal.

Esai ini bertujuan menjelaskan bagaimana senam aerobik yang dilakukan secara konsisten selama sepuluh minggu dapat menjadi sarana perubahan diri positif dan berkelanjutan dalam perspektif psikologi inovasi.

Deskripsi Kegiatan Senam Aerobik

Kegiatan senam aerobik dilakukan selama 10 minggu berturut-turut, dimulai pada 3 September 2025 hingga 7 November 2025, tanpa terputus. Senam aerobik dilakukan secara individu, dengan durasi minimal 1 jam setiap minggu. Dalam beberapa minggu, senam dilakukan lebih dari satu kali, namun tetap dihitung sebagai satu minggu aktivitas sesuai ketentuan.

Rata-rata durasi senam aerobik per minggu adalah 80 menit. Aktivitas ini dilakukan dengan mengikuti gerakan aerobik dasar hingga intensitas sedang, bertujuan meningkatkan kebugaran jantung, stamina, dan koordinasi tubuh.

Perkembangan Mingguan yang Terukur

Setiap minggu menunjukkan nilai tambah yang terukur. Pada minggu pertama, durasi efektif senam yang dapat dilakukan tanpa kelelahan berlebihan adalah sekitar 40 menit, dengan denyut nadi rata-rata mencapai 120 denyut per menit. Pada minggu keempat, durasi meningkat menjadi 60 menit, dengan denyut nadi lebih stabil di kisaran 115 denyut per menit.

Memasuki minggu ke-10, durasi senam yang dapat dilakukan secara nyaman mencapai 80 menit, dengan denyut nadi rata-rata 110 denyut per menit. Selain itu, skala kelelahan subjektif (skala 1–10) menurun dari 7 pada minggu pertama menjadi 4 pada minggu terakhir. Data ini menunjukkan adanya peningkatan kebugaran fisik yang nyata dan terukur.

Suka dan Duka dalam Proses

Sisi menyenangkan dari kegiatan ini adalah meningkatnya rasa segar, suasana hati yang lebih stabil, serta kepuasan karena mampu menyelesaikan target mingguan. Senam aerobik juga membantu meningkatkan kepercayaan diri karena perubahan fisik dan stamina dapat dirasakan secara langsung.

Namun, duka yang dirasakan adalah rasa malas, kelelahan di awal program, serta godaan untuk melewatkan latihan ketika jadwal padat. Tantangan terbesar adalah menjaga konsistensi, terutama ketika motivasi menurun. Di sinilah prinsip psikologi inovasi bekerja, yaitu dengan memegang komitmen jangka panjang dan fokus pada proses, bukan hasil instan.

Analisis Psikologi Inovasi

Dalam perspektif psikologi inovasi, senam aerobik ini merupakan bentuk designed behavior change. Perubahan diri dirancang melalui kebiasaan kecil, dilakukan konsisten, dan dievaluasi dengan data. Proses ini melatih disiplin, ketangguhan, serta kemampuan mengelola diri secara adaptif. Dampak positifnya terlihat jelas, baik secara fisik maupun psikologis.



Tabel Laporan Progres Senam Aerobik (10 Minggu)

Tabel ini menunjukkan perkembangan terukur setiap minggu sesuai ketentuan tugas.

MingguDurasi Senam (menit)Denyut Nadi Rata-rata (bpm)Skala Kelelahan (1–10)
1601207
2651187
3651176
4701156
5701146
6751135
7751125
8801114
9801104
10801104

Keterangan:

  • Setiap minggu dilakukan minimal 1 jam senam aerobik

  • Nilai tambah terlihat dari peningkatan durasi, penurunan denyut nadi, dan menurunnya kelelahan

  • Rata-rata durasi senam: ±75–80 menit/minggu


Penutup

Kegiatan senam aerobik selama sepuluh minggu membuktikan bahwa perubahan diri dapat dirancang secara positif, konsisten, dan terukur. Dengan pendekatan psikologi inovasi, olahraga bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi sarana pembentukan karakter dan peningkatan kualitas hidup secara berkelanjutan.

Daftar Pustaka

Bandura, A. (1997). Self-efficacy: The exercise of control. New York: Freeman.
Seligman, M. E. P. (2011). Flourish. New York: Free Press.
Wiseman, R. (2003). The luck factor. London: Random House.


ESSAI 5- PARTISIPASI LOMBA -DWI INDAH S 23310410042

 


         Lomba Presentasi ide Kreatif Mahasiswa






Oleh :
DWI INDAH S 23310410042
Dosen Pengampu Dr., Dra. ARUNDATI SHINTA, MA
Program Studi Psikologi
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Tahun 2025 






Pendahuluan

Dalam psikologi inovasi, keberuntungan tidak dipahami sebagai kebetulan semata, melainkan sebagai hasil dari keterbukaan terhadap peluang, kesiapan individu, dan keberanian untuk bertindak. Konsep merancang keberuntungan menekankan bahwa individu dapat meningkatkan peluang sukses melalui partisipasi aktif, eksplorasi pengalaman baru, dan latihan berkelanjutan. Salah satu bentuk aplikasinya adalah dengan mengikuti kompetisi, meskipun tanpa jaminan kemenangan.

Pengalaman Partisipasi Dua Lomba

Pada bulan September 2025, saya berpartisipasi dalam dua kompetisi berbeda. Lomba pertama adalah lomba presentasi ide kreatif mahasiswa, yang menuntut kemampuan berpikir inovatif dan komunikasi persuasif. Proses persiapannya meliputi penyusunan ide, latihan presentasi, serta simulasi tanya jawab. Latihan ini melatih fleksibilitas berpikir dan kesiapan menghadapi ketidakpastian.

Lomba kedua adalah lomba penulisan esai bertema pengembangan diri, yang berfokus pada kemampuan refleksi dan pengolahan gagasan. Proses kreatif yang saya lakukan meliputi membaca referensi, menyusun kerangka tulisan, dan melakukan revisi berulang. Meski tidak memenangkan kedua lomba tersebut, pengalaman yang diperoleh sangat bermakna dalam mengasah kepekaan terhadap peluang dan meningkatkan kepercayaan diri.

Permasalahan dan Analisis Psikologi Inovasi

Permasalahan utama dalam esai ini adalah bagaimana hubungan antara partisipasi lomba dengan psikologi inovasi dalam merancang keberuntungan sehari-hari. Partisipasi lomba mendorong individu keluar dari zona nyaman dan mempertemukannya dengan situasi baru yang menuntut kreativitas serta adaptasi. Dalam perspektif psikologi inovasi, kondisi ini memperbesar kemungkinan munculnya peluang baru, relasi sosial, dan pengalaman belajar yang sebelumnya tidak direncanakan.

Keberuntungan dalam konteks ini bukan hasil menang lomba, melainkan hasil dari proses latihan, keterbukaan terhadap pengalaman, dan keberanian mencoba. Dengan berpartisipasi, individu “menyiapkan diri” agar peluang dapat dikenali dan dimanfaatkan.

Penutup

Partisipasi dalam dua lomba tersebut menunjukkan bahwa keberuntungan dapat dirancang melalui tindakan sadar dan konsisten. Kompetisi menjadi sarana latihan psikologis untuk membangun kreativitas, resiliensi, dan kesiapan menghadapi peluang hidup. Dengan demikian, mengikuti lomba merupakan salah satu aplikasi nyata psikologi inovasi dalam kehidupan sehari-hari.

Daftar Pustaka

Bandura, A. (1997). Self-efficacy: The exercise of control. New York: Freeman.
Seligman, M. E. P. (2011). Flourish. New York: Free Press.
Wiseman, R. (2003). The luck factor. London: Random House.