14.1.26

ESSAI 9 UJIAN AKHIR SEMESTER - DWI INDAH S 23310410042

  Ujian Akhir Semester Mata Kuliah Psikologi Lingkungan

Fakultas Psikologi

Topik Essai: Persepsi Masyarakat Terhadap Sampah

di Tempat Pengungsian

Dr. Dra. Arundati Shinta MA

Oleh DWI INDAH S



23310410042



Dalam kajian psikologi inovasi, karakteristik utama seorang entrepreneur bukan semata kecerdasan atau modal, melainkan dorongan berprestasi yang kuat atau need for achievement (n Achievement). Individu dengan n Achievement tinggi terdorong untuk mencapai tujuan yang menantang namun realistis, sehingga mampu memelihara motivasi dan rasa percaya diri. Konsep ini menjadi penting karena keberhasilan jangka panjang tidak ditentukan oleh tujuan yang mudah maupun yang terlalu sulit, melainkan oleh tujuan yang seimbang dengan kemampuan diri.

Gregor McDouglas menekankan bahwa n Achievement bukanlah sifat bawaan semata, melainkan dapat dilatih. Salah satu cara melatihnya adalah dengan membiasakan diri menulis hal-hal positif dan bersifat kompetitif, serta melibatkan diri dalam berbagai aktivitas yang menantang, seperti kompetisi. Dalam konteks mahasiswa, kebiasaan ini melatih pola pikir berorientasi tujuan, disiplin, dan ketahanan mental. Tanpa latihan semacam ini, individu cenderung pasif dan menunggu peluang datang, bukan menciptakannya.

Permasalahan yang sering muncul adalah banyak individu memiliki potensi, namun gagal berkembang karena menetapkan tujuan yang tidak tepat. Ada yang memilih target terlalu mudah sehingga stagnan, dan ada pula yang memilih target terlalu tinggi sehingga mudah menyerah. Kondisi ini menghambat inovasi diri dan membuat individu sulit bergerak maju. Dalam konteks entrepreneurship, masalah ini sangat krusial karena dunia usaha menuntut ketangguhan, adaptasi, dan keberanian mengambil risiko terukur.

Kasus Ruben dalam The Crocodile River (Harper, 1984) memberikan ilustrasi konkret bagaimana n Achievement dapat menuntun seseorang pada keberuntungan. Perilaku Ruben sejalan dengan teori keberuntungan Robert Wiseman. Pertama, Ruben memilih bergaul dan fokus pada individu yang produktif serta tidak terjebak dalam relasi yang penuh masalah, seperti Lorena. Kedua, Ruben rajin mengembangkan keterampilan diri dan tidak membiarkan energinya tersedot oleh persoalan orang lain. Ketiga, Ruben mampu melihat sisi positif dari potensi musibah dengan melakukan pencegahan dan pengambilan jarak dari situasi berisiko. Keempat, Ruben melatih kejelian dalam mengambil keputusan melalui refleksi dan meditasi, yang meningkatkan kepekaan intuitifnya.

Dari sudut pandang psikologi inovasi, perilaku Ruben menunjukkan bahwa keberuntungan bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari serangkaian keputusan sadar dan konsisten. Ruben merancang keberuntungannya melalui seleksi lingkungan sosial, penguatan kapasitas diri, regulasi emosi, dan ketajaman dalam membaca situasi. Inilah solusi utama dari permasalahan rendahnya dorongan berprestasi: melatih diri secara aktif dan berkelanjutan agar siap menangkap peluang.

Sebagai komentar kritis, pendekatan Ruben memang efektif, namun berpotensi disalahpahami sebagai sikap tidak peduli terhadap orang lain. Oleh karena itu, penting untuk menegaskan bahwa fokus pada diri bukan berarti mengabaikan empati, melainkan menjaga batas psikologis agar energi inovatif tidak habis oleh masalah yang tidak produktif. Dalam konteks modern, individu perlu bijak membedakan antara empati yang membangun dan keterlibatan yang justru menghambat pertumbuhan diri.

Kesimpulannya, n Achievement yang dilatih secara konsisten dapat menuntun individu menjadi lebih inovatif dan beruntung. Keberuntungan bukan hadiah, melainkan hasil dari kesiapan mental, tujuan yang tepat, dan keberanian mengambil keputusan sadar dalam kehidupan sehari-hari.


Daftar Pustaka

Harper, M. (1984). Entrepreneur for the poor. London: Intermediate Technology Publications.
Wiseman, R. (2003). The luck factor: The four essential principles. New York: Hyperion.

0 komentar:

Posting Komentar