Smoking and Sporting: the cigarettes vs the finish line
Hana Fardilla – 24310410048 – Psikologi Kelas Karyawan
Psikologi Inovasi - Esai 2 - Dr. A. Shinta, M. A
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta
Adik saya dan teman-temannya
hampir jogging setiap pagi, pukul 5 pagi mereka berkumpul di depan rumah kami.
Saya bertanya pada adik saya apakah dia dan teman-temannya ingin ikut lomba
marathon, adik saya bilang tidak, tapi temannya ber-inisial R berencanya untuk
ikut marathon dan sedang membiasakan dan mempersiapkan diri.
Saya memperhatikan
mereka mulai lari di jam 6 pagi, di jam 5 mereka datang satu persatu sambil
menunggu teman mereka yang lain, sembari menunggu, mereka mengabiskan waktu
dengan merokok. Mereka biasanya selesai cukup cepat, jam 8 biasanya sudah
kembali, dan setelah minum mereka juga kembali merokok sebelum pulang. Related dengan
tugas ini, saya meminta izin R untuk bertanya terkait hobby-nya, keinginannya
untuk ikut marathon, dan kebiasaannya untuk merokok.
Inisial
narasumber saya bernama R, berumur 22 tahun, dan merupakan mahasiswa semester
akhir di kampus yang sama dengan adik saya. Ia juga berasal dari Kalimantan,
sama seperti kami. R menceritakan bahwa ia melakukan jogging sudah lama, dulu
setidaknya 5x dalam seminggu dengan jarak singkat 4 sampai 5 km, dengan goals
menurunkan berat badan, dan seiring berjalannya waktu ia melakukan jogging
setiap hari dan dengan maraknya event marathon, R juga ingin mencoba ikut.
Saya bertanya pada
R apakah dia memang suka olahraga dan dia menjawab “Betul mbak,” sambil memegang
rokok yang tidak dia nyalakan. Saya bertanya lagi to-the-point, “Tapi masnya ngerokok
ya?” Dia tersenyum kaku dan menjawab “Iya.”
Saat itu saya merasa
bahwa R mungkin kurang nyaman dengan pertanyaan saya, meski pun di awal sudah
diinfokan bahwa saya ingin bertanya terkait kebiasaannya olahraga dan merokok,
tapi tentu saja saat proses berlangsung, perasaan orang mungkin akan berubah.
Saya mencoba mengubah pertanyaan saya, “Mas pernah nggak merasa sesak gitu saat
jogging?” Ia menjawab pernah, dan saya bertanya lagi, “Pernah kepikiran kalau
ini bisa menganggu hobi olahraga mas ndak?” R terlihat berpikir sejenak lalu menjawab,
“Mungkin karena sudah terbiasa ya mbak, saya kalau tidak merokok rasanya malah
kaya ada yang kurang.” Saya bertanya lagi apa yang dirasa kurang, dan R
menjawab “Kaya kurang semangat aja gitu mbak. Sama kan kaya pas naik gunung,
temen-temen juga tuh pas naik gunung sambil ngerokok, soalnya rasanya lebih
semangat,” ujarnya sambil tersenyum awkward. Saya bertanya lagi, “Pernah ndak
mas, kaya merasa nafasnya sesak gitu pas habis ngerokok, terus lari?” R
menjawab tidak pernah, dan mengulang kembali bagaimana perasaannya saat tidak
merokok, dia menyebutkan rasanya gelisah dan kurang bersemangat.
Secara pribadi,
saya tidak bisa mengatakan bahwa ada disonansi kognisi dalam cara R berperilaku.
Merujuk kepada teori Festinger (1957), disonansi kognitif adalah saat seseorang
merasa tidak nyaman dengan ketidak-konsistenan antara pemikiran dan perilaku.
Memang benar pada kasus R, dia berpikir ingin hidup sehat, tetapi dia masih
merokok, dan ini adalah 2 hal yang bertentangan. Namun dari percakapan yang
kami lakukan, saya tidak merasa ada discomfort pada R, dia malah merasakan
sebaliknya. Yang menurut saya muncul dalam percakapan, ada indikasi defensiveness
yang terjadi, khususnya rationalization (Jones, 1980). Defense mechanism
muncul saat seseorang ingin melindungi ego dari perasaan tidak nyaman, merujuk
pada Anna Freud, 1936. Selain itu, kondisi ketergantungan nikotin juga bisa
menjadi penyebab kebiasaan tersebut.
Namun hal
tersebut pun bukan hal yang dapat saya claim secara real karena hanya merupakan
observasi sekilas dan waktu percakapan yang informal. Saya tidak menyalahkan kebiasaan
R, banyak hal yang mungkin saya belum mengerti terkait dengan kondisi dan
kebiasaannya, tidak juga saya menganggap dia bodoh karena olahraga tapi
merokok, karena knowledge-behaviour gap sangat sering terjadi, dan alasannya
juga bisa bermacam-macam. Nevertheless, saya menemukan insight baru, bahwa
intensi dan pengetahuan seseorang tidak secara langsung dapat mengubah
kebiasaannya, dengan demikian, harapannya saya dapat semakin bijak dalam
mengindetifikasi sesuatu dan tidak mudah memberikan judgement untuk orang lain.
Reference:
- Festinger, L. (1957). A Theory of Cognitive Dissonance. Stanford University Press.
- Freud, A. (1966). The ego and the mechanisms of defense (Rev. ed.). International Universities Press
- Jones, E. (1908). Rationalization in every-day life. The Journal of Abnormal Psychology, 3(3), 161–169. https://doi.org/10.1037/h0070692
0 komentar:
Posting Komentar