25.10.26

Psi Inovasi - Esai 2 – Wawancara Disonansi Kognitif - Dr. A. Shinta, M. A – Kelas B – 25 Oktober 2026 - Hana Fardilla (24310410048)

 Smoking and Sporting: the cigarettes vs the finish line

Hana Fardilla – 24310410048 – Psikologi Kelas Karyawan
Psikologi Inovasi - Esai 2 -  Dr. A. Shinta, M. A
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta

    Adik saya dan teman-temannya hampir jogging setiap pagi, pukul 5 pagi mereka berkumpul di depan rumah kami. Saya bertanya pada adik saya apakah dia dan teman-temannya ingin ikut lomba marathon, adik saya bilang tidak, tapi temannya ber-inisial R berencanya untuk ikut marathon dan sedang membiasakan dan mempersiapkan diri.

    Saya memperhatikan mereka mulai lari di jam 6 pagi, di jam 5 mereka datang satu persatu sambil menunggu teman mereka yang lain, sembari menunggu, mereka mengabiskan waktu dengan merokok. Mereka biasanya selesai cukup cepat, jam 8 biasanya sudah kembali, dan setelah minum mereka juga kembali merokok sebelum pulang. Related dengan tugas ini, saya meminta izin R untuk bertanya terkait hobby-nya, keinginannya untuk ikut marathon, dan kebiasaannya untuk merokok.

    Inisial narasumber saya bernama R, berumur 22 tahun, dan merupakan mahasiswa semester akhir di kampus yang sama dengan adik saya. Ia juga berasal dari Kalimantan, sama seperti kami. R menceritakan bahwa ia melakukan jogging sudah lama, dulu setidaknya 5x dalam seminggu dengan jarak singkat 4 sampai 5 km, dengan goals menurunkan berat badan, dan seiring berjalannya waktu ia melakukan jogging setiap hari dan dengan maraknya event marathon, R juga ingin mencoba ikut.

   Saya bertanya pada R apakah dia memang suka olahraga dan dia menjawab “Betul mbak,” sambil memegang rokok yang tidak dia nyalakan. Saya bertanya lagi to-the-point, “Tapi masnya ngerokok ya?” Dia tersenyum kaku dan menjawab “Iya.”

Saat itu saya merasa bahwa R mungkin kurang nyaman dengan pertanyaan saya, meski pun di awal sudah diinfokan bahwa saya ingin bertanya terkait kebiasaannya olahraga dan merokok, tapi tentu saja saat proses berlangsung, perasaan orang mungkin akan berubah. Saya mencoba mengubah pertanyaan saya, “Mas pernah nggak merasa sesak gitu saat jogging?” Ia menjawab pernah, dan saya bertanya lagi, “Pernah kepikiran kalau ini bisa menganggu hobi olahraga mas ndak?” R terlihat berpikir sejenak lalu menjawab, “Mungkin karena sudah terbiasa ya mbak, saya kalau tidak merokok rasanya malah kaya ada yang kurang.” Saya bertanya lagi apa yang dirasa kurang, dan R menjawab “Kaya kurang semangat aja gitu mbak. Sama kan kaya pas naik gunung, temen-temen juga tuh pas naik gunung sambil ngerokok, soalnya rasanya lebih semangat,” ujarnya sambil tersenyum awkward. Saya bertanya lagi, “Pernah ndak mas, kaya merasa nafasnya sesak gitu pas habis ngerokok, terus lari?” R menjawab tidak pernah, dan mengulang kembali bagaimana perasaannya saat tidak merokok, dia menyebutkan rasanya gelisah dan kurang bersemangat.

 


    Secara pribadi, saya tidak bisa mengatakan bahwa ada disonansi kognisi dalam cara R berperilaku. Merujuk kepada teori Festinger (1957), disonansi kognitif adalah saat seseorang merasa tidak nyaman dengan ketidak-konsistenan antara pemikiran dan perilaku. Memang benar pada kasus R, dia berpikir ingin hidup sehat, tetapi dia masih merokok, dan ini adalah 2 hal yang bertentangan. Namun dari percakapan yang kami lakukan, saya tidak merasa ada discomfort pada R, dia malah merasakan sebaliknya. Yang menurut saya muncul dalam percakapan, ada indikasi defensiveness yang terjadi, khususnya rationalization (Jones, 1980). Defense mechanism muncul saat seseorang ingin melindungi ego dari perasaan tidak nyaman, merujuk pada Anna Freud, 1936. Selain itu, kondisi ketergantungan nikotin juga bisa menjadi penyebab kebiasaan tersebut.

    Namun hal tersebut pun bukan hal yang dapat saya claim secara real karena hanya merupakan observasi sekilas dan waktu percakapan yang informal. Saya tidak menyalahkan kebiasaan R, banyak hal yang mungkin saya belum mengerti terkait dengan kondisi dan kebiasaannya, tidak juga saya menganggap dia bodoh karena olahraga tapi merokok, karena knowledge-behaviour gap sangat sering terjadi, dan alasannya juga bisa bermacam-macam. Nevertheless, saya menemukan insight baru, bahwa intensi dan pengetahuan seseorang tidak secara langsung dapat mengubah kebiasaannya, dengan demikian, harapannya saya dapat semakin bijak dalam mengindetifikasi sesuatu dan tidak mudah memberikan judgement untuk orang lain.

Reference:

  • Festinger, L. (1957). A Theory of Cognitive Dissonance. Stanford University Press.
  • Freud, A. (1966). The ego and the mechanisms of defense (Rev. ed.). International Universities Press
  • Jones, E. (1908). Rationalization in every-day life. The Journal of Abnormal Psychology, 3(3), 161–169. https://doi.org/10.1037/h0070692




0 komentar:

Posting Komentar