Galuh Sekar Anindita
NIM 24310410027
Kelas Karyawan
Mata Kuliah
Psikologi Inovasi
Dosen Pengampu : Dr.
Arundati Shinta, M.A.
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta
ESAI 2 : WAWANCARA TENTANG DISONANSI KOGNITIF
Disonansi
kognitif merupakan kondisi ketika seseorang mengalami ketidaksesuaian antara
pengetahuan, keyakinan, dan perilakunya sehingga menimbulkan ketidaknyamanan
psikologis. Menurut Festinger (1957), seseorang cenderung berusaha mengurangi
ketidaknyamanan tersebut dengan mengubah keyakinan atau perilakunya, maupun
mencari alasan untuk membenarkan tindakan yang dilakukan. Contohnya, seorang
perokok mengetahui bahwa rokok berbahaya bagi kesehatan, tetapi tetap merokok
karena merasa sudah terbiasa dan sulit berhenti. Untuk memahami hal ini, saya
melakukan wawancara dengan seseorang berinisial SA di halaman kantor. Wawancara
ini bertujuan mengetahui alasan seseorang tetap merokok meskipun sudah memahami
dampak buruknya bagi kesehatan.
Saat
ditanya mengenai bahaya rokok, SA mengatakan, “Saya tahu rokok itu tidak baik
untuk kesehatan, tetapi saya sudah terbiasa dan sulit kalau harus berhenti.”
Dari jawaban tersebut, terlihat bahwa SA sebenarnya memahami risiko merokok,
tetapi belum mampu meninggalkan kebiasaannya. Pengetahuan yang dimiliki belum
diterapkan dalam kehidupan sehari-hari karena kebiasaan merokok sudah terasa
sulit untuk dilepaskan.
Salah
satu mekanisme pertahanan diri yang terlihat adalah rasionalisasi, yaitu
mencari alasan untuk membenarkan perilaku sendiri. Hal ini terlihat dari
pernyataan SA, “Saya merokok hanya untuk menghilangkan stres setelah bekerja.”
SA menganggap rokok dapat membantunya mengurangi stres sehingga memiliki alasan
untuk tetap merokok. Dengan begitu, SA tidak perlu langsung menghadapi
kenyataan bahwa kebiasaannya berisiko bagi kesehatan.
Selain
itu, terdapat kecenderungan mengabaikan risiko, seperti terlihat dalam
pernyataan, “Banyak orang yang merokok tetap sehat dan bisa bekerja seperti
biasa.” SA menggunakan kondisi orang lain sebagai alasan untuk mengurangi
kekhawatirannya. Padahal, kondisi setiap orang berbeda dan dampak merokok tidak
selalu langsung dirasakan.
Jika
dikaitkan dengan psikologi inovasi, keadaan ini menunjukkan bahwa seseorang
terkadang sulit menerima perubahan meskipun sudah mengetahui manfaatnya. SA
masih mempertahankan kebiasaan lama daripada mencoba cara lain untuk mengatasi
stres. Padahal, ia dapat mulai mencari kegiatan lain, seperti berolahraga atau
melakukan hobi yang disukai.
Dari
wawancara ini, dapat dipahami bahwa mengetahui sesuatu yang benar belum tentu
membuat seseorang langsung berubah. Selama seseorang masih memiliki alasan
untuk membenarkan kebiasaannya, perubahan akan lebih sulit dilakukan. Karena
itu, diperlukan kemauan untuk menyadari kesalahan, mengevaluasi diri, dan
mencoba kebiasaan baru yang lebih baik.
DAFTAR
PUSTAKA
Festinger,
L. (1957). A theory of cognitive dissonance. Stanford University Press.
American
Psychological Association. (n.d.). Cognitive dissonance theory. In APA
Dictionary of Psychology.
https://dictionary.apa.org/cognitive-dissonance-theory

0 komentar:
Posting Komentar