25.10.26

Galuh Sekar Anindita 24310410027 - Psi Inovasi - Esai 2 Wawancara Tentang Disonansi Kognitif - Oktober 2026

 

DISONANSI KOGNITIF PADA PEROKOK: PEMBENARAN DIRI DAN HAMBATAN PERUBAHAN PERILAKU DALAM PERSPEKTIF PSIKOLOGI INOVASI

Galuh Sekar Anindita

NIM 24310410027

Kelas Karyawan

Mata Kuliah Psikologi Inovasi

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

 


ESAI 2 : WAWANCARA TENTANG DISONANSI KOGNITIF

   Disonansi kognitif merupakan kondisi ketika seseorang mengalami ketidaksesuaian antara pengetahuan, keyakinan, dan perilakunya sehingga menimbulkan ketidaknyamanan psikologis. Menurut Festinger (1957), seseorang cenderung berusaha mengurangi ketidaknyamanan tersebut dengan mengubah keyakinan atau perilakunya, maupun mencari alasan untuk membenarkan tindakan yang dilakukan. Contohnya, seorang perokok mengetahui bahwa rokok berbahaya bagi kesehatan, tetapi tetap merokok karena merasa sudah terbiasa dan sulit berhenti. Untuk memahami hal ini, saya melakukan wawancara dengan seseorang berinisial SA di halaman kantor. Wawancara ini bertujuan mengetahui alasan seseorang tetap merokok meskipun sudah memahami dampak buruknya bagi kesehatan.

     Saat ditanya mengenai bahaya rokok, SA mengatakan, “Saya tahu rokok itu tidak baik untuk kesehatan, tetapi saya sudah terbiasa dan sulit kalau harus berhenti.” Dari jawaban tersebut, terlihat bahwa SA sebenarnya memahami risiko merokok, tetapi belum mampu meninggalkan kebiasaannya. Pengetahuan yang dimiliki belum diterapkan dalam kehidupan sehari-hari karena kebiasaan merokok sudah terasa sulit untuk dilepaskan.

        Salah satu mekanisme pertahanan diri yang terlihat adalah rasionalisasi, yaitu mencari alasan untuk membenarkan perilaku sendiri. Hal ini terlihat dari pernyataan SA, “Saya merokok hanya untuk menghilangkan stres setelah bekerja.” SA menganggap rokok dapat membantunya mengurangi stres sehingga memiliki alasan untuk tetap merokok. Dengan begitu, SA tidak perlu langsung menghadapi kenyataan bahwa kebiasaannya berisiko bagi kesehatan.

        Selain itu, terdapat kecenderungan mengabaikan risiko, seperti terlihat dalam pernyataan, “Banyak orang yang merokok tetap sehat dan bisa bekerja seperti biasa.” SA menggunakan kondisi orang lain sebagai alasan untuk mengurangi kekhawatirannya. Padahal, kondisi setiap orang berbeda dan dampak merokok tidak selalu langsung dirasakan.

       Jika dikaitkan dengan psikologi inovasi, keadaan ini menunjukkan bahwa seseorang terkadang sulit menerima perubahan meskipun sudah mengetahui manfaatnya. SA masih mempertahankan kebiasaan lama daripada mencoba cara lain untuk mengatasi stres. Padahal, ia dapat mulai mencari kegiatan lain, seperti berolahraga atau melakukan hobi yang disukai.

       Dari wawancara ini, dapat dipahami bahwa mengetahui sesuatu yang benar belum tentu membuat seseorang langsung berubah. Selama seseorang masih memiliki alasan untuk membenarkan kebiasaannya, perubahan akan lebih sulit dilakukan. Karena itu, diperlukan kemauan untuk menyadari kesalahan, mengevaluasi diri, dan mencoba kebiasaan baru yang lebih baik.

 

DAFTAR PUSTAKA

Festinger, L. (1957). A theory of cognitive dissonance. Stanford University Press.

American Psychological Association. (n.d.). Cognitive dissonance theory. In APA Dictionary of Psychology. https://dictionary.apa.org/cognitive-dissonance-theory⁠

0 komentar:

Posting Komentar