DUA KEGAGALAN MENGAJARKAN SAYA UNTUK
BANGKIT
Cindy Auriliya Fikri Andani
NIM 24310410023
Kelas Karyawan (B)
Mata Kuliah Psikologi Inovasi
Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, MA
ESAI 4 – MY BEST COPPING BEHAVIOR

Coping behavior merupakan
usaha seseorang untuk menghadapi keadaan yang membuatnya stres. Cara yang
dipilih setiap orang bisa berbeda, tetapi tujuannya sama, yaitu agar masalah
dapat dihadapi dengan lebih baik. Cara menghadapi stres yang tepat juga
membantu seseorang untuk tetap menjalani kegiatannya (Fitzgibbon & Murphy,
2023). Bagi saya, pengalaman gagal meraih cita-cita menjadi pelajaran penting
tentang cara bangkit dan mencoba kembali.
Peristiwa paling menyakitkan
dalam hidup saya terjadi pada tahun 2021. Pada Juni 2021, saya gagal dalam
seleksi penerimaan anggota Polri di tahap terakhir, yaitu Sidang Akhir. Saya
sangat sedih karena merasa sudah berusaha keras dan tinggal selangkah lagi
menuju cita-cita. Saya kemudian mencoba kesempatan lain dengan mengikuti
seleksi TNI Angkatan Udara. Namun, pada November 2021, saya kembali gagal di
tahap terakhir daerah, yaitu Sidang Panlihda atau Pantukhir Daerah, sebelum
mengikuti tes pusat.
Dua kegagalan tersebut
membuat saya sangat stres. Hal yang paling berat adalah memikirkan harapan
orang tua yang ingin melihat saya berhasil. Walaupun mereka mendukung saya,
tetap ada rasa takut mengecewakan mereka. Saya juga lelah karena terus belajar,
berlatih, dan mempersiapkan diri untuk seleksi. Kadang saya membandingkan hasil
dengan usaha yang sudah dilakukan. Saya bertanya dalam hati apakah saya cukup
mampu untuk mencoba lagi. Kegagalan pada tahap akhir terasa lebih menyakitkan
karena harapan saya sudah sangat besar.
Berikut adalah coping
behavior yang paling saya banggakan. Saya memilih untuk tidak berhenti hanya
karena dua kali gagal. Setelah rasa kecewa mulai berkurang, saya mencoba
melihat kegagalan sebagai bahan belajar, bukan bukti bahwa saya tidak mampu.
Saya kembali belajar dan berlatih untuk menghadapi seleksi berikutnya. Saya
juga berusaha menjaga semangat dengan berdoa serta mengingat tujuan awal saya.
Penelitian menunjukkan bahwa keyakinan bahwa kemampuan bisa berkembang
berkaitan dengan usaha memperbaiki keadaan saat menghadapi kegagalan (Tao et
al., 2022). Bagi saya, cara ini penting karena saya tidak bisa mengubah hasil
seleksi sebelumnya, tetapi masih bisa memperbaiki persiapan saya.
Saya tidak melewati masa
sulit itu sendirian. Dukungan orang tua dan orang-orang terdekat membuat saya
berani mencoba lagi. Dukungan sosial dapat membantu seseorang lebih kuat ketika
menghadapi tekanan (Cao et al., 2024). Dengan semangat itu, saya mengikuti
seleksi penerimaan anggota Polri kembali pada tahun 2022. Saya berusaha
menjalani prosesnya dengan lebih tenang, sambil tetap belajar dan berlatih tanpa
mudah menyerah.
Akhirnya, pada Juli 2022,
saya berhasil lolos seleksi penerimaan anggota Polri. Itulah reward terbesar
dari perjuangan saya. Saya belajar bahwa kegagalan bukan akhir dari cita-cita.
Hikmah yang saya dapatkan adalah menjadi lebih sabar, berani mencoba lagi, dan
mau memperbaiki diri. Bagi saya, pengalaman ini juga berkaitan dengan Psikologi
Inovasi karena saya belajar mengubah cara menghadapi masalah, bukan hanya
mengulang usaha tanpa belajar dari kegagalan.
DAFTAR PUSTAKA
Cao, F., Li, J., Xin, W., & Cai, N. (2024).
Impact of social support on the resilience of youth: Mediating effects of
coping styles. Frontiers in Public
Health, 12, 1331813. https://doi.org/10.3389/fpubh.2024.1331813
Fitzgibbon, K., & Murphy, K. D. (2023).
Coping strategies of healthcare professional students for stress incurred
during their studies: A literature review. Journal
of Mental Health, 32(2), 492–503.
https://doi.org/10.1080/09638237.2021.2022616
Tao, V. Y. K., Li, Y., & Wu, A. M. S. (2022).
Incremental intelligence mindset, fear of failure, and academic coping. Journal of Pacific Rim Psychology, 16,
1–11. https://doi.org/10.1177/18344909221144703
0 komentar:
Posting Komentar