26.10.26

ESAI 9 Psikologi Inovasi Membangun Kesadaran dan Perubahan Perilaku Pekerja Lapangan Proyek dalam Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) melalui Pelatihan Keselamatan Kerja RAY FRANSISCA MARITA KUSUMA (24310410005) PSIKOLOGI LINGKUNGAN KELAS KARYAWAN Ibu Dr. Arundati Shinta., MA

Oktober 2026
Keselamatan kerja merupakan aspek penting dalam pelaksanaan proyek konstruksi. Pekerja lapangan menghadapi berbagai potensi bahaya, seperti tertimpa material, terjatuh, terkena benda tajam, serta risiko kecelakaan akibat penggunaan peralatan kerja. Oleh karena itu, penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) menjadi salah satu upaya untuk melindungi pekerja dari risiko kecelakaan dan cedera selama bekerja. Namun, dalam praktiknya, masih terdapat pekerja yang kurang disiplin dalam menggunakan APD. Sebagian pekerja menganggap penggunaan helm keselamatan, sepatu keselamatan, rompi reflektif, sarung tangan, dan perlengkapan lainnya sebagai sesuatu yang merepotkan atau menghambat pekerjaan. Kebiasaan tersebut menunjukkan bahwa penyediaan APD saja belum cukup. Diperlukan upaya untuk membangun kesadaran, mengubah pola pikir, dan membentuk kebiasaan kerja yang lebih aman.
Berdasarkan permasalahan tersebut, saya berinisiatif menyusun dan melaksanakan pelatihan yang bertujuan mendorong perubahan perilaku pekerja lapangan proyek agar lebih sadar dan disiplin dalam menggunakan APD. Pelatihan ini tidak hanya berfokus pada penyampaian informasi mengenai keselamatan kerja, tetapi juga pada pembentukan sikap dan kebiasaan positif yang dapat diterapkan dalam aktivitas kerja sehari-hari juga untuk meningkatkan pemahaman pekerja mengenai pentingnya penggunaan APD, mengenali risiko kecelakaan kerja, serta membangun kesadaran bahwa keselamatan merupakan tanggung jawab bersama. 

Secara khusus, pelatihan diharapkan dapat membantu pekerja untuk:
 1. Memahami fungsi dan manfaat setiap jenis APD sesuai dengan risiko pekerjaannya.
 2. Mengenali bahaya yang dapat terjadi apabila bekerja tanpa menggunakan APD. 
3. Mengubah pola pikir bahwa penggunaan APD bukan sekadar kewajiban atau aturan perusahaan, melainkan bentuk perlindungan terhadap diri sendiri dan rekan kerja. 
4. Membentuk kebiasaan menggunakan APD secara benar dan konsisten. 
5. Meningkatkan kepedulian ant pekerja untuk saling mengingatkan mengenai keselamatan kerja.
Materi pelatihan dirancang secara sederhana dan praktis agar mudah dipahami oleh pekerja lapangan yang memiliki pengalaman dan latar belakang pendidikan yang beragam. Materi pertama membahas pengertian K3, pentingnya keselamatan kerja, serta tanggung jawab pekerja dan perusahaan dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman. 
Peserta diajak memahami bahwa kecelakaan kerja dapat terjadi ketika risiko tidak dikenali atau prosedur keselamatan diabaikan juga diberikan penjelasan mengenai jenis APD yang digunakan sesuai dengan pekerjaan dan potensi bahaya di lapangan antara lain:
 - Helm keselamatan: melindungi kepala dari risiko benturan dan benda jatuh sesuai dengan spesifikasi helm.
 - Sepatu keselamatan: membantu melindungi kaki dari bahaya tertentu, seperti tertimpa benda atau tertusuk material, sesuai dengan jenis perlindungannya.
 - Rompi reflektif: meningkatkan keterlihatan pekerja, terutama di area dengan pergerakan kendaraan atau alat berat.
 - Sarung tangan kerja: melindungi tangan dari risiko tertentu sesuai dengan jenis pekerjaan. 
- Kacamata pelindung: melindungi mata dari debu, serpihan, atau percikan sesuai dengan risiko pekerjaan. 
- Pelindung pendengaran dan perlindungan pernapasan: digunakan apabila terdapat paparan kebisingan atau kontaminan yang memerlukan perlindungan khusus.
 - Sabuk pengaman atau sistem penahan jatuh: digunakan untuk pekerjaan di ketinggian sesuai prosedur dan sistem perlindungan yang berlaku.
 
Selain mengenali jenis APD, peserta juga diberikan pemahaman mengenai cara pemakaian, pemeriksaan kondisi, perawatan, dan penyimpanan APD dengan benar. Pada materi ini, peserta diajak mengenali konsekuensi yang dapat terjadi ketika APD tidak digunakan. Dampak tersebut dapat berupa cedera, terganggunya aktivitas pekerjaan, kerugian bagi pekerja dan keluarga, serta keterlambatan penyelesaian proyek. Penyampaian materi dilakukan dengan contoh situasi yang dekat dengan aktivitas sehari-hari di lapangan agar peserta lebih mudah memahami hubungan antara perilaku kerja dan risiko kecelakaan. 

Materi berikutnya berfokus pada perubahan perilaku. Pekerja diajak memahami bahwa kebiasaan tidak menggunakan APD dapat terbentuk karena merasa sudah berpengalaman, terburu-buru, tidak nyaman, atau menganggap risiko kecelakaan kecil. Melalui diskusi, peserta diajak mengidentifikasi alasan mereka terkadang tidak menggunakan APD dan mencari solusi yang sesuai. Misalnya, memastikan APD tersedia dalam ukuran yang tepat, memeriksa kelayakannya, melakukan pemeriksaan sebelum bekerja, dan saling mengingatkan dengan cara yang sopan. Pelatihan dilengkapi dengan demonstrasi langsung mengenai cara menggunakan dan memeriksa APD. Peserta diminta mempraktikkan pemakaian APD sesuai dengan jenis pekerjaannya. Instruktur kemudian memberikan koreksi apabila terdapat cara penggunaan yang kurang tepat.
Setelah penyampaian materi, peserta mengikuti praktik penggunaan APD. Pada akhir pelatihan, dilakukan tanya jawab dan penguatan komitmen untuk menerapkan kebiasaan kerja yang lebih aman. Untuk mendukung perubahan perilaku dalam jangka panjang, pelatihan perlu dilanjutkan dengan pengawasan yang konsisten, ketersediaan APD yang layak, keteladanan dari pengawas proyek, serta evaluasi kepatuhan penggunaan APD secara berkala. 

Melalui diskusi, saya dapat mengetahui bahwa perilaku tidak menggunakan APD tidak selalu disebabkan oleh ketidakpedulian. Ada pula faktor kebiasaan, ketidaknyamanan, keterbatasan pemahaman, dan tekanan untuk menyelesaikan pekerjaan dengan cepat. Pengalaman tersebut memberikan pelajaran bahwa perubahan perilaku tidak cukup dilakukan melalui teguran atau pemberian aturan. Pekerja juga perlu diberikan penjelasan yang dapat mereka pahami, kesempatan menyampaikan kendala, dan dukungan untuk membangun kebiasaan yang lebih aman. Dengan pendekatan yang tepat, pelatihan diharapkan dapat membantu membangun budaya keselamatan di lingkungan proyek konstruksi. Keselamatan bukan hanya kewajiban administratif, melainkan bagian penting dari upaya menjaga kesehatan, produktivitas, dan kesejahteraan pekerja.

0 komentar:

Posting Komentar