Rokok sebagai Teman Bermain Game:
Disonansi Kognitif pada Anggota Sat Samapta Polresta Yogyakarta
Dimas Mahendra Gautama (24310410024)
Kelas Karyawan
Mata Kuliah Psikologi Lingkungan
Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, MA

WAWANCARA TENTANG DISONANSI KOGNITIF
Merokok saat bermain game memperlihatkan
bagaimana kebiasaan sehari-hari dapat bertahan meskipun seseorang memahami
bahayanya. Situasi ini berkaitan dengan disonansi kognitif karena pengetahuan
tentang risiko rokok bertentangan dengan perilaku yang terus diulang. FH
merupakan anggota Sat Samapta Polresta Yogyakarta yang memiliki kebiasaan
merokok setiap kali bermain gim. Masalah utamanya terletak pada hubungan antara
kegiatan yang menyenangkan dan tindakan yang berisiko bagi kesehatan. Perokok
dapat mengetahui bahaya rokok tetapi tetap membentuk alasan untuk menerima
perilakunya (Aqila, 2024). Kebiasaan FH perlu dilihat melalui cara berpikir
yang menyertai kegiatan bermain gim.
Wawancara dengan FH dilakukan di
Penjagaan Polresta Yogyakarta. FH menjelaskan bahwa rokok selalu menyertai
aktivitas bermain game. FH menyampaikan, “Kalau permainan dimulai rokok juga
disiapkan karena sudah menjadi kebiasaan.” Kalimat itu menggambarkan hubungan
yang kuat antara situasi bermain dan keinginan merokok. Ketika ditanya mengenai
bahayanya FH menjawab, “Risiko rokok sudah diketahui tetapi saat bermain gim
rasanya sulit melepas kebiasaan itu.” Jawaban tersebut menunjukkan bahwa
pengetahuan belum menjadi dasar untuk mengubah perilaku. Pembenaran perilaku
merokok dapat membantu seseorang mengurangi ketidaknyamanan ketika tindakan
berbeda dari pengetahuan yang dimiliki (Sidhu et al., 2022).
Mekanisme pertahanan diri pertama
terlihat melalui rasionalisasi. FH menyatakan, “Rokok membuat permainan terasa
lebih santai dan membantu menjaga suasana hati.” FH memakai manfaat yang
dirasakan saat bermain sebagai alasan untuk melanjutkan kebiasaan. Mekanisme
kedua berupa normalisasi. FH mengatakan, “Teman yang bermain gim juga banyak
yang merokok sehingga hal itu terasa biasa.” Pernyataan tersebut menjadikan
perilaku orang lain sebagai ukuran kewajaran dan mengurangi perhatian terhadap
risiko pribadi. Alasan mengenai fungsi rokok serta penerimaan sosial berkaitan
dengan dorongan seseorang untuk berhenti (Zhang et al., 2024). Dua bentuk
pembenaran tersebut dapat membuat FH merasa tidak perlu segera mengubah
rutinitas.
Mekanisme ketiga berupa pengecilan
masalah. FH mengatakan, “Merokok muncul saat bermain gim jadi kebiasaan ini
masih bisa dikendalikan.” Kalimat itu menempatkan situasi bermain sebagai batas
yang dianggap aman tanpa menunjukkan perubahan perilaku yang nyata. FH juga
dapat terus menganggap rokok sebagai pelengkap permainan karena belum menemukan
kegiatan pengganti yang sama menariknya. Jarak antara pengetahuan dan praktik
merokok perlu diperhatikan dalam kehidupan usia produktif (Ardhaniswari et al.,
2024). Dalam kasus FH jarak tersebut tampak saat kebiasaan dianggap terkendali
hanya karena berkaitan dengan satu kegiatan tertentu.
Psikologi Inovasi melihat masalah ini
sebagai hambatan untuk mencoba cara baru. FH dapat kreatif merancang alasan
agar rokok tetap menjadi bagian dari permainan tetapi kreativitas itu belum
digunakan untuk memperbaiki rutinitas. Pertanyaan yang mendorong seseorang
meninjau keyakinannya dapat meningkatkan keterbukaan terhadap perubahan
(Maaravi et al., 2023). FH dapat memulai dengan menyiapkan minuman atau camilan
sehat saat bermain lalu mencatat sesi gim tanpa rokok. Pemisahan dua kebiasaan
tersebut memungkinkan FH menguji cara menikmati permainan tanpa pembenaran yang
terus berulang. Inovasi diri baru terjadi ketika pengetahuan menghasilkan
tindakan yang dapat diamati.
Daftar
Pustaka
Aqila,
F. (2024). Analisis disonansi kognitif pada perokok perempuan di Jakarta.
IKRA-ITH HUMANIORA: Jurnal Sosial dan Humaniora, 8(3), 185–195.
https://doi.org/10.37817/ikraith-humaniora.v8i3.4196
Maaravi,
Y., Hameiri, B., Gur, T., Heller, B., Confino, D., Amdor, H., & Levi, Y.
(2023). Using leading questions to reduce resistance to innovation. Journal of
Creativity, 33(3), Article 100067. https://doi.org/10.1016/j.yjoc.2023.100067
Zhang,
D., Chen, W., Meng, X., Zhao, X., Liu, R., & Tian, H. (2024). Breaking down
barriers: Rationalisations and motivation to stop among Chinese male smokers
under cigarette dependence. BMC Public Health, 24(1), Article 1812.
https://doi.org/10.1186/s12889-024-19295-y
0 komentar:
Posting Komentar