13.10.26

Dimas Mahendra Gautama 24310410024 - Psi Inovasi - Esai 2 Wawancara Tentang Disonansi Kognitif

 

Rokok sebagai Teman Bermain Game: Disonansi Kognitif pada Anggota Sat Samapta Polresta Yogyakarta

Dimas Mahendra Gautama (24310410024)

Kelas Karyawan

Mata Kuliah Psikologi Lingkungan

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, MA

WAWANCARA TENTANG DISONANSI KOGNITIF

Merokok saat bermain game memperlihatkan bagaimana kebiasaan sehari-hari dapat bertahan meskipun seseorang memahami bahayanya. Situasi ini berkaitan dengan disonansi kognitif karena pengetahuan tentang risiko rokok bertentangan dengan perilaku yang terus diulang. FH merupakan anggota Sat Samapta Polresta Yogyakarta yang memiliki kebiasaan merokok setiap kali bermain gim. Masalah utamanya terletak pada hubungan antara kegiatan yang menyenangkan dan tindakan yang berisiko bagi kesehatan. Perokok dapat mengetahui bahaya rokok tetapi tetap membentuk alasan untuk menerima perilakunya (Aqila, 2024). Kebiasaan FH perlu dilihat melalui cara berpikir yang menyertai kegiatan bermain gim.

Wawancara dengan FH dilakukan di Penjagaan Polresta Yogyakarta. FH menjelaskan bahwa rokok selalu menyertai aktivitas bermain game. FH menyampaikan, “Kalau permainan dimulai rokok juga disiapkan karena sudah menjadi kebiasaan.” Kalimat itu menggambarkan hubungan yang kuat antara situasi bermain dan keinginan merokok. Ketika ditanya mengenai bahayanya FH menjawab, “Risiko rokok sudah diketahui tetapi saat bermain gim rasanya sulit melepas kebiasaan itu.” Jawaban tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan belum menjadi dasar untuk mengubah perilaku. Pembenaran perilaku merokok dapat membantu seseorang mengurangi ketidaknyamanan ketika tindakan berbeda dari pengetahuan yang dimiliki (Sidhu et al., 2022).

Mekanisme pertahanan diri pertama terlihat melalui rasionalisasi. FH menyatakan, “Rokok membuat permainan terasa lebih santai dan membantu menjaga suasana hati.” FH memakai manfaat yang dirasakan saat bermain sebagai alasan untuk melanjutkan kebiasaan. Mekanisme kedua berupa normalisasi. FH mengatakan, “Teman yang bermain gim juga banyak yang merokok sehingga hal itu terasa biasa.” Pernyataan tersebut menjadikan perilaku orang lain sebagai ukuran kewajaran dan mengurangi perhatian terhadap risiko pribadi. Alasan mengenai fungsi rokok serta penerimaan sosial berkaitan dengan dorongan seseorang untuk berhenti (Zhang et al., 2024). Dua bentuk pembenaran tersebut dapat membuat FH merasa tidak perlu segera mengubah rutinitas.

Mekanisme ketiga berupa pengecilan masalah. FH mengatakan, “Merokok muncul saat bermain gim jadi kebiasaan ini masih bisa dikendalikan.” Kalimat itu menempatkan situasi bermain sebagai batas yang dianggap aman tanpa menunjukkan perubahan perilaku yang nyata. FH juga dapat terus menganggap rokok sebagai pelengkap permainan karena belum menemukan kegiatan pengganti yang sama menariknya. Jarak antara pengetahuan dan praktik merokok perlu diperhatikan dalam kehidupan usia produktif (Ardhaniswari et al., 2024). Dalam kasus FH jarak tersebut tampak saat kebiasaan dianggap terkendali hanya karena berkaitan dengan satu kegiatan tertentu.

Psikologi Inovasi melihat masalah ini sebagai hambatan untuk mencoba cara baru. FH dapat kreatif merancang alasan agar rokok tetap menjadi bagian dari permainan tetapi kreativitas itu belum digunakan untuk memperbaiki rutinitas. Pertanyaan yang mendorong seseorang meninjau keyakinannya dapat meningkatkan keterbukaan terhadap perubahan (Maaravi et al., 2023). FH dapat memulai dengan menyiapkan minuman atau camilan sehat saat bermain lalu mencatat sesi gim tanpa rokok. Pemisahan dua kebiasaan tersebut memungkinkan FH menguji cara menikmati permainan tanpa pembenaran yang terus berulang. Inovasi diri baru terjadi ketika pengetahuan menghasilkan tindakan yang dapat diamati.

 

Daftar Pustaka

Aqila, F. (2024). Analisis disonansi kognitif pada perokok perempuan di Jakarta. IKRA-ITH HUMANIORA: Jurnal Sosial dan Humaniora, 8(3), 185–195. https://doi.org/10.37817/ikraith-humaniora.v8i3.4196

Maaravi, Y., Hameiri, B., Gur, T., Heller, B., Confino, D., Amdor, H., & Levi, Y. (2023). Using leading questions to reduce resistance to innovation. Journal of Creativity, 33(3), Article 100067. https://doi.org/10.1016/j.yjoc.2023.100067

Zhang, D., Chen, W., Meng, X., Zhao, X., Liu, R., & Tian, H. (2024). Breaking down barriers: Rationalisations and motivation to stop among Chinese male smokers under cigarette dependence. BMC Public Health, 24(1), Article 1812. https://doi.org/10.1186/s12889-024-19295-y

0 komentar:

Posting Komentar