23.7.26

UAS PSIKOLOGI INOVASI-BAYU PRASETYA RESTU AJI

 

UJIAN AKHIR SEMESTER

PSIKOLOGI INOVASI

 

BAYU PRASETYA RESTU AJI
23310410087
UAS PSIKOLOGI INOVASI (Kelas Karyawan)

 

DOSEN PENGAMPU :
IBU ARUNDATI SHINTA

 




 Tinjauan Kritis terhadap Konsep Need for Achievement, Keberuntungan, dan Moralitas dalam Kewirausahaan



Karakteristik utama seorang entrepreneur sering dikaitkan dengan dorongan untuk berprestasi (need for achievement atau nAch), yaitu keinginan yang kuat untuk mencapai hasil terbaik melalui usaha pribadi. Dalam bacaan tersebut, istilah yang digunakan adalah nAff, namun secara teoritis konsep dorongan berprestasi lebih dikenal sebagai need for achievement (nAch) yang dikembangkan oleh David C. McClelland, bukan Douglas McGregor. McClelland menjelaskan bahwa individu dengan kebutuhan berprestasi tinggi cenderung menetapkan tujuan yang menantang tetapi masih realistis, berani mengambil risiko yang diperhitungkan, serta selalu mencari umpan balik atas hasil kerjanya. Karakteristik tersebut memang banyak ditemukan pada individu yang berhasil membangun usaha secara berkelanjutan.

Saya sepakat bahwa entrepreneur memerlukan target yang menantang namun tetap realistis. Apabila target terlalu mudah, seseorang akan kehilangan motivasi karena tidak merasa tertantang. Sebaliknya, apabila target terlalu tinggi dan tidak sesuai kemampuan maupun sumber daya yang dimiliki, individu berpotensi mengalami frustrasi bahkan menyerah sebelum memulai. Oleh karena itu, keseimbangan antara tantangan dan kemampuan menjadi faktor penting dalam membangun motivasi intrinsik. Dalam praktik kewirausahaan modern, konsep ini juga dikenal melalui pendekatan stretch goals, yaitu menetapkan sasaran yang cukup tinggi untuk mendorong perkembangan, tetapi masih dapat dicapai melalui strategi dan kerja keras.

Namun demikian, saya kurang sependapat dengan penyataan bahwa dorongan berprestasi dapat ditingkatkan hanya melalui latihan menulis hal-hal positif atau membuat cerita emosional pada kartu TAT. Memang benar bahwa McClelland pernah menggunakan Thematic Apperception Test (TAT) sebagai salah satu alat untuk mengukur motif berprestasi. Akan tetapi, berbagai penelitian psikologi modern menunjukkan bahwa motivasi seseorang dibentuk oleh banyak faktor, seperti pengalaman hidup, lingkungan keluarga, pendidikan, budaya organisasi, dukungan sosial, efikasi diri (self-efficacy), hingga kesempatan ekonomi. Dengan demikian, peningkatan motivasi berprestasi tidak cukup hanya melalui latihan psikologis tertentu, tetapi juga membutuhkan pengalaman nyata, pembelajaran berkelanjutan, serta lingkungan yang mendukung berkembangnya kompetensi.

Bagian lain yang menarik adalah pembahasan mengenai teori keberuntungan Robert Wiseman. Wiseman berpendapat bahwa orang yang dianggap "beruntung" sebenarnya memiliki pola pikir dan perilaku tertentu, seperti terbuka terhadap peluang, membangun relasi sosial yang luas, berpikir optimis, serta mampu mengambil keputusan secara fleksibel. Saya melihat bahwa konsep ini cukup relevan dengan dunia kewirausahaan. Banyak peluang bisnis muncul bukan semata-mata karena faktor keberuntungan, tetapi karena seseorang memiliki jaringan yang luas, mampu membaca perubahan pasar, serta berani mengambil keputusan pada waktu yang tepat. Dengan kata lain, keberuntungan sering kali merupakan hasil dari kesiapan individu dalam memanfaatkan kesempatan yang datang.

Meski demikian, contoh kasus Ruben dan Lorena dalam bacaan perlu dikritisi. Penulis menggambarkan Lorena sebagai individu yang tidak memiliki potensi berkembang hanya karena ia menjual dirinya demi memperoleh uang. Pandangan tersebut menurut saya terlalu sederhana dan berpotensi menimbulkan stigma terhadap individu yang berada dalam kondisi sosial dan ekonomi yang sulit. Dalam kajian psikologi sosial maupun sosiologi, perilaku seseorang sering dipengaruhi oleh berbagai faktor kompleks, seperti kemiskinan, tekanan ekonomi, keterbatasan pendidikan, kekerasan, maupun ketidaksetaraan sosial. Oleh karena itu, tindakan Lorena tidak dapat langsung dijadikan indikator bahwa ia memiliki motivasi berprestasi yang rendah. Bisa jadi ia justru sedang berusaha bertahan hidup dengan pilihan yang sangat terbatas.

Selain itu, mengaitkan keberhasilan Ruben semata-mata dengan kemampuannya menghindari Lorena juga kurang memiliki dasar ilmiah yang kuat. Kesuksesan seorang entrepreneur umumnya dipengaruhi oleh kombinasi kemampuan teknis, keterampilan manajerial, kreativitas, inovasi, kemampuan membaca peluang, kepemimpinan, jaringan bisnis, kondisi pasar, serta faktor eksternal lainnya. Nilai moral memang penting dalam menjalankan bisnis karena dapat membangun kepercayaan pelanggan dan keberlanjutan usaha. Namun, moralitas bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan seseorang.

Saya juga menilai bahwa gagasan Wiseman mengenai pentingnya melihat sisi positif dari setiap pengalaman merupakan pelajaran yang sangat berharga. Dalam dunia bisnis, kegagalan merupakan bagian dari proses belajar. Entrepreneur yang sukses biasanya mampu mengevaluasi kesalahan, memperbaiki strategi, dan menjadikan pengalaman buruk sebagai sumber pembelajaran. Kemampuan untuk tetap optimis tanpa mengabaikan realitas merupakan bentuk resilience yang sangat dibutuhkan dalam menghadapi persaingan usaha yang semakin dinamis.

Di sisi lain, praktik meditasi atau refleksi diri yang dilakukan Ruben juga dapat dipahami sebagai upaya meningkatkan kesadaran diri. Banyak penelitian menunjukkan bahwa refleksi diri membantu seseorang mengambil keputusan yang lebih matang, mengendalikan emosi, serta mengurangi bias dalam berpikir. Namun demikian, keberhasilan pengambilan keputusan tetap memerlukan data, analisis, pengalaman, dan pertimbangan rasional, bukan hanya mengandalkan intuisi semata.

Sebagai kesimpulan, saya sepakat bahwa kebutuhan berprestasi merupakan salah satu karakteristik penting yang harus dimiliki seorang entrepreneur. Individu yang memiliki motivasi berprestasi tinggi akan lebih siap menghadapi tantangan, belajar dari kegagalan, dan terus mengembangkan kompetensinya. Saya juga setuju bahwa pola pikir positif, kemampuan membangun relasi, serta keberanian memanfaatkan peluang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang meraih keberhasilan. olusinya adalah menggunakan teori yang benar, memahami motivasi secara lebih komprehensif, menerapkan pendekatan yang lebih objektif dalam menilai perilaku individu, serta mengembangkan kompetensi kewirausahaan secara menyeluruh melalui pendidikan, pengalaman, inovasi, dan etika bisnis.Namun demikian, beberapa bagian dalam bacaan perlu dikaji secara lebih kritis, terutama mengenai atribusi teori kepada tokoh tertentu serta penilaian moral terhadap karakter Lorena yang kurang mempertimbangkan kompleksitas kondisi sosial. Oleh karena itu, keberhasilan seorang entrepreneur sebaiknya dipahami sebagai hasil interaksi antara motivasi pribadi, kompetensi, lingkungan, kesempatan, serta kemampuan mengambil keputusan yang etis dan bertanggung jawab. 



DAFTAR PUSTAKA :

  • Harper, M. (1984). The Crocodile River: A Case Study in Entrepreneurship. Intermediate Technology Publications.
  • McClelland, D. C. (1961). The Achieving Society. Princeton, NJ: D. Van Nostrand Company.
  • McGregor, D. (1960). The Human Side of Enterprise. New York: McGraw-Hill.
  • Robbins, S. P., & Judge, T. A. (2022). Organizational Behavior (19th ed.). Pearson.
  • Wiseman, R. (2003). The Luck Factor: The Scientific Study of the Lucky Mind. London: Century.
  • Zimmerman, B. J. (2000). "Self-Efficacy: An Essential Motive to Learn." Contemporary Educational Psychology, 25(1), 82–91.

  • 0 komentar:

    Posting Komentar