UJIAN AKHIR SEMESTER
PSIKOLOGI INOVASI
BAYU PRASETYA RESTU AJI
23310410087
UAS PSIKOLOGI INOVASI (Kelas
Karyawan)
DOSEN PENGAMPU :
IBU ARUNDATI SHINTA
Karakteristik utama
seorang entrepreneur sering dikaitkan dengan dorongan untuk berprestasi (need
for achievement atau nAch), yaitu keinginan yang kuat untuk mencapai
hasil terbaik melalui usaha pribadi. Dalam bacaan tersebut, istilah yang
digunakan adalah nAff, namun secara teoritis konsep dorongan berprestasi
lebih dikenal sebagai need for achievement (nAch) yang dikembangkan oleh
David C. McClelland, bukan Douglas McGregor. McClelland menjelaskan
bahwa individu dengan kebutuhan berprestasi tinggi cenderung menetapkan tujuan
yang menantang tetapi masih realistis, berani mengambil risiko yang
diperhitungkan, serta selalu mencari umpan balik atas hasil kerjanya.
Karakteristik tersebut memang banyak ditemukan pada individu yang berhasil
membangun usaha secara berkelanjutan.
Saya sepakat bahwa
entrepreneur memerlukan target yang menantang namun tetap realistis. Apabila
target terlalu mudah, seseorang akan kehilangan motivasi karena tidak merasa
tertantang. Sebaliknya, apabila target terlalu tinggi dan tidak sesuai
kemampuan maupun sumber daya yang dimiliki, individu berpotensi mengalami
frustrasi bahkan menyerah sebelum memulai. Oleh karena itu, keseimbangan antara
tantangan dan kemampuan menjadi faktor penting dalam membangun motivasi
intrinsik. Dalam praktik kewirausahaan modern, konsep ini juga dikenal melalui
pendekatan stretch goals, yaitu menetapkan sasaran yang cukup tinggi
untuk mendorong perkembangan, tetapi masih dapat dicapai melalui strategi dan
kerja keras.
Namun demikian, saya
kurang sependapat dengan penyataan bahwa dorongan berprestasi dapat
ditingkatkan hanya melalui latihan menulis hal-hal positif atau membuat cerita
emosional pada kartu TAT. Memang benar bahwa McClelland pernah menggunakan
Thematic Apperception Test (TAT) sebagai salah satu alat untuk mengukur motif
berprestasi. Akan tetapi, berbagai penelitian psikologi modern menunjukkan
bahwa motivasi seseorang dibentuk oleh banyak faktor, seperti pengalaman hidup,
lingkungan keluarga, pendidikan, budaya organisasi, dukungan sosial, efikasi diri
(self-efficacy), hingga kesempatan ekonomi. Dengan demikian, peningkatan
motivasi berprestasi tidak cukup hanya melalui latihan psikologis tertentu,
tetapi juga membutuhkan pengalaman nyata, pembelajaran berkelanjutan, serta
lingkungan yang mendukung berkembangnya kompetensi.
Bagian lain yang
menarik adalah pembahasan mengenai teori keberuntungan Robert Wiseman. Wiseman
berpendapat bahwa orang yang dianggap "beruntung" sebenarnya memiliki
pola pikir dan perilaku tertentu, seperti terbuka terhadap peluang, membangun
relasi sosial yang luas, berpikir optimis, serta mampu mengambil keputusan
secara fleksibel. Saya melihat bahwa konsep ini cukup relevan dengan dunia
kewirausahaan. Banyak peluang bisnis muncul bukan semata-mata karena faktor
keberuntungan, tetapi karena seseorang memiliki jaringan yang luas, mampu
membaca perubahan pasar, serta berani mengambil keputusan pada waktu yang
tepat. Dengan kata lain, keberuntungan sering kali merupakan hasil dari
kesiapan individu dalam memanfaatkan kesempatan yang datang.
Meski demikian, contoh
kasus Ruben dan Lorena dalam bacaan perlu dikritisi. Penulis menggambarkan
Lorena sebagai individu yang tidak memiliki potensi berkembang hanya karena ia
menjual dirinya demi memperoleh uang. Pandangan tersebut menurut saya terlalu
sederhana dan berpotensi menimbulkan stigma terhadap individu yang berada dalam
kondisi sosial dan ekonomi yang sulit. Dalam kajian psikologi sosial maupun
sosiologi, perilaku seseorang sering dipengaruhi oleh berbagai faktor kompleks,
seperti kemiskinan, tekanan ekonomi, keterbatasan pendidikan, kekerasan, maupun
ketidaksetaraan sosial. Oleh karena itu, tindakan Lorena tidak dapat langsung
dijadikan indikator bahwa ia memiliki motivasi berprestasi yang rendah. Bisa
jadi ia justru sedang berusaha bertahan hidup dengan pilihan yang sangat
terbatas.
Selain itu, mengaitkan
keberhasilan Ruben semata-mata dengan kemampuannya menghindari Lorena juga
kurang memiliki dasar ilmiah yang kuat. Kesuksesan seorang entrepreneur umumnya
dipengaruhi oleh kombinasi kemampuan teknis, keterampilan manajerial,
kreativitas, inovasi, kemampuan membaca peluang, kepemimpinan, jaringan bisnis,
kondisi pasar, serta faktor eksternal lainnya. Nilai moral memang penting dalam
menjalankan bisnis karena dapat membangun kepercayaan pelanggan dan
keberlanjutan usaha. Namun, moralitas bukanlah satu-satunya faktor yang
menentukan keberhasilan seseorang.
Saya juga menilai bahwa
gagasan Wiseman mengenai pentingnya melihat sisi positif dari setiap pengalaman
merupakan pelajaran yang sangat berharga. Dalam dunia bisnis, kegagalan
merupakan bagian dari proses belajar. Entrepreneur yang sukses biasanya mampu
mengevaluasi kesalahan, memperbaiki strategi, dan menjadikan pengalaman buruk
sebagai sumber pembelajaran. Kemampuan untuk tetap optimis tanpa mengabaikan
realitas merupakan bentuk resilience yang sangat dibutuhkan dalam
menghadapi persaingan usaha yang semakin dinamis.
Di sisi lain, praktik
meditasi atau refleksi diri yang dilakukan Ruben juga dapat dipahami sebagai
upaya meningkatkan kesadaran diri. Banyak penelitian
menunjukkan bahwa refleksi diri membantu seseorang mengambil keputusan yang
lebih matang, mengendalikan emosi, serta mengurangi bias dalam berpikir. Namun
demikian, keberhasilan pengambilan keputusan tetap memerlukan data, analisis,
pengalaman, dan pertimbangan rasional, bukan hanya mengandalkan intuisi semata.
Sebagai kesimpulan,
saya sepakat bahwa kebutuhan berprestasi merupakan salah satu karakteristik
penting yang harus dimiliki seorang entrepreneur. Individu yang memiliki
motivasi berprestasi tinggi akan lebih siap menghadapi tantangan, belajar dari
kegagalan, dan terus mengembangkan kompetensinya. Saya juga setuju bahwa pola
pikir positif, kemampuan membangun relasi, serta keberanian memanfaatkan
peluang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang meraih keberhasilan. olusinya adalah menggunakan teori yang benar, memahami motivasi secara lebih komprehensif, menerapkan pendekatan yang lebih objektif dalam menilai perilaku individu, serta mengembangkan kompetensi kewirausahaan secara menyeluruh melalui pendidikan, pengalaman, inovasi, dan etika bisnis.Namun
demikian, beberapa bagian dalam bacaan perlu dikaji secara lebih kritis,
terutama mengenai atribusi teori kepada tokoh tertentu serta penilaian moral
terhadap karakter Lorena yang kurang mempertimbangkan kompleksitas kondisi
sosial. Oleh karena itu, keberhasilan seorang entrepreneur sebaiknya dipahami
sebagai hasil interaksi antara motivasi pribadi, kompetensi, lingkungan,
kesempatan, serta kemampuan mengambil keputusan yang etis dan bertanggung
jawab.
DAFTAR PUSTAKA :

0 komentar:
Posting Komentar