MUHAMMAD FIRDAUS
23310410131(Kelas Karyawan)
Psikologi Inovasi
Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta., M.A.
Juli 2026
Judul: Makna Need for Achievement dan Keberuntungan dalam Perspektif Kehidupan Nyata
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar bahwa kesuksesan seseorang ditentukan oleh kerja keras, keberanian mengambil risiko, dan juga “keberuntungan”. Namun jika dilihat lebih dalam, konsep tersebut sebenarnya tidak berdiri sendiri. Dalam kajian Psikologi Inovasi, khususnya yang dibahas dalam soal ini , terdapat hubungan yang kuat antara need for achievement (nAff) dan bagaimana seseorang membentuk keberuntungannya sendiri.
Need for achievement atau dorongan untuk berprestasi merupakan salah satu karakter utama seorang entrepreneur. Individu dengan nAff tinggi tidak hanya ingin mencapai tujuan, tetapi juga ingin melakukannya dengan lebih baik dibandingkan orang lain. Hal ini bukan sekadar ambisi kosong, melainkan dorongan yang terarah. Menariknya, tujuan yang ditetapkan tidak boleh terlalu mudah, tetapi juga tidak boleh terlalu sulit. Jika terlalu mudah, seseorang bisa kehilangan semangat karena merasa tidak tertantang. Sebaliknya, jika terlalu sulit, individu justru bisa merasa putus asa sebelum mencoba.
Menurut saya, konsep ini sangat relevan dengan kehidupan mahasiswa saat ini. Banyak mahasiswa yang sebenarnya memiliki potensi, tetapi sering kali menetapkan target yang tidak seimbang. Ada yang terlalu meremehkan diri sendiri dengan memilih zona nyaman, dan ada juga yang terlalu memaksakan diri hingga akhirnya merasa gagal. Di sinilah pentingnya mengenal kemampuan diri dan menetapkan tujuan yang realistis namun tetap menantang.
Menariknya lagi, McGregor menyatakan bahwa nAff bisa dilatih, salah satunya melalui kebiasaan menulis hal-hal positif dan membuat cerita yang menyentuh emosi. Ini menunjukkan bahwa keberhasilan tidak hanya berasal dari bakat, tetapi juga dari proses pembentukan pola pikir. Dalam konteks ini, menulis bukan hanya aktivitas akademik, tetapi juga sarana refleksi diri.
Selain nAff, soal ini juga membahas teori keberuntungan dari Robert Wiseman melalui kisah Ruben dalam “The Crocodile River”. Dari cerita tersebut, terlihat bahwa keberuntungan bukanlah sesuatu yang datang secara tiba-tiba, melainkan hasil dari sikap dan cara berpikir seseorang.
Faktor pertama adalah bergaul dengan orang yang tepat. Lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan individu. Jika seseorang berada di lingkungan yang negatif, maka pola pikirnya juga akan terpengaruh. Dalam kasus Lorena, ia digambarkan sebagai individu dengan moral yang kurang baik, sehingga Ruben memilih untuk menjaga jarak. Menurut saya, ini bukan berarti menghakimi orang lain, tetapi lebih kepada menjaga nilai diri agar tetap konsisten.
Faktor kedua adalah terus mengasah keterampilan. Ruben tidak larut dalam masalah pribadi, melainkan fokus mengembangkan usahanya. Ini adalah contoh nyata bagaimana seseorang bisa mengubah tantangan menjadi peluang. Dalam kehidupan nyata, banyak orang yang berhenti berkembang karena terlalu fokus pada masalah, bukan solusi.
Faktor ketiga adalah kemampuan melihat sisi positif dari situasi negatif. Ini mungkin terdengar klise, tetapi sebenarnya sangat sulit dilakukan. Ruben mampu melihat konflik dengan Lorena sebagai pelajaran moral yang penting. Dari sini kita bisa belajar bahwa pengalaman buruk sekalipun tetap memiliki makna jika kita mau memaknainya dengan bijak.
Faktor keempat adalah kejelian dalam mengambil keputusan. Kebiasaan Ruben bermeditasi menunjukkan bahwa ia tidak gegabah dalam menentukan arah hidupnya. Ia merenung, memahami situasi, dan kemudian bertindak. Dalam era modern yang serba cepat, sikap seperti ini justru semakin jarang ditemui.
Menurut saya, inti dari keseluruhan pembahasan ini adalah bahwa keberhasilan dan keberuntungan bukanlah sesuatu yang instan. Keduanya merupakan hasil dari kombinasi antara dorongan berprestasi, lingkungan yang mendukung, kemampuan berpikir positif, serta ketepatan dalam mengambil keputusan.
Kesimpulannya, saya setuju bahwa nAff dan faktor keberuntungan saling berkaitan erat. Seseorang yang memiliki dorongan berprestasi tinggi akan lebih aktif mencari peluang, memperbaiki diri, dan pada akhirnya menciptakan “keberuntungannya” sendiri. Dengan kata lain, keberuntungan bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari proses panjang yang melibatkan usaha, sikap mental, dan pilihan hidup yang tepat.
Daftar Pustaka
Harper, M. (1984). Entrepreneurship for the poor. London: Intermediate Technology Publications bekerja sama dengan GTZ.
McGregor, D. (1960). The human side of enterprise. New York: McGraw-Hill.
Wiseman, R. (2003). The luck factor: The four essential principles. New York: Hyperion.

0 komentar:
Posting Komentar