23.7.26

UAS Psikologi Inovasi - Angelina Puspaningrum

 Angelina Puspaningrum (23310420135)

Fakultas Psikologi

Universitas Proklamasi ’45 Yogyakarta

Mata Kuliah Psikologi Inovasi

Dosen Pengampu : Arundati Shinta


Tidak semua individu yang memiliki keinginan untuk menjadi entrepreneur mampu benar-benar memulai dan bertahan dalam usahanya. Banyak calon wirausahawan berhenti di tengah jalan, bukan karena kekurangan modal atau peluang pasar, melainkan karena lemahnya dorongan psikologis dalam dirinya untuk berprestasi. Douglas McGregor mengemukakan konsep need for achievement (nAff) sebagai karakteristik paling menonjol dari seorang entrepreneur, yaitu dorongan untuk berbuat sebaik mungkin, lebih baik daripada orang lain, guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan (McGregor, 1960). Persoalannya, dorongan ini tidak selalu tumbuh secara alami pada setiap individu, sehingga banyak yang gagal sebelum sempat mencoba.

Permasalahan: Persepsi Mengenai Tujuan yang Keliru dan Rendahnya Need for Achievement

Persepsi individu terhadap tingkat realistis suatu tujuan bersifat subjektif. Ketika tujuan dirasa terlalu mudah, semangat justru menurun karena tidak ada tantangan yang berarti. Sebaliknya, ketika tujuan dirasakan jauh di atas kemampuan, individu cenderung putus asa sebelum memulai usahanya. Kondisi inilah yang menjadi akar permasalahan banyak calon entrepreneur: mereka gagal menemukan titik keseimbangan antara tujuan yang menantang dan tujuan yang masih dapat dijangkau kemampuannya.

Permasalahan ini semakin nyata ketika individu memiliki nAff yang rendah, sebagaimana tergambar pada tokoh Lorena dalam kasus The Crocodile River (Harper, 1984). Alih-alih membangun keterampilan atau mengejar tujuan jangka panjang secara mandiri, Lorena memilih jalan pintas dengan menjual dirinya demi memperoleh uang. Pilihan ini menunjukkan tidak adanya dorongan untuk berprestasi melalui usaha sendiri, sehingga ia kehilangan potensi untuk maju secara berkelanjutan.

Tinjauan Teoretis: Need for Achievement dan Empat Faktor Keberuntungan Wiseman

Berbeda dengan Lorena, tokoh Ruben dalam kasus yang sama justru memperlihatkan nAff yang tinggi. Ia terus memperbaiki kemampuannya dalam membangun usaha persewaan sampan dan memandang sungai buaya (crocodile river) sebagai wahana untuk mengasah keterampilan, bukan sebagai ancaman semata. Perilaku Ruben ini sejalan dengan teori keberuntungan yang dikemukakan oleh Wiseman (2003), yang menyebutkan empat faktor penentu keberuntungan seseorang.

Faktor pertama adalah kedekatan dengan orang-orang yang sukses, sesuatu yang justru dihindari Ruben ketika ia menjauh dari pengaruh Lorena. Faktor kedua adalah kerajinan dalam mengasah keterampilan sendiri, tampak dari fokus Ruben pada usahanya tanpa mencampuri persoalan orang lain. Faktor ketiga adalah kemampuan melihat sisi positif dari musibah, di mana konflik dengan Lorena justru menyelamatkan Ruben dari penyimpangan moral. Faktor keempat adalah kemampuan dalam mengambil keputusan, yang dimiliki Ruben.

Dengan demikian, nAff dan keberuntungan bukanlah dua hal yang berdiri sendiri. Keduanya saling terkait. Dorongan berprestasi mendorong individu untuk terus berusaha secara realistis, sementara pola perilaku yang konsisten dengan empat faktor Wiseman membuka peluang keberuntungan yang lebih besar dalam perjalanan usahanya. Menariknya, keempat faktor tersebut juga berfungsi sebagai indikator sejauh mana nAff seseorang telah terinternalisasi dalam perilaku sehari-hari. Individu dengan nAff tinggi cenderung secara alami memilih lingkungan pergaulan yang mendukung, konsisten mengasah kemampuannya, serta mampu memaknai kegagalan sebagai bagian dari proses belajar, bukan sebagai alasan untuk berhenti.

Solusi: Melatih Need for Achievement

Kabar baiknya, McGregor menegaskan bahwa nAff bukanlah sifat bawaan yang tetap, melainkan dapat dilatih. Salah satu caranya adalah dengan membiasakan diri menulis hal-hal positif secara rutin dan menyusun cerita-cerita yang menyentuh hati serta bernada emosional, misalnya melalui kartu Thematic Apperception Test (TAT). Latihan semacam ini membantu individu membangun pola pikir berorientasi pencapaian sebelum benar-benar terjun ke dunia usaha.

Selain itu, empat faktor keberuntungan Wiseman dapat dijadikan panduan praktis bagi calon entrepreneur. Individu perlu secara sadar membangun relasi dengan orang-orang yang sukses, rutin mengasah keterampilan sendiri tanpa larut dalam persoalan orang lain, membiasakan diri melihat sisi positif dari setiap musibah, serta melatih kepekaan dalam mengambil keputusan melalui refleksi atau perenungan yang teratur. Pendekatan ini sejalan dengan penetapan tujuan yang realistis, yaitu tujuan yang cukup menantang untuk memacu semangat namun tetap berada dalam jangkauan kemampuan, sehingga individu tidak mudah menyerah maupun kehilangan motivasi.

Solusi ini idealnya diterapkan secara bertahap dan berkelanjutan, bukan sekadar latihan sesaat. Hal penting lainnya adalah latihan menulis reflektif dan diskusi berbasis kasus, seperti kasus Ruben dan Lorena, sebagai media untuk melatih nAff sejak dini. Dengan cara ini, calon entrepreneur tidak hanya dibekali pengetahuan teoretis, tetapi juga kebiasaan konkret yang terbukti berkontribusi pada pencapaian tujuan yang realistis sekaligus keberuntungan jangka panjang. Kombinasi antara dorongan berprestasi ala McGregor dan pola perilaku keberuntungan ala Wiseman menawarkan kerangka yang saling melengkapi: yang satu membentuk motivasi dari dalam diri, yang lain membentuk kebiasaan yang membuka peluang dari luar.

Daftar Pustaka

Harper, R. (1984). The Crocodile River.

McGregor, D. (1960). Kajian mengenai need for achievement (nAff) pada entrepreneur (Disertasi). Harvard University.

Wiseman, R. (2003). The Luck Factor: The Scientific Study of the Lucky Mind. New York: Talk Miramax Books.

0 komentar:

Posting Komentar