23.7.26

Essai 10 UAS


Peran Need for Achievement dalam Kewirausahaan dan Pentingnya Berpikir Kritis

Bernardus Christian Hitiahubessy (23310410113)


Mata kuliah psikologi Innovasi (Dr Arundati Shinta M.A) 


Universitas Proklamasi 45 


Motivasi untuk mencapai prestasi (need for achievement atau nAch) merupakan salah satu karakteristik yang sering dikaitkan dengan keberhasilan seorang entrepreneur. Individu yang memiliki motivasi berprestasi tinggi cenderung menetapkan target yang jelas, berusaha meningkatkan kualitas hasil kerjanya, serta tidak mudah menyerah ketika menghadapi tantangan. Oleh karena itu, konsep ini menjadi salah satu landasan penting dalam memahami perilaku kewirausahaan. Meskipun demikian, setiap teori yang dipelajari perlu dipahami secara kritis. Pembaca tidak hanya dituntut memahami isi bacaan, tetapi juga mampu mengevaluasi ketepatan teori, tokoh yang dikutip, serta kesesuaian contoh yang digunakan sebagai ilustrasi.

Saya sependapat bahwa motivasi berprestasi merupakan modal psikologis yang penting bagi seorang entrepreneur. Menurut McClelland (1961), individu dengan tingkat need for achievement yang tinggi lebih menyukai tantangan yang realistis, yaitu tugas yang cukup sulit untuk menguji kemampuan, tetapi masih memiliki peluang untuk diselesaikan dengan baik. Karakteristik tersebut membuat seseorang terdorong untuk terus belajar, memperbaiki kesalahan, dan mencari strategi yang lebih efektif dalam mencapai tujuan. Sikap seperti ini sangat diperlukan dalam dunia usaha yang penuh persaingan dan ketidakpastian.

Namun demikian, terdapat bagian dalam bacaan yang perlu dikaji secara lebih teliti. Uraian tersebut menyebutkan bahwa konsep need for achievement berasal dari Douglas McGregor. Berdasarkan literatur psikologi, teori tersebut sebenarnya dikembangkan oleh David C. McClelland, sedangkan Douglas McGregor dikenal melalui Theory X dan Theory Y yang menjelaskan pandangan manajer terhadap motivasi dan perilaku karyawan (McGregor, 1960). Perbedaan ini mungkin terlihat sederhana, tetapi dalam penulisan ilmiah ketepatan mencantumkan tokoh merupakan hal yang penting. Kesalahan atribusi dapat menyebabkan pembaca memperoleh pemahaman yang kurang tepat mengenai perkembangan suatu teori.

Bacaan tersebut juga menjelaskan bahwa motivasi berprestasi dapat dikembangkan melalui latihan, seperti membiasakan diri menulis pengalaman positif dan membangun pola pikir yang optimis. Saya menilai bahwa gagasan tersebut cukup relevan karena berbagai penelitian menunjukkan bahwa motivasi bukanlah sifat yang sepenuhnya menetap, melainkan dapat berkembang melalui pengalaman belajar, refleksi diri, dan pembentukan kebiasaan positif. Meski demikian, keberhasilan metode tersebut tidak sama pada setiap individu. Faktor kepribadian, lingkungan keluarga, dukungan sosial, pendidikan, dan pengalaman hidup juga berperan dalam menentukan tingkat motivasi seseorang.

Selain itu, penggunaan Thematic Apperception Test (TAT) dalam bacaan perlu dipahami sesuai fungsi aslinya. TAT merupakan alat asesmen psikologi yang dikembangkan oleh Henry A. Murray untuk mengeksplorasi kebutuhan, konflik, dan motif yang dimiliki seseorang melalui interpretasi terhadap gambar tertentu (Murray, 1943). Walaupun hasil asesmen tersebut dapat menjadi dasar penyusunan intervensi psikologis, TAT pada dasarnya bukan merupakan metode pelatihan motivasi secara langsung. Oleh sebab itu, pembaca perlu membedakan antara fungsi alat ukur psikologi dengan teknik pengembangan motivasi.

Kisah The Crocodile River yang menghadirkan tokoh Ruben dapat dipahami sebagai ilustrasi mengenai pentingnya menjaga integritas dalam menjalankan usaha. Ruben digambarkan sebagai individu yang tetap berpegang pada prinsip moral, berusaha meningkatkan keterampilannya, dan memandang hambatan sebagai kesempatan untuk berkembang. Nilai-nilai tersebut memang sesuai dengan karakter entrepreneur yang tangguh. Akan tetapi, cerita tersebut lebih tepat dijadikan bahan refleksi etis daripada dijadikan bukti ilmiah yang dapat digeneralisasikan pada seluruh situasi kehidupan.

Saya juga menilai bahwa penilaian terhadap tokoh Lorena dalam bacaan masih perlu dipertimbangkan secara lebih objektif. Mengaitkan rendahnya motivasi berprestasi hanya berdasarkan pilihan hidup seseorang merupakan penyederhanaan terhadap perilaku manusia. Dalam perspektif psikologi, tindakan seseorang dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti tekanan ekonomi, kondisi keluarga, pengalaman traumatis, maupun lingkungan sosial. Oleh karena itu, analisis perilaku sebaiknya dilakukan secara komprehensif tanpa terburu-buru memberikan penilaian terhadap karakter individu.

Pendapat Robert Wiseman mengenai empat prinsip keberuntungan juga menarik untuk dibahas. Wiseman (2003) menjelaskan bahwa orang yang dianggap beruntung umumnya lebih terbuka terhadap kesempatan, aktif membangun hubungan sosial, mampu mengambil hikmah dari pengalaman buruk, serta percaya diri dalam mengambil keputusan. Saya sepakat bahwa kebiasaan tersebut dapat meningkatkan peluang seseorang untuk berhasil. Akan tetapi, keberuntungan tidak hanya bergantung pada sikap individu. Faktor eksternal seperti kondisi ekonomi, akses pendidikan, kesempatan kerja, serta dukungan lingkungan juga memiliki kontribusi terhadap keberhasilan seseorang.

Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa motivasi berprestasi merupakan salah satu aspek penting dalam membangun jiwa kewirausahaan. Namun, kemampuan berpikir kritis juga tidak kalah penting. Seorang mahasiswa maupun entrepreneur perlu membiasakan diri memverifikasi sumber informasi, memahami teori berdasarkan referensi ilmiah yang benar, serta tidak langsung menerima setiap pendapat tanpa melakukan evaluasi. Sikap kritis inilah yang akan menghasilkan pemahaman yang lebih akurat dan mencegah terjadinya kesalahan dalam menarik kesimpulan. Dengan demikian, entrepreneur yang sukses bukan hanya memiliki semangat untuk berprestasi, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir logis, objektif, dan berdasarkan bukti ilmiah.


Daftar Pustaka

McClelland, D. C. (1961). The Achieving Society. Princeton, NJ: D. Van Nostrand Company. 

McGregor, D. (1960). The Human Side of Enterprise. New York: McGraw-Hill. 

Murray, H. A. (1943). Thematic Apperception Test Manual. Cambridge, MA: Harvard University Press. 

Robbins, S. P., & Judge, T. A. (2023). Organizational Behavior (19th ed.). Pearson. 

Wiseman, R. (2003). The Luck Factor: The Scientific Study of the Lucky Mind. London: Century.

0 komentar:

Posting Komentar