Navigasi Keberuntungan dan Mentalitas Entrepreneurial: Refleksi Kritis Atas Narasi Kebijakan Moral dan Dorongan Berprestasi
Banun Havifah Cahyo Khosiyono (24310440002)
Mata Kuliah Psikologi Inovasi (Dosen:Dr. Arundati Shinta, M.A.)
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta | Kelas B (Karyawan)
Sebagai seorang mahasiswa kelas karyawan di Universitas Proklamasi 45 yang sehari-hari harus membagi waktu antara tuntutan pekerjaan, beban perkuliahan, dan impian membangun usaha mandiri, jujur saja, saya sering berada dalam fase lelah secara emosional. Membaca lembar soal ujian ini membawa ingatan dan rasa curhat yang begitu dekat dengan dinamika hidup yang saya jalani. Namun, membaca paparan stimulus teks soal yang mengutip studi kasus The Crocodile River karya Harper (1984), teori motivasi berprestasi, hingga prinsip keberuntungan Wiseman (2003), jujur, saya merasa ada beberapa absurditas dan kekeliruan teoretis mendasar yang sangat menggelitik untuk saya bedah secara kritis dan mendalam.
Permasalahan utama yang saya soroti terletak pada distorsi konseptual yang disajikan dalam lembar soal, khususnya terkait atribusi pencetus teori need for achievement (nAch/nAff). Dalam narasi soal, disebutkan bahwa konsep dorongan berprestasi dikemukakan oleh Douglas McGregor saat penelitian disertasi di India pada tahun 1960. Ini merupakan kekeliruan sejarah psikologi yang fatal. Secara historis dan teoretis, konsep need for achievement digagas dan dipopulerkan secara komprehensif oleh David McClelland melalui karya monumentalnya The Achieving Society (McClelland, 1961), serta didasari oleh pemikiran awal Henry Murray (1938) dalam kerangka Thematic Apperception Test (TAT). Sementara itu, Douglas McGregor (1960) dari MIT, bukan Harvard, terkenal dengan formulasi Teori X dan Teori Y dalam konteks manajemen organisasi, bukan sebagai penemu konsep nAch/nAff. Mengaitkan nAch secara eksklusif dengan McGregor mencerminkan adanya cognitive error atau kekeliruan konstruksi akademik yang dapat merusak landasan pemahaman mahasiswa.
Selain distorsi sejarah tersebut, masalah kedua yang sangat menyentuh emosi saya adalah penghakiman moral yang terlalu simplistis terhadap tokoh Lorena dalam narasi kasus. Lorena dilabeli secara sepihak sebagai sosok yang bersikap moral buruk dan tidak memiliki potensi maju hanya karena keputusannya menukarkan seks demi bertahan hidup dan mencapai tujuannya. Dalam kacamata psikologi kepribadian dan humanistik, tindakan Lorena tidak bisa secara dangkal disimpulkan sebagai cerminan need for achievement yang rendah. Mengacu pada hierarki kebutuhan Abraham Maslow (1954), individu yang berada dalam kondisi krisis finansial dan ancaman fisiologis yang ekstrem akan terdorong untuk memuaskan kebutuhan dasar (physiological and safety needs) terlebih dahulu sebelum mampu mengejar aktualisasi diri atau dorongan berprestasi. Pilihan kompromi yang diambil Lorena merupakan manifestasi dari mekanisme koping darurat di bawah tekanan lingkungan yang sangat opresif, bukan bukti rendahnya kepribadian atau ketiadaan ambisi masa depan (Bandura, 1997).
Di sisi lain, narasi soal begitu mengagungkan Ruben sebagai sosok entrepreneur ideal yang beruntung karena menerapkan empat faktor keberuntungan Robert Wiseman (2003). Ruben dipotret sebagai figur teruji yang rajin mengasah keterampilan (skill mastery), memutus hubungan dengan orang bermasalah, mengambil hikmah positif, dan rajin bermeditasi pada pukul tiga dini hari untuk melatih intuisi. Namun, apabila kita menganalisis secara kritis menggunakan teori lokus kendali (locus of control) dari Julian Rotter (1966), Ruben menunjukkan internal locus of control yang sangat kuat, di mana ia meyakini bahwa arah hidupnya ditentukan sepenuhnya oleh keputusan emosional dan kerja keras pribadinya. Solusi Ruben untuk bersikap dingin dan membiarkan Lorena dalam kesusahan mungkin tampak efisien secara bisnis, tetapi memunculkan dilema etika bisnis dan kepemimpinan inovatif.
Sebagai solusi atas permasalahan tersebut, seorang entrepreneur sejati dalam era modern tidak hanya membutuhkan need for achievement yang tinggi dan luck factor individual semata, melainkan integrasi antara kecerdasan emosional (Goleman, 1995) dan empati sosial. Keberuntungan yang berkelanjutan (sustainable luck) menurut Wiseman (2003) diperoleh bukan dengan cara mengisolasi diri dari orang-orang yang sedang mengalami krisis moral atau ekonomi, melainkan melalui kemampuan menciptakan ruang inovasi sosial yang inklusif. Dalam persewaan sampan di Sungai Buaya tersebut, kejelian Ruben seharusnya ditingkatkan dari sekadar bertahan hidup menjadi penciptaan inovasi sistem transportasi yang aman bagi seluruh lapisan masyarakat, tanpa harus menghakimi status sosial penumpangnya.
Berdasarkan refleksi mendalam ini, dapat disimpulkan bahwa untuk menjadi entrepreneur inovatif yang tangguh, kita wajib mengoreksi pemahaman teori motivasi secara akurat, melatih daya kritis, serta mengasah dorongan berprestasi yang berlandaskan pada etika, empati, dan objektivitas ilmiah.
Daftar Pustaka
Bandura, A. (1997). Self-efficacy: The exercise of control. W. H. Freeman and Company.
Goleman, D. (1995). Emotional intelligence: Why it can matter more than IQ. Bantam Books.
Harper, M. (1984). Entrepreneurship for the poor. Intermediate Technology Publications.
Maslow, A. H. (1954). Motivation and personality. Harper & Row.
McClelland, D. C. (1961). The achieving society. D. Van Nostrand Company.
McGregor, D. (1960). The human side of enterprise. McGraw-Hill.
Murray, H. A. (1938). Explorations in personality. Oxford University Press.
Rotter, J. B. (1966). Generalized expectancies for internal versus external control of reinforcement. Psychological Monographs: General and Applied, 80(1), 1–28. https://doi.org/10.1037/h0092976
Schumpeter, J. A. (1934). The theory of economic development: An inquiry into profits, capital, credit, interest, and the business cycle. Harvard University Press.
Wiseman, R. (2003). The luck factor: The four essential principles. Hyperion.
0 komentar:
Posting Komentar