ESAI
UJIAN
AKHIR SEMESTER
Alifa Maura Bunga Herina
24310430041
Psikologi Inovasi
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta
23 Juli 2026
Psikologi inovasi
mempelajari proses psikologis yang membuat seseorang mampu menghasilkan ide
baru, menyelesaikan masalah secara kreatif, serta beradaptasi dengan perubahan.
Dalam konteks kewirausahaan, inovasi bukan hanya ditentukan oleh kemampuan
teknis atau besarnya modal, tetapi juga dipengaruhi oleh karakter psikologis
individu. Salah satu karakter yang paling penting adalah need for
achievement (nAff) yang dikemukakan Douglas McGregor (1960), yaitu dorongan
untuk mencapai prestasi melalui tujuan yang menantang namun tetap realistis.
Menurut saya, konsep tersebut menunjukkan bahwa inovasi berawal dari motivasi seseorang
untuk terus berkembang. Tanpa dorongan berprestasi, seorang entrepreneur akan
mudah merasa puas dengan kondisi yang ada sehingga sulit mengembangkan usahanya.
Permasalahan yang sering
ditemukan saat ini adalah banyak individu memiliki keinginan menjadi
entrepreneur, tetapi belum memiliki kesiapan psikologis untuk menghadapi
tantangan. Sebagian orang menetapkan target yang terlalu rendah sehingga tidak
terdorong untuk mengembangkan kreativitas dan inovasi. Sebaliknya, ada juga yang menetapkan target terlalu tinggi sehingga merasa gagal sebelum benar-benar
mencoba. Dari sudut pandang psikologi inovasi, kondisi tersebut menunjukkan
bahwa cara seseorang memandang kemampuan dirinya sangat memengaruhi perilaku
inovatif. Individu yang tidak percaya pada kemampuannya cenderung menghindari
risiko, sedangkan individu yang memiliki motivasi berprestasi akan lebih berani
mencoba cara baru meskipun berpotensi mengalami kegagalan.
Saya sependapat dengan
pendapat McGregor bahwa need for achievement dapat dilatih. Kebiasaan
menulis pengalaman positif, melakukan refleksi diri, serta menyusun target yang
realistis merupakan latihan psikologis yang membantu seseorang mengenali
potensi dirinya. Dalam psikologi inovasi, proses refleksi sangat penting karena
seseorang perlu mengevaluasi pengalaman untuk menemukan cara berpikir dan
strategi yang lebih efektif. Selain itu, penggunaan kartu Thematic
Apperception Test (TAT) juga menunjukkan bahwa aspek emosional memiliki
peran dalam membentuk motivasi seseorang. Cerita yang dibuat berdasarkan gambar
TAT membantu individu memahami nilai, tujuan, dan dorongan yang dimilikinya.
Dengan demikian, inovasi bukan hanya berasal dari kemampuan intelektual, tetapi
juga dari pengelolaan aspek psikologis yang baik.
Kasus Ruben dalam The
Crocodile River menjadi contoh bahwa keberhasilan merupakan hasil dari cara
seseorang mengelola pikirannya. Robert Wiseman (2003) menjelaskan bahwa
keberuntungan dipengaruhi oleh empat faktor, yaitu membangun lingkungan yang
positif, mengembangkan keterampilan, melihat sisi baik dari setiap peristiwa,
serta mampu mengambil keputusan secara tepat. Dalam perspektif psikologi
inovasi, perilaku Ruben menunjukkan kemampuan berpikir adaptif. Ia tidak
memandang sungai buaya sebagai hambatan, tetapi sebagai kesempatan untuk menciptakan
sampan yang lebih aman. Cara berpikir seperti ini merupakan bentuk inovasi
karena Ruben mampu mengubah masalah menjadi peluang yang menghasilkan nilai
tambah bagi usahanya.
Meskipun demikian, saya
memiliki pandangan yang berbeda terhadap penjelasan mengenai tokoh Lorena.
Dalam soal dijelaskan bahwa Lorena sebaiknya dijauhi karena memiliki moral yang
buruk dan dianggap tidak memiliki potensi untuk maju. Menurut saya, perilaku seseorang tidak hanya
dipengaruhi oleh karakter pribadi, tetapi juga oleh pengalaman hidup, tekanan
ekonomi, kondisi keluarga, serta lingkungan sosial. Keputusan Lorena memang
tidak dapat dibenarkan secara moral, tetapi tindakan tersebut tidak secara
otomatis menunjukkan bahwa ia tidak memiliki potensi untuk berkembang. Justru
psikologi mengajarkan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk berubah apabila
memperoleh dukungan, pembelajaran, dan lingkungan yang lebih baik. Oleh karena
itu, saya lebih setuju apabila kisah Lorena dijadikan pelajaran mengenai
pentingnya menjaga nilai moral, bukan sebagai dasar untuk memberikan label atau judge bahwa seseorang tidak memiliki masa depan.
Menurut saya, solusi untuk
meningkatkan need for achievement sekaligus membangun perilaku inovatif
adalah menciptakan lingkungan yang mendukung pembelajaran, membiasakan refleksi
diri, serta melatih keberanian mencoba ide-ide baru. Entrepreneur juga perlu
membangun kebiasaan mengevaluasi setiap kegagalan sebagai sumber pembelajaran,
bukan sebagai akhir dari usaha yang dilakukan. Selain itu, menjaga integritas
dan etika dalam berbisnis menjadi faktor penting agar inovasi yang dihasilkan
tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat.
Inovasi yang baik adalah inovasi yang tetap mempertimbangkan nilai kemanusiaan
dan tanggung jawab sosial.
Sebagai mahasiswa, saya
melihat bahwa konsep need for achievement sangat relevan dalam kehidupan
sehari-hari. Motivasi untuk terus belajar, menerima kritik, mengikuti
perkembangan ilmu pengetahuan, serta berani mencoba pendekatan baru merupakan
bagian dari proses membangun perilaku inovatif. Dunia kerja saat ini membutuhkan
individu yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga mampu berpikir
kreatif, adaptif, dan mampu menyelesaikan masalah secara efektif. Oleh karena
itu, pengembangan aspek psikologis menjadi modal penting agar seseorang mampu
berinovasi secara berkelanjutan.
Berdasarkan pembahasan
tersebut, saya menyimpulkan bahwa need for achievement merupakan faktor
psikologis yang berperan penting dalam mendorong inovasi dan keberhasilan
entrepreneur. Teori McGregor menunjukkan bahwa motivasi berprestasi dapat
dikembangkan melalui latihan, sedangkan teori Wiseman menjelaskan bahwa
keberuntungan merupakan hasil dari kebiasaan berpikir dan bertindak secara
positif. Dalam perspektif psikologi inovasi, kedua teori tersebut saling
melengkapi karena menekankan bahwa inovasi lahir dari motivasi yang kuat,
kemampuan mengelola diri, keberanian menghadapi tantangan, serta kemauan
belajar dari setiap pengalaman. Dengan karakter tersebut, seorang entrepreneur
tidak hanya mampu mencapai keberhasilan bisnis, tetapi juga menghasilkan
inovasi yang memberikan dampak positif bagi masyarakat.
Daftar Pustaka
Harper, M. (1984). Entrepreneurship
for the Poor. London: Intermediate Technology Publications in association
with GTZ (German Agency for Technical Co-operation).
McGregor, D. (1960). The
Human Side of Enterprise. New York: McGraw-Hill.
Wiseman, R. (2003). The
Luck Factor: The Four Essential Principles. New York: Hyperion.
0 komentar:
Posting Komentar