23.7.26

Esai 8 - My Most Admirable Accomplishment

Psikologi Inovasi 

Esai 8 - Pendakian Gunung Prau: Pengalaman yang Paling Saya Banggakan

Dosen pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A

Nama : Annisa Septiana Putri 

NIM : 23310410108




Fakultas Psikologi

Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta



2026


 

Setiap orang memiliki pencapaian yang paling berkesan dalam hidupnya. Bagi saya, pencapaian tersebut adalah pengalaman mendaki Gunung Prau pada 2324 November 2020 saat saya berusia 21 tahun. Pendakian ini merupakan pengalaman pertama sekaligus terakhir saya mendaki gunung. Walaupun hanya dilakukan satu kali, pengalaman tersebut memberikan pelajaran hidup yang sangat berharga dan masih menjadi sumber motivasi bagi saya hingga saat ini.

 

Sebelum mendaki Gunung Prau, saya bukanlah seseorang yang menyukai aktivitas mendaki gunung. Saya lebih menyukai wisata alam karena menikmati pemandangan pegunungan, udara yang sejuk, dan suasana yang tenang. Ketika satu sepupu perempuan dan dua sepupu laki-laki mengajak saya mendaki Gunung Prau, saya sempat merasa ragu. Saya ingin mencoba pengalaman baru, tetapi di sisi lain saya takut tidak mampu mencapai puncak karena kondisi fisik saya saat itu belum terlalu baik dan belum pernah mendaki gunung sebelumnya.

 

Selain rasa takut tersebut, saya juga menghadapi keraguan dari orang tua. Mereka khawatir saya tidak mampu menyelesaikan pendakian karena saya seorang perempuan yang belum memiliki pengalaman mendaki. Kekhawatiran itu sebenarnya muncul karena mereka ingin memastikan keselamatan saya selama perjalanan. Agar mendapatkan kepercayaan dari mereka, saya mulai mempersiapkan diri dengan berlatih berjalan kaki secara rutin dan melakukan trekking ke Curug 7 Cibodas di Bogor. Saya juga mencari informasi mengenai jalur pendakian, perlengkapan yang harus dibawa, dan kondisi Gunung Prau. Setelah melihat kesungguhan saya dalam mempersiapkan diri, akhirnya orang tua memberikan izin sekaligus doa agar perjalanan saya berjalan dengan lancar.

 

Kami berangkat dari rumah pada sore hari menggunakan bus menuju Basecamp Patak Banteng, kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan kendaraan menuju titik awal pendakian pada pagi hari. Selama perjalanan menuju puncak, saya beberapa kali merasa lelah, terutama ketika melewati jalur yang menanjak cukup curam. Saya sempat berpikir untuk berhenti, tetapi dukungan dari sepupu membuat saya tetap melangkah sedikit demi sedikit hingga akhirnya berhasil mencapai puncak.

 

Momen yang paling saya ingat adalah ketika bermalam di dalam tenda dan bangun pada pagi hari dengan cuaca yang sangat cerah. Dari puncak Gunung Prau saya dapat menikmati matahari terbit yang indah serta melihat deretan gunung lain, seperti Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, dan Gunung Merbabu. Semua rasa lelah selama perjalanan seolah terbayarkan oleh pemandangan yang luar biasa tersebut.

 

Perjalanan pulang justru menjadi pengalaman yang paling menegangkan. Rombongan kami sempat keluar dari jalur pendakian sehingga membuat semua orang merasa panik. Namun, kami tetap berusaha tenang, saling berdiskusi, dan akhirnya berhasil menemukan jalur lain hingga kembali ke pos pendakian dengan selamat. Pengalaman tersebut mengajarkan saya bahwa dalam setiap perjalanan selalu ada tantangan yang tidak terduga. Dengan ketenangan, kerja sama, dan semangat untuk terus berusaha, setiap masalah dapat dihadapi dengan baik.

 

Bagi saya, pencapaian ini bukan hanya tentang berhasil mencapai puncak Gunung Prau, tetapi juga tentang keberanian untuk keluar dari zona nyaman dan membuktikan bahwa saya mampu melakukan sesuatu yang sebelumnya saya anggap mustahil. Saya juga belajar bahwa stereotip tidak seharusnya membatasi seseorang untuk berkembang. Sebagai perempuan, saya mampu menyelesaikan pendakian karena saya mempersiapkan diri dengan baik, menjaga keselamatan, dan percaya pada kemampuan diri sendiri.

 

Pengalaman ini memiliki hubungan yang erat dengan Psikologi Inovasi. Inovasi tidak selalu berarti menciptakan sesuatu yang baru, tetapi juga dapat diwujudkan melalui perubahan pola pikir dan keberanian mencoba pengalaman baru. Keputusan saya mendaki Gunung Prau merupakan bentuk inovasi dalam diri karena saya berani menghadapi rasa takut, keluar dari zona nyaman, dan membangun kepercayaan terhadap kemampuan diri (self-efficacy). Pengalaman tersebut mengajarkan bahwa setiap proses menuju tujuan pasti memiliki hambatan. Namun, apabila dijalani dengan tekad, persiapan yang matang, dan kegigihan, maka tujuan tersebut dapat dicapai. Hingga saat ini, pengalaman mendaki Gunung Prau masih menjadi motivasi bagi saya ketika menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan. Saya percaya bahwa keberanian untuk mencoba merupakan langkah awal menuju setiap pencapaian yang lebih besar.


Dokumentasi

Foto saat tracking di Curug 7 Cibodas Bogor

Bunga Daisy di Gunung Prau Wonosobo


Link video : 

https://vt.tiktok.com/ZSXsxevtp/ 

Saya upload video di Tiktok karena Youtube selalu kena pelanggaran




Daftar Pustaka

 

Amabile, T. M. (1996). Creativity in Context. Boulder, CO: Westview Press.

 

Bandura, A. (1997). Self-Efficacy: The Exercise of Control. New York: W. H. Freeman.

 

De Jong, J. P. J., & Den Hartog, D. N. (2010). Measuring Innovative Work Behaviour. Creativity and Innovation Management, 19(1), 2336.

0 komentar:

Posting Komentar