8.5.26

Essai 2 - Wawancara Disonansi Kognitif

 Disonansi Kognitif pada Penderita Asam Lambung yang Tetap Mengonsumsi Makanan Pedas dan Kopi


Rahma Nur Al Amina
23310410066


Psikologi Inovasi

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A

2026

Dewanti dan Irwansyah (2021), menjelaskan bahwa disonansi kognitif adalah kondisi dimana ketegangan atau ketidaknyamanan psikologis yang muncul ketika seseorang mengalami pertentangan dalam pikirannya terhadap suatu keputusan atau perilaku. disonansi kognitif sering dipahami sebagai “keadaan motivasi yang tidak menyenangkan” atau “ketegangan psikologis” akibat adanya ketidaksesuaian antara keyakinan dan tindakan individu.

Pada jurnal ini juga menjelaskan bahwa individu melakukan disonansi kognitif karena adanya pertentangan antara nilai, budaya, keyakinan, dan perilaku yang mereka lakukan. Nilai budaya dan religi yang dianut individu, sehingga muncul keraguan ketika tindakan tidak sesuai dengan keyakinannya. Faktor emosional dan status sosial, yang memengaruhi keputusan pembelian seseorang. Keputusan impulsif atau spontan, terutama ketika seseorang tidak memiliki cukup waktu untuk mempertimbangkan keputusan dengan matang. Rasa penasaran dan kebiasaan konsumsi, sehingga individu tetap melakukan tindakan meskipun sadar terdapat konflik dalam dirinya.

--

Beberapa waktu lalu saya mewawancarai salah satu teman kantor yang berinisial BRL yang memiliki penyakit asam lambung. Hal yang membuat saya heran adalah meskipun ia sering mengeluh sakit lambung, ia tetap gemar makan makanan pedas dan minum kopi hampir setiap hari. Dari situ saya mulai melihat adanya disonansi kognitif, yaitu keadaan ketika seseorang memiliki pemahaman tentang sesuatu, tetapi tindakannya justru bertentangan dengan pengetahuan tersebut.

Saat kami sedang duduk di ruang istirahat, BRL memesan seblak (makanan khas jawa barat) dengan level kepedasan yang fantastis dan segelas es kopi. Padahal hari sebelumnya ia baru saja mengeluh dadanya terasa panas karena asam lambungnya naik. Di Tengah makan siang, saya mulai bertanya kepada BRL.

“Bukannya kemarin lambungmu kambuh? Kok masih makan pedas dan minum kopi?” saya bertanya kepada BRL.

BRL tertawa kecil lalu menjawab, “Iya sih, tapi aku memang suka. Kalau nggak makan pedas rasanya kurang nikmat.”

Saya kembali bertanya, “Tapi kan kamu tahu itu bikin sakit?”

“Iya tahu,” jawabnya singkat. “Cuma susah berhenti. Lagian aku mikirnya asal nggak terlalu banyak harusnya aman.”

Jawabannya membuat saya berpikir bahwa sebenarnya Ia sadar dengan kebiasaannya yang berbahaya bagi kesehatan, tetapi tetap melakukannya karena ada rasa nyaman dan kenikmatan yang sulit ditinggalkan. Dalam pikirannya terjadi pertentangan antara logika dan kebiasaan. Ia ingin sehat, tetapi di sisi lain ia juga tidak ingin kehilangan hal-hal yang sudah menjadi bagian dari rutinitasnya.

Percakapan kami terus berlanjut, saya pun bertanya

“Kalau sudah kambuh, kapok nggak?” 

“Kapok sebentar doang,” katanya sambil tertawa. “Nanti kalau sudah enakan ya balik lagi.”

Saya menyadari bahwa BRL sebenarnya sedang mencoba membenarkan tindakannya sendiri. Ia mencari alasan agar tetap merasa nyaman dengan pilihannya, misalnya dengan mengatakan bahwa ia hanya minum kopi sedikit atau makan pedas sesekali saja. Padahal kenyataannya kebiasaan itu terus berulang. Inilah bentuk nyata dari disonansi kognitif yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Dari wawancara sederhana itu saya belajar bahwa manusia tidak selalu bertindak sesuai dengan apa yang mereka ketahui. Pengetahuan tentang risiko kesehatan ternyata tidak cukup kuat untuk mengubah kebiasaan seseorang secara langsung. Ada faktor kenyamanan, selera, dan kebiasaan yang membuat seseorang tetap melakukan hal yang sebenarnya merugikan dirinya sendiri.

Menurut saya, kondisi seperti ini banyak terjadi di sekitar kita, bukan hanya pada penderita asam lambung. Banyak orang memahami dampak buruk suatu kebiasaan, tetapi tetap melakukannya karena merasa sulit berhenti. Melalui percakapan dengan BRL, saya jadi memahami bahwa perubahan perilaku membutuhkan kesadaran yang lebih besar daripada sekadar mengetahui mana yang benar dan mana yang salah.


Daftar Pustaka

Dewanti, I. N., & Irwansyah. (2021). Disonansi Kognitif Dalam Perilaku Konsumen Masyarakat Indonesia Terhadap Pembelian Produk Tanpa Logo Halal. Jurnal Lensa Mutiara Komunikasi, 5(1), 99–109.

 

 


0 komentar:

Posting Komentar