ESAI 2 - Wawancara Disonasi Kognitif
Nama : Ali Imron
NIM : 23310410123
Kelas : Kariawan
Mata Kuliah : Psikologi Inovasi
Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.
Tugas : Esai 2 Wawancara disonansi kognitif
Topik | Wawancara Disonasi Kognitif |
Pendahuluan | Disonansi kognitif adalah kondisi ketidaknyamanan mental yang muncul ketika seseorang memiliki dua keyakinan, nilai, atau perilaku yang saling bertentangan. Teori yang dikemukakan oleh Leon Festinger (1957) ini menjelaskan bahwa individu akan berusaha mengurangi ketegangan tersebut dengan cara mengubah pikiran, menambah alasan pembenaran, atau menyesuaikan perilaku. |
Indentitas target wawancara | Nama : Inisial “RS” (Masyarakat JABODETABEK yang lebih memilih membakar sampah dibandingkan pengelolaan sampah lainnya yang lebih ramah lingkungan) Tanggal Wawancara : 04 Mei 2026 (melalui zoom meeting) |
Hasil wawancara | Ketika saya bertanya kepada RS bagaimana anda mengelola sampah sehari-hari? Apakah anda mengelola sampah dengan baik? Apakah anda melakukan pemilahan sampah? RS menjawab : “Saya memilah sampah, tetapi hanya sampah dapur dan sampah kering, namun pada akhirnya nanti saya jadikan satu ditempat pembuangan sampah milik saya yang ada di pekarangan rumah” Saya menanyakan kembali apa yang anda lakukan setelah mengumpulkan sampah di pekarangan? Diambil tukang sampah atau melakukan hal lain ? RS menjawab : “Saya membakar sampah yang sudah saya kumpulkan tersebut, ketika waktu sore menjelang malam hari pada cuaca yang cerah agar orang-orang sudah masuk rumah dan tidak menganggu” Ketika saya menanyakan apakah mengetahui dampak buruk dari membakar sampah RS menjawab : “ iya saya tau dampak buruk dari membakar sampah, khususnya diwilayah sini yang padat penduduk. Kadang saya juga mendapat teguran dari warga. Namun, saya merasa kalo misalkan hanya beberapa orang yang membakar sampah termasuk saya, saya pikir tidak terlalu berdampak dan berpengaruh terhadap lingkungan. Karena dari satu komplek, paling hanya 1 atau 2 orang saja yang membakar sampah dan saya merasa itu tidak akan berpengaruh signifikan ke lingkungan. Selain itu, membakar sampah juga termasuk alternatif yang mudah dan murah, saya gaperlu bayar tagihan bulanan hanya untuk membuang sampah” Dari kutipan wawancara tersebut menunjukkan bahwa adanya pertahanan diri dari subjek berupa rasionalisasi. RS merasa bahwa apa yang dia lakukan “tidak berpengaruh karena hanya sebagian kecil yang melakukan” dan “tidak perlu membayar tagihan bulanan”. Hal ini menunjukkan bahwa subjek membuat alasan yang seolah-olah logis tetapi hanya untuk menutupi perbuatannya yang kurang sesuai dengan aturan dan bertentangan dengan pengetahuannya. Denial (penyangkalan) : RS menolak tentang fakta dan pengetahuannya dengan memberikan argumen “tidak berpengaruh”, “tidak perlu bayar”. Projection (proyeksi) : RS menjelaskan kondisi sekitar bahwa hanya sebagian kecil yang membakar sampah agar dirinya dirinya merasa aman. Uraian tersebut menjelaskan bagaimana disonasi kognitif berpengaruh terhadap perliku seseorang yang sulit berubah dan tetap melakukan hal yang menyimpang. |
Permasalahan dan hubungan dengan psikologi inovasi | Dalam perspektif psikologi inovasi, disonansi kognitif dapat menjadi penghalang perubahan. Ketika individu terus mempertahankan pembenaran atas perilakunya, mereka cenderung susah untuk melakukan perbaikan. Padahal, proses inovasi diri membutuhkan keberanian untuk melepaskan kebiasaan lama dan mulai mengadopsi pola hidup yang lebih baik. Jika RS sebagai warga mampu mengatasi disonansi kognitif, RS bisa mengembangkan diri dalam pengelolaan sampah dapur dan sampah rumahtangganya, dengan bergabung di bank sampah RS bisa menutup biaya membayar petugas TPA dari uang hasil dari bank sampah. RS juga akan terbebas dari teguran warga sekitar karena kebiasaanya, RS juga tidak akan menambah polusi udara di kawasan industri tersebut. Namun selama RS masih bertahan dengan disonansi kognitif terutama pertahanan diri, peluang inovasi itu tidak akan bisa tercapai. |
Kesimpulan | Hambatan yang dialami RS berkaitan erat dengan Disonansi kognitif, yaitu ketidaksesuaian antara pengetahuan tentang dampak buruk membakar sampah dan perilaku yang masih dilakukan, sehingga RS cenderung mempertahankan pembenaran diri untuk meredakan ketidaknyamanan tanpa mengubah tindakan. Dalam perspektif Psikologi Inovasi, kondisi ini menjadi penghambat karena inovasi menuntut keterbukaan terhadap perubahan dan keberanian meninggalkan kebiasaan lama. Oleh karena itu, jika RS mampu mengelola disonansi kognitif dengan menyelaraskan pengetahuan dan perilakunya, maka peluang untuk berinovasi seperti beralih ke pengelolaan sampah melalui bank sampah akan terbuka, yang pada akhirnya memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan sekaligus. |

0 komentar:
Posting Komentar