MY BEST COPING BEHAVIOR : BERTAHAN DI TENGAH TEKANAN KERJA TOXIC
ESSAY-4
Alifa Maura Bunga Herina
24310430041
Mata kuliah : Psikologi Inovasi
Dosen Pengampu: Dr., Dra. Arundati Shinta, MA.
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta
Mei 2026
Pada akhir tahun 2023, saya, Alifa Maura, seorang perempuan berusia 23 tahun, mulai bekerja di salah satu perusahaan sebagai staff operasional. Tugas saya cukup kompleks, yaitu menghandle seluruh proses mulai dari produksi hingga distribusi. Pekerjaan ini menuntut ketelitian, kecepatan, serta tanggung jawab yang tinggi. Awalnya, saya merasa tertantang dan bersemangat untuk berkembang. Namun, seiring berjalannya waktu, saya menghadapi tekanan kerja yang cukup berat, terutama karena gaya kepemimpinan atasan yang otoriter dan temperamental.
Permasalahan utama yang saya hadapi adalah tuntutan pekerjaan yang berlebihan disertai tekanan komunikasi yang tidak sehat. Atasan saya sering menghubungi saya hampir sepanjang hari untuk membahas pekerjaan, bahkan di luar jam kerja hingga dini hari sekitar pukul 03.00. Jika pesan tidak segera dibalas, ia akan mengirim pesan berulang kali dan mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas. Selain itu, saya juga pernah dipaksa menyelesaikan pekerjaan dalam waktu sangat singkat hingga harus bekerja selama 24 jam tanpa tidur.
Dalam tiga bulan pertama bekerja, tekanan tersebut berdampak signifikan pada kondisi fisik dan mental saya. Saya mengalami stres yang cukup berat hingga berat badan turun sekitar 5 kg. Setiap kali menerima pesan dari atasan, saya merasakan jantung berdebar kencang dan tangan gemetar. Saya juga sering menangis setiap hari dan memiliki keinginan untuk berhenti bekerja. Namun, karena tuntutan kebutuhan hidup, saya tetap bertahan dalam kondisi tersebut.
Pada fase awal, saya menggunakan avoidance coping, yaitu menghindari masalah dengan memaksakan diri bekerja lebih keras tanpa mengelola emosi. Namun, strategi ini tidak efektif karena justru memperburuk kondisi saya. Oleh karena itu, saya mulai mencari cara untuk mengatasi tekanan tersebut dengan lebih adaptif.
Coping pertama yang saya terapkan adalah problem-focused coping, yaitu dengan mengatur dan mengelola sumber masalah secara langsung. Saya mulai membatasi komunikasi dengan atasan di luar jam kerja. Saya hanya membalas pesan yang berkaitan dengan pekerjaan pada jam kerja agar memiliki batasan yang jelas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Selain itu, saya juga membuat perencanaan prioritas kerja agar tugas-tugas dapat diselesaikan secara lebih terorganisir dan tepat waktu.
Coping kedua yang saya lakukan adalah emotion-focused coping, yaitu dengan mengelola emosi yang muncul akibat tekanan tersebut. Saya belajar untuk tidak terlalu memikirkan kata-kata negatif yang tidak mencerminkan diri saya yang sebenarnya. Saya menanamkan dalam diri bahwa perkataan tersebut bukanlah kebenaran, melainkan refleksi emosi orang lain. Selain itu, saya juga mencoba menenangkan diri melalui self-talk positif dan menjaga waktu istirahat.
Menurut Lazarus dan Folkman (1984), coping merupakan upaya kognitif dan perilaku individu dalam mengatasi tekanan atau stres. Problem-focused coping bertujuan untuk menyelesaikan masalah, sedangkan emotion-focused coping membantu individu mengelola emosi yang muncul. Kedua strategi ini saling melengkapi dalam membantu individu beradaptasi dengan situasi yang penuh tekanan. Hal ini juga diperkuat oleh penelitian Rachmawati (2020) yang menyatakan bahwa coping yang tepat dapat membantu individu menurunkan tekanan psikologis dan meningkatkan kemampuan beradaptasi terhadap stres kerja.
Melalui proses ini, saya belajar bahwa menghadapi tekanan kerja tidak hanya membutuhkan kekuatan fisik, tetapi juga ketahanan mental dan kemampuan mengelola diri. Pengalaman ini membuat saya menjadi pribadi yang lebih tegas, terorganisir, dan tidak mudah terpengaruh oleh tekanan negatif.
Kesimpulannya, my best coping behavior adalah kombinasi antara problem-focused coping dan emotion-focused coping. Dengan membatasi komunikasi, mengatur prioritas kerja, serta mengelola emosi secara sehat, saya mampu bertahan dan tetap berkembang di tengah tekanan kerja yang tinggi.
Daftar Pustaka
Lazarus, R. S., & Folkman, S. (1984). Stress, Appraisal, and Coping. New York: Springer.
Rachmawati, D. (2020). Strategi coping dalam menghadapi stres kerja. Jurnal Psikologi Indonesia, 5(2), 120–130.
0 komentar:
Posting Komentar