29.5.26

Esay UTS_Psi. Inovasi Diah nurul khazanah

Esaay Ujian Tengah Semester
Psikologi Inovasi
Nama : Diah Nurul Khazanah 
Nim : 23310410105
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta
Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta,M.A


Membangun Karakter dan Inovasi di Era Kecerdasan Buatan

  Pendidikan saat ini bukan hanya soal menyalurkan dan mendapatkan ilmu, tetapi juga membentuk karakter seseorang. Hal ini sejalan dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 20 Tahun 2018 tentang Penguatan Pendidikan Karakter. Meskipun peraturan ini ditujukan untuk pendidikan dasar dan menengah, prinsip di dalamnya juga bisa untuk diterapkan di tingkat perguruan tinggi, termasuk untuk mahasiswa Psikologi Inovasi di Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta. Dalam kutipan jurnal Indonesian Journal of Humanities and Social Sciences
Volume 6, Issue 2, June 2025 Menurut Muthmainnah, AI sebagai pemodelan dari kecerdasan manusia yang diterapkan dalam suatu mesin,telah menjadi bagian integral dari Revolusi Industri 4.0.1. Perkembangan kecerdasan buatan telah membawa banyak manfaat di berbagai bidang, termasuk pendidikan. Fenomena ini memberikan dampak yang sangat penting,karena AI memiliki kemampuan untuk mengubah total metode pengajaran guru dan cara siswa mendapatkan pengetahuan. Penyertaan dan pengembangan AI dalam kurikulum dan sistem pendidikan menciptakan kemajuan yang sangat signifikan, memberikan pendidik dan lembaga akademik dengan perangkat dan aplikasi berbasis AI yang inovatif. Di tengah kemajuan teknologi yang sangat pesat, kehadiran kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence atau yang sering familiar dengan nama AI menjadi tantangan sekaligus ujian bagi dunia pendidikan. Jika mahasiswa menyerahkan seluruh tugas, analisis, hingga ujian kepada kecerdasan buatan tersebut, maka proses pembentukan cara berpikir dan karakter mereka akan terhenti. Oleh karena itu, peran dosen menjadi sangat penting, terutama dalam menjalankan amanat Pasal 8 Ayat 2, yaitu menjalankan tugas sebagai inovator, motivator, kolaborator, dan berperan sebagai pemberi sanksi yang bersifat mendidik.

  Jika saya diamanahkan sebagai seorang dosen Psikologi, langkah pertama yang saya lakukan adalah berperan sebagai inovator dalam merancang pembelajaran di dalam perkuliahan. Saya akan membuat metode dan tugas yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan menyalin jawaban dari AI. Materi kuliah akan lebih banyak berisi studi kasus nyata,dan analisis mendalam,serta menggabungkan proyek sebagai sebuah karya seni original,sehingga mahasiswa pun dapat menyalurkan hobi nya dalam bidang seni serta keindahan.Mahasiswa tidak hanya diminta hasil akhirnya, tetapi harus menjelaskan proses berpikir, alasan pendapatnya mengapa memilih topik tersebut, dan kaitan materi yang dia pilih dengan kenyataan atau realita yang dihapai saat ini. Jika mereka menggunakan bantuan teknologi, mereka wajib menguraikan bagian mana yang merupakan pemikiran sendiri dan bagaimana mereka mengevaluasi hasil bantuan mesin tersebut. Tujuannya adalah menempatkan AI sebagai alat bantu, bukan pengganti akal manusia. Pada intinya, penggabungan AI dalam proses belajar mengajar adalah untuk menciptakan lingkungan yang lebih responsif, efisien, dan berpusat pada siswa. Yang dapat memungkinkan pendidik untuk mempersonalisasi instruksi untuk memenuhi kebutuhan unik dan gaya belajar masing-masing siswa. Algoritme AI menganalisis kinerja siswa, mengidentifikasi area peningkatan, dan menyesuaikan materi dan aktivitas pembelajaran yang sesuai. Karena kemampuan beradaptasi ini sangat selaras dengan prinsip-prinsip instruksi yang berbeda, yang bisa memastikan bahwa setiap mahasiswa dapat maju dengan kecepatan serta kemampuan mereka sendiri.

  Peran kedua saya adalah menjadi seorang motivator untuk mahasiswa. Di era serba instan ini, saya akan terus mengingatkan mahasiswa bahwa nilai tertinggi dalam belajar adalah kejujuran dan sebuah proses usaha sendiri. Kecerdasan yang hebat tanpa diimbangi karakter yang baik justru bisa berbahaya bagi diri sendiri dan lingkungan. Saya akan menanamkan pemahaman bahwa kemampuan berpikir kritis dan kreatif adalah keunggulan seseorang yang tidak akan pernah bisa digantikan sepenuhnya oleh teknologi. Berani menyampaikan pendapat sendiri, meskipun belum sempurna, jauh lebih berharga daripada jawaban indah yang bukan hasil pemikiran sendiri. Semangat berusaha dan rasa ingin tahu harus lebih ditanamkan daripada sekedar mengejar nilai yang berbentuk angka.

  Selanjutnya, saya akan berperan sebagai kolaborator. Karakter seseorang tidak tumbuh sendiri, tetapi melalui interaksi dengan orang terdekat dan lingkungan disekitarnya. Pembelajaran yang akan saya sampaikan mungkin bisa dilakukan dalam bentuk diskusi kelompok dan proyek bersama agar mahasiswa belajar bekerja sama, menghargai pendapat orang lain, dan bertanggung jawab atas tugas yang diterimanya. Bersama sama, kami akan menyusun kesepakatan atau peraturan yang akan kami jalani, termasuk peraturan penggunaan teknologi intelegensi buatan atau AI. Saat peraturan dibuat bersama, rasa disiplin bisa muncul dari kesadaran diri masing masing mahasiswa , bukan karena rasa takut atau sungkan terhadap dosen. Suasana belajar yang saling mendukung akan meningkatkan karakter seperti jujur, tanggung jawab, dan peduli tumbuh secara alami.

  Pemahaman mengenai pentingnya karakter dan kemampuan berpikir secara kritis ini sangat sejalan dengan materi yang dipelajari dalam mata kuliah Psikologi Inovasi, yang bisa kita kaitkan dengan makna dari dalam film "Billionaire Told His 3 Sons To Live On $50 For A Week". Film ini menceritakan bagaimana seorang ayah kaya raya menguji ketiga putranya dengan tantangan hidup satu minggu hanya bermodalkan uang yang sangat terbatas, dan hanya satu yang berhasil melewatinya. Kisah ini sebenarnya adalah gambaran nyata bagian konsep psikologi inovasi yang dipelajari dari pertemuan pertama hingga ketujuh, dan sangat relevan untuk menjadi bahan refleksi bagi mahasiswa.

Pada pertemuan pertama, materi membahas tentang penjabaran apa itu Psikologi Inovasi dan bagaimana psikologi inovasi itu relevan dengan kehidupan. Dalam film ini, bagian yang paling relevan adalah saat ayah memberikan sebuah tantangan untuk ketiga anak nya yang dihadapkan pada situasi sulit dan keterbatasan sumber daya. Ini adalah salah satu bentuk masalah nyata yang menuntut solusi. Alasannya, inovasi selalu lahir dari adanya kebutuhan atau keterbatasan. Seseorang baru akan berpikir kreatif ketika ia berada dalam kondisi yang memaksanya untuk bertahan hidup atau mencapai tujuan di tengah hambatan. Bagiamana perubahan harus berani kita ambil agar kehidupan kita dapat berjalan dengan lebih baik.

 Masuk ke materi pertemuan kedua mengenai output psikologi inovasi yang sangat menekankan pada kreativitas dan inovasi, Bagian film yang relevan adalah cara ketiga anak itu menggunakan uang yang diberikan oleh ayahnya. Dua anak pertama langsung membelanjakan uang untuk makan dan kebutuhan dasar, sehingga uang cepat habis dan mereka menderita. Anak ketiga tidak langsung menghabiskannya, tapi membeli barang murah, lalu menjual kembali atau menukarnya hingga uangnya bertambah dan cukup bertahan seminggu. Alasannya adalah hasil atau keluaran dari psikologi inovasi bukan sekadar ide, melainkan tindakan yang menghasilkan nilai tambah, keuntungan, atau solusi yang dapat berfungsi. Anak ketiga berhasil mengubah modal kecil menjadi nilai lebih, sedangkan kakaknya hanya menghasilkan kepuasan sesaat. Perbedaan hasil inilah yang menjadi ukuran keberhasilan berpikir inovatif.

Kuliah pertemuan ke 3 dengan topik diskusi mengenai pengangguran. Bagian film yang relevan adalah saat uang anak-anak habis total. Mereka seperti orang yang tidak punya pekerjaan, tidak ada penghasilan, tidak ada modal. Dua anak pertama pasrah, mengeluh, menunggu bantuan, merasa tidak berdaya. Anak ketiga tidak diam: ia tawarkan tenaga, bantuan angkut barang, bersihkan halaman, jasa apa saja demi makan atau uang. Ia sadar: meski tidak punya uang, dirinya punya tenaga dan kemampuan yang bisa dijual persis cara mengatasi pengangguran. Alasannya adalah masalah utama pengangguran bukan cuma tidak ada kerjaan, tapi pola pikir pasif, menunggu diberi, merasa tidak punya apa-apa. Film ini mengajarkan: pengangguran bisa diatasi kalau kita sadar diri sendiri adalah aset utama. Tidak perlu menunggu lowongan; kita bisa menciptakan nilai dari kemampuan, tenaga, dan waktu kita sendiri. Sikap pasif kakaknya menggambarkan dampak psikologis pengangguran: putus asa, rendah diri, pesimis. Sikap anak ketiga menunjukkan solusi inovatif aktif,untuk menjual kemampuan,dan menciptakan peluang sendiri. 

Kuliah pertemuan ke 4 dengan pokok bahasan Mengatasi Pengangguran dengan Menjual Kemampuan Diri. Bagian film yang relevan yaitu Saat anak ketiga tidak punya uang lagi, ia tidak diam menunggu bantuan, melainkan menawarkan tenaga dan kemampuannya: membantu orang mengangkat barang, membersihkan halaman, atau jasa lain untuk mendapatkan bayaran atau makanan. Ia sadar, meski uang habis, ia masih punya tenaga, waktu, dan keterampilan yang bisa dijual. Alasannya karena inti materi ini adalah ketika sumber daya terbatas atau tidak ada pekerjaan, kemampuan diri sendiri adalah modal utama. Anak ketiga memahami bahwa dirinya adalah aset. Ia tidak menunggu dikasih, tapi aktif menawarkan apa yang ia bisa lakukan. Ini adalah cara berpikir paling tepat untuk mengatasi keterbatasan, sama seperti cara orang menganggur harus berani menjual keahlian dan tenaganya agar bisa bertahan hidup dan berpenghasilan.

Pada pembahasan pertemuan ke 5 tentang Teori Keengganan untuk Berubah. Bagian film yang relevan menurut saya adalah ketika sikap kakak-kakaknya yang terbiasa hidup mewah, serba ada, dan dimanjakan. Saat diminta hidup sederhana dan susah, mereka menolak berubah pola pikir. Mereka masih berharap ada bantuan, mencari jalan pintas, atau tetap berpikir seperti orang kaya "harus makan enak, harus nyaman". Mereka tidak mau menurunkan standar atau mengubah cara hidupnya. Alasannya karena teori ini menjelaskan bahwa manusia cenderung nyaman dengan kebiasaan lama dan menolak perubahan, apalagi jika perubahan itu terasa sulit atau menurunkan kenyamanan. Kakak-kakaknya terjebak dalam pola pikir lama, enggan berubah, dan akhirnya gagal beradaptasi. Keengganan berubah inilah yang membuat mereka tidak bisa bertahan, padahal situasi menuntut perubahan besar.

Pada pembahasan pertemuan ke 6 dengan topik diskusi Ketersediaan untuk Berubah dan Kesibukan Bekerja atau Belajar Mana yang Harus Didahulukan. Bagian film yang relevan menurut saya adalah ketika si anak ketiga langsung menerima kenyataan, siap mengubah gaya hidup, dan langsung sibuk bergerak. Ia tidak buang waktu mengeluh. Ia bekerja, mencari peluang, dan belajar dari apa yang ia alami. Ia mengutamakan tindakan nyata dan kerja keras, sekaligus belajar memahami cara bertahan hidup. Sedangkan kakaknya sibuk mengeluh dan berdebat, sehingga waktu habis percuma. Alasannya karena materi ini mengajarkan kunci sukses adalah kesiapan berubah dan memprioritaskan hal yang penting. Bekerja dan belajar tidak harus dipisahkan, tapi dilakukan bersamaan. Anak ketiga bekerja keras sekaligus belajar memahami kehidupan nyata. Ia mengerti bahwa untuk bertahan dan maju, perubahan sikap dan kesibukan produktif harus didahulukan, bukan keluhan atau keinginan lama.

Pada kuliah pertemuan ke 7 dengan pokok diskusi Back to Future atau Kembali ke Masa Depan dan Merencanakan Masa Depan. Bagian film yang relevan adalah bagian akhir, saat ayah menjelaskan tujuan ujian itu. Ia tidak mencari anak yang paling pintar atau paling kaya saat ini, melainkan anak yang cara berpikirnya, karakternya, dan cara kerjanya cocok untuk memimpin bisnis ke masa depan. Ia menilai bahwa hanya anak ketiga yang mampu berpikir panjang, tidak hanya untuk hari ini, tapi tahu cara menjaga dan mengembangkan aset di kemudian hari. Alasannya karena psikologi inovasi selalu berorientasi ke depan, bukan sekadar menyelesaikan masalah hari ini. "Back to Future" berarti kita bertindak hari ini dengan pandangan untuk masa depan. Anak ketiga bertindak tidak hanya agar kenyang hari ini, tapi agar ia punya modal dan kemampuan untuk hari esok. Ia membuktikan bahwa ia layak memimpin karena ia mampu menyiapkan diri dan memikirkan masa depan, bukan hanya hidup untuk saat ini.

Daftar Pustaka 

Wahab, G. A., & Rahmah, H. (2025). Implementasi Nilai-Nilai Moral Etik Melalui Pembelajaran Pedagogi Dengan Pendekatan Artificial Ilntelligence Dalam Membentuk Karakter Peserta Didik. Indonesian Journal of Humanities and Social Sciences, 6(2), 371-386. DOI: https://doi.org/10.33367/ijhass.v6i2.7428

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. (2018). Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2018 tentang penguatan pendidikan karakter pada satuan pendidikan formal. https://luk.data.kemdikbud.go.id/unduh/3150


0 komentar:

Posting Komentar