9.5.26

Esai 4 - My Best Coping Behavior

 

PSIKOLOGI INOVASI

ESAI 4 – MY BEST COPING BEHAVIOR

Coping Behavior dalam Menghadapi Konflik Keluarga

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A

Nama: Gunarti

NIM: 23310410118

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS PROKLAMASI 45

YOGYAKARTA

MEI, 2026

Sejak kecil, saya tumbuh di lingkungan keluarga yang sering dipenuhi pertengkaran orang tua. Situasi tersebut membuat suasana rumah terasa kurang nyaman dan cukup mempengaruhi kondisi mental saya. Saat masih kecil, saya sering merasa takut, sedih, bahkan mudah tantrum ketika mendengar orang tua bertengkar. Memasuki masa remaja, saya menjadi lebih sering overthinking dan memilih mencari ketenangan di luar rumah, seperti bermain ke tempat teman atau pergi ke rumah nenek agar pikiran terasa lebih tenang.

Konflik dalam keluarga yang berlangsung cukup lama membuat saya mencoba berbagai cara untuk mengurangi stres dan tekanan emosional yang saya rasakan. Saat merasa sangat stres atau emosional, saya beberapa kali mengganti warna rambut atau memotong rambut sebagai bentuk pelampiasan emosi dan cara untuk merasa lebih lega. Selain itu, saya juga lebih sering mendengarkan musik untuk menenangkan pikiran. Musik menjadi salah satu cara yang membantu saya melampiaskan emosi yang selama ini dipendam.

Seiring bertambahnya usia, saya mulai mencoba coping behavior lain yang menurut saya lebih sehat. Saya lebih sering jalan-jalan untuk mencari suasana baru dan menenangkan diri ketika pikiran terasa penuh. Memasuki tahun 2024, saat mulai menjalani perkuliahan, saya mencoba mengalihkan stres ke kegiatan yang lebih positif, seperti fokus pada tugas kuliah dan aktivitas sehari-hari. Hal tersebut cukup membantu saya agar tidak terus larut dalam overthinking.

Pada tahun 2025, saya mulai mencoba kegiatan naik gunung dan ternyata hal tersebut menjadi coping behavior yang paling membantu saya merasa tenang. Saat berada di alam, saya merasa pikiran menjadi lebih lega dan emosi lebih stabil. Dari kegiatan tersebut, saya juga mulai lebih menjaga kesehatan fisik dengan rutin berjalan kaki sekitar 3 km setiap hari. Menurut saya, kegiatan di alam membantu saya lebih mengenal diri sendiri dan belajar mengontrol emosi dengan lebih baik.

Dari pengalaman tersebut, saya belajar bahwa setiap orang memiliki cara berbeda dalam menghadapi tekanan hidup. Saya juga menyadari bahwa coping behavior yang sehat sangat penting untuk menjaga kesehatan mental. Pengalaman yang saya alami memang tidak mudah, tetapi perlahan membuat saya menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih mandiri, dan lebih mampu memahami diri sendiri.

0 komentar:

Posting Komentar