Esai 4
Psikologi Inovasi – My Best Coping Behavior
Dosen
Pengampu : Dr.
Dra. Arundati Shinta, M.A.
When the Sea Healed Me: Ruang
Tenang untuk Pulih
Oleh: Nariswari Salsabiela (23310410107)
Salah satu peristiwa paling
menyakitkan dalam hidup saya terjadi pada Juli 2018, saat saya lulus SMA.
Alih-alih menjadi momen kebanggaan, saya justru menghadapi kegagalan masuk
sekolah kedinasan yang sangat diharapkan mama. Rasa bersalah muncul, seolah usaha
saya tidak sebanding dengan hasil. Di saat yang sama, saya diterima di Fakultas
Biologi UGM, tetapi terkendala biaya untuk hidup dan UKT. Di tengah tekanan
akademik yang tinggi, saya harus bekerja part-time di
restoran, menjadi asisten penelitian, asisten praktikum, hingga berjualan
kerajinan dari sampah. Situasi ini memunculkan stres kronis, yang dalam Transactional
Model of Stress and Coping dipahami sebagai ketidakseimbangan antara
tuntutan lingkungan dan sumber daya individu.
Dalam fase tersebut, saya mencoba
berbagai strategi coping. Saya rutin berolahraga lari pagi sebagai
bentuk problem-focused-coping untuk mengalihkan stres. Namun,
strategi ini tidak sepenuhnya adaptif. Ketika motivasi menurun, saya justru
merasa gagal dan semakin keras pada diri sendiri. Pola ini diperkuat oleh maladaptive
perfectionism, yaitu kecenderungan menetapkan standar tinggi yang tidak
realistis hingga memicu kelelahan dan burnout. Karena terlalu
memaksakan diri, saya sempat jatuh sakit dan harus menjalani opname.
Dari situ, saya mulai menyadari bahwa tidak semua coping yang
terlihat produktif benar-benar sehat secara psikologis.
Perubahan terjadi ketika saya
menemukan coping behavior yang lebih sesuai dengan kebutuhan
emosi saya, yaitu emotion-focused-coping yang adaptif. Saya
memilih untuk mengambil jeda dengan pergi ke alam, terutama ke pantai,
melakukan me-time, journaling, dan melukis. Dalam
keheningan itu, saya merasa seperti berdialog dengan diri sendiri dan
membiarkan emosi datang tanpa dihakimi. Proses ini selaras dengan konsep emotion
regulation dari James Gross, yaitu kemampuan mengelola emosi secara
adaptif. Saya juga mulai mengembangkan self-compassion sebagaimana
dijelaskan Kristin Neff, yaitu kemampuan menerima dan memperlakukan diri dengan
lebih lembut. Mungkin karena kebiasaan saya yang sering pergi ke laut inilah,
sejak kuliah di Biologi UGM, teman-teman mulai memanggil saya dengan nama panggilan
“Sea”, sebuah nama yang tanpa saya sadari menjadi simbol proses pulih saya.
Dari pengalaman ini, saya
menemukan coping terbaik untuk diri saya. Sejak saat itu, tiap
saya merasa sedih, gagal, atau lelah dengan tuntutan hidup, saya selalu kembali
ke pantai untuk menyendiri dan berkontemplasi. Saya belajar bahwa coping
behavior terbaik bukan yang paling keras, melainkan yang paling
selaras dengan kebutuhan psikologis diri. Dalam psikologi inovasi, proses
menemukan coping yang tepat merupakan bentuk eksplorasi diri.
Dari berbagai percobaan dan titik lelah, saya memahami satu hal: terkadang
untuk kembali kuat, kita perlu berhenti sejenak. Bagi saya, “Sea” bukan sekadar
tempat, tetapi ruang tenang untuk pulih.
Daftar Pustaka
Lazarus, R. S., & Folkman, S.
(1984). Stress, Appraisal, and Coping. Springer.
Neff, K. D. (2003).
Self-compassion: An alternative conceptualization of a healthy attitude toward
oneself. Self and Identity, 2(2), 85–101.
Gross, J. J. (1998). The emerging
field of emotion regulation: An integrative review. Review of General
Psychology, 2(3), 271–299.

0 komentar:
Posting Komentar