9.5.26

Esai 4 - My Best Coping Behavior - Nariswari Salsabiela (23310410107)

Esai 4 Psikologi Inovasi – My Best Coping Behavior

Dosen Pengampu : Dr. Dra. Arundati Shinta, M.A.

 

When the Sea Healed Me: Ruang Tenang untuk Pulih

Oleh: Nariswari Salsabiela (23310410107)


Salah satu peristiwa paling menyakitkan dalam hidup saya terjadi pada Juli 2018, saat saya lulus SMA. Alih-alih menjadi momen kebanggaan, saya justru menghadapi kegagalan masuk sekolah kedinasan yang sangat diharapkan mama. Rasa bersalah muncul, seolah usaha saya tidak sebanding dengan hasil. Di saat yang sama, saya diterima di Fakultas Biologi UGM, tetapi terkendala biaya untuk hidup dan UKT. Di tengah tekanan akademik yang tinggi, saya harus bekerja part-time di restoran, menjadi asisten penelitian, asisten praktikum, hingga berjualan kerajinan dari sampah. Situasi ini memunculkan stres kronis, yang dalam Transactional Model of Stress and Coping dipahami sebagai ketidakseimbangan antara tuntutan lingkungan dan sumber daya individu.

Dalam fase tersebut, saya mencoba berbagai strategi coping. Saya rutin berolahraga lari pagi sebagai bentuk problem-focused-coping untuk mengalihkan stres. Namun, strategi ini tidak sepenuhnya adaptif. Ketika motivasi menurun, saya justru merasa gagal dan semakin keras pada diri sendiri. Pola ini diperkuat oleh maladaptive perfectionism, yaitu kecenderungan menetapkan standar tinggi yang tidak realistis hingga memicu kelelahan dan burnout. Karena terlalu memaksakan diri, saya sempat jatuh sakit dan harus menjalani opname. Dari situ, saya mulai menyadari bahwa tidak semua coping yang terlihat produktif benar-benar sehat secara psikologis.

Perubahan terjadi ketika saya menemukan coping behavior yang lebih sesuai dengan kebutuhan emosi saya, yaitu emotion-focused-coping yang adaptif. Saya memilih untuk mengambil jeda dengan pergi ke alam, terutama ke pantai, melakukan me-timejournaling, dan melukis. Dalam keheningan itu, saya merasa seperti berdialog dengan diri sendiri dan membiarkan emosi datang tanpa dihakimi. Proses ini selaras dengan konsep emotion regulation dari James Gross, yaitu kemampuan mengelola emosi secara adaptif. Saya juga mulai mengembangkan self-compassion sebagaimana dijelaskan Kristin Neff, yaitu kemampuan menerima dan memperlakukan diri dengan lebih lembut. Mungkin karena kebiasaan saya yang sering pergi ke laut inilah, sejak kuliah di Biologi UGM, teman-teman mulai memanggil saya dengan nama panggilan “Sea”, sebuah nama yang tanpa saya sadari menjadi simbol proses pulih saya.

Dari pengalaman ini, saya menemukan coping terbaik untuk diri saya. Sejak saat itu, tiap saya merasa sedih, gagal, atau lelah dengan tuntutan hidup, saya selalu kembali ke pantai untuk menyendiri dan berkontemplasi. Saya belajar bahwa coping behavior terbaik bukan yang paling keras, melainkan yang paling selaras dengan kebutuhan psikologis diri. Dalam psikologi inovasi, proses menemukan coping yang tepat merupakan bentuk eksplorasi diri. Dari berbagai percobaan dan titik lelah, saya memahami satu hal: terkadang untuk kembali kuat, kita perlu berhenti sejenak. Bagi saya, “Sea” bukan sekadar tempat, tetapi ruang tenang untuk pulih.

 

Daftar Pustaka

Lazarus, R. S., & Folkman, S. (1984). Stress, Appraisal, and Coping. Springer.

Neff, K. D. (2003). Self-compassion: An alternative conceptualization of a healthy attitude toward oneself. Self and Identity, 2(2), 85–101.

Gross, J. J. (1998). The emerging field of emotion regulation: An integrative review. Review of General Psychology, 2(3), 271–299.

 

 

0 komentar:

Posting Komentar