ESAI 3 - Pembuktian Diri: Cerita Resiliensi Saya
Nama : Ali Imron
NIM : 23310410123
Kelas : Kariawan
Mata Kuliah : Psikologi Inovasi
Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.
Tugas : Esai 3a & 3b Cerita Resiliensi saya
Dulu, melihat teman-teman saya dapat piala dan penghargaan itu rasanya agak menyesakkan. Dari kecil sampai hampir lulus SMA, saya tidak pernah mendapatkan hal tersebut. Sementara teman-teman yang lain sibuk pamer medali, saya cuma bisa jadi penonton di barisan belakang. Jujur saja, ada rasa haus yang besar untuk diakui, rasa ingin menunjukkan kalau saya juga bisa membanggakan. Akhirnya, di masa SMA, saya mutusin buat berhenti mengasihani diri sendiri. Saya sadar kalau saya butuh mental yang kuat untuk berubah. Saya pun mulai belajar tentang resiliensi lewat dua cara yang saling nyambung yaitu mengubah sudut pandang (reframing) dan menyusun target kecil (goal setting).
Saya berusaha mengubah kata"Gagal" Menjadi "Belum Saatnya". Hal pertama yang saya lakukan adalah membenahi isi kepala. Dulu, setiap kali kalah atau nggak terpilih, saya selalu mikir, "Memang dasarnya saya nggak berbakat." Tapi saya coba ubah pikiran itu. Saya mulai melihat absennya prestasi selama bertahun-tahun bukan sebagai tanda kebodohan, tapi sebagai masa persiapan yang panjang. Saya yakinkan diri sendiri kalau saya bukan nggak bisa, tapi cuma telat panas. Dengan mengubah cara pandang ini, rasa minder saya pelan-pelan berubah jadi ambisi. Saya nggak lagi melihat piala orang lain sebagai beban, tapi sebagai pengingat kalau suatu saat nama saya pun bisa dipanggil ke depan.
Saya berusaha maju pelan-pelan, yang penting jalan. Setelah mentalnya siap, saya nggak langsung ambisius mau menang lomba tingkat nasional. Saya tahu kalau langsung pasang target setinggi langit, saya bisa hancur lagi kalau gagal. Jadi, saya pakai teknik goal setting yang lebih membumi. Saya mulai dari target-target kecil. Misalnya, berani angkat bicara di kelas, ikut kepanitiaan di sekolah, atau sekadar dapat nilai terbaik di satu tugas yang saya suka. Setiap kali target kecil itu tercapai, saya ngerasa, "Oh, ternyata saya bisa ya" Kemenangan-kemenangan kecil inilah yang jadi anak tangga buat saya menuju prestasi yang lebih besar. Tanpa target yang jelas, keinginan saya buat berprestasi cuma bakal jadi mimpi di siang bolong.
Resiliensi buat saya bukan cuma soal tahan banting, tapi soal gimana kita mengolah rasa sakit hati karena nggak pernah juara menjadi energi buat lari lebih kencang. Lewat cara pikir yang baru dan langkah-langkah kecil yang konsisten, saya akhirnya bisa membuktikan ke diri sendiri saya bukan sekadar orang biasa. Saya punya kebanggaan, dan saya punya tempat di podium itu. Dari yang tadinya cuma penonton, sekarang saya sudah jadi pemainnya.
Link Youtube :
https://youtube.com/shorts/y6FnT50WlcE?si=EvifqC6Yvlc0Tzlv
https://youtube.com/shorts/P1Hvl9KE8tk?si=9zKyr0jsrXY59MB2
Daftar Pustaka :
Seligman, M. E. P. (2006). Learned Optimism: How to Change Your Mind and Your Life. New York: Vintage Books.
Bandura, A. (1997). Self-Efficacy: The Exercise of Control. New York: W.H. Freeman and Company.

0 komentar:
Posting Komentar