Wawancara
Disonansi Kognitif
Sulastri (23310410122)
Fakultas
Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta
Dosen
Pengampu : Dr. Arundati Shinta,M.A.
April
2026
Baron
dan Byrne mengungkapkan bahwa disonansi kognitif adalah suatu keadaan yang tidak
menyenangkan dan terjadi Ketika individu menyadari telah memiliki beberapa sikap
yang tidak konsisten dengan tingkah lakunya. Di sisi lain , Chasanah dan
mathori menjelaskan disonansi kognitif sebagai suatu kondisi terjadinya kekacauan
atau kebingungan dalam diri individu Ketika apa yang mereka percaya tidak
sesuai atau tidak sejalan dengan apa yang mereka lakukan.
Dalam tugas
ini saya mewawancarai seorang Karyawan toko di yogyakarta, pada hari Ahad 3 mei
2026 ( di Rumah beliau). Bapak ini berusia 52 tahun berinisial W. bapak W sudah
bekerja menjadi karyawan toko selama 30 th, beliau adalah perokok aktif sejak
usia muda bahkan beliau di bangku sekolah SMA sudah merokok. Beliau mengetahui
bahwa dampak dan resiko dari merokok itu apa, namun beliau tetap melakukan
untuk merokok dengan alasan yang di ungkapkanya “ ya,sebenarnya saya tau
resikonya mba, apalagi di bungkus sekarang tertuliskan dan ada gambar penyakit – penyakit yang
disebabkan oleh merokok, ya sebenarnya saya ada rasa takut, tetapi karena
merokok itu bagi saya seperti nasi yang memberikan kenikmatan tersendiri, jadai
ya saya lawan rasa takut itu”. Ungkap beliau. Bahkan beliau sempat
bercerita setiap merokok selalu di marahi istri, anak, cucu. Bahkan kemaren
saat bapak W berusia 48 tahun, sempat periksa ke dokter bahwa ada penyumbatan
jantung, jadi harus sebisa mungkin beliau harus mengurangi merokoknya. Akhirnya
sejak saat itu beliau mulai mengurangi merokoknya pelan – pelan. Dan berdasarkan
hasil wawancara beliau mengungkapkan “ sejak saat saya sakit penyumbatan
jantung, saya mulai mengurangi merokok bahkan saya sempat berhenti merokok, dan
saya ganti dengan makan permen supaya mulut tidak pahit. Selama 6 bulan saya control
ke rumah sakit, Alhamdulillah saya sembuh dan normal Kembali”. Menurut penuturan
beliau.
Kemudian
setelah beberapa saya gali dari informasi wawancara. Bapak Wdi nyatakan sembuh,
dan dari ceritanya beliau mulai mencoba untuk Kembali lagi merasakan merokok
lagi. Yah, walaupun satu hari hanya 1 batang rokok. Namun beliau mulai merokok
lagi. Kemudian di kerjaan mulai merokok lagi, dan lama – lama rokoknya semakin
aktif dan seperti dulu lagi seperti awal
sebelum sakit. Kemudian bapak ini saya tanya kenpa bapak yang sudah berhenti
dari merokok, kok memiliki pemikiran untuk bisa merokok lagi ?, kemudian beliau
menjawab :” begini mbak, soalnya saya sudah yakin saya nggak sakit lagi,
tidak pernah kambuh, kemudian jika saya bekerja
lingkungan saya adalah teman yang merokok semua, terkadang saya hanya
ingin menyesuaikan seperti mereka, awalnya hanya mau satu batang saja supaya bisa
menemani mereka saat merokok, tapi malah jadi Kembali seperti dulu, dan
sekarang saya selalu mengantarkan barang jarak jauh terkadang luar kota, kalau
tidak saya selingi dengan merokok rasanya saya lemes dan tidak semangat “. Dan
dari cerita bapaknya, sekarang ini beliau memiliki cucu kecil yang berusia 3
tahun, yang mempunyai penyakit ( pneumonia), dan sebenarnya beliau mengakui
bahwa juga kesalahanya karena terkadang beliau merokok di ruangan yang diisitu
ada cucunya, dan selalu mencium cucunya setelah merokok. Mulai sekarang
mengurangi rokoknya lagi.

0 komentar:
Posting Komentar