10.5.26

ESAI 2_ DISONANSI KOGNITIF_ SULASTRI

 

Wawancara Disonansi Kognitif

Sulastri  (23310410122)

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta,M.A.

April 2026



Baron dan Byrne mengungkapkan bahwa disonansi kognitif adalah suatu keadaan yang tidak menyenangkan dan terjadi Ketika individu menyadari telah memiliki beberapa sikap yang tidak konsisten dengan tingkah lakunya. Di sisi lain , Chasanah dan mathori menjelaskan disonansi kognitif sebagai suatu kondisi terjadinya kekacauan atau kebingungan dalam diri individu Ketika apa yang mereka percaya tidak sesuai atau tidak sejalan dengan apa yang mereka lakukan.

Dalam tugas ini saya mewawancarai seorang Karyawan toko di yogyakarta, pada hari Ahad 3 mei 2026 ( di Rumah beliau). Bapak ini berusia 52 tahun berinisial W. bapak W sudah bekerja menjadi karyawan toko selama 30 th, beliau adalah perokok aktif sejak usia muda bahkan beliau di bangku sekolah SMA sudah merokok. Beliau mengetahui bahwa dampak dan resiko dari merokok itu apa, namun beliau tetap melakukan untuk merokok dengan alasan yang di ungkapkanya “ ya,sebenarnya saya tau resikonya mba, apalagi di bungkus sekarang tertuliskan  dan ada gambar penyakit – penyakit yang disebabkan oleh merokok, ya sebenarnya saya ada rasa takut, tetapi karena merokok itu bagi saya seperti nasi yang memberikan kenikmatan tersendiri, jadai ya saya lawan rasa takut itu”. Ungkap beliau. Bahkan beliau sempat bercerita setiap merokok selalu di marahi istri, anak, cucu. Bahkan kemaren saat bapak W berusia 48 tahun, sempat periksa ke dokter bahwa ada penyumbatan jantung, jadi harus sebisa mungkin beliau harus mengurangi merokoknya. Akhirnya sejak saat itu beliau mulai mengurangi merokoknya pelan – pelan. Dan berdasarkan hasil wawancara beliau mengungkapkan “ sejak saat saya sakit penyumbatan jantung, saya mulai mengurangi merokok bahkan saya sempat berhenti merokok, dan saya ganti dengan makan permen supaya mulut tidak pahit. Selama 6 bulan saya control ke rumah sakit, Alhamdulillah saya sembuh dan normal Kembali”. Menurut penuturan beliau.

Kemudian setelah beberapa saya gali dari informasi wawancara. Bapak Wdi nyatakan sembuh, dan dari ceritanya beliau mulai mencoba untuk Kembali lagi merasakan merokok lagi. Yah, walaupun satu hari hanya 1 batang rokok. Namun beliau mulai merokok lagi. Kemudian di kerjaan mulai merokok lagi, dan lama – lama rokoknya semakin aktif dan  seperti dulu lagi seperti awal sebelum sakit. Kemudian bapak ini saya tanya kenpa bapak yang sudah berhenti dari merokok, kok memiliki pemikiran untuk bisa merokok lagi ?, kemudian beliau menjawab :” begini mbak, soalnya saya sudah yakin saya nggak sakit lagi, tidak pernah kambuh, kemudian jika saya bekerja  lingkungan saya adalah teman yang merokok semua, terkadang saya hanya ingin menyesuaikan seperti mereka, awalnya hanya mau satu batang saja supaya bisa menemani mereka saat merokok, tapi malah jadi Kembali seperti dulu, dan sekarang saya selalu mengantarkan barang jarak jauh terkadang luar kota, kalau tidak saya selingi dengan merokok rasanya saya lemes dan tidak semangat “. Dan dari cerita bapaknya, sekarang ini beliau memiliki cucu kecil yang berusia 3 tahun, yang mempunyai penyakit ( pneumonia), dan sebenarnya beliau mengakui bahwa juga kesalahanya karena terkadang beliau merokok di ruangan yang diisitu ada cucunya, dan selalu mencium cucunya setelah merokok. Mulai sekarang mengurangi rokoknya lagi.

0 komentar:

Posting Komentar