23.5.25

UTS Psikologi Inovasi - Ibnu Abdul Aziz - 22310410165

Ujian Tengah Semester

Mata Kuliah Psikologi Inovasi



Disusun oleh : Ibnu Abdul Aziz / 22310410165

Dosen Pengampu : Dr., Dra. ARUNDATI SHINTA MA







Kasus Ayu Aryanti yang ditangani oleh tokoh publik Kang Dedi Mulyadi (KDM) menjadi viral dan menyentuh hati banyak orang. KDM menunjukkan kepedulian sosial yang luar biasa dengan memberikan bantuan berupa fasilitas, perhatian, dan dukungan publik. Namun, sebagai mahasiswa psikologi yang mempelajari pendekatan intervensi yang efektif dan berkelanjutan, saya melihat adanya ketimpangan antara niat baik dan metode yang digunakan. Intervensi yang dilakukan oleh KDM cenderung mengandalkan motivasi ekstrinsik, seperti pemberian bantuan materiil dan perhatian publik, tanpa terlebih dahulu memahami nilai-nilai yang dianut Ayu. Ayu tumbuh dalam lingkungan sederhana dan menjunjung nilai kemandirian. Namun, dalam berbagai video yang beredar, tampak bahwa Ayu kurang dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan terhadap perubahan yang dialaminya.

Dalam konteks psikologi, perubahan yang tidak berasal dari motivasi internal seseorang cenderung tidak bertahan lama. Ketika seseorang merasa tidak memiliki kontrol terhadap kehidupannya, maka perubahan dari luar justru bisa menimbulkan tekanan, bukan dorongan untuk berkembang.



Pendekatan Partisipatif dan Psikologis yang Menggali Nilai Pribadi

Intervensi yang dilakukan oleh Kang Dedi Mulyadi (KDM), terhadap Ayu Aryanti menunjukan niat yang mulia, namun menurut saya terdapat beberapa kekurangan dalam pendekatanya. KDM lebih hanya fokus pada motivasi ekstrinsik, seperti pemberian fasilitas dan perhatian, tanpa menggali motivasi intrinsik Ayu terkait keluarga dan nilai kesederhanaannya. Pendekatan tersebut kurang mempertimbangkan nilai-nilai pribadi Ayu, sehingga perubahan yang diharapkan tidak dapat tercapai secara optimal.  Selain itu, intervensi KDM kurang melibatkan Ayu dalam proses pengambilan keputusan mengenai masa depanya, yang merasa kurang terlibat dalam perubahan yang terjadi dan belum sepenuhnya memahami konteks sosial dan budaya Ayu.

Apabila saya menjadi asisten Kang Dedi Mulyadi (KDM), saya akan mengusulkan pendekatan yang berfokus pada Ayu Aryanti. Alih-alih hanya memberikan fasilitas dan perhatian, karena menurut saya penting untuk memahami nilai-nilai serta aspirasi yang dimiliki ayu. Melibatkan ayu dalam proses pengambilan keputusan terkait masa depannya akan meningkatkan rasa tanggung jawabnya. Pendekatan psikologis yang empatik dan mendorong Ayu untuk percaya pada kemampuannya sendiri sepertinya lebih efektif dalam membantu Ayu untuk berkembang secara menyeluruh. Dengan memahami latar belakang Ayu terlebih dahulu, KDM bis memberikan dukungan yang lebih tepat dan efektif.



Jika Saya Menjadi Ayu Aryanti

Jika saya berada diposisi Ayu, saya akan terbuka tentang cita-cita saya untuk melanjutkan pendidikan. Saya akan mencoba mendapatkan beasiswa dan mencari pekerjaan paruh waktu agar bisa tetap melanjutkan pendidikan tanpa membebani orang tua. Saya juga akan belajar ilmu manajemen dan pemasaran untuk mengembangkan bisnis berjualan makaroni, walaupun hanya berjualan makaroni, jika dikelola dengan baik menurut saya akan berkembang lebih maju dan besar yang tentunya akan mendapatkan income yang besar juga. Saya juga akan membangun jaringan dukungan dari orang-orang yang peduli seperti Kang Dedi, dan terus menjaga semangat belajar. Dengan cara ini mungkin saya bisa menyeimbangkan antara tanggung jawab kepada keluarga dan upaya mewujudkan masa depan yang lebih baik.


Dan jika saya menjadi orang tua Ayu, saya akan mengajak Ayu berdiskusi tentang masa depannya dan mencari solusi bersama seperti mencari beasiswa dan pelatihan keterampilan yang bisa meningkatkan usaha berjualan makaroninya. Saya juga akan memastikan Ayu tidak merasa tertekan atau terbebani, melainkan termotivasi untuk terus berkembang. Serta memberikan dukungan emosional, agar Ayu percaya diri mengambil keputusan yang terbaik sambil menjaga komunikasi yang positif.



Keseimbangan Dua Sumber Motivasi

Pertarungan antara motivasi internal dan eksternal saat proses perubahan diri cukup penting dan saling memengaruhi. Motivasi internal yang berasal dari keinginan serta tujuan pribadi seseorang umumnya lebih kuat dan mampu menghasilkan perubahan yang bermakna dan bertahan lama. Namun saat motivasi internal menurun atau bahkan menghilang, motivasi eksternal seperti apresiasi dan dukungan sosial bisa menjadi semangat awal untuk memulai perubahan. Meskipun motivasi eksternal dapat memicu tindakan, pengaruhnya biasanya bersifat sementara jika tidak diikuti oleh penguatan motivasi internal. Maka, motivasi eksternal berperan sebagai pemicu atau jembatan untuk menghidupkan kembali motivasi internal. Agar perubahan diri berlangsung efektif dan berkelanjutan, diperlukan keseimbangan dari kedua motivasi tersebut. Sehingga perubahan terjadi bukan hanya karena faktor luar, melainkan juga kesadaran dan keinginan dari dalam diri sendiri.





Daftar Pustaka:


Fitriani, Amanda Eliza, et al. "Peranan Intervensi Sosial Dalam Pencegahan Kenakalan Remaja." Jurnal Psikologi 2.2 (2025).


Hardjomarsono, Boediman. "Pengertian, Ruang Lingkup Dan Studi Intervensi Sosial." Teori Dan Metode Intervensi Sosial (2014): 1-65.


Uno, H. B. (2007). Teori motivasi dan pengukurannya: Analisis di bidang pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.


0 komentar:

Posting Komentar