16.5.25

ESSAY 6_Tips Resiliensi-Nadi Asmara_22310410156

 ESSAY 6

PSIKOLOGI INOVASI

TIPS RESILIENSI DAN KETEKUNAN

“Bangkit dari Titik Terendah: Ketekunan dan Emosi Positif dalam Menjadi Resilien”

Oleh:

Nama: Nadi Asmara W

Nim: 22310410156

Dosen Pengampu:

Dr. Arundati Shinta, M.A.


Fakultas Psikologi

Universitas Proklamasi 45 

Yogyakarta

2025

Pendahuluan


Sebagai mahasiswa psikologi, saya tidak asing dengan teori-teori tentang resiliensi. Namun, baru ketika mengalami sendiri tekanan akademik, konflik relasi, dan rasa kehilangan motivasi, saya benar-benar memahami pentingnya menjadi tangguh. Dua hal yang paling membantu saya keluar dari masa itu adalah ketekunan (grit) dan kemampuan mengelola emosi positif. Melalui pengalaman pribadi, saya menyadari bahwa resiliensi bukanlah sekadar konsep, tetapi sebuah keterampilan hidup yang harus terus diasah.



Ketekunan: Bertahan Saat Ingin Menyerah


Pada semester tiga, saya mengalami penurunan nilai yang cukup drastis. Tekanan keluarga, dan rasa tidak percaya diri membuat saya hampir menyerah. Saya mulai mempertanyakan: “Apakah saya cocok di jurusan ini?” Namun, saya teringat pada konsep grit dari Angela Duckworth (2016), yaitu semangat dan ketekunan untuk tujuan jangka panjang.


Saya mulai membuat target kecil seperti menyelesaikan satu tugas per hari, atau membaca dua halaman jurnal dan memberi diri saya penghargaan kecil saat berhasil. Dalam beberapa minggu, saya mulai merasakan perubahan. Saya tidak langsung “hebat”, tetapi saya kembali bergerak. Saya belajar bahwa ketekunan bukan soal menjadi sempurna, melainkan tentang tidak berhenti mencoba.


Penelitian Duckworth (2007) menegaskan bahwa individu dengan grit yang tinggi memiliki daya tahan lebih besar dalam menghadapi kesulitan akademik. Dalam kasus saya, semangat untuk terus mencoba meskipun hasil belum sempurna menjadi penyelamat yang membawa saya bangkit.




Emosi Positif: Mencari Harapan dalam Masa Sulit


Selain ketekunan, saya juga mulai melatih diri untuk menemukan momen positif setiap hari. Saya menulis jurnal rasa syukur, menyempatkan tertawa bersama teman, dan mulai rutin meditasi singkat di pagi hari. Awalnya terasa klise, tapi dampaknya besar. Menurut Fredrickson (2001), emosi positif memperluas cara berpikir dan membantu kita membangun sumber daya psikologis.


Saya mulai bisa melihat kegagalan bukan sebagai akhir, tetapi sebagai proses belajar. Bahkan saat hari terasa berat, saya tetap bisa menemukan alasan untuk tersenyum. Ternyata, emosi positif bukan cuma soal “happy”, tapi soal bertahan. Dalam studi oleh Tugade & Fredrickson (2004), individu yang mampu memunculkan emosi positif saat stres cenderung pulih lebih cepat dan menunjukkan ketahanan lebih tinggi.




Kesimpulan


Pengalaman pribadi saya menunjukkan bahwa ketekunan dan emosi positif adalah dua pilar utama dalam membangun resiliensi. Ketekunan membuat saya tetap berjalan meski lambat, dan emosi positif memberi saya energi untuk melangkah. Saya percaya, menjadi pribadi resilien bukan hanya penting untuk diri sendiri, tetapi juga untuk menjadi teladan karena saat kita bangkit, kita menginspirasi orang lain untuk melakukan hal yang sama.




Referensi:


Duckworth, A. L. (2016). Grit: The Power of Passion and Perseverance. Scribner.


Fredrickson, B. L. (2001). The role of positive emotions in positive psychology: The broaden-and-build theory of positive emotions. American Psychologist, 56(3), 218–226.


Tugade, M. M., & Fredrickson, B. L. (2004). Resilient individuals use positive emotions to bounce back from negative emotional experiences. Journal of Personality and Social Psychology, 86(2), 320–333.


Link Youtube:


https://youtube.com/shorts/PPlp9oLZvvM?si=U_BJ8TT12arBpgRW

https://youtube.com/shorts/62AgFPcOs9s?si=0HbpI8SOyrP13Ytx

0 komentar:

Posting Komentar