Essai 2- Wawancara Disonansi Kognitif
Disonasi Kognitif terhadap Fungsi Sampah Sebagai Solusi Penimbunan
Tanah Yang Terdampak Banjir Rob
Rizka Latifa NIM 23310410058
Essay guna memenuhi tugas:
Mata Kuliah :
Psikologi Inovasi
Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.
Disonansi kognitif adalah suatu konsep
psikologis yang pertama kali diperkenalkan oleh Leon Festinger pada tahun 1957.
Menurut Festinger, disonansi kognitif adalah ketidaksesuaian atau kesenjangan
antara dua elemen kognitif yang tidak konsisten satu sama lain. Ketidaksesuaian
ini menciptakan ketidaknyamanan psikologis bagi individu yang mengalaminya.
Dalam kata lain, ketika seseorang memiliki dua keyakinan, sikap, atau
pengetahuan yang bertentangan, maka akan timbul perasaan tidak nyaman yang
mendorong individu tersebut untuk mengurangi ketidaksesuaian itu agar rasa
tidak nyaman berkurang.
Festinger (1957) mengemukakan bahwa kognisi
merujuk pada segala bentuk pengetahuan, pandangan, kepercayaan, atau perasaan
yang dimiliki seseorang tentang dirinya sendiri maupun tentang lingkungannya. Dalam
wawancara dengan Solkiya seorang pemilik warung makan di desa kabupaten
Pekalongan. ia mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi lingkungan,
khususnya permasalahan sampah yang semakin hari semakin meresahkan. Ia
menyuarakan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan mengajak masyarakat
untuk membuang sampah pada tempatnya, mengurangi penggunaan plastik sekali
pakai, dan lebih bertanggung jawab dalam konsumsi sehari-hari. Namun, dalam
pengakuannya, Solkiya juga menyatakan bahwa ia sendiri masih kerap menghadapi
kesulitan untuk konsisten dalam menerapkan gaya hidup ramah lingkungan.
Kemudian dalam wawancara tersebut, Solkiya mengungkapkan bahwa sampah sering digunakan sebagai bahan campuran untuk menimbun tanah yang terdampak banjir rob. Menurutnya, cara ini dipilih karena dapat menghemat biaya. Pernyataan ini mencerminkan adanya upaya merasionalisasi sebuah tindakan pembenaran yang sebenarnya keliru secara ekologis. Alih-alih mengakui bahwa membuang sampah ke lingkungan sebagai solusi penimbunan adalah bentuk pencemaran, Solkiya memilih untuk menekankan manfaat ekonominya. Ini menjadi bentuk justifikasi yang membuat tindakan tersebut tampak wajar, meskipun sebenarnya berdampak buruk terhadap lingkungan. Mekanisme semacam ini sering muncul dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika pilihan yang ramah lingkungan dianggap lebih mahal atau merepotkan.
Dalam hal ini, argumen efisiensi biaya menjadi
alasan yang digunakan untuk meredam konflik batin antara kesadaran akan
pentingnya menjaga lingkungan dan praktik nyata yang justru merusaknya. Alasan
ini memberikan kenyamanan psikologis sementara, seolah-olah tindakan tersebut
dapat diterima karena didorong oleh kebutuhan praktis. Namun, jika dibiarkan
tanpa refleksi kritis, justifikasi semacam ini dapat membentuk pola pikir yang
permisif terhadap tindakan merusak lingkungan.
Ketika pembenaran seperti ini terus berulang,
masyarakat berpotensi kehilangan sensitivitas terhadap dampak jangka panjang
dari kebiasaan buruk dalam pengelolaan sampah. Disonansi kognitif yang tidak
disadari atau tidak diatasi dapat menghambat perubahan perilaku menuju praktik
yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan. Oleh karena itu, penting untuk
membangun kesadaran kritis bahwa efisiensi biaya tidak selalu sejalan dengan
keberlanjutan lingkungan, serta mendorong pilihan-pilihan yang tidak hanya menguntungkan
secara ekonomi, tetapi juga ramah terhadap bumi.
Referensi:
Festinger, L. (1957). A theory of cognitive dissonance. Stanford University Press
Dokumen Wawancara
https://drive.google.com/file/d/1RDa2_9rRcPmewLPtY8KrT9jT6HwWdDNj/view?usp=drivesdk

0 komentar:
Posting Komentar