17.5.25

Essai 2 Psikologi Inovasi : Wawancara tentang Disonansi Kognitif

     Essai 2- Wawancara Disonansi Kognitif

Disonasi Kognitif terhadap Fungsi Sampah Sebagai Solusi Penimbunan Tanah Yang Terdampak Banjir Rob

Rizka Latifa  NIM 23310410058

Essay guna memenuhi tugas:

Mata Kuliah    : Psikologi Inovasi

Dosen Pengampu        : Dr. Arundati Shinta, M.A.

 

Disonansi kognitif adalah suatu konsep psikologis yang pertama kali diperkenalkan oleh Leon Festinger pada tahun 1957. Menurut Festinger, disonansi kognitif adalah ketidaksesuaian atau kesenjangan antara dua elemen kognitif yang tidak konsisten satu sama lain. Ketidaksesuaian ini menciptakan ketidaknyamanan psikologis bagi individu yang mengalaminya. Dalam kata lain, ketika seseorang memiliki dua keyakinan, sikap, atau pengetahuan yang bertentangan, maka akan timbul perasaan tidak nyaman yang mendorong individu tersebut untuk mengurangi ketidaksesuaian itu agar rasa tidak nyaman berkurang.

Festinger (1957) mengemukakan bahwa kognisi merujuk pada segala bentuk pengetahuan, pandangan, kepercayaan, atau perasaan yang dimiliki seseorang tentang dirinya sendiri maupun tentang lingkungannya. Dalam wawancara dengan Solkiya seorang pemilik warung makan di desa kabupaten Pekalongan. ia mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi lingkungan, khususnya permasalahan sampah yang semakin hari semakin meresahkan. Ia menyuarakan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan mengajak masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, dan lebih bertanggung jawab dalam konsumsi sehari-hari. Namun, dalam pengakuannya, Solkiya juga menyatakan bahwa ia sendiri masih kerap menghadapi kesulitan untuk konsisten dalam menerapkan gaya hidup ramah lingkungan.

Kemudian dalam wawancara tersebut, Solkiya mengungkapkan bahwa sampah sering digunakan sebagai bahan campuran untuk menimbun tanah yang terdampak banjir rob. Menurutnya, cara ini dipilih karena dapat menghemat biaya. Pernyataan ini mencerminkan adanya upaya merasionalisasi sebuah tindakan pembenaran yang sebenarnya keliru secara ekologis. Alih-alih mengakui bahwa membuang sampah ke lingkungan sebagai solusi penimbunan adalah bentuk pencemaran, Solkiya memilih untuk menekankan manfaat ekonominya. Ini menjadi bentuk justifikasi yang membuat tindakan tersebut tampak wajar, meskipun sebenarnya berdampak buruk terhadap lingkungan. Mekanisme semacam ini sering muncul dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika pilihan yang ramah lingkungan dianggap lebih mahal atau merepotkan.



Dalam hal ini, argumen efisiensi biaya menjadi alasan yang digunakan untuk meredam konflik batin antara kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan dan praktik nyata yang justru merusaknya. Alasan ini memberikan kenyamanan psikologis sementara, seolah-olah tindakan tersebut dapat diterima karena didorong oleh kebutuhan praktis. Namun, jika dibiarkan tanpa refleksi kritis, justifikasi semacam ini dapat membentuk pola pikir yang permisif terhadap tindakan merusak lingkungan.

Ketika pembenaran seperti ini terus berulang, masyarakat berpotensi kehilangan sensitivitas terhadap dampak jangka panjang dari kebiasaan buruk dalam pengelolaan sampah. Disonansi kognitif yang tidak disadari atau tidak diatasi dapat menghambat perubahan perilaku menuju praktik yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan. Oleh karena itu, penting untuk membangun kesadaran kritis bahwa efisiensi biaya tidak selalu sejalan dengan keberlanjutan lingkungan, serta mendorong pilihan-pilihan yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga ramah terhadap bumi.

Referensi:

Festinger, L. (1957). A theory of cognitive dissonance. Stanford University Press

Dokumen Wawancara 

https://drive.google.com/file/d/1RDa2_9rRcPmewLPtY8KrT9jT6HwWdDNj/view?usp=drivesdk

0 komentar:

Posting Komentar