ESSAY 2
PSIKOLOGI INOVASI
WAWANCARA DISONANSI KOGNITIF
Oleh:
Nama : Alimin Mubarok
NIM : 22310410144
Dosen Pengampu:
Dr. Dra. Arundati Shinta
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta
Yogyakarta
2025
PRO-LINGKUNGAN HIDUP
Setelah mengikuti mata kuliah
psikologi lingkungan dan inovasi, sengaja saya bertanya salah seorang kawan
yang sama-sama belajar di UP45, pada tgl
16 Mei 2025, dan saya mengatakan padanya bahwa bagaimana tentang prilaku kita terhadap
lingkungan hidup setelah kita belajar psikologi lingkungan dan inovasi. Dimana didalam
psikologi lingkungan juga belajar
mengolah bank sampah, sampah menjadi ekonomi sekuler, maka tidak heran kalau
saya ingin tahu sejauh mana dia pro-lingkungan sebgaimana yang pernah dipelajarinya, saya bertanya :
1.
Bagaimana
mas mengelola sampah rumah tangga sehari-hari? Apakah Anda memilah sampah
organik dan anorganik?
Kawan saya menjawab Kalau untuk sampah plastik dipisahkan
untuk memudahkan petugas ketika mengambil sampah. Namun hanya sekedar itu untuk
memudahkan petugas tidak samapai saya mengolah sendiri.
2. Apa yang biasanya mas lakukan terhadap barang
bekas tidak terpakai seperti pakaian, sepatu, atau elektronik lama? Kalau
pakaian yang masih layak saya kirim ke kampung halaman karena biasanya Cuma
faktor ukuran saja pakaian masih layak saya sedekahkan ketetangga di kampung
halaman, kalau alat elektronik saya membeli hanya yang dibutuhkan saja, namun
pernah juga saya sedekahkan ke kampung beberapa laptop bekas saya kasih ke tetangga yang membutuhkan,
3.
Apakah
Mas pernah terlibat dalam program daur ulang di lingkungan seperti bank sampah?
Sementara ini belum terlibat karena saya tinggal di rumah
elit, jarang sekali adanya kegiatan lingkungan karena sampah sudah diurus oleh
orang-orang professional.
Dari perbincangan tersebut bias ditarik kesimpulan adanya
disonansi kognitif parsial antara pengetahuan yang diperoleh dari pembelajaran
psikologi lingkungan dan inovasi dengan prilaku actual dalam kehidupan
sehari-hari, dimana teman saya memiliki pemahaman dasar mengenai pentingnya
pengelolaan sampah seperti memilah sampah plastik dan menyumbangkan barang
bekas, hal ini mencerminkan bahwa nilai-nilai pro-lingkungan telah tertanam
secara kognitif, namun belum sepenuhnya terinternalisasi menjadi prilaku
konsisten dan aktif dalam konteks komunitas.
Konflik kognitif muncul ketika terdapat ketidaksesuaian apa
yang dketahui dan diyakini misalnya pentingnya daur ulang dan ekonomi sekuler,
namun ternya belum terlibat dalam program lingkungan seperti membuat bank
sampah, alasannya tinggal dilingkungan elit dan sudah dikelola secara professional
ini bentuk justifikasi kognitif yang menunjukan
adanya disonansi yang masih belum terselasaikan
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran tingkat
kognitif telah terjadi namun resonansi antara pengetahuan, sikap, dan tindakan
masih belum optimal. Hal ini menunjukan perlunya dorongan yang lebih kuat dari
motivasi pribadinya maupun dukungan lingkungan sekitar agar individu mampu
mengaktualisasikan nilai-nilai pro-lingkungan yang sudah dipelajari ke dalam
bentuk aksi nyata yang berkelanjutan
0 komentar:
Posting Komentar