16.5.25

 

ESSAY 2

PSIKOLOGI INOVASI

WAWANCARA DISONANSI KOGNITIF

Oleh:

Nama : Alimin Mubarok

NIM : 22310410144

Dosen Pengampu:

Dr. Dra. Arundati Shinta

 

Fakultas Psikologi

Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

Yogyakarta

2025

 

 

 

 

 

PRO-LINGKUNGAN HIDUP

Setelah mengikuti mata kuliah psikologi lingkungan dan inovasi, sengaja saya bertanya salah seorang kawan yang sama-sama belajar di UP45,  pada tgl 16 Mei 2025, dan saya mengatakan padanya bahwa  bagaimana tentang prilaku kita terhadap lingkungan hidup setelah kita belajar psikologi lingkungan dan inovasi. Dimana didalam psikologi lingkungan  juga belajar mengolah bank sampah, sampah menjadi ekonomi sekuler, maka tidak heran kalau saya ingin tahu sejauh mana dia pro-lingkungan sebgaimana yang pernah dipelajarinya,  saya bertanya :

1.    Bagaimana mas mengelola sampah rumah tangga sehari-hari? Apakah Anda memilah sampah organik dan anorganik?

Kawan saya menjawab Kalau untuk sampah plastik dipisahkan untuk memudahkan petugas ketika mengambil sampah. Namun hanya sekedar itu untuk memudahkan petugas tidak samapai saya mengolah sendiri.

2.     Apa yang biasanya mas lakukan terhadap barang bekas tidak terpakai seperti pakaian, sepatu, atau elektronik lama? Kalau pakaian yang masih layak saya kirim ke kampung halaman karena biasanya Cuma faktor ukuran saja pakaian masih layak saya sedekahkan ketetangga di kampung halaman, kalau alat elektronik saya membeli hanya yang dibutuhkan saja, namun pernah juga saya sedekahkan ke kampung beberapa laptop bekas  saya kasih ke tetangga yang membutuhkan,

3.    Apakah Mas pernah terlibat dalam program daur ulang di lingkungan seperti bank sampah?

Sementara ini belum terlibat karena saya tinggal di rumah elit, jarang sekali adanya kegiatan lingkungan karena sampah sudah diurus oleh orang-orang professional.

 

Dari perbincangan tersebut bias ditarik kesimpulan adanya disonansi kognitif parsial antara pengetahuan yang diperoleh dari pembelajaran psikologi lingkungan dan inovasi dengan prilaku actual dalam kehidupan sehari-hari, dimana teman saya memiliki pemahaman dasar mengenai pentingnya pengelolaan sampah seperti memilah sampah plastik dan menyumbangkan barang bekas, hal ini mencerminkan bahwa nilai-nilai pro-lingkungan telah tertanam secara kognitif, namun belum sepenuhnya terinternalisasi menjadi prilaku konsisten dan aktif dalam konteks komunitas.

 

Konflik kognitif muncul ketika terdapat ketidaksesuaian apa yang dketahui dan diyakini misalnya pentingnya daur ulang dan ekonomi sekuler, namun ternya belum terlibat dalam program lingkungan seperti membuat bank sampah, alasannya tinggal dilingkungan elit dan sudah dikelola secara professional ini bentuk justifikasi kognitif yang menunjukan adanya disonansi yang masih belum terselasaikan

 

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran tingkat kognitif telah terjadi namun resonansi antara pengetahuan, sikap, dan tindakan masih belum optimal. Hal ini menunjukan perlunya dorongan yang lebih kuat dari motivasi pribadinya maupun dukungan lingkungan sekitar agar individu mampu mengaktualisasikan nilai-nilai pro-lingkungan yang sudah dipelajari ke dalam bentuk aksi nyata yang berkelanjutan

 

 

0 komentar:

Posting Komentar