19.5.25

ESSAY 2 - WAWANCARA DISONANSI KOGNITIF

 

Nama                           : Laora Arthamevia Viranezy

NIM                            : 22310410148

Mata Kuliah                : Psikologi Inovasi

Tugas Ke                     : 2

Nama Tugas                : Esai 2  Wawancara Disonansi Kognitif

Dosen Pengampu        : Dr., Dra. Arundati Shinta, M.A.

 Mei 2025

 

 

Disonansi Kognitif pada Perokok Aktif

 

 


Disonansi kognitif merupakan kondisi ketidaksesuaian antara pengetahuan dan perilaku, yang menyebabkan ketegangan psikologis. Untuk memahami hal ini secara langsung, saya mewawancarai seorang perokok aktif berinisial “DP” (49 tahun), pekerjaan karyawan swasta. Subjek telah merokok sejak remaja, dan hingga kini menghabiskan kurang lebih 1 bungkus rokok setiap harinya.

Ketika ditanya mengenai pengetahuannya tentang bahaya merokok, DP menjawab jika tahu banget rokok bikin sesak, bisa kena jantung, paru-paru juga. Tapi udah kebiasaan dari muda, jadi susah berhentinya. Subjek bahkan menyadari bahwa merokok membuat nafasnya lebih pendek dan subjek menjadi lebih sering batuk. Meski begitu, subjek tetap melanjutkan kebiasaan tersebut.

 

Dalam pandangan psikologi sosial, ini merupakan bentuk nyata dari disonansi kognitif. DP memiliki dua kognisi yang saling bertentangan yaitu mengenai pengetahuan tentang bahaya rokok dan perilaku merokok yang terus dijalankan. Untuk meredakan ketegangan ini, subjek menggunakan pembenaran seperti “rokok bikin saya rileks” Pernyataan ini adalah bentuk rationalization, salah satu cara umum orang menghadapi disonansi.

DP juga mengatakan bahwa beberapa kali mencoba berhenti, tapi selalu gagal. DP merasa lingkungan dan tekanan kerja juga membuatnya kembali merokok. Padahal, secara pengetahuan, DP ingin berhenti demi kesehatannya. DP menunjukkan bahwa perubahan perilaku membutuhkan lebih dari sekadar kesadaran tetapi perlu dorongan emosional, motivasi internal, dan dukungan lingkungan.

 

Wawancara ini memberikan pemahaman bahwa disonansi kognitif bukan sekadar konflik batin, tetapi bisa menjadi penghalang besar dalam perubahan perilaku. Kesadaran saja tidak cukup. Perubahan hanya akan terjadi jika individu merasa cukup terdorong untuk menyesuaikan tindakan dengan keyakinannya, atau sebaliknya. Sebagai mahasiswa psikologi, wawancara ini mengajarkan saya bahwa intervensi psikologis harus mempertimbangkan konflik internal semacam ini, agar perubahan perilaku bisa benar-benar terjadi secara mendalam.

0 komentar:

Posting Komentar