Nama :
Laora
Arthamevia Viranezy
NIM : 22310410148
Mata Kuliah : Psikologi Inovasi
Tugas Ke :
2
Nama Tugas : Esai 2 – Wawancara Disonansi
Kognitif
Dosen Pengampu : Dr., Dra. Arundati Shinta, M.A.
Disonansi Kognitif pada Perokok Aktif
Disonansi kognitif
merupakan kondisi ketidaksesuaian antara pengetahuan dan perilaku, yang
menyebabkan ketegangan psikologis. Untuk memahami hal ini secara langsung, saya
mewawancarai seorang perokok aktif berinisial “DP” (49 tahun), pekerjaan
karyawan swasta. Subjek telah merokok sejak remaja, dan hingga kini menghabiskan
kurang lebih 1 bungkus rokok setiap harinya.
Ketika ditanya mengenai pengetahuannya tentang bahaya merokok, DP menjawab jika tahu banget rokok bikin sesak, bisa kena jantung, paru-paru juga. Tapi udah kebiasaan dari muda, jadi susah berhentinya. Subjek bahkan menyadari bahwa merokok membuat nafasnya lebih pendek dan subjek menjadi lebih sering batuk. Meski begitu, subjek tetap melanjutkan kebiasaan tersebut.
Dalam pandangan
psikologi sosial, ini merupakan bentuk nyata dari disonansi kognitif. DP
memiliki dua kognisi yang saling bertentangan yaitu mengenai pengetahuan
tentang bahaya rokok dan perilaku merokok yang terus dijalankan. Untuk
meredakan ketegangan ini, subjek menggunakan pembenaran seperti “rokok bikin
saya rileks” Pernyataan ini adalah bentuk rationalization, salah satu cara umum
orang menghadapi disonansi.
DP juga mengatakan bahwa beberapa kali mencoba berhenti, tapi selalu gagal. DP merasa lingkungan dan tekanan kerja juga membuatnya kembali merokok. Padahal, secara pengetahuan, DP ingin berhenti demi kesehatannya. DP menunjukkan bahwa perubahan perilaku membutuhkan lebih dari sekadar kesadaran tetapi perlu dorongan emosional, motivasi internal, dan dukungan lingkungan.
Wawancara ini
memberikan pemahaman bahwa disonansi kognitif bukan sekadar konflik batin,
tetapi bisa menjadi penghalang besar dalam perubahan perilaku. Kesadaran saja
tidak cukup. Perubahan hanya akan terjadi jika individu merasa cukup terdorong
untuk menyesuaikan tindakan dengan keyakinannya, atau sebaliknya. Sebagai
mahasiswa psikologi, wawancara ini mengajarkan saya bahwa intervensi psikologis
harus mempertimbangkan konflik internal semacam ini, agar perubahan perilaku
bisa benar-benar terjadi secara mendalam.

0 komentar:
Posting Komentar