ESSAY 2
MELAKUKAN WAWANCARA DISONANSI KOGNITIF
Nama : Rizka Aningrum Kesuma Putri
NIM : 23310410053
Mata Kuliah : Psikologi Inovasi
Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.
Disonansi kognitif adalah keadaan tidak nyaman secara psikologis yang terjadi ketika seseorang memiliki dua atau lebih keyakinan, sikap, atau nilai yang bertentangan atau ketika perilaku seseorang bertentangan dengan keyakinan atau nilai yang ia anut. Menurut teori Leon Festinger ( 1957 ) seseorang akan berusaha mengurangi disonansi ini dengan cara mengubah keyakinan atau sikap, mengubah perilaku, dan mencari pembenaran.
Suara hati perokok " disonansi kognitif di balik asap rokok "
Merokok sudah menjadi bagian dari banyak kehidupan banyak orang baik sebagai kebiasaan, pelarian, atau sekedar rutinitas yang berbentuk bertahun-tahun. Namun, di balik kepulan asap itu, sering tersembunyi suara hati yang dipenuhi pertentangan hati. Di sinilah disonansi kognitif mengambil peran ketika seseorang mempercayai satu hal namun bertindak sebaliknya.
Dalam wawancara ini saya melakukan wawancara dengan seseorang F yang dimana ia perokok aktif sejak ia masih kecil, disini saya bertanya kepada ia bagaimana kehidupan dia jika tidak merokok lalu ia menjawab " jika saya tidak merokok rasanya pahit dan tidak enak ". F sangat aktif sekali dengan merokok, suatu hari juga saya pernah memberi saran kepada F jika merokok itu dapat membahayakan.
" Saya tahu rokok itu berbahaya sudah banyak teman saya yang terkena sakit akibat merokok " ujar F sambil memainkan rokok yang ada di tangannya yang di satu sisi ia sadar sepenuhnya akan risiko kesehatan : kanker paru-paru, serangan jantung, bahkan kematian dini.
Meski begitu, F sudah mencoba untuk berhenti ketika ia mendapat pasangan " saya sudah pernah mencoba untuk berhenti merokok tetapi tidak bisa, maka dari itu saya mencoba untuk mengurangi rokok saya secara pelan-pelan yang tadinya satu hari bisa 2 bungkus sekarang menjadi 1 bungkus yang itu pun tidak habis dalam sehari."
Kesulitan berhenti merokok justru memperkuat disonansi, ia tahu ia seharusnya berehnti merokok demi pasangan dan keluarganya namun tekanan sosial, kecanduan nikotin, dan kebutuhan akan kenyamanan membuat ia terus menundanya.
Wawancara ini memperlihatkan bagaimana disonansi kognitif berperan besar pada kebiasaan merokok. Asap rokok tak hanya membawa zat kimia, tapi juga membawa lapisan-lapisan konflik batin yang kompleks. Perokok sadar akan bahaya namun tetap melakukannya dan melanjutkan perilaku tersebut.
0 komentar:
Posting Komentar