21.5.25

ESSAI 5- Melakukan Perubahan Diri Selama 8 Minggu Melalui Kegiatan Journaling

 Nama      : Caecilia Dian Eka P

NIM.         : 22310410182


Esai 5 – Melakukan Perubahan Diri Selama 8 Minggu Melalui Kegiatan Journaling

Delapan minggu terakhir menjadi masa yang sangat berarti bagi saya, sebuah periode yang saya dedikasikan untuk melakukan perubahan diri secara konsisten melalui praktik journaling. Awalnya, saya hanya tertarik mencoba kegiatan ini karena melihat beberapa unggahan di media sosial yang memperlihatkan journal yang rapi dan estetik. Namun seiring berjalannya waktu, saya menyadari bahwa journaling bukan hanya tentang menulis di buku catatan dengan hiasan warna-warni, melainkan sebuah perjalanan mendalam untuk memahami diri, mengelola emosi, dan menyusun strategi hidup. Proses ini benar-benar menjadi cermin reflektif yang membuka sisi-sisi dalam diri saya yang selama ini tidak saya sadari.

Pada minggu-minggu awal, saya mulai dengan menulis hal-hal sederhana. Saya mencatat apa saja yang terjadi sepanjang hari, emosi yang saya rasakan, serta hal-hal yang saya syukuri. Walau terlihat sepele, aktivitas ini mulai membentuk kebiasaan berpikir yang lebih jernih. Saya menyadari bahwa dengan menuliskan sesuatu, beban pikiran terasa berkurang. Tulisan saya menjadi tempat aman untuk menumpahkan isi hati tanpa takut dihakimi. Di sinilah saya menyadari bahwa journaling berperan besar sebagai alat bantu regulasi emosi. Saat merasa marah, cemas, atau sedih, saya cukup menulis dan membiarkan kalimat-kalimat itu menjadi jalan keluar dari kekusutan di dalam kepala. Saya merasa lebih ringan, lebih tenang, dan lebih siap menghadapi hari-hari berikutnya.

Memasuki minggu keempat, saya mulai memperhatikan pola yang berulang dalam hidup saya. Ternyata ada banyak situasi yang secara tidak sadar memicu reaksi emosional tertentu. Misalnya, saya sering merasa frustrasi saat dihadapkan pada hal yang tidak jelas atau terlalu mendadak. Dari catatan harian saya, terlihat jelas bagaimana saya sering merespons dengan nada tinggi atau bersikap sinis. Namun yang lebih penting, saya jadi tahu bahwa pola itu berulang bukan karena orang lain semata, tetapi karena saya sendiri belum belajar cara mengelolanya. Dengan menyadari pola-pola ini, saya tidak hanya menjadi lebih reflektif, tapi juga mulai mencari solusi konkret. Saya belajar untuk mengomunikasikan batasan saya dengan lebih asertif, dan mulai menetapkan SOP pribadi dalam menghadapi kondisi tak terduga.

Selanjutnya, pada minggu keenam, journaling saya mulai berkembang ke arah perencanaan hidup. Saya menulis tentang mimpi dan tujuan yang ingin saya capai. Salah satu momen penting adalah ketika saya menuliskan keinginan untuk menjadi lebih konsisten dalam menjaga kesehatan mental dan fisik. Dari catatan itu, saya mulai menyusun langkah-langkah kecil yang bisa saya ambil—seperti membatasi penggunaan media sosial, memperbanyak membaca buku, serta mencoba meditasi singkat sebelum tidur. Saya juga mencatat perkembangan saya setiap minggunya, dan dari situlah muncul rasa percaya diri dan kepuasan tersendiri ketika melihat kemajuan yang saya capai, sekecil apa pun itu. Menulis mimpi ternyata tidak hanya membuat saya berani berharap, tetapi juga memicu tindakan nyata untuk mencapainya.

Pada minggu kedelapan, saya merasa ada perubahan signifikan dalam cara saya memandang hidup dan diri sendiri. Saya tidak lagi terburu-buru menyalahkan keadaan atau orang lain ketika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan. Sebaliknya, saya mulai terbiasa mengurai masalah secara objektif, mencatat kemungkinan solusi, dan mengevaluasi strategi yang telah saya coba. Saya juga mulai menulis afirmasi positif, yang perlahan membentuk pola pikir lebih sehat dan konstruktif. Dari semua perubahan ini, saya belajar bahwa journaling bukan hanya kegiatan mengisi waktu, tapi sebuah proses yang penuh makna. Ia mengajarkan saya untuk menjadi lebih jujur pada diri sendiri, lebih peka terhadap emosi, serta lebih bertanggung jawab dalam mengelola kehidupan.

Delapan minggu ini bukan akhir, melainkan awal dari komitmen panjang untuk terus berubah dan berkembang. Journaling telah memberi saya ruang untuk berpikir, merasa, dan merancang hidup dengan lebih sadar. Saya percaya, siapa pun yang memberi diri mereka kesempatan untuk menulis dan mengenal diri lebih dalam, akan merasakan manfaat serupa. Seperti yang ditulis oleh Grisselda Nihardja, journaling bukan hanya aktivitas mencatat, tapi juga proses membentuk diri menjadi pribadi yang lebih utuh, reflektif, dan penuh kesadaran. Saya bersyukur telah memulai perjalanan ini, dan saya berharap bisa terus melanjutkannya sebagai bagian dari gaya hidup sehat secara mental dan emosional.

Daftar Pustaka

Nihardja, G. (2024). Journaling dan manfaatnya lebih dari sekadar nulis di buku catatan. GrisseldaNihardja.com. Diakses pada 4 Mei 2025 dari https://www.grisseldanihardja.com/blog/manfaat-journaling


0 komentar:

Posting Komentar