18.5.25

ESSAI 2 - WAWANCARA TENTANG DISONANSI KOGNITIF

SILVI NURFITRIANI 

PSIKOLOGI SJ

23310410064

MATA KULIAH PSIKOLOGI INOVASI

UNIVERSITAS PROKLAMASI 45 

FAKULTAS PSIKOLOGI 

Tahun 2025

DOSEN PENGAMPU : Dr. ARUNDATI SHINTA, M.A 

Judul : Rendahnya Kesadaran Diri :: Studi Singkat tentang Disonansi Kognitif pada Perokok



Merokok adalah aktivitas yang diketahui memiliki dampak negatif terhadap kesehatan. Informasi tentang bahaya merokok sudah tersebar luas melalui berbagai media, pendidikan kesehatan, hingga peringatan pada bungkus rokok itu sendiri. Namun, menarik untuk diamati bahwa meskipun seseorang telah mengetahui bahayanya, tidak sedikit yang tetap memilih untuk merokok. Fenomena ini dapat dijelaskan melalui konsep disonansi kognitif.

Dalam wawancara singkat yang kami lakukan bulan Mei ini dengan seorang perokok, kami mengajukan pertanyaan sederhana: "Kenapa kamu merokok?" dan dijawab, "Karena aku suka dan bikin tenang." Ketika ditanya apakah ia mengetahui bahwa merokok itu berbahaya, responden menjawab, "Iya tau si." Namun, saat ditanya mengapa tetap merokok, jawabannya adalah, "Soalnya kalau gak merokok pusing, jadi stress."

Dari percakapan singkat ini, tampak jelas adanya ketidaksesuaian antara pengetahuan (kognisi bahwa merokok berbahaya) dan perilaku (tetap merokok). Inilah yang disebut disonansi kognitif, yaitu kondisi psikologis tidak nyaman yang muncul ketika seseorang memiliki dua pemikiran atau sikap yang saling bertentangan.

Leon Festinger, pencetus teori disonansi kognitif, menyatakan bahwa individu cenderung mencari cara untuk mengurangi ketegangan dari disonansi tersebut. Dalam konteks perokok, mereka mungkin merasionalisasi perilaku mereka dengan menyatakan bahwa merokok memberikan rasa tenang atau membantu mengurangi stres. Ini merupakan bentuk penyesuaian kognitif untuk meredakan ketidaknyamanan batin akibat kontradiksi antara pengetahuan dan tindakan.

Selain itu, responden menyebut bahwa tidak merokok membuatnya merasa pusing dan stres. Ini bisa diartikan sebagai pembenaran psikologis yang digunakan untuk mempertahankan perilaku merokok, meski sadar akan risikonya. Dalam beberapa kasus, perokok juga menormalisasi perilaku dengan mengatakan "banyak kok yang merokok tapi masih sehat," sebagai upaya memperkecil ancaman kognitif yang dirasakan.

Fenomena ini penting dipahami, terutama oleh mahasiswa psikologi, karena menggambarkan bagaimana manusia tidak selalu bertindak berdasarkan logika atau pengetahuan semata. Perilaku sering kali dipengaruhi oleh kebutuhan emosional, kebiasaan, dan kenyamanan jangka pendek. Disonansi kognitif juga menjadi penghalang dalam perubahan perilaku, terutama dalam intervensi kesehatan seperti program berhenti merokok.

Dengan memahami mekanisme disonansi ini, diharapkan kita dapat merancang pendekatan komunikasi yang lebih empatik, bukan hanya memberikan informasi, tetapi juga membantu individu memahami konflik batin mereka dan mendukung proses perubahan perilaku yang lebih realistis.

0 komentar:

Posting Komentar