18.5.25

ESSAY 6 : TIPS MENJADI TANGGUH DAN TELADAN

 SILVI NURFITRIANI 

PSIKOLOGI SJ

23310410064

MATA KULIAH PSIKOLOGI INOVASI

UNIVERSITAS PROKLAMASI 45 

FAKULTAS PSIKOLOGI 

Tahun 2025

DOSEN PENGAMPU : Dr. ARUNDATI SHINTA, M.A

Judul: Menjadi Tangguh dan Inspiratif di Era Perubahan



Di era yang terus berubah cepat seperti sekarang, memiliki kemampuan untuk bangkit dari tantangan (resiliensi) dan menjadi pribadi yang bisa memberi inspirasi (suri teladan) adalah dua hal yang saling mendukung dan penting dimiliki, terutama oleh generasi muda. Keduanya bukan hanya membantu kita bertahan, tetapi juga berkembang dan memberi dampak positif bagi orang lain. Berikut dua tips sederhana namun berkaitan yang bisa diterapkan.

Pertama, latih resiliensi melalui ketekunan dalam tujuan pribadi.

Resiliensi bukan berarti tidak pernah gagal, melainkan mampu bangkit dan terus melangkah meski berkali-kali jatuh. Salah satu cara melatihnya adalah dengan menetapkan tujuan yang ingin dicapai, kemudian konsisten mengejarnya meskipun ada rintangan. Misalnya, seorang siswa yang ingin menjadi pengusaha bisa mulai dengan menjual produk kecil-kecilan di sekolah. Saat ditolak atau rugi, ia belajar dari pengalaman itu tanpa menyerah. Ketekunan dalam menghadapi kesulitan akan melatih mental untuk tetap stabil, sabar, dan tangguh, yang menjadi inti dari resiliensi (Reivich & Shatté, 2002).

Kedua, jadilah model atau suri teladan bagi lingkungan sekitar.

Setelah seseorang mulai mampu menghadapi tantangan hidup dengan ketekunan, maka langkah selanjutnya adalah menjadi panutan. Suri teladan tidak harus sempurna, tetapi konsisten menunjukkan nilai positif seperti kejujuran, kerja keras, dan kepedulian terhadap orang lain. Dalam konteks entrepreneurship misalnya, seorang pelaku usaha kecil yang tetap menjaga kualitas dan pelayanan meski dalam masa sulit, akan menjadi contoh baik bagi teman-temannya. Menjadi suri teladan bukan hanya berdampak pada orang lain, tetapi juga memperkuat motivasi internal dan membentuk citra diri yang positif (Bandura, 1977).

Kedua tips ini saling mendukung. Ketika seseorang tangguh, ia akan mampu terus berkembang. Ketika ia menjadi panutan, ia akan lebih terdorong untuk terus menjaga sikap dan berinovasi. Di sinilah pentingnya saling menguatkan antara resiliensi dan keteladanan: tangguh untuk bertahan, dan teladan untuk berdampak.

Pada akhirnya, dunia saat ini membutuhkan lebih banyak orang yang tidak hanya mampu bangkit dari tantangan, tapi juga bersedia menjadi cahaya bagi lingkungan sekitarnya. Melatih diri untuk tekun dan tangguh, lalu menjadikan pengalaman itu sebagai inspirasi bagi orang lain, adalah kunci untuk menjadi pribadi yang luar biasa dan relevan di era perubahan.

Daftar Pustaka:

Bandura, A. (1977). Social Learning Theory. Prentice Hall.

Reivich, K., & Shatté, A. (2002). The Resilience Factor: 7 Keys to Finding Your Inner Strength and Overcoming Life's Hurdles. Broadway Books.

0 komentar:

Posting Komentar