26.11.24

Essay 5 - Eksperimen Tentang Sampah (Untuk berbagai aspek kehidupan)

Essay 5 – Eksperimen Di Rumah Dosen

 

Latihan Kesadaran Akan Sampah Sendiri

Rizka Latifa  NIM 23310410058

Essay guna memenuhi tugas:

Mata Kuliah    : Psikologi Lingkungan

Dosen Pengampu        : Dr. Arundati Shinta, M.A.

 

Hari Ahad,( 27/10) menjadi hari yang berbeda bagi kami, mahasiswa Universitas Proklamasi 45 yang mengambil mata kuliah Psikologi Lingkungan. Pagi itu, alih-alih belajar di ruang kelas seperti biasa, kami diajak oleh dosen kami, Dr. Dra. Arundati Shinta, M.A., untuk belajar langsung di rumah beliau. Kegiatan ini berlangsung di minilab pribadi beliau, sebuah tempat yang nyaman dan penuh inspirasi.

Suasana pagi itu terasa begitu akrab dan hangat. Kami belajar dengan santai sambil menikmati berbagai sajian makanan, mulai dari kue basah hingga buah-buahan segar. Tak hanya sekadar makan bersama, kami juga belajar bagaimana memanfaatkan limbah makanan tersebut dengan cara yang bertanggung jawab.  Setelah selesai makan, kami dibagi menjadi beberapa kelompok, masing-masing dengan tugas berbeda. Ada yang bertanggung jawab untuk pembuatan tas dari bahan daur ulang kalender, ada pula yang mengolah bahan alami untuk memproduksi sabun cuci Boronia.

Tak perlu waktu panjang, kami langsung mempraktikkan pengolahan limbah makanan. Tulang belulang dari sisa makanan kami kubur sebagai bagian dari proses pengelolaan limbah organik. Sedangkan sisa-sisa makanan lainnya kami cacah untuk dijadikan bahan campuran kompos. Saat melihat pencacahan saya merasakan kesedihan karena begitu banyak sisa makanan kami ataupun bungkus dan wadahnya yang banyak. maka demikian menunjukan betapa tingkat konsumsi masyarakat yang semakin tinggi juga turut memberikan pengaruh yang signifikan terhadap volume sampah yang ada. Bahkan dalam Muh. Aris Marfai (2005) mengatakan bahwa sampah  kemudian juga digunakan untuk melekatkan karakter modern atau tidak  modern kepada seseorang. Untuk melihat seperti apakah karakter orang  tersebut maka lihatlah sampah yang setiap hari dihasilkannya. Manusia modern menghasilkan sampah yang lebih modern dan beragam. Manusia tradisional menghasilkan sampah yang kurang beragam, dan masyarakat primitif hanya menghasilkan sampah-sampah organik saja yang lebih mudah untuk didekomposisi oleh lingkungan.

Disaat celah-celah waktu  mencuci wadah-wadah bekas makanan, tiba-tiba terpikirkan sesuatu yang sederhana namun penting. Dengan banyaknya wadah yang harus dicuci, ini berarti lebih banyak sabun dan air yang digunakan. Dan jika tidak dikelola dengan baik, limbah air cucian ini berpotensi mencemari lingkungan. Hal ini membuat saya merenung, bahwa meski aktivitas sehari-hari seperti mencuci wadah terlihat sepele, dampaknya terhadap lingkungan ternyata tidak bisa dianggap remeh. 

Refleksi ini semakin memperkuat pembelajaran yakni bahwa menjaga lingkungan tidak hanya soal mengolah limbah organik atau mendaur ulang, tetapi juga tentang memperhatikan detail kecil dalam keseharian kita. Saya jadi bertanya-tanya, adakah cara untuk mengurangi dampak negatif dari hal ini? Mungkin dengan menggunakan produk ramah lingkungan seperti sabun Boronia yang kami buat. Pengalaman tersebut bukan hanya menambah ilmu, tetapi juga menyadarkan kami akan tanggung jawab pribadi untuk menciptakan perubahan positif bagi lingkungan. Semoga langkah kecil yang kami pelajari hari ini dapat menjadi inspirasi untuk terus peduli dan berkontribusi dalam menjaga kelestarian bumi.


Referensi:

Muh. Aris Marfai,2005, "Garbology (Sampah) : Makna dan Masalahnya" dalam Moralitas Lingkungan, Kreasi Wacana, Yogyakarta, hal. 110

Muthmainnah, L. (2008). Tinjauan Filosofis Problema Pengelolaan Sampah. Jurnal Filsafat18(1), 39-50. https://doi.org/10.22146/jf.3514 

0 komentar:

Posting Komentar