Essay 5 – Eksperimen
Di Rumah Dosen
Latihan Kesadaran Akan Sampah Sendiri
Rizka Latifa NIM 23310410058
Essay guna memenuhi tugas:
Mata Kuliah : Psikologi
Lingkungan
Dosen
Pengampu : Dr. Arundati Shinta,
M.A.
Hari Ahad,( 27/10) menjadi hari yang berbeda
bagi kami, mahasiswa Universitas Proklamasi 45 yang mengambil mata kuliah
Psikologi Lingkungan. Pagi itu, alih-alih belajar di ruang kelas seperti biasa,
kami diajak oleh dosen kami, Dr. Dra. Arundati Shinta, M.A., untuk belajar
langsung di rumah beliau. Kegiatan ini berlangsung di minilab pribadi beliau,
sebuah tempat yang nyaman dan penuh inspirasi.
Suasana pagi itu terasa begitu akrab dan hangat. Kami belajar dengan santai sambil menikmati berbagai sajian makanan, mulai dari kue basah hingga buah-buahan segar. Tak hanya sekadar makan bersama, kami juga belajar bagaimana memanfaatkan limbah makanan tersebut dengan cara yang bertanggung jawab. Setelah selesai makan, kami dibagi menjadi beberapa kelompok, masing-masing dengan tugas berbeda. Ada yang bertanggung jawab untuk pembuatan tas dari bahan daur ulang kalender, ada pula yang mengolah bahan alami untuk memproduksi sabun cuci Boronia.
Tak perlu waktu panjang, kami langsung
mempraktikkan pengolahan limbah makanan. Tulang belulang dari sisa makanan kami
kubur sebagai bagian dari proses pengelolaan limbah organik. Sedangkan
sisa-sisa makanan lainnya kami cacah untuk dijadikan bahan campuran kompos. Saat
melihat pencacahan saya merasakan kesedihan karena begitu banyak sisa makanan kami
ataupun bungkus dan wadahnya yang banyak. maka demikian menunjukan betapa tingkat konsumsi masyarakat yang semakin tinggi juga turut memberikan pengaruh yang
signifikan terhadap volume sampah yang ada. Bahkan dalam Muh. Aris Marfai
(2005) mengatakan bahwa sampah kemudian juga digunakan untuk melekatkan
karakter modern atau tidak modern kepada seseorang. Untuk melihat seperti
apakah karakter orang tersebut maka lihatlah sampah yang setiap hari
dihasilkannya. Manusia modern menghasilkan sampah yang lebih modern dan
beragam. Manusia tradisional menghasilkan sampah yang kurang beragam, dan
masyarakat primitif hanya menghasilkan sampah-sampah organik saja yang lebih mudah
untuk didekomposisi oleh lingkungan.
Disaat celah-celah waktu mencuci wadah-wadah bekas makanan, tiba-tiba terpikirkan sesuatu yang sederhana namun penting. Dengan banyaknya wadah yang harus dicuci, ini berarti lebih banyak sabun dan air yang digunakan. Dan jika tidak dikelola dengan baik, limbah air cucian ini berpotensi mencemari lingkungan. Hal ini membuat saya merenung, bahwa meski aktivitas sehari-hari seperti mencuci wadah terlihat sepele, dampaknya terhadap lingkungan ternyata tidak bisa dianggap remeh.
Refleksi ini semakin memperkuat pembelajaran yakni bahwa menjaga lingkungan tidak hanya soal mengolah limbah organik atau mendaur ulang, tetapi juga tentang memperhatikan detail kecil dalam keseharian kita. Saya jadi bertanya-tanya, adakah cara untuk mengurangi dampak negatif dari hal ini? Mungkin dengan menggunakan produk ramah lingkungan seperti sabun Boronia yang kami buat. Pengalaman tersebut bukan hanya menambah ilmu, tetapi juga menyadarkan kami akan tanggung jawab pribadi untuk menciptakan perubahan positif bagi lingkungan. Semoga langkah kecil yang kami pelajari hari ini dapat menjadi inspirasi untuk terus peduli dan berkontribusi dalam menjaga kelestarian bumi.
Referensi:
Muh. Aris Marfai,2005, "Garbology
(Sampah) : Makna dan Masalahnya" dalam Moralitas Lingkungan, Kreasi
Wacana, Yogyakarta, hal. 110
Muthmainnah, L. (2008). Tinjauan Filosofis Problema Pengelolaan Sampah. Jurnal Filsafat, 18(1), 39-50. https://doi.org/10.22146/jf.3514


0 komentar:
Posting Komentar