26.11.24

Essay 6- Belajar di TPST Randu Alas (Mengamati Lapangan)

Essay 6– Belajar di TPST Randu Alas

 

MENGAMATI PERAN TPST RANDU ALAS DALAM PENGELOLAAN SAMPAH

Rizka Latifa  NIM 23310410058

Essay guna memenuhi tugas:

Mata Kuliah    : Psikologi Lingkungan

Dosen Pengampu        : Dr. Arundati Shinta, M.A.

 

Pembelajaran luar ruang kelas kampus pada Sabtu (12/10) mahasiswa mata kuliah Psikologi Lingkungan Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta melakukan kunjungan ke TPST (Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu) Randu Alas, yang terletak di Candi Karang, Sardonoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kunjungan ini berlangsung dari pukul 12.00 hingga 13.00, dan memberikan wawasan tentang bagaimana pengelolaan sampah dilakukan secara terstruktur meski dihadapkan pada berbagai tantangan.


Selama kunjungan, kami diajak untuk memasuki ruang penyimpanan sampah yang penuh dengan tumpukan sampah yang semakin menggunung. Kondisi ini menggambarkan betapa besar dampak dari perilaku konsumtif manusia yang acuh terhadap keberlanjutan lingkungan. Meminjam pemikiran ekologis Fritjof Capra (Fritjof, 2002) tentang jaring-jaring kehidupan di alam semesta, Capra menekankan bahwa terdapat hubungan timbal balik yang erat antara manusia dan alam. Manusia bukanlah penguasa alam semesta, melainkan hanya bagian dari jaring-jaring kehidupan yang saling terkait. Oleh karena itu, apa pun yang dilakukan manusia terhadap jaring-jaring kehidupan ini pada akhirnya akan berdampak pada dirinya sendiri sebagai bagian dari sistem tersebut. Maka, apabila sampah organik yang berasal dari alam ini berpotensi menghasilkan bau yang tidak sedap jika tidak dikelola dengan baik.

Untuk mengatasi hal tersebut, TPST Randu Alas ini menggunakan teknik-teknik khusus untuk mempercepat proses pembuatan kompos, seperti teknik windrow. Dalam teknik ini, sampah organik dicacah hingga berukuran kecil sehingga mempercepat kematangan kompos yang dihasilkan. Kompos yang dihasilkan digunakan untuk mendukung pertanian, seperti pada tanaman padi, sementara produk sampingannya berupa Pupuk Organik Cair (POC). Namun, pengelolaan sampah di TPST Randu Alas menghadapi sejumlah kendala. Salah satu tantangan utamanya adalah kurangnya alat pendukung seperti mesin pencacah plastik, mesin pemilah sampah, atau mesin pembuat kompos organik. Tidak hanya itu, keterbatasan sumber daya manusia juga menjadi masalah signifikan, mengakibatkan kurang optimalnya pengelolaan sampah.

Di sisi lain, sampah anorganik, yang merupakan hasil olahan pabrik dan tidak mudah terurai secara alami, memerlukan pengelolaan dengan pendekatan 3R (Reduce, Reuse, dan Recycle). agar dapat memberikan nilai baru dan mengurangi tekanan terhadap lingkungan. Naess (2006) menekankan bahwa untuk memulai gerakan ini, langkah pertama harus dimulai dari diri kita sendiri, dimulai dari rumah tangga kita masing-masing. Terkait dengan persoalan sampah, secara umum Naess mengidentifikasi elemen-elemen kunci dalam pengelolaannya sebagai berikut:

1. 

1.  Reduction: Pencegahan dan desain ulang produk atau melakukan perubahan pola konsumsi serta penggunaan produk.

2.  Re-use: Penggunaan produk lebih dari satu kali untuk tujuan yang sama, seperti penggunaan ulang botol minuman atau pengembalian produk ke perusahaan untuk diisi ulang.

3.     Resources Recovery: Pemulihan material dan energi, antara lain melalui:

a.  Recycling: Pengumpulan dan pemrosesan ulang bahan-bahan untuk diolah dan digunakan kembali.

b.     Composting: Dekomposisi biologis sampah organik dalam kondisi aerobik.

c. Energy Recovery: Konversi energi, pembuatan biogas, dan penggunaan pembakaran sampah untuk menghasilkan energi.

4.   Landfilling: Pembuangan sisa sampah dengan penimbunan yang tidak membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan.

Konsep di atas sebenarnya sudah diadopsi sebagai strategi nasional bagi pembangunan berkelanjutan, khususnya di bidang pengelolaan sampah, dengan konsep 4R (Reduce, Reuse, Recycle, dan Recovery). Namun, efektivitasnya masih perlu ditingkatkan. Untuk itu, perlu adanya peningkatan fasilitas, pelatihan sumber daya manusia, serta dukungan kebijakan yang lebih kuat untuk memastikan bahwa konsep 4R dapat dijalankan dengan lebih efisien dan memberikan dampak yang lebih besar bagi lingkungan dan masyarakat.

 

Referensi:

Buletin Kartamantul Edisi 6 Tahun.1,12006.

Muthmainnah, L. (2008). Tinjauan Filosofis Problema Pengelolaan Sampah. Jurnal Filsafat18(1), 39-50. https://doi.org/10.22146/jf.3514

Capra, Fritjof. 2002. Laring-Jarhrg Kehidupan: Visi Baru Epistemologi dan Kehidupan. Fajar Pustaka Baru, Yogyakarta, hlm. vii.


0 komentar:

Posting Komentar