Essay 6– Belajar
di TPST Randu Alas
MENGAMATI PERAN TPST RANDU ALAS DALAM
PENGELOLAAN SAMPAH
Rizka Latifa NIM 23310410058
Essay guna
memenuhi tugas:
Mata Kuliah : Psikologi Lingkungan
Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.
Pembelajaran luar ruang kelas kampus pada Sabtu (12/10) mahasiswa mata kuliah Psikologi
Lingkungan Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta melakukan kunjungan ke TPST
(Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu) Randu Alas, yang terletak di Candi Karang,
Sardonoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kunjungan ini berlangsung dari pukul 12.00 hingga 13.00, dan memberikan wawasan
tentang bagaimana pengelolaan sampah dilakukan secara terstruktur meski
dihadapkan pada berbagai tantangan.
Selama kunjungan, kami diajak untuk memasuki ruang penyimpanan sampah yang
penuh dengan tumpukan sampah yang semakin menggunung. Kondisi ini menggambarkan
betapa besar dampak dari perilaku konsumtif manusia yang acuh terhadap
keberlanjutan lingkungan. Meminjam pemikiran ekologis Fritjof Capra (Fritjof, 2002)
tentang jaring-jaring kehidupan di alam semesta, Capra menekankan bahwa
terdapat hubungan timbal balik yang erat antara manusia dan alam. Manusia
bukanlah penguasa alam semesta, melainkan hanya bagian dari jaring-jaring
kehidupan yang saling terkait. Oleh karena itu, apa pun yang dilakukan manusia
terhadap jaring-jaring kehidupan ini pada akhirnya akan berdampak pada dirinya
sendiri sebagai bagian dari sistem tersebut. Maka, apabila sampah organik yang
berasal dari alam ini berpotensi menghasilkan bau yang tidak sedap jika tidak
dikelola dengan baik.
Untuk mengatasi hal tersebut, TPST Randu Alas ini menggunakan teknik-teknik
khusus untuk mempercepat proses pembuatan kompos, seperti teknik windrow.
Dalam teknik ini, sampah organik dicacah hingga berukuran kecil sehingga
mempercepat kematangan kompos yang dihasilkan. Kompos yang dihasilkan digunakan
untuk mendukung pertanian, seperti pada tanaman padi, sementara produk
sampingannya berupa Pupuk Organik Cair (POC). Namun, pengelolaan sampah di TPST
Randu Alas menghadapi sejumlah kendala. Salah satu tantangan utamanya adalah
kurangnya alat pendukung seperti mesin pencacah plastik, mesin pemilah sampah,
atau mesin pembuat kompos organik. Tidak hanya itu, keterbatasan sumber daya
manusia juga menjadi masalah signifikan, mengakibatkan kurang optimalnya
pengelolaan sampah.
Di sisi lain, sampah anorganik, yang merupakan hasil olahan pabrik dan
tidak mudah terurai secara alami, memerlukan pengelolaan dengan pendekatan 3R
(Reduce, Reuse, dan Recycle). agar dapat memberikan nilai baru dan mengurangi
tekanan terhadap lingkungan. Naess (2006) menekankan bahwa untuk memulai
gerakan ini, langkah pertama harus dimulai dari diri kita sendiri, dimulai dari
rumah tangga kita masing-masing. Terkait dengan persoalan sampah, secara umum
Naess mengidentifikasi elemen-elemen kunci dalam pengelolaannya sebagai
berikut:
1.
1. Reduction:
Pencegahan dan desain ulang produk atau melakukan perubahan pola konsumsi serta
penggunaan produk.
2. Re-use:
Penggunaan produk lebih dari satu kali untuk tujuan yang sama, seperti
penggunaan ulang botol minuman atau pengembalian produk ke perusahaan untuk
diisi ulang.
3.
Resources
Recovery: Pemulihan material dan energi, antara lain melalui:
a. Recycling:
Pengumpulan dan pemrosesan ulang bahan-bahan untuk diolah dan digunakan
kembali.
b. Composting:
Dekomposisi biologis sampah organik dalam kondisi aerobik.
c. Energy Recovery:
Konversi energi, pembuatan biogas, dan penggunaan pembakaran sampah untuk
menghasilkan energi.
4. Landfilling:
Pembuangan sisa sampah dengan penimbunan yang tidak membahayakan kesehatan
manusia dan lingkungan.
Konsep di atas sebenarnya sudah diadopsi sebagai strategi nasional bagi
pembangunan berkelanjutan, khususnya di bidang pengelolaan sampah, dengan
konsep 4R (Reduce, Reuse, Recycle, dan Recovery). Namun, efektivitasnya masih
perlu ditingkatkan. Untuk itu, perlu adanya peningkatan fasilitas, pelatihan
sumber daya manusia, serta dukungan kebijakan yang lebih kuat untuk memastikan
bahwa konsep 4R dapat dijalankan dengan lebih efisien dan memberikan dampak
yang lebih besar bagi lingkungan dan masyarakat.
Referensi:
Buletin Kartamantul Edisi 6 Tahun.1,12006.
Muthmainnah, L. (2008). Tinjauan Filosofis
Problema Pengelolaan Sampah. Jurnal Filsafat, 18(1), 39-50. https://doi.org/10.22146/jf.3514
Capra, Fritjof. 2002. Laring-Jarhrg
Kehidupan: Visi Baru Epistemologi dan Kehidupan. Fajar Pustaka Baru, Yogyakarta, hlm. vii.


0 komentar:
Posting Komentar