Tampilkan postingan dengan label PSIKOLOGI SOSIAL 1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PSIKOLOGI SOSIAL 1. Tampilkan semua postingan

15.6.20

PENTING DAN MANFAAT DARI BERSOSIALISASI


Devi Nurmala Sari
19310410048
Mata Kuliah : Psikologi Sosial
Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, MA
Ujian Akhir Psikologi Soial (Semester Genap 2019/2020).

Sosialisasi adalah proses membimbing individu kedalam dunia sosial. Sosialisasi dilakukan untuk mendidik  seseorang tentang sebuah kebudayaan di masyarakat. Sosialisasi terjadi di lingkungan yang menyebabkan seseorang harus turun tangan untuk menghadapinya. Sosialisasi tentang pola kebudayaan yang terjadi di masyarakat bermacam-macam seperti berbahasa, cara berjalan , duduk, makan, berpakaian, dan lain-lain.
Dalam berinteraksi dengan lingkungan masyarakat kita harus sadar akan pribadi diri sendiri, belajar untuk memandang seseorang dengan baik. Proses sosialisasi terhadap masyarakat tidak selalu berjalan dengan lancar, karena dalam bermasyarakat juga banyak kesulitan.

Pola prilaku yang berbeda-beda ataupun bertentangan. walaupun setiap orang berusaha untuk menyesuaikan diri dengan berbagai situasi sosial, tetapi bila tidak bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan maka kemungkinan akan terjadi gangguan pada masyarakat yang menyebabkan masyarakat akan memandang buruk tentang diri kita.
Penyesuaian diri adalah bagaimana seseorang mencapai keseimbangan hidup dalam memenuhi kebutuhan sesuai dengan lingkungan masyarakat. Apalagi kalau kita dapat membantu kegiatan masyarakat yang dapat meringankan beban warganya. Dengan kita menyusaikan diri dengan masyarakat mereka akan terkesan dengan adanya kita dalam lingkungannya.
Pada zaman sekarang dimana era digital sangatlah berkembang, semakin canggihnya teknologi hal ini dapat terlihat dari banyaknya dikeluarkan barang-barang seperti handphone yang menawarkan kecanggihan yang sangat maju, selain itu berkembangnya teknologi memudahkan kita dalam hal komunikasi, telah kita ketahui bahwa dizaman dahulu sangatlah sulit melakukan komunikasi terutama dengan jarak yang cukup jauh, namun di era digital ini, mudah sekali kita untuk dapat melakukan komunikasi seperti melalui smartphone, laptop, dan media komunikasi lainnya. namun dasarkah kalian bahwa kecanggihan teknologi telah menjauhkan komunikasi kita dalam dunia nyata? faktanya julukan "mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat" itu memang benar adanya.
Dimasa sekarang banyak sekali baik kaum remaja maupun dewasa lebih sering menghabiskan waktunya dengan handphone mereka dibandingkan bersosialisasi secara langsung, dapat dilihat ketika berkumpul atau sekedar nongkrongpun mereka sibuk dengan handphone canggih mereka hingga menghiraukan keadaan sekitar. bahkan banyak yang kecanduan bermain game online.

Padahal ada banyak manfaat dari bersosialisasi terutama dalam bidang kesehatan. Diantaranya itu adalah:
·        Memberikan dampak positif pada fungsi otak
Tidak hanya dapat melatih fungsi otak melalui permainan yang mengasah otak ataupun program-program lain yang dapat meningkatkan fungsi otak, karena bersosialisasi dapat menjadi alternatif lain untuk menjaga fungsi otak Anda.
Berinteraksi dengan orang adalah salah satu bentuk melatih otak, karena interaksi sosial dapat membantu meningkatkan fungsi memori dan melindungi otak dari penyakit-penyakit yang merusak saraf.
Manfaat sosialisasi bagi fungsi otak terlihat dari sebuah studi yang mendapati bahwa orang yang mengajar orang lain mengenai bahan-bahan ujian mendapatkan hasil yang lebih baik saat ujian daripada yang belajar seperti biasanya. Orang yang suka bersosialisasi ditemukan memiliki performa intelektual dan kognitif yang lebih baik. Hal ini karena sosialisasi melatih pemikiran Anda.
Suatu penelitian bahkan menemukan bahwa salah satu manfaat sosialisasi adalah untuk mencegah demensia.
·        Membantu membangun pola hidup yang lebih sehat
Manfaat sosialisasi dalam membentuk pola hidup yang lebih sehat terbukti dari sebuah riset yang meneliti mengenai kualitas hidup dan olahraga. Riset tersebut menemukan bahwa orang yang berolahraga dalam kelompok mengalami penurunan stres serta peningkatan kesehatan mental, fisik, dan emosional daripada yang berolahraga sendirian.
Orang yang kurang bersosialisasi atau memiliki lingkup sosialisasi yang kecil berisiko lebih tinggi untuk terkena diabetes tipe 2 daripada yang sering bersosialisasi. Hal ini karena kurangnya dukungan emosional berdampak pada pengambilan keputusan dan kurangnya perawatan saat sedang sakit.
Anda akan lebih termotivasi untuk melakukan pola hidup sehat, seperti berolahraga saat bersama dengan teman daripada sendirian. Selain itu, adanya teman di sekeliling dapat menjadi pengingat untuk tetap menjalani gaya hidup yang sehat.
·        Bersosialisasi dapat mengurangi stres
Manfaat sosialisasi yang satu ini sudah bukan rahasia umum lagi. Saat Anda bersosialisasi secara tatap muka, Anda akan lebih mungkin untuk bisa bertahan dari tekanan stres untuk jangka waktu yang panjang.
Saat Anda berinteraksi secara sosial secara tatap muka dengan orang lain, maka tubuh akan memproduksi senyawa dopamin yang biasanya dianggap sebagai ‘morfin alami tubuh’. Dopamin dapat meringankan rasa sakit dan membuat Anda merasa senang.
Ketika sedang bersosialisasi, sentuhan yang diberikan atau yang didapatkan, seperti berjabat tangan, berpelukan, dan sebagainya juga memicu tubuh untuk membuat senyawa oksitosin yang menurunkan tingkat stres dengan mengurangi kadar kortisol dalam tubuh.
·        Menjaga kesehatan mental
Penelitian menunjukkan bahwa kaum lansia yang berinteraksi sosial secara tatap muka memiliki gejala depresi yang lebih rendah daripada kaum lansia lain yang hanya berbicara lewat telepon ataupun surel.
Akan tetapi, tentunya manfaat sosialisasi dalam menjaga kesehatan mental juga bisa dirasakan oleh kaum muda, seperti kalangan remaja. Remaja yang memiliki teman-teman dekat akan lebih rendah peluangnya untuk mengalami kecemasan sosial.
Secara garis besar, remaja yang memiliki teman-teman dekat yang masih berhubungan baik hingga dewasa akan memiliki kesehatan mental yang lebih baik. Sosialisasi dengan kualitas hubungan yang baik mampu membantu untuk menurunkan risiko mengalami depresi dan bahkan mampu membantu meringankan gejala depresi dengan membangun kembali keberhargaan diri atau self-esteem dari penderita.
Studi lain mendapati bahwa interaksi sosial sangat berperan penting dalam menjaga kesehatan mental dan kesejahteraan diri pada orang-orang yang memiliki disabilitas.
Manfaat sosialisasi bagi kesehatan tidak dapat dipungkiri, tetapi Anda akan lebih bisa merasakan dampaknya saat melakukan interaksi sosial secara tatap muka daripada melalui alat komunikasi, seperti telepon, surel, dan sebagainya.
Bersosialisasi memang penting, tetapi jangan lupa untuk menyeleksi siapa saja yang bisa masuk ke dalam lingkup pertemanan, karena manfaat sosialisasi juga didasarkan pada kualitas hubungan pertemanan yang baik.
Refrensi:
Juita Irawan. 2019. “Inilah Kenapa Bersosialisasi Itu Penting!”. Diakses dari https://www.kompasiana.com/juita/5e0488a5d541df64ef38f962/inilah-kenapa-bersosialisasi-itu-penting.
Lendy Lovediana. 2017. “Bersosialisasi dengan Masyarakat”. Diakses dari https://www.kompasiana.com/lendylove/5a1402535a676f2963440752/bersosialisasi-dengan-masyarakat.
Anita Djie. 2019. 4 Manfaat Sosialisasi dengan Orang Lain Bagi Kesehatan”. Diakses dari https://www.sehatq.com/artikel/genggam-manfaat-sosialisasi-ini-untuk-kesehatan
Sumber Gambar:
https://hellosehat.com/hidup-sehat/psikologi/manusia-pandai-bersosialisasi/
http://m.erabaru.net/2015/11/09/mengapa-anak-anak-perlu-bersosialisasi/


Social Learning: Tren Belajar Masa Kini?


UJIAN AKHIR PSIKOLOGI SOSIAL 1 
(Semester Genap 2019/2020)


Ganjar Dwi Lestari  (19310410012)
Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta,M.A
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta


Di era serba digital saat ini, segala informasi dapat diperoleh melalui Internet, mulai dari berita kriminal hingga hasil skor pertandingan bola tim favorit kita.Penggunaan internet yang tinggi itu terjadi juga peningkatan sebesar 25% pada penggunaan sosial media di tahun 2018 daripada 2017. Kemudian, apa kaitannya dengan proses belajar?


Pada tahun 1971, Albert Bandura menemukan teori social learning. Bandura berpendapat bahwa faktor lingkungan dan kognitif seseorang dapat mempengaruhi proses belajar. Ketika seseorang berinteraksi dengan lingkungan, sebenarnya terjadi proses belajar, mungkin tanpa Ia sadari.
Berbekal teori belajar sosial dan teknologi yang kini berkembang makin pesat, ada baiknya kegiatan di Internet digunakan untuk hal-hal yang positif seperti belajar dan mencari informasi yang mampu meningkatkan kemampuan dan menambah pengetahuan.
Learning management system (LMS) merupakan salah satu alat yang dapat digunakan untuk menerapkan social learning di lembaga pendidikan formal maupun non-formal. Melalui LMS, seorang pengajar mampu mendesain dan mengelola kelasnya secara virtual, tanpa melakukan tatap muka. LMS yang berkembang di Indonesia hingga saat ini dirasa masih belum digunakan secara optimal untuk belajar, padahal dengan menerapkan teori social learning ke dalam LMS, banyak manfaat yang dapat diperoleh dari lembaga pendidikan tersebut.
Berikut ini beberapa tips yang penulis himpun dari beberapa sumber mengenai pemanfaatan social learning dalam LMS.
Feed berita sosial
Feed berita sosial merupakan fitur yang cukup penting pada setiap platform sosial. Feed atau umpan berita dapat memberikan gambaran umum mengenai seluruh aktivitas dan memungkinkan pengguna untuk menambahkan komentar atau memberikan like untuk orang lain. Pada platform belajar, fitur ini dapat digunakan pada berbagai aplikasi. Pengguna dapat berbagi artikel terkait topik yang sedang mereka ingin pelajari. Admin juga dapat menggunakan feed berita sosial untuk bertanya maupun membuat survey kecil-kecilan.
Grup Diskusi
Didalam platform belajar, mungkin ada sekelompok yang memiliki ketertarikan pada topik-topik tertentu. Grup diskusi dapat dijadikan salahsatu fitur yang mampu menampung sekelompok orang untuk menyampaikan dan saling bertukar ide. Dengan demikian, mereka dapat membantu organisasi untuk semakin berkembang dengan ide-ide baru untuk diimplementasi dan di ujicoba.
Area “Tanya Ahlinya”
Area “pertanyaan yang sering ditanya” memang sering digunakan dalam masih efektif apabila digunakan di website, namun lain halnya apabila hal tersebut diterapkan di LMS yang dibiarkan terbuka begitu saja, umumnya ruang pertanyaan tersebut akan terbengkalai. Alternatifnya yaitu mengumpulkan para subject matter expert (SME) untuk topik-topik tertentu kedalam satu grup, kemudian buatlah area kecil untuk bertanya. Jawaban-jawaban para SME akan disimpan agar pengguna lainnya dapat belajar dari pertanyaan yang pernah dijawab oleh ahlinya.
Live Chat
Fitur yang umumnya mulai diimplementasikan di website e-commerce ini juga dapat digunakan di LMS, bagi pengguna yang tidak ingin percakapannya muncul dan dilihat oleh orang lain, dapat berkomunikasi langsung dengan fitur live chat. Fitur ini dapat digunakan tidak hanya untuk chat ke sesama pengguna LMS, melainkan juga SME yang mungkin sedang online. Dengan demikian, memungkinkan adanya sesi belajar yang lebih privat dengan SME.
Konten yang Dibuat Pengguna
Memberikan keleluasaan bagi pengguna untuk membuat kontennya sendiri merupakan hal yang sangat membantu terbentuknya proses social learning. Ditambah dengan semakin canggihnya teknologi gawai masa kini, pengguna dapat langsung membuat konten dalam bentuk video. Dengan demikian, bank aset belajar akan semakin bertambah, meskipun masih diperlukan juga sistem standarisasi dan kontrol terhadap kualitas agar konten yang tersebar tidak keluar dari konteks pembelajaran.
Gamification
Fungsi sosial sudah cukup baik, tapi terkadang pengguna membutuhkan insentif tambahan. Gamification sangat cocok disandingkan dengan social learning, karena pengguna dapat mendapat sebuah apresiasi dengan jumlah log in, berinteraksi dengan pengguna lain dan mendapat lencana setelah berbagi wawasan baru. Leaderboards menunjukan siapa yang mendapatkan poin dan lencana terbanyak, sehingga dapat menimbulkan kompetisi kecil-kecilan, dan menambah alasan untuk terus log-in.
Integrasi dengan Jaringan Sosial
Berdasarkan data digital yang telah dijelaskan sebelumnya, hampir dapat dipastikan setiap pengguna LMS telah aktif di sosial media. Integrasi LMS dengan sosial media memungkinkan para pengguna untuk berbagi prestasi yang telah mereka raih dengan pengikut di jaringan Twitter, Facebook, maupun LinkedIn.

Sumber

METODE PENDEKATAN POSITIVISTIK-KUANTITATIF



Nurul Khikmah / 19310410064
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta
Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, MA.


  Dalam penelitian sosial, khususnya penelitian psikologi terjadi perdebatan tentang pendekatan yang dianggap paling sesuai untuk menjelaskan gejala-gejala perilaku manusia. Perdebatan yang terjadi adalah perdebatan antara kelompok positivistik-empiris dan kelompok interpretif-fenomenologis. Perdebatan ini melahirkan term-term yang menggambarkan posisi ekstrim dengan kualifikasi dikotomik pendekatan penelitian kuantitaif versus pendekatan penelitian kualitatif.

  Pada satu sisi, kaum positivistik kuantitatif mengemukakan bahwa penelitian sosial maupun pendidikan harus mengikuti prinsip-prinsip ilmu alam yang bersifat empiris. Para filsuf beranggapan bahwa segenap fenomena penelitian sosial dapat dirumuskan dalam prinsip-prinsip obyektif empiris dan dapat dijelaskan menurut hukum-hukum kausalitas deterministik seperti fakta-fakta dalam gejala-gejala alam.

  Pada ekstrim lain, kubu interpretif menentang asumsi-asumsi dasar penelitian yang diajukan oleh kaum positivistik. Kelompok interpretif berpendapat bahwa dasar utama penelitian sebenarnya tidak bertolak dari sudut pandang peneliti ataupun obyektifitas tapi lebih jauh adalah pada cara-cara “subyek penelitian” atau partisipan penelitian memberi makna secara subyektif pada suatu fenomena sosialm termasuk fenomena perilaku dalam kajian psikologi.

 Tujuan penelitian yang menggunakan pendekatan positivistik adalah untuk mencapai obyektifitas gejala penelitian dalam kerangka pengamatan empiris indrawi. Dengan demikin penelitian harus berlangsung menurut prinsip-prinsip filosofis dan metodologis ilmiah empiris atau melalui pemecahan masalah yang bersifat hipotesis deduktif.

  Terdapat beberapa tahap umum, tahap pertama dimulai dengan pengajuan masalah umum penelitian berasarkan rasional ilmiah tertentu. Tahap kedua adalah spesifikasi masalah pada lingkup yang lebih khusus, yang diikuti dengan pengembangan hipotesis berdasar pada suatu kerangka teoritis tertentu. Selanjutnya untuk menguji kebenaran hipotesis penelitian dipilih jenis rancangan pendekatan yang relevan. Dalam pemilihan jenis rancangan penelitian psikologi sosial terdapat banyak rancangan penelitian yang ditawarkan misalnya deskriptif, korelasional lapangan, eksperimen laboratorium dan eksperimen lapangan.

  Setelah pengumpulan data selesai maka dilakukan atahp analisis data. Seperti dalam ilmu alam, teknik analisi yang digunakan bersifat statistikal matematik seperti analisis faktor, analisis jalur dan sebagainya. Tahap diakhiri dengan pengambilan kesimpulan dan diskusi atau pembahasan.

  Psikologi sosial adalah ilmu empiris. Ini berarti bahwa para psikologi sosial menggunakan metode sistematis untuk mengumpulkan informasi tentang kehidupan sosial dan menguji kegunaan teori. Untuk itulah penelitian psikologi sosial mempunyai empat tujuan umum :

Deskripsi yaitu memberi deskripsi yang cermat dan sistematis tentang perilaku sosial agar bisa membuat generalisasi bagaimana orang bertindak di berbagai setting sosial. Apakah pria lebih agresif daripada wanita ?
Analisis kausal yaitu untuk mengetahui hubungan sebab akibat. Apakah iklan TV mempengaruhi sikap pemilih dalam pemilu ?
Penyusunan teori yaitu menyusun teori perilaku sosial yang membantu psikolog sosial dalam memahami alasan dari perilaku seseorang.
Aplikasi yaitu pengetahuan psikologi sosial dapat diaplikasikan untuk memecahkan problem sosial sehari-hari.
Psikologi merupakan ilmu yang mempelajari mengenai tingkah laku manusia, dimana setiap pemikiran dan tingkah laku manusia tentu saja membuat banyak orang merasa bahwa ilmu psikologi merupakan ilmu yang tidak pasti dan juga berkembang mengikuti manusia itu sendiri.
Padahal ilmu ini sering dianggap enteng oleh orang banyak. Padahal mempelajari psikologi merupakan hal yang kompleks dan cukup sulit. Karena itulah dengan menggunakan cara metode penelitian atau metode yang mutlak akan membantu ilmu psikologi menjadi lebih jelas dan juga terarah.
Meskipun berilmu sosial, tetapi perkembangan ilmu pengetahuan pada umumnya dan psikologi merupakan hal yang berkaitan dengan pengalaman dan juga survei. Metode ini tumbuh atau hadir karena adanya metode penelitian sebelumnya dengan eksperimen beberapa orang. Apa saja metode yang ada dalam penelitian psikologi ? Berikut ini beberapa contoh metode – metode psikologi :
1. Metode Eksperimental
Metode eksperimental umumnya dilakukan di dalam laboratorium dengan cara melakukan eksperimen sesuai dengan namanya, atau biasa disebut percobaan. Peneliti yang melakukannya memiliki kontrol penuh terhadap jalannya suatu eksperimen, sehingga tanggung jawabpun kembali pada para peneliti itu sendiri.

2. Metode Observasi Ilmiah
Dilihat dari namanya maka tentu anda tahu bahwa metode ini dilakukan dengan observasi ilmiah, yakni suatu hal pada situasi – situasi yang ditimbulkan tidak dengan sengaja.

3. Metode Sejarah Kehidupan (Biografi)
Biografi mungkin sering kita lihat berupa sebuah buku. Metode tulisan mengenai kehidupan seseorang yang merupakan  riwayat hidup yang diharapkan dapat menginspirasi dan menceritakan tokoh tersebut.

4. Metode Interview
Metode interview merupakan cara pengumpulan data yang digunakan untuk mendapatkan keterangan atau pendirian responden, dengan melalui sebuah percakapan langsung atau berhadapan muka.

5. Metode Angket / Kuesioner
Metode angket atau umumnya disebut sebagai metode kuesioner yaitu metode atau cara dengan memanfaatkan teknik pengumpulan data dengan cara mengajukan pertanyaan tertulis untuk dijawab secara tertulis pula oleh responden.

6. Metode Cross Sectional
Penelitian cross-sectional adalah penelitian yang dilakukan pada satu waktu dan satu kali sehingga tidak ada pengulangan dalam pengambilan data penelitian. Selain itu tidak ada follow up, untuk mencari hubungan antara variabel independen (faktor resiko) dengan variabel dependen (efek).

7. Metode Klinis
Menurut James Drawer dalam kamus “The Penguin Dictionary of Psychology”, istilah “clinic” atau klinik dapat diartikan sebagai tempat diagnosa dan pengobatan berbagai gangguan, fisik, perkembangan atau kelakuan.


REFERENSI:

https://blogpsikologi.blogspot.com/2015/08/metode-penelitian-yang-digunakan-dalam.html
https://dosenpsikologi.com/metode-penelitian-psikologi

PERANAN PSIKOLOGI SOSIAL DALAM INTERAKSI SESUAI GENDER DAN MANFAATNYA UNTUK LINGKUNGAN


UJIAN AKHIR PSIKOLOGI SOSIAL 1 
(Semester Genap 2019/2020)
Rika Rachmawati (19310410027)
Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta,M.A
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

Psikologi sosial merupakan ilmu yang mempelajari tentang hubungan atau interaksi antara manusia di lingkungan hidupnya yang dipengaruhi oleh perilaku manusia. Dalam menjalani hubungan atau interkasi sosial pasti ada kalanya kita memiliki masalah atau konflik yang sedang  terjadi kepada individu lain atau kelompok yang dapat merusak hubungan atau interaksi sosial yang sudah terjalin sebelumnya. Psikologi sosial mendorong kita untuk mempelajari hubungan anatar manusia dan perilaku yang mempengaruhi. Kenyataannya interaksi tidak semudah dan sesederhana kelihatannya melainkan interaksi sebenarnya adalah proses yang kompleks dan ditentukan dari faktor diri sendiri , individu lain atau kelompok lain di sekitar.
Dalam melakukan interaksi atau hubungan pasti dibutuhkan kenyamanan dan keberanian agar terjalin interaksi yang baik, kenyamanan dapat kita rasakan jika kita bisa berbicara atau berinteraksi langsung dengan orang yang mudah memahami kita dan kita pun melakukan sebaliknya. Biasanya kita akan lebih nyaman melakukan interaksi dengan orang yang memiliki gender yang sama dengan kita atau dengan orang yang seumuran kita. Dalam melakukan interaksi akan terjadi masalah emosional yang dapat mempengaruhi mood seseorang.  Menurut Rusting, & DeHart (dalam Malentika , Itryah , Mawardah, 2017) menjelaskan efek dari mood negatif bervariasi terkadang orang dengan mood negatif justru memikirkan hal-hal positif, terutama untuk menghilangkan mood negatif. Mood bisa membuat orang tak sadar jika sedang melakukan kesalahan dan dapat mempengaruh komunikasi dengan individu lain atau kelompok.
Gender juga dapat mempengaruhi kenyamanan saat melakukan komunikasi atau interaksi. Anak perempuan atau perempuan dewasa akan lebih nyaman berbicara dengan sesama perempuan dan begitu pula untuk kaum laki-laki. Sebagai contoh anak perempuan yang suka bermain boneka memilih anak perempuan yang juga suka bermain boneka dan begitu pula dengan anak laki-laki yang suka bermain mobil-mobilan. Anak perempuan yang suka bermain mobil-mobilan akan lebih susah bermain dengan anak perempuan yang sebayannya, karena kebanyakan anak perempuan menyukai boneka dari pada mobil-mobilan dan membuat anak tersebuat biasanya akan dijauhi anak perempuan yang lain karena berbeda. Orang tau dalam melakukan interaksi atau menjalin hubungan juga tidak ingin anaknya dijauhi oleh orang lain, akhirnya ada orang tua yang menutupi  dengan berbagai alasan. Dari contoh tersebut juga bisa kita dapatkan bahwa interaksi atau komunikasi berdasarkan kenyamanan.


Dalam masalah cinta juga perempuan dewasa akan mencurahkan isi hatinya pada perempuan dewasa lain karena yakin jika teman perempuanya bisa merasaka apa yang ia rasakan dari pada curhat dengan anak laki-laki. Perempuan lebih mengunakan perasaan dan laki-laki mengunakan logikanya . laki- laki pun akan nyaman bertukar pikiran dengan teman laki-lakinya karena diangap mudah memahami logikanya. Tapi ada kalanya interaksi bisa terjalin dengan baik walaupun berbeda gender, ini desebabkan karena adanya kenyamanan antara satu sama lain. Akan tetapi pada dasarnya wanita kan lebih santai berbicara dengan wanita dan begitu pula denagn laki-laki.
Interaksi bisa terjalin baik jika adanya kenyamana dan dapat menerima satu sama lain, karena interaksi  sosial atau komunikasi itu penting terjailin diantara individu atau kelompok. Lingkungan dengan tingkat interaksi yang baik serta dapat saling menghargai satu sama lain merupakan lingkungan yang sehat. Interaksi merupakan bagian dari psikologi sosial  dalam menjalin hubungan dengan individu atau kelompok , maka dari itu psikologi sosial memiliki peranan penting dalam masyarakat agar tetap terjalin  interaksi yang saling mendukung dan harmonis antara individu atau kelompok.  Sagatlah penting psikologi sosial mempengaruhi karakteristik perilaku seseorang yang dapat berdampak baik maupun buruk sesuai apa yang dilakukan orang tersebut pada orang lain.
Jadi ayo jangan malu menjalin interaksi sosial dengan orang-orang di lingkunganmu.
Daftar pustaka
Hasti,Ridia Dan Nurfarhanah. 2013. HUBUNGAN ANTARA INTERAKSI SOSIAL TEMAN SEBAYA DENGAN KEMANDIRIAN PERILAKU REMAJA ( Studi Korelasional Terhadap SMP N 1 Padang Panjang ). Jurnal Ilmiah Konseling. 2(1): 317-318.
Malentika,Nella; Itryah Dan Mawardah,Mutia. 2017. HUBUNGAN ANTARA INTERAKSI SOSIAL DENGAN SUASANA HATI PADA MAHASISWA. Jurnal Ilmiah. 11(2): 102.
Maryatim,Sri; Shinta,Arundati,Dan Bimono. 2012.  Hubungan Antara Sikap Ibu Tentang Peran Gender Dengan Pilihan Anak Pada Kegiatan Bermain. Jurnal Psikologi. 8: 12-13
Soeparno,Koentjoro Dan Sandra,Lidia. 2011. SOCIAL PSYCHOLOGY: THE PASSION   OF PSYCHOLOGY. BULETIN PSIKOLOGI. 19(1) : 16-18.

Sumber gambar
Adawiah,Rabiatul. 2012. Manusia dan Bakat Lingkungan. http://adawiahrabiatul93.blogspot.com/2012/12/manusia-dan-bakat-lingkungan-manusia.html. Diakses pada tanggal 14 juni 2020.

Penerapan Budaya 5S , Wujud Pembentukan Karakter Generasi Muda Di Era Globalisasi.

Penerapan Budaya 5S ( Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun ) wujud pembentukan karakter generasi muda di era globalisasi.


Ujian Akhir Psikologi Sosial 


Ella sapulete / 163104201128
Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

Penurunan nilai moral pada generasi bangsa yang disebabkan oleh modernisasi, harus segera ditangani melalui pendidikan di sekolah untuk menumbuhkan budi pekerti dan nilai karakter bangsa Indonesia . Perkembangan moral generasi penerus bangsa pada era globaliasi mulai dirasakan semakin luntur, siswa usia sekolah dasar mulai terlihat banyak yang tergerus oleh modernisasi teknologi informasi. Jika tidak diantisipasi dan dibendung sejak dini mengenai dampak negatifnya modernisasi era globalisasi maka dapat melunturkan moral dan kepribadian bangsa Indonesia. Pentingnya pendidikan karakter dan budi pekerti di sekolah adalah supaya siswa tumbuh dan berkembang memiliki kecerdasan bukan hanya akademik saja tetapi juga kecerdasan emosional.
Istilah generasi milenial memang sedang akrab terdengar. Istilah tersebut berasal dari milenials yang diciptakan oleh dua pakar sejarah dan penulis Amerika. Generasi milenial biasa disebut dengan generasi Y atau akrab disebut dengan echo boomers.
Pemuda dan pemudi sebagai elemen utama dalam proses pembangunan karakter bangsa. Memang benar jika pemuda adalah penentu eksistensi suatu bangsa dilihat dari karakter yang dimilikinya. Di era globalisasi yang semakin berkembang ini, derasnya arus informasi membuat generasi milenial semakin mudah menyerap berbagai jenis informasi dalam berbagai bidang tertentu. Bebasnya media sosial pada era globalisasi ini memiliki pengaruh yang besar terhadap rusaknya moral bangsa, khususnya bagi para generasi milenial yang masih labil.
Thomas Lickona menjelaskan karakter itu mengacu pada serangkaian cognitives, attitudes, motivations, behaiour dan skills (Wibowo dan Gunawan: 2015). Berdasarkan pengertian karakter tersebut maka dapat diketahui bahwa sesungguhnya pendidikan karakter itu sangat berhubungan dengan penumbuhan budi pekerti di sekolah.
Budaya 5S (senyum, sapa, salam, sopan santun) merupakan suatu anjuran yang dilakukan oleh seseorang ketika sedang berkomunikasi dan bersosialisasi kepada orang lain. Negara Indonesia terkenal dengan bangsa yang ramah masyarakatnya. Pernyataan tersebut terkenal sejak masa penjajahan Jepang karena keramahan tersebut dilihat ketika masyarakat Indonesia saling bertemu saling senyum, tegur sapa dan sedikit menundukkan badan atau kepala. Hal tersebut menunjukkan perilaku sopan kepada orang di sekitar atau kepada yang lebih tua.
Budaya 5S seiring dengan perkembangan jaman dan modernisasi, maka orang mulai acuh dan meninggalkan budaya ketimuran tersebut. Melihat kenyataan tersebut, didapatkan beberapa siswa yang telah menjadi dampaknya modernisasi tersebut. Mereka sudah mulai tampak individu (memikirkan diri sendiri) sehingga kurangn peduli kepada orang lain. Etika, sopan santun mulai hilang dimana anak-anak sekarang kurang bisa menempatkan diri kepada siapa mereka bergaul dan bagaimana sikapnya kepada orang yang lebih tua termasuk kepada gurunya. 


Budaya 5S adalah budaya untuk membiasakan diri agar selalu senyum, salam, sapa, sopan dan santun saat berinteraksi dengan orang lain. Budaya 5S ini terdiri dari: 
  1. SENYUM, menggarakkan sedikit raut muka serta bibir agar orang lain atau lawan bicara merasa nyeman melihat kita ketika berjumpa.
  2. SALAM, salam yang dilakukan dengan ketulusan mampu mencairkan suasana kaku, salam dalam hal ini bukan hanya berararti berjabat tangan saja, namun seperti megucapkan salam menurut agama dan kepercayaan masing-masing.
  3. SAPA, tegur sapa ramah yang kita ucapkan membuat suasana menjadi akrab dan hangat, sehingga lawan bicara kita merasa hargai. “apa kabar hari ini ? / ada yang bisa saya bantu”, atau dengan kata hangat dan akrab lainnya. Dengan kita menyapa orang lain maka orang itu akan merasa dihargai. Di dalam salam dan sapa akan memebrikan nuansa tersendiri.
  4. SOPAN, sopan ketika duduk, sopan santun ketika lewat didepan orang tua, sopan santun kepada guru, sopan santun ketika berbica maupun ketika berinteraksi dengan orang lain. 
  5. SANTUN, adalah sifat yang dimiliki olah orang yang istimewa, yaitu orang-orang yang mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan dirinya, orang-orang yang mengalah memberikan haknya untuk kepentingan orang lain semata-mata untuk kebaikan. sopan santun, yaitu merupakan gerak, kata atau tindakan kita untuk menghargai orang lain. Dengan cara gerak tindakan dan ucapan yang sopan dan santun kita akan membuat orang lain merasa di hargai dan dihormati.

Disinilah diperlukan adanya karakter bangsa, yang menjadi suatu hal penting yang berpengaruh bagi masa depan. Maka diciptakanlah pembelajaran yang mengarah pada pembentukan karakter yang biasa disebut dengan pendidikan karakter.
    membudayakan budaya 5S ini di sekolah, dan lingkungan sekitar.  diharapkan seluruh pihak-pihak terkait seperti orang tua, guru, maupun warga sekitar turut berpartisispasi untuk membantu dan mendukung implementasi budaya 5S ini, sehingga karakter generasi penerus bangsa Indonesia  dapat diarahkan dan dibentuk kearah yang lebih baik lagi.


      Referensi :

 Supriyoko. Sistem Pendidikan Nasional dan Peran Budaya dalam Pembangunan Berkelanjutan, http://www.lfip.org/english/pdf/bali-seminar/Sistim%20Pendidikan%20Nasional%20-%20ki%20supriyono.pdf ( di akses 14 juni 2020 )

       Balitbang. 2010. Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa . Jakarta: Puskur. 



n




Pemuda Berkarakter Menentukan Pembangunan Masa Depan Bangsa



Ujian Tengan Semester Genap 2019/2020
Nama : Maily Qisti Rofiq
NIM : 19310410095
Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A
Pemuda sebagai generasi penerus perjuangan bangsa harus menyadari tanggung jawabnya. Menyadari bahwa merekalah harapan bangsa Indonesia dalam pembangunan untuk mengejar keterbelakangan. Karena itu, hendaknya kegiatan generasi muda dapat menunjukan peran pelopor kaum muda dalam pembangunan. Generasi muda harus mampu berfikir kritis, inovatif, intelektual dan berkreasi unutk menghadapi persaingan luar. Dengan melihat perkembangan globalisasi dewasa ini sangat mungkin bangsa Indonesia akan mengalami jauh ketertinggalan jika sumber daya manusianya (SDM) tidak berkualitas. Maka dari itu menciptakan SDM yang berkualitas harus betul-betul terfikirkan, terlaksana dan terprogram secara efisien khususnya generasi muda. Karena kemajuan suatu bangsa ada pada generasi muda yang berkualitas. Bagaimana SDM berkualitas dapat kita capai? Ini tergantung dari peran pemerintah dalam menciptakan SDM yang berkompeten dan tentunya jalan yang harus kita lalui tidak lain melalui pendidikan forml maupun nonformal. Penataan SDM dan perencanaan yang baik adalah titik tolak pembangunan untuk mencapai kemakmuran suatu bangsa (Zulkifli&Emyarida, 2014).
Salah satu cara untuk menciptakan SDM yang berkualitas dimulai sejak dini. Karena diusia dini merupakan masa kritis untuk pembentukan karakter. Banyak pakar yang mengatakan jika pendidikan karakter tidak ditanamkan sejak dini maka akan membentuk pribadi yang bermasalah dimasa dewasanya (Sri Suwartini, 2017). Pembentukan karakter yang paling relevan di bangku pendidikan dan ini menjadi tugas lembaga pendidikan. Jika pendidikan karakter tidak diterapkan pada generasi muda maka akan mengakibatkan moral yang merosot. Daradjat (1982) mengatakan semakin merosotnya moral para pelajar merupakan salah satu akibat dari pesatnya perkembangan teknologi yang tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas budi pekerti pelajar. Perkembangan teknologi memang sangat dibutuhkan bangsa ini untuk terus dapat bersaing diera globalisasi (Heru Dwi Wahana, 2015).
Salah satu fungsi pendidikan karakter yaitu membentuk manusia Indonesia yang optimis dan percaya diri.  Sikap optimis dan percaya diri harus betuk-betul ditanamkan kepada peserta didik sejak dini. Kurangnya sikap optimis dan pecaya diri menjadikan faktor bangsa Indonesia kehilangan semangat untuk dapat bersaing menciptakn kemajuan disegala bidang. Pada masa depan, tentu saja kita mengharapkan sosok-sosok yang optimis dan penuh percaya diri dalam menghadapi berbagai situasi. Dan hal ini tidak akan terwujud jika kedua hal itu tidak ditanamkan  pada peserta didik sejak dini.
Pemuda selalu identik dengan perubahan, pergerakan dan kreativitas seperti pada masa proklamasi kemerdekaan. Peran para pemuda pada saat itu sangat luar biasa, kalau sekiranya para pemuda saat itu tidak melakukan pengasingan terhadap bapak Soekarno Hatta mungkin sampai sekarang bangsa kita belum merdeka. Maka tidak berlebihan jika pemuda disebut generasi yang memiliki tanggung jawab dalam membawa suatu bangsa kearah yang lebih baik atau malah sebaliknya. Oleh karena itu, kita harus mempersiapkan generasi penerus bangsa yang partisipatif dalam pembangunan bangsa dan negara (Syaripuddin, 2018). Peran pemuda yang disebutkan dalam Undang-Undang Republik Indonesia No.40 tahun 2009 pasal 16 bahwa pemuda berperan aktif sebagai kekuatan moral, kontrol sosial dan agen perubahan dalam segala aspek pembangunan naisonal. Peran yang harus diemban ini haruslah menjadi poin penting dalam kehidupan sehari-harinya (Bintari&Darmawan, 2016). Kontribusi anak muda dalam pembangunan memang tidak harus tampak dari segi fisik, tetapi bias dari segala hal. Mulai dari prestasi akademik hingga yang bersifat olahraga.
Salah satu peran pemuda dalam pembangunan yaitu terutam dalam pembngunan perekonomian. Pembangunan adalah insan-insan yang menjadi SDM yang berkualitas.  Karena sumber daya alam (SDA) saja tidak cukup jika tidak didukung dengan SDM yang berkompeten dalam pengetahuan dan teknologi. Sebagai pemuda sudah selayaknya kita mengambil peran dalam pembangunan nasional, menjalankan tugas dan kewajiban sebagai penerus bangsa dalam melakukan perubahan. Sebagai tulang punggung perekonomian yang memikul tangguang jawab dalam memajukan bangsa, pemuda harus bisa melanjutkan dan mengisi perannnya untuk pembangunan dan perbaikan bangsa, dengan menggali kembali eksistensi dalam cita-cita kemandirian bangsa dibidang perekonomian.
Lalu apa yang harus kita lakukan sebagai pemuda untuk mewujudkan kemandirin bangsa? Pertama, meningkatkan produktivitas dan kualitas dalam proses industri, karena tanpa peningkatan tersebut kita tidak mampu bersaing. Karena kenyataan masyarakat kita lebih percaya pada produk luar. Sebuah kalimat “kemandirian” akan terealisasi jika sebagai penggerak pembangunan, pemuda mampu menciptakan konsep kreatifitas dan daya saing guna memenuhi kebutuhan bangsa, baik dalam kebutuhan sandang, pangan maupun papan.
Kedua, membiasakan untuk menjadi pencipta sesuatu yang selalu muncul dengan gebrakan-gebrakan kreativitasnya, sehingga kita sebagai pemuda tidak hanya menjadi penikmat konsumsi. Harus kita akui globalisasi yang berkembang dewasa ini menyebabkan kaburnya batasan antar negara, tak terkeculi dalam bidang ekonomi. Dalam keadaan seperti ini pemuda dituntut untuk lebih kreatif dan mengeluarka ide-idenya. Untuk menghadapi globalisasi yang semakin pesat dibutuhkan peranan pemuda dalam perencanaan menjadi kelompok inovatif, kreatif, kompetitif, mandiri serta mempunyai ketangguahan untuk tetap bertahan pada persaingan dengan dunia luar. Sebenarnya perlu dibangun oleh bangsa Indonesia adalah kualitas SDM dimana kekuatan terletak pada generasi mudanya.
Ketiga, mewujudkan kemandirian dan kemajuan bangsa perlu didukung oleh kemampuan mengembangkan potensi diri dan konsep yang terarah. Konsep kemandirian itu sendiri bisa diartikan sebagai upaya pemenuhan dan pengerjaan segala sesuatu untuk diri sendiri dengan kekuatan dan kemampuan sendiri. Sebisa mungkin tidak bergantung pada orang lain sesuai dengan semangat yang dicita-citakan oleh Bung Karno berdiri diatas kaki sendiri (berdikari). (Handitya, 2019).

Seperti kita ketahui bahwa salah satu tujuan penting perencanaan ekonomi di Negara sedang berkembang (NSB) termaksud di Indonesia adalah untuk meningktkan laju pertumbuhan ekonomi. Untuk meningkatkan pertumbuhan tersebut berarti perlu juga meningkatkan laju pertumbuhan modal dengan cara meningkatkan tingkat pendapatan, tabungan dan investasi. Untuk Negara Indonesia peningkatan laju pembentukan ini menghadapi berbagai kendala. Salah satunya adalah kemiskinan masyarakay Indonesia itu sendiri. Hal ini diakibatkan karena tingkat tabungan yang rendah dikarenakan tingkat pendapatan yang juga rendah (Wibowo, 2008). Maka diharapkan pemuda generasi penerus pembangunan bangsa Indonesia betul-betul menjadi pemuda yang meliliki jiwa nasionalisme sehingga mampu menyelesaikan permasalahan bangsa indonesia dimasa mendatang.






REFERENSI
Zulkifli & Emyurida. (2014). Dunia Pendidikan : Antara Dilema dan Harapan. Jurnal Ilmu-Ilmu Sejarah, Budaya dan Sosial, Vol.4, No.14, Oktober 2014, hlm.81.

Suwartini, S. (2017). Pendidikan Karakter dan Pembangunan Sumber Daya Manusia Keberlanjutan. Jurnal Pendidikan Ke-SD-an, Vol.4, No.1, September 2017, hlm.223.

Wahana, H.D. (2015). Pengaruh Nilai-Nilai Budaya Generasi Millennial dan Budaya Sekolah Terhadap Ketahanan Individu. Jurnal Ketahanan Nasional, XXI(1), April 2015, hlm.16.

Syaripuddin. (2018). Mempersiapkan Remaja Bangsa menjadi Generasi yang Ideal Sejak Dini, agar dapat Berprestasi Aktif dalam Upaya Pembangunan Bangsa yang Lebih Baik. Jurnal Ilmiah Maju, Vol.1, No.1, Juni 2018, hlm.41-42.

Bintari, P.N &Darmawan, C. (2016). Peran Pemuda Sebagai Penerus Tradisi Sambat dalam Rangka Pembentukan Karakter Gotong Royong. Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial, Vol.25, No.1, Edisi Juni 2016, hlm.68.

Handitya, B. (2019). Menyamai Nilai Pancasila pada Generasi Muda Cendikia. Adil Indonesia Jurnal, Vol.2, No.1, Juli 2019, hlm.15.

Wibowo, E. (2008). Perencanaan dan Strategi Pembangunan di Indonesia. Jurnal Ekonomi dan Kewirausahaan, Vol.8, No.1, April 2008, hlm.18.