Essai Ke-2 Psikologi Inovasi
Disonansi Kognitif
Kelas A Reguler
Rika Amelia (24310420062)
Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta M.A
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta
Perang Batin di Setiap Hembusan: Ketika Logika Kalah Dari Kebiasan
Latar Belakang
Berangkat dari rasa ingin tahu saya kepada rekan-rekan kerja saya tentang apa yang dirasakan saat merokok atau menghembuskan asap rokok, bagaimana rokok dapat memengaruhi perasaan dan perilaku mereka dalam kesehariannya, serta apakah ada keinginan mereka untuk berhanti merokok di masa yang akan datang.
Menurut Leon Festinger 1957 Teori Disonansi Kognitif adalah teori yang menjelaskan tentang perasaan tidak nyaman yang dimliki seseorang ketika melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang mereka ketahui, atau memiliki pendapat yang tidak sesuai dengan keyakinan mereka sendiri. Disonansi sendir berarti ketidakseimbangan, yang merupakan lawan kata dari konsonansi yang berarti seimbang. Sedangkan disonansi kognitif pada perokok aktif adalah perasaan tidak nyaman atau konflik batin yang muncul ketika seorang tetap merokok, meskipun ia tahu bahwa merokok dapat merusak dan membahayakan kesehatan serta kesehatan.
Tujuan Wawancara:
1. untuk mengetahui apakah narasumber mengetahui pertentangan antara pengetahuan mereka (yaitu bahayanya merokok untuk kesehatan) dengan tindakan mereka (yaitu dengan merokok setiap hari).
2. Mengetahui dan mengidentifikasi cara atau pikiran yang perokok untuk meredakan rasa bersalah dan rasa cemas agar tetap merasa tenang saat merokok.
3. Menilai di mana posisi perokok tersebut dalah hal motivasi untuk berhenti merokok.
Narasumber:
1. L (Perempuan, 21th)
2. S (Perempuan, 31th)
3. Z (Laki-laki, 25)
4. R (laki-laki, 32th)
Para narasumber di atas merupakan rekan kerja saya, tempat wawancara dilaksanakan di tempat kerja saya yang beralamat di Black Forest Café (Jl. Parangtritis No.83, Brontokusuman, Kec, Mergangsan, Kota Yogyakarta), pada tanggal 12 Oktober 2026, pukul 14.00 WIB sd 15.00 WIB.
Pertanyaan terdiri dari 8 kuis:
1. Bisa ceritakan sejak kapan Anda mulai merokok?
Jawaban:
L (Perempuan, 21th): “Saya mulai merokok saat masuk SMK, dan sampai sekarang masih aktif”
S (Perempuan, 31th): “ Waktu itu disuruh coba sama Ibu biar tahu rasanya, mungkin dengan harapan agar saya gak coba-coba di luar. Tapi malah keterusan sampai sekarang, dan dulu waktu SMP saya dibully jadi untuk menunjukkan kalau saya itu juga nakal, ya saya merokok”
Z (Laki-laki, 25); “Saya mulai merokok sejak SMP, saya mengikuti teman-teman saya biar kelihatan gaul dan sampai sekarang menjadi perokok aktif”
R (laki-laki, 32th): “Mulai merokok waktu masih kuliah, saat itu stress mengerjakan skripsi tapi keterusan sampai sekarang meski sudah menikah dan punya anak”
2. Seperti apakah aktivitas merokok Anda sehari-hari?
Jawaban:
L (Perempuan, 21th): “Kalau dulu karena belum kerja dan punya uang sendiri dalam sehari hanya 2 sampai 3 batang saja,tspi karena sekarang sudah kerja dan cari uang sendiri satu bungkus rokok (12 batang) bisa habis dalam 2 sampai 3 hari”
S (Perempuan, 31th): ”Dulu saya sempat berhenti merokok, tapi waktu masuk kuliah dan mengerjakan skripsi saya merokok lagi, dan ketika awal-awal kerja dalam sehari saya bisa habis 1 sampai 2 bungkus. Sekarang sehari hanya habis 3 sampai 4 batang rokok saja”
Z (Laki-laki, 25): “ Saya merokok dalam sehari bisa habis setengah bungkus, tapi kadang kurang dari itu”
R (laki-laki, 32th): “Saya merokok hanya saat jam istirahat kerja saja, dan tidak merokok di rumah. Di tempat kerja bisa habis 3 samapi 4 batang rokok”
3. Apa yang biasanya Anda dapatkan atau rasakan (manfaat emosional/fisik) ketika sedang merokok?
Jawaban:
L (Perempuan, 21th): “Merasa rileks dan segar saja secara fisik, karena kalau tidak merokok saya malah merasa lemas”
S (Perempuan, 31th): “Saya merokok untuk meredakan stress dan untuk menghilangkan rasa makanan di tenggorokan setelah makan, kalau hanya minum air rasa makannya masih kuat sekali di tenggorokan”
Z (Laki-laki, 25): “Merasa enak aja kalau dsedang merokok, dan rasanya jadi tidak sepi”
R (laki-laki, 32th): “Lebih merasa semangat aja, karena kan rokok ada zat nokotinnya jadi biar gak lemes”
4. Di satu sisi Anda tahu bahwa merokok itu berbahaya, tetapi di sisi lain Anda tetap melakukannya. Pernahkah anda merasakan pertentangan batin atau rasa bersalah karena hal ini?
Jawaban:
L (Perempuan, 21th): “Iya, kadang saya merasa kenapa ya merokok kan uangnya bisa buat beli makan dan kan badan saya kerasa beda sebelum dan sesudah jadi perokok akitf. Tapi kalau disuruh berhenti masih belum bisa”
S (Perempuan, 31th): “Mungkin kalau dulu imerasa bersalah ya atau mikir-mikir gimana kalau sakit. Tapi sekarang sudah tidak merasa begitu lagi, ibaratnya dalam bahasa jawa sudah (luweh)
Z (Laki-laki, 25): “Tidak, saya tidak merasa bersalah atau gimana. Mungkin karena saya merasa masih muda ya jadi biasa aja”
R (laki-laki, 32th): “Iya, saya merasa bersalah dan kadang mikir gimana kalau anak saya sakit karena saya membawa bekas asap rokok pulang ke rumah”
5. Dan kapan perasaan tersebut paling sering muncul?
Jawaban:
L (Perempuan, 21th): “Saat ingin melakukan kegiatan fisik di luar kerjaan tapi badan terasa berat dan napas teraasa berat”
S (Perempuan, 31th): “Karena saya sudah bebal dan ibarat kata saya ini hidup enggan matipun segan”
Z (Laki-laki, 25): “Saya merasa masih ingin menikmati hidup seperti anak muda pada umumnya, jadi mungkin karena itu saya masih belum merasa yang gimana-gimana soal rokok ya”
R (laki-laki, 32th): “Saya merasa bersalah saat kepikira tentang anak da istri saya, makanya ka saya hanya merokok di tempat kerja dan tidak merokok saat di rumah apalagi saat bersama anak dan istri “
6. Pernahkah Anda merasa bahwa orang lain ataupun orang di lingkungan menghakimi Anda?
Jawaban:
L (Perempuan, 21th): “Iya, kadang saya merasa kalau orang lain menghakimi saya. Apalagi kan saya perempuan dan perempuan yang merokok terkesan lebih buruk dibanding laki-laki”
S (Perempuan, 31th): “Mungki iya, tapi saya tidak terlalu memikirkan soal itu. Buat apa juga toh mereka tidak menyumbang sesuatu dalam hidup saya, kecuali kalau mereka menyumbang sesuatu yang besar ke hidup saya baru saya akan memikirkan apa yang orang lain katakan tentang saya”
Z (Laki-laki, 25): “Saya tidak terlalu memikirkan perkataan ataupun apa yang orang lain pikirkan tentang saya”
R (laki-laki, 32th): “Kalau saya terkadang mikir apa yang anak saya pikirkan tentang ayahnya yang merokok”
7. Bagaimana hal tersebut memengaruhi perasaan Anda?
Jawaban:
L (Perempuan, 21th): “Merasa tidak adil sih ya, padahal lelaki juga banyak yang merokok tapi kenapa kalau perempuan dianggap lebih buruk. Terkadang juga merasa sakit hati dengan tatapan orang”
S (Perempuan, 31th): “Saya sudah bodo amat dengan perkataan atau pemikiran orang lain tentang saya, apalagi yang tidak membawa kontribusi dalam hidup saya. Jadi ibaratnya masuyk telinga kanan keluar telinga kiri”
Z (Laki-laki, 25): “Tidak saya pikirkan, selagi tidak merugikan saya ya biarkan saja”
R (laki-laki, 32th): “Merasa sedikit gagal”
8. Apakah Anda pernah dengan serius berniat untuk berhenti merokok?
Jawaban:
L (Perempuan, 21th): “Iya, tapi mungkin tidak dalam waktu dekat atau segera. Rencananya berhenti merokok kalau sudah menikah.
S (Perempuan, 31th): “Belum ada niatan untuk berhenti sih sejauh ini, mungkin kalau sudah menikah. Karena saya belum menikah jadi sepertinya masih jadi perokok aktif”
Z (Laki-laki, 25): “Belum ada niat untuk berhenti, dan belum tau juga apakah ingin berhenti atau tidak”
R (laki-laki, 32th) : “Belum ada untuk sejauh ini, tapi mungkin akan berhenti entah kapan itu.”
Kesimpulan
Disonansi kognitif pada perokok dalam wawancara ini tidak selalu memicu perilaku berhenti merokok secara langsung. Sebaliknya para perokok cenderung menggunkan mekanisme pertahanan diri seperti rasionalisasi manfaat emosional/fisik, penyesuaian batasan lingkungan, penundaan target berhenti ke masa depan, hingga sikap bodo amat untuk meredakan rasa bersalah/cemas sehingga mereka tetap merasa tenang untuk melanjutkan kebiasaan merokoknya.

0 komentar:
Posting Komentar